-
”Marilah Kita Dirikan bagi Kita Sebuah Kota”Sedarlah!—1994 | 8 Januari
-
-
”Marilah Kita Dirikan bagi Kita Sebuah Kota”
Oleh koresponden Sedarlah! di Jerman
KEMUNGKINAN besar Anda tinggal di kota. Menurut beberapa perkiraan, hampir separuh penduduk dunia tinggal di kota. Sebuah sumber mengatakan bahwa ”pada tingkat seperti sekarang, menjelang tahun 2000, kota-kota harus menampung lebih dari 75 persen jumlah penduduk di Amerika Selatan”. Sumber tersebut juga memberi tahu kita bahwa selama periode waktu yang sama, jumlah orang yang mendiami kota-kota di Afrika akan menjadi lebih dari dua kali lipat.
Bahkan jika Anda tidak tinggal di kota, kemungkinan besar Anda bekerja di kota, bepergian ke kota untuk berbelanja, atau setidaknya secara berkala memanfaatkan fasilitas dan kemudahan yang tersedia di kota. Setiap orang dipengaruhi oleh kota-kota. Betapa berbedanya hidup kita tanpa adanya kota-kota!
Sebuah Kota Bernama Henokh
Pembangunan kota-kota telah dimulai ribuan tahun yang lalu. Tentang Kain, putra yang pertama kali dilahirkan, kita membaca bahwa ”Kain mendirikan suatu kota dan dinamainya kota itu Henokh, menurut nama anaknya”. (Kejadian 4:17) Dengan mendirikan sebuah kota, yang tanpa diragukan relatif kecil menurut standar-standar modern, Kain menciptakan sebuah preseden bagi generasi-generasi mendatang.
Pembawaan manusia sebagai makhluk sosial telah membuat orang-orang ingin berkumpul. Ini bukan hanya demi menjalin persahabatan tetapi juga demi mendapatkan rasa aman dan perlindungan, terutama pada abad-abad yang lampau manakala masyarakat sering kali diserang. Akan tetapi, hal-hal ini bukanlah satu-satunya faktor yang telah menggerakkan manusia untuk mulai membangun kota.
The World Book Encyclopedia menyatakan bahwa ada empat segi utama yang telah mendorong terbentuknya kota. Segi-segi tersebut adalah ”(1) kemajuan teknologi [mesin uap, tenaga listrik, komunikasi], (2) lingkungan fisik yang menguntungkan [beberapa faktor adalah lokasi, iklim, sungai, dan juga persediaan air], (3) organisasi sosial [kalangan berwenang, pemerintah], dan (4) pertumbuhan penduduk”.
Kota-kota telah memudahkan perdagangan dan terpusatnya tenaga kerja di satu tempat. Oleh karena itu, di banyak kota, kita melihat dibangunnya banyak perumahan murah untuk para pekerja beserta keluarga mereka. Dewasa ini, dengan tersedianya kendaraan umum dan pribadi, jarak bukanlah rintangan bagi suksesnya perdagangan dan pengawasan politik. Karena alasan ini, kota-kota dapat meluaskan jangkauannya ke daerah-daerah pinggiran.
Beberapa kota purba juga berhubungan erat dengan kegiatan keagamaan. Kejadian 11:4 berkata, ”Kata mereka [orang-orang yang hidup tidak lama setelah Air Bah pada zaman Nuh]: ’Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit [sebagai sarana ibadat keagamaan], dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.’”
Aspek-aspek sosial, agama, perdagangan, dan geografis serta politik telah tercakup dalam pembangunan kota-kota. Pada waktu yang sama, kota-kota telah menjadi kekuatan utama selama berabad-abad dalam membentuk masyarakat modern yang kita kenal sekarang dan telah mempengaruhi kita semua.
Tak Sama tapi Serupa
The New Encyclopædia Britannica mencatat bahwa ”pemukiman permanen yang paling tua dari manusia ditemukan di daerah subtropik yang subur yaitu di lembah-lembah Sungai Nil, Tigris, Efrat, Indus, dan Kuning”. Tentu saja, kota-kota yang ada sebelum abad ke-20 sangat berbeda dari kota-kota tepi sungai yang modern.
Pada abad-abad yang lampau, sebagian besar orang tinggal di daerah pedesaan. Sebagai contoh, satu-satunya kota besar di Inggris pada tahun 1300 adalah London, dan jumlah penduduknya yang kurang dari 40 ribu jauh di bawah 1 persen dari total penduduk negeri itu. Menjelang tahun 1650, kira-kira 7 persen dari semua orang Inggris tinggal di London. Menjelang permulaan abad ke-19, kota itu dihuni oleh hampir satu juta jiwa. Dewasa ini, kurang dari 9 persen penduduk Inggris tinggal di daerah pedesaan. Selebihnya memadati pusat-pusat kota, kira-kira tujuh juta di metropolis London Raya saja.
Sebagai suatu indikasi tentang seberapa jauh kota-kota bertumbuh dan menjamur, pada tahun 1900, London menjadi satu-satunya kota di seluruh dunia yang jumlah penduduknya satu juta. Sekarang, terdapat lebih dari 200 kota yang jumlah penduduknya lebih dari satu juta. Para pakar geografi berbicara tentang suatu megalopolis, serangkaian kota-kota yang saling berhubungan sebagaimana didapati di daerah Ruhr di Jerman, yang meliputi daerah sepanjang Sungai Ruhr, dari Duisburg hingga Dortmund, yang membentuk satu komunitas yang benar-benar berkesinambungan.
Meskipun terdapat perbedaan-perbedaan, kota-kota kuno dan modern memiliki persamaan—problem-problem. Dan problem-problem yang dihadapi belum pernah sebanyak atau sebesar sekarang. Kota-kota berada dalam kesulitan besar. Jika ’mendirikan bagi kita sebuah kota’ telah mengajarkan sesuatu kepada umat manusia, maka paling tidak hal-hal itu seharusnya telah mengajar kita bahwa, di bawah kondisi yang tidak sempurna dan karena dilaksanakan oleh manusia yang dapat membuat kekeliruan, membangun kota-kota tidak selalu merupakan cara ideal untuk memuaskan kebutuhan kita.
-
-
”Kota Ini Penuh Tekanan”Sedarlah!—1994 | 8 Januari
-
-
”Kota Ini Penuh Tekanan”
KETIKA nabi Alkitab, Yehezkiel, menyebutkan tentang sebuah kota yang ”penuh tekanan”, ia tidak tahu apa-apa tentang problem-problem yang menimpa kota-kota dewasa ini. (Yehezkiel 9:9, An American Translation) Kata-katanya pun bukan merupakan cara terselubung dalam menubuatkan problem-problem ini. Meskipun demikian, apa yang ia tulis akan menjadi suatu gambaran yang akurat tentang kota-kota abad ke-20.
Buku 5000 Days to Save the Planet mencatat, ”Kaku dan tanpa ciri khas, kota-kota kita telah menjadi buruk untuk dihuni dan buruk untuk dipandang. . . . Gedung-gedung yang semakin mendominasi kota-kota kita telah dibangun dengan sedikit atau tanpa mempertimbangkan orang-orang yang harus tinggal dan bekerja di dalamnya.”
Fakta yang Tidak Menyenangkan tentang Kota
Sembilan kota, yang terletak di berbagai penjuru dunia, telah dijabarkan oleh surat-surat kabar dan majalah-majalah sebagai berikut. Dapatkah Anda mengenali masing-masing kota ini dengan menyebutkan namanya secara tepat?
Kota A, yang terletak di Amerika Latin, tersohor karena pembunuh-pembunuh bayarannya yang berusia muda dan tingginya angka pembunuhan. Kota itu juga terkenal sebagai sarang kartel narkotik.
Kota B adalah ”kota terburuk di [Amerika Serikat] dalam hal perampokan di jalan”. Selama dua bulan pertama tahun 1990, pembunuhan ”telah meningkat sebanyak 20 persen dibandingkan pada periode yang sama” tahun sebelumnya.
”Beberapa juta orang per tahun pindah ke pusat-pusat kota di Amerika Selatan, Afrika, dan Asia . . . , bermigrasi mengikuti khayalan mereka tentang negeri penuh harapan.” Karena tidak menemukannya, banyak yang terpaksa hidup dalam kemiskinan, terpaksa mengemis atau mencuri agar tetap hidup. Separuh dari warga Kota C di Afrika dan Kota D di Asia—maupun 70 persen penduduk Kota E di Asia—dilaporkan tinggal di tempat-tempat yang di bawah standar.
”Meskipun [Kota F] termasuk di antara pusat-pusat kota besar yang paling aman di Amerika Utara, bertambahnya pengangguran, meningkatnya angka kejahatan dan kebencian rasial telah membuat warganya bertanya-tanya tentang sisi negatif dari kesuksesan. Kejahatan . . . telah mengendurkan semangat penduduk kota itu. Jumlah serangan seksual meningkat 19% . . . Jumlah pembunuhan meningkat hampir 50%.”
”Setiap hari, 1.600 orang pindah ke [Kota G di Amerika Latin] . . . Jika [kota itu] terus mengalami laju pertumbuhan semacam ini, maka 30 juta orang akan tinggal di sana pada akhir abad ini. Mereka akan berjuang menyusuri kota dalam 11 juta mobil dengan kecepatan yang sangat rendah dan terperangkap dalam kemacetan lalu lintas selama berjam-jam . . . Polusi udara . . . seratus kali lebih besar daripada tingkat yang dapat ditoleransi. . . . Empat puluh persen dari seluruh penduduk menderita bronkitis kronis. . . . Selama puncak jam-jam sibuk, tingkat kebisingan di pusat kota naik antara 90 dan 120 desibel; padahal 70 desibel sudah dianggap tidak dapat ditanggung.”
”Setiap hari, 20 ton kotoran anjing diambil dari jalan-jalan raya dan trotoar di [Kota H di Eropa]. . . . Selain memakan biaya dan mengganggu, suatu faktor yang lebih serius telah tersingkap. Kotoran anjing merupakan sumber penyakit yang disebabkan oleh parasit Toxocara canis. Separuh dari jumlah tempat bermain anak-anak dan bak-bak pasir [di kota itu] didapati tercemar oleh telur-telur mikroskopis berdaya tahan tinggi dari parasit tersebut, yang masuk ke dalam rumah melalui sol sepatu dan melalui cakar binatang peliharaan di rumah. . . . Kelelahan, nyeri pada perut, alergi, masalah-masalah jantung dan arteri adalah gejala-gejala awal dari penyakit ini.”
”Meskipun [Kota I di Asia] dilanda semua problem yang dihadapi sebuah metropolis yang terlalu canggih di sebuah negara yang belum berkembang—kemiskinan, kejahatan, polusi—kota ini telah mulai menapakkan diri sebagai salah satu ibu kota abad ke-21.”
Pengecualian atau Hal yang Lumrah?
Apakah Anda dapat mengenali kota-kota tersebut dengan menyebutkan nama-namanya secara tepat? Mungkin tidak, karena tak satu pun dari problem-problem di atas hanya terdapat pada satu kota. Sebaliknya, problem-problem tersebut merupakan gejala dari sesuatu yang salah pada hampir setiap kota, besar maupun kecil, di seluruh dunia.
Kota A, menurut harian Jerman Süddeutsche Zeitung adalah Medellín, Kolombia. Jumlah pembunuhan menurun dari 7.081 pada tahun 1991 hingga ”hanya” 6.622 pada tahun 1992. Namun, menurut laporan surat kabar Kolombia El Tiempo, selama dekade yang lalu, hampir 45.000 orang telah tewas di sana oleh kekejaman. Oleh karena itu, berbagai kelompok masyarakat akhir-akhir ini berupaya keras mengurangi kejahatan di kota dan memperbaiki reputasinya.
Disebutnya Kota B sebagai New York City oleh The New York Times mungkin tidak mengejutkan orang-orang yang pernah berkunjung ke sana pada tahun-tahun belakangan ini, apalagi bagi warga kota tersebut.
Angka-angka yang diberikan oleh majalah Jerman Der Spiegel berkenaan jumlah orang yang hidup dalam keadaan miskin di Nairobi, Kenya (C), Manila, Filipina (D), dan Kalkuta, India (E) menunjukkan bahwa orang-orang yang terperangkap dalam tempat tinggal yang tidak nyaman di tiga kota ini saja lebih banyak jumlahnya dibandingkan orang yang hidup di semua negeri Eropa yang makmur seperti Denmark atau Swiss.
Kota F—Toronto, Kanada—dilukiskan pada tahun 1991 oleh majalah Time dalam sebuah artikel yang tidak bersifat memuji dibandingkan artikel yang diterbitkan tiga tahun sebelumnya. Laporan sebelumnya, berjudul ”Akhirnya, Sebuah Kota yang Berfungsi”, memuji kota yang ”mengesankan hampir setiap orang”. Artikel itu mengutip seorang pengunjung yang berkata, ”Tempat ini hampir dapat membuat saya kembali percaya akan arti sebuah kota.” Sayang sekali, ”kota yang berfungsi itu” kini jelas telah menjadi korban dari problem-problem serupa yang melanda kota-kota yang terus merosot lainnya.
Meskipun Kota G dijuluki sebagai ”salah satu kota paling tampan dan paling bergaya di Amerika, dan salah satu yang paling canggih”, namun demikian majalah Time mengakui bahwa ”Mexico City adalah kota orang kaya, dan tentu saja, kota pariwisata”. Sementara itu, menurut World Press Review, orang-orang miskin berdesakan ”di salah satu dari antara 500 daerah kumuh ibu kota” dalam barak-barak ”yang dibangun dari sampah industri, karton tebal, bangkai mobil, dan bahan bangunan hasil curian”.
Kota H diidentifikasi oleh majalah mingguan Prancis L’Express sebagai Paris, yang, menurut The New Encyclopædia Britannica, ”selama ratusan tahun, melalui suatu proses yang tidak pernah berhasil dijelaskan, . . . telah memancarkan pesona yang tiada habisnya bagi jutaan orang di seputar dunia”. Akan tetapi, dalam menghadapi problem-problem yang serius, sebagian dari pesona ”Gay Paree” (sebutan untuk kota Paris) telah memudar.
Tentang Kota I, Time berkata, ”Apa yang dahulu secara romantis dianggap oleh dunia Barat sebagai ibu kota impian yang memabukkan dari Siam kuno, ’Venesia di Timur’, yang merupakan kota masa kini yang penuh kejutan dengan malaikat-malaikat dan kuil-kuil emasnya, sekarang adalah kota Asia terbaru yang berkembang pesat.” Bahkan malaikat dan kuil emasnya telah gagal mencegah Bangkok, Thailand, menjadi, setidaknya untuk sementara waktu, ”ibu kota industri pelacuran dunia”.
Mengamati Kota-Kota Lebih Dekat Lagi
Satu dekade yang lalu, seorang jurnalis memperhatikan bahwa meskipun kota-kota besar tampaknya ”mengalami krisis yang sama, masing-masing memiliki ciri khasnya sendiri, dengan demikian juga memiliki cara khusus untuk memperjuangkan kelangsungan hidupnya”. Pada tahun 1994, kota-kota masih berjuang, masing-masing dengan caranya sendiri.
Tidak semua orang berpikir bahwa perjuangan untuk hidup adalah sia-sia. Mantan walikota Toronto, misalnya, menyatakan optimismenya dengan berkata, ”Saya tidak berpikir bahwa kota sedang runtuh. Memang kesulitan-kesulitan dihadapi, namun saya pikir kita dapat memecahkan problem ini.” Benar, beberapa kota telah berhasil mengatasi, atau setidaknya mengurangi, beberapa dari problem-problem mereka. Namun, ini menuntut jauh lebih banyak daripada sekadar optimisme.
Pada bulan Januari yang lalu, jurnalis Eugene Linden menulis, ”Nasib dunia ini amat ditentukan oleh nasib kota-kotanya.” Apa pun hasilnya, kota-kota telah membentuk dunia kita, dan kota-kota ini terus berbuat demikian. Juga, tidak soal kuno atau modern, kota telah mempengaruhi kita secara pribadi—barangkali lebih daripada yang mungkin kita bayangkan. Itulah sebabnya kelangsungan hidup kota berhubungan erat dengan kelangsungan hidup kita.
Oleh karena itu, mengamati kota-kota lebih dekat lagi tidaklah sekadar untuk tujuan menambah pengetahuan umum. Lebih penting lagi, itu akan membuat kita sadar akan situasi yang penuh risiko dari dunia dewasa ini. Maka, marilah kita mulai ”Mengamati Kota-Kota Lebih Dekat Lagi”. Kami berharap seri Sedarlah! yang terdiri atas enam artikel ini akan menarik, menambah wawasan, dan menganjurkan para pembaca. Meskipun terdapat problem-problem dunia yang serius—yang terlihat sangat jelas dalam perjuangan demi kelangsungan hidup kota kita—semuanya bukan tanpa harapan!
[Blurb di hlm. 16]
”Nasib dunia ini amat ditentukan oleh nasib kota-kotanya.”—Penulis Eugene Linden
[Gambar di hlm. 17]
Bepergian dari kota ke kota mungkin mudah, namun memecahkan problem-problemnya tidaklah mudah
-
-
”Berkeliling ke Semua Kota”Sedarlah!—1994 | 8 Januari
-
-
”Berkeliling ke Semua Kota”
SEMASA di bumi, Kristus Yesus ”berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga”. (Matius 9:35) Orang-orang yang ingin mengikuti jejak kakinya juga diimbau untuk mengabar di kota-kota dunia. Di sana mereka akan menjumpai problem-problem yang lazim didapati di kota-kota dan dipaksa untuk mengatasinya.
Perjalanan bersejarah ke kota-kota memberi gambaran tentang masa-masa baik dan buruk yang terjadi selama ribuan tahun keberadaan manusia, suka-duka upaya manusia untuk meraih kebahagiaan. Suatu tinjauan secara jujur terhadap kota-kota mengesankan kita akan fakta bahwa seluruh umat manusia hanyalah satu keluarga tunggal, yang dihadapkan dengan problem-problem yang sama. Kebanggaan nasional atau prasangka ras seharusnya tidak ada dasarnya dewasa ini.
Sayang sekali, banyak orang tidak tahu banyak tentang kota-kota, bahkan letaknya. Sewaktu para mahasiswa universitas AS pada pertengahan tahun 1980-an diminta untuk menunjukkan letak kota-kota tertentu, beberapa di antara mereka menempatkan Dublin (Irlandia) di Amerika Serikat dan Lima (Peru) di Italia.
Sebuah tes yang dilakukan beberapa tahun sebelumnya di universitas lain menyingkapkan bahwa hampir setengah dari jumlah mahasiswanya tidak dapat menunjukkan lokasi kota London di peta dunia. Beberapa menunjuk di Eslandia, yang lainnya di Benua Eropa. Profesor yang mengadakan tes tersebut mengeluh bahwa 42 persen mahasiswa sama sekali ”kehilangan” London. Yang lebih memalukan lagi, 8 persen mahasiswa ”kehilangan” kota di Amerika tempat tes tersebut diadakan!
Namun, orang-orang Amerika jelas bukan satu-satunya yang lemah dalam pengetahuan geografi. Pada akhir tahun 1980-an, sebuah tes yang dilakukan atas siswa-siswa di sepuluh negara memperlihatkan bahwa siswa-siswa Swedia adalah yang terbaik dan siswa-siswa Amerika berada di peringkat keenam. Akademi Sains di bekas Uni Soviet mendapati bahwa 13 persen siswa-siswa Soviet yang dijadikan objek survei tidak dapat menunjukkan bahkan lokasi negeri mereka sendiri di peta dunia. Anggota akademi, Vladimir Andriyenkov, berkata dengan rasa malu, ”Hasilnya tak dapat dipercaya.”
Bagaimana dengan Anda? Seberapa baikkah pengetahuan Anda tentang geografi secara umum dan tentang kota-kota khususnya? Bagaimana jika Anda menguji diri sendiri dengan menjawab kuis di halaman 20? Anda dapat mempelajari beberapa fakta yang menarik dengan ”Mengamati Kota-Kota Lebih Dekat Lagi”.
Dalam terbitan Sedarlah! berikutnya, kita akan mengamati lebih dekat lagi lima kota. Ini adalah kota-kota yang khas, yang selama ribuan tahun sama sekali tidak dikenal. Namun menjelang pergantian, diperkirakan, akan muncul setidaknya 20 kota semacam itu. Lebih dari setengahnya berada di Asia. Jenis kota macam apakah itu?
[Kotak di hlm. 20, 21]
Dapatkah Anda Mengenal Kota Ini?
Cocokkan uraian berikut dengan nama kota yang sesuai.
1. Ibu kota tertinggi di dunia di atas permukaan laut.
2. Kota terbesar di negeri yang terpadat penduduknya di dunia.
3. Nama resminya, meskipun jarang digunakan, terdiri dari 27 kata, yang bagian pertamanya serupa dengan makna kata Los Angeles; terletak di jantung wilayah penghasil padi. Kota ini memiliki lebih dari 400 kuil Budha.
4. Kota ini—selain empat kota lainnya—memiliki angka kepadatan penduduk dua kali lebih tinggi di banding kota lain mana pun di dunia.
5. Kota ini kehilangan hampir seperempat juta penduduknya dalam sebuah bencana pada tahun 1976.
6. Sebagai pusat kawasan tekstil negaranya, kota ini memainkan peranan penting dalam revolusi industri.
7. Kota ini pernah dipandang sebagai salah satu kota terjorok di Eropa, sekarang ia tersohor di dunia karena minyak wangi yang menyandang nama kota tersebut.
8. Hampir 60 bahasa digunakan di kota pelabuhan di Asia ini. Kota ini pernah menjadi ibu kota negaranya sejak tahun 1833 hingga 1912.
9. Ibu kota yang dibentuk sesuai keinginan, direncanakan sedemikian lama, dan menjadi kenyataan pada tahun 1960.
10. Terletak di ujung fyord yang panjangnya 100 kilometer, ditinjau dari luas wilayahnya, kota ini termasuk salah satu kota terluas di dunia.
11. Hampir musnah sepenuhnya oleh gempa bumi pada tahun 1755, kota ini memiliki biaya hidup terendah di antara ibu kota mana pun di negara-negara Masyarakat Eropa.
12. Secara resmi dibentuk pada tahun 1873, ketika masyarakat yang berada di tepi-tepi Sungai Danube dipersatukan di bawah satu nama.
13. Para penjelajah Portugis keliru menyangka jalan masuk teluknya sebagai mulut sebuah sungai, karena itu memberinya nama yang disandangnya sampai sekarang.
14. Didirikan pada tahun 1788 sebagai sebuah koloni penjara, kota ini adalah salah satu kota besar yang terletak paling selatan di dunia.
15. Dengan akar keagamaan yang kuat, kota ini terkenal karena pertemuan politiknya yang unik.
16. Pada tahun 1850, Raja Kamehameha III mengumumkan kota ini sebagai ibu kota kerajaannya; nama kota ini berarti ”Teluk yang Terlindung”, dan iklimnya yang sedang sepanjang tahun membuat kota itu sangat disukai para turis.
17. Kadang-kadang disebut kota dengan banyak angin, kota ini pernah nyaris habis dilalap api; kini kota tersebut membanggakan bangunannya yang tertinggi di dunia.
18. Sebelum tahun 1966, kota itu bernama Léopoldville.
19. Hampir setua salah satu penguasa Yunani yang paling tersohor, kota ini dikenang oleh pelajar-pelajar Alkitab sebagai lokasi tempat dibuatnya terjemahan yang terkenal dari Kitab-Kitab Ibrani dalam bahasa Yunani.
20. Pertumbuhannya yang pesat adalah hasil ditemukannya emas di sekitarnya, dan unik mengingat kota tersebut merupakan satu-satunya kota besar di dunia yang tidak terletak di tepi pantai atau danau atau sungai.
Aleksandria, Mesir
Bangkok, Thailand
Boston, AS
Brasília, Brasil
Budapest, Hongaria
Chicago, AS
Cologne, Jerman
Hong Kong
Honolulu, Hawaii, AS
Johannesburg, Afrika Selatan
Kalkuta, India
Kinshasa, Zaire
La Paz, Bolivia
Lisbon, Portugal
Manchester, Inggris
Oslo, Norwegia
Rio de Janeiro, Brasil
Shanghai, Cina
Sydney, Australia
Tangshan, Cina
[Kotak di hlm. 21, 22]
Jawaban:
1. La Paz, yang terletak antara 3.250 dan 4.100 meter di atas permukaan laut, didirikan oleh orang-orang Spanyol pada tahun 1548.
2. ”Shanghai” berarti ”Di Atas Laut”, dan selain adalah salah satu pelabuhan laut terbesar di dunia, kota itu menjadi pusat pendidikan tinggi dan riset ilmiah Cina.
3. Bagian pertama dari nama resmi Bangkok adalah Krung Thep, yang berarti ”Kota para Malaikat”; dalam bahasa Spanyol, ”Los Angeles” berarti ”para malaikat”. Meskipun Bangkok telah membangun jalan-jalan bebas hambatan, sebagian besar kanal-kanalnya yang terkenal telah ditimbuni tanah untuk dijadikan jalan raya.
4. Hong Kong, dengan penduduk 96.000 orang per kilometer persegi, diikuti oleh Lagos, Nigeria (55.000); Dakka, Bangladesh (53.000); Jakarta, Indonesia (50.000); dan Bombay, India (49.000).
5. Pada tahun 1976, Cina diguncang salah satu gempa bumi terburuk dalam sejarah modern, dengan ukuran 7,8 pada skala Richter. Tangshan hampir terkubur; sedikitnya 240.000 orang tewas.
6. Manchester, yang terletak sekitar 240 kilometer sebelah utara London, menjadi pusat industri yang begitu pesat sehingga antara tahun 1821 dan 1831, penduduknya meningkat 45 persen.
7. Pada permulaan abad ke-19, Cologne terkenal sebagai salah satu dari tiga kota terjorok di dunia—Kalkuta, Konstantinopel, dan Cologne—sehingga para serdadu Prancis yang ditugaskan di sana ”menutup wajah mereka dengan saputangan yang dibasahi Eau de Cologne untuk menangkal bau pesing yang menyebar di kota itu”.—Kölner Stadt-Anzeiger.
8. Kalkuta adalah kota terbesar ketiga di India dan kedudukannya sebagai ibu kota digantikan oleh New Delhi.
9. Diusulkan pada tahun 1789 dan dimasukkan ke dalam Undang-Undang Dasar 1891, gagasan untuk mempunyai sebuah ibu kota di pedalaman Brasil menjadi kenyataan pada tahun 1960 berupa Brasília. Pembangunannya dari nol menawarkan kesempatan yang jarang ada untuk menyelesaikan ”suatu kota seutuhnya yang dirancang rapi sehubungan tata letak fisik, arsitektur, dan pemukiman manusia”.—Encyclopædia Britannica.
10. Oslo, ibu kota Norwegia, meliputi daerah seluas 453 kilometer persegi, yang sebagian besar di antaranya adalah bukit-bukit penuh hutan dan danau.
11. Gereja-gereja penuh sesak pada pagi hari tanggal 1 November 1755 untuk merayakan All Saints’ Day (Hari Raya Santo-Santo), ketika Lisbon diporak-porandakan oleh salah satu gempa bumi terkuat dalam sejarah, yang menewaskan sekitar 30.000 orang.
12. Pada tahun 1873, kota Pest, di sisi timur Sungai Danube, dan kota Buda, beserta Óbuda dan Pulau Margaret, di sisi barat, secara resmi dipersatukan dengan nama Budapest, salah satu kota yang amat menarik di Eropa, yang pernah dikenal sebagai Ratu dari Danube.
13. Kata Portugis untuk ”sungai” dan untuk ”Januari”—para penjelajah tiba pada tanggal 1 Januari 1502—digabungkan untuk menciptakan nama Rio de Janeiro.
14. Pada bulan Januari 1788, sekitar 750 orang hukuman tiba dari Inggris sebagai awal dari sebuah koloni penjara; kini, Sydney adalah kota tertua dan terbesar di Australia.
15. Selama hampir tiga abad, beberapa kota memberikan lebih banyak pengaruh pada kehidupan di Amerika Serikat daripada yang diberikan oleh kota Boston, yang didirikan oleh kaum Puritan yang lari dari Eropa karena penganiayaan agama. Pada tahun 1773, warganya membantu mengobarkan Revolusi Amerika ketika, dengan menyamar sebagai orang-orang Indian mereka menunggang-balikkan tiga kapal bermuatan teh di pelabuhan Boston guna memprotes pembayaran pajak kepada Inggris tanpa mendapatkan hak perwalian di pemerintahan.
16. Semula merupakan basis perdagangan kayu cendana dan penangkapan ikan paus, diduduki berturut-turut oleh Rusia, Inggris, dan Prancis, Honolulu dikembalikan kepada Raja Kamehameha III. Pada tahun 1850, ia mengumumkan kota tersebut sebagai ibu kota kerajaannya. Hawaii menjadi wilayah AS pada tahun 1900 dan memperoleh status negara bagian pada tahun 1959.
17. Ada yang menyebut Chicago sebagai kota AS yang khas, dengan menampilkan segi-segi terbaik dan yang terburuk dari negeri itu. Bagian pusat kota itu dilalap api pada tahun 1871 ketika sapi milik Ny. O’Leary diperkirakan menyepak lentera yang sedang menyala di sebuah kandang. Sekitar 250 orang tewas, dan 90.000 orang kehilangan tempat tinggal. Menara Sears di Chicago, dengan ketinggian 443 meter, merupakan bangunan tertinggi di dunia.
18. Pada tahun 1960, Léopoldville, yang dinamai sesuai nama Raja Belgia Leopold II, menjadi ibu kota Republik Kongo setelah bubarnya negara Kongo Belgia. Pada tahun 1971, nama negara itu diganti menjadi Zaire; pada tahun 1966, nama ibu kotanya diganti menjadi Kinshasa.
19. Aleksandria berasal dari nama Aleksander (Iskandar) Agung, yang memerintahkan agar kota itu dibangun pada tahun 332 SM. Kurang dari seratus tahun kemudian, penduduknya yang berbangsa Yahudi—kemungkinan selama pemerintahan Ptolemy II Philadelphus (285-246 SM)—mulai menerjemahkan Kitab-Kitab Ibrani ke dalam bahasa Yunani yang kemudian menghasilkan terjemahan Septuagint.
20. Johannesburg, yang tidak terletak di tepi pantai, di tepi danau, ataupun di tepi sungai, mendapat status kota besar karena ditemukannya emas pada tahun 1886. Penduduk kota itu bertambah dari 2.000 pada tahun 1887 menjadi 120.000 menjelang tahun 1899 dan dewasa ini berjumlah lebih dari 1,7 juta.
[Peta di hlm. 18, 19]
(Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)
[Gambar di hlm. 18]
Rio de Janeiro, Brasil
[Gambar di hlm. 19]
Bangkok, Thailand
[Keterangan]
Dinas Kepariwisataan Thailand
[Gambar di hlm. 20]
Kiri: Sydney, Australia
Bawah: La Paz, Bolivia
[Gambar di hlm. 21]
Shanghai, Cina
[Gambar di hlm. 22]
Kiri: Honolulu, Hawaii
Kanan: Hong Kong
-