-
Perkuat Iman Akan Apa yang Saudara HarapkanMenara Pengawal (Edisi Pelajaran)—2016 | Oktober
-
-
Perkuat Iman Akan Apa yang Saudara Harapkan
”Iman adalah penantian yang pasti akan perkara-perkara yang diharapkan.”—IBR. 11:1.
1, 2. (a) Apa bedanya harapan kita dengan harapan orang-orang pada umumnya? (b) Apa yang akan kita bahas dalam artikel ini?
ADA banyak hal yang kita harapkan dari Yehuwa. Ia berjanji akan menyucikan nama-Nya dan mewujudkan kehendak-Nya di surga dan di bumi. (Mat. 6:9, 10) Itulah hal-hal terpenting yang kita nantikan. Yehuwa juga berjanji akan memberi kita kehidupan abadi, di surga atau di bumi. Sungguh luar biasa! (Yoh. 10:16; 2 Ptr. 3:13) Dan, kita ingin melihat cara Yehuwa terus membimbing dan mendukung umat-Nya di zaman akhir.
2 Alkitab mengatakan bahwa iman adalah ”penantian yang pasti” akan apa yang kita harapkan. Artinya, orang yang beriman sangat yakin bahwa janji Yehuwa akan terwujud. (Ibr. 11:1) Sedangkan, orang-orang pada umumnya mengharapkan banyak hal, tapi tidak yakin apakah itu akan terwujud. Misalnya, seseorang berharap untuk menang undian, tapi ia tidak yakin bahwa ia pasti menang. Dalam artikel ini, kita akan membahas caranya memperkuat iman kita akan janji Allah. Kita juga akan belajar apa manfaatnya jika iman kita kuat.
3. Mengapa kita beriman bahwa janji Allah akan terwujud?
3 Tidak ada orang yang sudah beriman sejak lahir. Untuk bisa beriman, kita membutuhkan bimbingan roh kudus Allah. (Gal. 5:22) Roh kudus bisa membantu kita mengenal Yehuwa. Jika kita memahami bahwa Ia mahakuasa dan berhikmat, kita jadi yakin bahwa Ia sanggup mewujudkan semua janji-Nya. Bagi Yehuwa, semua janji-Nya itu seolah-olah ”telah terlaksana”. (Baca Penyingkapan 21:3-6.) Kita tahu bahwa Yehuwa selalu memenuhi janji-Nya. Ia adalah ”Allah yang setia”. Maka, kita memercayai semua janji-Nya akan masa depan.—Ul. 7:9.
TELADAN IMAN DI MASA LALU
4. Umat Allah di masa lalu beriman akan apa?
4 Ibrani pasal 11 menyebutkan nama 16 pria dan wanita yang sangat beriman kepada janji Yehuwa. Pasal itu juga menyebutkan banyak hamba Allah lainnya yang menyenangkan Yehuwa ”melalui iman mereka”. (Ibr. 11:39) Mereka menantikan ”benih” yang Yehuwa janjikan. Mereka tahu bahwa ”benih” itu akan menghancurkan semua musuh Allah dan menjadikan bumi ini firdaus lagi. (Kej. 3:15) Dan, mereka sangat beriman bahwa Yehuwa akan menghidupkan mereka kembali. Memang, mereka tidak akan hidup di surga karena mereka mati sebelum Yesus membuka harapan itu bagi manusia. (Gal. 3:16) Mereka menantikan kehidupan abadi di firdaus yang indah di bumi.—Mz. 37:11; Yes. 26:19; Hos. 13:14.
5, 6. (a) Apa yang dinantikan Abraham dan keluarganya? (b) Apa yang mereka lakukan agar iman mereka tetap kuat? (Lihat gambar di awal artikel.)
5 Ibrani 11:13 berkata tentang hamba-hamba Yehuwa yang setia, ”Dalam iman, mereka semua mati walaupun tidak mengalami penggenapan janji itu, tetapi mereka melihatnya dari kejauhan dan menyambutnya.” Mereka menanti-nantikan dunia baru dan membayangkan hidup di sana. Salah satunya adalah Abraham. Yesus berkata bahwa Abraham ”sangat bersukacita” karena harapan itu. (Yoh. 8:56) Sara, Ishak, Yakub, dan banyak orang lainnya juga menantikan Kerajaan ”yang dibangun dan dibuat oleh Allah”, yang akan memerintah atas seluruh bumi.—Ibr. 11:8-11.
6 Bagaimana Abraham dan keluarganya menjaga iman mereka tetap kuat? Mereka terus belajar tentang Yehuwa. Kadang, Allah berbicara kepada mereka melalui malaikat, penglihatan, atau mimpi. Mungkin, mereka juga belajar dari orang-orang setia yang lebih tua atau dari catatan kuno. Abraham dan keluarganya tidak pernah melupakan janji Allah. Mereka suka merenungkannya. Hasilnya, mereka tidak ragu bahwa Allah akan menepati janji-Nya. Jadi, mereka tetap setia sekalipun menderita atau dianiaya.
7. Apa yang Yehuwa sediakan untuk memperkuat iman kita, dan apa yang perlu kita lakukan?
7 Bagaimana caranya agar iman kita tetap kuat? Yehuwa menyediakan Alkitab sehingga kita tahu tentang janji-Nya akan masa depan dan tahu apa yang dibutuhkan agar bisa bahagia. Karena itu, kita harus membaca Alkitab tiap hari dan menerapkannya. (Mz. 1:1-3; baca Kisah 17:11.) Yehuwa juga menyediakan ”makanan pada waktu yang tepat” melalui ”budak yang setia dan bijaksana”. (Mat. 24:45) Seperti hamba Allah di masa lalu, kita perlu sering membaca tentang janji Allah dan merenungkannya. Dengan melakukannya, kita bisa tetap setia kepada Allah dan terus menantikan saatnya Kerajaan Allah memerintah atas seluruh bumi.
8. Bagaimana doa bisa memperkuat iman kita?
8 Apa lagi yang membuat iman hamba Allah di masa lalu tetap kuat? Mereka berdoa meminta bantuan Yehuwa. Dan sewaktu mereka merasakan bahwa doa mereka dijawab, iman mereka pun semakin kuat. (Neh. 1:4, 11; Mz. 34:4, 15, 17; Dan. 9:19-21) Begitu juga, jika kita merasakan bahwa Yehuwa mendengar doa kita dan memberi kita apa yang kita butuhkan pada waktu yang tepat, iman kita akan semakin kuat. (Baca 1 Yohanes 5:14, 15.) Selain itu, kita perlu ’terus meminta’ roh kudus Yehuwa.—Luk. 11:9, 13.
9. Apa saja yang bisa kita sebutkan dalam doa?
9 Sewaktu berdoa, jangan hanya meminta apa yang kita butuhkan. Yehuwa telah melakukan begitu banyak hal yang luar biasa. Jadi, kita perlu bersyukur kepada-Nya dan memuji-Nya setiap hari. (Mz. 40:5) Umat Yehuwa juga mendoakan saudara-saudari mereka di seluruh dunia. Misalnya, kita ’mengingat mereka yang berada dalam belenggu penjara’. Kita juga berdoa untuk ”mereka yang mengambil pimpinan”. Jika kita merasakan bahwa Yehuwa menjawab doa kita, kita akan semakin beriman dan akrab dengan-Nya.—Ibr. 13:3, 7.
MEREKA TETAP SETIA
10. Mengapa banyak orang bisa berani dan tetap setia kepada Allah?
10 Di Ibrani pasal 11, Paulus berkata, ”Wanita-wanita telah menerima kembali orang-orang mereka yang telah mati, melalui kebangkitan; tetapi orang-orang lain disiksa karena mereka tidak mau menerima pembebasan melalui suatu tebusan, supaya mereka dapat mencapai kebangkitan yang lebih baik.” (Ibr. 11:35) Banyak yang menghadapi cobaan dan tetap setia kepada Allah karena mereka sangat beriman akan kebangkitan yang Allah janjikan. Mereka tahu bahwa di masa depan, Yehuwa akan menghidupkan mereka kembali untuk hidup selamanya di bumi. Perhatikan Nabot dan Zakharia. Mereka dilempari batu sampai mati karena menaati Allah. (1 Raj. 21:3, 15; 2 Taw. 24:20, 21) Daniel dijebloskan ke gua yang berisi singa-singa lapar. Teman-temannya dilemparkan ke dalam api yang berkobar. Mereka rela mati daripada tidak setia kepada Yehuwa. Mereka sangat beriman bahwa Yehuwa akan memberi mereka roh kudus dan membantu mereka bertahan menghadapi penderitaan.—Dan. 3:16-18, 20, 28; 6:13, 16, 21-23; Ibr. 11:33, 34.
11. Para nabi bertekun menghadapi cobaan apa saja?
11 Banyak nabi, seperti Mikaya dan Yeremia, diejek dan dipenjarakan. Yang lainnya, seperti Elia, ”mengembara di gurun, di gunung, di gua-gua dan liang-liang di bumi”. Mereka semua bertekun dan tetap setia kepada Allah karena mereka mempunyai ”penantian yang pasti akan perkara-perkara yang diharapkan”.—Ibr. 11:1, 36-38; 1 Raj. 18:13; 22:24-27; Yer. 20:1, 2; 28:10, 11; 32:2.
12. Siapa teladan terbaik kita, dan mengapa ia bisa bertekun?
12 Yesus Kristus bertekun menghadapi cobaan yang paling sulit dan tetap setia kepada Yehuwa. Mengapa ia bisa bertekun? Paulus berkata, ”Demi sukacita yang ditaruh di hadapannya ia bertekun menanggung tiang siksaan, mengabaikan keaiban, dan duduk di sebelah kanan takhta Allah.” (Ibr. 12:2) Lalu, Paulus menganjurkan orang Kristen untuk ’memperhatikan dengan cermat’ teladan Yesus. (Baca Ibrani 12:3.) Seperti Yesus, banyak orang Kristen pada abad pertama mati karena bertekad untuk setia kepada Yehuwa. Salah satunya adalah Antipas. (Pny. 2:13) Orang-orang Kristen itu telah menerima upah mereka untuk hidup di surga. Sedangkan, hamba Allah lainnya yang hidup sebelum mereka masih menantikan kehidupan kekal di bumi. (Ibr. 11:35) Tidak lama setelah Yesus menjadi Raja pada 1914, orang Kristen terurap yang telah mati dibangkitkan untuk hidup abadi di surga, dan mereka akan memerintah atas manusia bersama Yesus.—Pny. 20:4.
TELADAN IMAN DI ZAMAN SEKARANG
13, 14. (a) Cobaan apa yang dihadapi Rudolf Graichen? (b) Mengapa ia bisa tetap setia?
13 Jutaan hamba Allah meniru Yesus. Mereka merenungkan janji Allah dan tetap setia kepada-Nya sewaktu menghadapi cobaan. Contohnya, Rudolf Graichen yang lahir di Jerman pada 1925. Sewaktu ia masih kecil, orang tuanya memasang gambar-gambar kisah Alkitab di rumah mereka. Dia bercerita, ”Ada gambar serigala dan anak domba, anak kecil bersama macan tutul, anak lembu dan singa. Semuanya rukun dan dituntun anak kecil.” (Yes. 11:6-9) Gambar-gambar itu membekas dalam ingatannya sehingga imannya akan firdaus semakin kuat. Maka, dia bisa tetap setia meski dianiaya dengan hebat selama bertahun-tahun oleh Gestapo Nazi, lalu oleh Stasi Komunis di Jerman Timur.
14 Rudolf bertekun menghadapi banyak cobaan. Ibunya meninggal akibat tifus di kamp konsentrasi Ravensbrück. Ayahnya menandatangani dokumen yang menyatakan bahwa ia bukan lagi Saksi Yehuwa. Tapi Rudolf menjaga imannya tetap kuat. Setelah bebas dari penjara, dia melayani sebagai pengawas wilayah. Lalu, ia diundang ke Sekolah Gilead dan ditugaskan ke Cile untuk melayani sebagai pengawas wilayah lagi. Di sana, ia menikah dengan Patsy, seorang utusan injil. Tapi, setahun kemudian bayi perempuan mereka meninggal. Beberapa waktu setelahnya, Patsy juga meninggal, padahal usianya baru 43. Meski menghadapi semua itu, Rudolf terus melayani Yehuwa. Sekarang, ia sudah tua dan kurang sehat. Tapi, ia masih melayani sebagai perintis biasa dan penatua. Kisah hidupnya ada di Menara Pengawal 1 Agustus 1997, halaman 20-25.[1]
15. Berikan beberapa contoh saudara-saudari yang melayani Yehuwa dengan sukacita meski dianiaya.
15 Sekarang, banyak saudara-saudari melayani Yehuwa dengan sukacita meski dianiaya dengan hebat. Ratusan saudara dipenjarakan di Eritrea, Korea Selatan, dan Singapura karena menolak untuk ”mengangkat pedang”. (Mat. 26:52) Contohnya, Isaac, Negede, dan Paulos telah dipenjarakan di Eritrea selama lebih dari 20 tahun! Di sana, mereka diperlakukan dengan kejam. Dan selama itu, mereka tidak bisa menikah atau mengurus orang tua mereka. Namun, mereka tetap setia kepada Yehuwa, dan iman mereka tetap kuat. Sekarang, para sipir penjara bahkan menghormati mereka. Foto mereka bisa dilihat di situs Web jw.org. Mereka tersenyum meski menderita.
Bagaimana iman saudara-saudari di sidang Saudara bisa tetap kuat? (Lihat paragraf 15, 16)
16. Apa manfaatnya jika iman kita kuat?
16 Kebanyakan hamba Yehuwa tidak dipenjarakan atau dianiaya dengan kejam seperti saudara-saudara tadi. Tapi, banyak yang menderita karena kemiskinan, bencana alam, atau perang. Yang lainnya meniru Abraham, Ishak, Yakub, dan Musa yang tidak mau menjadi terkenal atau kaya agar bisa berfokus melayani Yehuwa. Meski begitu, mereka tetap bahagia. Mengapa? Karena mereka mengasihi Allah dan sangat beriman kepada janji-Nya. Mereka tahu bahwa Ia akan memberi hamba-hamba-Nya yang setia kehidupan abadi di dunia baru yang bebas dari ketidakadilan.—Baca Mazmur 37:5, 7, 9, 29.
17. Bagaimana caranya agar iman Saudara tetap kuat, dan apa yang akan kita bahas di artikel berikutnya?
17 Di artikel ini, kita telah mengerti bahwa iman adalah ”penantian yang pasti akan perkara-perkara yang diharapkan”. Agar memiliki iman yang kuat, kita perlu berdoa dan merenungkan janji-janji Yehuwa. Dengan begitu, kita akan sanggup menghadapi cobaan apa pun.
-
-
Perlihatkan Iman Akan Janji YehuwaMenara Pengawal (Edisi Pelajaran)—2016 | Oktober
-
-
Perlihatkan Iman Akan Janji Yehuwa
”Iman adalah . . . bukti yang jelas dari kenyataan-kenyataan walaupun tidak kelihatan.”—IBR. 11:1.
1. Bagaimana seharusnya perasaan kita terhadap iman kita?
TIDAK semua orang memiliki iman. (2 Tes. 3:2) Tapi, semua yang menyembah Yehuwa diberi iman oleh-Nya. (Rm. 12:3; Gal. 5:22) Kita tentu sangat bersyukur!
2, 3. (a) Apa manfaatnya jika kita beriman? (b) Pertanyaan apa saja yang akan kita bahas?
2 Yehuwa memberikan Putra-Nya yang Ia kasihi agar setiap orang yang beriman kepada Yesus bisa diampuni dosanya. Dengan begitu, seseorang bisa menjadi sahabat Yehuwa dan hidup abadi. (Yoh. 6:44, 65; Rm. 6:23) Yehuwa sungguh baik kepada kita! Meski kita berdosa dan seharusnya mati, Yehuwa melihat bahwa kita sanggup melakukan hal-hal yang baik. (Mz. 103:10) Jadi, Ia membantu kita mempelajari kabar baik tentang Yesus dan korban tebusannya. Jika kita mulai beriman kepada Yesus dan mengikuti dia, kita punya harapan untuk hidup abadi!—Baca 1 Yohanes 4:9, 10.
3 Tapi, apa lagi yang bisa kita pelajari tentang iman? Jika kita hanya mengetahui apa yang Allah telah lakukan dan akan lakukan untuk kita di masa depan, apakah itu berarti kita beriman? Mari kita lihat apa lagi yang harus dilakukan.
BERIMAN DALAM HATI
4. Jika kita beriman, apa pengaruhnya atas kita?
4 Jika kita beriman kepada Yehuwa dan Yesus, kita tidak hanya mengetahui apa yang mereka telah lakukan dan akan lakukan untuk kita. Kita juga ingin sekali menerapkan apa yang mereka ajarkan. Dan, kita bersemangat untuk membantu orang lain mengenal mereka. Rasul Paulus berkata, ’Jika engkau menyatakan di depan umum, bahwa Yesus adalah Tuan, dan memperlihatkan iman dalam hatimu bahwa Allah telah membangkitkan dia dari antara orang mati, engkau akan diselamatkan. Sebab dengan hati, seseorang memperlihatkan iman yang menghasilkan keadilbenaran, tetapi dengan mulut, seseorang membuat pernyataan di hadapan umum yang menghasilkan keselamatan.’—Rm. 10:9, 10; 2 Kor. 4:13.
5. Mengapa iman sangat penting, dan apa yang perlu kita lakukan agar iman kita kuat? Berikan ilustrasi.
5 Untuk memperoleh kehidupan abadi dalam dunia baru Allah, kita harus beriman dan menjaga iman kita tetap kuat. Iman itu seperti tanaman. Kita perlu terus menyiramnya agar itu sehat dan terus bertumbuh. Jika kita tidak memberinya cukup air, tanaman itu akan layu dan mati. Begitu juga, kita perlu berupaya agar iman kita tetap ”sehat” dan terus ”bertumbuh”.—Tit. 2:2; 2 Tes. 1:3; Luk. 22:32; Ibr. 3:12.
ARTI IMAN MENURUT ALKITAB
6. Menurut Ibrani 11:1, apa arti iman?
6 Alkitab menjelaskan arti iman di Ibrani 11:1. (Baca.) (1) Iman adalah ”penantian yang pasti akan perkara-perkara yang diharapkan”. Apa yang kita harapkan mencakup janji Allah tentang masa depan. Misalnya, kita yakin bahwa kejahatan tidak akan ada lagi dan bahwa akan ada dunia baru. (2) Iman adalah ”bukti yang jelas dari kenyataan-kenyataan walaupun tidak kelihatan”. Contohnya, kita tahu bahwa Allah Yehuwa, Yesus Kristus, para malaikat, dan Kerajaan di surga memang ada, meski kita tidak bisa melihatnya. (Ibr. 11:3) Bagaimana kita menunjukkan bahwa kita memang beriman akan janji Allah dan hal-hal yang tidak bisa kita lihat? Kita menunjukkannya melalui cara hidup, perkataan, dan perbuatan kita.
7. Apa yang kita pahami tentang iman dari teladan Nuh? (Lihat gambar di awal artikel.)
7 Kita bisa belajar tentang iman dari Nuh. Rasul Paulus berkata, ”Setelah diberi peringatan ilahi tentang perkara-perkara yang belum kelihatan, Nuh memperlihatkan rasa takut yang saleh dan membangun sebuah bahtera untuk menyelamatkan rumah tangganya.” (Ibr. 11:7) Karena beriman akan firman Yehuwa, Nuh membangun bahtera yang sangat besar. Bisa jadi, orang-orang bertanya kepada Nuh mengapa ia membuat bahtera. Kita yakin bahwa Nuh tidak diam saja. Alkitab berkata bahwa Nuh adalah ”seorang pemberita keadilbenaran”. (2 Ptr. 2:5) Ia memperingatkan orang-orang bahwa Allah akan mendatangkan banjir untuk membinasakan orang jahat. Dia mungkin memberi tahu mereka persis seperti yang Allah katakan kepadanya, ”Akhir segala makhluk telah tiba di hadapanku, karena bumi penuh dengan kekerasan oleh karena mereka . . . Aku akan mendatangkan air bah ke atas bumi untuk membinasakan dari bawah langit semua makhluk yang memiliki daya kehidupan yang aktif. Segala yang ada di bumi akan mati.” Setelah itu, Nuh pasti menjelaskan apa yang harus mereka lakukan agar selamat, yaitu mereka ”harus masuk ke dalam bahtera itu”.—Kej. 6:13, 17, 18.
8. Apa yang Yakobus katakan tentang iman?
8 Yakobus juga menulis tentang iman, mungkin tidak lama setelah Paulus menyurati orang Ibrani. Yakobus berkata, ”Tunjukkanlah imanmu kepadaku tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan imanku kepadamu melalui perbuatanku.” (Yak. 2:18) Menurut Yakobus, untuk bisa beriman, percaya saja tidak cukup. Hantu-hantu percaya bahwa Allah itu ada, tapi mereka tidak beriman kepada Yehuwa. Mereka malah melawan-Nya. (Yak. 2:19, 20) Orang yang beriman akan menyenangkan Allah melalui perbuatan baik. Itulah yang Abraham lakukan. Yakobus mencatat, ”Bukankah Abraham, bapak kita, dinyatakan adil-benar melalui perbuatan setelah ia mempersembahkan Ishak, putranya, di atas mezbah? Engkau melihat bahwa imannya bekerja sama dengan perbuatannya dan karena perbuatannya, imannya disempurnakan.” Lalu, untuk menandaskan bahwa iman tanpa perbuatan tidak ada gunanya, Yakobus berkata, ”Seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian pula iman tanpa perbuatan adalah mati.”—Yak. 2:21-23, 26.
9, 10. Bagaimana caranya memperlihatkan iman akan Putra Allah?
9 Lebih dari 30 tahun kemudian, Yohanes menulis Injil dan tiga surat. Seperti para penulis Alkitab lainnya, Yohanes mengerti arti iman. Dalam tulisannya, ia sering menggunakan kata kerja Yunani yang kadang diterjemahkan ”memperlihatkan iman” dalam bahasa Indonesia.
10 Misalnya, Yohanes menjelaskan, ”Dia yang memperlihatkan iman akan Putra memiliki kehidupan abadi; dia yang tidak taat kepada Putra tidak akan melihat kehidupan, tetapi murka Allah tetap ada di atasnya.” (Yoh. 3:36) Untuk memperlihatkan bahwa kita beriman kepada Putra Allah, kita harus menaati dia. Malah dari tulisan Yohanes, kita tahu bahwa Yesus sering mengatakan bahwa untuk memperoleh kehidupan abadi, kita harus memperlihatkan iman kepada dia dan Bapaknya.—Yoh. 3:16; 6:29, 40; 11:25, 26; 14:1, 12.
11. Bagaimana caranya menunjukkan rasa syukur kita kepada Yehuwa karena kita mengenal kebenaran?
11 Kita bersyukur karena Yehuwa menggunakan roh suci untuk membantu kita memahami kebenaran tentang Dia dan Putra-Nya sehingga kita beriman kepada mereka. (Baca Lukas 10:21.) Kita juga terus bersyukur karena melalui Yesus, yang adalah ”Wakil Utama dan Penyempurna iman kita”, kita bisa bersahabat dengan-Nya. (Ibr. 12:2) Untuk menunjukkan rasa syukur kita, kita perlu memperkuat iman kita dengan selalu berdoa dan mempelajari Firman Allah.—Ef. 6:18; 1 Ptr. 2:2.
Perlihatkan iman Saudara dengan menceritakan kabar baik kapan pun (Lihat paragraf 12)
12. Jika kita beriman, apa yang akan kita lakukan?
12 Kita perlu terus menunjukkan melalui perbuatan kita bahwa kita sangat beriman akan janji Yehuwa. Misalnya, kita terus mengabar tentang Kerajaan Allah dan membantu orang menjadi murid Yesus. Kita juga terus melakukan ”apa yang baik untuk semua orang, tetapi teristimewa untuk mereka yang adalah saudara kita dalam iman”. (Gal. 6:10) Dan, kita berupaya keras untuk ’menanggalkan kepribadian lama bersama praktek-prakteknya’ karena kita tidak mau persahabatan kita dengan Yehuwa dirusak oleh apa pun juga.—Kol. 3:5, 8-10.
IMAN KEPADA ALLAH ADALAH BAGIAN DARI FONDASI KITA
13. Seberapa pentingkah ”iman kepada Allah”, dan mengapa?
13 Alkitab berkata, ”Tanpa iman, orang mustahil menyenangkan dia, karena ia yang menghampiri Allah harus percaya bahwa dia ada dan bahwa dia memberikan upah kepada orang yang dengan sungguh-sungguh mencari dia.” (Ibr. 11:6) Alkitab juga menjelaskan bahwa untuk menjadi orang Kristen, seseorang pertama-tama harus memiliki ”iman kepada Allah”. Iman adalah bagian dari ”fondasi” kita. (Ibr. 6:1) Selain iman, kita membutuhkan sifat penting lainnya agar bisa bersahabat dengan Yehuwa dan mempertahankannya.—Baca 2 Petrus 1:5-7; Yud. 20, 21.
14, 15. Apakah iman lebih penting daripada kasih? Jelaskan.
14 Para penulis Alkitab lebih sering menyebutkan iman daripada sifat lainnya. Apakah itu berarti iman adalah sifat yang paling penting?
15 Paulus membandingkan iman dengan kasih. Ia menulis, ”Jika aku mempunyai segenap iman sehingga dapat memindahkan gunung, tetapi tidak mempunyai kasih, aku bukan apa-apa.” (1 Kor. 13:2) Yesus berkata bahwa ”perintah terbesar dalam Hukum” adalah mengasihi Allah. (Mat. 22:35-40) Jika kita memiliki kasih, kita bisa memiliki berbagai sifat lain yang menyenangkan Allah. Misalnya, Alkitab mencatat bahwa kasih ”percaya segala sesuatu”. Jadi karena memiliki kasih, kita bisa percaya, atau beriman, kepada semua yang Allah katakan dalam Alkitab.—1 Kor. 13:4, 7.
16, 17. (a) Apa yang Alkitab katakan tentang iman dan kasih? (b) Sifat mana yang lebih penting, dan mengapa?
16 Iman dan kasih sangat penting, dan para penulis Alkitab sering menyebutkan dua hal itu bersama-sama. Paulus menganjurkan saudara-saudaranya untuk ”mengenakan pelindung dada iman dan kasih”. (1 Tes. 5:8) Petrus menulis tentang Yesus, ”Meskipun kamu tidak pernah melihat dia, kamu mengasihi dia. Meskipun kamu tidak melihat dia sekarang ini, kamu memperlihatkan iman akan dia.” (1 Ptr. 1:8) Yakobus bertanya kepada saudara-saudara terurapnya, ”Allah memilih orang-orang yang miskin sehubungan dengan dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan ahli waris kerajaan, yang ia janjikan kepada mereka yang mengasihinya, bukan?” (Yak. 2:5) Yohanes menulis bahwa Allah memerintahkan kita untuk ”beriman kepada nama Putranya, Yesus Kristus, dan mengasihi satu sama lain”.—1 Yoh. 3:23.
17 Tapi Paulus juga menulis, ”Akan tetapi, sekarang tinggal iman, harapan, kasih, ketiga hal ini; tetapi yang terbesar dari antaranya adalah kasih.” (1 Kor. 13:13) Di masa depan, kita tidak perlu beriman lagi akan janji Allah tentang dunia baru karena semuanya sudah terwujud. Kita akan menikmati kehidupan luar biasa yang Alkitab sebutkan. Tapi, kita perlu selalu mengasihi Allah dan sesama. Malah, kasih kita kepada mereka akan terus bertumbuh untuk selamanya.
YEHUWA MEMBERKATI IMAN KITA
18, 19. Apa hasilnya karena umat Allah beriman, dan siapa yang layak dipuji untuk itu?
18 Umat Yehuwa pada zaman sekarang beriman akan Kerajaan Allah dan mendukungnya. Mereka juga saling mengasihi. Ini bisa terjadi karena roh Allah membimbing kehidupan mereka. (Gal. 5:22, 23) Apa hasilnya? Lebih dari delapan juta saudara-saudari di seluruh dunia menikmati kedamaian dan persatuan di sidang mereka. Jelaslah, iman dan kasih adalah sifat yang sangat luar biasa.
19 Persatuan ini hanya bisa terwujud dengan bantuan Allah. Jadi, Ia layak dipuji untuk itu. (Yes. 55:13) Kita benar-benar bersyukur karena Ia memungkinkan kita ”diselamatkan melalui iman”. (Ef. 2:8) Yehuwa akan terus membantu lebih banyak orang lagi untuk beriman kepada-Nya. Dan akhirnya, seluruh bumi akan dihuni oleh orang-orang yang sempurna, adil, dan bahagia. Mereka akan memuji Yehuwa selamanya!
-