PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Apa yang Menghalangi Saudara untuk Dibaptis?
    Menara Pengawal—1989 | 15 Januari
    • Apa yang Menghalangi Saudara untuk Dibaptis?

      ”Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?”—Kisah 8:36.

      1. Apa yang terjadi di jalan raya antara Yerusalem dan Gaza?

      MALAIKAT Yehuwa telah berbicara, dan sesuatu yang penting terjadi di jalan raya di padang gurun antara Yerusalem dan Gaza. Seorang Etiopia duduk dan membaca Alkitab dalam sebuah kereta yang sedang berjalan. Tidak lama kemudian seorang pria lain berlari di samping kendaraan itu. ”Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?” tanyanya. ”Bagaimanakah aku dapat mengerti,” jawab orang Etiopia itu, ”kalau tidak ada yang membimbing aku?” Bimbingan tersebut diberikan oleh Filipus sang penginjil yang telah diutus oleh malaikat. Setelah naik ke atas kereta, Filipus mulai dengan nubuat yang ditulis oleh Yesaya dan memberitakan ”Injil Yesus.”

      2, 3. (a) Bagaimana tanggapan orang Etiopia itu terhadap kabar baik? (b) Pertanyaan-pertanyaan apa yang ditimbulkan oleh kejadian ini?

      2 Pada suatu saat dalam perjalanan itu, orang Etiopia tersebut berseru, ”Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?” Kemudian ia memerintahkan agar kereta itu berhenti. Kedua pria masuk ke dalam air dan Filipus membaptisnya. Kemudian roh Yehuwa membimbing sang penginjil ke tempat lain, dan orang Etiopia tersebut meneruskan perjalanannya dengan sukacita.—Kisah 8:26-39.

      3 Jika saudara sudah bergabung dengan Saksi-Saksi Yehuwa tetapi belum dibaptis, kejadian ini dapat mendorong saudara untuk bertanya, Mengapa orang Etiopia itu dibaptis begitu cepat? Bagaimana seharusnya baptisan dilaksanakan? Lambang dari apakah baptisan itu? Dan apa yang menghalangi saya untuk dibaptis?

      Tidak Dibaptis Terlalu Cepat

      4. Siapakah orang Etiopia ini?

      4 Karena orang Etiopia itu ”pergi ke Yerusalem untuk beribadah,” ia seorang proselit Yahudi yang disunat. Ia seorang ”sida-sida” tetapi tidak dalam arti jasmani, karena pria-pria yang dikebiri tidak diijinkan masuk ke dalam sidang jemaat Israel. (Ulangan 23:1) Dalam hal ini, ”sida-sida” menunjukkan seorang pejabat, karena ia menjadi ”pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia.”—Kisah 8:27.

      5. Mengapa sida-sida Etiopia itu dapat dibaptis dengan begitu cepat?

      5 Pria Etiopia itu bukan bangsa Yahudi. Tetapi karena ia telah ditobatkan kepada agama Yahudi, ia dapat dibaptis sebagai murid Kristus sebelum berita Kerajaan disampaikan kepada orang-orang Kafir yang tidak disunat seperti Kornelius pada tahun 36 M. Sebagai proselit Yahudi, orang Etiopia itu mempunyai pengetahuan tentang Allah dan Firman-Nya walaupun ia membutuhkan bantuan rohani. Maka Filipus dibimbing untuk mengabar kepada pria ini dan dapat membaptis dia sebelum kabar baik disampaikan kepada orang-orang Kafir.

      Baptisan Kristen yang Mula-Mula

      6. Bagaimana orang Etiopia itu dibaptis, dan mengapa saudara menjawab demikian?

      6 Bagaimana caranya orang Etiopia itu dibaptis? Kata ”baptis” berasal dari istilah Yunani ba·ptiʹzo, yang berarti ”mencelup, membenamkan.” Bentuk dari kata yang sama digunakan untuk kata ”membenamkan” di 2 Raja 5:14 dalam Septuaginta Yunani. Dan patut diperhatikan bahwa orang Etiopia itu meminta dibaptis ketika ia dan Filipus tiba di ”suatu tempat yang ada air.” Untuk baptisan, mereka ”turun ke dalam air,” dan setelah itu ”keluar dari” air. (Kisah 8:36-39) Jadi, sida-sida Etiopia itu dibaptis dengan dibenamkan dalam air.

      7. Contoh apa yang ada dari baptisan dengan dibenamkan dalam air?

      7 Yesus sendiri dibaptis dengan cara dibenamkan dalam air. Jadi, setelah ia dibaptis di Sungai Yordan, dikatakan bahwa ia ”keluar dari air.” (Matius 3:13, 16) Sebenarnya, sebagai tempat yang cocok untuk melaksanakan baptisan, Yohanes Pembaptis telah memilih tempat di Lembah Yordan dekat Salim. Mengapa? ”Sebab di situ banyak air.” (Yohanes 3:23) Karena itu Alkitab mengesahkan baptisan dalam tempat yang ada airnya.

      8. Mengenai baptisan, apa yang dapat kita simpulkan dari kebiasaan orang Farisi dan orang-orang Yahudi lain?

      8 Kita dapat menarik kesimpulan yang benar berkenaan baptisan jika kita mempertimbangkan kebiasaan orang Farisi dan orang-orang Yahudi lainnya. Penulis Injil, Markus, mengatakan, ”Kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya [dengan memercik, NW; bahasa Yunani, ran·tiʹzo]. Banyak warisan [”tradisi,” NW] lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci [ba·pti·smousʹ] cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.” (Markus 7:3, 4) Orang-orang ini dengan pura-pura suci memercik diri mereka sebelum makan pada waktu kembali dari pasar. Tetapi mereka membaptis, atau membenamkan dalam air, berbagai macam alat yang mereka gunakan pada waktu makan.

      9. Apa yang dikatakan Tertullian mengenai baptisan?

      9 Bahkan setelah kemurtadan mulai menyerang, bapa gereja Tertullian (± 160-230 M.) mengatakan mengenai baptisan: ’Tidak ada sesuatu pun yang membuat pikiran manusia lebih berkukuh daripada kesederhanaan dari perbuatan-perbuatan ilahi yang terlihat dalam tindakan, bila dibanding dengan kemuliaan yang dijanjikan sebagai hasilnya; sehingga dari fakta, bahwa dengan begitu sederhana, tanpa kemegahan, tanpa hal yang benar-benar baru dalam persiapan, akhirnya, tanpa biaya, seseorang dicelup ke dalam air, dan seraya beberapa patah kata diucapkan, [ia] dipercik dan kemudian naik lagi, tanpa menjadi lebih bersih (atau sama sekali tidak), ternyata dicapainya kekekalan sebagai hasilnya itulah yang dipandang lebih menakjubkan.’ Perhatikan bahwa Tertullian mengatakan, ”seseorang dicelup ke dalam air . . . dan kemudian naik lagi.”

      10. Apa yang dikatakan para sarjana mengenai cara baptisan Kristen yang paling awal?

      10 Para sarjana juga memperlihatkan bahwa orang Kristen pada mulanya membaptis orang dengan membenamkannya sama sekali ke dalam air. Sebuah ensiklopedia Perancis yang terkemuka mengatakan, ”Orang-orang Kristen yang pertama menerima baptisan dengan dibenamkan di tempat manapun ada air.” Dan The Catholic Encyclopedia menyatakan, ”Bentuk paling kuno yang biasa digunakan tidak disangsikan lagi adalah dibenamkan.”—Jilid II, halaman 261 (edisi 1907).

      Mengajar dan Membaptis

      11. Yesus memberikan murid-muridnya tugas apa?

      11 Sebelum seorang dibaptis, ia harus mendapatkan dan bertindak selaras dengan pengetahuan yang saksama. Ini dinyatakan dengan jelas pada waktu Kristus memberitahu para pengikutnya, ”Karena itu pergilah, jadikanlah murid-murid dari orang-orang segala bangsa, baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan roh kudus, ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, aku menyertai kamu senantiasa sampai pada kesudahan sistem ini.”—Matius 28:19, 20, NW.

      12. Apa artinya dibaptis ”dalam nama Bapa”?

      12 Dibaptis ”dalam nama Bapa” berarti bahwa orang yang akan dibaptis mengakui kedudukan dan wewenang Allah. Yehuwa diakui sebagai ”Yang Mahatinggi atas seluruh bumi,” Pencipta dan Penguasa Universal. (Mazmur 36:10; Mazmur 83:19; 2 Raja 19:15) Orang sedemikian juga menerima Yehuwa sebagai Hakim, Pemberi Hukum, dan Rajanya.—Yesaya 33:22; Mazmur 119:102; Wahyu 15:3, 4.

      13. Dibaptis ’dalam nama Anak’ berarti apa?

      13 Dibaptis ’dalam nama Anak’ berarti mengakui kedudukan dan wewenang Kristus dan mengakui bahwa hanya melalui Dia Allah telah menyediakan ”tebusan [yang sesuai, NW].” (1 Timotius 2:5, 6) Setelah Yesus mati sebagai pemelihara integritas, ”Allah sangat meninggikan Dia,” dan mereka yang ingin dibaptis harus mengakui Kristus sebagai ”Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa.” (Filipi 2:9-11) Mereka harus juga menerima Yesus sebagai ”Saksi yang setia” dari Yehuwa dan sebagai ”Raja segala raja.”—Wahyu 1:5; 19:16.

      14. Baptisan ’dalam nama roh kudus’ menuntut apa?

      14 Seseorang harus juga dibaptis ’dalam nama roh kudus.’ Ia harus menyadari bahwa roh kudus bukan suatu pribadi melainkan tenaga aktif Allah, yang digunakan dalam penciptaan, untuk mengilhami para penulis Alkitab, dan sebagainya. (Kejadian 1:2; 2 Samuel 23:1, 2; 2 Petrus 1:21) Roh Yehuwa harus diakui sebagai sesuatu yang sangat penting jika kita ingin mengerti ”perkara Allah yang dalam-dalam” dan memperlihatkan buah-buah ilahi, yaitu ”kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan [”iman,” NW], kelemahlembutan, penguasaan diri.” (1 Korintus 2:10, Bode; Galatia 5:22, 23) Harus juga diakui bahwa roh Allah dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan pengabaran Kerajaan.—Yoel 2:28, 29.

      Apa yang Dilambangkan oleh Baptisan

      15. Mengapa baptisan Kristen tidak menghapus dosa-dosa?

      15 Dengan dukungan roh kudus Yohanes Pembaptis membaptis orang. (Kisah 13:24) Ia membaptis mereka, bukan untuk menghapus dosa-dosa mereka, melainkan sebagai lambang pertobatan mereka. (Kisah 19:4) Yohanes juga membaptis Yesus, yang ”tidak berbuat dosa.” (1 Petrus 2:22) Dan Ananias mendesak Saul dari Tarsus, ”Bangkitlah engkau, terimalah baptisan dan sucikanlah dirimu daripada dosa dengan menyeru nama [Yesus].” (Kisah 22:12-16, Bode) Jadi, baptisan air seorang Kristen tidak menghapus dosa-dosa. Bukan baptisan melainkan dicurahkannya darah Yesus dan ”dengan menyeru namaNya” itulah yang memungkinkan adanya pengampunan.—Ibrani 9:22; 1 Yohanes 1:7.

      16. (a) Karena baptisan tidak menghapus dosa-dosa, apa yang dilambangkan oleh itu? (b) Secara kiasan, apa yang terjadi bila seseorang dibaptis?

      16 Meskipun baptisan Kristen tidak menghapus dosa-dosa, ini adalah lambang yang menyatakan bahwa pribadi yang dibenamkan dalam air telah membuat pembaktian tanpa syarat kepada Allah Yehuwa melalui Yesus Kristus. (Bandingkan Matius 16:24.) Membaktikan diri berarti ”menyatakan, meneguhkan, mengabdi.” Pembaktian kepada Allah memaksudkan tindakan yang dengan itu seorang dikhususkan tanpa syarat dengan suatu perjanjian untuk melakukan kehendak Allah melalui Kristus. Secara kiasan, bila orang yang akan dibaptis ”dikuburkan” untuk sementara di bawah air dan kemudian diangkat daripadanya, ia mati sehubungan dengan haluannya sebelum itu dan dibangkitkan kepada jalan hidup yang baru, untuk melakukan kehendak Yehuwa sepenuhnya.—Bandingkan Roma 6:4-6.

      17. Mengapa baptisan bayi tidak patut?

      17 Jelas, baptisan adalah langkah yang serius. Membaptis seorang bayi adalah salah karena bayi tidak dapat mengerti, membuat keputusan, dan menjadi murid. (Matius 28:19, 20, NW) Mereka yang dibaptis selama pelayanan Filipus di Samaria adalah ”orang laki-laki maupun orang wanita” (BIS), bukan bayi-bayi. (Kisah 8:4-8, 12) Baptisan adalah bagi mereka yang sudah cukup dewasa untuk belajar, percaya, dan mempraktekkan iman. (Yohanes 17:3; Kisah 5:14; 18:8; Ibrani 11:6) Dalam hal ini, sejarawan Agustus Neander menulis, ”Iman dan baptisan selalu dihubungkan satu sama lain; karena itu ada kemungkinan yang sangat besar . . . bahwa kebiasaan membaptis bayi tidak dikenal [pada abad pertama M.]. . . . Bahwa hal itu pertama kali diakui sebagai tradisi kerasulan menjelang abad ketiga, merupakan bukti yang lebih bersifat menentang daripada mendukung pengakuan bahwa ini berasal dari para rasul.”—History of the Planting and Training of the Christian Church by the Apostles atau Sejarah Penanaman dan Pelatihan Gereja Kristen oleh Rasul-Rasul (New York, 1864), halaman 162.

      18. (a) Menurut Alkitab, apa yang dituntut untuk menjadi salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa? (b) Bukti apa dari iman akan menunjukkan bahwa seseorang boleh dibaptis? (c) Bagaimana iman dalam tebusan ditandaskan bagi orang-orang yang akan dibaptis?

      18 Alkitab berulang kali menyebutkan baptisan orang-orang yang percaya. (Kisah 4:4; 5:14; 8:13; 16:27-34; 18:8; 19:1-7) Maka, untuk menjadi salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa, seseorang harus menjadi orang yang percaya—orang yang mempraktekkan iman dan dibaptis. Bahkan sebelum baptisan, iman sedemikian akan nyata dalam tingkah laku yang saleh, keyakinan kepada Yehuwa, keikutsertaan dalam pekerjaan pengabaran Kerajaan, dan diterimanya korban tebusan Yesus. Iman dalam tebusan ditandaskan bagi orang yang akan dibaptis, karena yang pertama dari dua pertanyaan yang diajukan pembicara kepada mereka ialah, ”Atas dasar korban Yesus Kristus, apakah saudara sudah bertobat dari dosa-dosa saudara dan membaktikan diri kepada Yehuwa untuk melakukan kehendak-Nya?” Hanya jika pribadi itu menjawab ya dan juga mengerti bahwa pembaktian dan baptisannya menyatakan dia sebagai salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa yang bergabung dengan organisasi Allah yang dibimbing oleh roh, ia dapat dibaptis dalam air dengan diperkenan.

      Pembaktian dalam Doa

      19. Mengapa harus membuat pembaktian kepada Yehuwa dalam doa?

      19 Mereka yang dibaptis harus mempunyai iman dalam Allah dan Kristus. Namun mengapa Saksi-Saksi Yehuwa mengatakan bahwa pembaktian kepada Allah harus dibuat dalam doa? Karena memang tepat untuk menyatakan kepada Yehuwa dalam doa, keputusan kita untuk memberikan kepada-Nya pembaktian eksklusif yang layak Ia terima. (Ulangan 5:8, 9; 1 Tawarikh 29:10-13) Nyata sekali bahwa dalam doalah Yesus memberitahu keinginannya untuk memberikan dinas suci secara eksklusif kepada Bapa surgawinya. (Ibrani 10:7-9) Ya, Yesus ”berdoa” bahkan pada waktu sedang dibaptis! (Lukas 3:21, 22) Jadi jelas bahwa pembaktian kepada Allah harus dibuat dalam doa.

      20. Mengapa kemungkinan besar orang-orang Kristen yang mula-mula menganjurkan murid-murid baru untuk membuat pembaktian kepada Allah dalam doa?

      20 Orang Kristen yang mula-mula dengan jelas menganjurkan murid-murid baru untuk membuat pembaktian dalam doa, karena bahkan belakangan Tertullian mengatakan, ”Mereka yang akan dibaptis harus berdoa berulang-ulang disertai dengan puasa, dan berlutut.” Sebelumnya, Yustin Martyr (± 100-165 M.) menulis, ”Saya juga akan menceritakan cara kami membaktikan diri kepada Allah pada waktu kami telah diperbarui melalui Kristus . . . Seberapa yang diyakinkan dan percaya bahwa apa yang kami ajarkan dan katakan itu benar, dan berusaha untuk dapat hidup sesuai dengan itu, diperintahkan untuk berdoa dan memohon kepada Allah dengan berpuasa, demi pengampunan dosa-dosa mereka yang lampau, kami berdoa dan berpuasa bersama dengan mereka.”

      21. Bagaimana kemungkinannya, bahkan meskipun soal membuat pembaktian dalam doa tidak ditandaskan pada waktu saudara dibaptis beberapa tahun yang lalu?

      21 Jika masalah membuat pembaktian dalam doa tidak ditekankan pada waktu saudara dibaptis bertahun-tahun yang lalu, hal itu tidak berarti baptisan saudara tidak sah. Bahkan pada masa itu, pasti banyak orang yang sama seperti pria yang masih ingat dengan jelas sekali bahwa ia berlutut dan membuat pembaktiannya kepada Yehuwa dalam doa yang sungguh-sungguh pada waktu ia masih seorang remaja lebih dari 40 tahun yang lalu. Dan pada waktu itu, bahkan meskipun seorang tidak membuat pembaktian dalam doa resmi sebelumnya, ia pasti telah memikirkannya dengan sungguh-sungguh seraya orang-orang yang akan dibaptis dan orang-orang lain berdoa bersama pada waktu khotbah baptisan diberikan pada hari ia dibaptis.

      Mengapa Ada yang Menahan Diri

      22. Mengapa ada yang menahan diri untuk dibaptis?

      22 Karena menjadi saksi Yehuwa yang berbakti adalah hak istimewa yang begitu menguntungkan, mengapa ada yang menahan diri untuk dibaptis? Kurangnya kasih yang sejati adalah satu alasan mengapa ada yang tidak menaati Firman Allah, mengikuti teladan Yesus, dan dibaptis. (1 Yohanes 5:3) Memang, orang-orang yang tidak dibaptis biasanya tidak mengatakan bahwa mereka tidak mau mengikuti teladan Yesus atau menaati Allah. Tetapi, mereka begitu terlibat dalam urusan-urusan duniawi sehingga hanya tinggal sedikit waktu untuk mengejar hal-hal rohani. Jika ini yang menjadi problem saudara, apakah tidak bijaksana untuk mengubah hal-hal yang saudara kasihi, minat dan cita-cita saudara? Mereka yang benar-benar mengasihi Allah tidak dapat bersamaan waktu juga mengasihi dunia ini. (1 Yohanes 2:15-17) Dan jangan biarkan diri saudara dininabobokkan kepada perasaan aman yang palsu melalui ”tipu daya kekayaan.” (Matius 13:22) Keamanan sejati hanya didapat dalam hubungan pembaktian dengan Allah Yehuwa.—Mazmur 4:9.

      23. Mengapa orang-orang lain menahan diri untuk membuat pembaktian diri kepada Yehuwa dan melambangkannya dengan baptisan air?

      23 Orang-orang lain mengaku mengasihi Allah tetapi menahan diri untuk membuat pembaktian karena mereka merasa bahwa dengan cara itu mereka dapat menghindari tanggung jawab dan tidak akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka ingin hidup dalam Firdaus, namun sejauh ini mereka hanya berbuat sedikit atau tidak berbuat apa-apa untuk mencapainya. (Amsal 13:4) Orang-orang sedemikian tidak dapat menghindari pertanggungjawaban karena tanggung jawab itu sudah ada pada mereka pada waktu mereka mendengar firman Yehuwa. (Yehezkiel 33:7-9) Jika mereka membuat pembaktian, mereka akan menunjukkan bahwa mereka mengerti kehendak Allah dan ingin sekali melakukan itu. Sebaliknya dari menaruh beban yang lebih berat ke atas mereka, ketaatan sedemikian akan mendatangkan berkat Yehuwa dan menghasilkan sukacita karena mereka akan hidup sesuai dengan pengakuan mereka yaitu bahwa mereka mengasihi Dia.

      24. Untuk alasan apa orang-orang lain lagi menahan diri untuk dibaptis?

      24 Karena merasa belum mengetahui cukup banyak untuk dapat menjelaskan Alkitab beberapa menghindari baptisan. Namun sida-sida Etiopia itu siap melambangkan pembaktiannya kepada Allah setelah pembahasan dengan Filipus selama perjalanan dalam kereta. Memang, orang Etiopia itu mula-mula tidak dapat menjawab semua pertanyaan dari mereka yang ia ajak berbicara mengenai kebenaran. Tetapi hatinya melimpah dengan perasaan terima kasih atas apa yang telah ia dengar, dan ia tidak menahan diri karena takut. ”Di dalam kasih tidak ada ketakutan: Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.” (1 Yohanes 4:18) Bukan kepala yang penuh dengan jawaban melainkan hati yang penuh dengan kasih yang akan menggerakkan seseorang untuk membuat pembaktian kepada Allah dan dibaptis.—Lukas 10:25-28.

      25. Apa yang diharapkan Allah Yehuwa dari mereka yang mengaku mengasihi Dia?

      25 Jika saudara masih belum dibaptis, tanyalah kepada diri sendiri: Apa yang Allah harapkan dari mereka yang mengatakan bahwa mereka mengasihi Dia? Ia menghendaki pembaktian yang eksklusif dan mencari mereka yang mau menyembah Dia ”dalam roh dan kebenaran.” (Yohanes 4:23, 24; Keluaran 20:4, 5; Lukas 4:8) Sida-sida Etiopia itu memberikan ibadat sedemikian, dan ia tidak menunda ketika diberi kesempatan untuk dibaptis. Tidakkah saudara akan menjadikan pembaktian kepada Yehuwa suatu soal yang patut didoakan dengan sungguh-sungguh sekarang juga dan bertanya kepada diri sendiri: ”Apakah halangannya, jika aku dibaptis?”

  • Bagaimana Baptisan Dapat Menyelamatkan Kita
    Menara Pengawal—1989 | 15 Januari
    • Bagaimana Baptisan Dapat Menyelamatkan Kita

      ”Baptisan . . . menyelamatkan kalian.”—1 Petrus 3:21, BIS.

      1, 2. Apa yang dituntut sebelum seseorang dibaptis dalam air?

      YEHUWA mempunyai persyaratan khusus bagi mereka yang mencari keselamatan. Mereka harus mendapatkan pengetahuan yang saksama, mempraktekkan iman, bertobat dari dosa-dosa mereka, berganti agama, membuat pembaktian kepada Allah, dan dibaptis sebagai orang yang percaya. (Yohanes 3:16; 17:3; Kisah 3:19; 18:8) Orang-orang yang akan dibaptis harus mengaku di hadapan umum bahwa atas dasar korban Yesus mereka telah bertobat dari dosa-dosa mereka dan telah membaktikan diri kepada Yehuwa. Mereka harus juga mengerti bahwa dengan pembaktian dan baptisan mereka menyatakan diri sebagai Saksi-Saksi Yehuwa.

      2 Seluruh penyelenggaraan baptisan, termasuk pernyataan iman di hadapan umum ini, penting untuk keselamatan. (Roma 10:10) Ini diteguhkan ketika rasul Petrus menulis, ”Baptisan . . . menyelamatkan kalian.” (1 Petrus 3:21, BIS) Tetapi tepatnya bagaimana kita harus mengerti kata-kata tersebut? Apa yang diperlihatkan oleh ikatan kalimatnya?

      Bagaimana Baptisan Menyelamatkan

      3. Dengan kata-kata sendiri, bagaimana saudara akan meringkaskan 1 Petrus 3:18-21?

      3 Petrus menunjukkan bahwa sebagai roh yang telah dibangkitkan, Yesus mengabarkan berita penghukuman kepada roh-roh dalam penjara, yaitu hantu-hantu yang ditahan dalam belenggu kekal untuk penghukuman pada hari besar Yehuwa. Mereka telah berlaku tidak taat dengan menjelma ke dalam tubuh jasmani dan hidup bersama dengan wanita-wanita ”ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu, delapan orang [Nuh, istrinya, putra-putranya, dan istri mereka], yang diselamatkan oleh air bah itu.” Petrus menambahkan: ”Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya [”hal yang dapat disamakan dengan itu,” NW], yaitu baptisan—maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani [hanya yang perlu], melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah—oleh kebangkitan Yesus Kristus.”—1 Petrus 3:18-21; Kejadian 6:1, 2; 2 Petrus 2:4; 2 Korintus 7:1.

      4. Apa yang Petrus maksudkan ketika ia mengatakan, ”hal yang dapat disamakan dengan itu”?

      4 Apa yang Petrus maksudkan ketika ia mengatakan, ”Hal yang dapat disamakan dengan itu”? Ia memaksudkan bahwa baptisan yang didasarkan atas iman adalah serupa dengan diselamatkannya Nuh beserta keluarganya, yang dilindungi hingga selamat melalui air bah yang membinasakan orang-orang di luar bahtera. Nuh membutuhkan iman untuk membangun bahtera, demikian pula semua orang yang menjadi murid Yesus Kristus yang sudah dibaptis dan menjadi saksi-saksi Yehuwa harus mempunyai iman agar dapat teguh menahan tekanan yang dilancarkan atas mereka oleh dunia yang tidak beriman ini dan ilahnya, Setan si Iblis.—Ibrani 11:6, 7; 1 Yohanes 5:19.

      5. Bagaimana keselamatan adalah ”oleh kebangkitan Yesus Kristus”?

      5 Baptisan itu sendiri tidaklah menyelamatkan. Dan walaupun kita harus ”membersihkan kenajisan jasmani,” hal itu sendiri tidak menyelamatkan kita. Tetapi, keselamatan ialah ”oleh kebangkitan Yesus Kristus.” Para orang yang akan dibaptis harus mempunyai iman bahwa keselamatan dapat diperoleh hanya karena Putra Allah mati sebagai korban dan telah dibangkitkan. Mereka juga harus menerima Yesus sebagai Tuhan mereka yang mempunyai wewenang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. ”[Ia] duduk di sebelah kanan Allah,” kata Petrus, ”setelah Ia naik ke sorga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepadaNya.”—1 Petrus 3:22.

      6. Untuk mendapatkan hati nurani yang baik, apa yang sudah harus dilakukan seorang yang akan dibaptis?

      6 Petrus juga menghubungkan baptisan dengan ’permohonan hati nurani yang baik kepada Allah.’ Untuk memperoleh hati nurani yang baik, seorang yang akan dibaptis harus bertobat dari dosa-dosanya, berbalik dari haluan yang salah, dan membuat pembaktian tanpa syarat kepada Allah Yehuwa dalam doa melalui Yesus Kristus. Jika seseorang yang sudah dibaptis memelihara hati nurani yang baik itu dengan hidup selaras standar-standar Allah, ia tetap dalam keadaan diselamatkan yang tidak mendatangkan vonis hukuman mati dari Yehuwa.

      Memenuhi Syarat untuk Dibaptis

      7. Berkenaan baptisan, apa yang telah dilakukan oleh para utusan injil Susunan Kristen?

      7 Ketika Yesus menugaskan para pengikutnya untuk membaptis murid-murid, ia tidak mengatakan agar mereka, memercik orang-orang yang tidak percaya dalam jumlah ribuan. Namun apa yang telah dilakukan oleh para utusan injil Susunan Kristen? Mengenai India, tokoh Yesuit Fransiskus Xaverius menulis pada tahun 1545, ”Dalam kerajaan Travankor . . . dalam waktu beberapa bulan saya telah membaptis lebih dari sepuluh ribu pria, wanita, dan anak-anak. . . . Saya pergi dari desa ke desa dan menjadikan mereka orang Kristen.” Itu bukan cara Yesus untuk ’menjadikan orang Kristen.’ Orang-orang harus memenuhi syarat untuk dibaptis.

      8. Apa yang dikatakan oleh apa yang diakui sebagai kanon-kanon Paulus mengenai mereka yang mempersembahkan diri untuk dibaptis?

      8 Bahkan orang-orang tertentu yang mengaku Kristen dari jaman pasca-rasul-rasul percaya bahwa mereka yang mempersembahkan diri untuk dibaptis harus memenuhi persyaratan yang ketat. Mengenai orang-orang yang akan dibaptis tersebut, kanon-kanon yang bukan dari Alkitab, yang dengan salah dinyatakan berasal dari rasul Paulus, mengatakan, ”Biarlah tingkah laku mereka dan kehidupan mereka diselidiki . . . Jika mereka belum menikah, biarlah mereka belajar untuk tidak melakukan percabulan, melainkan memasuki perkawinan yang sah. . . . Jika seorang pelacur datang, biarlah ia meninggalkan persundalannya, atau jika tidak biarlah ia ditolak. Jika seorang pembuat patung berhala datang, biarlah ia meninggalkan pekerjaannya, atau biarlah ia ditolak. . . . Ia yang bersalah dalam dosa-dosa yang tidak disebutkan, . . . tukang sihir, seorang yang melakukan hal-hal ajaib, astrolog, peramal, pemantera, . . . pembuat jimat, petenung, pawang dengan ilmu sihir, peramal keberuntungan, penafsir suratan tangan . . . , biarlah mereka diuji untuk suatu waktu tertentu . . . dan jika mereka meninggalkan praktek-praktek tersebut, biarlah mereka diterima; tetapi jika mereka tidak setuju dengan itu, biarlah mereka ditolak.”

      9. Mengapa para penatua mengadakan pembahasan dengan seseorang yang ingin dibaptis?

      9 Saksi-Saksi Yehuwa tidak mengikuti tulisan-tulisan yang tidak berdasarkan Alkitab, seperti yang baru dikutip, tetapi para penatua memang mengadakan pembahasan dengan orang-orang yang ingin dibaptis. Mengapa? Untuk memastikan bahwa mereka adalah orang-orang yang percaya yang memenuhi persyaratan ilahi dan telah membuat pembaktian kepada Yehuwa. (Kisah 4:4; 18:8; 2 Tesalonika 3:2) Dengan membahas pertanyaan-pertanyaan dalam buku Diorganisir untuk Melaksanakan Pelayanan Kita, dapat ditentukan apakah seseorang memenuhi syarat untuk dibaptis. Jika beberapa pokok tidak jelas baginya, atau ia belum menyelaraskan kehidupannya dengan standar-standar ilahi, para penatua akan senang memberikan bantuan rohani.

      10. Jika kita ingin dibaptis, sikap apa yang harus kita miliki?

      10 Jika kita menghargai kebaikan Allah dalam membantu kita belajar tentang maksud-tujuan-Nya, kita akan menjadi seperti orang-orang kepada siapa Paulus mengabar di Anthiokia, Asia Kecil. Meskipun tentangan dari orang Yahudi, ”mendengar itu [tentang kesempatan untuk diperkenan oleh Allah], bergembiralah orang-orang dari bangsa-bangsa [Kafir] dan mereka memuliakan Firman Yehuwa; dan semua orang yang ditentukan [dianggap layak (rightly disposed, ”NW”)] untuk hidup yang kekal menjadi percaya.” (Kisah 13:48) Orang-orang yang percaya tersebut dibaptis.

      Baptisan Pada Usia Remaja

      11. Apakah patut untuk membuat pembaktian kepada Allah ketika masih remaja, dan mengapa saudara menjawab demikian?

      11 Mereka ”yang dianggap layak untuk hidup yang kekal” juga termasuk kaum remaja. Dapat diperhatikan bahwa meskipun Samuel dan Yohanes Pembaptis sudah dibaktikan kepada Allah sebelum lahir, para orangtua tidak dapat membuat pembaktian atas nama anak-anak mereka. (1 Samuel 1:11, 24-28; 2:11, 18, 19; Lukas 1:15, 66) Namun sebagai hasil dari latihan Alkitab yang baik, banyak remaja maju ke arah baptisan. Seorang saudari utusan injil yang dibaptis ketika masih remaja menulis, ”Bagi saya tampaknya saya telah dibaktikan untuk melayani Pencipta saya sejak usia saya menyadari bahwa Ia ada, namun setelah memperoleh pengetahuan yang saksama tentang Dia dan maksud-tujuan-Nya, saya ingin dibaptis sebagai kesaksian atas kenyataan itu. Meskipun demikian, Ibu ragu-ragu apakah saya tahu apa yang saya lakukan, jadi ia menyarankan agar saya menunggu sampai ada orang lain yang siap untuk dibaptis.” Kemudian ada seorang wanita yang ingin dibaptis dan saudari itu menambahkan, ”Tidak ada kelas-kelas untuk pengajaran khusus bagi para orang pada masa itu, meskipun Pengawas Dinas yang dilantik oleh Lembaga . . . dengan ramah berbicara kepada saya sehubungan dengan seriusnya langkah yang akan saya ambil. Saya dengan bersemangat menyetujui semua persyaratan yang disebutkan, dan pada suatu Minggu pagi yang cerah pada bulan Mei 1921 [wanita itu] dan saya dibaptis.”

      12. Bagaimana Saudara Russell memandang pembaktian oleh seorang anak di bawah umur?

      12 Pada tahun 1914, C. T. Russell (pada waktu itu presiden Lembaga Menara Pengawal) menerima sepucuk surat dari seorang rekan Kristen yang menanyakan apakah putranya yang berumur 12 tahun harus didesak untuk membuat pembaktian kepada Allah. ”Jika saya saudara,” jawab Russell, ”saya tidak akan mendesak soal pentahbisan [pembaktian] kepadanya, tetapi saya akan menaruh hal itu di depan pikirannya sebagai satu-satunya haluan yang patut bagi semua orang yang mempunyai akal cerdas yang telah memperoleh pengetahuan tentang Allah dan maksud-tujuan-Nya yang pemurah . . . Tanpa pentahbisan tidak seorang pun akan mendapat hidup kekal . . . Putra anda tidak dapat dirugikan oleh pentahbisan, tetapi dapat sangat dibantu. . . . Siapa yang dapat mengatakan bahwa seorang anak umur sepuluh tahun belum dapat menghargai sepenuhnya dan selengkapnya soal pentahbisan dalam pikiran dan kata-kata dan tindakan? Dengan mengingat masa lampau, saya dapat melihat bahwa seluruh pentahbisan saya pertama kali dibuat hanya sedikit cepat—pada umur dua belas tahun lebih sedikit.”

      13. Apa yang dikatakan majalah Watch Tower kepada kaum remaja kira-kira 94 tahun yang lalu?

      13 Zion’s Watch Tower tanggal 1 Juli 1894 mengatakan, ”Kepada semua anak-anak dan remaja-remaja yang baik yang telah memberikan hati mereka kepada Allah, dan yang setiap hari berupaya mengikuti Yesus, WATCH TOWER mengirimkan salamnya. Kami mengenal beberapa dari anak-anak yang masih sangat kecil yang mengasihi Yesus, dan yang tidak malu untuk membela Yesus di antara anak-anak lain yang tidak mengasihi dan tidak berupaya menyenangkan dia; dan mereka berani dan benar di mata Allah, meskipun ditertawakan dan dianggap aneh oleh teman-teman sekolah mereka yang mereka beritahu tentang kabar baik Kerajaan. Dan kami bersukacita melihat remaja-remaja, yang dengan berani menolak dunia ini beserta ambisi dan kesenangannya, termasuk di antara mereka yang paling setia yang telah [membaktikan] kehidupan mereka kepada Tuhan. Beberapa dari antara para pembantu kami di kantor, maupun banyak dari para kolportir yang berhasil masih berusia remaja.” Bahkan meskipun saudara masih remaja, mengapa saudara tidak berbicara kepada orangtua saudara mengenai pembaktian kepada Allah Yehuwa?

      Peran Orangtua

      14. Manfaat-manfaat apa yang dinikmati kaum remaja yang membuat pembaktian kepada Yehuwa?

      14 Pikirkan manfaat yang dinikmati oleh anak-anak yang mendapat bimbingan dari orangtua yang mengarah kepada baptisan. (Efesus 6:4) Memikirkan hal-hal rohani akan membantu mereka untuk luput dari jerat dan tipu daya duniawi. (1 Yohanes 2:15-17) Mereka tidak akan menuai hal-hal yang menyedihkan akibat dari ’menabur dalam daging.’ (Galatia 6:7, 8) Karena mereka telah diajar untuk menempuh kehidupan yang saleh, mereka akan memperlihatkan buah-buah roh Allah. (Galatia 5:22, 23) Karena berbakti kepada Allah, mereka menikmati hubungan yang erat dengan Dia. Dan karena mereka telah belajar untuk ’percaya kepada Yehuwa,’ mereka dibimbing oleh hikmat surgawi dan berjalan dalam jalan kesenangan dan damai sejahtera.—Amsal 3:5, 6, 13, 17.

      15. Apa yang dapat dilakukan para orangtua Kristen untuk membentuk kehidupan anak-anak mereka?

      15 Karena pembaktian kepada Yehuwa begitu bermanfaat bagi kaum remaja, para orangtua Kristen harus berbuat sedapat mungkin untuk membentuk kehidupan anak-anak mereka. Seperti Timotius, kaum remaja dapat diajar Alkitab dari bayi sehingga ’mereka terus berpegang pada hal-hal yang telah mereka pelajari dan diyakinkan untuk mempercayainya.’ (2 Timotius 3:14, 15, NW) Para orangtua yang saleh dapat menaungi anak-anak mereka dengan pengaruh dari kehidupan mereka sendiri yang patut diteladani, menanamkan pada anak-anak kecil mereka pengetahuan seperti hubungan mereka sendiri dengan Allah, pengalaman, dan hal-hal yang dapat diberikan oleh penilaian yang matang. Bila diarahkan dengan sepatutnya, upaya tersebut tidak akan sia-sia bagi anak-anak.—Amsal 22:6.

      16. Apa yang seharusnya dilihat anak-anak saudara dalam teladan dan ajaran saudara?

      16 Melalui teladan dan pengajaran, bantulah anak-anak saudara untuk melihat betapa jelas garis pemisah antara organisasi Yehuwa dan organisasi Setan. Tunjukkan kepada mereka bahwa tidak bisa ada kompromi dengan dunia ini, bahwa orang-orang Kristen harus mengecam hal-hal duniawi yang licik, kesenangannya yang fasik, ambisi, dan pergaulannya. (1 Korintus 15:33; 2 Korintus 4:2) Melalui sikap saudara, maupun ajaran dan teladan saudara, biarlah anak-anak saudara melihat betapa kosong kesenangan duniawi itu, betapa diperdayakan orang-orang dari dunia bila dibandingkan dengan Saksi-Saksi Yehuwa. Jelaskan bagaimana Allah telah memimpin saudara melalui roh kudus-Nya, telah menjaga saudara sehingga tidak tersesat kepada jalan-jalan yang akan menuju kepada kesedihan, telah menguatkan saudara dalam masa penderitaan dan kesedihan. Jangan sekali-kali membuat kesalahan dengan berpikir bahwa jika anak-anak kecil saudara dibiarkan menempuh jalan-jalan duniawi berupa kebanggaan, ambisi, tingkah laku yang tidak berguna, dan kebodohan, mereka akan menjadi orang-orang beriman. Sebelum dunia ini dapat menjerat anak-anak saudara, lindungi mereka dari pengaruhnya yang keji dan bantu mereka untuk memusatkan kasih dan harapan mereka kepada Yehuwa.

      Setelah Baptisan

      17. (a) Mengapa ada orang-orang Kristen yang sudah dibaptis yang mengalami kemunduran rohani? (b) Bagaimana kita harus memandang pembaktian kita?

      17 Tidak soal tua atau muda, pasti seorang yang akan dibaptis ingin tetap setia kepada Yehuwa. Maka, mengapa ada orang-orang Kristen yang sudah dibaptis yang mengalami kemunduran rohani? Walaupun berbagai faktor tersangkut, tampaknya ada satu alasan dasar—kegagalan untuk memahami segala sesuatu yang diartikan oleh pembaktian. Ini bukan soal membaktikan diri kita kepada suatu pekerjaan. Hal itu memang membuat kita tetap sibuk namun tidak akan membuat kita menjadi orang rohani. Kita perlu ingat bahwa kita berbakti bukan kepada suatu pekerjaan melainkan kepada suatu Pribadi—Allah Yehuwa. Ini membantu kita menghindari kesalahan memandang pembaktian kita sebagai langkah formalitas yang harus kita ambil sebelum meneruskan pekerjaan. Membuat pembaktian hendaknya dipandang sebagai memasuki hubungan yang penting yang harus selalu dijaga dan dipelihara. Dalam hal ini, ada teladan dari Yesus Kristus. Kata-kata yang bersifat nubuat berikut ini menyatakan sikapnya yang sepenuh hati pada waktu mempersembahkan diri kepada Yehuwa, ”Aku datang . . . aku suka melakukan kehendakMu, ya Allahku; TauratMu ada dalam dadaku.”—Mazmur 40:7-9; Ibrani 10:5-10.

      18. Bagaimana hukum Allah berada dalam ’dada’ Yesus?

      18 Bagaimana hukum Yehuwa ada di dalam ’dada’ Yesus? Ia mengatakan kepada seorang ahli Taurat Yahudi bahwa Yehuwa Allah kita esa dan tidak ada allah lain, dengan demikian menandaskan keunggulan Yehuwa. Kemudian Yesus menunjukkan bahwa inti dari hukum Allah terdiri dari mengasihi Yehuwa dengan sepenuh hati, pengertian, dan kekuatan kita, seraya mengasihi sesama kita seperti diri sendiri. (Markus 12:28-34) Itulah alasan utama mengapa Yesus dapat mengatakan, ’Aku suka melakukan kehendak Allah.’ Ia dapat berpaut kepada haluannya dengan setia meskipun ujian dan penderitaan yang paling berat, tidak hanya karena ia melihat hal ini sebagai pekerjaan yang baik melainkan karena ia mempunyai hubungan yang akrab dengan Allah Yehuwa. Jika kita dengan cara yang sama mengakui keunggulan Yehuwa dan mengasihi Dia dengan kasih yang tidak terpatahkan, kita akan hidup selaras dengan pembaktian dan baptisan kita.

      19. Apa kaitan antara hubungan kita dengan Yehuwa dan pekerjaan yang kita lakukan?

      19 Tentu, ada kaitan antara hubungan kita dengan Allah dan pekerjaan yang kita lakukan. Kita memperlihatkan kasih kepada Yehuwa dengan melakukan pekerjaan pengabaran Kerajaan. Dalam hal ini, almarhum Grant Suiter, mantan anggota Badan Pimpinan dari Saksi-Saksi Yehuwa, pernah menulis, ”Pada waktu saya mendengarkan kepada [seorang pengawas keliling] yang berbicara tentang hak istimewa melayani Yehuwa dan tanggung jawab untuk melakukan itu, saya menyadari apa yang harus saya lakukan dan apa yang saya ingin lakukan. Maka saya membuat pembaktian pribadi kepada Yehuwa, dan kira-kira pada waktu yang sama anggota-anggota lain dari keluarga saya juga berbuat demikian. Pada tanggal 10 Oktober 1926, di San Jose, Kalifornia, kami semua bersama-sama melambangkan pembaktian kami kepada Allah Yehuwa dengan dibaptis dalam air. . . . Setelah dibaptis . . . ayah saya mengatakan kepada penatua yang mengawasi baptisan, ’Kalian pergi dengan bacaan-bacaan, bukan? Kami ingin melakukan pekerjaan itu, juga, sekarang.’ Jadi keluarga kami mulai keluar dalam dinas pengabaran.” Dewasa ini, orang-orang yang memenuhi syarat mulai ambil bagian yang berarti dalam dinas pengabaran bahkan sebelum dibaptis.

      Baptisan Dapat Menyelamatkan Kita

      20, 21. (a) Dalam hal apa hamba-hamba Yehuwa ”ditandai”? (b) Apa gerangan ”tanda” ini, dan memiliki itu berarti apa?

      20 Melalui perbuatan, kita dapat menunjukkan bahwa ”kita adalah milik Tuhan [Yehuwa, NW].” Ya, keselamatan bergantung pada bekerja dengan setia sebagai hamba-hamba-Nya yang berbakti! (Roma 6:20-23; 14:7, 8) Pada jaman dulu, budak-budak sering diberi tanda di dahi. Melalui pekerjaan pengabaran dewasa ini, ’orang berpakaian lenan’ simbolis—kaum sisa para pengikut Yesus yang terurap—sedang ’menandai’ orang-orang yang akan selamat melampaui akhir sistem ini. Dalam pekerjaan ini kaum terurap dibantu oleh rekan-rekan mereka, ”domba-domba lain.” (Yehezkiel 9:1-7; Yohanes 10:16) Dan apa gerangan ”tanda” tersebut (Klinkert)? Ini adalah bukti bahwa kita sudah berbakti kepada Yehuwa dan adalah murid-murid Yesus yang sudah dibaptis yang mempunyai kepribadian seperti Kristus.

      21 Khususnya sekarang, penting sekali bahwa kita mempunyai ”tanda” itu dan mempertahankannya karena kita sudah jauh memasuki ”akhir zaman.” (Daniel 12:4) Untuk diselamatkan kita harus ’bertekun sampai akhir’ kehidupan kita sekarang atau akhir sistem ini. (Matius 24:13) Hanya jika kita tetap setia sebagai saksi-saksi Yehuwa maka baptisan akan menyelamatkan kita.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan