PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • it-1 “Ara-hutan”
  • Ara-hutan

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Ara-hutan
  • Pemahaman Alkitab, Jilid 1
  • Bahan Terkait
  • Pohon Ara Hutan
    Kitab Suci Terjemahan Dunia Baru (Edisi Pelajaran)
  • Ara-murbei, Pohon
    Pemahaman Alkitab, Jilid 1
  • Amos​—Pemungut atau Penoreh Buah Ara?
    Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—2007
  • Masing-Masing Akan Duduk di bawah Pohon Aranya
    Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—2003
Lihat Lebih Banyak
Pemahaman Alkitab, Jilid 1
it-1 “Ara-hutan”

ARA-HUTAN

[Ibr., syiq·mahʹ].

Pohon yang disebutkan dalam Kitab-Kitab Ibrani ini tidak ada hubungannya dengan pohon ara-hutan Amerika Utara, yang adalah sejenis pohon platan. Ara-hutan yang ini tampaknya sama dengan ”pohon ara-murbei” di Lukas 19:4. Buah pohon ini (Ficus sycomorus) serupa dengan buah ara biasa, tetapi daunnya mirip daun murbei. Tinggi pohon ini mencapai 10 hingga 15 m, dan adalah pohon yang kukuh serta hidupnya bisa sampai beberapa ratus tahun. Tidak seperti ara biasa, ara-hutan (ara-murbei) adalah pohon yang daunnya senantiasa hijau. Meskipun daunnya yang berbentuk hati lebih kecil daripada daun pohon ara, cabang-cabangnya berdaun lebat dan meluas sehingga pohon itu menjadi tempat berteduh yang baik. Karena alasan itulah, pohon ini sering kali ditanam di tepi jalan. Batang pohon yang pendek dan kukuh cepat bercabang sehingga dahan-dahan yang paling bawah dekat ke tanah, dan karena itu orang yang berperawakan kecil seperti Zakheus mudah memanjat pohon ara-murbei yang terletak di tepi jalan agar dapat melihat Yesus.—Luk 19:2-4.

Tandan buah ara-hutan itu besar dan buahnya lebih kecil daripada buah pohon ara biasa dan lebih rendah mutunya. Dewasa ini, penanam pohon ara-hutan (ara-murbei) di Mesir dan Siprus biasanya menusuk buah yang belum matang dengan paku atau alat tajam lain agar buahnya dapat dimakan. Kebiasaan menoreh, atau menusuk, buah ara-hutan pada tahap awal dari proses masaknya sangat meningkatkan produksi gas etilena sehingga mempercepat pertumbuhan dan masaknya buah (tiga hingga delapan kali). Hal ini penting, karena jika tidak dilakukan, buahnya tidak berkembang sepenuhnya dan akan tetap keras atau akan dirusak oleh tawon parasit yang menerobos ke dalam buah dan tinggal di dalamnya untuk berkembang biak. Ini memberikan sedikit penjelasan tentang pekerjaan nabi Amos, yang menggambarkan dirinya sendiri sebagai ”seorang penjaga kawanan domba dan penoreh buah pohon ara-hutan”.—Am 7:14.

Selain tumbuh di Lembah Yordan (Luk 19:1, 4) dan sekitar Tekoa (Am 1:1; 7:14), pohon ara-hutan khususnya banyak terdapat di dataran rendah Syefela (1Raj 10:27; 2Taw 1:15; 9:27), dan meskipun mutu buahnya tidak sama dengan buah pohon ara biasa, Raja Daud menganggapnya cukup bernilai sehingga ia menempatkan seorang kepala administratif untuk mengawasi kebun-kebun di Syefela. (1Taw 27:28) Tampaknya, di Mesir ada banyak sekali pohon ara-hutan (ara-murbei) pada waktu terjadi Sepuluh Tulah, dan pohon-pohon itu tetap menjadi bahan makanan di sana dewasa ini. (Mz 78:47) Kayunya agak lunak serta berpori-pori dan lebih rendah mutunya dibandingkan dengan mutu kayu pohon aras, tetapi ini sangat tahan lama dan banyak digunakan untuk bangunan. (Yes 9:10) Peti-peti mumi yang terbuat dari kayu ara-hutan telah ditemukan dalam makam-makam orang Mesir dan masih dalam kondisi yang baik setelah kira-kira 3.000 tahun.

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan