-
Ia Berjaga-jaga, dan Ia MenantiTirulah Iman Mereka
-
-
PASAL SEBELAS
Ia Berjaga-jaga, dan Ia Menanti
1, 2. Tugas tidak menyenangkan apa yang Elia dapatkan, dan apa perbedaan antara Elia dan Ahab?
ELIA ingin sekali berdoa secara pribadi kepada Bapak surgawinya. Tetapi, kumpulan orang banyak yang mengerumuninya baru saja menyaksikan nabi sejati ini memanggil api turun dari langit. Pastilah, banyak di antara mereka ingin mencari muka atau perkenannya. Sebelum Elia dapat naik ke puncak Gunung Karmel untuk menghampiri Allah Yehuwa secara pribadi dalam doa, ia mendapat tugas yang tidak menyenangkan. Ia harus berbicara kepada Raja Ahab.
2 Kedua pria ini sangat berbeda. Ahab, yang berpakaian mewah sebagai raja, adalah orang murtad yang tamak dan tidak berpendirian. Elia mengenakan pakaian resmi seorang nabi—sebuah jubah sederhana yang kemungkinan besar terbuat dari kulit binatang atau dari bulu unta atau bulu kambing yang ditenun. Ia adalah pria yang sangat berani, berintegritas, dan beriman. Pada akhir hari itu, banyak yang telah tersingkap tentang karakter masing-masing pria ini.
3, 4. (a) Mengapa Ahab dan para penyembah Baal lainnya dipermalukan? (b) Pertanyaan apa saja yang akan kita bahas?
3 Pada hari itu, Ahab dan para penyembah Baal lainnya telah dipermalukan. Agama kafir yang dipuja-puja Ahab dan istrinya, Ratu Izebel, di kerajaan Israel sepuluh suku telah mendapat pukulan telak. Baal telah terbukti sebagai allah palsu. Allah yang tak bernyawa itu bahkan tidak bisa menyulut api guna menjawab permintaan para nabinya yang dilakukan dengan histeris, disertai tarian dan ritual penorehan tubuh. Baal gagal melindungi ke-450 pria itu dari hukuman mati yang patut mereka terima. Tetapi, allah palsu itu gagal dalam hal lain dan sebentar lagi kegagalan itu akan tersingkap seluruhnya. Selama lebih dari tiga tahun, para nabi Baal telah memohon kepada allah mereka untuk mengakhiri musibah kekeringan yang melanda negeri itu, namun Baal terbukti tidak sanggup melakukannya. Tidak lama lagi, Yehuwa sendiri akan mempertunjukkan keunggulan-Nya dengan mengakhiri kekeringan itu.—1 Raj. 16:30–17:1; 18:1-40.
4 Namun, kapan Yehuwa akan bertindak? Bagaimana sikap Elia seraya menantikan waktu itu? Dan, apa yang dapat kita pelajari dari pria yang beriman ini? Mari kita lihat dengan mempelajari kisahnya.—Baca 1 Raja 18:41-46.
Sikap Berkanjang dalam Berdoa
5. Elia menyuruh Ahab melakukan apa, dan apakah Ahab menarik pelajaran dari berbagai peristiwa pada hari itu?
5 Elia menemui Ahab dan mengatakan, ”Pergilah, makan dan minumlah; sebab bunyi deru hujan deras sudah kedengaran.” Apakah raja yang fasik ini menarik pelajaran dari berbagai peristiwa yang terjadi pada hari itu? Catatan itu tidak menyebutkan secara spesifik, namun kita tidak menemukan kata-kata pertobatan, tidak ada permohonan agar sang nabi membantu dia menghampiri Yehuwa dan meminta pengampunan. Tidak, Ahab hanya ”pergi untuk makan dan minum”. (1 Raj. 18:41, 42) Bagaimana dengan Elia?
6, 7. Apa yang Elia doakan, dan mengapa?
6 ”Mengenai Elia, ia pergi ke puncak Karmel dan mulai duduk mendekam ke tanah dan menaruh mukanya di antara kedua lututnya.” Ketika Ahab pergi mengisi perutnya, Elia menggunakan kesempatan ini untuk berdoa kepada Bapak surgawinya. Perhatikan sikap tubuhnya yang merendah yang diperlihatkan di sini—Elia mendekam ke tanah dan menaruh mukanya begitu rendah sehingga wajahnya mendekati lututnya. Apa yang sedang Elia lakukan? Kita tidak perlu menebaknya. Alkitab, di Yakobus 5:18, memberi tahu kita bahwa Elia berdoa agar kekeringan itu berakhir. Sepertinya, ia memanjatkan doa itu dari puncak gunung Karmel.
Doa Elia mencerminkan keinginannya yang tulus untuk melihat terlaksananya kehendak Allah
7 Beberapa waktu sebelumnya, Yehuwa berkata, ”Aku hendak memberikan hujan ke atas permukaan bumi.” (1 Raj. 18:1) Maka, Elia berdoa agar pernyataan Yehuwa terlaksana, sama seperti doa yang diajarkan Yesus kepada para pengikutnya sekitar seribu tahun kemudian.—Mat. 6:9, 10.
8. Apa yang diajarkan teladan Elia sehubungan dengan doa?
8 Teladan Elia mengajar kita banyak hal tentang doa. Hal yang terutama Elia pikirkan adalah terlaksananya kehendak Allah. Sewaktu berdoa, kita hendaknya ingat, ”bahwa apa pun yang kita minta sesuai dengan kehendak [Allah], dia mendengar kita”. (1 Yoh. 5:14) Jelaslah, kita perlu mengetahui apa kehendak Allah agar doa-doa kita didengar-Nya—itulah sebabnya kita perlu menjadikan pelajaran Alkitab bagian dari kehidupan sehari-hari kita. Pastilah, Elia juga ingin melihat musim kering itu berakhir mengingat penderitaan yang dirasakan oleh sesama bangsanya. Kemungkinan besar, hatinya dipenuhi rasa syukur setelah menyaksikan mukjizat yang dilakukan Yehuwa pada hari itu. Dewasa ini, kita juga ingin agar doa-doa kita mencerminkan keprihatinan akan kesejahteraan orang lain dan rasa syukur yang sepenuh hati.—Baca 2 Korintus 1:11; Filipi 4:6.
Yakin dan Berjaga-jaga
9. Elia menyuruh pelayannya untuk melakukan apa, dan dua sifat apa yang akan kita pertimbangkan?
9 Elia yakin bahwa Yehuwa akan bertindak untuk mengakhiri kekeringan, tetapi ia tidak tahu pasti kapan Yehuwa akan bertindak. Jadi, sementara itu apa yang dilakukan sang nabi? Perhatikan apa yang dikatakan catatan itu, ”Ia mengatakan kepada pelayannya, ’Pergilah. Lihatlah ke arah laut.’ Maka dia pergi dan melihat serta mengatakan, ’Sama sekali tidak ada apa-apa.’ Selanjutnya Elia mengatakan, ’Pergilah lagi,’ sampai tujuh kali.” (1 Raj. 18:43) Setidaknya ada dua pelajaran dari teladan Elia. Pertama, perhatikan keyakinan sang nabi. Lalu, pertimbangkan sikap berjaga-jaganya.
Elia dengan bersemangat mencari bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Yehuwa akan segera bertindak
10, 11. (a) Dengan cara apa Elia menunjukkan kepercayaannya kepada janji Yehuwa? (b) Mengapa kita juga bisa memiliki kepercayaan seperti itu?
10 Elia sepenuhnya percaya kepada janji Yehuwa, dan dengan bersemangat mencari bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Yehuwa akan segera bertindak. Maka, ia menyuruh pelayannya naik ke tempat yang lebih tinggi agar dapat melihat cakrawala dan melihat apakah ada tanda-tanda akan turun hujan. Sewaktu kembali, pelayan itu menyampaikan laporan yang tidak menarik ini, ”Sama sekali tidak ada apa-apa.” Cakrawala tampak cerah, dan kelihatannya tak berawan. Nah, apakah Saudara memerhatikan sesuatu yang ganjil di sini? Ingat, Elia baru saja berkata kepada Raja Ahab, ”Bunyi deru hujan deras sudah kedengaran.” Bagaimana sang nabi dapat mengatakan hal seperti itu padahal awan mendung pun belum terlihat?
11 Elia mengetahui janji Yehuwa. Sebagai nabi dan wakil Yehuwa, ia yakin bahwa Allah akan menepati firman-Nya. Elia sedemikian yakinnya sehingga ia seolah-olah sudah bisa mendengar bunyi deru hujan deras. Kita mungkin teringat akan gambaran yang diberikan Alkitab tentang Musa, ”Ia tetap kokoh seperti melihat Pribadi yang tidak kelihatan.” Apakah Allah begitu nyata bagi Saudara? Ia menyediakan alasan yang sangat kuat bagi kita untuk menaruh iman demikian kepada Dia dan janji-janji-Nya.—Ibr. 11:1, 27.
12. Bagaimana Elia menunjukkan bahwa ia berjaga-jaga, dan bagaimana reaksinya ketika mendengar bahwa ada awan kecil?
12 Selanjutnya, perhatikanlah sikap berjaga-jaga Elia. Ia menyuruh pelayannya untuk kembali melihat, bukan sekali atau dua kali saja, melainkan tujuh kali! Kita bisa membayangkan si pelayan kelelahan karena harus bolak-balik, tetapi Elia tetap menginginkan sebuah pertanda dan tidak menyerah. Akhirnya, setelah yang ketujuh kalinya, si pelayan melaporkan, ”Lihat! Ada awan kecil seperti telapak tangan manusia naik dari laut.” Dapatkah Saudara membayangkan si pelayan mengulurkan tangannya untuk mengukur awan kecil yang mulai naik di cakrawala dari Laut Besar? Si pelayan boleh jadi tidak terkesan akan apa yang dilihatnya. Namun, bagi Elia awan itu penting. Ia kemudian memberikan pesan yang mendesak kepada pelayannya, ”Pergilah, katakan kepada Ahab, ’Pasanglah keretamu! Dan pergilah agar hujan deras tidak menahanmu!’”—1 Raj. 18:44.
13, 14. (a) Bagaimana kita bisa meniru sikap Elia yang berjaga-jaga? (b) Alasan apa saja yang hendaknya membuat kita berjaga-jaga?
13 Sekali lagi, Elia memberikan teladan yang luar biasa kepada kita. Kita juga hidup pada masa manakala Allah akan segera bertindak untuk memenuhi tujuan-Nya yang sudah dinyatakan. Elia menantikan akhir masa kekeringan itu; hamba-hamba Allah dewasa ini pun menantikan akhir sistem dunia yang fasik ini. (1 Yoh. 2:17) Hingga Allah Yehuwa bertindak, kita harus tetap berjaga-jaga, seperti halnya Elia. Putra Allah sendiri, Yesus, menasihati para pengikutnya, ”Karena itu, tetaplah berjaga-jaga sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuanmu akan datang.” (Mat. 24:42) Apakah Yesus memaksudkan bahwa para pengikutnya sama sekali tidak tahu kapan akhir itu akan datang? Tidak, karena ia berbicara panjang lebar tentang bagaimana keadaan dunia pada saat-saat menjelang akhir itu tiba. Kita semua dapat mempelajari perincian tanda ”penutup sistem ini”.—Baca Matius 24:3-7.
Sebuah awan kecil sudah cukup untuk meyakinkan Elia bahwa Yehuwa akan segera bertindak. Tanda hari-hari terakhir memberikan alasan yang meyakinkan untuk segera bertindak
14 Setiap corak dari tanda itu menyediakan bukti yang sangat kuat dan meyakinkan. Apakah bukti itu cukup untuk menggerakkan kita bertindak sesegera mungkin dalam dinas kepada Yehuwa? Sebuah awan kecil yang naik di cakrawala sudah cukup untuk meyakinkan Elia bahwa Yehuwa akan segera bertindak. Apakah nabi yang setia itu dikecewakan?
Yehuwa Mendatangkan Kelegaan dan Berkat
15, 16. Peristiwa-peristiwa apa yang terjadi dengan sangat cepat, dan apa yang mungkin Elia pikirkan sehubungan dengan Ahab?
15 Catatan itu memberi tahu kita, ”Sementara itu langit menjadi gelap dengan awan dan angin serta hujan yang sangat deras mulai melanda. Dan Ahab terus naik kereta dan pergi ke Yizreel.” (1 Raj. 18:45) Peristiwa-peristiwa terjadi dengan sangat cepat. Sewaktu pelayan Elia menyampaikan pesan sang nabi kepada Ahab, awan kecil itu telah menjadi banyak, memenuhi dan membuat langit gelap. Angin kencang mulai bertiup. Akhirnya, setelah tiga setengah tahun, hujan pun turun di tanah Israel. Tanah yang kering kerontang segera dipenuhi air. Seraya hujan bertambah lebat, air Sungai Kisyon meluap, pasti juga menyapu bersih darah para nabi Baal yang dieksekusi. Orang Israel yang suka memberontak juga diberi kesempatan untuk membasuh dan menyingkirkan noda yang sangat kotor dari penyembahan Baal atas negeri itu.
”Hujan yang sangat deras mulai melanda”
16 Pastilah, Elia juga mengharapkan hal itu terjadi! Apakah Ahab akan bertobat dan berpaling dari penyembahan Baal yang cemar? Berbagai peristiwa pada hari itu memberikan alasan yang kuat untuk membuat perubahan demikian. Kita memang tidak tahu pasti apa yang ada dalam benak Ahab pada waktu itu. Catatan itu hanya memberi tahu kita bahwa raja itu ”terus naik kereta dan pergi ke Yizreel”. Apakah ia telah menarik hikmahnya? Apakah ia bertekad untuk mengubah haluannya? Peristiwa-peristiwa selanjutnya memperlihatkan bahwa jawabannya adalah tidak. Namun, hari itu masih belum berakhir bagi Ahab—juga bagi Elia.
17, 18. (a) Apa yang terjadi dengan Elia dalam perjalanan ke Yizreel? (b) Elia dapat berlari dari Karmel ke Yizreel. Mengapa hal itu luar biasa? (Lihat juga catatan kaki.)
17 Nabi Yehuwa mulai bergerak mengikuti jalan yang sama yang ditempuh Ahab. Jalan yang panjang, becek, dan gelap ada di hadapannya. Tetapi, terjadilah sesuatu yang luar biasa.
18 ”Tangan Yehuwa ternyata ada atas Elia, sehingga ia mengikat pinggangnya dan berlari mendahului Ahab terus sampai ke Yizreel.” (1 Raj. 18:46) Jelaslah, ”tangan Yehuwa” telah menuntun Elia secara mukjizat. Jarak tempuh ke Yizreel sekitar 30 kilometer, dan Elia sudah tidak muda lagi.a Coba bayangkan bagaimana sang nabi menyingsingkan jubahnya, mengikatkannya pada pinggang agar kakinya bebas bergerak, lalu berlari sepanjang jalan yang sudah mulai basah karena air hujan—berlari sebegitu kencangnya sehingga dapat menyusul, melewati, dan meninggalkan kereta kerajaan di belakangnya!
19. (a) Kekuatan dan stamina yang Allah berikan kepada Elia mengingatkan kita akan nubuat apa? (b) Seraya Elia berlari ke Yizreel, apa yang pasti ia ketahui?
19 Benar-benar suatu berkat bagi Elia! Merasakan kekuatan, kebugaran, dan stamina seperti itu—mungkin lebih daripada yang pernah ia rasakan sewaktu muda—pastilah merupakan pengalaman yang mendebarkan. Kita boleh jadi diingatkan oleh nubuat-nubuat yang menjamin kesehatan dan kebugaran yang sempurna bagi orang-orang yang setia di bumi Firdaus kelak. (Baca Yesaya 35:6; Luk. 23:43) Seraya Elia berlari di sepanjang jalan yang becek itu, pastilah ia tahu bahwa ia mendapatkan perkenan dari Bapaknya, satu-satunya Allah yang benar, Yehuwa!
20. Bagaimana kita bisa meraih berkat-berkat dari Yehuwa?
20 Yehuwa sangat ingin memberikan berkat-berkat-Nya. Semua upaya yang kita kerahkan untuk meraihnya tidak akan sia-sia. Seperti Elia, kita perlu berjaga-jaga, dengan cermat mempertimbangkan bukti-bukti yang sangat kuat bahwa Yehuwa akan segera bertindak pada masa yang genting dan mendesak ini. Seperti Elia, kita mempunyai banyak alasan untuk menaruh keyakinan penuh pada janji-janji Yehuwa, ”Allah kebenaran”.—Mz. 31:5.
a Tak lama kemudian, Yehuwa menugasi Elia untuk melatih Elisa, yang kemudian dikenal sebagai orang ”yang menuangkan air ke tangan Elia”. (2 Raj. 3:11) Elisa bertugas sebagai pelayan Elia, rupanya memberikan bantuan praktis kepada pria yang sudah tua itu.
-
-
Ia Dihibur oleh AllahnyaTirulah Iman Mereka
-
-
PASAL DUA BELAS
Ia Dihibur oleh Allahnya
1, 2. Apa yang terjadi di hari yang paling seru dalam kehidupan Elia?
ELIA berlari menembus hujan seraya kegelapan semakin pekat. Perjalanan ke Yizreel masih jauh, sedangkan ia sudah tidak muda lagi. Tetapi, ia berlari tanpa merasa lelah, sebab ”tangan Yehuwa” ada atasnya. Tenaga yang menjalari seluruh tubuhnya pasti belum pernah ia rasakan. Bayangkan, ia baru saja mendahului kereta Raja Ahab yang dihela oleh kuda-kuda pilihan!—Baca 1 Raja 18:46.
2 Kini, Raja Ahab sudah jauh tertinggal, dan jalan yang sepi terbentang di hadapan Elia. Bayangkan Elia mengerjap-ngerjapkan matanya yang diterpa titik-titik air hujan seraya ia berlari, sambil mengenang hari yang paling seru dalam hidupnya. Tidak diragukan, itu merupakan hari kemenangan yang gemilang bagi Yehuwa, Allahnya Elia, dan bagi ibadat sejati. Gunung Karmel yang menjulang tinggi sudah jauh di belakangnya, tidak kelihatan lagi karena tertutup awan gelap. Di sana, Yehuwa telah menggunakan Elia untuk mengalahkan penyembahan Baal dengan pertunjukan adikuasa yang dahsyat. Ratusan nabi Baal terbukti palsu dan jahat sehingga pantas dieksekusi. Kemudian, Elia memohon agar Yehuwa mengakhiri masa kekeringan yang telah mencengkeram negeri itu selama tiga setengah tahun. Dan, hujan pun turun!—1 Raj. 18:18-45.
3, 4. (a) Mengapa harapan Elia semakin besar seraya ia berlari ke Yizreel? (b) Pertanyaan apa yang akan kita bahas?
3 Seraya Elia berlari menerjang hujan dalam perjalanan ke Yizreel yang jaraknya 30 kilometer, harapannya pasti semakin besar. Elia bisa jadi berpikir bahwa inilah titik balik yang selama ini ia harapkan. Ahab pasti akan berubah! Setelah apa yang disaksikannya, Ahab tentu tidak punya pilihan lain. Ia harus meninggalkan penyembahan Baal, menghentikan sepak terjang Izebel, ratunya, serta mengakhiri penindasan atas hamba-hamba Yehuwa.
”Elia berlari . . . mendahului Ahab terus sampai ke Yizreel”
4 Memang, ketika segala sesuatu tampaknya berjalan sesuai dengan keinginan kita, harapan kita biasanya semakin besar. Kita mungkin membayangkan bahwa kehidupan kita akan semakin membaik, bahkan berpikir bahwa masalah terbesar kita akhirnya teratasi. Tidaklah mengherankan jika Elia berpikir seperti itu, sebab ia ”seorang pria yang mempunyai perasaan seperti kita”. (Yak. 5:17) Tetapi, sebenarnya problem Elia sama sekali belum selesai. Bahkan dalam hitungan jam, Elia akan merasa begitu ketakutan dan patah semangat sehingga ia ingin mati saja. Apa yang terjadi, dan bagaimana Yehuwa membantu nabi-Nya memulihkan iman serta keberaniannya? Mari kita lihat.
Perubahan di Luar Dugaan
5. Setelah kejadian di Gunung Karmel, apakah Ahab belajar untuk lebih merespek Yehuwa, dan bagaimana kita tahu?
5 Sewaktu Ahab tiba di istananya di Yizreel, apakah ia sudah berubah? Kita membaca, ”Ahab menceritakan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan segala hal mengenai bagaimana dia membunuh semua nabi itu dengan pedang.” (1 Raj. 19:1) Perhatikan bahwa dalam ceritanya tentang peristiwa hari itu, Ahab tidak menyebut-nyebut Yehuwa, Allahnya Elia. Bagi Ahab yang tidak rohani, mukjizat hari itu semata-mata perbuatan manusia—perbuatan ”yang dilakukan Elia”. Jelaslah, semua itu tidak membuat Ahab merespek Allah Yehuwa. Dan bagaimana reaksi istrinya yang suka mendendam itu?
6. Pesan apa yang Izebel kirim kepada Elia, dan apa arti pesan itu?
6 Izebel naik pitam! Dalam kemurkaannya, ia mengirim berita kepada Elia, ”Kiranya allah-allah menghukum dan bahkan lebih daripada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat jiwamu seperti jiwa mereka masing-masing!” (1 Raj. 19:2) Ini ancaman kematian yang sangat menyeramkan. Dapat dikatakan, Izebel bersumpah bahwa ia sendiri harus mati jika tidak berhasil membunuh Elia dalam waktu satu hari untuk membalaskan dendam nabi-nabi Baal-nya. Bayangkan, pada malam yang berbadai itu, Elia dibangunkan di tempat menginapnya yang sederhana di Yizreel dan mendengar berita yang mengerikan itu dari utusan sang ratu. Bagaimana perasaannya?
Kecil Hati dan Ketakutan
7. Apa pengaruh ancaman Izebel terhadap Elia, dan apa yang Elia lakukan?
7 Jika Elia sempat membayangkan bahwa perang melawan penyembahan Baal hampir berakhir, harapannya kandas saat itu juga. Izebel tetap berkeras. Sudah banyak sekali rekan Elia yang dieksekusi atas perintahnya, dan tampaknya sekarang giliran Elia. Apa pengaruh ancaman Izebel terhadap Elia? Alkitab mengatakan, ”Dia menjadi takut.” Apakah Elia membayangkan kematian mengerikan yang direncanakan Izebel baginya? Kalau dia terus memikirkan hal itu, tidak heran keberaniannya hilang. Yang pasti, Elia ”pergi menyelamatkan jiwanya”—ia melarikan diri.—1 Raj. 18:4; 19:3.
Jika kita mau mempertahankan keberanian, jangan biarkan pikiran kita terus memikirkan bahaya-bahaya yang bisa membuat kita takut
8. (a) Apa persamaan antara masalah yang Petrus alami dengan yang Elia alami? (b) Apa yang bisa kita pelajari dari Elia dan Petrus?
8 Elia bukanlah satu-satunya orang beriman yang pernah dicekam rasa takut. Lama setelah itu, rasul Petrus mengalaminya juga. Misalnya, sekali waktu Yesus membuat Petrus bisa berjalan di atas air bersamanya. Namun, sang rasul mulai ”memandang badai” sehingga hilanglah keberaniannya dan ia mulai tenggelam. (Baca Matius 14:30.) Jadi, contoh Petrus dan Elia memberi kita pelajaran berharga. Jika kita mau mempertahankan keberanian, jangan biarkan pikiran kita terus memikirkan bahaya-bahaya yang bisa membuat kita takut. Perhatian kita perlu terfokus kepada Sumber harapan dan kekuatan kita.
”Cukuplah!”
9. Lukiskan perjalanan Elia dan apa yang ia rasakan dalam pelariannya.
9 Elia ketakutan dan melarikan diri ke arah selatan sejauh kira-kira 150 kilometer ke Beer-syeba, kota dekat perbatasan selatan Yehuda. Di sana, ia meninggalkan pelayannya dan berangkat sendirian ke padang gurun. Kisahnya mengatakan bahwa ia pergi sejauh ”sehari perjalanan”, jadi bisa dibayangkan bahwa ia berangkat saat matahari terbit, tampaknya tanpa membawa bekal. Dalam keadaan tertekan dan ketakutan, ia dengan susah payah melintasi medan yang berat itu di bawah teriknya matahari. Seraya sang surya kian memerah dan tenggelam di ufuk barat, Elia kehabisan tenaga. Ia pun terduduk kelelahan di bawah semacam perdu—itu saja yang bisa dijadikan naungan di tanah gersang tersebut.—1 Raj. 19:4.
10, 11. (a) Apa makna doa Elia kepada Yehuwa? (b) Dengan menggunakan ayat-ayat yang dicantumkan, lukiskan perasaan orang-orang saleh lainnya yang juga kecil hati.
10 Dalam keputusasaannya, Elia berdoa memohon supaya mati saja. Ia berkata, ”Aku tidak lebih baik daripada bapak-bapak leluhurku.” Ia tahu bahwa leluhurnya sudah menjadi debu dan tulang di kuburan, tidak bisa berbuat baik untuk siapa pun. (Pkh. 9:10) Elia juga merasa tak berguna. Tidak heran ia berseru, ”Cukuplah!” Buat apa terus hidup?
11 Apakah kita perlu heran bahwa seorang pria yang begitu rohani bisa merasa begitu terpuruk? Tentu tidak. Alkitab mencatat tentang beberapa pria dan wanita setia yang pernah merasa begitu sedih sehingga ingin mati saja—misalnya Ribka, Yakub, Musa, dan Ayub.—Kej. 25:22; 37:35; Bil. 11:13-15; Ayb. 14:13.
12. Jika Saudara sedang kecil hati, apa yang harus Saudara lakukan untuk meniru teladan Elia?
12 Dewasa ini kita hidup pada ”masa kritis yang sulit dihadapi”, jadi tidaklah mengherankan bahwa banyak orang, bahkan hamba-hamba Allah yang setia, kadang-kadang merasa kecil hati. (2 Tim. 3:1) Seandainya Saudara mengalami kesesakan, ikutilah teladan Elia: Curahkan perasaan Saudara kepada Allah. Ingat, Yehuwa adalah ”Allah segala penghiburan”. (Baca 2 Korintus 1:3, 4.) Apakah Ia menghibur Elia?
Yehuwa Memberikan Kekuatan
13, 14. (a) Bagaimana Yehuwa melalui seorang malaikat memperlihatkan kepedulian yang penuh kasih kepada nabi-Nya yang sedang tertekan? (b) Mengapa kita terhibur bahwa Yehuwa tahu segala hal tentang kita masing-masing, termasuk keterbatasan kita?
13 Menurut Saudara, bagaimana perasaan Yehuwa sewaktu memandang dari surga dan melihat nabi yang Ia kasihi terkapar di bawah tanaman perdu di padang gurun dan memohon agar kematian merenggutnya? Kita tidak perlu menerka-nerka. Setelah Elia terlelap, Yehuwa mengutus seorang malaikat untuk mendatanginya. Malaikat itu membangunkan Elia dengan sentuhan lembut dan berkata, ”Bangunlah, makanlah.” Elia pun bangun dan makan, sebab sang malaikat telah dengan baik hati menyiapkan hidangan sederhana untuk Elia—roti yang masih hangat dan air minum. Apakah ia mengucapkan terima kasih kepada sang malaikat? Kisah itu hanya mengatakan bahwa nabi itu makan, minum, dan tidur lagi. Apakah ia begitu putus asa sehingga enggan bicara? Yang jelas, sang malaikat membangunkan dia untuk kedua kalinya, mungkin menjelang fajar. Sekali lagi, ia mendesak Elia, ”Bangunlah, makanlah,” lalu menambahkan kata-kata yang menyentuh ini, ”sebab perjalanan ini terlalu berat bagimu.”—1 Raj. 19:5-7.
14 Berkat pemahaman dari Allah, sang malaikat tahu ke mana Elia akan pergi. Ia juga tahu bahwa dengan kekuatan Elia sendiri, perjalanan itu akan terlalu berat. Kita sungguh terhibur karena melayani Allah yang lebih mengetahui berbagai rencana serta keterbatasan kita daripada diri kita sendiri! (Baca Mazmur 103:13, 14.) Apa manfaat makanan itu bagi Elia?
15, 16. (a) Setelah mendapatkan makanan dari Yehuwa, Elia dapat melakukan apa? (b) Mengapa kita perlu menghargai cara Yehuwa memenuhi kebutuhan rohani hamba-hamba-Nya dewasa ini?
15 Kita membaca, ”Dia bangun dan makan serta minum, dan karena kekuatan dari makanan tersebut dia terus berjalan selama empat puluh hari dan empat puluh malam sampai ke Horeb, gunung Allah yang benar.” (1 Raj. 19:8) Seperti Musa kira-kira enam abad sebelum dia dan Yesus hampir sepuluh abad setelah dia, Elia berpuasa selama 40 hari dan 40 malam. (Kel. 34:28; Luk. 4:1, 2) Makanan yang disantapnya itu tidak menyingkirkan semua problemnya, tetapi itu menguatkan dia secara mukjizat. Bayangkan pria tua ini berjalan kaki melintasi gurun gersang itu, yang sama sekali tidak memiliki jalanan, hari demi hari, minggu demi minggu, selama hampir satu setengah bulan!
16 Yehuwa juga menguatkan hamba-hamba-Nya dewasa ini, bukan dengan makanan yang menguatkan secara mukjizat, tetapi dengan cara yang jauh lebih penting. Ia menyediakan kebutuhan rohani bagi mereka. (Mat. 4:4) Kita bisa kuat secara rohani dengan belajar tentang Allah dari Firman-Nya dan bacaan yang dengan cermat ditulis berdasarkan Alkitab. Makanan rohani mungkin tidak menyingkirkan semua problem kita, tetapi kita dapat dibantu menanggung apa yang tadinya kelihatan mustahil. Hal itu juga membimbing kita ke ”kehidupan abadi”.—Yoh. 17:3.
17. Ke mana Elia pergi, dan mengapa itu adalah tempat yang penting?
17 Elia berjalan hampir sejauh 320 kilometer hingga akhirnya tiba di Gunung Horeb, tempat Allah Yehuwa dahulu menampakkan diri melalui seorang malaikat kepada Musa dalam semak berduri yang bernyala-nyala dan tempat Yehuwa belakangan mengadakan perjanjian Hukum dengan Israel. Di sana, Elia bernaung di sebuah gua.
Yehuwa Menghibur dan Menguatkan Nabi-Nya
18, 19. (a) Malaikat Yehuwa mengajukan pertanyaan apa, dan bagaimana Elia menanggapinya? (b) Elia mengatakan tiga alasan apa yang membuat dia kecil hati?
18 Di Horeb, ”firman” Yehuwa, yang tampaknya disampaikan melalui seorang malaikat, mengajukan pertanyaan sederhana ini: ”Apa urusanmu di sini, Elia?” Pertanyaan itu kemungkinan besar diucapkan dengan lembut sehingga Elia terdorong untuk mencurahkan perasaannya. Ia mengatakan, ”Aku benar-benar cemburu bagi Yehuwa, Allah yang berbala tentara; sebab putra-putra Israel telah meninggalkan perjanjianmu, mezbahmu telah mereka runtuhkan, dan nabi-nabimu telah mereka bunuh dengan pedang, sehingga hanya aku yang tinggal; dan mereka mulai mencari jiwaku untuk mencabutnya.” (1 Raj. 19:9, 10) Dari kata-kata Elia ini, tersingkaplah setidaknya tiga alasan mengapa ia kecil hati.
19 Pertama, Elia merasa pekerjaannya selama ini sia-sia. Meskipun sudah bertahun-tahun ia ”benar-benar cemburu bagi Yehuwa”, mendahulukan nama suci Allah dan ibadat kepada-Nya di atas segalanya, Elia melihat bahwa kondisi bangsa itu semakin buruk saja. Mereka tetap tidak beriman dan suka memberontak, dan ibadat palsu terus merajalela. Kedua, Elia merasa sendirian. ”Hanya aku yang tinggal,” katanya, seolah-olah di bangsa itu dialah orang terakhir yang masih melayani Yehuwa. Ketiga, Elia ketakutan. Banyak rekan nabinya sudah dibunuh, dan Elia yakin dialah yang berikutnya. Mungkin tidak mudah bagi Elia untuk mengakui perasaan itu, tetapi ia tidak membiarkan gengsi atau rasa malu menghalanginya. Dengan membuka hati kepada Allahnya dalam doa, ia menjadi teladan bagi semua orang yang setia.—Mz. 62:8.
20, 21. (a) Lukiskan apa yang Elia saksikan dari mulut gua di Gunung Horeb. (b) Apa yang Elia simpulkan setelah menyaksikan kekuatan Yehuwa?
20 Bagaimana Yehuwa menanggapi ketakutan dan kekhawatiran Elia? Sang malaikat menyuruh Elia berdiri di mulut gua. Ia mematuhinya tanpa mengetahui apa yang bakal terjadi. Tiba-tiba bertiuplah angin yang sangat kencang! Begitu kuatnya angin itu sehingga gunung dan bukit karang terbelah dan gemuruhnya pasti memekakkan telinga. Bayangkan Elia berupaya melindungi matanya sambil memegangi jubah bulunya yang berat dan sederhana agar tidak diterbangkan angin. Ia juga harus berjuang agar tidak jatuh, karena tanah di wilayah itu mulai bergoyang dengan hebatnya diguncang gempa! Sebelum ia sempat menenangkan diri, kobaran api besar menyambar, memaksanya mundur ke dalam gua agar tidak terjilat semburan panasnya.—1 Raj. 19:11, 12.
Yehuwa menggunakan kekuatan-Nya yang luar biasa untuk menghibur dan menguatkan Elia
21 Kisah itu mengingatkan kita bahwa Yehuwa tidak ada dalam berbagai pertunjukan kekuatan alam yang spektakuler tersebut. Elia tahu bahwa Yehuwa bukan semacam dewa alam yang mistis seperti Baal, yang dielu-elukan sebagai ”pengendara awan”, atau pembawa hujan, oleh para penyembahnya yang sesat. Yehuwa adalah Sumber dari semua kekuatan dahsyat yang ada di alam, dan Ia jauh lebih hebat daripada apa pun yang Ia ciptakan. Bahkan jagat raya tidak dapat memuat Dia! (1 Raj. 8:27) Bagaimana semua ini membantu Elia? Ingat bahwa ia merasa takut. Dengan Allah seperti Yehuwa di pihaknya, Allah yang memiliki kekuatan mahadahsyat, Elia tidak perlu takut kepada Ahab dan Izebel!—Baca Mazmur 118:6.
22. (a) Bagaimana ”suara yang tenang dan rendah” itu meyakinkan Elia bahwa ia sangat berharga? (b) Bisa jadi, siapa sumber dari ”suara yang tenang dan rendah” itu? (Lihat catatan kaki.)
22 Setelah api itu lenyap, suasana menjadi hening dan Elia mendengar ”suara yang tenang dan rendah”. Elia kembali terdorong untuk mengutarakan diri, dan ia mencurahkan isi hatinya untuk kedua kalinya.a Mungkin, hal itu membuatnya lebih lega. Yang pasti, Elia merasa lebih terhibur dengan apa yang berikutnya dikatakan oleh ”suara yang tenang dan rendah” itu. Yehuwa meyakinkan Elia bahwa ia sangat berharga. Caranya? Allah menyingkapkan kehendak-Nya di masa mendatang tentang perang melawan penyembahan Baal di Israel. Jelaslah, pekerjaan Elia selama ini tidak sia-sia, sebab kehendak Allah terus terlaksana tanpa dapat dihentikan. Selain itu, Elia tetap berperan dalam pelaksanaan kehendak tersebut, sebab Yehuwa mengutus dia kembali untuk melakukan beberapa perintah yang spesifik.—1 Raj. 19:12-17.
23. Dengan dua cara apa Yehuwa membantu Elia menghadapi rasa kesepian?
23 Bagaimana dengan perasaan Elia bahwa dia kesepian? Ada dua hal yang Yehuwa lakukan dalam hal ini. Pertama, ia memerintahkan Elia untuk mengurapi Elisa sebagai nabi yang akhirnya akan menggantikan dia. Pria yang lebih muda ini akan menemani dan membantu Elia selama beberapa tahun. Penghiburan itu sungguh bermanfaat! Kedua, Yehuwa menyingkapkan berita menggembirakan ini, ”Aku meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yang semuanya tidak berlutut kepada Baal, dan yang mulutnya tidak menciumnya.” (1 Raj. 19:18) Elia sama sekali tidak sendirian. Pastilah ia berbesar hati mendengar adanya ribuan orang setia yang tidak mau menyembah Baal. Mereka membutuhkan pelayanan Elia yang setia dan teladan keloyalannya yang tak tergoyahkan kepada Yehuwa di masa yang kelam itu. Elia tentu sangat tersentuh mendengar kata-kata melalui utusan Yehuwa tersebut, ”suara yang tenang dan rendah” dari Allahnya.
Alkitab bisa bagaikan ”suara yang tenang dan rendah” itu, jika kita mau dibimbing olehnya dewasa ini
24, 25. (a) Dalam pengertian apa kita dapat mendengarkan ”suara yang tenang dan rendah” dari Yehuwa dewasa ini? (b) Mengapa kita dapat yakin bahwa Elia menerima penghiburan yang Yehuwa berikan kepadanya?
24 Seperti Elia, kita mungkin terkagum-kagum akan kekuatan alam yang luar biasa yang terlihat dalam karya ciptaan, dan sudah sepantasnya demikian. Karya ciptaan dengan sangat jelas mencerminkan kuasa Sang Pencipta. (Rm. 1:20) Sampai sekarang, Yehuwa senang menggunakan kekuatan-Nya yang tak terbatas untuk menolong hamba-hamba-Nya yang setia. (2 Taw. 16:9) Tetapi, Allah berbicara kepada kita terutama melalui Alkitab, Firman-Nya. (Baca Yesaya 30:21.) Boleh dikata, Alkitab bisa bagaikan ”suara yang tenang dan rendah” itu, jika kita mau dibimbing olehnya dewasa ini. Pada halaman-halamannya yang berharga, Yehuwa mengoreksi, membesarkan hati, dan meyakinkan kita akan kasih-Nya.
25 Apakah kejadian di Gunung Horeb itu membuat Elia merasa terhibur? Pastilah demikian! Segera, nabi yang setia dan berani ini kembali giat dan bangkit melawan ibadat palsu yang fasik. Jika kita mencamkan ”penghiburan dari Tulisan-Tulisan Kudus”, yakni Firman Allah yang terilham, kita juga akan bisa meniru iman Elia.—Rm. 15:4.
a ”Suara yang tenang dan rendah” itu bisa jadi berasal dari malaikat yang sama yang digunakan untuk menyampaikan ”firman Yehuwa” di 1 Raja-Raja 19:9. Di ayat 15, malaikat ini hanya disebut sebagai ”Yehuwa”. Kita mungkin teringat akan malaikat yang Yehuwa utus untuk membimbing Israel di padang gurun, dan yang tentangnya Allah berkata, ”Namaku ada di dalam dia.” (Kel. 23:21) Kita tentu tidak bisa dogmatis dalam hal ini, tetapi menarik untuk memerhatikan bahwa sebelum menjadi manusia, Yesus melayani sebagai ”Firman”, Juru Bicara Yehuwa bagi hamba-hamba-Nya.—Yoh. 1:1.
-