PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Terimalah Alkitab sebagaimana Itu Sesungguhnya
    Menara Pengawal—1995 | 1 Mei
    • Terimalah Alkitab sebagaimana Itu Sesungguhnya

      ”Kami juga dengan tiada henti bersyukur kepada Allah, karena pada waktu kamu menerima firman Allah, yang kamu dengar dari kami, kamu menerimanya, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi, sebagaimana itu sesungguhnya, sebagai perkataan Allah, yang juga bekerja dalam diri kamu orang-orang yang percaya.”​—1 TESALONIKA 2:13.

      1. Keterangan macam apa di dalam Alkitab yang menjadikan buku ini benar-benar menonjol?

      ALKITAB Suci adalah buku yang paling banyak diterjemahkan dan paling luas diedarkan di seluruh dunia. Buku ini tanpa banyak kesulitan diakui sebagai salah satu mahakarya sastra. Akan tetapi, yang lebih penting lagi, Alkitab menyediakan bimbingan yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang dari segala ras dan bangsa, tidak soal apa pekerjaan mereka atau kedudukan mereka dalam kehidupan. (Penyingkapan 14:6, 7) Dengan cara yang memuaskan pikiran maupun hati, Alkitab menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Apa tujuan dari kehidupan manusia? (Kejadian 1:28; Penyingkapan 4:11) Mengapa pemerintahan-pemerintahan manusia tidak sanggup mewujudkan perdamaian dan keamanan yang abadi? (Yeremia 10:23; Penyingkapan 13:1, 2) Mengapa orang-orang mati? (Kejadian 2:15-17; 3:1-6; Roma 5:12) Di tengah-tengah dunia yang sarat dengan masalah, bagaimana kita dapat dengan sukses menanggulangi problem-problem kehidupan? (Mazmur 119:105; Amsal 3:5, 6) Apa yang dijanjikan masa depan bagi kita?—Daniel 2:44; Penyingkapan 21:3-5.

      2. Mengapa Alkitab menyediakan jawaban-jawaban yang dapat diandalkan sepenuhnya atas pertanyaan-pertanyaan kita?

      2 Mengapa Alkitab dengan penuh wewenang menjawab pertanyaan-pertanyaan demikian? Karena Alkitab adalah Firman dari Allah. Ia menggunakan manusia untuk melakukan penulisan Alkitab, namun seperti yang dengan jelas dinyatakan di 2 Timotius 3:16, ”segenap Tulisan Kudus diilhamkan Allah”. Alkitab bukan produk interpretasi pribadi atas kejadian-kejadian yang dialami manusia. ”Nubuat [pernyataan tentang perkara-perkara yang akan terjadi, perintah-perintah ilahi, standar moral Alkitab] tidak pernah dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi manusia berbicara dari Allah seraya mereka dibimbing oleh roh kudus.”—2 Petrus 1:21.

      3. (a) Berikan contoh-contoh yang memperlihatkan betapa tinggi Alkitab telah dinilai oleh orang-orang di berbagai negeri. (b) Mengapa ada orang-orang yang bersedia mempertaruhkan kehidupan mereka demi membaca Alkitab?

      3 Karena menghargai nilai Alkitab, banyak orang telah menempuh risiko pemenjaraan, bahkan kematian, demi memiliki dan membacanya. Keadaan ini benar-benar terjadi selama tahun-tahun yang lalu di Spanyol, negara Katolik, yang para pemimpin agamanya khawatir bahwa pengaruh mereka akan dirongrong jika orang-orang membaca Alkitab dalam bahasa mereka sendiri; keadaan serupa terjadi pula di Albania, yang rezim ateisnya memberlakukan tindakan keras untuk mengakhiri segala pengaruh agama. Namun, orang perorangan yang takut akan Allah menghargai Alkitab, membacanya, dan membagikannya satu sama lain. Selama Perang Dunia II, di kamp konsentrasi Sachsenhausen, sebuah Alkitab dengan hati-hati diteruskan dari satu sel ke sel lain (meskipun hal ini dilarang), dan orang-orang yang memegangnya menghafal bagian-bagiannya untuk disampaikan kepada orang-orang lain. Selama tahun 1950-an, di bekas Jerman Timur Komunis, Saksi-Saksi Yehuwa yang dipenjara karena iman mereka mengambil risiko diasingkan seorang diri untuk waktu yang lebih lama ketika mereka saling memberikan bagian-bagian kecil dari Alkitab dari satu narapidana ke narapidana lain untuk dibaca pada malam hari. Mengapa mereka berbuat demikian? Karena mereka menyadari bahwa Alkitab adalah Firman dari Allah, dan mereka mengetahui bahwa ”manusia hidup bukan dari roti saja” tetapi ”dari segala yang diucapkan [Yehuwa]”. (Ulangan 8:3) Kata-kata ini, yang dicatat di dalam Alkitab, memungkinkan Saksi-Saksi tersebut tetap hidup secara rohani meskipun menjadi sasaran kekejaman yang luar biasa.

      4. Di mana Alkitab hendaknya ditempatkan dalam kehidupan kita?

      4 Alkitab bukan sebuah buku yang sekadar diletakkan di atas rak untuk kadang-kadang dijadikan referensi, juga bukan dimaksudkan untuk digunakan hanya sewaktu rekan-rekan seiman berkumpul untuk beribadat. Setiap hari Alkitab harus digunakan untuk memancarkan terang kepada keadaan-keadaan yang kita hadapi dan untuk memperlihatkan kepada kita jalan yang tepat untuk ditempuh.—Mazmur 25:4, 5.

      Dimaksudkan untuk Dibaca dan Dipahami

      5. (a) Sedapat mungkin, apa yang hendaknya kita masing-masing miliki? (b) Di Israel purba, bagaimana orang-orang mengetahui apa yang dimuat dalam Tulisan-Tulisan Kudus? (c) Bagaimana Mazmur 19:8-12 mempengaruhi sikap saudara terhadap pembacaan Alkitab?

      5 Pada zaman kita, salinan-salinan dari Alkitab dengan mudah dapat diperoleh di kebanyakan negeri, dan kami mendesak semua pembaca Menara Pengawal untuk memiliki sebuah eksemplar. Selama periode ketika Alkitab sedang ditulis, belum ada mesin-mesin cetak. Orang-orang pada umumnya tidak memiliki Alkitab pribadi. Namun Yehuwa mengatur agar hamba-hamba-Nya mendengarkan apa yang telah ditulis. Itulah sebabnya, Keluaran 24:7 melaporkan, setelah Musa menulis apa yang Yehuwa perintahkan, ia ’mengambil kitab perjanjian itu dan membacakannya dengan didengar oleh bangsa itu’. Karena telah menjadi saksi dari pertunjukan-pertunjukan adikodrati di Gunung Sinai, mereka menyadari bahwa apa yang Musa bacakan kepada mereka bersumber dari Allah dan bahwa mereka perlu mengetahui keterangan ini. (Keluaran 19:9, 16-19; 20:22) Kita juga perlu mengetahui apa yang dicatat dalam Firman Allah.—Mazmur 19:8-12.

      6. (a) Sebelum bangsa Israel memasuki Negeri Perjanjian, apa yang Musa lakukan? (b) Bagaimana kita dapat meniru teladan Musa?

      6 Seraya bangsa Israel bersiap-siap menyeberangi Sungai Yordan untuk memasuki Negeri Perjanjian, dengan demikian meninggalkan kehidupan mereka sebagai pengembara di padang belantara, adalah tepat bagi mereka untuk meninjau Hukum Yehuwa dan cara Ia berurusan dengan mereka. Didorong oleh roh Allah, Musa meninjau Hukum itu bersama mereka. Ia mengingatkan mereka akan perincian dari Hukum tersebut, dan ia juga menonjolkan prinsip-prinsip dasar dan sikap yang hendaknya mempengaruhi hubungan mereka dengan Yehuwa. (Ulangan 4:9, 35; 7:7, 8; 8:10-14; 10:12, 13) Seraya kita dewasa ini menerima penugasan-penugasan baru atau menghadapi situasi-situasi baru dalam kehidupan, ada baiknya kita juga mempertimbangkan bagaimana nasihat dari Alkitab hendaknya mempengaruhi apa yang kita lakukan.

      7. Tidak lama setelah bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan, apa yang dilakukan untuk mengesankan Hukum Yehuwa dalam pikiran dan hati mereka?

      7 Tak lama setelah Israel menyeberangi Sungai Yordan, bangsa tersebut kembali berkumpul untuk meninjau apa yang Yehuwa telah beri tahukan kepada mereka dengan perantaraan Musa. Bangsa tersebut berkumpul kira-kira 50 kilometer sebelah utara Yerusalem. Setengah dari suku-suku berada di hadapan Gunung Ebal, dan setengah lagi di hadapan Gunung Gerizim. Di sana Yosua ’membacakan dengan suara keras segala perkataan hukum Taurat, berkatnya dan kutuknya’. Dengan demikian kaum pria, wanita, dan anak-anak kecil, beserta penduduk asing, mendengarkan pernyataan-pernyataan yang diulang kembali secara tepat waktu tentang hukum-hukum yang mengatur tingkah laku yang tidak akan mendatangkan perkenan Yehuwa dan tentang berkat-berkat yang akan mereka terima jika mereka menaati Yehuwa. (Yosua 8:34, 35) Mereka perlu mencamkan dengan jelas apa yang baik dan apa yang buruk dari sudut pandangan Yehuwa. Selain itu, mereka perlu mencamkan dalam hati mereka kasih akan apa yang baik dan kebencian akan apa yang buruk, sebagaimana yang kita masing-masing lakukan dewasa ini.—Mazmur 97:10; 119:103, 104; Amos 5:15.

      8. Apa manfaat pembacaan berkala dari Firman Allah sewaktu diadakan pertemuan nasional di Israel?

      8 Selain pembacaan Hukum pada peristiwa-peristiwa yang bersejarah tersebut, suatu persediaan bagi pembacaan yang tetap tentu dari Firman Allah diuraikan dalam Ulangan 31:10-12. Setiap tahun ketujuh, seluruh bangsa dikumpulkan untuk mendengar pembacaan Firman Allah. Hal ini menyediakan makanan rohani bagi mereka. Ini membuat janji-janji tentang Benih tetap hidup dalam pikiran dan hati mereka dan dengan demikian berperan membimbing orang-orang yang setia hingga kepada Mesias. Penyelenggaraan untuk memberi makanan secara rohani yang dimulai sewaktu Israel berada di padang belantara tidak berakhir sewaktu mereka memasuki Negeri Perjanjian. (1 Korintus 10:3, 4) Sebaliknya, Firman Allah diperkaya dengan menyertakan penyingkapan-penyingkapan selanjutnya dari para nabi.

      9. (a) Apakah hanya sewaktu berkumpul dalam kelompok besar bangsa Israel membaca Tulisan-Tulisan Kudus? Jelaskan. (b) Bagaimana petunjuk dalam Alkitab diberikan di antara masing-masing keluarga, dan dengan tujuan apa?

      9 Tinjauan dari nasihat Firman Allah tidak dibatasi hanya kepada waktu-waktu manakala orang berkumpul dalam kelompok besar. Bagian-bagian dari Firman Allah dan prinsip-prinsip yang tercakup di dalamnya harus dibahas setiap hari. (Ulangan 6:4-9) Di kebanyakan tempat dewasa ini, tidak mustahil bagi orang-orang muda untuk memiliki sebuah Alkitab pribadi, dan sangat besar manfaatnya bagi mereka jika mereka memilikinya. Namun di Israel purba, keadaannya tidak demikian. Di kala itu, sewaktu orang-tua mengajar dari Firman Allah, mereka harus mengandalkan apa yang telah mereka ingat dan kepada kebenaran yang mereka kasihi dalam hati mereka, bersama dengan kutipan kecil apa pun yang mungkin telah mereka tulis secara pribadi. Dengan sering mengulang, mereka berupaya membina dalam diri anak-anak mereka kasih kepada Yehuwa dan jalan-jalan-Nya. Tujuannya bukan sekadar memenuhi pikiran dengan fakta-fakta namun membantu setiap anggota keluarga agar hidup sedemikian rupa sehingga memanifestasikan kasih kepada Yehuwa dan Firman-Nya.—Ulangan 11:18, 19, 22, 23.

      Pembacaan Tulisan-Tulisan Kudus di Sinagoga

      10, 11. Program pembacaan Tulisan-Tulisan Kudus apa diadakan di sinagoga, dan bagaimana Yesus memandang kesempatan demikian?

      10 Beberapa saat setelah orang-orang Yahudi dibawa ke pembuangan di Babilon, sinagoga-sinagoga didirikan sebagai tempat ibadat. Dengan tujuan agar Firman Allah dibacakan dan dibahas di tempat-tempat perhimpunan ini, lebih banyak salinan Tulisan-Tulisan Kudus dibuat. Ini adalah faktor yang memungkinkan terpeliharanya sekitar 6.000 salinan dari zaman purba yang ditulis dengan tangan yang memuat bagian-bagian dari Kitab-Kitab Ibrani.

      11 Corak yang penting dari pelayanan di sinagoga adalah pembacaan Taurat, yang sama dengan lima buku pertama dari Alkitab zaman modern. Kisah 15:21 melaporkan bahwa pada abad pertama M, pembacaan demikian dilakukan setiap Sabat, dan Misynah memperlihatkan bahwa menjelang abad kedua, juga terdapat pembacaan Taurat pada hari yang kedua dan kelima dari satu minggu. Sejumlah orang ambil bagian dalam membaca bagian-bagian yang ditugaskan, menurut gilirannya. Kebiasaan dari orang-orang Yahudi yang tinggal di Babilon adalah membaca seluruh Taurat setiap tahun; kebiasaan di Palestina adalah menjadwalkan pembacaan selama satu periode dari tiga tahun. Satu bagian dari Para Nabi juga dibacakan dan dijelaskan. Yesus mempunyai kebiasaan untuk hadir pada program pembacaan Alkitab pada hari Sabat di tempat ia tinggal.—Lukas 4:16-21.

      Tanggapan dan Penerapan Pribadi

      12. (a) Sewaktu Musa membacakan Hukum kepada bangsanya, bagaimana bangsa tersebut mendapat manfaat? (b) Bagaimana bangsa tersebut menanggapinya?

      12 Membaca Tulisan-Tulisan Kudus yang terilham tidak dimaksud untuk sekadar formalitas. Ini tidak dilakukan hanya untuk memuaskan keingintahuan orang-orang. Sewaktu Musa membacakan ”kitab perjanjian” kepada Israel di dataran yang menghadap Gunung Sinai, ia berbuat demikian dengan tujuan agar mereka mengetahui tanggung jawab mereka di hadapan Allah dan memenuhinya. Apakah memang demikian? Pembacaan itu menuntut suatu tanggapan. Bangsa tersebut menyadarinya, dan mereka mengangkat suara, dengan mengatakan, ”Segala firman [Yehuwa] akan kami lakukan dan akan kami dengarkan.”—Keluaran 24:7; bandingkan Keluaran 19:8; 24:3.

      13. Sewaktu Yosua membacakan kutukan-kutukan terhadap ketidaktaatan, apa yang harus dilakukan oleh orang-orang, dan dengan tujuan apa?

      13 Belakangan, sewaktu Yosua membacakan berkat yang dijanjikan dan kutuk atau malapetaka kepada bangsa tersebut, suatu tanggapan dituntut. Setelah setiap kutukan, perintah diberikan, ”Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!” (Ulangan 27:4-26) Maka, seraya dibahas pokok demi pokok, mereka menyatakan perasaan setuju atas kutukan Yehuwa terhadap perbuatan-perbuatan salah yang dicantumkan. Betapa mengesankannya peristiwa itu sewaktu seluruh bangsa menyatakan setuju dengan suara bergemuruh!

      14. Pada zaman Nehemia, mengapa pembacaan Hukum di hadapan umum khususnya terbukti bermanfaat?

      14 Pada zaman Nehemia, sewaktu segenap umat itu berkumpul di Yerusalem untuk mendengarkan Hukum, mereka menyadari bahwa mereka tidak sepenuhnya melaksanakan perintah-perintah yang ditulis di sana. Pada peristiwa itu, mereka langsung menerapkan apa yang mereka pelajari. Apa hasilnya? ”Kegirangan yang sangat besar.” (Nehemia 8:13-17, NW) Setelah sepekan pembacaan Alkitab setiap hari selama festival, mereka menyadari bahwa masih banyak lagi yang dituntut. Dengan khusyuk mereka meninjau sejarah dari cara-cara Yehuwa berurusan dengan umat-Nya mulai dari zaman Abraham. Semua ini memotivasi mereka untuk bersumpah mematuhi tuntutan-tuntutan Hukum, untuk menghindari perkawinan campuran dengan orang-orang asing, dan untuk menerima kewajiban-kewajiban memelihara bait dan dinasnya.—Nehemia, pasal 8-10.

      15. Bagaimana perintah-perintah di Ulangan 6:6-9 memperlihatkan bahwa, dalam lingkungan keluarga, perintah dalam Firman Allah bukan sekadar formalitas?

      15 Demikian pula, dalam lingkungan keluarga, mengajarkan Tulisan-Tulisan Kudus tidak dimaksud sekadar formalitas. Sebagaimana telah kita bahas, menurut ungkapan yang bersifat simbolis di Ulangan 6:6-9, bangsa tersebut diperintahkan untuk ’mengikatkan kata-kata Allah sebagai tanda pada tangan mereka’—dengan demikian mempertunjukkan kasih mereka kepada jalan-jalan Yehuwa melalui contoh dan tindakan mereka. Dan mereka harus menempatkan firman Allah sebagai ’lambang di dahi mereka’—dengan demikian senantiasa mencamkan prinsip-prinsip yang tercakup dalam Tulisan-Tulisan Kudus dan menggunakan hal ini sebagai dasar bagi keputusan-keputusan mereka. (Bandingkan dengan bahasa yang digunakan di Keluaran 13:9, 14-16.) Mereka harus ’menuliskannya pada tiang pintu rumah mereka dan pada pintu gerbang mereka’—dengan demikian mencirikan rumah dan lingkungan mereka sebagai tempat-tempat firman Allah direspek dan diterapkan. Dengan kata lain, kehidupan mereka harus memberikan bukti yang limpah bahwa mereka mengasihi dan menerapkan prinsip-prinsip yang adil-benar dari Yehuwa. Alangkah bermanfaatnya hal itu! Apakah Firman Allah memiliki tempat yang penting seperti itu dalam kehidupan keluarga kita sehari-hari? Sayang sekali, orang-orang Yahudi mengubah semua ini menjadi sekadar formalitas, mengenakan kotak kecil yang memuat ayat-ayat seolah-olah itu adalah jimat. Ibadat mereka tidak bersumber dari hati dan ditolak oleh Yehuwa.—Yesaya 29:13, 14; Matius 15:7-9.

      Tanggung Jawab Orang-Orang yang Berada Dalam Kedudukan Pengawas

      16. Mengapa pembacaan Tulisan-Tulisan Kudus yang tetap tentu penting bagi Yosua?

      16 Sehubungan dengan pembacaan Tulisan-Tulisan Kudus, perhatian khusus ditujukan kepada orang-orang yang menjadi pengawas dari bangsa Israel. Kepada Yosua, Yehuwa mengatakan, ”Bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum.” Dengan tujuan agar ia memenuhi tanggung jawab tersebut, ia diberi tahu, ”Renungkanlah [”Engkau harus membacanya dengan suara rendah”, NW] siang dan malam . . . sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” (Yosua 1:7, 8) Sebagaimana halnya dengan para pengawas Kristen dewasa ini, pembacaan Tulisan-Tulisan Kudus secara tetap tentu oleh Yosua akan membantunya untuk senantiasa dengan jelas mencamkan perintah-perintah spesifik yang Yehuwa telah berikan kepada umat-Nya. Yosua juga perlu memahami bagaimana Yehuwa telah berurusan dengan hamba-hamba-Nya di bawah berbagai keadaan. Seraya ia membaca pernyataan-pernyataan dari maksud-tujuan Allah, penting baginya untuk memikirkan tanggung jawabnya sendiri sehubungan dengan maksud-tujuan tersebut.

      17. (a) Agar raja-raja mendapat manfaat dari pembacaan Tulisan-Tulisan Kudus dengan cara yang Yehuwa katakan, apa yang dibutuhkan seiring dengan pembacaan mereka? (b) Mengapa pembacaan Alkitab dan renungan yang tetap tentu sangat penting bagi para penatua Kristen?

      17 Yehuwa memerintahkan bahwa setiap orang yang melayani sebagai raja atas umat-Nya harus, pada awal pemerintahannya sebagai raja, membuat salinan dari Hukum Allah, mendasarkannya pada salinan yang disimpan oleh para imam. Kemudian, ia harus ”membacanya seumur hidupnya”. Tujuannya bukan semata-mata untuk menghafal isinya. Sebaliknya, tujuannya adalah agar orang tersebut ”belajar takut akan [Yehuwa], Allahnya” dan agar ”jangan ia tinggi hati terhadap saudara-saudaranya”. (Ulangan 17:18-20) Hal ini menuntut agar ia merenungkan secara dalam apa yang ia baca. Beberapa raja terbukti menganggap diri terlalu sibuk dengan tugas-tugas administratif sehingga tidak dapat melakukan hal itu, dan seluruh bangsa menderita sebagai akibat kelalaian mereka. Peran para penatua dalam sidang Kristen tentu saja tidak sama dengan peran seorang raja. Meskipun demikian, sebagaimana halnya dengan para raja, adalah penting agar para penatua membaca dan merenungkan Firman Allah. Dengan melakukan hal ini mereka akan dibantu untuk memelihara pandangan yang patut terhadap orang-orang yang dipercayakan dalam pengawasan mereka. Hal ini juga akan memungkinkan mereka melaksanakan tanggung jawab mereka sebagai guru dengan cara yang benar-benar menghormati Allah dan secara rohani menguatkan sesama rekan Kristen.—Titus 1:9; bandingkan Yohanes 7:16-18; pertentangkan dengan 1 Timotius 1:6, 7.

      18. Pembacaan dan pelajaran Alkitab yang tetap tentu akan membantu kita meniru teladan apa dari rasul Paulus?

      18 Rasul Paulus, seorang pengawas Kristen pada abad pertama, adalah orang yang mengenal baik Tulisan-Tulisan Kudus yang terilham. Sewaktu ia memberi kesaksian kepada orang-orang di Tesalonika purba, ia sanggup bertukar pikiran dari Tulisan-Tulisan Kudus secara efektif dan membantu mereka memahami maknanya. (Kisah 17:1-4) Ia mencapai hati para pendengar yang tulus. Maka, banyak orang yang mendengarkan dia menjadi orang yang percaya. (1 Tesalonika 2:13)

  • Mendapat Manfaat dari Pembacaan Alkitab Setiap Hari
    Menara Pengawal—1995 | 1 Mei
    • Mendapat Manfaat dari Pembacaan Alkitab Setiap Hari

      ”Berbahagialah orang . . . yang kesukaannya ialah Taurat [Yehuwa], dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.”​—MAZMUR 1:1, 2.

      1. (a) Papan petunjuk apa terpampang pada sebuah sisi bangunan percetakan di kantor pusat sedunia Lembaga Menara Pengawal? (b) Bagaimana kita akan mendapat manfaat jika kita secara pribadi mencamkan nasihat ini?

      ”BACALAH FIRMAN ALLAH ALKITAB SETIAP HARI.” Dengan huruf-huruf besar, kata-kata tersebut terpampang pada sisi sebuah bangunan di Brooklyn, New York, tempat Alkitab dan lektur Alkitab dicetak oleh Lembaga Alkitab dan Risalah Menara Pengawal. Peringatan tersebut tidak ditujukan hanya bagi orang-orang dunia yang melihat tanda itu. Saksi-Saksi Yehuwa menyadari bahwa mereka juga perlu mencamkannya dalam hati. Orang-orang yang membaca Alkitab secara tetap tentu dan membuat penerapan pribadi atasnya memperoleh manfaat dari ajaran, teguran, koreksi, dan disiplin dalam keadilbenaran yang disediakan Alkitab.—2 Timotius 3:16, 17.

      2. Bagaimana Saudara Russell menekankan pentingnya pembacaan Alkitab?

      2 Saksi-Saksi Yehuwa sangat menghargai alat-alat bantu pengajaran Alkitab mereka, termasuk Menara Pengawal, dan mereka menggunakannya secara teratur. Tetapi mereka menyadari bahwa tak satu pun dari alat-alat tersebut dapat mengambil alih kedudukan dari Alkitab itu sendiri. Pada tahun 1909, Charles Taze Russell, presiden pertama dari Lembaga Alkitab dan Risalah Menara Pengawal, menulis kepada para pembaca majalah Menara Pengawal, ”Jangan sekali-kali lupa bahwa Alkitab adalah Standar kita dan bahwa sekalipun alat bantu kita merupakan karunia Allah, hal tersebut tetap merupakan ’alat bantu’ dan bukan pengganti Alkitab.”

      3. (a) Pengaruh apa dimiliki ”firman Allah” atas orang-orang yang membuka diri terhadapnya? (b) Berapa seringkah orang-orang Berea membaca dan mempelajari Tulisan-Tulisan Kudus?

      3 Tulisan-Tulisan Kudus yang terilham memiliki kesaksamaan dan kuasa yang tidak dimiliki oleh kitab lain. ”Firman Allah itu hidup dan mengerahkan kuasa serta lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun dan menusuk bahkan sampai memisahkan jiwa dan roh, serta sendi dan sumsumnya, dan dapat menyelami pikiran dan niat hati.” (Ibrani 4:12) Sang murid Lukas dengan hangat memuji orang-orang di Berea, menjuluki mereka ”lebih berbudi luhur”. Mereka tidak hanya dengan bergairah menerima firman yang dikabarkan oleh rasul Paulus dan rekannya Silas namun juga ”dengan teliti memeriksa Tulisan-Tulisan Kudus setiap hari” untuk mencari tahu dasar Tulisan-Tulisan Kudus dari apa yang sedang diajarkan.—Kisah 17:11.

      Membacanya Setiap Hari

      4. Apa yang diperlihatkan oleh Tulisan-Tulisan Kudus sehubungan dengan seberapa sering kita hendaknya membaca Alkitab?

      4 Alkitab tidak mengatakan secara spesifik seberapa sering kita harus membacanya. Akan tetapi, Alkitab memang mencatat nasihat Yehuwa kepada Yosua untuk ’membaca buku hukum dengan suara rendah siang dan malam’ sehingga ia akan bertindak dengan bijaksana dan berhasil dalam menunaikan tugas-tugas yang Allah berikan kepadanya. (Yosua 1:8, NW) Alkitab memberi tahu kita bahwa siapa pun yang memerintah sebagai raja atas Israel purba harus membaca Tulisan-Tulisan Kudus ”seumur hidupnya”. (Ulangan 17:19) Alkitab selanjutnya menyatakan, ”Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik . . . tetapi yang kesukaannya ialah Taurat [Yehuwa], dan yang merenungkan [”membaca”, NW] Taurat itu [dengan suara rendah, NW] siang dan malam.” (Mazmur 1:1, 2) Juga, Injil yang dicatat oleh Matius memberi tahu kita bahwa sewaktu Yesus Kristus menolak upaya-upaya Setan untuk menggoda-Nya, Ia mengutip dari Kitab-Kitab Ibrani yang terilham, dengan mengatakan, ”Ada tertulis, ’Manusia harus hidup, bukan dari roti saja, tetapi dari setiap ucapan yang keluar melalui mulut Yehuwa.’” (Matius 4:4) Berapa sering kita membutuhkan makanan jasmani? Setiap hari! Memperoleh makanan rohani setiap hari bahkan jauh lebih penting karena hal ini mempengaruhi prospek kita untuk kehidupan kekal.—Ulangan 8:3; Yohanes 17:3.

      5. Bagaimana pembacaan Alkitab setiap hari membantu kita untuk ”berjalan dengan layak bagi Yehuwa” sewaktu ujian-ujian iman ditimpakan ke atas kita?

      5 Kita semua perlu dikuatkan setiap hari oleh Firman Allah. Setiap hari—di rumah, di tempat pekerjaan, di sekolah, di jalan-jalan, sewaktu berbelanja, dalam pelayanan kita—tantangan-tantangan terhadap iman kita ditimpakan ke atas kita. Bagaimana kita akan menghadapi semua ini? Apakah perintah-perintah dan prinsip-prinsip Alkitab langsung terlintas dalam pikiran kita? Sebaliknya daripada menganjurkan sikap bersandar kepada diri sendiri, Alkitab memperingatkan, ”Biarlah ia yang berpikir ia sedang berdiri, berhati-hati agar ia tidak jatuh.” (1 Korintus 10:12) Pembacaan Alkitab setiap hari akan membantu kita ”berjalan dengan layak bagi Yehuwa dengan tujuan menyenangkan dia sepenuhnya” sebaliknya daripada membiarkan dunia ini membentuk kita menurut tempaannya.—Kolose 1:9, 10; Roma 12:2.

      Perlunya Membaca Alkitab Berulang Kali

      6. Mengapa bermanfaat untuk membaca Alkitab berulang kali?

      6 Membaca Alkitab sangat berbeda dengan membaca sebuah buku fiksi. Kebanyakan fiksi populer dirancang untuk dibaca satu kali saja; begitu seseorang mengetahui jalan ceritanya dan bagaimana akhirnya, tidak ada gunanya lagi membaca buku itu. Sebaliknya, tidak soal seberapa sering kita membaca Alkitab, kita mendapat manfaat yang sangat besar dengan membacanya kembali. (Amsal 9:9) Bagi orang yang memiliki pemahaman, Tulisan-Tulisan Kudus terus-menerus memberikan makna yang lebih segar. Nubuat-nubuat berkenaan hari-hari terakhir bahkan menjadi lebih mengesankan baginya menurut terang dari apa yang ia telah lihat, dengar, dan alami secara pribadi pada bulan-bulan terakhir. (Daniel 12:4) Seraya ia memperluas pengalamannya sendiri dalam kehidupan dan mengatasi problem, pembaca Alkitab yang memiliki pemahaman lebih sepenuhnya menghargai nasihat yang mungkin telah ia baca sebelumnya secara sepintas lalu. (Amsal 4:18) Jika ia menjadi sakit parah, janji Alkitab tentang dilenyapkannya penyakit dan dipulihkannya kesehatan memiliki makna yang lebih besar baginya daripada sebelumnya. Bila teman-teman dekat dan anggota-anggota keluarga meninggal, janji kebangkitan bahkan menjadi lebih berharga.

      7. Apa yang akan membantu kita sewaktu mengemban sebuah tanggung jawab baru dalam kehidupan, dan mengapa?

      7 Mungkin saudara secara pribadi telah membaca Alkitab dan menerapkan nasihatnya selama jangka waktu bertahun-tahun. Tetapi barangkali saudara kini mengemban tanggung jawab baru dalam kehidupan. Apakah saudara merencanakan untuk menikah? Apakah saudara akan menjadi orang-tua? Apakah saudara dipercayakan dengan tanggung jawab di dalam sidang sebagai seorang penatua atau seorang pelayan sidang? Apakah saudara telah menjadi penginjil sepenuh waktu, dengan kesempatan-kesempatan tambahan untuk pengabaran dan pengajaran? Betapa akan bermanfaat untuk membaca kembali seluruh Alkitab dengan tanggung jawab baru tersebut di dalam pikiran!—Efesus 5:24, 25; 6:4; 2 Timotius 4:1, 2.

      8. Bagaimana keadaan-keadaan yang berubah memperlihatkan perlunya belajar lebih banyak tentang perkara-perkara yang kita pikir telah kita ketahui?

      8 Dulu saudara mungkin dengan baik sekali memanifestasikan buah-buah roh. (Galatia 5:22, 23) Namun keadaan-keadaan yang berubah bisa jadi menghadapkan saudara dengan kebutuhan untuk belajar lebih banyak tentang sifat-sifat yang saleh ini. (Bandingkan Ibrani 5:8.) Seorang mantan pengawas keliling yang mendapati perlu untuk meninggalkan dinas istimewanya agar dapat merawat orang-tuanya yang lanjut usia mengatakan, ”Dulu saya berpikir bahwa saya telah memanifestasikan buah-buah roh dengan cukup baik. Kini saya merasa seolah-olah saya memulai dari awal kembali.” Demikian pula, suami dan istri yang pasangan hidupnya menderita penyakit fisik atau emosi mungkin mendapati bahwa dalam menyediakan perhatian pribadi, stres kadang-kadang menimbulkan reaksi-reaksi yang mengecilkan hati mereka. Pembacaan Alkitab yang tetap tentu merupakan sumber kekuatan dan bantuan yang besar.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan