-
Penyakit dan Kematian—Apa Penyebabnya?Kebahagiaan—Cara Memperolehnya
-
-
Pasal 11
Penyakit dan Kematian—Apa Penyebabnya?
Mengapa penyakit dan kematian menyebabkan kebingungan? (1, 2)
APAPUN yang manusia lakukan untuk menjaga kesehatan, mereka tetap menjadi tua, sakit dan akhirnya mati. Tak seorang pun dapat menghindarinya. Orang-orang yang berbakti kepada Allah pun tidak terkecuali. (1 Raja 1:1; 2:1, 10; 1 Timotius 5:23) Mengapa demikian?
2 Sel-sel tubuh mempunyai kesanggupan yang lebih lama dari pada yang sekarang, untuk menggantikan sel-sel yang aus, dan kapasitas otak lebih besar dari pada yang dapat kita gunakan dalam masa hidup yang berulang-ulang sekalipun. Jadi untuk apa, jika kemampuan ini tidak digunakan? Memang, para ilmiawan tidak dapat menjelaskan mengapa kita menjadi tua, sakit dan mati. Tetapi Alkitab menjelaskan.
PENYEBAB PENYAKIT DAN KEMATIAN
Bagaimana penyakit dan kematian mempengaruhi kita? (3-5)
3 Rasul Paulus dengan tepat menunjukkan, ”Semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam.” (1 Korintus 15:21, 22) Di sini Paulus menunjuk kepada uraian Alkitab tentang Adam dan Hawa, yang diteguhkan kesaksamaannya oleh Yesus Kristus. (Markus 10:6-8) Pencipta telah menaruh pasangan pertama di suatu taman, dengan harapan bahagia untuk hidup kekal selaras dengan kehendakNya. Ada cukup makanan yang sehat dari berbagai pohon dan tumbuhan lainnya. Lagi pula, Adam dan Hawa adalah manusia sempurna. Pikiran dan tubuh mereka tidak bercacat dan tidak akan merosot, seperti halnya manusia sekarang.—Ulangan 32:4; Kejadian 1:31.
4 Hanya satu pembatasan yang dikenakan atas pasangan manusia pertama. Allah berkata, ”Pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:17) Jika mereka mentaati pembatasan ini, berarti mereka memperlihatkan pengakuan terhadap wewenang Allah untuk menentukan apa yang baik dan apa yang buruk bagi manusia. Kemudian, ternyata mereka menetapkan sendiri patokan-patokan mengenai baik dan jahat. (Kejadian 3:6, 7) Dengan melanggar perintah Allah yang jelas dinyatakan, mereka melakukan apa yang Alkitab sebut sebagai ”dosa”. Dalam bahasa Ibrani maupun Yunani, ”berdosa” berarti ”tidak mengena pada [sasaran]”. Tindakan Adam dan Hawa tidak mengena pada sasaran atau tidak mengikuti ketaatan yang sempurna. Mereka tidak lagi mencerminkan kesempurnaan Yehuwa, dan mereka mendatangkan atas diri mereka hukuman yang adil dari Allah.—Lukas 16:10.
5 Dosa Adam dan Hawa mempengaruhi mereka sendiri dan juga kita. Mengapa kita turut dipengaruhi? Ya, Allah tidak segera menjatuhi hukuman mati atas mereka. Karena memperhitungkan segala yang tersangkut, Yehuwa membiarkan pasangan pertama itu menurunkan anak-anak. Tetapi Adam dan Hawa tidak lagi sempurna; setelah berdosa, mereka mulai mengalami kemerosotan jasmani dan pikiran. Mereka tidak dapat lagi menghasilkan anak-anak yang sempurna. (Ayub 14:4) Dapat dibandingkan dengan suami istri dewasa ini yang memiliki cacat genetika yang mereka turunkan kepada anak-anak mereka. Kita mewarisi cacat akibat dosa, sebab kita semua berasal dari pasangan pertama yang tidak sempurna. Paulus menjelaskan, ”Sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang [Adam], dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.”—Roma 5:12; Mazmur 51:5.
Mengapa jalan keluar bagi penyakit dan kematian ada di tangan Allah? (6, 7)
6 Apakah ini berarti tidak ada lagi harapan? Sejarah maupun Alkitab meneguhkan bahwa dengan usaha manusia memang tidak ada harapan. Kita tidak sanggup membersihkan diri dari akibat dosa atau membebaskan diri dari kutukan Allah. Kalau memang akan ada pembebasan, Allah yang dapat menyediakannya. HukumNya yang dilanggar, maka Ia yang dapat menentukan bagaimana keadilan yang sempurna dapat dipenuhi seraya pembebasan diadakan. Allah Yehuwa memperlihatkan kemurahanNya yang tidak terhingga dengan memberikan keringanan bagi keturunan Adam dan Hawa; termasuk kita. Alkitab menjelaskan apa persediaan ini dan bagaimana kita dapat mengambil manfaat.
7 Ayat-ayat berikut ini dapat menjadi dasar untuk memahaminya:
”Begitu besar kasih Allah akan dunia ini [umat manusia], sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”—Yohanes 3:16.
”Anak Manusia [Yesus] juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.”—Markus 10:45.
”Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darahNya.”—Roma 3:23-25.
APA ARTINYA ”TEBUSAN”?
Bagaimana tebusan telah disediakan? (8-11)
8 Dua dari ayat-ayat di atas menyebut tentang ”tebusan”. Pada dasarnya tebusan berarti harga yang dibayarkan untuk membebaskan tawanan. (Yesaya 43:3) Sering kita dengar perkataan yang digunakan sehubungan dengan uang untuk membebaskan korban penculikan. Dalam hal ini, yang ditawan adalah umat manusia. Adam menjual kita ke dalam perbudakan dosa, yang mengakibatkan penyakit dan kematian. (Roma 7:14) Barang apa yang cukup nilainya sehingga dapat membeli umat manusia dan membuka bagi kita kemungkinan untuk hidup bebas dari akibat-akibat dosa?
9 Ingatlah, Alkitab mengatakan bahwa Yesus ’memberikan kehidupannya sebagai tebusan’. (Markus 10:45) Maka jelas bahwa kehidupan manusia dibutuhkan. Dengan berbuat dosa, Adam telah kehilangan kehidupan manusia sempurna. Supaya jalan terbuka bagi umat manusia untuk memperoleh kembali kehidupan yang sempurna, kehidupan manusia sempurna lainnya dibutuhkan untuk memulihkan atau membeli kembali apa yang dihilangkan oleh Adam. Maka semakin jelas mengapa dari keturunan Adam yang tidak sempurna tidak ada yang dapat menyediakan tebusan ini. Sebagaimana dikatakan di Mazmur 49:8, 9, ”Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau memberi tebusan kepada Allah ganti nyawanya, karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya.”
10 Untuk menyediakan harga tebusan, Allah mengutus Putra rohaniNya yang sempurna dari surga untuk dilahirkan sebagai manusia. Seorang malaikat menjelaskan kepada Maria, sang perawan yang suci, bagaimana Allah akan menjamin kesempurnaan Yesus pada waktu lahir, ”Kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Lukas 1:35; Galatia 4:4) Karena Yesus tidak mempunyai ayah manusia yang tidak sempurna, ia bebas dari dosa warisan.—1 Petrus 2:22; Ibrani 7:26.
11 Setelah hidup sebagai manusia yang selaras sepenuhnya dengan kehendak Allah, Kristus menyerahkan kehidupan manusianya yang sempurna. Karena kehidupan tersebut sama seperti yang Adam miliki ketika ia diciptakan, Yesus menjadi suatu ”tebusan yang sesuai bagi sekalian”. (1 Timotius 2:5, 6, NW; 1 Korintus 15:45) Ya, ”bagi sekalian”, karena ia membayarkan harga untuk menebus segenap keluarga manusia. Sesuai dengan itu, Alkitab mengatakan bahwa kita telah ”dibeli dan harganya telah lunas dibayar”. (1 Korintus 6:20) Melalui kematian Yesus, Allah membubuh dasar untuk melenyapkan perbuatan Adam yang mendatangkan dosa, penyakit dan kematian atas umat manusia. Kebenaran ini dapat mempunyai arti yang nyata dalam menjadikan kehidupan kita bahagia.
BAGAIMANA DOSA-DOSA KITA DAPAT DIAMPUNI?
Apa dasar yang ada untuk mengampuni dosa kita? (12-17)
12 Sangat baik untuk mengetahui dari Alkitab bahwa Yesus telah membayar harga tebusan. Tetapi, masih ada sesuatu yang dapat merintangi perkenan dan berkat Allah. Rintangan ini adalah keadaan kita secara pribadi sebagai pedosa. Tindakan kita sering ’tidak mengena pada sasaran’. Paulus menulis, ”Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” (Roma 3:23) Apa yang dapat dilakukan? Bagaimana kita dapat diperkenan oleh Yehuwa, Allah kita yang adil?
13 Tentu Allah tidak dapat diharapkan memperkenan kita jika kita terus menempuh haluan yang telah kita ketahui bertentangan dengan kehendakNya. Kita harus ikhlas bertobat dari keinginan, tutur kata dan tingkah laku yang salah, kemudian berusaha menyelaraskan diri dengan patokanNya yang dinyatakan dalam Alkitab. (Kisah 17:30) Namun dosa-dosa kita—di masa lalu dan sekarang—perlu dihapuskan. Korban tebusan Yesus menolong kita. Paulus menunjukkan hal ini, dengan menulis bahwa Allah ’menentukan Yesus sebagai suatu korban yang mendamaikan melalui iman kepada darahnya’.—Roma 3:24, 25.
14 Di sini sang rasul memaksudkan sesuatu yang Allah telah tetapkan lama sebelumnya, yang akan menggambarkan atau menunjuk kepada Kristus. Di jaman Israel purbakala korban-korban binatang untuk dosa secara teratur dipersembahkan demi kepentingan orang banyak. Dan masing-masing mereka dapat membuat korban-korban karena kesalahan untuk kasus pelanggaran yang bersifat khusus. (Imamat 16:1-34; 5:1-6, 17-19) Allah menerima korban-korban berdarah ini untuk menghapuskan atau membatalkan dosa-dosa manusia. Tetapi hal ini tidak menghasilkan pembebasan yang kekal, sebab Alkitab mengatakan bahwa ”tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa”. (Ibrani 10:3, 4) Akan tetapi, corak-corak ibadat ini, yang menyangkut para imam, bait, mezbah dan korban-korban menjadi ”kiasan” atau ”bayangan saja dari keselamatan yang akan datang” yang menyangkut korban Yesus.—Ibrani 9:6-9, 11, 12; 10:1.
15 Alkitab memperlihatkan betapa penting hal ini bagi kita untuk memperoleh pengampunan, ”Sebab di dalam Dia dan oleh darahNya [Yesus] kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa.” (Efesus 1:7; 1 Petrus 2:24) Jadi, selain bahwa kematiannya menyediakan tebusan, dosa-dosa kita dapat dihapuskan; kita dapat meminta agar dosa-dosa kita diampuni. Tetapi sesuatu dituntut dari kita. Karena kita telah ditebus, ya, ”dan harganya telah lunas dibayar” melalui tebusan Kristus, kita harus rela menyambut Yesus sebagai Pemimpin atau Pemilik kita dan mentaati dia. (1 Korintus 6:11, 20; Ibrani 5:9) Karena itu, kita perlu bertobat dari dosa-dosa kita disertai dengan iman kepada korban Yesus Pemimpin kita.
16 Jika kita berbuat demikian, kita tidak menunggu pengampunan sampai Allah membebaskan umat manusia dari segala akibat dosa, mengakhiri penyakit dan kematian. Alkitab menyebut tentang pengampunan ini sebagai sesuatu yang dapat kita nikmati sekarang juga, sehingga menghasilkan perasaan hati yang bersih di hadapan Allah.—1 Yohanes 2:12.
17 Karena itu, hendaknya korban Yesus memberi arti yang sangat bersifat pribadi bagi kita setiap hari. Dengan demikian Allah dapat mengampuni kesalahan-kesalahan yang kita perbuat. Rasul Yohanes menjelaskan, ”Hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil”. (1 Yohanes 2:1; Lukas 11:2-4) Ini merupakan ajaran Alkitab yang utama dan sangat penting untuk kebahagiaan kekal kita.—1 Korintus 15:3.
APA YANG AKAN ANDA LAKUKAN?
Bagaimana reaksi anda terhadap apa yang telah dilakukan oleh Allah dan Yesus? (1 Yohanes 4:9-11) (18-21)
18 Bagaimana reaksi anda terhadap pernyataan Alkitab tentang penyebab penyakit dan kematian, tebusan serta persediaan untuk pengampunan melalui Yesus Kristus? Seseorang bisa saja mengerti perincian-perincian ini secara mental walaupun hal tersebut tidak menyentuh hati dan kehidupannya. Maka lebih banyak yang dituntut dari kita.
19 Apakah kita menghargai kasih Allah dalam menyediakan tebusan? Rasul Yohanes menulis, ”Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal.” (Yohanes 3:16) Ingat bahwa manusia-manusia yang tersangkut adalah para pedosa, yang terasing jauh dari Allah. (Roma 5:10; Kolose 1:21) Maukah anda menyerahkan orang yang paling anda cintai demi kepentingan orang-orang lain yang kebanyakan di antaranya tidak begitu berminat atau sama sekali tidak berminat kepada anda? Namun Yehuwa telah mengatur supaya PutraNya yang setia dan tidak bercela, Putra SulungNya yang kekasih, datang ke bumi menghadapi penghinaan, cemoohan dan kematian untuk menyediakan pembebasan bagi umat manusia. Hal ini menggugah Paulus untuk menulis, ”Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”—Roma 5:8.
20 Sang Putra juga memperlihatkan kasihnya. Setelah tiba waktunya, dengan rela ia merendahkan diri menjadi manusia. Ia menjadi hamba bagi manusia-manusia yang tidak sempurna, mengajar dan menyembuhkan mereka. Dan, walaupun tidak berdosa, ia menerima ejekan, siksaan serta kematian keji di tangan musuh-musuh kebenaran. Untuk menghargai hal ini, bacalah baik-baik uraian kejadian pada waktu Yesus dikhianati, diperiksa, dicaci maki dan dihukum mati, sebagaimana dicatat di Lukas 22:47 sampai 23:47.
21 Bagaimana reaksi anda terhadap semua ini? Jika seseorang menerima persediaan yang penuh kasih, tentu hal ini bukan alasan untuk melakukan perbuatan yang salah. Sebab jika demikian, persediaan itu menjadi sia-sia, dan sikap sedemikian bahkan bisa menyebabkan dosa yang tidak dapat diampuni. (Ibrani 10:26, 29; Bilangan 15:30) Sebaliknya, kita patut berusaha hidup dengan cara yang mendatangkan hormat bagi Pencipta kita. Dan iman kepada persediaan menakjubkan yang diadakan melalui PutraNya hendaknya menggugah kita untuk berbicara kepada orang-orang lain mengenai hal ini, membantu mereka untuk menyadari bagaimana mereka pun dapat mengambil manfaat.—Kisah 4:12; Roma 10:9, 10; Yakobus 2:26; 2 Korintus 5:14, 15.
Pengampunan atas dosa-dosa kita dapat melibatkan harapan apa? (22)
22 Ketika Yesus Kristus ada di bumi ia mengatakan bahwa ia dapat mengulurkan pengampunan Allah atas dosa-dosa. Beberapa musuh mengecam dia atas hal tersebut. Maka Yesus membuktikannya dengan menyembuhkan seorang pria yang lumpuh. (Lukas 5:17-26) Jadi, sebagaimana dosa menyebabkan akibat-akibat jasmani pada diri umat manusia, pengampunan dosa dapat menghasilkan manfaat. Hal ini penting diketahui. Apa yang Yesus lakukan di bumi memperlihatkan bahwa Allah dapat mengakhiri penyakit dan kematian. Hal ini selaras dengan apa yang Yesus Kristus sendiri katakan, yakni, bahwa Allah Yehuwa memberikan PutraNya sehingga orang-orang yang beriman dapat memperoleh ”hidup yang kekal”. (Yohanes 3:16) Tetapi bagaimana caranya? Kapan terwujud? Dan bagaimana dengan orang-orang yang kita cintai yang telah meninggal?
-
-
Kematian Bukanlah Musuh yang Tak TerkalahkanKebahagiaan—Cara Memperolehnya
-
-
Pasal 12
Kematian Bukanlah Musuh yang Tak Terkalahkan
Mengapa kita patut menyelidiki kematian, ”musuh” itu? (Ayub 14:1, 2) (1-3)
KEMATIAN adalah musuh kehidupan. Pada setiap upacara penguburan, kematian seolah-olah bagaikan raja yang berhasil mengalahkan segala-galanya. (Roma 5:14) Ada pohon yang hidup lebih dari 1.000 tahun; ikan ada yang hidup 150 tahun; tetapi umur manusia hanya 70 atau 80 tahun sebelum kematian menelannya.—Mazmur 90:10.
2 Dengan tepat Alkitab menyebut kematian sebagai musuh. Jelas bahwa sejak lahir kita ingin hidup dan belajar tanpa henti-hentinya. Namun, apapun yang telah dipelajari oleh seseorang, apapun keahliannya, betapa terhormat pun ia dalam pandangan sahabat-sahabat serta sanak keluarganya, kematian menelan dia. (Pengkhotbah 3:11; 7:2) Kebanyakan orang, yang setuju bahwa kematian itu suatu musuh, berusaha habis-habisan menunda kemenangan di pihak kematian. Yang lain-lain dengan gila-gilaan mencari segala kesenangan dari kehidupan sebelum mereka dikalahkan.
3 Namun, sepanjang sejarah banyak orang percaya adanya kehidupan setelah mati. Plato, sang filsuf Yunani, mengajarkan bahwa kita mempunyai jiwa yang tak dapat mati biarpun tubuh telah mati. Benarkah demikian? Minat mengenai hal ini telah digugah oleh cerita-cerita yang dilaporkan belakangan ini, mengenai orang-orang yang dianggap telah mati dan sadar kembali, yang kemudian melukiskan apa yang mereka ’lihat di balik pintu kematian’. Apakah orang mati hidup di tempat lain? Dapatkah kematian dikalahkan?
KEMENANGAN PERTAMA BAGI KEMATIAN
Bagaimana kematian menimpa umat manusia? (4, 5)
4 Alkitab memperlihatkan bahwa manusia diciptakan untuk hidup, bukan untuk mati. Allah menempatkan Adam dan Hawa di suatu taman yang menyenangkan. Di sana mereka dapat menikmati kehidupan. Ia menetapkan salah satu pohon sebagai ”pohon kehidupan”. Rupanya, jika Adam dan Hawa membuktikan penghargaan serta loyalitas kepada Allah, Ia akan mengijinkan mereka makan dari pohon itu, yang melambangkan karuniaNya berupa hidup kekal bagi mereka. (Kejadian 1:30; 2:7-9) Tetapi, Adam dan Hawa lebih suka tidak mentaati Allah. Dosa mereka mendatangkan hukuman mati atas diri mereka.—Kejadian 3:17-19.
5 Supaya kita mengerti apakah kematian memang musuh yang tak terkalahkan, kita perlu memeriksa akibat dari kemenangan maut atas Adam dan Hawa. Apakah mereka ”mati” sepenuhnya? Atau apakah ”maut” hanya suatu peralihan kepada bentuk kehidupan yang berbeda?
Apa artinya ”kematian” bagi Adam? (6, 7)
6 Setelah Adam dengan bodoh berbuat dosa, Yehuwa melaksanakan perkataanNya yang adil dan benar. Ia berkata kepada Adam:
”Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.”—Kejadian 3:19.
Apa artinya ini bagi adam dan bagi kita dewasa ini?
7 Uraian sebelumnya tentang penciptaan Adam mengatakan, ”Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Kejadian 2:7) Pikirkan apa artinya itu. Sebelum Allah menciptakan dia dari debu, Adam tidak ada. Maka, setelah ia mati dan kembali kepada debu, Adam juga tidak ada.—Kejadian 5:3-5.
APAKAH ORANG-ORANG MATI SADAR?
Bagaimana dapat diperlihatkan dari Alkitab kepada seseorang apakah orang mati masih sadar? (8-11)
8 Mungkin banyak orang kaget mendengar bahwa sekali Adam mati ia tidak ada lagi. Namun hukuman yang dinyatakan untuk dosa—Adam mati dan kembali kepada debu tanah—sedikit pun tidak mengisyaratkan adanya kehidupan setelah itu. Kematian adalah lawan dari kehidupan, bagi manusia maupun binatang. Keduanya memiliki ’roh’, atau daya kehidupan yang sama. Maka Alkitab mengomentari:
”Nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya mempunyai nafas [roh] yang sama, dan manusia tak mempunyai kelebihan atas binatang, . . . kedua-duanya terjadi dari debu dan kedua-duanya kembali kepada debu.”—Pengkhotbah 3:19, 20.
9 Apakah ini berarti bahwa orang mati tidak dapat berpikir atau merasa? Pengkhotbah 9:4, 5 menjawab, ”Anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati. Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa.” Bila seseorang mati, ”lenyaplah maksud-maksudnya”, ia tidak mampu untuk merasa atau untuk bekerja.—Mazmur 146:3, 4; 31:17.
10 Karena Alkitab mengatakan dengan pasti bahwa orang mati tidak sadar dan tidak punya perasaan, ini berarti bahwa kematian mengakhiri kepedihan dan penderitaan. Ayub, seorang hamba Allah yang setia mengetahui hal ini. Ketika ia menderita penyakit yang tidak tertahankan ia berkata,
”Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, . . . Mengapa pangkuan menerima aku; mengapa ada buah dada, sehingga aku dapat menyusu? Jikalau tidak, aku sekarang berbaring dan tenang; aku tertidur dan mendapat istirahat.”—Ayub 3:11-13.
11 Tetapi apakah jiwa juga telah dipertimbangkan dalam hal ini?
Menurut Alkitab, apakah ”jiwa”? (12, 13)
12 Secara sederhana, Alkitab mengajarkan bahwa jiwa anda adalah anda. Apa yang anda baca di Kejadian 2:7 memperlihatkan hal ini. Ingatlah bahwa Allah membentuk tubuh manusia dari debu. Kemudian Allah menyediakan kehidupan dan nafas yang perlu untuk kelangsungan hidup. Hasilnya? Menurut firman Allah sendiri, manusia ”menjadi makhluk [jiwa; Ibrani, nefesy] yang hidup”. (Kejadian 2:7) Adam tidak diberikan jiwa, dan dia tidak memiliki jiwa. Dia adalah jiwa. Alkitab konsekwen dalam mengajarkan hal ini. Berabad-abad kemudian rasul Paulus mengutip Kejadian 2:7, dan menulis, ”Manusia pertama, Adam menjadi makhluk [jiwa; Yunani, psykhe] yang hidup.”—1 Korintus 15:45.
13 Kata Ibrani nefesy dan kata Yunani psykhe, yang terdapat dalam ayat-ayat ini, diterjemahkan dengan berbagai cara. Di Yehezkiel 18:4 dan Matius 10:28 nyata bahwa, dalam banyak versi Alkitab, kata-kata itu disalin sebagai ”jiwa”. Di tempat-tempat lain kata-kata asli yang sama diterjemahkan sebagai ”makhluk”, atau ”pribadi”. Terjemahan-terjemahan ini tepat untuk kata-kata aslinya, dan dengan memperbandingkan kata-kata tersebut nyata bahwa jiwa adalah makhluk atau pribadi itu sendiri, bukan bagian yang tidak kelihatan dari manusia. Alkitab menerapkan kata-kata bahasa asli yang sama terhadap binatang, yang memperlihatkan bahwa binatang juga jiwa atau mempunyai kehidupan sebagai jiwa.—Kejadian 2:19; Imamat 11:46; Wahyu 8:9.
Dapatkah jiwa mati, dan kesimpulan-kesimpulan lain apa yang timbul? (14-16)
14 Sebagai jiwa, Adam, atau kita masing-masing, dapat makan, merasa lapar dan lelah. Dalam bahasa Ibrani asli, Alkitab mengatakan bahwa jiwa melakukan semua ini. (Ulangan 23:24; Amsal 19:15; 25:25) Ketika menyatakan suatu larangan yang berlaku atas orang Israel mengenai bekerja pada hari tertentu, Allah menjelaskan pokok penting lain mengenai jiwa, ”Setiap jiwa yang melakukan pekerjaan apa pun pada hari ini juga, aku harus membinasakan jiwa itu dari tengah-tengah bangsanya.” (Imamat 23:30, NW) Karena itu, Alkitab, di sini dan di banyak ayat lain, memperlihatkan bahwa jiwa dapat mati.—Yehezkiel 18:4, 20; Mazmur 33:19.
15 Dengan mengetahui kebenaran Alkitab sedemikian kita dibantu untuk menilai cerita-cerita yang timbul belakangan ini mengenai orang-orang yang dianggap telah mati (karena tidak adanya denyut jantung yang dapat diamati atau kegiatan otak), tetapi yang kemudian sadar dan setelah itu bercerita seolah-olah mereka melayang-layang di luar tubuh. Satu kemungkinan adalah bahwa mereka mungkin mengalami halusinasi akibat obat-obatan atau keadaan otak yang sangat kekurangan oksigen. Apakah demikian penyebab sepenuhnya atau tidak, kita tahu pasti bahwa tidak ada jiwa yang tidak kelihatan meninggalkan tubuh.
16 Juga, jika orang mati sama sekali tidak sadar dan tidak ada ”jiwa” yang melayang ke luar dari tubuh, berarti tidak mungkin ada neraka yang bernyala-nyala menanti jiwa dari orang jahat, bukan? Namun banyak gereja mengajarkan bahwa orang jahat akan disiksa setelah mati, patutlah apabila beberapa orang merasa terganggu, sehingga mereka mengajukan pertanyaan, ’Mengapa agama kami tidak memberitahu kebenaran tentang orang mati?’ Bagaimana tanggapan anda sendiri?—Bandingkan Yeremia 7:31.
MASA DEPAN APA BAGI ORANG MATI?
Apa yang terjadi atas seseorang setelah kematian? (17-20)
17 Jika satu-satunya harapan bagi orang-orang yang masih hidup adalah keadaan tidak sadar dalam kematian, berarti kematian merupakan musuh yang tidak terkalahkan. Tetapi Alkitab memperlihatkan bahwa halnya tidak demikian.
18 Orang mati segera akan masuk ke dalam kuburan. Bahasa-bahasa yang dipakai dalam menulis Alkitab mempunyai kata-kata untuk tempat orang mati, kuburan umum manusia. Dalam bahasa Ibrani tempat itu disebut Syeol, dan Hades dalam bahasa Yunani. Kata-kata ini telah diterjemahkan dalam beberapa Alkitab dengan istilah ”kuburan”, ”lubang”, ”dunia orang mati”, atau ”neraka”. Bagaimanapun kata-kata itu diterjemahkan, arti dari istilah-istilah ini dalam bahasa asli bukan tempat penderitaan yang panas melainkan kuburan dari orang-orang mati yang tidak sadar. Kita membaca:
”Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati [Syeol, neraka, Douay Version; kuburan, Authorized Version], ke mana engkau akan pergi.”—Pengkhotbah 9:10.
Rasul Petrus mengatakan dengan pasti bahwa setelah kematian Yesus sendiri pergi ke kuburan, ke Syeol, Hades atau neraka.—Kisah 2:31; bandingkan Mazmur 16:10.
19 Tentu saja, orang yang mati tidak berkuasa mengubah keadaan dirinya. (Ayub 14:12) Jadi apakah keadaan tidak sadar dalam kematian satu-satunya yang dapat diharapkan di masa depan? Ya, bagi beberapa orang. Alkitab mengajarkan bahwa orang-orang yang sama sekali ditolak oleh Allah akan tetap mati selama-lamanya.—2 Tesalonika 1:6-9.
20 Orang-orang Yahudi purbakala percaya bahwa orang-orang yang sangat jahat tidak mempunyai masa depan setelah kematian. Orang-orang Yahudi tidak menguburkan orang-orang sedemikian. Sebaliknya, mereka melemparkan mayat-mayat tersebut ke dalam sebuah lembah di luar Yerusalem. Di sana api terus bernyala menghanguskan sampah-sampah. Ini disebut Lembah Hinnom, atau Gehenna. Sambil menarik perhatian pada kebiasaan ini, Yesus menggunakan Gehenna sebagai lambang pembinasaan yang total, tanpa harapan di masa depan. (Matius 5:29, 30) Misalnya, ia berkata:
”Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka [Yunani, Gehenna].”—Matius 10:28.
Tetapi, berdasarkan kata-kata Yesus ini dapat kita harapkan bahwa banyak orang yang telah mati akan hidup lagi di masa depan, sehingga akan mengalahkan kematian.
KEMENANGAN MELALUI KEBANGKITAN
Bagaimana kemenangan atas kematian dapat dicapai? (21, 22)
21 Sebagai salah satu perbuatan yang terpenting dalam sejarah, Allah membangkitkan Yesus Kristus kepada kehidupan setelah ia mati selama beberapa hari. Yesus menjadi makhluk roh yang hidup, seperti pada waktu ia belum datang ke bumi. (1 Korintus 15:42-45; 1 Petrus 3:18) Ratusan orang menyaksikan Yesus menampakkan diri setelah ia dibangkitkan. (Kisah 2:22-24; 1 Korintus 15:3-8) Para saksi ini rela mengalami risiko atas kehidupan mereka demi mendukung iman akan kebangkitan Yesus. Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa kematian bukan musuh yang tidak terkalahkan. Ternyata kemenangan atas kematian dapat dicapai!—1 Korintus 15:54-57.
22 Kemenangan lebih jauh atas kematian juga dapat dicapai. Kehidupan manusia di bumi dapat dipulihkan. Yehuwa, yang tidak dapat berdusta, memastikan dalam firmanNya ”bahwa ada kelak kebangkitan dari pada mati, baik bagi orang yang benar [yang mengetahui dan melakukan kehendak Allah], baik bagi orang yang tidak benar [yang tidak mempraktekkan kebenaran]”.—Kisah 24:15, Bode.
Mengapa masa depan bisa menggairahkan? (23-25)
23 Kita dapat menaruh keyakinan akan kemampuan Allah untuk memulihkan orang-orang kepada kehidupan manusia. Manusia sanggup merekam gambar, suara dan gerak-gerik seseorang pada film atau pita video. Apakah Allah tidak dapat berbuat jauh lebih dari itu? IngatanNya jauh lebih luas dari pada film atau pita apapun, sehingga dapat dengan sempurna menciptakan kembali orang-orang yang Ia ingin bangkitkan. (Mazmur 147:4) Ia telah membuktikan hal ini. Alkitab memuat sejumlah uraian tentang cara Allah menggunakan PutraNya untuk memulihkan manusia kepada kehidupan. Anda dapat membaca dua uraian yang menggairahkan ini di Yohanes 11:5-44 dan Lukas 7:11-17. Dengan alasan yang kuat para penyembah Allah di masa lampau menanti-nantikan saatnya Ia akan mengingat dan membangkitkan mereka. Kejadian ini akan sama seperti membangunkan mereka dari keadaan tidur yang tidak sadar.—Ayub 14:13-15.
24 Kebangkitan di masa lampau pasti membuat sanak keluarga dan teman-teman sangat bersukacita. Tetapi kebangkitan ini hanya sementara mengalahkan kematian, sebab orang yang dibangkitkan mati lagi. Namun, hal ini memberikan bagi kita bayangan yang menggairahkan, sebab Alkitab menunjuk kepada ”kebangkitan yang lebih baik” di masa depan. (Ibrani 11:35) Ini akan jauh, jauh lebih baik sebab mereka yang akan dipulihkan kepada kehidupan di bumi tidak perlu mati lagi. Ini berarti kemenangan yang lebih besar atas kematian.—Yohanes 11:25, 26.
25 Apa kata Alkitab mengenai bagaimana Allah dapat dan akan menaklukkan kematian, tentu menunjukkan minatNya yang penuh kasih kepada manusia. Hendaknya hal ini membantu kita mengerti kepribadian Yehuwa dan menarik kita lebih dekat padaNya. Kebenaran ini juga membantu kita memelihara keseimbangan, sebab kita dilindungi terhadap rasa takut yang tidak sehat yang mencekam banyak orang. Kita dapat memiliki harapan yang membahagiakan bahkan untuk bertemu lagi dengan sanak keluarga serta orang-orang yang kita cintai, manakala, kematian telah dikalahkan, melalui kebangkitan.—1 Tesalonika 4:13; Lukas 23:43.
-