PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • w95 1/8 hlm. 3-4
  • Zaman Telah Berubah

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Zaman Telah Berubah
  • Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—1995
  • Bahan Terkait
  • Salomo Memerintah dengan Bijaksana
    Alkitab—Apa Isinya?
  • Teladan atau Contoh Peringatan?
    Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—2011
  • Salomo
    Pemahaman Alkitab, Jilid 2
  • Terpenjara Kemiskinan
    Sedarlah!—1998
Lihat Lebih Banyak
Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—1995
w95 1/8 hlm. 3-4

Zaman Telah Berubah

PASTI sangat menyenangkan untuk hidup di Israel purba di bawah pemerintahan yang mulia dari Raja Salomo yang setia! Masa itu merupakan era perdamaian, kemakmuran, dan kebahagiaan. Pada waktu Salomo dengan loyal mendukung ibadat yang benar, Yehuwa memberkati bangsa itu dengan limpah. Kepada Raja Salomo, Allah tidak hanya memberikan kekayaan yang besar namun juga ”hati yang penuh hikmat dan pengertian” agar Salomo dapat memerintah dengan keadilbenaran dan kasih. (1 Raja 3:12) Alkitab menyatakan, ”Semua raja di bumi berikhtiar menghadap Salomo untuk menyaksikan hikmat yang telah ditaruh Allah di dalam hatinya.”​—2 Tawarikh 9:23.

Kepada umat itu, Yehuwa memberikan keamanan, perdamaian, dan perkara-perkara yang baik dengan melimpah. Firman Allah mengatakan, ”Orang Yehuda dan orang Israel jumlahnya seperti pasir di tepi laut. Mereka makan dan minum serta bersukaria.” Secara harfiah maupun secara kiasan, umat itu ”diam dengan tenteram, masing-masing di bawah pohon anggur dan pohon aranya . . . seumur hidup Salomo.”​—1 Raja 4:20, 25.

Zaman telah berubah. Kehidupan dewasa ini berbeda jauh sekali dibandingkan dengan zaman dahulu kala yang bahagia. Tidak seperti pada zaman Salomo, problem utama dewasa ini adalah kemiskinan. Bahkan di negeri-negeri yang kaya, ada kemiskinan. Misalnya, di Amerika Serikat maupun di Uni Eropa, hampir 15 persen dari penduduknya hidup dalam kemiskinan, demikian catatan Program Pengembangan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Mengenai gambaran global ini, The State of the World’s Children 1994, sebuah laporan oleh UNICEF (Dana Kanak-Kanak Perserikatan Bangsa-Bangsa), menyatakan bahwa seperlima dari penduduk dunia hidup dalam kemiskinan total, sambil menambahkan bahwa kehidupan bagi kebanyakan orang miskin di dunia ini ”menjadi semakin sukar dan tanpa harapan”.

Di beberapa negeri, inflasi yang membubung tinggi menambah masalah dari orang-orang miskin. Seorang wanita di sebuah negeri Afrika mengatakan, ”Anda melihat sesuatu di pasar, dan Anda mengatakan, ’Ya, saya akan pulang dan mengambil uang untuk membelinya.’ Sejam kemudian Anda kembali tetapi diberi tahu bahwa Anda tidak dapat membelinya dengan uang yang Anda bawa karena harganya baru saja dinaikkan. Apa yang harus kita lakukan? Benar-benar bikin frustrasi.”

Seorang wanita lain di sana mengatakan, ’Agar dapat terus hidup, kami melupakan kebutuhan-kebutuhan lain. Yang ada di pikiran kami hanyalah bagaimana caranya mendapatkan makanan.’

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, masa depan tampak suram. UNICEF misalnya, memperkirakan bahwa jika arah perkembangan jumlah penduduk sekarang ini terus berlanjut, jumlah orang miskin di seluas dunia akan melonjak empat kali ”dalam satu jangka waktu kehidupan seseorang”.

Namun, meskipun keadaan ekonomi dan sosial memburuk, hamba-hamba Allah memiliki alasan untuk merasa optimis. Meskipun mereka hidup di antara orang-orang yang memandang masa depan dengan rasa pesimis yang semakin besar, hamba-hamba Allah menatap ke masa depan dengan sukacita dan keyakinan. Artikel berikut ini akan menyelidiki alasannya mengapa.

[Keterangan Gambar di hlm. 3]

De Grunne/Sipa Press

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan