-
Bagaimana Menghadapi Orang yang Sedang Marah?Sedarlah!—2001 | 22 November
-
-
”Ia marah besar. Mungkin karena melihat badan saya kecil, ia mau menghajar saya. Sambil melangkah mundur, saya berkata, ’Tunggu dulu! Sabar! Sabar! Kenapa kamu mau menghajar saya? Memangnya saya salah apa? Saya bahkan tidak tahu kenapa kamu marah. Bisa kita bicarakan baik-baik?’”—David yang berusia 16 tahun.
-
-
Bagaimana Menghadapi Orang yang Sedang Marah?Sedarlah!—2001 | 22 November
-
-
Amsal 26:4 mengatakan, ”Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, agar engkau sendiri juga tidak menjadi sama dengan dia.” Jeremy yang masih muda menyadari kebenaran kata-kata itu melalui pengalaman pahit. Pada waktu itu, ia sedang duduk di kantin sekolah, ”Ada sekelompok anak laki-laki yang senang mengolok-olok satu sama lain maupun orang lain. Sering sekali, mereka berbicara tentang saya. Biasanya, saya tidak mengacuhkan pembicaraan mereka. Tetapi, sewaktu salah seorang dari mereka mulai berbicara tentang ibu saya, saya hilang kendali dan segera mendatanginya dengan luapan kemarahan. Akibatnya? ”Ia menghajar saya habis-habisan,” kata Jeremy.
-
-
Bagaimana Menghadapi Orang yang Sedang Marah?Sedarlah!—2001 | 22 November
-
-
Bagaimana dengan David, yang disebutkan di awal? Ia berhasil membujuk si pencari gara-gara untuk menjelaskan duduk persoalannya. Rupanya ada yang mencuri makan siangnya, dan ia hendak melampiaskan frustrasinya kepada orang pertama yang ia jumpai. ”Dengan menghajar saya, makananmu tidak akan kembali, kan?” kata David menjelaskan. Kemudian, ia menyarankan agar mereka berdua pergi ke kantin. ”Karena saya mengenal karyawan di kantin,” kenang David, ”saya dapat mengganti makan siangnya. Ia menyalami saya, dan semenjak itu ia ramah kepada saya.” Dapatkah Anda melihat betapa ampuhnya kata-kata yang lemah lembut? Seperti kata sebuah amsal, ”lidah yang lemah lembut dapat mematahkan tulang”.—Amsal 25:15.
-
-
Bagaimana Menghadapi Orang yang Sedang Marah?Sedarlah!—2001 | 22 November
-
-
”Seorang anak lelaki yang populer di sekolah mendatangi saya dan ingin berbicara,” kata Merissa yang berusia 17 tahun. ”Ia bilang saya cantik. Tiba-tiba, pacarnya mendatangi saya dengan kemarahan yang meluap-luap. Ia menuduh saya menggoda pacarnya dan ia mengajak saya berkelahi! Saya berupaya menjelaskan duduk persoalannya, tapi ia tidak mau mendengarkan. Seusai sekolah, ia kembali dengan beberapa gadis untuk menghajar saya! Saya segera mencari satpam, dan saya menjelaskan kepada gadis yang marah itu bahwa saya tidak mau berkelahi dan bahwa pacarnya sendiri yang mendatangi saya. Setelah itu, saya beranjak pergi.” Merissa tidak membiarkan dirinya termakan emosi. Ia tidak hanya menghindari perkelahian, tetapi juga mengambil langkah-langkah untuk melindungi dirinya. Seperti kata Amsal 17:27, ”siapa pun yang menahan perkataannya mempunyai pengetahuan, dan orang yang berdaya pengamatan mempunyai semangat yang tenang”.
-