PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Disiplin yang Dapat Menghasilkan Buah yang Memberikan Damai
    Menara Pengawal—1988 (Seri 47) | Menara Pengawal—1988 (Seri 47)
    • ”Tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”—IBRANI 12:11.

      1, 2. (a) Menurut Ibrani 12:9-11, apa yang telah Allah sediakan dengan penuh kasih? (b) Apa satu contoh dari disiplin, dan hasil apa yang dapat diperoleh dari ini?

      RENUNGKAN kembali masa kanak-kanak saudara. Dapatkah saudara mengingat orangtua saudara mendisiplin saudara? Kebanyakan dari kita masih ingat. Rasul Paulus menggunakan hal itu sebagai ilustrasi ketika ia mengulas tentang disiplin dari Allah, yang kita baca di Ibrani 12:9-11.

      2 Disiplin yang bersifat kebapaan dari Allah, yang dapat mempengaruhi kehidupan rohani kita, mempunyai banyak bentuk. Salah satu ialah penyelenggaraanNya untuk mengeluarkan dari sidang Kristen seseorang yang tidak lagi ingin hidup menurut standar-standar Allah, atau yang menolak untuk berbuat demikian. Seseorang yang dengan cara demikian dihukum atau didisiplin dengan keras mungkin akan bertobat dan berbalik. Selama proses itu, sidang dari orang-orang yang loyal juga didisiplin dalam hal mereka belajar pentingnya menyelaraskan diri dengan standar-standar Allah yang tinggi.—1 Timotius 1:20.

  • Disiplin yang Dapat Menghasilkan Buah yang Memberikan Damai
    Menara Pengawal—1988 (Seri 47) | Menara Pengawal—1988 (Seri 47)
    • Mengapa Sikap Setegas Ini?

      4. Apa yang kadang-kadang terjadi atas beberapa orang di sidang? (Galatia 6:1; Yudas 23)

      4 Kebanyakan orang Kristen sejati dengan loyal mendukung Allah dan hukum-hukumNya yang benar. (1 Tesalonika 1:2-7; Ibrani 6:10) Namun, kadang kala ada yang menyimpang dari jalan kebenaran. Sebagai contoh, meskipun mendapat bantuan dari para penatua Kristen, ia mungkin melanggar hukum-hukum Allah dan tidak mau bertobat. Atau ia mungkin menolak iman dengan mengajarkan doktrin yang salah atau dengan mengucilkan diri dari sidang. Maka apa yang harus dilakukan? Hal-hal sedemikian terjadi bahkan pada waktu rasul-rasul masih hidup; jadi, mari kita lihat apa yang mereka tulis mengenai hal ini.

      5, 6. (a) Nasihat yang bijaksana apa yang kita miliki berkenaan cara berurusan dengan mereka yang melakukan dosa serius dan tidak mau bertobat? (Matius 18:17) (b) Pertanyaan-pertanyaan apa muncul?

      5 Ketika seorang pria di Korintus melakukan imoralitas dan tidak mau bertobat, Paulus memberitahu sidang: ”Jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama.” (1 Korintus 5:11-13) Hal yang sama hendaknya berlaku terhadap mereka yang murtad, seperti misalnya Himeneus: ”Berkenaan seseorang yang memajukan suatu bidat, tolaklah dia setelah satu dua kali kaunasihati; karena mengetahui bahwa orang sedemikian telah sesat dan berdosa.” (Titus 3:10, 11, NW, lihat juga Bode; 1 Timotius 1:19, 20) Patut juga untuk menjauhkan diri dari orang yang menolak sidang: ”Orang-orang itu sudah keluar dari antara kita, tetapi mereka itu bukannya asal daripada kita; karena jikalau mereka itu daripada kita asalnya, tak dapat tiada bertekunlah mereka itu beserta dengan kita; tetapi mereka itu sudah keluar pergi supaya nyata bahwa orang-orang itu bukan semuanya daripada kita asalnya.”—1 Yohanes 2:18, 19, Bode.

      6 Mudah-mudahan orang sedemikian akan bertobat sehingga ia dapat diterima kembali. (Kisah 3:19)

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan