PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Yehuwa dan Kristus​—Komunikator Paling Unggul
    Menara Pengawal—1991 | 1 September
    • Yehuwa dan Kristus​—Komunikator Paling Unggul

      ”Sungguh, Tuhan ALLAH [YEHUWA] tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusanNya kepada hamba-hambaNya, para nabi.”​—AMOS 3:7.

      1. Metode-metode komunikasi apa digunakan dewasa ini?

      DEWASA ini komunikasi merupakan bisnis miliaran dolar. Semua buku yang diterbitkan, semua surat kabar dan majalah yang dicetak secara teratur, semua acara radio dan televisi yang ditayangkan, maupun semua film dan pementasan drama, merupakan usaha dalam bidang komunikasi. Halnya juga demikian berkenaan dengan semua surat yang ditulis, diposkan dan semua pembicaraan telepon. Semua merupakan usaha dalam bidang komunikasi.

      2. Apa beberapa contoh kemajuan yang telah dibuat manusia dalam aspek-aspek teknis dari komunikasi?

      2 Kemajuan yang telah dibuat manusia dalam aspek-aspek teknis dari komunikasi sungguh mengejutkan. Misalnya, kabel-kabel serat optik, yang merupakan perbaikan besar atas kabel-kabel tembaga, dapat meneruskan puluhan ribu percakapan telepon pada saat yang sama. Kemudian ada lagi satelit-satelit komunikasi, yang mengorbit bumi di angkasa dan memiliki peralatan untuk memancarkan isyarat-isyarat telepon, telegraf, radio dan televisi. Satu satelit demikian secara serentak dapat menangani 30.000 berita telepon!

      3. Apa yang terjadi bila terdapat kesenjangan komunikasi?

      3 Namun meskipun adanya semua sarana komunikasi ini, terdapat banyak kesusahan di dunia karena tidak adanya komunikasi di antara orang perseorangan. Maka, kita diberi tahu bahwa ”terdapat suatu jurang yang terus berkembang​—suatu kesenjangan komunikasi yang makin melebar​—antara para penguasa dan yang dikuasai”. Dan bagaimana berkenaan apa yang disebut kesenjangan generasi yaitu kegagalan orang-tua dan anak-anak mereka untuk berkomunikasi dengan baik satu sama lain? Para penasihat perkawinan melaporkan bahwa problem terbesar dalam perkawinan adalah kegagalan komunikasi antara suami dan istri. Tidak adanya komunikasi yang layak bahkan dapat menyebabkan kematian. Pada awal tahun 1990, tujuh puluh tiga orang tewas dalam suatu kecelakaan pesawat terbang, kelihatannya faktor penyebabnya adalah kegagalan komunikasi antara pilot dengan menara pengawas di darat. Sebuah judul berita surat kabar menyatakan ”Hambatan Komunikasi Tak Terduga Mengarah kepada Tragedi”.

      4. (a) Apa yang dimaksud dengan ”komunikasi”? (b) Apa tujuan komunikasi Kristen?

      4 Apa gerangan komunikasi dalam lingkungan Kristen? Menurut sebuah kamus, ”komunikasi” berarti ”menyampaikan informasi, gagasan atau perasaan sehingga dapat diterima atau dipahami secara memuaskan”. Sebuah kamus lain mendefinisikannya sebagai ”suatu teknik untuk mengutarakan gagasan-gagasan secara efektif”. Perhatikan, ”mengutarakan gagasan-gagasan secara efektif”. Komunikasi Kristen khususnya perlu efektif karena tujuannya adalah untuk mencapai hati orang-orang dengan kebenaran dari Firman Allah sehingga mudah-mudahan, mereka akan bertindak selaras dengan apa yang mereka pelajari. Uniknya, hal ini digerakkan oleh sifat tidak mementingkan diri, oleh kasih.

      Yehuwa sebagai Komunikator

      5. Apa salah satu cara pertama Allah Yehuwa berkomunikasi dengan manusia?

      5 Tidak sangsi lagi Allah Yehuwa adalah komunikator yang paling agung. Karena Ia menciptakan kita dalam peta dan gambar-Nya, Ia dapat berkomunikasi dengan kita, dan adalah mungkin bagi kita untuk berkomunikasi dengan orang-orang lain tentang Dia. Sejak penciptaan manusia, Yehuwa telah berkomunikasi dengan makhluk-makhluk-Nya di bumi berkenaan diri-Nya sendiri. Satu cara Ia telah melakukan hal ini adalah dengan perantaraan karya ciptaan-Nya yang kelihatan. Maka, pemazmur memberi tahu kita, ”Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tanganNya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.” (Mazmur 19:1, 2) Dan Roma 1:20 memberi tahu kita bahwa ”apa yang tidak nampak dari pada [Allah], . . . dapat nampak kepada pikiran dari karyaNya sejak dunia diciptakan”. ”Dapat nampak” menunjukkan komunikasi yang efektif!

      6. Apa yang Yehuwa komunikasikan kepada makhluk-makhluk-Nya di bumi sewaktu mereka berada di taman Eden?

      6 Mereka yang tidak beriman kepada Allah dan wahyu ilahi-Nya akan membuat kita percaya bahwa manusia diserahkan kepada kemampuannya sendiri untuk memastikan mengapa ia hidup. Tetapi Firman Allah menjelaskan bahwa Allah telah berkomunikasi dengan manusia sejak permulaan. Demikianlah, kepada pria dan wanita pertama Allah memberikan perintah untuk menurunkan anak-anak, ”Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah . . . atas segala binatang yang merayap di bumi.” Allah juga mengizinkan mereka untuk mengenyangkan diri dari buah-buahan dalam taman itu—dengan satu kekecualian saja. Kemudian, sewaktu Adam dan Hawa membangkang, Yehuwa menyampaikan janji Almasih-Nya yang pertama, dengan memberikan kepada umat manusia secercah harapan, ”Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau [ular] dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”—Kejadian 1:28; 2:16, 17; 3:15.

      7. Apa yang disingkapkan buku Kejadian sehubungan dengan komunikasi Yehuwa dengan hamba-hamba-Nya?

      7 Sewaktu Kain putra Adam dikuasai rasa dengki yang mengarah kepada pembunuhan, Allah Yehuwa berkomunikasi dengan dia, seolah-olah berkata kepadanya, ’Hati-hati! Engkau sedang mengarah kepada kesulitan!’ Tetapi Kain menolak untuk mengindahkan peringatan tersebut dan membunuh adiknya. (Kejadian 4:6-8) Kemudian, sewaktu bumi mulai penuh dengan kekerasan dan kejahatan, Yehuwa memberi tahu Nuh orang yang benar itu maksud-tujuan-Nya untuk membersihkan bumi dari semua yang mencemarinya. (Kejadian 6:13–7:5) Setelah Air Bah, sewaktu Nuh dan keluarganya keluar dari bahtera, Yehuwa memberi tahu mereka tentang maksud-tujuan-Nya berkenaan kesucian kehidupan dan darah, dan melalui pelangi Ia memberikan jaminan bahwa Ia tidak akan pernah lagi membinasakan semua makhluk hidup dengan suatu air bah. Beberapa abad kemudian Yehuwa memberi tahu Abraham tentang maksud-tujuan-Nya agar semua keluarga manusia memberkati diri mereka sendiri melalui Benih Abraham. (Kejadian 9:1-17; 12:1-3; 22:11, 12, 16-18) Dan sewaktu Allah menyatakan bahwa Ia akan membinasakan Sodom dan Gomora yang bejat, dengan penuh kasih Ia memberitahukan fakta itu kepada Abraham, seraya berkata, ”Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?”—Kejadian 18:17.

      8. Dalam empat cara apa Yehuwa telah berkomunikasi dengan hamba-hamba-Nya di bumi?

      8 Dimulai dengan Musa, Yehuwa menggunakan sederetan panjang nabi-nabi untuk berkomunikasi dengan Israel. (Ibrani 1:1) Kadang-kadang Ia menggunakan dikte lisan seperti sewaktu Ia memberi tahu Musa, ”Tuliskanlah segala firman ini.” (Keluaran 34:27) Jauh lebih sering Yehuwa berkomunikasi dengan para juru bicara-Nya melalui penglihatan seperti yang telah Ia lakukan dengan Abraham.a Yehuwa juga menggunakan mimpi untuk berkomunikasi dengan manusia dan bukan hanya dengan hamba-hamba-Nya tetapi juga dengan orang-orang yang berurusan dengan hamba-hamba-Nya. Misalnya, Yehuwa menyebabkan dua rekan tahanan Yusuf bermimpi, yang kemudian ditafsirkan oleh Yusuf bagi mereka. Yehuwa juga menyebabkan Firaun dan Nebukadnezar bermimpi yang ditafsirkan bagi mereka oleh hamba-hamba-Nya Yusuf dan Daniel. (Kejadian 40:8–41:32; Daniel, pasal 2 dan 4) Tambahan pula, dalam banyak kejadian Yehuwa menggunakan malaikat-malaikat untuk berkomunikasi dengan hamba-hamba-Nya.—Keluaran 3:2; Hakim 6:11; Matius 1:20; Lukas 1:26.

      9. Apa yang menggerakkan Yehuwa untuk berkomunikasi dengan Israel, umat-Nya, seperti terlihat dari pernyataan-Nya yang mana?

      9 Semua komunikasi demikian dari Yehuwa melalui hamba-hamba-Nya mencerminkan kasih-Nya bagi Israel, umat-Nya. Misalnya, Ia menyatakan melalui Yehezkiel nabi-Nya, ”Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” (Yehezkiel 33:11) Yehuwa adalah Komunikator yang panjang sabar dan tidak lekas marah dengan umat-Nya yang memberontak pada zaman dahulu seperti yang terlihat dalam 2 Tawarikh 36:15, 16, ”[Yehuwa], Allah nenek moyang mereka, berulang-ulang mengirim pesan melalui utusan-utusanNya, karena Ia sayang kepada umatNya dan tempat kediamanNya. Tetapi mereka mengolok-olok utusan-utusan Allah itu, menghina segala firmanNya, dan mengejek nabi-nabiNya . . . sehingga tidak mungkin lagi pemulihan.”

      10. Bagaimana Yehuwa berkomunikasi dengan umat-Nya dewasa ini, dan sampai sejauh mana Ia adalah Allah komunikasi?

      10 Dewasa ini, kita memiliki Firman yang diilhamkan Allah, Alkitab, yang Yehuwa gunakan untuk mengkomunikasikan kepada kita informasi mengenai diri-Nya, maksud-tujuan-Nya dan kehendak-Nya bagi kita. (2 Timotius 3:16, 17) Sesungguhnya, sebagai Komunikator Paling Unggul, Yehuwa menyatakan, ”Sungguh, Tuhan ALLAH [YEHUWA] tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusanNya kepada hamba-hambaNya, para nabi.” (Amos 3:7) Ia memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya apa yang hendak Ia lakukan.

      Putra Allah sebagai Komunikator

      11. Siapakah perantara Yehuwa yang paling terkemuka dalam berkomunikasi dengan manusia, dan mengapa gelar ”Firman” cocok?

      11 Dari antara semua perantara yang digunakan Yehuwa untuk mengkomunikasikan kehendak-Nya, yang terkemuka adalah Firman, Logos, yang menjadi Kristus Yesus. Apa artinya ia disebut Firman, atau Logos? Yaitu bahwa ia adalah Juru Bicara Utama dari Yehuwa. Dan apa sebenarnya seorang juru bicara? Seseorang yang mengkomunikasikan kata-kata orang lain. Maka Logos menjadi komunikator dari firman Allah Yehuwa kepada makhluk-makhluk-Nya yang cerdas di bumi. Peranan itu begitu penting sehingga ia disebut Firman.—Yohanes 1:1, 2, 14.

      12. (a) Untuk maksud-tujuan apa Yesus datang ke bumi? (b) Apa yang membuktikan bahwa ia dengan penuh iman menunaikan maksud-tujuan tersebut?

      12 Yesus sendiri memberi tahu Pontius Pilatus bahwa maksud-tujuan utamanya datang ke bumi adalah untuk mengkomunikasikan kebenaran kepada umat manusia, ”Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran.” (Yohanes 18:37) Dan catatan dalam kitab-kitab Injil menceritakan bagaimana ia menunaikan penugasan tersebut. Khotbah di Bukit diakui sebagai khotbah terbesar yang pernah disampaikan seorang manusia. Betapa bagusnya ia berkomunikasi melalui khotbah tersebut! ”Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak [yang mendengar khotbahnya].” (Matius 7:28) Mengenai suatu kejadian lain kita membaca, ”Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat.” (Markus 12:37) Sewaktu penjaga-penjaga tertentu dikirim untuk menahan Yesus, mereka pulang kembali dengan tangan hampa. Mengapa? Jawab mereka kepada orang-orang Farisi, ”Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!”—Yohanes 7:46.

      Murid-Murid Yesus Diperintahkan untuk Menjadi Komunikator

      13. Apa yang menunjukkan bahwa Kristus tidak puas menjadi komunikator tunggal?

      13 Tidak puas dengan hanya menjadi komunikator tunggal, Yesus mula-mula menugaskan 12 rasul dan kemudian 70 penginjil untuk pergi sebagai komunikator kabar baik Kerajaan. (Lukas 9:1; 10:1) Kemudian tidak lama sebelum ia naik ke surga, ia memerintahkan pengikut-pengikutnya untuk melaksanakan suatu tugas istimewa. Tugas apakah? Seperti kita baca di Matius 28:19, 20, ia memerintahkan mereka untuk menjadi komunikator; dan mereka harus mengajarkan orang-orang lain lagi untuk menjadi komunikator.

      14. Betapa efektifkah orang-orang kristiani masa awal sebagai komunikator?

      14 Apakah pengikut-pengikutnya memang komunikator yang efektif? Pastilah demikian! Sebagai hasil pemberitaan mereka pada hari Pentakosta 33 M., 3.000 jiwa ditambahkan kepada sidang Kristen yang baru dibentuk. Tidak lama kemudian jumlah tersebut bertambah menjadi 5.000 orang. (Kisah 2:41; 4:4) Tidak heran bahwa musuh-musuh Yahudi menuduh mereka memenuhi seluruh Yerusalem dengan pengajaran mereka dan belakangan mengeluh bahwa mereka telah mengacaukan dunia dengan pemberitaan mereka!—Kisah 5:28; 17:6.

      15. Perantara apa yang Yehuwa gunakan pada zaman modern untuk berkomunikasi dengan manusia?

      15 Bagaimana dengan zaman modern? Seperti dinubuatkan di Matius 24:3, 45-47, Tuan itu, Kristus Yesus, telah melantik ”hamba yang setia dan bijaksana”, yang terdiri dari orang-orang kristiani terurap untuk mengawasi segala miliknya di bumi selama hari kehadirannya ini. Hamba yang setia dan bijaksana tersebut dewasa ini diwakili oleh Badan Pimpinan dari Saksi-Saksi Yehuwa, dengan wakilnya di bidang penerbitan yaitu Watch Tower Bible and Tract Society. Tepat sekali, bahwa hamba yang setia dan bijaksana tersebut juga disebut saluran komunikasi Allah. Selanjutnya, saluran ini menganjurkan kita untuk menjadi komunikator yang baik. Sesungguhnya, terbitan pertama sekali dari Zion’s Watch Tower and Herald of Christ’s Presence menasihatkan pembacanya, ”Jikalau saudara mempunyai tetangga atau teman yang saudara pikir akan berminat atau menerima manfaat dari pengajaran-pengajaran [majalah ini], saudara dapat membawanya kepada perhatian mereka; maka saudara-saudara memiliki kesempatan untuk memberitakan firman dan melakukan yang baik bagi semua orang.”

      16. Apa yang menunjukkan bahwa lebih banyak yang dibutuhkan daripada sekadar membaca Alkitab, agar Allah dapat berkomunikasi secara efektif dengan hamba-hamba-Nya di bumi?

      16 Akan tetapi, semata-mata dapat menggunakan Firman Allah dan membacanya secara pribadi tidak cukup untuk memperoleh pengetahuan saksama yang menempatkan seseorang pada jalan menuju kehidupan. Ingat pejabat istana Etiopia yang sedang membaca nubuat Yesaya tetapi tidak memahami apa yang sedang ia baca. Filipus penginjil itu menjelaskan nubuat tersebut kepadanya, sesudah itu ia siap untuk dibaptis sebagai murid Kristus. (Kisah 8:27-38) Bahwa lebih banyak yang dibutuhkan daripada sekadar membaca Alkitab sendiri dapat terlihat dari Efesus 4:11-13. Paulus menunjukkan bahwa Kristus bukan hanya memberikan beberapa orang sebagai rasul dan nabi-nabi yang terilham, tetapi ia juga memberikan ”pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh”.

      17. Dengan kriteria apa kita dapat mengidentifikasikan perwakilan yang Yehuwa gunakan dewasa ini untuk mengkomunikasikan maksud-tujuan-Nya kepada umat manusia?

      17 Bagaimana kita dapat mengidentifikasikan mereka yang sedang digunakan Allah Yehuwa dan Kristus Yesus untuk membantu orang-orang yang ingin menjadi kristiani agar mencapai status sebagai seorang dewasa? Menurut Yesus, salah satu tanda pengenal adalah bahwa mereka akan mengasihi satu sama lain sama seperti Yesus mengasihi pengikut-pengikutnya. (Yohanes 13:34, 35) Sebagai tanda pengenal lain: Mereka akan terpisah dari dunia, sama seperti Yesus bukan bagian dari dunia. (Yohanes 15:19; 17:16) Tanda lain lagi adalah bahwa mereka mengakui Firman Allah sebagai kebenaran, seperti halnya Yesus, dan terus berpaling kepadanya sebagai wewenang. (Matius 22:29; Yohanes 17:17) Menonjolkan nama Allah seperti yang Yesus lakukan merupakan tanda lain lagi. (Matius 6:9; Yohanes 17:6) Tanda lain lagi adalah mengikuti teladan Yesus dalam memberitakan Kerajaan Allah. (Matius 4:17; 24:14) Hanya ada satu kelompok yang memenuhi tuntutan-tuntutan ini, yakni komunikator internasional yang dikenal sebagai Kristen Saksi-Saksi Yehuwa.

      18. Tiga bidang komunikasi apa akan dibahas dalam artikel-artikel berikut?

      18 Akan tetapi komunikasi menyatakan kewajiban terhadap orang-orang lain. Dengan siapakah orang-orang kristiani bertanggung jawab untuk berkomunikasi? Pada dasarnya, ada tiga bidang yang orang-orang kristiani harus prihatin untuk menjaga terbukanya jalur komunikasi: lingkungan keluarga, sidang Kristen dan dinas pengabaran Kristen. Artikel-artikel berikut akan mengulas aspek-aspek ini dari pembahasan kita.

      [Catatan Kaki]

      a Lihat Kejadian 15:1; 46:2; Bilangan 8:4; 2 Samuel 7:17; 2 Tawarikh 9:29; Yesaya 1:1; Yehezkiel 11:24; Daniel 2:19; Obaja 1; Nahum 1:1; Kisah 16:9; Wahyu 9:17.

  • Berkomunikasi di dalam Keluarga dan dalam Sidang
    Menara Pengawal—1991 | 1 September
    • Berkomunikasi di dalam Keluarga dan dalam Sidang

      ”Hendaklah perkataanmu selalu ramah, dimasinkan dengan garam.”​—KOLOSE 4:6, ”NW”.

      1. Apa yang Adam katakan ketika Allah memperkenalkan Hawa kepadanya?

      ”TIDAK seorang pun merupakan sebuah pulau . . . setiap orang merupakan bagian dari suatu benua.” Demikian tulis seorang yang terpelajar beberapa abad yang lampau. Sewaktu berkata demikian, ia hanya meneguhkan apa yang difirmankan sang Pencipta mengenai Adam, ”Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.” Adam memiliki karunia berbicara dan berbahasa, karena ia telah memberi nama semua binatang. Namun tidak ada makhluk manusia lain dengan siapa ia dapat berkomunikasi. Tidak heran bahwa sewaktu Allah memperkenalkan Hawa yang cantik kepadanya sebagai istrinya, ia berseru, ”Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku”! Maka, ketika keluarga manusia pertama mulai terbentuk, Adam mulai berkomunikasi dengan sesamanya.​—Kejadian 2:18, 23.

      2. Kerugian apa dapat timbul akibat menonton televisi tanpa terkendali?

      2 Lingkungan keluarga merupakan tempat ideal untuk komunikasi. Sesungguhnya, sukses dari kehidupan keluarga itu sendiri bergantung padanya. Akan tetapi, untuk berkomunikasi dibutuhkan waktu dan upaya. Dewasa ini, salah satu pencuri waktu paling besar adalah televisi. Itu dapat menjadi alat yang merugikan paling sedikit dalam dua cara. Di satu pihak, itu dapat begitu menggoda sehingga anggota-anggota keluarga menjadi kecanduan dan mengakibatkan kurangnya komunikasi. Di lain pihak, televisi dapat dipakai sebagai pelarian sewaktu ada kesalah-pahaman atau perasaan-perasaan terluka. Sebaliknya daripada menanggulangi problem yang dihadapi, ada pasangan suami istri yang memilih untuk berdiam diri dan menonton televisi. Jadi pesawat TV dapat menyumbang pada kegagalan komunikasi, yang dikatakan sebagai perusak perkawinan yang utama. Mereka yang mengalami kesulitan untuk menjaga agar menonton televisi tetap di tempat yang tidak penting, sebaiknya mempertimbangkan untuk menyingkirkannya sama sekali.—Matius 5:29; 18:9.

      3. Bagaimana beberapa orang telah menarik manfaat dengan mengurangi menonton TV?

      3 Sesungguhnya, laporan-laporan yang menyenangkan telah diterima yang menceritakan tentang manfaat yang dihasilkan sewaktu penggunaan TV dikurangi atau dihentikan. Satu keluarga menulis, ”Kami lebih banyak berbicara satu sama lain . . . , lebih banyak melakukan riset Alkitab . . . kami bermain-main bersama-sama . . . Semua corak dinas pengabaran kami telah meningkat.” Suatu keluarga berkata bahwa setelah mereka menyingkirkan TV mereka, ”Kami bukan hanya telah menghemat uang [mereka berlangganan TV kabel] tetapi kami telah menjadi lebih akrab sebagai satu keluarga dan telah mendapati banyak hal-hal lain yang layak dilakukan untuk mengisi waktu kami. Kami tidak pernah merasa bosan.”

      Melihat, Berbicara, dan Mendengarkan

      4. Bagaimanakah pasangan suami istri dapat mengkomunikasikan penghargaan mereka satu sama lain?

      4 Ada berbagai bentuk komunikasi dalam keluarga. Beberapa tidak bersifat lisan. Bila dua orang hanya memandang satu sama lain, itu merupakan suatu bentuk komunikasi. Berada bersama-sama dapat mengkomunikasikan perasaan saling memperhatikan. Pasangan suami istri hendaknya menghindari agar tidak terpisah satu sama lain selama jangka waktu yang panjang kecuali ada alasan yang tidak dapat dihindari. Pasangan yang telah menikah dapat memelihara kebahagiaan satu sama lain dengan menikmati pergaulan akrab yang mereka miliki dalam ikatan perkawinan. Dengan cara yang penuh kasih sayang namun penuh respek mereka bergaul satu sama lain, apakah di depan umum atau secara pribadi, menunjukkan martabat yang sepatutnya dalam berpakaian dan tingkah laku, mereka dapat mengkomunikasikan secara diam-diam penghargaan yang dalam terhadap satu sama lain. Raja Salomo yang bijaksana mengutarakannya dalam kata-kata berikut, ”Berkatilah kiranya sendangmu, bersukacitalah dengan isteri masa mudamu.”—Amsal 5:18.

      5, 6. Mengapa para suami harus menyadari pentingnya berkomunikasi dengan istri mereka?

      5 Komunikasi juga menuntut diadakannya percakapan, dialog—berbicara satu dengan yang lain, bukan berbicara tanpa adanya minat atau perasaan terhadap lawan bicara. Meskipun beberapa wanita dapat mengutarakan perasaan lebih baik daripada pria, tidak ada alasan bagi para suami untuk menjadi mitra yang diam. Suami-suami Kristen hendaknya menyadari bahwa tidak adanya komunikasi merupakan problem utama dalam banyak perkawinan, maka mereka hendaknya bekerja keras untuk memelihara agar jalur komunikasi tetap terbuka. Sesungguhnya, mereka akan melakukan hal ini jika mereka, bersama dengan istri mereka, mengindahkan nasihat bagus dari rasul Paulus yang diberikan di Efesus 5:25-33. Agar suami dapat mengasihi istrinya seperti tubuhnya sendiri, ia harus prihatin akan kesejahteraan dan kebahagiaan istrinya, bukan dirinya sendiri saja. Untuk tujuan tersebut, komunikasi tidak dapat digantikan dengan hal-hal lain.

      6 Seorang suami hendaknya jangan mengambil sikap bahwa istri seharusnya mengetahui sendiri bahwa suami menghargai dirinya. Istri perlu diyakinkan tentang kasih suami kepadanya. Suami dapat menunjukkan penghargaannya dalam banyak cara—dengan pernyataan kasih sayang dan pemberian hadiah kejutan, maupun terus memberi tahu dia sepenuhnya berkenaan masalah-masalah yang ada pengaruh atas sang istri. Juga terdapat tantangan untuk menyatakan penghargaan atas upaya istrinya, apakah itu sehubungan dengan dandanan pribadinya, dalam kerja kerasnya demi kepentingan keluarga, atau dalam dukungannya yang sepenuh hati terhadap kegiatan-kegiatan rohani. Tambahan pula, agar suami dapat mengindahkan nasihat rasul Petrus di 1 Petrus 3:7, untuk ’duduk bersama istrinya dengan penuh pengertian’, ia hendaknya memiliki empati, yang ditunjukkan dengan berkomunikasi dengan dia dalam segala masalah yang menyangkut mereka berdua, menghormati dia sebagai bejana yang lebih lemah.—Amsal 31:28, 29.

      7. Kewajiban apa yang dimiliki seorang istri untuk berkomunikasi dengan suaminya?

      7 Demikian pula, agar istri dapat mengindahkan nasihat sehubungan dengan ketundukan di Efesus 5:22-24, dia perlu prihatin untuk memelihara jalur komunikasi dengan suaminya tetap terbuka. Ia perlu memberikan kepada suaminya ”respek yang dalam”, baik melalui tutur kata dan tingkah lakunya. Sekali-kali janganlah ia bertindak semaunya atau mengabaikan keinginan-keinginan suami. (Efesus 5:33) Pada setiap saat, harus diadakan pembicaraan tersendiri antara dia dan suaminya.—Bandingkan Amsal 15:22.

      8. Untuk memelihara jalur komunikasi tetap terbuka, apa yang hendaknya dilakukan oleh para istri?

      8 Selanjutnya, seorang istri hendaknya waspada untuk tidak menderita secara pasrah sebagai pertunjukan dari mengasihani diri sendiri. Jika terdapat suatu salah pengertian ia hendaknya mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan masalahnya. Ya, ambillah pelajaran dari Ratu Ester. Ia menghadapi suatu masalah hidup dan mati untuk ia sampaikan kepada perhatian suaminya. Bertindak segera disertai hikmat dan taktis berarti keselamatan bagi orang-orang Yahudi. Kita memiliki kewajiban moral baik kepada teman hidup kita maupun kepada diri sendiri untuk mengkomunikasikannya jika kita telah atau sedang merasa terluka. Taktis dan perasaan humor ilahi yakni humor yang mempertimbangkan hubungan seseorang dengan Allah, dapat memudahkan komunikasi.—Ester 4:15–5:8.

      9. Peranan apa yang dimainkan oleh pendengar dalam komunikasi?

      9 Menggunakan tutur kata yang memelihara jalur komunikasi tetap terbuka, merupakan kewajiban dari masing-masing untuk mendengarkan apa yang hendak dikatakan oleh pihak yang lain—dan untuk berupaya memperhatikan apa yang tersirat. Itu menuntut memberikan perhatian kepada orang yang sedang berbicara. Seseorang bukan hanya perlu menangkap inti gagasannya tetapi juga perlu memperhatikan emosi di baliknya, caranya sesuatu itu diucapkan. Sering kali seorang suami gagal dalam hal ini. Istri boleh jadi menderita karena suaminya gagal untuk mendengarkan. Dan di pihak istri, mereka perlu mendengarkan dengan sungguh-sungguh agar mereka tidak dengan tergesa-gesa menarik kesimpulan. ”Orang bijak mendengar dan menambah ilmu.”—Amsal 1:5.

      Komunikasi antara Orang-tua dan Anak-Anak

      10. Untuk berlaku adil dalam berkomunikasi dengan anak-anak mereka, orang-tua harus rela berbuat apa?

      10 Juga terdapat situasi kesulitan dalam komunikasi antara orang-tua dan anak-anak mereka. Untuk ’mendidik orang muda menurut jalan yang patut baginya’ menuntut dibukanya jalur komunikasi. Dengan berbuat demikian akan membantu memastikan bahwa ’pada masa tuanya ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu’. (Amsal 22:6) Bahwa beberapa orang-tua kehilangan anak-anak mereka dalam dunia kadang-kadang ada hubungannya dengan kesenjangan komunikasi yang berkembang selama masa remaja. Kewajiban orang-tua untuk terus berkomunikasi dengan anak-anak mereka ditonjolkan di Ulangan 6:6, 7, ”Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Ya, para orang-tua hendaknya menggunakan waktu mereka bersama anak-anak mereka! Mereka harus rela berkorban demi kepentingan anak-anak mereka.

      11. Beberapa hal apa yang hendaknya dikomunikasikan para orang-tua kepada anak-anak mereka?

      11 Para orang-tua, komunikasikanlah kepada anak-anak saudara bahwa Yehuwa mengasihi mereka dan bahwa saudara juga mengasihi mereka. (Amsal 4:1-4) Biarlah mereka melihat kerelaan saudara untuk mengorbankan kenyamanan dan kesenangan demi kepentingan pertumbuhan mental, emosi, fisik, dan rohani mereka. Dalam hal ini penting ditunjukkan empati, yaitu, kesanggupan orang-tua untuk memandang segala sesuatu melalui mata anak-anak mereka. Dengan memperlihatkan kasih yang tidak mementingkan diri, saudara sebagai orang-tua dapat membina ikatan persatuan yang kuat dengan anak-anak saudara dan menganjurkan mereka untuk menaruh kepercayaan kepada saudara sebaliknya daripada kepada teman-teman sebaya mereka.—Kolose 3:14.

      12. Mengapa kaum remaja hendaknya merasa leluasa untuk berkomunikasi dengan orang-tua mereka?

      12 Di lain pihak, para remaja, saudara memiliki kewajiban untuk berkomunikasi dengan orang-tua saudara. Dengan menghargai apa yang telah mereka lakukan bagi saudara akan membantu saudara menaruh keyakinan kepada mereka. Saudara memerlukan bantuan dan dukungan mereka, dan akan lebih mudah bagi mereka untuk memberikannya bila saudara berkomunikasi secara leluasa dengan mereka. Ya, mengapa menjadikan teman-teman sebaya saudara sumber saran saudara yang utama? Dibandingkan dengan orang-tua saudara, mungkin hanya sedikit yang telah mereka lakukan bagi saudara. Mereka tidak memiliki lebih banyak pengalaman dalam kehidupan daripada yang saudara miliki, dan jika mereka bukan bagian dari sidang, mereka sebenarnya tidak berminat akan kesejahteraan kekal saudara.

      Komunikasi di Dalam Sidang

      13, 14. Prinsip-prinsip Alkitab apa merinci komunikasi antara orang-orang kristiani?

      13 Tantangan lain adalah memelihara jalur komunikasi tetap terbuka dengan saudara-saudara di dalam sidang. Kita dengan tegas dinasihati untuk tidak menjauhkan diri dari ’berkumpul bersama-sama’. Untuk tujuan apa kita berkumpul bersama? ”Supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.” Ini menuntut adanya komunikasi. (Ibrani 10:24, 25) Kalau seseorang menyinggung perasaan saudara, itu sama sekali bukan alasan untuk menjauhkan diri dari perhimpunan. Peliharalah jalur komunikasi tetap terbuka dengan mengikuti prinsip dari nasihat yang Yesus berikan yang dicatat di Matius 18:15-17. Bicaralah dengan orang yang menurut perasaan saudara menyebabkan ketidakbahagiaan saudara.

      14 Sewaktu menemui kesulitan dengan salah seorang saudara, perhatikanlah nasihat Alkitab seperti yang terdapat di Kolose 3:13, ”Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan [”Yehuwa”, NW] telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” Itu menunjukkan perlunya komunikasi sebaliknya daripada menolak untuk berbicara dengan seseorang. Dan seandainya saudara memperhatikan bahwa seseorang kelihatannya bersikap dingin terhadap saudara, indahkanlah nasihat yang terdapat di Matius 5:23, 24. Berkomunikasilah, dan berusahalah berdamai dengan saudara-saudara lain. Ini menuntut adanya kasih dan kelembutan di pihak saudara, tetapi saudara memiliki kewajiban moral kepada diri saudara sendiri dan saudara-saudara lain untuk mengindahkan nasihat Yesus.

      Nasihat dan Anjuran

      15. Mengapa orang-orang kristiani hendaknya tidak gagal mengkomunikasikan nasihat bila dalam kedudukan untuk bisa melakukannya?

      15 Kewajiban untuk berkomunikasi juga tercakup dalam mengindahkan nasihat Paulus di Galatia 6:1, ”Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” Kesahajaan hendaknya menggerakkan kita untuk menyambut apabila seseorang menunjukkan kepada kita tentang suatu kekeliruan di dalam tutur kata atau tingkah laku kita. Sesungguhnya, kita semua hendaknya memiliki sikap yang dimiliki pemazmur Daud sewaktu ia menulis, ”Biarlah orang benar memalu dan menghukum aku, itulah kasih; tetapi janganlah minyak orang fasik menghiasi kepalaku!” (Mazmur 141:5) Khususnya para penatua seharusnya menjadi contoh yang menonjol dalam kerendahan hati, tidak memaksakan pandangan pribadi tetapi siap menerima koreksi, seraya mengingat bahwa ’seorang kawan memukul dengan maksud baik’.—Amsal 27:6.

      16. Jenis komunikasi apa yang hendaknya diinginkan oleh pengkhotbah-pengkhotbah muda?

      16 Merupakan haluan hikmat dan kesahajaan bagi kaum remaja untuk mencari nasihat dan bimbingan dari orang-orang kristiani matang yang boleh jadi memiliki sesuatu yang bersifat membina untuk diberikan. Bahkan para penatua dapat memperoleh manfaat dengan cara demikian. Misalnya, seorang penatua berkata dalam suatu khotbah bahwa berkat-berkat yang disebutkan di Wahyu 7:16, 17, tentang keadaan tidak akan lapar dan dahaga lagi, merupakan hal-hal yang dapat dinantikan oleh domba-domba lain dalam dunia baru. Akan tetapi, telah ditunjukkan bahwa ayat ini diterapkan terutama pada masa sekarang. (Lihat Wahyu—Klimaksnya yang Menakjubkan Sudah Dekat! halaman 126-8.) Seorang penatua yang hadir merasa bahwa ia harus mengemukakan masalah tersebut, tetapi sebelum ia memiliki kesempatan untuk melakukannya, pembicara itu sendiri menelepon dan bertanya kepadanya apakah ada saran-saran untuk memperbaiki khotbahnya. Ya, marilah kita memudahkan mereka yang ingin menolong kita dengan mengkomunikasikan hasrat kita untuk memperoleh nasihat. Janganlah kita cepat tersinggung atau terlalu peka.

      17. Bagaimana komunikasi dapat membina saudara-saudara kita?

      17 Raja Salomo mengemukakan suatu prinsip yang dapat diterapkan dalam diskusi kita. Ia berkata, ”Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” (Amsal 3:27) Kita berutang kasih kepada saudara-saudara kita. Paulus berkata, ”Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.” (Roma 13:8) Jadi bermurah-tanganlah dengan kata-kata anjuran saudara. Apakah seorang pelayan sidang muda menyampaikan khotbah umumnya yang pertama? Pujilah dia. Apakah seorang saudari telah berupaya keras atau menyampaikan khotbahnya dengan baik sekali dalam penugasan Sekolah Pelayanan Teokratis? Beri tahu dia betapa saudara menikmati upaya-upayanya. Pada umumnya saudara-saudara dan saudari-saudari kita berupaya berbuat sebaik-baiknya dan akan merasa dianjurkan oleh suatu pernyataan penghargaan yang pengasih.

      18. Bila percaya diri yang berlebihan nyata, kebaikan hati menggerakkan kita untuk berbuat apa?

      18 Berbeda dengan itu, seorang pengkhotbah muda boleh jadi memiliki banyak kemampuan, tetapi karena masih muda, ia mungkin memperlihatkan lebih banyak percaya diri daripada yang seharusnya. Jenis komunikasi apa yang dituntut di sini? Bukankah baik sekali jika seorang penatua matang memuji dia untuk pokok-pokok bagus mana pun dalam persembahannya tetapi, pada saat yang sama, dengan lembut menyarankan cara-cara yang dapat ia gunakan untuk mengembangkan kesahajaan di masa depan? Komunikasi demikian akan menunjukkan kasih persaudaraan dan membantu saudara yang lebih muda tersebut untuk menyingkirkan sikap-sikap yang buruk lebih awal, sebelum sifat-sifat ini berurat berakar.

      19. Mengapa para penatua dan kepala keluarga hendaknya menjadi komunikator?

      19 Para penatua berkomunikasi satu sama lain dan dengan sidang berkenaan hal-hal yang bermanfaat—tentu saja menghindari menyingkapkan hal-hal yang konfidensial, seperti yang berhubungan dengan problem-problem pengadilan. Akan tetapi, dengan bersikap terlalu tertutup dapat mengakibatkan tidak adanya saling percaya dan kekecewaan dan dapat merusak semangat yang hangat dari suatu sidang—atau di dalam suatu keluarga. Misalnya, siapa pun senang mendengarkan laporan yang membina. Sama seperti rasul Paulus mendambakan untuk mengkomunikasikan karunia-karunia rohani, demikian pula para penatua hendaknya ingin membagikan informasi yang membina kepada saudara-saudara lain.—Amsal 15:30; 25:25; Roma 1:11, 12.

      20. Artikel berikut akan membahas mengenai aspek komunikasi apa?

      20 Ya, komunikasi sangat penting baik di dalam sidang Kristen maupun di dalam keluarga Kristen. Lebih jauh, hal itu sangat perlu dalam satu bidang lain lagi. Bidang manakah? Dalam pelayanan Kristen. Dalam artikel berikut kita akan membahas cara-cara untuk memperbaiki keterampilan berkomunikasi kita dalam kegiatan yang sangat penting ini.

  • Komunikasi dalam Pelayanan Kristen
    Menara Pengawal—1991 | 1 September
    • Komunikasi dalam Pelayanan Kristen

      ”Pergilah, jadikanlah murid dari semua bangsa.”​—MATIUS 28:19, ”NW”.

      1. Penugasan apa yang diberikan oleh Kristus menunjukkan perlunya berkomunikasi?

      PERINTAH Yesus, seperti dikutip di atas, menghadapkan kita pada tantangan berkomunikasi dengan orang-orang dalam pelayanan kita pada waktu kita pergi dari rumah ke rumah, mengadakan kunjungan kembali, dan ambil bagian dalam corak-corak lain dari pemberitaan Kerajaan. Dalam penugasan demikian termasuk kewajiban untuk memasyhurkan kebenaran tentang Allah Yehuwa, Kristus Yesus, dan Kerajaan Mesias dalam mana Yesus kini memerintah.​—Matius 25:31-33.

      2. Untuk berkomunikasi dengan efektif, apa yang kita perlukan?

      2 Bagaimana kita dapat berkomunikasi secara efektif? Pertama-tama, kita harus percaya akan penjelasan yang kita komunikasikan. Dengan lain perkataan, kita harus memiliki iman yang teguh bahwa Yehuwa adalah Allah yang sejati, bahwa Alkitab adalah sungguh-sungguh Firman Allah, dan bahwa Kerajaan Allah merupakan satu-satunya harapan bagi umat manusia. Dengan demikian, apa yang kita ajarkan akan datang dari hati kita, kita akan mengindahkan nasihat Paulus kepada Timotius, ”Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.”—2 Timotius 2:15.

      Komunikasi tanpa Kata

      3-5. (a) Bagaimana kita dapat berkomunikasi bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata? (b) Pengalaman apa yang membuktikan hal ini?

      3 Komunikasi sering melibatkan kata-kata. Tetapi, sesungguhnya, kita dapat berkomunikasi dengan orang-orang bahkan sebelum kita berbicara dengan mereka. Bagaimana? Dengan penampilan kita dan cara kita berpakaian dan berdandan. Beberapa tahun yang lalu seorang saudara utusan injil lulusan Sekolah Alkitab Gilead sedang dalam perjalanan dengan kapal ke penugasannya di luar negeri. Setelah berada beberapa hari di laut, seorang asing bertanya mengapa dia begitu berbeda dengan semua orang lain di kapal. Utusan injil itu mengkomunikasikan sesuatu yang menarik perhatian—bahwa ia memiliki standar yang berbeda dan mudah dihampiri—hanya karena penampilan dan sikapnya. Ini membuka kesempatan bagus bagi utusan injil itu untuk memberikan kesaksian.

      4 Kemudian lagi, seorang saudari yang sedang berdiri di pinggir jalan menawarkan lektur Alkitab kepada orang-orang yang lewat, dengan ramah tersenyum kepada seorang wanita yang berjalan di dekatnya. Wanita ini mulai menuruni tangga menuju ke sebuah stasiun kereta api bawah tanah. Kemudian ia berubah pikiran, berjalan kembali menghampiri saudari itu dan meminta sebuah pengajaran Alkitab di rumah. Apa yang telah mengesankan dia? Meskipun kepadanya belum ditawarkan lektur Alkitab, ia telah menerima senyuman ramah dari Saksi yang sedang melakukan kegiatan di pinggir jalan.

      5 Contoh ketiga: Sekelompok Saksi-Saksi muda sedang makan di sebuah restoran dan merasa heran sewaktu seorang yang tidak dikenal menghampiri meja mereka dan membayar makanan mereka. Mengapa ia berbuat demikian? Ia terkesan oleh sikap mereka. Tanpa mengucapkan sepatah kata kepada orang yang tidak mereka kenal itu, remaja-remaja Kristen ini telah mengkomunikasikan bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang takut akan Allah. Jelaslah, dengan penampilan kita, sikap kita yang bersahabat, kita telah berkomunikasi bahkan sebelum kita mengucapkan sepatah kata.—Bandingkan 1 Petrus 3:1, 2.

      Bertukar Pikiran Penting untuk Komunikasi

      6. Gambarkan bagaimana bertukar pikiran penting untuk komunikasi.

      6 Agar dapat berkomunikasi secara lisan dengan orang-orang tentang kabar baik, kita harus siap, bukan untuk berbicara secara dogmatik, tetapi untuk bertukar pikiran dengan mereka. Kita berulang kali membaca bahwa Paulus bertukar pikiran dengan orang-orang kepada siapa ia berusaha membagikan kabar baik. (Kisah 17:2, 17; 18:19) Bagaimana kita dapat meniru teladannya? Nah, keadaan-keadaan dunia yang kian memburuk mungkin telah menimbulkan kesangsian tentang adanya Allah yang mahakuasa dan pengasih yang mempedulikan umat manusia. Namun, kita dapat bertukar pikiran dengan mereka, bahwa Allah telah menetapkan waktu untuk segala sesuatu. (Pengkhotbah 3:1-8) Maka, Galatia 4:4 berkata bahwa ketika saat yang telah ditentukan Allah tiba, Ia mengutus putra-Nya ke bumi. Ini terjadi ribuan tahun setelah Ia mula-mula berjanji untuk melakukan hal itu. Demikian pula, bila waktu yang Ia tentukan tiba, Ia akan mengakhiri penderitaan dan kejahatan. Selain itu, Firman Allah menunjukkan bahwa Allah memiliki alasan-alasan mendesak untuk membiarkan penderitaan dan kejahatan berlangsung demikian lama. (Bandingkan Keluaran 9:16.) Bertukar pikiran mengikuti jalan pikiran ini, dan mendukung pemikiran demikian dengan ilustrasi dan bukti-bukti Alkitab yang kuat, akan menolong orang-orang yang tulus untuk menyadari bahwa adanya kejahatan tidak dapat digunakan sebagai argumen bahwa Yehuwa tidak ada atau tidak peduli.—Roma 9:14-18.

      7, 8. Bagaimana bertukar pikiran dapat membantu kita berkomunikasi dengan seorang Yahudi Ortodoks?

      7 Misalkan bahwa sewaktu saudara sedang berkunjung dari rumah ke rumah, seorang penghuni rumah berkata kepada saudara, ”Saya seorang Yahudi. Saya tidak berminat.” Bagaimana saudara akan melanjutkan? Seorang saudara melaporkan mendapat sukses menggunakan pendekatan seperti ini, ’Saya yakin Anda setuju dengan saya bahwa Musa adalah nabi terbesar yang pernah digunakan Allah. Dan tahukah Anda bahwa ia berkata seperti yang dicatat dalam Ulangan 31:29, ”Sebab aku tahu bahwa sesudah aku mati, kamu akan . . . menyimpang dari jalan yang telah kuperintahkan kepadamu. Sebab itu dikemudian hari malapetaka akan menimpa kamu”? Musa adalah seorang nabi sejati, maka kata-katanya harus terjadi di kemudian hari. Apakah mungkin bahwa hal itu terjadi sewaktu Allah mengutus Almasih kepada orang-orang Yahudi dan itulah alasan mengapa orang-orang Yahudi tidak menerima dia? Halnya boleh jadi demikian. Nah, jika memang demikian halnya dan mereka telah keliru, apakah ada alasan mengapa Anda dan saya harus membuat kesalahan yang sama?’

      8 Ingatlah juga bahwa orang-orang Yahudi telah mengalami banyak penderitaan di tangan Susunan Kristen, khususnya selama abad ini. Maka saudara mungkin ingin memberi tahu penghuni rumah bahwa kita sama sekali tidak ambil bagian. Misalnya, saudara mungkin ingin berkata, ’Tahukah Anda bahwa sewaktu Hitler berkuasa, Saksi-Saksi Yehuwa menolak boikotnya terhadap orang-orang Yahudi? Mereka juga menolak untuk mengucapkan ”Heil Hitler” atau melayani dalam tentaranya.’a

      9, 10. Bagaimana bertukar pikiran dapat digunakan untuk membantu seseorang yang percaya kepada api neraka?

      9 Agar dapat berkomunikasi dengan orang-orang yang percaya kepada api neraka, saudara bisa menjelaskan bahwa jika seseorang harus menderita selama-lamanya dalam neraka, ia mestinya memiliki jiwa yang tidak berkematian. Orang yang percaya kepada api neraka akan langsung setuju. Kemudian saudara dapat memberi tahu tentang catatan penciptaan Adam dan Hawa serta dengan ramah bertanya apakah ia pernah memperhatikan dalam catatan itu pernyataan apa pun mengenai jiwa yang tidak berkematian. Melanjutkan penjelasan saudara, saudara dapat menarik perhatiannya kepada Kejadian 2:7, yang memberi tahu kita bahwa Adam menjadi suatu jiwa. Dan perhatikan apa yang Allah katakan mengenai akibat dari dosa Adam, ”Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, sebab dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” (Kejadian 3:19) Karena itu, Adam, jiwa itu kembali kepada debu.

      10 Saudara juga dapat menarik perhatian kepada kenyataan bahwa dalam catatan Kejadian, Allah sama sekali tidak menyebut tentang penderitaan kekal dalam api neraka. Ketika Allah memperingatkan Adam agar tidak memakan buah terlarang Ia berkata, ”Pada hari engku memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:17) Sama sekali tidak disebutkan tentang api neraka. Jika akibat sesungguhnya dari dosa Adam adalah penderitaan untuk selama-lamanya, dan bukannya kematian, ’kembali kepada debu’, demi keadilan bukankah Allah seharusnya menjelaskan hal ini? Jadi, penjelasan yang saksama dan diberikan dengan ramah dapat membantu seseorang yang tulus untuk melihat bahwa kepercayaannya tidak konsisten. Semoga kita tidak pernah mengabaikan pentingnya mengundang orang untuk bertukar pikiran pada waktu kita membagikan kebenaran tentang Firman Allah.—Bandingkan 2 Timotius 2:24-26; 1 Yohanes 4:8, 16.

      Sifat-Sifat yang Diperlukan untuk Komunikasi yang Efektif

      11-13. Sifat-sifat Kristen apa yang dapat membantu kita berkomunikasi dengan efektif?

      11 Jadi, sifat-sifat apa yang harus kita perkembangkan agar dapat mengkomunikasikan kebenaran Kerajaan dengan cara yang paling efektif? Nah, apa yang dikemukakan oleh teladan yang diberikan oleh Yesus? Di Matius 11:28-30, kita membaca kata-katanya, ”Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKupun ringan.” Di sana kita memperhatikan salah satu kunci keberhasilan Yesus dalam berkomunikasi. Ia lemah lembut dan rendah hati. Menurut pendapat orang-orang yang berhati benar, Yesus memberi kesegaran. Rasul Paulus juga memberikan teladan yang baik, karena, seperti yang ia beritahukan kepada para penatua dari Efesus, sejak hari pertama ia datang kepada mereka, ia telah melayani Tuhan ”dengan segala rendah hati”.—Kisah 20:19.

      12 Bila kita selalu memperlihatkan kesahajaan dan kerendahan hati, orang-orang lain akan mendapati bahwa kita juga memberi kesegaran, dan akan lebih mudah bagi kita untuk berkomunikasi dengan mereka. Sikap lain apa pun kemungkinan akan membangun suatu pemisah di antara kita dan orang-orang kepada siapa kita berupaya untuk berkomunikasi. Sebenarnyalah, ”hikmat ada pada orang yang rendah hati [”bersahaja”, NW]”.—Amsal 11:2.

      13 Agar dapat menyampaikan penjelasan secara efektif, kita juga perlu sabar dan bijaksana. Rasul Paulus pastilah bijaksana pada waktu ia memberikan kesaksian kepada para ahli filsafat yang berkumpul di hadapannya di Bukit Mars. Ia mempersembahkan kabar baik dalam cara yang dapat mereka pahami. (Kisah 17:18, 22-31) Jika kita ingin berkomunikasi secara berhasil dengan pendengar kita, kita harus memperhatikan nasihat yang diberikan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Kolose ketika ia berkata, ”Hendaklah kata-katamu selalu ramah, dan tidak pernah hambar; pelajari cara terbaik untuk berbicara kepada setiap orang yang saudara jumpai.” (Kolose 4:6, The New English Bible) Perkataan kita harus selalu menyenangkan. Kata-kata demikian cenderung membuka pikiran dari pendengar kita, sedangkan ucapan yang tidak bijaksana akan membuat mereka menutup pikiran mereka.

      14. Bagaimana pendekatan yang tenang dan bersifat percakapan dapat membantu kita untuk berkomunikasi dengan orang-orang lain?

      14 Kita ingin kelihatan tenang pada setiap waktu. Ini akan membantu pendengar kita untuk tenang. Bersikap tenang mencakup tidak terlalu bersemangat untuk memborong seluruh pembicaraan. Sebaliknya, dengan sikap yang tidak tergesa-gesa dan dengan pertanyaan-pertanyaan yang ramah, kita memberikan kesempatan kepada pendengar kita untuk mengutarakan diri. Khususnya pada waktu kita memberikan kesaksian tidak resmi, sebaiknya menganjurkan orang lain untuk berbicara. Sebagai contoh, seorang Saksi pernah mendapati diri duduk di sebelah seorang pastor Katolik Roma di pesawat terbang. Selama lebih dari satu jam, Saksi itu terus mencecar dengan pertanyaan-pertanyaan yang bijaksana, dan pastor itu, dalam memberikan tanggapan, hampir memborong seluruh percakapan. Namun pada waktu mereka berpisah, pastor itu menerima beberapa publikasi Alkitab. Pendekatan yang demikian sabar akan membantu kita menerapkan sifat lain lagi yang diperlukan, yakni empati.

      15, 16. Bagaimana empati dapat membantu kita berkomunikasi?

      15 Empati artinya seolah-olah menempatkan diri kita dalam keadaan orang lain. Rasul Paulus dengan sepenuhnya menghargai perlunya empati, seperti dapat kita lihat dari apa yang ia tulis kepada jemaat di Korintus, ”Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.”—1 Korintus 9:19-22.

      16 Untuk meniru rasul Paulus dalam segi ini, kita perlu bijaksana, menggunakan daya pengertian dan daya pengamatan. Empati akan membantu kita untuk mengkomunikasikan kebenaran kepada pendengar kita selaras dengan cara mereka berpikir dan merasa. Publikasi Bertukar Pikiran mengenai Ayat-Ayat Alkitab menyediakan banyak bantuan dalam bidang yang umum ini. Hendaknya saudara selalu membawanya beserta saudara dalam pelayanan.

      Kasih—Suatu Bantuan dalam Komunikasi

      17. Dari semua sifat Kristen, sifat mana yang paling penting dalam mengkomunikasikan kebenaran secara efektif, dan bagaimana hal itu diperlihatkan?

      17 Kesahajaan, kerendahan hati, kesabaran, dan empati adalah sifat-sifat dasar untuk komunikasi yang efektif dalam menyampaikan penjelasan. Namun, di atas segalanya, kasih yang tidak mementingkan diri akan membantu kita untuk sukses dalam mencapai hati orang-orang lain. Yesus merasa kasihan kepada orang-orang karena mereka ”lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala”. Yesus digerakkan oleh kasih untuk berkata, ”Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 9:36; 11:28) Kasih kita kepada mereka, itulah yang membuat kita juga ingin menyegarkan orang-orang dan membantu mereka agar menempuh jalan menuju kehidupan. Berita kita adalah berita kasih, maka marilah kita menyampaikannya dalam cara kasih. Kasih ini diperlihatkan dengan senyuman yang ramah, dengan keramahan dan kelemah-lembutan, dengan ketenangan dan kehangatan.

      18. Bagaimana kita dapat meniru Paulus, sebagaimana ia meniru sang Majikan?

      18 Sehubungan dengan hal ini, rasul Paulus adalah peniru yang baik dari Majikannya, Kristus Yesus. Mengapa ia begitu berhasil mendirikan sidang-sidang, satu demi satu? Karena semangatnya? Benar. Namun juga karena kasih yang ia perlihatkan. Perhatikan pernyataan kasih sayangnya sehubungan dengan sidang yang baru di Tesalonika, ”Kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi.” Dengan meniru Paulus kita akan dibantu dalam upaya untuk berkomunikasi.—1 Tesalonika 2:7, 8.

      19. Mengapa kita hendaknya tidak membiarkan daerah yang tidak memberikan sambutan membuat kita putus asa?

      19 Jika kita telah mengerahkan upaya sebisa-bisanya untuk berkomunikasi dan kita gagal memperoleh hasil-hasil yang diinginkan, apakah kita perlu merasa putus asa? Sama sekali tidak. Siswa-Siswa Alkitab (sebagaimana Saksi-Saksi Yehuwa disebut dulu) biasa mengatakan bahwa agar dapat menerima kebenaran, orang-orang perlu memiliki tiga sifat. Mereka harus jujur, rendah hati dan lapar secara rohani. Kita tidak dapat mengharapkan agar orang-orang yang tidak tulus, mereka yang tidak jujur, akan menyambut kebenaran dengan baik; kita juga tidak dapat mengharapkan bahwa orang-orang yang tinggi hati dan angkuh akan mendengarkan kabar baik. Selanjutnya, bahkan jika seseorang agak jujur dan rendah hati, ia tidak mungkin akan menerima kebenaran jika ia tidak lapar secara rohani.

      20. Mengapa selalu dapat dikatakan bahwa upaya kita tidak pernah sia-sia?

      20 Tidak diragukan banyak orang yang saudara jumpai di daerah saudara tidak memiliki satu atau lebih dari ketiga sifat tersebut. Nabi Yeremia mengalami hal serupa. (Yeremia 1:17-19; bandingkan Matius 5:3.) Meskipun demikian, upaya kita tidak pernah sia-sia. Mengapa tidak? Karena kita sedang memberitakan nama dan Kerajaan Yehuwa. Dengan pengabaran kita dan bahkan dengan kehadiran kita saja, kita mengingatkan orang-orang yang jahat. (Yehezkiel 33:33) Dan jangan pernah lupa bahwa dengan upaya kita untuk mengkomunikasikan kebenaran kepada orang-orang lain, kita sendiri mendapat manfaat. (1 Timotius 4:16) Kita menjaga iman kita tetap teguh dan harapan Kerajaan kita tetap cerah. Selain itu, kita memelihara integritas kita dan dengan demikian ikut serta dalam memuliakan nama Allah Yehuwa, membuat hati-Nya senang.—Amsal 27:11.

      21. Apa yang dapat dikatakan sebagai ringkasan?

      21 Sebagai ringkasan: Komunikasi adalah menyampaikan penjelasan dengan efektif. Seni komunikasi itu penting, dan banyak kerugian diakibatkan apabila komunikasi gagal. Telah kita lihat bahwa Allah Yehuwa dan Kristus Yesus adalah komunikator yang paling unggul dan bahwa Kristus Yesus menugaskan satu saluran komunikasi bagi zaman kita. Kita juga telah perhatikan bahwa melalui cara kita berpakaian dan bertindak, kita berkomunikasi, menyampaikan pesan kepada orang-orang lain. Telah kita pelajari bahwa bertukar pikiran memainkan peranan penting dalam upaya kita untuk berkomunikasi dengan orang-orang dan agar dapat berkomunikasi dengan efektif, kita perlu bersahaja dan rendah hati, memperlihatkan empati, mempraktikkan kesabaran, dan di atas segalanya, digerakkan oleh hati yang penuh kasih. Jika kita mengembangkan sifat-sifat ini dan mengikuti teladan-teladan dalam Alkitab, kita akan menjadi komunikator kristiani yang sukses.—Roma 12:8-11.

      [Catatan Kaki]

      a Untuk lebih banyak saran mengenai cara berkomunikasi dengan penganut agama Yahudi dan agama-agama lain, silakan lihat Bertukar Pikiran mengenai Ayat-Ayat Alkitab, halaman 21-4.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan