PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Hendaklah ”Damai Sejahtera Allah” Menjaga Hati Saudara
    Menara Pengawal—1991 | 1 Maret
    • Dasar yang Lebih Baik untuk Perdamaian

      12. Bagaimana Israel akhirnya menolak perdamaian dengan Allah?

      12 Pada akhirnya, Benih yang akan memulihkan keadaan damai yang selengkapnya tiba dalam pribadi Yesus, dan pada waktu kelahirannya para malaikat bernyanyi: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya.” (Lukas 2:14) Yesus muncul di Israel, namun meskipun berada di bawah perjanjian Allah, bangsa itu secara umum menolak dia dan menyerahkan dia kepada orang-orang Roma untuk dibunuh. Tidak lama sebelum kematiannya, Yesus meratapi Yerusalem, dengan berkata: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.” (Lukas 19:42; Yohanes 1:11) Karena menolak Yesus, Israel sama sekali kehilangan damai dengan Allah.

      13. Cara baru apa yang Yehuwa tetapkan bagi manusia untuk berdamai dengan Dia?

      13 Meskipun demikian, maksud-tujuan Allah tidak digagalkan. Yesus dibangkitkan dari antara orang mati, dan ia mempersembahkan kepada Yehuwa nilai dari kehidupannya yang sempurna sebagai tebusan bagi manusia-manusia yang berhati benar. (Ibrani 9:11-14) Korban Yesus menjadi jalan yang baru dan lebih baik bagi umat manusia—bagi Israel dan non-Israel jasmani—untuk memperoleh perdamaian dengan Allah. Paulus berkata dalam suratnya kepada umat Kristen di Roma: “Ketika masih seteru, [kita] diperdamaikan dengan Allah oleh kematian AnakNya.” (Roma 5:10) Pada abad pertama, mereka yang berdamai dengan cara ini diurapi dengan roh suci untuk diangkat menjadi anak-anak Allah dan anggota-anggota suatu bangsa rohani yang baru yang disebut “Israel milik Allah.”—Galatia 6:16; Yohanes 1:12, 13; 2 Korintus 1:21, 22; 1 Petrus 2:9.

      14, 15. Gambarkan damai dari Allah, dan jelaskan bagaimana hal ini melindungi umat Kristen sekalipun mereka menjadi sasaran kebencian Setan.

      14 Orang-orang Israel rohani yang baru ini akan menjadi sasaran kebencian Setan dan dunianya. (Yohanes 17:14) Akan tetapi, mereka akan memiliki “damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita.” (2 Timotius 1:2) Yesus memberi tahu mereka: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”—Yohanes 16:33.

      15 Inilah damai sejahtera yang telah membantu Paulus dan rekan-rekan Kristianinya bertahan meskipun semua penderitaan yang mereka hadapi. Hal itu mencerminkan hubungan damai yang harmonis dengan Allah yang dimungkinkan oleh korban Yesus. Ini memberikan kepada pemiliknya kedamaian pikiran dan ketenangan karena ia menyadari perhatian Yehuwa kepadanya. Seorang anak yang berada dalam pelukan bapaknya yang penuh kasih mempunyai perasaan damai yang sama, kepastian sepenuhnya bahwa ia dijaga oleh seseorang yang menyayangi dia. Paulus menganjurkan jemaat di Filipi: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”—Filipi 4:6, 7.

      16. Bagaimana perdamaian dengan Allah mempengaruhi hubungan umat Kristen abad pertama terhadap satu sama lain?

      16 Salah satu akibat dari hilangnya perdamaian manusia dengan Allah adalah kebencian dan perselisihan. Bagi umat Kristen pada abad pertama, menemukan keadaan damai dengan Allah justru menghasilkan hal sebaliknya: perdamaian dan persatuan di antara mereka sendiri, yang Paulus sebut “ikatan damai sejahtera [yang mempersatukan, NW].” (Efesus 4:3) Mereka ‘sehati sepikir dan hidup dalam damai sejahtera, dan Allah sumber kasih dan damai sejahtera menyertai mereka.’ Selain itu, mereka memberitakan “Kabar Baik tentang damai,” yang pada dasarnya adalah kabar baik tentang keselamatan bagi “orang yang layak menerima damai sejahtera,” mereka yang menyambut kabar baik.—2 Korintus 13:11; Kisah 10:36, BIS; Lukas 10:5, 6.

      Suatu Perjanjian Damai

      17. Apa yang telah Allah adakan dengan umat-Nya pada zaman sekarang?

      17 Apakah damai sejahtera demikian dapat ditemukan dewasa ini? Ya, dapat. Sejak didirikannya Kerajaan Allah di bawah Kristus Yesus yang dimuliakan pada tahun 1914, Yehuwa telah mengumpulkan sisa dari orang-orang Israel milik Allah ke luar dari dunia ini dan mengadakan perjanjian damai dengan mereka. Dengan demikian Ia memenuhi janji-Nya yang diucapkan melalui nabi Yehezkiel: “Aku akan mengadakan perjanjian damai dengan mereka, dan itu akan menjadi perjanjian yang kekal dengan mereka. Aku akan memberkati mereka dan membuat mereka banyak dan memberikan tempat kudusKu di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya.” (Yehezkiel 37:26) Yehuwa mengadakan perjanjian ini dengan umat Kristen terurap yang, seperti halnya saudara-saudara mereka pada abad pertama, mengamalkan iman kepada korban Yesus. Dimurnikan dari polusi rohani, mereka membaktikan diri mereka kepada Bapak surgawi mereka dan berupaya mengikuti perintah-perintah-Nya, yang terutama dengan memelopori pemberitaan kabar baik tentang Kerajaan Allah yang sudah berdiri ke seluas dunia.—Matius 24:14.

      18. Bagaimana sambutan orang-orang dari antara bangsa-bangsa ketika mereka menyadari bahwa nama Allah ada pada Israel milik Allah?

      18 Nubuat itu selanjutnya berbunyi: “Tempat kediamanKupun akan ada pada mereka dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu. Maka bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Aku, [Yehuwa], menguduskan Israel.” (Yehezkiel 37:27, 28) Selaras dengan ini, ratusan ribu, ya jutaan orang, dari “berbagai-bagai bangsa” mengakui bahwa nama Yehuwa ada pada Israel milik Allah. (Zakharia 8:23) Dari segala bangsa, mereka datang untuk melayani Yehuwa bersama bangsa rohani itu, membentuk “kumpulan besar” yang dilihat sebelumnya di Wahyu. Karena “telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih dalam darah Anak Domba,” mereka akan selamat melewati sengsara besar memasuki dunia baru yang penuh damai.—Wahyu 7:9, 14.

      19. Kedamaian apa yang dinikmati umat Allah sekarang?

      19 Bersama-sama, Israel milik Allah dan kumpulan besar menikmati kedamaian rohani yang dapat disamakan dengan kedamaian yang dinikmati Israel di bawah Raja Salomo. Mengenai mereka, Mikha menubuatkan: “Mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. Tetapi mereka masing-masing akan duduk di bawah pohon anggurnya dan di bawah pohon aranya dengan tidak ada yang mengejutkan.” (Mikha 4:3, 4; Yesaya 2:2-4) Selaras dengan ini, mereka telah meninggalkan peperangan dan pertikaian, secara simbolik menempa pedang mereka menjadi mata bajak dan tombak mereka menjadi pisau pemangkas. Dengan demikian, mereka menikmati persaudaraan yang penuh damai dalam masyarakat internasional mereka, tidak soal kebangsaan, bahasa, suku, atau latar belakang sosial mereka. Mereka merasa senang atas kepastian dari penjagaan dan perlindungan Yehuwa. ‘Tidak ada yang mengejutkan mereka.’ Benar, ‘Yehuwa sendiri memberikan kekuatan kepada umat-Nya, Yehuwa sendiri memberkati umat-Nya dengan sejahtera!’—Mazmur 29:11.

      20, 21. (a) Mengapa kita harus berupaya memelihara perdamaian kita dengan Allah? (b) Apa yang dapat kita katakan tentang upaya Setan untuk menghancurkan kedamaian dari umat Allah?

      20 Akan tetapi, sebagaimana pada abad pertama M., damai sejahtera hamba-hamba Allah telah menimbulkan kebencian Setan. Setan dilemparkan dari surga setelah Kerajaan Allah berdiri pada tahun 1914, dan sejak itu ia berperang melawan “keturunan yang lain dari wanita itu.” (Wahyu 12:17, BIS) Bahkan pada zaman dia, Paulus mengingatkan: “Perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan . . . roh-roh jahat di udara.” (Efesus 6:12) Karena Setan sekarang harus tetap tinggal di sekitar bumi, peringatan itu sangat mendesak.

      21 Setan telah menggunakan berbagai taktik dalam upayanya untuk menghancurkan kedamaian dari umat Allah, tetapi ia telah gagal. Pada tahun 1919 dahulu, tidak sampai 10.000 orang yang berupaya melayani Allah dengan setia. Sekarang, lebih dari empat juta orang mengalahkan dunia melalui iman mereka. (1 Yohanes 5:4) Bagi orang-orang ini, perdamaian dengan Allah dan perdamaian dengan satu sama lain merupakan kenyataan, sebagaimana mereka bertekun menanggung kebencian Setan dan benihnya. Akan tetapi mengingat kebencian ini, dan mempertimbangkan ketidaksempurnaan kita sendiri dan “masa yang sukar” yang kita alami sekarang, kita harus dengan rajin berupaya memelihara damai sejahtera kita. (2 Timotius 3:1) Dalam artikel berikutnya, kita akan melihat apa yang tercakup dalam hal ini.

  • ’Kejarlah Perdamaian dan Berusahalah Mendapatkannya’
    Menara Pengawal—1991 | 1 Maret
    • ’Kejarlah Perdamaian dan Berusahalah Mendapatkannya’

      ”[Yehuwa] itu besar, Dia menginginkan keselamatan [”damai sejahtera,” ”NW”] hambaNya!”​—MAZMUR 35:27.

      1. Kedamaian apa yang kita alami sekarang?

      BETAPA senangnya untuk berada dalam keadaan damai dalam dunia yang terpecah-belah ini! Betapa bahagianya beribadat kepada Yehuwa, ”Allah damai sejahtera,” dan ikut menikmati berkat-berkat dari ”perjanjian damai”-Nya! Betapa menyegarkan, di tengah-tengah tekanan hidup ini, untuk mengenal ”damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal” dan mengalami ”ikatan damai” yang mempersatukan umat Allah tidak soal kebangsaan, bahasa, suku atau latar belakang sosial mereka!—1 Tesalonika 5:23; Yehezkiel 37:26; Filipi 4:7; Efesus 4:3.

      2, 3. (a) Meskipun umat Allah secara keseluruhan akan bertahan, apa yang dapat terjadi atas orang perorangan dari umat Kristen? (b) Alkitab mendesak kita untuk melakukan apa?

      2 Sebagai Saksi-Saksi Yehuwa, kita menghargai perdamaian ini. Akan tetapi, kita tidak dapat menganggap hal itu sudah semestinya. Perdamaian tidak dapat dipertahankan secara otomatis hanya karena kita bergabung dengan sidang Kristen atau kebetulan menjadi bagian dari suatu keluarga Kristen. Meskipun kaum sisa terurap dan rekan-rekan mereka dari ”domba-domba lain” sebagai satu kawanan akan bertahan sampai ke akhir, orang perorangan bisa saja kehilangan kedamaian mereka dan jatuh.—Yohanes 10:16; Matius 24:13; Roma 11:22; 1 Korintus 10:12.

      3 Rasul Paulus mengingatkan umat Kristen yang terurap pada zamannya: ”Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya [”tidak beriman,” BIS] oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.” (Ibrani 3:12) Peringatan ini juga berlaku atas kumpulan besar. Jadi Alkitab mendesak umat Kristen: ’Kejarlah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya. Sebab mata Yehuwa tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Yehuwa menentang orang-orang yang berbuat jahat.’—1 Petrus 3:10-12; Mazmur 34:15, 16.

      ”Keinginan Daging”

      4. Apa yang dapat mengganggu damai kita dengan Allah?

      4 Apa yang dapat mengganggu upaya kita untuk mendapatkan perdamaian? Paulus menyebutkan satu hal ketika ia berkata: ”Keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah.” (Roma 8:6, 7) Dengan ”daging,” Paulus memaksudkan keadaan kita yang sudah jatuh sebagai manusia yang tidak sempurna dengan kecenderungan yang kita warisi untuk berdosa. Menyerah kepada kecenderungan daging yang berdosa akan merusak perdamaian kita. Jika seorang Kristiani tidak mau bertobat dari imoralitas, dusta, mencuri, menggunakan obat bius, atau dengan cara lain melanggar hukum ilahi, ia merusak perdamaian dengan Yehuwa yang pernah ia alami. (Amsal 15:8, 29; 1 Korintus 6:9, 10; Wahyu 21:8) Selain itu, jika ia membiarkan perkara-perkara materi menjadi lebih penting baginya daripada perkara-perkara rohani, damai dengan Allah yang ia nikmati akan sangat terancam.—Matius 6:24; 1 Yohanes 2:15-17.

      5. Apa artinya mengejar perdamaian?

      5 Sebaliknya, Paulus berkata: ”Keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” Damai sejahtera adalah bagian dari buah-buah roh, dan jika kita melatih hati kita untuk menghargai perkara-perkara rohani, berdoa memohon roh Allah agar membantu kita dalam hal ini, maka kita akan menghindari ”keinginan daging.” (Galatia 5:22-24) Di 1 Petrus 3:10-12, damai sejahtera dikaitkan dengan keadaan yang benar. (Roma 5:1) Petrus berkata bahwa mengejar perdamaian berarti ”menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik.” Roh Allah dapat membantu kita ’mengejar keadilan’ dan dengan demikian memelihara perdamaian kita dengan Allah.—1 Timotius 6:11, 12.

      6. Apa salah satu tanggung jawab dari para penatua sehubungan dengan perdamaian dari sidang?

      6 Mengejar perdamaian merupakan perhatian utama para penatua di sidang. Misalnya, jika seseorang mencoba memasukkan praktik-praktik yang membawa pengaruh buruk, para penatua bertanggung jawab untuk melindungi sidang dengan mencoba menegur si pedosa. Jika ia menerima teguran itu, damai sejahtera yang ia miliki sebelumnya akan pulih kembali. (Ibrani 12:11) Jika tidak, ia mungkin harus dikeluarkan agar hubungan yang penuh damai dari sidang dengan Yehuwa dapat dipertahankan.—1 Korintus 5:1-5.

      Perdamaian dengan Saudara-Saudara Kita

      7. Apa saja perwujudan dari ”keinginan daging” yang Paulus peringatkan kepada jemaat di Korintus?

      7 ’Keinginan daging’ dapat merusak bukan hanya perdamaian kita dengan Allah tetapi juga hubungan kita yang baik dengan orang-orang Kristen lainnya. Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: ”Kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?” (1 Korintus 3:3) Iri hati dan perselisihan adalah lawan perdamaian.

      8. (a) Apa yang dapat terjadi atas seseorang yang menimbulkan iri hati dan perselisihan dalam sidang? (b) Perdamaian kita dengan Allah bergantung atas apa?

      8 Mengganggu perdamaian dalam sidang dengan menyebabkan timbulnya iri hati dan perselisihan adalah hal yang sangat serius. Ketika berbicara tentang sifat yang ada hubungannya dengan damai sejahtera sebagai buah dari roh, rasul Yohanes memperingatkan: ”Jikalau seorang berkata: ’Aku mengasihi Allah’; dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1 Yohanes 4:20) Dengan cara yang sama, jika seseorang menimbulkan iri hati atau perselisihan di antara saudara-saudara, dapatkah ia benar-benar berdamai dengan Allah? Pasti tidak! Kita didesak: ”Teruslah bersukacita, memperbaiki diri, dihiburkan, sehati sepikir, hidup dalam damai sejahtera; maka Allah sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!” (2 Korintus 13:11, NW) Ya, jika kita terus hidup berdamai dengan satu sama lain, maka Allah sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kita.

      9. Bagaimana kita tahu bahwa di antara umat Kristen kadang-kadang terjadi salah-pengertian dan perselisihan?

      9 Hal ini tidak berarti bahwa tidak akan pernah ada salah-pengertian di antara orang-orang Kristen. Dalam minggu-minggu setelah Pentakosta, perselisihan timbul dalam sidang Kristen yang masih muda mengenai pembagian makanan setiap hari. (Kisah 6:1) Pada suatu peristiwa perselisihan antara Paulus dan Barnabas memuncak menjadi ”perselisihan yang tajam.” (Kisah 15:39) Paulus harus menasihati Euodia dan Sintikhe, yang tidak diragukan lagi adalah saudari-saudari yang baik dan bergairah, ”supaya sehati sepikir dalam Tuhan.” (Filipi 4:2) Tidak mengherankan bahwa Yesus memberikan nasihat yang terinci mengenai cara mengatasi hal-hal yang mengganggu perdamaian di antara orang-orang Kristen dan ia menonjolkan pentingnya problem-problem demikian ditangani dengan segera! (Matius 5:23-25; 18:15-17) Ia tidak akan memberikan nasihat ini jika ia tidak mengantisipasi terjadinya kesulitan di antara pengikut-pengikutnya.

      10. Kadang-kadang situasi apa timbul di sidang, dan tanggung jawab apa yang dituntut dari semua yang terlibat?

      10 Maka, dewasa ini, mungkin sekali seseorang bisa tersinggung oleh kata-kata yang kurang bijaksana atau sikap merendahkan yang ia rasakan dari rekan Kristiani. Sifat tertentu dalam diri seseorang dapat sangat menyebalkan orang lain. Konflik kepribadian dapat terjadi. Seseorang dapat sangat menentang keputusan para penatua. Dalam badan penatua sendiri, seorang penatua mungkin berpendirian keras dan mencoba mengungguli penatua-penatua lain. Meskipun hal-hal demikian terjadi, kita tetap harus mengejar perdamaian dan berusaha mendapatkannya. Tantangannya adalah untuk menangani problem-problem ini dengan cara Kristen demi memelihara ”ikatan damai sejahtera.”—Efesus 4:3.

      11. Persediaan apa yang Yehuwa adakan untuk membantu kita mengejar perdamaian dengan satu sama lain?

      11 Alkitab berkata: ”[Yehuwa] itu besar, Dia menginginkan keselamatan [”damai sejahtera,” NW] hambaNya!” (Mazmur 35:27) Ya, Yehuwa ingin agar kita dalam keadaan damai. Karena itu, Ia telah membuat dua persediaan yang luar biasa untuk membantu kita memelihara perdamaian di antara kita sendiri dan dengan Dia. Yang pertama adalah roh kudus, yang salah satu buahnya ialah damai sejahtera, disertai dengan sifat-sifat pembawa damai yang berhubungan dengan itu, seperti panjang sabar, kebaikan, kelembutan, dan pengendalian diri. (Galatia 5:22, 23) Yang satu lagi adalah hikmat ilahi, tentang mana kita membaca: ”Hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah [”berakal sehat,” NW], penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik.”—Yakobus 3:17, 18.

      12. Apa yang harus kita lakukan jika perdamaian dengan saudara-saudara kita terganggu?

      12 Karena itu, apabila perdamaian kita dengan orang-orang lain terganggu, kita harus berdoa memohon hikmat dari atas agar diberi tahu bagaimana kita harus bertindak, dan kita harus memohon roh suci agar menguatkan kita untuk melakukan apa yang benar. (Lukas 11:13; Yakobus 1:5; 1 Yohanes 3:22) Selaras dengan doa kita, kita kemudian dapat berpaling kepada sumber hikmat ilahi, yakni Alkitab, untuk bimbingan, dan juga memeriksa lektur Alkitab yang tersedia untuk memperoleh nasihat tentang cara menerapkan ayat-ayat Alkitab. (2 Timotius 3:16) Kita mungkin juga dapat mencari nasihat dari para penatua di dalam sidang. Langkah terakhir adalah menerapkan bimbingan yang diterima. Yesaya 54:13 berkata: ”Semua anakmu akan menjadi murid [Yehuwa], dan besarlah kesejahteraan mereka.” Hal ini menunjukkan bahwa perdamaian kita bergantung kepada penerapan hal-hal yang diajarkan Yehuwa kepada kita.

      ”Berbahagialah Orang yang Membawa Damai”

      13, 14. (a) Apa yang ditunjukkan oleh pernyataan ”orang yang membawa damai” yang Yesus gunakan? (b) Bagaimana kita dapat menjadi pembuat damai?

      13 Yesus, dalam Khotbah di Bukit, berkata: ”Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Matius 5:9) ”Orang yang membawa damai” di sini tidak memaksudkan seseorang yang sekedar mempunyai sifat tenang. Kata tersebut dalam bahasa Yunani berarti ”pembuat damai.” Orang yang membuat damai cakap dalam memulihkan perdamaian bila itu diganggu. Namun, lebih penting lagi, pembuat damai terutama berupaya tidak merusak perdamaian yang sudah ada. ’Damai sejahtera memerintah dalam hatinya.’ (Kolose 3:15) Jika hamba-hamba Allah berupaya menjadi pembuat damai, maka problem-problem di antara mereka akan dijaga sesedikit mungkin.

      14 Untuk menjadi pembuat damai kita harus menyadari kelemahan kita sendiri. Misalnya, seorang Kristiani mungkin cepat marah atau sensitif dan mudah tersinggung. Di bawah tekanan, emosinya dapat membuat dia lupa akan prinsip-prinsip Alkitab. Hal ini dapat diharapkan dalam diri manusia yang tidak sempurna. (Roma 7:21-23) Meskipun demikian, permusuhan, perselisihan, dan luapan amarah disebutkan sebagai keinginan daging. (Galatia 5:19-21) Jika kita mendapati adanya kecenderungan demikian dalam diri kita sendiri—atau jika hal itu dibawa kepada perhatian kita oleh orang lain—kita hendaknya berdoa dengan sungguh-sungguh dan dengan tak hentinya memohon agar roh Yehuwa mengembangkan dalam diri kita pengendalian diri dan kelembutan. Sesungguhnya, setiap orang harus berupaya memupuk sifat-sifat demikian sebagai bagian dari kepribadiannya yang baru.—Efesus 4:23, 24; Kolose 3:10, 15.

      15. Bagaimana hikmat dari atas berlawanan dengan sikap keras kepala yang tanpa akal sehat?

      15 Kadang kala, sebuah sidang atau badan penatua diganggu oleh seseorang yang keras kepala, selalu memaksakan keinginannya sendiri. Memang, bila itu menyangkut hukum ilahi, seorang Kristiani harus berpendirian teguh, bahkan tidak bersifat lentuk. Juga, jika kita merasa memiliki gagasan yang baik yang dapat membawa manfaat kepada orang-orang lain, tidak ada salahnya untuk mengungkapkan diri secara terus terang, asalkan kita menjelaskan alasan kita. Akan tetapi kita tidak ingin seperti mereka dari dunia yang ”tidak mau berdamai.” (2 Timotius 3:1-4) Hikmat dari atas itu suka damai, berakal sehat [mau bertukar pikiran]. Mereka yang tindakannya membentuk pola yang keras kepala dan tidak lentuk harus memperhatikan nasihat Paulus kepada jemaat di Filipi agar ”tidak mencari kepentingan sendiri.”—Filipi 2:3.

      16. Bagaimana nasihat Paulus dalam buku Filipi membantu kita mengatasi sifat mementingkan diri?

      16 Dalam surat yang sama, Paulus berkata bahwa kita harus, ”dengan rendah hati,” dengan tulus ’menganggap orang lain lebih utama daripada diri kita sendiri.’ Ini justru kebalikan dari mementingkan diri. Yang ada dalam pikiran seorang Kristiani yang matang janganlah terutama untuk memaksakan gagasan-gagasannya sendiri, ingin menjaga kehormatan, atau melindungi kedudukan dan wewenangnya sendiri. Hal ini bertentangan dengan nasihat Paulus untuk ”tidak memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”—Filipi 2:4; 1 Petrus 5:2, 3, 6.

      Kata-Kata yang Membawa Damai

      17. Sebutkan penggunaan yang salah dari lidah yang dapat mengganggu perdamaian sidang.

      17 Orang yang mengejar perdamaian khususnya berhati-hati dalam menggunakan lidahnya. Yakobus memperingatkan: ”Lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat membual dan membesar-besarkan. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.” (Yakobus 3:5, NW) Gosip yang jahat, kritik terhadap orang lain di belakang punggung mereka, kata-kata yang tidak ramah dan kasar, bisikan bersungut-sungut dan mengeluh, dan juga sanjungan yang tidak jujur demi keuntungan pribadi—semua ini merupakan keinginan daging yang mengganggu perdamaian umat Allah.—1 Korintus 10:10; 2 Korintus 12:20; 1 Timotius 5:13; Yudas 16.

      18. (a) Bila secara tidak disengaja lidah digunakan dengan salah, haluan yang benar apa hendaknya diambil setiap orang yang tersangkut? (b) Apabila kemarahan menyebabkan seseorang mengucapkan kata-kata yang menyakitkan, bagaimana reaksi orang-orang Kristen yang matang?

      18 Memang, Yakobus berkata: ”Tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah.” (Yakobus 3:8) Bahkan orang-orang Kristen yang matang kadang-kadang mengucapkan kata-kata yang dengan setulus hati mereka sesali belakangan. Kita semua berharap agar orang-orang lain akan memaafkan kita atas kesalahan-kesalahan demikian seperti kita juga memaafkan mereka. (Matius 6:12) Kadang-kadang luapan amarah yang sengit dapat menimbulkan kata-kata yang menyakitkan. Maka, seorang pembuat damai akan ingat bahwa ”jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” (Amsal 15:1) Sering kali, ia terpaksa menarik nafas yang dalam dan tidak mau menanggapi kata-kata amarah dengan kata-kata amarah pula. Belakangan, pada waktu kemarahan sudah reda, pembuat damai yang berhati lapang mengetahui bagaimana caranya melupakan kata-kata yang diucapkan dalam keadaan marah. Demikian pula, orang Kristiani yang rendah hati akan mengetahui cara meminta maaf dan berupaya menyembuhkan luka-luka yang ia timbulkan. Dibutuhkan kekuatan moral untuk dengan jujur mengatakan, ”Maafkan saya.”

      19. Apa yang kita pelajari dari Paulus dan Yesus tentang cara memberikan nasihat?

      19 Lidah kadang kala diperlukan untuk menasihati orang-orang lain. Paulus menegur Petrus di hadapan umum ketika Petrus bertindak salah di Antiokhia. Yesus juga memberikan nasihat yang tegas dalam pesannya kepada ketujuh sidang. (Galatia 2:11-14; Wahyu pasal 2, 3) Jika kita meneliti contoh-contoh ini, kita melihat bahwa nasihat hendaknya tidak demikian lembut sehingga tujuannya menjadi tidak jelas. Meskipun demikian, Yesus dan Paulus tidak kasar atau kejam. Nasihat mereka bukan luapan frustrasi mereka sendiri. Mereka sungguh-sungguh berupaya membantu saudara-saudara mereka. Jika orang yang memberikan nasihat merasa bahwa ia tidak dapat sepenuhnya mengendalikan lidahnya, ia dapat memutuskan untuk berhenti sejenak dan menenangkan diri sebelum melanjutkan perkataannya. Kalau tidak, ia dapat mengucapkan kata-kata yang kasar dan mengakibatkan problem yang lebih buruk daripada problem yang sedang ia coba tangani.—Amsal 12:18.

      20. Apa yang harus membimbing segala sesuatu yang kita katakan kepada atau mengenai saudara dan saudari kita?

      20 Seperti sudah disebutkan, damai sejahtera dan kasih sangat berkaitan sebagai buah-buah roh. Jika apa yang kita ucapkan kepada saudara-saudara kita—atau mengenai diri mereka—selalu merupakan cerminan dari kasih kita kepada mereka, maka hal ini akan menyumbang kepada perdamaian sidang. (Yohanes 15:12, 13) Tutur kata kita hendaknya ”penuh kasih, jangan hambar [”dimasinkan dengan garam,” Bode].” (Kolose 4:6) Itu hendaknya sedap didengar, menarik bagi hati. Yesus menasihati: ”Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.”—Markus 9:50.

      ”Kamu Harus Berusaha Sekuat Tenaga”

      21. Apa yang nyata berkenaan umat Allah pada perhimpunan mingguan dan selama kebaktian?

      21 Pemazmur menulis: ”Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!” (Mazmur 133:1) Memang, kita senang bergaul dengan saudara-saudara kita, khususnya di perhimpunan mingguan kita dan selama kebaktian. Pada waktu-waktu demikian perdamaian yang kita miliki nyata bahkan bagi orang-orang luar.

      22. (a) Bangsa-bangsa tidak lama lagi akan berpikir telah mencapai perdamaian semu macam apa, yang mengarah kepada apa? (b) Perdamaian sejati apa yang akan diberikan oleh perjanjian damai dari Allah?

      22 Tidak lama lagi bangsa-bangsa akan mengira bahwa mereka mencapai perdamaian tanpa Yehuwa. Akan tetapi, seraya mereka mengatakan, ”Semuanya damai dan aman,” kebinasaan tiba-tiba akan menimpa semua orang yang tidak berdamai dengan Allah. (1 Tesalonika 5:3) Setelah itu, Pangeran Perdamaian yang agung akan mulai menyembuhkan umat manusia dari akibat-akibat yang membawa bencana karena manusia pada awal mula kehilangan perdamaian dengan Allah. (Yesaya 9:5, 6; Wahyu 22:1, 2) Pada waktu itu, perjanjian damai dari Allah akan menghasilkan kesejahteraan seluas dunia. Bahkan binatang-binatang di padang tidak akan membenci lagi.—Mazmur 37:10, 11; 72:3-7; Yesaya 11:1-9; Wahyu 21:3, 4.

      23. Jika kita menghargai harapan akan dunia baru yang penuh damai, apa yang harus kita lakukan sekarang?

      23 Betapa menakjubkan masa itu! Apakah saudara dengan penuh harap menantikannya? Jika demikian, ”berusahalah hidup damai dengan semua orang.” Kejarlah perdamaian sekarang, dengan sesama saudara, dan khususnya dengan Yehuwa. Ya, ”sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha [”sekuat tenaga,” NW], supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapanNya, dalam perdamaian dengan Dia.”—Ibrani 12:14; 2 Petrus 3:14.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan