-
Bumi Kita yang Babak Belur—Serangan Menghantam Banyak DaerahSedarlah!—1993 | 8 Januari
-
-
Bumi Kita yang Babak Belur—Serangan Menghantam Banyak Daerah
PADA bulan Juni tahun lalu, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi sehubungan lingkungan diselenggarakan di Rio de Janeiro, Brasil. Bertepatan dengan itu, pada bulan yang sama, India Today memuat sebuah tajuk rencana yang ditulis oleh Raj Chengappa, anggota redaksi surat kabar tersebut. Artikel itu diberi judul ”Bumi yang Cedera”. Paragraf-paragraf pembukaannya melukiskan gambaran yang jelas:
”Pada tahun 1971 ketika Edgar Mitchell terbang ke bulan dengan pesawat Apollo 14, kilas pandangnya yang pertama terhadap bumi dari ruang angkasa menggerakkan dia untuk mengungkapkan sebuah rapsodi. ’Bumi laksana permata biru dan putih yang berkilauan . . . Dihiasi kerudung putih yang berpusar perlahan . . . Laksana mutiara kecil dalam sebuah laut misteri yang hitam pekat,’ katanya dengan meluap-luap melalui sinyal radio ke Houston.
”Dua puluh satu tahun kemudian, seandainya Mitchell dikirim kembali ke ruang angkasa, kali ini dengan kacamata khusus yang memungkinkannya melihat gas-gas yang tidak kelihatan pada atmosfer bumi, suatu pemandangan yang jauh berbeda akan menyambutnya. Ia akan melihat kebocoran-kebocoran raksasa pada perisai ozon pelindung di wilayah Antartika dan Amerika Utara. Sebaliknya daripada permata biru dan putih yang berkilauan, ia akan melihat bumi yang kusam dan kotor dipenuhi pusaran awan-awan hitam dari dioksida karbon dan belerang.
”Seandainya Mitchell membawa kameranya dan memotret pemandangan hutan-hutan yang menyelimuti bumi dan membandingkannya dengan potret-potret yang diambilnya pada tahun ’71, ia akan sangat terkejut melihat betapa banyak hutan telah menciut. Dan jika ia membuka teleskop khususnya untuk membantunya memeriksa sampah dalam perairan di bumi, ia akan melihat pita-pita racun berseliweran dalam tanah dan bola-bola ter berwarna hitam melapisi banyak bagian dasar lautan. ’Houston,’ mungkin ia akan berkata dalam sinyal radio, ’apa sebenarnya yang telah kita lakukan atas bumi?’
”Sebenarnya, kita tidak perlu pergi 36.000 kilometer ke luar angkasa untuk mengetahui apa yang telah kita lakukan. Sekarang, kita dapat minum, menghirup, mencium, dan melihat polusi. Dalam waktu 100 tahun, terlebih-lebih sejak 30 tahun belakangan ini, umat manusia telah membawa bumi ke ambang bencana. Dengan memuntahkan gas-gas penjerat panas dalam jumlah yang berlebihan ke dalam atmosfer, kita sedang memicu perubahan iklim yang melumpuhkan. Gas-gas yang digunakan lemari es dan AC (air-conditioner) kita sekarang bertanggung jawab atas menipisnya lapisan ozon pelindung, memperbesar kemungkinan kita terkena kanker kulit dan mengubah struktur gen binatang-binatang yang lebih kecil. Sementara itu, kita telah membinasakan jalur yang luas dari tanah, merusak hutan-hutan pada tingkat yang memautkan, dengan seenaknya membuang berton-ton racun ke dalam sungai-sungai dan menuang zat-zat kimia beracun ke dalam laut kita.
”Sekarang lebih dari apa pun juga, ancaman atas umat manusia datang dari perusakan lingkungan bumi. Dan dibutuhkan suatu gerakan berskala dunia untuk menghentikan pembantaian ini.”
Setelah menyebutkan banyak masalah yang atasnya bangsa-bangsa harus berkonsentrasi mencari penyelesaiannya sehubungan lingkungan, Raj Chengappa menutup tajuk rencananya dengan kata-kata ini, ”Semua ini harus dilakukan tanpa menunda. Karena ancaman itu tidak lagi atas masa depan anak-anak Anda. Ancaman itu sekarang. Dan di sini.”
Maka para dokter bumi berkumpul. Konferensi-konferensi diselenggarakan, pengobatan ditawarkan, namun mereka tidak kompak. Mereka berdebat. ’Bumi ini sebenarnya tidak sakit,’ kata beberapa. ’Bumi sedang sekarat!’ keluh yang lainnya. Pidato yang muluk-muluk meningkat, saran-saran pengobatan semakin banyak, para dokter menunda-nunda, sementara sang pasien melemah. Tidak ada yang dilakukan. Mereka perlu membuat penelitian lebih lanjut. Mereka menulis resep yang tidak pernah ditebus. Aduh, begitu banyak dari antaranya hanya merupakan taktik penundaan untuk membiarkan pencemaran berlanjut dan keuntungan bertumpuk. Sang pasien tak kunjung diberi obat, penyakitnya semakin parah, krisisnya semakin dalam, dan bumi terus dibuat babak belur.
Bumi dan kehidupan di atasnya sangat kompleks, terjalin dengan rumit. Jutaan makhluk hidup yang saling berhubungan telah disebut sebagai jaringan kehidupan. Putuskan seutas benang pada jaring itu, maka jaring itu akan terurai. Rubuhkan satu kartu domino, maka puluhan kartu lainnya akan jatuh. Pembabatan hutan tropis basah persis seperti ilustrasi tersebut.
Melalui fotosintesis, hutan tropis basah mengambil karbon dioksida dari udara dan mengembalikan oksigen kepadanya. Ia mereguk sejumlah besar air hujan namun menggunakan sangat sedikit air dalam pembuatan makanannya. Sebagian besar air tersebut didaur ulang ke dalam atmosfer sebagai uap air. Di sana, terbentuklah awan hujan yang baru yang menghasilkan hujan yang amat dibutuhkan hutan tropis basah dan jutaan tanaman hidup serta satwa yang ia beri makan di bawah payung hijaunya.
Kemudian hutan tropis basah ditebangi. Karbon dioksida tetap di atas bagaikan sebuah selimut untuk menyimpan panas matahari. Hanya sedikit oksigen ditambahkan ke atmosfer demi manfaat satwa. Sedikit hujan didaur ulang agar lebih banyak curah hujan. Sebaliknya, hujan apa pun yang turun bergegas meninggalkan daratan, membawa serta humus yang dibutuhkan untuk pertumbuhan kembali tanaman-tanaman. Sungai-sungai dan danau-danau penuh lumpur, ikan-ikan mati. Endapan lumpur dibawa ke lautan dan menyelimuti karang-karang tropis, dan mereka mati. Jutaan tanaman dan satwa yang dulu tumbuh subur di bawah payung hijau kini lenyap, hujan lebat yang dulu membasahi tanah kini berkurang, dan proses pembentukan gurun yang lambat dan panjang dimulai. Ingat, Gurun Sahara yang sangat luas di Afrika dulunya hijau, namun sekarang padang pasir yang terluas di muka bumi ini bergeser sedikit demi sedikit ke bagian-bagian Eropa.
Pada KTT Bumi, Amerika Serikat dan negara-negara makmur lainnya menggunakan tekanan untuk memaksa Brasil dan negara-negara berkembang lainnya agar menghentikan penebangan hutan-hutan tropis basah mereka. ”Amerika Serikat berpendapat,” menurut seorang wakil New York Times, ”bahwa hutan, terutama hutan-hutan tropis, sedang dirusak pada tingkat yang mengkhawatirkan di bagian yang sedang berkembang dan bahwa planet ini secara keseluruhan akan menjadi lebih buruk. Hutan-hutan, pendapatnya, adalah aset bumi yang membantu mengatur iklim dengan menyerap karbon dioksida penjerat panas dan merupakan gudang dari sebagian besar spesies hidup di dunia.”
Tuduhan bahwa Amerika Serikat munafik segera dilontarkan oleh negara-negara berkembang. Menurut The New York Times, mereka ”berang kepada apa yang mereka anggap sebagai upaya membatasi kedaulatan mereka yang dilakukan oleh negara-negara yang lama sebelumnya menebangi hutan-hutan mereka sendiri demi keuntungan tetapi sekarang ingin meletakkan beban utama pelestarian hutan sedunia atas negara-negara yang sedang membanting tulang untuk bertahan secara ekonomi”. Seorang diplomat Malaysia menyatakan dengan blak-blakan, ”Kita tentu saja tidak akan memelihara hutan-hutan kita demi pihak-pihak yang telah menghancurkan hutan mereka sendiri dan sekarang berupaya menyatakan hutan kita sebagai bagian dari warisan umat manusia.” Di Barat Laut Pasifik, Amerika Serikat hanya memiliki sisa 10 persen dari hutan tropis basah yang sudah tua, dan hutan masih terus ditebangi, namun negara itu menginginkan Brasil, yang masih memiliki 90 persen dari hutan-hutan Amazon-nya, untuk menghentikan semua penebangan.
Orang-orang yang berpidato kepada yang lainnya, ’Jangan merusak hutan kalian,’ bahkan sementara mereka merusak hutan-hutan mereka sendiri, mengingatkan kita akan orang-orang yang dilukiskan di Roma 2:21-23, ”Engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: ’Jangan mencuri’, mengapa engkau sendiri mencuri? Engkau yang berkata: ’Jangan berzinah’, mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala? Engkau yang bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu?” Atau berkenaan lingkungan, kata-kata itu berbunyi, ’engkau yang mengajar, ”Lestarikan hutan kalian,” mengapa engkau sendiri menebangi hutanmu?’
Erat kaitannya dengan kerusakan hutan adalah kekhawatiran akan kenaikan suhu bumi. Dinamika kimia dan dinamika termal adalah hal yang kompleks, namun perhatian difokuskan terutama pada satu zat kimia di atmosfer, karbon dioksida. Itu adalah faktor utama dalam pemanasan bumi. Para peneliti dari Pusat Penelitian Byrd Polar tahun lalu melaporkan bahwa ”semua gletser gunung pada ketinggian sedang dan rendah sekarang mencair dan menyusut—beberapa di antaranya sangat cepat—dan bahwa catatan mengenai es yang terkandung dalam gletser ini memperlihatkan bahwa 50 tahun belakangan ini telah menjadi lebih panas daripada periode 50 tahun lain mana pun” dalam sejarah. Terlalu sedikit karbon dioksida berarti cuaca yang lebih dingin; terlalu banyak dapat berarti mencairnya puncak-puncak es yang menutupi kutub dan gletser serta membanjiri pada kota-kota pesisir.
Berkenaan karbon dioksida, India Today berkata:
”Zat ini mungkin hanya membentuk sebagian kecil dari gas-gas atmosfer: 0,03 persen dari keseluruhannya. Tetapi tanpa karbon dioksida, planet kita akan sedingin bulan. Dengan menahan panas yang diradiasikan dari permukaan bumi, ia mengatur temperatur bumi hingga 15 derajat Celcius yang penting untuk mempertahankan kehidupan. Namun jika kuantitasnya bertambah, bumi dapat berubah menjadi ruang sauna raksasa.
”Jika stasiun-stasiun pemantau cuaca dunia memberikan informasi yang dapat diandalkan, tekanan untuk memerangi panas bertambah. Tahun-tahun 80-an mengalami enam dari tujuh musim panas yang terpanas sejak cuaca mulai dicatat kira-kira 150 tahun yang lalu. Kemungkinan penyebabnya adalah: kenaikan 26-persen karbon dioksida dalam atmosfer di atas level pra-revolusi industri.”
Sumbernya diperkirakan adalah 1,8 miliar ton karbon dioksida yang dimuntahkan setiap tahun melalui pembakaran bahan bakar fosil. Perjanjian yang diharapkan dapat melakukan lebih banyak pengendalian atas emisi karbon dioksida begitu diencerkan pada KTT Bumi baru-baru ini sehingga hal ini dilaporkan ”membuat panas” para klimatolog di sana. Seorang di antara mereka begitu berang sehingga ia mengatakan, ”Kita benar-benar tidak bisa tinggal diam seolah-olah tidak ada masalah. Ini merupakan fakta yang tidak dapat disangkal bahwa rekening bank gas-gas telah kehilangan keseimbangannya. Sesuatu harus dilakukan, jika tidak, kita akan segera mendapatkan jutaan pengungsi karena masalah lingkungan.” Ia menunjuk kepada orang-orang yang akan mengungsi dari kampung halaman mereka yang dilanda banjir.
Masalah yang mendesak lainnya berkenaan dengan lubang-lubang yang terdapat pada lapisan ozon yang melindungi bumi dari sinar ultraungu penyebab kanker. Penyebab utamanya adalah gas-gas CFC (klorofluorokarbon). Ini digunakan dalam lemari pendingin, AC dan larutan pembersih, juga sebagai unsur penggembung dalam pembuatan busa-busa plastik (plastic foams). Di banyak negara, gas-gas tersebut masih dikeluarkan oleh semprotan aerosol. Sewaktu mencapai stratosfer, sinar ultraungu matahari menguraikannya, dan gas klorin murni dilepaskan, yang tiap-tiap atomnya dapat merusak sedikitnya 100.000 molekul ozon. Lubang-lubang, daerah-daerah dengan level ozon yang berkurang secara drastis, tertinggal pada lapisan ozon, di Antartika dan di garis-garis lintang Utara, yang berarti bahwa lebih banyak sinar ultraungu mencapai bumi.
Sinar-sinar ini membunuh phytoplankton dan krill (semacam plankton), yang merupakan bagian utama dari rantai makanan di lautan. Mutasi terjadi dalam molekul-molekul DNA yang berisi kode genetika kehidupan. Hasil panen terpengaruh. Sinar ini menyebabkan katarak mata dan kanker kulit pada manusia. Sewaktu para peneliti NASA mendapati konsentrasi tinggi dari klorin monoksida di atas wilayah utara Amerika Serikat, Kanada, Eropa, dan Rusia, salah seorang peneliti mengatakan, ”Setiap orang hendaknya waspada akan hal ini. Problem itu jauh lebih buruk daripada yang kita pikirkan.” Lester Brown, presiden Worldwatch Institute, melaporkan, ”Para ilmuwan memperkirakan bahwa akselerasi habisnya lapisan ozon di belahan bumi utara akan menyebabkan tambahan 200.000 kematian di A.S. saja karena kanker kulit selama 50 tahun berikutnya. Di seluruh dunia, jutaan orang berada dalam bahaya.”
Biodiversitas, upaya menjaga sebanyak mungkin tumbuhan dan satwa agar tetap berfungsi di habitat alami mereka, adalah kekhawatiran baru lainnya. Majalah Discover memuat kutipan buku terbaru ahli biologi Edward O. Wilson berjudul The Diversity of Life, yang di dalamnya ia mencantumkan kepunahan ribuan spesies burung, ikan, dan serangga, dan juga spesies yang biasanya diabaikan karena dianggap tidak penting, ”Banyak dari spesies yang hilang adalah jamur-jamur mycorrhizal, bentuk-bentuk simbiosis yang memperbesar penyerapan zat-zat makanan oleh sistem akar dari tumbuhan. Para ahli ekologi telah lama bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada ekosistem tanah jika jamur-jamur ini punah, dan kita segera akan mengetahuinya.”
Dalam buku tersebut, Wilson juga bertanya dan kemudian menjawab pertanyaan ini sehubungan pentingnya menyelamatkan spesies:
”Apa jadinya apabila beberapa spesies punah, jika bahkan setengah dari semua spesies di atas Bumi lenyap? Mari saya jabarkan. Sumber-sumber informasi ilmu pengetahuan baru akan hilang. Kekayaan biologis yang sangat besar dan potensial akan binasa. Obat-obatan yang masih belum dikembangkan, hasil panen, dunia farmasi, kayu, serat-serat, bubur kayu, tumbuhan pemulih humus, pengganti bahan bakar minyak, dan produk-produk lain dan kenyamanan tidak pernah akan ditemukan. Sudah menjadi kebiasaan bagi beberapa orang untuk mengabaikan sesuatu yang dianggap kecil dan tidak dikenal, kutu-kutu dan ilalang, melupakan bahwa seekor kupu-kupu yang tidak dikenal dari Amerika Latin menyelamatkan padang rumput Australia dari pesatnya pertumbuhan kaktus, bahwa tanaman rambat mawar (Vinca rosea) menyediakan pengobatan bagi penyakit Hodgkin dan leukemia limpa anak-anak, bahwa kulit kayu yew Pasific (Taxus brevifolia) menawarkan harapan bagi para penderita kanker indung telur dan kanker payudara, bahwa bahan kimia dari liur lintah melarutkan gumpalan darah selama pembedahan, dan seterusnya daftar itu telah bertambah panjang dan termasyhur meskipun jenis riset yang minim dilakukan untuk itu.
”Dalam lamunan yang mudah dilupakan ini, juga mudah untuk mengabaikan jasa yang disediakan ekosistem bagi umat manusia. Mereka memperkaya tanah dan menghasilkan udara yang kita hirup. Tanpa kemudahan-kemudahan demikian, sisa keberadaan umat manusia di bumi akan tidak menyenangkan dan singkat.”
Sebagaimana pepatah mengatakan—sesuatu menjadi biasa karena diulang-ulangi hanya karena hal itu begitu cocok—informasi di muka hanyalah bagian kecil yang mewakili masalah besar yang tersembunyi. Kapankah pengrusakan atas bumi akan berakhir? Dan siapa yang akan mengakhirinya? Artikel berikut memberikan jawabannya.
[Blurb di hlm. 15]
Gurun Sahara yang luas di Afrika dulunya hijau
[Blurb di hlm. 16]
’Engkau yang mengajar, ”Lestarikan hutan kalian,” mengapa engkau sendiri menebangi hutanmu?’
[Blurb di hlm. 16]
Terlalu sedikit karbon dioksida—cuaca yang lebih dingin
Terlalu banyak—gletser mencair
[Blurb di hlm. 17]
”Apa jadinya apabila beberapa spesies punah?”
[Blurb di hlm. 17]
Tanpa mikroorganisme, masa hidup ras manusia akan singkat dan tidak menyenangkan
[Gambar di hlm. 18]
Hutan tropis basah Amazon, dengan seluruh keindahan aslinya
Lagi-lagi hutan tropis basah, setelah dibuat babak belur oleh manusia
[Keterangan]
Abril Imagens/João Ramid
F4/R. Azoury/Sipa
[Gambar di hlm. 19]
Sampah kimia yang beracun mencemari udara, air, dan tanah
[Keterangan]
Feig/Sipa
-
-
Penyelamatan Bumi Sudah DekatSedarlah!—1993 | 8 Januari
-
-
Penyelamatan Bumi Sudah Dekat
STEPHEN M. WOLF, ketua dan pucuk pimpinan United Airlines, mengatakan dalam sebuah tajuk rencana, ”Tidak soal seseorang adalah pejuang lingkungan hidup atau bukan, tidak dapat disangkal bahwa momok yang terus-menerus mengancam satwa liar dan hutan belantara membayang-bayangi seluruh bumi—dan pada akhirnya, mengancam keberadaan seluruh spesies, termasuk umat manusia. Sebagaimana telah dikatakan, ’Kita tidak merajut jaring kehidupan; kita adalah benang-benang pada jaring itu. Apa pun yang kita lakukan atas jaring itu, kita melakukannya atas diri kita sendiri.’” Apa yang dikatakannya memang benar.
Ia juga mengatakan dalam tajuk rencana itu, ”Kita adalah biang keladinya. Dan kita adalah satu-satunya jalan keluarnya.” Dalam hal ini, ia hanya benar sebagian. Kita adalah biang keladinya; kita bukan jalan keluarnya. Kita tidak memperlihatkan gejala apa pun untuk menjadi jalan keluarnya. Kemajuan memang dibuat, namun itu amat kurang mengingat kerusakan yang sedang berlanjut di seluruh bumi.
Tahun lalu, Al Gore menulis Earth in the Balance—Ecology and the Human Spirit. Itu adalah buku yang memperingatkan tentang berkembangnya krisis lingkungan di seluruh dunia, dan di dalamnya ia mengeluarkan pernyataan yang penting ini, ”Semakin dalam saya mencari akar krisis lingkungan hidup sedunia, semakin saya yakin bahwa itu merupakan manifestasi ke luar dari krisis di dalam yaitu, dengan perkataan yang paling tepat, rohani.”
Memang, itu adalah krisis dalam arti rohani. Itu merupakan gangguan kerohanian manusia. Itu adalah kecenderungan untuk mengorbankan keindahan alam bumi dan sumber-sumber dayanya, kehidupan ribuan spesies tanaman dan satwa, dan bahkan kesehatan dan kehidupan manusia. Lagi pula, itu merupakan ketidakpedulian total terhadap anak-cucu yang harus menanggulangi keadaan bumi yang porak-poranda yang kita wariskan. Itu juga merupakan sikap tidak berterima kasih dan ketidakpedulian tanpa perasaan kepada Pribadi yang menciptakan bumi dan merancangnya sebagai rumah bagi umat manusia.
Yesaya 45:18 mengidentifikasi Yehuwa sebagai ”yang menciptakan langit, Dialah Allah, yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk didiami”. Pada mulanya, Ia menaruh manusia di atas bumi untuk memeliharanya, ”[Yehuwa] Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” (Kejadian 2:15) Meskipun diciptakan sempurna, Adam meninggalkan kesempurnaan untuk melakukan kehendaknya sendiri. Ia meninggalkan tugasnya yaitu ’memelihara bumi’.
Kegagalan tersebut berlanjut terus hingga zaman kita, dan perusakan bumi dewasa ini telah menjadi parah. ”Allah telah menjadikan manusia yang jujur, tetapi mereka mencari banyak dalih.” (Pengkhotbah 7:29) ”Berlaku busuk terhadap Dia, mereka yang bukan lagi anak-anakNya, yang merupakan noda, suatu angkatan yang bengkok dan belat-belit.” (Ulangan 32:5) Akan tetapi, bumi akan terus dihuni, tetapi bukan oleh generasi yang bengkok dan belat-belit. Pemazmur berkata bahwa pada waktu yang Allah tetapkan, hanya ’orang-orang yang adil-benar akan memilikinya’.—Mazmur 37:29.
Keprihatinan Yehuwa terhadap Bumi
Sewaktu Yehuwa merampungkan ciptaan-Nya di bumi, Ia ”melihat segala yang dijadikannya itu, sungguh amat baik”. Ia ingin ciptaan-Nya tetap demikian. Ia telah membentuk taman yang indah di Eden dan telah menempatkan manusia Adam di sana untuk merawatnya. Tanaman-tanaman yang tumbuh di sana bukan untuk manfaat manusia saja. Allah berkata, ”Kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.”—Kejadian 1:30, 31.
Sewaktu Hukum Musa belakangan diberikan kepada Israel, hukum itu membuat persediaan bagi pemeliharaan tanah. Setiap tahun ketujuh merupakan ’suatu sabat, masa perhentian penuh bagi tanah itu’. Apa yang tumbuh dengan sendirinya selama masa itu tidak boleh dituai tetapi disediakan bagi orang-orang miskin dan bagi ternak mereka serta bagi binatang liar yang ada di tanah mereka.—Imamat 25:4-7.
Keprihatinan Yehuwa terhadap kelestarian spesies diperlihatkan dengan pengaturan-Nya agar binatang-binatang hidup sepasang-sepasang dibawa ke dalam bahtera pada waktu Air Bah di zaman Nuh. Keprihatinan itu juga dibuktikan dalam perjanjian Taurat. Misalnya, lembu yang mengirik padi-padian tidak boleh diberangus mulutnya. Hewan itu berhak memakan sedikit dari padi-padian itu. Seekor lembu dan seekor keledai tidak boleh berada di bawah kuk yang sama untuk membajak. Itu merupakan ketidakadilan bagi binatang yang lebih kecil dan lebih lemah. Binatang orang lain yang sedang memikul beban harus dibantu jika beban yang dipikulnya terlalu berat, bahkan jika pemiliknya adalah seorang musuh dan bahkan jika itu berarti sedikit melakukan pekerjaan pada hari Sabat. (Keluaran 23:4, 5; Ulangan 22:1, 2, 10; 25:4; Lukas 14:5) Telur atau anak burung boleh diambil dari sarangnya, tetapi induk burung tidak boleh diambil. Ia harus dibiarkan untuk meneruskan jenisnya. Dan Yesus berkata bahwa meskipun burung pipit murah harganya, ”seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu”.—Matius 10:29; Ulangan 22:6, 7.
Pemazmur yang diilhami berkata, ”Langit itu langit kepunyaan [Yehuwa], dan bumi itu telah diberikanNya kepada anak-anak manusia.” (Mazmur 115:16) Yesus berkata di Matius 5:5, ”Berbahagialah orang-orang yang lemah-lembut, karena mereka akan memiliki [”mewarisi”, NW] bumi.” Apakah Anda berpikir bahwa warisan dari Yehuwa ini akan berupa bumi yang tercemar? Jika Anda memiliki sebuah rumah yang indah yang akan Anda wariskan untuk anak-anak Anda, apakah penyewa yang merusak rumah dan pekarangan akan Anda biarkan tinggal di sana? Sebaliknya, bukankah Anda akan mengusir mereka dan membuat perbaikan-perbaikan sebelum mewariskannya kepada anak-anak Anda?
Itulah yang dilakukan Yehuwa sebelum Ia menuntun bangsa Israel ke tanah yang dijanjikan-Nya kepada mereka. Orang-orang Kanaan telah mencemari negeri dengan perbuatan amoral mereka yang bejat, dan untuk alasan itu Yehuwa mengusir mereka. Pada waktu yang sama, Ia memperingatkan orang-orang Israel bahwa apabila mereka mencemari negeri itu seperti yang telah dilakukan orang-orang Kanaan, mereka juga akan diusir. Peringatan itu dicatat di Imamat 18:24-28:
”Janganlah kamu menajiskan dirimu dengan semuanya itu [inses, sodomi, hubungan seksual dengan binatang, utang darah], sebab dengan semuanya itu bangsa-bangsa yang akan Kuhalaukan dari depanmu telah menjadi najis. Negeri itu telah menjadi najis dan Aku telah membalaskan kesalahannya kepadanya, sehingga negeri itu memuntahkan penduduknya. Tetapi kamu ini haruslah tetap berpegang pada ketetapanKu dan peraturanKu dan jangan melakukan sesuatupun dari segala kekejian itu, baik orang Israel asli maupun orang-orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu,—karena segala kekejian itu telah dilakukan oleh penghuni negeri yang sebelum kamu, sehingga negeri itu sudah menjadi najis—supaya kamu jangan dimuntahkan oleh negeri itu, apabila kamu menajiskannya, seperti telah dimuntahkannya bangsa yang sebelum kamu.”
Akan tetapi, Israel mencemari negeri tersebut dengan melakukan perbuatan amoral yang sama bejatnya dengan yang dilakukan orang-orang Kanaan. Selaras dengan kata-kata-Nya, Yehuwa mengusir Israel dengan mengirimkan orang-orang Babel untuk menggiring mereka ke pembuangan di Babel. Lama sebelum ini terjadi, peringatan diberikan kepada orang-orang Israel oleh nabi Yehuwa bernama Yesaya, ”Sesungguhnya, [Yehuwa] akan menanduskan bumi dan akan menghancurkannya, akan membalikkan permukaannya, dan akan menyerakkan penduduknya. Bumi cemar karena penduduknya, sebab mereka melanggar undang-undang, mengubah ketetapan dan mengingkari perjanjian abadi. Sebab itu sumpah serapah akan memakan bumi, dan penduduknya akan mendapat hukuman; sebab itu penduduk bumi akan hangus lenyap, dan manusia akan tinggal sedikit.”—Yesaya 24:1, 5, 6.
Kebinasaan bagi Barangsiapa yang Membinasakan Bumi
Dewasa ini, kita berada dalam kedudukan yang serupa. Buku, majalah, surat kabar, televisi, video, dan media pada umumnya mencerminkan masyarakat yang rusak dalam hal-hal seksual, brutal dalam hal-hal kekejaman, dan bejat dalam hal-hal politik. Perusahaan-perusahaan komersial yang tamak secara amoral mencemari lingkungan, bahkan mengirim produk-produk yang dilarang di negara mereka yang makmur karena membahayakan kesehatan ke negara-negara berkembang yang tidak memberlakukan perlindungan demikian. Umat kristiani diperingatkan untuk menghindari haluan seperti itu:
”Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan [”Yehuwa”, NW]: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.”—Efesus 4:17-19; 2 Timotius 3:1-5.
Baik semangat manusia maupun lingkungan sama-sama tercemar. Bumi memiliki sistem pengendalian dan keseimbangan yang sudah ”built in” (terpasang) tetap untuk segala sesuatu. Karena kejatuhan manusia ke dalam dosa, hati nurani, kendali manusia yang ”built in” telah menjadi bejat, penyebab timbulnya pencemaran bumi. Sekarang, hanya Allah yang dapat mengendalikan manusia. Hanya Allah yang dapat menyelamatkan bumi. Kita memiliki jaminan bahwa Ia akan melakukan hal itu di Wahyu 11:18, yang mencatat janji Allah Yehuwa ”untuk membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi”.
-