-
Kamboja—Lolos dari Mimpi BurukSedarlah!—1987 (No. 21) | Sedarlah!—1987 (No. 21)
-
-
SELAMA bertahun-tahun Kamboja (atau, Kampuchea) menikmati perdamaian. Kemudian, pada tahun 1970, Letnan Jendral Lon Nol merebut kekuasaan. Akibatnya, golongan komunis yang dikenal sebagai Khmer Rouge, atau Khmer Merah, mengadakan revolusi. Lon Nol memobilisasi setiap orang tanpa pandang bulu di seluruh Kamboja untuk berperang melawan orang komunis.
-
-
Kamboja—Lolos dari Mimpi BurukSedarlah!—1987 (No. 21) | Sedarlah!—1987 (No. 21)
-
-
Karena pada bulan April tahun 1975 golongan komunis Khmer Merah memasuki Phnom Penh, menggulingkan Lon Nol, dan segera mencoba menciptakan suatu masyarakat yang sama sekali baru.
Untuk tujuan itu, semua perwira yang pernah berdinas dalam rezim sebelumnya harus melaporkan diri agar mereka dapat dikirim ke kamp-kamp khusus dengan maksud dilatih kembali. Saya tidak melapor karena saya tidak ingin menjadi perwira polisi lagi. Hal ini telah menyelamatkan kehidupan saya. Belakangan saya ketahui bahwa ”latihan kembali” sebenarnya berarti hukuman mati. Semua yang melapor dibunuh.
Suatu Masa yang Mengerikan
Menurut perkiraan, dalam bulan-bulan setelah itu, kira-kira satu sampai dua juta orang Kamboja dibunuh. Saya menyaksikan sendiri penghukuman mati, kuburan masal, maupun juga sungai-sungai dan danau-danau yang betul-betul berwarna merah dengan darah dan penuh dengan tubuh-tubuh yang tidak bernyawa. Keluarga-keluarga dipecah-belah dan diusir dari rumah serta tanah mereka. Suatu revolusi seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya menyapu bersih tradisi Kamboja yang sudah berumur lebih dari dua ribu tahun. Tidak ada seorang Kamboja pun yang pernah berpikir bahwa perubahan yang sedemikian radikal dapat terjadi.
Saya merasa bingung dan diliputi kengerian, dan bertanya pada diri sendiri apakah masih ada suatu tujuan untuk hidup dalam masyarakat yang tidak berperikemanusiaan sedemikian. Saya memutuskan untuk lari ke negeri asing. Khmer Merah sudah mencari-cari saya; saya dimasukkan dalam daftar hitam mereka. Sejak meninggalkan dinas polisi, saya memakai nama lain, karena itu mereka tidak dapat menemukan saya dengan cepat. Tetapi karena saya terkenal sebagai penggubah lagu dan pengarang, banyak orang tahu siapa saya dan bahkan memanggil saya dengan nama saya yang sebenarnya. Jadi saya menyadari bahwa saya menghadapi bahaya besar.
Meskipun demikian, keputusan untuk lari ke Thailand sama sekali tidak mudah. Tidak soal siapa yang berkuasa, saya masih tetap mencintai negeri tanah air saya. Juga, saya tahu bahwa setelah saya pergi, saya tidak akan pernah dapat berharap untuk kembali mengunjungi orang tua, saudara laki-laki dan saudara-saudara perempuan saya. Selain itu, jalan menuju ke Thailand nampaknya tertutup. Saya tidak dapat bertanya. Saya melihat mayat seorang pria yang telah ditembak mati dan dibiarkan begitu saja di atas tanah karena ketahuan bahwa ia merencanakan untuk lari dari negeri ini.
Pelarian—dan Iman kepada Allah
TEPATNYA dua bulan setelah Khmer Merah berkuasa, seorang pria lain dan saya mencoba untuk melarikan diri. Tetapi, kami tersesat dan harus kembali. Saya tidak menyerah. Beberapa hari kemudian, saya berangkat lagi dengan seorang bekas rekan di kepolisian. Kemudian kami disertai tujuh orang lain, termasuk seorang anak berumur tiga tahun.
Di hutan, kami mendengar auman harimau yang membangkitkan bulu roma. Tetapi yang jauh lebih menakutkan daripada harimau dan ular-ular berbisa adalah para pendukung Khmer Merah, yang terus mengitari hutan-hutan untuk mencari orang-orang yang melarikan diri. Kadang-kadang kami melihat mereka. Bunyi sedikit pun dapat menarik perhatian mereka dan dapat berarti kematian. Kadang-kadang perasaan takut membuat kami tidak tidur.
-