-
Berbakti—Kepada Siapa?Menara Pengawal—1995 | 1 Maret
-
-
Berbakti—Kepada Siapa?
”Segala firman [Yehuwa] akan kami lakukan dan akan kami dengarkan.”—KELUARAN 24:7.
1, 2. (a) Beberapa orang mengabdi kepada apa? (b) Apakah pembaktian terbatas hanya kepada orang-orang yang terikat kepada suatu agama?
PADA bulan Februari 1945, para penerbang pesawat tempur Zero-fighter dari Korps Penerbangan Yatabe dikumpulkan di sebuah auditorium. Tiap-tiap orang diberikan selembar kertas yang di atasnya harus ditulis apakah ia bersedia merelakan diri untuk menjadi anggota pasukan serangan kamikaze. ”Dahulu saya pikir bahwa adalah panggilan saya untuk mengorbankan diri pada masa krisis nasional,” kata seorang perwira yang hadir pada saat itu. ”Karena secara emosi merasa terdorong untuk merelakan diri, saya menawarkan diri untuk tugas ini.” Ia dilatih mengoperasikan dan mengemudikan Ohka (sebuah pesawat roket bunuh diri) serta menghantamkannya memasuki kapal perang musuh. Akan tetapi perang berakhir sebelum ia mendapat kesempatan untuk gugur demi negeri dan kaisarnya dengan melakukan hal tersebut. Sewaktu Jepang kalah perang, keyakinannya kepada kaisar hancur.
2 Pada suatu masa, banyak orang di Jepang mengabdi kepada kaisar, yang mereka percayai adalah dewa yang hidup. Di negeri-negeri lain, sejak dahulu sampai sekarang terdapat objek-objek pengabdian lain. Jutaan orang mengabdi kepada Maria, Buddha, atau ilah-ilah lain—sering kali dilambangkan oleh berhala-berhala. Termakan oleh pidato yang sensasional, beberapa orang mencurahkan uang yang mereka peroleh dengan susah payah ke dalam kantong para penginjil TV dengan dukungan sepenuh hati yang setara dengan pengabdian. Setelah perang, orang-orang Jepang mencari objek baru yang kepadanya mereka dapat membaktikan kehidupan mereka. Bagi beberapa orang, pekerjaan menjadi objek tersebut. Di Timur maupun Barat, banyak orang membaktikan diri mereka untuk mengumpulkan harta. Para remaja memusatkan kehidupan mereka kepada para pemusik, yang gaya hidupnya mereka tiru. Sejumlah besar orang dewasa ini telah menjadi pemuja diri sendiri, menjadikan keinginan mereka sebagai objek dari pengabdian mereka. (Filipi 3:19; 2 Timotius 3:2) Tetapi, apakah perkara-perkara atau orang-orang seperti itu benar-benar layak menerima pengabdian yang sepenuh jiwa dari seseorang?
3. Bagaimana beberapa objek pengabdian terbukti tak berguna?
3 Sewaktu dihadapkan dengan kenyataan, para penyembah berhala sering kali menjadi kecewa. Pengabdian kepada berhala-berhala mengakibatkan frustrasi sewaktu para penyembahnya menyadari bahwa berhala-berhala mereka tidak lebih daripada ”buatan tangan manusia”. (Mazmur 115:4) Sewaktu skandal-skandal yang melibatkan para penginjil terkemuka disingkapkan, orang-orang yang berhati tulus merasa putus asa. Sewaktu ”angan-angan” ekonomi buyar, para karyawan mengalami sakit mental karena mereka ternyata termasuk dalam daftar dari orang-orang yang dikeluarkan dari pekerjaan. Resesi-resesi akhir-akhir ini memberikan pukulan hebat kepada para penyembah Mamon atau Kekayaan. Utang-utang yang dibuat dengan harapan menghasilkan banyak uang menjadi suatu beban dengan sedikit prospek untuk dapat dilunasi. (Matius 6:24, catatan kaki NW) Sewaktu bintang-bintang rock yang diidolakan dan penghibur-penghibur lain meninggal atau hilang ketenarannya, para pemuja mereka ditinggalkan begitu saja. Dan orang-orang yang telah menempuh haluan pemuasan diri sering kali menuai buah-buah yang pahit.—Galatia 6:7.
4. Apa yang menggerakkan orang-orang untuk membaktikan kehidupan mereka kepada perkara-perkara yang tak berguna?
4 Apa yang menggerakkan orang-orang untuk membaktikan diri mereka kepada kesia-siaan demikian? Sebagian besar, ini adalah semangat dunia di bawah Setan si Iblis. (Efesus 2:2, 3) Pengaruh dari roh ini tampak dalam berbagai cara. Seseorang mungkin dikendalikan oleh tradisi keluarga yang diwarisi dari nenek moyangnya. Pendidikan dan cara seseorang dibesarkan mungkin dengan kuat mempengaruhi cara berpikir. Lingkungan tempat bekerja mungkin mendorong ”prajurit-prajurit perusahaan” kepada kecanduan kerja yang bisa mengancam kehidupan. Keinginan untuk memperoleh lebih banyak dihasilkan oleh sikap materialistis dari dunia ini. Hati banyak orang telah dibuat korup, menggerakkan mereka untuk mengabdikan diri mereka kepada keinginan mereka sendiri yang mementingkan diri. Mereka tidak memeriksa apakah pengejaran-pengejaran semacam itu layak mendapat pengabdian mereka.
Suatu Bangsa yang Berbakti
5. Pembaktian apa kepada Yehuwa dibuat lebih dari 3.500 tahun yang lalu?
5 Lebih dari 3.500 tahun yang lalu, suatu bangsa menemukan objek pengabdian yang jauh lebih layak. Mereka membaktikan diri mereka kepada Allah yang berdaulat, Yehuwa. Secara kelompok, bangsa Israel menyatakan pembaktiannya kepada Allah di padang belantara Sinai.
6. Apa yang hendaknya menjadi makna dari nama Allah bagi bangsa Israel?
6 Apa yang menggerakkan bangsa Israel untuk bertindak demikian? Sewaktu mereka masih dalam perbudakan di Mesir, Yehuwa menugaskan kepada Musa untuk menuntun mereka kepada kemerdekaan. Musa menanyakan bagaimana ia dapat memperkenalkan Allah yang telah mengutusnya, dan Allah menyingkapkan diri-Nya sebagai ”Aku akan terbukti menjadi apa yang Aku akan terbukti menjadi”. Ia membimbing Musa untuk mengatakan kepada putra-putra Israel, ”Aku akan terbukti menjadi telah mengutusku kepadamu.” (Keluaran 3:13, 14, NW) Pernyataan ini memaksudkan bahwa Yehuwa menjadi apa saja yang dibutuhkan guna melaksanakan segala maksud-tujuan-Nya. Ia akan menyingkapkan diri-Nya sebagai Penggenap dari janji-janji dengan cara yang tidak pernah diketahui oleh bapak leluhur Israel.—Keluaran 6:1, 2.
7, 8. Bukti-bukti apa dimiliki bangsa Israel bahwa Yehuwa adalah Allah yang layak menerima pengabdian mereka?
7 Bangsa Israel menyaksikan penderitaan negeri Mesir dan umatnya oleh Sepuluh Tulah. (Mazmur 78:44-51) Kemudian, kemungkinan lebih dari tiga juta di antara mereka, termasuk wanita dan anak-anak, berkemas dan keluar dari tanah Gosyen dalam satu malam, hal itu saja telah merupakan prestasi yang luar biasa. (Keluaran 12:37, 38) Berikutnya, di Laut Merah, Yehuwa menyingkapkan diri-Nya sebagai ”pahlawan perang” sewaktu Ia menyelamatkan umat-Nya dari pasukan militer Firaun dengan membelah laut untuk membiarkan bangsa Israel melewatinya dan kemudian menutupnya kembali untuk menenggelamkan orang-orang Mesir yang mengejar mereka. Sebagai hasilnya, ”Ketika dilihat oleh orang Israel betapa besarnya perbuatan yang dilakukan [Yehuwa] terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada [Yehuwa] dan mereka percaya kepada [Yehuwa].”—Keluaran 14:31; 15:3; Mazmur 136:10-15.
8 Seolah-olah masih kekurangan bukti akan apa arti dari nama Allah, bangsa Israel mengeluh melawan Yehuwa dan wakil-Nya Musa tentang kekurangan makanan dan air. Yehuwa mengirimkan burung puyuh, mencurahkan manna, dan membuat air memancar ke luar dari gunung batu di Meriba. (Keluaran 16:2-5, 12-15, 31; 17:2-7) Yehuwa juga menyelamatkan bangsa Israel dari serangan orang-orang Amalek. (Keluaran 17:8-13) Bangsa Israel dengan cara apa pun tidak dapat menyangkal apa yang selanjutnya Yehuwa akui kepada Musa, ”[Yehuwa], [Yehuwa], Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa.” (Keluaran 34:6, 7) Sesungguhnya, Yehuwa membuktikan diri-Nya menjadi objek yang layak dari pengabdian mereka.
9. Mengapa Yehuwa memberikan kesempatan kepada bangsa Israel guna menyatakan pembaktian mereka guna melayani Dia, dan bagaimana mereka menanggapinya?
9 Meskipun Yehuwa memiliki hak kepemilikan dari bangsa Israel karena Ia telah menebus mereka dari Mesir, Ia, sebagai Allah yang baik dan berbelaskasihan memberi mereka kesempatan untuk dengan sukarela menyatakan keinginan mereka untuk melayani Dia. (Ulangan 7:7, 8; 30:15-20) Ia juga menjelaskan persyaratan sebelum membuat perjanjian antara Dia dan bangsa Israel. (Keluaran 19:3-8; 20:1–23:33) Sewaktu keadaan ini disampaikan oleh Musa, bangsa Israel mengatakan, ”Segala firman yang telah diucapkan [Yehuwa] itu, akan kami lakukan.” (Keluaran 24:3-7) Atas kehendak bebas mereka sendiri, mereka menjadi bangsa yang berbakti kepada Yehuwa, Tuhan Yang Berdaulat.
Penghargaan Membawa kepada Pembaktian
10. Pembaktian kita kepada Yehuwa hendaknya didasarkan atas apa?
10 Yehuwa, sang Pencipta, senantiasa layak mendapat pengabdian kita yang sepenuh jiwa. (Maleakhi 3:6; Matius 22:37; Penyingkapan 4:11) Akan tetapi, pembaktian kita hendaknya tidak didasarkan atas sikap asal percaya, emosi-emosi sekejap, atau paksaan dari orang-orang lain—bahkan dari orang-tua. Itu harus didasarkan atas pengetahuan yang saksama akan kebenaran tentang Yehuwa dan penghargaan terhadap apa yang Yehuwa telah lakukan bagi kita. (Roma 10:2; Kolose 1:9, 10; 1 Timotius 2:4) Tepat sebagaimana Yehuwa memberikan kepada bangsa Israel kesempatan untuk dengan sukarela dan untuk menyatakan pembaktian mereka, demikian pula Ia memberikan kita kesempatan untuk membaktikan diri kita dengan sukarela dan untuk menyatakan pembaktian kita kepada umum.—1 Petrus 3:21.
11. Apa yang disingkapkan oleh pengajaran Alkitab kita tentang Yehuwa?
11 Melalui pelajaran Alkitab, kita dapat mengenal Allah sebagai suatu pribadi. Firman-Nya membantu kita untuk memahami sifat-sifat-Nya sebagaimana tercermin dalam ciptaan-Nya. (Mazmur 19:2-5) Kita dapat melihat dari Firman-Nya bahwa Ia bukan suatu Tritunggal yang misterius yang tidak dapat dipahami. Ia tidak pernah kalah perang sehingga tidak perlu melepaskan jabatan-Nya sebagai Allah. (Keluaran 15:11; 1 Korintus 8:5, 6; Penyingkapan 11:17, 18) Karena Ia telah menggenapi janji-janji-Nya, kita diingatkan akan arti nama-Nya yang indah, Yehuwa. Ia adalah Penggenap dari maksud-tujuan-Nya. (Kejadian 2:4, catatan kaki NW; Mazmur 83:19; Yesaya 46:9-11) Dengan mempelajari Alkitab, kita mulai memahami dengan jelas betapa setia dan dapat dipercaya Dia.—Ulangan 7:9; Mazmur 19:8, 10; 111:7.
12. (a) Apa yang membuat kita tertarik kepada Yehuwa? (b) Bagaimana pengalaman-pengalaman yang benar-benar terjadi yang dicatat di dalam Alkitab menggerakkan seseorang untuk bersedia melayani Yehuwa? (c) Bagaimana perasaan saudara tentang melayani Yehuwa?
12 Yang khususnya membuat kita tertarik kepada Yehuwa adalah kepribadian-Nya yang pengasih. Alkitab mempertunjukkan betapa pengasih, pengampun, dan berbelaskasihannya Dia dalam berurusan dengan umat manusia. Pikirkan bagaimana Ia memperkaya Ayub setelah Ayub dengan setia memelihara integritasnya. Pengalaman Ayub menonjolkan bahwa ”Yehuwa sangat lembut dalam kasih sayang dan berbelaskasihan”. (Yakobus 5:11; Ayub 42:12-17) Pikirkan bagaimana Yehuwa berurusan dengan Daud sewaktu ia melakukan perzinaan dan pembunuhan. Ya, Yehuwa bersedia mengampuni bahkan dosa-dosa serius sewaktu sang pedosa mendekati Dia dengan ”hati yang patah dan remuk”. (Mazmur 51:5-13, 19) Pikirkan caranya Yehuwa berurusan dengan Saul dari Tarsus, yang sebelumnya adalah seorang penganiaya yang gigih atas umat Allah. Contoh-contoh ini menonjolkan belas kasihan Allah dan kerelaan yang murah hati untuk menggunakan orang-orang yang bertobat. (1 Korintus 15:9; 1 Timotius 1:15, 16) Paulus merasa bahwa ia dapat mempertaruhkan bahkan nyawanya untuk melayani Allah yang penuh kasih ini. (Roma 14:8) Apakah saudara merasakan hal yang sama?
13. Pernyataan kasih terbesar apa di pihak Yehuwa menggerakkan orang-orang yang adil-benar untuk membaktikan diri mereka kepada-Nya?
13 Bagi bangsa Israel, Yehuwa menyediakan keselamatan dari belenggu di Mesir, dan Ia telah mempersiapkan sarana untuk menyelamatkan kita dari belenggu dosa dan kematian—korban tebusan Yesus Kristus. (Yohanes 3:16) Paulus mengatakan, ”Allah merekomendasikan kasihnya sendiri kepada kita dalam hal, sementara kita masih pedosa-pedosa, Kristus mati bagi kita.” (Roma 5:8) Penyelenggaraan yang penuh kasih ini mendorong orang-orang yang berhati benar untuk membaktikan diri mereka kepada Yehuwa melalui Yesus Kristus. ”Karena kasih Kristus telah mendesak kami, sebab inilah yang telah kami hakimi, bahwa satu orang telah mati untuk semua; dengan demikian semua telah mati; dan dia telah mati untuk semua agar mereka yang hidup tidak lagi hidup bagi diri mereka sendiri, tetapi bagi dia yang telah mati untuk mereka dan dibangkitkan.”—2 Korintus 5:14, 15; Roma 8:35-39.
14. Apakah sekadar pengetahuan akan cara-cara Yehuwa berurusan cukup untuk menggerakkan kita agar membaktikan kehidupan kita kepada-Nya? Jelaskan.
14 Namun, memiliki pengetahuan tentang kepribadian Yehuwa dan cara Dia berurusan dengan umat manusia belum cukup. Penghargaan pribadi kepada Yehuwa harus dipupuk. Bagaimana ini dapat dilakukan? Dengan menerapkan Firman Allah dalam kehidupan kita dan mengamati sendiri bahwa prinsip-prinsip yang terdapat di dalamnya benar-benar efektif. (Yesaya 48:17) Kita harus merasakan bahwa Yehuwa telah menyelamatkan kita dari kubangan dunia yang jahat ini di bawah pemerintahan Setan. (Bandingkan 1 Korintus 6:11.) Dalam perjuangan kita untuk melakukan apa yang benar, kita belajar bersandar kepada Yehuwa, dan kita mengalami sendiri bahwa Yehuwa adalah Allah yang hidup, ”Pendengar doa”. (Mazmur 62:8; 65:2, NW) Segera kita akan merasa sangat dekat dengan Dia dan dapat mempercayakan perasaan-perasaan kita yang paling dalam kepada-Nya. Perasaan kasih yang hangat kepada Yehuwa berkembang dalam diri kita. Hal ini tak diragukan menuntun kita untuk membaktikan kehidupan kita kepada-Nya.
15. Apa yang memotivasi seorang pria, yang sebelumnya berbakti kepada pekerjaan duniawi, untuk melayani Yehuwa?
15 Banyak orang telah mulai mengenal Allah yang pengasih ini, Yehuwa, dan telah membaktikan kehidupan mereka untuk melayani Dia. Ambillah contoh dari seorang tukang listrik yang memiliki pekerjaan yang sukses. Ada kalanya ia harus mulai bekerja pada pagi hari dan bekerja sepanjang hari dan berlanjut terus semalam suntuk, pulang ke rumah pada pukul lima pada pagi berikutnya. Setelah beristirahat sekitar satu jam, ia kemudian pergi untuk pekerjaan berikutnya. ”Saya berbakti kepada pekerjaan saya,” ia mengenang. Sewaktu istrinya mulai mempelajari Alkitab, ia bergabung dengan istrinya. Ia mengatakan, ”Semua allah yang pernah saya kenal sampai saat itu hanya menunggu untuk dilayani, tanpa berbuat apa-apa demi faedah kita. Namun Yehuwa mengambil inisiatif dan mengutus Putra tunggal-Nya ke bumi dengan pengorbanan pribadi yang besar.” (1 Yohanes 4:10, 19) Dalam waktu sepuluh bulan, pria ini berbakti kepada Yehuwa. Setelah itu, ia memusatkan diri untuk melayani Allah yang hidup. Ia memulai dinas sepenuh waktu dan pindah ke daerah yang lebih membutuhkan tenaga. Ia, seperti halnya para rasul, ’meninggalkan semua perkara dan mengikuti Yesus’. (Matius 19:27) Setelah dua bulan, ia dan istrinya dipanggil untuk melayani di cabang dari Lembaga Alkitab dan Risalah Menara Pengawal di negeri tempat mereka tinggal, sehingga ia dapat membantu dalam pekerjaan listrik. Selama lebih dari 20 tahun ia bekerja di cabang ini, melakukan pekerjaan yang ia sukai—bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk Yehuwa.
Menyatakan Pembaktian Saudara kepada Umum
16. Apa beberapa langkah yang akan diambil seseorang dalam membuat pembaktian kepada Yehuwa?
16 Setelah mempelajari Alkitab untuk beberapa lama, tua dan muda akan mulai menghargai Yehuwa dan apa yang Ia telah lakukan bagi mereka. Hal ini hendaknya menggerakkan mereka untuk memberikan diri mereka kepada Allah. Saudara mungkin salah seorang dari mereka. Bagaimana saudara dapat membaktikan diri saudara kepada Yehuwa? Setelah memperoleh pengetahuan yang saksama dari Alkitab, saudara hendaknya bertindak selaras dengan pengetahuan tersebut dan mempraktekkan iman akan Yehuwa dan Yesus Kristus. (Yohanes 17:3) Bertobat dan berpalinglah dari haluan dosa apa pun di masa lampau. (Kisah 3:19) Kemudian saudara akan sampai kepada langkah pembaktian, menyatakannya dalam ucapan doa yang sungguh-sungguh kepada Yehuwa. Doa ini tak disangsikan akan meninggalkan kesan yang bertahan lama dalam pikiran saudara, karena ini merupakan titik awal dari hubungan yang baru dengan Yehuwa.
17. (a) Mengapa para penatua mengulas pertanyaan-pertanyaan yang dipersiapkan dengan orang-orang yang baru berbakti? (b) Langkah penting apa hendaknya diambil segera setelah pembaktian seseorang, dan dengan tujuan apa?
17 Sebagaimana Musa menjelaskan kepada bangsa Israel persyaratan untuk memasuki hubungan perjanjian dengan Yehuwa, para penatua dalam sidang Saksi-Saksi Yehuwa membantu orang-orang yang baru saja membuat pembaktian untuk menyelidiki dengan cermat apa yang tercakup. Mereka menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang telah dipersiapkan untuk memastikan bahwa setiap orang sepenuhnya memahami pengajaran dasar dari Alkitab dan menyadari apa yang tercakup dalam menjadi salah seorang Saksi dari Yehuwa. Kemudian, suatu upacara untuk menyatakan pembaktian kepada umum sangatlah cocok. Sewajarnyalah, seorang yang baru berbakti ingin orang-orang lain mengetahui bahwa ia telah memasuki hubungan yang merupakan hak istimewa ini dengan Yehuwa. (Bandingkan Yeremia 9:24.) Hal ini patut dilakukan secara benar dengan melaksanakan pembaptisan air sebagai lambang pembaktian. Dengan dibenamkan dalam air dan kemudian diangkat melambangkan bahwa orang tersebut mati dari haluan hidup yang mementingkan diri dan dibangkitkan kepada cara hidup yang baru, yaitu melakukan kehendak Allah. Ini bukan suatu sakramen, juga bukan suatu upacara ritual seperti upacara Shinto yaitu misogi, upacara yang membersihkan seseorang dengan air.a Sebaliknya, pembaptisan merupakan pernyataan kepada umum akan pembaktian yang telah dilakukan dalam doa.
18. Mengapa kita dapat merasa yakin bahwa pembaktian kita tidak akan sia-sia?
18 Peristiwa khidmat ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan, yang mengingatkan hamba yang baru dari Allah akan hubungan yang bertahan lama yang kini ia miliki dengan Yehuwa. Tidak seperti pembaktian yang dibuat oleh penerbang kamikaze bagi negeri dan kaisarnya, pembaktian kepada Yehuwa ini tidak akan sia-sia, karena Ia Allah mahakuasa yang kekal yang melaksanakan semua yang Ia rencanakan akan lakukan. Ia, dan hanya Ia saja, yang layak menerima pembaktian kita yang sepenuh jiwa.—Yesaya 55:9-11.
19. Apa yang akan dibahas dalam artikel berikut?
19 Akan tetapi, lebih banyak yang tercakup dalam suatu pembaktian. Misalnya, bagaimana pembaktian mempengaruhi kehidupan kita dari hari ke hari? Hal ini akan dibahas dalam artikel berikut.
[Catatan Kaki]
a Lihat Pencarian Manusia Akan Allah, diterbitkan oleh Lembaga Alkitab dan Risalah Menara Pengawal New York, Inc., halaman 194-5.
-
-
Memenuhi Pembaktian Kita ”Hari demi Hari”Menara Pengawal—1995 | 1 Maret
-
-
Memenuhi Pembaktian Kita ”Hari demi Hari”
”Jika seseorang ingin datang mengikuti aku, hendaklah dia menyangkal dirinya sendiri dan mengangkat tiang siksaannya hari demi hari dan terus mengikuti aku.”—LUKAS 9:23.
1. Apa satu cara kita dapat mengukur keberhasilan kita sebagai orang-orang Kristen?
”APAKAH kita benar-benar manusia yang berbakti?” Jawaban untuk pertanyaan ini, menurut John F. Kennedy, Presiden ke-35 Amerika Serikat, adalah faktor penentu keberhasilan para aparat pemerintah. Dengan makna yang lebih dalam, pertanyaan ini dapat digunakan untuk menguji keberhasilan kita sebagai rohaniwan Kristen.
2. Bagaimana sebuah kamus mendefinisikan kata ”pembaktian”?
2 Namun, apa pembaktian itu? Webster’s Ninth New Collegiate Dictionary mendefinisikannya sebagai ”suatu tindakan atau ritus untuk membaktikan kepada pribadi ilahi atau bagi suatu penggunaan yang suci”, ”suatu pengabdian atau tindakan mengkhususkan diri untuk tujuan tertentu”, ”pengabdian yang rela berkorban”. John F. Kennedy tampaknya menggunakan kata ini untuk memaksudkan ”pengabdian yang rela berkorban”. Bagi seorang Kristen, pembaktian mengandung makna lebih banyak lagi.
3. Apa pembaktian Kristen?
3 Yesus Kristus memberi tahu murid-muridnya, ”Jika seseorang ingin datang mengikuti aku, hendaklah dia menyangkal dirinya sendiri dan mengangkat tiang siksaannya dan terus mengikuti aku.” (Matius 16:24) Dengan mengkhususkan diri untuk tugas ilahi yang mencakup bukan sekadar melaksanakan suatu tindakan ibadat pada hari Minggu atau sewaktu mendatangi tempat ibadat tertentu. Ini mencakup seluruh gaya hidup seseorang. Untuk menjadi seorang Kristen berarti menyangkal diri atau mengingkari diri seraya melayani Allah yang dilayani oleh Yesus Kristus, Yehuwa. Selain itu, seorang Kristen mengangkat ”tiang siksaannya” dengan bersikap tabah di bawah penganiayaan apa pun yang mungkin ditimpakan karena menjadi seorang pengikut Kristus.
Teladan Sempurna
4. Apa yang diartikan oleh pembaptisan Yesus?
4 Semasa di bumi, Yesus mempertunjukkan apa yang tercakup dalam pembaktian seseorang kepada Yehuwa. Pendapatnya adalah, ”Korban dan persembahan tidak engkau inginkan, tetapi engkau menyiapkan suatu tubuh untukku.” Kemudian ia menambahkan, ”Lihat! Aku datang (dalam gulungan buku ada tertulis tentang aku) untuk melakukan kehendakmu, oh, Allah.” (Ibrani 10:5-7) Sebagai anggota dari suatu bangsa yang dibaktikan, ia telah dibaktikan kepada Yehuwa sejak lahir. Namun, pada awal dari pelayanannya di bumi, ia mempersembahkan dirinya untuk pembaptisan sebagai lambang dari penyerahan dirinya untuk melakukan kehendak Allah, yang baginya akan termasuk mempersembahkan kehidupannya sebagai korban tebusan. Dengan demikian, ia menyediakan teladan bagi orang-orang Kristen untuk melakukan apa pun yang dikehendaki Yehuwa.
5. Bagaimana Yesus mempertunjukkan suatu pandangan yang patut diteladani sehubungan perkara-perkara materi?
5 Setelah pembaptisannya, Yesus menempuh suatu haluan hidup yang akhirnya membawa kepada kematiannya yang bersifat korban. Ia tidak tertarik untuk mencari kekayaan atau hidup bersenang-senang. Sebaliknya, kehidupannya berkisar pada pelayanannya. Ia menasihati murid-muridnya agar ”teruslah cari dahulu kerajaan dan keadilbenarannya”, dan ia sendiri hidup selaras dengan kata-kata ini. (Matius 6:33) Malahan, ia bahkan pernah mengatakan, ”Rubah mempunyai liang dan burung di langit mempunyai tempat bertengger, namun Putra manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalanya.” (Matius 8:20) Ia dapat saja menyesuaikan ajarannya dengan tujuan memeras uang dari para pengikutnya. Sebagai seorang tukang kayu, ia bisa saja mengambil jeda dari pelayanannya guna membuat perabotan yang bagus untuk dijual supaya ia dapat memiliki beberapa keping perak ekstra. Namun ia tidak menggunakan keterampilannya untuk mengejar kemakmuran materi. Sebagai hamba yang berbakti dari Allah, apakah kita meniru Yesus dalam memiliki pandangan yang benar akan perkara-perkara materi?—Matius 6:24-34.
6. Bagaimana kita dapat meniru Yesus dalam menjadi hamba Allah yang berbakti dan rela berkorban?
6 Dalam menaruh dinasnya kepada Allah di tempat pertama, Yesus tidak mencari kepentingannya sendiri. Kehidupannya selama tiga setengah tahun dari pelayanannya kepada umum merupakan kehidupan yang rela berkorban. Pada suatu peristiwa setelah hari yang sibuk, bahkan tanpa sempat mengambil waktu untuk mengisi perut, Yesus bersedia mengajar orang-orang yang ”terus dikuliti dan dibuang seperti domba-domba tanpa gembala”. (Matius 9:36; Markus 6:31-34) Meskipun ”lelah dari perjalanan”, ia mengambil inisiatif untuk berbicara dengan seorang wanita Samaria yang datang ke sumber air Yakub di Sikhar. (Yohanes 4:6, 7, 13-15) Ia selalu mendahulukan kesejahteraan orang-orang lain di atas kesejahteraan pribadinya. (Yohanes 11:5-15) Kita dapat meniru Yesus dengan mengorbankan secara murah hati kepentingan kita sendiri untuk melayani Allah dan orang-orang lain. (Yohanes 6:38) Dengan memikirkan tentang bagaimana caranya kita dapat benar-benar menyenangkan Allah bukan sekadar memenuhi tuntutan minimum, kita akan hidup selaras dengan pembaktian kita.
7. Bagaimana kita dapat meniru Yesus dalam senantiasa memberikan kehormatan kepada Yehuwa?
7 Yesus sama sekali tidak pernah berupaya menarik perhatian kepada diri sendiri dengan membantu orang-orang. Ia berbakti kepada Allah untuk melakukan kehendak-Nya. Maka ia selalu memastikan bahwa Yehuwa, Bapak-Nya, menerima segala kemuliaan atas segala sesuatu yang telah dicapai. Ketika seorang penguasa tertentu menyapanya ”Guru Yang Baik”, dengan menggunakan kata ”baik” sebagai suatu gelar, Yesus mengoreksinya dengan mengatakan, ”Tidak seorang pun baik, kecuali satu, Allah.” (Lukas 18:18, 19; Yohanes 5:19, 30) Apakah kita, seperti Yesus, segera mengalihkan kehormatan dari diri kita kepada Yehuwa?
8. (a) Sebagai seorang pria yang berbakti, bagaimana Yesus memisahkan dirinya dari dunia ini? (b) Bagaimana kita hendaknya meniru dia?
8 Sepanjang haluan kehidupannya yang berbakti di bumi, Yesus memperlihatkan bahwa ia telah mengkhususkan dirinya untuk dinas ilahi. Ia menjaga dirinya bersih sehingga ia dapat mempersembahkan dirinya sebagai ”anak domba yang tidak bercacat dan tidak bernoda” untuk menjadi korban tebusan. (1 Petrus 1:19; Ibrani 7:26) Ia mengamati segala perintah dari Hukum Musa, dengan demikian memenuhi Hukum tersebut. (Matius 5:17; 2 Korintus 1:20) Ia hidup selaras dengan pengajarannya sendiri tentang moral. (Matius 5:27, 28) Tak seorang pun dapat dengan benar menuduhnya memiliki motivasi-motivasi buruk. Sebenarnya, ia ”membenci pelanggaran hukum”. (Ibrani 1:9) Sebagai budak dari Allah, marilah kita meniru Yesus dalam menjaga kehidupan kita dan bahkan motivasi kita tetap bersih di mata Yehuwa.
Contoh-Contoh Peringatan
9. Paulus mengacu kepada contoh peringatan apa, dan mengapa kita hendaknya mempertimbangkan contoh ini?
9 Sebagai kontras dengan teladan Yesus, kita mendapat contoh peringatan berkenaan orang-orang Israel. Bahkan setelah mereka menyatakan bahwa mereka bersedia melakukan segala sesuatu yang Yehuwa perintahkan untuk mereka lakukan, mereka gagal melakukan kehendak Dia. (Daniel 9:11) Rasul Paulus menganjurkan orang-orang Kristen untuk belajar dari apa yang menimpa orang-orang Israel. Marilah kita menyelidiki beberapa insiden yang dirujuk Paulus dalam suratnya yang pertama kepada orang-orang Korintus dan melihat jerat-jerat yang perlu dihindari oleh hamba-hamba Allah pada zaman kita.—1 Korintus 10:1-6, 11.
10. (a) Bagaimana bangsa Israel ”menghasratkan perkara-perkara yang merugikan”? (b) Mengapa orang-orang Israel dituntut pertanggungjawaban sewaktu mereka untuk kedua kalinya mengeluh tentang makanan, dan apa yang dapat kita pelajari dari contoh peringatan ini?
10 Pertama, Paulus memperingatkan kita untuk tidak ”menghasratkan perkara-perkara yang merugikan”. (1 Korintus 10:6) Ini mungkin mengingatkan saudara akan peristiwa sewaktu orang-orang Israel mengeluh karena hanya memiliki manna untuk dimakan. Yehuwa mengirimkan burung puyuh kepada mereka. Sesuatu yang serupa telah terjadi sekitar satu tahun sebelumnya di padang gurun Sin, tepat sebelum orang-orang Israel menyatakan pembaktian mereka kepada Yehuwa. (Keluaran 16:1-3, 12, 13) Namun keadaannya tidak persis sama. Sewaktu Yehuwa pertama kali menyediakan burung puyuh, Ia tidak menuntut pertanggungjawaban atas gerutu mereka. Namun, kali ini keadaannya berbeda. ”Selagi daging itu ada di mulut mereka, sebelum dikunyah, maka bangkitlah murka [Yehuwa] terhadap bangsa itu dan [Yehuwa] memukul bangsa itu dengan suatu tulah yang sangat besar.” (Bilangan 11:4-6, 31-34) Apa yang telah berubah? Sebagai suatu bangsa yang berbakti, mereka kini dituntut pertanggungjawaban. Kurangnya penghargaan mereka atas persediaan Yehuwa menyebabkan mereka mengeluh terhadap Yehuwa, meskipun mereka telah mengikat janji untuk melakukan semua yang Yehuwa telah katakan! Mengeluh tentang meja Yehuwa dewasa ini juga sama. Beberapa orang tidak menghargai persediaan rohani dari Yehuwa melalui ”budak yang setia dan bijaksana”. (Matius 24:45-47) Namun, ingatlah bahwa pembaktian kita menuntut kita untuk dengan penuh syukur mencamkan apa yang Yehuwa telah lakukan bagi kita dan menerima makanan rohani yang Yehuwa sediakan.
11. (a) Bagaimana bangsa Israel mencemari ibadat mereka kepada Yehuwa dengan penyembahan berhala? (b) Bagaimana kita dapat dipengaruhi oleh suatu jenis penyembahan berhala?
11 Berikutnya, Paulus memperingatkan, ”Juga tidak menjadi penyembah-penyembah berhala, sama seperti yang dilakukan beberapa dari mereka.” (1 Korintus 10:7) Di sini sang rasul tampaknya mengacu kepada ibadat anak lembu yang terjadi tepat setelah orang-orang Israel mengikat perjanjian dengan Yehuwa di Gunung Sinai. Saudara mungkin mengatakan, ’Sebagai hamba Yehuwa yang berbakti, saya tidak akan pernah terlibat dalam penyembahan berhala.’ Namun, perhatikan, bahwa dari sudut pandangan orang-orang Israel, mereka tidak berhenti menyembah Yehuwa; namun, mereka memasukkan praktek penyembahan anak lembu—sesuatu yang menjijikkan bagi Allah. Apa yang tercakup dalam bentuk penyembahan ini? Bangsa itu membuat korban di hadapan anak lembu, lalu mereka ’duduk untuk makan dan minum, kemudian mereka bangun untuk bersukaria’. (Keluaran 32:4-6) Dewasa ini, beberapa orang mungkin mengaku bahwa mereka beribadat kepada Yehuwa. Namun kehidupan mereka mungkin terpusat, bukan pada ibadat Yehuwa, tetapi pada kenikmatan dari perkara-perkara dunia ini, dan mereka berupaya mencocokkan dinas mereka kepada Yehuwa di sekitar perkara-perkara ini. Memang, ini tidak seekstrem bersujud kepada anak lembu emas, namun hal ini tidak terlalu berbeda dalam prinsip. Menjadikan keinginannya sendiri sebagai suatu allah sangatlah jauh dari hidup selaras dengan pembaktian seseorang kepada Yehuwa.—Filipi 3:19.
12. Dari pengalaman orang-orang Israel dengan Baal-Peor, apa yang kita pelajari tentang menyangkal diri?
12 Suatu jenis hiburan juga tercakup dalam contoh peringatan berikut yang disebutkan Paulus, ”Jangan kita mempraktekkan percabulan, sebagaimana beberapa dari antara mereka melakukan percabulan, tetapi akhirnya jatuh, dua puluh tiga ribu dari mereka dalam satu hari.” (1 Korintus 10:8) Bangsa Israel, terpikat oleh kenikmatan amoral yang ditawarkan oleh anak-anak perempuan Moab, dibawa kepada penyembahan Baal-Peor di Sitim. (Bilangan 25:1-3, 9) Menyangkal diri kita untuk melakukan kehendak Yehuwa akan termasuk menerima standar-standar-Nya akan apa yang bersih secara moral. (Matius 5:27-30) Dalam abad kemerosotan standar, kita diingatkan akan kebutuhan untuk menjaga diri kita bersih dari segala bentuk tingkah laku yang amoral, tunduk kepada wewenang Yehuwa untuk memutuskan apa yang baik dan apa yang buruk.—1 Korintus 6:9-11.
13. Bagaimana teladan Pinehas membantu kita mengerti apa yang tercakup dalam pembaktian kepada Yehuwa?
13 Meskipun banyak orang jatuh ke dalam jerat percabulan di Sitim, beberapa orang hidup selaras dengan pembaktian kepada Yehuwa sebagai satu bangsa. Di antara mereka, Pinehas sangat menonjol dalam hal kegairahannya. Sewaktu ia melihat seorang pemuka Israel membawa masuk seorang perempuan Midian ke dalam kemahnya, Pinehas langsung mengambil sebuah tombak di tangannya dan menikam mereka sampai tembus. Yehuwa memberi tahu Musa, ”Pinehas . . . telah menyurutkan murka-Ku dari pada orang Israel, oleh karena ia begitu giat membela kehormatan-Ku di tengah-tengah mereka, sehingga tidaklah Kuhabisi orang Israel dalam cemburu-Ku.” (Bilangan 25:11) Tidak mentolerir persaingan apa pun terhadap Yehuwa—itulah makna dari pembaktian. Kita tidak dapat membiarkan apa pun mengambil tempat di dalam hati kita yang seharusnya diisi oleh pembaktian kepada Yehuwa. Kegairahan kita kepada Yehuwa hendaknya juga memotivasi kita untuk memelihara sidang tetap bersih dengan melaporkan perbuatan amoral yang serius kepada para penatua, bukan mentolerirnya.
14. (a) Bagaimana bangsa Israel menguji Yehuwa? (b) Bagaimana pembaktian yang lengkap kepada Yehuwa membantu kita untuk tidak ”menjadi lelah”?
14 Paulus mengacu kepada contoh lain yang menghangatkan hati, ”Jangan kita menguji Yehuwa, sebagaimana beberapa dari antara mereka menguji dia, tetapi akhirnya binasa oleh ular-ular.” (1 Korintus 10:9) Paulus di sini berbicara tentang saat ketika bangsa Israel mengeluh terhadap Allah kepada Musa sewaktu mereka ”tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan”. (Bilangan 21:4) Apakah saudara pernah membuat kesalahan demikian? Sewaktu saudara membaktikan diri saudara kepada Yehuwa, apakah saudara berpikir bahwa Armagedon telah begitu dekat? Apakah kesabaran Yehuwa lebih panjang daripada yang saudara perkirakan? Ingat, kita tidak membaktikan diri kita kepada Yehuwa hanya untuk suatu periode waktu tertentu atau hanya sampai Armagedon saja. Pembaktian kita berlangsung selamanya. Maka, ”hendaklah kita tidak menyerah dalam melakukan apa yang baik, sebab pada musim yang telah ditentukan kita akan menuai jika kita tidak menjadi lelah”.—Galatia 6:9.
15. (a) Terhadap siapa bangsa Israel menggerutu? (b) Bagaimana pembaktian kita kepada Yehuwa menggerakkan kita untuk merespek wewenang teokratis?
15 Akhirnya, Paulus memperingatkan agar tidak menjadi ”penggerutu” terhadap hamba-hamba Yehuwa yang terlantik. (1 Korintus 10:10) Bangsa Israel menggerutu dengan keras terhadap Musa dan Harun sewaktu 10 dari 12 mata-mata diutus untuk menyelidiki negeri Kanaan pulang membawa laporan-laporan buruk. Mereka bahkan berbicara tentang menggantikan Musa sebagai pemimpin dan kembali ke Mesir. (Bilangan 14:1-4) Dewasa ini, apakah kita menerima kepemimpinan yang diberikan kepada kita melalui bekerjanya roh kudus? Dengan melihat meja rohani yang berlimpah yang disediakan oleh kelompok budak yang setia dan bijaksana, jelaslah siapa yang Yesus gunakan untuk menyediakan ’makanan pada waktu yang tepat’. (Matius 24:45) Pembaktian yang sepenuh jiwa kepada Yehuwa menuntut kita untuk memperlihatkan respek kepada hamba-hamba-Nya yang terlantik. Semoga kita tidak pernah menjadi seperti beberapa penggerutu zaman modern yang mengarahkan perhatian mereka, seakan-akan kepada pemimpin baru untuk menuntun mereka kembali ke dunia ini.
Apakah Saya Berupaya Sebisa-bisanya?
16. Hamba-hamba Allah yang berbakti dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan apa kepada diri mereka?
16 Bangsa Israel tidak akan jatuh ke dalam kesalahan demikian yang sangat memedihkan hati jika mereka mengingat bahwa pembaktian mereka kepada Yehuwa tidak bersyarat. Tidak seperti orang-orang Israel yang tidak setia tersebut, Yesus Kristus hidup selaras dengan pembaktiannya sampai akhir. Sebagai pengikut Kristus, kita meniru teladan dari pengabdiannya yang sepenuh jiwa, menempuh kehidupan kita ”tidak lagi untuk hasrat manusia, tetapi untuk kehendak Allah”. (1 Petrus 4:2; bandingkan 2 Korintus 5:15.) Kehendak Yehuwa dewasa ini adalah bahwa ”segala macam orang diselamatkan dan sampai kepada pengetahuan yang saksama akan kebenaran”. (1 Timotius 2:4) Agar itu tercapai, kita harus memberitakan ”kabar baik kerajaan” sebelum akhir itu tiba. (Matius 24:14) Seberapa banyak upaya yang kita kerahkan dalam dinas ini? Kita dapat menanyakan diri kita, ’Apakah saya berupaya sebisa-bisanya?’ (2 Timotius 2:15) Keadaan orang berbeda-beda. Yehuwa berkenan untuk dilayani ”menurut apa yang dimiliki seseorang, bukan menurut apa yang tidak dimiliki seseorang”. (2 Korintus 8:12; Lukas 21:1-4) Tidak seorang pun hendaknya menghakimi ketulusan dan dalamnya pembaktian orang lain. Masing-masing hendaknya secara pribadi mengevaluasi tingkat pengabdiannya kepada Yehuwa. (Galatia 6:4) Kasih kita kepada Yehuwa hendaknya menggerakkan kita untuk bertanya, ’Bagaimana saya dapat membuat Yehuwa bersukacita?’
17. Apa hubungan antara pengabdian dan penghargaan? Ilustrasikan.
17 Pembaktian kita kepada Yehuwa semakin mendalam seraya kita bertumbuh dalam penghargaan kepada Dia. Seorang anak laki-laki berusia 14 tahun di Jepang membaktikan dirinya kepada Yehuwa dan melambangkan pembaktian ini melalui pembaptisan air. Belakangan, ia ingin mengejar pendidikan yang lebih tinggi dan menjadi seorang ilmuwan. Ia tidak pernah memikirkan pelayanan sepenuh waktu, namun sebagai seorang hamba yang berbakti, ia tidak ingin meninggalkan Yehuwa dan organisasi-Nya yang kelihatan. Demi mewujudkan karier yang dicita-citakannya, ia belajar di sebuah universitas. Di sana ia melihat lulusan dari universitas dipaksa untuk membaktikan seluruh kehidupan mereka kepada perusahaan mereka atau kepada studi mereka. Ia bertanya-tanya, ’Untuk apa saya ada di sini? Bisakah saya benar-benar menempuh haluan hidup mereka dan membaktikan diri saya untuk pekerjaan duniawi? Bukankah saya telah berbakti kepada Yehuwa?’ Dengan penghargaan yang diperbarui, ia menjadi seorang perintis biasa. Pemahamannya akan pembaktian diperdalam dan menggugahnya untuk bertekad di dalam hatinya untuk pergi ke mana pun ia dibutuhkan. Ia mengikuti Sekolah Pelatihan Pelayanan dan menerima penugasan untuk melayani sebagai utusan injil di negeri lain.
18. (a) Seberapa banyak yang tercakup dalam pembaktian kepada Yehuwa? (b) Imbalan apa dapat kita tuai dari pembaktian kita kepada Yehuwa?
18 Pembaktian mencakup seluruh kehidupan kita. Kita harus menyangkal diri kita dan ”hari demi hari” mengikuti teladan baik Yesus. (Lukas 9:23) Karena telah menyangkal diri kita, kita tidak meminta izin absen atau cuti kepada Yehuwa. Kehidupan kita disesuaikan dengan prinsip-prinsip yang Yehuwa tetapkan bagi hamba-hamba-Nya. Bahkan dalam bidang-bidang yang kita sendiri dapat membuat pilihan pribadi, sebaiknya kita melihat apakah kita melakukan yang terbaik untuk menempuh kehidupan yang berbakti kepada Yehuwa. Seraya kita melayani Dia hari demi hari, melakukan yang terbaik untuk menyenangkan Dia, kita akan berhasil sebagai orang-orang Kristen dan akan diberkati dengan senyum perkenan Yehuwa, Pribadi yang layak mendapat pengabdian kita yang sepenuh jiwa.
-