-
Abraham—Teladan ImanMenara Pengawal—2001 | 15 Agustus
-
-
Abraham—Teladan Iman
”[Abraham adalah] bapak dari semua orang yang memiliki iman.”—ROMA 4:11.
1, 2. (a) Bagaimana Abraham dikenang di antara orang Kristen dewasa ini? (b) Mengapa Abraham disebut sebagai ”bapak dari semua orang yang memiliki iman”?
DIA adalah bapak leluhur suatu bangsa yang perkasa, seorang nabi, pengusaha, pemimpin. Namun, bagi orang Kristen dewasa ini, ia paling dikenang karena sifatnya yang menggerakkan Allah Yehuwa untuk memandangnya sebagai sahabat—imannya yang tak tergoyahkan. (Yesaya 41:8; Yakobus 2:23) Namanya adalah Abraham, dan Alkitab menyebutnya sebagai ”bapak dari semua orang yang memiliki iman”.—Roma 4:11.
2 Bukankah pria-pria sebelum Abraham, seperti Habel, Henokh, dan Nuh, juga memperlihatkan iman? Memang benar, tetapi dengan Abraham-lah perjanjian dibuat untuk memberkati semua bangsa di bumi. (Kejadian 22:18) Ia kemudian menjadi bapak simbolis bagi semua orang yang akan menaruh iman pada Benih yang dijanjikan. (Galatia 3:8, 9) Sampai taraf tertentu, Abraham dapat dianggap sebagai bapak kita, karena imannya menjadi teladan yang patut ditiru. Seluruh kehidupannya dapat dipandang sebagai manifestasi iman, karena hidupnya penuh dengan berbagai ujian dan cobaan. Memang, jauh sebelum Abraham menghadapi apa yang mungkin disebut ujian iman yang terbesar—perintah untuk mengorbankan putranya, Ishak—Abraham membuktikan imannya dalam banyak cobaan yang lebih kecil. (Kejadian 22:1, 2) Sekarang, marilah kita memeriksa beberapa ujian iman itu dan melihat pelajaran apa yang bisa kita tarik darinya dewasa ini.
Perintah untuk Meninggalkan Ur
3. Apa yang Alkitab beritahukan kepada kita tentang latar belakang Abram?
3 Alkitab memperkenalkan tokoh Abram (belakangan disebut Abraham) kepada kita di Kejadian 11:26, yang mengatakan, ”Terah terus hidup selama tujuh puluh tahun, setelah itu ia memperanakkan Abram, Nahor dan Haran.” Abram adalah keturunan Sem, pria yang takut akan Allah. (Kejadian 11:10-24) Menurut Kejadian 11:31, Abram tinggal bersama keluarganya di ”Ur, kota orang Khaldea”, sebuah kota makmur yang terletak di sebelah timur Sungai Efrat.a Jadi, ia tidak dibesarkan sebagai pengembara yang tinggal di tenda-tenda, tetapi sebagai anak kota yang tinggal di tempat yang menawarkan banyak kemakmuran serta kenyamanan. Barang-barang impor dapat dibeli di pasar-pasar Ur. Rumah-rumah berlabur putih yang memiliki 14 kamar, lengkap dengan sistem ledeng dalam rumah, berjejer di sepanjang jalan kota itu.
4. (a) Tantangan apa yang dihadirkan Ur bagi para penyembah Allah yang benar? (b) Bagaimana Abram sampai menjadi beriman kepada Yehuwa?
4 Di samping segala keuntungan materi yang ditawarkan, Ur menghadirkan tantangan yang cukup berat bagi siapa pun yang ingin melayani Allah yang benar. Ur adalah kota yang sangat sarat dengan penyembahan berhala dan takhayul. Bahkan, lanskapnya didominasi oleh zigurat yang menjulang tinggi untuk menghormati dewa bulan, Nanna. Tidak diragukan, Abram mendapat banyak tekanan untuk ikut serta dalam ibadat yang bejat itu, mungkin termasuk tekanan dari pihak kerabat. Menurut beberapa kisah turun-temurun Yahudi, ayah Abram, Terah, tadinya adalah pembuat patung berhala. (Yosua 24:2, 14, 15) Bagaimanapun keadaannya, Abram tidak mempraktekkan ibadat palsu yang bejat. Moyangnya yang sudah lanjut usia, Sem, masih hidup dan ia pasti membagikan pengetahuannya tentang Allah yang benar. Sebagai hasilnya, Abram menaruh iman kepada Yehuwa, bukan kepada Nanna!—Galatia 3:6.
Suatu Ujian Iman
5. Perintah dan janji apa yang Allah berikan kepada Abram sewaktu ia masih berada di Ur?
5 Iman Abram hendak diuji. Allah menampakkan diri kepadanya dan memerintahkan, ”Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapakmu ke negeri yang akan kutunjukkan kepadamu; aku akan membuat bangsa yang besar darimu, dan aku akan memberkati engkau serta membuat namamu besar; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau dan dia yang menyumpahi engkau akan aku kutuk, dan semua keluarga di bumi pasti akan memperoleh berkat melalui engkau.”—Kejadian 12:1-3; Kisah 7:2, 3.
6. Mengapa dibutuhkan iman yang sungguh-sungguh di pihak Abram untuk meninggalkan Ur?
6 Abram sudah lanjut usia dan tidak punya anak. Bagaimana ia dapat menghasilkan ”bangsa yang besar”? Dan, di mana persisnya negeri yang harus ia tuju? Saat itu, Allah tidak memberi tahu dia. Oleh karena itu, dibutuhkan iman yang sungguh-sungguh di pihak Abram untuk meninggalkan Ur yang makmur beserta segala kenyamanannya. Buku Family, Love and the Bible membuat pengamatan ini sehubungan dengan masa lampau, ”Dari segala jenis hukuman yang bisa dijatuhkan kepada seorang anggota keluarga yang bersalah atas kejahatan serius, yang terburuk adalah mengusirnya, atau mengasingkannya dari ’keanggotaan’ keluarga. . . . Itulah alasannya mengapa manifestasi ketaatan dan kepercayaan Abraham yang tanpa keraguan kepada Allah dapat dikatakan sangat luar biasa, sewaktu ia, karena mengindahkan seruan ilahi, meninggalkan, bukan hanya negerinya, melainkan juga sanak saudaranya.”
7. Bagaimana orang Kristen dewasa ini mungkin menghadapi ujian seperti yang dihadapi Abram?
7 Dewasa ini, orang-orang Kristen pun dapat menghadapi ujian serupa. Seperti Abram, kita mungkin merasakan tekanan untuk menempatkan kepentingan materi di atas perkara-perkara teokratis. (1 Yohanes 2:16) Bisa jadi kita menghadapi tentangan dari anggota keluarga yang tidak seiman, termasuk kerabat yang dipecat, yang mungkin berupaya memikat kita ke pergaulan yang tidak sehat. (Matius 10:34-36; 1 Korintus 5:11-13; 15:33) Dengan demikian, Abram memberikan teladan bagus bagi kita. Ia menempatkan persahabatan dengan Yehuwa di atas segalanya—bahkan di atas ikatan keluarga. Ia tidak tahu bagaimana, kapan, atau di mana persisnya janji-janji Allah akan digenapi. Namun, ia bersedia mendasarkan kehidupannya pada kepercayaan akan janji-janji itu. Alangkah bagusnya anjuran ini untuk mendahulukan Kerajaan dalam kehidupan kita sekarang!—Matius 6:33.
8. Iman Abram memiliki pengaruh apa terhadap anggota keluarga dekatnya, dan pelajaran apa yang dapat ditarik orang-orang Kristen dari hal ini?
8 Bagaimana dengan keluarga dekat Abram? Jelaslah, iman dan keyakinan Abram sangat berpengaruh pada mereka, karena baik istrinya, Sarai, maupun kemenakannya yang yatim piatu bernama Lot tergerak untuk menaati panggilan Allah dan meninggalkan Ur. Saudara Abram, Nahor, serta beberapa keturunannya belakangan meninggalkan Ur dan tinggal di Haran, dan di sana mereka menyembah Yehuwa. (Kejadian 24:1-4, 10, 31; 27:43; 29:4, 5) Bahkan ayah Abram, Terah, setuju untuk pergi bersama putranya! Oleh karena itu, Alkitab menunjuk dia sebagai kepala keluarga, yang memimpin kepindahan menuju Kanaan. (Kejadian 11:31) Bukankah kita juga akan menikmati suatu tingkat keberhasilan apabila kita dengan bijaksana memberikan kesaksian kepada sanak saudara kita?
9. Persiapan apa saja yang harus dibuat Abram untuk perjalanannya, dan mengapa hal itu mungkin menuntut pengorbanan?
9 Sebelum memulai perjalanannya, ada banyak hal yang harus Abram lakukan. Ia harus menjual harta milik serta barang-barangnya, dan membeli tenda, unta, makanan, serta perlengkapan yang dibutuhkan. Abram bisa jadi mengalami kerugian finansial karena persiapan yang terburu-buru itu, tetapi dia senang menaati Yehuwa. Benar-benar suatu hari yang berkesan bagi Abram sewaktu semua persiapan sudah rampung dan karavannya berdiri di depan tembok kota Ur, siap berangkat! Karavan itu berjalan menyusuri lengkungan Sungai Efrat, menuju ke arah barat laut. Setelah berminggu-minggu dalam perjalanan, melintasi jarak sejauh 1.000 kilometer, rombongan itu tiba di sebuah kota di Mesopotamia bagian utara yang disebut Haran, tempat transit utama untuk karavan-karavan.
10, 11. (a) Mengapa ada kemungkinan bahwa Abram tinggal di Haran selama beberapa waktu? (b) Dukungan moril apa yang dapat diberikan kepada orang Kristen yang merawat orang tua yang lanjut usia?
10 Abram menetap di Haran, kemungkinan karena mempertimbangkan ayahnya yang lanjut usia, Terah. (Imamat 19:32) Demikian pula dewasa ini, banyak orang Kristen memiliki tanggung jawab untuk merawat orang tua yang lanjut usia atau yang sakit, bahkan ada yang harus membuat penyesuaian agar dapat melakukannya. Sewaktu keadaan menuntut hal itu, orang-orang demikian dapat merasa yakin bahwa pengorbanan mereka yang pengasih ”diperkenan dalam pandangan Allah”.—1 Timotius 5:4.
11 Waktu berlalu. ”Umur Terah mencapai dua ratus lima tahun. Lalu Terah mati di Haran.” Abram tentunya berduka karena kehilangan ayahnya, tetapi setelah periode berkabung berakhir, ia segera berangkat. ”Abram berumur tujuh puluh lima tahun pada waktu ia pergi dari Haran. Abram membawa Sarai, istrinya, dan Lot, putra saudaranya, dan semua barang yang telah mereka kumpulkan serta jiwa-jiwa yang mereka peroleh di Haran, dan mereka memulai perjalanan untuk pergi ke tanah Kanaan.”—Kejadian 11:32; 12:4, 5.
12. Apa yang Abram lakukan selama tinggal di Haran?
12 Yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa selama di Haran, Abram ’mengumpulkan barang-barang’. Meskipun ia sudah membuat pengorbanan materi untuk meninggalkan Ur, Abram meninggalkan Haran sebagai pria yang kaya. Jelas, itu adalah berkat Yehuwa. (Pengkhotbah 5:19) Meskipun Allah tidak menjanjikan kekayaan kepada semua umat-Nya dewasa ini, Ia setia pada janji-Nya untuk menyediakan kebutuhan bagi orang-orang yang ’meninggalkan rumah, saudara-saudara lelaki, atau saudara-saudara perempuan’ demi Kerajaan. (Markus 10:29, 30) Abram juga ’memperoleh jiwa-jiwa’, yakni banyak pelayan. Targum Yerusalem dan Parafrase Khaldee mengatakan bahwa Abram ’memproselitkan’. (Kejadian 18:19) Apakah iman Saudara menggerakkan Saudara untuk berbicara kepada tetangga, rekan sekerja, atau teman sekolah Saudara? Abram tidak bermaksud untuk menetap seterusnya di Haran dan melupakan perintah Allah, tetapi ia telah menggunakan waktunya di sana secara produktif. Namun sekarang, tibalah saatnya bagi dia untuk berangkat. ”Maka pergilah Abram tepat seperti yang Yehuwa sampaikan kepadanya.”—Kejadian 12:4.
Menyeberangi Sungai Efrat
13. Kapan Abram menyeberangi Sungai Efrat, dan apa arti penting peristiwa ini?
13 Sekali lagi Abram harus mengadakan perjalanan. Seraya meninggalkan Haran, karavannya menuju ke arah barat, menempuh jarak kira-kira 90 kilometer. Bisa jadi Abram singgah di sebuah tempat di tepi Sungai Efrat, yang berseberangan dengan pusat perdagangan di zaman dahulu, yakni Karkhemis. Itu adalah persinggahan utama tempat karavan-karavan menyeberang.b Pada tanggal berapa karavan Abram menyeberangi sungai itu? Alkitab memperlihatkan bahwa peristiwa itu terjadi 430 tahun sebelum Eksodus orang Yahudi dari Mesir pada tanggal 14 Nisan 1513 SM. Keluaran 12:41 mengatakan, ”Pada akhir dari keempat ratus tiga puluh tahun itu, bahkan pada hari ini juga segenap bala tentara Yehuwa keluar dari tanah Mesir.” Jadi, tampaknya perjanjian Abraham mulai berlaku pada tanggal 14 Nisan 1943 SM, sewaktu Abram dengan taat menyeberangi Sungai Efrat.
14. (a) Apa yang dapat dilihat Abram dengan mata imannya? (b) Dalam arti apa umat Allah dewasa ini lebih diberkati daripada Abram?
14 Abram telah meninggalkan sebuah kota yang makmur. Namun, ia sekarang dapat membayangkan ”kota yang mempunyai fondasi yang tetap”, pemerintahan yang adil-benar atas umat manusia. (Ibrani 11:10) Ya, hanya dengan informasi yang minim, Abram telah mulai memahami kerangka maksud-tujuan Allah untuk menebus umat manusia yang sekarat. Dewasa ini, kita diberkati dengan pemahaman yang jauh lebih ekstensif tentang maksud-tujuan Allah daripada yang dimiliki Abram. (Amsal 4:18) ”Kota”, atau pemerintahan Kerajaan, yang diharapkan oleh Abram kini sudah menjadi kenyataan—didirikan di surga sejak tahun 1914. Oleh karena itu, tidakkah kita seharusnya tergerak untuk memperlihatkan iman dan kepercayaan kepada Yehuwa?
Mulai Tinggal untuk Sementara di Tanah Perjanjian
15, 16. (a) Mengapa dibutuhkan keberanian di pihak Abram untuk mendirikan sebuah mezbah bagi Yehuwa? (b) Bagaimana orang Kristen dewasa ini dapat menjadi berani seperti Abram?
15 Kejadian 12:5, 6 memberi tahu kita, ”Akhirnya mereka tiba di tanah Kanaan. Dan Abram melintasi tanah itu sampai ke daerah Syikhem, dekat pohon-pohon besar More.” Syikhem terletak sekitar 50 kilometer di sebelah utara Yerusalem dan berlokasi di sebuah lembah subur yang digambarkan sebagai ”firdaus tanah suci”. Meskipun demikian, ”pada waktu itu orang-orang Kanaan berada di tanah itu”. Karena orang-orang Kanaan bejat secara moral, Abram harus mengambil tindakan pencegahan untuk melindungi keluarganya dari pengaruh mereka yang merusak.—Keluaran 34:11-16.
16 Untuk kedua kalinya, ”Yehuwa menampakkan diri kepada Abram dan berfirman, ’Kepada benihmu aku akan memberikan tanah ini.’ ” Alangkah menggetarkannya! Tentu saja, dibutuhkan iman di pihak Abram untuk bersukacita akan sesuatu yang hanya akan dinikmati oleh keturunannya kelak. Kendati demikian, sebagai tanggapan, Abram ”mendirikan mezbah bagi Yehuwa, yang telah menampakkan diri kepadanya”. (Kejadian 12:7) Seorang sarjana Alkitab berkomentar, ”Mendirikan sebuah mezbah di tanah itu sebenarnya adalah suatu cara resmi untuk menunjukkan kepemilikan tanah itu atas dasar hak yang diberikan kepadanya karena telah memperlihatkan iman.” Mendirikan mezbah seperti itu juga merupakan tindakan yang berani. Tidak diragukan, mezbah itu sejenis dengan yang belakangan diuraikan dalam perjanjian Hukum, terbuat dari batu-batu alami (tidak dipotong) yang disusun. (Keluaran 20:24, 25) Mezbah tersebut pastilah secara mencolok berbeda dengan mezbah-mezbah yang digunakan oleh orang-orang Kanaan. Dengan demikian, Abram mengambil pendirian yang berani di hadapan umum sebagai seorang penyembah Allah yang benar, Yehuwa, serta mengambil risiko menjadi sasaran niat jahat dan kemungkinan bahaya secara fisik. Bagaimana dengan kita dewasa ini? Apakah ada di antara kita—khususnya kaum muda—yang menahan diri sehingga tetangga atau teman sekolah kita tidak tahu bahwa kita menyembah Yehuwa? Semoga teladan Abram yang berani menganjurkan kita semua untuk merasa bangga karena menjadi hamba-hamba Yehuwa!
17. Bagaimana Abram membuktikan diri sebagai seorang pemberita nama Allah, dan hal itu mengingatkan orang Kristen dewasa ini akan hal apa?
17 Ke mana pun Abram pergi, ibadat Yehuwa selalu menjadi prioritas. ”Belakangan ia pindah dari sana ke wilayah pegunungan di sebelah timur Betel dan mendirikan kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur. Lalu ia mendirikan mezbah bagi Yehuwa di sana dan mulai berseru kepada nama Yehuwa.” (Kejadian 12:8) Ungkapan bahasa Ibrani ”berseru kepada nama” juga berarti ”mengumumkan (memberitakan) nama”. Tidak diragukan, Abram dengan berani mengumumkan nama Yehuwa di antara tetangga-tetangga Kanaan-nya. (Kejadian 14:22-24) Hal itu mengingatkan kita akan tugas kita untuk sebanyak mungkin berperan dalam membuat ”pernyataan tentang namanya di hadapan umum” dewasa ini.—Ibrani 13:15; Roma 10:10.
18. Bagaimana hubungan Abram dengan penduduk Kanaan?
18 Abram tidak tinggal di tempat-tempat seperti itu untuk waktu yang lama. ”Setelah itu Abram membongkar perkemahan, lalu pergi dari perkemahan ke perkemahan menuju Negeb”—kawasan semikering di sebelah selatan daerah Pegunungan Yehuda. (Kejadian 12:9) Dengan berpindah-pindah dan dengan dikenal sebagai seorang penyembah Yehuwa di setiap lokasi baru, Abram dan sanak keluarganya ”menyatakan di depan umum bahwa mereka adalah orang-orang asing dan penduduk sementara di negeri itu”. (Ibrani 11:13) Mereka selalu menjaga diri untuk tidak menjadi terlalu akrab dengan tetangga-tetangga kafir mereka. Demikian pula, orang Kristen dewasa ini harus tetap ”bukan bagian dari dunia”. (Yohanes 17:16) Meskipun kita bersikap baik dan ramah kepada tetangga maupun rekan sekerja kita, kita berhati-hati agar tidak terjerat oleh perilaku yang mencerminkan semangat dunia yang terasing dari Allah.—Efesus 2:2, 3.
19. (a) Mengapa kehidupan sebagai pengembara pasti menghadirkan tantangan bagi Abram dan Sarai? (b) Tantangan apa yang akan segera dihadapi Abram?
19 Hendaknya kita tidak lupa bahwa menyesuaikan diri dengan kerasnya kehidupan sebagai pengembara bukan hal yang mudah bagi Abram maupun Sarai. Mereka menyantap makanan hasil ternak mereka, bukannya makanan yang dibeli di salah satu pasar Ur yang persediaannya berlimpah; mereka tinggal di tenda-tenda, bukannya di rumah yang bagus. (Ibrani 11:9) Kehidupan Abram sarat dengan kegiatan; banyak hal yang perlu ia lakukan dalam mengurus ternak dan pelayan-pelayannya. Sarai pastilah mengurus tugas-tugas yang umumnya dilakukan oleh para wanita dalam kebudayaan itu: meremas tepung, memanggang roti, memintal wol, menjahit pakaian. (Kejadian 18:6, 7; 2 Raja 23:7; Amsal 31:19; Yehezkiel 13:18) Namun, ujian baru akan segera muncul. Tidak lama lagi, Abram dan sanak keluarganya akan dihadapkan pada situasi yang mempertaruhkan nyawa! Apakah iman Abram akan terbukti sanggup mengimbangi tantangan itu?
[Catatan Kaki]
a Meskipun Efrat sekarang mengalir kira-kira enam belas kilometer di sebelah timur lokasi yang tadinya adalah Ur, bukti-bukti memperlihatkan bahwa di zaman dahulu sungai itu mengalir persis di sebelah barat kota itu. Dengan demikian, belakangan Abram dapat dikatakan datang dari ”seberang Sungai [Efrat]”.—Yosua 24:3.
b Berabad-abad kemudian, Raja Asiria Asyurnasirpal II menggunakan rakit untuk menyeberangi Sungai Efrat dekat Karkhemis. Entah Abram harus membuat rakit atau dia beserta karavannya berjalan menyeberangi sungai itu, Alkitab tidak mengatakannya.
-
-
Milikilah Iman seperti Iman Abraham!Menara Pengawal—2001 | 15 Agustus
-
-
Milikilah Iman seperti Iman Abraham!
”Orang-orang yang berpegang pada iman, merekalah putra-putra Abraham.”—GALATIA 3:7.
1. Bagaimana Abram bertekun menghadapi ujian baru di Kanaan?
ABRAM telah meninggalkan kehidupan yang nyaman di Ur karena menaati perintah Yehuwa. Keserbaterbatasan yang ia alami pada tahun-tahun berikutnya hanyalah awal ujian iman yang ia hadapi di Mesir. Catatan Alkitab mengatakan, ”Bala kelaparan timbul di tanah itu.” Sebenarnya, bisa saja Abram dengan mudah merasa getir akan situasinya. Tetapi sebaliknya, ia mengambil langkah-langkah praktis untuk memenuhi kebutuhan sanak keluarganya. ”Abram pergi ke Mesir untuk berdiam di sana sebagai orang asing, karena hebatlah bala kelaparan di tanah itu.” Rumah tangga Abram yang besar pasti akan mencolok di Mesir. Apakah Yehuwa akan menggenapi janji-Nya dan melindungi Abram dari celaka?—Kejadian 12:10; Keluaran 16:2, 3.
2, 3. (a) Mengapa Abram menyembunyikan identitas istrinya yang sesungguhnya? (b) Sewaktu menanggapi situasi itu, bagaimana Abram berurusan dengan istrinya?
2 Kita membaca di Kejadian 12:11-13, ”Segera setelah ia hampir memasuki Mesir, ia mengatakan kepada Sarai, istrinya, ’Tolonglah! Aku tahu benar bahwa engkau adalah wanita yang berparas cantik. Maka pastilah orang-orang Mesir akan melihatmu dan berkata, ”Itu istrinya”. Dan mereka pasti akan membunuh aku, tetapi engkau akan mereka biarkan hidup. Tolong katakan bahwa engkau adalah adikku, supaya baik keadaanku oleh karena engkau, dan jiwaku pasti akan hidup oleh karena engkau.’” Meskipun Sarai sudah berusia lebih dari 65 tahun, ia masih sangat cantik. Alhasil, nyawa Abram-lah yang menjadi taruhannya.a (Kejadian 12:4, 5; 17:17) Yang lebih penting lagi, masalahnya menyangkut maksud-tujuan Yehuwa, karena Ia telah berkata bahwa melalui benih Abram semua bangsa di bumi akan mendapat berkat. (Kejadian 12:2, 3, 7) Karena Abram masih belum mempunyai anak, sangatlah penting baginya untuk tetap hidup.
3 Abram membicarakan suatu taktik dengan istrinya yang telah mereka sepakati berdua, yaitu untuk mengatakan bahwa Sarai adalah adiknya. Perhatikan bahwa meskipun ia memiliki wewenang patriarkat, ia tidak menyalahgunakan kedudukannya sebagai kepala, tetapi mengundang kerja sama serta dukungan dari istrinya. (Kejadian 12:11-13; 20:13) Dalam hal ini, Abram memberikan teladan bagus bagi para suami agar menjalankan kekepalaan dengan pengasih, dan Sarai, dengan memperlihatkan ketundukannya, menjadi teladan bagi para istri dewasa ini.—Efesus 5:23-28; Kolose 4:6.
4. Bagaimana hendaknya hamba-hamba Allah yang setia dewasa ini membawakan diri sewaktu nyawa saudara-saudaranya dipertaruhkan?
4 Sarai dapat mengatakan bahwa ia adalah adik Abram karena ia memang adik tirinya. (Kejadian 20:12) Selain itu, Abram tidak berkewajiban memberikan informasi kepada orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya. (Matius 7:6) Hamba-hamba Allah yang setia di zaman modern mengindahkan perintah Alkitab untuk berlaku jujur. (Ibrani 13:18) Misalnya, mereka tidak akan pernah berbohong di bawah sumpah di pengadilan. Akan tetapi, sewaktu kehidupan atau kerohanian saudara-saudara mereka dipertaruhkan, seperti pada masa-masa penindasan atau kekacauan sipil, mereka mengindahkan nasihat Yesus untuk ’berhati-hati seperti ular namun polos seperti merpati’.—Matius 10:16; lihat Menara Pengawal, 1 November 1996, halaman 18, paragraf 19.
5. Mengapa Sarai bersedia menaati permintaan Abram?
5 Bagaimana tanggapan Sarai terhadap permintaan Abram? Rasul Petrus menggambarkan wanita-wanita seperti dia sebagai ”yang berharap kepada Allah”. Oleh karena itu, Sarai dapat memahami perkara rohani yang tersangkut dalam situasi tersebut. Selain itu, ia mencintai dan merespek suaminya. Jadi, Sarai memilih untuk ’tunduk kepada suaminya’ dan menyembunyikan statusnya sebagai seorang istri. (1 Petrus 3:5) Tentu saja, melakukan hal itu ada risikonya. ”Segera setelah Abram memasuki Mesir, orang-orang Mesir melihat wanita itu, bahwa dia sangat cantik. Para pembesar Firaun juga melihat dia dan mereka mulai memuji dia di hadapan Firaun, sehingga wanita itu dibawa ke istana Firaun.”—Kejadian 12:14, 15.
Penyelamatan oleh Yehuwa
6, 7. Abram dan Sarai mengalami keadaan yang menyusahkan apa, dan bagaimana Yehuwa menyelamatkan Sarai?
6 Betapa menyusahkan keadaan itu bagi Abram dan Sarai! Tampaknya, Sarai akan dinodai. Lagi pula, Firaun, karena tidak mengetahui status Sarai yang sebenarnya sebagai seorang istri, melimpahi Abram dengan pemberian, sehingga ”Abram mendapat domba-domba, ternak, keledai-keledai, hamba-hamba lelaki dan perempuan, keledai-keledai betina, dan unta”.b (Kejadian 12:16) Pastilah Abram merasa terhina dengan pemberian-pemberian itu! Meskipun situasinya tampak suram, Yehuwa tidak meninggalkan Abram.
7 ”Lalu Yehuwa menjamah Firaun dan rumah tangganya dengan tulah yang hebat oleh karena Sarai, istri Abram.” (Kejadian 12:17) Dengan cara yang tidak diceritakan, penyebab sesungguhnya dari ”tulah” ini disingkapkan kepada Firaun. Ia segera menanggapi, ”Maka Firaun memanggil Abram dan berkata, ’Apa sebenarnya yang telah kaulakukan terhadapku? Mengapa engkau tidak memberi tahu aku bahwa dia istrimu? Mengapa engkau mengatakan, ”Dia adikku”, sehingga aku hampir memperistri dia? Nah, ini istrimu. Bawa dia dan pergilah!’ Lalu Firaun mengeluarkan perintah kepada orang-orang sehubungan dengannya, dan mereka mengawal dia dan istrinya dan segala miliknya.”—Kejadian 12:18-20; Mazmur 105:14, 15.
8. Perlindungan macam apa yang Yehuwa janjikan kepada orang Kristen dewasa ini?
8 Dewasa ini, Yehuwa tidak menjamin kita terlindung dari ganasnya maut, kejahatan, kelaparan, atau bencana alam. Yehuwa berjanji kepada kita bahwa Ia akan selalu menyediakan perlindungan dari hal-hal yang dapat membahayakan kerohanian kita. (Mazmur 91:1-4) Cara-Nya yang utama adalah dengan menyediakan bagi kita peringatan yang tepat waktu melalui Firman-Nya maupun ”budak yang setia dan bijaksana”. (Matius 24:45) Bagaimana dengan ancaman kematian dari penindasan? Meskipun individu-individu mungkin dibiarkan mati, Allah tidak akan pernah membiarkan seluruh umat-Nya dimusnahkan. (Mazmur 116:15) Dan, jika maut merenggut orang-orang yang setia, kita dapat yakin bahwa mereka akan dibangkitkan.—Yohanes 5:28, 29.
Berkorban demi Memelihara Perdamaian
9. Apa yang memperlihatkan bahwa Abram terus berpindah-pindah selama berada di Kanaan?
9 Sewaktu kelaparan di Kanaan berakhir, ”Abram keluar dari Mesir, ia dan istrinya serta segala miliknya, dan Lot menyertainya, ke Negeb [kawasan semikering di sebelah selatan daerah Pegunungan Yehuda]. Abram membawa banyak sekali ternak dan perak dan emas”. (Kejadian 13:1, 2) Dengan demikian, penduduk setempat memandang dia sebagai pria yang berkuasa dan berpengaruh, pemimpin yang perkasa. (Kejadian 23:6) Abram tidak berkeinginan menetap dan melibatkan diri dalam politik orang-orang Kanaan. Sebaliknya, ”ia pergi dari perkemahan ke perkemahan dari Negeb ke Betel, ke tempat ia pertama-tama mendirikan kemah antara Betel dan Ai”. Seperti biasa, Abram memprioritaskan ibadat kepada Yehuwa ke mana pun ia pergi.—Kejadian 13:3, 4.
10. Problem apa yang timbul antara para penjaga ternak Abram dan penjaga ternak Lot, dan mengapa penting agar hal itu dituntaskan dengan cepat?
10 ”Lot, yang pergi bersama Abram, juga mempunyai domba-domba dan ternak serta kemah-kemah. Jadi tanah itu tidak memungkinkan mereka semua untuk tinggal bersama-sama, karena harta benda mereka telah menjadi banyak dan mereka semua tidak dapat tinggal bersama-sama. Dan timbullah perselisihan antara para penjaga ternak Abram dan para penjaga ternak Lot; dan pada waktu itu orang Kanaan dan orang Periz tinggal di tanah itu.” (Kejadian 13:5-7) Tanah itu tidak menyediakan cukup air dan rerumputan untuk kehidupan ternak Abram dan ternak Lot. Jadi, timbullah ketegangan dan kekesalan di antara para penjaga ternak. Percekcokan seperti itu tidaklah pantas bagi penyembah Allah yang benar. Jika perselisihan itu terus berlanjut, bisa timbul kerugian yang permanen. Jadi, bagaimana Abram menangani situasi itu? Ia telah mengadopsi Lot setelah kematian ayah Lot, dan barangkali membesarkannya seperti putranya sendiri. Sebagai yang lebih tua, tidakkah Abram berhak untuk mengambil yang terbaik bagi dirinya?
11, 12. Tawaran murah hati apa yang Abram berikan kepada Lot, dan mengapa pilihan Lot tidak bijaksana?
11 Namun, ”Abram mengatakan kepada Lot, ’Jangan kiranya ada perselisihan lagi antara aku dan engkau dan antara penjaga ternakku dan penjaga ternakmu, sebab kita ini bersaudara. Bukankah seluruh tanah ini tersedia bagimu? Silakan berpisah dariku. Jika engkau pergi ke kiri, maka aku akan pergi ke kanan; tetapi jika engkau pergi ke kanan, maka aku akan pergi ke kiri.’” Di dekat Betel di sana, terdapat apa yang disebut ”salah satu dataran yang amat tinggi di Palestina”. Mungkin dari sanalah ”Lot melayangkan pandangannya dan melihat seluruh Distrik Sungai Yordan, bahwa seluruhnya adalah wilayah yang banyak airnya sebelum Yehuwa membinasakan Sodom dan Gomora, seperti taman Yehuwa, seperti tanah Mesir sampai ke Zoar”.—Kejadian 13:8-10.
12 Meskipun Alkitab menyebutkan bahwa Lot ”adil-benar”, karena alasan tertentu ia tidak mengalah kepada Abram dalam persoalan ini, dan tampaknya ia juga tidak meminta nasihat Abram. (2 Petrus 2:7) ”Lot memilih seluruh Distrik Sungai Yordan, dan Lot memindahkan kemahnya ke sebelah timur. Maka berpisahlah mereka satu sama lain. Abram tinggal di tanah Kanaan, sedangkan Lot tinggal di antara kota-kota di Distrik itu. Akhirnya ia mendirikan kemah di dekat Sodom.” (Kejadian 13:11, 12) Sodom adalah kota yang makmur dan menawarkan banyak keuntungan materi. (Yehezkiel 16:49, 50) Meskipun pilihan Lot mungkin tampaknya bijaksana dari sudut pandang materi, sebenarnya itu adalah pilihan yang buruk secara rohani. Mengapa? Karena ”orang-orang Sodom itu jahat dan berdosa besar terhadap Yehuwa”, kata Kejadian 13:13. Keputusan Lot untuk pindah ke sana pada akhirnya mengakibatkan banyak duka atas keluarganya.
13. Bagaimana teladan Abram berguna bagi orang Kristen yang mungkin terlibat dalam perselisihan finansial?
13 Namun, Abram memperlihatkan iman akan janji Yehuwa bahwa benihnya pada akhirnya akan memiliki seluruh tanah itu; ia tidak mempermasalahkan bagian kecil dari tanah itu. Dengan murah hati, ia bertindak selaras dengan prinsip yang belakangan dinyatakan di 1 Korintus 10:24, ”Biarlah masing-masing tidak mencari keuntungan bagi diri sendiri, melainkan bagi orang lain.” Hal ini merupakan pengingat yang baik bagi orang-orang yang mungkin terlibat dalam perselisihan finansial dengan rekan seiman. Bukannya mengikuti nasihat di Matius 18:15-17, ada yang malah membawa saudaranya ke pengadilan. (1 Korintus 6:1, 7) Teladan Abram memperlihatkan bahwa lebih baik menderita kerugian finansial daripada mendatangkan cela ke atas nama Yehuwa atau merusak perdamaian di dalam sidang Kristen.—Yakobus 3:18.
14. Bagaimana Abram akan diberkati karena kemurahan hatinya?
14 Abram akan diberkati karena kemurahan hatinya. Allah menyatakan, ”Aku akan menjadikan benihmu seperti butir-butir debu tanah, sehingga, jika orang dapat menghitung butir-butir debu tanah, maka benihmu pun dapat dihitung.” Penyingkapan itu pastilah sangat menguatkan Abram yang tidak memiliki anak! Selanjutnya, Allah memerintahkan, ”Bersiaplah, jelajahilah tanah ini melintasi panjangnya dan melintasi lebarnya, karena kepadamulah aku akan memberikannya.” (Kejadian 13:16, 17) Abram tidak diizinkan untuk berdiam di sebuah kota dengan segala kenyamanannya. Ia harus tetap terpisah dari orang-orang Kanaan. Orang Kristen dewasa ini juga harus selalu terpisah dari dunia. Mereka tidak menganggap diri lebih unggul daripada orang lain, tetapi mereka tidak bergaul akrab dengan siapa pun yang mungkin dapat memikat mereka untuk melakukan perbuatan yang tidak berdasarkan Alkitab.—1 Petrus 4:3, 4.
15. (a) Perjalanan Abram bisa jadi memiliki arti penting apa? (b) Teladan apa yang Abram berikan bagi keluarga-keluarga Kristen dewasa ini?
15 Pada zaman Alkitab, sebelum seseorang memperoleh kepemilikan tanah, ia berhak menginspeksinya. Jadi, dengan menjelajahinya, Abram mungkin terus-menerus diingatkan bahwa suatu hari nanti tanah itu akan menjadi milik keturunannya. Dengan taat, ”Abram terus tinggal dalam kemah-kemah. Belakangan ia tiba dan tinggal di antara pohon-pohon besar di Mamre, yang ada di Hebron; dan di sana ia mendirikan mezbah bagi Yehuwa”. (Kejadian 13:18) Sekali lagi, Abram mempertunjukkan bahwa ia sangat memprioritaskan ibadat. Apakah pelajaran keluarga, doa keluarga, dan kehadiran di perhimpunan diberi prioritas yang tinggi dalam keluarga Saudara?
Musuh Menyerang
16. (a) Mengapa kata-kata pembukaan di Kejadian 14:1 bernada mencekam? (b) Apa alasan penyerbuan keempat raja timur?
16 ”Pada zaman Amrafel, raja Syinar, Ariokh, raja Elasar, Khedorlaomer, raja Elam,c dan Tidal, raja Goyim, berperanglah mereka ini.” Dalam bahasa Ibrani asli, kata-kata pembukaan (”Pada zaman . . . ”) bernada mencekam, menunjuk ”kepada suatu periode ujian yang berakhir dengan berkat”. (Kejadian 14:1, 2, catatan kaki NW Ref.) Ujian dimulai seraya keempat raja timur beserta pasukan mereka mengadakan penyerbuan yang merusak ke Kanaan. Tujuan mereka? Untuk meredam pemberontakan lima kota yakni Sodom, Gomora, Admah, Zeboyim, dan Bela. Setelah mengalahkan perlawanan kelima kota ini, mereka ”semua bersekutu dan maju ke Lembah Sidim, yakni Laut Garam”. Lot dan keluarganya tinggal di dekat situ.—Kejadian 14:3-7.
17. Mengapa ditawannya Lot merupakan ujian iman bagi Abram?
17 Raja-raja Kanaan dengan garang melawan para penyerbu, tetapi mereka mengalami kekalahan yang memalukan. ”Para pemenang mengambil semua harta benda Sodom dan Gomora serta semua makanan lalu pergi. Mereka juga membawa Lot, putra saudara Abram, dan harta bendanya lalu melanjutkan perjalanan mereka. Pada saat itu ia tinggal di Sodom.” Kabar tentang peristiwa yang sangat memprihatinkan ini sampai ke telinga Abram, ”Setelah itu datanglah seseorang yang terluput dan memberi tahu Abram, orang Ibrani itu. Pada saat itu ia sedang berdiam di antara pohon-pohon besar Mamre, orang Amori, saudara dari Eskol dan saudara dari Aner; dan mereka adalah teman-teman sekutu Abram. Demikianlah Abram mendengar bahwa saudaranya telah ditawan.” (Kejadian 14:8-14) Benar-benar suatu ujian iman! Apakah Abram akan memupuk perasaan kesal terhadap kemenakannya karena telah mengambil yang terbaik dari tanah itu? Ingatlah juga bahwa para penyerbu ini datang dari tanah asalnya, Syinar. Maju melawan mereka akan berarti menghancurkan segala kemungkinan untuk dapat kembali ke kampung halamannya. Lagi pula, apa yang dapat Abram lakukan untuk melawan para penyerbu itu, yang bahkan tidak mampu dikalahkan oleh pasukan gabungan Kanaan?
18, 19. (a) Bagaimana Abram dapat menyelamatkan Lot? (b) Siapa yang patut dipuji atas kemenangan itu?
18 Lagi-lagi Abram menaruh kepercayaannya tanpa ragu-ragu kepada Yehuwa. ”Maka ia mengerahkan orang-orangnya yang terlatih, tiga ratus delapan belas budak yang lahir di rumah tangganya, dan pergi mengejar sampai ke Dan. Pada waktu malam ia membagi pasukannya, ia dan budak-budaknya, melawan mereka, dan demikianlah ia mengalahkan mereka dan terus mengejar mereka sampai ke Hoba, di sebelah utara Damaskus. Kemudian ia mendapatkan kembali semua harta benda, ia juga mendapatkan kembali Lot, saudaranya, dan harta bendanya dan juga para wanita serta orang-orangnya.” (Kejadian 14:14-16) Dalam suatu pertunjukan iman yang kuat kepada Yehuwa, Abram memimpin pasukannya yang jauh lebih sedikit jumlahnya untuk meraih kemenangan, menyelamatkan Lot dan keluarganya. Sekarang, Abram berjumpa dengan Melkhizedek, raja-imam dari Salem. ”Melkhizedek, raja Salem, membawa roti dan anggur, dan ia adalah imam Allah Yang Mahatinggi. Lalu ia memberkati dia dan mengatakan, ’Diberkatilah Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Yang Menjadikan langit dan bumi; dan diagungkanlah Allah Yang Mahatinggi, Yang telah menyerahkan para penindasmu ke tanganmu!’ Lalu Abram memberi dia sepersepuluh dari semuanya.”—Kejadian 14:18-20.
19 Ya, kemenangan itu milik Yehuwa. Karena imannya, Abram sekali lagi mengalami penyelamatan dari Yehuwa. Dewasa ini, umat Allah tidak terlibat dalam peperangan jasmani, tetapi mereka menghadapi banyak ujian dan tantangan. Artikel berikutnya akan memperlihatkan bagaimana teladan Abram dapat membantu kita untuk menghadapinya dengan sukses.
[Catatan Kaki]
a Menurut Insight on the Scriptures (diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa), ”sebuah papirus kuno menceritakan tentang seorang Firaun yang memerintahkan pria-pria bersenjata untuk menangkap wanita yang menarik dan membunuh suaminya”. Jadi, rasa takut Abram tidaklah dibesar-besarkan.
b Hagar, yang belakangan menjadi gundik Abram, mungkin termasuk di antara hamba-hamba yang diberikan kepada Abram pada saat itu.—Kejadian 16:1.
c Kritikus pernah berpendapat bahwa Elam tidak pernah memiliki pengaruh seperti itu di Syinar dan bahwa catatan tentang penyerangan Khedorlaomer hanyalah suatu rekayasa. Untuk pembahasan tentang bukti arkeologi yang mendukung catatan Alkitab, lihat Menara Pengawal, 1 Juli 1989, halaman 4-7.
-
-
Jangan Menyerah dalam Melakukan Apa yang BaikMenara Pengawal—2001 | 15 Agustus
-
-
Jangan Menyerah dalam Melakukan Apa yang Baik
”Biarlah kita tidak menyerah dalam melakukan apa yang baik, sebab jika kita tidak lelah kita akan menuai pada saat musimnya tiba.”—GALATIA 6:9.
1, 2. (a) Mengapa dibutuhkan ketekunan untuk melayani Allah? (b) Bagaimana Abraham memperlihatkan ketekunan, dan apa yang membantunya bertekun?
SEBAGAI Saksi-Saksi Yehuwa, kita senang melakukan kehendak Allah. Kita juga merasakan kesegaran dalam memikul ”kuk” sebagai murid. (Matius 11:29) Meskipun demikian, melayani Yehuwa bersama Kristus tidak selalu mudah. Rasul Paulus memperjelas hal ini sewaktu ia mendesak rekan-rekan Kristennya, ”Kamu membutuhkan ketekunan, supaya setelah kamu melakukan kehendak Allah, kamu mengalami penggenapan janji itu.” (Ibrani 10:36) Ketekunan dibutuhkan karena melayani Allah dapat menjadi tantangan.
2 Kehidupan Abraham pastilah merupakan bukti akan fakta itu. Kerap kali ia menghadapi pilihan yang menyulitkan dan keadaan yang menekan. Diperintahkan untuk meninggalkan kehidupan yang nyaman di Ur hanyalah permulaannya saja. Tidak lama setelah itu, Abraham menghadapi berbagai kesukaran seperti kelaparan, sikap bermusuhan dari para tetangganya, nyaris kehilangan istrinya, kebencian dari beberapa kerabat, serta kebrutalan perang. Cobaan-cobaan yang lebih hebat masih akan datang. Tetapi, Abraham tidak pernah menyerah dalam melakukan apa yang baik. Hal ini luar biasa bila mengingat bahwa ia tidak memiliki Firman Allah yang lengkap seperti halnya kita sekarang. Meskipun demikian, tidak diragukan bahwa ia mengetahui nubuat pertama yang Allah nyatakan, ”Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan wanita itu dan antara benihmu dan benihnya.” (Kejadian 3:15) Sebagai pribadi yang akan menghasilkan Benih itu, sudah sewajarnya apabila Abraham menjadi fokus permusuhan Setan. Memahami fakta ini pastilah membantu Abraham bertekun dengan sukacita dalam menghadapi cobaan-cobaannya.
3. (a) Mengapa umat Yehuwa dewasa ini hendaknya mengantisipasi datangnya kesengsaraan? (b) Anjuran apa yang diberikan Galatia 6:9 kepada kita?
3 Umat Yehuwa dewasa ini hendaknya juga mengantisipasi datangnya kesengsaraan. (1 Petrus 1:6, 7) Lagi pula, Penyingkapan 12:17 memperingatkan kita bahwa Setan ”memerangi” kaum sisa terurap. Karena pergaulan yang erat dengan kaum terurap, ”domba-domba lain” juga menjadi sasaran kemarahan Setan. (Yohanes 10:16) Orang-orang Kristen mungkin tidak hanya menghadapi tentangan dalam pelayanan umum, tetapi juga mengalami tekanan yang menguji dalam kehidupan pribadi mereka. Paulus menasihati kita, ”Biarlah kita tidak menyerah dalam melakukan apa yang baik, sebab jika kita tidak lelah kita akan menuai pada saat musimnya tiba.” (Galatia 6:9) Ya, meskipun Setan bermaksud menghancurkan iman kita, kita harus menentang dia, kokoh dalam iman. (1 Petrus 5:8, 9) Apa yang dapat dihasilkan dari haluan kita yang setia? Yakobus 1:2, 3 menjelaskan, ”Saudara-saudaraku, anggaplah itu sebagai sukacita, apabila kamu menghadapi berbagai cobaan, karena kamu mengetahui bahwa mutu imanmu yang teruji ini menghasilkan ketekunan.”
Serangan Frontal
4. Bagaimana Setan menggunakan serangan frontal sebagai upaya untuk mematahkan integritas umat Allah?
4 Kehidupan Abraham pastilah menggambarkan ”berbagai cobaan” yang mungkin dihadapi seorang Kristen dewasa ini. Misalnya, ia harus balik melawan serangan para penyerbu dari Syinar. (Kejadian 14:11-16) Tidaklah mengejutkan jika Setan terus menggunakan serangan frontal dalam bentuk penindasan. Sejak berakhirnya Perang Dunia II, belasan negeri telah memberlakukan pelarangan pemerintah atas pekerjaan pendidikan Kristen dari Saksi-Saksi Yehuwa. Buku Kegiatan 2001 menceritakan kekejaman para musuh yang harus ditanggung orang-orang Kristen di Angola. Dengan bergantung pada Yehuwa, saudara-saudara kita di negeri-negeri seperti itu dengan teguh menolak untuk menyerah! Mereka balik melawan, bukan dengan menggunakan kekerasan atau pemberontakan, melainkan dengan terus berkanjang dalam pekerjaan pengabaran secara bijaksana.—Matius 24:14.
5. Bagaimana kaum muda Kristen mungkin menjadi korban penindasan di sekolah?
5 Akan tetapi, penindasan tidak selalu melibatkan kekerasan. Abraham pada akhirnya diberkati dengan dua putra—Ismael dan Ishak. Kejadian 21:8-12 memberi tahu kita bahwa pada suatu peristiwa Ismael sedang ’mengolok-olok’ Ishak. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus memperlihatkan bahwa hal itu lebih serius daripada sekadar permainan anak-anak, karena ia menjelaskan bahwa Ismael menganiaya Ishak! (Galatia 4:29) Dengan demikian, ejekan dari teman sekolah dan serangan verbal oleh para penentang dapat secara tepat disebut penindasan. Seorang pemuda Kristen bernama Ryan mengenang siksaan yang ia derita dari teman-teman sekelasnya, ”Perjalanan dengan bus pulang-pergi dari rumah ke sekolah selama 15 menit terasa seperti berjam-jam karena saya dianiaya secara verbal. Mereka menyundut saya dengan klip kertas yang mereka panaskan dengan pemantik api.” Apa alasan perlakuan yang buruk ini? ”Pelatihan teokratis saya membuat saya berbeda dengan anak muda lainnya di sekolah.” Meskipun demikian, dengan dukungan orang tuanya, Ryan sanggup bertekun dengan setia. Kaum muda, apakah celaan teman-teman kalian telah membuat kalian merasa kecil hati? Jika demikian, jangan menyerah! Bila kalian bertekun dengan setia, kalian akan mengalami penggenapan kata-kata Yesus, ”Berbahagialah kamu apabila orang mencela kamu dan menganiaya kamu dan dengan berdusta mengatakan segala macam hal yang fasik mengenai kamu demi aku.”—Matius 5:11.
Kekhawatiran Sehari-hari
6. Hal apa saja yang dapat membuat hubungan di antara rekan-rekan Kristen menjadi tegang dewasa ini?
6 Kebanyakan cobaan yang kita hadapi dewasa ini mencakup kekhawatiran umum sehari-hari. Abraham sendiri harus mengatasi ketegangan yang timbul antara para penjaga ternaknya dan para penjaga ternak kemenakannya, Lot. (Kejadian 13:5-7) Dengan cara yang serupa dewasa ini, perbedaan kepribadian dan kecemburuan yang picik dapat membuat hubungan menjadi tegang dan bahkan mengancam perdamaian sidang. ”Jika ada kecemburuan dan sifat suka bertengkar, di sana ada kekacauan dan segala perkara keji.” (Yakobus 3:16) Alangkah pentingnya bagi kita untuk tidak menyerah, tetapi menempatkan perdamaian di atas gengsi, seperti yang dilakukan Abraham, dan mencari kepentingan orang lain!—1 Korintus 13:5; Yakobus 3:17.
7. (a) Apa yang seseorang hendaknya lakukan jika ia telah disakiti oleh rekan Kristennya? (b) Bagaimana Abraham memberikan teladan bagus dalam memelihara hubungan baik dengan orang lain?
7 Bersikap suka damai dapat menjadi tantangan sewaktu kita merasa telah diperlakukan secara tidak adil oleh seorang rekan seiman. Amsal 12:18 mengatakan, ”Ada orang yang berbicara tanpa dipikir bagaikan dengan tikaman-tikaman pedang, tetapi lidah orang-orang berhikmat adalah penyembuhan.” Kata-kata yang sembrono, sekalipun diucapkan dengan polos, dapat menimbulkan kepedihan yang dalam. Kepedihan itu akan semakin dalam jika kita merasa telah difitnah atau menjadi korban gosip yang kejam. (Mazmur 6:6, 7) Tetapi, seorang Kristen tidak boleh membiarkan sakit hatinya membuat dia menyerah! Jika Saudara berada dalam situasi seperti itu, ambillah inisiatif untuk meluruskan persoalannya dengan berbicara kepada pihak yang menyakiti perasaan Saudara dengan cara yang ramah. (Matius 5:23, 24; Efesus 4:26) Lapangkanlah hati Saudara untuk mengampuni orang itu. (Kolose 3:13) Dengan tidak memendam kekesalan, kita memungkinkan penyembuhan, baik atas emosi kita sendiri maupun atas hubungan kita dengan saudara kita. Abraham tidak terus memendam kekesalan terhadap Lot yang mungkin tadinya ia rasakan. Abraham bahkan bergegas untuk membebaskan Lot dan keluarganya!—Kejadian 14:12-16.
Cobaan akibat Ulah Sendiri
8. (a) Bagaimana orang-orang Kristen mungkin menikam dirinya dengan banyak kesakitan? (b) Mengapa Abraham dapat memiliki pandangan yang seimbang akan perkara-perkara materi?
8 Harus diakui bahwa beberapa cobaan timbul akibat ulah kita sendiri. Sebagai contoh, Yesus memerintahkan para pengikutnya, ”Berhentilah menimbun bagi dirimu harta di atas bumi, di mana ngengat dan karat menghabiskannya, dan di mana pencuri membongkar dan mencurinya.” (Matius 6:19) Namun, beberapa saudara ”menikam diri mereka dengan banyak kesakitan” karena menempatkan kepentingan materi di atas kepentingan Kerajaan. (1 Timotius 6:9, 10) Abraham bersedia mengorbankan kenyamanan materi untuk menyenangkan Allah. ”Karena beriman, ia berdiam sebagai orang asing di negeri perjanjian seakan-akan di suatu negeri asing, dan tinggal dalam kemah-kemah bersama Ishak dan Yakub, ahli-ahli waris bersama dia dari janji yang sama itu juga. Karena ia menantikan kota yang mempunyai fondasi yang tetap, kota yang dibangun dan dibuat oleh Allah.” (Ibrani 11:9, 10) Iman Abraham akan sebuah ”kota”, atau pemerintahan ilahi, di masa depan, membantunya untuk tidak bersandar pada kekayaan. Bukankah bijaksana jika kita berbuat hal yang sama?
9, 10. (a) Bagaimana hasrat untuk menonjolkan diri dapat menimbulkan cobaan? (b) Bagaimana dewasa ini seorang saudara dapat membawakan diri sebagai ”pribadi yang lebih kecil”?
9 Pertimbangkan aspek lain. Alkitab memberikan bimbingan yang tegas ini, ”Jika seseorang berpikir bahwa ia penting padahal ia bukan apa-apa, ia menipu pikirannya sendiri.” (Galatia 6:3) Selain itu, kita didesak untuk ”tidak melakukan apa pun karena sifat suka bertengkar atau karena menganggap diri penting, tetapi dengan rendah hati”. (Filipi 2:3) Beberapa orang mendatangkan cobaan ke atas diri sendiri karena tidak menerapkan nasihat ini. Karena didorong oleh hasrat untuk menonjolkan diri dan bukannya oleh hasrat untuk melakukan ”pekerjaan yang baik”, mereka menjadi kecil hati dan kecewa sewaktu mereka tidak menerima hak istimewa di sidang.—1 Timotius 3:1.
10 Abraham memberikan teladan bagus dalam hal ”tidak berpikir bahwa dirinya lebih tinggi daripada yang semestinya”. (Roma 12:3) Sewaktu berjumpa dengan Melkhizedek, Abraham tidak bertindak seolah-olah kedudukannya yang diperkenan Allah membuat dia lebih unggul. Sebaliknya, ia mengakui kedudukan Melkhizedek yang lebih tinggi sebagai imam dengan membayarkan sepersepuluhan kepadanya. (Ibrani 7:4-7) Orang Kristen dewasa ini hendaknya juga bersedia untuk membawakan diri sebagai ”pribadi yang lebih kecil” dan tidak menuntut untuk selalu menonjol. (Lukas 9:48) Jika orang-orang yang menjalankan kepemimpinan di sidang tampaknya menahan beberapa hak istimewa dari Saudara, periksalah diri sendiri secara jujur untuk menentukan pemurnian apa yang dapat Saudara buat dalam kepribadian atau cara Saudara menangani segala sesuatu. Daripada menjadi getir karena tidak memiliki hak istimewa, manfaatkan sepenuhnya hak istimewa yang sekarang Saudara miliki—hak istimewa untuk membantu orang lain mengenal Yehuwa. Ya, ”hendaklah kamu merendahkan diri di bawah tangan Allah yang perkasa, agar ia meninggikan kamu pada waktunya”.—1 Petrus 5:6.
Iman akan Perkara-Perkara yang Tidak Kelihatan
11, 12. (a) Mengapa beberapa orang di sidang mungkin tidak lagi memiliki perasaan mendesak? (b) Bagaimana Abraham memberikan teladan bagus dalam mendasarkan kehidupannya pada iman akan janji-janji Allah?
11 Yang dapat menjadi cobaan lain adalah bila akhir sistem yang fasik ini tampaknya tertunda. Menurut 2 Petrus 3:12, orang Kristen hendaknya ”menantikan dan terus menaruh kehadiran hari Yehuwa dalam pikiran”. Akan tetapi, banyak orang telah menantikan ”hari” itu selama bertahun-tahun, ada yang selama puluhan tahun. Akibatnya, beberapa orang mungkin menjadi kecil hati dan tidak lagi memiliki perasaan mendesak.
12 Sekali lagi, perhatikan teladan Abraham. Ia mendasarkan seluruh kehidupannya pada iman akan janji-janji Allah, sekalipun tidak ada kemungkinan bahwa semua janji itu akan digenapi pada masa hidupnya. Memang, ia terus hidup sampai putranya, Ishak, bertumbuh dewasa. Akan tetapi, baru berabad-abad kemudian keturunan Abraham dapat sebanding banyaknya dengan ”bintang-bintang di langit” atau ”butir-butir pasir yang ada di tepi laut”. (Kejadian 22:17) Meskipun demikian, Abraham tidak menjadi getir atau kecil hati. Oleh karenanya, rasul Paulus menulis mengenai Abraham dan patriark lainnya, ”Dalam iman, mereka semua mati walaupun tidak mengalami penggenapan janji itu, tetapi mereka melihatnya dari kejauhan dan menyambutnya dan menyatakan di depan umum bahwa mereka adalah orang-orang asing dan penduduk sementara di negeri itu.”—Ibrani 11:13.
13. (a) Bagaimana orang Kristen dewasa ini seperti ”penduduk sementara”? (b) Mengapa Yehuwa akan mengakhiri sistem ini?
13 Jika Abraham dapat menjaga kehidupannya senantiasa terpusat pada janji yang penggenapannya ’masih jauh’, terlebih lagi hendaknya kita dewasa ini, mengingat penggenapan semua itu sudah begitu dekat! Seperti Abraham, kita harus memandang diri kita sebagai ”penduduk sementara” dalam sistem Setan, menolak untuk menetap dalam gaya hidup yang penuh pemuasan diri secara berlebihan. Sudah sewajarnya, kita lebih suka kalau ”akhir dari segala perkara” ini segera tiba, bukan sekadar sudah dekat. (1 Petrus 4:7) Mungkin kita menderita problem kesehatan yang serius. Atau, tekanan ekonomi mungkin sangat membebani kita. Namun, kita harus ingat bahwa Yehuwa mengakhiri sistem ini, bukan hanya untuk menyelamatkan kita dari keadaan yang memedihkan hati, melainkan untuk menyucikan nama-Nya. (Yehezkiel 36:23; Matius 6:9, 10) Akhir itu akan datang, bukan pada waktu yang cocok bagi kita, melainkan pada waktu yang paling tepat menurut maksud-tujuan Yehuwa.
14. Bagaimana kesabaran Allah bermanfaat bagi orang Kristen dewasa ini?
14 Ingatlah juga bahwa ”Yehuwa tidak lambat sehubungan dengan janjinya, seperti anggapan beberapa orang, tetapi ia sabar kepada kamu karena ia tidak ingin seorang pun dibinasakan tetapi ingin agar semuanya bertobat”. (2 Petrus 3:9) Perhatikan, Allah ”sabar kepada kamu”—anggota-anggota sidang Kristen. Jelaslah, beberapa di antara kita membutuhkan lebih banyak waktu untuk membuat perubahan dan penyesuaian agar ’akhirnya didapati oleh-Nya tidak bernoda dan tidak bercacat dan dalam damai’. (2 Petrus 3:14) Jadi, tidakkah kita seharusnya bersyukur bahwa Allah telah memperlihatkan kesabaran demikian?
Menemukan Sukacita meski Menghadapi Rintangan
15. Bagaimana Yesus dapat memelihara sukacitanya sewaktu menghadapi cobaan, dan bagaimana orang Kristen dewasa ini dapat menuai manfaat dengan menirunya?
15 Kehidupan Abraham mengajarkan banyak hikmah kepada orang Kristen dewasa ini. Ia tidak hanya memperlihatkan iman, tetapi juga memperlihatkan kesabaran, kebijaksanaan, keberanian, dan kasih yang tidak mementingkan diri. Ia memprioritaskan ibadat kepada Yehuwa dalam kehidupannya. Namun, harus diingat bahwa teladan terunggul yang hendaknya kita tiru adalah yang diberikan oleh Yesus Kristus. Ia juga menghadapi berbagai cobaan dan ujian, tetapi dalam semuanya itu, ia tidak pernah kehilangan sukacitanya. Mengapa? Karena ia menjaga pikirannya tetap terfokus pada harapan di masa depan. (Ibrani 12:2, 3) Oleh karenanya Paulus berdoa, ”Semoga Allah yang memberikan ketekunan dan penghiburan mengaruniai kamu sikap mental yang sama dengan yang dimiliki Kristus Yesus.” (Roma 15:5) Dengan sikap mental yang benar, kita dapat menemukan sukacita meski menghadapi rintangan yang mungkin diletakkan Setan di hadapan kita.
16. Apa yang dapat kita lakukan sewaktu problem kita tampaknya tak tertanggulangi?
16 Sewaktu problem-problem tampaknya tak tertanggulangi, ingatkan diri Saudara bahwa sebagaimana Yehuwa mengasihi Abraham, Ia juga mengasihi Saudara. Ia ingin agar Saudara berhasil. (Filipi 1:6) Percayalah sepenuhnya kepada Yehuwa, yakin bahwa ”ia tidak akan membiarkan kamu digoda melampaui apa yang dapat kamu tanggung, tetapi sewaktu ada godaan itu ia akan memberikan jalan keluar agar kamu sanggup menahannya”. (1 Korintus 10:13) Tingkatkan kebiasaan membaca Firman Allah setiap hari. (Mazmur 1:2) Bertekunlah dalam doa, memohon kepada Yehuwa agar membantu Saudara bertekun. (Filipi 4:6) Ia akan ”memberikan roh kudus kepada mereka yang meminta kepadanya”. (Lukas 11:13) Manfaatkan persediaan yang Yehuwa berikan untuk menopang Saudara secara rohani, seperti publikasi kita yang berdasarkan Alkitab. Juga, carilah dukungan dari persaudaraan kita. (1 Petrus 2:17) Hadirilah perhimpunan dengan setia, karena di sana Saudara akan menerima anjuran yang Saudara butuhkan agar dapat bertekun. (Ibrani 10:24, 25) Bersukacitalah akan keyakinan bahwa ketekunan Saudara menghasilkan keadaan yang diperkenan di mata Allah dan bahwa kesetiaan Saudara membuat hati-Nya bersukacita!—Amsal 27:11; Roma 5:3-5.
17. Mengapa orang Kristen tidak menyerah kepada keputusasaan?
17 Abraham dikasihi Allah sebagai ’sahabat-Nya’. (Yakobus 2:23) Meskipun demikian, kehidupan Abraham diwarnai ujian dan kesengsaraan yang menekan. Oleh karena itu, orang Kristen dapat mengantisipasi pengalaman serupa selama ”hari-hari terakhir” yang jahat ini. Sebenarnya, Alkitab memperingatkan kita bahwa ”orang fasik dan penipu akan menjadi lebih buruk”. (2 Timotius 3:1, 13) Daripada menyerah kepada keputusasaan, sadarilah bahwa tekanan yang kita hadapi memberi bukti bahwa akhir sistem Setan yang fasik sudah dekat. Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa ”dia yang telah bertekun sampai ke akhir adalah orang yang akan diselamatkan”. (Matius 24:13) Jadi, ’jangan menyerah dalam melakukan apa yang baik!’ Tirulah Abraham, dan jadilah orang yang ”melalui iman dan kesabaran mewarisi apa yang dijanjikan”.—Ibrani 6:12.
-