PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Perjanjian-Perjanjian yang Menyangkut Maksud-Tujuan Allah yang Kekal
    Menara Pengawal—1989 | 1 Februari
    • Perjanjian-Perjanjian yang Menyangkut Maksud-Tujuan Allah yang Kekal

      ”[Yehuwa] . . . ingat untuk selama-lamanya akan perjanjianNya, firman yang diperintahkanNya kepada seribu angkatan.”—MAZMUR 105:7, 8.

      1, 2. Mengapa kita dapat mengatakan bahwa kebanyakan dari kita telah dipengaruhi oleh suatu perjanjian?

      KEMUNGKINAN besar ada sebuah perjanjian yang telah mempengaruhi saudara—masa lampau saudara, masa sekarang, dan masa depan. ’Perjanjian apa?’ mungkin saudara bertanya. Dalam hal ini, yang dimaksud adalah perjanjian perkawinan, karena kebanyakan dari kita adalah keturunan dari suatu perkawinan dan banyak di antara kita juga telah kawin. Bahkan mereka yang masih belum kawin mungkin memikirkan berkat-berkat dari perkawinan yang bahagia di masa depan.

      2 Berabad-abad yang lampau nabi Ibrani Maleakhi menulis mengenai ”isteri masa mudamu,” ”teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu.” (Maleakhi 2:14-16) Ia dapat menyebut perkawinan suatu perjanjian, karena ini adalah suatu kontrak atau persetujuan resmi, suatu penyelenggaraan antara pihak-pihak untuk melakukan sesuatu bersama. Ikatan perkawinan adalah suatu perjanjian timbal-balik antara dua pihak yang setuju untuk menjadi suami dan istri, menerima kewajiban terhadap satu sama lain dan mengharapkan manfaat yang tahan lama.

      3. Mengapa perjanjian-perjanjian lain akan lebih mempengaruhi kita daripada perkawinan?

      3 Perkawinan mungkin tampaknya adalah perjanjian yang mempunyai pengaruh pribadi yang terbesar atas diri kita, meskipun demikian Alkitab membicarakan perjanjian-perjanjian yang mempunyai arti penting yang jauh lebih luas. Dalam membandingkan perjanjian-perjanjian menurut Alkitab dengan perjanjian dari agama-agama yang tidak berdasarkan Alkitab, sebuah ensiklopedia mengatakan bahwa hanya dalam Alkitab ”pengaturan dari hubungan antara Allah dan umat-Nya menjadi suatu sistem yang mencakup banyak hal dengan pengaruh akhir yang bersifat universal.” Ya, perjanjian-perjanjian ini menyangkut maksud-tujuan kekal dari Pencipta kita yang pengasih. Seperti akan saudara lihat, berkat-berkat yang tidak terhitung banyaknya yang akan kita terima ada hubungannya dengan perjanjian-perjanjian ini. ’Tetapi bagaimana hal itu demikian?’ saudara mempunyai alasan untuk bertanya.

      4. Perjanjian awal apa menyatakan tentang maksud-tujuan Allah yang kekal?

      4 Saudara tentu tahu mengenai akibat yang menyedihkan ketika Adam dan Hawa menolak wewenang Allah. Kita mewarisi ketidaksempurnaan dari mereka, suatu kenyataan yang kita lihat dalam penyakit yang harus kita derita, yang membawa kepada kematian. (Kejadian 3:1-6, 14-19) Tetapi, kita dapat bersyukur, bahwa dosa mereka tidak dapat menggagalkan maksud-tujuan Allah untuk memenuhi bumi dengan penyembah-penyembah yang sejati yang menikmati kesehatan dan kebahagiaan kekal. Sehubungan dengan ini, Yehuwa membuat perjanjian yang dicatat dalam Kejadian 3:15, ”Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Tetapi, singkatnya pernyataan tersebut dan bahasa lambang yang digunakan menimbulkan banyak pertanyaan yang tidak terjawab. Bagaimana Yehuwa akan memenuhi syarat perjanjian ini?

      5, 6. (a) Sarana apa yang Allah putuskan akan Ia gunakan untuk melaksanakan maksud-tujuan-Nya? (b) Mengapa seharusnya kita berminat dalam sarana Allah untuk melakukan ini?

      5 Allah selanjutnya memutuskan untuk mengatur adanya serangkaian perjanjian ilahi, yang, bersama dengan perjanjian di Eden ini, seluruhnya berjumlah tujuh. Kita masing-masing yang berharap untuk menikmati berkat-berkat yang kekal sepatutnya mengerti perjanjian-perjanjian ini. Ini termasuk mengetahui bilamana dan bagaimana itu dibuat, siapa yang terlibat, apa tujuan atau syarat-syaratnya, dan bagaimana perjanjian-perjanjian itu saling berhubungan satu sama lain dalam maksud-tujuan Allah untuk memberkati umat manusia yang taat dengan hidup kekal. Sekaranglah waktu yang tepat untuk meninjau kembali perjanjian-perjanjian tersebut, karena pada tanggal 22 Maret 1989, sidang-sidang Kristen akan berhimpun untuk memperingati Perjamuan Malam Tuhan, yang secara langsung menyangkut perjanjian-perjanjian tersebut.

      6 Memang, bagi beberapa orang gagasan mengenai perjanjian mungkin kedengaran membosankan, penuh dengan kaidah hukum, dan tidak banyak menyangkut kepentingan umat manusia. Tetapi, pertimbangkan apa yang dikatakan Theological Dictionary of the Old Testament, ”Istilah-istilah untuk ’perjanjian’ di Timur Dekat jaman dulu maupun dalam dunia Roma dan Yunani . . . dibagi menurut dua bidang semantik [arti kata]: sumpah dan ikatan di satu pihak, kasih dan persahabatan di pihak lain. Kita dapat melihat kedua segi itu—sumpah dan persahabatan—sebagai dasar dari perjanjian-perjanjian Yehuwa.

      Perjanjian Abraham—Dasar untuk Berkat-Berkat yang Kekal

      7, 8. Perjanjian macam apakah yang Yehuwa buat dengan Abraham? (1 Tawarikh 16:15, 16)

      7 Sang datuk Abraham, ”bapa semua orang percaya,” adalah ”Sahabat Allah.” (Roma 4:11; Yakobus 2:21-23) Allah berjanji kepadanya dengan suatu sumpah, dengan menyatakan sebuah perjanjian yang penting agar kita dapat menerima berkat-berkat yang kekal.—Ibrani 6:13-18.

      8 Ketika Abraham berada di Ur, Yehuwa memerintahkan dia untuk pindah ke negeri lain, yang ternyata adalah Kanaan. Pada waktu itu Yehuwa berjanji kepada Abraham, ”Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu mashyur; . . . dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat [”akan memberkati diri mereka sendiri,” NW].”a (Kejadian 12:1-3) Setelah itu, Allah sedikit demi sedikit menambahkan rincian kepada apa yang dengan tepat dapat kita sebut perjanjian Abraham: benih, atau ahli waris Abraham, akan mewarisi Negeri Perjanjian; benihnya akan menghasilkan keturunan yang tidak terhitung banyaknya; Abraham dan Sarah akan menjadi nenek moyang raja-raja.—Kejadian 13:14-17; 15:4-6; 17:1-8, 16; Mazmur 105:8-10.

      9. Bagaimana kita tahu bahwa kita dapat terlibat dalam perjanjian Abraham?

      9 Allah menyebutnya ”perjanjian antara Aku dan engkau [Abraham].” (Kejadian 17:2) Tetapi kita harus merasa bahwa kehidupan kita tersangkut, karena Allah belakangan menguatkan perjanjian itu, dengan menyatakan, ”Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat [”pasti akan memberkati diri mereka sendiri,” NW].” (Kejadian 22:17, 18) Kita adalah bagian dari bangsa-bangsa tersebut; suatu berkat yang berpotensi (sesuatu yang bisa menjadi nyata) tersedia bagi kita.

      10. Pengertian apa yang kita peroleh dari perjanjian dengan Abraham?

      10 Mari kita berhenti sejenak untuk memikirkan apa yang dapat kita pelajari dari perjanjian Abraham. Seperti perjanjian di Eden sebelum itu, perjanjian ini menyebutkan adanya suatu ”keturunan,” atau benih, yang akan datang, jadi di sini dinyatakan bahwa benih itu akan mempunyai garis keturunan manusiawi. (Kejadian 3:15) Itu kelak adalah dari garis keturunan Sem, terus sampai Abraham, dan melalui putranya Ishak. Kedudukan sebagai raja tersangkut dalam garis ini, dan hal itu dalam taraf tertentu akan memungkinkan adanya berkat bukan hanya untuk satu keluarga tetapi untuk orang-orang di semua negeri. Bagaimana perjanjian itu digenapi?

      11. Bagaimana penggenapan aksara dari perjanjian Abraham terwujud?

      11 Keturunan Abraham melalui Yakub, atau Israel, berlipat ganda sehingga menjadi bangsa yang besar. Sebagai benih Abraham yang aksara dan tidak terhitung banyaknya, mereka dibaktikan kepada ibadat yang murni dari Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. (Kejadian 28:13; Keluaran 3:6, 15; 6:3; Kisah 3:13) Sering kali orang-orang Israel berpaling dari ibadat yang murni, namun ”[Yehuwa] mengasihani serta menyayangi mereka . . . oleh karena perjanjianNya dengan Abraham, Ishak dan Yakub, jadi Ia tidak mau memusnahkan mereka.” (2 Raja 13:23; Keluaran 2:24; Imamat 26:42-45) Bahkan setelah Allah menerima sidang Kristen sebagai umat-Nya, Ia untuk sedikit waktu tetap memperlihatkan perkenan istimewa kepada orang-orang Israel sebagai umat yang adalah benih aksara dari Abraham.—Daniel 9:27.

      Benih Rohani dari Abraham

      12, 13. Bagaimana Yesus ternyata adalah bagian utama dari benih dalam penggenapan rohani dari perjanjian Abraham?

      12 Perjanjian Abraham mengalami penggenapan lain, yang bersifat rohani. Penggenapan yang lebih besar ini tidak akan nyata sebelum jaman Yesus, namun kita dapat berbahagia bahwa hal itu jelas pada jaman kita. Kita mempunyai penjelasan mengenai penggenapannya dalam Firman Allah. Paulus menulis, ”Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan ’kepada keturunan-keturunannya’ seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: ’dan kepada keturunanmu,’ yaitu Kristus.”—Galatia 3:16.

      13 Ya, keturunan atau benih itu akan datang hanya melalui satu garis keturunan, atau keluarga, yang dalam hal Yesus, ia memang benar lahir sebagai seorang Yahudi jasmani, dari garis keturunan Abraham. (Matius 1:1-16; Lukas 3:23-34) Selain itu, ia adalah bagian dari keluarga Abraham Yang Lebih Besar di surga. Ingat bahwa dengan iman yang dalam sang datuk Abraham rela mengorbankan putranya Ishak jika Allah menghendakinya. (Kejadian 22:1-18; Ibrani 11:17-19) Demikian pula, Yehuwa mengutus Putra tunggal-Nya ke bumi untuk menjadi korban tebusan bagi umat manusia yang percaya. (Roma 5:8; 8:32) Jadi dapat dimengerti mengapa Paulus menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah bagian utama dari benih Abraham menurut perjanjian ini.

      14. Apa bagian kedua dari benih Abraham, dan hal ini mengarah kepada pembahasan lebih lanjut apa?

      14 Paulus selanjutnya menunjukkan bahwa Allah akan ’membuat keturunan Abraham sangat banyak’ dalam penggenapan rohani. Ia menulis, ”Jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” (Kejadian 22:17; Galatia 3:29) Orang-orang tersebut adalah 144.000 orang Kristen yang diurapi dengan roh yang membentuk bagian kedua dari benih Abraham. Mereka tidak bertentangan dengan bagian utama dari benih itu tetapi adalah ’milik Kristus.’ (1 Korintus 1:2; 15:23) Kita tahu bahwa banyak dari mereka tidak dapat menelusuri garis keturunan mereka kepada Abraham, karena mereka berasal dari bangsa-bangsa yang bukan Yahudi. Namun, yang lebih menentukan dalam penggenapan rohani ini, mereka secara lahiriah bukan bagian dari keluarga Abraham Yang Lebih Besar, Yehuwa; sebaliknya, mereka berasal dari keluarga pedosa Adam yang tidak sempurna. Jadi kita masih perlu melihat dari perjanjian-perjanjian selanjutnya bagaimana mereka dapat memenuhi syarat untuk menjadi bagian dari ’benih Abraham.’

      Perjanjian Taurat Ditambahkan untuk Sementara

      15-17. (a) Mengapa perjanjian Taurat ditambahkan kepada perjanjian Abraham? (b) Bagaimana Taurat memenuhi tujuan-tujuan tersebut?

      15 Setelah Allah membuat perjanjian Abraham sebagai langkah dasar ke arah terlaksananya maksud-tujuan-Nya, bagaimanakah garis keturunan Benih itu akan dilindungi dari pencemaran atau pembinasaan sampai waktunya ia datang? Ketika Benih itu benar-benar datang, bagaimana para penyembah yang sejati dapat mengenali dia? Paulus menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan menyatakan hikmat Allah dalam menambahkan perjanjian Taurat untuk sementara. Rasul itu menulis:

      16 ”Kalau demikian, apakah maksudnya hukum Taurat? Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran—sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu—dan ia disampaikan dengan perantaraan malaikat-malaikat ke dalam tangan seorang pengantara. . . . hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.”—Galatia 3:19, 24.

      17 Di Gunung Sinai, Yehuwa membuat suatu perjanjian nasional yang unik antara diri-Nya sendiri dan Israel—perjanjian Taurat, dengan Musa sebagai perantaranya.b (Galatia 4:24, 25) Umat itu setuju untuk berada dalam perjanjian ini, dan ini disahkan dengan darah lembu dan kambing. (Keluaran 24:3-8; Ibrani 9:19, 20) Dengan demikian Israel mendapat hukum-hukum teokratis dan gagasan utama untuk suatu pemerintahan yang benar. Perjanjian ini melarang perkawinan campuran dengan orang-orang kafir atau ambil bagian dalam praktik-praktik agama yang imoral dan palsu. Dengan demikian Taurat melindungi Israel dan merupakan tenaga pendorong dalam memelihara agar garis keturunan benih itu tidak tercemar. (Keluaran 20:4-6; 34:12-16) Tetapi karena tidak ada orang Israel yang tak sempurna yang dapat memelihara Taurat dengan sepenuhnya, hukum tersebut membuat dosa-dosa menjadi nyata. (Galatia 3:19) Taurat juga menyatakan perlunya seorang imam yang sempurna dan kekal dan suatu korban yang tidak perlu diulangi setiap tahun. Taurat adalah bagaikan penuntun atau pelatih yang membimbing seorang anak kepada pengajar yang dibutuhkan, yang akan menjadi Mesias, atau Kristus. (Ibrani 7:26-28; 9:9, 16-22; 10:1-4, 11) Bila telah mencapai tujuannya, perjanjian Taurat akan diakhiri.—Galatia 3:24, 25; Roma 7:6; lihat ”Pertanyaan Pembaca,” halaman 31.

      18. Prospek lebih lanjut apa erat hubungannya dengan perjanjian Taurat, namun mengapa hal ini sulit dimengerti?

      18 Pada waktu membuat perjanjian yang bersifat sementara ini, Allah juga menyebutkan tujuan yang menggetarkan berikut, ”Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firmanKu dan berpegang pada perjanjianKu, maka kamu akan menjadi harta kesayanganKu . . . Kamu akan menjadi bagiKu kerajaan imam dan bangsa yang kudus.” (Keluaran 19:5, 6) Benar-benar suatu prospek yang bagus! Suatu bangsa yang terdiri dari imam-imam sekaligus raja-raja. Namun, bagaimana hal itu mungkin? Seperti diuraikan oleh hukum Taurat belakangan, suku yang memerintah (Yehuda) dan suku imam-imam (Lewi) diberi tanggung jawab yang berbeda. (Kejadian 49:10; Keluaran 28:43; Bilangan 3:5-13) Tidak seorang pun dapat menjadi penguasa sipil dan pada waktu yang bersamaan juga seorang imam. Namun, kata-kata Allah dalam Keluaran 19:5, 6 memberikan alasan untuk percaya bahwa dengan suatu cara yang belum disingkapkan, mereka yang berada dalam perjanjian Taurat akan mendapat kesempatan untuk menyediakan para anggota dari ”kerajaan imam dan bangsa yang kudus.”

      Perjanjian Kerajaan Daud

      19. Bagaimana kedudukan sebagai raja dinyatakan dalam perjanjian-perjanjian itu?

      19 Setelah itu, pada waktunya, Yehuwa menambahkan perjanjian lain yang menjelaskan lebih lanjut bagaimana Ia akan melaksanakan maksud-tujuan-Nya demi berkat kekal kita. Kita telah melihat bahwa perjanjian Abraham menunjuk ke depan kepada kedudukan sebagai raja di antara benih Abraham yang sesungguhnya. (Kejadian 17:6) Perjanjian Taurat juga telah menunjukkan akan adanya raja-raja dalam umat Allah, karena Musa mengatakan kepada Israel, ”Apabila engkau telah masuk ke [Negeri Perjanjian] kemudian engkau berkata: ’Aku mau mengangkat raja atasku, seperti segala bangsa yang di sekelilingku, maka hanyalah raja yang dipilih [Yehuwa], Allahmu, yang harus kauangkat atasmu. . . . seorang asing yang bukan saudaramu tidaklah boleh kauangkat atasmu.” (Ulangan 17:14, 15) Bagaimana Allah akan mengatur kedudukan sebagai raja tersebut, dan bagaimana hal itu berkaitan dengan perjanjian Abraham?

      20. Bagaimana Daud dan garis keturunannya terlibat dalam hal ini?

      20 Walaupun raja Israel yang pertama adalah Saul dari suku Benyamin, ia diganti oleh Daud yang berani dan loyal dari Yehuda. (1 Samuel 8:5; 9:1, 2; 10:1; 16:1, 13) Setelah cukup lama Daud memerintah, Yehuwa berkenan untuk membuat perjanjian dengan Daud. Mula-mula Ia mengatakan, ”Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi namaKu dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya.” (2 Samuel 7:12, 13) Seperti ditunjukkan di sana, putra Daud Salomo menjadi raja berikutnya, dan ia digunakan untuk membangun sebuah rumah, atau bait, untuk Allah di Yerusalem. Namun, bukan itu saja.

      21. Perjanjian Kerajaan Daud membuat persediaan untuk apa?

      21 Yehuwa selanjutnya membuat perjanjian ini dengan Daud, ”Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapanKu, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.” (2 Samuel 7:16) Jelasnya, dengan cara itu Allah membentuk dinasti raja-raja bagi Israel dalam keluarga Daud. Ini bukan sekedar pergantian tetap dari raja-raja keturunan Daud. Akhirnya, seseorang dalam garis keturunan Daud akan datang untuk memerintah ”selama-lamanya, dan takhtanya [akan] seperti matahari di depan [Allah].”—Mazmur 89:21, 30, 35-37; Yesaya 55:3, 4.

      22. Bagaimana perjanjian dengan Daud ada hubungannya dengan garis keturunan Benih itu, dan apa hasilnya?

      22 Maka, nyatalah bahwa perjanjian Daud selanjutnya mempersempit garis keturunan Benih itu. Bahkan orang-orang Yahudi pada abad pertama menyadari bahwa Mesias harus keturunan Daud. (Yohanes 7:41, 42) Yesus Kristus, bagian utama dari benih perjanjian Abraham, memenuhi syarat untuk menjadi Ahli Waris yang kekal dari Kerajaan Daud ini, seperti telah dinyatakan oleh seorang malaikat. (Lukas 1:31-33) Dengan demikian Yesus mendapat hak untuk memerintah atas Negeri Perjanjian, wilayah di bumi tempat Daud dulu memerintah. Hal ini seharusnya menambah keyakinan kita dalam Yesus; ia memerintah, tidak melalui perebutan kekuasaan yang tidak sah, tetapi melalui pengaturan yang telah ditetapkan dengan sah, perjanjian ilahi.

      23. Pertanyaan-pertanyaan dan masalah-masalah apa yang masih harus diselesaikan?

      23 Kita baru membahas empat dari perjanjian-perjanjian ilahi berkenaan bagaimana Allah mengatur untuk melaksanakan maksud-tujuan-Nya guna mendatangkan berkat-berkat kekal atas umat manusia. Kemungkinan, saudara dapat melihat bahwa gambar itu belum lengkap. Pertanyaan-pertanyaan yang masih harus dijawab ialah: Karena umat manusia tetap tidak sempurna, imam atau korban apa dapat mengubah hal itu secara kekal? Bagaimana manusia akan memenuhi syarat untuk menjadi bagian dari benih Abraham? Apakah ada alasan untuk percaya bahwa hak untuk memerintah akan diperluas sehingga mencakup lebih dari suatu daerah di bumi saja? Bagaimana benih Abraham, bagian utama maupun bagian keduanya, dapat mendatangkan berkat atas ”semua bangsa di bumi,” termasuk kita masing-masing? Mari kita lihat.

      [Catatan Kaki]

      a Ini adalah suatu perjanjian unilateral, karena hanya satu pihak (Allah) yang terikat untuk melaksanakan syarat-syaratnya.

      b ”Gagasan perjanjian merupakan corak istimewa dari agama Israel, satu-satunya yang menuntut keloyalan yang ekslusif dan meniadakan kemungkinan adanya keloyalan ganda atau kepada banyak allah seperti yang diijinkan dalam agama-agama lain.”—Theological Dictionary of the Old Testament, Jilid II, halaman 278.

  • Perjanjian-Perjanjian yang Menyangkut Maksud-Tujuan Allah yang Kekal
    Menara Pengawal—1989 | 1 Februari
    • [Bagan di hlm. 13]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      Perjanjian di Eden Kejadian 3:15

      Perjanjian Abraham

      Benih utama

      Benih kedua

      Berkat-Berkat kekal

      [Bagan di hlm. 14]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      Perjanjian di Eden Kejadian 3:15

      Perjanjian Abraham

      Perjanjian Taurat

      Perjanjian Kerajaan Daud

      Benih utama

      Benih kedua

      Berkat-berkat kekal

      [Gambar di hlm. 10]

      Untuk melaksanakan maksud-tujuan-Nya demi kepentingan umat manusia, Allah membuat perjanjian dengan Abraham yang setia

  • Apakah Saudara Akan Mendapat Manfaat dari Perjanjian-Perjanjian Allah?
    Menara Pengawal—1989 | 1 Februari
    • Apakah Saudara Akan Mendapat Manfaat dari Perjanjian-Perjanjian Allah?

      ”’Olehmu segala bangsa akan diberkati.’ Jadi mereka yang hidup dari [”berpaut kepada,” NW] iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu.”—GALATIA 3:8, 9.

      1. Apa yang ditunjukkan oleh sejarah mengenai dampak dari banyak pemerintahan?

      ”PENGUASA-PENGUASA lalim yang mempunyai niat baik [atau, memiliki terang]” adalah sebutan bagi beberapa penguasa Eropa abad ke-18. Mereka ’mempunyai maksud baik untuk memerintah rakyat mereka dengan kebaikan yang bersifat kebapaan, namun rencana-rencana mereka tidak berjalan dengan baik dan reformasi mereka gagal total.’a (The Encyclopedia Americana) Ini merupakan alasan utama dari revolusi-revolusi yang segera melanda Eropa.

      2, 3. Bagaimana Yehuwa berbeda dari raja-raja manusia?

      2 Betapa berbeda Yehuwa dari para penguasa manusia yang tidak dapat diandalkan. Kita dengan mudah dapat melihat kebutuhan umat manusia yang sangat mendesak untuk suatu perubahan yang akhirnya akan menghasilkan perbaikan yang sejati atas ketidakadilan dan penderitaan. Namun kita tidak perlu kuatir bahwa tindakan Allah untuk mewujudkan hal ini bergantung pada suatu gagasan yang muncul secara tiba-tiba. Dalam buku yang paling luas disebarkan di dunia, Ia telah mencatat janji-Nya untuk mendatangkan berkat-berkat kekal atas umat manusia yang percaya. Ini tidak soal latar belakang kebangsaan, suku, pendidikan, atau kedudukan sosial, dari orang tersebut. (Galatia 3:28) Tetapi dapatkah saudara mengandalkan hal ini?

      3 Rasul Paulus mengutip sebagian dari jaminan yang Allah berikan kepada Abraham, ”Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah.” Paulus menambahkan bahwa karena ”Allah tidak mungkin berdusta,” kita ”beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita.” (Ibrani 6:13-18) Keyakinan kita dalam berkat-berkat tersebut dapat dikuatkan lebih jauh dengan memperhatikan cara Allah yang teratur dalam membubuh dasar untuk melaksanakan hal ini.

      4. Bagaimana Allah menggunakan berbagai perjanjian untuk melaksanakan maksud-tujuan-Nya?

      4 Kita sudah melihat bahwa Allah telah membuat perjanjian dengan Abraham yang melibatkan suatu benih yang akan menjadi sarana untuk memberkati ”semua bangsa di bumi.” (Kejadian 22:17, 18) Orang Israel menjadi benih jasmani, tetapi dalam arti rohani yang lebih penting, Yesus Kristus ternyata adalah bagian utama dari benih Abraham. Yesus juga adalah Putra, atau Benih, dari Abraham Yang Lebih Besar, Yehuwa. Orang-orang Kristen yang ’menjadi milik Kristus’ menjadi bagian kedua dari benih Abraham. (Galatia 3:16, 29) Setelah membentuk perjanjian Abraham, Allah untuk sementara menambahkan perjanjian Taurat dengan bangsa Israel. Taurat membuktikan bahwa orang-orang Israel adalah pedosa-pedosa yang membutuhkan imam yang kekal dan korban yang sempurna. Taurat melindungi garis keturunan Benih itu dan membantu mengenali dia. Perjanjian Taurat juga memperlihatkan bahwa, dengan suatu cara tertentu, Allah akan menerbitkan suatu bangsa imam raja. Ketika hukum Taurat masih berlaku, Allah membuat perjanjian dengan Daud untuk memiliki dinasti raja-raja di Israel. Perjanjian Kerajaan Daud juga menyebutkan adanya seseorang yang akan mempunyai kedudukan sebagai penguasa yang kekal atas bumi.

      5. Pertanyaan-pertanyaan atau problem apa masih harus dipecahkan?

      5 Namun, ada segi-segi atau tujuan dari perjanjian-perjanjian ini yang tampaknya belum lengkap atau yang perlu dijelaskan. Misalnya, jika Benih yang akan datang harus menjadi raja dalam garis keturunan Daud, bagaimana ia dapat menjadi imam yang kekal yang akan berbuat lebih banyak daripada imam-imam sebelumnya? (Ibrani 5:1; 7:13, 14) Dapatkah Raja ini memerintah daerah yang lebih luas daripada wilayah yang terbatas di bumi? Bagaimana bagian kedua dari benih itu memenuhi syarat untuk berada dalam keluarga Abraham Yang Lebih Besar? Dan sekalipun mereka dapat, wilayah manakah yang akan mereka dapatkan, karena sebagian besar dari para anggotanya bukan keturunan Daud? Mari kita lihat bagaimana Allah mengambil langkah-langkah yang sah dalam bentuk perjanjian-perjanjian tambahan yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, dan membuka jalan bagi berkat-berkat kekal untuk kita.

      Perjanjian untuk Imam Surgawi

      6, 7. (a) Menurut Mazmur 110:4, perjanjian tambahan apa yang Allah buat? (b) Latar belakang apa membantu kita mengerti perjanjian tambahan ini?

      6 Seperti kita lihat, dalam jangkauan perjanjian Taurat, Allah mengadakan perjanjian dengan Daud untuk seorang keturunan (benih) yang akan memerintah selama-lamanya atas suatu wilayah di bumi. Tetapi Yehuwa juga menyingkapkan kepada Daud bahwa seorang imam yang kekal akan datang. Daud menulis, ”[Yehuwa] telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal, ’Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek.’” (Mazmur 110:4) Apa latar belakang dari firman Allah yang disertai sumpah ini yang sama dengan suatu perjanjian pribadi antara Yehuwa dan Imam yang akan datang?

      7 Melkisedek adalah raja dari Salem jaman dulu, yang jelas adalah tempat kota Yerusalem (sebuah nama dengan ”Salem” di dalamnya) dibangun belakangan. Kisah mengenai peristiwa Abraham berurusan dengan dia menonjolkan bahwa ia adalah seorang raja yang menyembah ”Allah Yang Mahatinggi.” (Kejadian 14:17-20) Namun, pernyataan Allah dalam Mazmur 110:4 memperlihatkan bahwa Melkisedek juga seorang imam, yang membuat dia orang yang unik. Ia seorang raja dan juga imam, dan ia melayani di tempat raja-raja keturunan Daud dan imam-imam Lewi belakangan melaksanakan fungsi mereka menurut pengaturan ilahi.

      8. Dengan siapa perjanjian untuk imam seperti Melkisedek ini dibuat, dan apa hasilnya?

      8 Paulus memberi kita rincian tambahan mengenai perjanjian ini untuk seorang imam seperti Melkisedek. Misalnya, ia mengatakan bahwa Yesus Kristus itulah yang ”dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek.” (Ibrani 5:4-10; 6:20; 7:17, 21, 22) Walaupun Melkisedek jelas mempunyai orangtua manusia, tidak ada catatan tentang silsilahnya. Jadi Yesus tidak mewarisi jabatan sebagai imam menurut garis keturunan yang tercatat dari Melkisedek, tetapi ia langsung diangkat oleh Allah. Kedudukan Yesus sebagai imam tidak akan diteruskan kepada seorang pengganti, karena ”ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya.” Hal ini demikian, karena manfaat dari dinasnya sebagai imam akan bersifat kekal. Kita benar-benar dapat diberkati dengan memiliki seorang imam yang ”sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah” dan mengajar serta membimbing orang-orang yang setia untuk selama-lamanya.—Ibrani 7:1-3, 15-17, 23-25.

      9, 10. Bagaimana pengetahuan tentang perjanjian yang kelima ini memperluas pengertian kita tentang bagaimana maksud-tujuan Allah akan digenapi?

      9 Fakta penting lain ialah bahwa peranan Yesus sebagai Imam-Raja tidak hanya atas wilayah di bumi. Dalam ikatan kalimat yang sama dengan yang menyebut tentang perjanjian untuk seorang imam seperti Melkisedek, Daud menulis, ”Firman [Yehuwa] kepada tuanku, ’Duduklah di sebelah kananKu, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu.’” Jadi kita dapat melihat bahwa Yesus—Tuhan dari Daud—akan mendapat tempat di surga bersama Yehuwa, yang terwujud ketika ia naik ke surga. Dari surga, Kristus dapat menjalankan wewenang bersama Bapanya untuk menaklukkan musuh-musuh dan melaksanakan penghukuman.—Mazmur 110:1, 2; Kisah 2:33-36; Ibrani 1:3; 8:1; 12:2.

      10 Maka, dengan mengetahui tentang perjanjian yang kelima ini, kita mempunyai pandangan yang lebih luas tentang cara Yehuwa yang tertib dan saksama dalam melaksanakan maksud-tujuan-Nya. Perjanjian itu menetapkan bahwa bagian utama dari benih itu juga adalah imam di surga dan bahwa wewenangnya sebagai Imam-Raja akan bersifat universal.—1 Petrus 3:22.

      Perjanjian Baru dan Bagian Kedua dari Benih

      11. Problem apa yang timbul berkenaan bagian kedua dari benih?

      11 Ketika kita sebelum ini membicarakan perjanjian Abraham, kita melihat bahwa Yesus menjadi bagian utama dari benih melalui hak secara jasmani. Ia adalah keturunan langsung dari sang datuk Abraham, dan sebagai manusia sempurna, dia adalah Putra yang diperkenan dari Abraham Yang Lebih Besar. Namun, bagaimana dengan umat manusia yang mempunyai hak istimewa untuk menjadi bagian kedua dari benih Abraham, ’keturunan yang berhak menerima janji’? (Galatia 3:29) Karena tidak sempurna, sebagai bagian dari keluarga pedosa Adam, mereka tidak memenuhi syarat untuk menjadi keluarga dari Yehuwa, Abraham Yang Lebih Besar. Bagaimana rintangan ketidaksempurnaan dapat diatasi? Hal itu sesuatu yang tidak mungkin bagi manusia, namun tidak mustahil bagi Allah.—Matius 19:25, 26.

      12, 13. (a) Bagaimana Allah menubuatkan perjanjian lain? (b) Corak istimewa apa dari perjanjian ini patut kita perhatikan?

      12 Pada waktu Taurat masih berlaku, Allah bernubuat melalui nabi-Nya, ”Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka . . . perjanjianKu itu telah mereka ingkari, . . . Aku akan menaruh TauratKu dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu. Dan tidak usah lagi orang mengajar . . . Kenallah [Yehuwa]! Sebab mereka semua . . . akan mengenal Aku . . . sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.”—Yeremia 31:31-34.

      13 Perhatikan bahwa suatu corak dari perjanjian baru ini adalah pengampunan dosa-dosa, pasti dengan cara yang ”bukan seperti” penyelenggaraan dengan korban-korban binatang di bawah hukum Taurat. Yesus menjelaskan hal ini pada hari ia mati. Setelah mengikutsertakan murid-muridnya dalam merayakan Paskah seperti yang dituntut oleh Taurat, Kristus memulai Perjamuan Malam Tuhan. Dalam perayaan tahunan ini ada cawan anggur yang diminum bersama, yang mengenai hal itu Yesus mengatakan, ”Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darahKu, yang ditumpahkan bagi kamu.”—Lukas 22:14-20.

      14. Mengapa perjanjian baru penting dalam menghasilkan bagian kedua dari benih?

      14 Maka, perjanjian baru itu mulai berlaku melalui darah Yesus. Atas dasar korban yang sedemikian sempurna, Allah dapat ’mengampuni kesalahan dan dosa’ sekali untuk selama-lamanya. Pikirkan apa artinya hal itu kelak! Karena dapat mengampuni sepenuhnya dosa-dosa umat manusia yang berbakti dalam keluarga Adam, Allah dapat memandang mereka sebagai orang yang tanpa dosa, melahirkan mereka sebagai anak rohani dari Abraham Yang Lebih Besar, dan kemudian mengurapi mereka dengan roh kudus. (Roma 8:14-17) Jadi, perjanjian baru yang disahkan oleh korban Yesus memungkinkan murid-muridnya untuk menjadi bagian kedua dari benih Abraham. Paulus menulis, ”Oleh kematianNya [Yesus akan] memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan [ia akan] membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani.”—Ibrani 2:14-16; 9:14.

      15. Siapakah pihak-pihak dari perjanjian baru itu?

      15 Jika Yesus menjadi perantara dan korban yang mengesahkan perjanjian baru, siapakah pihak-pihak dari perjanjian itu? Yeremia menubuatkan bahwa Allah akan membuat perjanjian ini dengan ”kaum Israel.” Israel yang mana? Bukan Israel jasmani yang disunat di bawah hukum Taurat, karena perjanjian baru telah membuat perjanjian terdahulu itu tidak berlaku lagi. (Ibrani 8:7, 13; lihat halaman 31.) Sekarang Allah akan berurusan dengan orang Yahudi dan orang Kafir yang melalui iman secara kiasan ’disunat di dalam hati oleh Roh.’ (BIS) Hal ini selaras dengan firman-Nya bahwa ’Taurat-Nya tertulis dalam batin dan hati’ dari mereka yang berada dalam perjanjian baru. (Roma 2:28, 29; Ibrani 8:10) Paulus menyebut orang-orang Yahudi rohani tersebut ”Israel milik Allah.”—Galatia 6:16; Yakobus 1:1.

      16. Bagaimana perjanjian baru membantu mencapai apa yang dinyatakan dalam Keluaran 19:6?

      16 Karena Allah sekarang berurusan dengan Israel rohani, pintu kesempatan terbuka. Ketika Allah menetapkan Taurat, Ia menyatakan bahwa kaum Israel akan menjadi bagi-Nya ”kerajaan imam dan bangsa yang kudus.” (Keluaran 19:6) Sebenarnya, Israel jasmani tidak pernah dapat dan tidak pernah benar-benar menjadi bangsa yang semua orangnya menjadi imam dan raja. Namun orang Yahudi dan orang Kafir yang diterima sebagai bagian kedua dari benih Abraham dapat menjadi imam dan raja.b Rasul Petrus meneguhkan hal ini, dengan mengatakan kepada orang-orang tersebut, ”Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan.” Ia juga menulis bahwa ’suatu bagian yang tidak dapat binasa tersimpan di sorga bagi mereka.’—1 Petrus 1:4; 2:9, 10.

      17. Mengapa perjanjian baru ”lebih mulia” daripada perjanjian Taurat?

      17 Maka, perjanjian baru bekerja sama dengan perjanjian Abraham yang sudah ada sebelumnya untuk menghasilkan bagian kedua dari benih itu. Perjanjian baru antara Yehuwa dan orang-orang Kristen yang dilahirkan dengan roh ini memungkinkan terbentuknya suatu bangsa imam-raja surgawi dalam keluarga diraja dari Abraham Yang Lebih Besar. Maka, kita dapat melihat mengapa Paulus mengatakan bahwa ini suatu ”perjanjian yang lebih mulia yang didasarkan atas janji yang lebih tinggi.” (Ibrani 8:6) Janji-janji tersebut berisi berkat dengan ditulisnya hukum Allah dalam hati orang-orang yang berbakti yang dosa-dosanya tidak diingat lagi, dan semua orang ’mengenal Yehuwa, besar maupun kecil.’—Ibrani 8:11.

      Perjanjian Yesus untuk suatu Kerajaan

      18. Dalam arti apa perjanjian-perjanjian yang telah kita bahas sejauh ini tidak melaksanakan maksud-tujuan Allah secara lengkap?

      18 Merenungkan keenam perjanjian yang telah kita bahas, mungkin tampaknya Yehuwa secara sah telah mengatur segala sesuatu yang dibutuhkan untuk melaksanakan maksud-tujuan-Nya. Namun, Alkitab menyebutkan suatu perjanjian lain yang ada hubungannya dengan apa yang telah kita bahas, suatu perjanjian yang melengkapi segi-segi tambahan dari soal yang penting ini. Orang-orang Kristen yang dilahirkan dengan roh dengan sepatutnya berharap bahwa ’Tuhan akan melepaskan mereka dari setiap usaha yang jahat dan akan menyelamatkan mereka sehingga masuk ke dalam KerajaanNya di sorga.’ (2 Timotius 4:18) Di surga, mereka akan menjadi bangsa imam-raja, namun bagaimana dengan wilayah kekuasaan mereka? Ketika mereka dibangkitkan ke surga, Kristus sudah berada di sana sebagai imam besar yang sempurna. Ia juga telah berdiri dengan kuasa kerajaan untuk memerintah seluruh alam semesta. (Mazmur 2:6-9; Wahyu 11:15) Apa yang harus dilakukan para imam-raja yang lain?

      19. Bilamana dan bagaimana perjanjian ketujuh yang penting dibuat?

      19 Pada tanggal 14 Nisan tahun 33 M., pada malam ketika Yesus memulai Perjamuan Malam Tuhan dan menyebutkan tentang ”perjanjian baru oleh darah[nya],” ia menyebut suatu perjanjian lain, yang ketujuh yang akan kita bahas. Ia mengatakan kepada rasul-rasulnya yang setia, ”Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami. Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu [”Aku akan membuat suatu perjanjian denganmu untuk suatu kerajaan,” NW], sama seperti BapaKu menentukannya bagiKu, bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam KerajaanKu dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.” (Lukas 22:20, 28-30) Sama seperti Bapa telah membuat perjanjian dengan Yesus untuk menjadi imam seperti Melkisedek, demikian pula Kristus membuat perjanjian pribadi dengan para pengikutnya yang loyal.

      20. Dengan siapakah perjanjian untuk suatu Kerajaan dibuat, dan mengapa? (Daniel 7:18; 2 Timotius 2:11-13)

      20 Ke-11 rasul memang telah tinggal bersama-sama dengan Yesus dalam pencobaannya, dan perjanjian itu memperlihatkan bahwa mereka akan duduk di atas takhta-takhta. Selanjutnya, Wahyu 3:21 membuktikan bahwa semua orang Kristen yang dilahirkan dengan roh yang terbukti setia akan duduk di atas takhta-takhta di sorga. Jadi, perjanjian ini adalah dengan keseluruh 144.000 yang telah dibeli dengan darah Yesus untuk dibawa ke sorga sebagai imam-imam dan ”untuk memerintah sebagai raja-raja atas bumi.” (NW) (Wahyu 1:4-6; 5:9, 10; 20:6) Perjanjian yang Yesus buat dengan mereka menggabungkan mereka dengan dia untuk bersama-sama memerintah wilayah kekuasaannya. Dalam hal tertentu, ini seolah-olah seorang pengantin perempuan dari keluarga bangsawan dipersatukan melalui perkawinan dengan seorang raja yang memerintah. Dengan demikian ia dapat ambil bagian dalam pemerintahan kerajaannya.—Yohanes 3:29; 2 Korintus 11:2; Wahyu 19:7, 8.

      21, 22. Berkat apa dapat diharapkan melalui apa yang dicapai oleh perjanjian-perjanjian ini?

      21 Manfaat apakah yang akan dihasilkan oleh ini bagi umat manusia yang taat? Yesus maupun 144.000 tidak akan seperti para penguasa yang lalim yang merencanakan hal-hal baik tetapi ”tidak dapat menyediakan penyelesaian yang sejati.” Sebaliknya, kita diyakinkan bahwa Yesus adalah seorang imam besar yang ’sama dengan kita, telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.’ Maka, kita dapat memahami mengapa ia ”dapat turut merasakan” kelemahan-kelemahan manusiawi dan mengapa ”domba-domba lain” sama seperti orang-orang Kristen terurap, dapat juga, melalui Kristus, menghampiri takhta Allah ”dengan penuh keberanian.” Jadi, mereka juga dapat ’menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan pada waktunya.’—Ibrani 4:14-16; Yohanes 10:16.

      22 Mereka yang berada dalam perjanjian untuk memerintah dengan Yesus sebagai imam-raja juga ikut memberkati umat manusia. Seperti imam-imam Lewi jaman dulu memberikan manfaat kepada seluruh bangsa Israel, demikian pula mereka yang melayani di takhta-takhta surgawi dengan Yesus akan mengadili semua orang yang hidup di bumi dengan adil. (Lukas 22:30) Para imam-raja itu dulu adalah manusia, jadi mereka akan tenggang rasa terhadap kebutuhan umat manusia. Bagian kedua dari benih ini akan bekerja sama dengan Yesus dalam memastikan agar ’segala bangsa diberkati.’—Galatia 3:8.

      23. Bagaimana pribadi-pribadi harus bertindak selaras dengan perjanjian-perjanjian ini?

      23 Semua yang ingin mendapat bagian dari berkat-berkat atas umat manusia, dengan demikian mengambil manfaat dari perjanjian-perjanjian Allah, sekarang diundang untuk berbuat demikian. (Wahyu 22:17) Satu langkah yang baik ialah hadir pada perayaan Perjamuan Malam Tuhan, yang akan diadakan setelah matahari terbenam pada hari Rabu, 22 Maret 1989. Silakan membuat rencana sekarang untuk hadir bersama salah satu sidang dari Saksi-Saksi Yehuwa. Di sana saudara akan belajar lebih banyak tentang perjanjian-perjanjian ilahi dan akan melihat lebih lanjut bagaimana saudara dapat memperoleh manfaat daripadanya.

      [Catatan Kaki]

      a ”Reformasi-reformasi yang paling berani sekalipun telah menghasilkan kaum tani yang melarat, kaum bangsawan yang memperoleh hak istimewa berlebihan dan mendapat keringanan pajak, golongan menengah yang tidak cukup baik namun dimasukkan ke dalam pemerintahan dan masyarakat . . . Harus dikatakan bahwa meskipun despotisme [pemerintahan yang lalim] yang memiliki terang itu mulai menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat diabaikan lagi, ia tidak dapat menyediakan penyelesaian yang sejati dalam realita politik dan ekonomi jaman itu.”—Western Civilization—Its Genesis and Destiny: The Modern Heritage. (Peradaban Barat—Asal Usul dan Tujuannya: Warisan Modern).

      b Yesus bukan satu pihak dari perjanjian baru. Ia adalah Perantaranya dan tidak mempunyai dosa-dosa yang perlu diampuni. Selanjutnya, ia tidak perlu menjadi imam-raja melalui itu, karena dia adalah raja berdasarkan perjanjian Daud dan juga seorang imam seperti Melkisedek.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan