PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Umat Kristen dan Masyarakat Manusia Dewasa Ini
    Menara Pengawal—1993 | 1 Juli
    • Umat Kristen dan Masyarakat Manusia Dewasa Ini

      ”[Kamu] akan dibenci semua bangsa oleh karena namaKu.”—MATIUS 24:9.

      1. Apa yang merupakan ciri khas dari kekristenan?

      KETERPISAHAN dari dunia merupakan ciri khas umat Kristen masa awal. Dalam doa kepada Bapa surgawinya, Yehuwa, Kristus berkata tentang murid-muridnya, ”Aku telah memberikan firmanMu kepada mereka dan dunia mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.” (Yohanes 17:14) Sewaktu di bawa ke hadapan Pontius Pilatus, Yesus berkata, ”KerajaanKu bukan dari dunia ini.” (Yohanes 18:36) Keterpisahan kekristenan zaman dulu dari dunia dibuktikan oleh Kitab-Kitab Yunani Kristen dan oleh para sejarawan.

      2. (a) Apakah akan ada perubahan dalam hal hubungan antara para pengikut Yesus dengan dunia ini seraya waktu berlalu? (b) Apakah Kerajaan Yesus harus datang melalui ditobatkannya bangsa-bangsa?

      2 Apakah belakangan Yesus menyingkapkan bahwa akan ada perubahan dalam hal hubungan antara para pengikutnya dengan dunia dan bahwa Kerajaannya akan datang melalui ditobatkannya dunia ini kepada kekristenan? Tidak. Setelah kematian Yesus, para pengikutnya tidak pernah diilhami untuk menulis, tentang hal seperti itu bahkan menyebut secara samar-samar pun tidak. (Yakobus 4:4 [ditulis tidak lama sebelum tahun 62 M]; 1 Yohanes 2:15-17; 5:19 [ditulis kira-kira tahun 98 M]) Sebaliknya, Alkitab menghubungkan ”kehadiran” Yesus serta ’kedatangannya’ dalam kuasa Kerajaan dengan ”penutup sistem perkara ini”, yang mencapai klimaksnya pada ”kesudahannya”, atau kebinasaannya. (Matius 24:3 [NW], 14, 29, 30; Daniel 2:44; 7:13, 14) Dalam tanda yang Yesus berikan berkenaan pa·rou·siʹa, atau kehadirannya, ia berkata tentang pengikut-pengikutnya yang sejati, ”Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena namaKu.”—Matius 24:9.

      Umat Kristen yang Sejati Dewasa Ini

      3, 4. (a) Bagaimana sebuah ensiklopedia Katolik melukiskan umat Kristen masa awal? (b) Dengan istilah-istilah serupa apa Saksi-Saksi Yehuwa dan umat Kristen masa awal dilukiskan?

      3 Kelompok agama mana dewasa ini, yang telah memperoleh bagi dirinya suatu nama baik dalam hal kesetiaan kepada prinsip-prinsip Kristen dan keterpisahan dari dunia ini, yang anggota-anggotanya dibenci dan dianiaya? Nah, organisasi Kristen seluas dunia mana yang cocok dengan setiap aspek dari gambaran sejarah tentang umat Kristen masa awal? Berkenaan hal ini, New Catholic Encyclopedia berkata, ”Masyarakat Kristen zaman dahulu, meskipun pada mulanya dianggap hanya sebagai salah satu sekte di dalam lingkungan masyarakat Yahudi, terbukti unik dalam ajaran teologianya, dan lebih terutama lagi dalam hal kegairahan anggota-anggotanya, yang melayani sebagai saksi-saksi bagi Kristus ’di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi’ (Kisah 1.8).”—Jilid 3, halaman 694.

      4 Perhatikan kata-kata ”dianggap hanya . . . salah satu sekte”, ”unik dalam ajaran”, ”kegairahan . . . sebagai saksi-saksi”. Dan sekarang lihatlah bagaimana ensiklopedia yang sama melukiskan Saksi-Saksi Yehuwa, ”Sebuah sekte . . . Saksi-Saksi sangat yakin bahwa akhir dunia ini akan datang dalam waktu beberapa tahun lagi. Kepercayaan yang teguh ini rupanya adalah kuasa penggerak yang paling kuat di balik kegairahan mereka yang tidak kenal lelah. . . . Kewajiban dasar setiap anggota sekte ini adalah bersaksi bagi Yehuwa dengan mengumumkan Kerajaan-Nya yang kian mendekat. . . . Mereka memandang Alkitab sebagai satu-satunya sumber kepercayaan dan peraturan tingkah laku mereka . . . Untuk menjadi Saksi yang sejati, seseorang harus secara efektif mengabar dengan satu atau lain cara.”—Jilid 7, halaman 864-5.

      5. (a) Dalam hal apa pengajaran Saksi-Saksi Yehuwa unik? (b) Berikan contoh-contoh yang memperlihatkan bahwa kepercayaan Saksi-Saksi Yehuwa selaras dengan Alkitab.

      5 Dalam hal apa pengajaran Saksi-Saksi Yehuwa unik? New Catholic Encyclopedia menyebutkan beberapa hal, ”Mereka [Saksi-Saksi Yehuwa] mengutuk Tritunggal sebagai penyembahan berhala kafir . . . Mereka menganggap Yesus sebagai yang terbesar di antara Saksi-Saksi Yehuwa, ’suatu allah’ (demikian mereka menerjemahkan Yohanes 1.1), yang tidak lebih rendah daripada siapa pun selain daripada Yehuwa. . . . Ia mati sebagai manusia dan dibangkitkan sebagai Putra rohani yang tidak berkematian. Penderitaan serta kematiannya adalah harga yang ia bayarkan untuk memulihkan hak hidup kekal selama-lamanya di bumi bagi umat manusia. Memang, ’kumpulan besar’ (Why 7.9) Saksi-Saksi yang sejati memiliki harapan dalam Firdaus di bumi; hanya 144.000 orang yang setia (Why 7.4; 14.1, 4) dapat menikmati kemuliaan surgawi bersama Kristus. Orang-orang jahat akan mengalami kebinasaan total. . . . Pembaptisan—yang dipraktekkan Saksi-Saksi dengan pembenaman dalam air . . . [adalah] lambang lahiriah dari pembaktian mereka kepada dinas dari Allah Yehuwa. . . . Saksi-Saksi Yehuwa telah menarik publisitas dengan menolak transfusi darah . . . Moralitas perkawinan dan seksual mereka sangat ketat.” Saksi-Saksi Yehuwa mungkin unik dalam hal ini, namun posisi mereka dalam semua hal ini dengan kokoh didasarkan atas Alkitab.—Mazmur 37:29; Matius 3:16; 6:10; Kisah 15:28, 29; Roma 6:23; 1 Korintus 6:9, 10; 8:6; Wahyu 1:5.

      6. Sikap apa yang dipelihara Saksi-Saksi Yehuwa? Mengapa?

      6 Ensiklopedia Katolik Roma ini [New Catholic Encyclopedia] menambahkan bahwa pada tahun 1965 (tampaknya tahun ketika artikel tersebut ditulis) ”Saksi-Saksi belum lagi menganggap bahwa mereka termasuk masyarakat duniawi yang di dalamnya mereka hidup”. Sang penulis tampaknya beranggapan bahwa seraya waktu berlalu dan Saksi-Saksi Yehuwa menjadi lebih banyak jumlahnya dan menerima ”semakin banyak karakteristik suatu gereja sebagaimana yang berlawanan dengan sebuah sekte”, mereka akan menjadi bagian dari dunia ini. Namun, hal itu ternyata tidak demikian. Dewasa ini, dengan lebih dari empat kali jumlah Saksi-Saksi pada tahun 1965, Saksi-Saksi Yehuwa telah dengan konsisten mempertahankan pendirian mereka berkenaan dunia ini. ”Mereka bukan bagian dari dunia”, sama seperti Yesus ”bukan bagian dari dunia”.—Yohanes 17:16, NW.

      Terpisah namun Tidak Bermusuhan

      7, 8. Sebagaimana halnya benar tentang umat Kristen masa awal, apa yang benar tentang Saksi-Saksi Yehuwa dewasa ini?

      7 Robert M. Grant menyebut tentang pembelaan umat Kristen masa awal oleh apologis abad kedua, Justin Martyr, dengan menulis dalam bukunya Early Christianity and Society, ”Jika umat Kristen adalah orang-orang yang revolusioner, mereka akan tetap bersembunyi agar dapat mencapai tujuan mereka. . . . Mereka adalah sekutu kaisar yang paling baik demi mencapai perdamaian dan ketertiban yang baik.” Demikian pula, Saksi-Saksi Yehuwa dewasa ini dikenal di seluruh dunia sebagai warga negara yang cinta damai dan tertib. Pemerintahan-pemerintahan, apa pun bentuknya, tahu bahwa tidak ada yang mereka perlu khawatirkan dari Saksi-Saksi Yehuwa.

      8 Seorang penulis tajuk rencana dari Amerika Utara menulis, ”Diperlukan imajinasi yang fanatik dan gila untuk percaya bahwa Saksi-Saksi Yehuwa menimbulkan ancaman apa pun kepada rezim politik mana pun; mereka adalah badan agama yang paling non-subversif dan paling cinta damai.” Dalam bukunya L’objection de conscience (Keberatan Hati Nurani), Jean-Pierre Cattelain menulis, ”Saksi-Saksi Yehuwa secara sempurna tunduk kepada kalangan berwenang dan secara umum menaati hukum; mereka membayar pajak dan tidak berupaya membangkang, mengubah atau menggulingkan pemerintahan, karena mereka tidak melibatkan diri dalam urusan dunia ini.” Cattelain selanjutnya menambahkan bahwa hanya jika Negara menuntut kehidupan mereka, yang telah sepenuhnya mereka baktikan kepada Allah, Saksi-Saksi Yehuwa akan menolak untuk tunduk. Dalam hal ini, mereka sangat mirip dengan umat Kristen masa awal.—Markus 12:17; Kisah 5:29.

      Disalah-Mengerti oleh Golongan Penguasa

      9. Berkenaan keterpisahan dari dunia ini, sebuah perbedaan menonjol apa terdapat antara umat Kristen masa awal dengan orang-orang Katolik pada zaman modern?

      9 Umat Kristen masa awal disalah-mengerti dan dianiaya oleh kebanyakan di antara kaisar-kaisar Roma. Buku The Epistle to Diognetus, yang dianggap oleh beberapa orang berasal dari abad kedua M, menjelaskan alasannya dengan menyatakan, ”Umat Kristen tinggal di dunia, namun bukan bagian dari dan tidak terlibat dengan dunia ini.” Di lain pihak, Konsili Vatikan Kedua, dalam Konstitusi Dogmatis Gereja, mengatakan bahwa umat Katolik hendaknya ”mencari kerajaan Allah dengan melibatkan diri dalam urusan-urusan duniawi” dan ”mengupayakan penyucian dunia dari dalamnya”.

      10. (a) Bagaimana umat Kristen masa awal dipandang oleh golongan penguasa? (b) Bagaimana Saksi-Saksi Yehuwa sering dipandang, dan apa reaksi mereka?

      10 Sejarawan E. G. Hardy menyatakan bahwa kaisar-kaisar Roma menganggap umat Kristen masa awal sebagai ”semacam penggemar kejahatan”. Sejarawan Prancis bernama Étienne Trocmé berbicara tentang ”perasaan jijik yang dimiliki para pejabat Yunani dan Roma yang beradab terhadap apa yang mereka anggap sebagai sekte Timur [umat Kristen] yang sangat aneh.” Persamaan antara Plini Muda, gubernur Roma di Bitinia, dan Kaisar Trajan memperlihatkan bahwa golongan penguasa pada umumnya tidak tahu mengenai sifat yang sesungguhnya dari kekristenan. Demikian pula dewasa ini, Saksi-Saksi Yehuwa sering disalah-mengerti dan bahkan dipandang hina oleh golongan penguasa dunia ini. Namun, ini tidak mengejutkan maupun membuat cemas Saksi-Saksi.—Kisah 4:13; 1 Petrus 4:12, 13.

      ”Di Mana-manapun Ia Mendapat Perlawanan”

      11. (a) Apa saja yang dikatakan tentang umat Kristen masa awal, dan apa yang telah dikatakan tentang Saksi-Saksi Yehuwa? (b) Mengapa Saksi-Saksi Yehuwa tidak berpartisipasi dalam politik?

      11 Tentang umat Kristen masa awal dikatakan, ”Tentang mazhab [”sekte”, NW] ini kami tahu, bahwa di mana-manapun ia mendapat perlawanan.” (Kisah 28:22) Pada abad kedua M, Celsus yang kafir menyatakan bahwa kekristenan hanya menarik bagi sampah masyarakat. Demikian pula telah dikatakan tentang Saksi-Saksi Yehuwa bahwa ”mereka kebanyakan datang dari kaum papa dalam masyarakat kita”. Sejarawan gereja bernama Augustus Neander melaporkan bahwa ”umat Kristen digambarkan seperti manusia yang mati dalam pandangan dunia ini, dan tidak berguna bagi segala urusan kehidupan; . . . dan telah diajukan pertanyaan, apa jadinya segala urusan kehidupan, bila semua orang seperti mereka?” Karena Saksi-Saksi Yehuwa menolak ambil bagian dalam politik, mereka juga sering dituduh sebagai sampah masyarakat. Namun bagaimana mereka dapat menjadi aktivis politik dan pada waktu yang sama menjadi pembela dari Kerajaan Allah sebagai satu-satunya harapan umat manusia? Saksi-Saksi Yehuwa mencamkan kata-kata rasul Paulus, ”Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak melibatkan dirinya dalam pengejaran-pengejaran sipil, karena tujuannya adalah memuaskan pribadi yang telah mendaftarkannya.”—2 Timotius 2:3, 4, Revised Standard Version, Edisi Umum.

      12. Saksi-Saksi Yehuwa serupa dengan umat Kristen masa awal dalam aspek penting apa dari keterpisahan?

      12 Dalam bukunya yang berjudul A History of Christianity (Sejarah Kekristenan), Profesor K. S. Latourette menulis, ”Salah satu hal yang tidak sejalan antara umat Kristen masa awal dengan dunia Yunani-Roma adalah partisipasi dalam perang. Selama tiga abad yang pertama, tak ada tulisan Kristen, yang masih bertahan sampai sekarang, yang menyetujui partisipasi umat Kristen dalam peperangan.” Karya tulis Edward Gibbon yang berjudul The History of the Decline and Fall of the Roman Empire (Sejarah Kemunduran dan Kejatuhan dari Kekaisaran Roma) menyatakan, ”Mustahil bahwa umat Kristen, tanpa meninggalkan tugas yang lebih suci, dapat memangku jabatan sebagai prajurit, hakim, atau pangeran.” Saksi-Saksi Yehuwa demikian pula mengambil kedudukan netral yang ketat dan mengikuti prinsip-prinsip Alkitab yang diuraikan dalam Yesaya 2:2-4 dan Matius 26:52.

      13. Tuduhan apa dilemparkan kepada Saksi-Saksi Yehuwa, namun apa yang diperlihatkan oleh fakta-fakta?

      13 Saksi-Saksi Yehuwa dituduh memecah-belah keluarga oleh musuh-musuh mereka. Memang, ada beberapa kasus tentang keluarga-keluarga yang menjadi terbagi sewaktu satu anggotanya atau lebih menjadi Saksi-Saksi Yehuwa. Yesus menubuatkan bahwa ini akan terjadi. (Lukas 12:51-53) Namun, statistik memperlihatkan bahwa perceraian dalam perkawinan karena alasan ini merupakan suatu pengecualian. Sebagai contoh, di antara Saksi-Saksi Yehuwa di Prancis, 1 di antara 3 pasangan yang sudah menikah mencakup seorang teman hidup yang bukan Saksi. Namun, angka perceraian di antara perkawinan campuran ini tidak lebih tinggi dibanding angka rata-rata perceraian di negeri itu. Mengapa? Rasul Paulus dan rasul Petrus memberi nasihat bijaksana yang terilham kepada orang-orang Kristen yang menikah dengan orang yang tidak seiman, dan Saksi-Saksi Yehuwa berupaya keras menaati kata-katanya. (1 Korintus 7:12-16; 1 Petrus 3:1-4) Jika terjadi perceraian, inisiatif ini hampir selalu datang dari teman hidup yang bukan Saksi. Di lain pihak, ribuan perkawinan telah diselamatkan karena salah satu dari pasangan-pasangan tersebut menjadi Saksi-Saksi Yehuwa dan mulai menerapkan prinsip-prinsip Alkitab dalam kehidupan mereka.

      Umat Kristen, Bukan Penganut Tritunggal

      14. Tuduhan apa ditujukan terhadap umat Kristen masa awal, dan mengapa hal ini ironis?

      14 Adalah ironis bahwa dalam Kekaisaran Roma, salah satu tuduhan yang ditujukan terhadap umat Kristen masa awal adalah bahwa mereka ateis. Dr. Augustus Neander menulis, ”Orang-orang yang menyangkal allah-allah kafir, orang-orang ateis, . . . adalah julukan yang umum diberikan kepada umat Kristen di kalangan rakyat.” Sungguh aneh bahwa umat Kristen, yang menyembah Pencipta yang hidup, dan bukan banyak Allah, harus dijuluki ateis oleh orang-orang kafir yang menyembah ’bukan kepada Allah, melainkan hanya buatan tangan manusia, dari kayu dan batu’.—Yesaya 37:19.

      15, 16. (a) Apa yang dikatakan beberapa pakar agama tentang Saksi-Saksi Yehuwa, namun hal ini menimbulkan pertanyaan apa? (b) Apa yang memperlihatkan bahwa Saksi-Saksi Yehuwa benar-benar orang Kristen?

      15 Yang sama ironisnya pula adalah fakta bahwa dewasa ini, beberapa penguasa dalam Susunan Kristen menyangkal bahwa Saksi-Saksi Yehuwa adalah umat Kristen. Mengapa? Karena Saksi-Saksi menolak Tritunggal. Menurut definisi yang berat sebelah dari Susunan Kristen, ”Umat Kristen adalah orang-orang yang menerima Kristus sebagai Allah.” Sebagai kontras dengan hal ini, sebuah kamus modern menjelaskan arti kata benda ”Orang Kristen” sebagai ”seseorang yang percaya kepada Yesus Kristus dan yang mengikuti ajaran-ajarannya” dan ”Kekristenan” sebagai ”sebuah agama yang didasarkan atas ajaran Yesus Kristus dan kepercayaan bahwa ia adalah putra Allah”. Kelompok mana yang memenuhi definisi ini dengan lebih saksama?

      16 Saksi-Saksi Yehuwa menerima kesaksian Yesus sendiri berkenaan siapa dirinya sebenarnya. Ia berkata, ”Aku Anak Allah”, bukan, ”Aku Allah Anak”. (Yohanes 10:36; bandingkan Yohanes 20:31.) Mereka menerima pernyataan yang terilham dari rasul Paulus berkenaan Kristus, ”Yang, dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipegang.”a (Filipi 2:6, The New Jerusalem Bible) Buku The Paganism in Our Christianity (Kekafiran Dalam Kekristenan Kita) berkata, ”Yesus Kristus tidak pernah menyebutkan fakta demikian [suatu Tritunggal yang setara,] dan dalam Perjanjian Baru kata Tritunggal tidak muncul. Gagasan ini baru diadopsi oleh Gereja tiga ratus tahun setelah wafatnya Tuhan kita; dan asal-usul konsep ini sepenuhnya kafir.” Saksi-Saksi Yehuwa menerima pengajaran Alkitab mengenai Kristus. Mereka adalah orang-orang Kristen, bukan penganut Tritunggal.

      Bukan Ekumenisme

      17. Mengapa Saksi-Saksi Yehuwa tidak bekerja sama dengan gerakan ekumene, atau agama paduan?

      17 Dua keluhan lain yang dibuat terhadap Saksi-Saksi Yehuwa adalah bahwa mereka menolak untuk ambil bagian dalam gerakan ekumene dan bahwa mereka terlibat dalam apa yang disebut ”mencari penganut dengan cara yang agresif”. Kedua cemoohan ini juga ditimpakan atas umat Kristen masa awal. Susunan Kristen, dengan unsur-unsur Katolik, Ortodoks, dan Protestannya, tak disangkal lagi merupakan bagian dari dunia ini. Seperti Yesus, Saksi-Saksi Yehuwa ”bukan bagian dari dunia”. (Yohanes 17:14, NW) Bagaimana mereka dapat bersekutu dengan organisasi-organisasi agama yang mendukung tingkah laku dan kepercayaan yang tidak bersifat Kristen melalui gerakan agama paduan?

      18. (a) Mengapa Saksi-Saksi Yehuwa tidak dapat dikritik karena mengaku bahwa mereka saja yang mempraktekkan agama yang sejati? (b) Meskipun percaya bahwa mereka memiliki agama yang sejati, apa yang tidak dimiliki oleh orang-orang Katolik Roma?

      18 Siapa yang berhak mengkritik Saksi-Saksi Yehuwa karena mereka percaya, seperti halnya umat Kristen masa awal, bahwa mereka saja yang mempraktekkan agama yang sejati? Bahkan Gereja Katolik, meski secara hipokrit mengaku bekerja sama dengan gerakan ekumene, berkata, ”Kami percaya bahwa satu-satunya agama yang sejati ini tetap berada dalam Gereja Katolik dan Apostolik, yang kepadanya Tuhan Yesus mempercayakan tugas untuk menyebarluaskannya di antara semua manusia, ketika ia berkata kepada para rasul, ’Pergilah dan jadikanlah semua bangsa muridku.’” (Konsili Vatikan II, ”Deklarasi atas Kemerdekaan Beragama”) Namun, tampaknya keyakinan demikian tidak cukup untuk memompakan kegairahan yang tidak kenal lelah dalam diri orang-orang Katolik untuk pergi menjadikan murid.

      19. (a) Saksi-Saksi Yehuwa bertekad untuk melakukan apa, dan dengan motivasi apa? (b) Apa yang akan dibahas dalam artikel berikut?

      19 Saksi-Saksi Yehuwa memiliki kegairahan demikian. Mereka bertekad untuk terus memberi kesaksian sejauh Allah ingin mereka melakukan hal tersebut. (Matius 24:14) Kesaksian mereka bergairah namun tidak agresif. Ini digerakkan oleh kasih terhadap sesama, bukan oleh kebencian terhadap umat manusia. Mereka berharap agar sebanyak mungkin orang dapat diselamatkan. (1 Timotius 4:16) Seperti umat Kristen masa awal, mereka berupaya keras untuk ’hidup dalam perdamaian dengan semua orang’. (Roma 12:18) Cara mereka melaksanakan hal ini akan dibahas dalam artikel berikut.

      [Catatan Kaki]

      a Untuk pembahasan pokok berkenaan dogma Tritunggal ini, lihat The Watchtower, 15 Juni 1971, halaman 355-6.

  • Berjalan dalam Hikmat Sehubungan dengan Dunia Ini
    Menara Pengawal—1993 | 1 Juli
    • Berjalan dalam Hikmat Sehubungan dengan Dunia Ini

      ”Teruslah berjalan dalam hikmat terhadap mereka yang berada di luar.”—KOLOSE 4:5, ”NW”.

      1. Umat Kristen masa awal dihadapkan kepada apa, dan nasihat apa diberikan Paulus kepada sidang di Kolose?

      UMAT Kristen masa awal yang berdiam dalam kota-kota di dunia Roma senantiasa dihadapkan dengan penyembahan berhala, pengejaran kesenangan yang amoral, dan upacara serta kebiasaan yang bersifat kafir. Orang-orang yang tinggal di Kolose, sebuah kota di bagian barat tengah Asia Kecil, tak diragukan dihadapkan dengan penyembahan dewi bunda dan spiritisme dari masyarakat pribumi Phrigia, filsafat kafir dari kaum pendatang Yunani, dan Yudaisme dari koloni Yahudi. Rasul Paulus menasihati sidang Kristen untuk ”teruslah berjalan dalam hikmat” terhadap ”orang-orang luar” semacam itu.—Kolose 4:5, NW.

      2. Mengapa Saksi-Saksi Yehuwa dewasa ini perlu berjalan dalam hikmat terhadap mereka yang berada di luar?

      2 Dewasa ini, Saksi-Saksi Yehuwa menghadapi praktek-praktek salah yang serupa, dan bahkan lebih banyak lagi. Oleh karena itu, mereka juga perlu mempraktekkan hikmat dalam hubungan mereka dengan orang-orang yang berada di luar sidang Kristen yang sejati. Banyak orang dalam kelompok agama dan politik serta media menentang Saksi-Saksi Yehuwa. Beberapa di antara orang-orang ini, melalui serangan langsung maupun, yang lebih sering, melalui sindiran, berupaya menodai reputasi Saksi-Saksi Yehuwa dan membangkitkan prasangka terhadap mereka. Sebagaimana orang-orang Kristen masa awal secara tidak adil dipandang sebagai ”sekte” yang fanatik dan bahkan berbahaya, Saksi-Saksi Yehuwa dewasa ini sering menjadi bulan-bulanan prasangka dan kesalahpahaman.—Kisah 24:14; 1 Petrus 4:4.

      Mengatasi Prasangka

      3, 4. (a) Mengapa umat Kristen sejati tidak akan pernah dikasihi oleh dunia ini, namun kita hendaknya berupaya melakukan apa? (b) Apa yang ditulis oleh seorang penulis tentang Saksi-Saksi Yehuwa yang ditahan dalam kamp konsentrasi Nazi?

      3 Umat Kristen sejati tidak berharap untuk dikasihi oleh dunia ini, yang menurut rasul Yohanes, ”berada di bawah kuasa si jahat”. (1 Yohanes 5:19) Meskipun demikian, Alkitab menganjurkan umat Kristen untuk berupaya keras memenangkan orang-orang kepada Yehuwa dan ibadat-Nya yang murni. Kita melakukan hal ini melalui kesaksian langsung dan juga melalui perilaku kita yang baik. Rasul Petrus menulis, ”Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.”—1 Petrus 2:12.

      4 Dalam bukunya yang berjudul Forgive—But Do Not Forget (Ampuni—Namun Jangan Lupakan), penulis bernama Sylvia Salvesen berkata tentang Saksi-Saksi wanita yang menjadi sesama tahanan dalam kamp konsentrasi Nazi, ”Kedua orang ini, Käthe dan Margarethe, serta banyak Saksi-Saksi lainnya, sangat membantu saya, tidak hanya dengan iman mereka tetapi juga dalam hal-hal praktis. Mereka menyediakan kain perca bersih pertama yang kami dapatkan untuk luka-luka kami . . . Singkatnya, kami berada di antara orang-orang yang mengharapkan kesejahteraan kami, dan yang memperlihatkan perasaan bersahabat mereka melalui perbuatan mereka.” Sungguh suatu kesaksian yang baik dari ”mereka yang berada di luar”!

      5, 6. (a) Pekerjaan apa sedang dilakukan Kristus dewasa ini, dan apa yang hendaknya tidak kita lupakan? (b) Apa yang hendaknya menjadi sikap kita terhadap orang-orang di dunia ini, dan mengapa?

      5 Banyak yang dapat kita lakukan untuk mengatasi prasangka melalui tingkah laku kita yang bijaksana terhadap orang-orang luar. Memang, kita hidup dalam masa ketika Raja kita yang sedang memerintah, Kristus Yesus, memisahkan orang-orang dari bangsa-bangsa ”sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing”. (Matius 25:32) Namun jangan pernah lupa bahwa Kristus adalah sang Hakim; dialah yang memutuskan siapa ”domba” dan siapa ”kambing”.—Yohanes 5:22.

      6 Ini hendaknya mempengaruhi sikap kita terhadap orang-orang yang bukan bagian dari organisasi Yehuwa. Kita mungkin menganggap mereka sebagai orang-orang dunia, namun mereka adalah bagian dari dunia umat manusia yang ’sangat dikasihi Allah, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal’. (Yohanes 3:16) Jauh lebih baik menganggap orang-orang sebagai calon domba daripada dengan lancang memutuskan bahwa mereka adalah kambing. Beberapa orang yang dahulu dengan keras menentang kebenaran kini adalah Saksi-Saksi yang berbakti. Dan banyak dari antara orang-orang ini, pertama-tama dimenangkan oleh perbuatan baik, sebelum mereka memberi tanggapan kepada kesaksian langsung apa pun. Sebagai contoh, lihatlah gambar pada halaman 18.

      Bergairah, Bukan Agresif

      7. Kritik apa dilontarkan paus, namun pertanyaan apa dapat kita ajukan?

      7 Paus Yohanes Paulus II mengkritik sekte-sekte pada umumnya, dan khususnya Saksi-Saksi Yehuwa, ketika ia berkata, ”Kegairahan yang nyaris agresif yang dengannya beberapa mencari pengikut-pengikut baru, pergi dari rumah ke rumah, atau di sudut-sudut jalan menghentikan orang-orang yang lewat, adalah kepalsuan sektarianisme di balik kegairahan apostolik dan misionaris.” Dapat ditanyakan, jika kelompok kita adalah suatu ”kepalsuan sektarianisme di balik kegairahan apostolik dan misionaris”, di mana lagi gairah menginjil yang sejati didapatkan? Jelas bukan di antara umat Katolik, juga bukan di antara umat Protestan atau anggota-anggota dari gereja-gereja Ortodoks.

      8. Bagaimana hendaknya kita melaksanakan kesaksian dari rumah ke rumah kita, dengan mengharapkan hasil apa?

      8 Meskipun demikian, dengan tujuan untuk menyangkal tuduhan apa pun berkenaan keagresifan dalam kesaksian kita, kita hendaknya selalu baik hati, penuh respek, dan sopan sewaktu kita mendekati orang-orang. Sang murid Yakobus menulis, ”Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.” (Yakobus 3:13) Sang rasul Paulus menasihati agar kita ’jangan bertengkar’. (Titus 3:2) Misalnya, sebaliknya daripada langsung menyalahkan kepercayaan dari orang yang kita beri kesaksian, mengapa tidak memperlihatkan minat yang tulus kepada pendapatnya? Kemudian sampaikan kabar baik seperti yang terdapat dalam Alkitab kepada orang tersebut. Dengan menggunakan pendekatan yang positif dan memperlihatkan respek yang sepatutnya kepada orang-orang yang menganut kepercayaan lain, kita akan membantu mereka memiliki sikap mental yang lebih baik untuk mendengarkan, dan kemungkinan mereka akan memahami nilai dari berita Alkitab. Hasilnya bisa jadi bahwa ada yang akan datang untuk ”memuliakan Allah”.—1 Petrus 2:12.

      9. Bagaimana kita dapat menerapkan nasihat yang diberikan Paulus (a) di Kolose 4:5? (b) di Kolose 4:6?

      9 Rasul Paulus menasihati, ”Teruslah berjalan dalam hikmat terhadap mereka yang berada di luar, pergunakanlah waktu yang ada.” (Kolose 4:5, NW) Dalam menjelaskan ungkapan yang disebut belakangan, J. B. Lightfoot menulis, ”Jangan lewatkan kesempatan, untuk berbicara dan melakukan apa yang dapat memajukan kepentingan Allah.” (Cetak miring red.) Ya, kita harus siap dengan kata-kata dan perbuatan pada saat yang tepat. Hikmat demikian juga termasuk memilih waktu yang cocok untuk mengadakan kunjungan. Jika berita kita ditolak, apakah ini karena orang-orang tidak menghargainya, atau apakah karena kita berkunjung pada waktu yang mungkin tidak tepat? Paulus juga menulis, ”Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” (Kolose 4:6) Ini menuntut pemikiran jauh ke depan dan kasih sejati kepada sesama. Marilah kita selalu menyajikan berita Kerajaan dengan keramahtamahan.

      Penuh Respek dan ”Siap untuk Melakukan Setiap Pekerjaan yang Baik”

      10. (a) Nasihat apa diberikan Paulus kepada umat Kristen yang tinggal di Kreta? (b) Bagaimana Saksi-Saksi Yehuwa telah menjadi teladan dalam menuruti nasihat Paulus?

      10 Kita tidak dapat mengkompromikan prinsip-prinsip Alkitab. Di lain pihak, kita hendaknya tidak usah mempersoalkan hal-hal yang tidak melibatkan integritas Kristen. Rasul Paulus menulis, ”Ingatkanlah mereka [orang-orang Kristen di Kreta] supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa [”kalangan berwenang sebagai penguasa”, NW], taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang.” (Titus 3:1, 2) Seorang sarjana Alkitab bernama E. F. Scott menulis tentang ayat ini, ”Umat Kristen bukan hanya harus menaati kalangan berwenang, tetapi mereka juga harus siap untuk pekerjaan baik apa pun. Ini . . . berarti bahwa, apabila kesempatan menuntut, umat Kristen hendaknya berada di antara orang-orang yang paling menonjol dalam memperlihatkan kesetiakawanan sosial. Akan selalu ada kebakaran, bencana, berbagai jenis malapetaka, pada waktu semua warga negara yang baik akan senang membantu sesama mereka.” Di seluruh dunia terdapat banyak contoh dari bencana yang terjadi dan Saksi-Saksi Yehuwa berada di antara orang-orang yang pertama-tama memberikan bantuan kemanusiaan. Mereka bukan hanya membantu saudara-saudara mereka, tetapi juga orang-orang luar.

      11, 12. (a) Bagaimana hendaknya sikap umat Kristen terhadap kalangan berwenang? (b) Ketundukan kepada kalangan berwenang melibatkan apa sehubungan dengan pembangunan Balai Kerajaan?

      11 Ayat yang sama dari surat Paulus kepada Titus juga menekankan pentingnya memiliki sikap yang penuh respek terhadap kalangan berwenang. Kaum muda Kristen yang karena sikap mereka berkenaan kenetralan harus menghadap para hakim, khususnya perlu berhati-hati untuk berjalan dalam hikmat terhadap orang-orang di luar. Banyak yang dapat mereka lakukan untuk meningkatkan atau merusak reputasi umat Yehuwa melalui penampilan, kelakuan, dan cara berbicara mereka kepada kalangan berwenang yang demikian. Mereka hendaknya ’membayar hormat kepada orang yang berhak menerima hormat’, dan membuat pembelaan mereka dengan hormat yang dalam.—Roma 13:1-7; 1 Petrus 2:17; 3:15.

      12 ”Kalangan berwenang” juga termasuk para pejabat pemerintahan setempat. Kini, dengan semakin banyaknya Balai Kerajaan dibangun, berurusan dengan kalangan berwenang setempat tak terelakkan. Sering kali, para penatua menghadapi prasangka. Namun diamati bahwa bila wakil-wakil sidang membina hubungan yang baik dengan kalangan berwenang dan bekerja sama dengan badan perencanaan kota, prasangka ini dapat diatasi. Sering kali, kesaksian yang baik diberikan kepada orang-orang yang sebelumnya sedikit atau sama sekali tidak mengetahui tentang Saksi-Saksi Yehuwa dan berita mereka.

      ’Jika Mungkin, Hiduplah dalam Perdamaian dengan Semua Orang’

      13, 14. Nasihat apa diberikan Paulus kepada orang-orang Kristen di Roma, dan bagaimana kita dapat menerapkannya dalam hubungan kita dengan orang-orang luar?

      13 Paulus memberikan nasihat berikut ini kepada orang-orang Kristen yang hidup di Roma kafir, ”Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hakKu. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”—Roma 12:17-21.

      14 Dalam hubungan kita dengan orang-orang luar, kita sebagai umat Kristen sejati tanpa dapat dielakkan akan menghadapi penentang-penentang. Dalam ayat di atas, Paulus memperlihatkan bahwa haluan hikmat adalah berupaya keras mengatasi tentangan melalui perbuatan-perbuatan baik. Seperti bara api, perbuatan-perbuatan baik ini kemungkinan akan mencairkan kebencian dan memenangkan sikap yang lebih baik dari orang yang menentang itu terhadap umat Yehuwa, kemungkinan bahkan membangkitkan minatnya terhadap kabar baik. Bila ini terjadi, kejahatan dikalahkan oleh kebaikan.

      15. Kapan hendaknya umat Kristen terutama berhati-hati untuk berjalan dalam hikmat terhadap mereka yang berada di luar?

      15 Berjalan dalam hikmat terhadap mereka yang berada di luar terutama penting dalam rumah tangga yang salah seorang dari pasangan suami-istri belum dalam kebenaran. Ketaatan kepada prinsip-prinsip Alkitab menghasilkan suami yang lebih baik, istri yang lebih baik, ayah yang lebih baik, ibu yang lebih baik, dan anak-anak yang lebih taat dan lebih rajin belajar di sekolah. Seorang yang tidak beriman seharusnya dapat melihat pengaruh sehat yang dihasilkan prinsip-prinsip Alkitab dalam diri seorang beriman. Dengan demikian, beberapa orang dapat ”tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan” dari anggota-anggota keluarga yang telah berbakti.—1 Petrus 3:1, 2.

      ”Berbuat Baik kepada Semua Orang”

      16, 17. (a) Korban-korban apa yang sangat diperkenan Allah? (b) Bagaimana hendaknya kita ”berbuat baik” terhadap saudara-saudara kita dan juga kepada mereka yang berada di luar?

      16 Kebaikan terbesar yang dapat kita lakukan bagi sesama kita adalah menyampaikan berita tentang kehidupan dan mengajar dia tentang pemulihan hubungan dengan Yehuwa melalui Yesus Kristus. (Roma 5:8-11) Oleh karena itu, rasul Paulus memberi tahu kita, ”Marilah kita, oleh Dia [Kristus], senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan namaNya.” (Ibrani 13:15) Paulus menambahkan, ”Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.” (Ibrani 13:16) Selain melakukan kesaksian umum, kita hendaknya tidak lupa ”berbuat baik”. Ini merupakan bagian penting dari korban-korban yang sangat diperkenan Allah.

      17 Pastilah, kita berbuat baik kepada saudara-saudara rohani kita, yang mungkin sedang membutuhkan bantuan secara emosi, rohani, jasmani atau materi. Paulus memperlihatkan hal ini sewaktu ia berkata, ”Selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” (Galatia 6:10; Yakobus 2:15, 16) Akan tetapi, kita hendaknya tidak melupakan kata-kata, ”Marilah kita berbuat baik kepada semua orang”. Suatu perbuatan baik hati kepada sanak-saudara, tetangga, atau rekan sekerja dapat berbuat banyak dalam mengatasi prasangka dan membuka hati seseorang kepada kebenaran.

      18. (a) Bahaya-bahaya apa hendaknya kita hindari? (b) Bagaimana kita dapat menggunakan kebaikan Kristen kita sebagai pendukung terhadap pekerjaan kesaksian umum?

      18 Untuk melakukan hal ini, kita tidak perlu menjalin persahabatan akrab dengan orang-orang luar. Pergaulan demikian kemungkinan besar berbahaya. (1 Korintus 15:33) Dan kita tidak berniat untuk menjadi sahabat dunia. (Yakobus 4:4) Namun, kebaikan Kristen kita dapat mendukung pengabaran kita. Di beberapa negeri, semakin sulit untuk berbicara kepada orang-orang di rumah mereka. Beberapa bangunan apartemen dilindungi dengan peralatan yang menghalangi kita mengadakan kontak dengan penghuni rumah. Di negara-negara berkembang, pesawat telepon menawarkan suatu cara untuk mengabar. Di kebanyakan negeri, kesaksian di jalan dapat dilakukan. Namun, di negeri mana pun, bersikap menyenangkan, sopan, baik hati dan senang membantu, membuka kesempatan untuk mengatasi prasangka dan memberikan kesaksian yang baik.

      Membungkamkan para Penentang

      19. (a) Karena kita tidak berupaya menyenangkan manusia, apa yang dapat kita harapkan? (b) Bagaimana hendaknya kita berupaya meniru teladan Daniel dan menerapkan nasihat Petrus?

      19 Saksi-Saksi Yehuwa bukanlah orang-orang yang berupaya menyenangkan manusia dan juga bukan orang-orang yang takut kepada manusia. (Amsal 29:25; Efesus 6:6) Mereka sepenuhnya sadar bahwa meskipun mereka berupaya keras menjadi pembayar pajak teladan serta warga negara yang baik, para penentang akan menyebarkan dusta-dusta yang jahat dan berbicara merendahkan mereka. (1 Petrus 3:16) Karena mengetahui hal ini, mereka berupaya meniru Daniel, yang tentangnya para musuh berkata, ”Kita tidak akan mendapat suatu alasan dakwaan terhadap Daniel ini, kecuali dalam hal ibadahnya kepada Allahnya!” (Daniel 6:6) Kita tidak akan pernah mengkompromikan prinsip-prinsip Alkitab untuk menyenangkan manusia. Di lain pihak, kita tidak berupaya menjadi martir. Kita berjuang untuk hidup berdamai dan menaati nasihat sang rasul, ”Inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.”—1 Petrus 2:15.

      20. (a) Akan hal apa kita merasa yakin, dan anjuran apa diberikan Yesus kepada kita? (b) Bagaimana kita dapat terus berjalan dalam hikmat terhadap mereka yang berada di luar?

      20 Kita merasa yakin bahwa kedudukan kita yang terpisah dari dunia selaras sepenuhnya dengan Alkitab. Ini didukung oleh sejarah umat Kristen pada abad pertama. Hati kita digugah oleh kata-kata Yesus, ”Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yohanes 16:33) Kita tidak merasa takut. ”Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik? Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar. Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.” (1 Petrus 3:13-15) Seraya kita bertindak dengan cara ini, kita akan terus berjalan dalam hikmat terhadap mereka yang berada di luar.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan