PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Spesies yang Terancam Punah​—Ruang Lingkup Problemnya
    Sedarlah!—1996 | 8 Agustus
    • Spesies yang Terancam Punah​—Ruang Lingkup Problemnya

      DODO telah menjadi simbol kepunahan. Yang terakhir dari burung yang tidak dapat terbang ini mati sekitar tahun 1680 di Pulau Mauritius. Banyak dari antara spesies yang saat ini terancam punah juga hidup di pulau-pulau. Dalam 400 tahun terakhir, 85 dari antara 94 spesies burung yang dinyatakan punah adalah burung-burung pulau.

      Satwa di benua-benua yang luas juga sedang terancam punah. Perhatikan harimau yang dulunya berkelana di seluruh Rusia. Kini hanya subspesies Amur yang masih tersisa di Siberia, dan jumlahnya telah menyusut hingga hanya 180 sampai 220 ekor saja. Harimau dari Cina Selatan dilaporkan berjumlah hanya 30 hingga 80 ekor. Di Indo Cina, binatang-binatang ini terancam punah ”dalam waktu sepuluh tahun”, lapor The Times dari London. Demikian pula, di India, yang merupakan habitat dari kira-kira dua pertiga jumlah harimau di dunia, para pejabat yang berwenang memperkirakan bahwa makhluk besar ini dapat punah dalam satu dasawarsa.

      Badak dan chetah sedang di ambang kepunahan. Di Cina, panda raksasa berkelana dalam kelompok-kelompok berjumlah sedikitnya sepuluh ekor. Pine marten (sejenis musang) hampir punah di Wales, dan tupai merah ”mungkin akan lenyap dari daratan Inggris dan Wales dalam sepuluh hingga 20 tahun mendatang”, demikian pendapat The Times. Di seberang Lautan Atlantik di Amerika Serikat, kelelawar adalah mamalia darat yang paling terancam punah.

      Prospek lautan dunia tidak kalah suramnya. The Atlas of Endangered Species melukiskan penyu laut sebagai ’kelompok makhluk laut yang mungkin paling terancam punah’. Amfibi tampaknya lebih baik keadaannya; namun, menurut New Scientist, 89 spesies amfibi berada ”di ambang kepunahan” dalam 25 tahun terakhir. Kira-kira 11 persen dari spesies burung di dunia menghadapi kepunahan juga.a

      Tetapi bagaimana dengan makhluk-makhluk yang lebih kecil, seperti kupu-kupu? Situasinya serupa. Dari antara 400 spesies kupu-kupu di Eropa, lebih dari seperempatnya berada dalam bahaya​—19 spesies sedang di ambang kepunahan. Kupu-kupu besar tortoiseshell dari Inggris mengalami nasib serupa seperti dodo dalam daftar spesies yang punah pada tahun 1993.

      Keprihatinan yang Meningkat

      Berapa banyak spesies binatang yang punah setiap tahunnya? Jawabannya bergantung siapa pakar yang Anda tanyakan. Walaupun para ilmuwan tidak sependapat, semua orang mengakui fakta bahwa banyak spesies sedang terancam punah. Ekolog bernama Stuart Pimm mengamati, ”Kontroversi berkenaan betapa cepatnya kita kehilangan [spesies] pada dasarnya merupakan perdebatan tentang masa depan kita.” Ia menambahkan, ”Selama abad-abad yang lalu, kita telah mempercepat tingkat kepunahan spesies jauh di atas tingkat yang wajar. Akibatnya, masa depan kita semakin memburuk.”

      Planet kita, Bumi, bagaikan sebuah rumah. Beberapa orang yang prihatin akan spesies yang terancam mempelajari ekologi, suatu istilah yang ditemukan pada akhir dari abad ke-19 dan yang berasal dari kata Yunani oiʹkos, yang artinya ”rumah”. Ekologi berfokus pada hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Pada abad ke-19 terdapat minat yang bertumbuh akan konservasi, tidak diragukan karena adanya laporan-laporan mengenai kepunahan yang terjadi. Di Amerika Serikat, keadaan ini menyebabkan didirikannya taman-taman nasional dan daerah-daerah suaka yang menyediakan tempat yang aman bagi para satwa. Saat ini, terdapat kira-kira 8.000 daerah perlindungan margasatwa yang dikenal secara internasional di seluas dunia. Berikut 40.000 lokasi lain yang turut memelihara habitat, semuanya mencakup hampir 10 persen dari seluruh daratan di dunia.

      Banyak orang yang prihatin kini mendukung apa yang disebut gerakan hijau, baik melalui gerakan-gerakan yang mempublisitaskan ancaman kepunahan atau yang sekadar mendidik orang tentang saling ketergantungan dalam kehidupan. Dan sejak diadakannya Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro pada tahun 1992, kesadaran yang lebih besar akan masalah lingkungan pada umumnya mencirikan pemikiran pemerintah.

      Spesies yang terancam punah merupakan masalah global yang semakin meningkat. Tetapi mengapa? Apakah ada upaya-upaya jitu untuk mencegah kepunahan spesies baru-baru ini? Dan bagaimana dengan masa depan? Bagaimana ini melibatkan Anda? Artikel kami berikut ini menyediakan jawabannya.

  • Mengapa Spesies Sedang Terancam Punah
    Sedarlah!—1996 | 8 Agustus
    • Mengapa Spesies Sedang Terancam Punah

      SPESIES punah karena berbagai alasan. Perhatikan tiga penyebab utama. Manusia secara tidak langsung bertanggung jawab atas dua dari tiga penyebab itu, dan secara langsung bertanggung jawab atas satu penyebab lainnya.

      Rusaknya Habitat

      Rusaknya habitat sangat berpengaruh terhadap berkurangnya spesies. The Atlas of Endangered Species menyebutnya sebagai ”ancaman yang paling besar” sekaligus ”yang paling sulit dicegah”. Ledakan pertumbuhan penduduk dunia memaksa manusia untuk lebih jauh lagi merambah lahan yang sebelumnya merupakan tempat tinggal bagi margasatwa. Contoh yang menonjol dalam hal ini adalah hutan tropis dunia.

      ’Dalam waktu 40 tahun tidak akan ada lagi hutan tropis yang tersisa’ merupakan perkiraan yang mengerikan yang memfokuskan perhatian kepada apa yang dianggap banyak orang sebagai kerugian besar dari sumber daya berharga. Bahkan, hampir seperempat dari seluruh obat-obatan yang dikenal oleh dunia Barat berasal dari tanaman hutan basah tropis. Meskipun hutan tropis menutupi hanya kira-kira 7 persen permukaan daratan di planet ini, namun ini merupakan tempat tinggal bagi empat perlima dari tumbuhan darat dunia.

      Penebangan pohon dan pola pertanian berpindah-pindah menjarah hutan tropis Afrika Barat yang berlimpah warisan pepohonan. Penggundulan hutan di subbenua India bahkan telah mengubah cuaca, memperkecil curah hujan di beberapa tempat, namun menyebabkan banjir di tempat lain.

      Karena manusia menebangi pohon-pohon untuk menyediakan lahan pertanian, ini mengakibatkan tanaman, binatang, burung, reptil dan serangga mati satu per satu. Profesor dari Harvard, Edward Wilson, memperkirakan bahwa sebanyak 1 persen hutan hilang setiap tahunnya, dan pada akhirnya ini mengakibatkan kepunahan ribuan spesies. Dikhawatirkan bahwa banyak spesies akan musnah bahkan sebelum diberikan sebuah nama ilmiah bagi spesies tersebut.

      Demikian pula halnya dengan rawa-rawa dunia, suatu habitat lain yang terancam. Para pengembang kawasan mengeringkan daerah ini agar mereka dapat membangun rumah, atau para petani mengubahnya menjadi lahan yang cocok ditanami agar dapat digarap. Dalam 100 tahun terakhir, sebanyak 90 persen padang rumput kering di Eropa telah dialihkan menjadi lahan pertanian. Hilangnya padang rumput di Inggris selama 20 tahun terakhir telah menjadi penyebab berkurangnya burung song thrush sebanyak 64 persen.

      Meskipun majalah Time menyebut Pulau Madagaskar sebagai ”sebuah bahtera geologis Nuh”, margasatwanya yang sangat beragam sedang dalam bahaya. Bila populasi meningkat dan utang internasionalnya bertambah, meningkat pula tekanan agar penduduk pulau itu mengubah hutan menjadi sawah. Karena tiga perempat dari habitat kukang bambu emas telah lenyap dalam 20 tahun terakhir, hanya 400 dari binatang ini yang masih tersisa.

      Perubahan radikal dalam pemanfaatan tanah oleh manusia pastilah merusak kehidupan margasatwa regional. Contoh lain, pertimbangkan orang-orang Polinesia, yang tiba di Hawaii 1.600 tahun yang lalu. Sebagai akibat dari aktivitas mereka, 35 spesies burung menjadi punah.

      Para pemukim awal yang datang ke Australia dan Selandia Baru membawa serta kucing-kucing peliharaan, beberapa darinya menjadi liar. Menurut majalah New Scientist, kucing-kucing yang buas ini kini memangsa 64 spesies dari binatang mamalia asli Australia. Ditambah dengan rubah merah Eropa yang ikut dibawa, keduanya menyerang sisa populasi spesies yang terancam.

      Serangan Langsung

      Berburu bukanlah fenomena baru. Catatan Alkitab di Kejadian melukiskan Nimrod yang memberontak, seorang pemburu yang hidup lebih dari 4.000 tahun yang lalu. Meskipun tidak disebutkan bahwa ia menyapu bersih suatu spesies, bagaimanapun juga ia adalah contoh ulung dalam berburu.​—Kejadian 10:9.

      Sepanjang abad, para pemburu telah memusnahkan singa dari Yunani dan Mesopotamia, kuda nil dari Nubia, gajah dari Afrika Utara, beruang dan berang-berang dari Inggris, dan lembu liar dari Eropa Timur. ”Selama tahun 1870-an dan 1880-an, di Afrika Timur saja para pemburu membunuh seperempat juta gajah,” menurut laporan majalah acara BBC, Radio Times. ”Selama setengah abad, Afrika dipenuhi bunyi rentetan tembakan senapan orang-orang yang termasyhur, kaya, dan berkedudukan, yang menembaki gajah, badak, jerapah, keluarga kucing besar dan apa pun yang terbidik oleh mereka. . . . Perilaku ini cukup mengejutkan dewasa ini namun dapat sepenuhnya diterima pada saat itu.”

      Kembali ke situasi dari harimau besar. Sensus pada tahun 1980-an menunjukkan bahwa upaya-upaya konservasi telah berhasil. ”Meskipun demikian, keadaan yang sesungguhnya tidak seperti yang terlihat,” kata 1995 Britannica Book of the Year. ”Perhitungan yang lebih saksama menyingkapkan bahwa sensus sebelumnya telah dilebih-lebihkan oleh para pejabat yang bekerja sama dengan para pemburu ilegal atau sekadar ingin mengesankan atasan mereka. . . . Perdagangan gelap bagian-bagian tubuh harimau tumbuh subur seraya harga melonjak karena persediaannya menyusut.” Karena itu, pada tahun 1995, harimau Siberia diperkirakan bernilai sekitar 9.400 hingga 24.000 dolar AS​—ini tidak hanya mencakup kulitnya yang mahal tetapi juga tulang, mata, kumis, gigi, organ-organ dalam, dan organ seksualnya, ini semua dianggap berkhasiat dalam pengobatan tradisional.

      Saat ini perdagangan gading gajah, cula badak, kulit harimau, dan bagian-bagian binatang lainnya merupakan bisnis gelap bernilai miliaran dolar, kedua setelah penyelundupan obat bius, tulis Time. Dan ini tidak terbatas pada binatang mamalia yang besar. Pada tahun 1994, obat tradisional Cina mengkonsumsi suatu jumlah yang mencengangkan sebanyak 20 juta kuda laut, sehingga hasil tangkapan di beberapa daerah di Asia Tenggara dilaporkan merosot sebanyak kira-kira 60 persen dalam waktu dua tahun.

      Tidak sulit untuk mengidentifikasi siapa yang patut dipersalahkan bila suatu spesies diburu hingga punah. Dan, bagaimana dengan para kolektor? Burung macaw yang terancam punah, conure emas, diperdagangkan di pasar gelap di Brasil seharga 500 dolar AS. Tetapi bila dijual ke luar negeri, harganya melonjak sebanyak tiga setengah kali lipat.

      Peperangan dan efek sampingannya berupa jumlah pengungsi yang semakin banyak, bersamaan dengan tingkat kelahiran yang membubung tinggi, polusi yang meningkat, dan bahkan turisme, membahayakan spesies yang terancam punah. Orang-orang yang bertamasya dengan perahu motor melukai lumba-lumba ketika mereka berkerumun untuk melihatnya, dan bunyi motor yang bising di dalam air dapat mengganggu sistem lokasi gema yang sensitif dari lumba-lumba.

      Setelah melihat daftar yang menyedihkan dari kerusakan yang diakibatkan manusia, Anda mungkin bertanya, ’Apa yang dilakukan para konservasionis untuk melestarikan spesies yang terancam punah, dan seberapa berhasilkah mereka?’

  • Konservasi versus Kepunahan
    Sedarlah!—1996 | 8 Agustus
    • Konservasi versus Kepunahan

      KONFLIK antara konservasi dan kepunahan terus berkecamuk. Banyak organisasi amal mendesak pemerintah untuk memberlakukan undang-undang konservasi yang lebih ketat dengan tujuan melindungi spesies yang terancam.

      Misalnya, belum lama ini berbagai kelompok menghadap para pejabat Cina dan berhasil menggalang kerja sama untuk memberantas penangkapan beruang hitam Asia. Binatang ini ditangkap hanya untuk diambil empedu dan kantong empedunya, yang digunakan sebagai obat tradisional Timur.

      Bantuan Internasional

      Upaya pelestarian suatu spesies tidak akan berhasil jika di satu negara spesies itu dilindungi tetapi di negara lain ia diburu hingga punah. Oleh karena itu, sungguh tepat waktu bila dibuat perjanjian internasional​—dan terdapat banyak perjanjian semacam itu. Konvensi Keanekaragaman Hayati, Perjanjian Rio, diberlakukan pada akhir tahun 1993, segera diikuti oleh Perjanjian Konservasi Kelelawar di Eropa. Komisi Internasional Urusan Penangkapan Ikan Paus membuat cagar alam bagi ikan paus di Samudra Bagian Selatan hingga ke Samudra Hindia dalam upaya untuk melindungi ikan paus minke dan ikan paus besar. Tetapi mungkin perjanjian yang paling berpengaruh adalah Perjanjian Urusan Perdagangan Internasional Spesies yang Terancam Punah.​—Lihat kotak.

      Manusia masih harus banyak belajar tentang hubungan antara sesama makhluk hidup. Para nelayan Afrika Timur yang memasukkan ikan Nile perch ke Danau Victoria untuk meningkatkan persediaan pangan mengakibatkan apa yang disebut oleh ahli zoologi Colin Tudge sebagai ”bencana ekologi terbesar pada abad ini”. Kira-kira 200 dari antara 300 spesies ikan asli danau itu punah. Walaupun bukti terbaru menuding erosi tanah yang mengganggu keseimbangan spesies, pemerintah dari tiga negara yang berbatasan dengan danau itu kini telah membentuk suatu organisasi untuk menentukan spesies ikan mana yang dapat dimasukkan tanpa membahayakan spesies ikan asli danau itu.

      Intervensi Manusia

      Salah satu bidang yang melaporkan sukses adalah program pembiakan di dalam kandang yang dilakukan oleh banyak kebun binatang. ”Jika semua kebun binatang di dunia sungguh-sungguh memajukan pembiakan di dalam kandang, dan jika masyarakat sungguh-sungguh mendukung kebun binatang, maka mereka dapat bekerja sama untuk menyelamatkan semua spesies vertebrata yang kemungkinan membutuhkan pembiakan dalam kandang di masa depan yang dekat ini.”​—Last Animals at the Zoo.

      Kebun binatang di Jersey, pulau kecil di Inggris, membiakkan binatang-binatang langka dengan tujuan agar binatang-binatang tersebut akhirnya dapat dilepas kembali ke alam bebas. Pada tahun 1975, hanya 100 burung kakaktua St. Lucia yang masih ada di tempat kediamannya di Karibia. Tujuh dari antara burung-burung ini dilepaskan di Jersey. Pada tahun 1989 kebun binatang itu telah membiakkan 14 burung lagi dan mengembalikan beberapa burung ini ke St. Lucia. Kini dilaporkan lebih dari 300 burung tersebut didapati di pulau itu.

      Rencana-rencana serupa di tempat-tempat lain juga terbukti berhasil. National Geographic melaporkan bahwa 17 serigala merah yang masih ada di Amerika Utara berhasil dibiakkan di dalam kandang sehingga sekarang lebih dari 60 serigala dikembalikan ke alam bebas.

      Sangat Berhasilkah?

      Satwa yang berada dalam bahaya tidak selalu terancam punah. Menurut buku Endangered Species​—Elephants, antara tahun 1979 dan 1989, jumlah gajah Afrika merosot dari 1.300.000 hingga 609.000​—beberapa dari hal ini adalah akibat perburuan gading. Kemudian desakan masyarakat agar perdagangan gading dilarang memuncak. Namun tentangan terhadap larangan perdagangan gading menjadi sengit. Mengapa?

      Di Zimbabwe maupun Afrika Selatan, kebijakan konservasi terbukti begitu berhasil sehingga taman-taman nasional mereka dan suaka margasatwa menampung begitu banyak gajah. New Scientist melaporkan bahwa Zimbabwe perlu mengeluarkan 5.000 gajah dari Taman Nasional Hwange. Kelompok-kelompok konservasi mengusulkan agar gajah-gajah itu dipindahkan ke tempat lain. Para pejabat taman menawarkan kelebihan gajah untuk dijual dan mengusulkan agar perwakilan Barat yang menentang dibunuhnya kelebihan gajah tersebut ’tidak hanya memberi saran saja, melainkan memberikan bantuan keuangan untuk memindahkan gajah-gajah itu ke tempat lain’.

      Prospek yang Meragukan

      Namun kegagalan terjadi juga. Banyak orang menyatakan keprihatinannya tentang betapa menyedihkan keadaan spesies yang dikembalikan ke alam bebas. Harimau Siberia hidup enak di dalam kurungan, tetapi di alam bebas ia membutuhkan hutan yang luasnya kira-kira 260 kilometer persegi, bebas dari para pemburu. Lagi pula, ”dengan melepaskan seekor harimau yang dibesarkan di kebun binatang langsung ke dalam lingkungannya”, kata The Independent on Sunday, ”pastilah binatang itu akan kelaparan”. Memang prospek yang suram!

      Kenyataannya, tidak setiap spesies mempunyai tim penolong khusus. Dan itu bukanlah sekadar kurangnya tenaga manusia yang memperburuk problemnya. Betapa pun berbaktinya para konservasionis, bila dihadapkan dengan korupsi, ketamakan, dan sikap masa bodoh para pejabat, serta perang dan bahkan ancaman kematian, bagaimana mungkin mereka akan berhasil? Kalau begitu, apa jalan keluar bagi problem spesies yang terancam punah? Dan bagaimana Anda terlibat?

  • Spesies yang Terancam Punah−Bagaimana Anda Terlibat
    Sedarlah!—1996 | 8 Agustus
    • Spesies yang Terancam Punah−Bagaimana Anda Terlibat

      HARIMAU, penyu, badak, kupu-kupu​—tampaknya daftar spesies yang terancam punah tidak ada habisnya! Anda pasti akan setuju bahwa manusialah yang sebagian besar harus dipersalahkan. Tetapi bagaimana ini melibatkan Anda?

      Mengingat keadaan ekonomi dunia yang menyedihkan, apakah masuk akal untuk mengharapkan orang-orang yang cemas akan kesejahteraan mereka sendiri sehingga mendukung rancangan konservasi, betapa pun mulianya rancangan itu? ”Pastilah tidak mudah bersikap sadar lingkungan di sebagian besar daerah sub-Sahara Afrika, tempat jutaan orang menghadapi pergolakan politik, peperangan antarsuku, kelaparan, dan penyakit epidemi,” demikian komentar Time. Halnya pun demikian di mana-mana.

      Dibutuhkan perubahan radikal untuk menuntaskan problem spesies yang terancam punah. Menurut The Atlas of Endangered Species, perubahan-perubahan ini ”sebegitu besarnya sehingga itu hanya dapat dilakukan oleh pemerintah”. Kemudian buku itu menyatakan, ”Sehubungan dengan pemilihan umum, merupakan tanggung jawab setiap individu untuk memastikan bahwa menjelang tahun 2000 para politisi yang terpilih hanya mereka yang prihatin terhadap lingkungan.”

      Apakah ini merupakan prospek yang realistis? Jika ditilik melalui fakta sejarah, kita mau tak mau menyimpulkan bahwa ”orang yang satu menguasai orang yang lain hingga ia celaka”​—demikian pula dengan apa yang menimpa margasatwa. (Pengkhotbah 8:9) Memang, banyak konservasionis percaya bahwa flora dan fauna bumi berfungsi sebagai indikator lingkungan. Bila indikator tersebut terancam, kita juga terancam. Tetapi ini bukan yang pertama kali dalam sejarah manusia bahwa semua kehidupan di bumi terancam punah.

      Buku sejarah yang tertua mencatat kata-kata, ”Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa.” (Kejadian 6:17) Meskipun demikian, tidak semua manusia maupun semua bentuk kehidupan lain punah, karena Allah mengatur suatu sarana keselamatan.

      Bahtera untuk Keselamatan

      Para ilmuwan percaya bahwa jalan keluar terbaik bagi problem dari spesies yang terancam punah dewasa ini mencakup melestarikan habitat mereka. Menarik sekali, New Scientist melaporkan tentang hal ini dan mengacu pada digunakannya ”metafora dari Bahtera Nuh” oleh para konservasionis. Bahtera Nuh adalah satu-satunya sarana yang menyelamatkan manusia dan binatang dari Air Bah pada zaman Nuh.

      Allah memberi Nuh desain bahtera, sebuah peti kayu yang besar sekali, yang mengambang di permukaan air bah. Peti ini melindungi kehidupan Nuh, istrinya, tiga putra mereka dan istrinya masing-masing, juga wakil-wakil dari berbagai jenis binatang liar dan peliharaan​—bahkan, ”dari segala yang hidup dan bernyawa”. (Kejadian 7:15) Begitu banyaknya bentuk kehidupan yang ada sekarang ini membuktikan betapa bergunanya bahtera itu dalam memenuhi tujuannya.

      Namun, perhatikan bahwa keselamatan tidak bergantung sepenuhnya pada upaya-upaya manusia. Nuh dan keluarganya harus menaati Allah, yang memiliki kuasa untuk memelihara kehidupan mereka. Allah yang mengakhiri pertikaian, kekerasan, dan ketamakan yang mencirikan dunia sebelum Air Bah.​—2 Petrus 3:5, 6.

      Binatang-Binatang dalam Dunia Baru

      Allah Yehuwa telah berjanji bahwa ketaatan pada hukum-Nya dapat mengubah manusia dari yang seperti binatang pemangsa yang ganas dan rakus menjadi seperti hewan yang jinak dan penurut. (Yesaya 11:6-9; 65:25) Bahkan sekarang, bukti akan hal itu sangat banyak. Hadirilah perhimpunan di Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa di sekitar Anda, dan lihatlah sendiri. Jika Yehuwa dapat menghasilkan perubahan radikal sedemikian di antara umat manusia, bukankah Ia juga dapat mengatur agar dunia binatang hidup berdampingan dalam perdamaian dan keamanan, meskipun hal ini berarti mengubah sifat-sifat mereka yang sekarang? Sesungguhnya, Ia berjanji, ”Aku akan mengikat perjanjian bagimu pada waktu itu dengan binatang-binatang di padang dan dengan burung-burung di udara, dan binatang-binatang melata di muka bumi; . . . dan akan membuat engkau berbaring dengan tenteram.”​—Hosea 2:17.

      Rasul Petrus menulis mengenai masa depan ”hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang yang tidak saleh”. (2 Petrus 3:7) Campur tangan Allah yang terkendali akan menghancurkan hanya orang-orang yang tidak saleh. Allah akan ”membinasakan mereka yang membinasakan bumi”.​—Penyingkapan 11:18.

      Bayangkan betapa sukacitanya kelak untuk hidup di dalam dunia yang makhluk-makhluknya tidak lagi berada di bawah ancaman kepunahan. Seberapa banyak hal yang dapat dipelajari dari kehidupan margasatwa yang kelak ada di sekeliling kita? Ya, harimau, singa, gajah, akan berkelana tanpa diganggu. Kehidupan laut akan berlimpah, begitu juga dengan kehidupan reptil, serangga, dan berbagai jenis burung, termasuk macaw​—semuanya dalam keseimbangan yang tepat. Dengan dipulihkannya kesempurnaan manusiawi atas umat manusia yang taat di bawah Kerajaan Mesias, suatu ekosistem yang sempurna akan berkuasa.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan