PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Cairan Apa yang Paling Berharga?
    Sedarlah!—2006 | Agustus
    • Cairan Apa yang Paling Berharga?

      ”Darah dalam perawatan kesehatan sama pentingnya dengan bahan bakar minyak (BBM) dalam transportasi.”​—Arthur Caplan, direktur pusat bioetik di University of Pennsylvania, AS.

      BBM. Itukah cairan yang paling berharga? Sekarang ini manakala harga BBM sering melonjak, banyak orang boleh jadi menganggapnya demikian. Namun, sebenarnya, dalam tubuh kita masing-masing mengalirlah beberapa liter cairan yang jauh lebih tinggi nilainya. Coba pikirkan: Seraya miliaran barel minyak disedot dari perut bumi setiap tahun guna memuaskan kebutuhan manusia akan BBM, sekitar 90 juta unit darah diambil dari manusia dengan harapan dapat membantu orang sakit.a Angka yang mencengangkan itu sama dengan volume darah sekitar 8.000.000 orang.

      Namun, seperti halnya BBM, persediaan darah pun tampaknya kian menipis. Kalangan medis di seluruh dunia memperingatkan tentang minimnya persediaan darah. (Lihat kotak ”Upaya Habis-habisan”.) Mengapa darah begitu berharga?

      Organ yang Unik

      Karena kerumitannya yang memukau, darah sering disamakan dengan organ tubuh. ”Darah adalah salah satu dari banyak organ​—luar biasa menakjubkan dan unik,” kata dr. Bruce Lenes kepada Sedarlah! Memang unik! Sebuah buku pelajaran melukiskan darah sebagai ”satu-satunya organ tubuh yang berbentuk cair”. Referensi yang sama menyebut darah sebagai ”sistem transportasi yang hidup”. Apa maksudnya?

      ”Sistem sirkulasi [darah] mirip jaringan kanal di Venesia,” kata ilmuwan N. Leigh Anderson. ”Sistem itu mengangkut semua hal bagus,” lanjutnya, ”dan juga banyak sampah.” Seraya darah melintasi sistem sirkulasi kita yang panjangnya 100.000 kilometer, ia bersinggungan dengan hampir semua jaringan dalam tubuh kita, termasuk jantung, ginjal, hati, dan paru​—organ-organ penting yang memproses darah dan bergantung padanya.

      Darah mengangkut banyak ”hal bagus” ke sel-sel tubuh Anda, seperti oksigen, zat gizi, dan sel serta molekul pelindung, tetapi darah juga membawa pergi ”sampah”, seperti karbon dioksida yang beracun, sisa-sisa sel yang rusak dan sekarat, dan limbah lainnya. Peranan darah dalam pembuangan limbah inilah yang turut menjelaskan mengapa berbahaya untuk bersentuhan dengan darah setelah darah keluar dari tubuh. Dan, tidak seorang pun bisa menjamin bahwa semua ”sampah” dalam darah telah dikenali dan dibuang sebelum diberikan kepada orang lain.

      Tidak diragukan, darah menjalankan fungsi-fungsi yang sangat penting untuk kehidupan. Itulah sebabnya kalangan medis terbiasa mentransfusikan darah ke dalam tubuh pasien yang kehilangan darah. Banyak dokter mengatakan bahwa kegunaannya dalam bidang medis inilah yang membuat darah begitu berharga. Namun, keadaan telah berubah dalam bidang medis. Boleh dikatakan, suatu revolusi yang senyap telah dan sedang berlangsung. Banyak dokter dan ahli bedah tidak lagi serta-merta mentransfusikan darah. Mengapa?

      [Catatan Kaki]

      a Setiap unit mengandung 450 mililiter darah.

      [Kotak/​Gambar di hlm. 4]

      Upaya Habis-habisan

      Para pakar medis memperkirakan bahwa setiap tahun di seluruh dunia dibutuhkan tambahan sumbangan darah sebanyak 200 juta unit. Negeri-negeri berkembang dihuni oleh 82 persen penduduk bumi, tetapi total darah sumbangan yang berasal dari sana hanya kurang dari 40 persen. Banyak rumah sakit di sana harus beroperasi tanpa darah. The Nation, sebuah surat kabar di Kenya, melaporkan bahwa ’setiap hari hampir separuh prosedur yang membutuhkan transfusi darah dibatalkan atau ditunda karena tidak ada darah’.

      Kekurangan darah juga umum di negeri-negeri kaya. Seraya usia penduduk bertambah dan teknik kedokteran meningkat, pembedahan pun meningkat. Selain itu, semakin banyak donor darah yang ditolak dewasa ini karena gaya hidup berisiko tinggi atau perjalanan yang mungkin membuat mereka terpapar penyakit atau parasit.

      Para pemasok darah mengerahkan upaya habis-habisan untuk mengumpulkan darah. Kaum muda, yang umumnya memiliki gaya hidup yang tidak terlalu berisiko, adakalanya diincar sebagai sumber darah yang aman. Misalnya, 70 persen pasokan darah di Zimbabwe kini berasal dari anak-anak sekolah. Pusat donor darah buka lebih lama, dan beberapa negara bahkan mengizinkan mereka memberikan kompensasi guna menjaring dan mempertahankan donor. Sebuah kampanye di Republik Ceska mengundang warganya memuaskan dahaga dengan seliter bir sebagai ganti sebagian darah mereka! Di sebuah daerah di India, para pejabat belum lama ini pergi dari rumah ke rumah untuk mencari donor yang mau membantu memulihkan persediaan darah yang habis.

  • Pengobatan dengan Transfusi​—Apakah Masa Depannya Terjamin?
    Sedarlah!—2006 | Agustus
    • Pengobatan dengan Transfusi​—Apakah Masa Depannya Terjamin?

      ”Sampai kapan pun pengobatan dengan transfusi akan mirip dengan berjalan melintasi rimba tropis, yang jalur-jalurnya sudah diketahui tetapi masih perlu ditapaki dengan hati-hati, karena ancaman-ancaman baru yang tidak terlihat masih mengintai di balik belokan berikutnya, siap menyergap siapa pun yang tidak waspada.”​—Ian M. Franklin, profesor bidang pengobatan dengan transfusi.

      SETELAH darah menjadi sorotan publik akibat epidemi AIDS sedunia pada tahun 1980-an, berbagai upaya untuk menyingkirkan ’ancaman yang tidak terlihat’ pun dipergencar. Namun, masih ada rintangan-rintangan yang sangat besar. Pada bulan Juni 2005, Organisasi Kesehatan Dunia mengakui, ”Peluang mendapatkan transfusi yang aman . . . sangat bervariasi di setiap negeri.” Mengapa?

      Di banyak negeri, tidak ada program berskala nasional guna memastikan standar keamanan untuk mengumpulkan, menguji, dan mengangkut darah serta produk darah. Adakalanya, darah bahkan disimpan di tempat yang berbahaya​—di kulkas biasa dan kotak es yang kurang terpelihara! Tanpa standar keamanan yang baku, pasien dapat dirugikan oleh darah yang diambil dari seseorang yang tinggal ratusan​—bahkan ribuan​—kilometer jauhnya.

      Darah Bebas Penyakit​—Sasaran yang Sulit Dibidik

      Beberapa negara sesumbar bahwa persediaan darahnya jauh lebih aman daripada sebelumnya. Namun, masih ada alasan untuk khawatir. Sebuah ”Surat Edaran” yang dipersiapkan bersama-sama oleh tiga lembaga darah AS menyatakan di halaman pertamanya, ”PERINGATAN: Karena darah utuh dan komponen darah diambil dari darah manusia, darah berisiko memindahkan agen-agen penular, seperti virus. . . . Seleksi donor yang cermat dan uji laboratorium yang tersedia tidak menyingkirkan bahaya tersebut.”

      Bukanlah tanpa alasan jika Peter Carolan, direktur senior Federasi Internasional Lembaga Palang Merah dan Lembaga Bulan Sabit Merah, mengatakan, ”Persediaan darah tidak pernah bisa dijamin seratus persen aman.” Ia menambahkan, ”Akan selalu ada infeksi baru yang pada saat itu tidak dapat diuji.”

      Bagaimana jika sebuah agen penular baru muncul​—yang, seperti AIDS, bercokol untuk waktu lama tanpa terdeteksi dan siap ditularkan melalui darah? Sewaktu berbicara dalam konferensi medis di Praha, Republik Ceska, pada bulan April 2005, dr. Harvey G. Klein dari Institut Kesehatan Nasional AS menyebut hal itu sebagai kemungkinan yang suram. Ia menambahkan, ”Para pengumpul komponen darah masih belum siap mencegah epidemi lewat transfusi, seperti halnya pada awal epidemi AIDS.”

      Kekeliruan dan Reaksi Transfusi

      Apa ancaman terbesar yang berkaitan dengan transfusi di negeri-negeri maju? Kekeliruan dan reaksi kekebalan. Mengenai sebuah penelitian di Kanada pada tahun 2001, surat kabar Globe and Mail melaporkan bahwa ribuan transfusi darah nyaris fatal karena ”pengambilan sampel darah dari pasien yang salah, kekeliruan menandai sampel, dan permintaan darah untuk pasien yang salah”. Kekeliruan itu merenggut nyawa sedikitnya 441 orang di Amerika Serikat antara tahun 1995 dan 2001.

      Mereka yang menerima darah dari orang lain menghadapi risiko yang mirip dengan risiko penerima transplantasi organ tubuh. Sistem kekebalan tubuh cenderung bereaksi menolak jaringan asing. Dalam beberapa kasus, transfusi darah malah dapat menghambat reaksi alami sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, pasien menjadi rentan terhadap infeksi pascaoperasi dan virus yang sebelumnya tidak aktif. Tidak mengherankan bahwa Profesor Ian M. Franklin, yang dikutip di awal artikel ini, menganjurkan para dokter untuk ”memikirkan sekali lagi, sekali lagi, dan sekali lagi sebelum memberikan transfusi”.

      Para Pakar Angkat Suara

      Dengan berbekal pengetahuan tersebut, semakin banyak tenaga medis yang lebih kritis terhadap pengobatan dengan transfusi. Karya referensi Dailey’s Notes on Blood melaporkan, ”Beberapa dokter menegaskan bahwa darah alogenik [darah dari manusia lain] adalah obat yang berbahaya dan penggunaannya pasti dilarangkan seandainya dievaluasi dengan standar yang sama untuk obat-obat lain.”

      Pada akhir tahun 2004, Profesor Bruce Spiess mengatakan hal berikut tentang transfusi komponen utama darah kepada pasien bedah jantung, ”Hanya sedikit, kalau pun ada, artikel [medis] yang mendukung gagasan bahwa transfusi memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien.” Malah, ia menulis bahwa banyak transfusi tersebut ”mungkin lebih merugikan daripada menguntungkan dalam hampir semua kasus kecuali dalam kasus cedera parah”, meningkatkan ”risiko pneumonia, infeksi, serangan jantung, dan stroke”.

      Banyak orang terkejut sewaktu mengetahui bahwa standar pemberian darah tidak seragam seperti dugaan mereka. Dr. Gabriel Pedraza belum lama ini mengingatkan koleganya di Cile bahwa ”transfusi adalah praktek yang definisinya kabur”, sehingga ”sulit untuk . . . menerapkan pedoman yang berterima secara universal”. Tidak mengherankan bahwa Brian McClelland, direktur Layanan Transfusi Darah Edinburgh dan Skotlandia, meminta para dokter untuk ”mengingat bahwa transfusi adalah transplantasi, jadi ini bukan keputusan yang sepele”. Ia menyarankan para dokter untuk memikirkan pertanyaan ini, ”Kalau saya atau anak saya yang jadi pasien, apakah saya akan menyetujui transfusi?”

      Sebenarnya, cukup banyak tenaga medis yang sependapat dengan seorang hematolog, yang memberi tahu Sedarlah!, ”Kami, para spesialis pengobatan dengan transfusi, tidak senang diberi atau memberi darah.” Kalau itu yang dirasakan oleh beberapa tokoh yang terlatih dalam komunitas medis, bagaimana seharusnya perasaan para pasien?

      Akankah Pengobatan Berubah?

      ’Jika pengobatan dengan transfusi begitu sarat bahaya,’ Anda mungkin bertanya-tanya, ’mengapa darah masih digunakan secara luas, padahal sudah ada alternatifnya?’ Satu alasan ialah banyak dokter enggan mengubah metode perawatan atau tidak mengetahui terapi yang kini digunakan sebagai alternatif transfusi. Menurut sebuah artikel dalam jurnal Transfusion, ”para dokter membuat keputusan transfusi berdasarkan apa yang dulu diajarkan kepada mereka, tradisi di kalangan dokter, dan ’penilaian klinis’”.

      Keterampilan ahli bedah juga besar pengaruhnya. Dr. Beverley Hunt, dari London, Inggris, menulis bahwa ”jumlah darah yang hilang sangat beragam bergantung pada siapa ahli bedahnya, dan semakin banyak yang berpendapat bahwa para ahli bedah perlu dilatih agar cukup menguasai hemostasis [metode menghentikan perdarahan] selama pembedahan”. Yang lain berpendapat bahwa biaya alternatif transfusi terlampau tinggi, padahal berbagai laporan membuktikan sebaliknya. Namun, banyak dokter sependapat dengan dr. Michael Rose, seorang direktur rumah sakit, yang mengatakan, ”Setiap pasien yang menerima pengobatan tanpa darah pada dasarnya menerima pembedahan paling bermutu yang tersedia.”a

      Perawatan kesehatan paling bermutu​—bukankah itu yang Anda inginkan? Jika demikian, Anda punya kesamaan dengan orang-orang yang membawakan majalah ini. Silakan baca terus untuk mengetahui pendirian mereka yang mengagumkan mengenai transfusi darah.

      [Catatan Kaki]

      a Lihat kotak ”Alternatif Transfusi Darah” di halaman 8.

      [Kutipan di hlm. 6]

      ’Pikirkan sekali lagi, sekali lagi, dan sekali lagi sebelum memberikan transfusi.’​—Profesor Ian M. Franklin

      [Kutipan di hlm. 6]

      ”Kalau saya atau anak saya yang jadi pasien, apakah saya akan menyetujui transfusi?”​—Brian McClelland

      [Kotak/​Gambar di hlm. 7]

      Kematian akibat TRALI

      Cedera paru akut yang berkaitan dengan transfusi (transfussion-related acute lung injury/TRALI), yang pertama kali dilaporkan pada awal tahun 1990-an, adalah reaksi sistem kekebalan tubuh yang mengancam kehidupan setelah seseorang menerima transfusi darah. Kini diketahui bahwa TRALI merenggut ratusan korban jiwa setiap tahun. Namun, para pakar menduga bahwa angkanya jauh lebih tinggi, karena banyak tenaga medis tidak mengenali gejala-gejalanya. Meskipun penyebab reaksi itu tidak diketahui dengan jelas, menurut majalah New Scientist, darah yang menyebabkan TRALI ”tampaknya terutama berasal dari orang-orang yang telah terpapar beragam golongan darah di masa lalu, seperti . . . mereka yang telah berkali-kali ditransfusi”. Sebuah laporan menyatakan bahwa TRALI kini hampir mencapai posisi puncak dalam daftar penyebab kematian akibat transfusi di Amerika Serikat dan Inggris, menjadikannya ”problem yang lebih besar bagi bank darah daripada penyakit terkenal seperti HIV”.

      [Kotak/​Diagram di hlm. 8, 9]

      Komposisi Darah

      Donor darah biasanya memberikan darah utuh. Namun, dalam banyak kasus, mereka mendonorkan plasma. Meskipun beberapa negeri mentransfusikan darah utuh, praktek yang lebih umum ialah memisahkan darah menurut komponen-komponen utamanya sebelum diuji dan digunakan dalam pengobatan. Perhatikan empat komponen utama tersebut, fungsinya, dan persentase volumenya dalam darah.

      PLASMA volumenya 52 hingga 62 persen volume darah utuh. Ini adalah cairan berwarna kekuning-kuningan yang mengandung serta mengangkut sel darah, protein, dan zat-zat lain.

      Sebanyak 91,5 persen volume plasma adalah air. Tujuh persen volume plasma (termasuk albumin, sekitar 4 persen plasma; globulin, sekitar 3 persen, dan fibrinogen, kurang dari 1 persen) adalah protein, yang darinya fraksi plasma diambil. Sisanya, 1,5 persen volume plasma, terdiri dari zat-zat lain, seperti zat gizi, hormon, gas pernapasan, elektrolit, vitamin, dan limbah bernitrogen.

      SEL DARAH PUTIH (leukosit) volumenya kurang dari 1 persen volume darah utuh. Sel-sel ini menyerang dan melumatkan benda-benda asing yang bisa berbahaya.

      KEPING DARAH (trombosit) volumenya kurang dari 1 persen volume darah utuh. Ini membentuk bekuan darah, menyumbat luka sehingga perdarahan berhenti.

      SEL DARAH MERAH (eritrosit) volumenya 38 hingga 48 persen volume darah utuh. Sel-sel ini mempertahankan kehidupan jaringan dengan mengantarkan oksigen ke jaringan dan membuang karbon dioksida darinya.

      Sebagaimana plasma darah dapat menjadi sumber beragam fraksi, komponen utama lainnya dapat diproses menjadi bagian-bagian, atau fraksi-fraksi, yang lebih kecil. Misalnya, hemoglobin adalah salah satu fraksi sel darah merah.

      [Diagram]

      PLASMA

      AIR 91,5%

      PROTEIN 7%

      ALBUMIN

      GLOBULIN

      FIBRINOGEN

      ZAT LAIN 1,5%

      ZAT GIZI

      HORMON

      GAS PERNAPASAN

      ELEKTROLIT

      VITAMIN

      LIMBAH BERNITROGEN

      [Keterangan]

      Page 9: Blood components in circles: This project has been funded in whole or in part with federal funds from the National Cancer Institute, National Institutes of Health, under contract N01-CO-12400. The content of this publication does not necessarily reflect the views or policies of the Department of Health and Human Services, nor does mention of trade names, commercial products, or organizations imply endorsement by the U.S. Government

      [Kotak/​Gambar di hlm. 8, 9]

      Alternatif Transfusi Darah

      Selama enam tahun terakhir, Panitia Penghubung Rumah Sakit yang mewakili Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh dunia telah membagikan puluhan ribu video Strategi Alternatif Transfusi​—Sederhana, Aman, Efektif dalam sekitar 25 bahasa kepada kalangan medis.b Dalam video itu, para dokter terkemuka dunia diperlihatkan sedang membahas berbagai strategi efektif yang kini digunakan untuk mengobati pasien tanpa transfusi darah. Video ini tidak dipandang sebelah mata. Misalnya, setelah menonton video itu pada akhir tahun 2001, Layanan Darah Nasional (National Blood Service/NBS) di Inggris mengirimkan surat serta video ini ke semua manajer bank darah dan hematolog konsultan di seluruh negeri itu. Mereka dianjurkan menonton video itu karena ”semakin diakui bahwa salah satu tujuan perawatan klinis yang baik adalah menghindari transfusi darah sebisa mungkin”. Surat itu mengakui bahwa ”secara umum, pesan [dalam video ini] patut dipuji dan didukung penuh oleh NBS”.

      [Catatan Kaki]

      b Hubungi salah seorang Saksi-Saksi Yehuwa untuk menonton video DVD Transfusion Alternatives​—Documentary Series (Alternatif Transfusi​—Seri Dokumenter), diproduksi oleh Saksi-Saksi Yehuwa.

      [Kotak/​Gambar di hlm. 9]

      Fraksionasi​—Penggunaan Unsur Darah yang Lebih Kecil dalam Pengobatan

      Berkat sains dan teknologi, unsur-unsur darah kini dapat dikenali dan diekstrak menggunakan proses yang disebut fraksionasi. Sebagai contoh: Air laut, yang 96,5 persennya adalah air, dapat dibagi melalui proses fraksionasi untuk mendapatkan zat-zat yang tersisa, seperti magnesium, bromin dan, tentu saja, garam. Demikian pula, plasma darah, yang volumenya lebih dari setengah volume darah utuh, lebih dari 90 persennya adalah air dan dapat diproses untuk diambil fraksi-fraksinya termasuk protein, seperti albumin, fibrinogen, dan beragam globulin.

      Sebagai bagian dari perawatan atau terapi, dokter boleh jadi merekomendasikan suatu fraksi plasma dalam jumlah yang terkonsentrasi. Contohnya adalah kriopresipitat yang kaya protein, yang diperoleh dengan membekukan plasma lalu membiarkannya mencair. Bagian plasma yang tidak dapat larut ini kaya akan zat penggumpal darah dan biasanya diberikan kepada para pasien untuk menghentikan perdarahan. Perawatan lain mungkin menggunakan produk yang mengandung sebuah fraksi darah, entah dalam jumlah sangat kecil atau sebagai unsur utama.c Beberapa protein plasma digunakan dalam suntikan rutin yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh setelah terpapar agen penular. Hampir semua fraksi darah yang sedang digunakan dalam pengobatan mengandung protein yang terdapat dalam plasma darah.

      Menurut Science News, ”para ilmuwan baru mengidentifikasi beberapa ratus protein, yang diperkirakan berjumlah ribuan, yang pada umumnya mengalir dalam aliran darah seseorang”. Seraya pemahaman tentang darah bertambah di masa depan, bisa saja muncul produk baru dari protein-protein ini.

      [Catatan Kaki]

      c Fraksi darah binatang juga digunakan dalam beberapa produk.

      [Gambar di hlm. 6, 7]

      Beberapa tenaga medis sangat berhati-hati sewaktu harus menangani darah

  • Nilai Sesungguhnya dari Darah
    Sedarlah!—2006 | Agustus
    • Nilai Sesungguhnya dari Darah

      ”Komunitas global memiliki sumber kehidupan yang sama: darah. Darah adalah daya kehidupan dalam setiap manusia, tidak soal warna kulit, ras, atau agamanya.”​—Presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

      TIDAK diragukan, kutipan tersebut ada benarnya. Darah sangat penting untuk kehidupan semua manusia. Darah adalah sumber daya yang berharga. Namun, apakah Anda yakin bahwa berbagi cairan itu di antara manusia untuk tujuan medis merupakan langkah yang aman dan bijaksana?

      Seperti yang telah kita ketahui, standar keamanan di seluruh dunia sangat beragam, dan pengobatan dengan darah lebih berisiko daripada perkiraan banyak orang. Selain itu, penggunaan darah oleh para dokter sangat beragam, bergantung pada pendidikan, keterampilan, dan sudut pandang mereka. Namun, banyak yang semakin berhati-hati dalam mentransfusikan darah. Sudah banyak dan semakin banyak dokter yang memilih perawatan medis yang menghindari penggunaan darah.

      Jadi, kembali ke pertanyaan yang diajukan di artikel pertama seri ini. Mengapa sebenarnya darah begitu berharga? Jika penggunaan darah secara medis semakin dipertanyakan, adakah tujuan lain yang dipenuhi oleh darah?

      Pencipta Kita dan Darah

      Dahulu pada zaman Nuh, nenek moyang semua manusia, Allah menetapkan sebuah hukum yang patut diperhatikan. Meskipun mengizinkan manusia makan daging binatang, Ia melarang mereka makan darah. (Kejadian 9:4) Ia juga memberi mereka alasannya, menyamakan darah dengan jiwa, atau kehidupan, makhluk. Ia belakangan mengatakan, ”Jiwa [atau kehidupan] ada di dalam darahnya.” Di mata Pencipta, darah itu suci. Darah melambangkan karunia berharga berupa kehidupan yang dimiliki setiap jiwa yang hidup. Berulang kali Allah menyebutkan kembali prinsip ini.​—Imamat 3:17; 17:10, 11, 14; Ulangan 12:16, 23.

      Tak lama setelah Kekristenan berdiri kira-kira 2.000 tahun yang lalu, para penganutnya diberi perintah ilahi agar ”menjauhkan diri dari . . . darah”. Larangan ini didasarkan bukan atas kepedulian akan kesehatan, melainkan kesucian darah. (Kisah 15:19, 20, 29) Ada yang menyanggah bahwa pembatasan dari Allah ini hanya berlaku untuk makan darah, tetapi kata ”menjauhkan diri” sudah jelas. Jika seorang dokter menyuruh kita menjauhkan diri dari alkohol, kita tentu tidak merasa boleh menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah kita.

      Alkitab menjelaskan lebih lanjut mengapa darah itu begitu suci. Darah Yesus Kristus yang dicurahkan, yang melambangkan kehidupan manusia yang ia berikan demi umat manusia, adalah kunci untuk harapan Kristen. Itu berarti pengampunan dosa dan harapan kehidupan abadi. Sewaktu seorang Kristen menjauhkan diri dari darah, ia sebenarnya menyatakan imannya bahwa hanya darah Yesus Kristus yang dicurahkan yang dapat benar-benar menebusnya dan menyelamatkan kehidupannya.​—Efesus 1:7.

      Saksi-Saksi Yehuwa dikenal mencamkan perintah Alkitab ini. Mereka menolak semua transfusi dengan darah utuh atau keempat komponen utama darah​—sel darah merah, plasma, sel darah putih, dan keping darah. Mengenai beragam fraksi yang diambil dari komponen-komponen itu​—dan produk yang mengandung fraksi tersebut—Alkitab tidak berkomentar. Jadi, setiap Saksi membuat keputusan sendiri tentang hal-hal tersebut. Apakah pendirian berdasarkan Alkitab ini membuat Saksi-Saksi menolak pengobatan medis atau menganggap sepele kesehatan serta kehidupan mereka? Sama sekali tidak!​—Lihat kotak ”Saksi-Saksi Yehuwa dan Kesehatan”.

      Pada tahun-tahun belakangan ini, banyak dokter telah mengakui bahwa Saksi-Saksi mendapat manfaat medis karena berpaut pada standar Alkitab. Misalnya, seorang ahli bedah tulang-belakang angkat suara mendukung alternatif transfusi darah. Ia berkata, ”Itu benar-benar langkah yang paling aman, bukan saja bagi Saksi-Saksi Yehuwa, tetapi juga bagi setiap orang.”

      Keputusan serius soal kesehatan sering kali sulit dibuat dan dapat menimbulkan stres yang hebat. Mengenai kebiasaan memberikan transfusi darah, perhatikan kata-kata spesialis paru dan direktur rumah sakit, dr. Dave Williams, ”Kita perlu merespek keinginan orang, . . . dan kita perlu sangat berhati-hati dengan apa yang kita masukkan ke dalam tubuh kita”. Kata-kata itu memang benar​—dan terlebih lagi dewasa ini.

      [Kotak/​Gambar di hlm. 11]

      Apa Pengangkut Oksigen Berbahan Dasar Hemoglobin Itu?

      Dalam setiap sel darah merah terdapat kira-kira 300 juta molekul hemoglobin. Hemoglobin volumenya kira-kira sepertiga volume sel darah merah dewasa. Setiap molekul mengandung globin protein dan sebuah pigmen yang disebut heme—yang mencakup sebuah atom besi. Sewaktu sebutir sel darah merah melewati paru, molekul oksigen menembus sel dan mengikatkan diri pada molekul hemoglobin. Beberapa detik kemudian, oksigen itu dikeluarkan ke jaringan tubuh, sehingga menunjang kehidupan sel.

      Beberapa produsen obat kini memproses hemoglobin, mengeluarkannya dari sel darah merah manusia atau sapi. Hemoglobin yang sudah diekstrak itu kemudian disaring untuk menyingkirkan kotoran, dimodifikasi dan dimurnikan secara kimia, dicampur dengan cairan tertentu, lalu dikemas. Produk akhirnya—belum disahkan penggunaannya di kebanyakan negeri—disebut pengangkut oksigen berbahan dasar hemoglobin (hemoglobin-based oxygen carrier), atau HBOC. Karena heme menyebabkan darah berwarna merah, unit HBOC tampak mirip dengan unit sel darah merah, komponen utama yang menjadi sumbernya.

      Tidak seperti sel darah merah, yang harus didinginkan dan dibuang setelah beberapa minggu, HBOC dapat disimpan pada suhu ruangan dan digunakan berbulan-bulan kemudian. Dan, karena membran sel dengan antigennya yang unik sudah tidak ada, reaksi hebat akibat salah golongan darah bukan ancaman lagi. Namun, dibandingkan dengan fraksi darah lainnya, HBOC menghadirkan tantangan yang lebih besar bagi orang Kristen yang mengikuti hati nuraninya dan berupaya menaati hukum Allah tentang darah. Mengapa? Mengingat HBOC diambil dari darah, ada dua keberatan yang bisa timbul. Pertama, HBOC menjalankan fungsi penting komponen utama darah, sel darah merah. Kedua, hemoglobin, yang menjadi sumber HBOC, merupakan bagian besar dari komponen utama darah. Mengenai produk ini dan produk serupa, orang Kristen menghadapi keputusan yang sangat serius. Mereka harus dengan sungguh-sungguh, sambil berdoa, merenungkan prinsip Alkitab tentang kesucian darah. Disertai hasrat yang kuat untuk mempertahankan hubungan baik dengan Yehuwa, setiap orang harus dibimbing oleh hati nuraninya yang dilatih Alkitab.—Galatia 6:5.

      [Gambar]

      MOLEKUL HEMOGLOBIN

      [Kotak/​Gambar di hlm. 12]

      Pilihan yang Menarik

      ”Semakin banyak rumah sakit yang menawarkan alternatif: pembedahan ’nondarah’,” lapor The Wall Street Journal. ”Praktek ini, yang semula dikembangkan untuk mengakomodasi Saksi-Saksi Yehuwa,” kata jurnal itu, ”telah menjadi populer, dan banyak rumah sakit mempromosikan program pembedahan nondarah mereka kepada masyarakat.” Rumah sakit di seputar dunia mendapati sejumlah manfaat, khususnya bagi pasien, sewaktu menerapkan strategi yang mengurangi transfusi darah. Saat ini, ribuan dokter mengobati pasien tanpa menggunakan transfusi.

      [Kotak/​Gambar di hlm. 12]

      Saksi-Saksi Yehuwa dan Kesehatan

      Di seluruh dunia, Saksi-Saksi Yehuwa, beberapa di antaranya adalah dokter dan perawat, dikenal karena menolak transfusi darah utuh atau komponen utama darah. Apakah pendirian mereka yang seragam untuk menolak praktek ini berasal dari doktrin buatan manusia atau kepercayaan bahwa iman dapat menyembuhkan penyakit medis? Itu sama sekali tidak benar.

      Karena menghargai kehidupan sebagai karunia dari Allah, Saksi-Saksi berupaya sebisa-bisanya untuk hidup selaras dengan Alkitab, yang mereka yakini ”diilhamkan Allah”. (2 Timotius 3:16, 17; Penyingkapan 4:11) Buku itu menganjurkan para penyembah Allah untuk menghindari praktek dan kebiasaan yang membahayakan kesehatan atau mengancam kehidupan, seperti makan berlebihan, merokok atau makan sirih, mabuk-mabukan, dan menggunakan narkoba untuk bersenang-senang.​—Amsal 23:20; 2 Korintus 7:1.

      Dengan menjaga kebersihan jasmani dan lingkungan serta sedikit berolahraga untuk alasan kesehatan, mereka bertindak selaras dengan prinsip Alkitab. (Matius 7:12; 1 Timotius 4:8) Sewaktu sakit, Saksi-Saksi Yehuwa bersikap masuk akal dengan mencari pengobatan medis dan menerima beragam pilihan perawatan yang ada. (Filipi 4:5) Memang, mereka menaati perintah Alkitab agar ”tetap menjauhkan diri dari . . . darah”, berupaya keras mendapatkan penanganan medis tanpa darah. (Kisah 15:29) Dan, pilihan ini sering kali menghasilkan perawatan yang lebih bermutu.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan