-
Tirulah Yehuwa sewaktu Melatih Anak-Anak SaudaraMenara Pengawal—2001 | 1 Oktober
-
-
Tirulah Yehuwa sewaktu Melatih Anak-Anak Saudara
”Bukankah semua orang tua mengoreksi anak-anaknya?”—IBRANI 12:7, Contemporary English Version.
1, 2. Mengapa dewasa ini para orang tua memiliki problem dalam membesarkan anak-anak mereka?
SEBUAH survei yang diadakan di Jepang beberapa tahun yang lalu menyingkapkan bahwa kira-kira setengah orang dewasa yang diwawancarai merasa bahwa terdapat begitu sedikit komunikasi antara orang tua dan anak-anak mereka dan bahwa orang tua terlalu memanjakan anak-anak mereka. Dalam sebuah survei lain di negara itu, hampir seperempat respondennya mengakui bahwa mereka tidak tahu caranya berinteraksi dengan anak-anak. Kecenderungan ini tidak hanya terjadi di Asia saja. ”Banyak orang tua Kanada mengakui bahwa mereka merasa tidak pasti tentang caranya menjadi orang tua yang baik,” lapor The Toronto Star. Di mana-mana, orang tua merasa sulit untuk membesarkan anak-anak mereka.
2 Mengapa orang tua memiliki problem dalam membesarkan anak-anak mereka? Salah satu alasan utamanya adalah bahwa kita hidup di ”hari-hari terakhir”, dan sekaranglah ”masa kritis yang sulit dihadapi”. (2 Timotius 3:1) Selain itu, ”kecenderungan hati manusia itu jahat sejak masa mudanya”, kata Alkitab. (Kejadian 8:21) Dan, kaum muda khususnya rentan terhadap serangan Setan, yang bagaikan ”singa yang mengaum” mengintai orang-orang yang tidak berpengalaman. (1 Petrus 5:8) Pastilah, ada banyak rintangan bagi orang tua Kristen, yang bermaksud membesarkan anak-anak mereka ”dengan disiplin dan pengaturan-mental dari Yehuwa”. (Efesus 6:4) Bagaimana orang tua dapat membantu anak-anak mereka bertumbuh menjadi penyembah Yehuwa yang matang, sanggup membedakan ”apa yang benar maupun yang salah”?—Ibrani 5:14.
3. Mengapa pelatihan dan pengarahan orang tua penting untuk membesarkan anak-anak dengan sukses?
3 ”Kebodohan terikat pada hati anak laki-laki,” demikian pengamatan Raja Salomo yang bijaksana. (Amsal 13:1; 22:15) Untuk menyingkirkan kebodohan itu dari hati mereka, anak-anak muda membutuhkan koreksi yang pengasih dari orang tua mereka. Tetapi, kaum muda tidak selalu menyambut koreksi seperti itu. Bahkan, mereka sering kali merasa kesal kalau diberi nasihat, siapa pun yang memberikannya. Oleh karena itu, orang tua harus belajar ’melatih anak laki-laki menurut jalan untuknya’. (Amsal 22:6) Apabila anak-anak berpegang pada disiplin semacam itu, hal itu dapat berarti kehidupan bagi mereka. (Amsal 4:13) Alangkah pentingnya bagi orang tua untuk mengetahui apa yang tersangkut dalam melatih anak-anak mereka!
Disiplin—Apa Artinya
4. Apa arti utama kata ”disiplin” yang digunakan dalam Alkitab?
4 Karena takut dituduh menganiaya—secara fisik, verbal, ataupun emosional—beberapa orang tua tidak mau mengoreksi anak-anak mereka. Kita tidak perlu memiliki rasa takut seperti itu. Kata ”disiplin” yang digunakan dalam Alkitab tidak menyiratkan bentuk penganiayaan atau kekejaman apa pun. Kata Yunani untuk ”disiplin” terutama berkaitan dengan pengajaran, pendidikan, koreksi dan, kadang-kadang, hukuman yang tegas tapi pengasih.
5. Mengapa bermanfaat untuk memperhatikan cara Yehuwa berurusan dengan umat-Nya?
5 Dalam memberikan disiplin seperti itu, Allah Yehuwa memberikan teladan yang sempurna. Sambil membandingkan Yehuwa dengan seorang ayah manusia, rasul Paulus menulis, ”Bukankah semua orang tua mengoreksi anak-anak mereka? . . . Ayah jasmani kita mengoreksi kita untuk waktu yang singkat, dan mereka melakukannya menurut apa yang mereka anggap terbaik. Tetapi Allah mengoreksi kita demi faedah kita sendiri, karena ia ingin agar kita menjadi kudus.” (Ibrani 12:7-10, Contemporary English Version) Ya, Yehuwa mendisiplin umat-Nya dengan tujuan agar mereka dapat menjadi kudus, atau murni. Kita tentunya dapat belajar banyak tentang mendisiplin anak-anak dengan memperhatikan cara Yehuwa melatih umat-Nya.—Ulangan 32:4; Matius 7:11; Efesus 5:1.
Kasih—Daya yang Memotivasi
6. Mengapa bisa jadi sulit bagi orang tua untuk meniru kasih Yehuwa?
6 ”Allah adalah kasih,” kata rasul Yohanes. Jadi, pelatihan yang Yehuwa berikan selalu dimotivasi oleh kasih. (1 Yohanes 4:8; Amsal 3:11, 12) Apakah itu berarti bahwa orang tua yang memiliki kasih sayang alami bagi anak-anak mereka akan dengan mudah meniru Yehuwa dalam hal ini? Tidak selalu. Kasih Allah adalah kasih yang berprinsip. Dan, seorang sarjana Yunani menunjukkan bahwa kasih seperti itu ”tidak selalu berjalan seiring dengan kecenderungan alami”. Allah tidak dibutakan oleh perasaan sentimental. Ia selalu mempertimbangkan apa yang terbaik bagi umat-Nya.—Yesaya 30:20; 48:17.
7, 8. (a) Teladan apa tentang kasih berprinsip yang Yehuwa berikan dalam berurusan dengan umat-Nya? (b) Bagaimana orang tua dapat meniru Yehuwa dalam membantu anak-anak mereka meningkatkan kesanggupan untuk mengikuti prinsip-prinsip Alkitab?
7 Perhatikan kasih yang Yehuwa perlihatkan dalam berurusan dengan orang Israel. Musa menggunakan sebuah analogi yang bagus untuk menggambarkan kasih Yehuwa bagi bangsa Israel yang baru lahir. Kita membaca, ”Seperti burung elang menggerak-gerakkan sarangnya, terbang mengitari anak-anaknya, membentangkan sayapnya, mengambil mereka, menggendong mereka pada kepaknya, Yehuwa sendiri menuntun [Yakub].” (Ulangan 32:9, 11, 12) Untuk mengajar anaknya terbang, induk elang ”menggerak-gerakkan sarangnya”, mengepak-ngepakkan sayapnya untuk mendesak anak-anaknya terbang. Sewaktu si burung kecil akhirnya terjun dari sarang, yang sering kali terletak di celah bukit yang tinggi, sang induk ”terbang mengitari” anaknya. Jika kelihatannya anak burung itu akan jatuh ke tanah, sang induk menukik ke bawahnya, menggendong si anak ”pada kepaknya”. Dengan pengasih, Yehuwa menjaga bangsa Israel yang baru lahir dengan cara yang serupa. Ia memberi bangsa itu Hukum Musa. (Mazmur 78:5-7) Kemudian, Allah mengawasi bangsa itu dengan cermat, siap turun tangan apabila umat-Nya mengalami kesusahan.
8 Bagaimana orang tua Kristen dapat meniru kasih Yehuwa? Pertama-tama, mereka harus mengajari anak-anak mereka prinsip-prinsip dan standar-standar yang terdapat dalam Firman Allah. (Ulangan 6:4-9) Tujuannya adalah untuk membantu sang anak belajar membuat keputusan yang selaras dengan prinsip-prinsip Alkitab. Dalam melakukan hal ini, orang tua yang pengasih seolah-olah terbang mengitari anak-anaknya, mengamati bagaimana mereka menerapkan prinsip-prinsip yang telah mereka pelajari. Seraya anak-anak beranjak dewasa dan secara bertahap diberi kebebasan yang lebih besar, orang tua yang peduli siap untuk ”menukik” dan ’menggendong anak mereka pada kepaknya’ setiap kali ada bahaya. Bahaya macam apa?
9. Terhadap bahaya apa khususnya orang tua yang pengasih harus tanggap? Ilustrasikan.
9 Allah Yehuwa memperingatkan orang Israel tentang konsekuensi pergaulan yang buruk. (Bilangan 25:1-18; Ezra 10:10-14) Salah memilih teman bergaul juga merupakan bahaya yang umum dewasa ini. (1 Korintus 15:33) Orang tua Kristen hendaknya meniru Yehuwa dalam hal ini. Seorang gadis berusia 15 tahun bernama Lisa tertarik kepada seorang pemuda yang tidak memiliki standar moral serta nilai-nilai rohani yang sama dengan keluarganya. ”Orang tua saya segera mengetahui adanya perubahan dalam sikap saya, dan mereka memperlihatkan keprihatinan,” kisah Lisa. ”Kadang-kadang mereka mengoreksi saya, dan adakalanya juga mereka dengan lembut membesarkan hati saya.” Mereka duduk bersama Lisa dan mendengarkan dengan sabar, dengan demikian membantunya mengatasi apa yang mereka pahami sebagai akar permasalahannya—hasrat untuk diterima oleh teman-temannya.a
Jagalah Jalur Komunikasi Tetap Terbuka
10. Dengan cara apa saja Yehuwa memberikan teladan bagus dalam hal berkomunikasi dengan orang Israel?
10 Agar dapat berhasil dalam melatih anak-anak, orang tua harus berupaya keras untuk menjaga jalur komunikasi dengan anak-anak mereka tetap terbuka. Yehuwa, meskipun mengetahui sepenuhnya apa isi hati kita, menganjurkan kita untuk berkomunikasi dengan-Nya. (1 Tawarikh 28:9) Setelah memberikan Hukum kepada bangsa Israel, Yehuwa menugasi orang Lewi untuk mengajar mereka, dan Ia mengutus nabi-nabi untuk bertukar pikiran dengan mereka dan mengoreksi mereka. Ia juga memperlihatkan kesediaan untuk mendengarkan doa-doa mereka.—2 Tawarikh 17:7-9; Mazmur 65:2; Yesaya 1:1-3, 18-20; Yeremia 25:4; Galatia 3:22-24.
11. (a) Bagaimana orang tua dapat menggalang komunikasi yang baik dengan anak-anak mereka? (b) Mengapa penting bagi orang tua untuk menjadi pendengar yang baik sewaktu berkomunikasi dengan anak-anak mereka?
11 Bagaimana orang tua dapat meniru Yehuwa sewaktu mereka berkomunikasi dengan anak-anak mereka? Yang pertama dan terutama, mereka harus menyediakan waktu bagi anak-anak mereka. Orang tua juga sebaiknya menghindari komentar-komentar tak bertimbang rasa yang mengejek seperti, ”Cuma itu saja? Papa kira ada yang penting”; ”Ah, itu soal kecil”; ”Lho, terus maumu apa? Kamu kan masih kecil”. (Amsal 12:18) Untuk menganjurkan anak-anak agar membuka diri, orang tua yang bijaksana berupaya menjadi pendengar yang baik. Orang tua yang mengabaikan anak-anak mereka sewaktu anak-anak itu masih kecil mungkin akan diabaikan oleh anak-anak itu kelak sewaktu mereka lebih dewasa. Yehuwa selalu bersedia mendengarkan umat-Nya. Ia menyendengkan telinga-Nya untuk orang-orang yang dengan rendah hati berpaling kepada-Nya dalam doa.—Mazmur 91:15; Yeremia 29:12; Lukas 11:9-13.
12. Sifat-sifat apa di pihak orang tua yang dapat mempermudah anak-anak mereka untuk mendekati mereka?
12 Perhatikan juga bagaimana aspek-aspek tertentu dari kepribadian Allah telah mempermudah umat-Nya untuk mendekati Dia dengan leluasa. Sebagai contoh, Raja Daud dari Israel zaman dahulu melakukan dosa yang serius karena berzina dengan Bat-syeba. Karena tidak sempurna, Daud melakukan dosa serius lainnya dalam kehidupannya. Namun, ia tidak pernah menyerah dalam mendekati Yehuwa dan mencari pengampunan serta teguran-Nya. Tidak diragukan, kebaikan hati Allah yang penuh kasih serta belas kasihan-Nya mempermudah Daud untuk kembali kepada Yehuwa. (Mazmur 103:8) Dengan mempertunjukkan sifat-sifat yang saleh seperti keibaan hati dan belas kasihan, orang tua dapat membantu menjaga jalur komunikasi tetap terbuka bahkan sewaktu anak-anak melakukan kesalahan.—Mazmur 103:13; Maleakhi 3:17.
Bersikaplah Masuk Akal
13. Apa yang tercakup dalam bersikap masuk akal?
13 Sewaktu menyimak anak-anaknya, orang tua harus bersikap masuk akal dan memperlihatkan ”hikmat yang datang dari atas”. (Yakobus 3:17) ”Biarlah sikap masuk akalmu diketahui semua orang,” tulis rasul Paulus. (Filipi 4:5) Apa artinya bersikap masuk akal? Salah satu definisi kata Yunani yang diterjemahkan ”masuk akal” adalah ”tidak berkukuh pada aturan hukum yang kaku”. Meskipun menjunjung standar moral dan rohani yang teguh, bagaimana orang tua dapat bersikap masuk akal?
14. Bagaimana Yehuwa memperlihatkan sikap masuk akal dalam berurusan dengan Lot?
14 Yehuwa menetapkan teladan yang sangat menonjol dalam bersikap masuk akal. (Mazmur 10:17) Sewaktu Ia mendesak Lot dan keluarganya untuk meninggalkan kota Sodom yang hendak dibinasakan, Lot ”terus berlambat-lambat”. Lalu, ketika malaikat Yehuwa meminta dia untuk lari ke daerah pegunungan, Lot berkata, ”Aku tidak sanggup lari ke daerah pegunungan . . . Tolonglah, kota itu [Zoar] dekat untuk lari ke sana dan kota itu kecil. Bolehkah kiranya aku lari ke sana—bukankah kota itu kecil?” Bagaimana reaksi Yehuwa terhadap hal itu? Ia berkata, ”Baik, aku akan memberikan pertimbangan terhadap engkau dalam hal ini juga, dengan tidak meruntuhkan kota yang kausebutkan itu.” (Kejadian 19:16-21, 30) Yehuwa bersedia mengabulkan permintaan Lot. Ya, orang tua perlu berpaut pada standar-standar yang Allah Yehuwa tetapkan dalam Firman-Nya, Alkitab. Meskipun demikian, bisa jadi ada kemungkinan untuk mempertimbangkan keinginan anak-anak apabila prinsip-prinsip Alkitab tidak dilanggar.
15, 16. Hikmah apa yang dapat dipetik orang tua dari ilustrasi yang terdapat di Yesaya 28:24, 25?
15 Bersikap masuk akal mencakup mempersiapkan hati anak-anak sehingga mereka siap menerima nasihat. Dengan cara yang ilustratif, Yesaya membandingkan Yehuwa dengan seorang petani dan mengatakan, ”Apakah si pembajak akan membajak sepanjang hari untuk menabur benih, untuk menggemburkan dan menggaru tanahnya? Setelah meratakan permukaannya, tidakkah ia akan menyebarkan jintan hitam dan menaburkan jintan putih, dan tidakkah ia akan menaruh gandum, sekoi, dan barli di tempat yang ditetapkan, dan gandum spelta sebagai batasnya?”—Yesaya 28:24, 25.
16 Yehuwa ’membajak untuk menabur benih’ serta ”menggemburkan dan menggaru tanahnya”. Dengan demikian, Ia mempersiapkan hati umat-Nya sebelum mendisiplin mereka. Sewaktu mengoreksi anak-anak mereka, bagaimana orang tua dapat ”membajak” hati anak-anaknya? Seorang ayah meniru Yehuwa sewaktu mengoreksi putranya yang berusia empat tahun. Sewaktu putranya memukul anak tetangga, sang ayah pertama-tama mendengarkan dengan sabar dalih putranya itu. Kemudian, seolah-olah untuk ”membajak” hati si anak, sang ayah menceritakan sebuah kisah tentang anak laki-laki yang sangat menderita akibat ulah seorang anak yang suka menindas. Setelah mendengar kisah itu, si putra tergerak untuk mengatakan bahwa si penindas tersebut harus dihukum. ’Pembajakan’ seperti itu mempersiapkan hati sang anak dan mempermudah dia melihat bahwa memukul anak tetangga adalah tindakan seorang penindas dan bahwa hal itu salah.—2 Samuel 12:1-14.
17. Pelajaran apa tentang koreksi orang tua yang disediakan di Yesaya 28:26-29?
17 Lebih jauh, Yesaya membandingkan koreksi Yehuwa dengan proses bertani lainnya—mengirik. Seorang petani menggunakan alat pengirik yang berbeda sesuai dengan keras-lunaknya sekam dari bulir biji-bijian. Tongkat kecil digunakan untuk jintan hitam yang lembut dan tongkat yang lebih panjang dan besar untuk jintan, tetapi pengirik atau gerobak digunakan untuk bulir biji-bijian yang sekamnya lebih keras. Meskipun demikian, ia tidak akan menginjak biji-bijian yang lebih keras dengan maksud menghancurkannya. Demikian pula, apabila Yehuwa ingin menyingkirkan apa pun yang tidak baik dari umat-Nya, Ia memvariasikan perlakuan-Nya sesuai dengan kebutuhan dan keadaan. Ia tidak pernah sewenang-wenang atau menindas. (Yesaya 28:26-29) Ada anak yang hanya dilirik saja oleh orang tuanya sudah langsung mengerti, dan tidak perlu tindakan lebih jauh. Yang lain membutuhkan pengingat berulang kali, sementara ada juga yang mungkin membutuhkan persuasi yang lebih tegas. Orang tua yang masuk akal akan menerapkan koreksi sesuai dengan kebutuhan tiap-tiap anak.
Buatlah Pembahasan Keluarga Menyenangkan
18. Bagaimana orang tua dapat mengatur waktu untuk pelajaran Alkitab keluarga yang teratur?
18 Salah satu cara terbaik untuk mengajar anak-anak Saudara adalah pelajaran Alkitab keluarga yang teratur dan pembahasan Alkitab setiap hari. Pelajaran keluarga sangat efektif kalau diadakan secara teratur. Jika pengaturannya tidak pasti atau diadakan secara mendadak tanpa perencanaan sebelumnya, kemungkinan acara itu tidak akan teratur. Jadi, orang tua harus ’membeli waktu’ untuk pelajaran keluarga itu. (Efesus 5:15-17) Memilih waktu yang pasti dan yang cocok bagi semua anggota keluarga dapat menjadi tantangan. Seorang kepala keluarga mendapati bahwa seraya anak-anak bertumbuh dewasa, dengan jadwal mereka yang berbeda-beda, semakin sulit untuk mengumpulkan seluruh keluarga bersama-sama. Tetapi, keluarga itu selalu lengkap pada malam perhimpunan. Jadi, sang ayah mengatur untuk mengadakan pelajaran keluarga pada salah satu dari malam itu. Hasilnya bagus. Ketiga anaknya sekarang sudah menjadi hamba Yehuwa yang terbaptis.
19. Bagaimana orang tua dapat meniru Yehuwa sewaktu memimpin pelajaran keluarga?
19 Akan tetapi, tidaklah cukup untuk sekadar membahas sejumlah bahan berdasarkan Alkitab selama pelajaran. Yehuwa mengajar orang-orang Israel yang kembali dari pembuangan melalui para imam, yang ’menjelaskan Hukum itu secara terperinci dan memberikan maknanya’, ”membuat orang-orang mengerti apa yang dibaca itu”. (Nehemia 8:8) Seorang ayah yang berhasil membantu ketujuh anaknya untuk mengasihi Yehuwa selalu berada di kamarnya sebelum pelajaran keluarga guna membuat persiapan, menyesuaikan bahan itu dengan kebutuhan tiap-tiap anak. Ia membuat pelajaran itu menyenangkan bagi anak-anaknya. ”Pelajaran keluarga selalu mengasyikkan,” kenang salah seorang putranya yang sudah dewasa. ”Jika kami sedang bermain bola di lapangan sewaktu dipanggil untuk pelajaran keluarga, kami segera berhenti bermain dan berlari masuk ke rumah untuk pelajaran keluarga. Itu adalah salah satu sore yang paling menyenangkan dalam minggu itu.”
20. Problem apa yang mungkin timbul yang harus diperhatikan dalam membesarkan anak-anak?
20 Sang pemazmur menyatakan, ”Lihat! Putra-putra adalah milik pusaka dari Yehuwa; buah kandungan adalah upah.” (Mazmur 127:3) Melatih anak-anak kita membutuhkan waktu dan upaya, tetapi melakukannya dengan benar dapat berarti kehidupan abadi bagi anak-anak kita. Alangkah indahnya imbalan itu nanti! Jadi, semoga kita dengan antusias meniru Yehuwa sewaktu melatih anak-anak kita. Akan tetapi, meskipun orang tua dipercayakan tanggung jawab untuk ’membesarkan [anak-anak] dengan disiplin dan pengaturan-mental dari Yehuwa’, tidak ada jaminan sukses. (Efesus 6:4) Bahkan dengan pengasuhan yang terbaik pun, seorang anak dapat memberontak dan berhenti melayani Yehuwa. Jadi, bagaimana kalau itu terjadi? Hal itu akan menjadi pokok bahasan untuk artikel berikutnya.
[Catatan Kaki]
a Pengalaman yang terdapat dalam artikel ini dan artikel berikutnya mungkin berasal dari negeri-negeri yang kebudayaannya berbeda dengan kebudayaan di tempat tinggal Saudara. Cobalah pahami prinsip-prinsip yang tersangkut, dan terapkanlah sesuai dengan kebudayaan Saudara.
-
-
Bagaimana Saudara Membantu Anak yang ”Hilang”?Menara Pengawal—2001 | 1 Oktober
-
-
Bagaimana Saudara Membantu Anak yang ”Hilang”?
”Bersukacita[-lah] karena . . . ia telah hilang dan ditemukan lagi.”—LUKAS 15:32.
1, 2. (a) Bagaimana beberapa remaja bereaksi terhadap kebenaran Kristen? (b) Apa yang mungkin dirasakan orang tua dan anak-anak yang mengalami situasi itu?
”SAYA tidak mau jadi Saksi!” Betapa terpukulnya orang tua yang takut akan Allah sewaktu mendengar kata-kata itu keluar dari mulut anaknya, padahal mereka sudah berupaya keras untuk membesarkan anak-anak mereka dengan cara Kristen! Anak muda lainnya ”hanyut” begitu saja tanpa menyatakan niatnya. (Ibrani 2:1) Banyak dari anak-anak itu mirip dengan putra yang hilang dalam perumpamaan Yesus, yang meninggalkan rumah ayahnya dan menghambur-hamburkan warisannya di sebuah negeri yang jauh.—Lukas 15:11-16.
2 Meskipun sebagian besar Saksi-Saksi Yehuwa tidak mengalami problem seperti itu, bagi mereka yang mengalaminya, tidak ada kata-kata penghiburan yang dapat sepenuhnya menyingkirkan kepedihan mereka. Dan, yang juga tak dapat diabaikan adalah ketidakbahagiaan yang dapat dialami oleh anak yang memberontak itu sendiri. Dalam lubuk hatinya, hati nuraninya mungkin amat mengganggu dia. Dalam perumpamaan Yesus, anak yang hilang itu pada akhirnya ”sadar”, sehingga membuat ayahnya bersukacita. Bagaimana orang tua serta orang-orang lain di dalam sidang dapat membantu anak yang hilang untuk ”sadar”?—Lukas 15:17.
Mengapa Beberapa Remaja Memutuskan untuk Keluar
3. Apa sajakah alasannya sehingga anak-anak muda memutuskan untuk meninggalkan sidang Kristen?
3 Ada ratusan ribu anak muda yang melayani Yehuwa dengan bahagia dalam sidang Kristen. Jadi, mengapa yang lain ingin keluar? Mereka mungkin merasa bahwa mereka tidak dapat menikmati perkara-perkara yang ditawarkan dunia ini. (2 Timotius 4:10) Atau, mereka mungkin menganggap kandang domba yang protektif milik Yehuwa terlalu mengekang. Hati nurani yang bersalah, minat yang kuat terhadap lawan jenis, atau keinginan untuk diterima oleh teman-teman sebaya dapat juga menyebabkan seorang muda hanyut dan meninggalkan kawanan Yehuwa. Seorang remaja mungkin berhenti melayani Allah karena orang tuanya atau orang Kristen lainnya tampaknya bersikap munafik.
4. Apa yang sering kali menjadi akar penyebab menyimpangnya seorang remaja?
4 Sikap dan perilaku yang memberontak dari seorang anak biasanya merupakan gejala kelemahan rohani, cerminan hatinya. (Amsal 15:13; Matius 12:34) Apa pun alasan seorang remaja menyimpang, akar masalahnya sering kali terletak pada tidak dimilikinya ”pengetahuan yang saksama tentang kebenaran”. (2 Timotius 3:7) Adalah penting bagi anak-anak muda untuk memupuk hubungan pribadi yang akrab dengan Yehuwa, bukannya sekadar menjadikan ibadat kepada-Nya sebagai rutin saja. Apa yang akan membantu mereka untuk melakukannya?
Mendekatlah kepada Allah
5. Hal penting apa yang dapat membantu seorang remaja memupuk hubungan pribadi dengan Allah?
5 ”Mendekatlah kepada Allah,” tulis Yakobus sang murid, ”dan ia akan mendekat kepadamu.” (Yakobus 4:8) Untuk melakukannya, seorang remaja harus dibantu untuk memupuk selera akan Firman Allah. (Mazmur 34:8) Pada mulanya, ia akan membutuhkan ”susu”—ajaran-ajaran dasar Alkitab. Namun, seraya ia menyenangi Firman Allah dan mengembangkan selera akan ”makanan keras”—informasi rohani yang dalam—ia akan segera mencapai kematangan rohani. (Ibrani 5:11-14; Mazmur 1:2) Seorang remaja yang mengakui bahwa ia pernah sepenuhnya terlibat dalam gaya hidup dunia ini mulai menghargai nilai-nilai rohani. Apa yang membantunya berbalik haluan? Setelah menyambut saran untuk membaca seluruh Alkitab, ia terus berpaut pada jadwal pembacaan Alkitab yang teratur. Ya, membaca Firman Allah secara teratur penting untuk memupuk ikatan yang akrab dengan Yehuwa.
6, 7. Bagaimana orang tua dapat membantu anak-anak mereka mengembangkan kegemaran akan Firman Allah?
6 Alangkah pentingnya bagi orang tua untuk membantu anak-anak mereka memupuk kegemaran akan Firman Allah! Meskipun mengikuti pelajaran keluarga yang teratur, seorang gadis bergaul dengan anak-anak berandal. Tentang pelajaran keluarganya, ia mengenang, ”Kalau Papa mengajukan pertanyaan, saya hanya membacakan jawabannya, tanpa memandang wajahnya.” Daripada sekadar membahas bahan selama pelajaran keluarga, orang tua yang bijaksana hendaknya menerapkan seni mengajar. (2 Timotius 4:2) Agar seorang remaja dapat menikmati pelajaran, ia harus merasa terlibat. Mengapa tidak mengajukan pertanyaan sudut pandangan dan membiarkan dia mengutarakan diri? Anjurkan anak remaja itu untuk membuat penerapan praktis dari bahan yang sedang dibahas.a
7 Selain itu, buatlah pembahasan Alkitab menjadi hidup. Bila memungkinkan, mintalah anak-anak melakonkan peristiwa-peristiwa dan drama dalam Alkitab. Bantu mereka memvisualisasi lokasi dan ciri-ciri negeri tempat terjadinya peristiwa yang sedang dibahas itu. Menggunakan peta dan bagan dapat membantu. Ya, dengan sedikit imajinasi, pelajaran keluarga dapat dibuat hidup dan bervariasi. Orang tua juga sebaiknya memeriksa hubungan mereka sendiri dengan Yehuwa. Seraya mereka sendiri lebih mendekat kepada Yehuwa, mereka dapat membantu anak-anak mereka untuk melakukannya juga.—Ulangan 6:5-7.
8. Bagaimana doa membantu kita mendekat kepada Allah?
8 Doa juga membantu kita mendekat kepada Allah. Seorang gadis belia merasa bingung memilih antara jalan hidup Kristen dan pergaulannya dengan teman-teman yang tidak seiman. (Yakobus 4:4) Apa yang ia lakukan? ”Untuk pertama kalinya,” ia mengaku, ”saya sungguh-sungguh berdoa kepada Yehuwa tentang perasaan saya.” Ia menyimpulkan bahwa doanya dijawab sewaktu akhirnya ia menemukan seorang sahabat di sidang yang dapat berbagi perasaan dengannya. Karena merasa bahwa Yehuwa sedang membimbingnya, ia mulai membina hubungan pribadi dengan Allah. Orang tua dapat membantu anak-anak mereka dengan meningkatkan mutu doa-doa mereka sendiri. Sewaktu berdoa sebagai satu keluarga, orang tua dapat mencurahkan isi hati mereka sehingga anak-anak mereka dapat merasakan ikatan pribadi antara orang tua dan Yehuwa.
Sabar tetapi Tegas
9, 10. Teladan apa yang Yehuwa berikan dalam bersikap panjang sabar terhadap orang Israel yang sulit diatur?
9 Sewaktu seorang remaja mulai hanyut, ia mungkin mencoba mengasingkan diri dan menolak upaya apa pun yang dibuat orang tuanya untuk membahas hal-hal rohani dengannya. Apa yang dapat dilakukan orang tua dalam situasi yang menguji ini? Perhatikan apa yang Yehuwa lakukan terhadap Israel zaman dahulu. Ia sabar menghadapi orang Israel yang ”tegar tengkuk” selama lebih dari 900 tahun sebelum akhirnya menyerahkan mereka kepada jalan mereka sendiri yang sulit diatur. (Keluaran 34:9; 2 Tawarikh 36:17-21; Roma 10:21) Meskipun berulang kali ’diuji’, Yehuwa ”berbelaskasihan” terhadap mereka. ”Berkali-kali ia meredakan kemarahannya, dan ia tidak membangkitkan seluruh kemurkaannya.” (Mazmur 78:38-42) Cara Allah berurusan dengan mereka memang tak ada cacatnya. Orang tua yang pengasih meniru Yehuwa dan bersabar sewaktu sang anak tidak segera menyambut upaya mereka untuk membantunya.
10 Bersikap panjang sabar tidak berarti ”menderita berkepanjangan”; hal itu berarti menolak untuk putus asa karena berpikir bahwa hubungan yang terganggu masih dapat diperbaiki. Yehuwa memberikan teladan tentang caranya bersikap panjang sabar. Ia mengambil inisiatif dengan mengirimkan utusan-utusan-Nya kepada orang Israel ”berulang-ulang”. Yehuwa ”beriba hati terhadap umatnya”, sekalipun ”mereka terus mempermainkan para utusan dari Allah yang benar itu dan memandang rendah firmannya”. (2 Tawarikh 36:15, 16) Ia mengimbau orang-orang Israel dengan mengatakan, ”Berbaliklah kiranya, setiap orang dari jalannya yang jahat.” (Yeremia 25:4, 5) Tetapi, Yehuwa tidak mengkompromikan prinsip-prinsip-Nya yang adil-benar. Orang Israel diinstruksikan untuk ’berbalik’ kepada Allah dan kepada jalan-jalan-Nya.
11. Bagaimana orang tua dapat bersikap panjang sabar tetapi tegas dalam berurusan dengan seorang anak yang menyimpang?
11 Orang tua dapat meniru Yehuwa dalam bersikap panjang sabar dengan tidak lekas-lekas putus harapan terhadap anak yang menyimpang. Tanpa kehilangan harapan, mereka dapat mengambil inisiatif untuk menjaga jalur komunikasi tetap terbuka atau memantapkan kembali komunikasi. Meskipun berpaut pada prinsip-prinsip yang adil-benar, mereka dapat ”berulang-ulang” mengimbau sang anak untuk kembali ke jalan kebenaran.
Jika Anak Remaja Dipecat
12. Tanggung jawab apa yang dimiliki orang tua terhadap seorang remaja yang tinggal bersama mereka tetapi yang dikeluarkan dari sidang?
12 Bagaimana jika seorang remaja yang tinggal bersama orang tuanya terlibat dalam perbuatan salah yang serius dan karena sikapnya yang tidak bertobat dikeluarkan dari sidang? Karena anak itu tinggal bersama orang tuanya, mereka masih bertanggung jawab untuk mengajar dan mendisiplin dia selaras dengan Firman Allah. Bagaimana hal itu dapat dilakukan?—Amsal 6:20-22; 29:17.
13. Bagaimana orang tua dapat berupaya mencapai hati anak mereka yang melakukan perbuatan salah?
13 Orang tua mungkin dapat—bahkan, ini yang terbaik—memberikan pengajaran dan disiplin demikian selama belajar Alkitab dengan si anak secara pribadi. Orang tua harus melihat di balik sikap keras kepala sang anak dan berupaya menilik isi hatinya. Bagaimana ruang lingkup keseluruhan dari penyakit rohaninya? (Amsal 20:5) Dapatkah bagian yang peka dari hatinya dijangkau? Ayat-ayat mana yang dapat digunakan secara efektif? Rasul Paulus meyakinkan kita, ”Firman Allah itu hidup dan mengerahkan kuasa dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun dan menusuk bahkan sampai memisahkan jiwa dan roh, serta sendi dan sumsumnya, dan dapat menilai pikiran dan niat hati.” (Ibrani 4:12) Ya, orang tua dapat berbuat lebih dari sekadar memberi tahu anak mereka untuk tidak terlibat lagi dalam perbuatan salah. Mereka dapat berupaya memprakarsai dan mendukung proses penyembuhan.
14. Apa langkah pertama yang hendaknya diambil seorang remaja yang berbuat salah untuk memulihkan hubungannya dengan Yehuwa, dan bagaimana orang tua dapat membantu sang anak mengambil langkah itu?
14 Seorang remaja yang berbuat salah perlu memulihkan hubungannya dengan Yehuwa. Langkah pertama yang harus ia ambil adalah ’bertobat dan berbalik’. (Kisah 3:19; Yesaya 55:6, 7) Dalam membantu remaja yang tinggal bersama mereka untuk bertobat, orang tua harus ”menahan diri menghadapi apa yang jahat, dengan lemah lembut mengajar” anak yang cenderung membandel. (2 Timotius 2:24-26) Mereka perlu ’menegur’ dia sesuai dengan pengertian Alkitab. Kata Yunani yang diterjemahkan ’menegur’ dapat juga diterjemahkan ”memberikan bukti yang meyakinkan”. (Penyingkapan 3:19; Yohanes 16:8) Oleh karena itu, menegur mencakup menyajikan cukup bukti untuk meyakinkan sang anak tentang haluannya yang berdosa. Memang, melakukan hal itu tidaklah mudah. Bilamana mungkin, orang tua dapat menggugah hatinya, dengan menggunakan semua sarana yang cocok dan berdasarkan Alkitab untuk meyakinkan dia. Mereka hendaknya berupaya membantu dia memahami perlunya ’membenci apa yang buruk, dan mengasihi apa yang baik’. (Amos 5:15) Ia mungkin dapat ”sadar kembali, keluar dari jerat si Iblis”.
15. Apa peranan doa dalam memulihkan hubungan orang yang berbuat salah dengan Yehuwa?
15 Untuk memulihkan hubungan dengan Yehuwa, seseorang harus berdoa. Tentu saja, tidak seorang pun boleh ”membuat permohonan” sehubungan dengan dosa yang mencolok dan yang jelas-jelas dipraktekkan dengan sengaja oleh seseorang yang pernah bergabung dengan sidang Kristen. (1 Yohanes 5:16, 17; Yeremia 7:16-20; Ibrani 10:26, 27) Namun, orang tua dapat memohonkan hikmat kepada Yehuwa untuk menghadapi situasi tersebut. (Yakobus 1:5) Jika seorang remaja yang dipecat memperlihatkan bukti-bukti pertobatan tetapi tidak memiliki ”kebebasan berbicara kepada Allah”, orang tua dapat berdoa agar jika Allah mendapati suatu dasar untuk mengampuni kesalahan sang anak, biarlah kehendak-Nya yang terjadi. (1 Yohanes 3:21) Dengan mendengar doa-doa ini, sang remaja akan terbantu untuk melihat Yehuwa sebagai Allah yang berbelaskasihan.b—Keluaran 34:6, 7; Yakobus 5:16.
16. Bagaimana kita dapat membantu anggota keluarga dari anak remaja yang telah dipecat?
16 Jika seorang remaja terbaptis dipecat, para anggota sidang diharapkan ”tidak lagi bergaul dengan” dia. (1 Korintus 5:11; 2 Yohanes 10, 11) Hal itu mungkin pada akhirnya membantu dia untuk ”sadar” dan kembali ke kandang domba yang protektif milik Allah. (Lukas 15:17) Akan tetapi, entah dia kembali atau tidak, anggota-anggota sidang dapat memberikan dukungan moril kepada keluarga dari sang remaja yang dipecat itu. Kita semua dapat mencari kesempatan untuk memperlihatkan ”sikap seperasaan” dan ”memiliki keibaan hati yang lembut” terhadap mereka.—1 Petrus 3:8, 9.
Cara Orang Lain Dapat Membantu
17. Apa yang hendaknya diingat oleh para anggota sidang sewaktu berupaya membantu seorang anak yang melenceng?
17 Bagaimana dengan seorang remaja yang tidak dipecat dari sidang Kristen tetapi menjadi lemah dalam iman? ”Jika satu anggota menderita,” tulis rasul Paulus, ”semua anggota lain menderita bersamanya.” (1 Korintus 12:26) Orang lain dapat memperlihatkan minat yang aktif kepada remaja seperti itu. Tentu saja, diperlukan kewaspadaan juga, mengingat remaja yang sakit secara rohani dapat memberikan pengaruh buruk kepada anak remaja lain. (Galatia 5:7-9) Di sebuah sidang, orang-orang dewasa yang beritikad baik yang ingin membantu beberapa remaja yang menjadi lemah secara rohani mengundang mereka untuk beramah-tamah dan memainkan musik populer bersama-sama. Meskipun tadinya anak-anak muda ini setuju dan menikmati acara-acara seperti itu, pengaruh mereka terhadap satu sama lain pada akhirnya menyebabkan mereka berhenti bergaul dengan sidang. (1 Korintus 15:33; Yudas 22, 23) Yang dapat membantu anak yang sakit rohani adalah pergaulan yang membantunya memupuk selera akan perkara-perkara rohani, bukan pertemuan sosial tanpa pengarahan rohani.c
18. Bagaimana kita dapat meniru sikap ayah dari anak yang hilang dalam perumpamaan Yesus?
18 Sewaktu seorang remaja yang telah meninggalkan sidang datang kembali ke Balai Kerajaan atau menghadiri sebuah kebaktian, coba pikirkan bagaimana perasaannya. Bukankah kita seharusnya memperlihatkan sikap menyambut seperti ayah dari anak yang hilang dalam perumpamaan Yesus? (Lukas 15:18-20, 25-32) Seorang remaja yang meninggalkan sidang Kristen dan belakangan menghadiri sebuah kebaktian distrik menyatakan, ”Saya pikir semua orang tidak akan mempedulikan orang seperti saya, tetapi saudara-saudari mendekati saya dan menyambut saya. Saya sangat tersentuh.” Ia mulai belajar Alkitab lagi dan belakangan dibaptis.
Jangan Menyerah
19, 20. Mengapa kita hendaknya memelihara sikap yang positif berkenaan dengan anak yang hilang?
19 Membantu anak yang ”hilang” untuk ”sadar” menuntut kesabaran dan dapat menjadi tantangan bagi orang tua maupun bagi orang-orang lain. Tetapi, jangan menyerah. ”Yehuwa tidak lambat sehubungan dengan janjinya, seperti anggapan beberapa orang, tetapi ia sabar kepada kamu karena ia tidak ingin seorang pun dibinasakan tetapi ingin agar semuanya bertobat.” (2 Petrus 3:9) Kita memiliki jaminan Alkitab bahwa Yehuwa ingin agar orang-orang bertobat dan tetap hidup. Bahkan, Ia sudah mengambil inisiatif dalam membuat penyelenggaraan untuk merukunkan kembali umat manusia dengan diri-Nya. (2 Korintus 5:18, 19) Kesabaran-Nya telah memungkinkan jutaan orang untuk sadar.—Yesaya 2:2, 3.
20 Oleh karena itu, tidakkah orang tua seharusnya menggunakan setiap metode yang berdasarkan Alkitab untuk membantu anak remaja mereka yang hilang agar sadar kembali? Tirulah Yehuwa, bersikaplah panjang sabar seraya Saudara mengambil langkah-langkah positif untuk membantu anak Saudara kembali kepada Yehuwa. Berpaut eratlah pada prinsip-prinsip Alkitab, dan berupayalah memperlihatkan sifat-sifat Yehuwa seperti kasih, keadilan, dan hikmat seraya Saudara berdoa kepada-Nya memohon bantuan. Sebagaimana banyak pemberontak yang keras kepala telah menyambut undangan Yehuwa yang pengasih untuk kembali, putra atau putri Saudara yang ”hilang” mungkin akan kembali ke kawanan protektif milik Allah.—Lukas 15:6, 7.
[Catatan Kaki]
a Untuk saran-saran lebih lanjut tentang cara mengajar anak-anak remaja dengan efektif, lihat Menara Pengawal, 1 Juli 1999, halaman 13-17.
b Doa-doa demikian tidak akan disampaikan di depan umum pada perhimpunan demi kepentingan seorang anak yang dipecat, mengingat orang lain mungkin tidak tahu kondisi orang yang dipecat itu.—Lihat The Watchtower, 15 Oktober 1979, halaman 31.
c Untuk saran-saran spesifik, lihat Awake!, 22 Juni 1972, halaman 13-16; Sedarlah!, 22 September 1996, halaman 21-23.
-