-
Apakah Kehidupan Anda Membosankan? Anda Dapat Mengubahnya!Sedarlah!—1995 | 8 Januari
-
-
Apakah Kehidupan Anda Membosankan? Anda Dapat Mengubahnya!
OLEH KORESPONDEN SEDARLAH! DI SPANYOL
SEWAKTU Margaret dan Brian memasuki usia pertengahan 50-an kesempatan emas datang: pensiun lebih awal dengan uang pensiun yang cukup. Itulah saatnya mereka memutuskan hijrah ke wilayah selatan untuk menikmati hangatnya mentari dan ke kawasan pantai sepanjang Laut Tengah. Tidak ada lagi yang perlu dirisaukan, dan dikhawatirkan—kehidupan yang tenang menanti mereka di pondok di tepi pantai.
Setelah dua tahun impian tersebut menjadi tidak menyenangkan. Brian menjelaskan, ”Semuanya seolah-olah menjadi begitu tidak berarti—hari demi hari berlalu tanpa kegiatan apa-apa. Tentu saja, saya berenang, sedikit bermain golf atau bermain tenis, dan bicara tak habis-habisnya kepada siapa pun yang mau mendengarkan. Mengenai apa? Segala macam tetek bengek.”
Gisela, seorang ibu yang berusia awal 20-an, memiliki seorang gadis kecil yang cantik. Di sore hari sang ibu dan anaknya, seperti biasa, pergi ke taman, tempat putrinya bermain di bak pasir, begitu asyik, dengan senangnya membuat pastel dan istana dari pasir. Sementara itu, sang ibu duduk di bangku taman yang dekat dan mengawasi si kecil. Namun itukah yang sebenarnya ia lakukan? Ia cuma duduk-duduk, telinganya terpusat pada radio kecilnya. Melalui asap rokoknya, ia hampir tidak lagi melihat anak kecilnya. Ia merasa bosan sampai-sampai meneteskan air mata karena sedih!
Peter, seorang siswa sekolah menengah berusia 17 tahun, duduk di kamarnya, dikelilingi barang-barang elektronik yang paling mutakhir. Ia menyalakan salah satu video game-nya, dan ternyata game itu tidak lagi menarik baginya. Ia telah memainkannya ratusan kali, dan ia kini sudah tahu cara mengalahkan game itu. Bagaimana dengan musik yang ia dengarkan? Namun, dari antara musik yang ia miliki, tidak ada yang belum pernah ia dengar puluhan kali. Saking bosannya, ia mengeluh, ”Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa.”
Apakah Anda Membuang-buang Waktu?
Tentu saja, tidak semua orang memiliki kehidupan yang menjemukan dan suram. Banyak orang masih menikmati kehidupan yang bahagia dan penuh arti, menemukan kepuasan dengan mempelajari hal-hal baru, dengan memuaskan naluri kreatifnya, dan memupuk hubungan yang baik dengan orang-orang lain—dan bahkan yang jauh lebih penting, dengan Allah.
Akan tetapi, kebosanan mempengaruhi orang-orang dari segala lapisan masyarakat—1 dari setiap 3 orang Jerman merasakan kebosanan menurut suatu pol baru-baru ini. Kaum Yuppie (masyarakat muda kelas menengah yang berpenghasilan tinggi dan hidup glamor) yang ambisius yang dengan gelisah sering mengunjungi semua tempat hiburan populer di kota, anak-anak muda pengangguran yang membuang-buang waktu dengan mendengarkan musik yang disetel keras dan menenggak bir murahan, buruh-buruh setengah baya yang menghabiskan akhir pekan dengan menonton televisi, golongan eksekutif yang merasa hampa ketika meninggalkan kantornya—semua menderita keluhan yang umum: kebosanan.
Para filsuf purba menyebutnya taedium vitae (istilah Latin untuk kejenuhan hidup). Dalam bahasa Jerman, istilah tersebut adalah Langeweile (jangka waktu yang panjang). Waktu yang berkepanjangan, pekerjaan yang tampaknya tidak berarti, hasrat ”untuk melepaskan diri dari segala-galanya” merupakan ciri-ciri kebosanan yang sangat umum.
Bahkan orang-orang kaya tidak kebal terhadapnya. Setelah melukiskan gaya hidup yang mewah dari orang-orang kaya, Roger Rosenblatt menyatakan dalam majalah Time, ”Setelah memiliki rumah yang megah dan taman yang luas serta banyak binatang piaraan, dan setelah pergi ke pesta-pesta besar dan berkenalan dengan orang-orang penting, apa yang dikatakan oleh kebanyakan dari orang-orang kaya di dunia? Mereka menyatakan bahwa mereka bosan. Bosan.”
Dulu orang pernah mengira bahwa menambah waktu luang merupakan obat bagi kebosanan. Dengan anggapan bahwa kondisi kerja yang menyenangkan, mengakhiri pekerjaan yang monoton dan membosankan dari masa lalu, dan jumlah waktu luang yang banyak sekali akan membuat kehidupan bermanfaat bagi orang-orang pada umumnya. Namun, sayang sekali, kenyataannya tidak sesederhana itu. Memutuskan apa yang akan dilakukan dengan semua waktu luang ini telah terbukti lebih sulit daripada yang diperkirakan. Banyak orang yang sepanjang pekan dengan bergairah mengantisipasi akhir pekan yang menyenangkan, ternyata tidak seperti yang mereka harapkan.
Akibat-Akibat Negatif dari Kebosanan
Beberapa orang mencari jalan keluar dari kebosanan dengan menyibukkan diri dalam banyak kegiatan. Beberapa orang terpaksa menjadi kecanduan kerja karena mereka hanya tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan waktu mereka bila tidak sedang bekerja. Orang-orang lain mencoba mengurangi kebosanan dengan alkohol, atau mencari kesenangan dengan mencoba-coba obat bius. Banyak bintang hiburan yang kehidupannya sibuk dan penuh kekhawatiran mengisi rasa kekosongan, setelah pertunjukan berakhir, dengan obat-obat bius seperti kokain. Kebosanan telah diidentifikasikan sebagai salah satu alasan dari semakin banyaknya jumlah ibu berusia belasan yang tidak menikah, banyak dari mereka mungkin beranggapan bahwa bayi dapat mengisi kehidupan mereka yang hampa.
Kebosanan bahkan dihubungkan dengan naiknya tingkat kejahatan. Majalah Time mengamati bahwa sejumlah remaja meninggalkan sekolah pada usia 16 tahun dan tidak tahu harus berbuat apa dan bahwa orang-orang Eropa Barat yang tuna karya, dibandingkan dengan rekan-rekan kerja mereka, ”lebih besar kemungkinannya untuk melakukan bunuh diri, lebih mudah terjerat penyalahgunaan obat bius, lebih cenderung hamil di luar nikah dan lebih cenderung melanggar hukum”. Tampaknya cocok bunyi pepatah lama ini ”Setan terus mencari tangan-tangan orang malas untuk melakukan kejahatan”.—Bandingkan Efesus 4:28.
-
-
Adakah Jalan Keluar yang Mudah untuk Mengatasi Kebosanan?Sedarlah!—1995 | 8 Januari
-
-
Adakah Jalan Keluar yang Mudah untuk Mengatasi Kebosanan?
MENYEDIAKAN hiburan yang tak henti-hentinya bagi jutaan pelanggan yang merasa bosan kini menjadi bisnis besar. Liburan yang eksotis, peralatan elektronik yang canggih, hobi-hobi yang menyita perhatian, semua ini dirancang untuk membantu para langganan menghabiskan waktunya. Namun, kebosanan masih merupakan problem utama. Bahkan sewaktu berlibur, para wisatawan yang merasa bosan membutuhkan rangsangan dari luar untuk membuat gairah mereka tetap tinggi. Dan banyak penggemar joging merasa ada sesuatu yang kurang jika tidak ditemani radio portabelnya.
Tidak diragukan bahwa hiburan, seperti televisi, menciptakan kesenangan dan mengurangi kebosanan, namun untuk berapa lama? Bagi beberapa orang, televisi seperti obat yang dapat membentuk kebiasaan. Lain kali, perangsang yang lebih besar dan lebih menarik dibutuhkan—kalau tidak, perasaan bosan muncul lagi karena merasa sudah melihat semuanya. Sebaliknya daripada menjadi jalan keluarnya, hiburan demikian akhirnya dapat menjadi salah satu faktor penyebab kebosanan.
Tentu saja, TV tidak dengan sendirinya menyebabkan kebosanan, namun menonton televisi secara berlebihan juga tidak akan menghilangkan kebosanan. Bahkan lebih buruk, semakin Anda ’terpaku’ di depan TV, semakin jauh Anda terpisah dari kenyataan. Sehubungan dengan anak-anak, hal ini sering terjadi. Menurut satu penelitian, kepada anak-anak berusia empat dan lima tahun ditanyakan mana yang mereka lebih sukai, hidup tanpa TV atau tanpa ayah mereka, 1 dari 3 anak menyatakan bahwa hidup tanpa ayah masih lebih mudah dapat ditanggung!
Menuruti setiap keinginan juga bukan pemecahan. Banyak anak remaja kini ”dibesarkan dalam masa kesejahteraan materi, yang memungkinkan mereka memiliki setiap mainan, setiap liburan, setiap mode baru”, demikian pernyataan dari seorang utusan Partai Demokrasi Sosial pada parlemen Jerman. Apakah ada sesuatu yang baru yang membuat mereka begitu girang? Kemungkinan besar orang-tua yang bermaksud baik yang melimpahi anak-anak mereka dengan semua barang terbaru membuat anaknya menjadi orang dewasa yang dicekam dengan kebosanan kronis.
Akar Penyebab Kebosanan
Melepaskan diri sama sekali dari kebosanan merupakan tujuan yang tidak realistis. Hidup di dunia ini tidak mungkin dapat terus-menerus senang dan bahagia. Harapan yang tidak realistis semacam itu bisa menjadi penyebab ketidakpuasan yang tidak perlu. Di samping itu, ada faktor-faktor tertentu yang memperburuk keadaan.
Misalnya, dewasa ini semakin banyak keluarga terpecah-belah. Mungkinkah ini disebabkan karena ayah dan ibu begitu asyik dengan hiburan mereka sendiri sehingga mereka tidak lagi menghabiskan cukup banyak waktu bersama anak-anak mereka? Tidak mengherankan, para remaja mencari hiburan mereka sendiri dengan pergi ke disko, tempat bermain video game, pusat perbelanjaan, dan sejenisnya. Akibatnya, di banyak rumah tangga piknik sekeluarga dan kegiatan bersama lainnya tidak lagi dilakukan.
Sedangkan orang-orang lain merasa tidak puas dengan kehidupan mereka yang membosankan, sehingga mereka secara tanpa sadar menjadi tertutup dan tidak berminat dengan orang-orang lain, hanya melakukan apa yang mereka kehendaki, tidak mau tahu akan orang-orang lain. Dan sementara mereka semakin mengasingkan diri, mereka memiliki harapan yang sia-sia untuk mencapai apa yang dapat disebut realisasi-pribadi. Namun, hal itu ternyata tidak terwujud. Bagaimanapun juga, manusia bukanlah sebuah pulau yang dapat menyendiri dari orang-orang lain. Kita membutuhkan teman dan komunikasi. Karena itu, tidak dapat dihindari, bahwa para individualis yang mengucilkan diri menyebarkan kebosanan, tanpa sadar membuat kehidupan menjadi membosankan bagi diri mereka sendiri dan bagi orang-orang di sekeliling mereka.
Akan tetapi, masalahnya agak lebih dalam, sebagaimana dinyatakan dengan tegas oleh seorang ahli filsafat Prancis abad ke-17, Blaise Pascal, ”Kejenuhan [muncul] dari lubuk hati yang berisi akar alamiahnya dan [mengisi] pikiran dengan racunnya.” Betapa benarnya hal ini!
Selama hati dipenuhi dengan rongrongan keragu-raguan sehubungan dengan sebab musabab kehidupan, kebosanan mungkin akan tetap ada. Dibutuhkan keyakinan sepenuh hati bahwa kehidupan pribadi seseorang punya arti. Namun, bagaimana seseorang dapat menghadapi kehidupan dengan pandangan positif tanpa mengetahui alasan keberadaannya, tanpa punya cita-cita, tanpa punya harapan yang teguh untuk masa depan?
Pertanyaan utamanya adalah: Apa arti hidup ini? Untuk apa saya ada di sini? Apa masa depan saya kelak? ”Perjuangan untuk menemukan makna dalam kehidupan merupakan kekuatan utama yang memotivasi seseorang,” kata Dr. Viktor Frankl. Akan tetapi, di manakah arti demikian dapat ditemukan? Di manakah pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab secara memuaskan?
Sedikit Bosan—Bagaimana?
Buku tertua dari segala buku menyediakan penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan utama semacam itu. Pujangga Jerman abad ke-19, Heinrich Heine mengatakan, ”Kearifan saya semata-mata saya peroleh dengan membaca sebuah buku.” Buku yang mana? Alkitab. Demikian pula, Charles Dickens mengatakan, ”[Alkitab] adalah buku terbaik yang pernah ada atau yang akan ada di dunia, karena ini mengajarkan Anda pelajaran terbaik yang melaluinya umat manusia . . . mungkin dapat dituntun.”
Tidak ada keraguan sehubungan dengan hal itu. Alkitab adalah pembimbing yang pasti bagi kehidupan yang berarti. Dari awal hingga akhir, Alkitab dengan jelas memperlihatkan bahwa Allah memberikan pekerjaan kepada manusia untuk dilakukan. Manusia harus mengurus bumi, mempercantiknya, mengawasi dengan penuh kasih atas kehidupan binatang, dan, di atas semua itu, memuji sang Pencipta, Yehuwa. Ini sungguh merupakan tugas yang banyak menuntut, yang tidak akan menyebabkan rasa bosan! Jutaan orang Kristen yang aktif telah mendapati bahwa mendukung perkara Allah, sepenuhnya membaktikan diri kepada-Nya, benar-benar menambah arti kehidupan dan mencegah kebosanan.
Kebosanan yang meluas mungkin merupakan fenomena modern—kebanyakan bahasa kuno tampaknya tidak memiliki kata untuk kebosanan. Namun, Alkitab yang memperlihatkan kepada kita arti kehidupan, memuat saran-saran praktis untuk melawan kebosanan. Misalnya, Alkitab menyatakan bahwa ’orang yang menyendiri, amarahnya meledak terhadap setiap pertimbangan’. (Amsal 18:1) Dengan kata lain, jangan menarik diri!
Pada dasarnya, manusia suka hidup berkelompok. Ia membutuhkan jalinan hubungan dengan orang-orang lain, dan ia memiliki kebutuhan bawaan untuk ditemani. Menahan keinginan yang normal untuk membaur dengan orang-orang lain—menjadi seorang penyendiri, atau sekadar penonton—tidak bijaksana. Demikian pula, membatasi diri kita untuk hubungan-hubungan pribadi yang dangkal sama halnya dengan mengabaikan semua hikmat yang praktis.
Tentu saja, jauh lebih mudah dengan pasif menonton film atau membatasi komunikasi kita daripada memasukkan data ke dalam komputer. Menyesuaikan diri terhadap orang lain benar-benar merupakan tantangan. Namun, memiliki sesuatu yang berharga untuk dikatakan dan berbagi pikiran dan perasaan dengan orang-orang lain dapat menghasilkan manfaat dan sedikit kemungkinannya menjadi bosan.—Kisah 20:35.
Salomo, yang adalah pengamat sifat-sifat manusia yang teliti, membuat rekomendasi yang kuat ini, ”Lebih baik puas dengan apa yang ada di depan matamu daripada memberi kebebasan kepada keinginan.” (Pengkhotbah 6:9, The New English Bible) Dengan kata lain, manfaatkanlah sebaik-baiknya keadaan Anda sekarang. Pusatkan pada apa yang Anda lihat sekarang. Hal itu jauh lebih baik daripada berkeinginan untuk menghindar dari kenyataan atau ’memberi kebebasan kepada keinginan’, sebagaimana dikatakan Salomo.
Hari-hari yang direncanakan dengan baik, cita-cita yang pasti, dan keinginan yang sungguh-sungguh untuk terus belajar juga akan membantu Anda mengatasi kebosanan. Bahkan setelah pensiun, seseorang masih dapat melakukan banyak hal. Seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa di Kepulauan Balearik, yang sudah pensiun dan berusia awal 70-an, ingin sekali belajar bahasa Jerman. Apa cita-citanya? Ia ingin berbicara mengenai Firman Allah kepada banyak pengunjung dari Jerman yang merasa bosan di hari libur. Kebosanan pastilah bukan problem baginya!
Akhirnya, bagaimana dengan membuat tangan Anda tetap aktif? Bagaimana jika Anda mempelajari keterampilan dalam hal kerajinan tangan, melukis, atau memainkan suatu alat musik? Harga diri akan tumbuh bila memiliki keinginan untuk meraih suatu prestasi. Mengapa tidak berpikir untuk bekerja dengan rajin dan mengerjakan sesuatu di rumah? Ada begitu banyak hal-hal kecil yang biasanya perlu diperbaiki di rumah. Sebaliknya daripada memikirkan kehidupan Anda yang membosankan, upayakan Anda siap melakukan apa saja, lakukan pekerjaan yang berarti di rumah, berupayalah untuk terampil dalam suatu keahlian. Anda pasti akan merasakan manfaatnya.—Amsal 22:29.
Lagi pula, Alkitab menyarankan kita untuk bekerja sepenuh jiwa dalam pekerjaan apa pun yang mungkin kita lakukan. (Kolose 3:23) Tentu saja, itu berarti terlibat, benar-benar berminat dengan apa yang kita lakukan. Mungkin perlu diingat bahwa kata ”minat” (dalam bahasa Inggris ”interest”) berasal dari bahasa Latin interesse, yang secara aksara berarti ”ada di antara”, dengan kata lain asyik dengan pekerjaan yang sedang dilakukan. Hal itu akan membuat pekerjaan itu menarik.
Semua nasihat bagus ini yang ditulis bertahun-tahun lalu, jika diterapkan, akan sangat berguna bagi para korban yang menderita depresi selama waktu senggang. Karena itu, senangilah apa yang Anda lakukan. Libatkanlah diri Anda dengan orang-orang lain. Berbuatlah sesuatu bagi orang-orang lain. Teruslah belajar. Berkomunikasilah secara bebas dengan orang-orang lain. Temukan tujuan hidup yang sebenarnya. Dengan melakukan semua ini, Anda tidak akan mudah mengeluh, ’Mengapa kehidupan begitu membosankan?’
[Kotak di hlm. 23]
Bagaimana Mengatasi Kebosanan
1. Jangan biarkan inisiatif pribadi menjadi lemah karena adanya hiburan. Bersikaplah selektif terhadap selingan dan hiburan.
2. Ceritakanlah kepada orang-orang.
3. Teruslah belajar. Miliki cita-cita pribadi.
4. Hendaklah kreatif. Lakukanlah sesuatu dengan tangan Anda.
5. Milikilah tujuan hidup. Sertakanlah Allah dalam hidup Anda.
-