PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Meniru Cara Yehuwa Memperlakukan Orang yang Berbuat Dosa
    Menara Pengawal (Edisi Pelajaran)—2024 | Agustus
    • ARTIKEL PELAJARAN 33

      NYANYIAN 130 Rela Mengampuni

      Meniru Cara Yehuwa Memperlakukan Orang yang Berbuat Dosa

      ”Kalau ada yang berbuat dosa, kita punya penolong.”—1 YOH. 2:1.

      INTI

      Pelajaran dari caranya kasus dosa serius ditangani di sebuah sidang di Korintus pada abad pertama.

      1. Apa yang Yehuwa inginkan bagi semua orang?

      YEHUWA memberi manusia kebebasan memilih. Setiap hari, kita menggunakan kebebasan itu sewaktu membuat keputusan. Keputusan terpenting yang bisa dibuat seseorang adalah membaktikan diri kepada Yehuwa dan menjadi bagian dari keluarga-Nya. Yehuwa berharap semua orang membuat keputusan itu. Mengapa? Karena Dia menyayangi kita dan menginginkan yang terbaik untuk kita. Dia ingin kita bersahabat dengan Dia dan hidup selamanya.—Ul. 30:​19, 20; Gal. 6:​7, 8.

      2. Bagaimana perasaan Yehuwa terhadap orang yang melakukan dosa serius tapi belum bertobat? (1 Yohanes 2:1)

      2 Tapi, Yehuwa tidak memaksa siapa pun melayani Dia. Dia membiarkan setiap orang membuat keputusannya sendiri. Bagaimana kalau orang Kristen yang terbaptis melakukan dosa serius dengan melanggar hukum Allah? Kalau dia tidak bertobat, dia harus dikeluarkan dari sidang. (1 Kor. 5:13) Meski begitu, Yehuwa sungguh-sungguh berharap agar orang itu bertobat dan kembali kepada-Nya. Malah, salah satu alasan penting Yehuwa menyediakan tebusan adalah supaya orang berdosa yang bertobat bisa diampuni. (Baca 1 Yohanes 2:1.) Allah kita yang pengasih dengan hangat mengundang mereka untuk bertobat.—Za. 1:3; Rm. 2:4; Yak. 4:8.

      3. Apa yang akan kita bahas di artikel ini?

      3 Yehuwa ingin agar kita punya pandangan yang sama dengan Dia tentang dosa dan orang-orang yang melakukannya. Bagaimana caranya? Kita akan membahasnya di artikel ini. Coba perhatikan (1) bagaimana sebuah kasus dosa serius ditangani di sidang di Korintus pada abad pertama, (2) petunjuk apa yang Rasul Paulus berikan setelah orang yang berbuat dosa itu bertobat, dan (3) apa yang bisa kita pelajari dari kisah ini tentang pandangan Yehuwa terhadap orang Kristen yang melakukan dosa serius.

      BAGAIMANA KASUS DOSA SERIUS DITANGANI DI ABAD PERTAMA?

      4. Apa yang terjadi di sidang di Korintus pada abad pertama? (1 Korintus 5:​1, 2)

      4 Baca 1 Korintus 5:​1, 2. Dalam perjalanan utusan injilnya yang ketiga, Paulus mendengar kabar yang mengejutkan tentang sidang yang baru terbentuk di Korintus. Di sidang itu, ada seorang saudara yang berhubungan seks dengan ibu tirinya! Perbuatan seperti itu bahkan ”tidak ada di antara bangsa-bangsa”. Kelihatannya, sidang itu tidak hanya membiarkan perbuatan tersebut, tapi mereka malah bangga dengan sikap mereka terhadap orang itu. Mungkin ada yang berpikir bahwa mereka meniru sikap Yehuwa yang berbelaskasihan dan penuh pengertian terhadap manusia yang tidak sempurna. Tapi, Yehuwa tidak senang kalau perbuatan salah dibiarkan di antara umat-Nya. Pria yang melakukan tindakan yang tidak tahu malu itu merusak nama baik sidang. Selain itu, dia bisa menjadi pengaruh yang buruk bagi rekan-rekan seimannya yang bergaul dengan dia. Jadi, petunjuk apa yang Paulus berikan kepada sidang itu?

      5. Apa yang Paulus beri tahukan kepada sidang di Korintus, dan mengapa? (1 Korintus 5:13) (Lihat juga gambar.)

      5 Baca 1 Korintus 5:13. Yehuwa membimbing Paulus untuk menulis surat dan menjelaskan bahwa orang yang tidak bertobat itu harus dikeluarkan dari sidang. Bagaimana seharusnya orang-orang Kristen yang setia memperlakukan orang itu? Paulus memberi tahu mereka untuk ”tidak lagi bergaul” dengan orang itu. Dia menambahkan bahwa mereka bahkan tidak boleh ”makan dengan orang seperti itu”. (1 Kor. 5:11) Mengapa? Karena makan bersama seseorang bisa dengan mudah mengarah ke pergaulan lebih lanjut. Apa manfaatnya kalau saudara-saudari di sidang tidak bergaul dengan orang itu? Mereka akan terlindung dari pengaruh buruknya. (1 Kor. 5:​5-7) Dan, orang tersebut juga bisa menjadi sadar bahwa dia sudah jauh menyimpang dari jalan Yehuwa, sehingga dia mungkin akan menyesal dan tergerak untuk bertobat.

      Rasul Paulus menulis di sebuah gulungan.

      Dengan bimbingan Yehuwa, Paulus menulis surat yang berisi petunjuk bahwa orang yang tidak bertobat harus dikeluarkan dari sidang (Lihat paragraf 5)


      6. Setelah menerima surat Paulus, apa yang dilakukan oleh sidang di Korintus, dan apa pengaruhnya terhadap orang yang berbuat dosa itu?

      6 Setelah mengirim suratnya kepada orang Kristen di Korintus, Paulus ingin tahu bagaimana tanggapan mereka. Belakangan, dia mendengar sebuah kabar yang menyenangkan dari Titus. Ternyata, sidang itu menanggapi suratnya dengan baik. (2 Kor. 7:​6, 7) Mereka sudah mengikuti petunjuk yang diberikan. Selain itu, dalam beberapa bulan sejak Paulus mengirim suratnya, orang yang berbuat dosa itu sudah bertobat! Dia sudah mengubah sikap dan tingkah lakunya, dan dia mulai mengikuti standar Yehuwa yang benar. (2 Kor. 7:​8-11) Nah, petunjuk apa lagi yang Paulus berikan kepada sidang itu?

      APA YANG HARUS DILAKUKAN SIDANG DI KORINTUS TERHADAP ORANG YANG BERTOBAT ITU?

      7. Apa hasilnya setelah orang yang berbuat dosa itu dikeluarkan dari sidang? (2 Korintus 2:​5-8)

      7 Baca 2 Korintus 2:​5-8. Paulus mengatakan bahwa ”teguran keras yang diberikan oleh sebagian besar dari [mereka] untuk orang itu sudah cukup”. Itu berarti disiplin yang diberikan sudah mencapai tujuannya, yaitu untuk membantu orang tersebut bertobat.—Ibr. 12:11.

      8. Petunjuk apa lagi yang Paulus berikan?

      8 Lalu, Paulus memberikan petunjuk ini kepada sidang di Korintus: ”Maafkan dia dengan baik hati dan hiburlah dia . . . Saya minta agar kalian membuat dia yakin bahwa kalian mengasihi dia.” Paulus ingin mereka menerima kembali orang yang sudah bertobat itu sebagai bagian dari umat Yehuwa. Tapi bukan itu saja. Paulus juga ingin mereka meyakinkan orang itu dengan kata-kata, sikap, dan tindakan mereka bahwa mereka benar-benar mengampuni dia dan mengasihi dia. Dengan begitu, mereka menunjukkan dengan jelas bahwa mereka senang karena dia sudah kembali ke sidang.

      9. Mengapa beberapa orang mungkin merasa sulit untuk menerima kembali orang yang bertobat itu?

      9 Apakah beberapa orang di sidang Korintus merasa sulit untuk menerima kembali orang yang bertobat itu? Alkitab tidak menceritakannya, tapi itu bisa saja terjadi. Tindakan orang itu sudah membawa masalah bagi sidang dan mungkin membuat malu beberapa orang di sidang. Selain itu, saudara-saudari yang sudah berupaya keras untuk tetap bersih secara moral mungkin merasa bahwa tidak adil kalau orang itu bisa diterima kembali di sidang. (Bandingkan Lukas 15:​28-30.) Meski begitu, sidang harus menunjukkan bahwa mereka benar-benar mengasihi saudara mereka yang sudah bertobat itu. Mengapa?

      10-11. Apa yang bisa terjadi kalau para penatua tidak mau mengampuni orang yang bertobat itu?

      10 Bayangkan bagaimana perasaan orang yang bertobat itu kalau para penatua tidak mau mengizinkan dia kembali ke sidang, atau kalau sidang tidak menunjukkan kasih kepadanya setelah dia kembali. Dia bisa ”menyerah karena terlalu sedih”. Dia bisa menjadi putus asa sampai-sampai dia berhenti berupaya untuk memperbaiki hubungannya dengan Allah.

      11 Yang lebih parah lagi, kalau saudara-saudari tidak mau mengampuni orang yang bertobat itu, hubungan mereka dengan Yehuwa akan terancam. Mengapa? Karena bukannya meniru Yehuwa yang suka mengampuni, mereka malah meniru Setan yang kejam dan tidak berbelaskasihan. Mereka membiarkan Iblis memanfaatkan mereka untuk menghancurkan kerohanian orang tersebut.—2 Kor. 2:​10, 11; Ef. 4:27.

      12. Bagaimana sidang di Korintus bisa meniru Yehuwa?

      12 Jadi, bagaimana sidang di Korintus bisa meniru Yehuwa, bukan Setan? Dengan mengikuti cara Yehuwa memperlakukan orang yang bertobat. Perhatikan apa yang dikatakan beberapa penulis Alkitab tentang Yehuwa. Daud berkata, ”Engkau baik dan siap mengampuni.” (Mz. 86:5) Mikha menulis, ”Adakah Allah yang seperti Engkau, yang mengampuni kesalahan dan mengabaikan pelanggaran?” (Mi. 7:18) Dan Yesaya mengatakan, ”Semoga orang bejat meninggalkan jalannya dan orang jahat berpaling dari niatnya; semoga dia kembali kepada Yehuwa, yang akan kasihan kepadanya, . . . karena Dia akan memberi ampun dengan murah hati.”—Yes. 55:7.

      13. Mengapa keputusan untuk segera menerima kembali orang yang bertobat itu adalah keputusan yang benar? (Lihat kotak ”Kapan Orang di Korintus Itu Diterima Kembali?”)

      13 Seperti Yehuwa, sidang di Korintus harus menyambut orang yang bertobat itu dan meyakinkan dia bahwa mereka mengasihinya. Paulus mengatakan bahwa dengan melakukan itu, mereka menunjukkan bahwa mereka ”taat dalam segala hal”. (2 Kor. 2:9) Memang, orang itu baru dikeluarkan dari sidang selama beberapa bulan. Tapi, disiplin yang dia terima sudah berhasil membuat dia bertobat. Jadi, tidak ada gunanya kalau para penatua menunda-nunda untuk menerima dia kembali ke sidang.

      Kapan Orang di Korintus Itu Diterima Kembali?

      Kelihatannya, orang yang disebutkan di 1 Korintus pasal 5 diterima kembali tidak lama setelah dia dikeluarkan dari sidang. Mengapa kita bisa menyimpulkan hal itu?

      Perhatikan kapan Paulus menulis surat 1 dan 2 Korintus. Dia kelihatannya menulis 1 Korintus selama perjalanan utusan injilnya yang ketiga, mungkin di awal tahun 55 M. Dan belakangan, dia kemungkinan besar menulis 2 Korintus di tahun yang sama, mungkin di akhir musim panas atau awal musim gugur.

      Perhatikan juga bahwa di surat 1 Korintus, Paulus memberikan petunjuk tentang sumbangan untuk orang Kristen Yudea yang mengalami kelaparan. Di surat 2 Korintus, Paulus meminta sidang itu untuk segera mengirimkan sumbangan mereka. Karena ini menyangkut kehidupan, Paulus pasti menulis surat yang kedua tidak lama setelah dia menulis surat yang pertama.—1 Kor. 16:1; 2 Kor. 9:5.

      Ada alasan lain mengapa Paulus menulis surat keduanya sesegera mungkin. Dia sudah mendengar laporan tentang pertobatan orang tersebut. Di zaman itu, pasti dibutuhkan waktu untuk mengirim sebuah surat sampai ke tujuannya. Jadi, Paulus kemungkinan besar segera mengirim surat keduanya supaya dia bisa memberi tahu sidang itu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

      Orang-orang Kristen di sidang di Korintus senang menyambut orang yang sudah diterima kembali.

      Karena mempertimbangkan hal-hal di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa Paulus meminta sidang di Korintus untuk menerima kembali orang yang bertobat itu dalam waktu yang cukup singkat, mungkin beberapa bulan saja, setelah orang itu dikeluarkan dari sidang.

      MENIRU KEADILAN DAN BELAS KASIHAN YEHUWA

      14-15. Apa yang kita pelajari dari caranya kasus di sidang di Korintus ditangani? (2 Petrus 3:9) (Lihat juga gambar.)

      14 Caranya kasus di sidang di Korintus ditangani sebenarnya dicatat di Alkitab ”untuk mengajar kita”. (Rm. 15:4) Dari catatan itu, kita belajar bahwa Yehuwa tidak mau dosa serius dibiarkan di antara umat-Nya. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa karena Yehuwa berbelaskasihan, Dia tidak keberatan kalau orang yang tidak bertobat tetap bergaul dengan hamba-hamba-Nya yang setia. Tapi sebenarnya, meskipun Yehuwa berbelaskasihan, Dia tidak bersikap serba boleh dan tidak akan menurunkan standar-Nya. (Yud. 4) Kalau Dia melakukan itu, Dia malah tidak berbelaskasihan, karena hal itu bisa membahayakan semua orang di sidang.—Ams. 13:20; 1 Kor. 15:33.

      15 Dari catatan itu, kita juga belajar bahwa Yehuwa tidak ingin seorang pun dimusnahkan. Dia ingin menyelamatkan semua orang kalau itu memungkinkan. Dia berbelaskasihan kepada orang-orang yang mau bertobat dan mau memperbaiki hubungan mereka dengan-Nya. (Yeh. 33:11; baca 2 Petrus 3:9.) Jadi, sewaktu orang di sidang Korintus itu bertobat dan tidak lagi melakukan dosanya, Yehuwa memberikan petunjuk melalui Paulus bahwa sidang itu harus mengampuni dan menerima kembali orang tersebut.

      Seorang saudari di Balai Kerajaan memeluk saudari lain yang baru saja diterima kembali. Di sekitar mereka, orang-orang lain ikut senang.

      Seperti Yehuwa yang pengasih dan berbelaskasihan, sidang dengan hangat menyambut orang-orang yang diterima kembali (Lihat paragraf 14-15)


      16. Bagaimana perasaan Saudara setelah membahas tentang caranya kasus di sidang di Korintus ditangani?

      16 Setelah membahas tentang caranya kasus di sidang di Korintus ditangani, kita bisa melihat bahwa Yehuwa memang pengasih, benar, dan adil. (Mz. 33:5) Itu pasti menggerakkan kita untuk memuji Allah kita. Sebagai manusia yang berdosa, kita semua butuh pengampunan dari-Nya. Jadi, kita pasti bersyukur karena Yehuwa menyediakan tebusan, yang membuat dosa kita bisa diampuni. Jelaslah, Yehuwa benar-benar menyayangi kita dan menginginkan yang terbaik untuk kita. Ini pasti sangat menghibur dan menguatkan kita!

      17. Apa yang akan kita bahas di artikel-artikel berikutnya?

      17 Sekarang, bagaimana kasus dosa yang serius ditangani di zaman kita? Bagaimana para penatua bisa meniru Yehuwa, yang ingin membantu orang yang berbuat dosa untuk bertobat? Bagaimana seharusnya tanggapan sidang sewaktu para penatua memutuskan untuk mengeluarkan atau menerima kembali seseorang? Jawabannya akan kita bahas di artikel-artikel berikutnya.

  • Menunjukkan Kasih dan Belas Kasihan kepada Orang yang Berbuat Dosa
    Menara Pengawal (Edisi Pelajaran)—2024 | Agustus
    • ARTIKEL PELAJARAN 34

      NYANYIAN 107 Teladan Kasih Allah

      Menunjukkan Kasih dan Belas Kasihan kepada Orang yang Berbuat Dosa

      ”Allah dengan baik hati sedang membantu kalian untuk bertobat.”—RM. 2:4.

      INTI

      Caranya para penatua membantu saudara-saudari yang melakukan dosa serius.

      1. Apakah ada harapan bagi beberapa orang yang melakukan dosa serius?

      DI ARTIKEL sebelumnya, kita sudah melihat bagaimana Rasul Paulus menangani kasus dosa serius yang terjadi di Korintus. Sewaktu orang yang berbuat dosa itu tidak bertobat, dia harus dikeluarkan dari sidang. Tapi, sesuai dengan ayat tema artikel ini, beberapa orang yang melakukan dosa serius bisa dibantu untuk bertobat. (Rm. 2:4) Bagaimana para penatua bisa membantu mereka?

      2-3. Apa yang perlu kita lakukan kalau kita tahu bahwa rekan seiman kita melakukan dosa serius, dan mengapa?

      2 Untuk bisa memberikan bantuan, para penatua perlu mengetahui masalahnya. Jadi, bagaimana kalau kita tahu ada rekan seiman kita yang melakukan dosa serius, yang bisa membuat dia dikeluarkan dari sidang? Kita perlu memberi tahu dia untuk meminta bantuan dari para penatua.—Yes. 1:18; Kis. 20:28; 1 Ptr. 5:2.

      3 Tapi, bagaimana kalau orang itu tidak mau berbicara kepada para penatua? Kalau begitu, kitalah yang perlu memberi tahu para penatua untuk memastikan orang itu mendapat bantuan yang dia butuhkan. Itu adalah tindakan yang pengasih, karena kita tidak mau kehilangan saudara atau saudari kita. Kalau dia terus melakukan dosa itu, hubungannya dengan Yehuwa akan semakin rusak. Dia juga bisa merusak nama baik sidang. Jadi, karena kita mengasihi Yehuwa dan orang itu, kita akan bertindak dengan berani.—Mz. 27:14.

      CARANYA PENATUA MEMBANTU ORANG YANG MELAKUKAN DOSA SERIUS

      4. Apa tujuan para penatua menemui orang yang melakukan dosa serius?

      4 Sewaktu seseorang di sidang melakukan dosa serius, badan penatua akan memilih tiga saudara yang memenuhi syarat di antara mereka untuk membentuk sebuah panitia.a Saudara-saudara itu perlu bersikap sadar diri dan rendah hati. Meskipun mereka berupaya membantu orang itu bertobat, mereka sadar bahwa mereka tidak bisa memaksa seseorang berubah. (Ul. 30:19) Mereka mengerti bahwa tidak semua orang yang berbuat dosa akan bersikap seperti Raja Daud dan menyambut nasihat yang diberikan. (2 Sam. 12:13) Ada yang mungkin memilih untuk mengabaikan nasihat Yehuwa. (Kej. 4:​6-8) Meski begitu, tujuan para penatua adalah sebisa mungkin membantu orang yang berbuat dosa itu bertobat. Prinsip apa saja yang perlu mereka ikuti sewaktu menemui orang itu?

      5. Prinsip apa yang perlu diingat para penatua sewaktu menemui orang yang berbuat dosa? (2 Timotius 2:​24-26) (Lihat juga gambar.)

      5 Para penatua menganggap orang yang berbuat dosa itu sebagai domba yang hilang, yang sangat berharga bagi Yehuwa. (Luk. 15:​4, 6) Jadi sewaktu menemui dia, mereka tidak akan berbicara atau memperlakukan dia dengan kasar. Tujuan mereka mengadakan pertemuan itu bukan sekadar untuk mengikuti prosedur. Tapi, mereka berupaya keras untuk menyentuh hati orang tersebut. Karena itu, mereka tetap bersikap lembut dan baik hati, sesuai dengan prinsip di 2 Timotius 2:​24-26. (Baca.)

      Seorang gembala, yang sedang bersama kawanannya, mencari domba yang hilang. Domba itu tersangkut di semak-semak, dan kakinya terluka.

      Seperti gembala di zaman dulu, para penatua berupaya menemukan domba yang hilang (Lihat paragraf 5)


      6. Bagaimana para penatua mempersiapkan hati mereka sebelum bertemu dengan orang yang berbuat dosa? (Roma 2:4)

      6 Para penatua mempersiapkan hati mereka sendiri. Mereka berupaya untuk selalu meniru Yehuwa sewaktu memperlakukan orang yang berbuat dosa. Mereka mengingat kata-kata Paulus ini: ”Allah dengan baik hati sedang membantu kalian untuk bertobat.” (Baca Roma 2:4.) Para penatua harus ingat bahwa peran utama mereka adalah sebagai gembala, yang perlu mengikuti arahan Kristus. (Yes. 11:​3, 4; Mat. 18:​18-20) Sebelum bertemu dengan orang itu, panitia tersebut akan berdoa dan memikirkan baik-baik tujuan mereka, yaitu untuk membantu dia bertobat. Mereka akan meriset ayat-ayat Alkitab dan publikasi kita. Mereka juga akan berdoa supaya mereka punya pemahaman yang benar tentang orang itu dan situasinya. Dan, mereka akan memikirkan apa yang perlu mereka ketahui tentang latar belakang orang itu, yang mungkin memengaruhi cara berpikir, sikap, dan tingkah lakunya.—Ams. 20:5.

      7-8. Bagaimana para penatua meniru kesabaran Yehuwa sewaktu bertemu dengan orang yang berbuat dosa?

      7 Para penatua meniru kesabaran Yehuwa. Mereka mengingat bagaimana Yehuwa memperlakukan orang-orang yang berbuat dosa di masa lalu. Misalnya, Yehuwa berbicara dengan sabar kepada Kain. Yehuwa memperingatkan dia tentang akibat dosa dan memberi tahu dia bahwa dia akan diberkati kalau dia melakukan apa yang benar. (Kej. 4:​6, 7) Selain itu, Yehuwa mengutus Nabi Natan untuk menasihati Daud, dan Natan menggunakan sebuah perumpamaan yang menyentuh hati Daud. (2 Sam. 12:​1-7) Yehuwa juga mengutus para nabi-Nya ”terus-menerus” kepada bangsa Israel yang menyimpang. (Yer. 7:​24, 25) Dia tidak hanya menunggu sampai umat-Nya bertobat. Sebaliknya, Dia berinisiatif untuk membantu mereka bertobat bahkan sewaktu mereka masih berbuat dosa.

      8 Para penatua meniru teladan Yehuwa sewaktu berupaya membantu orang yang melakukan dosa serius. Sesuai dengan 2 Timotius 4:​2, mereka memperlakukan rekan seiman yang berbuat dosa itu ”dengan penuh kesabaran”. Itu berarti mereka perlu selalu mengendalikan diri dan dengan sabar berupaya membuat orang itu tergerak untuk melakukan apa yang benar. Kalau para penatua menjadi marah atau kesal, mereka bisa membuat orang itu menjauh atau bahkan tersandung.

      9-10. Bagaimana para penatua bisa membantu seseorang berpikir dan menyadari kesalahannya?

      9 Para penatua mencari tahu hal apa saja yang membuat orang itu akhirnya berbuat dosa. Misalnya, apakah orang itu pelan-pelan menjadi lemah secara rohani karena dia sudah tidak lagi melakukan pelajaran pribadi atau berdinas? Apakah dia sudah jarang berdoa kepada Yehuwa, atau doanya menjadi sekadar formalitas saja? Apakah dia sudah membiarkan dirinya dikendalikan oleh keinginan yang salah? Apakah dia memilih teman bergaul atau hiburan yang buruk? Bagaimana pilihan itu memengaruhi hatinya? Apakah dia sadar bahwa keputusan dan tindakannya sudah menyakiti hati Bapaknya, Yehuwa?

      10 Para penatua dengan baik hati mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bermakna tanpa menanyakan hal-hal pribadi yang tidak perlu mereka ketahui. Tujuannya untuk membantu dia memikirkan sikapnya selama ini yang membuat dia akhirnya melakukan dosa. (Ams. 20:5) Selain itu, mereka bisa menggunakan perumpamaan untuk membantu orang itu berpikir dan menyadari kesalahannya, seperti yang Natan lakukan terhadap Daud. Pada pertemuan pertama, orang itu mungkin mulai menyesali kesalahannya dan sikapnya selama ini. Bahkan, dia mungkin bertobat pada saat itu.

      11. Apa yang Yesus lakukan terhadap orang-orang yang berbuat dosa?

      11 Para penatua berupaya keras untuk meniru Yesus. Yesus yang sudah dibangkitkan mengajukan pertanyaan yang bagus kepada Saul dari Tarsus: ”Saul, Saul, kenapa kamu menganiaya aku?” Dengan melakukan itu, Yesus membantu dia berpikir dan menyadari bahwa apa yang dia lakukan selama ini salah. (Kis. 9:​3-6) Dan sewaktu berbicara tentang ”wanita yang seperti Izebel”, Yesus berkata, ”Aku sudah memberi dia waktu untuk bertobat.”—Why. 2:​20, 21.

      12-13. Bagaimana para penatua bisa memberi seseorang waktu untuk bertobat? (Lihat juga gambar.)

      12 Seperti Yesus, para penatua tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa orang yang berbuat dosa itu tidak akan bertobat. Memang, ada yang mungkin bertobat pada pertemuan pertama dengan panitia itu. Tapi, yang lainnya mungkin butuh lebih banyak waktu. Jadi, para penatua bisa mengatur untuk bertemu dengan orang itu lebih dari satu kali. Mungkin setelah pertemuan pertama, orang tersebut mulai memikirkan dengan serius apa yang disampaikan para penatua. Dia juga mungkin berdoa kepada Yehuwa dengan rendah hati. (Mz. 32:5; 38:18) Lalu, di pertemuan berikutnya, dia mungkin sudah punya sikap yang berbeda.

      13 Karena ingin membantu orang yang berbuat dosa itu bertobat, para penatua bersikap seperasaan dan berbaik hati kepadanya. Mereka berharap dan berdoa agar Yehuwa memberkati upaya mereka dan agar orang Kristen yang menyimpang itu menjadi sadar dan bertobat.—2 Tim. 2:​25, 26.

      Beberapa gambar: 1. Tiga penatua mengadakan pertemuan dengan seorang saudara. Saudara itu membuang muka sewaktu para penatua berbicara kepadanya. 2. Belakangan, para penatua mengadakan pertemuan dengan saudara itu lagi, dan saudara tersebut mendengarkan baik-baik sewaktu para penatua berbicara kepadanya.

      Para penatua bisa menemui orang yang berbuat dosa itu lebih dari satu kali, karena orang itu mungkin butuh waktu untuk bertobat (Lihat paragraf 12)


      14. Sewaktu seseorang bertobat, siapa yang sebenarnya berjasa, dan mengapa?

      14 Kalau orang yang berbuat dosa bertobat, itu pasti menghasilkan sukacita yang besar! (Luk. 15:​7, 10) Siapa yang sebenarnya berjasa? Apakah para penatua? Ingatlah apa yang Paulus tulis tentang orang-orang berdosa: ”Mungkin Allah akan mengizinkan mereka bertobat.” (2 Tim. 2:25) Jadi, yang berjasa dalam mengubah cara berpikir dan sikap orang itu bukan manusia mana pun, tapi Yehuwa. Dialah yang membantu orang Kristen yang menyimpang itu membuat perubahan penting tersebut. Lalu, Paulus menyebutkan beberapa hasil yang bagus dari pertobatan: Orang itu akan memiliki pengetahuan yang lebih tepat tentang kebenaran, menjadi sadar, dan bisa keluar dari jerat Setan.—2 Tim. 2:26.

      15. Bagaimana para penatua bisa terus membantu orang yang bertobat?

      15 Sewaktu seseorang bertobat, para penatua akan terus memberikan bantuan yang dia butuhkan. Panitia yang menangani kasusnya akan mengatur kunjungan-kunjungan penggembalaan supaya dia bisa melawan jerat Setan dan terus berjalan lurus. (Ibr. 12:​12, 13) Tentu saja, badan penatua tidak akan memberitahukan perincian tentang kesalahan orang itu kepada siapa pun. Tapi, apa yang mungkin perlu diberitahukan kepada sidang?

      ”DITEGUR DI DEPAN ORANG-ORANG”

      16. Apa maksud kata-kata Paulus di 1 Timotius 5:20?

      16 Baca 1 Timotius 5:20. Paulus menulis kepada rekan penatuanya, Timotius, bahwa ”orang yang terus berbuat dosa harus ditegur di depan orang-orang”. Apa maksudnya? Apakah seluruh sidang perlu diberi tahu tentang teguran tersebut? Tidak selalu. ”Orang-orang” yang Paulus maksudkan adalah orang-orang yang sudah mengetahui dosa orang tersebut. Beberapa orang mungkin melihatnya sendiri atau mendengarnya dari orang yang melakukan dosa itu. Hanya mereka yang akan diberi tahu para penatua bahwa masalahnya sudah ditangani.

      17. Dalam kasus seperti apa pengumuman tentang orang yang ditegur harus disampaikan kepada sidang, dan mengapa?

      17 Dalam beberapa kasus, dosa orang itu mungkin sudah diketahui banyak orang di sidang atau kemungkinan besar akan diketahui oleh mereka. Kalau begitu, seluruh sidang perlu diberi tahu bahwa saudara atau saudari itu sudah ditegur. Seorang penatua akan mengumumkannya kepada sidang. Mengapa? Paulus mengatakan bahwa itu akan menjadi ”peringatan bagi yang lain” untuk tidak jatuh ke dalam dosa.

      18. Apa yang akan dilakukan para penatua kalau orang Kristen yang berbuat dosa adalah anak di bawah umur? (Lihat juga gambar.)

      18 Bagaimana kalau yang melakukan dosa serius adalah orang Kristen terbaptis yang di bawah umur (di bawah 18 tahun)? Badan penatua akan mengatur agar dua penatua bertemu dengan anak itu beserta orang tuanya yang adalah Saksi Yehuwa.b Para penatua akan mencari tahu langkah apa saja yang sudah diambil orang tuanya untuk membantu anak mereka bertobat. Kalau anak itu punya sikap yang baik dan menyambut bantuan orang tuanya, kedua penatua tersebut mungkin memutuskan bahwa mereka tidak perlu mengambil tindakan lebih lanjut. Lagi pula, orang tualah yang diberi tanggung jawab oleh Allah untuk mengoreksi anak mereka dengan pengasih. (Ul. 6:​6, 7; Ams. 6:20; 22:6; Ef. 6:​2-4) Para penatua akan secara berkala memastikan dengan orang tuanya bahwa anak itu mendapat bantuan yang dia butuhkan. Tapi, bagaimana kalau anak itu terus melakukan dosanya dan tidak bertobat? Kalau begitu, sebuah panitia yang terdiri dari tiga penatua akan bertemu dengan dia beserta orang tuanya yang adalah Saksi Yehuwa.

      Dua penatua mengadakan pertemuan dengan seorang anak di bawah umur yang sudah terbaptis dan orang tuanya di rumah mereka. Salah satu penatua sedang memberikan sebuah ayat.

      Sewaktu anak di bawah umur melakukan dosa serius, dua penatua akan bertemu dengan anak itu beserta orang tuanya yang adalah Saksi Yehuwa (Lihat paragraf 18)


      ”YEHUWA ITU PENUH KASIH SAYANG DAN BELAS KASIHAN”

      19. Bagaimana para penatua berupaya meniru Yehuwa dalam memperlakukan orang yang berbuat dosa?

      19 Para penatua yang melayani dalam panitia itu bertanggung jawab di hadapan Yehuwa untuk menjaga sidang tetap bersih. (1 Kor. 5:7) Tapi, mereka juga berupaya sebisa mungkin agar orang yang berbuat dosa itu tergerak untuk bertobat. Karena itu, para penatua tetap bersikap positif dan tidak kehilangan harapan. Mereka mau meniru Yehuwa, yang ”penuh kasih sayang dan belas kasihan”. (Yak. 5:11) Rasul Yohanes yang sudah lansia juga punya perasaan seperti itu. Dia menulis, ”Anak-anak, saya menulis tentang semua ini supaya kalian tidak berbuat dosa. Tapi kalau ada yang berbuat dosa, kita punya penolong yang ada bersama Bapak, yaitu Yesus Kristus, yang perbuatannya benar.”—1 Yoh. 2:1.

      20. Apa yang akan kita bahas di artikel terakhir dalam seri ini?

      20 Sayangnya, kadang ada orang Kristen yang tidak mau bertobat, sehingga dia harus dikeluarkan dari sidang. Apa yang perlu dilakukan para penatua kalau kasus yang serius seperti itu terjadi? Kita akan membahas jawabannya di artikel terakhir dalam seri ini.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan