PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Bagaimana Saudara Mengukur Kesuksesan?
    Menara Pengawal—2000 | 1 November
    • Ketika Kebudayaan dan Hati Nurani Bentrok

      Iwan dibesarkan sebagai salah seorang Saksi-Saksi Yehuwa. Pada usia remajanya, tingkah laku serta pilihan teman bergaulnya kurang dipujikan. Ibunya mulai mengkhawatirkannya. Oleh karena itu, ia meminta seorang perintis, rohaniwan sepenuh waktu Saksi-Saksi Yehuwa, untuk menganjurkan dia. Iwan menjelaskan apa yang kemudian terjadi.

      ”Saya amat menghargai minat yang ditunjukkan saudara perintis itu kepada saya. Teladan bagusnya membuat saya ingin menjadikan dinas perintis sebagai karier setamat sekolah. Tetapi, setelah itu, Mama khawatir lagi​—⁠namun sekarang alasannya berbeda. Persoalannya, dalam kebudayaan kami, anak perempuan boleh-boleh saja merintis setamat sekolah, tetapi anak laki-laki diharapkan mapan secara finansial dahulu, barulah dia dapat mempertimbangkan dinas perintis.

      ”Saya mengikuti kursus keterampilan dan mulai berwiraswasta. Tidak lama kemudian, saya begitu sibuk berbisnis dan menjalani sekadarnya rutin untuk menghadiri perhimpunan dan mengabar. Hati nurani saya terganggu​—⁠saya tahu, saya dapat lebih sepenuhnya melayani Yehuwa. Walaupun demikian, saya harus berjuang keras untuk membebaskan diri dari apa yang diharapkan orang lain dari saya, tetapi saya bahagia karena melakukannya. Saya sekarang sudah menikah, dan kami berdua telah merintis selama dua tahun terakhir ini. Baru-baru ini, saya dilantik menjadi hamba pelayanan di sidang. Dengan jujur saya dapat mengatakan bahwa kini saya merasakan kepuasan yang sejati karena melayani Yehuwa dengan segenap hati saya, segenap potensi saya.”

      Majalah ini telah berulang kali menganjurkan kaum muda untuk mempelajari keterampilan atau mengembangkan kesanggupan yang berguna​—⁠semasa masih bersekolah jika mungkin. Untuk apa? Menjadi kaya? Tidak. Alasan utamanya adalah agar mereka sanggup menafkahi diri dengan sepatutnya sebagai orang dewasa dan melayani Yehuwa sebaik mungkin, khususnya dalam dinas sepenuh waktu. Namun, kenyataannya, sering kali remaja putra dan putri menjadi begitu sibuk mengejar karier duniawi sehingga pelayanan tidak lagi dianggap penting. Ada yang sama sekali tidak mempertimbangkan untuk mengambil dinas sepenuh waktu. Mengapa demikian?

      Komentar Iwan ada hubungannya dengan soal ini. Setelah menguasai keterampilan, Iwan memulai bisnis. Segera, ia seolah-olah berada dalam lingkaran setan yang tak bertujuan. Tujuannya adalah agar mapan secara finansial. Namun, adakah seseorang di dalam atau di luar sidang Kristen yang benar-benar berhasil mencapai tujuan itu? Orang Kristen harus berjuang untuk bertanggung jawab secara finansial, dengan rajin memenuhi kewajiban finansialnya; namun mereka pun hendaknya menyadari bahwa pada masa-masa yang tidak menentu ini, hanya sedikit yang mencapai taraf mereka dapat benar-benar menganggap diri mapan secara finansial. Itulah sebabnya janji Yesus yang dicatat di Matius 6:​33 begitu menghibur bagi orang Kristen.

      Iwan berbahagia karena memutuskan untuk mengikuti hasrat hatinya ketimbang membiarkan diri didikte oleh kebudayaannya. Kini, ia menikmati karier dalam dinas sepenuh waktu. Ya, dinas sepenuh waktu adalah karier yang terhormat. Iwan merasa puas karena melayani Yehuwa ’dengan segenap potensinya’, seperti yang ia katakan.

  • Bagaimana Saudara Mengukur Kesuksesan?
    Menara Pengawal—2000 | 1 November
    • Demikian pula dewasa ini, beberapa orang telah sanggup memanfaatkan bakat mereka dan bahkan pendidikan mereka untuk memajukan kepentingan Kerajaan. Misalnya, Retno memiliki gelar sarjana di bidang perdagangan dan juga di bidang hukum. Ia pernah memiliki pekerjaan yang menggiurkan dalam sebuah firma hukum, tetapi sekarang ia melayani sebagai pelayan sukarela tanpa gaji di salah satu kantor cabang Lembaga Menara Pengawal. Beginilah Retno menggambarkan kehidupannya sekarang, ”Saya yakin bahwa saya telah membuat pilihan terbaik dalam kehidupan. . . . Saya tidak ingin tukar tempat dengan teman-teman kuliah saya dulu. Saya bangga dengan haluan yang saya pilih. Saya memiliki segala yang saya butuhkan serta inginkan​—⁠kehidupan dan karier yang memuaskan dan membahagiakan.”

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan