PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Apakah Saudara Mempunyai Pikiran Kristus?
    Menara Pengawal—1986 (Seri 31) | Menara Pengawal—1986 (Seri 31)
    • Apakah Saudara Mempunyai Pikiran Kristus?

      ”Semoga Allah, sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kepada kamu sekalian sikap mental yang sama seperti dimiliki oleh Kristus Yesus.”—ROMA 15:5, NW.

      1. Jika seseorang mengaku Kristen, pertanyaan-pertanyaan apa harus dijawab?

      LEBIH dari satu milyar orang di seluruh dunia disebut orang Kristen. Apa artinya hal ini? Bahwa, sedikitnya sesuai dengan nama itu, mereka percaya kepada Yesus Kristus dan mengaku sebagai pengikut-pengikut, atau murid-muridnya. (Matius 10:24, 25) Namun apa yang dibutuhkan untuk mengikuti teladan, atau pola kehidupan Kristus? Jelas, saudara harus mengenal dia. Apakah saudara benar-benar mengenal Yesus dari Nazaret? Apakah saudara mempunyai gambaran yang jelas mengenai pribadi macam apa ia selama berada di atas bumi? Atau cara bagaimana ia memberikan tanggapan kepada orang-orang dalam berbagai keadaan? Apakah saudara mempunyai ”pikiran Kristus”?—1 Korintus 2:16; Efesus 4:13.

      2, 3. Bagaimana kita dapat mengetahui pikiran Kristus?

      2 Bagaimana kita dapat mengenal seseorang yang hidup hampir dua ribu tahun yang lalu dan yang terjun dalam masyarakat hanya kira-kira tiga setengah tahun? Dalam hal Yesus, ada empat biografi yang dapat dipercaya yang membantu membangun suatu gambaran mental mengenai pribadi macam apa ia sebenarnya. Dengan membaca keempat kisah Injil itu dengan saksama, kita juga dapat mengetahui pola berpikir yang menggerakkan tindakan-tindakannya. Jadi, apa yang diperlukan untuk menjadi seorang Kristen yang sejati dan bukan hanya Kristen dalam nama saja? Yesus menyatakannya sebagai berikut, ”Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”—Yohanes 17:3; 2 Petrus 3:18.

      3 Jadi, setiap orang Kristen harus mempunyai pengetahuan dan pengertian yang mendalam mengenai sang Bapa, Yehuwa, dan kehidupan serta ajaran sang Putra, Kristus Yesus. Menyebut diri seorang Kristen saksi dari Yehuwa saja tidak cukup. Untuk memiliki pikiran Kristus, kita harus dengan tetap tentu mengisi pikiran kita dengan pengertian tentang kehidupan dan teladan Yesus. Itu berarti kita perlu dengan tetap tentu dan sungguh-sungguh mempelajari ayat-ayat Alkitab beserta alat-alat bantuan pelajaran Alkitab yang membantu menjelaskan arti dan ikatan kalimatnya. Kita juga harus mempunyai keadaan mental yang benar agar kita dapat mengerti dan menerima peranan Kristus dalam maksud-tujuan Allah.—Yohanes 5:39-47; Matius 24:45-47.

      Seorang yang Mempunyai Perasaan

      4. Pria macam apakah Yesus itu?

      4 Yesus, seorang pria yang sehat dan aktif, melaksanakan pelayanannya pada waktu ia berusia 30 tahun. (Lukas 3:23) Tetapi pria macam apakah ia? Apakah ia tidak mempunyai minat pribadi dan tidak ramah? Sebaliknya, karena ia seorang Yahudi di Timur Tengah, ia selalu bersikap terbuka. Ia tidak suka menyembunyikan perasaannya dan bersifat introvert atau sibuk dengan diri sendiri. Ia menyatakan di depan umum berbagai macam perasaan manusiawi, perasaan sedih dan belas kasihan serta juga perasaan kesal dan marah yang patut.—Markus 6:34; Matius 23:13-36.

      5. Bagaimana reaksi Yesus ketika mendengar tentang kematian Lazarus?

      5 Misalnya, bagaimana reaksi Yesus ketika ia melihat Marta dan Maria menangis karena kehilangan saudara mereka Lazarus? Kisah Yohanes menceritakan kepada kita, ”Hatinya sedih, dan ia tampak terharu sekali,” lalu ia ”menangis.” (Yohanes 11:33-36, BIS) Ia ikut merasakan apa yang dialami sahabat-sahabat karibnya. Ia tidak malu untuk menangis bersama mereka. Meskipun ia ”Anak Allah,” ia memperlihatkan perasaan yang sangat manusiawi. (Yohanes 1:34) Hal itu pasti sangat mengharukan bagi Marta dan Maria!—Bandingkan Lukas 19:41-44.

      6. Mengapa Yesus tidak berlaku kurang jantan karena ia menangis?

      6 Tetapi, dewasa ini ada yang mungkin menarik kesimpulan bahwa Yesus seorang yang lemah karena ia menangis di depan umum bersama kedua wanita itu. Pengarang Katolik Hilaire Belloc malahan menyebut Yesus ”cengeng.” Benarkah itu? Apakah Yesus tidak bersikap jantan seperti yang sering digambarkan dalam karya-karya seni Susunan Kristen? Tidak, air mata tidak selalu merupakan tanda kelemahan. Seperti dikatakan sebuah majalah kedokteran, ”Larangan untuk menyatakan perasaan yang halus dengan sepatutnya tidak masuk akal dan juga merugikan . . . Menyatakan perasaan yang halus, terutama dengan menangis, adalah sifat manusia yang unik.”—Bandingkan 2 Samuel 13:36-38; Yohanes 11:35.

      7. Dalam hal apa saja teladan kelemahlembutan Yesus dapat membantu kita dewasa ini?

      7 Reaksi Yesus terhadap penderitaan benar-benar manusiawi dan menunjukkan kelemahlembutan. Hal itu membantu kita untuk meniru dia dan pikirannya. Kita tidak mengikuti seorang tokoh dalam dongeng yang tidak berperasaan tetapi sebaliknya teladan manusia sempurna yang diutus oleh Allah, ”Anak Allah yang hidup.” (Matius 16:16; Yohanes 3:16, 17; 6:68, 69) Benar-benar suatu teladan bagi semua orang Kristen dewasa ini, terutama para penatua Kristen, yang sering harus memberikan penghiburan dan memperlihatkan tenggang rasa kepada orang-orang yang merasa kehilangan dan tertekan! Ya, mempunyai pikiran dan hati Kristus pada kejadian-kejadian semacam itu akan sangat mempengaruhi keadaan.—1 Tesalonika 2:7, 8.

      Seorang Pria yang Tegas dan Berani

      8. Bagaimana Yesus memperlihatkan keberanian dan tindakan yang tegas?

      8 Yesus juga memperlihatkan bahwa ia seorang pria yang mempunyai pendirian yang teguh dan tindakan yang dinamis. Misalnya, dalam dua peristiwa ia dengan tegas mengusir pedagang-pedagang hewan dan penukar-penukar uang dari bait. (Markus 11:15-17; Yohanes 2:13-17) Ia juga tidak menahan diri untuk menyingkapkan di hadapan umum kemunafikan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang menganggap diri paling benar. Dalam tegurannya yang berani, ia memperingatkan, ”Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.” Di sini ia tentu tidak memperlihatkan kelemahan!—Matius 23:27, 28; Lukas 13:14-17.

      9, 10. (a) Mengapa Yesus tidak berdosa dengan menunjukkan kemarahan? (b) Bagaimana seharusnya pengaruh teladan Kristus terhadap seorang penatua Kristen?

      9 Apakah kemarahan Yesus merupakan bukti kurangnya pengendalian diri? Petrus, seorang rekan dekat dari Yesus selama pelayanannya, menyatakan, ”Ia tidak berbuat dosa.” (1 Petrus 2:22) Rasul Paulus menulis, ”Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” (Ibrani 4:15) Ada perbedaan antara kemarahan yang patut dan terkendali, dengan kemarahan yang tidak terkendali.—Bandingkan Amsal 14:17; Efesus 4:26.

      10 Karena itu, meskipun seorang penatua Kristen, misalnya, ”bukan pemberang,” ia pasti harus mempunyai kekuatan moral untuk dapat ”meyakinkan [”menegur,” NW] penentang-penentangnya,” bahkan ”dengan tegas” jika perlu. Ia harus cakap ’menyatakan kesalahan, menegor, dan menasihati.’ (Titus 1:7-13; 2 Timotius 4:1, 2) Keadaan-keadaan tertentu dapat juga membangkitkan kemarahannya yang patut, terutama jika ia melihat suatu ancaman yang nyata terhadap persatuan, kerohanian, atau kebersihan moral sidang. Seperti kata Paulus, kadang-kadang ’perlu menutup mulut’ dari orang-orang yang mengucapkan ’omongan sia-sia yang menyesatkan pikiran’ dan ”mengacau banyak keluarga dengan mengajarkan yang tidak-tidak untuk mendapat untung yang memalukan.” Dalam hal-hal sedemikian, memiliki pikiran Kristus akan membantu para penatua untuk berani, seimbang, dan bersikap tegas.—Lihat 1 Korintus 5:1-5; Wahyu 2:20-23; 3:19.

      11. Pertanyaan-pertanyaan apa ada hubungannya dengan cara kita meniru Kristus?

      11 Dalam perjalanannya melalui Galilea, Samaria dan Yudea, Yesus berurusan dengan berbagai macam orang—pria, wanita, anak-anak, orang sakit, dan orang-orang yang menganggap dia sebagai musuh besar. Cara bagaimana ia berurusan dengan mereka? Apakah ia tinggi hati dan dingin, atau mudah didekati? Apakah ia dapat ikut merasakan problem-problem dan godaan yang dialami orang-orang itu? Apakah ia tidak suka mengampuni atau berbelas kasihan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini ada hubungannya dengan cara kita meniru Kristus dalam tindakan dan reaksi kita setiap hari.—Roma 15:5; Filipi 2:5.

      Bagaimana Reaksi Yesus terhadap Anak-Anak?

      12. Bagaimana reaksi murid-murid, dan Yesus, terhadap anak-anak pada suatu peristiwa?

      12 Ada sebuah kisah yang sangat indah tentang bagaimana reaksi Yesus terhadap anak-anak di Markus pasal 10, ayat 13-16. Bunyinya, ”Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-muridNya memarahi orang-orang itu.” Mengapa murid-murid melakukan hal itu tidak diceritakan oleh kisah tersebut. Pada waktu itu tahun 33 M., dan Yesus sedang dalam perjalanan dari Galilea melalui Perea menuju Yerusalem dan sekitarnya yang akan menjadi tempat pelayanannya yang terakhir kepada umum. Mungkin mereka menganggap Yesus terlalu penting atau terlalu sibuk untuk memikirkan anak-anak pada waktu itu. Tetapi, apakah ia sendiri menunjukkan bahwa ia terlalu sibuk? ”Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka [murid-murid itu], ’Biarkan anak-anak itu datang kepadaKu, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. . . . ’ Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tanganNya atas mereka Ia memberkati mereka.”

      13. Bagaimana reaksi orang-orang terhadap Yesus?

      13 Nah, apalagi yang dapat kita pelajari dari hal itu mengenai pikiran Kristus? Hal itu menggambarkan bahwa ia bersikap tegas terhadap murid-muridnya yang bersalah dan bersikap lemah lembut terhadap mereka yang lebih kecil. Ia mengerti apa yang menggerakkan para orangtua tersebut untuk membawa anak-anak mereka kepadanya. Mereka ingin agar ia memegang dan memberkati anak-anak mereka. Dan apa yang disingkapkan oleh hal itu kepada kita tentang Yesus? Bahwa orang-orang tidak takut atau merasa segan kepadanya. Ia ramah terhadap semua orang, dan orang-orang ingin bergaul dengannya. Bahkan anak-anak tidak merasa canggung di dekatnya—dan ia juga tidak merasa canggung di antara anak-anak. Apakah orang-orang, termasuk anak-anak, tidak merasa canggung untuk bergaul dengan saudara?—Markus 1:40-42; Matius 20:29-34

      14. Dalam hal mudah didekati, siapa yang teristimewa harus mengikuti teladan Yesus?

      14 Yesus memperlihatkan kasih sayang dan keramahan yang hangat. (Markus 9:36, 37) Ia mudah dihampiri dan didekati. Sebagai pengikut Kristus, apakah saudara mempunyai pikirannya dalam hal itu? Para pengawas Kristen dalam distrik, wilayah, sidang-sidang, dan kantor-kantor cabang Lembaga Menara Pengawal di seluruh dunia, ada baiknya menanyakan diri sendiri: Apakah saya dogmatis dan kaku? Atau apakah saya membuat orang-orang lain, bahkan anak-anak, merasa tidak canggung dengan saya? Apakah saya benar-benar mudah didekati?—Amsal 12:18; Pengkhotbah 7:8.

      Cara Yesus Berurusan dengan Kaum Wanita

      15, 16. Bagaimana Yesus berbeda dari orang-orang Yahudi lain dalam cara berurusan dengan kaum wanita?

      15 Sebagai penatua, hamba, dan saudara pria di sidang Kristen, apakah kita mempunyai pikiran Kristus bila berurusan dengan saudari-saudari Kristen kita dan kaum wanita pada umumnya? Bagaimana reaksi Kristus, seorang pria lajang, dalam berbagai macam keadaan pada waktu ia berurusan dengan kaum wanita di jamannya?

      16 Dalam masyarakat Yahudi yang dikuasai oleh kaum pria, Yesus seorang guru yang luar biasa karena mau berbicara kepada kaum wanita, bahkan wanita-wanita yang bukan Yahudi. (Yohanes 4:7-30) Misalnya, ketika ia mengunjungi suatu keluarga di daerah Kafir Tirus dan Sidon, seorang wanita Yunani memohon agar ia membantu anak perempuannya yang dirasuk roh jahat. Biasanya, orang Yahudi yang ortodoks tidak akan mau berurusan dengannya. Tetapi Yesus mendengarkan dan menguji imannya, dengan mengatakan, ”Biarlah anak-anak [Yahudi] kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing [Kafir].” Apakah nada Yesus sedemikian rupa sehingga persoalan itu berhenti sampai di sana saja? Apakah ia secara dogmatis memutuskan pembicaraan lebih lanjut? Jelas tidak, karena dengan bijaksana wanita itu menjawab, ”Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Yesus terkesan, dan ia menyembuhkan anak perempuannya.—Markus 7:24-30.

      17. Apa yang dapat kita pelajari dari cara Yesus berurusan dengan seorang wanita yang adalah pedosa?

      17 Yesus tidak berprasangka terhadap para wanita dan tidak menilai berdasarkan apa yang kelihatan dari luar. (Matius 22:16) Pada peristiwa lain, ketika sedang makan di rumah seorang Farisi, ia membiarkan seseorang yang dikenal sebagai pedosa, kemungkinan seorang pelacur, untuk membasuh kakinya dan kemudian mengurapinya dengan minyak. Melalui perbuatannya wanita itu memperlihatkan sikap bertobat dari haluannya yang berdosa. (Lukas 7:36-50) Yesus tidak mencegahnya dan menyuruhnya pergi berdasarkan penilaian yang sudah umum karena wanita itu imoral. (Lihat juga Yohanes 4:7-30.) Ia mengampuni wanita itu ”sebab ia telah banyak berbuat kasih.” Apa yang ditunjukkan oleh hal itu mengenai pikiran Kristus? Ia berbelas kasihan dan penuh pengertian terhadap wanita itu. Tidak dapatkah kita bertindak sama seperti itu di sidang dan dalam pelayanan kita?—Lukas 19:1-10; Roma 14:10-13; 1 Korintus 6:9-11.

      Cara Yesus Berurusan dengan Murid-Muridnya

      18. (a) Bagaimana reaksi beberapa orang terhadap orang-orang yang bekerja di bawah mereka? (b) Bagaimana cara Yesus memperlakukan murid-muridnya dan orang-orang lain? (Markus 6:54-56)

      18 Kadang-kadang orang-orang yang mempunyai kekuasaan merasa terancam oleh bawahan mereka. Mereka mengekang apa yang di bawah sadar mereka anggap sebagai persaingan. Keangkuhan diutamakan. Mereka cepat mengritik dan lambat memberikan pujian kepada orang-orang yang bekerja di bawah mereka. Dengan pernyataan-pernyataan yang bersifat merendahkan mereka tidak menghormati wibawa pribadi dari orang-orang lain. Tetapi bagaimana dengan Yesus—bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang ada di bawahnya, murid-muridnya? Apakah mereka dibuat merasa lebih rendah, tidak memenuhi syarat, atau bodoh? Atau sebaliknya, apakah mereka merasa tidak canggung untuk bekerja bersama Yesus?—Bandingkan Matius 11:28-30; 25:14-23.

      19. Apa yang diajarkan oleh Yohanes 13:1-17 kepada kita tentang Yesus?

      19 Dalam hal ini, salah satu pelajaran yang menonjol yang Yesus ajarkan kepada murid-muridnya terdapat dalam Yohanes pasal 13. Kami sarankan agar saudara membaca ayat 1 sampai 17. Pada jaman itu jalan-jalan raya penuh debu, dan suatu kebiasaan untuk menyuruh seorang budak membasuh kaki para tamu. Yesus melakukan tugas yang kasar itu sendiri. Sifat apa yang ia tonjolkan dengan membasuh kaki dari murid-muridnya? Ia memberi mereka suatu pelajaran yang praktis mengenai kerendahan hati. Apa yang kita pelajari dari ini mengenai pikiran Kristus? Kata-kata Yesus memberikan jawabannya, ”Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.”—Yohanes 13:16, 17.

      20. Analisa diri sendiri apa dapat kita lakukan untuk melihat apakah kita mempunyai pikiran Kristus?

      20 Apakah kita mempunyai pikiran Kristus dalam hal ini? Apakah kita mau melaksanakan pekerjaan-pekerjaan kasar di rumah dan di sidang? Atau apakah kita hanya ingin melakukan hal-hal yang kelihatannya ”penting” atau yang akan membuat kita nampak ”istimewa”? Apakah kita mau ikut ambil bagian dalam pekerjaan memberitakan kabar baik dari rumah ke rumah yang kadang-kadang dipandang rendah? Atau apakah kita hanya menginginkan tugas-tugas di mimbar Balai Kerajaan? Sesungguhnya, mempunyai pikiran Kristus akan membuat kita tetap rendah hati dan mudah didekati, sama seperti Yesus.—Roma 12:3.

      21. Bagaimana Yesus memperlihatkan timbang rasa terhadap rasul-rasulnya? Terhadap kumpulan banyak orang?

      21 Sekali peristiwa, setelah suatu kampanye pengabaran istimewa, Yesus memperlihatkan perhatian yang besar kepada para rasul. Walaupun sempurna, Yesus tidak mengharapkan kesempurnaan dari orang-orang lain. Pada akhir kampanye pengabaran, ia tidak mendesak agar murid-murid itu segera kembali kepada pekerjaan pengabaran mereka dan berbuat lebih baik lagi. Ia memikirkan kebutuhan mereka untuk istirahat dan mengajak mereka ke suatu tempat yang sepi untuk beristirahat. Tetapi ketika orang banyak mengikuti mereka, apakah Yesus merasa jengkel dan tidak sabar? Tidak, karena ’hatinya tergerak oleh belas kasihan kepada mereka,’ kata kisah itu.—Markus 6:30-34.

      22. Apa yang akan membantu kita untuk mengerti pikiran Kristus lebih lanjut?

      22 Dengan teladan yang sedemikian baiknya, apakah mengherankan bahwa sebagian besar dari para rasul menjadi pengikut-pengikut yang setia dari Kristus? Petrus pasti terkesan oleh hal-hal yang ia pelajari ketika bergaul erat dengan Yesus. Ia mungkin memberikan sebagian besar dari keterangan itu kepada Markus untuk kisah Injilnya. Dan dengan lambat namun pasti Petrus menyesuaikan diri dengan pikiran Kristus. Dengan mempelajari suratnya yang pertama kita dibantu untuk mengikuti teladan Kristus secara lebih saksama.—Matius 16:15-17, 21-23.

  • Yesus, Teladan untuk Diikuti dengan Saksama
    Menara Pengawal—1986 (Seri 31) | Menara Pengawal—1986 (Seri 31)
    • Yesus, Teladan untuk Diikuti dengan Saksama

      ”Sebab untuk itukah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejaknya.”—1 PETRUS 2:21.

      1, 2. Murid macam apakah Petrus selama pelayanannya dengan Yesus?

      SELAMA jangka waktu tiga setengah tahun, Simon, yang akhirnya dikenal sebagai Kefas, atau Petrus, mempunyai hak istimewa untuk menikmati pergaulan yang akrab dengan Kristus Yesus. (Yohanes 1:35-42) Setelah menjadi murid selama kira-kira satu tahun, ia disebut sebagai salah seorang dari ke-12 rasul. (Markus 3:13-19) Kisah-kisah Injil memperlihatkan bahwa Petrus adalah seorang yang berani, bertindak tanpa pikir panjang, dan suka menyatakan perasaan. Dialah yang mengatakan bahwa ia tidak pernah akan menyangkal Kristus, tidak soal apa yang akan terjadi. Namun, di bawah tekanan, ia menyangkalnya tiga kali, tepat seperti telah dinubuatkan oleh Yesus.—Matius 26:31-35; Markus 14:66-72.

      2 Petrus adalah rasul yang mengatakan kepada Yesus, ”Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Kemudian ketika Yesus menegurnya, ia beralih kepada ekstrim satunya dan mengatakan, ”Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku.” (Yohanes 13:1-17) Simon Petrus yang sama ini juga yang, ketika Yesus ditangkap, bertindak berani dengan mengeluarkan pedangnya dan memotong telinga kanan dari Malkhus, budak dari imam besar. Hal itu juga mendatangkan teguran dari Yesus, ”Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepadaKu?”—Yohanes 18:10, 11.

      3. Apa yang dapat kita pelajari dari teladan Petrus?

      3 Apa yang ditunjukkan oleh hal-hal ini dan peristiwa-peristiwa lain mengenai Petrus? Bahwa ia sering kali tidak berpikir dan membuat pertimbangan seperti Yesus. Selain itu, bahwa ia tidak selalu mempunyai pikiran Kristus. Kita sendiri pun sering juga demikian. Kita gagal dalam memperhatikan masalah-masalah selaras dengan cara berpikir Yesus. Reaksi kita sering kali salah oleh karena sifat ketidaksempurnaan manusiawi kita.—Lukas 9:46-50; Roma 7:21-23.

      4. Peristiwa-peristiwa apa belakangan mempengaruhi cara berpikir Petrus? (Lihat Galatia 2:11-14.)

      4 Tetapi, ada perubahan atas diri Petrus sejak hari Pentakosta dan seterusnya. Karena digerakkan oleh roh kudus, ia memelopori pekerjaan pengabaran di kalangan orang-orang Yahudi di Yerusalem. (Kisah pasal 2-5) Di bawah penerangan dari roh kudus, ia juga menyesuaikan pikirannya agar selaras dengan pikiran Kristus berkenaan orang-orang Kafir. (Kisah, pasal 10) Petrus memperlihatkan kerendahan hati, suatu sifat yang penting bagi kita jika kita ingin selaras dengan Kristus.—Matius 18:3; 23:12.

      Tidak Melihat tetapi Mengenalnya

      5, 6. Apakah fakta bahwa kita tidak pernah melihat Kristus merupakan halangan untuk mengikuti teladannya?

      5 Ketika Petrus menulis surat terilhamnya yang pertama, kira-kira pada tahun 62-64 S.M., ia mempunyai waktu untuk merenungkan kembali pelayanannya bersama Yesus dan untuk memahami dengan lebih baik pikiran Yesus atas hal-hal tertentu. Di bagian permulaan dari suratnya, rasul itu mengakui suatu fakta yang sederhana—bahwa sebagian besar dari saudara-saudara di Asia Kecil tidak pernah mengenal Yesus secara pribadi seperti dia sendiri. Tetapi apakah hal itu merupakan penghalang untuk mempunyai pikiran Kristus dan meniru teladannya? Petrus mengatakan, ”Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihiNya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihatNya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.”—1 Petrus 1:8, 9.

      6 Kata-kata Petrus juga harus diterapkan atas semua umat Yehuwa dewasa ini. Kita tidak mengenal Kristus secara pribadi, namun jika kita ”dengan rajin menyelidiki dan meneliti dengan saksama” dan ’terus memeriksanya’ sama seperti para nabi, maka kita, dalam suatu tingkat yang lebih luas, dapat mempunyai pikiran Kristus.—1 Petrus 1:10, 11, NW.

      Yesus, Teladan yang Sempurna

      7, 8. (a) Nasihat umum apa diberikan Petrus dalam suratnya yang pertama? (b) Apa arti dasar dari hy·po·gram·mosʹ? Bagaimana Petrus menerapkan hal itu?

      7 Karena mempunyai pengertian yang lebih jelas tentang cara berpikir Yesus dan dibimbing oleh roh kudus, Petrus dapat memberikan nasihat kepada rekan-rekan seimannya mengenai cara mencerminkan pikiran Kristus dalam keadaan mereka yang berbeda-beda. (2 Timotius 3:16) Jadi, ia menasihati semua orang Kristen ”sebagai pendatang dan perantau” untuk menjauhkan diri dari keinginan-keinginan jasmani. Ia menganjurkan mereka, meskipun mereka menderita demi kebenaran, untuk memelihara tingkah laku yang baik dalam kehidupan mereka sehari-hari.—1 Petrus 2:11, 12.

      8 Beberapa baris setelah itu Petrus memberikan sebuah perumpamaan yang hampir tidak kentara, dengan mengatakan, ”Jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejakNya.” (1 Petrus 2:20, 21) Kata Yunani yang diterjemahkan ”teladan,” ialah hy·pogram·mosʹ. Kata ini secara aksara berarti ”tulisan di bawah,” atau ”salinan dari tulisan, termasuk semua huruf abjad yang diberikan kepada seorang pemula sebagai alat bantuan dalam belajar menggambarnya.” (A Greek-English Lexicon of the New Testament, J. H. Thayer) Jadi, anak-anak sekolah kadang-kadang diberi lempengan-lempengan yang terbuat dari lilin [semacam batu tulis.] dan di atasnya guru telah menuliskan huruf-huruf sebagai contoh dengan sebuah stilus [semacam pena]. Murid itu harus mengikuti contoh tersebut dan mencoba membuat tiruan yang persis sama di bawahnya. Di sini Petrus membuat suatu penegasan, karena ia adalah satu-satunya penulis Alkitab Yunani yang menggunakan kata hy·po·gram·mosʹ. Dengan itu ia menonjolkan fakta bahwa Yesus meninggalkan teladan yang sempurna untuk ditiru para pengikutnya.

      9. Apa yang dinyatakan oleh kata Yunani yang diterjemahkan ”sikap mental”? (Bandingkan Matius 20:28.)

      9 Belakangan, Petrus menarik suatu pelajaran bagi kita dari ketekunan Kristus menahan penderitaan. ”Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran [”sikap mental,” NW; bahasa Yunani, enʹnoi·an] yang demikian.” (1 Petrus 4:1) Di sini sekali lagi ia menggunakan sebuah kata yang tidak lazim, enʹnoi·a, yang hanya terdapat dua kali dalam Alkitab Yunani. (Lihat Ibrani 4:12, The Kingdom Interlinear Translation.) Menurut J. H. Thayer, enʹnoi·a berarti ”pikiran, pengertian, niat; cara berpikir dan perasaan.” Maka, kita harus menyesuaikan diri dengan cara berpikir dan perasaan Kristus. Tetapi bagaimana kita dapat membuat penyesuaian itu? Sejauh manakah hal itu harus kita lakukan?

      10. Apa yang Petrus maksudkan dengan pernyataan ”mempersenjatai dirimu”?

      10 Petrus secara istimewa menggunakan kata kerja Yunani ho·pliʹsa·sthe, yang berarti ’mempersenjatai diri sebagai prajurit’. Setiap prajurit yang mempersenjatai dirinya dengan separuh hati, kemungkinan besar tidak akan dapat bertahan untuk waktu yang lama dalam pertempuran. Jadi, ucapan Petrus menyatakan bahwa kita tidak bisa bertindak suam-suam kuku dalam meniru cara berpikir Yesus. Kita harus sepenuh jiwa dalam keinginan untuk mempunyai ”sikap mental” atau ”cara berpikir” Kristus. (1 Petrus 4:1, Todayˈs English Version) Hal ini mengingatkan kita kepada cara Paulus menandaskan agar seorang Kristen harus mempersenjatai dirinya dengan ”seluruh perlengkapan senjata Allah” untuk dapat berdiri teguh melawan Setan dan dunianya.—Efesus 6:11-18.

      Sikap Mental Kristus bagi Istri-Istri

      11. Nasihat apa yang diberikan Petrus untuk para istri Kristen?

      11 Di pertengahan suratnya, Petrus mengalihkan perhatian kepada istri-istri dan kaum suami. Dalam dunia kafir pada jaman purba itu, hak-hak bagi kaum wanita hanya sedikit, kalaupun ada. Sangat sulit bagi seorang wanita Kristen untuk mempertahankan integritasnya jika ia mempunyai suami yang tidak beriman. Ia menjadi sasaran caci maki, harus menderita, dan kemungkinan diceraikan karena telah meninggalkan allah-allah nenek moyang. Keadaannya tidak jauh berbeda di jaman modern. Tetapi Petrus sekali lagi menandaskan pentingnya mempunyai sikap mental Kristus, yaitu rela menderita demi kebenaran. Ia mengatakan, ”Demikian juga [seperti Kristus, sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya] kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu.”—1 Petrus 3:1, 2.

      12. (a) Bagaimana ketundukan, roh yang lemah lembut dari seorang istri mencerminkan teladan Yesus? (1 Korintus 11:3) (b) Bagaimana sikap istri yang lemah lembut dipandang oleh Allah, dan kemungkinan besar oleh suaminya?

      12 Ya, teman hidup yang tidak beriman kadang-kadang dapat dimenangkan, tidak perlu dengan cara taktik terus mengabar kepadanya, tetapi dengan tingkah laku yang ’saleh’ serta teladan yang ”setia dan sungguh-sungguh” dari istri yang tunduk. (1 Petrus 3:2, The Jerusalem Bible) ”Roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah,” juga dapat membantu suaminya untuk melihat hasil dari memiliki pikiran Kristus dalam kehidupan sehari-hari. (1 Petrus 3:4) Mengapa roh yang lemah lembut itu mencerminkan sikap Yesus? Karena Yesus sendiri mengatakan, ”Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”—Matius 11:29.

      Sikap Mental Kristus bagi Para Suami

      13. Bagaimana para suami harus memperlakukan istri mereka? (Efesus 5:28, 29, 33)

      13 Suami-suami juga harus mencerminkan sikap mental Kristus seraya mereka memperlihatkan kasih yang sejati terhadap istri mereka. Petrus sekali lagi menasihati, ”Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana [”dengan penuh pengertian,” BIS] dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka.” (1 Petrus 3:7) Bagi dunia kafir pada jaman purba, nasihat ini benar-benar aneh—menghormati seorang wanita! Tetapi sidang Kristen harus berbeda dari dunia. Dalam perkawinan Kristen, masing-masing harus mempunyai martabat dan saling menghormati.—1 Petrus 4:3, 4.

      14. Bagaimana seorang suami dapat memperlihatkan hormat dan timbang rasa kepada istrinya?

      14 Kristus selalu mempunyai timbang rasa terhadap murid-muridnya dan kumpulan banyak orang yang mengikuti dia. (Markus 6:30-44) Hal ini erat hubungannya dengan nasihat Petrus kepada para suami agar mempertimbangkan keadaan dari istri mereka sebagai wanita. Sebuah terjemahan bahasa Spanyol menyatakannya sebagai berikut, ”Berkenaan suami-suami: hendaklah bijaksana dalam kehidupan bersama, perlihatkan timbang rasa kepada sang wanita, karena ia lebih rapuh keadaannya.” (Nueva Biblia Española) Jika seorang suami mengikuti teladan Kristus, ia akan memikirkan sifat-sifat kewanitaan yang sangat peka dari kehidupan istrinya. Hal itu termasuk hari-hari yang sulit manakala ia membutuhkan lebih banyak keramahan, kesabaran, dan timbang rasa. Suami yang pengasih tentu akan mempraktekkan pengendalian diri dan tidak terlalu menuntut pada keadaan-keadaan sedemikian. Kasih sejati berarti rela berkorban.—Bandingkan Imamat 15:24; 20:18; 1 Korintus 7:3-6.

      15. Teladan apa yang Yesus berikan dalam soal-soal kekepalaan?

      15 Memang, ”suami adalah kepala isteri.” Tetapi siapakah yang menjadi teladan baginya dalam melaksanakan kekepalaan itu? Paulus menjelaskan hal ini dengan menambahkan, ”sama seperti Kristus adalah kepala jemaat.” (Efesus 5:23) Kata-kata yang bersifat menerangkan ini menyatakan bahwa tidak boleh ada tindakan sewenang-wenang dan kejam dalam hubungan perkawinan Kristen. Pada waktu berurusan dengan murid-muridnya, Kristus tidak pernah menyalahgunakan kekuasaannya (kekepalaannya) tetapi, sebaliknya, menggunakan kekuasaannya selaras dengan prinsip-prinsip Alkitab.—Bandingkan Matius 16:13-17, 20; Lukas 9:18-21.

      Teladan Kristus bagi Kaum Pria

      16. (a) Mengapa Petrus benar-benar memahami perlunya kerendahan hati? (b) Siapa yang terutama harus memperlihatkan sifat ini?

      16 Dalam pelayanannya Yesus selalu menonjolkan sifat rendah hati. Dalam perumpamaan tentang mereka yang diundang ke suatu pesta perkawinan, ia mengatakan, ”Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 14:11) Petrus benar-benar memahami sikap mental Yesus dalam hal ini. Bukankah ia mengingat teladan Yesus dalam membasuh kaki murid-muridnya? (Yohanes 13:4-17) Karena itu, dalam suratnya yang pertama ia menasihati pria-pria yang sudah tua dan masih muda untuk memperlihatkan sikap rendah hati. Para penatua ’tidak boleh memerintah atas sidang tetapi menjadi teladan bagi kawanan’. Pria-pria muda harus tunduk kepada para penatua. Tetapi mereka semua, tua dan muda, harus ’mengenakan kerendahan hati, sebab Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati’.—1 Petrus 5:1-5, NW.

      17. Bagaimana kata kerja Yunani untuk ’kenakanlah’ menekankan dinas yang rendah hati?

      17 Di sini sekali lagi Petrus secara unik menggunakan kata yang menegaskan pokok mengenai kerendahan hati. Ia mengatakan, ”Kenakanlah [bahasa Yunani, eg·kom·boʹsa·sthe] kerendahan hati.” Kata kerja ini berasal dari sebuah akar kata yang berarti mengikat dan ada hubungannya dengan ”celemek putih dari budak-budak, yang diikatkan pada ikat pinggang bajunya . . . dan membedakan budak-budak dari orang merdeka; jadi, . . . mengenakan kerendahan hati sebagai jubah pelayananmu . . . berarti, dengan mengenakan kerendahan hati perlihatkan ketundukanmu kepada satu sama lain.”—A Greek-English Lexicon of the New Testament, J. H. Thayer

      18. (a) Apa yang harus ada dalam pikiran pria-pria yang berbakti berkenaan motif mereka? (b) Dengan cara istimewa apa banyak saudari merupakan teladan dalam kerendahan hati?

      18 Bagaimana pria-pria yang berbakti dapat menerapkan nasihat itu dewasa ini? Dengan mengakui bahwa kedudukan bertanggung jawab apapun dalam sidang Kristen merupakan tugas pelayanan yang harus dilakukan dengan rendah hati. Ada yang mungkin salah berpikir bahwa untuk menjadi pelayan sidang, penatua, pengawas wilayah, distrik, atau Bethel merupakan usaha mendapat kedudukan yang tinggi dan berwenang. Jika demikian mereka tidak mempunyai pikiran Kristus berkenaan soal-soal itu. Ambisi yang mementingkan diri tidak akan ada jika kita mempunyai sikap mental Kristus. Motif kita untuk melayani Allah dan saudara-saudara kita harus murni. Misalnya, banyak dari saudari-saudari Kristen kita menonjol dalam dinas perintis dan utusan injil. Saudari-saudari lain menjadi penyair yang bergairah dari kabar baik meskipun mengalami penganiayaan atau tentangan dalam keluarga. Dan semua ini mereka lakukan bukan oleh karena kelak ingin menjadi pelayan sidang atau pengawas!

      Kasih—Dasar dari Teladan Kristus

      19. Apa dasar dari teladan Kristus? Bagaimana kita mengetahui hal itu?

      19 Apa yang terutama Petrus tekan berkenaan pikiran Kristus? Ia menulis, ”Yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.” (1 Petrus 4:8) Bagaimana Yesus mencerminkan kasih itu? Ia mengajarkan, ”Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15:12, 13) Tidak lama setelah itu, Yesus mengorbankan kehidupannya demi umat manusia. Dan pasti kasihnya telah menutupi banyak sekali dosa! Maka, jika kita benar-benar mempunyai sikap mental yang sama seperti yang Yesus miliki, kita juga akan memperlihatkan ’kasih yang sungguh-sungguh seorang akan yang lain’ dan suka mengampuni.—Kolose 3:12-14; Amsal 10:12.

      20. Jika kita ingin mengikuti teladan Kristus dengan saksama, apa yang harus dilakukan oleh kita semua?

      20 Teladan Kristus dapat diringkaskan dalam satu kata—kasih. Jika kita benar-benar mengikuti teladan Yesus dengan saksama dalam semua hal yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan, kita juga akan mempraktekkan kasih. Seperti Petrus katakan, ”Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.”—1 Petrus 3:8, 9.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan