-
Yesus Mengajarkan Kerendahan Hati pada Paskah TerakhirnyaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 116
Mengajarkan Kerendahan Hati pada Paskah Terakhirnya
MATIUS 26:20 MARKUS 14:17 LUKAS 22:14-18 YOHANES 13:1-17
YESUS MAKAN JAMUAN PASKAH TERAKHIRNYA BERSAMA PARA RASUL
YESUS MENGAJARKAN KERENDAHAN HATI DENGAN MENCUCI KAKI PARA RASUL
Petrus dan Yohanes tiba lebih dulu di Yerusalem karena mereka diutus oleh Yesus untuk mempersiapkan Paskah. Belakangan, Yesus dan sepuluh rasul lain juga berangkat. Saat mereka turun dari Gunung Zaitun, hari sudah sore, dan matahari mulai terbenam. Ini terakhir kalinya Yesus melihat Yerusalem dari Gunung Zaitun sampai setelah dia dibangkitkan.
Tak lama kemudian, Yesus dan murid-muridnya sampai di Yerusalem dan pergi ke rumah tempat mereka akan makan jamuan Paskah. Mereka naik ke ruangan atas yang besar dan melihat bahwa semuanya sudah siap. Yesus mengatakan, ”Aku sudah menanti-nantikan untuk makan jamuan Paskah ini bersama kalian sebelum aku menderita.”—Lukas 22:15.
Pada zaman itu, beberapa cawan anggur biasanya diedarkan di antara hadirin jamuan Paskah. Ketika menerima salah satu cawan anggur, Yesus mengucap syukur dan berkata, ”Ambil cawan ini dan edarkan ke setiap orang, karena aku memberi tahu kalian, mulai sekarang aku tidak akan minum anggur lagi sampai Kerajaan Allah datang.” (Lukas 22:17, 18) Kata-kata Yesus menunjukkan dengan jelas bahwa dia sebentar lagi akan mati.
Di tengah-tengah acara, Yesus melakukan sesuatu yang tidak biasa. Dia berdiri, melepaskan baju luarnya, dan mengambil handuk. Dia lalu mengisi baskom di dekat situ dengan air dan mulai mencuci kaki para rasulnya. Pada zaman itu, seorang tuan rumah biasanya memastikan bahwa kaki para tamunya dicuci, kemungkinan oleh seorang pelayan. (Lukas 7:44) Tapi kali ini, sang tuan rumah tidak ada, jadi Yesus melakukannya sendiri. Sebenarnya, para rasul bisa melakukan hal itu, tapi tidak ada yang melakukannya. Apakah mereka masih bersaing untuk menjadi yang terbesar? Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, mereka pasti malu karena Yesus yang mencuci kaki mereka.
Ketika Yesus akan mencuci kaki Petrus, sang rasul berkata, ”Tuan tidak akan cuci kakiku sama sekali.” Yesus menjawab, ”Kalau aku tidak cuci kakimu, kamu tidak bisa bersamaku.” Lalu Petrus mengatakan, ”Tuan, jangan hanya cuci kakiku, tapi juga tangan dan kepalaku.” Tapi Yesus berkata, ”Orang yang sudah mandi hanya perlu dicuci kakinya, karena seluruh badannya bersih. Kalian bersih, tapi tidak semua di antara kalian bersih.” (Yohanes 13:8-10) Petrus pasti terkejut mendengarnya.
Yesus mencuci kaki semua rasulnya, termasuk Yudas Iskariot. Setelah memakai baju luarnya dan kembali duduk, Yesus mengatakan, ”Apa kalian mengerti kenapa aku lakukan itu kepada kalian? Kalian panggil aku ’Guru’ dan ’Tuan’, dan kalian memang benar. Kalau aku saja, Tuan dan Guru kalian, mencuci kaki kalian, kalian juga harus mencuci kaki satu sama lain. Aku memberi kalian teladan, supaya kalian juga melakukan apa yang aku lakukan kepada kalian. Dengan sungguh-sungguh aku katakan, budak tidak lebih tinggi daripada majikannya, dan orang yang diutus tidak lebih tinggi daripada orang yang mengutusnya. Sekarang kalian tahu tentang hal-hal ini, tapi kalian akan bahagia kalau melakukannya.”—Yohanes 13:12-17.
Benar-benar pelajaran yang bagus tentang kerendahan hati! Para pengikut Yesus tidak boleh berpikir bahwa mereka lebih tinggi daripada yang lain dan harus dilayani. Sebaliknya, mereka harus meniru teladan Yesus. Ini bukan berarti mereka harus mencuci kaki orang lain, tapi mereka harus rela melayani siapa pun dengan rendah hati.
-
-
Perjamuan Malam TuanYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 117
Perjamuan Malam Tuan
MATIUS 26:21-29 MARKUS 14:18-25 LUKAS 22:19-23 YOHANES 13:18-30
YESUS MENUNJUKKAN BAHWA YUDAS ADALAH PENGKHIANAT
YESUS MEMPERKENALKAN PERJAMUAN MALAM TUAN
Yesus baru saja mencuci kaki para rasulnya untuk mengajar mereka tentang kerendahan hati. Sekarang, mungkin setelah mereka selesai makan jamuan Paskah, Yesus mengutip nubuat yang Daud sampaikan: ”Teman akrabku, yang aku percayai, yang makan rotiku, telah berbalik melawan aku.” Yesus lalu menjelaskan, ”Salah satu dari kalian akan mengkhianati aku.”—Mazmur 41:9; Yohanes 13:18, 21.
Para rasul memandang satu sama lain, dan satu per satu bertanya kepada Yesus, ”Tuan, bukan aku, kan?” Bahkan Yudas Iskariot juga menanyakannya. Petrus lalu meminta Yohanes, yang duduk di sebelah Yesus, untuk mencari tahu siapa orang yang dimaksud. Jadi, Yohanes bertanya kepada Yesus, ”Tuan, siapa orangnya?”—Matius 26:22; Yohanes 13:25.
Yesus menjawab, ”Dia adalah orang yang akan kuberi roti yang kucelupkan.” Lalu setelah mencelupkan roti, Yesus memberikannya kepada Yudas sambil mengatakan, ”Putra manusia akan pergi, seperti yang tertulis tentang dia, tapi sungguh celaka orang yang mengkhianati Putra manusia! Sebenarnya, lebih baik bagi orang itu kalau dia tidak lahir.” (Yohanes 13:26; Matius 26:24) Yudas telah dipengaruhi oleh Setan. Karena pria yang jahat ini mengikuti keinginan Iblis, dia ”akan dibinasakan”.—Yohanes 6:64, 70; 12:4; 17:12.
Yesus berkata kepada Yudas, ”Lakukanlah apa yang sedang kamu lakukan itu dengan lebih cepat.” Karena Yudas memegang kotak uang, para rasul lainnya berpikir bahwa Yesus menyuruh Yudas ”membeli apa yang mereka butuhkan untuk perayaan, atau memberikan sesuatu kepada orang miskin”. (Yohanes 13:27-30) Namun sebenarnya, Yudas pergi untuk mengkhianati Yesus.
Pada malam yang sama dengan Perayaan Paskah itu, Yesus memperkenalkan perayaan lain. Dia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkan roti itu, lalu memberikannya kepada para rasul untuk dimakan. Yesus mengatakan, ”Ini melambangkan tubuhku yang akan diberikan demi kalian. Teruslah lakukan ini untuk mengenang aku.” (Lukas 22:19) Roti itu lalu diedarkan, dan para rasul memakannya.
Yesus lalu mengambil cawan berisi anggur dan mengucap syukur. Dia kemudian mengedarkannya kepada para rasul, dan mereka semua meminumnya. Yesus berkata, ”Cawan ini melambangkan perjanjian baru yang disahkan dengan darahku, yang akan dicurahkan demi kalian.”—Lukas 22:20.
Jadi, Yesus meminta para pengikutnya untuk memperingati kematiannya setiap tahun pada tanggal 14 Nisan. Dengan merayakannya, mereka bisa memikirkan apa yang dilakukan Yesus dan Bapaknya untuk membebaskan manusia dari dosa dan kematian. Perayaan ini lebih penting daripada Paskah orang Yahudi, karena pengorbanan Yesus bisa membebaskan semua manusia untuk selamanya.
Yesus mengatakan bahwa darahnya ”akan dicurahkan demi mengampuni dosa banyak orang”, termasuk para rasul dan para murid lainnya yang beriman. Mereka adalah orang-orang yang akan memerintah bersama Yesus dalam Kerajaan Bapaknya.—Matius 26:28, 29.
-
-
Perdebatan tentang Siapa yang TerbesarYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 118
Perdebatan tentang Siapa yang Terbesar
MATIUS 26:31-35 MARKUS 14:27-31 LUKAS 22:24-38 YOHANES 13:31-38
YESUS MENASIHATI PARA RASUL UNTUK RENDAH HATI
YESUS MENUBUATKAN BAHWA PETRUS AKAN MENYANGKAL DIA
KASIH ADALAH CIRI PENGIKUT YESUS
Pada malam terakhirnya bersama para rasul, Yesus mengajarkan kerendahan hati dengan mencuci kaki mereka. Mengapa nasihat ini cocok? Karena walaupun para rasul bersemangat melayani Allah, mereka berulang kali bertengkar tentang siapa yang terbesar. (Markus 9:33, 34; 10:35-37) Malam ini, kelemahan mereka itu terlihat lagi.
Para rasul ”berdebat dengan sengit tentang siapa yang terbesar di antara mereka”. (Lukas 22:24) Bayangkan betapa sedihnya Yesus melihat mereka bertengkar lagi! Apa reaksi Yesus?
Yesus tidak memarahi mereka. Sebaliknya, dia dengan sabar mengajak mereka berpikir. Dia mengatakan, ”Para raja bangsa-bangsa memerintah mereka, dan orang-orang yang berkuasa atas mereka disebut Dermawan. Tapi, kalian tidak boleh seperti itu. . . . Mana yang lebih penting, orang yang makan atau orang yang melayaninya?” Yesus lalu mengingatkan mereka untuk mengikuti teladannya, ”Tapi aku menjadi seperti orang yang melayani kalian.”—Lukas 22:25-27.
Meski punya kelemahan, para rasul adalah pengikut Yesus yang setia. Mereka telah menemani Yesus melewati berbagai kesulitan. Karena itu Yesus berkata, ”Aku membuat perjanjian dengan kalian untuk memerintah di suatu kerajaan, sama seperti Bapakku telah membuat perjanjian denganku.” (Lukas 22:29) Dengan membuat perjanjian ini, Yesus menjamin bahwa para rasul akan memerintah bersama dia dalam Kerajaan Allah.
Walaupun para rasul punya harapan yang luar biasa ini, mereka masih manusia yang tidak sempurna. Yesus memberi tahu mereka, ”Setan telah meminta untuk menampi kalian semua seperti gandum.” (Lukas 22:31) Bulir-bulir gandum yang ditampi biasanya terlempar dan tersebar ke mana-mana. Yesus lalu berkata, ”Malam ini kalian semua akan tersandung karena apa yang akan terjadi padaku, karena ada tertulis, ’Aku akan menyerang gembala itu, dan kawanan dombanya akan tercerai-berai.’”—Matius 26:31; Zakharia 13:7.
Petrus dengan yakin berkata, ”Biarpun semua orang lain tersandung karena apa yang terjadi kepadamu, aku tidak akan pernah tersandung!” (Matius 26:33) Namun, Yesus memberi tahu Petrus bahwa malam itu, sebelum ayam jantan berkokok dua kali, Petrus akan menyangkal bahwa dia mengenal Yesus. Yesus menambahkan, ”Tapi aku telah memohon kepada Allah demi kamu, agar kamu tidak kehilangan iman. Setelah kamu bertobat, kuatkanlah saudara-saudaramu.” (Lukas 22:32) Meski begitu, Petrus mengatakan, ”Kalaupun aku harus mati bersamamu, aku tidak bakal menyangkal bahwa aku mengenalmu.” (Matius 26:35) Para rasul lainnya juga mengatakan hal yang sama.
Yesus memberi tahu para rasulnya, ”Aku bersama kalian hanya sebentar lagi. Kalian akan mencari aku. Tapi, apa yang kukatakan kepada orang Yahudi akan kukatakan juga kepada kalian sekarang, ’Kalian tidak akan bisa datang ke tempat aku pergi.’” Yesus lalu berkata, ”Aku memberi kalian perintah baru ini: Kasihi satu sama lain. Seperti aku sudah mengasihi kalian, kalian juga harus mengasihi satu sama lain. Kalau kalian saling mengasihi, semua orang akan tahu bahwa kalian muridku.”—Yohanes 13:33-35.
Ketika mendengar Yesus mengatakan bahwa dia bersama mereka hanya sebentar lagi, Petrus bertanya, ”Tuan akan pergi ke mana?” Yesus menjawab, ”Sekarang kamu tidak bisa ikut denganku ke tempat aku akan pergi, tapi nanti kamu akan ikut.” Karena bingung, Petrus berkata, ”Tuan, kenapa aku tidak bisa ikut denganmu sekarang? Aku akan menyerahkan nyawaku demi Tuan.”—Yohanes 13:36, 37.
Sekarang, Yesus membicarakan pengalaman para rasul ketika mereka diutus untuk mengabar di Galilea. Saat itu, mereka diminta untuk tidak membawa kantong uang ataupun kantong makanan. (Matius 10:5, 9, 10) Yesus bertanya, ”Kalian tidak kekurangan apa-apa, kan?” Mereka menjawab, ”Tidak!” Namun Yesus memberikan petunjuk, ”Tapi sekarang, kalau kalian punya kantong uang atau kantong makanan, bawa itu. Kalau kalian tidak punya pedang, jual baju luar kalian dan beli pedang. Ada tertulis, ’Dia dianggap sebagai pelanggar hukum.’ Aku memberi tahu kalian bahwa ayat itu memaksudkan aku. Sebab apa yang ditulis tentang aku itu sedang terjadi.”—Lukas 22:35-37.
Yesus sedang membicarakan tentang hukuman mati yang akan dia terima, yaitu dipakukan di tiang bersama para pelanggar hukum. Setelah itu, murid-murid Yesus juga akan dianiaya. Para rasul merasa sudah siap menghadapinya, jadi mereka berkata, ”Tuan, lihat! Ini ada dua pedang.” Yesus menjawab, ”Itu sudah cukup.” (Lukas 22:38) Belakangan, Yesus akan mengajarkan sesuatu yang penting ketika seorang rasulnya menggunakan salah satu pedang itu.
-
-
Yesus—Jalan, Kebenaran, KehidupanYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 119
Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
YESUS PERGI UNTUK MENYIAPKAN TEMPAT
YESUS MENJANJIKAN PENOLONG KEPADA PARA PENGIKUTNYA
BAPAK LEBIH BESAR DARIPADA YESUS
Yesus dan rasul-rasulnya masih berada di ruangan atas. Dia berkata, ”Jangan sampai hati kalian gelisah. Berimanlah kepada Allah, dan berimanlah kepadaku juga.”—Yohanes 13:36; 14:1.
Yesus memberitahukan mengapa para rasul tidak perlu khawatir setelah dia pergi. Dia berkata, ”Di rumah Bapakku ada banyak tempat tinggal. . . . Setelah aku pergi dan siapkan tempat bagi kalian, aku akan datang lagi dan membawa kalian ke rumahku, sehingga kalian juga berada di tempat aku berada.” Para rasul tidak mengerti bahwa Yesus berbicara tentang kepergiannya ke surga. Tomas berkata, ”Tuan, kami tidak tahu Tuan akan pergi ke mana. Bagaimana kami bisa tahu jalannya?”—Yohanes 14:2-5.
”Akulah jalan, kebenaran, dan kehidupan,” jawab Yesus. Ya, untuk masuk ke rumah Bapak di surga, seseorang harus menerima Yesus dan ajarannya serta meniru jalan hidupnya. Yesus berkata, ”Tidak ada yang bisa datang kepada Bapak kalau tidak melalui aku.”—Yohanes 14:6.
Filipus, yang dari tadi mendengarkan, berkata, ”Tuan, perlihatkanlah Bapak kepada kami, dan itu cukup bagi kami.” Filipus mungkin ingin mendapat penglihatan tentang Allah, seperti yang diterima Musa, Elia, dan Yesaya. Namun, para rasul sebenarnya mendapat sesuatu yang lebih baik daripada penglihatan. Yesus mengatakan, ”Setelah sekian lama aku bersama kalian, apa kamu belum juga mengenal aku, Filipus? Siapa pun yang sudah melihat aku sudah melihat Bapak juga.” Yesus mencerminkan kepribadian Bapaknya dengan sempurna. Jadi, dengan bergaul bersama Yesus dan melihat sikapnya, para rasul sudah seperti melihat Bapak. Namun, Bapak lebih tinggi daripada Putra, karena Yesus mengakui, ”Hal-hal yang kukatakan kepada kalian bukan berasal dari pikiranku sendiri.” (Yohanes 14:8-10) Para rasul bisa melihat bahwa Yesus selalu mengakui Bapaknya sebagai Sumber ajarannya.
Para rasul sudah melihat Yesus melakukan mukjizat dan mendengar dia memberitakan Kerajaan Allah. Sekarang Yesus memberi tahu mereka, ”Siapa pun yang beriman kepadaku akan melakukan juga pekerjaan yang kulakukan, dan dia akan melakukan pekerjaan yang lebih hebat lagi.” (Yohanes 14:12) Ini bukan berarti mereka akan melakukan mukjizat yang lebih hebat daripada yang Yesus lakukan. Namun, mereka akan mengabar untuk waktu yang lebih lama, di daerah yang lebih luas, dan kepada lebih banyak orang.
Meski Yesus akan pergi, para rasul tidak akan ditinggalkan begitu saja. Dia berjanji, ”Kalau kalian meminta apa pun dengan namaku, aku akan melakukannya.” Dia juga berkata, ”Aku akan meminta kepada Bapak, dan Dia akan memberi kalian penolong lain yang akan menyertai kalian selamanya, yaitu kuasa kudus yang menyingkapkan kebenaran.” (Yohanes 14:14, 16, 17) Yesus menjamin bahwa mereka akan menerima kuasa kudus. Ini terjadi pada hari Pentakosta.
”Sebentar lagi,” kata Yesus, ”dunia tidak akan melihat aku, sedangkan kalian akan melihat aku, karena aku hidup dan kalian akan hidup.” (Yohanes 14:19) Setelah Yesus dibangkitkan, para muridnya akan melihat dia sebelum dia pergi ke surga, dan di masa depan, mereka juga akan berada di surga bersama dia.
Yesus lalu menyampaikan kebenaran sederhana ini: ”Siapa pun yang menerima perintah-perintahku dan menjalankannya adalah orang yang mengasihi aku. Orang yang mengasihi aku akan dikasihi Bapakku, dan aku juga akan mengasihi dia serta memperlihatkan diriku dengan jelas kepadanya.” Mendengar itu, Rasul Yudas (Tadeus) berkata, ”Tuan, apa yang terjadi sehingga Tuan mau memperlihatkan diri kepada kami, tapi tidak kepada dunia?” Yesus menjawab, ”Orang yang mengasihi aku akan menuruti kata-kataku. Bapakku akan mengasihi dia . . . Orang yang tidak mengasihi aku tidak menuruti kata-kataku.” (Yohanes 14:21-24) Tidak seperti para pengikut Yesus, kebanyakan orang di dunia tidak mengakui bahwa Yesus adalah jalan, kebenaran, dan kehidupan.
Setelah Yesus pergi, bagaimana para murid bisa mengingat semua ajarannya? Yesus menjelaskan, ”Penolong itu, yaitu kuasa kudus, yang akan Bapak kirimkan dengan namaku, akan mengajari kalian segala sesuatu dan mengingatkan kalian tentang segala hal yang pernah kuberitahukan kepada kalian.” Karena para rasul sudah melihat sendiri betapa hebatnya kuasa kudus, kata-kata Yesus itu pasti membuat mereka tenang. Yesus menambahkan, ”Aku meninggalkan kedamaian bagi kalian. Aku memberi kalian kedamaianku. . . . Jangan sampai hati kalian gelisah atau takut.” (Yohanes 14:26, 27) Ya, para murid bisa yakin bahwa Yehuwa akan mengarahkan dan melindungi mereka.
Sebentar lagi, mereka akan melihat bukti dari perlindungan Yehuwa. Yesus berkata, ”Penguasa dunia ini akan datang, walaupun dia tidak punya kuasa atas diriku.” (Yohanes 14:30) Iblis berhasil menguasai Yudas, tapi dia tidak bisa menguasai Yesus, karena Yesus tidak punya kelemahan yang bisa dimanfaatkan olehnya. Iblis juga tidak bisa menahan Yesus dalam kematian. Mengapa? Yesus mengatakan, ”Aku melakukan apa yang Bapak perintahkan kepadaku.” Yesus yakin bahwa Bapak, yang lebih besar daripada dia, akan membangkitkannya.—Yohanes 14:31.
-
-
Menghasilkan Buah dan Menjadi Sahabat YesusYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 120
Menghasilkan Buah dan Menjadi Sahabat Yesus
TANAMAN ANGGUR SEJATI DAN CABANG-CABANGNYA
TETAP BERADA DALAM NAUNGAN KASIH YESUS
Yesus masih berbicara dari hati ke hati dengan para rasul untuk menguatkan mereka. Kini hari sudah larut, mungkin lewat tengah malam. Yesus memberikan sebuah perumpamaan:
”Aku adalah tanaman anggur sejati, dan Bapakku penggarapnya,” kata Yesus. (Yohanes 15:1) Berabad-abad yang lalu, bangsa Israel juga disebut tanaman anggur Yehuwa. (Yeremia 2:21; Hosea 10:1, 2) Namun, Yehuwa sudah menolak bangsa itu. (Matius 23:37, 38) Jadi, Yesus-lah tanaman anggur itu, yang mulai digarap Bapaknya ketika Sang Bapak melantik dia dengan kuasa kudus pada tahun 29 M. Tapi, tanaman anggur itu tidak hanya melambangkan Yesus. Yesus mengatakan:
”[Bapak] membuang setiap cabangku yang tidak berbuah, dan Dia membersihkan setiap cabang yang berbuah, supaya cabang itu menghasilkan lebih banyak buah. . . . Cabang tidak bisa berbuah dengan sendirinya kalau tidak tetap menyatu dengan tanaman anggurnya. Begitu juga, kalian tidak bisa menghasilkan buah kalau tidak tetap bersatu dengan aku. Aku adalah tanaman anggur, dan kalian cabang-cabangnya.”—Yohanes 15:2-5.
Yesus telah berjanji kepada para muridnya yang setia bahwa setelah kepergiannya, dia akan memberikan penolong, yaitu kuasa kudus. Lima puluh satu hari kemudian, ketika para rasul dan yang lainnya menerima kuasa kudus, mereka menjadi cabang dari tanaman anggur itu. Semua cabang harus tetap bersatu dengan Yesus. Mengapa?
Yesus menjelaskan, ”Kalau seseorang tetap bersatu dengan aku dan aku bersatu dengan dia, dia akan menghasilkan banyak buah. Tanpa aku, kalian tidak bisa berbuat apa-apa.” Cabang-cabang ini, yaitu para pengikut Yesus yang setia, akan menghasilkan buah dengan meniru sifat Yesus, rajin mengabar, dan menjadikan murid. Bagaimana jika ada yang tidak bersatu dengan Yesus dan tidak berbuah? Yesus berkata, ”Kalau seseorang tidak tetap bersatu dengan aku, dia akan menjadi seperti cabang yang dibuang.” Di sisi lain, Yesus mengatakan, ”Kalau kalian tetap bersatu dengan aku, dan kata-kataku tetap ada dalam hati kalian, mintalah apa pun yang kalian inginkan dan itu akan terkabul.”—Yohanes 15:5-7.
Malam itu, Yesus sudah dua kali menandaskan pentingnya menjalankan perintahnya. (Yohanes 14:15, 21) Sekarang, Yesus membahas bagaimana para murid bisa membuktikan bahwa mereka menjalankan perintahnya. Dia berkata, ”Kalau kalian menjalankan perintahku, kalian akan tetap berada dalam naungan kasihku, seperti aku sudah menjalankan perintah Bapak dan tetap berada dalam naungan kasih-Nya.” Jadi, mereka harus ’tetap berada dalam naungan kasih’ Yesus, maksudnya mengasihi Allah Yehuwa dan Putra-Nya. Tapi, itu belum cukup. Yesus melanjutkan, ”Inilah perintahku: Kasihi satu sama lain seperti aku sudah mengasihi kalian. Tidak ada yang memiliki kasih yang lebih besar daripada orang yang menyerahkan nyawanya demi sahabat-sahabatnya. Kalian adalah sahabat-sahabatku kalau kalian melakukan apa yang kuperintahkan.”—Yohanes 15:10-14.
Beberapa jam lagi, Yesus akan menunjukkan kasihnya dengan menyerahkan nyawanya bagi semua orang yang beriman. Para pengikut Yesus juga harus saling menunjukkan kasih yang rela berkorban, yang akan menjadi tanda pengenal mereka. Yesus sebelumnya berkata, ”Kalau kalian saling mengasihi, semua orang akan tahu bahwa kalian muridku.”—Yohanes 13:35.
Yesus sekarang berkata kepada para rasul, ”Aku menyebut kalian sahabat, karena aku sudah memberi tahu kalian semua hal yang kudengar dari Bapakku.” Para rasul adalah teman dekat Yesus, dan mereka mengetahui hal-hal yang Bapak beri tahukan kepadanya. Ini benar-benar hubungan yang istimewa! Namun, kalau mereka ingin terus menjadi sahabat Yesus, mereka harus ”terus menghasilkan buah”. Jika mereka berbuah, Yesus berkata, ”Apa pun yang kalian minta kepada Bapak dengan namaku akan Dia berikan.”—Yohanes 15:15, 16.
Kasih di antara para murid bisa membuat mereka tabah menghadapi apa yang akan terjadi. Yesus memperingatkan bahwa dunia akan membenci mereka, tapi dia berkata, ”Kalau dunia membenci kalian, ingatlah bahwa dunia sudah membenci aku sebelum membenci kalian. Kalau kalian bagian dari dunia, dunia akan mencintai kalian karena kalian miliknya. Sekarang kalian bukan bagian dari dunia . . . Karena itulah dunia membenci kalian.”—Yohanes 15:18, 19.
Yesus menjelaskan alasan lain dunia akan membenci para muridnya: ”Mereka akan melakukan semua ini kepada kalian karena namaku, karena mereka tidak mengenal Dia yang mengutus aku.” Yesus lalu berkata bahwa jika orang-orang membenci dia padahal sudah menyaksikan mukjizatnya, mereka berdosa. Dia mengatakan, ”Seandainya aku tidak pernah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang belum pernah dilakukan orang lain, mereka tidak berdosa. Tapi sekarang, mereka sudah melihat aku dan juga membenci aku serta Bapakku.” Sebenarnya, kebencian mereka sudah dinubuatkan.—Yohanes 15:21, 24, 25; Mazmur 35:19; 69:4.
Sekali lagi, Yesus berjanji bahwa dia akan mengirimkan penolong, yaitu kuasa kudus. Kuasa yang dahsyat itu bisa diperoleh semua pengikutnya dan akan membantu mereka berbuah, atau bersaksi tentang Yesus.—Yohanes 15:27.
-
-
”Tabahlah! Aku Sudah Menaklukkan Dunia”Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 121
”Tabahlah! Aku Sudah Menaklukkan Dunia”
PARA RASUL TIDAK AKAN MELIHAT YESUS LAGI
KESEDIHAN PARA RASUL AKAN BERUBAH MENJADI SUKACITA
Yesus dan para rasulnya sebentar lagi akan meninggalkan ruangan atas tempat mereka makan jamuan Paskah. Yesus sudah memberi mereka banyak nasihat. Dia sekarang menambahkan, ”Aku mengatakan hal-hal ini kepada kalian supaya kalian tidak tersandung.” Apa yang bisa membuat mereka tersandung? Yesus berkata, ”Orang akan mengeluarkan kalian dari rumah ibadah. Malah suatu saat nanti, setiap orang yang membunuh kalian akan merasa bahwa dia melakukan pelayanan suci kepada Allah.”—Yohanes 16:1, 2.
Kata-kata Yesus ini mungkin membuat para rasul khawatir. Yesus sudah mengatakan bahwa dunia akan membenci mereka, tapi dia belum pernah secara langsung berkata bahwa mereka akan dibunuh. Mengapa? Yesus berkata, ”Awalnya aku tidak memberi tahu kalian tentang itu, karena aku masih bersama kalian.” (Yohanes 16:4) Tapi sekarang, sebelum dia pergi, dia ingin memperingatkan para rasul.
Yesus melanjutkan, ”Sekarang, aku akan pergi kepada Dia yang mengutus aku. Tapi, tidak satu pun dari kalian bertanya kepadaku ke mana aku akan pergi.” Sebenarnya, malam itu para rasul sudah menanyakannya. (Yohanes 13:36; 14:5; 16:5) Namun, setelah mendengar bahwa mereka akan dianiaya, mereka sangat sedih. Jadi, mereka tidak bertanya tentang kemuliaan yang akan Yesus dapatkan dan berkatnya bagi para murid. Yesus tahu perasaan mereka. Dia berkata, ”Karena aku sudah memberi tahu kalian tentang hal-hal ini, hati kalian jadi benar-benar sedih.”—Yohanes 16:6.
Yesus berkata, ”Aku pergi demi kebaikan kalian, karena kalau aku tidak pergi, penolong itu tidak akan datang kepada kalian. Tapi kalau aku pergi, aku akan mengirim dia kepada kalian.” (Yohanes 16:7) Para murid baru bisa menerima kuasa kudus jika Yesus mati dan pergi ke surga. Dari sana, Yesus bisa mengirimkan penolong ini kepada para pengikutnya di seluruh dunia.
Kuasa kudus ”akan memberikan kepada dunia bukti yang meyakinkan tentang dosa, tentang apa yang benar, dan tentang penghakiman”. (Yohanes 16:8) Maksudnya, dunia ini akan terbukti berdosa karena tidak beriman kepada Putra Allah. Selain itu, naiknya Yesus ke surga akan membuktikan bahwa dia adalah orang yang benar sekaligus menunjukkan bahwa Setan, ”penguasa dunia ini”, pantas dihakimi.—Yohanes 16:11.
”Masih banyak yang harus aku katakan kepada kalian,” kata Yesus, ”tapi kalian tidak sanggup memahaminya sekarang.” Setelah Yesus mencurahkan kuasa kudus, barulah mereka ”memahami kebenaran sepenuhnya” dan bisa hidup sesuai dengan kebenaran itu.—Yohanes 16:12, 13.
Para rasul bingung karena Yesus selanjutnya berkata, ”Sebentar lagi kalian tidak akan melihat aku lagi, dan sebentar lagi kalian akan melihat aku.” Mereka bertanya satu sama lain apa maksudnya. Yesus tahu bahwa mereka ingin bertanya, jadi dia menjelaskan, ”Dengan sungguh-sungguh aku katakan, kalian akan menangis dan meratap, tapi dunia akan bersukacita. Kalian akan merasa pedih, tapi kepedihan kalian akan berubah menjadi kebahagiaan.” (Yohanes 16:16, 20) Saat Yesus dibunuh besok siangnya, para pemimpin agama bersukacita, tapi para murid bersedih. Namun, kesedihan mereka berubah menjadi kebahagiaan ketika Yesus dibangkitkan! Mereka juga bahagia ketika Yesus mencurahkan kuasa kudus Allah ke atas mereka.
Untuk menggambarkan apa yang dialami para rasul, Yesus berkata, ”Seorang wanita merasa pedih ketika tiba saatnya untuk melahirkan, tapi setelah melahirkan anaknya, dia tidak lagi mengingat kesengsaraannya. Dia bahagia karena seorang manusia sudah lahir ke dunia.” Yesus lalu menguatkan para rasulnya, ”Kalian juga begitu. Sekarang kalian pedih, tapi saat aku bertemu lagi dengan kalian, hati kalian akan bersukacita, dan tidak seorang pun akan merampas sukacita kalian.”—Yohanes 16:21, 22.
Sampai saat itu, para rasul tidak pernah berdoa dengan nama Yesus. Namun Yesus sekarang berkata, ”Pada hari itu, kalian akan meminta kepada Bapak dengan namaku.” Apakah itu berarti Bapak enggan menjawab doa-doa mereka kalau bukan Yesus yang memintanya? Tidak. Yesus berkata, ”Bapak sendiri menyayangi kalian, karena kalian sudah menyayangi aku . . . sebagai wakil Allah.”—Yohanes 16:26, 27.
Kata-kata Yesus membesarkan hati para rasul. Kemungkinan, karena itulah mereka berkata, ”Kami percaya bahwa kamu datang dari Allah.” Tapi, apa yang terjadi ketika iman mereka diuji malam itu? Yesus memberitahukan, ”Saatnya akan tiba, bahkan sudah tiba, ketika kalian akan terpencar ke rumah masing-masing dan meninggalkan aku sendirian.” Namun Yesus meyakinkan mereka, ”Aku sudah mengatakan hal-hal ini kepada kalian supaya kalian memiliki kedamaian karena aku. Dalam dunia ini kalian akan sengsara, tapi tabahlah! Aku sudah menaklukkan dunia.” (Yohanes 16:30-33) Jadi, Yesus akan selalu mendukung para pengikutnya. Dia yakin bahwa meski Setan dan dunianya berusaha membuat mereka menyerah, mereka bisa setia seperti dia. Mereka pasti bisa menaklukkan dunia dengan terus melakukan kehendak Allah!
-
-
Doa Yesus di Ruang AtasYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 122
Doa Yesus di Ruang Atas
BERKAT KARENA MENGENAL ALLAH DAN PUTRANYA
YEHUWA, YESUS, DAN SELURUH UMAT ALLAH BERSATU
Yesus sangat menyayangi para rasulnya, jadi dia sudah mempersiapkan mereka untuk menghadapi kepergiannya. Sekarang, dia memandang ke langit dan berdoa kepada Bapaknya, ”Muliakanlah putra-Mu, supaya putra-Mu memuliakan Engkau. Engkau sudah memberi dia kuasa atas semua manusia, supaya dia memberikan kehidupan abadi kepada semua orang yang Kauserahkan kepadanya.”—Yohanes 17:1, 2.
Yesus sadar bahwa memuliakan Allah adalah hal yang terpenting. Tapi, Yesus juga menyebutkan harapan yang luar biasa berupa kehidupan abadi. Setelah menerima ”kuasa atas semua manusia”, Yesus sanggup memberikan seluruh manfaat tebusannya kepada manusia. Tapi, tidak semua manusia akan mendapatkannya. Mengapa? Karena Yesus hanya akan memberkati orang-orang yang memenuhi persyaratan ini: ”Untuk mendapat kehidupan abadi, mereka perlu mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang Engkau utus.”—Yohanes 17:3.
Kita harus mengenal baik Bapak maupun Putra dan punya hubungan akrab dengan mereka. Kita harus memandang segala sesuatu seperti cara mereka memandangnya dan meniru sifat-sifat mereka saat berurusan dengan orang lain. Kita juga harus sadar bahwa yang paling penting, Allah dimuliakan. Ini bahkan lebih penting daripada harapan kehidupan abadi kita.
Yesus sekarang mengatakan, ”Aku sudah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Kauberikan kepadaku. Jadi sekarang, Bapak, berilah aku kemuliaan di sisi-Mu, seperti kemuliaan yang kumiliki di sebelah-Mu sebelum dunia ada.” (Yohanes 17:4, 5) Ya, Yesus meminta agar dia dibangkitkan dan kembali mendapat kemuliaan di surga.
Yesus lalu mengingat apa yang sudah dia lakukan di bumi. Dia berdoa, ”Aku sudah membuat nama-Mu nyata kepada orang-orang yang Kauserahkan kepadaku dari dunia. Mereka itu milik-Mu, dan Engkau menyerahkan mereka kepadaku, dan mereka sudah menjalankan firman-Mu.” (Yohanes 17:6) Yesus tidak sekadar memberitahukan nama Yehuwa. Yesus juga membantu para rasulnya tahu sifat-sifat Yehuwa dan cara Dia berurusan dengan manusia. Dengan begitu, mereka bisa benar-benar mengenal Yehuwa.
Yesus dengan rendah hati berkata, ”Aku sudah memberi mereka kata-kata yang Kauberikan kepadaku, dan mereka sudah menerimanya. Mereka benar-benar sudah tahu bahwa aku datang sebagai wakil-Mu, dan mereka sudah percaya bahwa Engkau mengutus aku.” (Yohanes 17:8) Jadi, para rasul telah mengenal Yehuwa, memahami peranan Putra-Nya, dan mengerti ajaran Yesus.
Yesus kemudian menunjukkan perbedaan antara para pengikutnya dan kebanyakan orang di dunia ini: ”Aku tidak berdoa bagi dunia tapi bagi orang-orang yang telah Kauserahkan kepadaku, karena mereka itu milik-Mu. . . . Bapak yang kudus, jagalah mereka demi nama-Mu yang telah Kauberikan kepadaku, supaya mereka menjadi satu, seperti kita adalah satu. . . . Aku sudah melindungi mereka, dan tidak satu pun dari mereka binasa, kecuali dia yang memang akan dibinasakan,” maksudnya Yudas Iskariot, yang sedang menjalankan rencananya untuk mengkhianati Yesus.—Yohanes 17:9-12.
Yesus melanjutkan doanya, ”Dunia membenci mereka . . . Aku berdoa, bukan agar Engkau mengambil mereka dari dunia, tapi agar Engkau menjaga mereka dari si jahat. Mereka bukan bagian dari dunia, seperti aku bukan bagian dari dunia.” (Yohanes 17:14-16) Para rasul dan murid-murid lainnya hidup di dunia yang dikuasai Setan, tapi mereka harus terpisah dari dunia yang jahat ini. Bagaimana caranya?
Yesus berdoa, ”Sucikanlah mereka dengan kebenaran. Firman-Mu adalah kebenaran.” (Yohanes 17:17) Para murid bisa menjaga diri tetap suci, terpisah untuk melayani Allah, jika mereka menjalankan kebenaran yang ada dalam Kitab-Kitab Ibrani dan kebenaran yang Yesus ajarkan. Belakangan, beberapa rasul ini akan menulis buku-buku yang menjadi bagian dari Firman Allah, kebenaran yang bisa menyucikan seseorang.
Selain para rasul, akan ada orang-orang yang menerima kebenaran itu. Jadi, Yesus berdoa ”bukan bagi mereka saja [11 rasul itu], tapi juga bagi orang-orang yang beriman kepada [Yesus] setelah mendengar perkataan mereka”. Apa yang Yesus doakan? ”Agar mereka semua menjadi satu, seperti Engkau, Bapak, bersatu dengan aku dan aku bersatu dengan Engkau, sehingga mereka pun bersatu dengan kita.” (Yohanes 17:20, 21) Yesus dan Bapaknya dikatakan bersatu karena mereka sepikiran dan sejalan dalam segala hal. Yesus berdoa agar semua pengikutnya juga begitu.
Malam itu, Yesus sudah memberi tahu Petrus dan para rasul lainnya bahwa dia akan pergi untuk mempersiapkan tempat di surga bagi mereka. (Yohanes 14:2, 3) Yesus sekarang mendoakan hal itu: ”Bapak, aku ingin agar orang-orang yang telah Kauserahkan kepadaku berada bersamaku di tempat aku berada, supaya mereka melihat kemuliaanku, yang telah Kauberikan kepadaku, karena Engkau mengasihi aku sebelum permulaan dunia.” (Yohanes 17:24, catatan kaki) Yesus menunjukkan bahwa sejak dulu, jauh sebelum Adam dan Hawa memiliki keturunan, Allah telah mengasihi dia, Putra tunggal-Nya.
Di akhir doanya, Yesus kembali menekankan dua hal penting, yaitu nama Bapaknya serta kasih Sang Bapak kepadanya, yang juga akan ditunjukkan kepada para rasul dan orang-orang yang menerima kebenaran. Yesus mengatakan, ”Aku sudah membuat nama-Mu dikenal oleh mereka, dan aku akan terus membuatnya dikenal, agar mereka mengasihi orang lain seperti Engkau mengasihi aku, dan agar aku bersatu dengan mereka.”—Yohanes 17:26.
-
-
Yesus Sangat Tertekan dan BerdoaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 123
Yesus Sangat Tertekan dan Berdoa
MATIUS 26:30, 36-46 MARKUS 14:26, 32-42 LUKAS 22:39-46 YOHANES 18:1
YESUS DI TAMAN GETSEMANI
KERINGATNYA SEPERTI DARAH YANG MENETES KE TANAH
Yesus sudah selesai berdoa bersama para rasulnya yang setia. Lalu, ”setelah menyanyikan pujian, mereka pergi ke Gunung Zaitun”. (Markus 14:26) Mereka berjalan ke arah timur menuju sebuah taman yang disebut Getsemani, tempat yang sering dikunjungi Yesus.
Sesampainya di taman itu, Yesus berhenti di sebuah tempat yang nyaman di antara pohon-pohon zaitun, lalu dia berkata kepada delapan rasulnya, ”Duduklah di sini sementara aku pergi ke sana dan berdoa.” Yesus kemudian masuk lebih jauh ke taman itu bersama tiga rasulnya—Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Yesus merasa sangat tertekan dan berkata kepada tiga rasul itu, ”Aku sedih sekali, seperti mau mati rasanya. Tunggu di sini dan tetaplah berjaga-jaga denganku.”—Matius 26:36-38.
Yesus berjalan sedikit untuk menjauh dari mereka lalu ”sujud dan mulai berdoa”. Apa yang dia doakan pada saat-saat yang menegangkan ini? Dia berdoa, ”Bapak, segala sesuatu tidak mustahil bagi-Mu. Singkirkanlah cawan ini dariku. Namun janganlah terjadi seperti yang aku mau, tapi seperti yang Engkau mau.” (Markus 14:35, 36) Apakah Yesus ingin lari dari tanggung jawabnya sebagai Penebus? Tidak!
Yesus punya perasaan seperti manusia biasa dan bisa merasa sakit. Sewaktu Yesus hidup di surga, dia sudah melihat sendiri betapa menderitanya orang-orang yang dihukum mati oleh bangsa Romawi. Jadi, Yesus tahu bahwa kematiannya akan sangat menyakitkan. Namun yang terutama, Yesus sangat tertekan karena tahu bahwa kematiannya sebagai penjahat yang hina bisa merusak nama baik Bapaknya. Beberapa jam lagi, dia akan dipakukan di tiang karena dituduh menghina Allah.
Setelah sekian lama berdoa, Yesus kembali dan melihat bahwa tiga rasulnya tertidur. Dia berkata kepada Petrus, ”Apa kalian tidak bisa tetap berjaga-jaga satu jam saja denganku? Tetaplah berjaga-jaga dan teruslah berdoa, supaya kalian tidak menyerah pada godaan.” Yesus tahu bahwa sepanjang malam itu, mereka juga merasa tertekan, dan sekarang sudah lewat tengah malam. Yesus berkata, ”Roh memang bersemangat, tapi tubuh lemah.”—Matius 26:40, 41.
Yesus pergi lagi dan berdoa agar Allah menyingkirkan ”cawan ini” darinya. Ketika dia kembali, lagi-lagi tiga rasulnya tertidur, padahal mereka seharusnya berdoa agar tidak menyerah pada godaan. Saat Yesus menegur mereka, ”mereka tidak tahu harus berkata apa kepada Yesus”. (Markus 14:40) Yesus lalu pergi untuk ketiga kalinya, kemudian dia berlutut dan berdoa.
Yesus benar-benar khawatir karena nama baik Bapaknya bisa rusak jika dia mati sebagai penjahat. Yehuwa mendengarkan doa-doa Putra-Nya itu, dan Dia mengutus seorang malaikat untuk menguatkan Yesus. Meski begitu, Yesus tidak berhenti berdoa kepada Bapaknya. Dia malah ”terus berdoa lebih sungguh-sungguh”. Tanggung jawabnya sangatlah serius karena yang dipertaruhkan adalah kehidupan abadinya dan kehidupan abadi semua manusia yang beriman! Yesus begitu tertekan sehingga ”keringatnya pun menjadi seperti darah yang menetes ke tanah”.—Lukas 22:44.
Ketika Yesus kembali kepada ketiga rasulnya, mereka ternyata tertidur lagi. Yesus berkata, ”Di saat seperti ini, kalian malah tidur dan istirahat! Sekarang, sudah waktunya Putra manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. Berdirilah, ayo kita pergi. Lihat! Pengkhianatku sudah datang.”—Matius 26:45, 46.
-
-
Kristus Dikhianati dan DitangkapYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 124
Kristus Dikhianati dan Ditangkap
MATIUS 26:47-56 MARKUS 14:43-52 LUKAS 22:47-53 YOHANES 18:2-12
YUDAS MENGKHIANATI YESUS DI TAMAN GETSEMANI
PETRUS MEMOTONG TELINGA SEORANG PRIA
YESUS DITANGKAP
Sekarang malam sudah sangat larut. Para imam sudah sepakat memberi Yudas 30 keping perak jika dia mengkhianati Yesus. Yudas pun membawa para imam kepala dan orang-orang Farisi untuk mencari Yesus. Mereka juga membawa sepasukan prajurit Romawi yang bersenjata dan seorang komandan.
Kemungkinan besar, setelah Yesus menyuruh Yudas pergi dari acara jamuan Paskah, Yudas langsung menemui para imam kepala. (Yohanes 13:27) Para imam ini lalu mengumpulkan para petugas mereka dan sekelompok prajurit. Awalnya, Yudas mungkin membawa mereka ke ruangan tempat Yesus dan para rasulnya merayakan Paskah. Sekarang, gerombolan orang itu sudah menyeberangi Lembah Kidron dan sedang menuju Taman Getsemani. Selain membawa senjata, mereka juga membawa lampu dan obor. Mereka sudah tidak sabar ingin menangkap Yesus.
Yudas memimpin gerombolan itu mendaki Gunung Zaitun. Dia yakin bahwa Yesus ada di Taman Getsemani. Mengapa? Selama Yesus dan para rasulnya menginap di Betani, hampir setiap hari mereka pergi ke Yerusalem. Dalam perjalanan, mereka sering berhenti di taman itu. Tapi sekarang, hari sudah gelap, dan taman itu dipenuhi pohon zaitun. Selain itu, bagaimana para prajurit, yang mungkin belum pernah melihat Yesus, bisa tahu yang mana orangnya? Yudas berkata, ”Orang yang aku cium, dialah orangnya.”—Markus 14:44.
Ketika Yudas dan rombongannya masuk ke taman, dia melihat Yesus dan para rasulnya. Dia langsung mendekati Yesus dan berkata, ”Salam sejahtera, Rabi!” Dia lalu menciumnya dengan lembut. ”Apa tujuan kamu ke sini?” tanya Yesus. (Matius 26:49, 50) Yesus lalu menjawab pertanyaannya sendiri, ”Yudas, apa kamu mengkhianati Putra manusia dengan ciuman?” (Lukas 22:48) Tapi, Yesus tidak menunggu jawaban si pengkhianat itu.
Yesus sekarang mendekati rombongan itu. Mukanya terlihat jelas di bawah sinar obor dan lampu yang mereka bawa. Yesus bertanya, ”Siapa yang kalian cari?” Mereka menjawab, ”Yesus orang Nazaret.” Yesus dengan berani menjawab, ”Saya orangnya.” (Yohanes 18:4, 5) Karena kaget, mereka semua jatuh.
Yesus bisa saja memakai kesempatan itu untuk melarikan diri. Tapi, dia malah bertanya lagi siapa yang mereka cari. Ketika mereka menjawab, ”Yesus orang Nazaret,” dia dengan tenang berkata, ”Saya sudah beri tahu kalian bahwa saya orangnya. Kalau kalian memang cari saya, biarkan mereka ini pergi.” Bahkan pada saat yang genting ini, Yesus bertindak sesuai dengan apa yang dia katakan sebelumnya, yaitu bahwa dia tidak akan ’kehilangan satu rasul pun’. (Yohanes 6:39; 17:12) Yesus selalu menjaga semua rasulnya yang setia, dan tidak ada satu pun yang binasa, kecuali Yudas, ”yang memang akan dibinasakan”. (Yohanes 18:7-9) Maka, Yesus sekarang meminta agar para rasulnya yang setia dibiarkan pergi.
Ketika para prajurit itu berdiri dan mendekati Yesus, para rasul menyadari apa yang akan terjadi. Mereka berkata, ”Tuan, apa perlu kami serang mereka dengan pedang?” (Lukas 22:49) Sebelum Yesus menjawab, Petrus sudah mengeluarkan salah satu pedang yang dibawa para rasul dan memotong telinga Malkhus, seorang budak imam besar.
Tapi, Yesus menyentuh telinga Malkhus dan menyembuhkannya. Dia lalu melihat Petrus dan mengajarkan sesuatu yang penting: ”Masukkan pedangmu ke tempatnya, karena semua yang memakai pedang akan mati oleh pedang.” Yesus membiarkan orang-orang itu menangkapnya karena menurut Kitab Suci, ”semuanya harus terjadi seperti ini”. (Matius 26:52, 54) Dia menambahkan, ”Bukankah aku harus minum dari cawan yang Bapak berikan kepadaku?” (Yohanes 18:11) Yesus rela menjalankan kehendak Allah, bahkan jika itu berarti dia harus mati.
Yesus bertanya kepada gerombolan orang itu, ”Apakah saya perampok, sehingga kalian datang dengan pedang dan pentung untuk menangkap saya? Setiap hari saya biasa duduk mengajar di bait, tapi kalian tidak menangkap saya. Namun dengan terjadinya semua ini, tulisan para nabi menjadi kenyataan.”—Matius 26:55, 56.
Para prajurit dan petugas tadi menangkap Yesus dan mengikatnya. Melihat itu, para rasul langsung melarikan diri. Namun, ”seorang pemuda”, kemungkinan seorang pengikut Yesus yang bernama Markus, tetap berada di antara gerombolan orang itu karena ingin mengikuti Yesus. (Markus 14:51) Tapi, orang-orang mengenali dia dan berusaha menangkapnya. Jadi, dia terpaksa meninggalkan pakaiannya dan lari.
-
-
Yesus Dibawa kepada Hanas, Lalu kepada KayafasYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 125
Yesus Dibawa kepada Hanas, Lalu kepada Kayafas
MATIUS 26:57-68 MARKUS 14:53-65 LUKAS 22:54, 63-65 YOHANES 18:13, 14, 19-24
YESUS DIBAWA KEPADA HANAS, SEORANG IMAM KEPALA
SANHEDRIN MENGADAKAN PENGADILAN ILEGAL
Setelah Yesus diikat seperti seorang penjahat, dia dibawa kepada Hanas. Ketika Yesus yang masih kecil membuat para guru di bait terkesan, Hanas menjabat sebagai imam besar. (Lukas 2:42, 47) Jabatan ini lalu diberikan kepada beberapa putranya dan sekarang kepada menantunya, Kayafas.
Ketika Hanas menginterogasi Yesus, Kayafas mengumpulkan para anggota Sanhedrin. Pengadilan Sanhedrin ini terdiri dari 71 anggota, termasuk imam besar dan orang-orang lain yang pernah memegang jabatan itu.
Hanas sekarang menanyai Yesus ”tentang murid-muridnya dan tentang ajarannya”. Yesus hanya menjawab, ”Saya sudah bicara di depan umum kepada dunia. Saya selalu mengajar di rumah ibadah dan di bait, tempat semua orang Yahudi berkumpul, dan saya tidak pernah bicara sembunyi-sembunyi. Kenapa kamu menanyai saya? Tanyailah orang-orang yang pernah mendengar kata-kata saya.”—Yohanes 18:19-21.
Seorang petugas menampar muka Yesus dan berkata, ”Apakah begitu caranya kamu menjawab imam kepala?” Tapi, Yesus tahu bahwa dia tidak salah, jadi dia menjawab, ”Kalau kata-kata saya salah, beri tahukan di mana salahnya. Tapi kalau kata-kata saya benar, kenapa kamu menampar saya?” (Yohanes 18:22, 23) Hanas lalu menyuruh agar Yesus dibawa kepada menantunya, Kayafas.
Sekarang para anggota Sanhedrin, yaitu imam besar, para pemimpin orang Yahudi, dan para ahli Taurat, telah berkumpul di rumah Kayafas. Pengadilan ini sebenarnya ilegal karena diadakan pada malam Paskah, tapi mereka tidak peduli. Mereka ingin menjalankan rencana jahat mereka.
Orang-orang itu memang sudah lama membenci Yesus. Setelah Yesus membangkitkan Lazarus, para anggota Sanhedrin sepakat bahwa dia harus dibunuh. (Yohanes 11:47-53) Dan beberapa hari yang lalu, mereka mencari cara untuk menangkap Yesus dan menghabisi dia. (Matius 26:3, 4) Jadi bahkan sebelum pengadilan itu dimulai, Yesus sebenarnya sudah divonis mati!
Para imam kepala dan anggota Sanhedrin lainnya mencari orang-orang yang mau memberikan kesaksian palsu melawan Yesus. Ada banyak yang bersedia, tapi kesaksian mereka saling bertentangan. Akhirnya, dua orang bersaksi, ”Kami mendengar dia berkata, ’Saya akan merobohkan bait ini yang dibuat dengan tangan, dan dalam tiga hari saya akan membangun bait lain yang tidak dibuat dengan tangan.’” (Markus 14:58) Tapi, kesaksian mereka pun tidak sama.
Kayafas bertanya kepada Yesus, ”Apa kamu tidak menjawab? Apa tanggapanmu terhadap tuduhan mereka kepadamu ini?” (Markus 14:60) Namun Yesus tetap diam. Jadi, Imam Besar Kayafas mencari taktik lain.
Kayafas tahu bahwa orang Yahudi tidak senang jika ada orang yang mengaku sebagai Putra Allah. Sebelumnya, ketika Yesus menyebut Allah sebagai Bapaknya, orang Yahudi ingin membunuh dia. Menurut mereka, Yesus ”membuat dirinya setara dengan Allah”. (Yohanes 5:17, 18; 10:31-39) Karena itu, Kayafas dengan licik berkata kepada Yesus, ”Bersumpahlah demi Allah yang hidup, dan beri tahu kami apakah kamu Kristus, Putra Allah!” (Matius 26:63) Selama pelayanannya, Yesus sudah beberapa kali menyatakan bahwa dia adalah Putra Allah. (Yohanes 3:18; 5:25; 11:4) Jika sekarang dia diam saja, orang-orang bisa berpikir bahwa Yesus menyangkal hal itu. Jadi dia berkata, ”Ya, dan kalian akan melihat Putra manusia duduk di sebelah kanan Yang Kuasa dan datang dengan awan-awan langit.”—Markus 14:62.
Mendengar itu, dengan berlebihan Kayafas langsung merobek baju luarnya dan berkata, ”Dia sudah menghina Allah! Untuk apa lagi ada saksi-saksi lain? Kalian sudah mendengar dia menghina Allah. Bagaimana menurut kalian?” Pengadilan Sanhedrin itu pun menjatuhkan vonis: ”Dia pantas mati.” (Matius 26:65, 66) Ini keputusan yang benar-benar tidak adil!
Kemudian, mereka mulai mengejek Yesus dan meninju dia. Yang lainnya menampar dan meludahi Yesus. Mereka lalu menutupi mukanya dan menampar dia lagi. Mereka menyindir dia, ”Kalau kamu nabi, beri tahu kami siapa yang pukul kamu!” (Lukas 22:64) Bayangkan, Putra Allah diadili secara ilegal pada tengah malam serta diperlakukan dengan begitu kejam dan hina!
-
-
Petrus Menyangkal YesusYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 126
Petrus Menyangkal Yesus
MATIUS 26:69-75 MARKUS 14:66-72 LUKAS 22:54-62 YOHANES 18:15-18, 25-27
PETRUS MENYANGKAL YESUS TIGA KALI
Setelah Yesus ditangkap di Taman Getsemani, para rasul meninggalkan dia dan melarikan diri karena takut. Namun, ada dua rasul yang berubah pikiran dan berbalik untuk mengikuti Yesus. Mereka adalah Petrus ”dan seorang murid lain”, yang kemungkinan besar adalah Yohanes. (Yohanes 18:15; 19:35; 21:24) Mereka menyusul rombongan itu dan mungkin melihat saat Yesus dibawa kepada Hanas. Ketika Hanas kemudian menyuruh agar Yesus dibawa kepada Imam Besar Kayafas, Petrus dan Yohanes mengikutinya dari kejauhan. Dua rasul ini takut kehilangan nyawa mereka, tapi mereka juga mengkhawatirkan Tuan mereka.
Yohanes dikenal oleh imam besar, jadi dia bisa masuk ke halaman rumah Kayafas. Sementara itu, Petrus menunggu di depan pintu sampai Yohanes kembali dan berbicara kepada hamba perempuan yang menjaga pintu. Lalu Petrus pun diizinkan masuk.
Karena udara malam itu dingin, orang-orang di halaman itu menyalakan api. Petrus duduk bersama mereka untuk menghangatkan diri sambil menunggu ”apa yang akan terjadi” pada Yesus. (Matius 26:58) Sekarang, di dekat nyala api, penjaga pintu yang mengizinkan Petrus masuk bisa melihat wajahnya dengan lebih jelas. ”Kamu salah satu murid orang itu juga, kan?” katanya. (Yohanes 18:17) Orang-orang lain juga mengenali Petrus dan mengatakan hal yang sama.—Matius 26:69, 71-73; Markus 14:70.
Pertanyaan mereka membuat Petrus takut, jadi dua kali dia menyangkal bahwa dia mengenal Yesus. Dia mengatakan, ”Saya tidak kenal dia. Kamu salah orang.” (Markus 14:67, 68) Dia bahkan menjauh ke arah gerbang supaya tidak dikenali. Selain itu, dia bersumpah dan berkata bahwa dia bersedia dikutuk kalau berbohong.—Matius 26:74.
Selama menunggu di halaman, Petrus dan orang-orang lain mungkin bisa melihat para saksi keluar masuk ruang pengadilan. Saat itu, Yesus bisa jadi sedang diadili di bagian atas rumah Kayafas.
Karena Petrus punya logat Galilea, orang-orang yang ada di sana curiga bahwa dia teman Yesus. Salah satu dari mereka adalah kerabat dari Malkhus yang telinganya dipotong Petrus. Dia berkata, ”Bukankah saya lihat kamu ada di taman dengan dia?” Lalu untuk ketiga kalinya, Petrus menyangkal Yesus, dan ayam jantan pun berkokok, tepat seperti yang Yesus katakan.—Yohanes 13:38; 18:26, 27.
Saat itu, Yesus kelihatannya berdiri di balkon yang menghadap ke halaman. Dia menoleh dan menatap Petrus, dan hancurlah hati Petrus. Dia teringat kata-kata Yesus beberapa jam yang lalu. Bayangkan perasaan Petrus ketika menyadari apa yang telah dia lakukan! Dia pun keluar dan menangis dengan getir.—Lukas 22:61, 62.
Petrus tadinya sangat yakin bahwa dia akan tetap beriman dan setia. Jadi, mengapa dia sampai menyangkal Tuannya? Yesus tidak bersalah, tapi dia dijebak dan dianggap sebagai penjahat keji. Jadi, Petrus seharusnya membela Yesus. Namun, dia malah meninggalkan Putra Allah, yang memiliki kata-kata yang ”menghasilkan kehidupan abadi”.—Yohanes 6:68.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa hamba Allah yang beriman dan bersemangat sekalipun bisa jatuh jika dia tidak siap menghadapi cobaan dan godaan. Semoga pengalaman Petrus membuat kita semua lebih berhati-hati!
-
-
Yesus Diadili oleh Sanhedrin, Lalu Dibawa kepada PilatusYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 127
Yesus Diadili oleh Sanhedrin, Lalu Dibawa kepada Pilatus
MATIUS 27:1-11 MARKUS 15:1 LUKAS 22:66–23:3 YOHANES 18:28-35
YESUS DIADILI OLEH SANHEDRIN PADA PAGI HARI
YUDAS ISKARIOT MENCOBA BUNUH DIRI
YESUS DIBAWA KEPADA PILATUS AGAR DIHUKUM MATI
Malam sudah hampir berakhir ketika Petrus menyangkal Yesus untuk ketiga kalinya. Setelah persidangan itu, para anggota Sanhedrin membubarkan diri. Pagi-pagi sekali pada hari Jumat itu, mereka berkumpul lagi, kemungkinan untuk mengesahkan putusan mereka dan mengalihkan perhatian orang dari persidangan ilegal semalam. Yesus pun dibawa masuk.
Mereka lagi-lagi berkata, ”Kalau kamu memang Kristus, beri tahu kami.” Yesus menjawab, ”Kalaupun saya memberi tahu kalian, kalian sama sekali tidak akan percaya. Lagi pula, kalau saya bertanya, kalian tidak akan menjawab.” Tapi, Yesus dengan berani menyatakan bahwa dialah yang dinubuatkan di Daniel 7:13. ”Mulai sekarang, Putra manusia akan duduk di sebelah kanan Allah yang berkuasa,” katanya.—Lukas 22:67-69; Matius 26:63.
Mereka menanyai dia lagi, ”Kalau begitu, apa kamu Putra Allah?” Yesus menjawab, ”Benar seperti yang kalian katakan.” Ini meneguhkan kesimpulan mereka bahwa Yesus telah menghina Allah dan pantas mati. Mereka berkata, ”Kita tidak perlu cari saksi lagi.” (Lukas 22:70, 71; Markus 14:64) Mereka lalu mengikat Yesus dan membawanya kepada Gubernur Romawi, Pontius Pilatus.
Kemungkinan, Yudas Iskariot melihat Yesus dibawa kepada Pilatus. Saat tahu bahwa Yesus divonis mati, dia menyesal dan sangat sedih. Tapi, dia tidak sungguh-sungguh bertobat. Dia pergi kepada para imam kepala untuk mengembalikan 30 keping perak itu dan berkata, ”Saya berdosa karena saya mengkhianati orang yang tidak bersalah.” Namun, para imam itu tidak peduli. Mereka berkata, ”Apa urusannya dengan kami? Itu urusanmu!”—Matius 27:4.
Yudas melemparkan 30 keping perak itu di bait, lalu dia menambah kesalahannya dengan mencoba bunuh diri. Tapi saat dia gantung diri, cabang pohon tempat dia mengikatkan talinya itu patah. Tubuhnya pun jatuh ke tanah yang berbatu-batu, dan perutnya robek.—Kisah 1:17, 18.
Hari masih pagi ketika Yesus dibawa ke istana Pilatus. Orang-orang Yahudi yang membawanya tidak mau masuk ke istana itu. Mereka pikir, kalau mereka masuk ke tempat milik bangsa lain, mereka menjadi najis. Akibatnya, mereka tidak akan bisa ikut acara makan pada tanggal 15 Nisan, hari pertama Perayaan Roti Tanpa Ragi, yang dianggap bagian dari Paskah.
Pilatus keluar menemui mereka dan berkata, ”Apa tuduhan kalian terhadap orang ini?” Mereka menjawab, ”Kalau orang ini tidak berbuat salah, kami tidak akan menyerahkan dia kepadamu.” Pilatus mungkin tahu bahwa mereka ingin agar dia menghukum Yesus. Maka dia berkata, ”Kalian saja yang bawa dia, dan adili dia menurut hukum kalian.” Mereka menjawab, ”Kami tidak punya hak untuk membunuh siapa pun.” (Yohanes 18:29-31) Jawaban orang-orang Yahudi itu menunjukkan bahwa mereka ingin agar Yesus dihukum mati.
Kalau mereka membunuh Yesus pada Perayaan Paskah, orang-orang bisa marah karena banyak yang menyukai Yesus. Tapi, kalau orang Romawi menghukum mati Yesus dengan tuduhan melawan pemerintah, orang-orang Yahudi itu tidak akan dipersalahkan.
Para pemimpin agama itu tidak memberi tahu Pilatus bahwa mereka menuduh Yesus menghina Allah. Mereka malah menyampaikan tuduhan-tuduhan lain: ”Orang ini kedapatan [1] menyesatkan bangsa kami, [2] melarang kami membayar pajak kepada Kaisar, dan [3] mengaku sebagai Kristus, seorang raja.”—Lukas 23:2.
Sebagai wakil pemerintah Romawi, Pilatus perlu memeriksa tuduhan bahwa Yesus mengaku sebagai raja. Maka Pilatus masuk ke istananya, memanggil Yesus, dan bertanya, ”Apakah kamu Raja Orang Yahudi?” Dengan kata lain, dia bertanya, ’Apakah kamu melanggar hukum dan melawan Kaisar dengan menyatakan diri sebagai raja?’ Yesus mungkin ingin tahu seberapa banyak yang Pilatus ketahui tentang dia. Maka dia bertanya, ”Apakah pertanyaanmu ini berasal dari dirimu sendiri, atau ada yang memberi tahu kamu tentang saya?”—Yohanes 18:33, 34.
Pilatus menunjukkan bahwa dia belum tahu apa-apa tentang Yesus. Dia berkata, ”Saya kan bukan orang Yahudi. Bangsamu sendiri dan para imam kepala menyerahkan kamu kepada saya.” Lalu karena ingin tahu tentang Yesus, dia bertanya, ”Apa yang kamu lakukan?”—Yohanes 18:35.
Apa jawaban Yesus? Dia tidak mengalihkan pembicaraan dari topik yang ditanyakan Pilatus, yaitu tentang kedudukannya sebagai raja. Tapi, apa yang Yesus katakan pasti membuat gubernur itu terkejut.
-
-
Pilatus Maupun Herodes Menganggap Yesus Tidak BersalahYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 128
Pilatus Maupun Herodes Menganggap Yesus Tidak Bersalah
MATIUS 27:12-14, 18, 19 MARKUS 15:2-5 LUKAS 23:4-16 YOHANES 18:36-38
YESUS DIPERIKSA OLEH PILATUS DAN HERODES
Yesus tidak menutup-nutupi kenyataan bahwa dia seorang raja. Namun, Kerajaannya bukanlah ancaman bagi pemerintah Romawi. ”Kerajaan saya bukan bagian dari dunia ini,” kata Yesus kepada Pilatus. ”Kalau Kerajaan saya bagian dari dunia ini, hamba-hamba saya pasti sudah berjuang supaya saya tidak diserahkan kepada orang Yahudi. Tapi Kerajaan saya memang bukan dari sini.”—Yohanes 18:36.
Karena belum puas, Pilatus bertanya lagi, ”Kalau begitu, kamu ini raja?” Yesus menjawab, ”Benar seperti yang kamu katakan. Saya harus bersaksi tentang kebenaran, karena untuk itulah saya dilahirkan, dan untuk itulah saya datang ke dunia. Setiap orang yang ada di pihak kebenaran mendengarkan suara saya.”—Yohanes 18:37.
Sebelumnya, Yesus pernah memberi tahu Tomas, ”Akulah jalan, kebenaran, dan kehidupan.” Sekarang, Yesus juga memberi tahu Pilatus bahwa dia diutus ke bumi untuk bersaksi tentang kebenaran, terutama kebenaran tentang Kerajaannya. Yesus bertekad untuk terus bersaksi, bahkan jika dia harus mati karena melakukannya. ”Apa kebenaran itu?” tanya Pilatus. Tapi, dia tidak menunggu jawaban Yesus. Dia sudah bisa menarik kesimpulan tentang pria ini.—Yohanes 14:6; 18:38.
Pilatus lalu menemui orang-orang yang menunggu di luar istananya, dan Yesus kelihatannya berdiri di sampingnya. Pilatus berkata kepada para imam kepala dan orang-orang lainnya, ”Saya tidak menemukan kesalahan apa pun pada orang ini.” Mendengar itu, mereka marah dan berkeras, ”Dia menghasut rakyat dengan mengajar di seluruh Yudea, awalnya di Galilea dan sekarang sudah sampai ke sini.”—Lukas 23:4, 5.
Pilatus tidak habis pikir melihat kebencian orang-orang Yahudi yang membabi buta itu. Di tengah teriakan para imam kepala dan pemimpin orang Yahudi, Pilatus bertanya kepada Yesus, ”Apa kamu tidak dengar betapa banyaknya tuduhan mereka kepadamu?” (Matius 27:13) Yesus diam saja. Pilatus heran melihat Yesus begitu tenang menghadapi semua itu.
Orang-orang Yahudi berkata bahwa Yesus awalnya mengajar ”di Galilea”. Karena itu, Pilatus menyimpulkan bahwa Yesus adalah orang Galilea. Sekarang, dia tahu bahwa dia bisa menghindar dari tanggung jawab untuk mengadili Yesus. Dia menyerahkan Yesus kepada penguasa Galilea, yaitu Herodes Antipas (putra dari Herodes Agung). Selama minggu Paskah ini, Herodes berada di Yerusalem. Herodes Antipas adalah raja yang memerintahkan agar Yohanes Pembaptis dipenggal. Ketika dia mendengar Yesus melakukan berbagai mukjizat, dia berpikir jangan-jangan Yesus adalah Yohanes yang dibangkitkan.—Lukas 9:7-9.
Herodes senang sekali bertemu Yesus, tapi bukan karena dia mau membantu Yesus atau mencari tahu apakah tuduhan orang-orang memang benar. Herodes hanya ”berharap bisa melihatnya membuat mukjizat”. (Lukas 23:8) Tapi, Yesus tidak mau mengabulkannya. Malah, selama Herodes menanyai dia, Yesus tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Karena kecewa, Herodes dan para prajuritnya memperlakukan Yesus ”dengan hina”. (Lukas 23:11) Mereka memakaikan baju bagus pada Yesus dan mengejeknya. Kemudian Herodes menyuruh Yesus dibawa kembali kepada Pilatus. Dua penguasa itu selama ini bermusuhan, tapi sekarang mereka malah bekerja sama.
Ketika Yesus kembali, Pilatus memanggil para imam kepala, pemimpin orang Yahudi, dan orang-orang lain. Dia berkata, ”Saya sudah memeriksa dia di depan kalian, tapi saya tidak mendapati dasar untuk tuduhan kalian kepada orang ini. Herodes pun menganggap orang ini tidak bersalah, karena dia mengirim kembali orang ini kepada kami. Orang ini tidak melakukan apa pun yang membuatnya pantas dihukum mati. Jadi, saya akan mencambuk dia dan membebaskannya.”—Lukas 23:14-16.
Pilatus ingin sekali membebaskan Yesus. Dia tahu bahwa para imam menangkap Yesus karena merasa iri. Dia juga semakin yakin karena istrinya mendapat mimpi yang kelihatannya berasal dari Allah. Saat Pilatus duduk di kursi penghakiman, istrinya mengirimkan pesan ini: ”Jangan berurusan dengan orang benar itu. Hari ini aku sangat menderita dalam mimpiku karena dia.”—Matius 27:19.
Apakah Pilatus bisa membebaskan pria yang tidak bersalah ini?
-
-
Pilatus Berkata, ”Lihatlah Orang Ini!”Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 129
Pilatus Berkata, ”Lihatlah Orang Ini!”
MATIUS 27:15-17, 20-30 MARKUS 15:6-19 LUKAS 23:18-25 YOHANES 18:39–19:5
PILATUS BERUSAHA MEMBEBASKAN YESUS
ORANG YAHUDI MEMILIH BARABAS UNTUK DIBEBASKAN
YESUS DIHINA DAN DISIKSA
Kepada kerumunan orang yang ingin Yesus mati, Pilatus berkata, ”Saya tidak mendapati dasar untuk tuduhan kalian kepada orang ini. Herodes pun menganggap orang ini tidak bersalah.” (Lukas 23:14, 15) Sekarang, Pilatus mencoba cara lain untuk membebaskan Yesus. Dia berkata, ”Menurut kebiasaan kalian, saya harus membebaskan seorang tahanan setiap Paskah. Jadi apakah kalian ingin saya membebaskan Raja Orang Yahudi?”—Yohanes 18:39.
Pilatus tahu bahwa ada seorang tahanan bernama Barabas, yang terkenal sebagai perampok, pembunuh, dan pemberontak terhadap pemerintah. Pilatus bertanya, ”Kalian ingin saya bebaskan yang mana untuk kalian: Barabas atau Yesus yang disebut Kristus?” Karena dihasut oleh para imam kepala, orang-orang memilih Barabas. Pilatus bertanya lagi, ”Dari dua orang ini, yang mana yang kalian ingin saya bebaskan untuk kalian?” Mereka berteriak, ”Barabas”!—Matius 27:17, 21.
Dengan kecewa, Pilatus bertanya, ”Kalau begitu, Yesus yang disebut Kristus harus saya apakan?” Tanpa rasa bersalah, mereka semua menjawab, ”Bunuh dia di tiang!” (Matius 27:22) Mereka ingin membunuh orang yang tidak bersalah! Pilatus berkata, ”Kenapa? Kejahatan apa yang dia lakukan? Saya lihat dia tidak melakukan apa pun yang membuatnya pantas dihukum mati. Jadi saya akan mencambuk dia dan membebaskannya.”—Lukas 23:22.
Meski Pilatus sudah berulang kali mencoba untuk membebaskan Yesus, semua orang itu berteriak, ”Bunuh dia di tiang!” (Matius 27:23) Mereka benar-benar sudah dihasut para pemimpin agama! Padahal, Yesus bukan penjahat atau pembunuh, dan baru lima hari yang lalu dia disambut sebagai Raja di Yerusalem. Para murid Yesus mungkin ada di antara kerumunan orang itu, namun mereka diam saja dan berusaha tidak dikenali.
Pilatus sadar bahwa semua upayanya sia-sia. Orang-orang malah semakin rusuh. Jadi, Pilatus mengambil air dan mencuci tangannya di depan mereka lalu berkata, ”Saya tidak bertanggung jawab atas darah orang ini. Kalian yang harus bertanggung jawab.” Bukannya berubah pikiran, orang-orang itu justru mengatakan, ”Kami dan anak-anak kami bertanggung jawab atas darahnya.”—Matius 27:24, 25.
Pilatus tahu apa yang seharusnya dia lakukan, tapi dia memilih untuk mengikuti keinginan orang-orang. Jadi, dia membebaskan Barabas. Setelah itu, dia memerintahkan agar para prajuritnya melepaskan pakaian Yesus dan mencambukinya.
Setelah menyiksa Yesus, para prajurit itu membawa dia ke dalam istana. Seluruh pasukan berkumpul mengerumuni dia. Mereka memakaikan mahkota dari tanaman berduri di kepalanya. Mereka juga menyuruh Yesus memegang sebatang kayu, dan mereka memakaikan jubah ungu kemerahan padanya, yang seperti pakaian bangsawan. Mereka lalu mengejek dia, ”Hidup Raja Orang Yahudi!” (Matius 27:28, 29) Mereka meludahi Yesus dan terus menampar dia. Mereka mengambil kayu dari tangan Yesus lalu memakai itu untuk memukul kepalanya. Akibatnya, duri di mahkota tadi menusuk semakin dalam ke kulit kepalanya.
Selama menghadapi semua itu, Yesus tetap berani dan tenang. Pilatus begitu terkesan melihatnya. Dia pun sekali lagi berupaya agar Yesus tidak dihukum mati. Dia berkata, ”Lihatlah! Saya bawa dia ke luar supaya kalian tahu bahwa saya tidak menemukan kesalahan apa pun padanya.” Pilatus mungkin berharap orang-orang itu akan berubah pikiran saat melihat Yesus yang penuh memar dan luka. Sambil menunjuk Yesus, Pilatus berkata kepada orang-orang yang kejam itu, ”Lihatlah orang ini!”—Yohanes 19:4, 5.
Pilatus mengatakan hal itu dengan nada kasihan sekaligus kagum. Dia pasti bisa melihat bahwa Yesus tetap tenang dan tegar walaupun tubuhnya babak belur.
-
-
Yesus Dijatuhi Hukuman MatiYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 130
Yesus Dijatuhi Hukuman Mati
MATIUS 27:31, 32 MARKUS 15:20, 21 LUKAS 23:24-31 YOHANES 19:6-17
PILATUS KEMBALI BERUSAHA MEMBEBASKAN YESUS
YESUS DIVONIS MATI DAN DIBAWA KE TEMPAT DIA AKAN DIPANTEK
Yesus sudah dihina dan disiksa, dan Pilatus sudah berulang kali berusaha agar Yesus dibebaskan. Namun, para imam kepala dan pengikut mereka tetap berkeras agar Yesus dihukum mati. Mereka terus berteriak, ”Bunuh dia di tiang! Bunuh dia di tiang!” Pilatus menjawab, ”Kalian saja yang bawa dia dan bunuh dia. Saya tidak menemukan kesalahan apa pun padanya.”—Yohanes 19:6.
Orang Yahudi sudah menuduh Yesus sebagai musuh Kaisar. Tapi Pilatus tidak percaya. Jadi sekarang, mereka menuduh Yesus melanggar hukum agama Yahudi. Tuduhan ini sudah mereka pakai saat Yesus diadili oleh Sanhedrin. ”Kami punya hukum,” kata mereka, ”dan menurut hukum kami, dia harus mati, karena dia menyebut dirinya putra Allah.” (Yohanes 19:7) Ini pertama kalinya Pilatus mendengar tuduhan itu.
Dia lalu kembali ke istananya dan mencari cara untuk membebaskan Yesus yang sudah diperlakukan dengan kejam itu. Bisa jadi, dia juga ingat akan mimpi istrinya. (Matius 27:19) Pilatus bingung dengan tuduhan bahwa Yesus adalah ”putra Allah”. Setahu Pilatus, Yesus berasal dari Galilea. (Lukas 23:5-7) Jadi, dia bertanya kepada Yesus, ”Dari mana asalmu?” (Yohanes 19:9) Apakah Pilatus berpikir bahwa Yesus adalah dewa dan pernah hidup di surga?
Yesus sudah memberi tahu Pilatus bahwa dia adalah seorang raja dan bahwa Kerajaannya bukan bagian dari dunia ini. Jadi, Yesus merasa tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Dia diam saja. Pilatus pun tersinggung, dan dengan marah dia berkata, ”Kamu tidak mau bicara kepada saya? Apa kamu tidak tahu saya punya kuasa untuk membebaskan kamu dan untuk menghukum mati kamu?”—Yohanes 19:10.
Yesus menjawab, ”Kamu tidak punya kuasa apa pun atas saya kalau itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Karena itulah orang yang menyerahkan saya kepadamu punya dosa yang lebih besar.” (Yohanes 19:11) Kelihatannya, ”orang” yang Yesus maksudkan bukan hanya satu. Maksud Yesus, orang-orang seperti Kayafas, para imam lainnya, dan Yudas Iskariot lebih berdosa daripada Pilatus.
Pilatus kagum dengan sikap dan kata-kata Yesus. Dia juga semakin takut kalau-kalau Yesus memang dewa. Maka, dia sekali lagi berusaha melepaskan Yesus. Namun, orang Yahudi menakut-nakuti Pilatus, ”Kalau kamu bebaskan orang ini, kamu bukan sahabat Kaisar. Setiap orang yang menyebut dirinya raja sebenarnya melawan Kaisar.”—Yohanes 19:12.
Pilatus lalu membawa Yesus keluar lagi, dan dari kursi penghakimannya dia berkata kepada orang-orang, ”Lihatlah raja kalian!” Namun mereka berteriak, ”Singkirkan dia! Singkirkan dia! Bunuh dia di tiang!” Pilatus bertanya, ”Apa saya harus menghukum mati raja kalian?” Orang Yahudi sebenarnya tidak menyukai pemerintahan Romawi, tapi sekarang para imam kepala menjawab dengan lantang, ”Kami tidak punya raja lain selain Kaisar.”—Yohanes 19:14, 15.
Karena orang Yahudi terus memaksa, Pilatus akhirnya menyerah. Dia pun menjatuhkan hukuman mati atas Yesus. Para prajurit melepaskan jubah ungu Yesus dan memakaikan baju luarnya. Sekarang, Yesus harus berjalan ke tempat dia akan dipantek, dan dia harus membawa tiang siksaannya sendiri.
Pada hari Jumat tanggal 14 Nisan itu, hari sudah mulai siang. Sejak Kamis subuh, Yesus belum tidur, dan dia sudah disiksa habis-habisan. Selain itu, tiang yang harus Yesus bawa sangat berat. Jadi, Yesus kehabisan tenaga. Para prajurit pun memaksa seseorang yang sedang lewat, yaitu Simon dari Kirene di Afrika, untuk mengangkat tiang itu sampai ke tempat Yesus akan dipantek. Banyak orang mengikuti Yesus sambil menangisi dia dan memukuli diri karena sedih.
Yesus berkata kepada para wanita yang menangis, ”Wanita-wanita Yerusalem, jangan lagi tangisi aku. Tangisi diri kalian sendiri dan anak-anak kalian. Saatnya akan tiba ketika orang-orang akan berkata, ’Bahagialah wanita yang mandul, rahim yang tidak pernah melahirkan, dan buah dada yang tidak pernah menyusui!’ Lalu mereka akan mulai berkata kepada gunung-gunung, ’Tutupilah kami!’ dan kepada bukit-bukit, ’Sembunyikanlah kami!’ Kalau saat pohon masih segar saja mereka melakukan hal-hal ini, apa yang akan terjadi saat pohon itu layu?”—Lukas 23:28-31.
Yesus sedang membicarakan bangsa Yahudi. Bangsa itu bagaikan pohon yang hampir layu namun masih sedikit segar karena masih ada Yesus dan sejumlah orang Yahudi yang beriman kepadanya. Setelah Yesus pergi dan para pengikutnya tidak lagi memeluk agama Yahudi, bangsa itu akan layu secara rohani, bagaikan pohon yang mati. Ketika Allah memakai pasukan Romawi untuk menghukum bangsa itu, mereka semua akan menangis!
-
-
Sang Raja Dipantek di TiangYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 131
Sang Raja Dipantek di Tiang
MATIUS 27:33-44 MARKUS 15:22-32 LUKAS 23:32-43 YOHANES 19:17-24
YESUS DIPAKUKAN DI TIANG SIKSAAN
YESUS DIEJEK KARENA TANDA DI ATAS KEPALANYA
YESUS MENJANJIKAN KEHIDUPAN DI BUMI FIRDAUS
Yesus dibawa ke tempat yang disebut Golgota, atau Tempat Tengkorak. Letaknya dekat dengan Yerusalem dan dapat terlihat ”dari jauh”. (Markus 15:40) Di sanalah dia dan dua orang perampok akan dihukum mati.
Sesampainya di sana, para prajurit melepaskan pakaian ketiga pria itu lalu memberi mereka anggur yang dicampur dengan mur dan empedu. Kelihatannya, minuman ini dibuat oleh para wanita di Yerusalem, dan prajurit Romawi mengizinkan minuman yang bisa mengurangi rasa sakit ini diberikan kepada orang yang akan dihukum mati. Namun setelah mencicipinya, Yesus tidak mau minum. Mengapa? Yesus ingin sadar sepenuhnya selama ujian yang besar ini dan setia sampai mati.
Para prajurit membaringkan Yesus di atas tiang lalu memakukan tangan dan kakinya. (Markus 15:25) Yesus merasa sangat kesakitan saat paku-paku itu menembus daging dan jaringan di dekat tulangnya. Seraya tiang itu ditegakkan, rasa sakitnya semakin menjadi-jadi karena berat tubuh Yesus menarik dan merobek luka-lukanya. Namun, Yesus tidak marah kepada para prajurit itu. Dia justru berdoa, ”Bapak, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.”—Lukas 23:34.
Orang Romawi biasanya memasang papan yang bertuliskan kejahatan orang yang dihukum itu. Namun untuk Yesus, Pilatus menuliskan: ”Yesus orang Nazaret, Raja Orang Yahudi”. Gelar itu ditulis dalam bahasa Ibrani, Latin, dan Yunani supaya kebanyakan orang bisa mengerti. Ini menunjukkan bahwa Pilatus muak dengan tindakan orang Yahudi yang menuntut agar Yesus mati. Para imam kepala memprotes, ”Jangan tulis, ’Raja Orang Yahudi’, tapi tulis bahwa dia bilang, ’Saya Raja Orang Yahudi.’” Tapi, Pilatus tidak mau menjadi boneka mereka lagi. Dia menjawab, ”Apa yang sudah saya tulis tidak boleh diubah.”—Yohanes 19:19-22.
Para imam yang marah itu lalu mengulangi lagi kesaksian palsu yang mereka dengar ketika Yesus diadili oleh Sanhedrin. Karena itu, orang-orang yang lewat menggeleng-gelengkan kepala dan menghina Yesus, ”Kamu yang katanya mau merobohkan bait dan membangunnya dalam tiga hari, selamatkan dirimu dan turun dari tiang siksaan!” Para imam kepala dan ahli Taurat juga mengejek dia, ”Kristus, Raja Israel, harusnya turun dari tiang siksaan, supaya kita bisa lihat dan percaya.” (Markus 15:29-32) Bahkan dua perampok di sebelah kanan dan kiri Yesus juga menghinanya, padahal Yesus sama sekali tidak bersalah.
Keempat prajurit Romawi yang ada di sana juga mengejek Yesus. Mereka mungkin sedang minum anggur asam, dan mereka mengolok-olok Yesus dengan menawarkan minuman itu di depannya, padahal Yesus jelas-jelas tidak bisa mengambilnya. Mereka juga berkata, ”Kalau kamu Raja Orang Yahudi, selamatkan dirimu.” (Lukas 23:36, 37) Coba bayangkan! Yesus, yang adalah jalan, kebenaran, dan kehidupan, sekarang disiksa dan diejek. Meski begitu, Yesus menghadapi semuanya dengan tegar. Dia tidak mengecam orang-orang Yahudi yang menontonnya, para prajurit Romawi yang menghinanya, atau dua penjahat yang dipantek di sebelahnya.
Empat prajurit itu mengambil baju luar Yesus dan membaginya menjadi empat. Mereka melempar undi untuk menentukan siapa yang mendapat setiap bagian. Namun, baju bagian dalam Yesus sangat bagus, ”tidak ada jahitannya, ditenun dari atas sampai bawah”. Para prajurit itu berkata, ”Baju ini jangan disobek. Ayo kita lempar undi untuk tentukan siapa yang akan dapat baju ini.” Dengan demikian, ayat ini menjadi kenyataan: ”Mereka membagi-bagi bajuku untuk mereka sendiri, dan mereka melempar undi atas pakaianku.”—Yohanes 19:23, 24; Mazmur 22:18.
Setelah beberapa lama, salah satu penjahat yang dipantek bersama Yesus menyadari bahwa Yesus benar-benar seorang raja. Dia menegur penjahat yang satu lagi, ”Apa kamu sama sekali tidak takut kepada Allah? Kamu dapat hukuman yang sama dengan dia, dan kita memang pantas dihukum. Hukuman ini setimpal dengan perbuatan kita. Tapi orang ini sama sekali tidak bersalah.” Lalu dia memohon kepada Yesus, ”Ingatlah saya saat kamu masuk ke Kerajaanmu.”—Lukas 23:40-42.
Yesus menjawab, ”Dengan sungguh-sungguh saya berkata kepadamu hari ini, kamu akan bersama saya di Firdaus.” (Lukas 23:43) Janji ini berbeda dengan janji Yesus kepada para rasulnya, yaitu bahwa mereka akan memerintah bersamanya dalam Kerajaan Allah. (Matius 19:28; Lukas 22:29, 30) Penjahat ini, yang adalah orang Yahudi, kemungkinan besar tahu tentang Firdaus di bumi, yang dulu Allah berikan sebagai tempat tinggal Adam, Hawa, dan keturunannya. Sekarang, dia punya harapan untuk hidup di sana.
-
-
”Orang Ini Pasti Putra Allah”Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 132
”Orang Ini Pasti Putra Allah”
MATIUS 27:45-56 MARKUS 15:33-41 LUKAS 23:44-49 YOHANES 19:25-30
YESUS MATI DI TIANG SIKSAAN
BEBERAPA PERISTIWA LUAR BIASA TERJADI KETIKA YESUS MENINGGAL
Sekarang sudah ”jam 12 siang”. Tiba-tiba, ”seluruh daerah itu menjadi gelap sampai jam 3 sore”. (Markus 15:33) Ini bukan gerhana matahari, karena gerhana itu biasanya hanya berlangsung beberapa menit. Lagi pula, gerhana matahari biasanya terjadi ketika bulan di langit adalah bulan baru, sedangkan saat itu adalah minggu Paskah, waktunya bulan purnama. Jadi, kegelapan yang menakutkan ini pasti disebabkan oleh Allah!
Bayangkan perasaan para pengejek Yesus saat menyaksikan hal itu. Di tengah kegelapan, empat wanita mendekati tiang siksaan Yesus. Mereka adalah Maria ibu Yesus, Salome, Maria Magdalena, dan Maria ibu Rasul Yakobus Kecil.
Rasul Yohanes juga berdiri ”dekat tiang siksaan” bersama Maria. Maria merasa sangat sedih, seperti ”ditusuk sebuah pedang panjang”. (Yohanes 19:25; Lukas 2:35) Putra yang dia lahirkan dan besarkan sekarang kesakitan dan sekarat di tiang siksaan. Meskipun rasa sakitnya luar biasa, Yesus tetap memikirkan ibunya. Dengan susah payah, dia menunjuk Yohanes dengan kepalanya dan berkata kepada ibunya, ”Ibu, dia anak Ibu!” Dia lalu menunjuk Maria dengan kepalanya dan berkata kepada Yohanes, ”Dia ibumu!”—Yohanes 19:26, 27.
Yesus memercayakan ibunya, yang kelihatannya sudah menjanda, kepada rasul yang sangat dia sayangi. Adik-adik Yesus, yaitu anak-anak Maria yang lain, belum beriman kepadanya. Jadi, selain memperhatikan kebutuhan jasmani ibunya, Yesus juga memikirkan kebutuhan rohani Maria. Benar-benar contoh yang bagus!
Ketika hari mulai terang lagi, Yesus berkata, ”Saya haus.” Dengan demikian, sebuah nubuat tentang Mesias menjadi kenyataan. (Yohanes 19:28; Mazmur 22:15) Yesus tahu bahwa Bapaknya saat itu tidak melindungi dia supaya kesetiaannya bisa benar-benar diuji. Yesus berseru, ”Eli, Eli, lama sabakhtani?” yang artinya, ”Allahku, Allahku, kenapa Engkau meninggalkan aku?” Beberapa orang yang berdiri di dekat situ salah paham dan mengatakan, ”Lihat! Dia panggil-panggil Elia.” Lalu, seseorang merendam bunga karang dalam anggur asam, menaruhnya pada sebatang kayu, dan memberi Yesus minum. Tapi ada yang berkata, ”Biarkan saja dia! Coba lihat apa Elia akan datang untuk menurunkan dia.”—Markus 15:34-36.
Yesus kemudian berseru, ”Sudah selesai!” (Yohanes 19:30) Ya, semua hal yang Bapaknya ingin Yesus lakukan di bumi sudah dia selesaikan. Akhirnya Yesus berkata, ”Bapak, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku.” (Lukas 23:46) Yesus yakin bahwa Yehuwa akan membangkitkan dia. Setelah mengatakannya, Yesus menundukkan kepala dan mengembuskan napas terakhirnya.
Saat itu juga, terjadilah gempa bumi yang dahsyat, dan batu-batu terbelah. Gempa itu begitu besar sampai makam-makam di luar Yerusalem terbuka dan mayat-mayat ”terlempar ke luar”. Orang-orang yang melihat hal itu belakangan pergi ke ”kota suci” dan memberitahukan apa yang terjadi.—Matius 27:51-53.
Ketika Yesus meninggal, tirai panjang dan tebal yang memisahkan Ruang Kudus dan Ruang Mahakudus di bait terbagi dua, robek dari atas ke bawah. Peristiwa luar biasa ini menunjukkan bahwa Allah marah terhadap orang-orang yang membunuh Putra-Nya. Ini juga menjadi tanda bahwa mulai saat itu, terbukalah jalan bagi manusia untuk hidup di surga, yang dilambangkan oleh Ruang Mahakudus.—Ibrani 9:2, 3; 10:19, 20.
Orang-orang menjadi sangat takut. Perwira yang mengawasi eksekusi Yesus berkata, ”Orang ini pasti Putra Allah.” (Markus 15:39) Ketika Pilatus mengadili Yesus, perwira ini mungkin mendengar orang-orang berkata bahwa Yesus mengaku sebagai Putra Allah. Sekarang, dia yakin bahwa Yesus tidak bersalah dan memang Putra Allah.
Setelah mengalami semua kejadian yang luar biasa itu, orang-orang pulang sambil ”memukuli dada” karena sangat sedih dan malu. (Lukas 23:48) Banyak orang melihat kematian Yesus dari jauh. Di antara mereka, ada para wanita yang adalah pengikut Yesus dan kadang ikut bepergian bersama dia. Mereka juga menyaksikan semua peristiwa menakjubkan itu.
-
-
Yesus DimakamkanYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 133
Yesus Dimakamkan
MATIUS 27:57–28:2 MARKUS 15:42–16:4 LUKAS 23:50–24:3 YOHANES 19:31–20:1
JENAZAH YESUS DITURUNKAN DARI TIANG SIKSAAN
JENAZAHNYA DISIAPKAN UNTUK DIMAKAMKAN
PARA WANITA MELIHAT MAKAM YESUS KOSONG
Pada Jumat tanggal 14 Nisan ini, hari sudah sore. Sabat tanggal 15 Nisan akan dimulai saat matahari terbenam. Yesus sudah meninggal, tapi dua perampok di sebelahnya masih hidup. Menurut Taurat, mayat ”tidak boleh dibiarkan di tiang sepanjang malam” dan harus dimakamkan ”hari itu juga”.—Ulangan 21:22, 23.
Jumat itu disebut hari Persiapan karena orang-orang mempersiapkan makanan dan melakukan pekerjaan yang harus selesai sebelum Sabat. Tanggal 15 Nisan adalah ”hari Sabat besar”. (Yohanes 19:31) Itu disebut ”besar” karena pada hari itu ada dua Sabat sekaligus. Pertama, tanggal 15 Nisan itu adalah hari Sabtu, yang adalah Sabat mingguan. Selain itu, 15 Nisan adalah hari pertama Perayaan Roti Tanpa Ragi, yang selalu dijadikan Sabat.—Imamat 23:5, 6.
Jadi sekarang, orang-orang Yahudi meminta Pilatus untuk mempercepat kematian Yesus dan dua perampok di sebelahnya dengan mematahkan kaki mereka. Dengan begitu, mereka tidak bisa menaikkan tubuh mereka untuk bernapas. Para prajurit pun mematahkan kaki kedua perampok itu. Tapi Yesus sudah mati, jadi mereka tidak mematahkan kakinya. Ini sesuai dengan nubuat di Mazmur 34:20: ”Dia melindungi semua tulang orang itu; tak satu pun tulangnya dipatahkan.”
Untuk memastikan bahwa Yesus sudah mati, seorang prajurit menusuk bagian rusuknya dengan tombak, dan ”keluarlah darah dan air pada saat itu juga”. (Yohanes 19:34) Ini sesuai dengan nubuat lainnya: ”Mereka akan menatap orang yang mereka tusuk.”—Zakharia 12:10.
Yusuf dari kota Arimatea, ”seorang pria kaya” yang adalah anggota terhormat dari Sanhedrin, juga menyaksikan kematian Yesus. (Matius 27:57) Alkitab berkata bahwa dia adalah ”orang yang baik dan benar”, yang ”menantikan Kerajaan Allah”. Yusuf adalah ”murid Yesus tapi merahasiakannya karena takut kepada orang Yahudi”. Dia sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Sanhedrin untuk menghukum Yesus. (Lukas 23:50; Markus 15:43; Yohanes 19:38) Yusuf memberanikan diri untuk meminta jenazah Yesus kepada Pilatus. Pilatus memanggil perwira yang mengawasi eksekusi Yesus, dan perwira itu menyatakan bahwa Yesus sudah mati. Maka, Pilatus mengabulkan permintaan Yusuf.
Yusuf membeli kain linen yang halus dan bersih. Dia lalu menurunkan jenazah Yesus dari tiang dan membungkusnya dengan kain itu. Nikodemus, ”yang pernah menemui Yesus pada malam hari”, juga ikut mempersiapkan pemakaman Yesus. (Yohanes 19:39) Dia membawa sekitar 30 kilogram campuran mur dan gaharu yang mahal. Jenazah Yesus lalu dibungkus dengan kain-kain yang diberi campuran rempah itu, sesuai dengan kebiasaan penguburan orang Yahudi.
Yusuf punya satu makam yang dibuat dalam bukit batu dan masih baru. Jenazah Yesus dibaringkan di sana. Kemudian, sebuah batu besar digulingkan untuk menutup makam itu. Semua ini dilakukan dengan cepat-cepat, karena sebentar lagi Sabat dimulai. Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus Kecil mungkin juga ikut menyiapkan jenazah Yesus untuk dimakamkan. Mereka sekarang cepat-cepat ”pulang untuk mempersiapkan rempah-rempah dan minyak wangi”, yang akan digunakan untuk jenazah Yesus setelah hari Sabat.—Lukas 23:56.
Keesokan harinya, pada hari Sabat, para imam kepala dan orang Farisi menemui Pilatus. Mereka berkata, ”Pak, kami ingat bahwa ketika penipu itu masih hidup, dia berkata, ’Setelah tiga hari, saya akan dibangkitkan.’ Jadi perintahkanlah agar kuburan itu dijaga ketat sampai hari ketiga, supaya murid-muridnya tidak datang mencuri jenazahnya dan berkata kepada orang-orang, ’Dia sudah dibangkitkan dari antara orang mati!’ Kalau itu terjadi, tipuan yang terakhir ini akan lebih parah daripada yang sebelumnya.” Pilatus berkata, ”Kalian boleh membawa penjaga. Jagalah kuburan itu seketat mungkin.”—Matius 27:63-65.
Pagi-pagi sekali pada hari Minggu, Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, dan wanita-wanita lainnya membawa rempah-rempah ke makam Yesus. Mereka berkata satu sama lain, ”Siapa yang akan menggulingkan batu penutup makam itu untuk kita?” (Markus 16:3) Namun, makam itu sudah terbuka karena ada gempa besar yang terjadi, dan malaikat Allah sudah menggulingkan batu penutup makam itu. Malah, sekarang makam itu tidak dijaga lagi dan sudah kosong!
-