PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • ’Tetaplah Ada dalam PerkataanKu’
    Menara Pengawal—2003 | 1 Februari
    • ’Tetaplah Ada dalam PerkataanKu’

      ”Jika kamu tetap ada dalam perkataanku, kamu benar-benar muridku.”​—YOHANES 8:31.

      1. (a) Sewaktu kembali ke surga, apa yang Yesus tinggalkan di bumi? (b) Pertanyaan apa saja yang akan kita bahas?

      SEWAKTU kembali ke surga, Yesus Kristus, sang Pendiri Kekristenan, tidak meninggalkan di bumi ini buku yang ia tulis, monumen yang ia bangun, ataupun kekayaan yang ia kumpulkan. Yang ia tinggalkan adalah murid-murid serta persyaratan spesifik untuk menjadi murid. Sesungguhnya, dalam Injil Yohanes, kita mendapati Yesus menyebutkan tiga syarat penting yang harus dipenuhi oleh siapa pun yang ingin menjadi pengikutnya. Apa saja persyaratan ini? Apa yang dapat kita lakukan untuk memenuhinya? Dan, bagaimana kita dapat memastikan bahwa kita secara pribadi memenuhi persyaratan sebagai murid-murid Kristus dewasa ini?a

      2. Apa suatu syarat penting untuk menjadi murid, seperti yang dicatat dalam Injil Yohanes?

      2 Kira-kira enam bulan sebelum kematiannya, Yesus pergi ke Yerusalem dan mengabar kepada sejumlah besar orang yang telah berkumpul di sana untuk merayakan Perayaan Pondok selama seminggu penuh. Hasilnya, sewaktu perayaan itu telah berjalan setengahnya, ”banyak di antara kumpulan orang itu beriman kepadanya”. Yesus terus mengabar, sehingga pada hari terakhir perayaan itu, sekali lagi ”banyak orang yang beriman kepadanya”. (Yohanes 7:10, 14, 31, 37; 8:30) Pada saat itulah, Yesus mengarahkan perhatiannya kepada orang-orang yang baru percaya itu dan menyatakan suatu syarat penting untuk menjadi murid, seperti yang dicatat rasul Yohanes, ”Jika kamu tetap ada dalam perkataanku, kamu benar-benar muridku.”​—Yohanes 8:31.

      3. Sifat apa dibutuhkan agar seseorang dapat ”tetap ada dalam perkataan [Yesus]”?

      3 Dengan kata-kata tersebut, Yesus tidak menyiratkan bahwa orang-orang yang baru percaya itu kurang beriman. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa di hadapan mereka terbentang kesempatan untuk menjadi murid-muridnya yang sejati​—asalkan mereka tetap ada dalam perkataannya, asalkan mereka memperlihatkan ketekunan. Mereka telah menerima perkataannya, tetapi sekarang mereka perlu tetap ada di dalamnya. (Yohanes 4:​34; Ibrani 3:​14) Ya, Yesus memandang ketekunan sebagai sifat yang sedemikian penting bagi para pengikutnya sampai-sampai dalam percakapannya yang terakhir dengan para rasul, yang dicatat dalam Injil Yohanes, dua kali Yesus mendesak, ”Teruslah mengikuti aku.” (Yohanes 21:​19, 22) Banyak orang Kristen masa awal melakukan tepat seperti itu. (2 Yohanes 4) Apa yang membantu mereka bertekun?

      4. Apa yang memungkinkan orang Kristen masa awal bertekun?

      4 Rasul Yohanes, seorang murid Kristus yang setia selama kira-kira tujuh dasawarsa, menunjukkan sebuah faktor yang penting. Ia memuji orang-orang Kristen yang setia, dengan mengatakan, ”Kamu kuat dan firman Allah tetap ada dalam dirimu dan kamu telah menaklukkan si fasik.” Murid-murid Kristus itu bertekun, atau tetap ada dalam firman Allah, karena firman Allah tetap ada dalam diri mereka. Mereka memiliki penghargaan yang dalam terhadapnya. (1 Yohanes 2:14, 24) Demikian pula sekarang, agar dapat ”bertekun sampai ke akhir”, kita perlu memastikan bahwa firman Allah tetap ada dalam diri kita. (Matius 24:13) Bagaimana kita dapat melakukannya? Jawabannya terdapat dalam sebuah ilustrasi yang Yesus ucapkan.

      ”Mendengar Firman Itu”

      5. (a) Apa saja jenis tanah yang Yesus sebutkan dalam salah satu ilustrasinya? (b) Apa yang digambarkan oleh benih dan tanah dalam ilustrasi Yesus?

      5 Yesus memberikan sebuah ilustrasi tentang seorang penabur yang menaburkan benih, yang dicatat di Injil Matius, Markus, dan Lukas. (Matius 13:1-9, 18-23; Markus 4:1-9, 14-20; Lukas 8:4-8, 11-15) Seraya Saudara membaca catatan itu, Saudara akan melihat bahwa aspek penting dalam ilustrasi itu adalah bahwa benih yang sama jatuh di berbagai jenis tanah sehingga hasilnya berbeda-beda. Jenis tanah yang pertama keras, yang kedua dangkal, dan yang ketiga tertutup tanaman berduri. Jenis yang keempat, tidak seperti ketiga jenis lainnya, adalah ”tanah yang baik”. Menurut penjelasan Yesus sendiri, benih adalah berita Kerajaan yang terdapat dalam Firman Allah, dan tanah menggambarkan orang-orang dengan kondisi hati yang berbeda-beda. Walaupun orang-orang yang digambarkan oleh berbagai jenis tanah itu memiliki beberapa persamaan, orang-orang yang digambarkan oleh tanah yang baik memiliki karakteristik yang membedakan mereka dari yang lainnya.

      6. (a) Dalam hal apa, jenis tanah yang keempat dalam ilustrasi Yesus berbeda dari tiga jenis lainnya, dan apa artinya? (b) Apa yang sangat dibutuhkan untuk memperlihatkan ketekunan sebagai murid Kristus?

      6 Catatan di Lukas 8:12-15 memperlihatkan bahwa pada keempat jenis tanah, orang-orang ”mendengar firman itu”. Akan tetapi, orang-orang yang memiliki ”hati yang mulia dan baik” tidak sekadar ”mendengar firman itu”. Mereka ”menyimpannya dan menghasilkan buah dengan ketekunan”. Tanah yang baik, karena gembur dan dalam, memungkinkan akar benih itu menembus dalam-dalam, dan hasilnya, benih itu bertunas dan menghasilkan buah. (Lukas 8:8) Demikian pula, orang-orang yang berhati baik mengerti, menghargai, dan menyerap firman Allah. (Roma 10:10; 2 Timotius 2:7) Firman Allah tetap ada dalam diri mereka. Oleh karena itu, mereka menghasilkan buah dengan ketekunan. Jadi, penghargaan yang dalam dan sepenuh hati terhadap Firman Allah sangat dibutuhkan untuk memperlihatkan ketekunan sebagai murid Kristus. (1 Timotius 4:15) Namun, bagaimana kita dapat memperkembangkan penghargaan sepenuh hati seperti itu terhadap Firman Allah?

      Kondisi Hati dan Perenungan yang Mendalam

      7. Kegiatan apa berkaitan erat dengan hati yang baik?

      7 Perhatikan kegiatan apa yang berulang kali Alkitab kaitkan dengan hati yang mulia dan baik. ”Hati orang adil-benar merenung agar dapat menjawab.” (Amsal 15:28) ”Biarlah perkataan mulutku dan renungan hatiku menyenangkan di hadapanmu, oh, Yehuwa.” (Mazmur 19:14) ”Renungan hatiku adalah mengenai perkara-perkara yang mengandung pengertian.”​—Mazmur 49:3.

      8. (a) Sewaktu membaca Alkitab, sikap apa yang hendaknya kita hindari, tetapi apa yang hendaknya kita lakukan? (b) Manfaat apa saja yang kita peroleh dari perenungan Firman Allah yang disertai doa? (Termasuk kotak ”Tetap Teguh dalam Kebenaran”.)

      8 Seperti para penulis Alkitab ini, kita pun perlu merenungkan Firman dan kegiatan Allah dengan penuh penghargaan sambil berdoa. Sewaktu membaca Alkitab atau publikasi berdasarkan Alkitab, kita hendaknya tidak bertindak seperti wisatawan yang tergesa-gesa pergi dari objek wisata yang satu ke objek wisata yang berikutnya, memotret semuanya tetapi tidak benar-benar menikmatinya. Sebaliknya, sewaktu mempelajari Alkitab, kita ingin meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan menikmati ayat Alkitab itu, seolah-olah menikmati panorama yang indah.b Seraya kita dengan senyap merenungkan apa yang kita baca, firman Allah mempengaruhi hati kita. Firman itu menyentuh emosi kita dan membentuk cara berpikir kita. Firman itu juga menggugah kita untuk mencurahkan pikiran-pikiran kita yang sangat pribadi kepada Allah dalam doa. Hasilnya, keterikatan kita kepada Yehuwa semakin erat, dan kasih kita kepada Allah mendorong kita untuk terus mengikuti Yesus sekalipun berada di bawah situasi-situasi yang sulit. (Matius 10:22) Jelaslah, merenungkan apa yang Allah firmankan sangat penting jika kita ingin tetap setia sampai ke akhir.​—Lukas 21:19.

      9. Bagaimana kita dapat memastikan bahwa hati kita tanggap menyambut firman Allah?

      9 Ilustrasi Yesus juga memperlihatkan bahwa ada rintangan-rintangan terhadap pertumbuhan benih itu, firman Allah. Oleh karena itu, untuk tetap menjadi murid-murid yang setia, kita hendaknya (1) mengenali rintangan-rintangan yang digambarkan oleh kondisi tanah yang tidak baik dalam ilustrasi tersebut dan (2) mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki atau menghindarinya. Dengan cara itu, kita memastikan bahwa hati kita tetap tanggap terhadap benih Kerajaan dan terus menghasilkan buah.

      ”Di tepi Jalan”—Terlalu Sibuk

      10. Uraikan jenis tanah yang pertama dalam ilustrasi Yesus, dan jelaskan maknanya.

      10 Jenis tanah yang pertama tempat benih itu jatuh adalah yang berada ”di tepi jalan”, tempat benih itu ”diinjak-injak orang”. (Lukas 8:5) Tanah di tepi jalan menuju ke ladang gandum menjadi keras dan padat karena terinjak-injak oleh para pejalan kaki yang lalu-lalang. (Markus 2:23) Demikian pula, orang-orang yang membiarkan kesibukan dunia ini menyita waktu dan energi mereka secara berlebihan mungkin mendapati bahwa mereka terlalu sibuk untuk memperkembangkan penghargaan yang sepenuh hati terhadap firman Allah. Mereka mendengarnya, tetapi mereka tidak merenungkannya. Oleh karena itu, hati mereka tetap dalam keadaan tidak tanggap. Sebelum mereka sempat memperkembangkan kasih akan firman itu, ”Iblis datang dan mengambil firman itu dari hati mereka agar mereka tidak percaya dan diselamatkan.” (Lukas 8:12) Dapatkah hal ini dicegah?

      11. Bagaimana kita dapat mencegah hati kita menjadi seperti tanah yang keras?

      11 Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah hati kita menjadi seperti tanah yang tidak subur di tepi jalan. Tanah yang terinjak-injak dan keras dapat menjadi gembur dan subur kalau tanah itu dibajak dan jalur lalu-lintas dialihkan. Demikian pula, menyediakan waktu untuk mempelajari dan merenungkan Firman Allah dapat menjadikan hati bagaikan tanah yang baik dan subur. Kuncinya adalah tidak terlalu disibukkan oleh kegiatan sehari-hari dalam kehidupan. (Lukas 12:13-15) Sebaliknya, pastikanlah agar Saudara mempunyai waktu untuk merenungkan ”perkara-perkara yang lebih penting” dalam kehidupan.​—Filipi 1:9-11.

      ”Di atas Batu”—Merasa Takut

      12. Apa sebenarnya yang menyebabkan tunas menjadi layu pada jenis tanah yang kedua dalam ilustrasi Yesus?

      12 Sewaktu benih itu jatuh di tanah jenis yang kedua, benih itu tidak terus berada di atasnya, seperti benih yang pertama. Benih ini berakar dan bertunas. Tetapi, kemudian, pada waktu matahari terbit, tunas itu hangus oleh terik matahari dan menjadi layu. Akan tetapi, perhatikan perincian penting ini. Penyebab sebenarnya tunas itu menjadi layu bukanlah terik matahari. Lagi pula, tanaman yang tumbuh di tanah yang baik juga terkena sinar matahari, tetapi tidak menjadi layu​—malahan, bertumbuh subur. Apa yang membedakannya? Tunas ini layu, jelas Yesus, ”sebab tanahnya tidak dalam” dan ”tidak mendapat air”. (Matius 13:5, 6; Lukas 8:6) ”Batu” yang berada persis di bawah lapisan tanah paling atas mencegah benih itu berakar cukup dalam guna mendapatkan air dan kestabilan. Tunasnya layu karena tanahnya dangkal.

      13. Orang-orang macam apa yang bagaikan tanah yang dangkal, dan apa penyebab yang lebih mendasar dari cara mereka bereaksi?

      13 Bagian ini dari ilustrasi Yesus menunjuk kepada orang-orang yang ”menerima firman itu dengan sukacita” dan dengan bergairah mengikuti Yesus ”selama suatu masa”. (Lukas 8:13) Sewaktu terkena sengatan matahari ”kesengsaraan atau penganiayaan”, mereka menjadi sedemikian takutnya sampai-sampai kehilangan sukacita serta kekuatan mereka dan berhenti mengikuti Kristus. (Matius 13:21) Namun, penyebab yang lebih mendasar dari rasa takut mereka bukanlah tentangan. Lagi pula, jutaan murid Kristus bertekun menghadapi berbagai bentuk kesengsaraan, tetapi mereka tetap setia. (2 Korintus 2:4; 7:5) Penyebab sesungguhnya mengapa beberapa orang menjadi takut dan jatuh adalah kondisi hati mereka yang bagaikan batu menghalangi mereka merenungkan secara cukup mendalam hal-hal yang membina dan bersifat rohani. Akibatnya, penghargaan yang mereka perkembangkan terhadap Yehuwa dan firman-Nya terlalu dangkal dan terlalu lemah untuk menahan tentangan. Bagaimana seseorang dapat mencegah terjadinya hal itu?

      14. Langkah apa saja yang hendaknya seseorang ambil untuk mencegah hatinya menjadi seperti tanah yang dangkal?

      14 Seseorang perlu memastikan bahwa tidak ada rintangan-rintangan bagaikan batu, seperti kebencian yang berurat berakar, sifat mementingkan diri yang tersamar, ataupun perasaan-perasaan yang sama kerasnya tetapi tersembunyi, bersarang dalam hatinya. Jika perintang seperti itu sudah tertanam, kuasa yang dikerahkan firman Allah dapat menghancurkannya. (Yeremia 23:29; Efesus 4:22; Ibrani 4:12) Setelah itu, perenungan yang disertai doa akan menggugah ’penanaman firman’ tersebut secara mendalam di hatinya. (Yakobus 1:21) Hal ini akan memberinya kekuatan untuk mengatasi saat-saat ia merasa kecil hati serta memberinya ketabahan untuk tetap setia sekalipun ada cobaan.

      ”Di antara Tanaman Berduri”​—Memiliki Hati yang Terbagi

      15. (a) Mengapa jenis tanah yang ketiga yang Yesus sebutkan khususnya patut kita perhatikan? (b) Apa yang akhirnya terjadi dengan jenis tanah yang ketiga, dan mengapa?

      15 Jenis tanah yang ketiga, yang ditumbuhi tanaman berduri, khususnya patut kita perhatikan karena dalam beberapa hal, tanah ini mirip dengan tanah yang baik. Seperti halnya tanah yang baik, tanah yang ditumbuhi tanaman berduri membiarkan benih berakar dan bertunas. Pada awalnya, tidak ada perbedaan dalam pertumbuhan tanaman baru di kedua jenis tanah ini. Akan tetapi, seraya waktu berlalu, suatu keadaan berkembang yang pada akhirnya mencekik tanaman itu. Tidak seperti tanah yang baik, tanah ini kemudian dipenuhi tanaman berduri. Seraya tanaman muda bertumbuh dari tanah ini, ia harus bersaing dengan ”tanaman berduri yang tumbuh bersamanya”. Selama beberapa saat, kedua-duanya berebut nutrisi, sinar matahari, dan ruang, tetapi tanaman berduri akhirnya mengalahkan tanaman itu dan ”mencekiknya sampai mati”.​—Lukas 8:7.

      16. (a) Siapa yang serupa dengan tanah yang ditumbuhi tanaman berduri? (b) Menurut catatan ketiga Injil, apa yang digambarkan oleh tanaman berduri?​—Lihat catatan kaki.

      16 Orang macam apa yang serupa dengan tanah yang ditumbuhi tanaman berduri? Yesus menjelaskan, ”Ini adalah orang-orang yang telah mendengar, tetapi karena disimpangkan oleh kekhawatiran dan kekayaan dan kesenangan kehidupan ini, mereka tercekik sepenuhnya dan tidak menghasilkan apa-apa kepada kesempurnaan.” (Lukas 8:14) Seperti halnya benih sang penabur dan tanaman berduri tumbuh di tanah ini secara bersamaan, demikianlah beberapa orang berupaya menerima firman Allah dan ”kesenangan kehidupan ini” secara bersamaan. Kebenaran firman Allah ditaburkan dalam hati mereka, tetapi kebenaran itu harus bersaing dengan pengejaran lainnya yang berebut meminta perhatian mereka. Hati mereka terbagi. (Lukas 9:57-62) Hal ini mencegah mereka meluangkan cukup waktu untuk perenungan yang mendalam atas firman Allah disertai doa. Mereka gagal menyerap firman Allah sepenuhnya dan, oleh karena itu, tidak memiliki penghargaan sepenuh hati yang dibutuhkan untuk bertekun. Secara bertahap, minat rohani mereka dikalahkan oleh pengejaran nonrohani sampai pada suatu saat mereka ”tercekik sepenuhnya”.c Benar-benar akhir yang menyedihkan bagi orang-orang yang tidak mengasihi Yehuwa dengan sepenuh hati!​—Matius 6:​24; 22:37.

      17. Pilihan apa saja yang perlu kita buat dalam kehidupan agar kita tidak tercekik oleh tanaman berduri kiasan yang disebutkan dalam ilustrasi Yesus?

      17 Dengan memprioritaskan hal-hal rohani di atas kepentingan materi, kita tidak akan dicekik oleh penderitaan dan kesenangan dunia ini. (Matius 6:31-33; Lukas 21:34-36) Pembacaan Alkitab dan perenungan atas apa yang kita baca hendaknya tidak pernah dilalaikan. Kita akan mendapatkan lebih banyak waktu untuk perenungan yang terpusat dan disertai doa jika kita berusaha sebisa-bisanya menyederhanakan kehidupan kita. (1 Timotius 6:6-8) Hamba-hamba Allah yang telah melakukannya​—yang telah seolah-olah mencabuti tanaman berduri dari tanah guna memberikan lebih banyak nutrisi, cahaya, dan ruang kepada tanaman yang menghasilkan buah​—merasakan berkat-berkat Yehuwa. Sandra, yang berusia 26 tahun, berkata, ”Sewaktu saya merenungkan berkat-berkat yang saya terima dalam kebenaran, saya sadar bahwa tawaran dunia ini tidak ada apa-apanya dibanding berkat-berkat itu!”​—Mazmur 84:11.

      18. Bagaimana kita dapat tetap ada dalam firman Allah dan bertekun sebagai orang Kristen?

      18 Jadi, jelaslah bahwa kita semua, tua maupun muda, akan tetap ada dalam firman Allah dan bertekun sebagai murid-murid Kristus selama firman Allah tetap ada dalam diri kita. Oleh karena itu, marilah kita pastikan bahwa tanah hati kita tidak pernah menjadi keras, dangkal, atau tertutup tanaman berduri, tetapi selalu gembur dan dalam. Dengan demikian, kita akan dapat menyerap firman Allah sepenuhnya dan ”menghasilkan buah dengan ketekunan”.​—Lukas 8:15.

      [Catatan Kaki]

      a Dalam artikel ini, kita akan membahas syarat pertama. Dua syarat lainnya akan dibahas dalam artikel-artikel berikutnya.

      b Setelah membaca suatu bagian Alkitab, Saudara dapat merenungkannya disertai doa dengan, misalnya, bertanya kepada diri sendiri, ’Apakah bagian ini menyingkapkan satu atau lebih sifat Yehuwa? Bagaimana bagian ini berkaitan dengan tema Alkitab? Bagaimana saya dapat menerapkannya dalam kehidupan saya atau menggunakannya untuk membantu orang lain?’

      c Menurut catatan ketiga Injil tentang parabel Yesus, benih itu dicekik oleh penderitaan dan kesenangan dunia ini: ”Kekhawatiran sistem ini”, ”tipu daya kekayaan”, ”hasrat akan hal-hal yang lain”, dan ”kesenangan kehidupan ini”.​—Markus 4:19; Matius 13:22; Lukas 8:14; Yeremia 4:3, 4.

  • ’Milikilah Kasih di Antara Kamu’
    Menara Pengawal—2003 | 1 Februari
    • ’Milikilah Kasih di Antara Kamu’

      ”Dengan inilah semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-muridku, jika kamu mempunyai kasih di antara kamu.”​—YOHANES 13:35.

      1. Sifat apa yang Yesus tandaskan tidak lama sebelum kematiannya?

      ”HAI, anak-anak kecil.” (Yohanes 13:33) Dengan ungkapan yang lembut itu, Yesus memanggil para rasulnya pada malam sebelum kematiannya. Tidak ada catatan dalam kisah Injil yang menyebutkan bahwa Yesus sebelumnya pernah menggunakan ungkapan yang simpatik ini saat berbicara kepada mereka. Namun, pada malam yang istimewa itu, ia tergugah untuk menggunakan sapaan yang penuh kasih sayang ini untuk menyatakan kasihnya yang dalam terhadap para pengikutnya. Sesungguhnya, kurang lebih 30 kali Yesus berbicara mengenai kasih pada malam itu. Mengapa ia sedemikian menandaskan sifat ini?

      2. Mengapa memperlihatkan kasih begitu penting bagi orang Kristen?

      2 Yesus menjelaskan mengapa kasih begitu penting. ”Dengan inilah,” kata Yesus, ”semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-muridku, jika kamu mempunyai kasih di antara kamu.” (Yohanes 13:35; 15:12, 17) Menjadi pengikut Kristus sangat erat kaitannya dengan memperlihatkan kasih persaudaraan. Orang Kristen sejati dikenali, bukan melalui cara berpakaian yang unik atau kebiasaan tertentu yang tidak lazim, melainkan melalui kasih mereka yang hangat dan lembut terhadap satu sama lain. Memiliki jenis kasih yang menonjol ini merupakan yang kedua dari tiga syarat utama menjadi murid Kristus yang disebutkan pada awal artikel sebelumnya. Apa yang akan membantu kita terus memenuhi persyaratan ini?

      ”Melakukannya dengan Lebih Bersungguh-sungguh Lagi”

      3. Nasihat apa tentang kasih yang diberikan oleh rasul Paulus?

      3 Seperti halnya tampak di antara para pengikut Kristus pada abad pertama, kasih yang menonjol ini pun tampak di antara murid-murid sejati Kristus dewasa ini. Kepada orang Kristen abad pertama, rasul Paulus menulis, ”Mengenai kasih persaudaraan, kami tidak perlu menulis kepadamu, sebab kamu sendiri diajar Allah untuk saling mengasihi; dan sebenarnya, kamu sedang melakukannya kepada semua saudara.” Meskipun demikian, Paulus menambahkan, ’Teruslah melakukannya dengan lebih bersungguh-sungguh lagi.’ (1 Tesalonika 3:12; 4:9, 10) Kita pun perlu mencamkan nasihat Paulus dan berupaya memperlihatkan kasih terhadap satu sama lain ”dengan lebih bersungguh-sungguh lagi”.

      4. Menurut Paulus dan Yesus, kepada siapa hendaknya kita memberikan perhatian khusus?

      4 Dalam surat terilham yang sama, Paulus menganjurkan rekan-rekan seimannya untuk ’menghibur jiwa-jiwa yang tertekan’ dan ’mendukung orang yang lemah’. (1 Tesalonika 5:14) Pada kesempatan lain, ia mengingatkan orang Kristen agar mereka ”yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat”. (Roma 15:1) Yesus juga memberikan instruksi mengenai membantu orang-orang yang lemah. Setelah menubuatkan bahwa Petrus akan meninggalkannya pada malam ia ditangkap, Yesus memberi tahu Petrus, ”Apabila engkau sudah kembali, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Mengapa? Karena mereka juga telah meninggalkan Yesus sehingga perlu dibantu. (Lukas 22:32; Yohanes 21:15-17) Jadi, Firman Allah mengarahkan kita untuk mengulurkan kasih kita kepada mereka yang lemah secara rohani dan yang mungkin telah kehilangan kontak dengan sidang Kristen. (Ibrani 12:12) Mengapa kita hendaknya melakukan hal itu? Jawabannya terdapat dalam dua ilustrasi hidup yang Yesus berikan.

      Domba yang Hilang dan Uang Logam yang Hilang

      5, 6. (a) Dua ilustrasi singkat apa yang diceritakan Yesus? (b) Apa yang disingkapkan ilustrasi-ilustrasi tersebut mengenai Yehuwa?

      5 Untuk mengajar para pendengarnya tentang pandangan Yehuwa terhadap orang-orang yang telah tersesat, Yesus memberikan dua ilustrasi singkat. Yang pertama mengenai seorang gembala. Yesus berkata, ”Pria mana di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, sewaktu kehilangan seekor di antaranya, tidak akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang belantara dan mencari yang hilang itu sampai ia menemukannya? Dan apabila ia telah menemukannya, ia menaruhnya di atas bahunya dan bersukacita. Dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya untuk berkumpul, dengan mengatakan kepada mereka, ’Bersukacitalah bersamaku, karena aku telah menemukan dombaku yang hilang.’ Aku memberi tahu kamu bahwa demikian pula akan ada lebih banyak sukacita di surga atas satu orang berdosa yang bertobat, daripada atas sembilan puluh sembilan orang adil-benar yang tidak membutuhkan pertobatan.”​—Lukas 15:4-7.

      6 Ilustrasi yang kedua mengenai seorang wanita. Yesus berkata, ”Wanita manakah yang mempunyai sepuluh uang logam drakhma, jika ia kehilangan satu uang logam drakhma, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumahnya serta mencari dengan teliti sampai ia menemukannya? Dan apabila ia telah menemukannya, ia memanggil wanita-wanita yang adalah sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya untuk berkumpul, dan mengatakan, ’Bersukacitalah bersamaku, karena aku telah menemukan uang logam drakhma yang hilang.’ Demikianlah, aku memberi tahu kamu, sukacita ada di antara malaikat-malaikat Allah atas satu orang berdosa yang bertobat.”​—Lukas 15:8-10.

      7. Dua pelajaran apa terkandung dalam ilustrasi tentang domba yang hilang dan uang logam yang hilang bagi kita?

      7 Apa yang dapat kita pelajari dari ilustrasi-ilustrasi singkat ini? Kedua-duanya memperlihatkan kepada kita (1) bagaimana hendaknya perasaan kita terhadap orang-orang yang telah menjadi lemah dan (2) apa yang hendaknya kita lakukan untuk membantu mereka. Mari kita bahas pokok-pokok ini.

      Hilang tetapi Dianggap Berharga

      8. (a) Bagaimana reaksi sang gembala dan wanita itu sewaktu mereka kehilangan barangnya? (b) Dari reaksi mereka, apa yang dapat kita simpulkan tentang pandangan mereka terhadap milik mereka yang hilang?

      8 Dalam kedua ilustrasi itu, sesuatu telah hilang, tetapi perhatikan reaksi para pemiliknya. Sang gembala tidak mengatakan, ’Apalah artinya seekor domba, toh saya masih punya 99 ekor? Tanpa domba itu pun, saya tidak apa-apa.’ Wanita itu tidak mengatakan, ’Untuk apa saya memikirkan satu uang logam itu? Saya puas dengan sembilan keping yang masih saya punyai.’ Sebaliknya, sang gembala mencari dombanya yang hilang seakan-akan itulah satu-satunya domba yang ia punyai. Dan, wanita itu merasa kehilangan uang logamnya itu seakan-akan dia tidak punya uang logam lagi. Dalam kedua keadaan itu, barang yang hilang tetap berharga dalam pandangan pemiliknya. Apa yang diilustrasikan oleh hal ini?

      9. Apa yang diilustrasikan oleh keprihatinan sang gembala dan wanita itu?

      9 Perhatikan kesimpulan Yesus dalam kedua kasus itu, ”Demikian pula akan ada lebih banyak sukacita di surga atas satu orang berdosa yang bertobat” dan ”demikianlah, aku memberi tahu kamu, sukacita ada di antara malaikat-malaikat Allah atas satu orang berdosa yang bertobat”. Oleh karena itu, keprihatinan sang gembala dan wanita itu secara kecil-kecilan mencerminkan perasaan Yehuwa dan makhluk-makhluk surgawi-Nya. Sebagaimana barang yang hilang tetap berharga di mata sang gembala dan wanita itu, orang-orang yang telah hanyut dan kehilangan kontak dengan umat Allah juga tetap berharga di mata Yehuwa. (Yeremia 31:3) Orang-orang seperti itu mungkin lemah secara rohani, tetapi belum tentu mereka suka melawan. Meskipun kondisi mereka lemah, sampai taraf tertentu mereka mungkin masih menjalankan tuntutan-tuntutan Yehuwa. (Mazmur 119:176; Kisah 15:29) Itulah sebabnya, seperti pada masa lampau, Yehuwa tidak tergesa-gesa ”membuang mereka dari hadapan mukanya”.​—2 Raja 13:23.

      10, 11. (a) Bagaimana kita ingin memandang orang-orang yang telah hanyut dari sidang? (b) Menurut kedua ilustrasi Yesus, bagaimana kita dapat mengungkapkan kepedulian kita terhadap mereka?

      10 Seperti Yehuwa dan Yesus, kita pun sangat prihatin terhadap orang-orang yang lemah dan hilang dari sidang Kristen. (Yehezkiel 34:16; Lukas 19:10) Kita memandang orang yang lemah secara rohani sebagai domba yang hilang​—bukan orang yang tak tertolong lagi. Kita tidak bernalar, ’Untuk apa memikirkan seorang yang lemah? Tanpa dia pun, sidang baik-baik saja.’ Sebaliknya, seperti Yehuwa, kita memandang orang-orang yang telah hanyut tetapi yang ingin kembali itu sebagai orang-orang yang berharga.

      11 Namun, bagaimana kita dapat mengungkapkan kepedulian kita? Kedua ilustrasi Yesus menunjukkan bahwa kita dapat melakukannya (1) dengan mengambil inisiatif, (2) dengan bersikap lembut, dan (3) dengan bersungguh-sungguh. Mari kita perhatikan aspek-aspek ini satu per satu.

      Ambillah Inisiatif

      12. Dari kata-kata ”mencari yang hilang itu”, apa yang dapat kita simpulkan tentang sikap sang gembala?

      12 Dalam ilustrasi pertama, Yesus mengatakan bahwa sang gembala akan ”mencari yang hilang itu”. Sang gembala mengambil inisiatif dan mengerahkan upaya khusus untuk menemukan domba yang hilang itu. Kesukaran, bahaya, dan jarak tidak menyurutkan niatnya. Sebaliknya, sang gembala berkanjang ”sampai ia menemukannya”.​—Lukas 15:4.

      13. Bagaimana pria-pria yang setia pada zaman dahulu menanggapi kebutuhan orang-orang yang lemah, dan bagaimana kita dapat meniru teladan-teladan Alkitab itu?

      13 Demikian pula, untuk membantu orang yang sedang membutuhkan dukungan moril, orang yang lebih kuat sering kali perlu mengambil inisiatif. Pria-pria yang setia pada zaman dahulu memahami hal ini. Misalnya, saat Yonatan, putra Raja Saul, sadar bahwa Daud sahabat karibnya sedang membutuhkan dukungan moril, ia ”bangkit dan pergi kepada Daud di Hores, agar ia dapat menguatkan hubungan Daud dengan Allah”. (1 Samuel 23:15, 16) Berabad-abad kemudian, saat Gubernur Nehemia melihat bahwa beberapa saudara Yahudinya menjadi lemah, ia pun ”segera bangkit” dan menganjurkan mereka ’untuk mengingat Yehuwa’. (Nehemia 4:14) Dewasa ini, kita juga ingin ”bangkit”​—mengambil inisiatif​—guna menguatkan orang-orang yang lemah. Tetapi, siapa di dalam sidang yang seharusnya melakukan hal itu?

      14. Siapa dalam sidang Kristen yang seharusnya berupaya membantu orang-orang yang lemah?

      14 Para penatua Kristen, khususnya, bertanggung jawab ’menguatkan tangan yang lemah dan meneguhkan lutut yang goyah’ serta ’mengatakan kepada mereka yang khawatir hatinya, ”Jadilah kuat. Jangan takut” ’. (Yesaya 35:3, 4; 1 Petrus 5:1, 2) Namun, perhatikanlah bahwa anjuran Paulus untuk ’menghibur jiwa-jiwa yang tertekan’ dan untuk ’mendukung orang yang lemah’ tidak diberikan hanya kepada para penatua. Sebaliknya, kata-kata Paulus ditujukan kepada seluruh ”sidang jemaat orang-orang Tesalonika”. (1 Tesalonika 1:1; 5:14) Jadi, membantu orang-orang yang lemah adalah tugas semua orang Kristen. Seperti sang gembala dalam ilustrasi Yesus, setiap orang Kristen hendaknya tergerak untuk ”mencari yang hilang itu”. Tentu saja, hal ini paling efektif dilakukan melalui kerja sama dengan para penatua. Dapatkah Saudara melakukan sesuatu untuk membantu orang yang lemah di sidang Saudara?

      Bersikaplah Lembut

      15. Apa kira-kira alasan di balik tindakan sang gembala?

      15 Apa yang dilakukan sang gembala ketika ia akhirnya menemukan domba yang hilang itu? ”Ia menaruhnya di atas bahunya.” (Lukas 15:5) Perincian yang benar-benar menyentuh hati dan kaya makna! Domba itu mungkin telah berhari-hari mengembara melintasi daerah yang tak dikenalnya, bahkan mungkin menghadapi ancaman singa-singa yang siap menerkam. (Ayub 38:39, 40) Pastilah domba itu lemah karena kurang makan. Ia terlalu ringkih untuk mengatasi sendiri rintangan-rintangan yang bakal mengadangnya dalam perjalanan pulang menuju kawanannya. Itulah sebabnya, sang gembala membungkuk, dengan lembut mengangkat domba itu, dan menggendongnya melintasi semua rintangan untuk kembali ke kawanannya. Bagaimana kita dapat mencerminkan kepedulian yang diperlihatkan gembala ini?

      16. Mengapa kita hendaknya memperlihatkan kelembutan seperti yang diperlihatkan sang gembala terhadap domba yang tersesat itu?

      16 Orang yang telah kehilangan kontak dengan sidang bisa jadi kehabisan tenaga secara rohani. Bagaikan domba yang terpisah dari gembalanya, orang seperti itu mungkin telah mengembara tanpa tujuan melintasi daerah yang tidak bersahabat dalam dunia ini. Tanpa perlindungan yang disediakan kawanan, yakni sidang Kristen, ia jauh lebih rentan terhadap serangan si Iblis, yang ”berjalan keliling seperti singa yang mengaum, berupaya melahap orang”. (1 Petrus 5:8) Selain itu, ia menjadi lemah karena tidak mendapat makanan rohani. Oleh karena itu, dengan kekuatannya sendiri, ia kemungkinan besar terlalu lemah untuk mengatasi rintangan yang bakal mengadangnya dalam perjalanannya kembali ke sidang. Itulah sebabnya, kita perlu seolah-olah membungkuk, dengan lembut mengangkat orang yang lemah itu, dan menggendongnya pulang. (Galatia 6:2) Bagaimana kita dapat melakukannya?

      17. Bagaimana kita dapat meniru rasul Paulus sewaktu mengunjungi orang yang lemah?

      17 Rasul Paulus berkata, ”Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah?” (2 Korintus 11:29, Terjemahan Baru; 1 Korintus 9:22) Paulus berempati terhadap orang-orang, termasuk yang lemah. Kita ingin mempertunjukkan sikap seperasaan yang serupa terhadap orang-orang yang lemah. Sewaktu mengunjungi seorang Kristen yang lemah secara rohani, yakinkanlah dia bahwa dia berharga di mata Yehuwa dan bahwa dia sangat dirindukan oleh rekan-rekannya sesama Saksi. (1 Tesalonika 2:17) Beri tahu dia bahwa mereka siap memberinya dukungan dan senang menjadi ”saudara yang dilahirkan untuk waktu kesesakan”. (Amsal 17:17; Mazmur 34:18) Pernyataan-pernyataan kita yang sepenuh hati dapat dengan lembut dan secara bertahap membesarkan hatinya hingga dia dapat kembali ke kawanan. Apa yang hendaknya kita lakukan selanjutnya? Ilustrasi tentang wanita dan uang logam yang hilang memberi kita petunjuk.

      Bersungguh-sungguhlah

      18. (a) Mengapa wanita dalam ilustrasi itu tidak putus harapan? (b) Upaya sungguh-sungguh apa dikerahkan oleh wanita itu, dan apa hasilnya?

      18 Wanita yang kehilangan uang logamnya tahu bahwa situasinya sulit, tetapi bukannya tanpa harapan. Seandainya uang logam itu terjatuh di ladang yang luas dan bersemak-semak, atau di danau berlumpur yang dalam, kemungkinan besar ia tidak akan ambil pusing lagi dengan uang logam itu. Namun, karena tahu bahwa uang logam itu pasti ada di suatu tempat di rumahnya, berarti masih ada kemungkinan untuk ditemukan, ia mulai mencari dengan teliti dan bersungguh-sungguh. (Lukas 15:8) Pertama-tama, ia menyalakan pelita guna menerangi rumahnya yang gelap. Lalu, ia menyapu lantai sambil berharap akan mendengar suara berdenting. Akhirnya, ia dengan cermat mencari di setiap sudut dan sela sampai cahaya pelitanya dipantulkan oleh uang logam perak. Upaya sungguh-sungguh wanita itu membuahkan hasil!

      19. Dalam membantu orang yang lemah, pelajaran apa saja dapat kita tarik dari tindakan wanita dalam ilustrasi tentang uang logam yang hilang?

      19 Seperti yang diingatkan perincian ilustrasi tersebut, kewajiban berdasarkan Alkitab untuk membantu orang Kristen yang lemah tidak di luar kesanggupan kita. Sementara itu, kita sadar bahwa hal ini menuntut upaya. Lagi pula, rasul Paulus mengatakan kepada para penatua di sidang Efesus, ”Dengan bekerja keras seperti itu, kamu harus membantu orang yang lemah.” (Kisah 20:35a) Ingatlah bahwa wanita itu tidak menemukan uang logamnya hanya dengan sepintas lalu mencari di sekeliling rumahnya, atau secara kebetulan, hanya sekali-sekali. Tidak, ia berhasil karena ia secara sistematis mencari ”sampai ia menemukannya”. Demikian pula, sewaktu kita berupaya memperoleh kembali orang yang lemah secara rohani, pendekatan kita haruslah dengan sungguh-sungguh dan bertujuan. Apa yang dapat kita lakukan?

      20. Apa yang dapat dilakukan untuk membantu orang-orang yang lemah?

      20 Bagaimana kita dapat membantu orang yang lemah untuk membina iman dan penghargaannya? Barangkali yang dibutuhkan hanyalah sebuah pengajaran Alkitab secara pribadi dengan publikasi Kristen yang cocok. Sesungguhnya, memimpin pengajaran Alkitab dengan orang yang lemah memungkinkan kita membantunya secara konsisten dan saksama. Kemungkinan besar, pengawas dinas yang paling dapat menentukan dengan tepat siapa yang akan memberikan bantuan yang dibutuhkan. Ia dapat menyarankan topik apa saja yang dapat dipelajari dan publikasi mana yang paling bermanfaat. Sebagaimana wanita dalam ilustrasi itu menggunakan peralatan yang tepat untuk melaksanakan tugasnya, demikian pula dewasa ini kita memiliki peralatan yang membantu kita melaksanakan tanggung jawab yang Allah berikan untuk membantu orang-orang yang lemah. Dua peralatan, atau publikasi, yang baru kita dapatkan akan sangat bermanfaat dalam upaya ini. Kedua buku itu adalah Sembahlah Satu-satunya Allah yang Benar dan Mendekatlah kepada Yehuwa.a

      21. Bagaimana membantu orang-orang yang lemah mendatangkan berkat bagi semua?

      21 Membantu orang-orang yang lemah mendatangkan berkat bagi semua. Orang yang sedang dibantu menikmati kebahagiaan karena bersatu kembali dengan sahabat-sahabat sejati. Kita merasakan sukacita yang sepenuh hati yang hanya dihasilkan kalau kita memberi. (Lukas 15:6, 9; Kisah 20:35b) Sidang secara keseluruhan semakin hangat seraya setiap anggotanya saling memberi perhatian yang pengasih. Dan, di atas segalanya, kehormatan diberikan kepada Gembala-Gembala kita yang penuh perhatian, Yehuwa dan Yesus, seraya hasrat mereka untuk mendukung orang yang lemah dicerminkan oleh hamba-hamba mereka di bumi. (Mazmur 72:12-14; Matius 11:28-30; 1 Korintus 11:1; Efesus 5:1) Oleh karena itu, kita benar-benar memiliki alasan yang baik untuk terus ’mempunyai kasih di antara kita’!

  • ’Teruslah Menghasilkan Banyak Buah’
    Menara Pengawal—2003 | 1 Februari
    • ’Teruslah Menghasilkan Banyak Buah’

      ’Teruslah menghasilkan banyak buah dan dengan demikian kamu menjadi murid-muridku.’​—YOHANES 15:8.

      1. (a) Berdasarkan perkataan Yesus kepada rasul-rasulnya, apa syarat menjadi murid? (b) Pertanyaan apa hendaknya kita ajukan kepada diri sendiri?

      PERISTIWANYA pada malam sebelum kematian Yesus. Ia telah menggunakan banyak waktu untuk membesarkan hati rasul-rasulnya dengan percakapan dari hati ke hati. Sekarang, pasti telah lewat tengah malam, tetapi Yesus, yang digugah oleh kasihnya kepada sahabat-sahabat karibnya, terus bercakap-cakap. Lalu, di sela-sela percakapannya, ia mengingatkan mereka tentang satu syarat lagi yang perlu mereka penuhi agar dapat tetap menjadi murid-muridnya. Ia berkata, ”Bapakku dimuliakan dalam hal ini, bahwa kamu terus menghasilkan banyak buah dan dengan demikian kamu menjadi murid-muridku.” (Yohanes 15:8) Apakah dewasa ini kita memenuhi syarat ini untuk menjadi muridnya? Apa artinya ”menghasilkan banyak buah”? Untuk mendapatkan jawabannya, mari kita perhatikan percakapan yang terjadi pada malam itu.

      2. Ilustrasi apa tentang buah yang Yesus ceritakan pada malam sebelum kematiannya?

      2 Nasihat untuk menghasilkan buah merupakan bagian dari ilustrasi yang Yesus ceritakan kepada para rasulnya. Ia mengatakan, ”Akulah tanaman anggur yang benar, dan Bapakku penggarapnya. Setiap cabang padaku yang tidak menghasilkan buah disingkirkannya, dan setiap cabang yang menghasilkan buah dibersihkannya, agar menghasilkan lebih banyak buah. Kamu sudah bersih oleh karena perkataan yang telah kukatakan kepadamu. Tetaplah dalam persatuan dengan aku, dan aku dalam persatuan dengan kamu. Sebagaimana cabang tidak dapat menghasilkan buah dari dirinya sendiri kecuali tetap pada tanaman anggur, demikian juga kamu tidak dapat berbuah, kecuali kamu tetap dalam persatuan dengan aku. Akulah tanaman anggur, kamu cabang-cabangnya. . . . Bapakku dimuliakan dalam hal ini, bahwa kamu terus menghasilkan banyak buah dan dengan demikian kamu menjadi murid-muridku. Sebagaimana Bapak telah mengasihi aku dan aku telah mengasihi kamu, tetaplah dalam kasihku. Jika kamu menjalankan perintah-perintahku, kamu akan tetap dalam kasihku.”​—Yohanes 15:1-10.

      3. Apa yang harus dilakukan para pengikut Yesus agar dapat menghasilkan buah?

      3 Dalam ilustrasi ini, Yehuwa adalah sang Penggarap, Yesus adalah tanaman anggur, dan para rasul yang Yesus ajak bicara adalah cabang-cabangnya. Selama para rasul itu berupaya keras untuk ”tetap dalam persatuan” dengan Yesus, mereka akan menghasilkan buah. Yesus lalu menjelaskan bagaimana para rasul itu dapat berhasil mempertahankan persatuan yang vital ini, ”Jika kamu menjalankan perintah-perintahku, kamu akan tetap dalam kasihku.” Belakangan, rasul Yohanes menuliskan kata-kata yang serupa kepada rekan-rekan Kristennya, ”Ia yang menjalankan perintah-perintah [Kristus] tetap berada dalam persatuan dengan dia.”a (1 Yohanes 2:24; 3:24) Jadi, dengan menjalankan perintah-perintah Kristus, para pengikutnya tetap dalam persatuan dengan dia, dan selanjutnya, persatuan itu memungkinkan mereka menghasilkan buah. Apa saja ciri buah yang perlu kita hasilkan?

      Kesempatan untuk Membuat Kemajuan

      4. Apa yang dapat kita pelajari dari fakta bahwa Yehuwa ’menyingkirkan’ setiap cabang yang tidak menghasilkan buah?

      4 Dalam ilustrasi tentang tanaman anggur itu, Yehuwa ’menyingkirkan’, atau memotong, sebuah cabang apabila cabang itu tidak menghasilkan buah. Apa artinya hal ini bagi kita? Artinya, semua murid tidak hanya dituntut untuk menghasilkan buah, tetapi mereka semua juga mampu melakukannya, tidak soal bagaimana keadaan atau keterbatasan yang mungkin ada. Pastilah bertentangan dengan jalan-jalan Yehuwa yang pengasih untuk ’menyingkirkan’, atau mendiskualifikasi, seorang murid Kristus karena sang murid gagal melaksanakan suatu hal yang memang di luar kemampuannya.​—Mazmur 103:14; Kolose 3:​23; 1 Yohanes 5:3.

      5. (a) Bagaimana ilustrasi Yesus menunjukkan bahwa kita dapat membuat kemajuan dalam menghasilkan buah? (b) Apa dua macam buah yang akan kita bahas?

      5 Ilustrasi Yesus tentang tanaman anggur juga menunjukkan bahwa sejauh keadaan kita memungkinkan, kita harus mencari kesempatan untuk membuat kemajuan dalam kegiatan kita sebagai seorang murid. Perhatikan bagaimana Yesus mengatakannya, ”Setiap cabang padaku yang tidak menghasilkan buah disingkirkannya, dan setiap cabang yang menghasilkan buah dibersihkannya, agar menghasilkan lebih banyak buah.” (Yohanes 15:2) Di bagian akhir ilustrasi itu, Yesus mendesak para pengikutnya untuk menghasilkan ”banyak buah”. (Ayat 8) Apa yang tersirat? Sebagai murid, kita hendaknya tidak pernah berpuas diri. (Penyingkapan 3:14, 15, 19) Sebaliknya, kita hendaknya mencari cara-cara untuk membuat kemajuan dalam menghasilkan buah. Jenis buah apa saja yang hendaknya kita hasilkan lebih berlimpah? Buah-buah itu adalah (1) ”buah roh” dan (2) buah Kerajaan.​—Galatia 5:22, 23; Matius 24:14.

      Buah Berupa Sifat-Sifat Kristen

      6. Bagaimana Yesus Kristus menandaskan pentingnya buah roh yang pertama disebutkan?

      6 Yang pertama tercantum di antara ”buah roh” adalah kasih. Roh kudus Allah menghasilkan kasih dalam diri orang Kristen, karena mereka menaati perintah yang Yesus berikan tidak lama sebelum ia mengucapkan ilustrasi tentang tanaman anggur yang menghasilkan buah. Ia memberi tahu para rasulnya, ”Aku memberikan kepadamu perintah baru, agar kamu mengasihi satu sama lain.” (Yohanes 13:34) Sebenarnya, sepanjang percakapannya pada malam terakhir kehidupannya di bumi, Yesus berulang kali mengingatkan para rasulnya tentang perlunya memperlihatkan sifat kasih.​—Yohanes 14:15, 21, 23, 24; 15:12, 13, 17.

      7. Bagaimana rasul Petrus memperlihatkan bahwa menghasilkan buah berkaitan dengan memanifestasikan sifat-sifat seperti yang Kristus perlihatkan?

      7 Petrus, yang hadir pada malam itu, memahami bahwa kasih seperti yang Kristus perlihatkan dan sifat-sifat yang terkait harus nyata di antara murid-murid sejati Kristus. Bertahun-tahun kemudian, Petrus menganjurkan orang Kristen untuk memupuk sifat-sifat seperti pengendalian diri, kasih sayang persaudaraan, dan kasih. Ia menambahkan bahwa dengan melakukannya, hal ini akan mencegah kita ”menjadi tidak aktif ataupun tidak berbuah”. (2 Petrus 1:​5-8) Apa pun keadaan kita, memperlihatkan buah roh tidaklah di luar kemampuan kita. Oleh karena itu, semoga kita berupaya keras memperlihatkan kasih, kebaikan hati, kelemahlembutan, dan sifat-sifat lain seperti yang Kristus perlihatkan sampai taraf yang lebih sepenuhnya, karena ”tidak ada hukum [maupun batas] yang menentang hal-hal demikian”. (Galatia 5:​23) Ya, marilah kita menghasilkan ”lebih banyak buah”.

      Menghasilkan Buah Kerajaan

      8. (a) Apa kaitan antara buah roh dan buah Kerajaan? (b) Pertanyaan apa yang patut kita pertimbangkan?

      8 Buah yang berwarna-warni dan ranum menambah keindahan tanaman. Namun, buah tidak hanya berfungsi sebagai penambah keindahan. Buah juga vital bagi penyebarluasan tanaman itu melalui biji-bijinya. Demikian pula, buah roh tidak sekadar memperindah kepribadian Kristen kita. Sifat-sifat seperti kasih dan iman juga memotivasi kita untuk menyebarkan berita Kerajaan, yang bagaikan benih, yang terdapat dalam Firman Allah. Perhatikan bagaimana rasul Paulus menandaskan kaitan yang vital ini. Ia mengatakan, ”Kami juga memperlihatkan iman [salah satu buah roh] dan karena itu kami berbicara.” (2 Korintus 4:​13) Dengan cara ini, Paulus menjelaskan lebih lanjut, kita ”mempersembahkan korban pujian kepada Allah, yaitu buah-buah bibir”​—buah jenis kedua yang perlu kita perlihatkan. (Ibrani 13:15) Apakah kita memiliki kesempatan dalam kehidupan kita untuk lebih produktif, yakni menghasilkan ”banyak buah”, sebagai pemberita Kerajaan Allah?

      9. Apakah menghasilkan buah sama dengan menjadikan murid? Jelaskan.

      9 Agar dapat menjawab dengan tepat, pertama-tama kita perlu memahami apa yang dimaksud dengan buah Kerajaan. Apakah tepat untuk menyimpulkan bahwa menghasilkan buah sama dengan menjadikan murid? (Matius 28:19) Apakah buah yang kita hasilkan terutama memaksudkan orang-orang yang kita bantu menjadi penyembah Yehuwa yang terbaptis? Tidak. Seandainya demikian halnya, semua Saksi yang dikasihi yang telah dengan setia mengumumkan berita Kerajaan selama bertahun-tahun di daerah-daerah yang kurang menyambut akan sangat berkecil hati. Ya, seandainya buah Kerajaan yang kita hasilkan sekadar berupa murid-murid baru, Saksi-Saksi yang rajin itu akan sama seperti dahan-dahan gundul dalam ilustrasi Yesus! Tentu saja, bukan demikian keadaannya. Kalau begitu, apa buah utama Kerajaan dari pelayanan kita?

      Menghasilkan Buah dengan Menyebarkan Benih Kerajaan

      10. Bagaimana ilustrasi Yesus tentang penabur dan jenis-jenis tanah yang berbeda memperlihatkan apa buah Kerajaan itu dan apa yang bukan?

      10 Ilustrasi Yesus tentang penabur dan jenis-jenis tanah yang berbeda menunjukkan jawabannya​—jawaban yang menenteramkan hati bagi saudara-saudari yang memberikan kesaksian di daerah-daerah yang kurang produktif. Yesus mengatakan bahwa benih itu adalah berita Kerajaan yang terdapat dalam Firman Allah dan bahwa tanah menggambarkan hati manusia. Beberapa benih ”jatuh di tanah yang baik, dan setelah bertunas, menghasilkan buah”. (Lukas 8:8) Buah apa? Nah, setelah setangkai gandum bertunas dan matang, buah yang dihasilkannya bukan tangkai-tangkai gandum kecil, melainkan benih baru. Demikian pula, buah yang dihasilkan seorang Kristen tidak harus berupa murid-murid baru, tetapi benih Kerajaan yang baru.

      11. Bagaimana buah Kerajaan dapat didefinisikan?

      11 Dengan demikian, buah yang dimaksud bukanlah murid-murid baru maupun sifat-sifat Kristen yang baik. Karena benih yang ditaburkan adalah firman Kerajaan, buahnya pastilah penggandaan benih itu. Dalam hal ini, menghasilkan buah berkaitan dengan membuat pernyataan tentang Kerajaan. (Matius 24:14) Apakah kita mampu menghasilkan buah Kerajaan seperti itu​—memberitakan kabar baik Kerajaan​—tidak soal keadaan kita? Ya, tentu! Dalam ilustrasi yang sama, Yesus menjelaskan alasannya.

      Memberikan yang Terbaik demi Kemuliaan Allah

      12. Apakah menghasilkan buah Kerajaan mampu dilakukan oleh semua orang Kristen? Jelaskan.

      12 ”Yang ditabur di tanah yang baik,” kata Yesus, ”menghasilkan, yang ini seratus kali lipat, yang itu enam puluh, yang lain tiga puluh.” (Matius 13:23) Biji-bijian yang ditaburkan di ladang mungkin memberikan hasil yang berbeda-beda sesuai dengan keadaannya. Demikian pula, apa yang dapat kita lakukan dalam memberitakan kabar baik mungkin berbeda-beda sesuai dengan keadaan kita, dan Yesus memperlihatkan bahwa ia memakluminya. Ada yang mungkin memiliki lebih banyak kesempatan; yang lain-lain mungkin lebih sehat dan lebih kuat. Jadi, apa yang mampu kita lakukan bisa jadi lebih banyak atau lebih sedikit daripada yang orang lain lakukan, tetapi selama kita memberikan yang terbaik, Yehuwa merasa senang. (Galatia 6:4) Sekalipun usia lanjut atau penyakit yang melemahkan membatasi partisipasi kita dalam pekerjaan pengabaran, Bapak kita yang beriba hati, Yehuwa, pastilah memandang kita sebagai salah satu dari orang-orang yang ”terus menghasilkan banyak buah”. Mengapa? Karena kita memberikan kepada-Nya ’semua yang kita miliki’​—dinas kita yang sepenuh jiwa.b​—Markus 12:43, 44; Lukas 10:27.

      13. (a) Apa alasan kita yang terutama untuk ”pergi” menghasilkan buah Kerajaan? (b) Apa yang akan membantu kita terus menghasilkan buah di daerah-daerah yang kurang menyambut? (Lihat kotak di halaman 21.)

      13 Sejauh mana pun kita mampu menghasilkan buah Kerajaan, kita akan tergugah untuk ”pergi dan terus menghasilkan buah” apabila kita terus mengingat alasan kita melakukannya. (Yohanes 15:16) Yesus menyebutkan alasan yang paling utama, ”Bapakku dimuliakan dalam hal ini, bahwa kamu terus menghasilkan banyak buah.” (Yohanes 15:8) Ya, kegiatan pengabaran kita menyucikan nama Yehuwa di hadapan seluruh umat manusia. (Mazmur 109:30) Honor, seorang Saksi setia pada pertengahan usia 70-an, berkomentar, ”Bahkan di daerah-daerah yang kurang menyambut, mewakili Yang Mahatinggi merupakan suatu hak istimewa.” Sewaktu Claudio, yang telah menjadi Saksi yang bergairah sejak tahun 1974, ditanya mengapa ia terus mengabar sekalipun hanya sedikit orang di daerahnya yang menyambut, ia mengutip Yohanes 4:34, yang memuat kata-kata Yesus, ”Makananku adalah melakukan kehendak dia yang mengutus aku dan menyelesaikan pekerjaannya.” Claudio menambahkan, ”Seperti Yesus, saya tidak hanya ingin memulai, tetapi juga ingin menyelesaikan pekerjaan saya sebagai pemberita Kerajaan.” (Yohanes 17:4) Saksi-Saksi Yehuwa di seluas dunia sependapat dengannya.​—Lihat kotak ”Caranya ’Menghasilkan Buah dengan Ketekunan’”, di halaman 21.

      Mengabar dan Mengajar

      14. (a) Apa tujuan ganda pekerjaan Yohanes Pembaptis dan Yesus? (b) Bagaimana Saudara menggambarkan kegiatan orang Kristen dewasa ini?

      14 Pemberita Kerajaan pertama yang disebutkan dalam Injil adalah Yohanes Pembaptis. (Matius 3:1, 2; Lukas 3:18) Tujuan utama Yohanes adalah ”memberikan kesaksian”, dan ia melakukannya dengan iman yang sepenuh hati dan dengan harapan ”agar segala macam orang dapat percaya”. (Yohanes 1:6, 7) Sebenarnya, beberapa orang yang Yohanes kabari kemudian menjadi murid Kristus. (Yohanes 1:35-37) Dengan demikian, Yohanes adalah pengabar dan juga pembuat murid. Yesus pun adalah seorang pengabar dan pengajar. (Matius 4:23; 11:1) Jadi, tidaklah mengherankan apabila Yesus memerintahkan para pengikutnya agar tidak hanya mengabarkan berita Kerajaan, tetapi juga membantu orang-orang yang menerima berita itu untuk menjadi murid-muridnya. (Matius 28:19, 20) Dengan demikian, pekerjaan kita dewasa ini merupakan perpaduan antara pengabaran dan pengajaran.

      15. Apa persamaan antara tanggapan terhadap pekerjaan pengabaran pada abad pertama M dan dewasa ini?

      15 Di antara orang-orang abad pertama M yang mendengar Paulus mengabar dan mengajar, ”ada yang percaya akan hal-hal yang dikatakan; yang lain-lain tidak mau percaya”. (Kisah 28:24) Dewasa ini, tanggapan orang-orang tidak jauh berbeda. Sayangnya, sebagian besar benih Kerajaan jatuh di tanah yang tidak baik. Meskipun demikian, beberapa benih jatuh di tanah yang baik, berakar, dan bertunas, seperti yang Yesus nubuatkan. Sesungguhnya, di seluas dunia, rata-rata lebih dari 5.000 orang menjadi murid sejati Kristus setiap minggu! Murid-murid baru ini ”percaya akan hal-hal yang dikatakan”, meskipun kebanyakan orang lain tidak. Apa yang turut membuat hati mereka menyambut berita Kerajaan? Sering kali, minat pribadi yang diperlihatkan oleh Saksi-Saksi—yang bagaikan menyirami benih yang baru ditaburkan—besar pengaruhnya. (1 Korintus 3:6) Perhatikan dua saja dari banyak contoh yang ada.

      Minat Pribadi Besar Pengaruhnya

      16, 17. Mengapa penting untuk memperlihatkan minat pribadi kepada orang-orang yang kita jumpai dalam pelayanan kita?

      16 Karolien, seorang Saksi muda di Belgia, mengunjungi seorang wanita lansia yang tidak memperlihatkan minat pada berita Kerajaan. Karena tangan wanita itu terbalut perban, Karolien dan rekan dinasnya menawarkan bantuan, tetapi wanita itu menolaknya. Dua hari kemudian, kedua Saksi itu mengunjungi kembali wanita itu dan menanyakan bagaimana keadaannya. ”Hal ini ternyata besar pengaruhnya,” kata Karolien. ”Ia kagum melihat bahwa kami benar-benar berminat pada dirinya sebagai suatu pribadi. Ia mengundang kami masuk ke rumahnya, dan sebuah pengajaran Alkitab pun dimulai.”

      17 Sandi, seorang Saksi di Amerika Serikat, juga memperlihatkan minat pribadi kepada orang-orang yang ia kabari. Ia memeriksa berita kelahiran di surat kabar setempat, lalu mengunjungi para orang tua baru itu sambil membawa Buku Cerita Alkitab.c Karena sang ibu biasanya ada di rumah dan bangga memperlihatkan bayinya kepada para tamu, sering kali Sandi bisa mengadakan percakapan. ”Saya bercakap-cakap dengan orang tua itu tentang pentingnya menjalin tali kasih dengan bayi yang baru lahir itu melalui pembacaan,” jelas Sandi. ”Kemudian, saya berbicara tentang tantangan membesarkan anak dalam masyarakat dewasa ini.” Baru-baru ini, sebagai hasil kunjungan seperti itu, seorang ibu dan enam orang anak mulai melayani Yehuwa. Mengambil inisiatif dan memperlihatkan minat pribadi dapat membawa hasil yang menyukacitakan seperti itu dalam pelayanan kita.

      18. (a) Mengapa persyaratan untuk ”menghasilkan banyak buah” adalah hal yang mampu dilakukan oleh kita semua? (b) Saudara hendaknya bertekad memenuhi tiga syarat apa untuk menjadi murid, yang disebutkan dalam Injil Yohanes?

      18 Sungguh menenteramkan hati mengetahui bahwa persyaratan untuk ”terus menghasilkan banyak buah” adalah sesuatu yang mampu kita lakukan! Tidak soal kita sudah lanjut usia atau masih muda, tidak soal kita sehat atau tidak, tidak soal kita mengabar di daerah yang menyambut atau tidak, kita semua dapat menghasilkan banyak buah. Bagaimana caranya? Dengan memperlihatkan buah roh secara lebih sepenuhnya dan dengan menyebarkan berita tentang Kerajaan Allah dengan kesanggupan terbaik kita. Pada waktu yang sama, kita berupaya keras untuk ’tetap ada dalam perkataan Yesus’ dan untuk ’mempunyai kasih di antara kita’. Ya, dengan memenuhi ketiga syarat penting untuk menjadi murid yang disebutkan dalam Injil Yohanes ini, kita membuktikan bahwa kita ”benar-benar murid [Kristus]”.—Yohanes 8:31; 13:35.

      [Catatan Kaki]

      a Meskipun cabang-cabang tanaman anggur dalam ilustrasi itu memaksudkan rasul-rasul Yesus dan orang-orang Kristen lain yang akan mewarisi tempat dalam Kerajaan surgawi Allah, ilustrasi itu memuat kebenaran-kebenaran yang dapat bermanfaat bagi semua pengikut Kristus dewasa ini.—Yohanes 3:16; 10:16.

      b Mereka yang tidak bisa keluar rumah karena usia lanjut atau penyakit mungkin dapat memberi kesaksian melalui surat atau, jika memungkinkan, melalui telepon, atau mungkin mereka dapat membagikan kabar baik kepada orang-orang yang menjenguk.

      c Diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan