-
”Celaka, Celaka Engkau, Hai Kota yang Besar”Sedarlah!—1994 | 8 Maret
-
-
”Celaka, Celaka Engkau, Hai Kota yang Besar”
DARI semua kota di dunia yang dinyatakan besar, tampaknya tidak satu pun yang diberi gelar demikian selain kota-kota yang dianggap suci secara religius. Namun seruan ”celaka, celaka” menyatakan bahwa kota religius yang dikatakan ”besar” di Wahyu 18:10 itu jelas tidak mendapat perkenan ilahi, sebagaimana kita akan lihat nanti.
Penyeberangan kepada Kekekalan?
Kota-kota Hindu yang suci di India disebut tīrthas, yang berarti ”menyeberangi” atau ”mengarungi”. Banyak kota, seperti kota Benares (juga disebut Banaras, Kasi, atau Varanasi) terletak di tepi sungai. Tetapi kota-kota itu dimaksudkan, bukan sebagai penyeberangan secara harfiah, namun sebaliknya arungan secara rohani yang dianggap memungkinkan umat manusia untuk menyeberangi air kehidupan dengan selamat ke suatu kehidupan yang lebih baik di alam sana.
Sebuah ensiklopedia berkata, ”Vārānasi adalah salah satu kota tertua di dunia yang terus dihuni . . . , perkampungan Arya pertama di tengah-tengah lembah Gangga.” Kota itu merupakan pusat keagamaan pada milenium kedua SM. Meskipun kota itu adalah kota Hindu, kota itu juga muncul dalam sejarah Buddha dan Islam. Selama abad keenam SM, ketika Benares menjadi ibu kota Kerajaan Kasi, Buddha menyampaikan khotbah pertamanya di dekat situ. Agama Islam mulai masuk tahun 1194, ketika orang-orang Muslim menguasai kota tersebut.
Terletak di India bagian utara di tepi Sungai Gangga, Benares adalah salah satu dari tujuh kota Hindu yang paling suci di negeri itu. Di dalam wilayahnya, sebuah tempat simbolis telah ditetapkan bagi setiap dewa Hindu dan setiap tīrthas besar lainnya. Jadi, The Encyclopedia of Religion menyebut kota tersebut ”suatu mikrokosmos dari geografi suci India”. Ensiklopedia itu menambahkan, ”Kehebatan kekuatan yang keluar dari kumpulan simbolis ilah, tīrthas, dan guru di satu tempat ini telah menjadikan Benares tempat ziarah yang paling luas diakui di India.”
Umat Hindu menganggap Benares sebagai tempat yang paling menguntungkan untuk mati. Ungkapan populer Kāśyām maranam muktih berarti ”Mati di Kasi adalah kebebasan”. Tradisi mengatakan bahwa siapa pun yang mati di sana akan diinstruksikan langsung oleh Syiwa, sama dengan diangkut ”menyeberangi arus samsāra ke ’pantai yang jauh’ dari kekekalan”.a
Seperti sungai-sungai di mana pun, Gangga membelokkan alirannya dari kota-kota makmur di masa lalu, menyerap limbah dan bahan-bahan kimia seraya ia mengalir. Sementara itu, umat Hindu yang berbakti, seperti didiktekan oleh tradisi keagamaan, melemparkan kira-kira 10.000 mayat ke sungai tersebut setiap hari. Pada waktu yang sama, para peziarah, lupa akan bahaya penyakit yang jelas mengancam, melangkahkan kaki di sepanjang tepian sungai untuk ikut dalam mandi keagamaan. Apakah ini benar-benar suatu cara menuju kekekalan?
Seberapa Abadikah ”Kota Abadi” Itu?
Sungai lainnya, kemungkinan pernah disebut Albula oleh karena jernihnya air sungai tersebut, mengalir melalui sebuah kota religius di Eropa, ”Kota Abadi” dari tujuh bukit. Sungai tersebut, yang telah lama kehilangan kejernihan airnya, kini dikenal dengan nama Tiber. Dan kota tersebut telah lama bertumbuh melampaui tujuh bukitnya. Meskipun demikian, ”warisan masa lampau yang tertinggal di Roma”, tulis The New Encyclopædia Britannica, ”tidak tertandingi oleh kota lain mana pun di Barat”.
Puluhan monumen dan bangunan bersejarah memberikan bukti akan warisan ini. Bahwa bangunan-bangunan tersebut bertahan sama sekali sudah menakjubkan, mengingat kota tersebut telah berkali-kali ditaklukkan dan dijarah—pada permulaan abad ke empat SM oleh orang-orang Gaul dan pada Tarikh Masehi, oleh orang-orang Visigoth pada tahun 410, orang-orang Vandal pada tahun 455, orang-orang Norman pada tahun 1084, pasukan sewaan kerajaan pada tahun 1527, tentara Napoleon pada tahun 1798, dan orang-orang Jerman serta Sekutu selama Perang Dunia II.
Meskipun kota Roma asli yang bertembok hanyalah 4 persen dari areal keseluruhan kota modernnya, ke kota Roma inilah jutaan turis berduyun-duyun untuk melihat-lihat, sebab di sanalah tempat kebanyakan monumen berada. Daya tarik lain bagi para turis, setidaknya pada awal tahun 1993, adalah pameran ”Sixtus V dan Roma”. Sebagai paus sejak tahun 1585 sampai tahun 1590, Sixtus meninggalkan kesan yang bertahan begitu lama terhadap wajah Roma sehingga ia disebut ”bapak perencanaan kota modern”. Menjelaskan mengapa ia mengubah bentuk kota Roma, The European menulis, ”Pertama, untuk menyediakan suatu dasar arsitektur yang kokoh demi meneguhkan kekuatan Vatikan terhadap ancaman Protestan. . . . Kedua, untuk membuat kota Roma, dalam banyak hal tetap sebuah kota provinsi yang sederhana, kedudukan yang layak dari Yerusalem Baru.”
Vatikan City, suatu daerah yang kecil sekali di Roma, dinyatakan menjadi ”kedudukan Yerusalem Baru”. Pada tahun 1929 pemerintah Fasis Italia menandatangani Perjanjian Lateran, dengan demikian mengakui kedaulatan Vatikan City. Sejak saat itu, paus memerintah kota tersebut dengan wewenang eksekutif, legislatif, dan peradilan yang mutlak. Vatikan memiliki sistem pos dan teleponnya sendiri serta angkatan bersenjatanya sendiri, termasuk Pengawal Swiss berseragam yang bertanggung jawab melindungi paus. Namun yang terutama ingin dilihat oleh para turis adalah Basilika St. Petrus, yang selama berabad-abad merupakan gereja terbesar dalam Susunan Kristen. Kemasyhurannya hilang pada tahun 1989 dengan selesainya basilika di Yamoussoukro, Pantai Gading.
The New Encyclopædia Britannica mengatakan bahwa ”selama 1.000 tahun, menjadi warga negara Roma berarti memegang kunci kepada dunia, untuk hidup dengan keamanan, kebanggaan, dan kesenangan yang relatif”. Namun kini tidak lagi demikian! Kecurangan politik di Roma dan stagnasi (keadaan tidak aktif) agama di Vatikan City membuktikan apa yang disebut kemuliaan di masa lalu tidaklah kekal.
Tempat Tersuci Agama Islam
Kira-kira satu miliar orang Muslim di seluruh dunia memandang kota Mekah sebagai ”lokasi aktivitas manusia yang bersifat ilahi, malaikat, nubuat, dan yang menguntungkan sejak saat penciptaan pada zaman purba”.b Menurut agama Islam di sanalah penciptaan mulai, tempat Abraham membangun rumah pertama untuk ibadat, dan tempat ia mengambil gundiknya Hagar dan anak mereka, Ismael.
Lebih belakangan, kira-kira tahun 570 M, kota Mekah, Arab Saudi, adalah tempat Nabi Muhammad dilahirkan. Pada mulanya, ajarannya hanya mendapat sedikit tanggapan. Mekah adalah sebuah oase di rute perdagangan karavan antara India dan Eropa, dan para saudagarnya yang kuat takut kalau-kalau reformasi Muhammad yang bersifat agama menyebabkan kemunduran ekonomi. Gagal untuk mendapat tempat berpijak di sana, nabi tersebut berpaling ke Yathrib, yang menjadi dikenal sebagai Al-Madīnah (Medinah), sebuah kota yang terletak lebih dari 300 kilometer ke arah timur laut. Namun pada tahun 630 M, ia kembali ke Mekah, merebut kota itu, dan membuatnya menjadi pusat spiritual Islam.
Dewasa ini, Mekah adalah kota kosmopolitan yang kaya, meskipun hanya orang Muslim yang boleh tinggal di sana. Selama Dhuʼl-Hijja, bulan suci bagi para peziarah, jutaan orang berkunjung untuk menunaikan kewajiban suci mereka yaitu naik haji. Selama di Mekah, para peziarah mengunjungi Mesjid Suci, di sana mereka berjalan sebanyak tujuh kali mengitari sebuah tempat suci kecil yang terletak di tengah halaman yang tidak beratap dari mesjid itu.
Tempat suci ini adalah Kaabah, sebuah bangunan berbentuk kubus yang biasanya ditutup dengan sebuah gorden besar terbuat dari kain brokat hitam dan berisi Batu Hitam suci. Batu ini, dipercayai oleh orang-orang Muslim diberikan kepada Adam sebagai pengampunan dosa atas pengusirannya dari Eden, menurut dugaan dulunya berwarna putih. Dalam tradisi Muslim, Kaabah yang mula-mula musnah waktu Air Bah zaman Nuh, namun Batu Hitamnya terpelihara dan belakangan diberikan kepada Abraham oleh malaikat Gabriel, sesudah itu Abraham membangun kembali Kaabah dan mengembalikan Batu Hitam itu ke tempat yang seharusnya. Ke arah Kaabahlah—yang menurut orang-orang Islam adalah tempat yang paling suci di bumi—orang Muslim berkiblat sewaktu sembahyang lima kali sehari.
Dua puluh empat gerbang menuju ke halaman Mesjid Suci itu, namun pintu masuk tradisional bagi para peziarah adalah Gerbang Damai, terletak di sudut sebelah utara. Tetap saja, keadaan tidak selalu damai selama masa naik haji. Pada tahun 1987, orang-orang Islam yang tidak sepaham berupaya mengambil alih mesjid tersebut. Ketertiban dapat segera dipulihkan namun itu tidak terjadi sebelum lebih dari 400 orang Muslim terbunuh dan kira-kira 650 orang terluka. Tidak adanya perdamaian yang begitu jelas terlihat di tempat yang paling suci dari semua tempat suci Islam, sungguh disesalkan, namun orang Muslim mendapat penghiburan dari ajaran Islam, yang mengajarkan bahwa setiap orang yang mati pada saat naik haji segera masuk surga.
Memiliki Perdamaian Ganda?
Yerusalem, yang berarti ”Memiliki Perdamaian Ganda”, dipandang oleh orang Yahudi dan orang yang mengaku Kristen sebagai Kota Suci dan oleh orang Muslim sebagai tempat paling suci ketiga di atas bumi (setelah Mekah dan Medinah). Dari tahun 1070 SM, kota ini menjadi ibu kota Israel purba, meskipun kota ini telah ada hampir 900 tahun sebelumnya dengan nama Salem. (Kejadian 14:18) Sebagai pusat administratif dari bangsa tersebut, kota itu letaknya strategis, terlindung di antara bukit-bukit dengan ketinggian sekitar 750 meter di atas permukaan laut, membuatnya sebagai salah satu ibu kota tertinggi di dunia pada saat itu.
Pada abad keempat SM, Yerusalem berada di bawah kendali Yunani. Menjelang abad kedua SM, kota itu semakin dipengaruhi oleh Kekaisaran Roma yang berkembang. Selama pemerintahan Herodes Agung, Yerusalem menjadi makmur. Bagian dari tembok halaman bait yang ia bangun rupanya masih berdiri, kini dikenal sebagai Tembok (Ratapan) sebelah Barat. Karena orang-orang Yahudi mencoba untuk mematahkan kuk Roma, pasukan Roma menyerang Yerusalem pada bulan April 70 M. Kurang dari lima bulan kemudian, kota tersebut dan baitnya menjadi reruntuhan.
Menurut sebuah perhitungan, Yerusalem telah ditaklukkan sebanyak 37 kali. Dalam banyak peristiwa, hal ini mengakibatkan kehancuran setengah kota itu ataupun seluruhnya. Namun sebuah Yerusalem baru selalu bangkit di atas yang lama. Maka kira-kira tahun 130 M, Kaisar Hadrian memerintahkan agar sebuah kota baru dibangun, yang dinamai Aelia Capitolina. Tidak seorang Yahudi pun diizinkan memasukinya selama hampir dua abad. Kemudian, dalam lima puluh tahun pertama abad ketujuh M, orang Muslim merebut kota itu dan belakangan membangun Kubah Batu Padas di atas atau di dekat bait yang mula-mula.
Negara Israel modern didirikan pada tahun 1948, dan pada tahun 1949, Yerusalem dibagi antara Israel dan Yordania. Namun pada tahun 1967, selama Perang Enam Hari, orang Israel merebut setengah bagian timurnya. Sejak saat itu mereka telah memodernisasi kota tersebut, dan pada saat yang sama berupaya mempertahankan keutuhan historisnya. Menjelang tahun 1993 jumlah penduduknya lebih dari setengah juta.
Dengan tiga agama utama dunia yang semuanya memandang Yerusalem suci, ketegangan agama kadang-kadang memuncak. ”Dari semua konflik antara orang Yahudi dan orang Arab, yang melibatkan Yerusalem adalah yang paling kompleks dan sulit diatasi”, demikian pernyataan Time. Untuk masa ini sedikit saja bukti akan perdamaian ganda yang dijanjikan oleh nama Yerusalem.
”Kota-Kotamu Akan Menjadi Reruntuhan yang Sunyi”
Kota yang disebutkan di Wahyu 18:10 melambangkan semua agama yang tidak menyenangkan Allah. ”Celaka, celaka engkau, hai kota yang besar, Babel, hai kota yang kuat, sebab dalam satu jam saja sudah berlangsung penghakimanmu!” Dengan terus terang, ini berarti bahwa agama yang menentang Allah Yehuwa ditimpa malapetaka. Meskipun adanya kuil, upacara, dan perlengkapan keagamaan mereka, kota-kota ”besar” agama dewasa ini tidak menawarkan perlindungan kekal pada hari penghakiman Allah.
[Catatan Kaki]
a ”Samsara” dimengerti oleh orang-orang Hindu sebagai perpindahan jiwa yang kekal dan tak dapat binasa.
b Islam: Beliefs and Teachings, diterbitkan oleh The Muslim Educational Trust, menyatakan bahwa ”jumlah terakhir orang-orang Muslim di seluruh dunia mungkin hampir mencapai 1.100 juta orang”.
[Gambar di hlm. 14]
Mesjid suci Mekah dan Kaabah
[Keterangan]
Camerapix
[Gambar di hlm. 15]
Tembok Ratapan Yahudi di Yerusalem dan Kubah Batu Padas Muslim (kiri)
[Keterangan]
Garo Nalbandian
-
-
”Kota yang Memiliki Fondasi yang Nyata”Sedarlah!—1994 | 8 Maret
-
-
”Kota yang Memiliki Fondasi yang Nyata”
SETIAP kota memiliki fondasi, maka jika sebuah kota dilukiskan memiliki fondasi yang nyata, kota itu tentu memiliki sifat alamiah yang sangat permanen. Ibu kota purba, seperti Babilon, Petra, Asyur, dan Teotihuacán, benar-benar tidak cocok dengan lukisan itu. Kota-kota ini yang dahulu dinamis dan hiruk pikuk, kini mati dan sunyi senyap. Demikian pula dengan bangsa-bangsa yang mereka wakili.
Fondasi ibu kota bangsa-bangsa modern umumnya juga cukup meyakinkan. Kota-kota tersebut mungkin tidak selalu menjadi kota terbesar di negara mereka masing-masing, namun kenyataan bahwa sebuah kota berfungsi sebagai ibu kota negaranya menjadikan kota itu penting, tidak soal ukurannya. Mari kita lihat empat contoh.
Terkenal karena Dua Aspek yang Bertolak Belakang
Pada tahun 1790, Kongres AS menyatakan bahwa tampuk pemerintahan yang permanen bagi negeri tersebut seharusnya tidak berada di dalam suatu negara bagian mana pun. Maka suatu daerah khusus yang disebut Distrik Kolombia dibentuk untuk tujuan itu. Terletak di pesisir pantai sebelah timur Amerika Serikat dalam Distrik Kolombia, kota Washington jangan dikacaukan dengan negara bagian Washington, yang terletak di pantai Pasifik, ribuan kilometer sebelah barat laut ibu kota negara itu.
Rancangan aslinya, diselesaikan pada tahun 1791 oleh insinyur Prancis Pierre L’Enfant, membutuhkan suatu sistem yang rumit untuk tempat-tempat parkir umum dan tempat-tempat terbuka yang berfungsi sebagai latar belakang sehingga Kapitol dan bangunan-bangunan pemerintah lainnya dapat tampak sebaik mungkin. Tempat kediaman presiden sendiri akhirnya dirancang oleh arsitek Irlandia James Hoban. Plesterannya yang berwarna abu-abu keputih-putihan menonjol dengan begitu kontras dibanding bangunan-bangunan bata merah di dekatnya sehingga bangunan itu segera disebut Gedung Putih, sebuah nama yang secara resmi disetujui pada tahun 1902.
Dengan kriteria apa pun Washington memang unik. Bangunan-bangunan milik negara, ditambah lebih dari 300 patung dan tugu peringatan, menghiasi tempat tinggal sementara ratusan politisi. Dan menurut sebuah sumber, tempat tinggal dari sedikitnya 55.000 pengacara dan 10.000 wartawan!
Washington, telah dikatakan, ”mencerminkan sisi terburuk dan sisi terbaik Amerika”. Sisi terburuk mencakup masalah yang menimpa semua kota AS: pengangguran, polusi, kejahatan, perumahan yang tidak memenuhi standar, dan ketegangan rasial, hanya beberapa di antaranya. Washington adalah, seperti sebuah buku pedoman terkemuka menjulukinya, ”suatu kota metropolitan yang terkenal karena dua aspek yang bertolak belakang yaitu karena keburukan dan kejahatannya sebagaimana juga karena keanekaragaman dan keindahannya yang benar-benar menakjubkan”.
Roma Ketiga?
Sampai belakangan ini, Washington dan Moskwa memiliki persamaan dalam hal bahwa keduanya memiliki sebuah Gedung Putih—bangunan markas besar Republik Rusia tersebut juga diberikan julukan ini karena bagian depannya terbuat dari marmer—dan karena keduanya memiliki suatu sistem kereta api bawah tanah yang baik sekali yang disebut Metro.
Metro Moskwa cepat dan tidak mahal, dengan keindahan yang jarang ditemukan dalam sistem kereta api bawah tanah. Pada bulan Agustus 1993, tarif untuk sekali perjalanan, jauh maupun dekat, kira-kira satu sen AS. Beberapa stasiun terbuat dari marmer dan dihiasi gambar-gambar yang mengesankan, patung-patung, dan lukisan yang berwarna-warni pada langit-langit. Eskalator yang luar biasa cepat membawa para penumpang dari permukaan jalan ke kereta api dan kembali lagi.
Moskwa adalah salah satu kota tertua di Rusia, menurut tradisi didirikan pada tahun 1147. Pada abad ke-15, kota ini menjadi ibu kota negara bagian Rusia persatuan yang baru dibentuk, akan tetapi, kota ini kehilangan posisinya pada tahun 1712, diganti oleh St. Petersburg. Dua abad kemudian, pada tahun 1918, setelah Revolusi Bolshevik, Moskwa mendapatkan kembali posisinya sebagai ibu kota Rusia dan juga menjadi ibu kota Uni Soviet yang baru.
Kremlin, yang selama puluhan tahun melambangkan komunisme dan pusat tempat Moskwa berpaut, dibatasi di sebelah timur oleh Lapangan Merah.
Di ujung selatan Lapangan Merah terletak Katedral St. Basil, dibangun pada pertengahan abad ke-16 oleh Tsar Ivan IV, yang lebih dikenal sebagai Ivan yang Mengerikan. Rancangan dan warna-warninya yang cerah sungguh unik. Tradisi mengatakan bahwa setelah pembangunan selesai arsitek yang membangunnya dijadikan buta untuk mencegahnya menciptakan lagi sesuatu yang sama seperti itu.
Politik dan agama bergandengan erat di balik tembok Kremlin selama berabad-abad—tempat katedral berdiri sebagai saksi bisu, terutama setelah Moskwa menjadi pusat Gereja Ortodoks Rusia pada tahun 1326. Moskwa kemudian menjadi terkenal sebagai ”Roma Ketiga”, dan ”orang-orang Rusia menjadi yakin bahwa mereka berada pada tempat istimewa—dalam perkenan Allah sebagai pemelihara terakhir dari kebenaran religius”. Namun makam yang besar dan indah di Lapangan Merah, tempat Lenin yang dibalsem terbaring, dan kuburan para ateis Komunis lainnya di tembok Kremlin menyangkal pernyataan tadi.
Ibu Kota Harapan?
Gagasan menempatkan ibu kota di pedalaman Brasil diungkapkan sejak awal tahun 1789 dan bahkan dimasukkan dalam konstitusi pada tahun 1891. Sungguhpun demikian, baru pada tahun 1956 sebuah tempat dipilih. Empat tahun kemudian pemerintah federasi Brasil memulai suatu perjalanan sejauh 1.000 kilometer dari Rio de Janeiro untuk mencapai rumah barunya.
Bahwa seluruh kota didirikan dalam waktu yang sedemikian cepat adalah luar biasa. Banyak orang Brasil dengan bangga menganggapnya sebagai lambang dari kebesaran bangsa mereka di masa depan. Mereka memujinya sebagai ibu kota paling modern di dunia, menyebutnya sebagai ”ibu kota harapan”. Brasilia memiliki arsitektur modern yang mengesankan, dan perkembangannya yang teratur menjadikannya suatu contoh yang menonjol bagi perencanaan kota dalam skala besar.
”Tujuan Brasilia,” kata The New Encyclopædia Britannica, ”adalah untuk memusatkan perhatian ke pedalaman negeri itu dan untuk mempercepat pemukiman di daerah dan pengelolaan sumber dayanya yang belum dijamah.” Hingga taraf tertentu sasaran-sasaran ini telah tercapai. Namun seperti Washington, yang areal metropolitannya kini 40 kali lebih besar dibanding Distrik Kolumbia, Brasilia telah bertumbuh. Sebaliknya daripada 600.000 penduduk yang telah direncanakan, lebih dari 1.600.000 orang kini tinggal di sana dan di sekitar kota-kota satelit. Di beberapa tempat kehidupan kurang begitu baik.
Dalam beberapa hal bahkan aspek-aspek positif dari kota tersebut telah terbukti kurang. ”Karakter Brasilia,” tulis majalah National Geographic, ”berada di suatu tempat di antara taman arca dan sebuah koloni di bulan.” Das Bild unserer Welt (Potret Dunia Kita) menulis, ”Sampai sekarang adalah mustahil untuk meniupkan kehidupan kota ke Brasilia, ibu kota baru tersebut. Sebaliknya, dalam kota tabung reaksi ini, ilmu gaib, kelompok-kelompok kecil yang mempraktekkan tradisi, dan sekte-sekte telah lebih berkembang dibanding di tempat lain mana pun—reaksi orang-orang akan kekosongan dan kesepian.”
Maka, ”ibu kota harapan” jelas memiliki beberapa kelemahan. Suasananya yang agak dingin, hampa dan tempat-tempatnya yang terbuka lebar—biasanya demikian sambutan kota-kota besar—terutama nyata ketika para politisi dan pekerja kerah putih meninggalkan kota pada akhir pekan dan hari libur.
Tinggi di Pegunungan
Delapan dari sepuluh gunung tertinggi di dunia jika bukan sebagian maka seluruhnya terletak di wilayah Nepal. Jadi, tidak mengherankan bahwa ibu kotanya terletak lebih dari 1.300 meter di atas permukaan laut. Jika dibanding dengan kota-kota besar lainnya, populasi Kathmandu yang berjumlah kira-kira 235.000 orang tidaklah terlalu banyak. Dari setiap penduduk kota itu, lebih dari 80 warga negara Nepal lainnya tinggal di tempat lain.a
Ibu kotanya terletak di Lembah Kathmandu, yang pada waktu lampau adalah sebuah danau. Ukuran lembah tersebut, kira-kira 19 kali 24 kilometer, bukanlah penentu keunggulannya. Selama berabad-abad, kota itu merupakan sebuah pusat perdagangan yang kuat yang terletak pada rute utama yang menghubungkan India dengan Cina dan Tibet. Tanah pertanian selalu sangat sedikit di negeri-negeri pegunungan, maka dikhawatirkan bahwa kota-kota di lembah mungkin tumbuh terlalu besar dan merampas tanah subur yang berharga milik bangsa tersebut. Kekhawatiran ini bukannya tidak beralasan. Penduduk Kathmandu telah bertambah lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1960. Diperkirakan bahwa menjelang tahun 2020, kira-kira 60 persen dari lembah tersebut akan hilang karena perluasan daerah perkotaan.
Kathmandu, satu-satunya kota utama Nepal, telah lama memainkan peranan penting dalam urusan sosial, ekonomi, dan politik bangsa tersebut, juga dalam urusan agama. The Encyclopedia of Religion mencatat bahwa Lembah Kathmandu ”telah melihat suatu rangkaian ideologi yang rumit dan corak-corak seni dengan nada-nada keagamaan yang kuat. . . . Tidak ada bagian lain di daerah Himalaya tempat agama Buddha dan Hindu dapat terjalin erat”. Yang menarik adalah fakta bahwa kemungkinan tempat kelahiran Siddhārtha Gautama, yang kemudian disebut Sang Pencerah, atau Sang Buddha, adalah Lumbini, Nepal, kurang dari 240 kilometer di sebelah barat daya Kathmandu.
Tentu saja, ini terjadi kira-kira 2.500 tahun yang lalu. Belakangan ini, pada tahun 1960-an, orang-orang lain juga datang ke Nepal dan Kathmandu untuk mendapat ”pencerahan”, anggota generasi hippie.
Kota yang Mempunyai Fondasi yang Nyata
Selama berabad-abad umat manusia telah membangun kota-kota sebagai tempat untuk memerintah sesama manusia. Namun pelajaran tragis yang diajarkan sejarah adalah bahwa ”orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya” dengan benar.—Yeremia 10:23; Pengkhotbah 8:9.
Jelaslah bahwa kota-kota sedang berada dalam masalah yang serius. Mereka berjuang untuk selamat, bahkan demikian juga sistem politik yang mereka wakili. Fondasi yang mudah goyah dari pemerintahan manusia sedang ambruk. Akan tetapi, tidak demikian halnya bagi ”kota yang mempunyai fondasi yang nyata, [kota] yang pembangun dan pembuatnya ialah Allah”.—Ibrani 11:10, NW.
Alkitab menyebut kota ini Yerusalem surgawi. (Ibrani 12:22) Cocok disebut demikian, karena Yerusalem adalah ibu kota Israel purba di bumi, bangsa khusus milik Allah. Tetapi Yerusalem surgawi, sebagai ibu kota organisasi universal Allah, memiliki suatu fondasi yang nyata karena Pembangunnya adalah Allah yang kekal sendiri. Mazmur 46:6 secara nubuat berkata, ”Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang.”
Pemerintahan manusia bergoncang menuju akhirnya. Mengakui fakta ini, jutaan individu ”dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa” dengan keinginan yang sangat besar dan dengan bijaksana menundukkan diri mereka pada peraturan ilahi.—Mazmur 47:9; Wahyu 7:9, 10.
Ingat, Yerusalem Baru lebih tinggi daripada Kathmandu yang bergunung-gunung, sebab kota itu ada di surga. Dan ”sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal”, yang mengalir melalui Yerusalem Baru lebih murni dan lebih mujarab daripada Sungai Potomac di Washington atau Sungai Moskwa di sepanjang Kremlin. (Wahyu 22:1, 2) Sebaliknya dari menghasilkan perasaan hampa dan kesepian, Yerusalem Baru merupakan sarana Allah untuk ’memuaskan segala yang hidup’.—Mazmur 145:16.
Betapa menakjubkan untuk mengetahui bahwa meskipun adanya problem-problem serius di kota-kota dunia yang sedang berjuang, bukan berarti tidak ada harapan sama sekali—bersyukurlah kepada ”kota yang mempunyai fondasi yang nyata”!—Akhir dari rangkaian artikel mengenai kota.
[Catatan Kaki]
a Sebagai kontras, Managua, Nikaragua, adalah tempat tinggal bagi satu dari antara enam orang Nikaragua, dan Dakar, Senegal, adalah satu dari antara empat warga negara Senegal.
[Gambar di hlm. 16]
Gedung Putih, Washington, D. C.
[Gambar di hlm. 17]
Katedral St. Basil di Lapangan Merah, Moskwa Rusia
[Gambar di hlm. 18]
Kuil Hindu, Kathmandu, Nepal
-