PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Agama Palsu Berperan sebagai Pelacur
    Menara Pengawal—1989 | 15 April
    • Agama Palsu Berperan sebagai Pelacur

      1. Bagaimana banyak orang telah memandang pelacuran?

      ADA yang menyebutnya profesi tertua—yaitu profesi seorang pelacur atau perempuan sundal. Seperti digunakan pada umumnya, kata-kata tersebut mempunyai arti yang sama, memaksudkan seorang wanita yang tidak bermoral yang menjual penggunaan tubuhnya kepada kaum pria. Namun, ada suatu zaman manakala ini dianggap pekerjaan yang terhormat!

      2, 3. Bagaimana peranan para imam wanita di Babel purba bertentangan dengan hukum Yehuwa kepada Israel berkenaan pelacuran laki-laki dan perempuan?

      2 Ketika berbicara tentang sistem keimaman Babel purba, Profesor S. H. Hooke, pakar arkeologi Alkitab, menyatakan, ”Sistem keimamannya tidak terbatas pada kaum pria, tetapi kaum wanita menjadi bagian dari staf kuil-kuil besar. Menjadi bagian dari kelompok imam wanita dianggap suatu kehormatan, dan kita mendengar tentang beberapa raja yang mengabdikan putri-putri mereka kepada panggilan sebagai imam. . . . Fungsi mereka yang paling penting ialah melayani sebagai pelacur suci pada perayaan-perayaan musiman yang besar. . . . Jadi, dalam kuil Ishtar [dewi kesuburan dan peperangan], terdapat staf yang besar dari wanita-wanita semacam itu.”

      3 Ini benar-benar sangat bertentangan dengan ibadat yang harus diberikan kepada Allah Yehuwa oleh bangsa Israel. Hukum Taurat dengan jelas berkata: ”Seorang Israel, baik laki-laki maupun perempuan, tak boleh menjadi pelacur di kuil-kuil pemujaan [bagi laki-laki, menjadi pelacur homoseks]. Juga uang yang diperoleh dari hasil pelacuran tak boleh dibawa ke rumah [Yehuwa] Allahmu untuk membayar kaul, sebab [Yehuwa] Allahmu membenci pelacur di kuil-kuil pemujaan dan upah pelacuran.” (Ulangan 23:17, 18, BIS) Jadi, upah seorang pelacur tidak dapat diterima sebagai sumbangan untuk bait Yehuwa. Bahkan pelacuran yang tidak berhubungan dengan agama adalah suatu hal yang tercela. Orang Israel diperintahkan: ”Janganlah engkau merusak kesucian anakmu perempuan dengan menjadikan dia perempuan sundal, supaya negeri itu jangan melakukan persundalan, sehingga negeri itu penuh dengan perbuatan mesum.” Hukum-hukum yang melarang pelacuran dan homoseks, yang digambarkan sebagai ”suatu kekejian,” merupakan perlindungan bagi bangsa itu, secara rohani maupun jasmani.—Imamat 19:29; 20:13.

      Pelacuran Rohani Lebih Buruk Lagi

      4. Apa bentuk pelacuran yang paling buruk?

      4 Namun, dari sudut pandangan Allah, ada bentuk pelacuran yang lebih buruk—pelacuran rohani, atau mengaku menyembah Allah yang benar padahal sebenarnya menyembah dan mengasihi ilah-ilah lain. Yerusalem purba melakukan pelacuran yang lebih buruk lagi. Ia memberikan hadiah-hadiah kepada bangsa-bangsa yang melakukan percabulan rohani dengannya, mencemari ibadat sejati.—Yehezkiel 16:34.

      5, 6. Siapakah yang melakukan pelacuran rohani pada abad ke-20 ini, yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan apa?

      5 Bahkan pada abad ke-20 ini, pelacuran rohani sudah umum dalam sistem agama dunia. Susunan Kristen adalah bagian yang paling utama dari sistem itu—sistem yang disebut Alkitab ”Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi.”—Wahyu 17:5.

      6 Namun bagaimana akhir Babel Besar? Dan bagaimana hasil akhir tersebut akan mempengaruhi saudara dan orang-orang yang saudara kasihi? Jika Allah menghukum pelacur-pelacur di Israel purba, apa yang akan Ia lakukan terhadap pelacuran rohani zaman modern? Artikel-artikel berikut akan meneliti pertanyaan-pertanyaan tersebut dan yang ada hubungan dengannya.

  • Pelacur yang Keji​—Kejatuhannya
    Menara Pengawal—1989 | 15 April
    • Pelacur yang Keji​—Kejatuhannya

      ”Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu [”Babel Besar,” NW], yang telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya.”—WAHYU 14:8.

      Artikel ini dan artikel berikutnya adalah khotbah penutup dari simposium yang berjudul ”Waktu yang Ditentukan Sudah Dekat,” yang dipersembahkan selama tahun 1988 pada Kebaktian-Kebaktian Distrik Keadilan Ilahi dari Saksi-Saksi Yehuwa

      1. Siapakah ”pelacur” yang keji itu, dan mengapa kita perlu mengetahui tentang dia?

      ”PELACUR” yang keji—siapakah dia? Mengapa kita perlu berbicara tentang dia? Bukankah novel-novel detektif, film-film, TV, dan video sudah menyajikan imoralitas dalam kadar yang memuakkan? Memang! Namun ini bukan wanita malam yang biasa. Sebenarnya, dia adalah pelacur yang paling berpengaruh, termasyhur mempunyai nama buruk, dan yang paling banyak membunuh orang sepanjang sejarah. Dan ia telah menjual dirinya selama lebih dari 4.000 tahun! Kita perlu mengetahui tentang dia agar dapat melindungi diri. Dalam Wahyu 14:8, seorang malaikat dari surga menyebut wanita yang mempunyai nama buruk ini ”Babel Besar” (NW) dan menggambarkannya sebagai perayu bangsa-bangsa. Karena ia begitu berbahaya, kita seharusnya berbahagia mengetahui bahwa ’waktu yang telah ditentukan’ Yehuwa untuk mengeksekusi dia ”sudah dekat.”—Wahyu 1:3, NW.

      2. Dari mana pelacur ini mendapatkan namanya dan bagaimana suatu imperium agama palsu sedunia mulai terbentuk?

      2 Pelacur ini mengambil namanya dari Babel purba, kota yang megah yang didirikan di Mesopotamia lebih dari 4.000 tahun yang lalu oleh Nimrod, ”pemburu yang gagah perkasa menentang Yehuwa.” (NW) Ketika orang Babel mulai membangun sebuah menara agama yang bersifat kafir, Yehuwa mengacaukan bahasa mereka dan mencerai-beraikan mereka ke ujung-ujung bumi. Mereka membawa serta agama mereka, dan dengan demikian suatu imperium dari agama yang bersifat Babel seluas dunia mulai terbentuk. Sesungguhnya, itulah Babel BESAR. (Kejadian 10:8-10; 11:1-9) Terus sampai zaman kita, misteri atau rahasia dari Babel purba terlihat dalam kepercayaan dan praktik-praktik agama-agama dunia. (Wahyu 17:7) Nama Ibrani untuk kota itu adalah Babel, berarti ”Kekacauan,” suatu julukan yang cocok untuk agama palsu yang campur aduk dewasa ini!

      3. (a) Berapa lama Babel menawan umat Allah, sehingga mereka harus berhubungan dengan apa? (b) Bilamana Babel mengalami kehancuran, dan mengapa akhir baginya masih belum tiba pada waktu itu?

      3 Babel purba berhasil pulih dari keruntuhan pertama tersebut dan, dengan digulingkannya Asyur pada tahun 632 S.M., Babel menjadi kuasa dunia ketiga dari sejarah Alkitab. Kebesarannya sebagai kuasa dunia tidak berumur panjang—kurang dari seratus tahun—namun selama hampir 70 tahun dalam zaman kekuasaannya, ia telah menawan umat Allah, Israel. Ini membuat umat tersebut berhubungan erat dengan ribuan kuil dan kapel Babel, ilah-ilah tiga serangkainya dan hantu-hantu tiga serangkainya, ibadat kepada ibu dan anak, dan astrologinya yang memuja apa yang dianggap dewa-dewa yang tidak berkematian. Jadi, orang-orang Israel yang ditawan berada di pusat agama palsu sedunia ketika, pada tahun 539 S.M. kota Babel mengalami kehancuran. Namun ajalnya belum tiba! Para penakluknya terus menggunakan dia sebagai pusat agama yang terhormat.

      Imperium Agama Seluas Dunia

      4. (a) Apa yang dinyatakan oleh nabi-nabi Yehuwa mengenai Babel, dan apa yang terjadi atas Babel? (b) Babel lain apa yang tetap ada, yang mencelakakan orang-orang di bumi?

      4 Nabi-nabi Yehuwa telah menyampaikan vonis-Nya bahwa Babel harus disapu bersih ’dengan sapu kepunahan’—”seperti dahulu pada waktu Allah menunggangbalikkan Sodom dan Gomora.” Apakah nubuat-nubuat tersebut belakangan digenapi? Ya, sampai kepada rinciannya yang paling akhir! Pada waktunya Babel purba menjadi setumpukan puing—tidak dihuni oleh siapapun kecuali binatang melata dan binatang buas—tepat seperti telah dinubuatkan! (Yesaya 13:9, 19-22; 14:23; Yeremia 50:35, 38-40) Tetapi, Babel yang lain itu, Babel Besar zaman modern, tetap hidup. Sebagai imperium agama palsu sedunia, ia meneruskan ajaran-ajaran dan semangat yang sombong dari Babel yang semula. Ia adalah alat Setan yang utama, untuk membutakan orang terhadap maksud-tujuan Kerajaan Yehuwa.—2 Korintus 4:3, 4.

      5. (a) Agama-agama apa berkembang ketika Babel berada pada puncak kejayaannya, namun mengapa Setan tidak berhasil melanda seluruh dunia dengan agama palsu? (b) Bagaimana Setan menggunakan agama palsu setelah diperkenalkannya Kekristenan?

      5 Kira-kira pada abad keenam sebelum Kristus, ketika kuasa dunia Babel berada pada puncak kejayaannya, agama Hindu, Budha, Konfusius, dan Sinto juga mulai menonjol. Tetapi apakah Setan berhasil melanda seluruh dunia dengan agama palsu? Tidak, karena suatu sisa dari Saksi-Saksi Yehuwa pada zaman purba kembali dari Babel ke Yerusalem untuk memulihkan ibadat Yehuwa. Jadi, orang-orang Yahudi yang setia berada di sana, enam abad kemudian, untuk menyambut Mesias dan menjadi anggota-anggota pertama dari sidang Kristen. Agama palsu mengakibatkan Putra Allah sendiri mati sahid dan menjadi alat Setan untuk menentang Kekristenan sejati, tepat seperti telah diperingatkan oleh Yesus dan rasul-rasulnya.—Matius 7:15; Kisah 20:29, 30; 2 Petrus 2:1.

      6. (a) Bagaimana Setan merusak ajaran-ajaran Kristen, dan ajaran-ajaran apa, yang mencela Allah, mulai berkembang? (b) Apa yang terjadi atas ribuan orang yang lebih menyukai kebenaran Alkitab daripada dogma Babel?

      6 Khususnya setelah kehancuran Yerusalem yang kedua kali pada tahun 70 M., Setan menggunakan rasul-rasul palsu untuk merusak ajaran-ajaran Kristen, meleburnya dengan mistik Babel dan filsafat Yunani yang duniawi. Jadi, suatu ’ilah tiga serangkai,’ Trinitas, menjadi pengganti untuk ’Yehuwa yang esa’ dari Alkitab. (Ulangan 6:4; Markus 12:29; 1 Korintus 8:5, 6) Dan doktrin jiwa manusia yang tidak berkematian, seperti diajarkan oleh filsuf kafir Plato, dimasukkan untuk meniadakan ajaran Alkitab yang berharga mengenai tebusan Kristus dan kebangkitan. Ini membuka jalan bagi kepercayaan kepada neraka yang bernyala-nyala dan api penyucian yang lebih ringan. (Mazmur 89:49; Yehezkiel 18:4, 20, Klinkert) Ajaran-ajaran yang mencela Allah tersebut yang memanfaatkan perasaan takut orang telah membantu mengisi dompet gereja. Selanjutnya, pada zaman Inkwisisi dan Reformasi, kaum pendeta tidak sabar menunggu nyala api neraka menyiksa orang. Ribuan yang lebih menyukai kebenaran Alkitab daripada dogma Babel dibakar hidup-hidup pada tiang oleh orang Katolik maupun Protestan. Namun seperti akan kita lihat, pelacuran Babel Besar lebih luas lagi, tidak hanya memajukan kepalsuan.

      Hari Penghukuman Yehuwa

      7. (a) Bilamana dan bagaimana Yehuwa mulai memulihkan kebenaran-kebenaran dasar Alkitab dan menyingkapkan ajaran-ajaran Babel yang palsu? (b) Kebenaran-kebenaran dasar Alkitab apa yang dipulihkan oleh Siswa-Siswa Alkitab?

      7 Hari penghukuman Yehuwa atas pelacur ini harus datang! (Ibrani 10:30) Ada suatu jangka waktu persiapan, yang dimulai pada tahun 1870-an, ketika Yehuwa mengirim ’utusan’-Nya—sekelompok siswa Alkitab yang tulus—untuk memulihkan kebenaran-kebenaran dasar Alkitab dan menyingkapkan ajaran-ajaran palsu Babel. (Maleakhi 3:1a) Kelompok ’utusan’ ini menyetujui kata-kata nubuat dari Wahyu 4:11: ”Ya Tuhan [Yehuwa, NW] dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendakMu semuanya itu ada dan diciptakan.” ’Utusan’ ini juga menjadi penganjur yang terus terang dari korban tebusan Yesus, persediaan Allah untuk menebus umat manusia. Umat manusia yang telah ditebus mencakup, pertama-tama, ”kawanan kecil” yang akan memerintah bersama Yesus dalam Kerajaan surgawinya dan, belakangan, ratusan juta orang yang akan hidup kekal di bumi Firdaus—yang sebagian besar akan dibangkitkan dari kematian. (Lukas 12:32; 1 Yohanes 2:2; Kisah 24:15) Ya, Siswa-Siswa Alkitab itu memulihkan kebenaran-kebenaran dasar ini, dan secara kiasan, mereka bahkan ”mengarahkan pipa air ke neraka dan memadamkan api” dari dogma siksaan kekal yang berasal dari Babel!a

      8. (a) Bagaimana kaum pendeta Susunan Kristen menggunakan Perang Dunia I dalam upaya untuk menghancurkan Siswa-Siswa Alkitab? (b) Apa yang terjadi atas hakim yang menahan delapan tokoh Lembaga Menara Pengawal dalam penjara dengan menolak uang jaminan?

      8 Selama kira-kira 40 tahun Siswa-Siswa Alkitab dengan berani memberitakan bahwa tahun 1914 akan menandai akhir Zaman Orang Kafir. Seperti telah diharapkan, pada tahun itu terjadi peristiwa-peristiwa yang mengguncangkan dunia, yang tidak kecil dari antaranya ialah perang dunia pertama. Oh, betapa kaum pendeta Susunan Kristen—bagian utama dari Babel Besar—berupaya menggunakan krisis dunia untuk menghancurkan Siswa-Siswa Alkitab yang terus terang itu! Akhirnya, pada tahun 1918, mereka mengangkut delapan tokoh Lembaga Menara Pengawal dengan kereta api ke penjara atas tuduhan yang dibuat-buat yaitu telah menghasut. Namun tokoh-tokoh ini dibebaskan setelah sembilan bulan dan belakangan dibersihkan sama sekali dari semua tuduhan. Hakim federal A.S. Martin T. Manton, yang telah menahan Siswa-Siswa Alkitab ini dalam penjara dengan menolak untuk membebaskan mereka dengan jaminan, belakangan mendapat tanda jasa dari Paus Pius XI, dengan dijadikan ”satria dari ordo St. Gregorius Agung.” Namun, kebesarannya hanya berumur pendek, karena pada tahun 1939 ia mendapat hukuman penjara dua tahun dan denda yang besar. Mengapa? Karena ia didapati bersalah telah menerima uang suap sejumlah $186.000 untuk enam keputusan pengadilan!

      9. Bagaimana nubuat Maleakhi menjelaskan apa yang terjadi atas umat Yehuwa, maka penghakiman mulai dengan siapa?

      9 Seperti telah kita lihat, umat Yehuwa memasuki masa ujian yang hebat pada tahun 1918. Kata-kata sang nabi selanjutnya di Maleakhi 3:1-3 menjelaskan apa yang terjadi: ”Dan dengan mendadak akan datang ke bait-Nya Tuhan yang benar [Yehuwa], yang kamu cari, dan utusan perjanjian [Abraham]” (NW)—Yesus. Ya, Yehuwa datang dengan Kristus-Nya untuk menghakimi. Yehuwa kemudian bertanya: ”Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatanganNya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu.” Menurut 1 Petrus 4:17, penghakiman akan mulai dengan mereka yang mengaku dari ”rumah Allah.” Jadi orang-orang Kristen sejati dimurnikan dan dibersihkan untuk dinas Yehuwa.

      ”HAI UMATKU, PERGILAH DARI PADANYA”!

      10. Vonis ilahi apa yang dijatuhkan ke atas Susunan Kristen dan semua agama palsu pada tahun 1919, sehingga mengakibatkan apa bagi Babel Besar?

      10 Sebagai bagian yang tidak mau bertobat dari Babel Besar, kaum pendeta Susunan Kristen tidak dapat bertahan dalam penghakiman Yehuwa. Mereka telah sangat menodai jubah mereka dengan menjadi peserta dalam pembantaian pada perang dunia dan penganiaya orang-orang Kristen sejati. (Yeremia 2:34) Sebaliknya dari menyambut Kerajaan surgawi Kristus yang akan datang, mereka memajukan suatu Liga Bangsa Bangsa bikinan manusia, yang kemudian mereka gambarkan sebagai ”pernyataan politik dari Kerajaan Allah di bumi.” Menjelang tahun 1919 jelas bahwa Yehuwa telah memvonis Susunan Kristen—dan sebenarnya semua agama palsu. Babel Besar telah jatuh, dijatuhi hukuman mati! Waktunya sudah larut bagi semua pencinta kebenaran dan keadilan untuk bertindak berdasarkan perintah nubuat di Yeremia 51:45: ”Keluarlah dari tengah-tengahnya, hai umatKu! Hendaklah setiap orang menyelamatkan nyawanya dari murka [Yehuwa] yang menyala-nyala itu!”

      11, 12. (a) Apa yang dikatakan seorang malaikat dalam Wahyu 17:1, 2 sehubungan dengan vonis atas Babel Besar? (b) Apa gerangan ’banyak air’ yang diduduki oleh pelacur besar itu, dan bagaimana ia telah membuat penghuni-penghuni bumi ”mabuk oleh anggur percabulannya”?

      11 Babel Besar sudah jatuh! Tetapi ia belum dibinasakan. Sebagai imperium agama palsu sedunia, ia masih akan berdiri untuk waktu yang singkat saja sebagai suatu kebohongan hasil karya besar Setan. Apa vonis Allah yang terakhir atasnya? Kita tidak dibiarkan ragu-ragu! Mari kita membuka Alkitab kita dalam Wahyu 17:1, 2. Di sini seorang malaikat berbicara kepada rasul Yohanes dan, melalui dia, kepada siswa-siswa yang mempelajari nubuat dewasa ini, dengan mengatakan: ”Mari ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu putusan atas pelacur besar, yang duduk di tempat yang banyak airnya. Dengan dia raja-raja di bumi telah berbuat cabul, dan penghuni-penghuni bumi telah mabuk oleh anggur percabulannya.” Ungkapan ’banyak air’ memaksudkan massa umat manusia yang bergolak, yang telah begitu lama ditindas oleh pelacur besar itu. Dan nubuat tersebut mengatakan bahwa ”penghuni-penghuni bumi” telah dimabukkan oleh anggurnya. Mereka minum ajaran-ajaran palsu dan jalan-jalan duniawi yang imoral dari Babel Besar dan dibiarkan terhuyung-huyung, seolah-olah dimabukkan oleh anggur yang murah dan tidak sah.

      12 Di Yakobus 4:4 (Bode) kita membaca: ”Hai kamu yang disifatkan seperti orang berzinah, tiadakah kamu ketahui bahwa persahabatan dengan dunia ini, ialah perseteruan dengan Allah?” Agama abad kedua puluh selalu ingin mencari nama dengan menjilat dunia ini, dan hal itu terutama benar berkenaan Susunan Kristen. Kaum pendetanya tidak saja gagal untuk memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Yehuwa yang akan datang, tetapi mereka mengencerkan ajaran moral Alkitab, menyetujui sikap serba boleh dari dunia di kalangan anggota gereja. Bahkan kaum pendeta bukannya tidak bersalah dalam hal percabulan jasmani, yang begitu tegas dikutuk oleh rasul Paulus ketika ia mengatakan: ”Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit . . . tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan.”—1 Korintus 6:9-11.

      ”Kembali lagi ke Kubangannya”

      13, 14. (a) Contoh-contoh apa menunjukkan bahwa kaum pendeta zaman modern tidak ”disucikan”? (b) Sikap apa yang diambil sebuah sinode dari Gereja Inggris terhadap hubungan seks sesama jenis, dan apa yang disarankan seorang penulis berita sebagai nama baru dari gereja itu? (c) Kaum pendeta yang murtad cocok benar dengan kata-kata apa dari rasul Petrus?

      13 Apakah kaum pendeta zaman modern telah ”disucikan”? Nah, sebagai contoh, perhatikan keadaan di Inggris, yang dulu merupakan benteng Protestanisme. Pada bulan November 1987, ketika perdana menteri Inggris menuntut agar kaum pendeta memberikan contoh baik dalam hal moral, rektor sebuah gereja Anglikan mengatakan: ”Para homoseks mempunyai hak yang sama untuk menyalurkan keinginan seks mereka seperti semua orang lain; kita harus melihat apa yang baik dalam hal itu dan menganjurkan kesetiaan [di kalangan para homoseks].” Sebuah surat kabar di London melaporkan: ”Praktik homoseks telah begitu merajalela di sebuah fakultas teologia Anglikan sehingga siswa-siswa dari universitas lain harus dilarang oleh staf untuk mengunjunginya.” Dari hasil sebuah penelitian diperkirakan bahwa ”dalam satu distrik di London, jumlah kaum pendeta yang mempunyai kecenderungan homoseks mungkin lebih dari separuh jumlah seluruhnya.” Dan pada suatu sinode gereja, 95 persen dari kaum pendeta Gereja Inggris mendukung usul untuk menyebut percabulan dan perzinahan sebagai dosa, tetapi hubungan seks sesama jenis bukan dosa; perbuatan homoseks tersebut dikatakan hanya sebagai sesuatu yang kurang dari yang ideal. Dalam mengomentari ini semua, seorang penulis berita mengusulkan agar Gereja Inggris sebaiknya diganti namanya dengan Sodom dan Gomora. Sebuah surat kabar lain di London mengatakan: ”Orang Inggris merasa muak memikirkan akibat dari suatu generasi yang serba boleh.”

      14 Betapa sangat cocoknya kaum pendeta yang sangat murtad itu selama bertahun-tahun dengan kata-kata rasul Petrus: ”Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: ’Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya’”!—2 Petrus 2:22.

      15. (a) Kejatuhan apa dalam nilai-nilai moral terjadi di seluruh Susunan Kristen? (b) Siapa yang harus ikut bertanggung jawab terhadap tuaian yang celaka ini?

      15 Di seluruh Susunan Kristen, dan sesungguhnya di seluruh dunia, nilai-nilai moral telah merosot secara mengerikan. Di beberapa masyarakat, perkawinan sekarang dianggap tidak perlu dan mereka yang menikah menganggap kesetiaan dalam perkawinan sesuatu yang kolot. Makin sedikit pasangan yang mensahkan hubungan mereka, dan angka perceraian membubung tinggi di kalangan mereka yang mensahkannya. Di Amerika Serikat, perceraian telah meningkat lebih dari tiga kali lipat selama 25 tahun belakangan menjadi lebih dari satu juta tiap tahun. Selama jangka waktu 20 tahun sejak tahun 1965, perceraian di Inggris naik empat kali lipat, dari 41.000 menjadi 175.000. Mereka yang lajang lebih senang tinggal bersama orang lajang lain tidak soal jenis apa, dan banyak yang berganti-ganti pasangan. Mereka meratapi penyakit-penyakit mengerikan yang ditularkan melalui seks, terutama sekali AIDS, yang berkembang sebagai akibat gaya hidup yang imoral tetapi mereka terus berkeras dalam praktik-praktik homoseks mereka yang keji. Kaum pendeta Susunan Kristen tidak mendisiplin anggota gereja yang bersalah. Karena mereka pura-pura tidak melihat imoralitas, mereka harus ikut bertanggung jawab untuk tuaian yang mencelakakan ini.—Yeremia 5:29-31.

      16. (a) Apa yang menandaskan fakta bahwa Babel Besar telah jatuh, dan seruan apa oleh seorang malaikat dalam Wahyu 18:2 cocok? (b) Semua yang ingin selamat melewati akhir dunia harus berbuat apa?

      16 Keadaan moral yang menyedihkan dalam imperium agama palsu sedunia juga menandaskan kenyataan bahwa Babel Besar telah jatuh. Allah telah memvonisnya dan menandainya untuk dibinasakan. Maka, betapa cocok seruan malaikat dengan suara kuat di Wahyu 18:2: ”Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu [”Babel Besar,” NW], dan ia telah menjadi tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat bersembunyi semua roh najis dan tempat bersembunyi segala burung yang najis dan yang dibenci!” Dan betapa penting agar semua yang ingin selamat melampaui akhir dunia mengambil tindakan sekarang sebagai sambutan atas seruan dalam ayat 4: ”Hai umatKu, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya”! Keluar dari agama palsu adalah langkah yang sangat penting untuk selamat melampaui ’kesusahan besar’ yang sudah di ambang pintu. (Wahyu 7:14) Tetapi lebih banyak yang dituntut, seperti akan kita lihat!

      [Catatan Kaki]

      a Pada tanggal 1 November 1903, setelah yang terakhir dari suatu seri perdebatan di Carnegie Hall, Pittsburgh, Pennsylvania, A.S., antara Charles T. Russell dan Dr. E. L. Eaton, salah seorang pendeta yang hadir mengakui kemenangan Saudara Russell dengan mengatakan: ”Saya senang melihat anda mengarahkan pipa air ke neraka dan memadamkan apinya.”

  • Pelacur yang Keji​—Kejatuhannya
    Menara Pengawal—1989 | 15 April
    • [Kotak di hlm. 8]

      MORAL KAUM PENDETA

      ”Ratusan anak yang dirusak oleh imam-imam Katolik di Amerika Serikat selama lima tahun belakangan menderita trauma emosi yang hebat, kata para orangtua, ahli-ahli ilmu jiwa, pejabat polisi dan pengacara-pengacara yang terlibat dalam kasus-kasus itu.”—Akron Beacon Journal, 3 Januari 1988.

      ”Gereja Katolik Roma di Amerika Serikat terpaksa harus membayar jutaan dolar sebagai ganti rugi kepada keluarga-keluarga yang menyatakan dengan meyakinkan bahwa anak-anak mereka sudah dianiaya secara seksual oleh imam-imam. Meskipun demikian, problem itu telah berkembang dengan begitu hebat sehingga banyak ahli hukum dan korban mengatakan bahwa gereja mengabaikan dan menutupi kasus-kasus demikian.—The Miami Herald, 3 Januari 1988.

      [Gambar di hlm. 6]

      Patung-patung ilah tiga serangkai—dari Mesir purba dan dari Susunan Kristen

      [Keterangan]

      Saint-Remi Museum collection, Reims, photo by J. Terrisse

      Louvre Museum, Paris

      [Gambar di hlm. 9]

      Alkitab menyamakan para pemimpin agama yang imoral dengan seekor babi yang telah dimandikan yang kembali lagi ke kubangannya

  • Pelacur yang Keji​—Kebinasaannya
    Menara Pengawal—1989 | 15 April
    • Pelacur yang Keji​—Kebinasaannya

      ”Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita, sebab benar dan adil segala penghakimanNya; karena Ialah yang telah menghakimi [”mengeksekusi,” NW] pelacur besar itu, yang merusakkan bumi dengan percabulannya; dan Ialah yang telah membalaskan darah hamba-hambaNya atas pelacur itu.”—WAHYU 19:1, 2.

      1. Bagaimana pelacur besar itu melakukan percabulan dengan ”raja-raja di bumi,” dan apa akibat dari ini?

      SEMUA hal yang telah kita bahas cukup serius. Namun, perlu kita perhatikan bahwa Wahyu 17:2 juga menyebut tentang percabulan antara pelacur besar itu dengan ”raja-raja di bumi.” Walaupun ia sudah jatuh, ia masih tetap sahabat karib dunia ini, dan ia berupaya memanipulasi para penguasa dunia untuk mencapai tujuannya. (Yakobus 4:4) Pelacuran rohani ini, yaitu hubungan gelap antara Babel Besar dengan para penguasa politik, mengakibatkan puluhan juta orang yang tidak bersalah mati sebelum waktunya! Bahwa pelacur besar terlibat di kedua belah pihak dari pertarungan dalam Perang Dunia I sudah cukup buruk, namun dosa-dosanya sehubungan dengan Perang Dunia II, pasti telah ”bertimbun-timbun sampai ke langit”! (Wahyu 18:5) Mengapa kita mengatakan demikian?

      2. (a) Bagaimana Franz von Papen membantu Adolf Hitler menjadi penguasa Jerman, dan bagaimana seorang mantan kanselir Jerman menggambarkan satria kepausan itu? (b) Dalam Perjanjian antara Negara Nazi dan Vatikan, dua ketentuan apa yang dirahasiakan? (Lihat catatan kaki.)

      2 Nah, satu contoh saja, bagaimana penguasa lalim Adolf Hitler menjadi perdana menteri—dan diktator—di Jerman? Melalui intrik politik seorang satria kepausan yang oleh kanselir Jerman sebelumnya, Kurt von Schleicher, digambarkan sebagai ”pengkhianat yang, jika dijejerkan di sebelahnya, Yudas Iskariot adalah seorang santo.” Ini adalah Franz von Papen, yang mengatur Aksi Katolik dan pemuka-pemuka industri untuk menentang komunisme dan mempersatukan Jerman di bawah Hitler. Sebagai bagian dari transaksi tawar-menawar, von Papen dijadikan wakil kanselir. Hitler mengutus delegasi yang dipimpin oleh von Papen ke Roma untuk merundingkan perjanjian antara Negara Nazi dan Vatikan. Paus Pius XI mengatakan kepada utusan Jerman itu betapa senang ia bahwa ”pemerintah Jerman sekarang mempunyai pemimpin seorang pria yang tanpa kenal kompromi menentang Komunisme,” dan pada tanggal 20 Juli 1933, dalam sebuah upacara besar di Vatikan, Kardinal Pacelli (yang tidak lama kemudian menjadi Paus Pius XII) menandatangani perjanjian antar gereja-negara itu.a

      3. (a) Apa yang ditulis seorang sejarawan mengenai Perjanjian antara Negara Nazi dan Vatikan? (b) Pada perayaan-perayaan di Vatikan, kehormatan apa yang diberikan kepada Franz von Papen? (c) Peranan apa yang dimainkan oleh Franz von Papen dalam pengambil-alihan Austria oleh Nazi?

      3 Seorang sejarawan menulis: ”Perjanjian [dengan Vatikan] tersebut merupakan kemenangan besar bagi Hitler. Hal itu memberinya dukungan moral pertama yang ia peroleh dari dunia luar, dan ini dari sumber yang sangat tinggi.” Pada waktu merayakan ini di Vatikan, Pacelli menganugerahkan kepada von Papen tanda jasa kepausan yang tinggi berupa Salib Agung dari Ordo Pius.b Winston Churchill, dalam bukunya The Gathering Storm (Badai yang Mengumpul), yang diterbitkan pada tahun 1948, menceritakan bagaimana von Papen selanjutnya menggunakan ”reputasinya sebagai seorang Katolik yang baik” untuk mendapatkan dukungan gereja dalam pengambil-alihan Austria oleh Nazi. Pada tahun 1938, untuk menghormati hari ulang tahun Hitler, Kardinal Innitzer memerintahkan agar semua gereja Austria mengibarkan bendera swastika, membunyikan lonceng gereja dan berdoa bagi diktator Nazi itu.

      4, 5. (a) Mengapa Vatikan menanggung hutang darah yang besar? (b) Bagaimana uskup-uskup Katolik Jerman memberikan dukungan secara terang-terangan kepada Hitler?

      4 Karena itu Vatikan menanggung hutang darah yang sangat besar! Sebagai bagian yang terkemuka dari Babel Besar, ia telah memberikan bantuan besar dalam mengangkat Hitler kepada kekuasaan dan dalam memberinya dukungan ”moral.” Vatikan bertindak lebih jauh dengan secara diam-diam menyetujui kekejaman Hitler. Selama dasawarsa yang panjang dari teror Nazi, paus Roma membungkam ketika ratusan ribu prajurit Katolik bertempur dan mati demi kebesaran rezim Nazi dan ketika jutaan orang lain yang malang dibunuh dalam kamar-kamar gas Hitler.

      5 Para uskup Katolik Jerman bahkan terang-terangan memberikan dukungan kepada Hitler. Pada hari yang sama ketika Jepang, sekutu perang Jerman pada waktu itu, dengan diam-diam menyerang Pearl Harbor, The New York Times memuat laporan ini: ”Konperensi Uskup-Uskup Katolik Jerman yang berkumpul di Fulda mengusulkan diperkenalkannya ’doa perang’ istimewa yang akan dibacakan pada awal dan akhir semua kebaktian rohani. Doa tersebut memohon kepada Allah agar memberkati tentara-tentara Jerman dengan kemenangan dan melindungi kehidupan dan kesehatan semua prajurit. Uskup-uskup itu selanjutnya memerintahkan kaum pendeta Katolik untuk memasukkan dan mengingat, sedikitnya satu kali sebulan dalam khotbah istimewa hari Minggu, tentara-tentara Jerman ’di darat, di laut, di udara.’”

      6. Dunia semestinya tidak perlu melihat penderitaan besar dan kekejaman apa jika tidak ada percabulan rohani antara Vatikan dan Nazi?

      6 Jika tidak ada kisah cinta antara Vatikan dan Nazi, dunia kemungkinan besar tidak akan menyaksikan penderitaan hebat dari jutaan tentara dan orang sipil yang terbunuh dalam peperangan, enam juta orang Yahudi yang dibantai karena bukan bangsa Aria dan—yang paling berharga dalam pandangan Yehuwa—ribuan Saksi-Saksi-Nya, dari kaum terurap maupun ”domba-domba lain,” yang menderita kekejaman yang hebat, dengan banyak Saksi-Saksi yang mati dalam kamp-kamp konsentrasi Nazi.—Yohanes 10:10, 16.

      Melihat Pelacur itu dari Dekat

      7. Bagaimana rasul Yohanes menggambarkan pelacur besar itu dari dekat?

      7 Betapa cocok penglihatan yang selanjutnya disingkapkan dalam nubuat buku Wahyu! Dengan melihat pasal 17 ayat 3 sampai 5, kita mendapati Yohanes mengatakan tentang malaikat itu: ”Dalam roh aku dibawanya ke padang gurun. Dan aku melihat seorang perempuan duduk di atas seekor binatang yang merah ungu, yang penuh tertulis dengan nama-nama hujat. Binatang itu mempunyai tujuh kepala dan sepuluh tanduk. Dan perempuan itu memakai kain ungu dan kain kirmizi yang dihiasi dengan emas, permata dan mutiara, dan di tangannya ada suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya. Dan pada dahinya tertulis suatu nama, suatu rahasia: ’Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi.’”

      8. (a) Apa yang dibawa oleh pelacur besar itu dalam cawan emasnya, yang dengan demikian menyatakan identitasnya? (b) Bagaimana Babel Besar secara kiasan ”memakai kain ungu dan kain kirmizi” dan dihiasi dengan ”emas, permata dan mutiara”?

      8 Di sini Yohanes mengamati Babel Besar dari dekat. Ia benar-benar cocok sebagai penghuni padang gurun, di antara binatang-binatang buas yang tinggal di sana. Identitas pelacur besar ini jelas dari apa yang ia bawa dalam cawannya, walaupun cawan itu memperdayakan, karena dari luar kelihatannya berharga. Ia minum ramu-ramuan yang menjijikkan dari sudut pandangan Allah. Persahabatannya dengan dunia, doktrin-doktrin palsunya, sikapnya yang serba boleh dalam hal moral, petualangan cintanya dengan kuasa-kuasa politik—tidak satu pun dari hal-hal ini ditoleransi oleh Yehuwa, ”Hakim segenap bumi.” (Kejadian 18:22-26; Wahyu 18:21, 24) Oh, betapa indah ia menghiasi dirinya! Ia terkenal dengan katedral-katedralnya yang megah dengan arsitektur yang mengesankan dan jendela-jendela dari kaca berwarna, pagoda-pagoda dan candi-candinya yang penuh permata, kuil-kuil dan tempat-tempat pemujaannya yang termasyhur karena usia. Tepat seperti dandanan yang penuh gaya dari pelacur besar itu, imam-imam dan para biarawannya mengenakan pakaian warna merah, ungu dan kuning yang mahal.—Wahyu 17:1.

      9. Babel Besar mempunyai sejarah yang panjang apa sehubungan dengan hutang darah, dan bagaimana Yohanes dengan tepat mengakhiri gambarannya tentang dia?

      9 Tetapi, yang paling patut dicela ialah tindakannya yang haus darah. Yehuwa mempunyai perhitungan jangka panjang yang harus diselesaikan dalam hal itu! Babel Besar mensponsori para diktator zaman modern yang haus darah, dan sejarahnya yang menjijikkan dalam menumpahkan darah terentang jauh berabad-abad ke masa lampau, melalui perang-perang agama, Inkwisisi, Perang-Perang Salib, ya, sampai kepada mati sahidnya beberapa dari rasul-rasul dan pembunuhan Putra Allah sendiri, Tuhan Yesus Kristus, dan jauh sebelum itu. (Kisah 3:15; Ibrani 11:36, 37) Selain semua itu tambahkan lagi pembunuhan atas Saksi-Saksi Yehuwa dalam tahun-tahun belakangan melalui regu tembak, penggantungan, kapak, pemenggalan kepala, pedang, dan perlakuan tidak berperi-kemanusiaan dalam penjara dan kamp-kamp konsentrasi. Tidak mengherankan jika Yohanes mengakhiri gambarannya dengan mengatakan: ”Dan aku melihat perempuan itu mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus”!—Wahyu 17:6.

      ’RAHASIA PEREMPUAN DAN BINATANG ITU’

      10. (a) Bagaimana pelacur besar itu menganiaya Saksi-Saksi Yehuwa sampai sekarang? (b) Pemimpin-pemimpin macam apakah kaum pendeta Babel Besar itu?

      10 Yohanes ”sangat heran” dengan apa yang ia lihat. Dewasa ini kita juga merasa heran! Selama tahun 1930-an dan 1940-an, ”pelacur besar” menggunakan Aksi Katolik dan intrik politik untuk menganiaya dan melarang saksi-saksi Yehuwa yang setia. Sampai sekarang, di mana saja ia dapat menjalankan cukup banyak pengaruh, Babel Besar terus menghalangi, melarang, dan menyalahgambarkan pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa, yang memberitakan harapan yang mulia dari Kerajaan Allah. Dengan menawan ratusan juta orang dalam organisasi-organisasi agama dari pelacur besar itu, kaum pendetanya menjadi ’pemimpin buta dari orang buta,’ menuntun mereka kepada lubang kebinasaan. Tidak, pelacur yang keji ini tidak pernah dapat mengatakan seperti rasul Paulus: ”Aku menyatakan kepada kamu, bahwa aku lepas daripada darah sekalian orang.”—Matius 15:7-9, 14; 23:13; Kisah 20:26, Bode.

      11, 12. Apa rahasia ’binatang buas merah ungu’ yang ditunggangi pelacur yang keji itu, dan penerangan apa yang diterima oleh Saksi-Saksi Yehuwa mengenai rahasia ini pada tahun 1942?

      11 Ketika memperhatikan perasaan heran Yohanes, malaikat itu mengatakan kepadanya: ”Mengapa engkau heran? Aku akan mengatakan kepadamu rahasia perempuan itu dan rahasia binatang yang memikulnya, binatang yang berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh itu.” (Wahyu 17:7) Apa gerangan ”binatang” ini? Lebih dari 600 tahun sebelumnya, nabi Daniel melihat binatang-binatang dalam penglihatan, dan ia diberi penjelasan bahwa binatang-binatang itu melambangkan ’raja-raja,’ atau pemerintahan-pemerintahan politik di bumi ini. (Daniel 7:2-8, 17; 8:2-8, 19-22) Yohanes di sini melihat dalam penglihatan gabungan dari pemerintahan-pemerintahan semacam itu—”seekor binatang yang merah ungu.” Ini adalah Liga Bangsa Bangsa bikinan manusia yang muncul di dunia pada tahun 1920 namun terjun ke dalam jurang maut ketidakaktifan ketika Perang Dunia II meletus pada tahun 1939. Tetapi, apa gerangan ”rahasia perempuan itu dan rahasia binatang [buas]” itu?

      12 Dengan petunjuk ilahi, Saksi-Saksi Yehuwa mendapat penerangan tentang rahasia itu pada tahun 1942. Perang Dunia II pada waktu itu sedang pada puncaknya, dan banyak yang berpikir bahwa hal itu akan memuncak dengan Armagedon. Namun Yehuwa merencanakan hal lain! Masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan Saksi-Saksi-Nya! Pada Kebaktian-kebaktian Teokratis Dunia Baru yang mereka adakan pada tanggal 18-20 September 1942, dengan kota utama di Cleveland, Ohio, yang dihubungkan dengan 51 tempat lain di Amerika Serikat, presiden Lembaga Menara Pengawal Nathan H. Knorr, memberikan khotbah umum, ”Perdamaian—Dapatkah Itu Bertahan?” Dalam khotbah itu ia membahas Wahyu 17:8, yang menyebutkan mengenai ’binatang buas merah ungu’ yang ”telah ada, namun [sekarang] tidak ada, [dan] ia akan muncul dari jurang maut, dan ia menuju kepada kebinasaan.” Ia memperlihatkan bagaimana Liga Bangsa Bangsa ”telah ada” pada tahun 1920-1939. Kemudian ia ”tidak ada” karena Liga itu mati. Namun setelah Perang Dunia II, gabungan bangsa-bangsa ini akan muncul dari jurang maut. Apakah ramalan yang didasarkan Alkitab itu tergenap? Memang demikian! Pada tahun 1946 ’binatang buas’ internasional itu muncul dari jurang maut ketidakaktifannya sebagai Perserikatan Bangsa Bangsa.

      13. Bagaimana Babel Besar terus menempuh jalan-jalannya yang seperti pelacur dengan ”binatang” PBB?

      13 Babel Besar, walaupun dilemahkan oleh kejatuhannya, terus menempuh jalan-jalannya yang bagaikan pelacur dengan ”binatang” PBB. Sebagai contoh, pada bulan Juni 1965, tokoh-tokoh yang terkemuka dari tujuh cabang agama besar di dunia, yang disebut Kristen dan non-Kristen, yang dikatakan mewakili separuh penduduk dunia, berkumpul di San Fransisco untuk merayakan ulang tahun PBB yang ke-20.c Pada tahun yang sama, Paus Paulus VI menyatakan PBB sebagai ”harapan terakhir untuk kerukunan dan perdamaian,” dan belakangan Paus Yohanes Paulus II menyatakan harapannya agar ”Perserikatan Bangsa Bangsa tetap menjadi forum tertinggi untuk perdamaian dan keadilan.” Pada tahun 1986, imperium agama palsu sedunia mengambil pimpinan dalam mensponsori Tahun Perdamaian Internasional PBB. Namun apakah perdamaian dan keamanan sejati terwujud sebagai jawaban atas doa mereka? Sama sekali tidak! Semakin lebih banyak bangsa anggota PBB memperlihatkan bahwa mereka sebenarnya tidak mengasihi pelacur besar itu.

      Pemusnahan Pelacur itu

      14. Tugas istimewa apa yang harus dilaksanakan oleh ”binatang” PBB, dan bagaimana ini digambarkan oleh malaikat Allah?

      14 Tepat pada waktunya, ’binatang buas merah ungu’ itu sendiri harus menuju kebinasaan. Tetapi sebelum ini terjadi, dan bahkan sebelum serangannya yang terakhir yang bagaikan binatang atas umat Allah, binatang PBB harus melaksanakan suatu tugas istimewa. Yehuwa akan menaruh ’kehendak-Nya dalam hati binatang buas dan tanduk-tanduk militernya.’ Apa hasilnya? Malaikat Allah menjawab: ”Dan kesepuluh tanduk yang telah kaulihat itu serta binatang itu akan membenci pelacur itu dan mereka akan membuat dia menjadi sunyi dan telanjang, dan mereka akan memakan dagingnya dan membakarnya dengan api.” ’Ia telah menikmati kemuliaan dan kemewahan [tanpa malu, NW],’ namun sekarang semua terbalik. Bangunan-bangunan agamanya yang megah dan harta miliknya yang luar biasa besar tidak akan menyelamatkan dia. Seperti dikatakan malaikat itu: ”Sebab itu segala malapetakanya akan datang dalam satu hari, yaitu sampar [maut, Bode] dan perkabungan dan kelaparan; dan ia akan dibakar dengan api, karena Tuhan [Yehuwa, NW] Allah, yang menghakimi dia, adalah kuat.”—Wahyu 17:16, 17; 18:7, 8.

      15. Bagaimana tanggapan para kekasih politik pelacur itu, bersama para tokoh terkemuka dari bisnis besar terhadap kematiannya?

      15 Para kekasih politiknya akan meratapi kematiannya, dengan mengatakan: ”Celaka, celaka engkau, hai kota yang besar, Babel, hai kota yang kuat, sebab dalam satu jam saja sudah berlangsung penghakimanmu!” Demikian pula, para tokoh terkemuka dalam bisnis besar, yang bersama dia memperoleh keuntungan dengan curang, akan ”menangis dan meratap, mereka berkata: ’Celaka, celaka, . . . sebab dalam satu jam saja kekayaan sebanyak itu sudah binasa.’”—Wahyu 18:9-17.

      16. Tanggapan apa yang akan dibuat oleh umat Allah terhadap kehancuran pelacur besar itu, dan bagaimana buku Wahyu meneguhkan ini?

      16 Tetapi, sambutan apakah yang akan diberikan oleh umat Allah sendiri? Ini semua tercakup dalam kata-kata malaikat: ”Bersukacitalah atas dia, hai sorga, dan kamu, hai orang-orang kudus, rasul-rasul dan nabi-nabi, karena Allah telah menjatuhkan hukuman atas dia karena kamu!” Dengan cepat ia akan dicampakkan, tidak pernah lagi ia akan mencela nama suci Yehuwa. Kebinasaan pelacur besar itu menuntut diadakannya perayaan dan nyanyian kemenangan puji-pujian bagi Yehuwa. Sebagai yang pertama dari serentetan paduan suara haleluya, refrain yang penuh sukacita akan terdengar: ”Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita, sebab benar dan adil segala penghakimanNya, karena Ialah yang telah menghakimi [”mengeksekusi,” NW] pelacur besar itu, yang merusakkan bumi dengan percabulannya; dan Ialah yang telah membalaskan darah hamba-hambaNya atas pelacur itu.”—Wahyu 18:20–19:3.

      17. Setelah pelacur besar itu disingkirkan, bagaimana tindakan penghukuman Allah akan terus dilaksanakan sampai tuntas?

      17 Tindakan penghukuman Allah akan berjalan dengan cepat sampai tuntas pada waktu ”Raja atas segala raja, dan Tuan sekalian tuan,” Kristus Yesus, menginjak-injak ”irikan anggur, yaitu kehangatan murka Allah yang Mahakuasa” (Bode) di Armagedon. Di sana ia akan memusnahkan para penguasa yang jahat dan semua yang masih tersisa dari organisasi Setan di bumi. Burung-burung pemakan bangkai akan melahap bangkai-bangkai mereka. (Wahyu 16:14, 16; 19:11-21) Betapa bahagia seharusnya kita bahwa waktu yang telah ditentukan Allah sudah dekat untuk membersihkan bumi kita yang indah dari segala sesuatu yang najis, kotor, dan merusak!

      18. Apa klimaks yang menakjubkan dari buku Wahyu?

      18 Apakah itu klimaks dari buku Wahyu? Tidak, masih belum! Karena dengan selesainya kebangkitan 144.000 ke surga, perkawinan Anak Domba dilangsungkan. ”Pengantin perempuan”nya, yang telah dihiasi untuk suaminya, ditempatkan dalam ”langit yang baru,” dan dari sana ia turun, secara kiasan, sebagai pasangan pembantu Pengantin Laki-Lakinya dalam melaksanakan maksud-tujuan Yehuwa untuk ”menjadikan segala sesuatu baru.” Keindahan rohani pengantin perempuan itu sama indahnya dengan kota suci, Yerusalem Baru, yang diterangi oleh Yehuwa Allah Yang Mahakuasa dengan kemuliaan-Nya, dan Anak Domba adalah lampunya. (Wahyu 21:1-5, 9-11, 23) Jadi di sini buku Wahyu mencapai klimaksnya yang menakjubkan, dengan nama Yehuwa disucikan dan Anak Domba, Kristus Yesus, bersama pengantin perempuannya, Yerusalem Baru, mulai memberkati umat manusia yang taat dengan kehidupan kekal dalam Firdaus di bumi.

      19. (a) Selain keluar dari Babel Besar, apalagi yang penting untuk keselamatan? (b) Undangan yang mendesak apa masih terbuka, dan bagaimana seharusnya tanggapan kita?

      19 Apakah saudara telah sadar tentang sikap bermuka dua dari agama palsu dan apakah saudara telah keluar dari Babel Besar? Dan apakah saudara telah mengambil langkah selanjutnya untuk datang kepada Allah Yehuwa, melalui Kristus Yesus, dalam pembaktian sepenuh hati yang mengarah kepada baptisan? Ini juga penting untuk keselamatan! Seraya waktu yang telah ditentukan saat Yehuwa melaksanakan penghukuman terakhir makin dekat, undangan ini berkumandang dengan sangat mendesak: ”Roh dan pengantin perempuan itu berkata: ’Marilah!’” Semoga semua yang mengindahkan seruan itu membaktikan kehidupan mereka kepada Yehuwa dan dengan bergairah mengatakan: ”Marilah!” kepada orang-orang lain lagi. Ya, ”barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma.” (Wahyu 11:17) Undangan itu masih terbuka. Saudara sungguh-sungguh akan bahagia jika saudara menentukan sikap, dan memelihara sikap tersebut di hadapan takhta Allah dan Anak Domba, sebagai salah seorang dari umat Yehuwa yang berbakti dan dibaptis. Waktu yang telah ditentukan sudah lebih dekat daripada yang saudara kira! Ya, klimaks yang menakjubkan dari buku Wahyu sudah di ambang pintu!

      Sebagai penutup dari Pelajaran Menara Pengawal pekan ini, pemimpin hendaknya meminta agar Resolusi berikut ini dibacakan dan meninjaunya kembali dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan yang disediakan. Ini adalah Resolusi yang dinyatakan di seluruh dunia pada Kebaktian Distrik ”Keadilan Ilahi” dari Saksi-Saksi Yehuwa pada tahun 1988, pada akhir khotbah ”’Pelacur’ yang Keji—Kejatuhan dan Kebinasaannya.”

      [Catatan Kaki]

      a Untuk alasan-alasan yang jelas, dua ketentuan dari Perjanjian tersebut dirahasiakan pada waktu itu, karena ini mengenai front bersama melawan Uni Soviet dan kewajiban imam-imam Katolik yang bertugas dalam dinas ketentaraan Hitler. Wajib militer tersebut merupakan pelanggaran atas Perjanjian Versailles (1919) yang masih mengikat Jerman; bila diketahui umum, ketentuan ini dapat mengguncangkan pihak-pihak lain yang menandatangani Perjanjian Versailles.

      b Franz von Papen termasuk di antara orang-orang Nazi yang diadili sebagai penjahat-penjahat perang di Nuremberg, Jerman, pada akhir tahun 1940-an. Ia dibebaskan namun belakangan mendapat hukuman berat dari pengadilan yang ingin meniadakan pengaruh Nazi di Jerman. Namun setelah itu, pada tahun 1959, ia dijadikan pengurus rumah tangga pribadi (Privy Chamberlin) kepausan.

      c Mengomentari pertemuan itu, Paus Paulus VI mengatakan: ”Betapa sangat benar dan tepat bahwa suatu rapat agama untuk perdamaian ikut dimasukkan di antara upacara-upacara memperingati penandatanganan Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa dua puluh tahun yang lalu.”

  • Pelacur yang Keji​—Kebinasaannya
    Menara Pengawal—1989 | 15 April
    • [Kotak di hlm. 11]

      SIKAP PAUS YANG MEMBUNGKAM

      Dalam bukunya Franz von Papen—His Life and Times (Franz von Papenz—Kehidupan dan Zamannya), yang diterbitkan pada tahun 1939, H. W. Blood-Ryan menggambarkan secara terinci intrik-intrik yang tersangkut ketika satria kepausan itu membawa Hitler ke puncak kekuasaan dan merundingkan perjanjian antara Vatikan dengan Nazi. Sehubungan dengan pembunuhan-pembunuhan kejam yang telah direncanakan, yang termasuk orang-orang Yahudi, Saksi-Saksi Yehuwa, dan orang-orang lain, pengarang buku itu menyatakan: ”Mengapa Pacelli [Paus Pius XII] membungkam? Karena dalam rencana von Papen untuk mendirikan Imperium Roma Kudus dari Orang-Orang Jerman Barat ia melihat di masa depan suatu Gereja Katolik yang lebih kuat, dengan Vatikan kembali kepada kedudukan kekuasaan sementara . . . Pacelli yang sama sekarang menjalankan kekuasaan sebagai diktator rohani atas jutaan jiwa, namun tidak ada kata-kata apapun yang diucapkan terhadap serangan dan penganiayaan oleh Hitler. . . . Pada waktu saya menulis kalimat-kalimat ini, pembunuhan selama tiga hari telah berlalu dan tidak ada sepatah doa pun keluar dari Vatikan bagi jiwa-jiwa mereka yang menggugat, yang separuhnya adalah Katolik. Perhitungan dengan orang-orang tersebut pasti akan hebat. Mereka akan dilucuti dari semua pengaruh mereka di bumi, berdiri di hadapan Allah mereka, Yang akan meminta pertanggungjawaban. Apa yang dapat mereka katakan sebagai dalih? Tidak ada!”

      [Kotak di hlm. 15]

      KETERLIBATAN VATIKAN

      The New York Times terbitan 6 Maret 1988, melaporkan bahwa Vatikan menduga adanya defisit anggaran yang mencapai rekor sebanyak $61.8 juta untuk tahun 1988. Surat kabar itu menyatakan: ”Salah satu pengeluaran yang besar kemungkinan menyangkut janji yang dibuat pada tahun 1984 untuk membayar hampir $250 juta kepada para kreditor Banco Ambrosiano. Vatikan sangat terlibat dengan bank Milan sebelum kejatuhannya pada tahun 1982.” Sesungguhnya, benar-benar sangat terlibat dalam skandal itu, sehingga Vatikan dengan keras menolak untuk menyerahkan kepada yang berwajib tiga pejabat tinggi Vatikan, termasuk seorang uskup Amerika, untuk menghadap ke meja hijau Italia!

      [Gambar di hlm. 12]

      Vatikan ikut menanggung hutang darah yang besar bersama von Papen dan Hitler

      [Keterangan]

      UPI/Bettmann Newsphotos

      UPI/Bettmann Newsphotos

      [Gambar di hlm. 15]

      Sebaliknya dari mendukung Kerajaan Allah, para paus telah menyatakan PBB sebagai ’harapan terakhir untuk perdamaian’

      [Keterangan]

      Insets: UN photos

  • Resolusi
    Menara Pengawal—1989 | 15 April
    • Resolusi

      Hadirin pada Kebaktian-Kebaktian ”Keadilan Ilahi” pasti lebih banyak dari tahun sebelumnya, ketika 6.443.597 orang berhimpun di 1.098 tempat di seluruh dunia, dan 93.822 orang dibaptis. Khotbah ”’Pelacur’ yang keji” yang disampaikan pada semua Kebaktian ”Keadilan Ilahi,” diikuti oleh pengumuman terbitnya, dalam lebih dari 20 bahasa, buku terjilid 320 halaman dengan gambar-gambar yang indah, Wahyu—Klimaksnya yang Menakjubkan Sudah Dekat! Pembicara mengatakan kepada para pendengar: ”Gunakan buku baru ini dengan baik untuk pelajaran pribadi saudara dan di perhimpunan. Gunakan ini juga, dalam mengumumkan kepada dunia bahwa Babel Besar sudah dijatuhi hukuman kebinasaan, bahwa bangsa-bangsa sekarang menghadapi Armagedon, dan bahwa klimaks yang menakjubkan akan terwujud dalam pemerintahan Kerajaan Yehuwa yang agung melalui Kristus dan pengantin perempuannya. Saudara akan senang mendengar dan menaati hal-hal tersebut, ’sebab waktu yang telah ditentukan sudah dekat’!”—Wahyu 1:3, NW.

      Kami, yang sejak 1914 telah hidup ”pada hari Tuhan” dan pada masa penghakiman ilahi ini, bersukacita dalam hak istimewa yang paling mulia, yaitu melayani Tuhan Yang Berdaulat Yehuwa di bawah Raja segala raja-Nya, Yesus Kristus. (Wahyu 1:10) Sebagai SAKSI-SAKSI YEHUWA, kami bersaksi bahwa,

      (1) KAMI MUAK terhadap celaan yang telah ditimpakan oleh Babel Besar, dan Susunan Kristen khususnya, ke atas nama dari satu-satunya Allah yang benar dan hidup, Yehuwa. Bagi kami, KAMI MENEGASKAN dengan sepenuh hati, kata-kata Wahyu 4:11: ”Ya Tuhan [Yehuwa, NW] dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa.”

      (2) KAMI MUAK terhadap tindakan Susunan Kristen untuk tetap berpaut kepada ajaran-ajaran Babel, terutama mengenai allah tiga serangkai, jiwa manusia yang tidak berkematian, siksaan kekal dalam neraka, api penyucian yang bernyala-nyala, dan penyembahan patung-patung—seperti kepada sang Bunda dan salib. Sesuai dengan Wahyu 22:18, 19, KAMI DENGAN TEGAS MENAATI Firman Allah yang tertulis dan segala sesuatu yang terdapat di dalamnya.

      (3) KAMI MUAK terhadap filsafat-filsafat dan praktik-praktik anti-Allah, yang begitu umum dalam Susunan Kristen, seperti evolusi, transfusi darah, aborsi, dusta, ketamakan, dan ketidakjujuran. Dalam ibadat dan jalan hidup kami, KAMI AKAN MENGHORMATI Pencipta kami, Yehuwa, Allah Yang Mahakuasa, yang jalan-jalan-Nya dikatakan dalam Wahyu 15:3 sebagai ”adil dan benar.”

      (4) KAMI MUAK terhadap kegagalan Susunan Kristen untuk menaati pesan Yesus kepada ketujuh sidang dalam buku Wahyu pasal 2 dan 3 dalam hal-hal seperti tindakan memecah-belah menjadi sekte-sekte, penyembahan berhala, percabulan, pengaruh Izebel, keadaan suam-suam kuku, dan ketidakwaspadaan. Bagi kami, KAMI AKAN MENDENGAR DAN MENAATI ”apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.”

      (5) KAMI MUAK terhadap imoralitas dan sikap serba boleh dalam Susunan Kristen dan di kalangan kaum pendetanya, dan kami menyambut vonis Yehuwa yang jelas yang dinyatakan dalam Wahyu 21:8 bahwa mereka yang terus melakukan kenajisan—orang-orang cabul, pendusta, dan orang-orang seperti itu—akan dibinasakan sama sekali. KAMI DENGAN SEPENUH HATI MENDUKUNG standar Alkitab mengenai seks, perkawinan, dan kehidupan keluarga.

      (6) KAMI MUAK terhadap pelacuran rohani yang selama berabad-abad telah dilakukan oleh kaum pendeta Babel Besar dalam berkomplot dengan para penguasa duniawi untuk mendapatkan kekuasaan, kekayaan, dan kekuasaan yang bersifat menindas atas rakyat biasa. KAMI BERTEKAD untuk membantu orang-orang berhati jujur agar menaati seruan malaikat di Wahyu 18:4: ”Hai umatKu, pergilah dari padanya.”

      (7) KAMI MUAK terhadap hutang darah yang luar biasa besar yang ditimbulkan dengan dikorbankannya lebih dari 100 juta jiwa dalam peperangan pada abad ini saja, sebagian besar karena si pelacur besar melakukan percabulan dengan para kuasa politik. KAMI BERSUKACITA bahwa waktu yang telah ditentukan sudah dekat bagi Allah untuk mengeksekusi Babel Besar, seperti dengan jelas dinyatakan dalam Wahyu 18:21-24.

      Sebagai Saksi-Saksi Yehuwa, KAMI MENGANGGAP SUATU SUKACITA DAN HAK ISTIMEWA untuk mengumumkan kepada dunia bahwa pada tahun 1914 ”pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita [Yehuwa] dan Dia yang diurapiNya.” (Wahyu 11:15) KAMI BERTEKAD untuk bergerak maju tanpa gentar mengumumkan vonis yang telah dinyatakan Yehuwa atas Babel Besar dan untuk memperingatkan mendekatnya perang Allah di Armagedon. KAMI BERTEKAD untuk mendengungkan, dengan suara nyaring dan ”kepada semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum,” kabar gembira bahwa ”langit yang baru dan bumi yang baru” sudah di ambang pintu untuk memberkati umat manusia yang taat. (Wahyu 14:6; 21:1) KAMI BERSUKACITA bahwa sebagai hasil pemberitaan ini, suatu kumpulan besar dari tiga juta orang lebih dari segala bangsa sekarang bersatu dengan kami di seluruh bola bumi. Bersama dengan malaikat yang terbang di tengah-tengah langit, kami semua menyatakan: ”Takutlah akan Allah dan hormatilah Dia, karena ketika hukumanNya sudah sampai, dan sembahlah Dia yang menjadikan langit dan bumi serta laut dan segala mata air.”—Wahyu 14:7, Bode.

  • Babel Besar Didakwa
    Menara Pengawal—1989 | 15 April
    • Babel Besar Didakwa

      DALAM rangkaian kebaktian di seluruh dunia pada tahun 1988-89, jutaan Saksi-Saksi Yehuwa mendukung resolusi yang menyatakan kejijikan mereka terhadap tingkah laku Babel Besar, imperium agama palsu sedunia—teristimewa yang diwakili oleh Susunan Kristen. Orang-orang yang tulus mungkin ada yang bertanya, Apakah pendirian itu tidak terlalu keras? Tidak, sama sekali tidak! Apabila kita melihat bagaimana nabi-nabi Israel zaman dulu dengan berani mengecam perzinahan rohani pada zaman mereka dan bahasa keras yang Yesus gunakan untuk mengungkapkan kemunafikan agama pada zamannya, kami sebagai Saksi-Saksi Yehuwa percaya bahwa pendirian ini dapat dibenarkan sepenuhnya. Hal ini bahkan diperintahkan oleh Allah.—Yesaya 24:1-6; Yeremia 7:16-20; Matius 23:9–13, 27, 28, 37-39.

      Jadi atas dasar apakah kami muak terhadap tingkah laku Babel Besar? Bukti-bukti sejarah apa yang kami miliki perihal kegagalan agama untuk menghormati Yehuwa, Tuhan sejati Yang Berdaulat di alam semesta?

      Babel Modern Memandang Rendah Nama itu

      Tuhan Yang Berdaulat di alam semesta bukannya tidak punya nama. Ia telah menyatakan identitas diri-Nya kira-kira 7.000 kali dalam Alkitab sebagai Yehuwa. Ia menjadikan nama-Nya sesuatu yang sangat penting. Hukum ketiga dari Sepuluh Hukum menyatakan: ”Jangan menyebut nama [Yehuwa], Allahmu, dengan sembarangan, sebab [Yehuwa] akan memandang bersalah [”menghukum,” BIS] orang yang menyebut namaNya dengan sembarangan.” Dan Yesus menonjolkan nama Bapanya dalam Doa Bapa Kami, dengan mengatakan, ”Dikuduskanlah namaMu.”—Keluaran 20:7; Matius 6:9.

      Sejarah Susunan Kristen dalam menghormati nama Allah sangat menyedihkan. Bahkan Alkitab King James dari tahun 1611 menggunakan nama Yehuwa, secara terpisah dan dalam gabungan hanya tujuh kali.a Terjemahan-terjemahan lain telah menghapus nama itu sama sekali. Kebanyakan agama tidak menghormatinya. Sebaliknya, mereka mengagungkan Trinitas ”kudus” mereka dan, dalam beberapa kasus, Maria yang disebut Bunda Allah, ditinggikan di atas Allah dari Alkitab. Nama Yehuwa yang berharga telah dibiarkan secara relatif terlupakan.b

      Memang, agama Islam mengakui satu Tuhan, yang mereka sebut Allah, sesuai dengan kitab suci mereka, Quran. Namun mereka tidak menggunakan nama-Nya, Yehuwa, yang pertama kali diungkapkan dalam Alkitab sedikitnya dua ribu tahun sebelum Quran ada. Orang-orang Hindu menyembah jutaan dewa dan dewi, tetapi Yehuwa tidak termasuk di antaranya.

      Yang menonjol sebagai kelompok yang bersalah sehubungan dengan nama Allah adalah Yudaisme. Selama ribuan tahun, orang Yahudi mengaku sebagai umat yang menyandang nama Allah, namun karena alasan tradisi, mereka telah membuat nama Allah yang sesungguhnya sama sekali tidak digunakan.

      Karena itu, sebagai saksi-saksi dari Tuhan Yang Berdaulat Yehuwa, kami harus menyatakan rasa muak kami terhadap kelalaian Babel Besar sehubungan dengan nama suci Allah.

      Mengapa Kami Membenci Ajaran-Ajaran Babel

      Jutaan orang telah diperas dan dibiarkan terus dalam keadaan takut atas dasar pengajaran Babel bahwa manusia mempunyai jiwa yang tidak berkematian. Sejak zaman kuno, agama palsu telah memanfaatkan perasaan takut akan kemungkinan jiwa disiksa selama-lamanya dalam api neraka setelah kematian. Pembaharuan yang lebih halus atas ajaran tersebut adalah penderitaan sementara dalam api penyucian. Orang-orang jujur membayar agar Misa diadakan bagi orang mati, namun mereka tidak pernah tahu kapan pembayaran sedemikian tidak diperlukan lagi! Doktrin-doktrin yang menghujat ini tidak memiliki dasar dalam Alkitab.—Bandingkan Yeremia 7:31.

      Sebenarnya, Alkitab mengajarkan bahwa manusia adalah jiwa yang hidup, yang bisa mati. Karena ketidaktaatan Adam tidak dihukum dalam api neraka atau api penyucian tetapi mengalami—hanya kematian. Dengan sederhana dikatakan, ”upah dosa ialah maut.” (Roma 6:23; Kejadian 2:7, 17; 3:19) Harapan berdasarkan Alkitab bagi yang sudah mati tidak didasarkan atas jiwa yang tidak berkematian, tetapi sebaliknya, atas janji Allah yaitu kebangkitan kepada kehidupan yang sempurna dalam bumi firdaus.—Yohanes 5:28, 29; Wahyu 21:1-4.

      Ajaran Babel lain lagi adalah Trinitas ”kudus.” Ajaran tentang tiga pribadi dalam satu Allah tidak pernah menjadi bagian dari kepercayaan orang Ibrani kuno. (Ulangan 5:6, 7; 6:4) Yesus, yang adalah seorang Yahudi, pasti tidak pernah percaya atau mengajarkan bahwa ia Allah yang mahakuasa. Ia tidak mengakui doktrin atau dogma Babel mengenai allah tiga serangkai.—Markus 12:29; 13:32; Yohanes 5:19, 30; 14:28; 20:17.

      Karena itu, kami menolak doktrin-doktrin Babel yang menghujat Allah seperti yang diajarkan dalam agama-agama palsu di dunia. Kami beribadat kepada satu-satunya Allah yang benar, Yehuwa, melalui Putra-Nya, yang menjadi ”pendamaian” bukan hanya untuk dosa-dosa orang Kristen terurap tetapi juga seluruh dunia umat manusia.—1 Yohanes 2:2.

      Mengapa Kami Menolak Filsafat-Filsafat Anti-Allah

      Para paus dan pendeta Susunan Kristen meratapi bangkitnya ateisme, dan banyak yang menggunakan hal itu untuk membenarkan dukungan mereka kepada politik sayap kanan. Tetapi, pertanyaan ini harus diajukan: Siapa yang menyetujui ketidakadilan dan tidak adanya persamaan hak yang mengakibatkan lahirnya ateisme, khususnya pada abad terakhir? Ia muncul secara mencolok dalam wilayah Susunan Kristen. Sebagai contoh, Gereja Ortodoks Rusia bersekutu dengan para tzar (kaisar), yang menindas rakyat dengan kejam. Tidak adanya nilai-nilai Kristen yang sejati di pihak mereka yang menampilkan diri sebagai utusan-utusan Allah. menyebabkan timbulnya keadaan-keadaan yang menjadi wadah yang subur untuk pertumbuhan ateisme.

      Agama-agama Susunan Kristen juga telah memeluk ajaran evolusi yang merendahkan sang Pencipta. Kerumitan dan variasi yang begitu besar dari satu juta lebih bentuk kehidupan, mereka nyatakan berasal dari kekuatan alam yang buta. Sebenarnya, mereka mengatakan bahwa variasi yang luas ini berkembang sebagai akibat dari serangkaian kebetulan yang menguntungkan. Filsafat demikian membuat Allah menjadi tidak berguna dan manusia tidak bertanggung jawab kepada siapapun. Etika menjadi masalah pilihan pribadi. (Mazmur 14:1) Salah satu akibatnya ialah, sekarang aborsi telah mencapai jumlah puluhan juta setiap tahun—di negeri-negeri yang mengaku beragama!

      Kami menolak filsafat-filsafat dan praktik-praktik anti-Allah ini. Kami menyembah Yehuwa, ”Dia yang hidup sampai selama-lamanya, yang telah menciptakan langit dan segala isinya, dan bumi dan segala isinya, dan laut dan segala isinya.”—Wahyu 10:6; 19:6.

      Mengapa Kami Muak Terhadap Buah-Buah dari Babel Besar

      Susunan Kristen telah gagal mematuhi pesan-pesan peringatan kepada ketujuh sidang yang diuraikan di Wahyu pasal 2 dan 3. Pesan-pesan tersebut mengingatkan terhadap praktik pembentukan sekte-sekte, penyembahan berhala, dan percabulan, dan terhadap keadaan suam-suam kuku serta kelalaian.

      Kunjungan kepada hampir setiap tempat ibadat akan menunjukkan betapa banyak orang beragama telah mengagungkan makhluk ciptaan di atas Penciptanya. Bagaimana? Dengan pemujaan gambar dan patung orang suci serta penyembahan yang mereka tujukan kepada ”santo-santo,” Madona, dan salib.—Bandingkan Mazmur 115:2-8; 2 Korintus 5:7; 1 Yohanes 5:21.

      Dalam kasus mereka, kata-kata Paulus telah tergenap: ”Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah . . . mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.”—Roma 1:21-23.

      Mengapa Kami Mengutuk Imoralitas Babel

      Dalam 20 tahun terakhir ini kita menyaksikan homoseks disetujui atau dimaafkan sebagai gaya hidup yang lain. Jutaan orang homoseks ”keluar dari sarangnya” dan sekarang berbaris di jalan-jalan, memamerkan ”Harga Diri Homoseks” mereka. Bagaimana pandangan Allah terhadap homoseksualitas mereka?

      Kira-kira 3.500 tahun yang lalu Alkitab dengan jelas mengatakan: ”Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian.” (Imamat 18:22) Dan hampir 2.000 tahun yang lalu Paulus menunjukkan bahwa patokan-patokan Allah tidak berubah ketika ia menulis: ”Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.”—Roma 1:26, 27; 1 Korintus 6:9, 10; 1 Timotius 1:10.

      Tetapi, begitu banyak dari pendeta Susunan Kristen mempraktikkan homoseks sehingga mereka telah berhasil membentuk kelompok yang sangat berpengaruh dalam banyak agama-agama utama. Mereka menuntut agar gaya hidup mereka diakui dan agar mereka diberi kedudukan sebagai rohaniwan. Suatu contoh ialah sekte Protestan terbesar di Kanada, United Church of Canada, yang para pemimpinnya memberikan suara 205 melawan 160 pada tanggal 24 Agustus 1988, untuk menerima orang-orang homoseks dalam pelayanan.

      Mengapa Kami Muak Terhadap Pelacuran Rohani Babel

      Buku Wahyu mengecam pelacuran Babel dengan ”raja-raja di bumi,” para penguasa politik. Pelacur itu digambarkan sedang duduk ”di tempat yang banyak airnya,” yang mengartikan ”bangsa-bangsa dan rakyat banyak dan kaum dan bahasa.” (Wahyu 17:1, 2, 15) Karena memiliki hubungan yang akrab dengan para penguasa politik, selama berabad-abad agama palsu telah menggunakan pengaruhnya secara terang-terangan maupun secara tersembunyi untuk menekan dan mengeksploitasi rakyat.

      Contoh dari penguasaan sedemikian adalah persetujuan-persetujuan resmi, yang ditandatangani oleh Vatikan dengan para penguasa Nazi dan Fasis pada abad ke-20 ini. Pengaruh gereja atas kawanannya mengakibatkan ketundukan mutlak kepada penguasa-penguasa yang bengis. Pada tahun 1929 Vatikan menandatangani persetujuan resmi dengan diktator Fasis Benito Mussolini. Apa yang menyusul di Jerman? Kardinal Jerman Faulhaber, yang mengutip kata-kata berikut dari Pius XI, memberikan kita pengertian tentang pola berpikir paus mengenai Hitler: ”Saya merasa senang; ia adalah negarawan pertama yang berterus terang melawan Bolshevisme.” Faulhaber belakangan mengatakan: ”Perjalanan saya ke Roma meneguhkan apa yang seharusnya telah lama saya duga. Di Roma, Sosialisme Nasional [Nazi] dan Fasisme dianggap sebagai satu-satunya pembebasan dari Komunisme dan Bolshevisme.”

      Uskup-uskup Katolik Jerman tadinya menentang filsafat Nazi sebelum tahun 1933. Tetapi seperti dikatakan penulis Jerman Klaus Scholder dalam bukunya The Churches and the Third Reich (Gereja-Gereja dan Kerajaan Ketiga), para uskup diperintahkan oleh duta Vatikan di Jerman, Kardinal Pacelli, untuk mengubah sikap mereka terhadap Sosialisme Nasional. Apa yang menyebabkan perubahan ini? Yaitu kemungkinan akan diadakannya perjanjian resmi antara Kerajaan Ketiga dan Vatikan, yang ditandatangani pada tanggal 20 Juli 1933.

      Klaus Scholder melaporkan: ”Pada pemilihan umum dan plebisit tanggal 12 November [1933] Hitler menuai buah dari persetujuan resmi Kerajaannya melalui banyak suara ’setuju’ yang sungguh tak terduga, teristimewa dari kalangan para pemilih yang mayoritas beragama Katolik.”

      Walaupun beberapa pemimpin Protestan menyatakan menentang pengambil-alihan kekuasaan oleh Nazi pada tahun 1933, suara mereka segera hilang dalam teriakan nasionalisme dari khalayak ramai. Scholder menjelaskan: ”Jelas terlihat makin besarnya kesediaan gereja Protestan untuk meninggalkan sikap hati-hati yang mereka tunjukkan di masa lampau dan sekarang pada akhirnya [mereka] juga ikut terbawa dalam semangat nasional. . . . Untuk pertama kali pernyataan-pernyataan resmi gereja dikeluarkan, yang mendukung Kerajaan baru tanpa syarat.” Sesungguhnya, Protestanisme telah menjual dirinya kepada nasionalisme Nazi dan menjadi kaki tangannya, seperti yang telah dilakukan Gereja Katolik.

      Selama berabad-abad yang telah lalu, menurut catatan sejarah, agama palsu telah berangkulan dengan kelompok-kelompok elite yang berkuasa dan membesarkan wibawa mereka dengan akibat kerugian atas rakyat. ’Sikap mental Kristus’ tidak diperlihatkan oleh para pemimpin agama dunia, yang dengan lapar mengejar kekuasaan, tanah milik, dan kekayaan. Sebagai Saksi-Saksi Yehuwa, kami muak terhadap pelacuran rohani sedemikian.—Yohanes 17:16; Roma 15:5, NW; Wahyu 18:3.

      Mengapa Kami Sangat Membenci Hutang Darah Babel

      Dalam kitab Wahyu, Babel Besar dituduh karena hutang darah yang sangat besar: ”Dan aku melihat perempuan itu mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus. Dan di dalamnya terdapat darah nabi-nabi dan orang-orang kudus dan darah semua orang, yang dibunuh di bumi.”—Wahyu 17:6; 18:24.

      Sejarah agama palsu penuh dengan kebencian dan pertumpahan darah, dengan Susunan Kristen sebagai bagian yang paling berhutang darah. Dua perang dunia dimulai di wilayah yang disebut negara-negara Kristen. Pemimpin-pemimpin politik ”Kristen” berpaling kepada senjata pada tahun 1914 dan 1939, dan golongan pendeta dalam semua negara yang bertarung memberikan berkat mereka. The Columbia History of the World menyatakan mengenai Perang Dunia I: ”Kebenaran didevaluasi bersama dengan kehidupan, dan hampir tidak ada suara untuk memprotes. Para penjaga firman Allah memimpin nyanyian peperangan. Perang total menjadi sama dengan kebencian total.” (Cetak miring red.) Pendeta tentara mendorong tentara-tentara mereka dengan semangat patriotis seraya remaja-remaja dari kedua belah pihak menjadi makanan meriam. Buku sejarah yang sama mengatakan: ”Peracunan pikiran manusia secara sistematis oleh serangan hebat nasionalisme . . . menghalangi pencarian perdamaian lebih jauh.”

      Agama palsu seluas dunia terus membangkitkan kebencian seraya pertikaian yang keras berkecamuk antara orang Yahudi dengan orang Muslim, Hindu dengan Sikh, Katolik dengan Protestan, Muslim dengan Hindu, Budha dengan Hindu. Ya, agama palsu terus menyumbang banjir darah dari ”semua orang, yang dibunuh di bumi.”—Wahyu 18:24.

      Mengingat semua bukti yang dikemukakan di atas, Saksi-Saksi Yehuwa merasa bahwa resolusi kebaktian tahun 1918 memang cocok dan tepat pada waktunya. Sudah selayaknya kami mengecam agama palsu sebagai pelacur yang berhutang darah, yaitu Babel Besar. Kami umumkan kepada dunia satu-satunya jalan sejati menuju perdamaian dan ibadat sejati—berpaling kepada Tuhan Yang Berdaulat di alam semesta, Allah Yehuwa, melalui Pribadi yang Ia utus ke bumi, Kristus, atau Mesias, Yesus. Ini berarti menerima Kerajaan Allah sebagai pemerintahan kekal yang adil-benar, satu-satunya yang dapat memenuhi kebutuhan umat manusia. Dan ini juga berarti bahwa sekaranglah waktunya untuk mematuhi perintah: ”Hai umatKu, pergilah dari padanya [Babel Besar] supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya.”—Wahyu 18:4; Daniel 2:44; Yohanes 17:3.

      [Catatan Kaki]

      a Kejadian 22:14; Keluaran 6:3; 17:15; Hakim 6:24; Mazmur 83:18; Yesaya 12:2; 26:4.

      b Untuk pembahasan yang terinci mengenai makna dan pentingnya nama Allah, lihat brosur 32 halaman berjudul Nama Ilahi Yang Akan Kekal Selama-lamanya, yang diterbitkan oleh Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan