PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • ’Ini Semua Salah Dia!’—Perdamaian meskipun Adanya Perbedaan
    Sedarlah!—1986 (No. 16) | Sedarlah!—1986 (No. 16)
    • ”NAH, kalau kau membereskan segala sesuatu dan melakukan apa yang seharusnya kau lakukan,” bentak Santi, ”maka saya akan melakukan apa yang harus saya lakukan.” Suaminya, Agus, menelan saja ledakan amarah itu. Tetapi dalam pikirannya ia merasa justru kebalikannya. Keduanya mengetahui apa yang dikatakan Alkitab, namun masing-masing merasa pihak satu yang tidak menerapkannya.

      Pasangan-pasangan sering menemui jalan buntu sedemikian, karena merasa yakin bahwa problem-problem mereka terutama disebabkan kesalahan pihak yang satu. Karena merasa pasti bahwa ini kesalahan Agus dan bahwa dia tidak akan berubah, Santi meninggalkan dia. ”Saya merasa tidak ada gunanya saya berusaha,” katanya. ”Keadaan nampaknya tidak ada harapan.” Apakah anda pernah merasa demikian? Untung sekali pasangan ini mendapatkan jalan keluar yang menyelamatkan perkawinan mereka.

      Apakah Hanya Kesalahan Satu Orang?

      Di perhimpunan Saksi-Saksi Yehuwa, Santi mendengar sesuatu yang menyentuh hatinya. Seorang rohaniwan mengatakan bahwa kerendahan hati penting untuk memperkembangkan komunikasi dalam perkawinan. Santi dengan rendah hati mulai memeriksa diri, untuk melihat apakah dia turut menjadi penyebab dari problem mereka.

      Sebenarnya, kita semua cepat sekali membebaskan diri dari kesalahan. ”Pembicara pertama dalam sidang pengadilan selalu nampaknya benar, tapi pernyataannya mulai diuji apabila datang lawannya.” (Amsal 18:17, BIS) Menyalahkan pasangan kita hanya suatu dalih yang dangkal dan menghindari penyelidikan yang menyakitkan atas diri sendiri dalam mencari penyebab-penyebab yang mungkin membuat terjadinya keadaan yang sulit. Menurut Alkitab, anda dapat ”mendirikan” atau ”meruntuhkan” perkawinan anda dengan ’tangan anda sendiri’. (Amsal 14:1) Menyelidiki diri sendiri dengan ”diuji” sering kali membuka kesempatan untuk memperbaiki diri.

      Penyelidikan batin ini menjadi awal dari penyelesaian bagi Santi. Ia sadar bahwa ia tidak mungkin dapat mengubah suaminya, yang menurut dia bersikap sebagai ”boss”, dengan cara ia bertindak selama ini. Tetapi ia dapat mengubah tanggapannya sendiri dan cara ia berbicara kepada suaminya. Hal ini akan mempengaruhi sang suami untuk memperbaiki diri. Jadi ia kembali ke rumah dan sekarang bertekad untuk menjaga kata-katanya. Hasilnya positif.

      Kuasa dari Lidah

      ”Lidah yang berbicara dengan penuh damai adalah pohon dengan buah-buah yang memberikan kehidupan”, kata Alkitab, tetapi ”lidah yang tanpa disiplin dapat mematahkan hati”. (Amsal 15:4, The Holy Bible oleh Ronald A. Knox) Ucapan-ucapan yang tanpa dipikir, ”tanpa disiplin” sering akan menimbulkan kemarahan dan kekesalan. ”Saya biasanya selalu menuduhnya bahwa ia mengawini saya hanya supaya ada orang yang mengurus rumah dan anak-anaknya,” Santi mengakui. ”Ia akan marah dan mulai memaki-maki. Jadi, saya tidak mengatakan hal-hal ini lagi. Saya tidak lagi cerewet dan bersifat terlalu kritis. Saya juga tidak lagi merendahkan dia di depan anak-anak, tetapi saya akan menunggu waktu yang tepat untuk membahas hal-hal yang tidak saya senangi. Saya berusaha mendengarkan lebih baik dan memuji dia jika saya dapat.”

      Perkawinan mereka menjadi lebih hangat seraya Agus memberi sambutan. Apakah kata-kata anda memperkaya perkawinan atau menimbulkan kepedihan, ”mematahkan hati” teman hidup? Apakah anda mengindahkan perintah Alkitab agar ’seperasaan dan menyayangi’?—1 Petrus 3:8.

      Misalnya, suatu pasangan lain, Anton dan Wati, membicarakan makanan pencuci mulut apa yang akan disajikan untuk pesta makan malam ”Yang sederhana saja. Beli saja kue,” anjuran Anton. Wati berkeras untuk membuat sendiri kue yang pembuatannya agak merepotkan. Dan benar, tepat sebelum tamu-tamu tiba, Anton mendengar keluhan dari dapur. Kue itu gagal. ”Saya kan sudah bilang kau tidak usah mencoba untuk membuat kue itu, bodoh!” kata Anton, tanpa timbang rasa sedikit pun terhadap kekalutan istrinya. ”Sekarang apa yang akan kamu sajikan untuk pencuci mulut?”

      ”Hampir saja saya melemparkan kue itu ke mukanya,” Wati mengakui. Kedatangan tamu-tamu itulah yang mencegah timbulnya ”perang”. Mereka hampir tidak saling berbicara sama sekali selama berhari-hari setelah itu. Tetapi dapatkah Anton menuduh bahwa semua ini salah istrinya? Sebaliknya, ucapannya yang tanpa dipikir ”seperti tikaman pedang”, menimbulkan akibat yang membakar. (Amsal 12:18) Betapa jauh lebih membina jika ia menyatakan tenggang rasa dan menyarankan sesuatu yang lain!

      Tetapi, bagaimana jika teman hidup anda kesal karena suatu problem pribadi yang menyedihkan atau kegagalan? Memang, anda tahu bahwa anda bukan sasaran yang sebenarnya. Meskipun demikian, bagaimana tindakan anda jika, karena frustrasi, pihak yang satu melampiaskan kemarahan kepada anda?

  • ’Ini Semua Salah Dia!’—Perdamaian meskipun Adanya Perbedaan
    Sedarlah!—1986 (No. 16) | Sedarlah!—1986 (No. 16)
    • [Kotak di hlm. 10]

      ”Hanya dalam keadaan-keadaan yang sangat jarang, seperti misalnya jika, tanpa sepengetahuan seseorang pada waktu menikah, pasangannya adalah pecandu alkohol atau sakit mental, sebagian besar dari kesalahan suatu perkawinan yang tidak bahagia dapat ditimpakan kepada salah seorang dari pasangan itu dan bukan kepada kedua-duanya.” Ini adalah kesimpulan yang diambil oleh Gary Birchler dari Sekolah Kedokteran Universitas Kalifornia, setelah mengadakan cukup banyak riset dalam bidang perkawinan.

      [Gambar di hlm. 9]

      Bila ketegangan memuncak, apakah ucapan anda akan membuat keadaan lebih baik atau lebih buruk?

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan