-
Atmosfer Kita yang BerhargaSedarlah!—1994 | 8 Desember
-
-
Atmosfer Kita yang Berharga
PADA tanggal 4 Mei 1961, Malcolm Ross dan Vic Prather dibawa membubung hingga ketinggian 34,6 kilometer. Ketika itu, Ross tidak begitu terkesan akan catatan rekor barunya. Yang membuatnya terkesan adalah pemandangan sewaktu ia dengan hati-hati menaikkan kerai dan melihat ke luar dari gondola untuk pertama kalinya.
”Sewaktu kita berada pada ketinggian 30.500 meter,” kenangnya, ”pemandangannya sungguh luar biasa.” Ross merasa takjub melihat warna-warni yang menandakan lapisan-lapisan yang berbeda dari atmosfer. Pertama-tama, warna troposfer yang ”biru cerah dan keputih-putihan”, yang menjulang sekitar 16 kilometer di atas bumi. Kemudian, stratosfer berwarna biru tua menjadi semakin gelap hingga akhirnya yang ada hanya kegelapan ruang angkasa. ”Dalam keheningan yang memesona, kami merenungkan keindahan atmosfer yang sangat ringan itu.” tulis Ross dalam National Geographic.
Memang, atmosfer kita yang indah patut direnungkan.
Penunjang Kehidupan
Sebenarnya, atmosfer kita merupakan suatu lautan udara yang mengelilingi bumi hingga ketinggian kira-kira 80 kilometer. Beratnya lebih dari 5.000.000.000.000.000 (5 kuadriliun) ton dan menekan kepala kita dengan kekuatan 1,03 kilogram per sentimeter persegi atau 101 kilopascal atau 1.013 milibar di atas permukaan laut. Tanpa tekanan udara tersebut, kita tidak dapat hidup, mengingat, tekanan tersebut mencegah menguapnya cairan tubuh kita. Bagian atas atmosfer tidak memiliki cukup tekanan udara untuk menunjang kehidupan manusia. Karena alasan itulah, Ross dan Prather harus mengenakan pakaian ruang angkasa yang diberi tekanan. ”Tanpa tekanan buatan,” Ross menjelaskan, ”darah kita akan mendidih, pembuluh darah dan organ-organ kita akan pecah.”
Tentu saja, kita juga membutuhkan lautan udara ini untuk tetap bernapas. Akan tetapi, kebanyakan dari kita menganggap hal itu sudah semestinya, karena kita tidak dapat melihatnya. Seorang pria yang religius di zaman dahulu dengan penuh penghargaan mengatakan, ”[Allah] memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.”—Kisah 17:24, 25.
Tanpa atmosfer kita, tidak akan ada medium yang dapat membuat debu melayang-layang yang memungkinkan terbentuknya tetesan air. Sehingga, tidak akan ada hujan. Jika bukan karena atmosfer, kita akan hangus oleh sinar matahari yang langsung, dan kita akan beku kedinginan pada malam hari. Syukurlah, atmosfer berfungsi bagaikan selimut, yang menjerat sebagian panas matahari sehingga malam tidak terlalu dingin.
Lagi pula, atmosfer menyediakan perlindungan terhadap jatuhnya meteor dari ruang angkasa yang dapat membahayakan penduduk bumi. ”Benda-benda padat dari ruang angkasa,” Herbert Riehl menjelaskan dalam bukunya Introduction to the Atmosphere, ”jatuh di batas luar dari atmosfer dengan berat keseluruhan kira-kira beberapa ribu ton per hari.” Akan tetapi, kebanyakan meteor hancur di atmosfer sebelum mencapai permukaan bumi.
Atmosfer membuat hidup kita lebih menyenangkan. Ia memberikan kita langit yang biru dan indah, awan putih besar, hujan yang menyegarkan, serta terbit dan terbenamnya matahari yang sangat indah. Selain itu, tanpa atmosfer kita tidak dapat mendengar suara dari orang-orang yang kita cintai, kita juga tidak dapat mendengarkan musik favorit kita. Mengapa? Karena gelombang suara membutuhkan suatu zat sebagai penghantar. Udara merupakan pembawa suara yang sempurna, sedangkan di luar angkasa tidak ada suara yang dapat terdengar.
Suatu Campuran yang Menakjubkan
Di zaman purba, manusia menganggap atmosfer sebagai suatu zat tunggal. Kemudian, pada akhir abad ke-18, para ilmuwan mendapati bahwa atmosfer sebagian besar terdiri dari dua gas yang saling melengkapi, nitrogen dan oksigen. Kira-kira 78 persen dari atmosfer adalah nitrogen dan 21 persen oksigen; 1 persen lagi terdiri dari gas-gas seperti argon, uap air, karbon dioksida, neon, helium, kripton, hidrogen, xenon, dan ozon.
Tentu saja, oksigen adalah gas penunjang kehidupan yang diserap oleh tubuh kita melalui pernapasan. Kadar oksigen di atmosfer kita sempurna bagi kehidupan di atas bumi. Jika kadarnya terlalu rendah, kita akan mengantuk dan akhirnya hilang kesadaran. Jika konsentrasinya terlalu tinggi, dikatakan bahkan ranting-ranting yang lembap dan rumput di hutan dapat terbakar.
Nitrogen adalah pengencer oksigen yang sempurna, namun nitrogen berfungsi lebih dari sekadar memainkan peranan yang pasif dalam menunjang kehidupan. Semua organisme harus memiliki nitrogen agar dapat hidup. Tumbuh-tumbuhan memperoleh nitrogen dari atmosfer dengan bantuan petir dan sejenis bakteri khusus. Sebaliknya, kita memperoleh nitrogen dari makanan yang kita santap.
Kenyataan bahwa atmosfer kita mempertahankan perbandingan yang tepat antara oksigen dan nitrogen benar-benar luar biasa. Nitrogen dikembalikan ke atmosfer, berkat kerja yang begitu berharga dari mikroorganisme. Bagaimana dengan oksigen? Dalam jumlah yang banyak sekali oksigen digunakan untuk pembakaran dan untuk pernapasan dari manusia dan hewan. Namun, atmosfer dapat mempertahankan kadar oksigen sebanyak 21 persen. Bagaimana? melalui fotosintesis—proses kimiawi yang terjadi pada daun-daun hijau dan ganggang—yang melepaskan lebih dari satu miliar ton oksigen ke dalam atmosfer setiap hari.
Fotosintesis tidak dapat berlangsung tanpa karbon dioksida—sejenis gas yang sangat sedikit jumlahnya yang membentuk hanya 0,03 persen dari atmosfer. Dengan bantuan cahaya, tumbuh-tumbuhan bergantung pada karbon dioksida agar dapat tumbuh dan menghasilkan buah, biji-bijian, padi-padian, dan sayur-mayur. Karbon dioksida juga memantulkan panas kembali ke bumi untuk menjaga planet kita tetap hangat. Tetapi, jika kadar karbon dioksida bertambah banyak melalui pembakaran dari terlalu banyak kayu, batu bara, gas alam, dan minyak tanah, temperatur di bumi akhirnya akan menjadi begitu panas sehingga kehidupan akan lenyap. Sebaliknya, jika karbon dioksida terlalu banyak berkurang, fotosintesis akan berhenti, dan kita akan mati kelaparan.
Ozon adalah sejenis gas lain yang sangat sedikit jumlahnya, dan kehidupan di bumi bergantung pada gas tersebut. Ozon yang berada di lapisan atas atmosfer yang disebut stratosfer menyerap sinar ultraviolet dari matahari. Dengan demikian, kita di bumi terlindung dari sinar ultraviolet yang berbahaya.
Tentu saja, semakin banyak yang kita ketahui tentang atmosfer, semakin banyak alasan kita untuk merasa takjub. Komposisinya yang terdiri dari nitrogen, oksigen, dan beberapa gas lain yang jumlahnya sangat sedikit begitu tepat. Ukuran bumi juga begitu tepat untuk mempertahankan keseimbangan. Seandainya bumi lebih kecil dan beratnya kurang, gravitasinya akan terlalu lemah, dan banyak dari atmosfer kita yang berharga akan terlepas ke ruang angkasa.
”Sebaliknya,” kata buku pelajaran ilmiah Environment of Life, ”seandainya bumi sedikit lebih berat daripada beratnya sekarang, gaya gravitasi akan bertambah sehingga menyebabkan lebih banyak gas yang akan tertahan. . . . Keseimbangan yang pelik di antara gas-gas di atmosfer akan kacau.”
Akan tetapi, sungguh menyedihkan ”keseimbangan yang pelik ini” sedang dikacaukan oleh gaya hidup manusia modern. Seberapa seriuskah situasinya, dan harapan apa yang ada sehingga atmosfer kita yang berharga dapat diselamatkan dari kehancuran?
[Kotak di hlm. 19]
Manakala Terbenamnya Matahari Tampak Lebih Indah
Atmosfer memantulkan sinar matahari begitu rupa sehingga membuat langit tampak berwarna biru menyenangkan. Seraya matahari terbenam menuju horizon, sinarnya harus melewati lebih banyak atmosfer lagi. Hal ini menghasilkan berbagai warna indah yang mungkin belum pernah dilihat oleh penduduk kota.
Terbenamnya matahari di atas kota-kota industri biasanya buram dan tidak berwarna-warni selain daripada bayang-bayang berwarna merah. Jika daerah tertentu begitu berat polusinya, jurnal New Scientist mengatakan, ”Matahari tampak bagaikan cakram merah buram yang mungkin lambat laun menghilang bahkan sebelum mencapai horizon.”
”Dalam atmosfer yang sama sekali bersih, dan tidak tercemar,” jurnal tersebut menjelaskan, ”warna-warni sewaktu matahari terbenam begitu jelas. Matahari berwarna kuning cerah dan langit di sekelilingnya berupa bayang-bayang berwarna jingga dan kuning. Seraya Matahari menghilang di bawah horizon, warna-warni berubah dengan perlahan-lahan dari jingga menjadi biru. Awan-awan yang ada di bawah terus memantulkan cahaya Matahari, bahkan setelah Matahari menghilang.”
Bayangkanlah variasi dari terbenamnya matahari yang indah yang akan dinikmati dalam dunia yang bebas polusi!—Wahyu 21:3-5.
-
-
Bila Atmosfer Kita RusakSedarlah!—1994 | 8 Desember
-
-
Bila Atmosfer Kita Rusak
PADA tahun 1971, dalam perjalanan ke bulan menggunakan Apollo 14, Edgar Mitchell mengatakan sewaktu melihat bumi, ”Bumi laksana permata biru dan putih yang berkilauan.” Namun, seperti apa bumi sekarang kalau dilihat dari ruang angkasa?
Andaikata ada kacamata khusus yang memungkinkan dia memandang gas-gas yang tidak kelihatan yang ada dalam atmosfer bumi, ia akan melihat suatu pemandangan yang jauh berbeda. Dalam majalah India Today, Raj Chengappa menulis, ”Ia akan melihat kebocoran-kebocoran raksasa pada perisai ozon pelindung di wilayah Antartika dan Amerika Utara. Sebaliknya daripada permata biru dan putih yang berkilauan, ia akan melihat bumi yang kusam dan kotor dipenuhi pusaran awan-awan hitam dari karbon dioksida dan belerang.”
Apa yang menyebabkan adanya lubang-lubang pada lapisan atas dari perisai ozon yang bersifat melindungi atmosfer kita? Apakah bertambahnya polutan atmosferis sebegitu berbahaya?
Bagaimana Ozon Sedang Dirusak
Lebih dari 60 tahun yang lalu, para ilmuwan mengumumkan penemuan semacam zat pendingin yang aman yang dapat menggantikan zat-zat pendingin lain yang bersifat racun dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Zat kimia yang baru itu tersusun dari molekul-molekul yang memiliki satu atom karbon, dua klor, dan dua fluor (CCl2F2). Zat ini dan zat kimia buatan yang serupa disebut klorofluorokarbon (CFC).
Menjelang awal tahun 1970-an, produksi CFC telah berkembang menjadi industri raksasa seluas dunia. Zat tersebut tidak lagi hanya digunakan di lemari es namun juga di kaleng semprot aerosol, pendingin udara (AC), zat pembersih, dan dalam pembuatan wadah fast-food dan produk-produk busa plastik lainnya.
Akan tetapi, pada bulan September 1974, dua ilmuwan bernama Sherwood Rowland dan Mario Molina, menjelaskan bahwa CFC lambat laun naik ke dalam stratosfer lalu akhirnya melepaskan atom klornya. Tiap-tiap atom klor, menurut perhitungan para ilmuwan tersebut, dapat menghancurkan ribuan molekul ozon. Namun, sebaliknya daripada dihancurkannya ozon secara merata di seluruh lapisan atas dari atmosfer, hancurnya ozon ternyata jauh lebih besar di atas wilayah kutub utara dan selatan.
Setiap musim semi sejak tahun 1979, sejumlah besar ozon telah lenyap kemudian muncul kembali di atas wilayah Antartika. Lenyapnya ozon musiman ini disebut lubang ozon. Lagi pula, pada tahun-tahun belakangan ini apa yang disebut lubang ozon telah menjadi semakin besar dan bertahan lebih lama. Pada tahun 1992, perhitungan yang dilakukan satelit mengungkapkan ukuran lubang ozon—lebih besar daripada Amerika Utara. Dan tidak banyak ozon yang tersisa di dalamnya. Pengukuran-pengukuran yang dilakukan oleh balon udara menyingkapkan adanya penurunan kadar ozon lebih dari 60 persen—yang paling rendah yang pernah dicatat.
Sementara itu, kadar ozon juga telah merosot di bagian atas atmosfer pada bagian-bagian lain dari bumi. ”Pengukuran terakhir,” majalah New Scientist melaporkan, ”memperlihatkan bahwa . . . adanya tingkat konsentrasi ozon yang luar biasa rendah pada tahun 1992 antara 50° Lintang Utara dan 60° Lintang Utara, yang meliputi wilayah Eropa Utara, Rusia dan Kanada. Kadar ozon 12 persen di bawah normal, lebih rendah dibanding waktu mana pun dalam 35 tahun pemantauan yang terus-menerus.”
Jurnal Scientific American menyatakan, ”Bahkan prakiraan yang paling mengerikan kini disajikan untuk memperlihatkan diremehkannya kerusakan ozon yang disebabkan oleh klorofluorokarbon. . . . Namun ketika itu, pihak-pihak yang berpengaruh di pemerintahan dan kalangan industri menentang keras peraturan-peraturan atas dasar ketidaklengkapan bukti-bukti ilmiah.”
Kira-kira 20 juta ton CFC telah dilepaskan ke dalam atmosfer. Karena butuh waktu bertahun-tahun bagi CFC untuk sampai ke stratosfer, berjuta-juta ton CFC belum mencapai lapisan atas dari atmosfer yang merupakan bagian yang akan dirusak. Akan tetapi, CFC bukanlah satu-satunya sumber klor yang menghancurkan ozon. ”NASA memperkirakan bahwa kira-kira 75 ton klor disimpan di lapisan ozon setiap kali pesawat ruang angkasa diluncurkan,” demikian laporan majalah Popular Science.
Apa Akibatnya?
Akibat dari berkurangnya ozon di bagian atas atmosfer tidak sepenuhnya dimengerti. Akan tetapi, satu hal yang tampaknya pasti adalah bertambah banyaknya radiasi sinar UV (ultraviolet) yang berbahaya yang mencapai bumi, yang dapat mengakibatkan timbulnya kanker kulit yang lebih hebat. ”Selama dasawarsa terakhir,” jurnal Earth melaporkan, ”dosis tahunan dari UV yang berbahaya yang menghantam belahan bumi utara meningkat kira-kira 5 persen.”
Kenaikan kadar UV sebesar 1 persen saja diperkirakan menyebabkan kenaikan jumlah penderita kanker kulit sebesar 2 sampai 3 persen. Majalah Afrika Getaway menyatakan, ”Ada lebih dari 8.000 kasus baru berkenaan kanker kulit di Afrika Selatan setiap tahun . . . Kita memiliki salah satu tingkat terendah dari perlindungan ozon dan salah satu tingkat tertinggi timbulnya kanker kulit (hubungan antara keduanya bukanlah suatu hal yang kebetulan).”
Hancurnya ozon di lapisan atas atmosfer akan menyebabkan meningkatnya kanker kulit telah diperkirakan bertahun-tahun sebelumnya oleh ilmuwan bernama Rowland dan Molina. Mereka menganjurkan larangan langsung terhadap penggunaan CFC dalam aerosol di Amerika Serikat. Karena sadar akan bahayanya, banyak negara telah setuju untuk menghentikan produksi CFC menjelang Januari 1996. Akan tetapi, sementara ini penggunaan CFC terus mengancam kehidupan di bumi.
Turunnya ozon di atas wilayah Antartika, menurut laporan Our Living World, ”telah memungkinkan radiasi ultraviolet menembus lebih jauh ke dalam lautan dibanding yang diduga sebelumnya. . . . Ini telah menyebabkan penurunan yang cukup besar dalam produktivitas dari organisme bersel tunggal yang merupakan dasar dari rantai makanan di laut”. Percobaan-percobaan juga memperlihatkan bahwa meningkatnya UV menurunkan tingkat panen pada banyak jenis tanaman, yang menimbulkan ancaman bagi persediaan makanan sedunia.
Memang, penggunaan CFC merupakan suatu potensi bencana. Namun, atmosfer kita kini sedang dibombardir oleh banyak polutan lain. Salah satunya adalah suatu gas atmosferis yang dalam jumlah sangat sedikit, penting bagi kehidupan di bumi.
Efek dari Polusi
Pada pertengahan abad ke-19, manusia mulai membakar batu bara, gas alam, dan minyak bumi dalam jumlah yang lebih besar lagi, menambah karbon dioksida dalam jumlah besar ke dalam atmosfer. Pada waktu itu, kadar gas atmosferis yang jumlahnya sangat sedikit ini berkisar 285. Namun, sebagai akibat dari meningkatnya penggunaan bahan bakar fosil oleh manusia, jumlah dari karbon dioksida telah mencapai lebih dari 350 ppm. Apa akibat dari semakin banyaknya gas penjerat panas ini dalam atmosfer?
Banyak orang percaya bahwa tingkat pertambahan karbon dioksida telah menyebabkan meningkatnya temperatur bumi. Akan tetapi, para peneliti lain mengatakan bahwa pemanasan global terutama disebabkan oleh variabilitas matahari kita—bahwa matahari telah memancarkan energi yang lebih besar akhir-akhir ini.
Apa pun kasusnya, dasawarsa 1980-an merupakan yang terpanas semenjak pencatatan mulai dilakukan pada pertengahan abad ke-19. ”Kecenderungannya terus berlanjut hingga dasawarsa ini,” demikian laporan surat kabar Afrika Selatan The Star, ”dengan tahun 1990 merupakan rekor tahun terpanas, 1991 menduduki urutan ketiga terpanas, dan 1992 . . . urutan kesepuluh rekor terpanas selama 140 tahun pencatatan.” Sedikit penurunan pada temperatur selama lebih dari dua tahun terakhir ini ada hubungannya dengan dimuntahkannya debu ke dalam atmosfer sewaktu Gunung Pinatubo meletus pada tahun 1991.
Pengaruh di masa depan berkenaan bertambahnya temperatur di bumi begitu hangat diperdebatkan. Namun, satu hal yang jelas telah dilakukan oleh pemanasan global ialah memperumit tugas yang memang sudah sulit dalam memprakirakan cuaca. New Scientist mencatat bahwa prakiraan yang keliru ”kemungkinan besar semakin terjadi seraya pemanasan global mengubah iklim”.
Banyak perusahaan asuransi merasa takut kalau-kalau pemanasan global akan membuat polis mereka tidak menguntungkan. ”Dihadapkan dengan banyaknya kemalangan,” demikian pengakuan The Economist, ”beberapa perusahaan reasuransi tidak memasukkan kemungkinan adanya bencana alam. Yang lain membicarakan kemungkinan menarik diri sama sekali dari pasar. . . . Mereka takut terhadap ketidakpastian.”
Menarik sekali, pada tahun 1990, yang merupakan rekor tahun terpanas, sebagian besar dari bongkahan es di lautan Artik menyusut hingga tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini mengakibatkan ratusan beruang kutub terdampar di Pulau Wrangell selama lebih dari satu bulan. ”Dengan pemanasan global,” demikian majalah BBC Wildlife memperingatkan, ”kondisi-kondisi ini . . . kemungkinan bisa menjadi peristiwa biasa.”
Sebuah surat kabar Afrika melaporkan pada tahun 1992, ”Para pakar cuaca menyalahkan pemanasan global atas kenaikan yang dramatis pada jumlah gunung es yang mengapung di sebelah utara dari Antartika dan menimbulkan bahaya bagi kapal-kapal di selatan Atlantik.” Menurut terbitan Earth bulan Januari 1993, naiknya garis pantai Kalifornia selatan secara perlahan-lahan, sebagian adalah karena meningkatnya suhu air.
Sayang sekali, manusia terus memompa begitu banyak jumlah gas beracun ke dalam atmosfer. Buku The Earth Report 3 menyatakan, ”Di AS, sebuah laporan pada tahun 1989 oleh Badan Perlindungan Lingkungan memperkirakan bahwa lebih dari 900.000 ton zat kimia beracun dipompakan ke dalam udara setiap tahun.” Angka ini dianggap terlalu rendah karena ini tidak termasuk asap buangan dari jutaan kendaraan bermotor.
Laporan-laporan yang mengejutkan sehubungan polusi udara juga datang dari banyak negara industri lainnya. Yang khususnya mengerikan adalah disingkapkannya baru-baru ini polusi udara yang tidak terkendali di negeri-negeri Eropa Timur selama dasawarsa pemerintahan Komunis.
Pohon-pohon di bumi yang menyerap karbon dioksida dan melepaskan oksigen, merupakan salah satu korban dari udara beracun. New Scientist melaporkan, ”Pohon-pohon di Jerman terus tumbuh dengan tidak sehat, menurut . . . menteri pertanian [yang mengatakan] bahwa polusi udara terus menjadi salah satu dari penyebab utama hutan tidak sehat.”
Situasinya mirip dengan apa yang terjadi di daerah yang ditumbuhi rumput di Dataran Tinggi Transvaal Afrika Selatan. ”Tanda pertama adanya kerusakan hujan asam kini terlihat di Transvaal Timur tempat tumbuhnya pohon pinus jarum yang daunnya semula terlihat sehat berubah warna dari hijau gelap menjadi coklat berbintik-bintik kusam,” demikian James Clarke melaporkan dalam bukunya Back to Earth.
Laporan-laporan demikian berasal dari seputar dunia. Tidak ada satu negara pun yang kebal. Dengan cerobong asap yang menjulang tinggi ke langit, negara-negara industri mengirim polusi mereka ke negara-negara tetangga. Catatan perkembangan industri manusia yang tamak tidak menjanjikan harapan.
Akan tetapi, ada dasar untuk optimis. Kita dapat yakin bahwa atmosfer kita yang berharga akan diselamatkan dari kehancuran. Pelajarilah dalam artikel berikut bagaimana hal ini akan diwujudkan.
[Gambar di hlm. 21]
Rusaknya ozon pada bagian atas atmosfer telah menyebabkan meningkatnya kanker kulit
[Gambar di hlm. 23]
Apa akibat dari polusi demikian?
-
-
Bagaimana Atmosfer Kita Diselamatkan?Sedarlah!—1994 | 8 Desember
-
-
Bagaimana Atmosfer Kita Diselamatkan?
APAKAH umat manusia bersedia menghentikan pencemaran langit kita dengan sampah? Beginikah caranya atmosfer kita akan diselamatkan?
Tidak. Penyelamatan atmosfer kita yang berharga tidak bergantung pada ketundukan manusia dalam memenuhi syarat-syarat anti polusi. Sebaliknya, turun tangannya Pribadi yang memiliki wewenang tertinggi, itulah yang akan mewujudkan bukan hanya atmosfer yang bersih melainkan juga bumi yang bersih.
Kenyataan bahwa sang Pencipta peduli akan bumi kita, dan juga kehidupan di atasnya, diperlihatkan melalui cara Ia merancang bumi secara menakjubkan. Ia menciptakannya agar dapat bertahan sepanjang masa, bahkan selama-lamanya.—Mazmur 104:5, 24.
Persediaan untuk Pemeliharaan
Misalnya, atmosfer diciptakan sedemikian rupa sehingga dapat memperbaiki dan membersihkan diri sendiri. Perhatikan ozon pada lapisan atas atmosfer. Perisai ozon dibuat begitu hebatnya sehingga dapat menyerap radiasi ultraviolet yang dapat berakibat fatal atas manusia di bumi. Pada waktu yang sama, ozon memungkinkan cahaya yang tidak berbahaya yang dibutuhkan bagi kehidupan di bumi menembus atmosfer.
Kita telah mengetahui sebelumnya bahwa perisai ozon sedang dirusak oleh klorofluorokarbon buatan manusia, yang naik hingga ke lapisan atas dari atmosfer. Bagaimana perisai ozon pelindung dapat diperbarui lagi? Secara menakjubkan, Pencipta merancangnya agar dapat memperbaiki sendiri. Ya, ozon secara konstan sedang dibuat di lapisan atas dari atmosfer—sebenarnya, oleh berbagai sinar berbahaya dari matahari yang disaring oleh ozon itu sendiri! Dengan demikian, sementara polusi buatan manusia dengan cepat menghancurkan ozon, sebagian ozon sedang diperbarui.
Situasi seperti ini pun terjadi di bagian atmosfer yang lebih rendah, tempat lebih dari 5 kuadriliun ton udara berada. Siklus alamiah dengan cepat membersihkan udara yang tercemar ini dengan cara yang menakjubkan. The World Book Encyclopedia mengomentari, ”Angin menyerakkan polutan-polutan, dan hujan serta salju membawanya ke tanah.”
Maka, jelaslah jika umat manusia menghentikan pencemaran udara, atau membatasi polusi demikian secara besar-besaran, udara di mana-mana segera akan menjadi manis dan harum. Namun buku referensi tersebut memberi tahu masalahnya, dengan menjelaskan, ”Di banyak daerah, polutan dimasukkan ke dalam udara lebih cepat daripada yang dapat disingkirkan oleh kondisi cuaca.”
Kalau begitu, bagaimana pencemaran atmosfer yang dilakukan manusia secara mementingkan diri akan dihentikan?
Bumi yang Dibersihkan Sudah Dekat
Polusi akan dihentikan hanya oleh Allah sendiri, sewaktu Ia turun tangan. Alkitab menubuatkan bahwa Ia akan ”membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi”. (Wahyu 11:18) Ia tidak akan membiarkan manusia yang tamak seterusnya mencemari bumi yang indah ini dan atmosfernya yang menopang kehidupan selamanya. Ia berjanji, ”Orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan [Yehuwa] akan mewarisi negeri.”—Mazmur 37:9.
Bagaimana semua orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan? Ini akan terjadi melalui pemerintahan surgawi Allah, Kerajaan-Nya, yang akan menggantikan pemerintahan manusia yang tidak cakap. Alkitab menjanjikan, ”Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, . . . kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya.” (Daniel 2:44) Pemerintahan Kerajaan Allah inilah yang diajarkan Yesus kepada para pengikutnya untuk didoakan, ”Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”—Matius 6:10.
Kehendak Allah bagi bumi kita adalah agar umat manusia diperintah oleh Kerajaan-Nya dan dengan demikian menikmati kehidupan dalam lingkungan yang tidak tercemar. Itulah sebabnya Allah bertekad ”untuk membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi”. (Wahyu 11:18) Betapa hebat tindakan penyelamatan itu kelak!
Bayangkan kita hidup di atas bumi yang bebas dari semua polusi yang telah ditimbun-timbun oleh manusia yang mementingkan diri! Pada waktu itu, atmosfer kita yang berharga akan dipulihkan kepada keadaan yang sehat. Hal ini akan terjadi sewaktu janji Alkitab digenapi, ”Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”—Wahyu 21:3, 4; 2 Petrus 3:13.
Apa yang harus Anda lakukan agar dapat selamat memasuki dunia baru yang adil-benar yang dijanjikan Allah? Anda perlu belajar dan mengikuti ajaran dari pribadi yang diutus Allah ke bumi sebagai wakil-Nya. (Yohanes 3:16; 7:29) Pribadi ini, Yesus Kristus, berkata dalam doa kepada Allah, ”Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”—Yohanes 17:3.
[Gambar di hlm. 24]
Bumi firdaus yang bersih, dan tak tercemar sudah dekat
-