-
Permulaan Hari yang MenentukanTokoh Terbesar Sepanjang Masa
-
-
Permulaan Hari yang Menentukan
KETIKA Yesus meninggalkan Yerusalem pada hari Senin malam, ia kembali ke Betania di lereng timur Bukit Zaitun. Dua hari dari pelayanannya yang terakhir di Yerusalem telah selesai. Pasti Yesus bermalam lagi di rumah Lazarus temannya. Sejak ia tiba dari Yerikho pada hari Jumat, ini adalah malam keempat ia tinggal di Betania.
Sekarang, hari Selasa pagi-pagi sekali, tanggal 11 Nisan, ia dan murid-muridnya sudah berangkat lagi. Ini ternyata hari yang menentukan dalam pelayanan Yesus, hari yang tersibuk sampai saat itu. Ini adalah hari terakhir ia muncul di bait. Lagi pula ini hari terakhir dari pelayanannya di hadapan umum sebelum ia diadili dan dihukum mati.
Yesus dan murid-muridnya mengambil jalur yang sama melalui Bukit Zaitun menuju Yerusalem. Pada jalan itu dari Betania, Petrus memperhatikan pohon yang dikutuk Yesus pagi sebelumnya. ”Rabi, lihatlah!” serunya, ”pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering.”
Akan tetapi, mengapa Yesus mematikan pohon itu? Ia menjelaskan alasannya ketika ia selanjutnya berkata, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini [Bukit Zaitun tempat mereka berdiri]: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi. Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.”
Jadi dengan membuat pohon ara itu kering, Yesus memberi murid-muridnya pokok pelajaran mengenai perlunya mereka memiliki iman kepada Allah. Sebagaimana ia katakan, ”Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” Sungguh suatu pelajaran yang penting bagi mereka teristimewa mengingat ujian-ujian yang luar biasa berat yang akan segera dialami! Namun, ada hubungan lain antara keringnya pohon ara itu dengan mutu dari iman.
Bangsa Israel, seperti pohon ara ini, mempunyai penampilan yang memperdayakan. Walaupun bangsa itu berada dalam ikatan perjanjian dengan Allah dan mungkin secara lahiriah kelihatannya melaksanakan hukum-hukum-Nya, bangsa itu terbukti tidak beriman, tidak menghasilkan buah yang baik. Karena kurang iman, bangsa ini bahkan berada dalam proses menolak Anak Allah sendiri! Jadi, dengan membuat pohon ara yang tidak menghasilkan buah itu menjadi kering, Yesus dengan jelas mempertunjukkan akhir bagi bangsa yang tidak berbuah, tidak beriman ini.
Tidak lama kemudian, Yesus dan murid-muridnya memasuki Yerusalem, dan sebagaimana kebiasaan mereka, mereka pergi ke bait, tempat Yesus mulai mengajar. Imam-imam kepala dan para tua-tua dari bangsa itu, pasti karena mengingat tindakan Yesus sehari sebelumnya mengusir para penukar uang, menantang dia, ”Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberi kuasa itu kepadaMu?”
Sebagai jawaban Yesus berkata, ”Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepadaKu, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?”
Para imam dan tua-tua mulai memperbincangkan hal itu di antara mereka tentang bagaimana mereka akan menjawab. ”Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi.”
Para pemimpin itu tidak tahu harus menjawab apa. Maka mereka menjawab Yesus, ”Kami tidak tahu.”
Yesus, sebagai balasannya, mengatakan, ”Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.” Matius 21:19-27; Markus 11:19-33; Lukas 20:1-8.
-
-
Disingkapkan melalui Perumpamaan Kebun AnggurTokoh Terbesar Sepanjang Masa
-
-
Disingkapkan melalui Perumpamaan Kebun Anggur
YESUS sedang berada di bait Allah. Ia baru saja membuat bingung para pemimpin agama yang menuntut untuk mengetahui melalui kuasa siapa Yesus melakukan perkara-perkara. Sebelum mereka pulih dari kebingungan, Yesus bertanya, ”Apakah pendapatmu tentang ini?” Kemudian melalui sebuah perumpamaan, ia memperlihatkan kepada mereka orang macam apa mereka sebenarnya.
”Seorang mempunyai dua anak laki-laki,” kata Yesus. ”Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” tanya Yesus.
”Yang terakhir,” jawab musuh-musuhnya.
Maka Yesus menerangkan, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Para pemungut cukai dan perempuan sundal, sebenarnya, pada mulanya tidak mau melayani Allah. Namun kemudian, seperti anak yang kedua, mereka bertobat dan melayani Dia. Sebaliknya, para pemimpin agama, seperti anak yang sulung, mengaku melayani Allah, namun sebagaimana dikatakan Yesus, ”Yohanes [Pembaptis] datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”
Kemudian Yesus menunjukkan bahwa kegagalan para pemimpin agama itu bukan sekedar lalai melayani Allah. Tidak, tetapi mereka benar-benar jahat, orang-orang fasik. ”Adalah seorang tuan tanah,” Yesus berkata, ”membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi merekapun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka.”
”Hamba-hamba” adalah para nabi yang oleh ”tuan tanah”, Allah Yehuwa, dikirim kepada ”penggarap-penggarap” dari ”kebun anggur”-Nya. Para penggarap ini adalah pemuka-pemuka bangsa Israel, bangsa yang disebut dalam Alkitab sebagai ”kebun anggur” Allah.
Karena ”penggarap-penggarap” menyiksa dan membunuh ”hamba-hamba” tersebut, Yesus menerangkan, ”Akhirnya [pemilik kebun anggur itu] menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya.”
Sekarang, kepada para pemimpin agama itu, Yesus bertanya, ”Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?”
Para pemimpin agama itu menjawab, ”Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.”
Dengan demikian mereka secara tidak sadar telah menjatuhkan vonis ke atas diri mereka sendiri, karena mereka termasuk di antara orang-orang Israel ”penggarap-penggarap” dari ”kebun anggur” nasional milik Yehuwa di Israel. Hasil yang diharapkan Yehuwa dari penggarap-penggarap itu adalah iman kepada Putra-Nya, Mesias yang sejati. Karena mereka gagal membuahkan hasil seperti itu, Yesus memperingatkan, ”Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci [dalam Mazmur 118:22, 23]: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan [”Yehuwa”, NW], suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. Dan barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk.”
Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat kini menyadari bahwa Yesus sedang berbicara mengenai mereka, dan mereka ingin membunuh dia, ”ahli waris” yang sah. Jadi hak istimewa untuk menjadi penguasa dalam Kerajaan Allah akan diambil dari mereka sebagai kelompok bangsa, dan suatu bangsa baru yang terdiri dari ’penggarap-penggarap kebun anggur’ akan diciptakan, bangsa yang akan menghasilkan buah-buah yang diinginkan.
Karena para pemimpin agama takut kepada orang banyak, yang menganggap Yesus sebagai seorang nabi, mereka tidak berupaya membunuhnya pada kesempatan itu. Matius 21:28-46; Markus 12:1-12; Lukas 20:9-19; Yesaya 5:1-7.
-
-
Perumpamaan tentang Perjamuan KawinTokoh Terbesar Sepanjang Masa
-
-
Perumpamaan tentang Perjamuan Kawin
MELALUI dua perumpamaan, Yesus membuka kedok para ahli Taurat dan para imam kepala, dan mereka ingin membunuh dia. Namun Yesus belum selesai dengan mereka. Ia selanjutnya menceritakan kepada mereka sebuah perumpamaan lain lagi, dengan mengatakan,
”Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.”
Allah Yehuwa adalah Raja yang mempersiapkan perjamuan kawin untuk Putra-Nya, Kristus Yesus. Pada akhirnya, mempelai perempuan yang terdiri dari 144.000 pengikut yang terurap akan dipersatukan dengan Yesus di surga. Rakyat dari Raja itu adalah bangsa Israel, yang karena telah dibawa ke dalam perjanjian Taurat pada tahun 1513 S.M., mendapat kesempatan untuk menjadi ”kerajaan imam”. Maka, pada kesempatan itu, merekalah yang mula-mula diundang ke perjamuan kawin itu.
Akan tetapi, panggilan pertama kepada mereka yang diundang baru diberikan pada musim gugur tahun 29 M., ketika Yesus dan murid-muridnya (hamba-hamba raja) memulai pekerjaan pengabaran Kerajaan. Namun orang-orang Israel jasmani yang menerima panggilan yang diserukan oleh hamba-hamba tersebut pada tahun 29 M. sampai 33 M. tidak mau datang. Maka Allah memberikan kesempatan kedua kepada bangsa yang diundang tersebut, sebagaimana diceritakan Yesus:
”Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidanganku telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini.” Panggilan kedua dan terakhir kepada mereka yang telah diundang ini, mulai pada hari Pentakosta tahun 33 M., ketika roh kudus dicurahkan atas para pengikut Yesus. Panggilan ini berlanjut terus sampai tahun 36 M.
Namun, bagian terbesar dari orang Israel itu, juga menolak panggilan ini dengan angkuh. ”Orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya,” kata Yesus, ”ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya.” ”Maka,” Yesus melanjutkan, ”murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.” Hal ini terjadi pada tahun 70 M., ketika Yerusalem diratakan sampai ke tanah oleh orang Roma, dan pembunuh-pembunuh itu dibinasakan.
Yesus kemudian menjelaskan apa yang terjadi sementara itu, ”Sesudah itu [raja] berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.” Hamba-hamba tersebut melakukan hal ini, dan ”penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.”
Pekerjaan pengumpulan tamu dari jalan-jalan di luar kota milik orang-orang yang diundang ini dimulai pada tahun 36 M. Kornelius, perwira pasukan tentara Roma, beserta keluarganya adalah yang pertama dari orang-orang non-Yahudi yang tidak bersunat yang dikumpulkan. Pengumpulan dari orang-orang non-Yahudi ini, yang merupakan pengganti dari mereka yang pada mulanya menolak panggilan, telah berlangsung terus sampai abad ke-20.
Selama abad ke-20 inilah ruangan untuk upacara perkawinan menjadi penuh. Yesus menceritakan apa yang kemudian terjadi, dengan mengatakan, ”Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”
Orang yang tidak mengenakan pakaian pesta menggambarkan Kristiani tiruan dari Susunan Kristen. Allah tidak pernah mengakui orang-orang ini sebagai orang-orang yang memiliki tanda pengenal yang patut sebagai Israel rohani. Allah tidak pernah mengurapi mereka dengan roh kudus sebagai ahli waris Kerajaan. Jadi mereka dilemparkan ke luar dalam kegelapan tempat mereka akan mengalami kebinasaan.
Yesus mengakhiri perumpamaannya dengan mengatakan, ”Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Ya, ada banyak yang diundang dari bangsa Israel untuk menjadi anggota dari mempelai Kristus, namun hanya sedikit orang Israel jasmani yang dipilih. Kebanyakan dari 144.000 tamu yang menerima pahala surgawi ternyata orang-orang non-Israel. Matius 22:1-14; Keluaran 19:1-6; Wahyu 14:1-3.
-
-
Mereka Gagal Menjerat YesusTokoh Terbesar Sepanjang Masa
-
-
Mereka Gagal Menjerat Yesus
KARENA Yesus mengajar di bait dan baru saja menceritakan kepada musuh-musuh religiusnya tiga perumpamaan yang menyingkapkan kejahatan mereka, orang-orang Farisi menjadi marah dan bersekongkol menjerat dia agar ia mengatakan sesuatu yang dapat dijadikan alasan untuk menangkapnya. Mereka membuat suatu rencana dan mengirimkan murid-murid mereka, bersama dengan pengikut-pengikut Herodes, untuk mencoba menjerat dia.
”Guru,” kata orang-orang ini, ”kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapatMu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?”
Yesus tidak tertipu oleh sanjungan itu. Ia menyadari bahwa jika ia mengatakan, ’Tidak, tidak usah atau tidak benar untuk membayar pajak’, ia akan bersalah karena menghasut melawan Roma. Akan tetapi, andai kata ia mengatakan, ’Ya, kamu harus membayar pajak ini’, orang-orang Yahudi, yang tidak suka tunduk di bawah Roma, akan membenci Dia. Maka ia menjawab, ”Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepadaKu mata uang untuk pajak itu.”
Ketika mereka membawa satu dinar kepadanya, ia bertanya, ”Gambar dan tulisan siapakah ini?”
”Kaisar,” jawab mereka.
”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Pada saat orang-orang ini mendengar jawaban Yesus yang sangat bijaksana, mereka merasa takjub. Lalu mereka pergi dan meninggalkan dia.
Melihat orang Farisi gagal mencari alasan untuk mempersalahkan Yesus, orang-orang Saduki, yang tidak percaya akan kebangkitan, mendekati dia dan bertanya, ”Guru, Musa mengatakan, bahwa jika seorang mati dengan tiada meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Tetapi di antara kami ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin, tetapi kemudian mati. Dan karena ia tidak mempunyai keturunan, ia meninggalkan isterinya itu bagi saudaranya. Demikian juga yang kedua dan yang ketiga sampai dengan yang ketujuh. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itupun mati. Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristerikan dia.”
Sebagai jawaban Yesus berkata, ”Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. Dan juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab nabi Musa, dalam cerita tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!”
Sekali lagi orang banyak merasa takjub akan jawaban Yesus. Bahkan beberapa ahli Taurat mengakui, ”Guru, jawabMu itu tepat sekali.”
Ketika orang-orang Farisi melihat bahwa Yesus telah membungkamkan orang-orang Saduki, mereka datang kepadanya dalam satu kelompok. Untuk mencobai dia lebih lanjut, salah seorang ahli Taurat di antara mereka bertanya, ”Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”
Yesus menjawab, ”Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan [”Yehuwa”, NW] Allah kita, Tuhan [”Yehuwa”, NW] itu esa. Kasihilah Tuhan [”Yehuwa”, NW], Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Yesus bahkan menambahkan, ”Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
”Tepat sekali, Guru, benar kataMu itu,” ahli Taurat itu setuju, ”Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.”
Melihat bahwa ahli Taurat itu menjawab dengan cerdas, Yesus berkata kepadanya, ”Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”
Kini sudah tiga hari—Minggu, Senin, dan Selasa—Yesus mengajar di bait. Orang-orang dengan senang hati mendengarkan dia, namun para pemimpin agama ingin membunuh dia, tetapi sejauh ini usaha-usaha mereka dapat digagalkan. Matius 22:15-40; Markus 12:13-34; Lukas 20:20-40.
-
-
Yesus Mencela para PenentangnyaTokoh Terbesar Sepanjang Masa
-
-
Yesus Mencela para Penentangnya
YESUS benar-benar telah membuat para penentang religius bingung sehingga mereka tidak berani bertanya apa-apa lagi. Maka ia mengambil inisiatif untuk menyingkapkan kurangnya pengetahuan mereka. ”Apakah pendapatmu tentang Mesias?” tanyanya. ”Anak siapakah Dia?”
”Anak Daud,” jawab orang-orang Farisi.
Sekalipun Yesus tidak menyangkal bahwa Daud adalah nenek moyang jasmani dari Kristus, atau Mesias, ia bertanya, ”Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh ilham Roh [dalam Mazmur 110] dapat menyebut Dia Tuannya, ketika ia berkata: Tuhan [”Yehuwa”, NW] telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kananKu, sampai musuh-musuhMu Kutaruh di bawah kakiMu. Jadi jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?”
Orang-orang Farisi itu diam saja, karena mereka tidak mengetahui identitas yang sebenarnya dari Kristus, atau pribadi yang diurapi. Mesias bukan semata-mata keturunan manusiawi dari Daud, sebagaimana dipercayai oleh orang Farisi, tetapi ia pernah hidup di surga dan adalah atasan, atau Tuan dari Daud.
Yesus kemudian berpaling kepada orang banyak dan murid-muridnya, memperingatkan mengenai para ahli Taurat dan orang Farisi. Karena mereka mengajarkan Taurat Allah, ”menduduki kursi Musa”, Yesus menganjurkan, ”Turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu.” Akan tetapi, ia menambahkan, ”Janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”
Mereka adalah orang-orang munafik, dan Yesus mencela mereka dengan bahasa yang sama yang ia gunakan pada waktu ia makan di rumah seorang Farisi beberapa bulan sebelumnya. ”Semua pekerjaan yang mereka lakukan,” katanya, ”hanya dimaksud supaya dilihat orang.” Selanjutnya ia memberikan contoh-contoh, dengan mengatakan:
”Mereka memperbesar kotak-kotak yang berisi ayat-ayat yang mereka kenakan sebagai pelindung.” (NW) Kotak-kotak yang relatif kecil, yang dikenakan pada dahi atau pada lengan, memuat empat bagian dari Taurat: Keluaran 13:1-10, 11-16; dan Ulangan 6:4-9; 11:13-21. Namun orang-orang Farisi memperlebar ukuran kotak-kotak ini untuk memberi kesan bahwa mereka sangat patuh kepada Taurat.
Yesus melanjutkan bahwa mereka ”memperpanjang jumbai pada jubah mereka”. (NW) Dalam Bilangan 15:38-40 orang Israel diperintahkan untuk mengenakan jumbai pada jubah mereka, namun orang Farisi membuatnya lebih panjang daripada kepunyaan orang lain. Semuanya dilakukan dengan maksud untuk pamer! Yesus menyatakan, ”Mereka suka duduk di tempat terhormat.”
Patut disesalkan, murid-muridnya sendiri telah terpengaruh oleh keinginan untuk dihormati ini. Maka ia menasihati, ”Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.” Murid-murid tersebut harus menjauhkan diri dari keinginan untuk menjadi nomor satu! ”Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,” nasihat Yesus.
Kemudian ia menyebutkan serangkaian celaka atas para ahli Taurat dan orang Farisi, dengan berulang kali menyebut mereka sebagai orang munafik. Mereka ”menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang”, katanya, dan ”menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang”.
”Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta,” kata Yesus. Ia mengutuk kurangnya nilai-nilai rohani dari kaum Farisi, yang dibuktikan oleh perbedaan sewenang-wenang yang mereka buat. Misalnya, mereka mengatakan, ’Bersumpah demi Bait Suci adalah tidak sah, tetapi bersumpah demi emas Bait Suci bersifat mengikat.’ Karena lebih menandaskan emas Bait Suci daripada nilai rohani tempat ibadat itu, kebutaan moral mereka tersingkap.
Lalu, sebagaimana ia lakukan sebelumnya, Yesus mengutuk orang Farisi karena mengabaikan ’yang terpenting dalam Hukum Taurat, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan’ dan sebaliknya sangat menandaskan persepuluhan, atau sepersepuluh bagian, dari ramuan-ramuan yang tidak penting.
Yesus menyebut orang Farisi, ”Pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan”. Mereka menapiskan nyamuk dari anggur mereka bukan semata-mata karena itu serangga tetapi karena dalam upacara agama itu dianggap najis. Akan tetapi, kelalaian mereka terhadap hal-hal yang lebih penting dalam Taurat dapat dibandingkan dengan menelan unta, juga binatang yang najis dalam hubungan dengan upacara. Matius 22:41–23:24; Markus 12:35-40; Lukas 20:41-47; Imamat 11:4, 21-24.
-
-
Pelayanan di Bait SelesaiTokoh Terbesar Sepanjang Masa
-
-
Pelayanan di Bait Selesai
YESUS muncul untuk yang terakhir kalinya di bait. Sebenarnya, ia hampir selesai dengan pelayanannya di bumi kecuali peristiwa pengadilan dan eksekusinya, yang terjadi tiga hari kemudian. Sekarang ia meneruskan kata-kata penghukumannya atas para ahli Taurat dan orang Farisi.
Tiga kali lagi ia berseru, ”Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik.” Pertama-tama, ia menyatakan celaka atas mereka karena ’cawan dan pinggan mereka bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan’. Maka ia menasihati, ”Bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.”
Kemudian ia menyatakan celaka atas para ahli Taurat dan orang Farisi karena kebejatan dan kebusukan yang mereka coba tutupi dengan kesalehan di luar. ”Kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih,” katanya, ”yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.”
Akhirnya, kemunafikan mereka nyata dalam kesediaan mereka untuk mendirikan kuburan bagi para nabi dan menghiasinya agar perbuatan amal mereka sendiri diperhatikan. Namun, sebagaimana disingkapkan oleh Yesus, mereka ”adalah keturunan [dari] pembunuh nabi-nabi itu”. Memang, siapa pun yang berani menyingkapkan kemunafikan mereka berada dalam bahaya!
Selanjutnya, Yesus mengucapkan kata-kata celaan yang paling keras. ”Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak,” katanya, ”bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka [Gehenna]?” Gehenna adalah lembah yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah Yerusalem. Maka Yesus memaksudkan bahwa karena menempuh haluan mereka yang jahat, para ahli Taurat dan orang Farisi akan mengalami kebinasaan kekal.
Mengenai mereka yang ia kirim sebagai wakil-wakilnya, Yesus berkata, ”Separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan [”pakukan”, NW], yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya [yang dinamai Yoyada di Dua Tawarikh], yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!”
Karena Zakharia mengutuk para pemimpin Israel, ”mereka mengadakan persepakatan terhadap dia, dan atas perintah raja mereka melontari dia dengan batu di pelataran rumah [Yehuwa].” Namun, sebagaimana Yesus nubuatkan, Israel akan membayar semua penumpahan darah orang yang benar. Mereka membayarnya 37 tahun kemudian, pada tahun 70 M., ketika tentara Roma menghancurkan Yerusalem dan lebih dari satu juta orang Yahudi binasa.
Ketika Yesus memikirkan keadaan yang mengerikan itu, ia menjadi sedih. ”Yerusalem, Yerusalem,” serunya sekali lagi, ”berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.”
Kemudian Yesus menambahkan, ”Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan [”Yehuwa”, NW]!” Saat itu adalah pada waktu kehadiran Kristus ketika ia mewarisi Kerajaan surgawinya dan orang-orang melihat dia dengan mata iman.
Yesus kemudian pergi ke suatu tempat yang dapat mengamati peti persembahan di bait dan orang banyak yang memasukkan uang ke dalamnya. Orang kaya memasukkan jumlah yang besar. Akan tetapi, kemudian seorang janda miskin datang dan memasukkan dua keping uang yang sangat kecil nilainya.
Yesus memanggil murid-muridnya dan berkata, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.” Pastilah mereka bertanya-tanya dalam hati bagaimana hal itu mungkin. Maka Yesus menerangkan, ”Mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” Setelah mengatakan hal ini, Yesus meninggalkan bait untuk terakhir kali.
Takjub melihat ukuran dan keindahan bait itu, salah seorang dari murid-muridnya berseru: ”Guru, lihatlah betapa kokohnya batu-batu itu dan betapa megahnya gedung-gedung itu!” Memang, kata orang panjang batu-batunya lebih dari 11 meter, lebarnya lebih dari 5 meter, dan tingginya lebih dari 3 meter!
”Kaulihat gedung-gedung yang hebat ini?” jawab Yesus. ”Tidak satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan.”
Setelah mengatakan hal-hal ini, Yesus dan rasul-rasulnya melintasi Lembah Kidron dan mendaki Bukit Zaitun. Dari sini mereka dapat memandang ke bawah ke bait yang megah. Matius 23:25–24:3; Markus 12:41–13:3; Lukas 21:1-6; 2 Tawarikh 24:20-22.
-
-
Tanda Hari-Hari TerakhirTokoh Terbesar Sepanjang Masa
-
-
Tanda Hari-Hari Terakhir
SEKARANG sudah hari Selasa sore. Ketika Yesus sedang duduk di atas Bukit Zaitun, memandang ke bait Allah di bawah, Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes datang kepadanya untuk bercakap-cakap sendirian dengannya. Mereka merasa khawatir terhadap bait Allah, karena Yesus baru saja menubuatkan bahwa tidak ada satu batu pun yang akan tinggal terletak di atas batu yang lain.
Akan tetapi, tampaknya masih ada hal lain lagi dalam pikiran mereka ketika mereka menghampiri Yesus. Beberapa minggu sebelumnya, ia berbicara mengenai ”kehadiran”-nya (NW), saat ”manakala Anak Manusia akan dinyatakan”. (NW) Dan sebelum itu, ia telah memberi tahu mereka tentang ”kesudahan sistem ini”. (NW) Karena itu para rasul benar-benar ingin tahu.
”Katakanlah kepada kami,” kata mereka, ”bilamanakah itu akan terjadi [yang mengakibatkan kehancuran bagi Yerusalem dan bait Allah], dan apakah tanda kehadiranmu dan tanda kesudahan sistem ini?” (NW) Sebenarnya, pertanyaan mereka terdiri dari tiga bagian. Pertama, mereka ingin mengetahui tentang akhir dari Yerusalem dan baitnya, kemudian sehubungan dengan kehadiran Yesus dalam kuasa Kerajaan, dan yang terakhir tentang akhir dari seluruh sistem ini.
Dalam jawabannya yang panjang, Yesus menjawab ketiga bagian pertanyaan tersebut. Ia memberikan suatu tanda yang menunjukkan kapan sistem Yahudi akan berakhir; namun bukan itu saja. Ia juga memberikan suatu tanda yang akan memperingatkan orang-orang yang akan menjadi murid-muridnya kelak agar mereka dapat mengetahui bahwa mereka hidup pada masa kehadirannya dan mendekati akhir dari seluruh sistem ini.
Seraya tahun demi tahun berlalu, rasul-rasul melihat penggenapan dari nubuat Yesus. Ya, hal-hal yang ia nubuatkan mulai terjadi pada zaman mereka. Jadi, umat Kristiani yang hidup 37 tahun kemudian, pada tahun 70 M., tidak dikejutkan oleh kehancuran sistem Yahudi beserta baitnya.
Akan tetapi, kehadiran Yesus dan akhir sistem ini tidak terjadi pada tahun 70 M. Kehadirannya dalam kuasa Kerajaan terjadi jauh di masa depan. Namun kapan? Dengan mempertimbangkan nubuat Yesus, kita akan mengetahuinya.
Yesus menubuatkan bahwa akan ada ”deru perang atau kabar-kabar tentang perang”. ”Bangsa akan bangkit melawan bangsa,” katanya, dan akan ada kelaparan, gempa bumi, dan penyakit sampar. Murid-muridnya akan dibenci dan dibunuh. Nabi-nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang. Kedurhakaan akan bertambah, dan kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Pada waktu yang sama, Injil Kerajaan Allah akan diberitakan sebagai kesaksian bagi semua bangsa.
Meskipun nubuat Yesus terbatas penggenapannya sebelum kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M., penggenapan yang lebih besar terjadi pada saat kehadirannya dan kesudahan sistem ini. Bila kita meninjau kembali dengan saksama peristiwa-peristiwa dunia sejak tahun 1914, tersingkaplah bahwa sejak tahun itu nubuat Yesus yang sangat penting telah mengalami penggenapan yang lebih besar.
Bagian lain dari tanda yang Yesus berikan adalah munculnya ”Pembinasa keji”. Pada tahun 66 M., pembinasa keji ini muncul dalam bentuk ”tentara-tentara” Roma yang mengepung Yerusalem dan menghancurkan tembok bait. ”Pembinasa keji” berdiri di tempat yang tidak patut baginya.
Dalam penggenapan utama dari tanda tersebut, Pembinasa keji adalah Liga Bangsa-Bangsa dan penggantinya, Perserikatan Bangsa-Bangsa. Organisasi perdamaian dunia ini dipandang oleh Susunan Kristen sebagai pengganti dari Kerajaan Allah. Betapa memuakkan! Karena itu, pada waktunya, kuasa-kuasa politik yang bergabung dengan PBB akan berbalik menyerang Susunan Kristen (imbangan Yerusalem) dan akan menghancurkannya.
Jadi Yesus menubuatkan, ”Pada masa itu akan terjadi siksaan yang dahsyat [”sengsara besar”, Bode] seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi.” Walaupun kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M. sungguh-sungguh merupakan sengsara besar, menurut laporan ada lebih dari satu juta orang yang terbunuh, namun hal itu bukanlah sengsara yang lebih besar daripada Air Bah sedunia pada zaman Nuh. Dengan demikian, penggenapan yang lebih besar atas bagian dari nubuat Yesus ini masih akan terjadi.
Keyakinan Selama Hari-Hari Terakhir
Pada waktu hari Selasa tanggal 11 Nisan hampir berakhir, Yesus melanjutkan pembahasan bersama murid-muridnya tentang tanda kehadirannya dalam kuasa Kerajaan dan akhir sistem ini. Ia memperingatkan mereka agar tidak mencari pergaulan di antara Mesias-Mesias palsu. Katanya, akan ada upaya ”sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga”. Akan tetapi, seperti burung rajawali yang dapat melihat dari jarak jauh, orang-orang pilihan ini akan berkumpul di tempat makanan rohani yang benar dapat ditemukan, yaitu bersama Kristus yang sejati pada waktu kehadirannya yang tidak kelihatan. Mereka tidak akan disesatkan dan dikumpulkan bersama Mesias palsu.
Mesias-Mesias palsu hanya dapat menampakkan diri secara fisik. Sebaliknya, kehadiran Yesus tidak akan kelihatan. Hal ini akan terjadi selama masa yang mengerikan dalam sejarah manusia, seperti Yesus katakan, ”Matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya.” Ya, hal ini akan menjadi masa yang paling gelap dari kehidupan manusia. Halnya seakan-akan matahari menjadi gelap pada siang hari, dan seakan-akan bulan tidak bercahaya pada malam hari.
”Kuasa-kuasa langit akan goncang,” kata Yesus selanjutnya. Dengan demikian, ia menunjukkan bahwa langit harfiah akan memperlihatkan pertanda buruk. Langit tidak akan menjadi wilayah dari burung-burung saja, tetapi akan dipenuhi dengan pesawat tempur, roket, serta satelit ruang angkasa. Perasaan takut dan kekerasan akan melebihi segala sesuatu yang pernah dialami sepanjang sejarah manusia.
Sebagai akibatnya, Yesus berkata, ”bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini.” Sesungguhnya, masa paling gelap dalam kehidupan manusia ini akan menuju kepada waktu manakala, seperti Yesus katakan, ”akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap.”
Akan tetapi, tidak semua akan meratap ketika ’Anak Manusia datang dengan kekuasaan’ untuk membinasakan sistem yang jahat ini. ”Orang-orang pilihan”, ke-144.000 yang akan memerintah bersama Kristus dalam Kerajaan surgawinya, tidak akan meratap, demikian juga rekan-rekan mereka, yaitu orang-orang yang Yesus sebut sebelumnya sebagai ”domba-domba lain”. Walaupun hidup selama masa yang paling gelap sepanjang sejarah manusia, mereka menanggapi anjuran Yesus, ”Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.”
Agar murid-muridnya yang akan hidup selama hari-hari terakhir dapat mengetahui betapa dekat akhir itu, Yesus memberikan perumpamaan ini, ”Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi.”
Jadi, bila murid-muridnya melihat banyak corak yang berlainan dari tanda itu sedang digenapi, mereka harus menyadari bahwa akhir sistem ini sudah dekat dan bahwa Kerajaan Allah segera akan membinasakan semua kejahatan. Sebenarnya, akhir itu akan terjadi dalam jangka waktu kehidupan dari orang-orang yang menyaksikan penggenapan dari semua hal yang Yesus nubuatkan! Untuk menasihati murid-muridnya yang akan hidup selama hari-hari terakhir yang menentukan ini, Yesus berkata,
”Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.”
Gadis-Gadis yang Bijaksana dan yang Bodoh
Yesus sedang menjawab permintaan rasul-rasulnya untuk memberikan tanda dari kehadirannya dalam kuasa Kerajaan. Sekarang ia memberikan corak-corak lain dari tanda itu dalam tiga perumpamaan, atau ilustrasi.
Penggenapan dari setiap perumpamaan dapat diamati oleh orang-orang yang hidup pada masa kehadirannya. Ia memulai perumpamaan yang pertama dengan kata-kata, ”Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.”
Dengan ungkapan ”hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis”, Yesus tidak memaksudkan bahwa setengah dari antara mereka yang mewarisi Kerajaan surgawi adalah orang bodoh dan yang setengah lagi adalah orang bijaksana! Tidak, tetapi ia memaksudkan bahwa sehubungan dengan Kerajaan surga, ada suatu segi seperti ini atau seperti itu, atau bahwa hal-hal sehubungan dengan Kerajaan akan seperti ini dan itu.
Sepuluh gadis itu melambangkan semua orang Kristiani yang berhak atau yang mengaku berhak menerima Kerajaan surgawi. Pada hari Pentakosta tahun 33 M., sidang Kristen dijanjikan akan dikawinkan dengan Mempelai Laki-Laki yang telah dibangkitkan dan dimuliakan, Kristus Yesus. Akan tetapi, perkawinan akan berlangsung di surga pada suatu waktu yang tidak disebutkan di masa yang akan datang.
Dalam perumpamaan ini, sepuluh gadis pergi dengan maksud menyongsong mempelai laki-laki dan ikut serta dalam iring-iringan pengantin. Ketika ia tiba, mereka akan menerangi jalan-jalan yang dilalui iring-iringan itu dengan pelita mereka, dengan demikian menghormati dia seraya ia membawa pengantin perempuannya ke rumah yang telah dipersiapkan baginya. Namun, Yesus menjelaskan, ”Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.”
Tertundanya kedatangan mempelai laki-laki untuk waktu yang lama menunjukkan bahwa kehadiran Kristus sebagai Raja yang memerintah masih akan terjadi jauh di masa depan. Akhirnya ia duduk di atas takhta pada tahun 1914. Selama malam yang panjang sebelum itu, semua gadis tertidur. Akan tetapi, mereka tidak dipersalahkan karena itu. Kesalahan yang ditimpakan atas gadis-gadis yang bodoh adalah karena mereka tidak mempunyai minyak dalam buli-buli mereka. Yesus menjelaskan bagaimana gadis-gadis itu terbangun sebelum mempelai laki-laki itu tiba, ”Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.”
Minyak melambangkan sesuatu yang membuat umat Kristiani tetap bercahaya sebagai penerang. Ini adalah Firman Allah terilham, yang umat Kristiani pegang dengan erat, bersama dengan roh suci, yang membantu mereka memahami Firman itu. Minyak rohani memungkinkan gadis-gadis yang bijaksana terus memancarkan terang dalam menyongsong mempelai laki-laki selama iring-iringan menuju perjamuan kawin. Akan tetapi, golongan gadis-gadis yang bodoh tidak memiliki minyak rohani yang diperlukan itu dalam diri mereka, dalam buli-buli mereka. Maka Yesus melukiskan apa yang terjadi,
”Akan tetapi, waktu [gadis-gadis yang bodoh] sedang pergi untuk membeli [minyak], datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.”
Setelah Kristus tiba dalam Kerajaan surgawinya, golongan gadis yang bijaksana dari umat Kristiani sejati yang terurap bangkit untuk melakukan hak istimewa mereka yaitu memancarkan terang dalam dunia yang dilanda kegelapan ini menyambut Mempelai Laki-Laki yang kembali. Akan tetapi, mereka yang digambarkan oleh gadis-gadis yang bodoh tidak siap untuk memberikan penyambutan berupa puji-pujian ini. Maka ketika tiba waktunya, Kristus tidak membukakan pintu masuk ke perjamuan kawin di surga bagi mereka. Ia meninggalkan mereka di luar dalam kegelapan malam yang pekat dari dunia, untuk dibinasakan bersama semua pelaku kejahatan lainnya. ”Karena itu, berjaga-jagalah,” Yesus melanjutkan, ”sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”
Ilustrasi Mengenai Talenta
Yesus melanjutkan diskusi dengan para rasulnya di atas Bukit Zaitun dengan menceritakan kepada mereka perumpamaan lain, yang kedua dari rangkaian tiga perumpamaan. Beberapa hari sebelumnya, pada waktu ia berada di Yerikho, ia memberikan perumpamaan mengenai uang mina untuk memperlihatkan bahwa Kerajaan masih jauh di masa depan. Perumpamaan yang ia ceritakan sekarang, meskipun memiliki beberapa corak yang sama, dalam penggenapannya menggambarkan kegiatan selama kehadiran Kristus dalam kuasa Kerajaan. Ini menggambarkan bahwa murid-muridnya pada waktu masih berada di bumi harus bekerja untuk memperbanyak ”hartanya”.
Yesus memulai, ”Sebab hal Kerajaan Sorga [yaitu, keadaan yang ada hubungannya dengan Kerajaan itu] sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.” Yesus-lah orang yang, sebelum bepergian ke surga, mempercayakan kepada hamba-hambanya—yakni murid-muridnya yang akan mewarisi Kerajaan surga—hartanya. Harta ini bukan harta materi melainkan itu menggambarkan ladang yang sudah dikerjakan yang di dalamnya telah ia ciptakan potensi untuk menghasilkan lebih banyak murid.
Yesus mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya tidak lama sebelum ia naik ke surga. Bagaimana ia melakukan hal itu? Dengan menyuruh mereka terus bekerja dalam ladang yang sudah dikerjakan dengan mengabarkan berita Kerajaan ke segenap penjuru bumi. Sebagaimana Yesus katakan, ”Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.”
Kedelapan talenta—harta milik Kristus—dengan demikian dibagikan menurut kesanggupan, atau bakat rohani hamba-hamba itu. Hamba mewakili golongan murid. Pada abad pertama, golongan yang menerima lima talenta jelas termasuk para rasul. Yesus selanjutnya menceritakan bahwa hamba yang menerima lima dan dua talenta melipatgandakannya dengan memberitakan Kerajaan dan menjadikan murid-murid. Namun, hamba yang menerima satu talenta menyembunyikan uang itu di dalam tanah.
”Lama sesudah itu,” Yesus melanjutkan, ”pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.” Baru pada abad ke-20, kira-kira 1.900 tahun kemudian, Kristus kembali untuk mengadakan perhitungan, jadi memang ”lama sesudah itu.” Kemudian Yesus menjelaskan:
”Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Hamba yang menerima dua talenta juga melipatgandakan talentanya, dan ia menerima pujian dan imbalan yang sama.
Namun, bagaimana hamba-hamba yang setia ini masuk ke dalam kebahagiaan Majikan mereka? Nah, kebahagiaan dari Majikan mereka, Kristus Yesus, adalah menerima Kerajaan sebagai miliknya pada waktu ia bepergian kepada Bapaknya di surga. Bagi hamba-hamba yang setia pada zaman modern, mereka menikmati kebahagiaan besar karena dipercayakan dengan tanggung jawab Kerajaan lebih jauh, dan pada waktu mereka menyelesaikan kehidupan mereka di bumi, mereka akan memiliki sukacita tertinggi dengan dibangkitkan ke Kerajaan surgawi. Akan tetapi, bagaimana dengan hamba yang ketiga?
”Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam,” keluh hamba ini. ”Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!” Hamba ini dengan sengaja menolak bekerja dalam ladang yang sudah dikerjakan dengan mengabar dan menjadikan murid. Maka sang majikan menyebutnya ”jahat dan malas” dan menjatuhkan hukuman, ”Ambillah talenta itu dari padanya . . . Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Mereka dari golongan hamba yang jahat ini, dicampakkan ke luar, artinya tidak dapat menikmati keriangan rohani apa pun.
Hal ini merupakan pelajaran yang serius bagi semua orang yang mengaku menjadi pengikut Kristus. Jika mereka ingin menikmati pujian dan imbalan, dan tidak ingin dilemparkan ke luar ke dalam kegelapan dan kebinasaan total, mereka harus bekerja untuk meningkatkan harta Majikan surgawi mereka dengan ikut serta sepenuhnya dalam pekerjaan pengabaran. Apakah saudara rajin dalam hal ini?
Pada Waktu Kristus Tiba Dalam Kuasa Kerajaan
Yesus masih bersama rasul-rasulnya di Bukit Zaitun. Sebagai jawaban atas permintaan mereka untuk suatu tanda dari kehadirannya dan kesudahan sistem ini, ia sekarang memberi tahu mereka bagian terakhir dari rangkaian tiga perumpamaan. ”Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaanNya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia,” Yesus memulai, ”maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaanNya.”
Manusia tidak dapat melihat para malaikat dalam kemuliaan surgawi mereka. Maka kedatangan Anak Manusia, Kristus Yesus, bersama malaikat-malaikat, pasti tidak kelihatan oleh mata manusia. Ia datang pada tahun 1914. Akan tetapi, untuk maksud apa? Yesus menjelaskan, ”Semua bangsa akan dikumpulkan di hadapanNya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kananNya dan kambing-kambing di sebelah kiriNya.”
Ketika menjelaskan apa yang akan terjadi atas mereka yang dipisahkan ke pihak yang diperkenan, Yesus mengatakan, ”Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kananNya: ’Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.’” Domba-domba dalam perumpamaan ini tidak akan memerintah bersama Kristus di surga tetapi akan mewarisi Kerajaan dalam arti menjadi rakyatnya di bumi. ”Dunia dijadikan” ketika Adam dan Hawa pertama kali melahirkan anak-anak yang akan mendapat manfaat dari persediaan Allah untuk menebus umat manusia.
Akan tetapi, mengapa domba-domba dipisahkan ke tangan kanan yakni perkenan sang Raja? ”Sebab ketika Aku lapar,” jawab Raja itu, ”kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.”
Karena domba-domba berada di atas bumi, mereka ingin tahu bagaimana mereka dapat melakukan perbuatan baik demikian bagi Raja surgawi mereka. ”Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan,” tanya mereka, ”atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?”
”Aku berkata kepadamu,” jawab sang Raja, ”sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Saudara-saudara Kristus adalah sisa yang masih ada di bumi dari ke-144.000 orang yang akan memerintah bersama dia di surga. Berbuat baik kepada mereka, kata Yesus, adalah sama seperti berbuat baik kepada dia.
Kemudian, sang Raja berbicara kepada kambing-kambing. ”Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.”
Namun, kambing-kambing mengeluh, ”Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?” Kambing-kambing mendapat hukuman berat atas dasar yang sama sebagaimana domba-domba mendapat perkenan. ”Segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina [dari antara saudara-saudaraku] ini,” jawab Yesus, ”kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.”
Jadi kehadiran Kristus dalam kuasa Kerajaan, tidak lama sebelum akhir dari sistem yang jahat ini dalam sengsara besar, akan merupakan masa pengadilan. Kambing-kambing ”akan dihukum dengan hukuman yang kekal, sedangkan orang-orang yang melakukan kehendak Allah [domba-domba] akan mengalami hidup sejati dan kekal.” (BIS) Matius 24:2–25:46; 13:40, 49; Markus 13:3-37; Lukas 21:7-36; 19:43, 44; 17:20-30; 2 Timotius 3:1-5; Yohanes 10:16; Wahyu 14:1-3.
-
-
Paskah Terakhir bagi Yesus Sudah DekatTokoh Terbesar Sepanjang Masa
-
-
Paskah Terakhir bagi Yesus Sudah Dekat
MENJELANG akhir hari Selasa, tanggal 11 Nisan, Yesus selesai mengajar para rasul di atas Bukit Zaitun. Betapa sibuk dan penuh kegiatan hari itu! Sekarang, kemungkinan dalam perjalanan kembali ke Betania untuk bermalam, ia memberi tahu rasul-rasulnya, ”Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan [”dipakukan”, NW].”
-