PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Apakah Ada Rahasia untuk Kebahagiaan Keluarga?
    Rahasia Kebahagiaan Keluarga
    • Full-page picture on page 4

      PASAL SATU

      Apakah Ada Rahasia untuk Kebahagiaan Keluarga?

      Picture on page 5

      1. Mengapa keluarga-keluarga yang kuat penting dalam masyarakat manusia?

      KELUARGA adalah lembaga tertua di bumi, dan memainkan peranan yang sangat penting dalam masyarakat manusia. Sepanjang sejarah, keluarga-keluarga yang kuat telah membantu terbentuknya masyarakat yang kuat. Keluarga adalah penyelenggaraan terbaik untuk membesarkan anak-anak menjadi orang dewasa yang matang.

      2-5. (a) Lukiskan keamanan yang dirasakan seorang anak dalam suatu keluarga yang bahagia. (b) Problem-problem apa yang dilaporkan terjadi di beberapa keluarga?

      2 Keluarga yang bahagia ialah tempat berlabuh yang tenteram dan aman. Bayangkan sejenak keluarga yang ideal. Pada waktu mereka makan malam, orang-tua yang penuh perhatian duduk bersama anak-anak mereka dan membicarakan peristiwa-peristiwa pada hari itu. Anak-anak berceloteh dengan gembira seraya mereka menceritakan apa yang terjadi di sekolah kepada ayah dan ibu mereka. Waktu santai yang digunakan bersama-sama menyegarkan setiap anggota keluarga untuk hari berikutnya di luar rumah.

      3 Dalam keluarga yang bahagia, seorang anak tahu bahwa ayah dan ibunya akan merawatnya jika ia jatuh sakit, barangkali secara bergantian menjaganya sepanjang malam di sisi tempat tidurnya. Ia tahu bahwa ia dapat menghampiri ibu atau ayahnya dengan problem-problem kehidupan anak muda dan mendapatkan saran serta dukungan. Ya, anak tersebut merasa aman, tidak soal betapa penuh kesulitan keadaan di dunia luar.

      4 Pada waktu anak-anak beranjak dewasa, mereka biasanya menikah dan mempunyai keluarga sendiri. ”Seseorang menyadari betapa ia berutang budi kepada orang-tuanya pada waktu ia sendiri mempunyai anak,” demikian kata sebuah pepatah Timur. Dengan perasaan syukur dan kasih yang dalam, anak-anak yang telah dewasa berupaya membuat keluarganya sendiri bahagia, dan mereka juga mengurus orang-tua mereka yang kini semakin tua, yang senang berada bersama cucu-cucu.

      5 Sampai di sini saudara mungkin berpikir: ’Ya, saya mengasihi keluarga saya, tetapi halnya tidak seperti yang baru saja dilukiskan. Saya dan pasangan hidup saya mempunyai jadwal kerja yang berbeda dan kami jarang bertemu. Kebanyakan, kami berbicara tentang masalah keuangan.’ Atau apakah saudara mengatakan, ’Anak-anak dan cucu-cucu saya tinggal di kota lain, dan saya tidak pernah dapat bertemu dengan mereka’? Ya, karena alasan-alasan yang sering kali di luar kendali orang-orang yang terlibat, banyak kehidupan keluarga yang tidak ideal. Namun, ada beberapa yang memiliki kehidupan keluarga yang berbahagia. Bagaimana? Apakah ada rahasia untuk kebahagiaan keluarga? Jawabannya, ya. Tetapi sebelum membahas apa rahasia itu, kita harus menjawab sebuah pertanyaan penting.

      APA ARTINYA KELUARGA?

      6. Keluarga-keluarga macam apa yang akan dibahas dalam buku ini?

      6 Di negeri-negeri Barat, kebanyakan keluarga terdiri atas seorang ayah, seorang ibu, dan anak-anak. Kakek dan nenek mungkin tinggal di rumah mereka sendiri selama mereka masih sanggup. Walaupun hubungan dengan sanak saudara yang lebih jauh tetap dijaga, kewajiban-kewajiban terhadap mereka terbatas. Pada dasarnya, keluarga seperti inilah yang akan kita bahas dalam buku ini. Akan tetapi, keluarga-keluarga yang lain telah menjadi semakin umum pada tahun-tahun belakangan ini—keluarga dengan orang-tua tunggal, keluarga tiri, dan keluarga yang orang-tuanya tidak tinggal bersama karena satu atau lain alasan.

      7. Apa yang dimaksud dengan keluarga besar?

      7 Yang juga umum dalam beberapa kebudayaan adalah keluarga besar. Dalam penyelenggaraan ini, jika mungkin, kakek dan nenek secara rutin diurus oleh anak-anak mereka, dan hubungan yang erat serta kewajiban-kewajiban meluas kepada kerabat jauh. Sebagai contoh, anggota-anggota keluarga mungkin membantu menyokong, membesarkan, dan bahkan membiayai pendidikan dari keponakan, atau sanak saudara yang lebih jauh. Prinsip-prinsip yang akan dibahas dalam publikasi ini berlaku juga untuk keluarga besar.

      KELUARGA DI BAWAH TEKANAN

      8, 9. Apa problem-problem di beberapa negeri yang memperlihatkan bahwa keluarga sedang berubah?

      8 Dewasa ini, keluarga sedang berubah—namun sayang sekali, bukan ke arah yang lebih baik. Sebuah contoh dapat dilihat di India, tempat seorang istri mungkin tinggal bersama keluarga suaminya dan bekerja di rumah di bawah pengarahan mertuanya. Namun, belakangan ini, sudah menjadi hal yang umum bagi istri-istri India untuk mencari pekerjaan di luar rumah. Meskipun begitu, tampaknya mereka masih diharapkan untuk memenuhi peranan tradisional mereka di rumah. Pertanyaan yang timbul di banyak negeri adalah, Dibandingkan anggota-anggota lain dalam keluarga, berapa banyak pekerjaan rumah tangga yang diharapkan untuk dilakukan oleh seorang wanita yang memiliki pekerjaan di luar?

      9 Dalam masyarakat Timur, ikatan keluarga besar yang kuat sudah merupakan tradisi. Akan tetapi, karena pengaruh individualisme gaya Barat dan tekanan problem-problem ekonomi, keluarga besar tradisional semakin lemah. Karena itu, banyak orang memandang mengurus anggota keluarga yang lanjut usia sebagai beban sebaliknya daripada sebagai kewajiban atau hak istimewa. Beberapa orang-tua yang lanjut usia diperlakukan dengan buruk. Sesungguhnya, perlakuan buruk dan diabaikannya kaum lanjut usia ditemukan di banyak negeri dewasa ini.

      10, 11. Fakta-fakta apa yang menunjukkan bahwa keluarga sedang berubah di negeri-negeri Eropa?

      10 Perceraian menjadi semakin umum. Di Spanyol, angka perceraian meningkat menjadi 1 dari antara 8 pernikahan pada awal dasawarsa terakhir dari abad ke-20—suatu lompatan besar dibandingkan 1 dari antara 100 hanya 25 tahun sebelumnya. Inggris, yang dilaporkan memiliki angka perceraian tertinggi di Eropa (4 dari antara 10 pernikahan diperkirakan gagal), mengalami lonjakan jumlah keluarga dengan orang-tua tunggal.

      11 Banyak orang di Jerman tampaknya sama sekali meninggalkan keluarga tradisional. Pada tahun 1990-an, 35 persen dari semua rumah tangga di Jerman terdiri atas satu orang dan 31 persen terdiri atas hanya dua pribadi. Orang-orang Prancis semakin jarang menikah, dan mereka yang menikah semakin sering dan semakin cepat bercerai dibandingkan sebelumnya. Semakin banyak orang lebih suka hidup bersama tanpa tanggung jawab perkawinan. Kecenderungan yang sebanding terlihat di seluas dunia.

      12. Bagaimana anak-anak menderita karena perubahan dalam keluarga modern?

      12 Bagaimana dengan anak-anak? Di Amerika Serikat dan banyak negeri lain, semakin banyak anak yang dilahirkan di luar ikatan perkawinan, beberapa oleh remaja yang masih muda. Banyak gadis remaja memiliki sejumlah anak dari ayah-ayah yang berlainan. Laporan dari seputar dunia menceritakan tentang jutaan anak yang tuna wisma berkeliaran di jalan-jalan; banyak yang melarikan diri dari rumah tempat mereka mendapat penganiayaan atau yang dibuang oleh keluarga-keluarga yang tidak mampu lagi memelihara mereka.

      13. Problem-problem yang meluas apa merampas kebahagiaan dari keluarga-keluarga?

      13 Ya, keluarga berada dalam krisis. Selain apa yang telah disebutkan, pemberontakan remaja, penganiayaan anak, kekerasan terhadap pasangan hidup, alkoholisme, dan problem-problem yang menghancurkan lainnya telah merampas kebahagiaan dari banyak keluarga. Bagi sejumlah besar anak dan orang dewasa, keluarga sama sekali bukan tempat yang aman.

      14. (a) Menurut beberapa orang, apa penyebab krisis keluarga? (b) Bagaimana seorang pengacara di abad pertama menggambarkan dunia dewasa ini, dan apa pengaruh penggenapan dari kata-katanya atas kehidupan keluarga?

      14 Apa penyebab krisis keluarga? Ada yang menyalahkan krisis keluarga sekarang ini kepada masuknya para wanita ke tempat kerja. Yang lain-lain menunjuk kepada kemerosotan moral dewasa ini. Dan penyebab-penyebab lain disebutkan. Hampir dua ribu tahun yang lalu, seorang pengacara terkenal menubuatkan banyaknya tekanan yang akan menimpa keluarga, ketika ia menulis, ”Pada hari-hari terakhir akan tiba masa kritis yang sulit dihadapi. Karena orang-orang akan menjadi pencinta diri sendiri, pencinta uang, congkak, angkuh, penghujah, tidak taat kepada orang-tua, tidak berterima kasih, tidak loyal, tidak memiliki kasih sayang alami, tidak mau bersepakat, pemfitnah, tanpa pengendalian diri, garang, tanpa kasih akan kebaikan, pengkhianat, keras kepala, besar kepala karena sombong, pencinta kesenangan sebaliknya daripada pencinta Allah.” (2 Timotius 3:1-4) Siapakah yang dapat meragukan bahwa kata-kata ini sedang digenapi dewasa ini? Dalam dunia dengan kondisi seperti ini, bukankah tidak mengherankan jika banyak keluarga mengalami krisis?

      RAHASIA KEBAHAGIAAN KELUARGA

      15-17. Dalam buku ini, wewenang apa akan ditunjuk sebagai yang memiliki rahasia kebahagiaan keluarga?

      15 Nasihat tentang cara mencapai kebahagiaan di dalam keluarga ditawarkan dari mana-mana. Di negeri-negeri Barat, buku-buku pintar dan majalah-majalah yang menawarkan nasihat terus-menerus mengalir. Masalahnya adalah bahwa para penasihat manusia bertentangan satu sama lain, dan apa yang menjadi nasihat yang cocok hari ini mungkin dianggap tidak jitu lagi besok.

      16 Jadi, di mana kita bisa mencari tuntunan yang dapat diandalkan untuk masalah keluarga? Nah, maukah saudara berpaling kepada sebuah buku yang selesai ditulis sekitar 1.900 tahun yang lalu? Atau apakah saudara akan merasa bahwa buku seperti ini pasti sudah sangat ketinggalan zaman? Kebenarannya adalah, rahasia kebahagiaan keluarga yang sesungguhnya hanya dapat ditemukan dalam sumber demikian.

      17 Sumber tersebut adalah Alkitab. Berdasarkan semua bukti yang ada, Alkitab diilhamkan oleh Allah sendiri. Di dalam Alkitab kita menemukan pernyataan berikut, ”Segenap Tulisan Kudus diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menegur, untuk meluruskan perkara-perkara, untuk mendisiplin dalam keadilbenaran.” (2 Timotius 3:16) Dalam publikasi ini, kami akan menganjurkan saudara untuk mempertimbangkan bagaimana Alkitab dapat membantu saudara ”meluruskan perkara-perkara” pada waktu menangani tekanan dan problem yang dihadapi keluarga-keluarga dewasa ini.

      18. Mengapa masuk akal untuk menerima Alkitab sebagai wewenang dalam memberikan nasihat perkawinan?

      18 Apabila saudara cenderung mengabaikan kemungkinan bahwa Alkitab dapat membantu membuat keluarga-keluarga berbahagia, pertimbangkanlah hal ini: Pribadi yang mengilhamkan Alkitab adalah Pemula dari penyelenggaraan perkawinan. (Kejadian 2:18-25) Alkitab mengatakan bahwa nama-Nya adalah Yehuwa. (Mazmur 83:19) Ia adalah Pencipta dan ’Bapak, yang kepadanya setiap keluarga berutang nama’. (Efesus 3:14, 15) Yehuwa telah mengamati kehidupan keluarga sejak awal mula umat manusia. Ia mengetahui problem-problem yang dapat timbul dan telah memberikan nasihat untuk mengatasinya. Sepanjang sejarah, orang-orang yang dengan tulus menerapkan prinsip-prinsip Alkitab dalam kehidupan keluarga mereka menemukan kebahagiaan yang lebih besar.

      19-21. Pengalaman-pengalaman zaman modern mana yang memperlihatkan kuasa Alkitab untuk memecahkan problem-problem perkawinan?

      19 Sebagai contoh, ada seorang ibu rumah tangga di Indonesia yang gila judi. Selama bertahun-tahun ia menyia-nyiakan ketiga anaknya dan dari waktu ke waktu bertengkar dengan suaminya. Kemudian ia mulai belajar Alkitab. Lama-kelamaan wanita ini mempercayai apa yang Alkitab katakan. Pada waktu ia menerapkan nasihatnya, ia menjadi istri yang lebih baik. Upayanya, yang didasarkan atas prinsip-prinsip Alkitab, mendatangkan kebahagiaan kepada seluruh keluarganya.

      20 Seorang ibu rumah tangga di Spanyol mengatakan, ”Kami baru menikah satu tahun ketika kami mulai memiliki problem-problem yang serius.” Ia dan suaminya tidak mempunyai banyak persamaan, dan mereka jarang berbicara kecuali ketika mereka sedang bertengkar. Walaupun mempunyai seorang anak perempuan yang masih kecil, mereka memutuskan untuk secara resmi berpisah. Namun sebelum itu terjadi, mereka dianjurkan untuk memeriksa Alkitab. Mereka mempelajari nasihatnya bagi pria dan wanita yang sudah menikah dan mulai menerapkannya. Tidak lama kemudian, mereka dapat berkomunikasi dengan damai, dan keluarga kecil mereka dipersatukan dengan bahagia.

      21 Alkitab juga membantu orang-orang yang sudah lebih berumur. Sebagai contoh, perhatikan pengalaman sepasang suami-istri Jepang. Sang suami mudah marah dan kadang-kadang bengis. Pada mulanya, anak-anak perempuan dari pasangan ini mulai mempelajari Alkitab, walaupun ditentang oleh orang-tua mereka. Kemudian, sang suami bergabung dengan anak-anak perempuannya, tetapi sang istri tetap tidak setuju. Akan tetapi, setelah tahun-tahun berlalu, ia memperhatikan adanya pengaruh baik dari prinsip-prinsip Alkitab atas keluarganya. Anak-anak perempuannya mengurus dia dengan baik, dan suaminya menjadi jauh lebih lembut. Perubahan-perubahan tersebut menggerakkan wanita ini untuk memeriksa sendiri Alkitab, dan ini mendatangkan pengaruh baik yang sama atas dirinya. Wanita berumur ini berkali-kali mengatakan, ”Kami menjadi pasangan suami-istri yang sebenarnya.”

      22, 23. Bagaimana Alkitab membantu orang-orang dari segala latar belakang kebangsaan untuk menemukan kebahagiaan dalam kehidupan keluarga mereka?

      22 Orang-orang ini ada di antara banyak sekali orang yang telah mempelajari rahasia kebahagiaan keluarga. Mereka menerima nasihat Alkitab dan menerapkannya. Memang, mereka tinggal di dunia yang keras, amoral, dan penuh tekanan ekonomi yang sama seperti halnya orang-orang lain. Selain itu mereka juga tidak sempurna, tetapi mereka menemukan kebahagiaan dengan mencoba untuk melakukan kehendak dari Pemula penyelenggaraan keluarga. Sebagaimana dikatakan Alkitab, Allah Yehuwa adalah ”yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh”.—Yesaya 48:17.

      23 Meskipun Alkitab selesai ditulis hampir dua ribu tahun yang lalu, nasihatnya benar-benar up-to-date. Selain itu, Alkitab ditulis untuk semua orang. Alkitab bukan buku orang Amerika atau orang Barat. Yehuwa ”menjadikan dari satu pria setiap bangsa manusia” dan Ia mengetahui bagaimana dibentuknya manusia di mana pun. (Kisah 17:26) Prinsip-prinsip Alkitab jitu untuk setiap orang. Jika saudara menerapkannya, saudara juga akan mengetahui rahasia kebahagiaan keluarga.

      DAPATKAH SAUDARA MENJAWAB PERTANYAAN-PERTANYAAN INI?

      Apa yang terjadi atas keluarga dewasa ini?—2 Timotius 3:1-4.

      Siapa yang memulai penyelenggaraan keluarga?—Efesus 3:14, 15.

      Apa rahasia kebahagiaan keluarga?—Yesaya 48:17.

  • Mempersiapkan Perkawinan yang Sukses
    Rahasia Kebahagiaan Keluarga
    • PASAL DUA

      Mempersiapkan Perkawinan yang Sukses

      Picture on page 13

      1, 2. (a) Bagaimana Yesus menekankan pentingnya perencanaan? (b) Dalam bidang apa perencanaan khususnya penting?

      MEMBANGUN sebuah bangunan menuntut persiapan yang saksama. Sebelum fondasi diletakkan, tanah harus diperoleh dan denah harus digambar. Akan tetapi, ada hal lain yang sangat penting. Yesus mengatakan, ”Siapa di antara kamu yang mau membangun sebuah menara tidak duduk dahulu dan menghitung biaya, untuk melihat jika ia mempunyai cukup untuk menyelesaikannya?”—Lukas 14:28.

      2 Apa yang penting dalam membangun sebuah bangunan juga berlaku dalam membangun perkawinan yang sukses. Banyak yang mengatakan, ”Saya ingin menikah.” Tetapi berapa banyak yang berhenti sejenak untuk mempertimbangkan biayanya? Meskipun Alkitab mengatakan yang baik tentang perkawinan, Alkitab juga menarik perhatian kepada tantangan-tantangan yang dihadirkan oleh perkawinan. (Amsal 18:22; 1 Korintus 7:28) Karena itu, mereka yang mempertimbangkan untuk menikah perlu memiliki pandangan yang realistis tentang berkat maupun risiko dari hidup berumah tangga.

      3. Mengapa Alkitab merupakan bantuan yang berharga bagi mereka yang merencanakan perkawinan, dan tiga pertanyaan apa yang akan membantu kita untuk menjawab?

      3 Alkitab dapat membantu. Nasihat-nasihatnya diilhamkan oleh Pemula perkawinan, Allah Yehuwa. (Efesus 3:14, 15; 2 Timotius 3:16) Dengan menggunakan prinsip-prinsip yang terdapat dalam buku penuntun yang sudah tua namun sangat up-to-date ini, mari kita putuskan (1) Bagaimana seseorang dapat menentukan apakah ia telah siap menikah? (2) Apa yang hendaknya dicari dalam diri seorang teman hidup? dan (3) Bagaimana masa berpacaran dapat dijaga tetap terhormat?

      APAKAH SAUDARA SIAP MENIKAH?

      4. Apa faktor yang sangat penting untuk memelihara perkawinan yang sukses dan mengapa?

      4 Membangun sebuah gedung bisa jadi mahal biayanya, tetapi mengurus pemeliharaan jangka panjangnya juga tidak murah. Serupa halnya dengan perkawinan. Memasuki perkawinan tampaknya cukup menantang; akan tetapi, memelihara hubungan perkawinan dari tahun ke tahun juga harus dipertimbangkan. Apa yang tercakup dalam memelihara hubungan demikian? Suatu faktor yang sangat penting adalah komitmen yang sepenuh hati. Beginilah Alkitab melukiskan hubungan perkawinan: ”Seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kejadian 2:24) Yesus Kristus memberikan satu-satunya dasar Alkitab untuk bercerai dengan kemungkinan untuk menikah lagi—”percabulan”, yaitu, hubungan seks yang tidak sah di luar perkawinan. (Matius 19:9) Jika saudara bermaksud menikah, ingatlah standar Alkitab ini. Jika saudara belum siap membuat komitmen yang serius ini, maka saudara belum siap menikah.—Ulangan 23:21; Pengkhotbah 5:4, 5.

      5. Walaupun komitmen yang serius ditakuti oleh beberapa orang, mengapa hal ini hendaknya sangat dihargai oleh mereka yang berniat menikah?

      5 Gagasan tentang komitmen yang serius ini menakutkan banyak orang. ”Menyadari bahwa kami berdua terikat seumur hidup membuat saya merasa dibatasi, terkurung, sepenuhnya dipenjara,” demikian pengakuan seorang pemuda. Tetapi jika saudara benar-benar mencintai orang yang ingin saudara nikahi, komitmen tidak akan tampak seperti beban. Sebaliknya, itu akan dipandang sebagai suatu sumber keamanan. Makna dari komitmen yang tercakup dalam perkawinan akan membuat suatu pasangan ingin terus tinggal bersama melalui masa susah dan senang dan saling mendukung apa pun yang terjadi. Rasul Kristen, Paulus, menulis bahwa kasih sejati ”menahan segala sesuatu” dan ”bertekun menahan segala sesuatu”. (1 Korintus 13:4, 7) ”Komitmen perkawinan membuat saya merasa lebih aman,” kata seorang wanita. ”Saya menyukai kenyamanan dari mengakui kepada diri kami sendiri dan kepada dunia bahwa kami bermaksud untuk tetap bersatu.”—Pengkhotbah 4:9-12.

      6. Mengapa yang terbaik adalah untuk tidak terburu-buru menikah pada usia yang masih muda?

      6 Hidup selaras dengan komitmen seperti itu membutuhkan kedewasaan. Karena itu, Paulus menasihatkan bahwa orang-orang Kristen lebih baik tidak menikah sampai mereka ”melewati mekarnya masa remaja”, periode ketika perasaan-perasaan seksual mendominasi dan dapat menyimpangkan penilaian seseorang. (1 Korintus 7:36) Kaum muda berubah dengan sangat cepat seraya mereka bertambah dewasa. Banyak yang menikah pada usia yang sangat muda mendapati bahwa dalam waktu beberapa tahun saja kebutuhan dan keinginan mereka, dan juga dari teman hidup mereka, telah berubah. Statistik menyingkapkan bahwa remaja yang menikah jauh lebih besar kemungkinannya untuk tidak bahagia dan mengupayakan perceraian dibandingkan mereka yang menunggu sampai lebih dewasa. Jadi jangan terburu-buru menikah. Beberapa tahun yang dilewatkan dengan hidup sebagai seorang dewasa yang masih muda dan lajang dapat memberi saudara pengalaman berharga yang akan membuat saudara lebih matang dan lebih memenuhi syarat untuk menjadi teman hidup yang cocok. Menunda pernikahan juga dapat membantu saudara lebih memahami diri sendiri—sesuatu yang diperlukan jika saudara ingin membina hubungan yang sukses dalam perkawinan saudara.

      KENALI DIRI SENDIRI TERLEBIH DAHULU

      7. Mengapa hendaknya mereka yang merencanakan untuk menikah memeriksa diri mereka sendiri terlebih dahulu?

      7 Apakah mudah bagi saudara untuk membuat daftar sifat-sifat yang saudara inginkan dari seorang teman hidup? Bagi kebanyakan orang itu adalah hal yang mudah. Tetapi, bagaimana dengan sifat-sifat saudara sendiri? Sifat-sifat apa yang saudara miliki yang akan membantu saudara menyumbang kepada perkawinan yang sukses? Saudara akan menjadi suami atau istri yang bagaimana? Sebagai contoh, apakah saudara mudah mengakui kesalahan dan menerima saran, atau apakah saudara selalu membela diri apabila dikoreksi? Apakah saudara biasanya ceria dan optimis, atau apakah saudara cenderung murung, dan sering mengeluh? (Amsal 8:33; 15:15) Ingatlah, perkawinan tidak akan mengubah kepribadian saudara. Apabila saudara sombong, terlalu sensitif, atau terlalu pesimis semasa lajang, saudara juga akan seperti itu apabila menikah. Karena sulit untuk melihat diri sendiri sebagaimana orang lain melihat kita, mengapa tidak meminta orang-tua atau seorang sahabat yang dipercaya untuk memberikan komentar yang terus terang dan saran-saran? Jika saudara mengetahui perubahan-perubahan yang dapat dibuat, upayakanlah hal-hal ini sebelum mengambil langkah untuk menikah.

      Pictures on page 19

      Selagi lajang, perkembangkanlah sifat, kebiasaan, dan kesanggupan yang akan berguna bagi saudara dalam perkawinan

      8-10. Nasihat apa yang Alkitab berikan yang akan membantu seseorang mempersiapkan diri untuk perkawinan?

      8 Alkitab menganjurkan kita untuk membiarkan roh kudus Allah bekerja dalam diri kita, menghasilkan sifat-sifat seperti ”kasih, sukacita, kedamaian, panjang sabar, kebaikan hati, kebaikan, iman, kelemahlembutan, pengendalian diri”. Alkitab juga memberi tahu kita untuk ”dijadikan baru dalam kekuatan yang menggerakkan pikiran [kita]”, dan ”mengenakan kepribadian baru yang diciptakan menurut kehendak Allah dalam keadilbenaran yang benar dan loyalitas”. (Galatia 5:22, 23; Efesus 4:23, 24) Menerapkan nasihat ini sewaktu saudara masih lajang akan seperti menabung uang di bank—sesuatu yang akan terbukti sangat berharga di masa depan, pada waktu saudara menikah.

      9 Sebagai contoh, jika saudara seorang wanita, belajarlah untuk lebih menaruh perhatian kepada ”pribadi tersembunyi yang ada dalam hati” daripada penampilan fisik saudara. (1 Petrus 3:3, 4) Kesahajaan dan pikiran yang sehat akan membantu saudara memperoleh hikmat, ”mahkota keindahan” yang sejati. (Amsal 4:9, NW; 31:10, 30; 1 Timotius 2:9, 10) Jika saudara seorang pria, belajarlah untuk memperlakukan wanita dengan cara yang ramah dan penuh respek. (1 Timotius 5:1, 2) Seraya belajar membuat keputusan dan memikul tanggung jawab, belajarlah juga untuk bersahaja dan rendah hati. Sikap suka menguasai akan menimbulkan masalah dalam perkawinan.—Amsal 29:23; Mikha 6:8; Efesus 5:28, 29.

      10 Walaupun mengubah pikiran dalam bidang-bidang ini tidak mudah, itu adalah sesuatu yang harus diupayakan oleh semua orang Kristen. Dan itu akan membantu saudara menjadi teman hidup yang lebih baik.

      APA YANG DICARI DALAM DIRI TEMAN HIDUP

      11, 12. Bagaimana dua orang dapat mengetahui apakah mereka cocok atau tidak?

      11 Apakah merupakan kebiasaan di tempat saudara tinggal bahwa seseorang memilih sendiri suami atau istrinya? Jika demikian, apa yang hendaknya saudara lakukan selanjutnya jika saudara tertarik kepada seseorang dari lawan jenis? Pertama-tama, bertanyalah kepada diri sendiri, ’Apakah saya benar-benar berniat untuk menikah?’ Adalah kejam untuk mempermainkan emosi orang lain dengan membangkitkan harapan-harapan palsu. (Amsal 13:12) Kemudian, bertanyalah kepada diri sendiri, ’Apakah saya sudah sanggup menikah?’ Jika jawaban dari kedua pertanyaan itu adalah ya, langkah yang saudara ambil selanjutnya akan berbeda-beda, bergantung pada kebiasaan setempat. Di beberapa negeri, setelah mengamati seseorang untuk beberapa waktu, saudara dapat mendekatinya dan menyatakan keinginan untuk lebih mengenal dia. Apabila tanggapannya negatif, jangan memaksa sampai akhirnya menimbulkan perasaan tidak senang. Ingatlah, orang lain juga berhak untuk membuat keputusan mengenai hal ini. Akan tetapi, apabila tanggapannya positif, saudara dapat mengatur untuk menggunakan waktu bersama-sama melakukan kegiatan yang sehat. Ini akan memberi saudara kesempatan untuk melihat apakah menikah dengan orang ini merupakan hal yang bijaksana.a Apa yang hendaknya saudara perhatikan pada tahap ini?

      12 Untuk menjawab pertanyaan itu, bayangkan dua alat musik, mungkin piano dan gitar. Jika alat-alat ini disetem dengan benar, masing-masing dapat menghasilkan musik tunggal yang indah. Namun, apa yang terjadi jika alat-alat ini dimainkan bersama-sama? Kini mereka harus disetem supaya bersesuaian satu dengan yang lain. Halnya serupa dengan saudara dan calon teman hidup saudara. Masing-masing di antara saudara mungkin telah bekerja keras untuk ”menyetem” sifat-sifat kepribadian saudara sebagai pribadi. Tetapi pertanyaannya sekarang adalah: Apakah saudara bersesuaian satu dengan yang lain? Dengan kata lain, apakah saudara memiliki kecocokan?

      13. Mengapa sangat tidak bijaksana untuk berpacaran dengan seseorang yang tidak memiliki iman yang sama?

      13 Penting agar saudara berdua memiliki kepercayaan dan prinsip yang sama. Rasul Paulus menulis, ”Jangan memikul kuk secara tidak seimbang bersama orang-orang yang tidak percaya.” (2 Korintus 6:14; 1 Korintus 7:39) Menikah dengan seseorang yang tidak memiliki iman yang sama kepada Allah lebih besar kemungkinannya untuk mengalami ketidakharmonisan yang parah. Sebaliknya, bersama-sama mengabdi kepada Allah Yehuwa adalah dasar yang paling kuat untuk persatuan. Yehuwa ingin saudara berbahagia dan menikmati ikatan paling erat yang mungkin, dengan orang yang saudara nikahi. Ia ingin saudara terikat kepada-Nya dan kepada satu sama lain dengan tiga lembar ikatan kasih.—Pengkhotbah 4:12.

      14, 15. Apakah memiliki iman yang sama merupakan satu-satunya aspek dari persatuan dalam perkawinan? Jelaskan.

      14 Meskipun beribadat kepada Allah bersama-sama adalah aspek yang paling penting dari persatuan, ada lagi yang tercakup. Agar ada persesuaian satu dengan yang lain, saudara dan calon teman hidup saudara harus memiliki tujuan-tujuan yang serupa. Apa yang menjadi tujuan-tujuan saudara? Sebagai contoh, bagaimana perasaan saudara berdua tentang mempunyai anak? Hal-hal apa saja yang mendapat tempat pertama dalam kehidupan saudara?b (Matius 6:33) Dalam perkawinan yang benar-benar sukses, pasangan tersebut saling bersahabat dan menikmati kebersamaan mereka. (Amsal 17:17) Untuk hal ini, mereka perlu mempunyai minat yang sama. Akan sulit untuk memelihara persahabatan yang erat—terlebih lagi perkawinan—jika mereka kurang memiliki minat yang sama. Namun, apabila calon teman hidup saudara menyukai suatu kegiatan khusus, misalnya naik gunung, dan saudara tidak menyukainya, apakah itu berarti saudara berdua jangan menikah? Bukan begitu. Mungkin saudara mempunyai minat yang sama dalam hal lain, yang lebih penting. Lagi pula, saudara dapat memberikan kebahagiaan kepada calon teman hidup saudara dengan bersama-sama melakukan kegiatan yang sehat karena dia menyukainya.—Kisah 20:35.

      15 Sesungguhnya, sampai kepada tingkat yang tinggi, kecocokan ditentukan oleh seberapa baik saudara berdua dapat menyesuaikan diri sebaliknya daripada seberapa mirip saudara berdua. Sebaliknya daripada bertanya, ”Apakah kami bersepakat akan segala sesuatu?” pertanyaan yang lebih baik mungkin adalah: ”Apa yang terjadi jika kami tidak bersepakat? Dapatkah kami membahas persoalan-persoalan secara tenang, dengan saling memperlihatkan respek dan martabat? Atau apakah pembicaraan sering kali memburuk hingga menjadi pertengkaran yang sengit?” (Efesus 4:29, 31) Jika saudara ingin menikah, berhati-hatilah terhadap orang yang sombong dan tidak mau mengalah, tidak pernah bersedia berkompromi, atau yang terus-menerus menuntut dan bersiasat agar keinginannya diikuti.

      CARI TAHU SEBELUMNYA

      16, 17. Apa yang dapat dicari oleh seorang pria atau wanita pada waktu mempertimbangkan seorang calon teman hidup?

      16 Dalam sidang Kristen, mereka yang dipercayakan dengan tanggung jawab harus ”mula-mula diuji kelayakannya”. (1 Timotius 3:10) Saudara juga dapat menggunakan prinsip ini. Sebagai contoh, seorang wanita dapat bertanya, ”Reputasi macam apa yang dimiliki oleh pria ini? Siapa sahabat-sahabatnya? Apakah ia mempertunjukkan pengendalian diri? Bagaimana ia memperlakukan orang yang lanjut usia? Bagaimana latar belakang keluarganya? Bagaimana ia dan keluarganya memperlakukan satu sama lain? Bagaimana sikapnya terhadap uang? Apakah ia menyalahgunakan minuman beralkohol? Apakah ia mudah marah, bahkan menggunakan kekerasan? Tanggung jawab sidang apa yang ia miliki, dan bagaimana ia menjalankannya? Apakah saya dapat menaruh respek yang dalam kepadanya?”—Imamat 19:32; Amsal 22:29; 31:23; Efesus 5:3-5, 33; 1 Timotius 5:8; 6:10; Titus 2:6, 7.

      17 Seorang pria dapat bertanya, ”Apakah wanita ini mempertunjukkan kasih dan respek kepada Allah? Apakah ia cakap mengurus rumah tangga? Apa yang diharapkan oleh keluarganya dari kami? Apakah ia bijak, rajin, hemat? Apa yang sering ia bicarakan? Apakah ia menaruh perhatian yang tulus terhadap kesejahteraan orang lain, atau apakah ia egosentris, suka mencampuri urusan orang lain? Apakah ia dapat dipercaya? Apakah ia rela tunduk kepada kekepalaan, atau apakah ia keras kepala, bahkan mungkin suka memberontak?”—Amsal 31:10-31; Lukas 6:45; Efesus 5:22, 23; 1 Timotius 5:13; 1 Petrus 4:15.

      18. Apabila kelemahan-kelemahan sepele terlihat selama masa berpacaran, apa yang harus diingat?

      18 Jangan lupa bahwa saudara berurusan dengan seorang keturunan Adam yang tidak sempurna, bukan tokoh yang dibuat ideal dalam sebuah novel roman. Setiap orang memiliki kelemahan, dan beberapa dari antaranya kelak harus diabaikan—kelemahan saudara maupun calon teman hidup saudara. (Roma 3:23; Yakobus 3:2) Selanjutnya, suatu kelemahan yang terlihat dapat memberikan kesempatan untuk diperbaiki. Sebagai contoh, misalnya saudara bertengkar pada masa berpacaran. Pikirkanlah: Bahkan orang-orang yang mengasihi dan merespek satu sama lain kadang-kadang tidak bersepakat. (Bandingkan Kejadian 30:2; Kisah 15:39.) Mungkinkah yang saudara berdua butuhkan hanyalah sedikit lebih ”mengendalikan diri” dan belajar caranya menyelesaikan masalah dengan lebih suka damai? (Amsal 25:28) Apakah calon teman hidup saudara memperlihatkan keinginan untuk memperbaiki diri? Bagaimana saudara sendiri? Dapatkah saudara belajar untuk tidak terlalu sensitif, tidak terlalu mudah tersinggung? (Pengkhotbah 7:9) Belajar menyelesaikan problem dapat membubuh pola untuk berkomunikasi dengan jujur yang adalah penting jika saudara berdua akhirnya menikah.—Kolose 3:13.

      19. Apa yang akan merupakan tindakan bijaksana untuk diambil apabila problem-problem yang serius muncul selama masa berpacaran?

      19 Namun, bagaimana jika saudara memperhatikan hal-hal yang sangat mengganggu pikiran saudara? Keraguan demikian harus dipertimbangkan dengan saksama. Seberapa romantisnya perasaan saudara atau seberapa besar keinginan saudara untuk menikah, jangan menutup mata terhadap kesalahan-kesalahan yang serius. (Amsal 22:3; Pengkhotbah 2:14) Jika saudara memiliki hubungan dengan seseorang yang terhadapnya saudara memiliki keberatan khusus, adalah bijaksana untuk tidak meneruskan hubungan dan tidak membuat komitmen yang abadi dengan orang tersebut.

      JAGALAH MASA BERPACARAN SAUDARA TETAP TERHORMAT

      20. Bagaimana pasangan yang masih berpacaran menjaga tingkah laku moral mereka tetap tidak tercela?

      20 Bagaimana saudara dapat menjaga masa berpacaran saudara tetap terhormat? Pertama-tama, pastikan bahwa tingkah laku moral saudara tidak tercela. Di tempat saudara tinggal, apakah berpegangan tangan, berciuman, atau berpelukan dianggap perilaku yang patut bagi pasangan yang belum menikah? Sekalipun pernyataan-pernyataan kasih sayang demikian bukanlah hal yang tidak disetujui, ini hanya diperbolehkan pada waktu hubungan telah mencapai tahap ketika pernikahan sudah direncanakan dengan pasti. Berhati-hatilah agar pertunjukan kasih sayang itu tidak meningkat menjadi tingkah laku yang tidak bersih atau bahkan percabulan. (Efesus 4:18, 19; bandingkan Kidung Agung 1:2; 2:6; 8:5, 9, 10.) Karena hati itu licik, saudara berdua bertindak bijaksana dengan tidak berduaan saja di sebuah rumah, apartemen, mobil yang diparkir, atau di mana pun yang akan memberikan kesempatan bagi tingkah laku yang salah. (Yeremia 17:9) Menjaga masa berpacaran saudara tetap bersih secara moral memberikan bukti yang jelas bahwa saudara memiliki pengendalian diri dan bahwa saudara menaruh perhatian yang tidak mementingkan diri terhadap kesejahteraan orang lain di atas keinginan saudara sendiri. Yang paling penting, masa berpacaran yang bersih akan menyenangkan Allah Yehuwa, yang memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menjauhkan diri dari kenajisan dan percabulan.—Galatia 5:19-21.

      21. Komunikasi yang jujur apa mungkin dibutuhkan agar dapat menjaga masa berpacaran tetap terhormat?

      21 Kedua, masa berpacaran yang terhormat juga mencakup komunikasi yang jujur. Seraya masa berpacaran saudara maju ke arah pernikahan, persoalan-persoalan tertentu perlu dibahas secara terbuka. Di mana saudara akan tinggal? Apakah saudara berdua akan bekerja duniawi? Apakah saudara ingin memiliki anak-anak? Selain itu, sudah selayaknya untuk menyingkapkan hal-hal, mungkin yang terjadi di masa lampau, yang dapat mempengaruhi perkawinan. Ini dapat termasuk utang-utang yang besar atau tanggungan atau masalah kesehatan, seperti penyakit atau kondisi serius apa pun yang mungkin saudara miliki. Karena banyak orang yang terjangkit HIV (virus yang menyebabkan AIDS) tidak memperlihatkan gejala-gejala langsung, tidaklah salah jika seseorang atau orang-tua yang penuh perhatian meminta tes darah untuk AIDS dari seseorang yang dahulu terlibat dalam promiskuitas seksual atau menggunakan obat bius melalui pembuluh darah. Jika tes tersebut ternyata positif, orang yang memiliki penyakit itu tidak boleh menekan kekasihnya untuk meneruskan hubungan apabila dia ingin memutuskannya. Sesungguhnya, siapa pun yang pernah terlibat dalam gaya hidup yang berisiko tinggi sebaiknya dengan rela mengadakan tes darah untuk AIDS sebelum mulai berpacaran.

      MELIHAT DI BALIK HARI PERNIKAHAN

      22, 23. (a) Bagaimana seseorang dapat kehilangan keseimbangan pada waktu mempersiapkan hari pernikahan? (b) Pandangan yang seimbang apa perlu dijaga ketika memikirkan tentang hari pernikahan dan perkawinan?

      22 Selama bulan-bulan terakhir sebelum pernikahan, saudara berdua pasti akan sangat sibuk mengatur hari pernikahan. Saudara dapat mengurangi banyak ketegangan dengan bersikap bersahaja. Pesta pernikahan yang berlebihan mungkin menyenangkan bagi sanak saudara dan masyarakat, tetapi ini dapat membuat sang pengantin baru dan keluarga mereka kelelahan secara fisik dan terkuras secara keuangan. Masuk akal jika ingin mengikuti beberapa kebiasaan setempat, tetapi sekadar ikut-ikutan dan mungkin bersaing dapat mengaburkan makna peristiwa itu sendiri dan dapat merampas sukacita yang seharusnya saudara alami. Meskipun perasaan orang lain juga harus dipertimbangkan, mempelai pria adalah yang terutama bertanggung jawab untuk menentukan apa yang akan berlangsung selama pesta pernikahan.—Yohanes 2:9.

      23 Ingatlah bahwa hari pernikahan saudara hanya berlangsung satu hari, tetapi perkawinan saudara berlangsung seumur hidup. Jangan terlalu memusatkan perhatian kepada hari pernikahan. Sebaliknya, berpalinglah kepada Allah Yehuwa untuk mendapatkan bimbingan, dan buatlah perencanaan di muka untuk kehidupan berumah tangga. Dengan demikian saudara telah mempersiapkan dengan baik perkawinan yang sukses.

      a Ini berlaku di negeri-negeri yang soal berkencan dianggap sebagai hal yang patut bagi orang Kristen.

      b Di sidang Kristen sekalipun, mungkin ada beberapa orang yang seolah-olah hidup di pinggir jurang. Sebaliknya daripada menjadi pelayan Allah yang sepenuh hati, mereka mungkin dipengaruhi oleh sikap dan tingkah laku dunia.—Yohanes 17:16; Yakobus 4:4.

      BAGAIMANA PRINSIP-PRINSIP ALKITAB INI MEMBANTU . . . SESEORANG UNTUK MEMPERSIAPKAN PERKAWINAN YANG SUKSES?

      Suami dan istri harus terikat satu sama lain.—Kejadian 2:24.

      Manusia batiniah lebih penting daripada penampilan luar.—1 Petrus 3:3, 4.

      ”Jangan memikul kuk secara tidak seimbang”.—2 Korintus 6:14.

      Orang-orang yang tidak bersih secara moral terasing dari Allah.—Efesus 4:18, 19.

      KEBIASAAN-KEBIASAAN DAN ALKITAB

      Maskawin: Di beberapa negeri, keluarga pengantin pria diharapkan untuk memberikan uang kepada keluarga pengantin wanita. Jika demikian, keluarga pengantin wanita hendaknya tidak dengan tamak menetapkan harga yang lebih tinggi daripada yang masuk akal. (Amsal 20:21; 1 Korintus 6:10) Selanjutnya, kebiasaan ini hendaknya jangan pernah ditafsirkan sebagai pernyataan tidak langsung bahwa istri hanyalah harta milik yang dibeli; atau suami hendaknya jangan merasa bahwa satu-satunya tanggung jawab dia terhadap istri dan keluarga istrinya adalah tanggung jawab keuangan.

      Poligami: Beberapa kebudayaan memperbolehkan seorang pria untuk mengambil lebih dari satu istri. Dalam lingkungan demikian, pria tersebut mungkin menjadi tuan besar sebaliknya daripada suami atau ayah. Lagi pula, perkawinan poligami sering kali menimbulkan persaingan di antara para istri. Bagi orang Kristen, Alkitab hanya memperbolehkan satu teman hidup atau monogami. (1 Korintus 7:2) Poligami tidak diizinkan.

      Kawin percobaan: Banyak pasangan menyatakan bahwa hidup bersama sebelum menikah akan membantu mereka menguji kecocokan mereka. Namun, kawin percobaan tidak menguji salah satu dari elemen-elemen yang paling penting dari perkawinan—komitmen. Tidak ada penyelenggaraan lain selain perkawinan yang menawarkan perlindungan dan keamanan yang sama besar bagi kedua belah pihak—termasuk anak-anak yang mungkin dihasilkan dari persatuan itu. Yang lebih penting lagi, perkawinan adalah satu-satunya penyelenggaraan untuk hidup bersama yang dianggap sah oleh sang Pencipta, Allah Yehuwa. Di mata-Nya, hidup bersama tanpa manfaat pernikahan adalah percabulan.—1 Korintus 6:18; Ibrani 13:4.

  • Dua Kunci untuk Perkawinan yang Langgeng
    Rahasia Kebahagiaan Keluarga
    • PASAL TIGA

      Dua Kunci untuk Perkawinan yang Langgeng

      1, 2. (a) Perkawinan dirancang untuk berlangsung sampai berapa lama? (b) Bagaimana hal ini mungkin?

      PADA waktu Allah mempersatukan pria dan wanita yang pertama dalam perkawinan, tidak ada petunjuk bahwa persatuan itu hanya akan berlangsung sementara. Adam dan Hawa akan terus bersama-sama seumur hidup. (Kejadian 2:24) Standar Allah untuk perkawinan yang terhormat adalah dipersatukannya seorang pria dan seorang wanita. Hanya perbuatan seksual yang amoral di salah satu pihak atau keduanya yang menyediakan dasar Alkitab untuk bercerai dengan kemungkinan menikah kembali.—Matius 5:32.

      2 Mungkinkah dua pribadi hidup bersama dengan berbahagia untuk waktu yang tidak terbatas panjangnya? Ya, dan Alkitab menunjukkan dua faktor, atau kunci yang sangat penting, yang membantu hal ini dapat terwujud. Jika suami maupun istri menggunakan kunci-kunci ini, mereka akan membuka pintu kepada kebahagiaan dan banyak berkat. Apa kunci-kunci ini?

      KUNCI PERTAMA

      Picture on page 28

      Kasih dan respek akan satu sama lain menuntun kepada suksesnya perkawinan

      3. Tiga jenis kasih apa yang hendaknya diperkembangkan oleh suami dan istri?

      3 Kunci pertama adalah kasih. Menarik, ada beberapa jenis kasih yang ditunjukkan dalam Alkitab. Yang pertama adalah kasih sayang yang bersifat pribadi dan hangat terhadap seseorang, jenis kasih yang ada di antara sahabat akrab. (Yohanes 11:3) Yang lain adalah kasih yang tumbuh di antara anggota keluarga. (Roma 12:10) Yang ketiga adalah kasih romantis yang dapat seseorang miliki bagi salah seorang dari lawan jenisnya. (Amsal 5:15-20) Tentu saja, semua kasih ini hendaknya diperkembangkan oleh suami dan istri. Namun, ada jenis kasih yang keempat, yang lebih penting daripada yang lainnya.

      4. Apa jenis kasih yang keempat?

      4 Dalam bahasa asli dari Kitab-Kitab Yunani Kristen, kata untuk jenis kasih yang keempat ini adalah a·gaʹpe. Kata tersebut digunakan di 1 Yohanes 4:8, yang memberi tahu kita, ”Allah adalah kasih.” Sesungguhnya, ”kita mengasihi, karena [Allah] yang pertama-tama mengasihi kita”. (1 Yohanes 4:19) Seorang Kristen memperkembangkan kasih seperti itu pertama-tama kepada Allah Yehuwa dan kemudian kepada sesama manusia. (Markus 12:29-31) Kata a·gaʹpe juga digunakan di Efesus 5:2, yang menyatakan, ”Teruslah berjalan dalam kasih, sebagaimana Kristus juga mengasihi kamu dan menyerahkan dirinya demi kamu.” Yesus mengatakan bahwa jenis kasih ini akan menjadi ciri dari para pengikutnya yang sejati, ”Dengan inilah semua akan mengetahui bahwa kamu adalah murid-muridku, jika kamu mempunyai kasih [a·gaʹpe] di antara kamu sendiri.” (Yohanes 13:35) Perhatikan juga penggunaan a·gaʹpe di 1 Korintus 13:13, ”Tinggal iman, harapan, kasih, ketiga hal ini; namun yang terbesar di antaranya ialah kasih [a·gaʹpe].”

      5, 6. (a) Mengapa kasih lebih besar daripada iman dan harapan? (b) Apa beberapa alasan mengapa kasih akan membantu langgengnya perkawinan?

      5 Apa yang membuat kasih a·gaʹpe ini lebih besar daripada iman dan harapan? Kasih ini dikendalikan oleh prinsip-prinsip—prinsip-prinsip yang benar—terdapat dalam Firman Allah. (Mazmur 119:105) Ini adalah perhatian yang tidak mementingkan diri untuk berbuat kepada orang lain apa yang benar dan baik dari sudut pandangan Allah, tidak soal si penerima kelihatannya layak mendapatkannya atau tidak. Kasih demikian membuat suami dan istri dapat mengikuti nasihat Alkitab, ”Teruslah bertahan dengan sabar menghadapi satu sama lain dan ampuni satu sama lain dengan lapang hati jika seseorang mempunyai alasan untuk mengeluh terhadap yang lain. Sama seperti Yehuwa dengan lapang hati mengampunimu, demikianlah kamu lakukan juga.” (Kolose 3:13) Pasangan suami-istri yang penuh kasih memiliki dan memperkembangkan ”kasih [a·gaʹpe] yang sangat kuat terhadap satu sama lain, karena kasih menutupi banyak sekali dosa”. (1 Petrus 4:8) Perhatikan bahwa kasih menutupi kesalahan. Kasih tidak menghapus kesalahan, karena mustahil manusia yang tidak sempurna dapat bebas dari kekeliruan.—Mazmur 130:3, 4; Yakobus 3:2.

      6 Jika kasih kepada Allah dan kepada satu sama lain tersebut diperkembangkan oleh sepasang suami-istri, perkawinan mereka akan langgeng dan bahagia, karena ”kasih tidak pernah berkesudahan”. (1 Korintus 13:8) Kasih adalah ”ikatan pemersatu yang sempurna”. (Kolose 3:14) Jika saudara sudah menikah, bagaimana saudara dan teman hidup saudara dapat memperkembangkan jenis kasih ini? Bacalah Firman Allah bersama-sama, dan bicarakanlah. Pelajarilah teladan kasih Yesus dan cobalah meniru dia, untuk berpikir dan bertindak seperti dia. Selain itu, hadirilah perhimpunan-perhimpunan Kristen, tempat Firman Allah diajarkan. Dan berdoalah meminta bantuan Allah untuk memperkembangkan jenis kasih yang tinggi ini, yang adalah buah dari roh kudus Allah.—Amsal 3:5, 6; Yohanes 17:3; Galatia 5:22; Ibrani 10:24, 25.

      KUNCI KEDUA

      7. Apakah respek itu, dan siapa yang hendaknya memperlihatkan respek dalam perkawinan?

      7 Jika dua orang yang menikah benar-benar saling mengasihi, maka mereka juga akan memiliki respek kepada satu sama lain, dan respek adalah kunci kedua menuju perkawinan yang bahagia. Respek didefinisikan sebagai ”mempertimbangkan orang lain, menghormati mereka”. Firman Allah memberi nasihat kepada semua orang Kristen, termasuk suami dan istri, ”Dalam memperlihatkan hormat kepada satu sama lain ambillah pimpinan.” (Roma 12:10) Rasul Petrus menulis, ”Kamu suami-suami, teruslah tinggal bersama [istrimu] dengan cara yang sama sesuai dengan pengetahuan, menetapkan kehormatan kepada mereka seperti kepada bejana yang lebih lemah, yang feminin.” (1 Petrus 3:7) Istri dinasihatkan untuk ”memiliki respek yang dalam kepada suaminya”. (Efesus 5:33) Apabila saudara ingin menghormati seseorang, saudara akan ramah terhadap orang tersebut, penuh respek akan martabat dan pandangan-pandangan yang dikemukakannya, dan siap memenuhi permintaan apa pun yang masuk akal yang diajukan kepada saudara.

      8-10. Dengan beberapa cara apa respek akan membantu menjadikan ikatan perkawinan stabil dan bahagia?

      8 Mereka yang ingin menikmati perkawinan yang bahagia memperlihatkan respek kepada teman hidup mereka dengan ”menaruh perhatian, bukan dengan minat pribadi kepada persoalan [mereka] sendiri saja, tetapi juga dengan minat pribadi kepada persoalan [teman hidup mereka]”. (Filipi 2:4) Mereka tidak memikirkan apa yang baik untuk diri mereka saja—yang adalah mementingkan diri. Sebaliknya, mereka memikirkan apa yang terbaik untuk teman hidup mereka juga. Sesungguhnya, mereka akan memprioritaskannya.

      9 Respek akan membantu pasangan suami-istri untuk mengakui adanya perbedaan sudut pandangan. Tidak masuk akal untuk mengharapkan dua orang mempunyai pandangan yang persis sama berkenaan segala sesuatu. Apa yang mungkin penting bagi suami belum tentu sama pentingnya bagi istri, dan apa yang disukai istri belum tentu disukai suami. Tetapi masing-masing harus merespek pandangan dan pilihan pihak yang lain, sepanjang hal-hal ini berada dalam batas-batas hukum dan prinsip Yehuwa. (1 Petrus 2:16; bandingkan Filemon 14.) Selanjutnya, masing-masing harus merespek martabat pihak yang lain dengan tidak menjadikan dia objek dari komentar-komentar atau lelucon yang merendahkan, tidak soal di depan umum atau sendirian.

      10 Ya, kasih kepada Allah dan kepada satu sama lain serta saling merespek adalah dua kunci yang sangat penting untuk perkawinan yang sukses. Bagaimana ini dapat diterapkan dalam beberapa bidang yang lebih penting dalam kehidupan perkawinan?

      KEKEPALAAN SEPERTI KRISTUS

      11. Berdasarkan Alkitab, siapa kepala dalam sebuah perkawinan?

      11 Alkitab memberi tahu kita bahwa pria diciptakan dengan sifat-sifat yang akan menjadikan dia kepala keluarga yang sukses. Sebagai kepala, pria akan bertanggung jawab di hadapan Yehuwa atas kesejahteraan rohani dan jasmani dari istri dan anak-anaknya. Ia harus membuat keputusan yang seimbang yang mencerminkan kehendak Yehuwa dan menjadi teladan dari tingkah laku yang saleh. ”Hendaklah istri-istri tunduk kepada suami mereka sebagaimana kepada Tuan, karena suami adalah kepala atas istrinya sebagaimana Kristus juga adalah kepala atas sidang jemaat.” (Efesus 5:22, 23) Akan tetapi, Alkitab mengatakan bahwa suami juga memiliki seorang kepala, Pribadi yang berkuasa atas dia. Rasul Paulus menulis, ”Aku ingin kamu mengetahui bahwa kepala dari setiap pria adalah Kristus; selanjutnya kepala dari seorang wanita adalah pria; selanjutnya kepala dari Kristus adalah Allah.” (1 Korintus 11:3) Suami yang bijaksana belajar caranya menjalankan kekepalaan dengan meniru kepalanya sendiri, Kristus Yesus.

      12. Teladan apa yang Yesus berikan sehubungan memperlihatkan ketundukan dan menjalankan kekepalaan?

      12 Yesus juga memiliki kepala, Yehuwa, dan ia dengan sepatutnya tunduk kepada-Nya. Yesus mengatakan, ”Aku mencari, bukan kehendakku sendiri, tetapi kehendak dia yang mengutus aku.” (Yohanes 5:30) Benar-benar contoh yang bagus! Yesus adalah ”yang sulung dari semua ciptaan”. (Kolose 1:15) Ia menjadi Mesias. Ia akan menjadi Kepala dari sidang orang-orang Kristen terurap dan Raja yang dipilih untuk Kerajaan Allah, lebih tinggi daripada semua malaikat. (Filipi 2:9-11; Ibrani 1:4) Meskipun memiliki kedudukan yang tinggi dan prospek yang mulia demikian, sebagai pria Yesus tidak kasar, keras kepala, atau terlalu menuntut. Ia bukan penguasa yang lalim, yang terus-menerus mengingatkan para muridnya bahwa mereka harus menaati dia. Yesus pengasih dan penuh belas kasihan, teristimewa kepada mereka yang berbeban berat. Ia mengatakan, ”Marilah kepadaku, kamu semua yang berjerih lelah dan mempunyai tanggungan berat, dan aku akan menyegarkan kamu. Ambillah kuk aku atas kamu dan belajarlah dariku, karena aku berwatak lemah lembut dan rendah hati, dan kamu akan menemukan kesegaran bagi jiwamu. Karena kuk aku menyenangkan dan tanggunganku ringan.” (Matius 11:28-30) Betapa menyenangkan berada bersama dia.

      13, 14. Bagaimana suami yang pengasih akan menjalankan kekepalaannya, dengan meniru Yesus?

      13 Suami yang mendambakan kehidupan keluarga yang bahagia ada baiknya mempertimbangkan sifat-sifat Yesus yang bagus. Suami yang baik tidak kasar dan diktatoris, menyalahgunakan kekepalaannya sebagai pentung untuk menggertak istrinya. Sebaliknya, ia mengasihi dan menghormati dia. Jika Yesus ”rendah hati”, maka suami memiliki lebih banyak alasan untuk rendah hati karena, tidak seperti Yesus, ia melakukan kesalahan. Apabila ia melakukan kesalahan, ia menginginkan pengertian istrinya. Oleh karena itu, suami yang rendah hati mengakui kesalahannya, walaupun kata-kata, ”Maaf; kamu benar,” mungkin sulit untuk diucapkan. Istri akan lebih mudah merespek kekepalaan dari suami yang bersahaja dan rendah hati daripada suami yang sombong dan keras kepala. Di lain pihak, istri yang penuh respek juga akan meminta maaf apabila ia bersalah.

      14 Allah menciptakan wanita dengan sifat-sifat yang baik agar ia dapat menggunakannya untuk menyumbang kepada perkawinan yang bahagia. Suami yang bijaksana akan mengakui hal ini dan tidak akan menghalangi dia. Banyak wanita cenderung memiliki belas kasihan dan kepekaan yang lebih besar, sifat-sifat yang diperlukan untuk mengurus keluarga dan untuk membina hubungan antarmanusia. Biasanya, wanita cukup ahli menata rumahnya menjadi tempat yang menyenangkan untuk dihuni. ”Isteri yang cakap” yang dilukiskan di Amsal pasal 31 memiliki banyak sifat yang sangat bagus serta kesanggupan yang sangat baik, dan keluarganya benar-benar mendapatkan faedah karenanya. Mengapa? Karena hati suaminya ”percaya” kepadanya.—Amsal 31:10, 11.

      15. Bagaimana suami dapat memperlihatkan kasih dan respek yang seperti Kristus kepada istrinya?

      15 Dalam beberapa kebudayaan, wewenang suami terlalu dilebih-lebihkan, sehingga bahkan mengajukan pertanyaan kepadanya sudah dianggap tidak respek. Ia dapat memperlakukan istrinya hampir seperti budak. Dijalankannya kekepalaan dengan cara yang salah demikian mengakibatkan hubungan yang buruk tidak saja dengan istrinya tetapi juga dengan Allah. (Bandingkan 1 Yohanes 4:20, 21.) Di lain pihak, ada suami yang lalai untuk mengambil pimpinan, membiarkan istri mereka mendominasi rumah tangga. Suami yang dengan sepatutnya tunduk kepada Kristus tidak mengeksploitasi istrinya atau merampas martabatnya. Sebaliknya, ia meniru kasih yang rela berkorban dari Yesus dan melakukan seperti yang dinasihatkan Paulus, ”Suami-suami, teruslah kasihi istrimu, sebagaimana Kristus juga mengasihi sidang jemaat dan menyerahkan dirinya sendiri baginya.” (Efesus 5:25) Kristus Yesus sangat mengasihi para pengikutnya sehingga ia mati demi mereka. Suami yang baik akan berupaya meniru sikap yang tidak mementingkan diri itu, mengupayakan yang baik bagi istrinya, sebaliknya daripada bersikap menuntut kepadanya. Apabila suami tunduk kepada Kristus dan mempertunjukkan kasih dan respek seperti Kristus, istrinya akan dimotivasi untuk menundukkan diri kepadanya.—Efesus 5:28, 29, 33.

      KETUNDUKAN ISTRI

      16. Sifat-sifat apa yang hendaknya dipertunjukkan istri dalam hubungannya dengan suaminya?

      16 Beberapa saat setelah Adam diciptakan, ”[Yehuwa] Allah berfirman: ’Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia [”sebagai pelengkap baginya”, NW].’” (Kejadian 2:18) Allah menciptakan Hawa sebagai ”pelengkap”, bukan sebagai pesaing. Perkawinan seharusnya bukan seperti kapal yang memiliki dua kapten yang bersaingan. Suami harus menjalankan kekepalaan yang pengasih, dan istri harus menyatakan kasih, respek, dan ketundukan yang rela.

      17, 18. Dengan cara apa saja istri dapat benar-benar menjadi penolong bagi suaminya?

      17 Akan tetapi, istri yang baik tidak hanya tunduk semata-mata. Ia berupaya untuk benar-benar menjadi penolong, mendukung suaminya dalam keputusan-keputusan yang ia ambil. Tentu saja, akan lebih mudah baginya jika ia menyetujui keputusan sang suami. Tetapi sekalipun ia tidak menyetujuinya, dukungannya yang aktif dapat membantu keputusan suami menjadi lebih berhasil.

      18 Istri dapat membantu suaminya untuk menjadi kepala yang baik dengan cara-cara lain. Ia dapat menyatakan penghargaan atas upaya suaminya untuk memimpin, sebaliknya daripada mengkritik dia atau membuatnya merasa bahwa dia tidak akan pernah dapat memuaskan istrinya. Pada waktu berurusan dengan suaminya dengan cara yang positif, ia hendaknya ingat bahwa ”roh yang senyap dan lemah lembut . . . sangat bernilai di mata Allah”, bukan saja di mata suaminya. (1 Petrus 3:3, 4; Kolose 3:12) Bagaimana jika suaminya tidak seiman? Tidak soal seiman atau tidak, Alkitab menganjurkan para istri ”untuk mengasihi suami mereka, untuk mengasihi anak-anak mereka, untuk menjadi sehat dalam pikiran, murni, pekerja-pekerja di rumah, baik, menundukkan diri mereka kepada suami mereka sendiri, agar firman Allah jangan dicaci”. (Titus 2:4, 5) Jika timbul persoalan-persoalan yang berkaitan dengan hati nurani, suami yang tidak seiman lebih besar kemungkinannya untuk merespek kedudukan istrinya apabila hal tersebut dikemukakan dengan ”watak yang lemah lembut dan respek yang dalam”. Beberapa suami yang tidak seiman telah ”dimenangkan tanpa perkataan melalui tingkah laku istri mereka, karena telah menjadi saksi mata dari tingkah laku [mereka] yang murni disertai respek yang dalam”.—1 Petrus 3:1, 2, 15; 1 Korintus 7:13-16.

      19. Bagaimana jika suami meminta istrinya melanggar hukum Allah?

      19 Bagaimana jika suami meminta istrinya melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah? Jika itu terjadi, sang istri harus ingat bahwa Allah adalah Penguasanya yang utama. Ia akan meniru teladan dari apa yang dilakukan oleh para rasul ketika mereka diminta oleh kalangan berwenang untuk melanggar hukum Allah. Kisah 5:29 menceritakan, ”Petrus dan rasul-rasul yang lain mengatakan, ’Kita harus menaati Allah sebagai penguasa sebaliknya daripada manusia.’”

      KOMUNIKASI YANG BAIK

      20. Dalam bidang yang sangat penting apa kasih dan respek merupakan hal yang penting?

      20 Kasih dan respek penting bagi bidang lain dari perkawinan—komunikasi. Suami yang pengasih akan bercakap-cakap dengan istrinya tentang kegiatan, problem, dan pandangan istrinya berkenaan berbagai persoalan. Istri membutuhkan hal ini. Suami yang menyisihkan waktu untuk berbicara dengan istrinya dan benar-benar mendengarkan apa yang ia katakan mempertunjukkan kasih dan respeknya kepada sang istri. (Yakobus 1:19) Ada istri-istri yang mengeluh bahwa suami mereka jarang sekali bercakap-cakap dengan mereka. Hal itu sungguh menyedihkan. Memang, pada zaman yang sibuk ini, suami mungkin bekerja untuk waktu yang panjang di luar rumah, dan keadaan ekonomi dapat mengakibatkan beberapa istri bekerja juga. Tetapi sepasang suami-istri perlu menyisihkan waktu untuk satu sama lain. Kalau tidak, mereka bisa menjadi tidak bergantung kepada satu sama lain. Hal ini dapat mengakibatkan problem-problem serius jika mereka merasa terpaksa mencari teman yang simpatik di luar penyelenggaraan perkawinan.

      21. Bagaimana tutur kata yang baik akan membantu terpeliharanya kebahagiaan perkawinan?

      21 Caranya suami dan istri berkomunikasi penting. ”Perkataan yang menyenangkan . . . manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.” (Amsal 16:24) Tidak soal teman hidup seiman atau tidak, nasihat Alkitab berlaku, ”Hendaklah ucapanmu selalu disertai kemurahan hati, dibumbui dengan garam”, yaitu, yang menyenangkan. (Kolose 4:6) Pada waktu seseorang mengalami suatu hari yang sulit, maka beberapa patah kata yang ramah dan simpatik dari teman hidup akan banyak manfaatnya. ”Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.” (Amsal 25:11) Nada suara dan pilihan kata-kata juga sangat penting. Sebagai contoh, dengan cara yang mengesalkan dan menuntut, yang seorang mungkin mengatakan kepada yang lain, ”Tutup pintunya!” Tetapi betapa jauh lebih ”dibumbui dengan garam”, kata-kata yang diucapkan dengan suara yang tenang dan penuh pengertian, ”Boleh tolong tutup pintunya?”

      22. Sikap apa yang diperlukan suami dan istri agar dapat memelihara komunikasi yang baik?

      22 Komunikasi yang baik tumbuh subur jika terdapat kata-kata yang diucapkan dengan lembut, pandangan dan isyarat yang ramah, kebaikan hati, pengertian, dan kelembutan. Dengan berupaya keras untuk memelihara komunikasi yang baik, suami maupun istri akan merasa bebas untuk menyatakan kebutuhan mereka, dan mereka dapat menjadi sumber penghiburan dan bantuan bagi satu sama lain pada waktu mengalami kekecewaan dan stres. ”Berbicaralah dengan cara yang menghibur kepada jiwa-jiwa yang masygul,” Firman Allah mendesak. (1 Tesalonika 5:14) Akan ada saatnya ketika suami yang merasa kecil hati namun saat lain istri yang merasa demikian. Mereka dapat ’berbicara dengan cara yang menghibur’, membina satu sama lain.—Roma 15:2.

      23, 24. Bagaimana kasih dan respek akan membantu pada waktu terdapat ketidaksepakatan? Berikan sebuah contoh.

      23 Suami dan istri yang menyatakan kasih dan respek tidak akan memandang setiap ketidaksepakatan sebagai problem yang berat. Mereka akan berjuang agar tidak ”marah dengan pahit” kepada satu sama lain. (Kolose 3:19) Keduanya harus mengingat bahwa ”jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman”. (Amsal 15:1) Berhati-hatilah agar jangan meremehkan atau menyalahkan teman hidup yang mencurahkan perasaan-perasaannya yang dalam. Sebaliknya, anggaplah pernyataan-pernyataan seperti itu sebagai kesempatan untuk memahami sudut pandangannya. Bersama-sama, cobalah untuk membahas perbedaan-perbedaan dan mencapai kesimpulan yang harmonis.

      24 Ingatlah kembali peristiwa ketika Sara menyarankan kepada Abraham, suaminya, jalan keluar untuk suatu problem tertentu dan ini tidak sejalan dengan perasaan Abraham. Namun, Allah memberi tahu Abraham, ”Haruslah engkau mendengarkannya.” (Kejadian 21:9-12) Abraham melakukannya, dan ia diberkati. Demikian pula, jika istri menyarankan sesuatu yang berbeda dari apa yang dipikirkan suaminya, sang suami hendaknya paling tidak mendengarkan. Pada waktu yang sama, istri tidak boleh mendominasi percakapan tetapi hendaknya mendengarkan apa yang dikatakan oleh suaminya. (Amsal 25:24) Karena suami ataupun istri yang selalu berkeras akan caranya sendiri tidak bersifat pengasih dan tidak menaruh respek.

      25. Bagaimana komunikasi yang baik akan menyumbang kepada kebahagiaan dalam aspek-aspek yang intim dari kehidupan perkawinan?

      25 Komunikasi yang baik juga penting dalam hubungan seksual suatu pasangan. Pementingan diri dan kurangnya pengendalian diri dapat sangat merusak hubungan yang paling intim dalam perkawinan ini. Komunikasi yang terbuka, disertai kesabaran adalah penting. Apabila masing-masing mengupayakan kesenangan dari yang lain tanpa mementingkan diri, seks jarang sekali menjadi problem yang serius. Dalam hal ini sebagaimana juga dalam perkara-perkara lain, ”hendaklah masing-masing terus mencari, bukan keuntungannya sendiri, melainkan keuntungan orang lain”.—1 Korintus 7:3-5; 10:24.

      26. Walaupun setiap perkawinan akan mengalami pasang surutnya, bagaimana mendengarkan Firman Allah akan membantu pasangan suami-istri untuk mendapatkan kebahagiaan?

      26 Betapa bagus nasihat yang Firman Allah berikan! Memang, setiap perkawinan akan mengalami pasang surutnya. Tetapi apabila suami dan istri menundukkan diri kepada pemikiran Yehuwa, seperti yang disingkapkan dalam Alkitab, dan mendasarkan hubungan mereka atas kasih dan respek, mereka dapat yakin bahwa perkawinan mereka akan langgeng dan bahagia. Dengan demikian, mereka tidak saja menghormati satu sama lain tetapi juga menghormati Pemula perkawinan, Allah Yehuwa.

      BAGAIMANA PRINSIP-PRINSIP ALKITAB INI MEMBANTU . . . SEPASANG SUAMI-ISTRI MENIKMATI PERKAWINAN YANG LANGGENG DAN BAHAGIA?

      Orang Kristen sejati saling mengasihi.—Yohanes 13:35.

      Orang Kristen siap mengampuni satu sama lain.—Kolose 3:13.

      Terdapat urutan yang benar sehubungan kekepalaan.—1 Korintus 11:3.

      Penting untuk mengatakan hal yang benar dengan cara yang benar.—Amsal 25:11.

  • Bagaimana Saudara Dapat Mengurus Rumah Tangga?
    Rahasia Kebahagiaan Keluarga
    • PASAL EMPAT

      Bagaimana Saudara Dapat Mengurus Rumah Tangga?

      1. Mengapa mengurus rumah tangga dapat menjadi hal yang sangat sulit dewasa ini?

      ”ADEGAN pentas dunia ini sedang berubah.” (1 Korintus 7:31) Kata-kata itu ditulis lebih dari 1.900 tahun yang lalu, dan alangkah benarnya kata-kata tersebut dewasa ini! Segala sesuatu sedang berubah, khususnya sehubungan kehidupan keluarga. Apa yang dipandang normal atau tradisional 40 atau 50 tahun yang lalu kini sering kali tidak dapat diterima. Oleh karena hal ini, mengurus rumah tangga dengan berhasil dapat menjadi tantangan besar. Meskipun begitu, apabila nasihat Alkitab diindahkan, saudara dapat menghadapi tantangan tersebut.

      HIDUP DALAM BATAS KEMAMPUAN SAUDARA

      2. Keadaan-keadaan ekonomi apa yang mengakibatkan stres dalam keluarga?

      2 Dewasa ini, banyak orang tidak puas lagi dengan kehidupan yang sederhana dan yang berorientasi pada keluarga. Seraya dunia perdagangan memproduksi semakin banyak barang dan menggunakan keterampilan iklannya untuk memikat orang banyak, jutaan ayah dan ibu menggunakan banyak jam untuk bekerja agar mereka dapat membeli barang-barang ini. Jutaan lainnya menghadapi perjuangan hari demi hari sekadar untuk menghidangkan sedikit makanan di atas meja. Mereka harus menggunakan jauh lebih banyak waktu untuk bekerja dibandingkan sebelumnya, barangkali memegang dua pekerjaan, hanya untuk mengongkosi kebutuhan. Yang lain-lain lagi senang bisa mendapat pekerjaan, karena problem pengangguran ada di mana-mana. Ya, kehidupan tidaklah selalu mudah bagi keluarga modern, tetapi prinsip-prinsip Alkitab dapat membantu keluarga untuk melakukan yang terbaik sesuai dengan keadaan mereka.

      3. Prinsip apa yang dijelaskan oleh rasul Paulus, dan bagaimana dengan menerapkannya, seseorang dapat dibantu untuk berhasil mengurus rumah tangga?

      3 Rasul Paulus mengalami tekanan ekonomi. Ketika mengatasinya, ia mendapatkan suatu pelajaran yang berharga, yang ia jelaskan dalam suratnya kepada sahabatnya, Timotius. Paulus menulis, ”Kita tidak membawa apa pun ke dalam dunia, dan kita juga tidak dapat membawa apa pun ke luar. Maka, dengan mempunyai makanan dan pelindung, kita akan puas dengan perkara-perkara ini.” (1 Timotius 6:7, 8) Memang, sebuah keluarga memerlukan lebih daripada sekadar makanan dan pakaian. Keluarga juga memerlukan tempat tinggal. Anak-anak memerlukan pendidikan. Dan ada biaya kesehatan dan pengeluaran lainnya. Meskipun demikian, prinsip dari kata-kata Paulus berlaku. Jika kita merasa puas dengan memenuhi kebutuhan kita sebaliknya daripada memuaskan keinginan kita, hidup akan lebih mudah.

      4, 5. Bagaimana pemikiran ke masa depan dan perencanaan membantu dalam mengurus rumah tangga?

      4 Prinsip lain yang bermanfaat terdapat dalam salah satu perumpamaan Yesus. Ia mengatakan, ”Siapa di antara kamu yang mau membangun sebuah menara tidak duduk dahulu dan menghitung biaya, untuk melihat jika ia mempunyai cukup untuk menyelesaikannya?” (Lukas 14:28) Di sini, Yesus sedang berbicara tentang pemikiran ke masa depan, perencanaan sebelumnya. Kita melihat di sebuah pasal sebelum ini bagaimana hal ini membantu pasangan muda yang bermaksud untuk menikah. Dan setelah menikah, hal ini juga membantu dalam mengurus rumah tangga. Pemikiran ke masa depan dalam bidang ini mencakup memiliki anggaran, merencanakan sebelumnya agar dapat menggunakan sumber-sumber daya yang tersedia sebijaksana mungkin. Dengan cara ini, suatu keluarga dapat mengendalikan pengeluaran, menyisihkan uang untuk membeli hal-hal yang perlu setiap hari atau setiap minggu, dan tidak hidup melampaui pendapatannya.

      5 Di beberapa negeri, penganggaran demikian mungkin berarti melawan dorongan meminjam dengan bunga tinggi untuk membeli barang-barang yang tidak perlu. Di negeri-negeri lain, ini mungkin berarti mengatur penggunaan kartu kredit dengan ketat. (Amsal 22:7) Ini juga mungkin berarti tidak membeli secara spontan—tiba-tiba membeli sesuatu tanpa menimbang-nimbang kebutuhan dan akibatnya. Selain itu, suatu anggaran akan membuat jelas bahwa uang yang secara mementingkan diri dibuang-buang untuk berjudi, merokok, serta minum minuman keras secara berlebihan akan merugikan keadaan ekonomi keluarga, dan juga bertentangan dengan prinsip-prinsip Alkitab.—Amsal 23:20, 21, 29-35; Roma 6:19; Efesus 5:3-5.

      6. Kebenaran-kebenaran Alkitab mana membantu orang-orang yang harus hidup dalam kemiskinan?

      6 Namun, bagaimana dengan mereka yang terpaksa hidup dalam kemiskinan? Satu hal, mereka dapat terhibur karena mengetahui bahwa problem seluas dunia ini hanyalah sementara. Dalam dunia baru yang sedang mendekat dengan cepat, Yehuwa akan menyingkirkan kemiskinan beserta semua kejahatan lain yang mengakibatkan kesengsaraan bagi umat manusia. (Mazmur 72:1, 12-16) Sementara itu, orang-orang Kristen sejati, sekalipun mereka sangat miskin, tidak sepenuhnya merasa putus asa, karena mereka beriman akan janji Yehuwa, ”Aku sama sekali tidak akan membiarkanmu atau dengan cara apa pun meninggalkanmu.” Jadi, seorang yang percaya dapat dengan yakin mengatakan, ”Yehuwa adalah penolongku; aku tidak akan takut.” (Ibrani 13:5, 6) Pada hari-hari yang sulit ini, Yehuwa telah mendukung para penyembah-Nya dengan banyak cara bila mereka hidup selaras dengan prinsip-prinsip-Nya dan menaruh Kerajaan-Nya di tempat pertama dalam kehidupan mereka. (Matius 6:33) Banyak sekali di antara mereka dapat memberi kesaksian, dengan mengatakan, seperti kata-kata rasul Paulus, ”Dalam segala hal dan dalam segala keadaan aku telah belajar rahasia bagaimana merasa kenyang dan juga bagaimana lapar, bagaimana memiliki kelimpahan dan juga bagaimana menderita kekurangan. Untuk segala perkara aku mempunyai kekuatan melalui dia yang memberikan kuasa kepadaku.”—Filipi 4:12, 13.

      BERSAMA-SAMA MENANGGUNG BEBAN

      Pictures on page 42

      Mengurus rumah tangga adalah proyek keluarga

      7. Kata-kata Yesus yang mana, jika diterapkan, akan membantu dalam mengurus rumah tangga dengan berhasil?

      7 Menjelang akhir dari pelayanannya di bumi, Yesus mengatakan, ”Engkau harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:39) Dengan diterapkannya nasihat ini dalam keluarga, kita sangat dibantu dalam mengurus rumah tangga. Bagaimanapun juga, siapa sesama kita yang paling dekat dan paling kita kasihi kalau bukan mereka yang ada dalam keluarga kita—suami dan istri, orang-tua dan anak-anak? Bagaimana anggota-anggota keluarga dapat memperlihatkan kasih kepada satu sama lain?

      8. Bagaimana kasih dapat dinyatakan dalam keluarga?

      8 Satu cara adalah bahwa setiap anggota keluarga ikut mengerjakan tugas-tugas rumah tangga yang secara masuk akal menjadi bagiannya. Jadi, anak-anak perlu diajar untuk membereskan barang-barang setelah digunakan, apakah itu pakaian atau mainan. Mungkin dibutuhkan waktu dan upaya untuk merapikan tempat tidur setiap pagi, tetapi itu merupakan bantuan besar dalam mengurus rumah tangga. Tentu saja, keadaan yang kadang-kadang sedikit berantakan tidak dapat dihindari, tetapi semua dapat bekerja sama untuk menjaga rumah cukup rapi, juga membersihkan peralatan setelah makan. Kemalasan, sikap memanjakan diri, dan sikap acuh tak acuh serta enggan berdampak negatif kepada setiap orang. (Amsal 26:14-16) Sebaliknya, sikap bersukacita dan rela memajukan kehidupan keluarga yang bahagia. ”Allah mengasihi pemberi yang bersukacita.”—2 Korintus 9:7.

      9, 10. (a) Beban apa yang sering kali dipikul oleh ibu rumah tangga, dan bagaimana ini dapat diringankan? (b) Pandangan yang seimbang apa yang disarankan sehubungan pekerjaan rumah tangga?

      9 Timbang rasa dan kasih akan turut mencegah situasi yang merupakan problem serius di beberapa keluarga. Sudah merupakan tradisi bahwa para ibu adalah penopang utama kehidupan di dalam rumah. Mereka mengurus anak-anak, membersihkan rumah, mencuci pakaian seluruh keluarga, serta membeli dan memasak makanan. Di beberapa negeri, para wanita juga biasa bekerja di ladang, menjual hasilnya di pasar, atau menyumbang keuangan keluarga dengan cara-cara lain. Bahkan di tempat yang sebelumnya hal ini bukan merupakan kebiasaan, kebutuhan telah memaksa jutaan wanita yang telah menikah untuk mencari pekerjaan di luar rumah. Seorang istri dan ibu yang bekerja keras di berbagai bidang ini layak dipuji. Seperti ”isteri yang cakap” yang dilukiskan dalam Alkitab, hari-harinya dipenuhi dengan kesibukan. ”Makanan kemalasan tidak dimakannya.” (Amsal 31:10, 27) Akan tetapi, hal ini tidak mengartikan bahwa hanya wanita yang boleh bekerja di rumah. Setelah suami dan istri bekerja seharian penuh di luar rumah, apakah istri harus melakukan semua pekerjaan rumah tangga sendirian, sementara suami dan anggota keluarga lainnya beristirahat? Tentu saja tidak. (Bandingkan 2 Korintus 8:13, 14.) Jadi, sebagai contoh, jika ibu akan menyiapkan makanan, ia akan berterima kasih jika anggota keluarga yang lain membantunya mengadakan persiapan dengan menata meja, membeli bahan-bahan tertentu, atau sedikit membersihkan rumah. Ya, semua dapat turut memikul tanggung jawab.—Bandingkan Galatia 6:2.

      10 Ada yang mungkin berkata, ”Di tempat saya tinggal, bukanlah tugas pria untuk melakukan hal-hal seperti itu.” Bisa saja itu benar, tetapi bukankah baik untuk mempertimbangkan hal ini? Ketika Allah Yehuwa memulai keluarga, Ia tidak menugaskan bahwa pekerjaan semacam itu hanya boleh dikerjakan oleh wanita. Pada satu peristiwa, ketika Abraham, pria yang setia itu dikunjungi oleh utusan-utusan istimewa dari Yehuwa, ia sendiri ikut menyiapkan dan menghidangkan makanan untuk para tamunya. (Kejadian 18:1-8) Alkitab menasihatkan, ”Suami-suami harus mengasihi istri mereka seperti tubuh mereka sendiri.” (Efesus 5:28) Jika, di akhir suatu hari, suami merasa lelah dan ingin beristirahat, bukankah istri kemungkinan besar merasakan hal yang sama, bahkan mungkin lebih-lebih lagi? (1 Petrus 3:7) Jadi, bukankah pantas dan pengasih jika suami ikut membantu di rumah?—Filipi 2:3, 4.

      11. Bagaimana Yesus memberi contoh yang baik untuk setiap anggota rumah tangga?

      11 Yesus adalah teladan terbaik dari pribadi yang menyenangkan Allah dan mendatangkan kebahagiaan kepada rekan-rekannya. Walaupun ia tidak pernah menikah, Yesus adalah contoh yang baik bagi suami, juga bagi istri dan anak-anak. Ia berkata tentang dirinya, ”Putra manusia datang, bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani,” yaitu melayani orang-orang lain. (Matius 20:28) Betapa bahagianya keluarga-keluarga yang seluruh anggotanya memupuk sikap demikian!

      KEBERSIHAN—MENGAPA SANGAT PENTING?

      12. Apa yang dituntut oleh Yehuwa dari orang-orang yang melayani Dia?

      12 Prinsip Alkitab lainnya yang dapat membantu dalam mengurus rumah tangga terdapat di 2 Korintus 7:1. Di sana kita membaca, ”Hendaklah kita membersihkan diri kita dari setiap pencemaran daging dan roh.” Mereka yang menaati kata-kata terilham ini diperkenan oleh Yehuwa, yang menuntut ”ibadat yang bersih dan tidak tercemar”. (Yakobus 1:27) Dan rumah tangga mereka menerima manfaat-manfaat yang menyertainya.

      13. Mengapa kebersihan penting dalam mengurus rumah tangga?

      13 Sebagai contoh, Alkitab meyakinkan kita bahwa akan tiba hari ketika penyakit dan gangguan kesehatan tidak akan ada lagi. Pada waktu itu, ”tidak seorangpun yang tinggal di situ akan berkata: ’Aku sakit’”. (Yesaya 33:24; Penyingkapan [Wahyu] 21:4, 5) Akan tetapi, sampai hari itu tiba, setiap keluarga harus mengatasi penyakit dari waktu ke waktu. Bahkan Paulus dan Timotius terkena penyakit. (Galatia 4:13; 1 Timotius 5:23) Akan tetapi, para ahli kedokteran mengatakan bahwa banyak penyakit dapat dicegah. Keluarga-keluarga yang bijaksana terluput dari penyakit tertentu yang dapat dicegah jika mereka menghindari ketidakbersihan jasmani dan rohani. Mari kita bahas bagaimana caranya.—Bandingkan Amsal 22:3.

      14. Bagaimana kebersihan moral melindungi keluarga dari penyakit?

      14 Kebersihan rohani mencakup kebersihan moral. Sebagaimana sangat dikenal, Alkitab menganjurkan standar moral yang tinggi dan mengutuk bentuk apa pun dari keintiman seksual di luar perkawinan. ”Orang yang melakukan percabulan, . . . ataupun pezina, ataupun pria yang dipelihara untuk tujuan yang tidak alami, ataupun pria yang berbaring dengan pria . . . tidak akan mewarisi kerajaan Allah.” (1 Korintus 6:9, 10) Menjalankan standar yang ketat ini sangat penting bagi orang Kristen yang hidup dalam dunia yang kian bobrok dewasa ini. Dengan melakukannya kita menyenangkan Allah dan juga turut melindungi keluarga terhadap penyakit hubungan seksual seperti misalnya AIDS, sifilis, gonore, dan klamidia.—Amsal 7:10-23.

      15. Berikan sebuah contoh bahwa kurangnya kebersihan jasmani dapat menyebabkan penyakit yang tidak perlu.

      15 ’Membersihkan diri dari setiap pencemaran daging’ turut melindungi keluarga terhadap penyakit-penyakit lain. Banyak penyakit diakibatkan oleh kurangnya kebersihan jasmani. Contoh yang utama adalah kebiasaan merokok. Merokok tidak saja mengotori paru-paru, pakaian dan udara tetapi juga membuat orang-orang sakit. Jutaan orang mati setiap tahun karena mereka mengisap tembakau. Pikirkanlah hal itu; setiap tahun, jutaan orang seharusnya tidak usah jatuh sakit dan meninggal sebelum waktunya jika saja mereka menghindari ”pencemaran daging” tersebut!

      16, 17. (a) Hukum apa yang diberikan oleh Yehuwa yang melindungi bangsa Israel dari penyakit-penyakit tertentu? (b) Bagaimana prinsip yang ada di balik Ulangan 23:12, 13 dapat diterapkan dalam semua rumah tangga?

      16 Pertimbangkan contoh lain. Sekitar 3.500 tahun yang lalu, Allah memberikan Hukum-Nya kepada bangsa Israel untuk mengatur ibadat mereka dan, sampai tingkat tertentu, kehidupan mereka sehari-hari. Hukum tersebut turut melindungi bangsa itu terhadap penyakit dengan menetapkan peraturan-peraturan dasar tentang higiene. Salah satu hukum tersebut adalah tentang kotoran manusia, yang harus dikubur dengan sepatutnya jauh dari perkemahan sehingga daerah tempat orang-orang tinggal tidak akan tercemar. (Ulangan 23:12, 13) Hukum purba itu masih merupakan nasihat yang baik. Bahkan dewasa ini, banyak orang menjadi sakit dan mati karena mereka tidak mengikutinya.a

      17 Selaras dengan prinsip yang ada di balik hukum Israel, kamar mandi keluarga dan daerah sekeliling toilet—tidak soal di dalam atau di luar tempat tinggal—harus dijaga bersih dan bebas kuman. Apabila daerah sekeliling toilet tidak dijaga bersih dan tertutup, lalat akan berkumpul di sana dan menyebarkan kuman ke tempat-tempat lain di rumah—dan ke makanan yang kita makan! Selanjutnya, anak-anak dan orang dewasa hendaknya mencuci tangan mereka sesudah menggunakan toilet. Kalau tidak, mereka akan membawa kembali kuman-kuman bersama mereka pada kulit mereka. Menurut seorang dokter Prancis, mencuci tangan ”masih merupakan jaminan terbaik untuk mencegah infeksi pencernaan, pernapasan, atau kulit tertentu”.

      Picture on page 47

      Menjaga segala sesuatu bersih lebih murah daripada membeli obat

      18, 19. Saran-saran apa diberikan untuk memelihara rumah yang bersih bahkan dalam lingkungan yang miskin?

      18 Memang, kebersihan merupakan tantangan di lingkungan yang miskin. Seorang yang mengenal baik lingkungan seperti itu menjelaskan, ”Iklim panas yang menyesakkan membuat pekerjaan pembersihan dua kali lebih berat. Badai debu menutupi setiap celah rumah dengan serbuk coklat yang halus. . . . Penduduk yang berkembang cepat di kota-kota, demikian pula di beberapa daerah pedesaan, juga menimbulkan bahaya kesehatan. Selokan yang terbuka, timbunan sampah yang tidak diangkut, toilet umum yang jorok, tikus, lipas, dan lalat yang membawa penyakit telah menjadi pemandangan yang umum.”

      19 Memelihara kebersihan di bawah kondisi-kondisi ini memang sulit. Namun, ini layak diupayakan. Sabun dan air serta sedikit pekerjaan ekstra lebih murah daripada biaya obat dan rumah sakit. Apabila saudara tinggal di lingkungan semacam itu, sebisa mungkin, jagalah rumah dan pekarangan saudara sendiri tetap bersih dan bebas dari kotoran binatang. Apabila jalan menuju rumah saudara cenderung menjadi becek selama musim hujan, dapatkah saudara menaruh kerikil dan batu-batu untuk membantu rumah tetap bebas dari lumpur? Jika memakai sepatu atau sandal, dapatkah pemakainya melepaskannya sebelum memasuki rumah? Saudara juga harus menjaga persediaan air saudara bebas dari pencemaran. Diperkirakan bahwa sekurang-kurangnya dua juta orang mati setiap tahun karena penyakit yang berkaitan dengan air yang kotor dan sanitasi yang buruk.

      20. Agar rumah dalam keadaan bersih, siapa yang harus ambil bagian dalam memikul tanggung jawabnya?

      20 Rumah yang bersih bergantung kepada setiap orang—ibu, ayah, anak-anak, dan para tamu. Seorang ibu dengan delapan anak di Kenya mengatakan, ”Semua sudah belajar untuk melakukan bagiannya.” Rumah yang bersih dan rapi mencerminkan seluruh keluarga dengan baik. Sebuah pepatah Spanyol menyatakan, ”Tidak ada pertentangan antara kemiskinan dan kebersihan.” Tidak soal seseorang tinggal di rumah mewah, di apartemen, di rumah sederhana, atau di gubuk, kebersihan adalah kunci dari keluarga yang lebih sehat.

      ANJURAN MEMBUAT KITA MAJU

      21. Selaras dengan Amsal 31:28, apa yang turut mendatangkan kebahagiaan kepada rumah tangga?

      21 Ketika membahas tentang istri yang cakap, buku Amsal mengatakan, ”Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia.” (Amsal 31:28) Kapan terakhir kali saudara memuji salah seorang anggota keluarga saudara? Benar, kita bagaikan tanaman di musim semi yang siap berbunga apabila mendapat kehangatan dan embun. Bagi kita, kita membutuhkan kehangatan berupa pujian. Akan bermanfaat apabila istri tahu bahwa suaminya menghargai kerja keras dan perhatiannya yang pengasih dan bahwa suaminya tidak menganggap dia sudah semestinya melakukan semua itu. (Amsal 15:23; 25:11) Dan akan menyenangkan apabila istri memuji suami untuk pekerjaannya di luar dan di dalam rumah. Hati anak-anak juga berbunga-bunga apabila orang-tua mereka memuji upaya mereka di rumah, di sekolah, atau di dalam sidang Kristen. Dan betapa banyak yang dihasilkan dengan sedikit pernyataan terima kasih! Apa sulitnya mengucapkan, ”Terima kasih”? Mudah sekali, tetapi hasilnya untuk moral keluarga sangat besar.

      22. Apa yang dibutuhkan agar rumah tangga ”ditetapkan dengan teguh”, dan bagaimana hal ini dicapai?

      22 Karena banyak alasan, mengurus rumah tangga bukan hal yang mudah. Namun, ini dapat dilakukan dengan berhasil. Sebuah amsal Alkitab mengatakan, ”Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan [”ditetapkan dengan teguh”, NW].” (Amsal 24:3) Hikmat dan kepandaian dapat diperoleh jika semua di dalam keluarga berupaya mempelajari kehendak Allah dan menerapkannya dalam kehidupan mereka. Keluarga yang bahagia tentunya layak diupayakan!

      a Dalam sebuah manual yang memberi saran tentang cara menghindari diare—sebuah penyakit umum yang mengakibatkan banyak kematian bayi—Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan, ”Jika tidak ada jamban: buanglah air besar jauh dari rumah, dan dari daerah tempat anak-anak bermain, dan sedikitnya 10 meter dari persediaan air; timbunlah kotoran dengan tanah.”

      BAGAIMANA PRINSIP-PRINSIP ALKITAB INI MEMBANTU . . . SUATU KELUARGA UNTUK MENGURUS RUMAH TANGGA MEREKA?

      Adalah bijaksana untuk merasa puas dengan kebutuhan-kebutuhan hidup.—1 Timotius 6:7, 8.

      Yehuwa tidak akan meninggalkan orang-orang yang melayani Dia.—Ibrani 13:5, 6.

      Kasih akan orang-orang lain adalah sifat Kristen yang menonjol.—Matius 22:39.

      Orang Kristen menjaga kebersihan jasmani dan rohani.—2 Korintus 7:1.

      AIR BERSIH, KESEHATAN BAIK

      Organisasi Kesehatan Dunia menawarkan beberapa saran praktis untuk orang-orang di negeri yang sulit mendapatkan air bersih dan keadaan sanitasinya mungkin masih primitif.

      ”Tampung dan simpan air minum dalam wadah yang bersih. Jaga agar wadah penyimpanan itu tetap tertutup dan jangan biarkan anak-anak atau binatang meminum langsung dari wadah itu. . . . Ambillah air hanya dengan pencedok bergagang panjang yang digunakan hanya untuk keperluan itu. Kosongkan dan bilas wadah air setiap hari.

      ”Rebus air yang akan digunakan untuk membuat makanan atau minuman bagi anak-anak yang masih kecil. . . . Air perlu dibiarkan mendidih beberapa detik saja.”

  • Latihlah Anak Saudara sejak Bayi
    Rahasia Kebahagiaan Keluarga
    • PASAL LIMA

      Latihlah Anak Saudara sejak Bayi

      1, 2. Kepada siapa hendaknya orang-tua mencari bantuan dalam membesarkan anak-anak mereka?

      ”ANAK-ANAK lelaki adalah milik pusaka dari pada [Yehuwa],” demikian seru orang-tua yang penuh penghargaan kira-kira 3.000 tahun yang lalu. (Mazmur 127:3) Memang, sukacita sebagai orang-tua adalah berkat yang berharga dari Allah, berkat yang tersedia bagi kebanyakan orang yang telah menikah. Akan tetapi, mereka yang mempunyai anak segera menyadari, bahwa selain sukacita, menjadi orang-tua juga mendatangkan tanggung jawab.

      2 Khususnya dewasa ini, membesarkan anak merupakan suatu tugas berat. Meskipun demikian, banyak yang telah berhasil melaksanakannya, dan penulis mazmur yang terilham menunjukkan caranya, dengan mengatakan, ”Jikalau bukan [Yehuwa] yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.” (Mazmur 127:1) Semakin saksama saudara mengikuti petunjuk-petunjuk Yehuwa, semakin baik saudara sebagai orang-tua. Alkitab mengatakan, ”Percayalah kepada [Yehuwa] dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5) Apakah saudara bersedia mendengarkan nasihat Yehuwa seraya saudara memasuki proyek 20 tahun untuk membesarkan anak?

      MENERIMA PANDANGAN ALKITAB

      3. Tanggung jawab apa yang dimiliki oleh para ayah dalam membesarkan anak-anak?

      3 Di banyak rumah di seputar dunia, pria menganggap bahwa melatih anak terutama adalah tugas wanita. Memang, Firman dari Allah menunjuk peranan ayah sebagai pencari nafkah yang utama. Tetapi, Alkitab juga mengatakan bahwa ayah memiliki tanggung jawab di rumah. Alkitab mengatakan, ”Selesaikanlah pekerjaanmu di luar, siapkanlah itu di ladang; baru kemudian dirikanlah rumahmu [”rumah tanggamu”, NW].” (Amsal 24:27) Dalam pandangan Allah, ayah dan ibu adalah mitra dalam melatih anak.—Amsal 1:8, 9.

      4. Mengapa hendaknya kita tidak menganggap anak lelaki lebih baik daripada anak perempuan?

      4 Bagaimana saudara memandang anak-anak saudara? Laporan mengatakan bahwa di Asia ”bayi-bayi perempuan sering kali tidak disambut gembira”. Sikap berat sebelah terhadap anak-anak perempuan dilaporkan masih ada di Amerika Latin, bahkan di antara ”keluarga-keluarga yang lebih berpendidikan”. Namun, kebenarannya ialah, anak perempuan bukanlah anak kelas dua. Yakub, seorang ayah yang terkenal pada zaman purba, menggambarkan semua anaknya, termasuk anak-anak perempuan yang sudah lahir hingga saat itu, sebagai ”anak-anak yang telah dikaruniakan Allah kepada[ku]”. (Kejadian 33:1-5; 37:35) Demikian pula, Yesus memberkati seluruh ”anak-anak kecil” (laki-laki dan perempuan) yang dibawa kepadanya. (Matius 19:13-15) Kita dapat merasa yakin bahwa Yesus mencerminkan pandangan Yehuwa.—Ulangan 16:14.

      5. Pertimbangan apa yang hendaknya mendasari keputusan sepasang suami-istri sehubungan besarnya keluarga mereka?

      5 Apakah masyarakat saudara mengharapkan seorang wanita untuk melahirkan anak sebanyak-banyaknya? Memang sudah sepantasnya, berapa jumlah anak yang akan dimiliki oleh sepasang suami-istri adalah keputusan pribadi mereka. Bagaimana jika orang-tua kekurangan sarana untuk memberikan makanan, pakaian, dan pendidikan kepada banyak anak? Pasti, pasangan tersebut hendaknya mempertimbangkan hal ini sewaktu memutuskan berapa besarnya keluarga mereka. Beberapa pasangan yang tidak sanggup membiayai semua anak mereka mempercayakan tanggung jawab untuk membesarkan beberapa anak kepada sanak saudara mereka. Apakah ini tindakan yang bijaksana? Sebenarnya tidak. Dan hal ini tidak membebaskan orang-tua dari kewajiban mereka terhadap anak-anak mereka. Alkitab mengatakan, ”Jika seseorang tidak menyediakan kebutuhan bagi mereka yang adalah miliknya, dan teristimewa bagi mereka yang adalah anggota rumah tangganya, ia telah menyangkal iman.” (1 Timotius 5:8) Pasangan yang bertanggung jawab akan mencoba merencanakan besarnya ”rumah tangga” mereka sehingga mereka dapat ’menyediakan kebutuhan bagi mereka yang adalah miliknya’. Apakah mereka boleh mengikuti keluarga berencana agar dapat melakukannya? Itu adalah keputusan pribadi juga, dan jika sepasang suami-istri memutuskan untuk mengikutinya, alat kontrasepsi mana yang dipilih juga adalah persoalan pribadi. ”Masing-masing orang akan memikul tanggungannya sendiri.” (Galatia 6:5) Akan tetapi, keluarga berencana yang melibatkan aborsi dalam bentuk apa pun bertentangan dengan prinsip-prinsip Alkitab. Allah Yehuwa adalah ”sumber hayat”. (Mazmur 36:10) Oleh karena itu, menghancurkan kehidupan setelah itu dimulai berarti sama sekali tidak memperlihatkan respek kepada Yehuwa dan sama dengan membunuh.—Keluaran 21:22, 23; Mazmur 139:16; Yeremia 1:5.

      MEMENUHI KEBUTUHAN ANAK SAUDARA

      6. Kapan hendaknya pelatihan seorang anak dimulai?

      6 Amsal 22:6 mengatakan, ”Didiklah [”Latihlah”, NW] orang muda menurut jalan yang patut baginya.” Melatih anak-anak adalah tugas utama lainnya dari orang-tua. Namun, kapan hendaknya pelatihan itu dimulai? Sejak sangat dini. Rasul Paulus mencatat bahwa Timotius telah dilatih ”sejak masa bayi”. (2 Timotius 3:15) Kata Yunani yang digunakan di sini dapat menunjuk kepada bayi yang masih kecil atau bahkan anak yang belum lahir. (Lukas 1:41, 44; Kisah 7:18-20) Jadi, Timotius menerima pelatihan sejak ia masih sangat muda—dan seharusnya memang demikian. Masa bayi adalah waktu yang ideal untuk mulai melatih seorang anak. Bayi yang masih kecil sekalipun memiliki keinginan yang besar untuk mendapatkan pengetahuan.

      7. (a) Mengapa penting agar kedua orang-tua memperkembangkan hubungan yang akrab dengan seorang bayi? (b) Hubungan apa yang ada antara Yehuwa dengan satu-satunya Putra yang diperanakkan?

      7 ”Pertama kali saya melihat bayi saya,” kata seorang ibu, ”Saya jatuh cinta kepadanya.” Begitu pula perasaan kebanyakan ibu. Ikatan yang indah antara ibu dan bayinya bertumbuh seraya mereka menggunakan waktu bersama-sama setelah kelahiran. Dengan menyusui, keintiman tersebut bertambah. (Bandingkan 1 Tesalonika 2:7.) Belaian ibu kepada bayinya dan kata-kata yang diucapkan kepadanya penting sekali untuk memenuhi kebutuhan emosi si bayi. (Bandingkan Yesaya 66:12.) Tetapi bagaimana dengan ayah? Ia juga harus menjalin hubungan yang akrab dengan keturunannya yang baru. Yehuwa sendiri adalah teladan untuk hal ini. Dalam buku Amsal, kita belajar tentang hubungan Yehuwa dengan satu-satunya Putra yang diperanakkan, yang digambarkan mengatakan, ”[Yehuwa] telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya . . . Setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya.” (Amsal 8:22, 30; Yohanes 1:14) Dengan cara yang sama, ayah yang baik membina hubungan yang hangat dan pengasih dengan anaknya sejak awal kehidupan sang anak. ”Tunjukkan banyak kasih sayang,” kata seorang ayah. ”Tidak pernah ada seorang anak pun yang mati karena pelukan dan ciuman.”

      8. Rangsangan mental apa yang hendaknya diberikan oleh orang-tua kepada bayinya sesegera mungkin?

      8 Tetapi bayi membutuhkan lebih banyak lagi. Sejak saat kelahiran, otak mereka siap untuk menerima dan menyimpan informasi, dan orang-tua adalah sumber utama dari hal ini. Ambillah bahasa sebagai contoh. Para peneliti mengatakan bahwa baik tidaknya seorang anak belajar berbicara dan membaca ”diduga erat kaitannya dengan sifat interaksi awal sang anak dengan orang-tuanya”. Berbicaralah dan membacalah untuk anak saudara sejak masa bayi dan seterusnya. Segera ia ingin meniru saudara, dan tidak lama kemudian saudara sudah akan mengajarnya membaca. Kemungkinan besar, ia sudah akan dapat membaca sebelum masuk sekolah. Itu khususnya akan berguna apabila saudara tinggal di suatu negeri yang kekurangan guru dan ruang kelas penuh.

      9. Apa tujuan yang paling penting yang perlu diingat oleh orang-tua?

      9 Keprihatinan yang paling utama dari orang-tua Kristen adalah memenuhi kebutuhan rohani anak mereka. (Lihat Ulangan 8:3.) Dengan tujuan apa? Untuk membantu anak mereka memperkembangkan kepribadian seperti Kristus, yang sebenarnya adalah mengenakan ”kepribadian baru”. (Efesus 4:24) Untuk hal ini mereka perlu memikirkan bahan bangunan yang tepat dan metode membangun yang tepat.

      MENANAMKAN KEBENARAN KEPADA ANAK SAUDARA

      10. Sifat-sifat apa yang perlu diperkembangkan oleh anak-anak?

      10 Kualitas suatu bangunan banyak bergantung pada jenis bahan yang digunakan dalam bangunan tersebut. Rasul Paulus mengatakan bahwa bahan bangunan yang paling baik untuk kepribadian Kristen adalah ”emas, perak, batu-batu berharga”. (1 Korintus 3:10-12) Ini semua menggambarkan sifat-sifat seperti iman, hikmat, pemahaman, loyalitas, respek, dan penghargaan yang penuh kasih kepada Yehuwa dan hukum-hukum-Nya. (Mazmur 19:8-12; Amsal 2:1-6; 3:13, 14) Bagaimana orang-tua dapat membantu anak-anak mereka sejak usia yang sangat dini untuk memperkembangkan sifat-sifat ini? Dengan mengikuti suatu prosedur yang diuraikan dahulu kala.

      11. Bagaimana orang-tua Israel membantu anak-anak mereka untuk memperkembangkan kepribadian yang saleh?

      11 Tidak lama sebelum bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian, Yehuwa memberi tahu orang-tua Israel, ”Apa [”Kata-kata ini”, NW] yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan [”terbukti ada di hatimu”, NW], haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang [”menanamkannya”, NW] kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ulangan 6:6, 7) Ya, orang-tua perlu menjadi teladan, teman, komunikator, dan guru.

      12. Mengapa penting agar orang-tua menjadi teladan yang baik?

      12 Menjadi teladan. Pertama-tama, Yehuwa mengatakan, ”Kata-kata ini . . . haruslah terbukti ada di hatimu.” Kemudian, Ia menambahkan, ”Haruslah engkau menanamkannya kepada anak-anakmu.” Jadi sifat-sifat yang saleh harus pertama-tama ada di hati orang-tua. Orang-tua harus mengasihi kebenaran dan hidup selaras dengannya. Hanya dengan cara itu ia dapat mencapai hati si anak. (Amsal 20:7) Mengapa? Karena anak-anak lebih dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.—Lukas 6:40; 1 Korintus 11:1.

      13. Dalam memberikan perhatian kepada anak-anak mereka, bagaimana orang-tua Kristen dapat meniru teladan Yesus?

      13 Menjadi teman. Yehuwa memberi tahu orang-tua di Israel, ’Berbicaralah dengan anak-anakmu apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan.’ Hal ini menuntut orang-tua untuk menggunakan waktu bersama anak-anak tidak soal seberapa sibuk orang-tua. Yesus jelas merasa bahwa anak-anak layak mendapat waktunya. Selama hari-hari terakhir dari pelayanannya, ”orang-orang mulai membawa anak-anak kecil kepadanya agar ia menyentuh anak-anak ini”. Apa reaksi Yesus? ”Ia merangkul anak-anak itu serta mulai memberkati mereka.” (Markus 10:13, 16) Bayangkan, jam-jam terakhir dari kehidupan Yesus mendekat dengan cepat. Namun, ia memberikan waktu dan perhatiannya kepada anak-anak ini. Sungguh suatu pelajaran yang bagus!

      14. Mengapa bermanfaat jika orang-tua menggunakan waktu bersama anak-anak mereka?

      14 Menjadi komunikator. Menggunakan waktu bersama anak saudara akan membantu saudara berkomunikasi dengan dia. Semakin sering saudara berkomunikasi, semakin baik saudara akan dapat memperhatikan perkembangan kepribadiannya. Namun ingat, berkomunikasi lebih daripada sekadar berbicara. ”Saya harus mengembangkan seni mendengarkan,” kata seorang ibu di Brasil, ”mendengarkan dengan hati saya.” Kesabarannya membuahkan hasil ketika putranya mulai mencurahkan perasaan dia kepadanya.

      15. Apa yang perlu diingat sehubungan rekreasi?

      15 Anak-anak membutuhkan ”waktu untuk tertawa . . . waktu untuk menari”, waktu untuk berekreasi. (Pengkhotbah 3:1, 4; Zakharia 8:5) Rekreasi akan sangat produktif apabila orang-tua dan anak-anak menikmatinya bersama-sama. Merupakan fakta yang menyedihkan bahwa di banyak rumah, rekreasi berarti menonton televisi. Walaupun beberapa acara televisi bisa jadi menghibur, namun ada banyak yang menghancurkan nilai-nilai yang luhur, dan menonton televisi cenderung membuat komunikasi terhenti dalam suatu keluarga. Karena itu, mengapa tidak melakukan sesuatu yang kreatif bersama anak-anak saudara? Bernyanyi, melakukan permainan, bergaul bersama teman-teman, mengunjungi tempat-tempat yang menyenangkan. Kegiatan demikian memajukan komunikasi.

      16. Apa yang hendaknya diajarkan orang-tua kepada anak-anak mereka tentang Yehuwa, dan bagaimana hendaknya mereka melakukannya?

      16 Menjadi guru. ”Haruslah engkau menanamkannya [kata-kata ini] kepada anak-anakmu,” kata Yehuwa. Ikatan kalimatnya memberi tahu saudara apa yang harus diajarkan dan bagaimana caranya. Pertama-tama, ”kasihilah [Yehuwa], Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”. (Ulangan 6:5) Kemudian, ”kata-kata ini . . . haruslah engkau menanamkannya” (NW). Menyampaikan pengajaran dengan tujuan mengembangkan kasih yang sepenuh jiwa kepada Yehuwa dan hukum-hukum-Nya. (Bandingkan Ibrani 8:10.) Kata ’menanamkan’ berarti mengajar berulang-ulang. Jadi Yehuwa, sebenarnya, memberi tahu saudara bahwa cara utama untuk membantu anak-anak saudara memperkembangkan kepribadian yang saleh adalah dengan berbicara tentang Dia secara konsisten. Hal ini mencakup mengadakan pengajaran Alkitab secara tetap tentu bersama mereka.

      Pictures on page 57

      Orang-tua, jadilah teladan, teman, komunikator dan guru

      17. Apa yang perlu orang-tua perkembangkan dalam diri anak mereka? Mengapa?

      17 Kebanyakan orang-tua mengetahui bahwa memasukkan informasi ke dalam hati seorang anak tidaklah mudah. Rasul Petrus mendesak rekan-rekan Kristennya, ”Seperti bayi yang baru lahir, bentuklah keinginan yang besar akan susu yang tidak dicampur yang berasal dari firman.” (1 Petrus 2:2) Ungkapan ”bentuklah keinginan yang besar” menyiratkan bahwa banyak yang secara alami tidak lapar akan makanan rohani. Orang-tua mungkin perlu mencari cara untuk memperkembangkan keinginan yang besar tersebut dalam diri anak mereka.

      18. Apa beberapa metode pengajaran Yesus yang sebaiknya ditiru oleh orang-tua?

      18 Yesus mencapai hati dengan menggunakan perumpamaan. (Markus 13:34; Lukas 10:29-37) Metode mengajar ini khususnya efektif untuk anak-anak. Ajarkanlah prinsip-prinsip Alkitab dengan menggunakan beraneka ragam cerita yang menarik, barangkali seperti yang terdapat dalam publikasi Buku Cerita Alkitab.a Libatkanlah anak-anak. Biarkan mereka menggunakan kreatifitas mereka untuk menggambar atau melakonkan kisah-kisah Alkitab. Yesus juga menggunakan pertanyaan-pertanyaan. (Matius 17:24-27) Tirulah metode Yesus ini selama pelajaran keluarga saudara. Sebaliknya daripada sekadar memberitahukan hukum Allah, ajukanlah pertanyaan-pertanyaan seperti, Mengapa Yehuwa memberikan hukum ini kepada kita? Apa yang akan terjadi jika kita menaatinya? Apa yang akan terjadi jika kita tidak menaatinya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membantu seorang anak untuk bernalar dan mengerti bahwa hukum-hukum Allah praktis dan bagus.—Ulangan 10:13.

      19. Jika orang-tua mengikuti prinsip-prinsip Alkitab dalam berurusan dengan anak-anak mereka, manfaat-manfaat besar apa yang akan dinikmati anak-anak?

      19 Dengan menjadi teladan, teman, komunikator, dan guru, saudara dapat membantu anak saudara sejak usianya yang sangat dini untuk menjalin hubungan pribadi yang akrab dengan Allah Yehuwa. Hubungan ini akan membantu anak saudara untuk berbahagia sebagai seorang Kristen. Ia akan berjuang untuk hidup sesuai dengan imannya bahkan ketika menghadapi tekanan dan godaan dari teman sebaya. Selalu bantu dia untuk menghargai hubungan yang sangat berharga ini.—Amsal 27:11.

      KEBUTUHAN YANG SANGAT PENTING AKAN DISIPLIN

      20. Apakah disiplin, dan bagaimana hendaknya itu dijalankan?

      20 Disiplin adalah pelatihan yang memperbaiki pikiran dan hati. Anak-anak memerlukannya dari waktu ke waktu. Paulus menasihati para ayah untuk ’terus membesarkan [anak-anak mereka] dalam disiplin dan pengaturan-mental dari Yehuwa’. (Efesus 6:4) Orang-tua hendaknya mendisiplin dalam kasih, sebagaimana halnya Yehuwa. (Ibrani 12:4-11) Disiplin yang didasarkan atas kasih dapat disampaikan dengan bertukar pikiran. Karena itu, kita diberi tahu untuk ’mendengarkan disiplin’. (Amsal 8:33, NW) Bagaimana hendaknya disiplin diberikan?

      21. Prinsip apa yang hendaknya diingat orang-tua pada waktu mendisiplin anak-anak mereka?

      21 Ada orang-tua yang mengira bahwa mendisiplin anak berarti cukup berbicara kepada mereka dengan nada yang mengancam, membentak mereka, atau bahkan menghina mereka. Akan tetapi, mengenai pokok yang sama, Paulus memperingatkan, ”Kamu, bapak-bapak, janganlah membuat anak-anakmu kesal.” (Efesus 6:4) Semua orang Kristen didesak untuk ”lembut terhadap semua . . . mengajar dengan lemah lembut mereka yang cenderung tidak setuju”. (2 Timotius 2:24, 25) Orang-tua Kristen, meskipun mengakui perlunya ketegasan, berupaya mengingat kata-kata tersebut pada waktu mereka mendisiplin anak-anak mereka. Namun, kadang-kadang, bertukar pikiran tidak cukup, dan suatu bentuk hukuman mungkin diperlukan.—Amsal 22:15.

      22. Apabila seorang anak perlu dihukum, ia harus dibantu untuk mengerti tentang apa?

      22 Lain anak lain pula bentuk disiplin yang dibutuhkan. Ada yang ’tidak dapat diajari dengan kata-kata saja’. Bagi mereka, hukuman yang sekali-sekali diberikan untuk ketidakpatuhan dapat menyelamatkan kehidupan. (Amsal 17:10; 23:13, 14; 29:19) Tetapi, seorang anak harus mengerti mengapa ia dihukum. ”Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat.” (Amsal 29:15; Ayub 6:24) Lagi pula, hukuman ada batasnya. ”Aku akan menghajar engkau menurut hukum [”sampai kepada taraf yang patut”, ”NW”],” kata Yehuwa kepada umat-Nya. (Yeremia 46:28b) Merotan dengan luapan amarah atau memukul dengan kejam sehingga melukai dan bahkan mencelakai seorang anak sama sekali tidak disetujui Alkitab.—Amsal 16:32.

      23. Apa yang hendaknya dapat dipahami seorang anak apabila ia dihukum oleh orang-tuanya?

      23 Ketika Yehuwa memperingatkan umat-Nya bahwa Ia akan mendisiplin mereka, pertama-tama Ia mengatakan, ”Janganlah takut . . . sebab Aku menyertai engkau.” (Yeremia 46:28a) Demikian pula, disiplin orang-tua, dalam bentuk apa pun yang patut, hendaknya jangan pernah membuat sang anak merasa ditolak. (Kolose 3:21) Sebaliknya, sang anak hendaknya merasakan bahwa disiplin tersebut diberikan karena orang-tuanya ’menyertai dia’, berada di pihaknya.

      LINDUNGI ANAK SAUDARA TERHADAP BAHAYA

      24, 25. Terhadap ancaman yang mengerikan apa anak-anak memerlukan perlindungan pada masa sekarang ini?

      24 Banyak orang dewasa mengenang masa kanak-kanak mereka sebagai masa yang bahagia. Mereka mengingat kembali perasaan hangat karena aman, kepastian bahwa orang-tua mereka akan merawat mereka tidak soal apa pun keadaannya. Orang-tua ingin anak-anak mereka merasakan hal yang sama, tetapi dalam dunia yang kian bobrok dewasa ini, menjaga keamanan anak-anak menjadi lebih sulit daripada sebelumnya.

      25 Satu ancaman mengerikan yang telah meningkat pada tahun-tahun belakangan ini adalah penyerangan seksual terhadap anak-anak. Di Malaysia, laporan mengenai serangan seksual terhadap anak-anak telah meningkat empat kali lipat dalam waktu sepuluh tahun. Di Jerman, kira-kira 300.000 anak dianiaya secara seksual setiap tahun, sementara di sebuah negara di Amerika Selatan, menurut sebuah penelitian, jumlah yang diperkirakan adalah angka yang mencengangkan yaitu 9.000.000 setiap tahun! Yang sangat menyedihkan, mayoritas dari anak-anak ini diperkosa di rumah mereka sendiri oleh orang-orang yang mereka kenal dan percayai. Tetapi anak-anak harus memiliki pertahanan yang kuat dalam diri orang-tua mereka. Bagaimana orang-tua dapat melindungi?

      26. Dengan beberapa cara apa anak-anak dapat tetap aman, dan bagaimana pengetahuan dapat melindungi seorang anak?

      26 Karena pengalaman menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak banyak tahu tentang seks khususnya menjadi mangsa empuk dari para pelaku penyerangan seksual, langkah pencegahan yang utama adalah mendidik sang anak, sekalipun ia masih kecil. Pengetahuan dapat memberikan perlindungan ”dari jalan yang jahat, dari orang yang mengucapkan tipu muslihat”. (Amsal 2:10-12) Pengetahuan apa? Pengetahuan tentang prinsip-prinsip Alkitab, tentang apa yang benar dan yang salah secara moral. Juga pengetahuan bahwa ada orang-orang dewasa yang melakukan hal-hal jahat dan bahwa seorang muda tidak perlu patuh apabila orang-orang mengajak melakukan perbuatan yang tidak patut. (Bandingkan Daniel 1:4, 8; 3:16-18.) Jangan batasi pelatihan semacam itu dengan membicarakannya satu kali saja. Kebanyakan anak-anak yang masih kecil perlu diajar berulang-ulang sebelum mereka mengingatnya dengan baik. Seraya anak-anak sedikit bertambah besar, seorang ayah akan dengan pengasih merespek hak putrinya untuk mendapatkan keleluasaan pribadi, demikian pula seorang ibu terhadap putranya—dengan demikian memperkuat perasaan anak tentang apa yang patut. Dan tentu saja, salah satu perlindungan terbaik terhadap penganiayaan seksual adalah pengawasan yang ketat oleh saudara sebagai orang-tua.

      CARILAH BIMBINGAN ILAHI

      27, 28. Siapakah Sumber bantuan terbesar bagi orang-tua apabila mereka menghadapi tantangan dalam membesarkan anak?

      27 Memang, melatih seorang anak sejak masa bayi merupakan tantangan, tetapi orang-tua yang beriman tidak perlu menghadapi tantangan itu sendirian. Pada zaman para Hakim dahulu, ketika seorang pria bernama Manoah mengetahui bahwa ia akan menjadi seorang ayah, ia meminta bimbingan Yehuwa untuk membesarkan anaknya. Yehuwa menjawab doanya.—Hakim 13:8, 12, 24.

      28 Dengan cara yang serupa dewasa ini, seraya orang-tua yang beriman membesarkan anak-anak, mereka juga dapat berbicara kepada Yehuwa dalam doa. Menjadi orang-tua berarti kerja keras, tetapi upahnya besar. Sepasang orang-tua Kristen di Hawaii mengatakan, ”Saudara memiliki waktu 12 tahun untuk menyelesaikan tugas saudara menjelang tahun-tahun remaja yang kritis tersebut. Namun jika saudara sudah bekerja keras untuk menerapkan prinsip-prinsip Alkitab, tibalah saatnya untuk menuai sukacita dan kedamaian pada waktu mereka memutuskan dari hati mereka untuk melayani Yehuwa.” (Amsal 23:15, 16) Pada waktu anak saudara membuat keputusan itu, saudara juga akan tergugah untuk berseru, ”Anak-anak lelaki [dan perempuan] adalah milik pusaka dari pada [Yehuwa].”

      a Diterbitkan oleh Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc.

      BAGAIMANA PRINSIP-PRINSIP ALKITAB INI MEMBANTU . . . ORANG-TUA UNTUK MELATIH ANAK MEREKA?

      Percaya kepada Yehuwa.—Amsal 3:5.

      Bertanggung jawab.—1 Timotius 5:8.

      Yehuwa adalah Bapak yang pengasih.—Amsal 8:22, 30.

      Orang-tua bertanggung jawab untuk mengajar anak-anak mereka.—Ulangan 6:6, 7.

      Disiplin dibutuhkan.—Efesus 6:4.

      DISIPLIN YANG EFEKTIF

      Salah satu bentuk disiplin yang berarti adalah membuat anak-anak merasakan sendiri akibat yang tidak menyenangkan dari perilaku yang salah. (Galatia 6:7; bandingkan Keluaran 34:6, 7.) Jika, misalnya, anak saudara membuat ruangan menjadi berantakan, akan sangat mengesankan dia apabila ia disuruh untuk membersihkannya sendiri. Apakah ia telah memperlakukan seseorang dengan tidak adil? Menyuruh dia meminta maaf dapat memperbaiki kecenderungan yang salah ini. Bentuk disiplin lainnya adalah mencabut beberapa hak istimewa untuk sementara waktu agar anak tersebut mengerti pelajaran yang dibutuhkan. Dengan cara ini, anak tersebut belajar tentang hikmat untuk berpaut kepada prinsip-prinsip yang benar.

  • Membantu Anak Remaja Saudara Berhasil
    Rahasia Kebahagiaan Keluarga
    • PASAL ENAM

      Membantu Anak Remaja Saudara Berhasil

      1, 2. Tantangan dan sukacita apa yang dapat didatangkan oleh usia remaja?

      MEMILIKI seorang remaja di dalam rumah sungguh berbeda dari memiliki seorang anak berusia lima tahun atau bahkan sepuluh tahun. Usia remaja mendatangkan tantangan dan problemnya sendiri, tetapi itu juga dapat mendatangkan sukacita dan berkat. Contoh-contoh seperti Yusuf, Daud, Yosia, dan Timotius memperlihatkan bahwa orang-orang muda dapat bertindak penuh tanggung jawab dan memiliki hubungan yang baik dengan Yehuwa. (Kejadian 37:2-11; 1 Samuel 16:11-13; 2 Raja 22:3-7; Kisah 16:1, 2) Banyak remaja dewasa ini membuktikan hal yang sama. Mungkin, saudara mengenal beberapa dari antara mereka.

      2 Namun bagi beberapa orang, usia remaja adalah masa penuh gejolak. Para remaja mengalami pasang surut secara emosi. Remaja putra dan putri bisa jadi ingin lebih independen, dan mereka bisa jadi tidak suka dengan batasan-batasan yang diberikan kepada mereka oleh orang-tua. Namun, anak-anak muda tersebut masih sangat tidak berpengalaman dan membutuhkan bantuan yang pengasih dan penuh kesabaran dari orang-tua mereka. Ya, usia remaja dapat menggembirakan, tetapi juga dapat membingungkan—bagi orang-tua maupun bagi remaja. Bagaimana kaum muda dapat dibantu selama usia ini?

      3. Bagaimana orang-tua dapat memberikan kesempatan yang baik dalam kehidupan kepada keturunan mereka yang masih remaja?

      3 Orang-tua yang mengikuti nasihat Alkitab memberikan kesempatan yang sebaik mungkin kepada keturunan mereka yang masih remaja untuk dapat dengan berhasil melampaui cobaan-cobaan tersebut sehingga menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab. Di semua negeri dan selama semua periode waktu, orang-tua dan remaja yang menerapkan prinsip-prinsip Alkitab bersama-sama telah diberkati dengan keberhasilan.—Mazmur 119:1.

      KOMUNIKASI YANG JUJUR DAN TERBUKA

      Picture on page 67

      Sediakan diri apabila anak remaja saudara perlu berbicara

      4. Mengapa pembicaraan konfidensial khususnya penting selama usia remaja?

      4 Alkitab mengatakan, ”Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan [”pembicaraan konfidensial”, NW].” (Amsal 15:22) Apabila pembicaraan konfidensial diperlukan pada waktu anak-anak masih kecil, hal ini khususnya penting selama usia belasan tahun—pada waktu anak-anak remaja kemungkinan lebih jarang berada di rumah dan lebih sering bersama teman-teman sekolah atau teman-teman bergaul lainnya. Jika tidak ada pembicaraan konfidensial—tidak ada komunikasi yang jujur dan terbuka antara anak-anak dan orang-tua—para remaja dapat menjadi orang-orang asing di dalam rumah. Jadi bagaimana jalur komunikasi bisa tetap terbuka?

      5. Bagaimana para remaja dianjurkan untuk memandang hal berkomunikasi dengan orang-tua mereka?

      5 Remaja maupun orang-tua harus memainkan bagian mereka dalam hal ini. Memang, para remaja bisa jadi merasa lebih sulit untuk berbicara dengan orang-tua mereka dibandingkan ketika mereka masih kecil. Meskipun demikian, ingatlah bahwa ”jikalau tidak ada pimpinan [”pengarahan yang terampil”, NW], jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada”. (Amsal 11:14) Kata-kata ini berlaku untuk semua, baik tua maupun muda. Kaum remaja yang menyadari hal ini akan mengerti bahwa mereka masih membutuhkan pengarahan yang terampil, karena mereka sedang menghadapi masalah-masalah yang lebih rumit daripada sebelumnya. Mereka hendaknya mengakui bahwa orang-tua mereka yang beriman memenuhi syarat sebagai penasihat karena mereka lebih berpengalaman dalam kehidupan dan telah terbukti memperhatikan mereka dengan penuh kasih selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, pada tahap ini dalam kehidupan mereka, remaja yang bijaksana tidak menjauhkan diri dari orang-tua mereka.

      6. Sikap apa yang akan dimiliki orang-tua yang pengasih dan bijaksana sehubungan berkomunikasi dengan anak remaja mereka?

      6 Komunikasi yang terbuka berarti bahwa orang-tua akan berupaya keras untuk menyediakan diri pada waktu sang remaja merasakan kebutuhan untuk berbicara. Jika saudara adalah orang-tua, pastikanlah bahwa komunikasi selalu terbuka setidaknya di pihak saudara. Ini bisa jadi tidak mudah. Alkitab mengatakan bahwa ada ”waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara”. (Pengkhotbah 3:7) Pada waktu anak remaja saudara merasa bahwa ini waktunya untuk berbicara, kemungkinan itu waktunya bagi saudara untuk berdiam diri. Barangkali saudara telah menyisihkan waktu tersebut untuk pelajaran pribadi, bersantai, atau bekerja di rumah. Namun, apabila anak remaja saudara ingin berbicara kepada saudara, cobalah untuk menyesuaikan rencana saudara dan dengarkanlah. Kalau tidak, ia mungkin tidak akan mencoba lagi. Ingatlah teladan Yesus. Pada suatu kesempatan, ia telah menjadwalkan waktu untuk bersantai. Tetapi ketika orang-orang datang berbondong-bondong untuk mendengar dia, dia menunda istirahatnya dan mulai mengajar mereka. (Markus 6:30-34) Sebagian besar remaja menyadari bahwa orang-tua mereka sibuk, tetapi mereka perlu diyakinkan kembali bahwa orang-tua mereka selalu siap apabila dibutuhkan. Karena itu, sediakanlah diri dan bersikap penuh pengertian.

      7. Apa yang perlu dihindari oleh orang-tua?

      7 Cobalah ingat seperti apa rasanya sewaktu saudara masih remaja, dan jangan kehilangan rasa humor! Orang-tua perlu menikmati waktu bersama-sama anak-anak mereka. Apabila tersedia waktu luang, bagaimana orang-tua menggunakannya? Jika mereka selalu ingin menggunakan waktu luang mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak melibatkan keluarga, anak-anak remaja mereka akan cepat memperhatikan. Jika remaja berkesimpulan bahwa teman-teman sekolah lebih menghargai mereka dibandingkan orang-tua, problem-problem akan timbul.

      APA YANG PERLU DIKOMUNIKASIKAN

      8. Bagaimana penghargaan akan kejujuran, kerja keras, dan tingkah laku yang patut dapat ditanamkan dalam diri anak-anak?

      8 Jika orang-tua belum menanamkan penghargaan akan kejujuran dan kerja keras kepada anak-anak mereka, mereka hendaknya sedapat mungkin melakukannya selama usia remaja. (1 Tesalonika 4:11; 2 Tesalonika 3:10) Sangat penting juga bagi mereka untuk memastikan bahwa anak-anak mereka dengan segenap hati percaya akan pentingnya menempuh kehidupan yang bermoral dan bersih. (Amsal 20:11) Orang-tua akan mengkomunikasikan banyak hal dalam bidang-bidang ini dengan memberi teladan. Sama seperti suami yang tidak beriman dapat ”dimenangkan tanpa perkataan melalui tingkah laku istri mereka”, demikian pula para remaja dapat mempelajari prinsip-prinsip yang benar melalui tingkah laku orang-tua mereka. (1 Petrus 3:1) Namun, teladan saja tidak akan pernah cukup, karena anak-anak juga dihadapkan kepada banyak contoh yang buruk dan banjir propaganda yang memikat di luar rumah. Oleh karena itu, orang-tua yang penuh perhatian perlu mengetahui pandangan anak-anak remaja mereka tentang apa yang mereka lihat dan dengar, dan ini menuntut adanya percakapan yang penuh arti.—Amsal 20:5.

      9, 10. Mengapa hendaknya orang-tua memastikan untuk mengajar anak-anak mereka tentang masalah seksual, dan bagaimana mereka dapat melakukan hal ini?

      9 Ini khususnya benar sehubungan masalah seksual. Orang-tua, apakah saudara malu untuk membicarakan seks dengan anak-anak saudara? Sekalipun demikian, berupayalah untuk melakukannya, karena anak-anak remaja saudara pasti akan mengetahuinya dari seseorang. Jika mereka tidak mengetahuinya dari saudara, entah keterangan yang salah apa yang akan mereka dapatkan. Dalam Alkitab, Yehuwa tidak menghindari hal-hal yang ada kaitannya dengan seks, demikian pula hendaknya orang-tua.—Amsal 4:1-4; 5:1-21.

      10 Syukurlah, Alkitab memuat bimbingan yang jelas dalam bidang tingkah laku seksual, dan Lembaga Menara Pengawal telah menerbitkan banyak keterangan yang berguna yang memperlihatkan bahwa bimbingan ini masih berlaku di dunia modern. Mengapa tidak memanfaatkan bantuan ini? Sebagai contoh, mengapa tidak meninjau bersama putra atau putri saudara pasal-pasal yang cocok di Jilid 1 dan 2 buku Pertanyaan Kaum Muda​—Jawaban yang Praktis? Saudara mungkin akan mendapat kejutan yang menggembirakan melihat hasilnya.

      11. Cara apa yang paling efektif bagi orang-tua untuk mengajar anak-anak mereka caranya melayani Yehuwa?

      11 Pokok apa yang paling penting yang hendaknya dibicarakan oleh orang-tua dan anak-anak? Rasul Paulus menyebutkannya ketika ia menulis, ”Teruslah besarkan [anak-anak saudara] dalam disiplin dan pengaturan-mental dari Yehuwa.” (Efesus 6:4) Anak-anak perlu terus belajar tentang Yehuwa. Khususnya, mereka perlu belajar mengasihi Dia, dan mereka hendaknya ingin melayani Dia. Dalam hal ini juga, banyak yang dapat diajarkan melalui teladan. Jika kaum remaja melihat bahwa orang-tua mereka mengasihi Allah ’dengan segenap hati mereka dan dengan segenap jiwa mereka dan dengan segenap pikiran mereka’ dan bahwa hal ini menghasilkan buah-buah yang baik dalam kehidupan orang-tua mereka, kemungkinan besar mereka akan dipengaruhi untuk melakukan yang sama. (Matius 22:37) Demikian pula, jika orang-orang muda melihat bahwa orang-tua mereka memiliki pandangan yang masuk akal tentang hal-hal materi, mendahulukan Kerajaan Allah, mereka akan dibantu untuk memperkembangkan sikap mental yang sama.—Pengkhotbah 7:12; Matius 6:31-33.

      Picture on page 69

      Pelajaran Alkitab yang tetap tentu penting untuk keluarga

      12, 13. Pokok-pokok apa yang hendaknya diingat agar pelajaran keluarga berhasil?

      12 Pelajaran Alkitab keluarga setiap minggu merupakan bantuan yang luar biasa dalam mengkomunikasikan nilai-nilai rohani kepada orang-orang muda. (Mazmur 119:33, 34; Amsal 4:20-23) Penting sekali untuk mengadakan pelajaran seperti itu secara tetap tentu. (Mazmur 1:1-3) Orang-tua dan anak-anak mereka hendaknya menyadari bahwa pelajaran keluarga harus diprioritaskan di atas kegiatan lain yang dijadwalkan, bukan sebaliknya. Selanjutnya, sikap yang benar penting agar pelajaran keluarga efektif. Seorang ayah mengatakan, ”Rahasianya adalah bahwa pemimpin perlu memperkembangkan suasana yang santai namun penuh hormat selama pelajaran keluarga—tidak resmi tetapi tidak main-main. Keseimbangan yang baik mungkin tidak selalu mudah dicapai, dan anak-anak muda perlu sering diperbaiki sikapnya. Jika pelajaran tidak berjalan lancar satu atau dua kali, bertekunlah dan nantikanlah pelajaran yang berikutnya.” Ayah yang disebutkan di atas juga mengatakan bahwa dalam doanya sebelum setiap pelajaran, ia secara spesifik memohonkan bantuan Yehuwa agar semua yang mengikuti pelajaran mempunyai sudut pandangan yang benar.—Mazmur 119:66.

      13 Memimpin pelajaran keluarga adalah tanggung jawab dari orang-tua yang beriman. Memang, ada orang-tua yang mungkin tidak berbakat mengajar, dan mungkin sulit bagi mereka untuk mencari cara agar pelajaran keluarga menjadi menarik. Meskipun demikian, jika saudara mengasihi anak-anak remaja saudara ”dengan perbuatan dan kebenaran”, saudara akan berkeinginan untuk dengan rendah hati dan jujur membantu mereka maju secara rohani. (1 Yohanes 3:18) Kadang-kadang mereka mungkin mengeluh, tetapi mereka pasti akan merasakan perhatian saudara yang dalam akan kesejahteraan mereka.

      14. Bagaimana Ulangan 11:18, 19 dapat diterapkan sewaktu menyampaikan hal-hal rohani kepada remaja?

      14 Pelajaran keluarga bukan satu-satunya kesempatan untuk mengkomunikasikan hal-hal yang penting secara rohani. Apakah saudara ingat perintah Yehuwa kepada orang-tua? Ia mengatakan, ”Kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ulangan 11:18, 19; lihat juga Ulangan 6:6, 7.) Ini tidak berarti orang-tua harus terus-menerus berkhotbah kepada anak-anak mereka. Tetapi kepala keluarga yang pengasih hendaknya selalu waspada akan kesempatan-kesempatan untuk membina pandangan rohani keluarganya.

      DISIPLIN DAN RESPEK

      15, 16. (a) Apakah disiplin itu? (b) Siapa yang bertanggung jawab untuk menjalankan disiplin, dan siapa yang bertanggung jawab untuk memastikan bahwa disiplin akan diindahkan?

      15 Disiplin adalah pelatihan yang memperbaiki, dan ini mencakup komunikasi. Disiplin lebih mengandung makna koreksi daripada hukuman—meskipun hukuman mungkin dibutuhkan. Anak-anak saudara membutuhkan disiplin ketika mereka masih kecil, dan kini setelah mereka remaja, mereka masih membutuhkan bentuk disiplin tertentu, mungkin bahkan lebih banyak. Remaja yang bijaksana mengetahui bahwa hal ini benar.

      16 Alkitab mengatakan, ”Orang bodoh menolak didikan ayahnya, tetapi siapa mengindahkan teguran adalah bijak.” (Amsal 15:5) Kita dapat belajar banyak dari ayat ini. Ayat ini menyiratkan bahwa disiplin akan diberikan. Seorang remaja tidak dapat ”mengindahkan teguran” jika itu tidak diberikan. Yehuwa memberikan tanggung jawab untuk menjalankan disiplin kepada orang-tua, khususnya ayah. Akan tetapi, remaja mempunyai tanggung jawab untuk mendengarkan disiplin itu. Ia akan lebih banyak belajar dan membuat lebih sedikit kesalahan apabila ia mengindahkan disiplin yang bijaksana dari ayah dan ibunya. (Amsal 1:8) Alkitab mengatakan, ”Kemiskinan dan cemooh menimpa orang yang mengabaikan didikan, tetapi siapa mengindahkan teguran, ia dihormati.”—Amsal 13:18.

      17. Keseimbangan apa yang perlu orang-tua jadikan tujuan pada waktu menjalankan disiplin?

      17 Pada waktu mendisiplin remaja, orang-tua perlu seimbang. Mereka tidak boleh terlalu keras sehingga membuat anak mereka kesal, bahkan mungkin menghancurkan kepercayaan diri anak-anak mereka. (Kolose 3:21) Namun orang-tua tidak bisa bersikap begitu serba boleh sehingga anak-anak mereka yang masih remaja kehilangan pelatihan yang sangat penting. Sikap serba boleh dapat mendatangkan bencana. Amsal 29:17 mengatakan, ”Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.” Akan tetapi, ayat 21 mengatakan, ”Siapa memanjakan hambanya sejak muda, akhirnya menjadikan dia keras kepala.” Walaupun ayat ini sedang berbicara tentang seorang hamba, ini juga berlaku untuk setiap anak yang masih remaja di dalam rumah tangga.

      18. Disiplin merupakan bukti dari hal apa, dan apa yang dihindari pada waktu orang-tua menjalankan disiplin yang konsisten?

      18 Sebenarnya, disiplin yang patut adalah bukti kasih orang-tua kepada anaknya. (Ibrani 12:6, 11) Jika saudara adalah orang-tua, saudara tahu bahwa adalah sulit untuk menjaga disiplin tetap konsisten dan masuk akal. Demi perdamaian, mungkin tampaknya lebih mudah untuk membiarkan seorang remaja yang keras kepala melakukan apa yang ia inginkan. Akan tetapi, pada akhirnya, orang-tua yang mengikuti haluan yang disebutkan belakangan ini akan menanggung akibatnya yaitu rumah tangga yang tidak dapat dikendalikan.—Amsal 29:15; Galatia 6:9.

      BEKERJA DAN BERMAIN

      19, 20. Bagaimana orang-tua dapat menangani dengan bijaksana masalah rekreasi bagi anak-anak remaja mereka?

      19 Di masa-masa terdahulu, anak-anak biasanya diharapkan untuk membantu di rumah atau di ladang. Dewasa ini, banyak remaja mempunyai banyak waktu luang yang tanpa pengawasan. Untuk mengisi waktu itu, dunia komersial menyediakan bahan hiburan yang berlimpah ruah untuk mengisi waktu luang. Ditambah kenyataan bahwa dunia ini hampir-hampir tidak menghargai standar-standar Alkitab berkenaan moralitas, dan saudara telah memiliki apa yang dibutuhkan untuk bencana.

      20 Karena itu, orang-tua yang bijaksana akan mempertahankan hak untuk membuat keputusan terakhir sehubungan hiburan. Namun, jangan lupa bahwa remaja tersebut bertambah besar. Setiap tahun, ia pasti berharap untuk diperlakukan lebih seperti orang dewasa. Jadi, adalah bijaksana apabila orang-tua memberikan lebih banyak kebebasan untuk memilih rekreasi seraya remaja tersebut bertambah besar—selama pilihan tersebut mencerminkan kemajuan ke arah kedewasaan rohani. Kadang-kadang, remaja mungkin membuat pilihan yang tidak bijaksana sehubungan dengan musik, teman bergaul, dan sebagainya. Apabila ini terjadi, hendaknya ini dibicarakan dengan remaja tersebut sehingga ia dapat membuat pilihan yang lebih baik di masa mendatang.

      21. Bagaimana jumlah waktu untuk rekreasi yang masuk akal akan melindungi seorang remaja?

      21 Berapa banyak waktu yang seharusnya disisihkan untuk rekreasi? Di beberapa negeri, para remaja dituntun sehingga berpikir bahwa mereka berhak untuk mendapatkan hiburan tanpa henti. Karena itu, seorang remaja mungkin merencanakan jadwalnya sehingga ia dapat berpindah dari satu hiburan ke hiburan lainnya. Terserah kepada orang-tua untuk menyampaikan pelajaran bahwa waktu hendaknya juga digunakan untuk hal-hal lain, seperti misalnya pelajaran pribadi dan keluarga, pergaulan bersama orang-orang yang matang secara rohani, perhimpunan Kristen, dan tugas-tugas rumah tangga. Hal ini akan mencegah ”kesenangan kehidupan ini” mendesak Firman Allah keluar.—Lukas 8:11-15.

      22. Rekreasi hendaknya diimbangi dengan apa dalam kehidupan seorang remaja?

      22 Raja Salomo mengatakan, ”Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka. Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.” (Pengkhotbah 3:12, 13) Ya, bersukaria adalah bagian dari hidup yang seimbang. Tetapi demikian pula dengan kerja keras. Banyak remaja dewasa ini tidak mengetahui kepuasan yang datang dari kerja keras atau perasaan harga diri yang datang karena memecahkan suatu problem dan menemukan jalan keluarnya. Beberapa tidak diberi kesempatan untuk memperkembangkan suatu keterampilan atau kecakapan yang dapat digunakan untuk menunjang diri mereka sendiri di kemudian hari. Ini benar-benar tantangan bagi orang-tua. Maukah saudara memastikan bahwa anak saudara yang masih muda mendapatkan kesempatan-kesempatan demikian? Jika saudara berhasil mengajar anak remaja saudara untuk menghargai dan bahkan menikmati kerja keras, ia akan memperkembangkan pandangan yang sehat yang akan mendatangkan manfaat seumur hidup.

      DARI REMAJA MENUJU DEWASA

      Picture on page 70

      Nyatakanlah kasih dan penghargaan kepada anak-anak saudara

      23. Bagaimana orang-tua dapat menganjurkan anak-anak remaja mereka?

      23 Bahkan ketika saudara menghadapi problem dengan anak remaja saudara, ayat ini tetap berlaku, ”Kasih tidak pernah berkesudahan”. (1 Korintus 13:8) Jangan pernah berhenti untuk memperlihatkan kasih yang tak diragukan saudara rasakan. Bertanyalah kepada diri saudara sendiri, ’Apakah saya memuji setiap anak atas keberhasilannya dalam memecahkan problem atau mengatasi rintangan? Apakah saya memanfaatkan kesempatan untuk menyatakan kasih dan penghargaan saya kepada anak-anak saya, sebelum kesempatan tersebut berlalu?’ Walaupun kesalahpahaman mungkin kadang-kadang terjadi, jika para remaja merasa yakin akan kasih saudara kepada mereka, kemungkinan besar mereka akan membalas kasih saudara.

      24. Prinsip Alkitab apa yang berlaku sebagai aturan umum dalam membesarkan anak, tetapi apa yang hendaknya diingat?

      24 Tentu saja, seraya anak-anak bertumbuh dewasa, mereka akhirnya akan membuat keputusan-keputusan yang serius bagi diri mereka sendiri. Dalam beberapa kasus, orang-tua mungkin tidak menyukai keputusan-keputusan itu. Bagaimana jika anak mereka memutuskan untuk tidak melayani Allah Yehuwa lagi? Ini dapat terjadi. Bahkan beberapa putra rohani Yehuwa sendiri menolak nasihat-Nya dan terbukti memberontak. (Kejadian 6:2; Yudas 6) Anak-anak bukan komputer, yang dapat diprogram untuk bertindak sebagaimana kita kehendaki. Mereka adalah makhluk dengan kehendak bebas, bertanggung jawab di hadapan Yehuwa untuk keputusan yang mereka ambil. Akan tetapi, Amsal 22:6 berlaku sebagai aturan umum, ”Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”

      25. Apa cara terbaik bagi orang-tua untuk memperlihatkan syukur kepada Yehuwa atas hak istimewa menjadi orang-tua?

      25 Jadi, perlihatkan kasih yang limpah kepada anak-anak saudara. Sedapat mungkin, ikutilah prinsip-prinsip Alkitab dalam membesarkan mereka. Berikanlah teladan berkenaan tingkah laku yang saleh. Dengan demikian saudara akan memberikan kepada anak-anak saudara kesempatan terbaik untuk bertumbuh menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan takut akan Allah. Inilah cara terbaik bagi orang-tua untuk memperlihatkan rasa syukur kepada Yehuwa atas hak istimewa menjadi orang-tua.

      BAGAIMANA PRINSIP-PRINSIP ALKITAB INI MEMBANTU . . . ORANG-TUA MEMBESARKAN ANAK REMAJA MEREKA?

      Komunikasi dibutuhkan.—Amsal 15:22.

      Kita hendaknya membahas Firman Allah secara tetap tentu.—Mazmur 1:1, 2.

      Orang yang bijak mendengarkan disiplin.—Amsal 15:5.

      Bekerja dan bermain, masing-masing ada tempatnya.—Pengkhotbah 3:12, 13.

  • Adakah Seorang Pemberontak di Rumah?
    Rahasia Kebahagiaan Keluarga
    • PASAL TUJUH

      Adakah Seorang Pemberontak di Rumah?

      Picture on page 76

      1, 2. (a) Perumpamaan apa yang Yesus berikan untuk menonjolkan ketidaksetiaan dari para pemimpin agama Yahudi? (b) Pokok apa tentang kaum remaja yang dapat kita pelajari dari perumpamaan Yesus?

      BEBERAPA hari sebelum kematiannya, Yesus mengajukan sebuah pertanyaan yang menggugah pikiran kepada sekelompok pemimpin agama Yahudi. Ia berkata, ”Bagaimana pendapatmu? Seorang pria mempunyai dua anak. Ketika menemui yang pertama, ia mengatakan, ’Nak, pergilah bekerja hari ini di kebun anggur.’ Sebagai jawaban, yang ini mengatakan, ’Baik, pak’, tetapi tidak pergi. Ketika menghampiri yang kedua, ia mengatakan yang sama. Sebagai jawaban, yang ini mengatakan, ’Aku tidak mau.’ Setelah itu dia merasa menyesal dan pergi. Yang mana dari antara keduanya yang melakukan kehendak bapaknya?” Para pemimpin Yahudi menjawab, ”Yang belakangan.”—Matius 21:28-31.

      2 Di sini Yesus sedang menonjolkan ketidaksetiaan dari para pemimpin Yahudi. Mereka seperti anak pertama, berjanji untuk melakukan kehendak Allah tetapi kemudian tidak menepati janji mereka. Tetapi banyak orang-tua akan mengakui bahwa perumpamaan Yesus tersebut didasarkan atas pemahaman yang baik tentang kehidupan keluarga. Sebagaimana diperlihatkan dengan baik oleh Yesus, sering kali sulit untuk mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh kaum muda atau meramalkan apa yang akan mereka lakukan. Seorang muda mungkin menimbulkan banyak problem ketika ia masih remaja tetapi kemudian bertumbuh menjadi seorang dewasa yang bertanggung jawab dan amat dihormati. Inilah yang harus diingat seraya kita membahas problem pemberontakan remaja.

      APA ARTINYA PEMBERONTAK?

      3. Mengapa hendaknya orang-tua tidak cepat-cepat mengecap anak mereka sebagai pemberontak?

      3 Dari waktu ke waktu, saudara mungkin mendengar tentang remaja-remaja yang terang-terangan memberontak melawan orang-tua mereka. Saudara mungkin bahkan mengenal secara pribadi suatu keluarga yang anak remajanya kelihatan mustahil dikendalikan. Akan tetapi, tidaklah selalu mudah untuk mengetahui apakah seorang anak benar-benar seorang pemberontak. Lagi pula, bisa sulit untuk dimengerti mengapa ada anak-anak yang memberontak dan yang lainnya—meskipun berasal dari rumah tangga yang sama—tidak. Apabila orang-tua mencurigai bahwa salah satu anak mereka dapat berkembang menjadi anak yang benar-benar memberontak, apa yang seharusnya mereka lakukan? Untuk menjawab hal ini, pertama-tama kita harus membahas apa artinya pemberontak.

      4-6. (a) Apa artinya pemberontak? (b) Apa yang hendaknya diingat oleh orang-tua jika anak remaja mereka kadang-kadang tidak taat?

      4 Secara sederhana, seorang pemberontak adalah seorang yang dengan sengaja dan terus-menerus tidak patuh atau melawan serta menantang wewenang yang lebih tinggi. Tentu saja, ’kebodohan melekat pada hati seorang anak’. (Amsal 22:15) Jadi semua anak pernah melawan wewenang orang-tua dan wewenang lain. Hal ini khususnya demikian selama masa perkembangan fisik dan emosi yang dikenal sebagai masa remaja. Perubahan dalam kehidupan setiap orang akan menciptakan stres, dan masa remaja adalah masa penuh perubahan. Anak remaja putra atau putri saudara sedang beralih dari masa kanak-kanak dan memasuki jalan menuju kedewasaan. Karena alasan ini, selama anak-anak pada usia remaja, ada orang-tua dan anak-anak yang sulit untuk bergaul serasi. Sering kali orang-tua secara naluri mencoba memperlambat masa transisi tersebut, sedangkan para remaja ingin mempercepatnya.

      5 Remaja yang memberontak menolak nilai-nilai dari orang-tuanya. Namun, ingatlah bahwa sedikit ketidaktaatan tidak mengartikan bahwa ia seorang pemberontak. Dan sehubungan dengan hal-hal rohani, beberapa anak mungkin pada mulanya kurang atau tidak menunjukkan minat akan kebenaran Alkitab, tetapi mereka mungkin bukan pemberontak. Sebagai orang-tua, jangan cepat-cepat mengecap anak saudara.

      6 Apakah usia remaja dari setiap orang muda dicirikan dengan pemberontakan melawan wewenang orang-tua? Tidak, sama sekali tidak. Sesungguhnya, bukti tampaknya menunjukkan bahwa hanya sedikit remaja yang melakukan pemberontakan remaja yang serius. Meskipun demikian, bagaimana dengan seorang anak yang dengan keras kepala terus memberontak? Apa yang dapat memicu pemberontakan demikian?

      PENYEBAB PEMBERONTAKAN

      7. Bagaimana lingkungan yang bejat dapat mempengaruhi seorang anak untuk memberontak?

      7 Penyebab utama pemberontakan adalah lingkungan dunia setan. ”Seluruh dunia terletak dalam kuasa si fasik”. (1 Yohanes 5:19) Dunia di bawah kekuasaan Setan telah membentuk suatu kebudayaan yang membahayakan dan orang Kristen harus berjuang menghadapinya. (Yohanes 17:15) Dewasa ini, banyak dari antara kebudayaan itu semakin kasar, semakin berbahaya, dan semakin dipenuhi pengaruh-pengaruh buruk dibandingkan waktu-waktu yang lalu. (2 Timotius 3:1-5, 13) Jika orang-tua tidak mendidik, memperingatkan, dan melindungi anak-anak mereka, kaum muda dapat dengan mudah dikuasai oleh ”roh yang sekarang bekerja dalam putra-putra ketidaktaatan”. (Efesus 2:2) Berkaitan dengan hal ini adalah tekanan teman sebaya. Alkitab mengatakan, ”Siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.” (Amsal 13:20) Demikian pula, siapa yang berteman dengan mereka yang dipenuhi roh dunia ini, kemungkinan besar akan dipengaruhi oleh roh tersebut. Kaum muda membutuhkan bantuan yang terus-menerus agar mereka mengerti bahwa ketaatan kepada prinsip-prinsip yang saleh adalah dasar dari jalan hidup yang paling baik.—Yesaya 48:17, 18.

      8. Faktor-faktor apa yang mungkin menuntun seorang anak untuk memberontak?

      8 Penyebab lain dari pemberontakan mungkin adalah suasana di dalam rumah. Sebagai contoh, jika salah satu dari orang-tua adalah alkoholis, suka menyalahgunakan obat bius, dan bengis terhadap orang-tua yang lain, pandangan remaja terhadap kehidupan dapat menyimpang. Bahkan dalam rumah yang relatif damai, pemberontakan dapat meledak jika seorang anak merasa bahwa orang-tuanya tidak berminat kepadanya. Akan tetapi, pemberontakan remaja tidak selalu disebabkan oleh pengaruh-pengaruh luar. Beberapa anak menolak nilai-nilai dari orang-tua sekalipun mereka memiliki orang-tua yang menerapkan prinsip-prinsip ilahi dan yang banyak melindungi mereka dari dunia di sekeliling mereka. Mengapa? Barangkali karena akar lain dari problem-problem kita—ketidaksempurnaan manusia. Paulus mengatakan, ”Melalui satu orang [Adam] dosa masuk ke dalam dunia dan kematian melalui dosa, dan demikianlah kematian menyebar kepada semua orang karena mereka semua telah melakukan dosa.” (Roma 5:12) Adam adalah seorang pemberontak yang mementingkan diri, dan ia meninggalkan warisan yang buruk kepada semua keturunannya. Orang-orang muda tertentu memang memilih untuk memberontak, seperti dilakukan bapak leluhur mereka.

      ELI YANG SERBA BOLEH DAN REHABEAM YANG SUKA MENGEKANG

      9. Sikap-sikap ekstrem apa dalam membesarkan anak dapat memicu seorang anak untuk memberontak?

      9 Hal lain yang menuntun ke arah pemberontakan remaja adalah pandangan yang tidak seimbang di pihak orang-tua sehubungan membesarkan anak. (Kolose 3:21) Beberapa orang-tua yang sangat berhati-hati dengan keras mengekang dan mendisiplin anak-anak mereka. Orang-tua lain bersikap serba boleh, tidak menyediakan bimbingan yang akan melindungi anak-anak remaja mereka yang belum berpengalaman. Tidaklah selalu mudah untuk mencari keseimbangan antara dua ekstrem ini. Dan tiap-tiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Yang satu mungkin lebih memerlukan pengawasan daripada yang lain. Akan tetapi, dua contoh Alkitab akan bermanfaat untuk memperlihatkan bahaya-bahaya dari bersikap ekstrem dalam hal suka mengekang ataupun bersikap serba boleh.

      10. Mengapa Eli adalah orang-tua yang buruk, walaupun ia kemungkinan besar adalah seorang imam besar yang setia?

      10 Eli, seorang imam besar dari Israel purba adalah seorang ayah. Ia melayani selama 40 tahun, dan tidak diragukan mengenal baik Hukum Allah. Eli tampaknya melaksanakan tugas-tugas rutin keimamannya dengan cukup setia dan mungkin bahkan telah dengan saksama mengajarkan Hukum Allah kepada putra-putranya, Hofni dan Pinehas. Akan tetapi, Eli terlalu lunak terhadap anak-anaknya. Hofni dan Pinehas melayani sebagai imam-imam yang bertugas, tetapi mereka adalah ”orang-orang dursila”, yang hanya berminat untuk memuaskan nafsu makan mereka dan keinginan mereka yang amoral. Namun, pada waktu mereka melakukan tindakan yang tercela di tanah suci, Eli tidak memiliki keberanian untuk memecat mereka dari jabatan keimaman. Ia hanya memberi mereka teguran yang lemah. Dengan sikapnya yang serba boleh, Eli lebih menghormati putra-putranya daripada Allah. Sebagai akibatnya, putra-putranya memberontak terhadap ibadat Yehuwa yang bersih dan seluruh rumah tangga Eli mengalami malapetaka.—1 Samuel 2:12-17, 22-25, 29; 3:13, 14; 4:11-22.

      11. Apa yang dapat orang-tua pelajari dari contoh yang salah dari Eli?

      11 Anak-anak Eli telah dewasa ketika peristiwa-peristiwa ini terjadi, tetapi sejarah ini menandaskan bahayanya menahan disiplin. (Bandingkan Amsal 29:21.) Beberapa orang-tua mungkin mengacaukan kasih dengan sikap serba boleh, lalai untuk menetapkan dan menjalankan peraturan yang jelas, konsisten dan masuk akal. Mereka gagal untuk menjalankan disiplin yang pengasih, bahkan pada waktu prinsip-prinsip ilahi dilanggar. Karena sikap serba boleh demikian, anak-anak mereka akhirnya tidak menaruh perhatian kepada wewenang orang-tua atau jenis wewenang lain mana pun.—Bandingkan Pengkhotbah 8:11.

      12. Kesalahan apa yang Rehabeam buat dalam menjalankan wewenang?

      12 Rehabeam memberi contoh tentang ekstrem yang lain sehubungan memegang wewenang. Ia adalah raja terakhir dari kerajaan Israel yang bersatu, tetapi ia bukan raja yang baik. Rehabeam telah mewarisi suatu negeri yang penduduknya merasa tidak puas karena beban yang dikenakan kepada mereka oleh ayahnya, Salomo. Apakah Rehabeam memperlihatkan pengertian? Tidak. Pada waktu suatu delegasi memohon kepadanya untuk menyingkirkan sebagian beban yang menekan, ia tidak mengindahkan nasihat yang bijaksana dari para penasihatnya yang lebih tua dan memerintahkan agar kuk dari orang-orang itu diperberat. Kepongahannya menyulut pemberontakan oleh sepuluh suku di sebelah utara, dan kerajaan itu terbagi menjadi dua.—1 Raja 12:1-21; 2 Tawarikh 10:19.

      13. Bagaimana orang-tua dapat menghindari kesalahan Rehabeam?

      13 Orang-tua dapat memperoleh beberapa pelajaran penting dari kisah Alkitab tentang Rehabeam. Mereka perlu ’mencari [Yehuwa]’ dalam doa dan memeriksa metode mereka dalam membesarkan anak dengan mengingat prinsip-prinsip Alkitab. (Mazmur 105:4) ”Pemerasan membodohkan orang berhikmat,” kata Pengkhotbah 7:7. Batasan-batasan yang dipikirkan dengan baik akan memberi para remaja ruang untuk bertumbuh sekaligus melindungi mereka dari bahaya. Tetapi anak-anak hendaknya tidak hidup dalam suasana yang terlalu kaku dan mengekang sehingga mereka tidak dapat memperkembangkan kemandirian dan rasa percaya diri yang masuk akal. Apabila orang-tua berupaya seimbang antara memberi keleluasaan yang adil dan batasan yang tegas yang ditetapkan dengan jelas, kebanyakan remaja tidak akan cenderung memberontak.

      MEMENUHI KEBUTUHAN DASAR DAPAT MENCEGAH PEMBERONTAKAN

      Picture on page 83

      Kemungkinan, anak-anak akan bertumbuh menjadi lebih stabil jika orang-tua membantu untuk mengatasi problem-problem remaja mereka

      14, 15. Bagaimana orang-tua hendaknya memandang perkembangan anak mereka?

      14 Walaupun orang-tua berbahagia melihat anak-anak mereka bertumbuh secara fisik dari bayi menjadi seorang dewasa, mereka bisa jadi merasa cemas ketika anak remaja mereka beralih dari kebergantungan kepada kemandirian yang patut. Selama masa transisi ini, jangan heran jika anak remaja saudara kadang-kadang agak keras kepala dan tidak dapat diajak bekerja sama. Ingatlah bahwa tujuan dari orang-tua Kristen hendaknya adalah membesarkan seorang Kristen yang matang, stabil, dan bertanggung jawab.—Bandingkan 1 Korintus 13:11; Efesus 4:13, 14.

      15 Walaupun mungkin sulit, orang-tua perlu membuang kebiasaan untuk menanggapi dengan negatif permintaan apa pun dari anak remaja mereka untuk mendapatkan lebih banyak kebebasan. Dengan cara yang sehat, seorang anak perlu tumbuh menjadi seorang pribadi. Sebenarnya, pada usia yang relatif muda, ada remaja yang mulai memperkembangkan pandangan yang cukup dewasa. Sebagai contoh, Alkitab mengatakan tentang Raja Yosia yang masih muda, ”Ketika ia masih muda belia [kira-kira berusia 15 tahun], ia mulai mencari Allah Daud”. Jelaslah remaja yang luar biasa ini adalah seorang pribadi yang bertanggung jawab.—2 Tawarikh 34:1-3.

      16. Seraya anak-anak diberi tanggung jawab yang bertambah, apa yang hendaknya mereka sadari?

      16 Akan tetapi, kebebasan menuntut tanggung jawab. Oleh karena itu, biarkan anak saudara yang sedang beranjak dewasa mengalami akibat dari beberapa keputusan dan tindakannya. Prinsip ”apa pun yang ditabur orang, ini juga yang akan dituainya”, berlaku bagi remaja sebagaimana bagi orang dewasa. (Galatia 6:7) Anak-anak tidak dapat dilindungi selamanya. Tetapi, bagaimana jika anak saudara ingin melakukan sesuatu yang sama sekali tidak dapat diterima? Sebagai orang-tua yang bertanggung jawab, saudara harus mengatakan, ”Tidak.” Dan, seraya saudara menjelaskan alasan-alasannya, jangan sampai jawaban tidak saudara berubah menjadi ya. (Bandingkan Matius 5:37.) Meskipun demikian, cobalah untuk mengatakan ”Tidak” dengan cara yang tenang dan masuk akal, karena ”jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman”.—Amsal 15:1.

      17. Apa beberapa kebutuhan remaja yang hendak dipenuhi oleh orang-tua?

      17 Kaum muda membutuhkan keamanan dari disiplin yang konsisten meskipun mereka tidak selalu mudah menyetujui batasan dan peraturan. Sungguh menjengkelkan apabila peraturan sering berubah-ubah, tergantung bagaimana perasaan orang-tua pada waktu itu. Selanjutnya, jika para remaja menerima anjuran dan bantuan, sebagaimana dibutuhkan, untuk mengatasi perasaan malu, atau kurang rasa percaya diri, kemungkinan mereka akan bertumbuh menjadi orang yang lebih stabil. Para remaja juga menghargai apabila mereka mendapatkan kepercayaan yang telah mereka upayakan.—Bandingkan Yesaya 35:3, 4; Lukas 16:10; 19:17.

      18. Apa beberapa kebenaran yang menganjurkan tentang kaum remaja?

      18 Orang-tua dapat terhibur dengan mengetahui bahwa apabila perdamaian, kestabilan, dan kasih ada di dalam rumah tangga, anak-anak biasanya bertumbuh dengan baik. (Efesus 4:31, 32; Yakobus 3:17, 18) Banyak anak muda telah berhasil mengatasi bahkan lingkungan rumah yang buruk, berasal dari keluarga yang bercirikan alkoholisme, kekerasan, atau pengaruh lain yang membahayakan, dan telah bertumbuh menjadi seorang dewasa yang baik. Jadi, jika saudara menyediakan suatu rumah tempat anak-anak remaja saudara merasa aman dan tahu bahwa mereka akan menerima kasih, rasa sayang, dan perhatian—sekalipun dukungan tersebut disertai batasan-batasan dan disiplin yang masuk akal selaras dengan prinsip-prinsip Alkitab—kemungkinan besar mereka akan bertumbuh menjadi orang dewasa yang akan membuat saudara merasa bangga.—Bandingkan Amsal 27:11.

      JIKA ANAK-ANAK MENDAPAT KESULITAN

      19. Sementara orang-tua harus mendidik seorang muda di jalan yang patut baginya, tanggung jawab apa yang ada pada sang anak?

      19 Membesarkan anak dengan baik pasti menghasilkan perbedaan. Amsal 22:6 mengatakan, ”Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Tetapi, bagaimana dengan anak-anak yang memiliki problem yang serius walaupun mereka mempunyai orang-tua yang baik? Apakah ini mungkin? Ya. Kata-kata amsal ini harus dimengerti dengan mempertimbangkan ayat-ayat lain yang menekankan tanggung jawab si anak untuk ’mendengarkan’ dan menaati orang-tua. (Amsal 1:8) Orang-tua maupun anak harus bekerja sama untuk menerapkan prinsip-prinsip Alkitab agar ada keharmonisan keluarga. Jika orang-tua dan anak-anak tidak bekerja sama, kesulitan akan timbul.

      20. Apabila anak-anak melakukan kesalahan karena kurang berpikir panjang, apa yang akan menjadi pendekatan yang bijaksana dari orang-tua?

      20 Bagaimana seharusnya reaksi orang-tua apabila seorang remaja melakukan kesalahan dan mendapat kesulitan? Maka, dalam hal ini, anak muda tersebut membutuhkan bantuan. Jika orang-tua mengingat bahwa mereka berurusan dengan anak muda yang belum berpengalaman, mereka akan lebih mudah melawan kecenderungan untuk memberi reaksi yang berlebihan. Paulus menasihati mereka yang matang dalam sidang, ”Meskipun seseorang mengambil langkah tertentu yang salah sebelum ia menyadarinya, kamu yang memiliki kecakapan rohani cobalah memperbaiki kembali orang yang demikian dengan roh kelemahlembutan.” (Galatia 6:1) Orang-tua dapat mengikuti prosedur yang sama ini sewaktu berurusan dengan seorang muda yang melakukan kesalahan karena kurang berpikir panjang. Seraya menjelaskan dengan gamblang mengapa tingkah lakunya salah dan bagaimana ia dapat mencegah agar kesalahan itu tidak terulang, orang-tua hendaknya menegaskan bahwa yang buruk adalah tingkah laku yang salah, bukan orang muda itu.—Bandingkan Yudas 22, 23.

      21. Dengan mengikuti contoh dari sidang Kristen, bagaimana orang-tua seharusnya memberikan reaksi jika anak mereka melakukan dosa yang serius?

      21 Bagaimana jika kenakalan remaja tersebut benar-benar serius? Kalau begitu, anak tersebut membutuhkan bantuan khusus dan pengarahan yang terampil. Apabila seorang anggota sidang melakukan dosa yang serius, ia dianjurkan untuk bertobat dan mendekati para penatua untuk meminta bantuan. (Yakobus 5:14-16) Jika ia bertobat, maka para penatua akan bekerja sama dengan dia untuk memulihkan dirinya secara rohani. Dalam keluarga, tanggung jawab untuk membantu remaja yang bersalah ada pada orang-tua, meskipun mereka mungkin perlu membicarakan masalahnya dengan para penatua. Mereka tentunya jangan berupaya menutup-nutupi dosa serius apa pun yang dilakukan oleh salah seorang anak mereka dari badan penatua.

      22. Dengan meniru Yehuwa, sikap apa yang akan diupayakan untuk dipelihara oleh orang-tua jika anak mereka melakukan kesalahan yang serius?

      22 Suatu problem serius yang melibatkan anak-anak sendiri sangatlah menyusahkan. Karena kebingungan secara emosi, orang-tua mungkin merasa ingin dengan marah mengancam anaknya yang suka melawan; tetapi ini hanya akan membuatnya sakit hati. Ingatlah bahwa masa depan anak muda ini dapat bergantung pada cara ia diperlakukan selama masa yang kritis ini. Ingat juga, bahwa Yehuwa suka mengampuni apabila umat-Nya menyimpang dari apa yang benar—kalau saja mereka mau bertobat. Dengarkan kata-kata-Nya yang penuh kasih, ”Marilah, baiklah kita berperkara!—firman [Yehuwa]—Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yesaya 1:18) Benar-benar teladan yang baik bagi para orang-tua!

      23. Jika menghadapi suatu dosa serius yang dilakukan oleh salah seorang anak mereka, bagaimana hendaknya orang-tua bertindak, dan apa yang hendaknya mereka hindari?

      23 Jadi, cobalah untuk menganjurkan anak yang suka melawan itu untuk mengubah haluannya. Mintalah saran-saran yang baik dari orang-tua yang berpengalaman dan para penatua sidang. (Amsal 11:14) Berupayalah untuk tidak bertindak tanpa pikir dan mengatakan atau melakukan hal-hal yang akan menyulitkan anak saudara untuk kembali kepada saudara. Hindari kemarahan yang tidak terkendali dan kepahitan. (Kolose 3:8) Jangan cepat menyerah. (1 Korintus 13:4, 7) Walaupun membenci yang jahat, janganlah menjadi keras dan sakit hati terhadap anak saudara. Yang paling penting, orang-tua hendaknya berjuang untuk memberikan teladan dan menjaga iman mereka kepada Allah tetap kuat.

      MENANGANI ANAK YANG BERTEKAD UNTUK MEMBERONTAK

      24. Keadaan yang menyedihkan apa yang kadang-kadang timbul dalam sebuah keluarga Kristen, dan bagaimana hendaknya tanggapan orang-tua?

      24 Dalam beberapa kasus, menjadi jelas bahwa seorang muda telah membuat keputusan yang pasti untuk memberontak dan sama sekali menolak nilai-nilai Kristen. Maka perhatian hendaknya dialihkan untuk memelihara atau membina kehidupan keluarga bagi anak-anak yang lain. Waspadalah agar saudara tidak mengerahkan seluruh tenaga saudara kepada si pemberontak, sehingga anak-anak lain terabaikan. Sebaliknya daripada menyembunyikan masalah tersebut dari anggota keluarga yang lain, bicarakanlah masalahnya dengan mereka sampai tingkat yang sepatutnya dan dengan cara yang menenteramkan hati.—Bandingkan Amsal 20:18.

      25. (a) Dengan mengikuti pola sidang Kristen, apa yang mungkin harus orang-tua lakukan selanjutnya jika seorang anak bertekad menjadi pemberontak? (b) Apa yang hendaknya diingat oleh orang-tua jika salah seorang anak mereka memberontak?

      25 Rasul Yohanes mengatakan tentang seseorang yang menjadi pemberontak yang tidak dapat diperbaiki di dalam sidang, ”Jangan sekali-kali menerima dia ke dalam rumahmu atau mengatakan salam kepadanya.” (2 Yohanes 10) Orang-tua mungkin merasa perlu untuk mengambil tindakan serupa terhadap anak mereka sendiri jika ia sudah tidak di bawah umur dan benar-benar memberontak. Walaupun tindakan tersebut dapat sangat sulit dan menyakitkan, kadang-kadang hal itu perlu untuk melindungi anggota keluarga yang lain. Rumah tangga saudara membutuhkan perlindungan dan pengawasan yang terus-menerus dari saudara. Jadi, teruslah memelihara batas-batas tingkah laku yang dinyatakan dengan jelas, namun yang masuk akal. Berkomunikasilah dengan anak-anak yang lain. Perlihatkanlah minat terhadap apa yang mereka lakukan di sekolah dan di sidang. Juga, beri tahu mereka bahwa walaupun saudara tidak menyetujui tindakan yang memberontak dari anak itu, saudara tidak membenci dia. Kutuki tindakan yang buruk itu sebaliknya daripada sang anak. Pada waktu dua putra Yakub menyebabkan keluarga mereka dikucilkan karena perbuatan mereka yang kejam, Yakub mengutuk kemarahan mereka yang bengis, tetapi tidak mengutuk putra-putranya sendiri.—Kejadian 34:1-31; 49:5-7.

      26. Orang-tua yang bersungguh-sungguh bisa mendapatkan penghiburan apa jika salah seorang anak mereka memberontak?

      26 Saudara mungkin merasa bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi dalam keluarga saudara. Tetapi jika saudara telah dengan sungguh-sungguh melakukan sebisa-bisanya, dengan mengikuti nasihat Yehuwa sebaik mungkin, saudara tidak perlu mempersalahkan diri sendiri secara tidak masuk akal. Semoga saudara merasa terhibur dengan kenyataan bahwa tidak seorang pun dapat menjadi orang-tua yang sempurna, tetapi saudara telah dengan sungguh-sungguh berupaya untuk menjadi orang-tua yang baik. (Bandingkan Kisah 20:26.) Adanya anggota keluarga yang benar-benar memberontak amat menyakitkan hati, tetapi jika hal itu terjadi pada saudara, yakinlah bahwa Allah menaruh pengertian dan Ia tidak akan pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya yang berbakti. (Mazmur 27:10) Maka bertekadlah untuk tetap menjadikan rumah saudara tempat berlabuh rohani yang aman bagi anak-anak yang lain.

      27. Dengan mengingat perumpamaan tentang putra yang boros, apa yang selalu dapat diharapkan oleh orang-tua dari anak yang memberontak?

      27 Lagi pula, saudara jangan pernah melepaskan harapan. Upaya saudara sebelumnya untuk memberikan pelatihan yang baik mungkin pada akhirnya mempengaruhi hati dari anak yang menyimpang itu dan membuatnya kembali berpikiran sehat. (Pengkhotbah 11:6) Sejumlah keluarga Kristen telah mengalami hal yang sama seperti saudara, dan beberapa melihat anak-anak mereka yang suka melawan akhirnya kembali, mirip seperti ayah dalam perumpamaan Yesus tentang putra yang boros. (Lukas 15:11-32) Hal yang sama dapat terjadi pada diri saudara.

      BAGAIMANA PRINSIP-PRINSIP ALKITAB INI MEMBANTU . . . ORANG-TUA UNTUK MENCEGAH PEMBERONTAKAN YANG SERIUS DI DALAM RUMAH TANGGA?

      Tanpa bantuan, seorang anak dapat dirusak oleh roh dunia.—Amsal 13:20; Efesus 2:2.

      Orang-tua perlu mencari keseimbangan antara sikap suka mengekang dan sikap serba boleh.—Pengkhotbah 7:7; 8:11.

      Tingkah laku yang salah harus ditindak, tetapi dengan roh yang lemah lembut.—Galatia 6:1.

      Mereka yang melakukan dosa serius dapat ”disembuhkan” jika mereka bertobat dan menerima bantuan.—Yakobus 5:14-16.

      UTARAKANLAH

      Para remaja akan mengalami keraguan dan kekhawatiran sehubungan dengan kebebasan yang bertambah. Mereka mungkin merasa sedikit bimbang sehubungan dengan kemampuan mereka untuk membawakan diri di dunia. Halnya seolah-olah mereka sedang mencoba untuk berjalan di jalan yang licin. Kalian orang-orang muda, utarakanlah kepada orang-tua kalian tentang rasa takut dan kekhawatiran yang kalian rasakan. (Amsal 23:22) Atau jika kalian merasa bahwa orang-tua kalian terlalu mengekang, bicarakanlah dengan mereka tentang perlunya kalian diberi lebih banyak kebebasan. Buatlah rencana untuk berbicara dengan mereka pada saat kalian sedang santai dan mereka tidak sibuk. (Amsal 15:23) Sediakanlah waktu untuk benar-benar mendengarkan kepada satu sama lain.

  • Lindungi Keluarga Saudara terhadap Pengaruh yang Merusak
    Rahasia Kebahagiaan Keluarga
    • PASAL DELAPAN

      Lindungi Keluarga Saudara terhadap Pengaruh yang Merusak

      Picture on page 91

      1-3. (a) Dari sumber-sumber mana pengaruh-pengaruh merusak yang mengancam keluarga datang? (b) Keseimbangan apa yang dibutuhkan orang-tua untuk melindungi keluarga mereka?

      SAUDARA menyuruh putra saudara yang masih kecil untuk berangkat ke sekolah, dan saat itu hujan deras. Bagaimana saudara mengatasi keadaan ini? Apakah saudara akan membiarkan dia pergi berlari-lari ke luar tanpa payung dan jas hujan? Atau, apakah saudara akan mengenakan padanya berlapis-lapis baju pelindung sehingga dia sulit bergerak? Tentu saja, tidak kedua-duanya. Saudara akan memberi dia hanya apa yang dibutuhkan agar tetap kering.

      2 Demikian pula, orang-tua harus menemukan cara yang seimbang untuk melindungi keluarga mereka terhadap pengaruh merusak yang menghujani mereka dari banyak sumber—industri hiburan, media massa, teman sebaya, dan kadang-kadang bahkan sekolah. Beberapa orang-tua kurang atau tidak melakukan apa-apa untuk melindungi keluarga mereka. Yang lainnya, karena menganggap hampir semua pengaruh luar membahayakan, bersikap terlalu membatasi sehingga anak-anak merasa seperti tercekik. Apakah mungkin untuk berlaku seimbang?

      3 Ya. Bersikap ekstrem tidak efektif dan dapat mengundang bencana. (Pengkhotbah 7:16, 17) Tetapi bagaimana orang-tua Kristen dapat menemukan keseimbangan yang tepat dalam melindungi keluarga mereka? Pertimbangkan tiga bidang: pendidikan, pergaulan, dan rekreasi.

      SIAPA YANG AKAN MENGAJAR ANAK-ANAK SAUDARA?

      4. Bagaimana hendaknya orang-tua Kristen memandang pendidikan?

      4 Orang-tua Kristen sangat menghargai pendidikan. Mereka tahu bahwa pendidikan di sekolah membantu anak-anak untuk membaca, menulis, berkomunikasi, dan juga memecahkan berbagai problem. Ini juga akan mengajar mereka caranya belajar. Keterampilan yang diperoleh anak-anak di sekolah dapat membantu mereka berhasil meskipun banyaknya tantangan dari dunia dewasa ini. Selain itu, pendidikan yang baik dapat membantu mereka melakukan pekerjaan yang lebih baik.—Amsal 22:29.

      5, 6. Bagaimana anak-anak di sekolah dapat dihadapkan kepada keterangan yang salah tentang masalah seksual?

      5 Akan tetapi, sekolah juga membuat anak-anak berkumpul dengan anak-anak lain—yang banyak di antaranya memiliki pandangan yang menyimpang. Sebagai contoh, pertimbangkan pandangan mereka tentang seks dan moral. Di sebuah sekolah menengah di Nigeria, seorang gadis yang melakukan promiskuitas seksual sering memberikan nasihat kepada teman-teman sekolahnya tentang seks. Mereka mendengarkan dia dengan penuh perhatian, sekalipun gagasannya penuh dengan omong kosong yang dia kumpulkan dari bacaan-bacaan porno. Beberapa gadis bereksperimen dengan nasihatnya. Sebagai akibatnya, seorang gadis hamil di luar nikah dan meninggal karena aborsi yang dicobanya sendiri.

      6 Yang menyedihkan, beberapa keterangan salah yang diterima di sekolah tentang seks tidak berasal dari anak-anak, tetapi dari para guru. Banyak orang-tua merasa cemas jika sekolah mengajarkan seks kepada anak-anak tanpa memberikan keterangan tentang standar-standar serta tanggung jawab moral. Seorang ibu dari gadis berusia 12 tahun mengatakan, ”Kami hidup di sebuah daerah yang sangat religius dan konservatif, namun justru di sekolah menengah setempat, mereka membagikan kondom kepada anak-anak!” Ia dan suaminya menjadi prihatin ketika mengetahui bahwa putri mereka sering mendapat ajakan dari anak-anak lelaki seusianya untuk mengadakan hubungan seksual. Bagaimana orang-tua dapat melindungi keluarga mereka terhadap pengaruh yang salah demikian?

      7. Apa cara yang paling baik untuk menghadapi keterangan yang salah tentang seks?

      7 Apakah yang terbaik adalah sama sekali tidak menyinggung masalah seksual kepada anak-anak? Tidak. Lebih baik saudara sendiri yang mengajar anak-anak saudara tentang seks. (Amsal 5:1) Memang, di beberapa bagian dari Eropa dan Amerika Utara, banyak orang-tua yang menghindari pokok ini. Demikian pula di beberapa negeri di Afrika, orang-tua jarang membicarakan seks dengan anak-anak mereka. ”Bukanlah bagian dari kebudayaan Afrika untuk membicarakannya,” kata seorang ayah di Sierra Leone. Beberapa orang-tua merasa bahwa mengajar anak-anak tentang seks sama dengan memberi mereka gagasan yang menyebabkan mereka melakukan perbuatan amoral! Tetapi bagaimana pandangan Allah?

      PANDANGAN ALLAH TENTANG SEKS

      8, 9. Keterangan bagus apa tentang masalah seksual terdapat dalam Alkitab?

      8 Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa membicarakan seks dalam konteks yang sepatutnya sama sekali bukan hal yang memalukan. Di Israel, umat Allah diperintahkan untuk berkumpul bersama, termasuk ”anak-anak” mereka, untuk mendengarkan Hukum Musa yang dibacakan dengan suara keras. (Ulangan 31:10-12; Yosua 8:35) Hukum dengan terus terang menyebutkan sejumlah masalah seksual, termasuk haid, keluarnya air mani, percabulan, perzinaan, homoseksualitas, inses, dan bestialitas (persetubuhan dengan binatang). (Imamat 15:16, 19; 18:6, 22, 23; Ulangan 22:22) Setelah pembacaan tersebut, pasti ada banyak yang harus orang-tua jelaskan kepada anak-anak mereka yang memiliki rasa ingin tahu.

      9 Di Amsal pasal lima, enam, dan tujuh terdapat ayat-ayat yang menyampaikan nasihat orang-tua yang pengasih tentang bahayanya perbuatan seksual yang amoral. Ayat-ayat ini memperlihatkan bahwa perbuatan yang amoral kadang-kadang bisa menggiurkan. (Amsal 5:3; 6:24, 25; 7:14-21) Tetapi ayat-ayat tersebut mengajarkan bahwa hal itu adalah salah dan mengakibatkan bencana, dan bimbingan ditawarkan untuk membantu kaum muda menghindari jalan yang amoral. (Amsal 5:1-14, 21-23; 6:27-35; 7:22-27) Selanjutnya, perbuatan amoral dikontraskan dengan pemuasan kesenangan seksual pada tempatnya yang patut, di dalam perkawinan. (Amsal 5:15-20) Benar-benar contoh mengajar yang bagus untuk diikuti oleh orang-tua!

      10. Mengapa memberikan pengetahuan yang saleh tentang seks kepada anak-anak tidak akan mengarahkan mereka untuk melakukan perbuatan amoral?

      10 Apakah pengajaran demikian mengarahkan anak-anak untuk melakukan perbuatan amoral? Sebaliknya, Alkitab mengajarkan, ”Orang benar diselamatkan oleh pengetahuan.” (Amsal 11:9) Tidakkah saudara ingin menyelamatkan anak-anak saudara dari pengaruh dunia ini? Seorang ayah mengatakan, ”Sudah sejak anak-anak masih sangat kecil, kami telah berupaya untuk sepenuhnya terbuka kepada mereka sehubungan dengan seks. Dengan demikian, pada waktu mereka mendengar anak-anak lain berbicara tentang seks, mereka tidak penasaran. Bukan rahasia besar lagi.”

      11. Bagaimana anak-anak dapat secara progresif diajar tentang hal-hal yang bersifat pribadi dalam kehidupan?

      11 Sebagaimana ditunjukkan di pasal-pasal sebelumnya, pendidikan seks hendaknya dimulai sejak dini. Pada waktu mengajar anak-anak kecil untuk menyebutkan nama bagian-bagian tubuh, jangan melewatkan bagian tubuh mereka yang bersifat pribadi seolah-olah ini sesuatu yang memalukan. Ajarkan mereka nama yang pantas untuk bagian-bagian ini. Seraya waktu berlalu, pelajaran tentang keleluasaan pribadi (privacy) dan batasan-batasan sangat diperlukan. Lebih baik kedua orang-tua yang mengajarkan kepada anak-anak bahwa bagian-bagian tubuh ini istimewa, umumnya tidak boleh disentuh oleh atau diperlihatkan kepada orang lain, dan jangan pernah dibicarakan dengan cara yang buruk. Seraya anak-anak bertambah besar, mereka hendaknya diberi tahu mengenai bagaimana pria dan wanita bersatu untuk mendapat anak. Pada waktu tubuh mereka sendiri mulai memasuki pubertas, mereka seharusnya sudah benar-benar menyadari perubahan-perubahan yang diharapkan terjadi. Sebagaimana dibahas dalam Pasal 5, pendidikan demikian juga dapat membantu melindungi anak-anak terhadap penganiayaan seksual.—Amsal 2:10-14.

      PEKERJAAN RUMAH BAGI ORANG-TUA

      12. Pandangan yang menyimpang apa sering diajarkan di sekolah?

      12 Orang-tua perlu siap untuk melawan gagasan-gagasan palsu lain yang mungkin diajarkan di sekolah—filsafat duniawi seperti misalnya evolusi, nasionalisme, atau gagasan bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak. (1 Korintus 3:19; bandingkan Kejadian 1:27; Imamat 26:1; Yohanes 4:24; 17:17.) Banyak dari staf pengajar yang tulus terlalu menganggap penting pendidikan lanjutan. Meskipun soal pendidikan tambahan adalah pilihan pribadi, beberapa guru menganggap bahwa itu adalah satu-satunya jalan untuk mendapat keberhasilan pribadi.a—Mazmur 146:3-6.

      13. Bagaimana anak-anak yang bersekolah dapat dilindungi terhadap gagasan-gagasan yang salah?

      13 Agar orang-tua dapat melawan pengajaran yang salah atau menyimpang, mereka harus mengetahui pengajaran apa yang tepatnya diterima oleh anak-anak mereka. Maka orang-tua, ingatlah bahwa saudara juga memiliki pekerjaan rumah! Perlihatkanlah minat yang tulus terhadap pendidikan anak-anak saudara di sekolah. Berbicaralah dengan mereka setelah mereka pulang sekolah. Tanyakan apa yang mereka pelajari, apa yang paling mereka sukai, apa yang mereka anggap paling menantang. Periksa tugas pekerjaan rumah, catatan, dan hasil-hasil ulangan. Cobalah berkenalan dengan guru-guru mereka. Biarlah para guru mengetahui bahwa saudara menghargai pekerjaan mereka dan bahwa saudara ingin membantu dengan cara apa pun yang dapat saudara lakukan.

      TEMAN-TEMAN ANAK SAUDARA

      14. Mengapa sangat penting agar anak-anak yang saleh memilih teman-teman yang baik?

      14 ”Dari mana kamu belajar itu?” Berapa banyak orang-tua yang telah melontarkan pertanyaan itu, karena terkejut terhadap sesuatu yang telah dikatakan atau dilakukan anak mereka dan yang tampaknya sama sekali bukan sifatnya? Dan berapa sering jawabannya melibatkan seorang teman baru di sekolah atau di lingkungan tempat tinggal? Ya, teman bergaul sangat mempengaruhi kita, tidak soal kita masih muda atau sudah tua. Rasul Paulus memperingatkan, ”Janganlah disesatkan. Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan-kebiasaan yang berguna.” (1 Korintus 15:33; Amsal 13:20) Kaum muda khususnya rentan terhadap tekanan teman sebaya. Mereka cenderung merasa tidak pasti akan diri mereka sendiri dan kadang-kadang dapat merasa ingin sekali menyenangkan dan membuat teman-teman bergaul mereka terkesan. Maka, benar-benar penting agar mereka memilih teman-teman yang baik!

      15. Bagaimana orang-tua dapat membimbing anak-anak mereka dalam memilih teman?

      15 Sebagaimana setiap orang-tua ketahui, anak-anak tidak akan selalu pandai memilih; mereka membutuhkan bimbingan. Ini bukan soal memilihkan teman bagi mereka. Sebaliknya, seraya mereka bertumbuh, ajarkan kepada mereka daya pengamatan dan bantu mereka untuk melihat sifat-sifat apa yang hendaknya mereka nilai dalam diri teman-teman. Sifat yang utama adalah kasih kepada Yehuwa dan melakukan apa yang baik di mata-Nya. (Markus 12:28-30) Ajar mereka untuk mengasihi dan merespek orang-orang yang memiliki kejujuran, kebaikan hati, kemurahan, kerajinan. Selama pelajaran keluarga, bantu anak-anak untuk mengenali sifat-sifat demikian dalam diri tokoh-tokoh Alkitab dan kemudian mencari sifat-sifat yang sama dalam diri orang lain dalam sidang. Berikanlah teladan dengan menggunakan kriteria yang sama untuk memilih teman-teman saudara sendiri.

      16. Bagaimana orang-tua dapat mengawasi teman-teman yang dipilih oleh anak-anak mereka?

      16 Apakah saudara mengenal siapa teman-teman anak saudara? Mengapa tidak menyuruh anak saudara mengundang mereka ke rumah agar saudara dapat bertemu dengan mereka? Saudara juga dapat bertanya kepada anak saudara bagaimana pendapat anak-anak lain tentang teman-teman ini. Apakah mereka dikenal karena mempertunjukkan integritas pribadi mereka atau karena menempuh kehidupan bermuka dua? Jika yang disebutkan belakangan ternyata benar, bantu anak-anak saudara untuk bernalar mengapa pergaulan demikian dapat mencelakakan mereka. (Mazmur 26:4, 5, 9-12) Jika saudara memperhatikan adanya perubahan yang tidak baik dalam perilaku, pakaian, sikap, atau tutur kata dari anak saudara, saudara mungkin perlu berbicara tentang teman-temannya. Anak saudara mungkin sering menggunakan waktu bersama seorang teman yang memberikan pengaruh negatif.—Bandingkan Kejadian 34:1, 2.

      17, 18. Selain memperingatkan tentang teman bergaul yang buruk, bantuan praktis apa yang dapat orang-tua berikan?

      17 Namun sekadar mengajar anak-anak saudara untuk menghindari teman pergaulan yang buruk tidaklah cukup. Bantu mereka untuk mendapatkan pergaulan yang baik. Seorang ayah mengatakan, ”Kami akan selalu berupaya mencari penggantinya. Jadi, ketika sekolah menginginkan agar putra kami memasuki tim sepak bola, saya dan istri saya duduk bersamanya dan membahas mengapa hal itu bukan merupakan gagasan yang baik—karena itu akan berarti bergaul dengan teman-teman baru. Tetapi kemudian kami menyarankan untuk mengumpulkan beberapa anak lain di sidang dan membawa mereka semua ke taman untuk bermain bola. Dan hal itu berhasil baik.”

      18 Orang-tua yang bijaksana membantu anak-anak mereka untuk menemukan teman-teman yang baik dan kemudian menikmati rekreasi yang sehat bersama mereka. Namun, bagi banyak orang-tua, masalah rekreasi ini juga mendatangkan tantangannya sendiri.

      REKREASI MACAM APA?

      19. Contoh Alkitab apa yang memperlihatkan bahwa tidaklah berdosa bagi keluarga-keluarga untuk bersenang-senang?

      19 Apakah Alkitab mengutuk sehubungan dengan bersenang-senang? Sama sekali tidak! Alkitab mengatakan bahwa ”ada waktu untuk tertawa . . . ada waktu untuk menari”.b (Pengkhotbah 3:4) Umat Allah di Israel purba menikmati musik dan tarian, permainan, dan teka-teki. Yesus Kristus menghadiri pesta pernikahan yang besar dan ”resepsi besar” yang diadakan oleh Matius Lewi baginya. (Lukas 5:29; Yohanes 2:1, 2) Jelas, Yesus tidak anti terhadap kegembiraan. Semoga tawa dan canda tidak pernah dianggap sebagai dosa dalam rumah tangga saudara!

      Picture on page 99

      Rekreasi yang dipilih dengan baik, seperti perjalanan untuk berkemah dari keluarga ini, dapat membantu anak-anak untuk belajar dan bertumbuh secara rohani

      20. Apa yang hendaknya diingat oleh orang-tua dalam menyediakan rekreasi bagi keluarga?

      20 Yehuwa adalah ”Allah yang bahagia”. (1 Timotius 1:11) Jadi ibadat kepada Yehuwa seharusnya menjadi sumber kegembiraan, bukan sesuatu yang mengurangi sukacita dalam kehidupan. (Bandingkan Ulangan 16:15.) Secara alami anak-anak gemar bermain dan penuh energi yang dapat dilepaskan ketika bermain dan berekreasi. Rekreasi yang dipilih dengan baik dapat lebih daripada sekadar bersenang-senang. Itu adalah suatu cara bagi seorang anak untuk belajar dan menjadi dewasa. Seorang kepala keluarga bertanggung jawab menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan keluarganya, termasuk rekreasi. Akan tetapi, dituntut keseimbangan.

      21. Jerat-jerat apa yang ada pada rekreasi dewasa ini?

      21 Pada ”hari-hari terakhir” yang sulit ini, masyarakat manusia dipenuhi dengan orang-orang yang adalah ”pencinta kesenangan sebaliknya daripada pencinta Allah”, tepat sebagaimana dinubuatkan dalam Alkitab. (2 Timotius 3:1-5) Bagi banyak orang, rekreasi adalah hal utama dalam kehidupan. Ada begitu banyak hiburan yang tersedia sehingga itu dapat dengan mudah menggantikan hal-hal yang lebih penting. Selain itu, banyak hiburan modern menonjolkan perbuatan seksual yang amoral, kekerasan, penyalahgunaan obat bius, dan praktek-praktek lain yang amat membahayakan. (Amsal 3:31) Apa yang dapat dilakukan untuk melindungi remaja dari hiburan yang membahayakan?

      22. Bagaimana orang-tua dapat melatih anak-anak mereka untuk membuat keputusan yang bijaksana sehubungan rekreasi?

      22 Orang-tua perlu menetapkan batasan, dan larangan. Tetapi lebih daripada itu, mereka perlu mengajar anak-anak mereka cara menilai rekreasi apa yang membahayakan dan mengetahui kapan rekreasi dapat dikatakan terlalu banyak. Pelatihan demikian membutuhkan waktu dan upaya. Pertimbangkan sebuah contoh. Seorang ayah dari dua anak laki-laki memperhatikan bahwa putra sulungnya cukup sering mendengarkan sebuah stasiun radio yang baru. Maka sementara mengemudikan truknya ke tempat kerja pada suatu hari, sang ayah mendengarkan stasiun radio yang sama. Sekali-sekali ia berhenti dan mencatat lirik dari lagu-lagu tertentu. Belakangan ia duduk bersama putra-putranya dan membicarakan apa yang telah ia dengar. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan sudut pandangan, yang dimulai dengan ”Bagaimana pendapat kalian?” dan mendengarkan dengan saksama jawaban-jawaban mereka. Setelah bertukar pikiran tentang persoalan itu dengan menggunakan Alkitab, anak-anaknya setuju untuk tidak mendengarkan lagi stasiun radio itu.

      23. Bagaimana orang-tua dapat melindungi anak-anak mereka terhadap hiburan yang tidak sehat?

      23 Orang-tua Kristen yang bijaksana memeriksa musik, acara TV, kaset video, buku komik, video game, dan film yang menarik minat anak-anak mereka. Mereka akan mengamati gambar sampulnya, liriknya, dan kemasannya, dan mereka akan membaca ulasannya di surat kabar dan memperhatikan ringkasannya. Banyak yang terkejut sehubungan dengan beberapa ”hiburan” yang ditujukan kepada anak-anak dewasa ini. Mereka yang ingin melindungi anak-anak mereka terhadap pengaruh yang tidak bersih akan duduk bersama keluarga dan membahas bahaya-bahayanya, dengan menggunakan Alkitab dan publikasi-publikasi yang didasarkan atas Alkitab, seperti misalnya buku Pertanyaan Kaum Muda—Jawaban yang Praktis dan artikel-artikel dalam majalah Menara Pengawal dan Sedarlah!c Jika orang-tua menetapkan batasan yang tegas, konsisten dan masuk akal, biasanya mereka akan melihat hasil-hasil yang baik.—Matius 5:37; Filipi 4:5.

      24, 25. Apa beberapa bentuk rekreasi sehat yang dapat dinikmati bersama-sama oleh keluarga?

      24 Tentu saja, melarang bentuk rekreasi yang membahayakan hanyalah sebagian dari pertempuran. Yang buruk harus dilawan dengan yang baik, kalau tidak anak-anak akan hanyut ke dalam haluan yang salah. Banyak keluarga Kristen memiliki tak terhitung kenangan yang hangat dan indah tentang rekreasi yang dinikmati bersama-sama—piknik, berjalan-jalan, berkemah, melakukan permainan dan olahraga, bepergian untuk mengunjungi sanak saudara atau teman. Ada yang merasa bahwa sekadar membaca bersama-sama dengan suara keras untuk bersantai adalah sumber kesenangan dan hiburan yang besar. Yang lain-lain senang menceritakan hal-hal yang lucu atau menarik. Yang lain lagi memperkembangkan hobi bersama, misalnya, perkayuan dan kerajinan tangan lainnya, demikian juga memainkan alat-alat musik, melukis, atau mempelajari ciptaan-ciptaan Allah. Anak-anak yang belajar menikmati rekreasi demikian dilindungi dari banyak hiburan yang tidak bersih, dan mereka dapat belajar bahwa ada banyak rekreasi selain hanya duduk dengan pasif dan dihibur. Berpartisipasi sering kali lebih menggembirakan daripada mengamati.

      25 Pertemuan ramah-tamah juga dapat menjadi bentuk rekreasi yang bermanfaat. Jika diawasi dengan baik dan tidak terlalu besar atau menghabiskan waktu, pertemuan-pertemuan demikian dapat memberikan lebih daripada sekadar kegembiraan kepada anak-anak saudara. Itu dapat membantu memperkuat ikatan kasih dalam sidang.—Bandingkan Lukas 14:13, 14; Yudas 12.

      KELUARGA SAUDARA DAPAT MENAKLUKKAN DUNIA

      26. Sehubungan dengan melindungi keluarga terhadap pengaruh yang tidak sehat, sifat apa yang paling penting?

      26 Tidak diragukan, melindungi keluarga saudara terhadap pengaruh dunia yang merusak menuntut banyak kerja keras. Tetapi ada satu hal yang, lebih daripada yang lain, akan memungkinkan keberhasilan. Itu adalah kasih! Ikatan keluarga yang erat dan pengasih akan membuat rumah saudara suatu tempat berlabuh yang aman dan akan memajukan komunikasi, yang adalah perlindungan terbesar terhadap pengaruh-pengaruh buruk. Selanjutnya, memupuk suatu jenis kasih yang lain bahkan lebih penting lagi—kasih akan Yehuwa. Jika kasih seperti itu menyebar dalam keluarga, anak-anak kemungkinan besar akan bertumbuh dengan membenci gagasan untuk tidak menyenangkan Allah dengan mengalah kepada pengaruh-pengaruh dunia. Dan orang-tua yang mengasihi Yehuwa dari hati akan berupaya meniru kepribadian-Nya yang pengasih, masuk akal, dan seimbang. (Efesus 5:1; Yakobus 3:17) Apabila orang-tua melakukan hal itu, anak-anak mereka tidak akan memiliki alasan untuk menganggap ibadat kepada Yehuwa hanya sebagai daftar dari hal-hal yang tidak boleh mereka lakukan atau sebagai jalan hidup tanpa kesenangan atau kegembiraan, yang darinya mereka ingin melarikan diri sesegera mungkin. Sebaliknya, mereka akan melihat bahwa penyembahan kepada Allah adalah jalan hidup yang paling membahagiakan, dan paling berarti.

      27. Bagaimana suatu keluarga dapat menaklukkan dunia?

      27 Keluarga-keluarga yang terus bersatu dalam pelayanan yang berbahagia dan seimbang kepada Allah, yang berupaya sepenuh hati untuk tetap ”tidak bernoda dan tidak bercacat” oleh pengaruh yang merusak dari dunia ini, adalah sumber sukacita bagi Yehuwa. (2 Petrus 3:14; Amsal 27:11) Keluarga-keluarga seperti itu mengikuti jejak kaki Yesus Kristus, yang melawan setiap upaya dari dunia Setan untuk mencemari dia. Menjelang akhir kehidupannya sebagai manusia, Yesus dapat mengatakan, ”Aku telah menaklukkan dunia.” (Yohanes 16:33) Semoga keluarga saudara juga menaklukkan dunia dan menikmati kehidupan selama-lamanya!

      a Untuk pembahasan mengenai pendidikan tambahan, lihat brosur Saksi-Saksi Yehuwa dan Pendidikan, diterbitkan oleh Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc., halaman 4-7.

      b Kata Ibrani yang di sini diterjemahkan ”tertawa” dalam bentuk lain dapat diterjemahkan ”bermain”, ”memberikan hiburan”, ”mengadakan perayaan”, atau bahkan ”bersenang-senang”.

      c Diterbitkan oleh Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc.

      BAGAIMANA PRINSIP-PRINSIP ALKITAB INI MEMBANTU . . . MELINDUNGI KELUARGA SAUDARA?

      Pengetahuan membimbing kepada hikmat, yang dapat menyelamatkan kehidupan seseorang.—Pengkhotbah 7:12.

      ”Hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah”.—1 Korintus 3:19.

      Pergaulan yang buruk harus dihindari.—1 Korintus 15:33.

      Meskipun rekreasi ada tempatnya, ini harus dikendalikan.—Pengkhotbah 3:4.

      IA TIDAK MERASA KEHILANGAN

      Orang-tua Kristen, Paul dan istrinya, Lu-Ann, mengorganisasi pertemuan ramah-tamah di rumah mereka dari waktu ke waktu. Mereka memastikan agar pertemuan tersebut diawasi dengan baik dan dengan jumlah orang yang masih dapat ditangani. Mereka memiliki alasan yang baik untuk percaya bahwa anak-anak mereka mendapat manfaatnya.

      Lu-Ann menceritakan, ”Ibu dari teman sekolah anak saya yang berusia enam tahun, Eric, mendekati saya untuk mengatakan bahwa ia merasa kasihan terhadap Eric karena ia duduk menyendiri dan tidak ikut dalam pesta ulang tahun di kelas. Saya mengatakan kepadanya, ’Saya berterima kasih sekali karena Ibu memperhatikan putra saya dengan cara demikian. Itu menunjukkan orang macam apa Ibu sebenarnya. Dan mungkin tidak ada sesuatu pun yang dapat saya katakan yang akan meyakinkan Ibu bahwa Eric tidak merasa kehilangan.’ Ia setuju. Maka saya mengatakan, ’Jadi cobalah, demi kepentingan Ibu sendiri, tanyakan sendiri kepada Eric bagaimana perasaan dia, supaya Ibu bisa merasa tenang.’ Pada waktu saya tidak ada, ia bertanya kepada Eric, ’Apakah kamu tidak sedih tidak bisa ikut dalam pesta ulang tahun yang menyenangkan ini?’ Ia menatap ibu itu, terkejut, dan mengatakan, ’Apakah Ibu pikir acara sepuluh menit, sedikit kue, dan sebuah lagu dapat disebut pesta? Ibu seharusnya datang ke rumah saya dan melihat seperti apa pesta yang sebenarnya!’” Antusiasme yang polos dari anak laki-laki itu membuat masalahnya jelas—ia tidak merasa kehilangan!

  • Keluarga dengan Orang-Tua Tunggal Dapat Berhasil!
    Rahasia Kebahagiaan Keluarga
    • PASAL SEMBILAN

      Keluarga dengan Orang-Tua Tunggal Dapat Berhasil!

      1-3. Apa yang turut membuat jumlah keluarga dengan orang-tua tunggal bertambah, dan bagaimana mereka yang terlibat dipengaruhi?

      KELUARGA dengan satu orang-tua telah disebut ”gaya hidup berkeluarga yang meningkat paling cepat” di Amerika Serikat. Situasi itu serupa di banyak negeri lain. Rekor yang tercatat dari angka perceraian, ditinggalkannya keluarga, perpisahan, dan kelahiran yang tidak sah telah membawa akibat-akibat jangka panjang bagi jutaan orang-tua dan anak-anak.

      2 ”Saya seorang janda berusia 28 tahun dengan dua anak,” tulis seorang ibu tunggal. ”Saya sangat tertekan karena saya tidak ingin membesarkan anak-anak saya tanpa ayah. Tampaknya seolah-olah tidak seorang pun bahkan mau mempedulikan saya. Anak-anak sering melihat saya menangis dan hal itu mempengaruhi mereka.” Selain bergulat dengan perasaan-perasaan seperti kemarahan, rasa bersalah, dan kesepian, kebanyakan orang-tua tunggal menghadapi tugas berat untuk bekerja di luar rumah maupun mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Ada yang berkata, ”Menjadi orang-tua tunggal itu seperti menjadi seorang juggler (orang yang ahli memainkan beberapa benda di udara dengan melempar dan menangkapnya). Setelah berlatih selama enam bulan, akhirnya saudara dapat memainkan empat bola sekaligus. Tetapi baru saja saudara dapat melakukannya, seseorang melemparkan sebuah bola yang baru kepada saudara!”

      3 Anak-anak muda dalam keluarga dengan orang-tua tunggal sering kali memiliki perjuangan yang unik. Mereka mungkin harus berjuang melawan emosi-emosi yang sangat kuat sebagai akibat kepergian atau kematian yang tiba-tiba dari salah seorang orang-tua. Bagi banyak anak muda, tidak adanya orang-tua tampaknya memiliki efek yang sangat negatif.

      4. Bagaimana kita tahu bahwa Yehuwa peduli terhadap keluarga dengan orang-tua tunggal?

      4 Keluarga dengan orang-tua tunggal terdapat pula pada zaman Alkitab. Alkitab berulang-ulang menyebutkan tentang ”anak yatim” dan ”janda”. (Keluaran 22:22; Ulangan 24:19-21; Ayub 31:16-22) Allah Yehuwa tidak mengabaikan keadaan mereka yang menyedihkan. Pemazmur menyebut Allah sebagai ”Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda”. (Mazmur 68:6) Tentu, Yehuwa memiliki kepedulian yang sama terhadap keluarga dengan orang-tua tunggal dewasa ini! Sesungguhnya, Firman-Nya memberikan prinsip-prinsip yang dapat membantu mereka berhasil.

      MENGUASAI RUTIN RUMAH TANGGA

      5. Problem apa yang pertama-tama harus dihadapi oleh orang-tua tunggal?

      5 Pikirkan tentang tugas mengurus rumah. ”Sering sekali kita mengharapkan adanya seorang suami di dekat kita,” demikian pengakuan seorang wanita yang bercerai, ”misalnya pada waktu mobil saya mulai mengeluarkan bunyi-bunyi dan saya tidak tahu dari mana asalnya.” Demikian pula pria yang baru saja bercerai atau menduda mungkin kebingungan akan banyaknya tugas rumah tangga yang kini harus dikerjakan. Bagi anak-anak, kekacauan di dalam rumah membuat mereka merasa semakin tidak stabil dan tidak aman.

      Picture on page 109

      Anak-anak, bekerjasamalah dengan orang-tua tunggal saudara

      6, 7. (a) Teladan apa diberikan oleh ”isteri yang cakap” di buku Amsal? (b) Bagaimana mengerjakan tanggung jawab di rumah dengan rajin dapat membantu rumah tangga dengan orang-tua tunggal?

      6 Apa yang dapat membantu? Perhatikan teladan yang diberikan oleh ”isteri yang cakap” yang dilukiskan di Amsal 31:10-31. Apa yang ia lakukan mencakup berbagai bidang yang sangat luas—membeli, menjual, menjahit, memasak, menginvestasikan rumah dan tanah, bertani, dan mengadakan bisnis. Apa rahasianya? Ia rajin, bekerja sampai larut malam dan bangun pagi-pagi untuk memulai kegiatannya. Dan ia mengorganisasi segala sesuatu dengan baik, mendelegasikan tugas-tugas tertentu dan menggunakan tangannya sendiri untuk mengurus orang-orang lain. Tidak heran ia mendapat pujian!

      7 Jika saudara seorang orang-tua tunggal, hendaklah saudara bersungguh-sungguh sehubungan dengan tanggung jawab saudara di dalam rumah. Temukan kepuasan dalam pekerjaan seperti itu, karena hal ini akan banyak menambah kebahagiaan anak-anak saudara. Akan tetapi, perencanaan dan pengorganisasian yang baik diperlukan. Alkitab mengatakan, ”Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan.” (Amsal 21:5) Seorang ayah tunggal mengakui, ”Saya cenderung tidak memikirkan tentang makanan sampai saya merasa lapar.” Tetapi makanan yang direncanakan biasanya lebih bergizi dan lebih menarik daripada makanan seadanya yang dimasak dengan terburu-buru. Saudara juga mungkin harus mempelajari keterampilan-keterampilan rumah tangga yang baru. Dengan mencari keterangan dari teman-teman yang berpengetahuan, buku-buku pintar, dan para ahli yang suka membantu, beberapa ibu tunggal telah dapat mengecat, memperbaiki pipa leding, dan memperbaiki kerusakan yang sederhana pada mobil.

      8. Bagaimana anak-anak dari orang-tua tunggal dapat ikut membantu di rumah?

      8 Apakah adil untuk meminta anak-anak membantu? Seorang ibu tunggal bernalar, ”Kita ingin mengkompensasikan tidak adanya ayah (atau ibu) dengan tidak menyusahkan anak-anak.” Hal itu mungkin dapat dimengerti tetapi barangkali bukan selalu yang terbaik bagi sang anak. Orang-orang muda yang takut akan Allah pada zaman Alkitab diberi tugas-tugas yang patut. (Kejadian 37:2; Kidung Agung 1:6) Jadi, walaupun berhati-hati agar tidak terlalu membebani anak-anak, saudara akan bertindak bijaksana jika memberi mereka tugas-tugas seperti mencuci piring dan membersihkan kamar mereka. Mengapa tidak mengerjakan beberapa tugas bersama-sama? Ini dapat sangat menyenangkan.

      TANTANGAN UNTUK MENCARI NAFKAH

      Picture on page 107

      Gunakan sebanyak mungkin waktu bersama anak-anak saudara

      9. Mengapa ibu-ibu tunggal sering kali menghadapi kesulitan keuangan?

      9 Kebanyakan orang-tua tunggal mendapati sulit untuk memenuhi kebutuhan keuangan mereka, dan ibu-ibu muda yang tidak menikah biasanya banyak mengalami kesukaran.a Di negeri-negeri yang menyediakan tunjangan kesejahteraan, mereka mungkin mendapatinya perlu untuk memanfaatkannya, setidaknya sampai mereka dapat memperoleh pekerjaan. Alkitab memperbolehkan orang Kristen memanfaatkan persediaan demikian bila perlu. (Roma 13:1, 6) Janda dan wanita yang bercerai menghadapi tantangan serupa. Banyak dari mereka, yang terpaksa memasuki kembali angkatan kerja setelah bertahun-tahun mengurus rumah tangga, sering hanya dapat memperoleh pekerjaan dengan upah rendah. Beberapa berhasil memperbaiki nasib mereka dengan mendaftarkan diri dalam program pelatihan kerja atau kursus kilat.

      10. Bagaimana seorang ibu tunggal dapat menjelaskan kepada anak-anaknya mengapa ia harus mencari pekerjaan duniawi?

      10 Jangan terkejut apabila anak-anak saudara tidak senang saudara mencari pekerjaan, dan jangan merasa bersalah. Sebaliknya, jelaskan kepada mereka mengapa saudara harus bekerja, dan bantu mereka mengerti bahwa Yehuwa menuntut saudara untuk menyediakan kebutuhan mereka. (1 Timotius 5:8) Pada waktunya, kebanyakan anak akan menyesuaikan diri. Akan tetapi, cobalah untuk menggunakan waktu sebanyak mungkin bersama mereka sesuai dengan jadwal saudara yang sibuk. Perhatian yang pengasih demikian juga dapat membantu memperkecil pengaruh dari pembatasan keuangan apa pun yang mungkin dialami keluarga.—Amsal 15:16, 17.

      SIAPA YANG SEBENARNYA MENJADI PENGASUH?

      Picture on page 110

      Sidang tidak mengabaikan ”janda” dan ”anak yatim”

      11, 12. Batasan-batasan apa yang harus dipelihara oleh orang-tua tunggal, dan bagaimana mereka dapat melakukannya?

      11 Adalah hal yang wajar jika orang-tua tunggal khususnya akrab dengan anak-anak mereka, tetapi orang-tua harus berhati-hati agar batasan antara orang-tua dan anak tidak menjadi kabur. Sebagai contoh, kesulitan serius dapat timbul jika seorang ibu tunggal mengharapkan putranya memikul tanggung jawab kepala rumah tangga atau memperlakukan putrinya sebagai teman kepercayaan, membebani gadis itu dengan problem-problem yang bersifat pribadi. Berbuat demikian tidak patut, menimbulkan stres, dan mungkin membingungkan bagi seorang anak.

      12 Yakinkan anak-anak bahwa saudara, sebagai orang-tua, akan mengasuh mereka—bukan kebalikannya. (Bandingkan 2 Korintus 12:14.) Kadang-kadang, saudara mungkin membutuhkan saran atau dukungan. Saudara dapat mencarinya dari para penatua Kristen atau barangkali dari para wanita Kristen yang matang, bukan dari anak-anak saudara yang masih kecil.—Titus 2:3.

      MEMELIHARA DISIPLIN

      13. Problem apa berkenaan dengan disiplin yang mungkin dihadapi oleh seorang ibu tunggal?

      13 Seorang pria mungkin tidak mengalami banyak kesulitan untuk ditanggapi dengan serius sebagai pemberi disiplin, tetapi seorang wanita mungkin mendapat masalah dalam hal ini. Seorang ibu tunggal mengatakan, ”Putra-putra saya memiliki tubuh pria dan suara pria. Kadang-kadang sulit untuk tidak terdengar kurang tegas atau lemah dibandingkan mereka.” Lagi pula, saudara mungkin masih berdukacita atas kematian teman hidup yang saudara kasihi, atau mungkin saudara merasa bersalah dan marah atas pecahnya perkawinan. Apabila harus berbagi hak untuk mengasuh anak, saudara mungkin merasa takut kalau-kalau anak saudara memilih untuk tinggal bersama bekas teman hidup saudara. Keadaan-keadaan seperti itu dapat menyulitkan saudara untuk menjalankan disiplin yang seimbang.

      14. Bagaimana orang-tua tunggal dapat memelihara pandangan yang seimbang sehubungan dengan disiplin?

      14 Alkitab mengatakan bahwa ”anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya”. (Amsal 29:15) Saudara memiliki dukungan dari Allah Yehuwa untuk menetapkan dan menegakkan peraturan-peraturan keluarga, maka jangan menyerah kepada rasa bersalah, penyesalan, atau rasa takut. (Amsal 1:8) Jangan pernah mengkompromikan prinsip-prinsip Alkitab. (Amsal 13:24) Berupayalah untuk bersikap masuk akal, konsisten, dan tegas. Pada waktunya, kebanyakan anak akan menanggapi. Namun, saudara hendaknya mempertimbangkan perasaan anak-anak saudara. Seorang ayah tunggal mengatakan, ”Disiplin yang saya berikan harus diperlunak dengan pengertian mengingat guncangan karena kehilangan ibu mereka. Saya berbicara kepada mereka pada setiap kesempatan. Kami memiliki ’saat-saat pribadi’ pada waktu kami menyiapkan makan malam. Pada saat itulah mereka benar-benar mengutarakan isi hati mereka kepada saya.”

      15. Apa yang hendaknya dihindari oleh orang-tua yang bercerai apabila sedang berbicara tentang bekas teman hidup mereka?

      15 Jika saudara bercerai, tidak ada sesuatu yang baik yang akan dicapai dengan mengurangi respek kepada bekas teman hidup saudara. Percekcokan orang-tua menyakitkan bagi anak-anak dan akhirnya akan melemahkan respek mereka kepada saudara berdua. Karena itu, hindarilah pernyataan-pernyataan yang menyakitkan hati seperti, ”Kamu persis seperti ayah kamu!” Sakit hati apa pun yang mungkin telah ditimbulkan bekas teman hidup saudara terhadap saudara, ia tetap ayah atau ibu dari anak saudara, yang membutuhkan kasih, perhatian, dan disiplin dari kedua orang-tua.b

      16. Penyelenggaraan rohani apa yang hendaknya menjadi bagian yang tetap tentu dari disiplin di dalam rumah dengan orang-tua tunggal?

      16 Sebagaimana dibahas dalam pasal-pasal sebelumnya, disiplin melibatkan pelatihan dan pengajaran, bukan hanya hukuman. Banyak problem dapat dihindari dengan program pelatihan rohani yang baik. (Filipi 3:16) Hadir dengan tetap tentu di perhimpunan Kristen sangat penting. (Ibrani 10:24, 25) Demikian pula dengan mengadakan pelajaran Alkitab keluarga setiap minggu. Memang, tidaklah mudah untuk mengadakan pelajaran demikian secara tetap tentu. ”Setelah seharian bekerja, saudara benar-benar ingin beristirahat,” kata seorang ibu yang sadar akan tanggung jawabnya. ”Tetapi saya mempersiapkan diri secara mental untuk belajar bersama putri saya, karena mengetahui bahwa ini adalah sesuatu yang perlu dilakukan. Ia benar-benar menikmati pelajaran keluarga kami!”

      17. Apa yang dapat kita pelajari dari Timotius, rekan Paulus, yang dibesarkan dengan baik?

      17 Rekan dari rasul Paulus, Timotius, jelas diberi pelatihan dalam prinsip-prinsip Alkitab oleh ibu dan neneknya—tetapi rupanya bukan oleh ayahnya. Namun, Timotius benar-benar menjadi orang Kristen yang luar biasa! (Kisah 16:1, 2; 2 Timotius 1:5; 3:14, 15) Demikian pula, saudara dapat mengharapkan hasil-hasil yang baik seraya saudara berjuang untuk membesarkan anak-anak saudara ”dalam disiplin dan pengaturan-mental dari Yehuwa”.—Efesus 6:4.

      MENGALAHKAN KESEPIAN

      18, 19. (a) Bagaimana rasa kesepian dapat muncul pada diri seorang orang-tua tunggal? (b) Nasihat apa yang diberikan untuk membantu mengendalikan keinginan daging?

      18 Seorang orang-tua tunggal mengeluh, ”Ketika saya pulang dan menyadari bahwa saya sendirian, dan khususnya setelah anak-anak tidur, rasa kesepian benar-benar melanda diri saya.” Ya, kesepian sering kali merupakan problem terbesar yang dihadapi orang-tua tunggal. Adalah wajar untuk merindukan pergaulan yang hangat dan keintiman perkawinan. Tetapi apakah seseorang perlu mencoba memecahkan problem ini tidak soal akibatnya? Pada zaman rasul Paulus, beberapa janda yang lebih muda membiarkan ’dorongan seksual mereka menjadi penghalang antara mereka dan Kristus’. (1 Timotius 5:11, 12) Membiarkan keinginan daging mengaburkan kepentingan rohani dapat merusak.—1 Timotius 5:6.

      19 Seorang pria Kristen mengatakan, ”Dorongan seksual memang sangat kuat, tetapi saudara dapat mengendalikannya. Apabila sesuatu ke arah itu terlintas dalam pikiran saudara, jangan terus memikirkannya. Saudara harus menyingkirkannya. Memikirkan anak saudara juga membantu.” Firman Allah menasihatkan, ’Matikanlah anggota-anggota tubuhmu berkenaan nafsu seksual.’ (Kolose 3:5) Jika saudara sedang mencoba mematikan selera makan saudara, apakah saudara akan membaca majalah-majalah yang memuat gambar-gambar makanan yang lezat, atau apakah saudara akan bergaul dengan orang-orang yang terus membicarakan makanan? Tentu tidak! Demikian pula dengan keinginan daging.

      20. (a) Bahaya apa mengintai orang-orang yang berpacaran dengan mereka yang tidak seiman? (b) Bagaimana para orang-tua tunggal pada abad pertama maupun dewasa ini memerangi kesepian?

      20 Ada orang-orang Kristen yang mulai berpacaran dengan mereka yang tidak seiman. (1 Korintus 7:39) Apakah itu menyelesaikan problem mereka? Tidak. Seorang wanita Kristen yang bercerai memperingatkan, ”Ada satu hal yang jauh lebih buruk daripada tetap lajang. Itu adalah menikah dengan orang yang salah!” Janda-janda Kristen pada abad pertama pasti pernah dilanda kesepian, tetapi mereka yang bijaksana terus menyibukkan diri dengan ’menjamu orang-orang yang tidak dikenal, mencuci kaki orang-orang kudus, dan memberi bantuan kepada mereka yang dalam kesengsaraan’. (1 Timotius 5:10) Orang-orang Kristen yang setia dewasa ini yang telah menanti bertahun-tahun untuk mendapatkan teman hidup yang takut akan Allah terus menyibukkan diri dengan cara serupa. Seorang janda Kristen berusia 68 tahun mulai mengunjungi janda-janda yang lain kapan saja ia merasa kesepian. Ia mengatakan, ”Saya mendapati bahwa dengan mengadakan kunjungan seperti ini, menyelesaikan pekerjaan di rumah dan menjaga kerohanian saya, tidak ada waktu bagi saya untuk merasa kesepian.” Mengajar orang-orang lain tentang Kerajaan Allah adalah pekerjaan baik yang khususnya bermanfaat.—Matius 28:19, 20.

      21. Dengan cara apa doa dan pergaulan yang baik membantu mengatasi kesepian?

      21 Perlu diakui, tidak ada obat yang ajaib untuk kesepian. Tetapi seseorang dapat menanggungnya dengan kekuatan dari Yehuwa. Kekuatan demikian datang jika seorang Kristen ”berkanjang dalam permohonan dan doa malam dan siang”. (1 Timotius 5:5) Permohonan adalah permintaan yang sungguh-sungguh, ya, mengemis meminta bantuan, mungkin dengan seruan yang kuat dan air mata. (Bandingkan Ibrani 5:7.) Mencurahkan hati saudara kepada Yehuwa ”malam dan siang” dapat benar-benar membantu. Selanjutnya, pergaulan yang baik dapat sangat bermanfaat untuk mengisi kekosongan karena rasa kesepian. Melalui pergaulan yang baik, seseorang dapat memperoleh ”perkataan yang baik” berupa anjuran sebagaimana dilukiskan di Amsal 12:25.

      22. Pemikiran apa akan membantu apabila rasa kesepian sewaktu-waktu muncul?

      22 Jika rasa kesepian sewaktu-waktu muncul—dan kemungkinan besar memang akan muncul—ingatlah bahwa tidak seorang pun yang sama sekali bebas dari problem. Sesungguhnya, ”seluruh persekutuan saudara-saudaramu di dunia” sedang menderita dalam satu atau lain cara. (1 Petrus 5:9) Jangan terus memikirkan masa lalu. (Pengkhotbah 7:10) Pikirkanlah keuntungan-keuntungan yang saudara nikmati. Di atas segalanya, bertekadlah untuk memelihara integritas saudara dan untuk membuat hati Yehuwa gembira.—Amsal 27:11.

      CARA ORANG LAIN DAPAT MEMBANTU

      23. Tanggung jawab apa yang dimiliki oleh rekan-rekan Kristen terhadap orang-tua tunggal di dalam sidang?

      23 Dukungan dan bantuan rekan-rekan Kristen besar nilainya. Yakobus 1:27 mengatakan, ”Bentuk ibadat yang bersih dan tidak tercemar dari sudut pandangan Allah dan Bapak kita adalah ini: merawat para yatim piatu dan janda dalam kesengsaraan mereka.” Ya, orang Kristen berkewajiban untuk membantu keluarga dengan orang-tua tunggal. Apa beberapa cara praktis untuk melakukannya?

      24. Dengan berbagai cara apa keluarga dengan orang-tua tunggal yang kekurangan dapat dibantu?

      24 Bantuan materi dapat diberikan. Alkitab mengatakan, ”Barangsiapa memiliki sarana dunia untuk menunjang kehidupan dan melihat saudaranya mempunyai kebutuhan namun menutup pintu keibaan hatinya yang lembut terhadap dia, dengan cara apa kasih akan Allah tetap dalam dirinya?” (1 Yohanes 3:17) Kata Yunani asli untuk ”melihat” berarti, tidak sekadar memandang sepintas lalu, tetapi menatap dengan sengaja. Hal ini menunjukkan bahwa seorang Kristen yang baik hati pertama-tama dapat mengenali keadaan dan kebutuhan suatu keluarga. Barangkali mereka kekurangan uang. Ada yang mungkin membutuhkan bantuan untuk mengadakan perbaikan di rumah. Atau mungkin mereka akan berterima kasih dengan sekadar diundang untuk acara makan bersama atau pertemuan ramah-tamah.

      25. Bagaimana rekan-rekan Kristen dapat memperlihatkan keibaan hati terhadap orang-tua tunggal?

      25 Selain itu, 1 Petrus 3:8 mengatakan, ”Kamu semua bersepakatlah, perlihatkan sikap seperasaan, miliki kasih sayang persaudaraan, beriba hati yang lembut.” Seorang orang-tua tunggal yang memiliki enam anak mengatakan, ”Memang sulit keadaannya dan kadang-kadang saya merasa amat tertekan. Akan tetapi, sekali-sekali salah seorang dari antara saudara atau saudari kita ada yang mengatakan kepada saya, ’Joan, bagus sekali segala upayamu. Pasti tidak akan sia-sia.’ Mengetahui bahwa orang lain memikirkan saya dan bahwa mereka menaruh perhatian, itu saja sudah sangat membantu.” Para wanita Kristen yang lebih tua dapat khususnya efektif dalam membantu wanita-wanita muda yang adalah orang-tua tunggal, dengan suka mendengarkan mereka apabila mereka memiliki problem yang mungkin canggung untuk dibicarakan dengan seorang pria.

      26. Bagaimana pria-pria Kristen yang matang dapat membantu anak-anak yang tidak mempunyai ayah?

      26 Para pria Kristen dapat membantu dengan cara lain. Ayub, pria yang adil-benar mengatakan, ”Aku menyelamatkan . . . anak piatu yang tidak ada penolongnya.” (Ayub 29:12) Beberapa pria Kristen dewasa ini juga memperlihatkan minat yang tulus kepada anak-anak yang tidak mempunyai ayah dan memperlihatkan kasih yang murni ”yang keluar dari hati yang bersih”, tanpa motif-motif terselubung. (1 Timotius 1:5) Tanpa mengabaikan keluarga mereka sendiri, mereka kadang-kadang dapat mengatur untuk bekerja bersama anak-anak demikian dalam pelayanan Kristen dan dapat juga mengundang mereka untuk ikut dalam pelajaran keluarga atau rekreasi. Kebaikan hati demikian dapat sangat membantu untuk menyelamatkan seorang anak yang tidak mempunyai ayah dari haluan yang menyimpang.

      27. Orang-tua tunggal dapat merasa yakin akan dukungan apa?

      27 Tentu saja, pada akhirnya, orang-tua tunggal harus ’memikul tanggungan mereka sendiri’ berupa tanggung jawab. (Galatia 6:5) Meskipun demikian, mereka dapat memperoleh kasih dari saudara dan saudari Kristen mereka dan dari Allah Yehuwa sendiri. Alkitab mengatakan tentang Dia, ”Anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali”. (Mazmur 146:9) Dengan dukungan-Nya yang pengasih, keluarga dengan orang-tua tunggal dapat berhasil!

      a Jika seorang Kristen muda hamil karena tingkah laku yang amoral, sidang Kristen tentu saja tidak memaafkan apa yang telah ia perbuat. Tetapi jika ia bertobat, para penatua sidang dan yang lainnya dalam sidang mungkin ingin memberikan bantuan kepadanya.

      b Kami tidak sedang membicarakan situasi tentang seorang anak yang mungkin perlu dilindungi terhadap orang-tua yang suka menganiaya. Juga, apabila orang-tua yang lain mencoba melemahkan wewenang saudara, barangkali dengan maksud membujuk anak-anak untuk meninggalkan saudara, mungkin sebaiknya saudara berbicara kepada rekan-rekan yang berpengalaman, seperti misalnya para penatua di sidang Kristen, untuk meminta saran tentang bagaimana menghadapi situasi tersebut.

      BAGAIMANA PRINSIP-PRINSIP ALKITAB INI MEMBANTU . . . ORANG-TUA DAN ANAK-ANAK UNTUK MENGATASI PROBLEM DARI KELUARGA DENGAN ORANG-TUA TUNGGAL?

      Allah Yehuwa adalah ”Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda”.—Mazmur 68:6.

      Perencanaan yang baik penting untuk dapat berhasil.—Amsal 21:5.

      Yehuwa mendukung hak orang-tua untuk memberikan disiplin yang patut.—Amsal 1:8.

      Janda-janda Kristen yang bijaksana terus menyibukkan diri dalam pekerjaan yang saleh dan berkanjang dalam doa.—1 Timotius 5:5, 10.

      Memperlihatkan minat yang sepatutnya kepada ”para yatim piatu dan janda” adalah bagian dari ibadat sejati.—Yakobus 1:27.

      Apa yang Dapat Dilakukan Anak-Anak

      Apakah ibu atau ayah kalian adalah orang-tua tunggal? Jika demikian, apa yang dapat kalian lakukan untuk membantu? Satu hal, berlaku taat. Besarnya tubuh ataupun jenis kelamin tidak membuat seorang anak bebas untuk ’menyia-nyiakan ajaran ibunya’. (Amsal 1:8) Yehuwa memerintahkan kalian untuk taat, dan dengan melakukannya, kalian akan mendapatkan kebahagiaan di kemudian hari.—Amsal 23:22; Efesus 6:1-3.

      Ambillah inisiatif, dan hendaklah bersikap apresiatif. ”Ibu saya bekerja di rumah sakit, dan seragamnya harus disetrika. Jadi saya menyetrikakannya untuk dia,” kata Tony. ”Ini membantu ibu saya, jadi saya mengerjakannya.” Seorang ibu tunggal mengatakan, ”Saya sering mendapati bahwa pada waktu saya benar-benar patah semangat atau jengkel karena banyak hal yang mengesalkan di tempat pekerjaan dan pada waktu saya sampai di rumah—hari itu putri saya memilih untuk menata meja dan menyiapkan makan malam.”

      Ingatlah bahwa kerja sama kalian sangat penting. Setelah seharian bekerja keras, mungkin sulit bagi orang-tua kalian untuk memimpin pelajaran Alkitab keluarga. Jika kalian tidak suka bekerja sama, kalian akan memperburuk keadaan. Cobalah untuk siap ketika waktu yang dijadwalkan tiba. Persiapkan pelajaran kalian sebelumnya. Dengan berlaku taat, apresiatif, dan suka bekerja sama, kalian akan menyenangkan orang-tua kalian, dan yang bahkan lebih penting lagi, kalian akan menyenangkan Allah.

  • Bila Seorang Anggota Keluarga Jatuh Sakit
    Rahasia Kebahagiaan Keluarga
    • PASAL SEPULUH

      Bila Seorang Anggota Keluarga Jatuh Sakit

      1, 2. Bagaimana Setan menggunakan tragedi dan penyakit untuk mencoba mematahkan integritas Ayub?

      PRIA Ayub tentunya harus diperhitungkan di antara mereka yang menikmati kehidupan keluarga yang bahagia. Alkitab menyebut dia ”yang terkaya dari semua orang di sebelah timur”. Ia memiliki tujuh putra dan tiga putri, sepuluh anak seluruhnya. Ia juga memiliki harta yang dapat mencukupi kebutuhan keluarganya dengan baik. Dan yang terpenting, ia mengambil pimpinan dalam kegiatan rohani dan prihatin akan kedudukan anak-anaknya di hadapan Yehuwa. Ini semua menghasilkan ikatan keluarga yang erat dan bahagia.—Ayub 1:1-5.

      2 Keadaan Ayub tidak lolos dari perhatian Setan, musuh terbesar Allah Yehuwa. Setan, yang terus mencari cara untuk mematahkan integritas hamba-hamba Allah, menyerang Ayub dengan menghancurkan keluarganya yang bahagia. Kemudian, ”ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya”. Jadi Setan berharap untuk menggunakan tragedi dan penyakit untuk mematahkan integritas Ayub.—Ayub 2:6, 7.

      3. Apa gejala-gejala dari penyakit Ayub?

      3 Alkitab tidak menunjukkan secara medis penyakit yang diderita Ayub. Namun, Alkitab memang memberi tahu kita tentang gejala-gejalanya. Dagingnya ditutupi belatung, dan kulitnya berkerak serta membusuk. Napas Ayub berbau busuk, dan tubuhnya mengeluarkan bau yang menjijikkan. Ia tersiksa oleh rasa sakit. (Ayub 7:5; 19:17; 30:17, 30) Dalam penderitaan, Ayub duduk di atas abu dan menggaruk tubuhnya dengan sepotong pecahan tembikar. (Ayub 2:8) Benar-benar pemandangan yang mengibakan hati!

      4. Apa yang kadang-kadang dialami setiap keluarga?

      4 Bagaimana reaksi saudara jika saudara terjangkit penyakit yang serius seperti itu? Dewasa ini, Setan tidak menyerang hamba-hamba Allah dengan penyakit sebagaimana yang ia lakukan terhadap Ayub. Namun, mengingat ketidaksempurnaan manusia, stres karena kehidupan sehari-hari, dan merosotnya lingkungan hidup kita, dapatlah diharapkan bahwa kadang-kadang, anggota-anggota keluarga akan jatuh sakit. Tidak soal tindakan pencegahan yang mungkin kita ambil, kita semua dapat terkena penyakit, meskipun hanya sedikit yang akan menderita sampai separah Ayub. Apabila penyakit menyerang rumah tangga kita, itu benar-benar dapat menjadi suatu tantangan. Karena itu, mari kita melihat bagaimana Alkitab membantu kita mengatasi musuh manusia yang selalu ada ini.—Pengkhotbah 9:11; 2 Timotius 3:16.

      BAGAIMANA PERASAAN SAUDARA TENTANGNYA?

      5. Bagaimana biasanya reaksi dari anggota-anggota keluarga pada kasus-kasus penyakit yang berlangsung sebentar?

      5 Gangguan pada rutin kehidupan yang normal, tidak soal apa penyebabnya, selalu menyulitkan, dan khususnya benar demikian apabila gangguan itu disebabkan oleh penyakit yang berkepanjangan. Bahkan penyakit yang tidak berlangsung lama menuntut penyesuaian, kerelaan mengalah, dan pengorbanan. Anggota-anggota keluarga yang sehat mungkin harus tetap tenang agar si sakit dapat beristirahat. Mereka mungkin harus mengorbankan kegiatan-kegiatan tertentu. Namun, dalam banyak keluarga, bahkan anak-anak yang masih kecil dapat merasa iba kepada saudara kandung atau orang-tua yang sakit, meskipun mungkin mereka sekali-sekali harus diingatkan agar menunjukkan tenggang rasa. (Kolose 3:12) Dalam hal penyakit yang berlangsung sebentar, keluarga biasanya siap melakukan apa yang perlu dilakukan. Selain itu, setiap anggota keluarga mengharapkan perhatian yang serupa apabila ia jatuh sakit.—Matius 7:12.

      6. Apa reaksi yang kadang-kadang terlihat jika seorang anggota keluarga terkena penyakit yang serius dan berkepanjangan?

      6 Namun, bagaimana jika penyakitnya amat serius dan gangguan yang diakibatkannya drastis dan berkepanjangan? Sebagai contoh, bagaimana jika seseorang dalam keluarga menjadi lumpuh karena stroke, menjadi tidak berdaya karena penyakit Alzheimer, atau menjadi lemah karena suatu penyakit lain? Atau bagaimana jika seorang anggota keluarga terkena penyakit mental, seperti misalnya skisofrenia? Reaksi pertama yang umum adalah rasa kasihan—rasa sedih karena seorang yang dikasihi begitu menderita. Akan tetapi, rasa kasihan mungkin diikuti oleh reaksi-reaksi lain. Seraya anggota-anggota keluarga mendapati bahwa diri mereka sangat dipengaruhi dan kebebasan mereka menjadi terbatas karena sakitnya satu orang, mereka mungkin akhirnya merasa kesal. Mereka mungkin berpikir, ”Mengapa ini harus terjadi pada diri saya?”

      7. Bagaimana reaksi istri Ayub berkenaan penyakit Ayub, dan apa yang tampaknya dilupakan oleh istri Ayub?

      7 Sesuatu yang serupa tampaknya telah terlintas dalam pikiran istri Ayub. Ingatlah, ia telah kehilangan anak-anaknya. Seraya peristiwa-peristiwa tragis tersebut berlanjut, tak diragukan ia secara progresif merasa semakin putus asa. Akhirnya, ketika ia melihat suaminya yang tadinya aktif dan penuh semangat terkena penyakit yang menyakitkan dan menjijikkan, ia tampaknya lupa akan faktor yang sangat penting yang menyelubungi semua tragedi itu—hubungan yang ia dan suaminya miliki dengan Allah. Alkitab mengatakan, ”Maka berkatalah isteri [Ayub] kepadanya: ’Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!’”—Ayub 2:9.

      Picture on page 118

      Orang Kristen memperlihatkan dalamnya kasih mereka pada waktu teman hidup mereka jatuh sakit

      8. Jika seorang anggota keluarga sakit parah, ayat mana yang akan membantu anggota-anggota keluarga lainnya untuk menjaga sudut pandangan yang sepatutnya?

      8 Banyak yang merasa frustrasi, bahkan marah, pada waktu kehidupan mereka secara drastis berubah karena sakitnya orang lain. Namun, seorang Kristen yang memikirkan situasinya hendaknya menyadari pada akhirnya bahwa hal ini memberikan kepadanya kesempatan untuk mempertunjukkan kemurnian kasihnya. Kasih sejati ”panjang sabar dan baik hati . . . [dan] tidak mencari kepentingan diri sendiri . . . Ia menahan segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, bertekun menahan segala sesuatu”. (1 Korintus 13:4-7) Sebaliknya daripada membiarkan perasaan-perasaan negatif menguasai, penting agar kita berbuat sebisa mungkin untuk mengendalikannya.—Amsal 3:21.

      9. Jaminan apa yang dapat membantu suatu keluarga secara rohani dan emosi apabila seorang anggotanya sakit parah?

      9 Apa yang dapat dilakukan untuk melindungi kesejahteraan rohani dan emosi keluarga, jika salah seorang anggotanya sakit parah? Tentu saja, setiap penyakit membutuhkan perawatan dan pengobatan yang khusus, dan tidaklah patut jika publikasi ini merekomendasikan suatu prosedur medis atau prosedur perawatan di rumah. Meskipun demikian, dalam arti rohani, Yehuwa adalah ”penegak bagi semua orang yang tertunduk”. (Mazmur 145:14) Raja Daud menulis, ”Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! [Yehuwa] akan meluputkan dia pada waktu celaka. [Yehuwa] akan melindungi dia dan memelihara nyawanya, . . . Yehuwa membantu dia di ranjangnya waktu sakit.” (Mazmur 41:2-4) Yehuwa memelihara hamba-hamba-Nya hidup secara rohani, bahkan ketika mereka dicobai secara emosi melebihi kekuatan mereka sendiri. (2 Korintus 4:7) Banyak anggota keluarga yang menghadapi penyakit yang serius dalam rumah tangga mereka telah menggemakan kata-kata pemazmur, ”Aku sangat tertindas, ya [Yehuwa], hidupkanlah aku sesuai dengan firman-Mu.”—Mazmur 119:107.

      SEMANGAT YANG MENYEMBUHKAN

      10, 11. (a) Apa yang sangat penting agar suatu keluarga menghadapi penyakit dengan berhasil? (b) Bagaimana seorang wanita menghadapi suaminya yang sakit?

      10 ”Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya,” kata sebuah amsal Alkitab, ”tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?” (Amsal 18:14) Trauma dapat melemahkan semangat suatu keluarga demikian juga ’semangat seseorang’. Tetapi, ”hati yang tenang menyegarkan tubuh”. (Amsal 14:30) Apakah suatu keluarga dapat berhasil menghadapi penyakit yang serius atau tidak sangat bergantung kepada sikap, atau semangat, dari anggota-anggotanya.—Bandingkan Amsal 17:22.

      11 Seorang wanita Kristen harus bertekun melihat suaminya lumpuh karena stroke hanya enam tahun setelah mereka menikah. ”Kemampuan berbicara suami saya sangat terpengaruh, sehingga hampir mustahil untuk bercakap-cakap dengannya,” kenangnya. ”Ketegangan mental dalam upaya memahami apa yang dengan susah payah ingin diucapkannya terasa sungguh berat.” Bayangkan juga penderitaan dan rasa frustrasi yang pasti dialami sang suami. Apa yang dilakukan oleh pasangan tersebut? Walaupun mereka tinggal jauh dari sidang Kristen, saudari ini berupaya sedapat mungkin untuk tetap kuat secara rohani dengan tetap mengikuti semua informasi terbaru mengenai organisasi, juga persediaan makanan rohani yang terus-menerus dalam majalah Menara Pengawal dan Sedarlah! Hal ini memberinya kekuatan rohani untuk merawat suami yang ia kasihi hingga suaminya meninggal empat tahun kemudian.

      12. Sebagaimana terlihat dalam kasus Ayub, sumbangan apa yang kadang-kadang diberikan oleh si sakit?

      12 Dalam hal Ayub, dia sendiri, si penderita, yang tetap kuat. ”Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” ia bertanya kepada istrinya. (Ayub 2:10) Tidak heran bahwa Yakobus, sang murid, belakangan menyebut Ayub sebagai teladan yang menonjol berkenaan kesabaran dan ketekunan! Di Yakobus 5:11 kita membaca, ”Kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan telah melihat kesudahan yang Yehuwa berikan, bahwa Yehuwa sangat lembut dalam kasih sayang dan berbelaskasihan.” Demikian pula dewasa ini, dalam banyak kasus, sikap yang tabah dari anggota keluarga yang sakit telah membantu anggota-anggota lain dalam rumah tangga untuk memelihara pandangan yang positif.

      13. Perbandingan apa yang hendaknya tidak dibuat oleh keluarga yang mengalami adanya penyakit yang serius?

      13 Sebagian besar orang yang pernah harus berhadapan dengan penyakit dalam keluarga setuju bahwa bukan hal yang aneh jika anggota-anggota keluarga pada mulanya sulit menghadapi kenyataan. Mereka juga menunjukkan bahwa caranya seseorang memandang keadaan benar-benar penting. Perubahan dan penyesuaian dalam rutin rumah tangga mungkin sulit pada permulaannya. Tetapi jika seseorang benar-benar berupaya, ia dapat beradaptasi dengan situasi yang baru. Dalam melakukannya, penting agar kita tidak membanding-bandingkan keadaan kita dengan keadaan orang lain yang tidak memiliki anggota keluarga yang sakit, dengan berpikir bahwa hidup mereka lebih mudah dan bahwa ’ini benar-benar tidak adil!’ Sebenarnya, tidak seorang pun benar-benar tahu beban apa yang harus ditanggung oleh orang lain. Semua orang Kristen mendapatkan penghiburan dari kata-kata Yesus, ”Marilah kepadaku, kamu semua yang berjerih lelah dan mempunyai tanggungan berat, dan aku akan menyegarkan kamu.”—Matius 11:28.

      MENETAPKAN PRIORITAS

      14. Bagaimana prioritas yang sepatutnya dapat ditetapkan?

      14 Dalam menghadapi penyakit yang serius, adalah bermanfaat jika suatu keluarga mengingat kata-kata terilham, ”Rancangan . . . terlaksana kalau penasihat banyak.” (Amsal 15:22) Dapatkah anggota-anggota keluarga berkumpul dan membicarakan keadaan yang disebabkan oleh penyakit itu? Pasti akan sangat tepat untuk melakukannya disertai doa dan berpaling kepada Firman Allah untuk mendapatkan bimbingan. (Mazmur 25:4) Apa yang hendaknya dipertimbangkan dalam pembicaraan demikian? Ya, ada keputusan-keputusan yang harus dibuat berkenaan dengan masalah medis, keuangan, dan keluarga. Siapa yang terutama akan memberikan perawatan? Bagaimana keluarga dapat bekerja sama untuk mendukung perawatan itu? Bagaimana pengaturan yang dibuat akan mempengaruhi setiap anggota keluarga? Bagaimana kebutuhan rohani dan kebutuhan lainnya dari orang yang terutama memberikan perawatan akan diurus?

      15. Dukungan apa yang Yehuwa sediakan bagi keluarga-keluarga yang mengalami adanya penyakit yang serius?

      15 Berdoa dengan sungguh-sungguh memohon bimbingan Yehuwa, merenungkan Firman-Nya, dan dengan tabah mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh Alkitab sering kali menghasilkan berkat-berkat yang melampaui harapan kita. Penyakit dari seorang anggota keluarga yang sakit mungkin tidak selalu membaik. Tetapi bersandar kepada Yehuwa selalu mendatangkan hasil yang terbaik dalam situasi apa pun. (Mazmur 55:23) Sang pemazmur menulis, ”Kasih setia-Mu, ya [Yehuwa], menyokong aku. Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku.”—Mazmur 94:18, 19; lihat juga Mazmur 63:7-9.

      MEMBANTU ANAK-ANAK

      Picture on page 125

      Jika keluarga bekerja bersama, problem-problem dapat diatasi

      16, 17. Pokok-pokok apa yang dapat dikemukakan pada waktu berbicara dengan anak-anak kecil tentang sakitnya seorang saudara kandung?

      16 Penyakit yang serius dapat menyebabkan problem bagi anak-anak dalam keluarga tersebut. Penting bagi orang-tua untuk membantu anak-anak memahami kebutuhan yang timbul dan apa yang dapat mereka lakukan untuk membantu. Jika yang jatuh sakit adalah seorang anak, saudara kandungnya harus dibantu untuk mengerti bahwa perhatian dan perawatan ekstra yang diterima oleh anak yang sakit tidak mengartikan bahwa anak-anak yang lain kurang dikasihi. Sebaliknya daripada membiarkan perasaan tidak senang atau persaingan berkembang, orang-tua dapat membantu anak-anak yang lain untuk membentuk ikatan yang lebih erat dengan satu sama lain dan memiliki kasih sayang yang murni seraya mereka bekerja sama untuk menangani situasi yang disebabkan oleh penyakit tersebut.

      17 Anak-anak kecil biasanya akan lebih mudah menanggapi jika orang-tua menggugah perasaan mereka, daripada penjelasan yang panjang lebar atau rumit tentang kondisi medis. Maka mereka dapat diberi sedikit gambaran apa yang sedang dialami oleh anggota keluarga yang sakit tersebut. Jika anak-anak yang sehat melihat bagaimana penyakit itu membuat si penderita tidak dapat melakukan banyak hal yang mereka sendiri anggap sudah semestinya, kemungkinan besar mereka akan lebih memiliki ”kasih sayang persaudaraan” dan ”beriba hati yang lembut”.—1 Petrus 3:8.

      18. Bagaimana anak-anak yang lebih besar dapat dibantu untuk mengerti problem-problem yang timbul karena sakitnya seseorang, dan bagaimana hal ini dapat bermanfaat bagi mereka?

      18 Anak-anak yang lebih besar hendaknya dibantu untuk menyadari bahwa ada suatu situasi yang sulit dan itu menuntut pengorbanan di pihak setiap anggota keluarga. Dengan adanya biaya dokter dan resep obat yang harus dibayar, mungkin orang-tua tidak dapat menyediakan bagi anak-anak lain seperti yang mereka inginkan. Apakah anak-anak akan merasa tidak senang akan hal ini dan merasa bahwa sesuatu dirampas dari mereka? Atau apakah mereka akan memahami situasinya dan rela membuat pengorbanan yang dibutuhkan? Hal ini banyak bergantung pada bagaimana masalah ini dibicarakan dan semangat yang ada dalam keluarga tersebut. Sesungguhnya, dalam banyak keluarga, sakitnya seorang anggota keluarga telah membantu untuk melatih anak-anak mengikuti nasihat Paulus, ”[Jangan] melakukan apa pun karena sifat suka bertengkar atau karena menganggap diri paling penting, tetapi dengan kerendahan pikiran menganggap orang lain lebih tinggi daripada kamu, menaruh perhatian, bukan dengan minat pribadi kepada persoalanmu sendiri saja, tetapi juga dengan minat pribadi kepada persoalan orang lain.”—Filipi 2:3, 4.

      CARA MEMANDANG PERAWATAN MEDIS

      19, 20. (a) Tanggung jawab apa yang dipikul oleh kepala keluarga jika seorang anggota keluarga sakit? (b) Walaupun bukan buku pedoman medis, bagaimana Alkitab menyediakan bimbingan untuk menangani penyakit?

      19 Orang Kristen yang seimbang tidak menentang perawatan medis sepanjang hal itu tidak berlawanan dengan hukum Allah. Apabila seorang anggota keluarga mereka jatuh sakit, mereka ingin mencari bantuan untuk mengurangi penderitaan yang dialaminya. Namun, mungkin ada pendapat medis yang bertentangan yang harus dipertimbangkan. Selain itu, pada tahun-tahun belakangan ini, berbagai penyakit dan gangguan kesehatan yang baru telah bermunculan, dan untuk banyak di antaranya, tidak ada metode perawatan yang dapat diterima secara umum. Bahkan kadang-kadang sulit untuk mendapatkan diagnosis yang akurat. Maka, apa yang hendaknya seorang Kristen lakukan?

      20 Walaupun seorang penulis Alkitab adalah dokter, dan rasul Paulus memberikan saran medis kepada Timotius sahabatnya, Alkitab adalah pembimbing moral dan rohani, bukan sebuah buku pedoman medis. (Kolose 4:14; 1 Timotius 5:23) Oleh karena itu, dalam masalah perawatan medis, kepala keluarga Kristen harus membuat keputusan yang seimbang untuk mereka sendiri. Mungkin mereka merasa perlu mendapatkan lebih daripada satu pendapat profesional. (Bandingkan Amsal 18:17.) Mereka tentunya ingin mendapatkan bantuan terbaik yang tersedia bagi anggota keluarga mereka yang sakit, dan kebanyakan mencarinya di antara para dokter medis umum. Beberapa lebih senang dengan terapi kesehatan alternatif. Ini pun merupakan keputusan pribadi. Namun, sewaktu menangani problem kesehatan, orang Kristen terus membiarkan ’Firman Allah menjadi pelita bagi kaki mereka, dan terang bagi jalan mereka’. (Mazmur 119:105) Mereka terus mengikuti petunjuk yang diuraikan dalam Alkitab. (Yesaya 55:8, 9) Maka, mereka menjauhkan diri dari teknik diagnosis yang berbau spiritisme, dan mereka menghindari perawatan yang melanggar prinsip-prinsip Alkitab.—Mazmur 36:10; Kisah 15:28, 29; Penyingkapan 21:8.

      21, 22. Bagaimana seorang wanita Asia bernalar berdasarkan sebuah prinsip Alkitab, dan bagaimana keputusan yang ia ambil terbukti benar dalam keadaannya?

      21 Pertimbangkan kasus seorang wanita Asia yang masih muda. Tidak lama setelah ia mulai mengetahui isi Alkitab karena belajar bersama salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa, ia melahirkan seorang bayi perempuan prematur yang hanya berbobot 1.470 gram. Wanita ini hancur hatinya ketika seorang dokter mengatakan bahwa bayinya akan sangat terbelakang dan tidak akan pernah dapat berjalan. Dokter ini menyarankan dia untuk menyerahkan bayinya kepada sebuah lembaga perawatan. Suaminya bimbang akan persoalan ini. Kepada siapa ia dapat berpaling?

      22 Ia berkata, ”Saya ingat belajar dari Alkitab bahwa ’anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada [Yehuwa], dan buah kandungan adalah suatu upah’.” (Mazmur 127:3) Ia memutuskan untuk membawa pulang ”milik pusaka” ini dan merawatnya. Segalanya sulit pada mulanya, tetapi dengan bantuan dari rekan-rekan Kristennya di sidang setempat dari Saksi-Saksi Yehuwa, wanita ini dapat mengurus dan menyediakan dukungan istimewa yang diperlukan oleh anaknya. Dua belas tahun kemudian, anaknya dapat pergi ke perhimpunan di Balai Kerajaan dan menikmati pergaulan dengan anak-anak muda di sana. Ibu tersebut berkomentar, ”Saya sungguh bersyukur bahwa prinsip-prinsip Alkitab menggerakkan saya untuk melakukan apa yang benar. Alkitab membantu saya untuk mempertahankan hati nurani yang bersih di hadapan Allah Yehuwa dan tidak memiliki penyesalan yang pasti akan menghantui saya seumur hidup.”

      23. Penghiburan apa yang Alkitab berikan bagi orang yang sakit dan mereka yang merawatnya?

      23 Penyakit tidak akan ada bersama kita selama-lamanya. Nabi Yesaya menunjuk ke masa depan pada waktu ”tidak seorangpun yang tinggal di situ akan berkata: ’Aku sakit’”. (Yesaya 33:24) Janji itu akan tergenap dalam dunia baru yang sedang mendekat dengan sangat cepat. Akan tetapi, hingga saat itu tiba, kita harus hidup dengan penyakit dan kematian. Untunglah, Firman Allah memberi kita bimbingan dan bantuan. Aturan dasar untuk tingkah laku yang Alkitab sediakan bertahan lama, dan lebih unggul daripada pendapat yang selalu berubah-ubah dari manusia yang tidak sempurna. Karena itu, seorang yang bijaksana akan setuju dengan sang pemazmur yang menulis, ”Taurat [Yehuwa] itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan [Yehuwa] itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. . . . hukum-hukum [Yehuwa] itu benar, adil semuanya, . . . orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar.”—Mazmur 19:8, 10, 12.Mazmur 19:8, 10, 12.Mazmur 19:8, 10, 12.

      BAGAIMANA PRINSIP-PRINSIP ALKITAB INI MEMBANTU . . . KELUARGA UNTUK MENGATASI PENYAKIT YANG PARAH DAN GANGGUAN YANG DIAKIBATKANNYA?

      Kasih itu panjang sabar dan bertekun menahan segala sesuatu.—1 Korintus 13:4-7.

      Penting untuk memperkembangkan semangat yang baik.—Amsal 18:14.

      Baik untuk meminta nasihat sebelum membuat keputusan yang penting.—Amsal 15:22.

      Yehuwa memberi kita dukungan pada waktu kehidupan menjadi sulit.—Mazmur 55:23.

      Firman Yehuwa adalah pembimbing dalam segala keadaan.—Mazmur 119:105.

  • Memelihara Perdamaian dalam Rumah Tangga Saudara
    Rahasia Kebahagiaan Keluarga
    • PASAL SEBELAS

      Memelihara Perdamaian dalam Rumah Tangga Saudara

      1. Hal apa saja yang dapat menyebabkan perpecahan dalam keluarga?

      BERBAHAGIALAH mereka yang berada dalam keluarga yang memiliki kasih, pengertian, dan perdamaian. Semoga keluarga saudara seperti itu. Namun menyedihkan sekali, tak terhitung banyaknya keluarga yang tidak cocok dengan gambaran tersebut dan terbagi karena satu atau lain sebab. Apa yang menyebabkan rumah tangga terbagi? Dalam pasal ini kita akan membahas tiga hal. Dalam beberapa keluarga, tidak semua anggotanya memiliki agama yang sama. Dalam keluarga lain, anak-anak mungkin tidak memiliki orang-tua kandung yang sama. Dalam keluarga yang lain lagi, perjuangan untuk mencari nafkah atau keinginan untuk memiliki lebih banyak perkara materi tampaknya telah memisahkan anggota-anggota keluarga. Namun, keadaan yang menyebabkan satu rumah tangga terbagi belum tentu mempengaruhi rumah tangga yang lain. Apa yang membedakan?

      2. Ke mana beberapa orang mencari bimbingan untuk kehidupan keluarga, tetapi apa sumber terbaik untuk mendapatkan bimbingan demikian?

      2 Sudut pandangan adalah salah satu faktor. Jika saudara dengan tulus mencoba mengerti sudut pandangan orang lain, saudara kemungkinan besar lebih dapat memahami cara untuk memelihara rumah tangga yang bersatu. Faktor kedua adalah sumber bimbingan saudara. Banyak orang mengikuti saran dari teman sekerja, tetangga, kolumnis surat kabar, atau pembimbing manusia lainnya. Tetapi, ada yang telah menemukan apa yang Firman Allah katakan tentang keadaan mereka, dan kemudian mereka menerapkan apa yang mereka pelajari. Bagaimana dengan melakukan hal ini, suatu keluarga akan dibantu untuk memelihara perdamaian dalam rumah tangga?—2 Timotius 3:16, 17.

      JIKA SUAMI TIDAK SEIMAN

      Picture on page 130

      Berupayalah mengerti sudut pandangan orang lain

      3. (a) Apa nasihat Alkitab berkenaan dengan menikahi orang yang tidak seiman? (b) Prinsip dasar apa saja yang berlaku jika seorang pasangan hidup adalah seorang yang beriman dan yang lainnya tidak?

      3 Alkitab dengan tegas menasihati kita untuk tidak menikah dengan seseorang yang memiliki iman keagamaan yang berbeda. (Ulangan 7:3, 4; 1 Korintus 7:39) Akan tetapi, mungkin saja saudari belajar kebenaran dari Alkitab setelah saudari menikah tetapi suami saudari tidak belajar. Jadi bagaimana? Tentu saja, ikrar perkawinan tetap berlaku. (1 Korintus 7:10) Alkitab menandaskan bahwa ikatan perkawinan permanen dan menganjurkan orang-orang yang telah menikah untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan di antara mereka sebaliknya daripada melarikan diri darinya. (Efesus 5:28-31; Titus 2:4, 5) Tetapi, bagaimana jika suami saudari dengan keras menentang saudari menjalankan agama dari Alkitab? Ia mungkin berupaya menghalangi saudari agar tidak pergi ke perhimpunan sidang, atau ia mungkin mengatakan bahwa ia tidak mau istrinya pergi dari rumah ke rumah, berbicara tentang agama. Apa yang akan saudari lakukan?

      4. Dengan cara apa seorang istri dapat memperlihatkan empati jika suaminya tidak seiman?

      4 Tanyakanlah kepada diri sendiri, ’Mengapa suami saya berperasaan seperti itu?’ (Amsal 16:20, 23) Jika ia tidak sepenuhnya mengerti apa yang saudari lakukan, ia mungkin mengkhawatirkan saudari. Atau ia mungkin ditekan oleh sanak saudara karena saudari tidak lagi mengikuti beberapa kebiasaan tertentu yang penting bagi mereka. ”Ditinggalkan seorang diri di rumah, saya merasa diabaikan,” kata seorang suami. Pria ini merasa bahwa ia kehilangan istrinya karena sebuah agama. Tetapi keangkuhan telah membuatnya tidak mau mengakui bahwa ia kesepian. Suami saudari mungkin perlu diyakinkan kembali bahwa kasih saudari kepada Yehuwa tidak berarti kini kasih saudari kepada suami menjadi kurang daripada sebelumnya. Pastikan untuk menggunakan waktu bersamanya.

      5. Keseimbangan apa yang harus dijaga oleh istri yang suaminya berbeda iman?

      5 Akan tetapi, ada hal yang bahkan lebih penting untuk diperhatikan jika saudari ingin menangani keadaan ini dengan bijaksana. Firman Allah mendesak para istri, ”Tunduklah kepada suamimu, sebagaimana pantas dalam Tuan.” (Kolose 3:18) Jadi, Alkitab memperingatkan terhadap semangat ingin bebas. Selain itu, dengan mengatakan ”sebagaimana pantas dalam Tuan”, ayat ini menunjukkan bahwa dalam hal ketundukan kepada suami, seseorang juga harus mempertimbangkan ketundukan kepada Tuan. Harus ada keseimbangan.

      6. Prinsip-prinsip apa yang hendaknya diingat oleh seorang istri Kristen?

      6 Bagi seorang Kristen, menghadiri perhimpunan sidang dan memberi kesaksian kepada orang lain tentang imannya yang didasarkan atas Alkitab merupakan aspek-aspek penting dari ibadat sejati yang tidak boleh diabaikan. (Roma 10:9, 10, 14; Ibrani 10:24, 25) Jadi, apa yang akan saudari lakukan, jika seorang manusia secara langsung memerintahkan saudari untuk tidak memenuhi suatu tuntutan yang spesifik dari Allah? Rasul-rasul Yesus Kristus menyatakan, ”Kita harus menaati Allah sebagai penguasa sebaliknya daripada manusia.” (Kisah 5:29) Teladan mereka menyediakan preseden yang dapat diterapkan pada banyak keadaan dalam kehidupan. Apakah kasih kepada Yehuwa akan menggerakkan saudari untuk memberikan kepada-Nya pengabdian yang secara sah adalah milik-Nya? Pada waktu yang sama, apakah kasih dan respek saudari kepada suami akan membuat saudari berupaya melakukan hal ini dengan cara yang tidak menjengkelkan suami saudari?—Matius 4:10; 1 Yohanes 5:3.

      7. Tekad apa yang harus dimiliki seorang istri Kristen?

      7 Yesus menyatakan bahwa hal ini tidak selalu mungkin. Ia memperingatkan bahwa karena tentangan terhadap ibadat yang benar, beberapa anggota keluarga yang beriman akan merasa dikerat, seolah-olah sebilah pedang telah memisahkan mereka dari yang lain dalam keluarga. (Matius 10:34-36) Seorang wanita di Jepang mengalami hal ini. Dia ditentang oleh suaminya selama 11 tahun. Suaminya memperlakukan dia dengan buruk dan sering membiarkan dia terkunci di luar rumah. Tetapi dia bertekun. Rekan-rekan dalam sidang Kristen membantu dia. Dia berdoa tanpa henti dan mendapatkan banyak anjuran dari 1 Petrus 2:20. Wanita Kristen ini yakin bahwa jika dia tetap kuat, pada suatu hari suaminya akan bergabung dengan dia melayani Yehuwa. Dan hal itu menjadi kenyataan.

      8, 9. Bagaimana hendaknya seorang istri bertindak agar tidak menaruh rintangan yang tidak perlu di hadapan suaminya?

      8 Ada banyak hal praktis yang dapat saudari lakukan untuk mempengaruhi sikap teman hidup saudari. Sebagai contoh, jika suami saudari menentang agama saudari, jangan memberi dia alasan yang sah untuk mengeluh di bidang-bidang lain. Jagalah rumah tetap bersih. Jaga penampilan pribadi saudari. Hendaklah murah hati dalam memberikan pernyataan kasih dan penghargaan. Sebaliknya daripada mengkritik, hendaklah mendukung. Perlihatkan bahwa saudari mengharapkan dia bertindak sebagai kepala. Jangan membalas jika saudari merasa telah diperlakukan dengan salah. (1 Petrus 2:21, 23) Pertimbangkanlah ketidaksempurnaan manusiawi, dan jika timbul perselisihan, hendaklah dengan rendah hati mendahului untuk meminta maaf.—Efesus 4:26.

      9 Jangan sampai kehadiran saudari di perhimpunan menyebabkan dia terlambat makan. Saudari dapat juga memilih untuk ikut dalam pelayanan Kristen pada waktu suami sedang tidak ada di rumah. Adalah bijaksana jika seorang istri Kristen tidak mengabar kepada suaminya jika hal itu tidak mendapat sambutan. Sebaliknya, ia mengikuti nasihat rasul Petrus, ”Kamu istri-istri, tunduklah kepada suamimu sendiri, agar, jika ada yang tidak taat kepada firman, mereka dapat dimenangkan tanpa perkataan melalui tingkah laku istri mereka, karena telah menjadi saksi mata dari tingkah lakumu yang murni disertai respek yang dalam.” (1 Petrus 3:1, 2) Para istri Kristen berupaya untuk lebih sepenuhnya mempertunjukkan buah-buah roh Allah.—Galatia 5:22, 23.

      APABILA ISTRI TIDAK SEIMAN

      10. Bagaimana seorang suami yang percaya hendaknya bertindak terhadap istrinya jika ia berbeda kepercayaan?

      10 Bagaimana jika suami mempraktekkan kekristenan sedangkan istrinya tidak? Alkitab memberi petunjuk untuk keadaan demikian. Alkitab mengatakan, ”Jika seorang saudara mempunyai istri yang tidak percaya, namun wanita itu setuju tinggal bersamanya, janganlah ia meninggalkan dia.” (1 Korintus 7:12) Alkitab juga mengingatkan para suami, ”Teruslah kasihi istrimu.”—Kolose 3:19.

      11. Bagaimana seorang suami dapat memperlihatkan daya pengamatan dan dengan bijaksana menjalankan kekepalaan atas istrinya jika dia bukan seorang Kristen sejati?

      11 Jika saudara adalah suami dari istri yang berbeda iman dengan saudara, hendaklah saudara khususnya waspada untuk memperlihatkan respek kepada istri dan mempertimbangkan perasaannya. Sebagai seorang dewasa, ia layak mendapatkan sejumlah kebebasan untuk menjalankan kepercayaan agamanya, sekalipun saudara tidak menyetujui kepercayaan tersebut. Pertama kali saudara berbicara kepadanya tentang iman saudara, jangan mengharapkan dia untuk membuang kepercayaan yang telah lama dianutnya demi sesuatu yang baru. Sebaliknya daripada memberondong dengan kata-kata bahwa kebiasaan agama yang telah lama dianut olehnya dan keluarganya adalah salah, berupayalah dengan sabar untuk bertukar pikiran bersamanya dari Alkitab. Bisa jadi ia merasa diabaikan jika saudara membaktikan sejumlah besar waktu untuk kegiatan-kegiatan sidang. Ia mungkin menentang upaya saudara untuk melayani Yehuwa, tetapi pesan dasarnya mungkin hanyalah: ”Berikan lebih banyak waktumu untukku!” Bersabarlah. Dengan pertimbangan saudara yang penuh kasih, pada waktunya ia mungkin dapat dibantu untuk memeluk ibadat yang benar.—Kolose 3:12-14; 1 Petrus 3:8, 9.

      MELATIH ANAK-ANAK

      12. Sekalipun suami dan istri berbeda iman, bagaimana hendaknya prinsip-prinsip Alkitab diterapkan dalam melatih anak-anak mereka?

      12 Dalam rumah tangga yang tidak bersatu dalam ibadat, pengajaran agama kepada anak-anak kadang-kadang menjadi masalah. Bagaimana hendaknya prinsip-prinsip Alkitab diterapkan? Alkitab menetapkan tanggung jawab utama untuk mengajar anak-anak kepada para ayah, tetapi ibu juga memainkan peranan penting. (Amsal 1:8; bandingkan Kejadian 18:19; Ulangan 11:18, 19.) Sekalipun ayah tidak menerima kekepalaan Kristus, ia tetap kepala keluarga.

      13, 14. Jika suami melarang istrinya membawa anak-anak ke perhimpunan Kristen atau belajar bersama mereka, apa yang dapat istrinya lakukan?

      13 Beberapa ayah yang tidak beriman tidak keberatan jika ibu mengajarkan hal-hal keagamaan kepada anak-anak. Ayah-ayah lain berkeberatan. Bagaimana jika suami saudari tidak mengizinkan saudari membawa anak-anak ke perhimpunan sidang atau bahkan melarang saudari untuk mempelajari Alkitab bersama mereka di rumah? Nah, saudari harus membuat seimbang sejumlah kewajiban—kewajiban saudari terhadap Allah Yehuwa, kepada suami saudari sebagai kepala, dan kepada anak-anak yang saudari kasihi. Bagaimana saudari dapat membuat semua ini sejalan?

      14 Tentu saudari akan berdoa tentang masalah ini. (Filipi 4:6, 7; 1 Yohanes 5:14) Tetapi pada akhirnya, saudarilah yang harus memutuskan haluan apa yang harus diambil. Jika saudari bertindak dengan bijaksana, membuatnya jelas kepada suami bahwa saudari tidak menantang kekepalaannya, tentangannya mungkin akhirnya akan mereda. Sekalipun suami melarang saudari membawa anak-anak ke perhimpunan atau mengadakan pengajaran Alkitab secara resmi dengan mereka, saudari dapat tetap mengajar mereka. Melalui percakapan saudari sehari-hari dan teladan saudari yang baik, cobalah untuk menanamkan dalam diri mereka suatu kadar kasih kepada Yehuwa, iman kepada Firman-Nya, respek kepada orang-tua—termasuk ayah mereka—perhatian yang pengasih terhadap orang lain, dan penghargaan akan kebiasaan kerja yang penuh tanggung jawab. Pada akhirnya, sang ayah mungkin memperhatikan hasil-hasil yang baik dan dapat menghargai nilai dari upaya-upaya saudari.—Amsal 23:24.

      15. Apa tanggung jawab seorang ayah yang percaya sehubungan dengan pendidikan anak-anak?

      15 Jika saudara adalah suami yang beriman sedangkan istri saudara tidak, maka saudara harus memikul tanggung jawab untuk membesarkan anak-anak ”dalam disiplin dan pengaturan-mental dari Yehuwa”. (Efesus 6:4) Sementara melakukannya, tentu saja saudara hendaknya bersikap baik hati, pengasih, dan masuk akal dalam berurusan dengan istri saudara.

      JIKA AGAMA SAUDARA BUKAN AGAMA ORANG-TUA

      16, 17. Prinsip-prinsip Alkitab apa harus diingat oleh anak-anak jika mereka menerima suatu kepercayaan yang berbeda dari kepercayaan orang-tua mereka?

      16 Bukan lagi hal yang tidak lazim bahwa ada anak-anak, yang sekalipun masih kecil, menganut pandangan agama yang berbeda dari orang-tua mereka. Apakah demikian halnya dengan saudara? Kalau begitu, ada nasihat dalam Alkitab bagi saudara.

      17 Firman Allah mengatakan, ”Taatilah orang-tuamu dalam persatuan dengan Tuan, karena hal ini adil-benar: ’Hormatilah bapakmu dan ibumu.’” (Efesus 6:1, 2) Itu mencakup respek yang sehat kepada orang-tua. Akan tetapi, walaupun ketaatan kepada orang-tua itu penting, hal itu tidak boleh dijalankan tanpa mempedulikan Allah yang benar. Apabila seorang anak sudah cukup besar untuk mulai membuat keputusan, ia akan memikul semakin banyak tanggung jawab atas tindakan-tindakannya. Hal ini benar bukan saja sehubungan dengan hukum duniawi tetapi khususnya berkenaan dengan hukum ilahi. ”Kita masing-masing akan memberi pertanggungjawaban bagi dirinya sendiri kepada Allah,” Alkitab menyatakan.—Roma 14:12.

      18, 19. Jika anak-anak memiliki agama yang berbeda dari agama orang-tua mereka, bagaimana mereka dapat membantu orang-tua mereka untuk lebih memahami iman mereka?

      18 Jika kepercayaan saudara membuat saudara harus mengadakan perubahan dalam kehidupan saudara, cobalah untuk mengerti sudut pandangan orang-tua saudara. Mereka kemungkinan besar akan senang apabila, sebagai hasil dari belajar dan menerapkan ajaran Alkitab, saudara menjadi lebih respek, lebih taat, dan lebih rajin melakukan apa yang mereka minta dari saudara. Akan tetapi, jika iman saudara yang baru juga menyebabkan saudara harus menolak kepercayaan dan kebiasaan yang mereka anut secara pribadi, mereka mungkin merasa bahwa saudara mencampakkan suatu warisan yang hendak mereka berikan kepada saudara. Mereka juga mungkin khawatir akan kesejahteraan saudara jika apa yang saudara lakukan tidak populer di masyarakat atau jika itu menyimpangkan perhatian saudara dari cita-cita yang mereka pikir dapat membantu saudara untuk makmur secara materi. Kesombongan juga dapat menjadi penghalang. Mereka mungkin merasa bahwa saudara, sebenarnya, mengatakan bahwa saudara benar dan mereka salah.

      19 Oleh karena itu, sesegera mungkin, cobalah untuk mempertemukan orang-tua saudara dengan beberapa penatua atau Saksi-Saksi yang matang lainnya dari sidang setempat. Anjurkan orang-tua saudara untuk datang ke Balai Kerajaan dan mendengar sendiri apa yang dibahas dan melihat secara langsung orang-orang macam apa Saksi-Saksi Yehuwa itu. Pada waktunya, sikap orang-tua mungkin melunak. Sekalipun orang-tua menentang keras, menghancurkan bacaan Alkitab, dan melarang anak-anak menghadiri perhimpunan Kristen, biasanya ada kesempatan-kesempatan untuk membaca di tempat lain, berbicara kepada rekan-rekan Kristen, dan memberi kesaksian serta membantu orang lain secara tidak resmi. Saudara juga dapat berdoa kepada Yehuwa. Beberapa anak muda harus menunggu hingga mereka cukup besar untuk tinggal di luar rumah sebelum mereka dapat berbuat lebih banyak. Akan tetapi, apa pun situasinya, jangan lupa untuk ’menghormati bapakmu dan ibumu’. Lakukan bagian saudara untuk menyumbang kepada perdamaian dalam rumah. (Roma 12:17, 18) Di atas segalanya, kejarlah perdamaian dengan Allah.

      TANTANGAN MENJADI ORANG-TUA TIRI

      20. Perasaan apa saja yang mungkin dimiliki anak-anak jika ayah atau ibu mereka adalah orang-tua tiri?

      20 Dalam banyak rumah, situasi yang menghadirkan tantangan paling besar bukanlah soal agama tetapi soal hubungan darah. Banyak rumah tangga dewasa ini terdiri dari anak-anak yang berasal dari pernikahan sebelumnya dari salah satu atau kedua orang-tua. Dalam keluarga demikian, anak-anak dapat mengalami perasaan cemburu dan kesal atau barangkali suatu konflik loyalitas. Sebagai akibatnya, mereka mungkin menolak upaya-upaya yang tulus dari orang-tua tiri untuk menjadi ayah atau ibu yang baik. Apa yang dapat membantu membuat keluarga tiri berhasil?

      Picture on page 138

      Orang-tua kandung ataupun orang-tua tiri, bersandarlah pada Alkitab untuk mendapatkan bimbingan

      21. Tidak soal keadaan-keadaan khusus yang mereka miliki, mengapa hendaknya orang-tua tiri memperhatikan prinsip-prinsip yang terdapat dalam Alkitab untuk mendapatkan bantuan?

      21 Sadarilah bahwa tidak soal adanya keadaan-keadaan khusus, prinsip-prinsip Alkitab yang membawa keberhasilan dalam rumah-rumah tangga lain juga berlaku di sini. Mengabaikan prinsip-prinsip tersebut mungkin, untuk sementara, tampaknya meredakan suatu problem tetapi kemungkinan besar akan menyebabkan perasaan sakit hati di kemudian hari. (Mazmur 127:1; Amsal 29:15) Perkembangkanlah hikmat dan daya pengamatan—hikmat untuk menerapkan prinsip-prinsip yang saleh sambil mengingat manfaat jangka panjang, dan daya pengamatan untuk menentukan mengapa anggota-anggota keluarga mengatakan atau melakukan hal-hal tertentu. Empati juga dibutuhkan.—Amsal 16:21; 24:3; 1 Petrus 3:8.

      22. Mengapa anak-anak mungkin sulit menerima orang-tua tiri?

      22 Jika saudara orang-tua tiri, saudara mungkin mengingat bahwa sebagai seorang sahabat dari keluarga, saudara mungkin disambut oleh anak-anak. Tetapi pada waktu saudara menjadi orang-tua tiri mereka, sikap mereka berubah. Karena teringat akan orang-tua kandung yang tidak lagi tinggal bersama mereka, anak-anak bisa jadi sedang berjuang dengan konflik loyalitas, mungkin merasa bahwa saudara ingin merampas kasih sayang yang mereka miliki bagi orang-tua yang tidak ada. Kadang-kadang, mereka mungkin tanpa perasaan mengingatkan bahwa saudara bukan ayah mereka atau ibu mereka. Pernyataan seperti itu menyakitkan hati. Namun, ”janganlah lekas-lekas marah dalam hati”. (Pengkhotbah 7:9) Daya pengamatan dan empati dibutuhkan agar dapat menghadapi emosi anak-anak.

      23. Bagaimana disiplin dapat ditangani dalam keluarga yang memiliki anak-anak tiri?

      23 Sifat-sifat tersebut penting sekali pada waktu seseorang menjalankan disiplin. Disiplin yang konsisten sangat penting. (Amsal 6:20; 13:1) Dan karena tidak semua anak sama, disiplin dapat berbeda dari satu kasus ke kasus lain. Beberapa orang-tua tiri mendapati bahwa, setidaknya pada permulaannya lebih baik apabila orang-tua kandung yang menangani aspek peran sebagai orang-tua ini. Namun, penting agar kedua orang-tua setuju dengan disiplin itu dan menjunjungnya, tidak lebih memihak kepada keturunan sendiri dibandingkan anak tiri. (Amsal 24:23) Ketaatan penting, tetapi perlu mempertimbangkan ketidaksempurnaan. Jangan memberi reaksi yang berlebihan. Berilah disiplin dalam kasih.—Kolose 3:21.

      24. Apa yang dapat membantu mencegah berbagai problem moral di antara anggota-anggota yang berlawanan jenis dalam suatu keluarga tiri?

      24 Pembahasan keluarga dapat banyak mencegah kesulitan. Ini dapat membantu keluarga untuk tetap memusatkan perhatian kepada hal-hal yang paling penting dalam kehidupan. (Bandingkan Filipi 1:9-11.) Ini juga dapat membantu setiap anggota untuk melihat bagaimana ia dapat turut membantu dalam mencapai tujuan-tujuan keluarga. Selain itu, pembahasan keluarga yang terbuka dapat mencegah berbagai problem moral. Anak-anak perempuan perlu mengerti caranya berpakaian dan membawakan diri sewaktu berada di dekat ayah tiri dan saudara-saudara tiri lelaki mereka, dan anak-anak lelaki memerlukan nasihat berkenaan dengan tingkah laku yang patut terhadap ibu tiri dan saudara-saudara tiri perempuan mereka.—1 Tesalonika 4:3-8.

      25. Sifat-sifat apa yang dapat membantu memelihara perdamaian dalam keluarga tiri?

      25 Dalam menghadapi tantangan khusus sebagai orang-tua tiri, hendaklah bersabar. Dibutuhkan waktu untuk memperkembangkan hubungan yang baru. Memenangkan kasih dan respek anak-anak yang tidak memiliki pertalian darah dengan saudara dapat menjadi tugas yang berat. Tetapi hal ini mungkin. Hati yang bijaksana dan berdaya pengamatan, dipadu dengan keinginan yang kuat untuk menyenangkan Yehuwa, adalah kunci untuk mendapatkan perdamaian dalam keluarga tiri. (Amsal 16:20) Sifat-sifat demikian juga dapat membantu saudara untuk mengatasi situasi-situasi lain.

      APAKAH PENGEJARAN MATERI MEMECAH RUMAH SAUDARA?

      26. Dengan berbagai cara apa problem dan sikap sehubungan dengan perkara materi dapat memecah suatu keluarga?

      26 Problem dan sikap-sikap sehubungan dengan hal-hal materi dapat memecah keluarga dengan banyak cara. Menyedihkan sekali, beberapa keluarga diganggu oleh perbantahan tentang uang dan keinginan untuk menjadi kaya—atau setidaknya sedikit lebih kaya. Perpecahan dapat berkembang jika suami-istri bekerja duniawi dan memperkembangkan sikap ”uang saya, uang kamu”. Sekalipun perbantahan dapat dihindari, apabila suami maupun istri bekerja, mereka bisa mendapati diri bahwa mereka memiliki jadwal yang begitu sibuk sehingga mereka hanya memiliki sedikit waktu untuk satu sama lain. Kecenderungan yang meningkat di dunia ini adalah para ayah yang tinggal jauh dari keluarga mereka untuk jangka waktu yang lama—berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun—agar dapat memperoleh lebih banyak uang daripada yang dapat mereka peroleh di rumah. Hal ini dapat mengarah kepada problem-problem yang sangat serius.

      27. Prinsip apa saja yang dapat membantu keluarga yang mengalami tekanan keuangan?

      27 Tidak ada peraturan yang bisa ditetapkan untuk menangani keadaan-keadaan ini, karena lain keluarga lain pula tekanan dan kebutuhan yang harus dihadapi. Namun, nasihat Alkitab dapat membantu. Sebagai contoh, Amsal 13:10 (NW) menunjukkan bahwa perselisihan yang tidak perlu kadang-kadang dapat dihindari dengan ”berunding bersama”. Ini bukan hanya mencakup menyatakan pandangan seseorang tetapi meminta saran dan mencari tahu bagaimana sudut pandangan pihak yang lain. Selanjutnya, menyusun suatu anggaran yang realistis dapat membantu mempersatukan usaha-usaha keluarga. Kadang-kadang—barangkali untuk sementara—suami maupun istri perlu bekerja di luar rumah untuk menutupi pengeluaran tambahan, terutama apabila ada anak-anak atau tanggungan lainnya. Jika halnya demikian, suami dapat menenteramkan hati istrinya bahwa ia masih memiliki waktu untuknya. Suami beserta anak-anak dapat dengan pengasih membantu beberapa pekerjaan yang biasanya ia tangani sendiri.—Filipi 2:1-4.

      28. Pengingat-pengingat apa, jika dijalankan, akan membantu suatu keluarga untuk mengupayakan persatuan?

      28 Akan tetapi, ingatlah bahwa walaupun uang adalah kebutuhan dalam sistem perkara ini, uang tidak mendatangkan kebahagiaan. Uang juga pasti tidak memberikan kehidupan. (Pengkhotbah 7:12) Sesungguhnya, terlalu menitikberatkan perkara materi dapat menyebabkan kehancuran rohani dan moral. (1 Timotius 6:9-12) Betapa jauh lebih baik untuk mencari dahulu Kerajaan Allah dan keadilbenaran-Nya, dengan jaminan mendapatkan berkat-Nya atas upaya kita untuk memenuhi kebutuhan hidup! (Matius 6:25-33; Ibrani 13:5) Dengan mendahulukan kepentingan rohani dan mengejar perdamaian pertama-tama dengan Allah, saudara bisa mendapati rumah tangga saudara, walaupun mungkin terbagi karena beberapa keadaan, akan menjadi keluarga yang benar-benar bersatu dalam hal-hal yang paling penting.

      BAGAIMANA PRINSIP-PRINSIP ALKITAB INI MEMBANTU . . . ANGGOTA-ANGGOTA KELUARGA UNTUK MEMELIHARA PERDAMAIAN DI DALAM RUMAH?

      Orang Kristen memperkembangkan daya pengamatan.—Amsal 16:21; 24:3.

      Kasih dan respek yang diperlihatkan dalam perkawinan oleh suami-istri tidak bergantung pada sama atau tidaknya agama yang mereka anut.—Efesus 5:23, 25.

      Seorang Kristen tidak akan pernah dengan sengaja melanggar hukum Allah.—Kisah 5:29.

      Orang Kristen suka damai.—Roma 12:18.

      Jangan cepat sakit hati.—Pengkhotbah 7:9.

      PERNIKAHAN YANG BENAR MENDATANGKAN MARTABAT DAN PERDAMAIAN

      Pada zaman kita, banyak pria dan wanita hidup bersama sebagai suami dan istri tanpa komitmen yang sah. Ini adalah suatu keadaan yang mungkin harus diatasi oleh seorang yang baru beriman. Dalam beberapa kasus, ikatan tersebut mungkin disetujui oleh adat masyarakat atau suku, tetapi itu tidak sah. Akan tetapi, standar Alkitab menuntut adanya pernikahan yang dicatatkan dengan benar. (Titus 3:1; Ibrani 13:4) Bagi umat di dalam sidang Kristen, Alkitab juga menetapkan bahwa hanya ada satu suami dan satu istri di dalam ikatan perkawinan. (1 Korintus 7:2; 1 Timotius 3:2, 12) Menyelaraskan diri dengan standar ini adalah langkah pertama untuk memiliki perdamaian dalam rumah saudara. (Mazmur 119:165) Tuntutan-tuntutan Allah masuk akal dan tidak membebani. Apa yang Ia ajarkan kepada kita dirancang agar bermanfaat bagi kita.—Yesaya 48:17, 18.

  • Saudara Dapat Mengatasi Problem yang Merusak Keluarga
    Rahasia Kebahagiaan Keluarga
    • PASAL DUA BELAS

      Saudara Dapat Mengatasi Problem yang Merusak Keluarga

      1. Problem-problem tersembunyi apa yang ada dalam beberapa keluarga?

      MOBIL tua itu baru saja dicuci dan dipoles. Bagi orang yang lewat, mobil itu tampak mengkilap, hampir seperti baru. Tetapi di bawah permukaannya, karat yang merusak sedang menggerogoti badan kendaraan tersebut. Ini serupa dengan beberapa keluarga. Walaupun dari penampilan luar segalanya tampak baik-baik saja, wajah-wajah yang tersenyum menyembunyikan rasa takut dan kepedihan. Di balik pintu yang tertutup, elemen-elemen yang merusak sedang menggerogoti perdamaian keluarga. Dua problem yang dapat membawa akibat seperti ini adalah alkoholisme dan kekerasan.

      KERUSAKAN AKIBAT ALKOHOLISME

      2. (a) Bagaimana pandangan Alkitab tentang penggunaan minuman beralkohol? (b) Apakah alkoholisme itu?

      2 Alkitab tidak mengutuk penggunaan minuman beralkohol secara bersahaja, tetapi Alkitab memang mengutuk pemabukan. (Amsal 23:20, 21; 1 Korintus 6:9, 10; 1 Timotius 5:23; Titus 2:2, 3) Namun alkoholisme lebih daripada pemabukan; itu adalah ketagihan yang kronis akan minuman beralkohol dan tidak adanya kendali atas penggunaannya. Orang dewasa bisa menjadi pecandu alkohol. Tetapi menyedihkan, anak-anak pun bisa.

      3, 4. Lukiskan akibat-akibat alkoholisme pada diri pasangan hidup si pecandu dan pada diri anak-anak.

      3 Lama berselang, Alkitab menunjukkan bahwa penyalahgunaan alkohol dapat mengganggu perdamaian keluarga. (Ulangan 21:18-21) Akibat-akibat yang merusak dari alkoholisme dirasakan oleh seluruh keluarga. Sang istri dapat menjadi tenggelam dalam upaya untuk menghentikan kebiasaan minum si pecandu atau mengatasi perilakunya yang tidak terduga.a Ia menyembunyikan minuman kerasnya, membuangnya, menyembunyikan uangnya, mengimbau kasihnya untuk keluarga, untuk kehidupan, bahkan untuk Allah—tetapi si pecandu tetap saja minum. Seraya upaya untuk mengendalikan kebiasaan minumnya sering menemui kegagalan, sang istri merasa frustrasi dan gagal. Ia bisa jadi mulai menderita karena rasa takut, kemarahan, perasaan bersalah, kegelisahan, kekhawatiran, dan kurangnya harga diri.

      4 Anak-anak tidak luput dari akibat-akibat alkoholisme orang-tuanya. Ada yang dianiaya secara fisik. Yang lain diserang secara seksual. Mereka mungkin bahkan mempersalahkan diri mereka atas alkoholisme orang-tuanya. Sering kali, kemampuan mereka untuk mempercayai orang lain terguncang karena perilaku yang tidak konsisten dari si pecandu. Karena mereka tidak dapat dengan leluasa membicarakan apa yang terjadi di rumah, anak-anak mungkin belajar untuk menekan perasaan mereka, sering kali dengan akibat-akibat yang merugikan secara fisik. (Amsal 17:22) Anak-anak seperti itu dapat membawa rasa kurang percaya diri atau harga diri ini terus sampai mereka dewasa.

      APA YANG DAPAT DILAKUKAN KELUARGA?

      5. Bagaimana alkoholisme dapat dihadapi, dan mengapa ini sulit?

      5 Walaupun banyak kalangan yang berwenang dalam bidang ini mengatakan bahwa alkoholisme tidak dapat disembuhkan, kebanyakan orang setuju bahwa suatu tahap pemulihan dapat dicapai melalui suatu program pantangan total. (Bandingkan Matius 5:29.) Akan tetapi, membuat seorang pecandu alkohol mau menerima bantuan tidaklah semudah mengatakannya, karena biasanya ia menyangkal bahwa dirinya memiliki problem. Meskipun demikian, apabila anggota-anggota keluarga mengambil langkah-langkah untuk mengatasi akibat yang disebabkan oleh alkoholisme atas diri mereka, si pecandu mungkin akan mulai menyadari bahwa ia memiliki problem. Seorang dokter yang berpengalaman dalam membantu para pecandu alkohol dan keluarga mereka mengatakan, ”Menurut saya hal yang paling penting adalah keluarganya harus terus menjalankan kegiatan mereka sehari-hari dengan cara yang sebaik mungkin. Si pecandu akan semakin lama semakin dihadapkan dengan betapa berbedanya ia dari anggota-anggota keluarga lainnya.”

      6. Apa sumber nasihat terbaik untuk keluarga-keluarga yang memiliki anggota yang kecanduan alkohol?

      6 Jika ada seorang pecandu alkohol dalam keluarga saudara, nasihat Alkitab yang terilham dapat membantu saudara hidup dengan cara yang sebaik mungkin. (Yesaya 48:17; 2 Timotius 3:16, 17) Pertimbangkan beberapa prinsip yang telah membantu keluarga-keluarga mengatasi alkoholisme dengan berhasil.

      7. Jika seorang anggota keluarga adalah pecandu alkohol, siapa yang bertanggung jawab?

      7 Berhentilah mempersalahkan diri. Alkitab mengatakan, ”Masing-masing orang akan memikul tanggungannya sendiri,” dan, ”kita masing-masing akan memberi pertanggungjawaban bagi dirinya sendiri kepada Allah.” (Galatia 6:5; Roma 14:12) Si pecandu alkohol mungkin mencoba menyiratkan bahwa anggota-anggota keluarganyalah yang bertanggung jawab. Sebagai contoh, ia mungkin berkata, ”Jika kamu memperlakukan saya dengan lebih baik, saya tidak akan minum.” Jika yang lain tampaknya setuju dengan dia, mereka sebenarnya menganjurkan dia untuk terus minum. Tetapi sekalipun kita menjadi korban suatu keadaan atau orang lain, kita semua—termasuk para pecandu alkohol—bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan.—Bandingkan Filipi 2:12.

      8. Apa beberapa cara agar si pecandu dapat dibantu untuk menghadapi akibat-akibat dari problemnya?

      8 Jangan merasa bahwa saudara harus selalu melindungi si pecandu dari akibat-akibat kebiasaan minumnya. Sebuah amsal Alkitab tentang seseorang yang marah dapat berlaku bagi pecandu alkohol: ”Jika engkau hendak menolongnya, engkau hanya menambah marahnya.” (Amsal 19:19) Biarkan si pecandu merasakan akibat-akibat dari kebiasaan minumnya. Biarkan dia membersihkan apa yang telah ia buat berantakan atau menelepon majikannya pada pagi setelah ia minum-minum.

      Picture on page 146

      Para penatua Kristen dapat menjadi sumber bantuan yang besar untuk memecahkan problem-problem keluarga

      9, 10. Mengapa keluarga si pecandu hendaknya menerima bantuan, dan bantuan siapa yang khususnya harus mereka cari?

      9 Terimalah bantuan orang lain. Amsal 17:17 mengatakan, ”Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Jika ada seorang pecandu alkohol dalam rumah, maka saudara ada dalam kesukaran. Saudara membutuhkan bantuan. Jangan ragu-ragu untuk bersandar kepada ’sahabat-sahabat’ untuk mendapatkan dukungan. (Amsal 18:24) Berbicara dengan orang lain yang mengerti problemnya atau yang pernah menghadapi situasi serupa dapat memberi saudara saran-saran praktis tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Tetapi hendaklah seimbang. Berbicaralah kepada orang-orang yang saudara percayai, mereka yang akan merahasiakan ”pembicaraan konfidensial” saudara.—Amsal 11:13, NW.

      10 Belajarlah untuk mempercayai para penatua Kristen. Para penatua dalam sidang Kristen dapat menjadi sumber bantuan yang besar. Pria-pria yang matang ini terdidik dalam Firman Allah dan berpengalaman dalam penerapan prinsip-prinsipnya. Mereka dapat terbukti menjadi ”seperti tempat perteduhan terhadap angin dan tempat perlindungan terhadap angin ribut, seperti aliran-aliran air di tempat kering, seperti naungan batu yang besar di tanah yang tandus”. (Yesaya 32:2) Para penatua Kristen tidak saja melindungi sidang secara keseluruhan terhadap pengaruh-pengaruh berbahaya tetapi mereka juga menghibur, menyegarkan, dan menaruh minat pribadi kepada pribadi-pribadi yang memiliki problem. Manfaatkanlah sebaik-baiknya bantuan mereka.

      11, 12. Siapa yang menyediakan bantuan terbesar untuk keluarga si pecandu, dan bagaimana dukungan tersebut diberikan?

      11 Di atas semuanya, mintalah kekuatan dari Yehuwa. Alkitab dengan hangat meyakinkan kita, ”[Yehuwa] itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” (Mazmur 34:19) Jika saudara merasa patah hati atau remuk jiwa karena tekanan hidup bersama anggota keluarga yang adalah pecandu alkohol, ketahuilah bahwa ”[Yehuwa] itu dekat”. Ia mengerti betapa sulitnya keadaan keluarga saudara.—1 Petrus 5:6, 7.

      12 Mempercayai apa yang Yehuwa katakan dalam Firman-Nya dapat membantu saudara mengatasi kekhawatiran. (Mazmur 130:3, 4; Matius 6:25-34; 1 Yohanes 3:19, 20) Mempelajari Firman Allah dan hidup selaras dengan prinsip-prinsipnya akan membuat saudara dapat menerima bantuan dari roh kudus Allah, yang dapat memperlengkapi saudara dengan ”kuasa yang melampaui apa yang normal” untuk bertahan dari hari ke hari.—2 Korintus 4:7.b

      13. Apa problem kedua yang merusak banyak keluarga?

      13 Penyalahgunaan alkohol dapat mengarah kepada problem lain yang merusak banyak keluarga—kekerasan dalam rumah tangga.

      KERUSAKAN AKIBAT KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

      14. Kapan kekerasan dalam rumah tangga dimulai, dan bagaimana keadaannya dewasa ini?

      14 Tindak kekerasan pertama dalam sejarah manusia adalah suatu insiden kekerasan dalam rumah tangga yang melibatkan dua bersaudara, Kain dan Habel. (Kejadian 4:8) Sejak waktu itu, umat manusia telah diganggu oleh segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Ada suami yang memukuli istri, istri yang menyerang suami, orang-tua yang dengan kejam memukuli anak-anak mereka yang masih kecil, dan anak-anak yang sudah dewasa yang memperlakukan orang-tua mereka yang lanjut usia dengan buruk.

      15. Bagaimana anggota-anggota keluarga dipengaruhi secara emosi oleh kekerasan dalam rumah tangga?

      15 Kerusakan yang disebabkan oleh kekerasan dalam rumah tangga jauh melebihi luka-luka fisik. Seorang istri yang dipukuli mengatakan, ”Kita harus menanggung banyak sekali perasaan bersalah dan malu. Pada kebanyakan pagi, kita hanya ingin tetap di tempat tidur, berharap bahwa itu hanyalah suatu mimpi buruk.” Anak-anak yang menyaksikan atau mengalami kekerasan dalam rumah tangga, mereka sendiri dapat menjadi bengis ketika mereka beranjak dewasa dan memiliki keluarga mereka sendiri.

      16, 17. Apakah penganiayaan emosi itu, dan bagaimana akibatnya terhadap anggota keluarga?

      16 Kekerasan dalam rumah tangga tidak terbatas pada penganiayaan fisik. Sering kali penyerangannya adalah secara lisan. Amsal 12:18 mengatakan, ”Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang.” ”Tikaman” yang mencirikan kekerasan dalam rumah tangga ini mencakup mengata-ngatai dan berteriak-teriak, demikian juga kritik yang terus-menerus, hinaan yang merendahkan, dan ancaman akan kekerasan fisik. Luka dari kekerasan emosional tidak tampak dan sering kali terabaikan oleh orang-orang lain.

      17 Yang khususnya menyedihkan adalah penganiayaan emosi pada seorang anak—terus-menerus mengkritik dan meremehkan kemampuan, kecerdasan, atau nilai seorang anak sebagai manusia. Penganiayaan secara lisan tersebut dapat menghancurkan rasa percaya diri seorang anak. Memang, semua anak membutuhkan disiplin. Tetapi Alkitab memberi instruksi kepada para ayah, ”Janganlah membuat anak-anakmu kesal, agar mereka tidak menjadi patah semangat.”—Kolose 3:21.

      CARA MENGHINDARI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

      Picture on page 151

      Teman hidup Kristen yang mengasihi dan merespek satu sama lain akan segera bertindak untuk menyelesaikan kesulitan

      18. Di mana kekerasan dalam rumah tangga berawal, dan apa yang Alkitab perlihatkan sebagai cara untuk menghentikannya?

      18 Kekerasan dalam rumah tangga berawal dalam hati dan pikiran; cara kita bertindak berawal dari cara kita berpikir. (Yakobus 1:14, 15) Untuk menghentikan kekerasan, si penganiaya perlu mengubah cara berpikirnya. (Roma 12:2) Apakah hal itu mungkin? Ya. Firman Allah memiliki kuasa untuk mengubah seseorang. Firman Allah dapat mencabut bahkan pandangan merusak yang ”dibentengi dengan kuat”. (2 Korintus 10:4; Ibrani 4:12) Pengetahuan yang saksama akan Alkitab dapat membantu menghasilkan perubahan yang sedemikian menyeluruh dalam diri orang-orang sehingga mereka dikatakan mengenakan kepribadian yang baru.—Efesus 4:22-24; Kolose 3:8-10.

      19. Bagaimana hendaknya seorang Kristen memandang dan memperlakukan teman hidup?

      19 Pandangan sehubungan teman hidup. Firman Allah mengatakan, ”Suami-suami harus mengasihi istri mereka seperti tubuh mereka sendiri. Ia yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri.” (Efesus 5:28) Alkitab juga mengatakan bahwa seorang suami harus menetapkan ’kehormatan kepada istri mereka seperti kepada bejana yang lebih lemah’. (1 Petrus 3:7) Para istri diingatkan ”untuk mengasihi suami mereka” dan memiliki ”respek yang dalam” kepada mereka. (Titus 2:4; Efesus 5:33) Sudah pasti tidak ada suami yang takut akan Allah yang dapat dengan benar mengatakan bahwa ia sungguh-sungguh menghormati istrinya jika ia menyerang dia secara fisik atau secara lisan. Dan tidak ada istri yang berteriak kepada suaminya, berbicara dengan tajam kepadanya, atau terus-menerus membentaknya dapat mengatakan bahwa ia benar-benar mengasihi dan merespek suaminya.

      20. Di hadapan siapa orang-tua bertanggung jawab atas anak-anak mereka, dan mengapa orang-tua hendaknya tidak memiliki harapan-harapan yang tidak realistis berkenaan dengan anak-anak mereka?

      20 Pandangan yang benar sehubungan anak-anak. Anak-anak layak mendapatkan, ya, membutuhkan, kasih dan perhatian dari orang-tua mereka. Firman Allah menyebut anak-anak ”milik pusaka dari pada [Yehuwa]” dan ”suatu upah”. (Mazmur 127:3) Orang-tua bertanggung jawab di hadapan Yehuwa untuk mengurus milik pusaka itu. Alkitab mengatakan tentang ”sifat-sifat seorang bayi” dan ”kebodohan” dari anak-anak. (1 Korintus 13:11; Amsal 22:15) Orang-tua hendaknya tidak terkejut jika mereka menemukan kebodohan dalam diri anak-anak mereka. Anak muda bukan orang dewasa. Orang-tua hendaknya tidak menuntut lebih daripada yang pantas bagi usia, latar belakang keluarga, dan kemampuan sang anak.—Lihat Kejadian 33:12-14.

      21. Apa cara yang saleh untuk memandang orang-tua yang lanjut usia dan untuk memperlakukan mereka?

      21 Pandangan sehubungan orang-tua yang lanjut usia. Imamat 19:32 mengatakan, ”Engkau harus bangun berdiri di hadapan orang ubanan dan engkau harus menaruh hormat kepada orang yang tua.” Dengan demikian Hukum Allah menganjurkan respek dan hormat yang dalam bagi mereka yang lanjut usia. Hal ini mungkin menjadi tantangan apabila orang-tua yang lanjut usia tampaknya terlalu menuntut atau sedang sakit dan barangkali tidak dapat bergerak atau berpikir dengan cepat. Meskipun demikian, anak-anak diingatkan untuk ’terus membayar apa yang terutang kepada orang-tua mereka’. (1 Timotius 5:4) Hal ini berarti memperlakukan mereka dengan martabat dan respek, mungkin bahkan menyokong mereka secara keuangan. Memperlakukan orang-tua yang lanjut usia dengan buruk secara fisik atau dengan cara lain sama sekali bertentangan dengan caranya Alkitab memberi tahu kita untuk bertindak.

      22. Apa sebuah sifat kunci untuk mengatasi kekerasan dalam rumah tangga, dan bagaimana itu dapat dijalankan?

      22 Perkembangkan pengendalian diri. Amsal 29:11 mengatakan, ”Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya [”rohnya”, NW], tetapi orang bijak akhirnya meredakannya.” Bagaimana saudara dapat mengendalikan roh saudara? Sebaliknya daripada membiarkan rasa frustrasi menumpuk di dalam, cepatlah bertindak untuk menyelesaikan kesulitan yang timbul. (Efesus 4:26, 27) Tinggalkan situasi itu jika saudara merasa akan kehilangan kendali. Berdoalah agar roh kudus Allah menghasilkan pengendalian diri dalam diri saudara. (Galatia 5:22, 23) Pergi berjalan-jalan atau ikut dalam kegiatan fisik tertentu dapat membantu saudara mengendalikan emosi. (Amsal 17:14, 27) Berjuanglah untuk ”lambat marah”.—Amsal 14:29, NW.

      BERPISAH ATAU TETAP BERSAMA?

      23. Apa yang dapat terjadi jika seorang anggota sidang Kristen berulang-ulang dan tanpa bertobat menyerah kepada ledakan kemarahan yang disertai kekerasan, mungkin termasuk penganiayaan fisik kepada keluarganya?

      23 Alkitab menempatkan ”permusuhan, percekcokan, . . . ledakan kemarahan” di antara perbuatan yang dikutuk Allah dan menyatakan bahwa ”mereka yang mempraktekkan hal-hal demikian tidak akan mewarisi kerajaan Allah”. (Galatia 5:19-21) Karena itu, siapa pun yang mengaku sebagai seorang Kristen yang berulang-ulang dan tanpa bertobat menyerah kepada ledakan kemarahan yang disertai kekerasan, mungkin mencakup penganiayaan fisik atas teman hidup atau anak-anak, dapat dipecat dari sidang Kristen. (Bandingkan 2 Yohanes 9, 10.) Dengan cara ini sidang tetap bersih dari orang-orang yang suka menganiaya.—1 Korintus 5:6, 7; Galatia 5:9.

      24. (a) Bagaimana teman hidup yang dianiaya mungkin memilih untuk bertindak? (b) Bagaimana teman-teman dan para penatua yang prihatin dapat mendukung seorang pasangan hidup yang dianiaya, tetapi apa yang seharusnya tidak mereka lakukan?

      24 Bagaimana dengan orang Kristen yang belakangan ini dipukuli oleh pasangan hidup yang suka menganiaya yang tidak memperlihatkan tanda perubahan? Ada yang memilih untuk tetap tinggal bersama pasangan hidup tersebut karena satu atau lain alasan. Yang lain memilih untuk pergi, karena merasa bahwa kesehatan fisik, mental, dan rohani mereka—bahkan mungkin kehidupan mereka—ada dalam bahaya. Apa yang diputuskan untuk dilakukan oleh korban kekerasan dalam rumah tangga di bawah keadaan ini merupakan keputusan pribadi di hadapan Yehuwa. (1 Korintus 7:10, 11) Sahabat, sanak saudara, atau para penatua Kristen yang bermaksud baik mungkin ingin memberikan bantuan dan nasihat, tetapi mereka hendaknya tidak menekan si korban untuk mengambil haluan tindakan tertentu. Ini adalah keputusan yang harus diambil oleh saudara atau saudari tersebut.—Roma 14:4; Galatia 6:5.

      AKHIR DARI PROBLEM-PROBLEM YANG MERUSAK

      25. Apa maksud-tujuan Yehuwa bagi keluarga?

      25 Pada waktu Yehuwa mempersatukan Adam dan Hawa dalam perkawinan, Ia tidak pernah bermaksud agar keluarga digerogoti oleh problem-problem yang merusak seperti alkoholisme dan kekerasan. (Efesus 3:14, 15) Keluarga seharusnya menjadi suatu tempat berlimpahnya kasih serta perdamaian dan kebutuhan mental, emosi, dan rohani setiap anggota dipenuhi. Akan tetapi, dengan masuknya dosa, kehidupan keluarga merosot dengan cepat.—Bandingkan Pengkhotbah 8:9.

      26. Masa depan apa yang menanti mereka yang mencoba untuk hidup selaras dengan tuntutan-tuntutan Yehuwa?

      26 Syukurlah, Yehuwa tidak meninggalkan maksud-tujuan-Nya bagi keluarga. Ia berjanji untuk mengantarkan suatu dunia baru yang penuh damai yang di dalamnya orang-orang ”akan diam dengan aman tenteram dengan tidak dikejutkan oleh apapun”. (Yehezkiel 34:28) Pada waktu itu, alkoholisme, kekerasan dalam rumah tangga, dan semua problem lain yang merusak keluarga dewasa ini akan menjadi hal-hal yang telah berlalu. Orang-orang akan tersenyum, bukan untuk menyembunyikan rasa takut dan kepedihan, melainkan karena mereka ”bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah”.—Mazmur 37:11.

      a Walaupun kami mengacu kepada si pecandu sebagai seorang pria, prinsip-prinsip dalam hal ini juga berlaku jika si pecandu adalah seorang wanita.

      b Di beberapa negeri, terdapat pusat perawatan, rumah sakit, dan program pemulihan yang khusus membantu para pecandu alkohol dan keluarga mereka. Apakah akan mencari bantuan seperti itu atau tidak adalah keputusan pribadi. Lembaga Menara Pengawal tidak menganjurkan perawatan tertentu. Akan tetapi, perlu bersikap hati-hati sehingga, dalam mencari bantuan, seseorang tidak terlibat dalam kegiatan yang mengkompromikan prinsip-prinsip Alkitab.

      BAGAIMANA PRINSIP-PRINSIP ALKITAB INI MEMBANTU. . . KELUARGA UNTUK MENCEGAH PROBLEM YANG AKAN MENYEBABKAN KERUSAKAN YANG SERIUS?

      Yehuwa mengutuk penyalahgunaan alkohol.—Amsal 23:20, 21.

      Setiap orang bertanggung jawab atas tindakannya.—Roma 14:12.

      Tanpa pengendalian diri kita tidak dapat melayani Yehuwa dengan cara yang diperkenan.—Amsal 29:11.

      Orang Kristen sejati menghormati orang-tua mereka yang lanjut usia.—Imamat 19:32.

  • Apabila Perkawinan Berada di Ambang Kehancuran
    Rahasia Kebahagiaan Keluarga
    • PASAL TIGA BELAS

      Apabila Perkawinan Berada di Ambang Kehancuran

      1, 2. Pada waktu perkawinan mendapat tekanan, pertanyaan apa yang hendaknya diajukan?

      PADA tahun 1988, seorang wanita Italia bernama Lucia merasa amat tertekan.a Setelah sepuluh tahun, perkawinannya akan berakhir. Berkali-kali ia telah mencoba untuk rujuk dengan suaminya, tetapi tidak ada yang berhasil. Maka ia berpisah karena ketidakcocokan dan kini ia harus membesarkan kedua putrinya seorang diri. Ketika mengenang ke masa itu, Lucia mengingat, ”Saya yakin bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan perkawinan kami.”

      2 Jika saudara memiliki problem-problem perkawinan, saudara mungkin dapat memahami perasaan Lucia. Perkawinan saudara mungkin penuh kesulitan dan saudara mungkin bertanya-tanya apakah itu masih dapat diselamatkan. Jika demikian halnya, akan membantu jika saudara mempertimbangkan pertanyaan ini: Apakah saya sudah mengikuti semua saran bagus yang telah Allah berikan dalam Alkitab untuk membantu suksesnya perkawinan?—Mazmur 119:105.

      3. Meskipun perceraian telah menjadi populer, reaksi apa yang dilaporkan terjadi di antara banyak orang yang bercerai dan keluarga mereka?

      3 Apabila suasana sedang panas di antara suami dan istri, mengakhiri perkawinan tampaknya adalah tindakan yang paling mudah untuk dilakukan. Tetapi, meskipun banyak negeri mengalami lonjakan yang mengejutkan berkenaan dengan jumlah keluarga yang hancur, penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa suatu persentase yang besar dari pria dan wanita yang bercerai menyesali perpisahan itu. Beberapa dari mereka menderita lebih banyak problem kesehatan, secara fisik maupun mental, dibandingkan mereka yang mempertahankan perkawinan. Kebingungan dan ketidakbahagiaan anak-anak yang orang-tuanya bercerai sering berlangsung hingga bertahun-tahun. Orang-tua dan sahabat-sahabat dari keluarga yang hancur itu juga menderita. Dan bagaimana Allah, sang Pemula perkawinan, memandang keadaan ini?

      4. Bagaimana hendaknya problem-problem dalam perkawinan diatasi?

      4 Sebagaimana ditunjukkan dalam pasal-pasal sebelumnya, Allah memaksudkan agar perkawinan menjadi ikatan seumur hidup. (Kejadian 2:24) Jika demikian halnya, mengapa ada begitu banyak perkawinan yang hancur? Itu tidak dapat terjadi dalam semalam. Biasanya ada tanda-tanda peringatan. Problem-problem kecil dalam perkawinan dapat semakin bertambah besar hingga akhirnya tampak tidak dapat teratasi. Tetapi jika problem-problem ini langsung ditangani dengan bantuan Alkitab, banyak perkawinan yang hancur dapat dihindari.

      HENDAKLAH REALISTIS

      5. Keadaan realistis apa yang harus dihadapi dalam perkawinan mana pun?

      5 Sebuah elemen yang kadang-kadang mengarah kepada problem adalah harapan yang tidak realistis yang mungkin dimiliki oleh salah satu atau kedua pasangan suami-istri. Novel roman, majalah populer, acara televisi, serta film dapat menciptakan harapan dan impian yang sangat berbeda dengan kehidupan nyata. Apabila impian ini tidak menjadi kenyataan, seseorang dapat merasa tertipu, tidak puas, bahkan sakit hati. Namun, bagaimana dua orang yang tidak sempurna bisa mendapatkan kebahagiaan dalam perkawinan? Upaya dibutuhkan untuk mencapai hubungan yang sukses.

      6. (a) Apa pandangan yang seimbang tentang perkawinan yang diberikan oleh Alkitab? (b) Apa beberapa alasan untuk ketidaksepakatan dalam perkawinan?

      6 Alkitab bersifat praktis. Alkitab mengakui adanya sukacita perkawinan, tetapi Alkitab juga memperingatkan bahwa mereka yang menikah ”akan mengalami kesengsaraan dalam daging mereka”. (1 Korintus 7:28) Sebagaimana telah dikemukakan, keduanya tidak sempurna dan cenderung berbuat dosa. Pembentukan mental dan emosi serta cara masing-masing pasangan dididik tidaklah sama. Pasangan suami-istri kadang-kadang tidak sepakat mengenai soal uang, anak-anak, dan keluarga suami atau istri. Kurangnya waktu untuk melakukan berbagai hal bersama-sama dan problem-problem seksual juga bisa menjadi sumber pertengkaran.b Dibutuhkan waktu untuk mengatasi persoalan-persoalan seperti itu, tetapi saudara dapat berbesar hati! Kebanyakan pasangan suami-istri sanggup menghadapi problem-problem demikian dan mengupayakan jalan keluar yang dapat diterima bersama.

      MEMBICARAKAN PERBEDAAN

      Picture on page 154

      Atasi problem dengan segera. Hendaklah jangan matahari terbenam seraya saudara dalam keadaan terpancing menjadi marah

      7, 8. Jika ada perasaan sakit hati atau kesalahpahaman antara pasangan suami-istri, bagaimana cara Alkitab untuk mengatasinya?

      7 Banyak orang merasa sulit untuk tetap tenang pada waktu mereka membicarakan perasaan yang terluka, kesalahpahaman, atau kelemahan pribadi. Sebaliknya daripada terus terang mengatakan, ”Saya merasa kurang dipahami,” seorang teman hidup mungkin menjadi emosional dan membesar-besarkan problemnya. Banyak yang akan berkata, ”Kamu hanya mempedulikan diri sendiri,” atau, ”Kamu tidak mencintai saya.” Karena tidak ingin terlibat dalam perbantahan, teman hidup yang lain mungkin tidak mau menanggapi.

      8 Suatu haluan yang lebih baik untuk diikuti adalah mengindahkan nasihat Alkitab, ”Jadilah murka, namun jangan melakukan dosa; janganlah matahari terbenam seraya kamu dalam keadaan terpancing menjadi marah.” (Efesus 4:26) Sepasang suami-istri yang bahagia, setelah merayakan ulang tahun perkawinan mereka yang ke-60, ditanya apa rahasia dari perkawinan mereka yang sukses. Sang suami mengatakan, ”Kami belajar untuk tidak tidur sebelum menyelesaikan perbedaan, tidak soal betapa sepelenya hal itu.”

      9. (a) Apa yang ditunjukkan dalam Alkitab sebagai bagian yang sangat penting dari komunikasi? (b) Apa yang sering kali perlu dilakukan oleh pasangan suami-istri, sekalipun hal ini membutuhkan keberanian dan kerendahan hati?

      9 Apabila suami dan istri tidak bersepakat, masing-masing perlu ”cepat mendengar, lambat berbicara, lambat murka”. (Yakobus 1:19) Setelah mendengarkan dengan saksama, kedua pasangan hidup mungkin melihat perlunya meminta maaf. (Yakobus 5:16) Dengan tulus mengatakan, ”Maaf saya sudah menyakiti hatimu,” membutuhkan kerendahan hati dan keberanian. Tetapi menangani perbedaan dengan cara ini akan sangat efektif dalam membantu pasangan suami-istri tidak saja menyelesaikan problem mereka tetapi juga memperkembangkan kehangatan dan keintiman yang membuat mereka semakin mendapatkan kesenangan dalam kebersamaan mereka.

      MELAKSANAKAN KEWAJIBAN PERKAWINAN

      10. Perlindungan apa yang direkomendasikan oleh Paulus kepada orang Kristen di Korintus, dapat berlaku bagi orang Kristen dewasa ini?

      10 Pada waktu rasul Paulus menulis kepada orang-orang Korintus, ia merekomendasikan perkawinan ”karena meluasnya percabulan”. (1 Korintus 7:2) Dunia dewasa ini sama buruknya, atau bahkan lebih buruk, daripada Korintus purba. Topik-topik amoral yang dibicarakan secara terbuka oleh orang-orang dunia ini, cara berpakaian mereka yang tidak bersahaja, dan kisah-kisah sensual yang ditonjolkan dalam majalah dan buku, di TV, dan dalam film, semuanya diramu untuk menggugah nafsu seksual yang tidak sah. Kepada orang-orang Korintus yang hidup dalam lingkungan serupa, rasul Paulus mengatakan, ”Lebih baik menikah daripada dikobarkan dengan nafsu.”—1 Korintus 7:9.

      11, 12. (a) Apa yang harus diberikan oleh suami dan istri kepada satu sama lain, dan dengan sikap bagaimana hendaknya itu diberikan? (b) Bagaimana menangani keadaan apabila kewajiban perkawinan untuk sementara waktu harus dihentikan?

      11 Karena itu, Alkitab memerintahkan orang Kristen yang telah menikah, ”Hendaklah suami memberikan kepada istrinya haknya; tetapi hendaklah istri juga melakukan hal yang sama terhadap suaminya.” (1 Korintus 7:3) Perhatikan bahwa penekanannya ada pada memberi—bukan menuntut. Keintiman fisik dalam perkawinan dapat benar-benar memuaskan hanya jika masing-masing pasangan menaruh minat akan kebaikan dari yang lain. Sebagai contoh, Alkitab memerintahkan suami untuk memperlakukan istrinya ”sesuai dengan pengetahuan”. (1 Petrus 3:7) Hal ini khususnya benar dalam melaksanakan kewajiban perkawinan dan menerima hak perkawinan. Jika istri tidak diperlakukan dengan lembut, ia mungkin merasa sulit untuk menikmati aspek perkawinan ini.

      12 Adakalanya pasangan suami-istri mungkin harus menahan hak perkawinan dari satu sama lain. Ini mungkin demikian berkenaan dengan istri pada waktu-waktu tertentu setiap bulan atau pada waktu ia merasa sangat lelah. (Bandingkan Imamat 18:19.) Halnya mungkin demikian berkenaan dengan suami pada waktu ia sedang menghadapi suatu problem yang serius di tempat kerja dan merasa terkuras secara emosi. Kasus-kasus sehubungan dengan berhenti melaksanakan kewajiban perkawinan untuk sementara waktu paling baik ditangani apabila kedua pasangan hidup membicarakan keadaannya secara terus terang dan sepakat dengan ”persetujuan bersama”. (1 Korintus 7:5) Ini akan mencegah salah satu pihak terlalu dini mengambil kesimpulan yang salah. Namun, jika seorang istri dengan sengaja menahan hak perkawinan dari suaminya atau jika seorang suami dengan sengaja tidak melaksanakan kewajiban perkawinan dengan cara yang pengasih, teman hidupnya dapat menjadi rentan terhadap godaan. Dalam keadaan demikian, problem dapat timbul dalam perkawinan.

      13. Bagaimana orang Kristen dapat berupaya menjaga pemikiran mereka bersih?

      13 Seperti semua orang Kristen, hamba-hamba Yehuwa yang telah menikah harus menghindari pornografi, yang dapat menciptakan hasrat yang tidak bersih dan tidak wajar. (Kolose 3:5) Mereka juga harus menjaga pikiran dan tindakan mereka pada waktu berurusan dengan semua lawan jenis. Yesus memperingatkan, ”Setiap orang yang terus memandang seorang wanita sehingga mempunyai nafsu terhadapnya sudah berbuat zina dengan dia dalam hatinya.” (Matius 5:28) Dengan menerapkan nasihat Alkitab sehubungan dengan seks, pasangan suami-istri seharusnya dapat terhindar jatuh ke dalam godaan dan melakukan perzinaan. Mereka dapat terus menikmati keintiman yang menyenangkan dalam perkawinan yang di dalamnya seks dianggap sebagai karunia yang baik dari Pemula perkawinan, Yehuwa.—Amsal 5:15-19.

      DASAR ALKITAB UNTUK BERCERAI

      14. Keadaan menyedihkan apa yang kadang-kadang muncul? Mengapa?

      14 Syukurlah, dalam kebanyakan perkawinan Kristen, problem apa pun yang timbul dapat diatasi. Namun, kadang-kadang tidaklah demikian keadaannya. Karena manusia tidak sempurna dan hidup dalam dunia yang penuh dosa yang ada di bawah kendali Setan, beberapa perkawinan berada di ambang kehancuran. (1 Yohanes 5:19) Bagaimana hendaknya orang Kristen mengatasi keadaan yang berat demikian?

      15. (a) Apa satu-satunya dasar Alkitab untuk bercerai dengan kemungkinan untuk menikah lagi? (b) Mengapa ada beberapa orang yang memutuskan untuk tidak menceraikan teman hidup yang tidak setia?

      15 Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 dalam buku ini, percabulan adalah satu-satunya dasar Alkitab untuk bercerai dengan kemungkinan untuk menikah lagi.c (Matius 19:9) Jika saudara mempunyai bukti yang pasti bahwa teman hidup saudara telah bertindak tidak setia, maka saudara menghadapi keputusan yang sulit. Apakah saudara akan mempertahankan perkawinan atau bercerai? Tidak ada peraturan tertentu. Ada orang Kristen yang telah sepenuhnya mengampuni teman hidup yang benar-benar bertobat, dan perkawinan yang dipertahankan tersebut berhasil dengan baik. Yang lain-lain memutuskan untuk tidak bercerai demi kepentingan anak-anak.

      16. (a) Faktor-faktor apa yang telah menggerakkan beberapa orang untuk menceraikan teman hidup mereka yang bersalah? (b) Pada waktu seorang teman hidup yang tidak bersalah membuat keputusan untuk menceraikan atau tidak menceraikan, mengapa seharusnya tidak seorang pun mengkritik keputusan orang itu?

      16 Di lain pihak, tindakan berdosa mungkin mengakibatkan kehamilan atau penyakit hubungan seksual. Atau mungkin anak-anak perlu dilindungi terhadap orang-tua yang suka menganiaya secara seksual. Jelaslah, banyak yang perlu dipertimbangkan sebelum mengambil suatu keputusan. Akan tetapi, jika saudara mengetahui ketidaksetiaan teman hidup saudara dan setelah itu kembali mengadakan hubungan seksual dengan teman hidup saudara, maka saudara menunjukkan bahwa saudara telah memaafkan teman hidup saudara dan ingin mempertahankan perkawinan. Tidak ada lagi dasar untuk bercerai dengan kemungkinan berdasarkan Alkitab untuk menikah lagi. Tidak seorang pun boleh turut campur dan mencoba mempengaruhi keputusan saudara, dan tidak seorang pun boleh mengkritik apa yang telah saudara putuskan. Saudara harus menerima konsekuensi dari apa yang saudara putuskan. ”Masing-masing orang akan memikul tanggungannya sendiri.”—Galatia 6:5.

      DASAR UNTUK BERPISAH

      17. Jika tidak ada percabulan, batasan-batasan apa yang Alkitab tetapkan mengenai perpisahan atau perceraian?

      17 Apakah ada keadaan-keadaan yang membenarkan perpisahan atau mungkin perceraian dari seorang teman hidup sekalipun dia tidak melakukan percabulan? Ya, tetapi dalam hal ini, seorang Kristen tidak bebas untuk mencari pihak ketiga dengan niat untuk menikah lagi. (Matius 5:32) Meskipun memperbolehkan perpisahan demikian, Alkitab menetapkan bahwa orang yang berpisah hendaknya ”tetap tidak menikah atau jika tidak, rukun kembali”. (1 Korintus 7:11) Beberapa keadaan ekstrem apa yang mungkin membuat perpisahan tampaknya disarankan?

      18, 19. Beberapa keadaan ekstrem apa yang mungkin membuat seorang pasangan hidup mempertimbangkan baik tidaknya perpisahan yang sah atau perceraian, walaupun tidak ada kemungkinan untuk menikah lagi?

      18 Ya, keluarga dapat menjadi melarat karena suami yang sama sekali malas dan mempunyai kebiasaan yang buruk.d Ia mungkin menghabiskan pendapatan keluarga di meja judi atau menggunakannya untuk melampiaskan kecanduannya akan obat bius atau alkohol. Alkitab menyatakan, ”Jika seseorang tidak menyediakan kebutuhan bagi . . . anggota rumah tangganya, ia telah menyangkal iman dan lebih buruk daripada seseorang yang tanpa iman.” (1 Timotius 5:8) Jika pria demikian menolak untuk mengubah jalannya, mungkin bahkan membiayai kebiasaan buruknya dengan mengambil uang yang dihasilkan oleh istrinya, sang istri dapat memilih untuk melindungi kesejahteraan dirinya dan anak-anaknya dengan mengupayakan perpisahan yang sah.

      19 Tindakan sah demikian juga dapat dipertimbangkan jika seorang pasangan hidup sangat bengis terhadap teman hidupnya, mungkin berulang-ulang memukuli hingga taraf membahayakan kesehatan atau bahkan kehidupan. Selain itu, jika seorang pasangan hidup terus-menerus berupaya memaksa teman hidupnya untuk melanggar perintah Allah dengan cara tertentu, teman hidup yang terancam juga dapat mempertimbangkan perpisahan, khususnya jika masalahnya sampai ke tingkat yang membahayakan kehidupan rohani. Teman hidup yang berisiko dapat menyimpulkan bahwa satu-satunya cara untuk ”menaati Allah sebagai penguasa sebaliknya daripada manusia” adalah dengan mengupayakan perpisahan yang sah.—Kisah 5:29.

      20. (a) Dalam kasus hancurnya suatu keluarga, apa yang dapat diberikan oleh sahabat-sahabat dan para penatua yang matang, dan apa yang hendaknya tidak mereka berikan? (b) Orang-orang yang telah menikah hendaknya tidak menggunakan petunjuk Alkitab untuk berpisah atau bercerai sebagai dalih untuk melakukan apa?

      20 Dalam semua kasus penganiayaan yang ekstrem dari pasangan hidup, tidak seorang pun boleh menekan teman hidup yang tidak bersalah untuk berpisah atau tetap bersama. Meskipun sahabat-sahabat dan para penatua yang matang dapat memberikan dukungan dan nasihat berdasarkan Alkitab, mereka ini tidak dapat mengetahui semua perincian tentang apa yang terjadi di antara suami dan istri. Hanya Yehuwa yang dapat melihatnya. Tentu saja, seorang istri Kristen tidak akan menghormati penyelenggaraan perkawinan dari Allah jika ia menggunakan dalih yang lemah untuk keluar dari suatu perkawinan. Tetapi jika suatu keadaan yang sangat membahayakan terus ada, tidak seorang pun boleh mengkritik jika dia memilih untuk berpisah. Hal yang persis sama dapat dikatakan tentang seorang suami Kristen yang mengupayakan perpisahan. ”Kita semua akan berdiri di hadapan kursi penghakiman Allah.”—Roma 14:10.

      CARA PERKAWINAN YANG HANCUR DISELAMATKAN

      21. Pengalaman apa yang memperlihatkan bahwa nasihat Alkitab tentang perkawinan adalah jitu?

      21 Tiga bulan setelah Lucia, yang disebutkan sebelumnya, berpisah dari suaminya, ia bertemu dengan Saksi-Saksi Yehuwa dan mulai belajar Alkitab bersama mereka. ”Yang amat mengejutkan saya,” katanya menjelaskan, ”Alkitab menyediakan jalan keluar yang praktis untuk problem saya. Baru saja satu minggu belajar, saya langsung ingin berbaikan dengan suami saya. Hari ini saya dapat mengatakan bahwa Yehuwa mengetahui cara menyelamatkan perkawinan yang berada dalam krisis karena ajaran-ajaran-Nya membantu suami dan istri untuk belajar caranya menghargai satu sama lain. Tidak benar, seperti dinyatakan beberapa orang, bahwa Saksi-Saksi Yehuwa memecah-belah keluarga. Dalam kasus saya, yang terjadi justru sebaliknya.” Lucia belajar untuk menerapkan prinsip-prinsip Alkitab dalam kehidupannya.

      22. Semua pasangan suami-istri hendaknya yakin akan hal apa?

      22 Lucia bukan perkecualian. Perkawinan seharusnya merupakan berkat, bukan beban. Untuk mencapai tujuan itu, Yehuwa telah menyediakan sumber nasihat perkawinan yang paling baik yang pernah ditulis—Firman-Nya yang berharga. Alkitab dapat memberikan ”hikmat kepada orang yang tak berpengalaman”. (Mazmur 19:7-11) Alkitab telah menyelamatkan banyak perkawinan yang berada di ambang kehancuran dan telah memperbaiki banyak perkawinan lain yang memiliki problem-problem serius. Semoga semua pasangan suami-istri yakin sepenuhnya akan nasihat yang Allah Yehuwa sediakan. Itu benar-benar jitu!

      a Nama telah diubah.

      b Beberapa dari bidang ini dibahas dalam pasal-pasal sebelumnya.

      c Istilah Alkitab yang diterjemahkan ”percabulan” mencakup tindakan zina, homoseksualitas, bestialitas, dan tindakan sengaja yang tidak sah lainnya yang melibatkan penggunaan organ seks.

      d Ini tidak termasuk situasi jika seorang suami, walaupun berniat baik, tidak sanggup menyediakan kebutuhan keluarganya karena alasan-alasan yang di luar kendalinya, seperti misalnya penyakit atau kurangnya lapangan pekerjaan.

      BAGAIMANA PRINSIP-PRINSIP ALKITAB INI MEMBANTU . . . MENCEGAH HANCURNYA PERKAWINAN?

      Perkawinan adalah sumber sukacita maupun kesengsaraan.—Amsal 5:18, 19; 1 Korintus 7:28.

      Ketidaksepakatan hendaknya diatasi dengan segera.—Efesus 4:26.

      Dalam suatu pembicaraan, mendengarkan sama pentingnya dengan berbicara.—Yakobus 1:19.

      Hak perkawinan hendaknya diberikan dengan semangat yang tidak mementingkan diri dan kelembutan.—1 Korintus 7:3-5.

  • Bersama-sama Menuju Hari Tua
    Rahasia Kebahagiaan Keluarga
    • PASAL EMPAT BELAS

      Bersama-sama Menuju Hari Tua

      1, 2. (a) Perubahan-perubahan apa terjadi seraya usia tua mendekat? (b) Bagaimana pria-pria yang saleh pada zaman Alkitab menemukan kepuasan pada usia tua?

      BANYAK perubahan terjadi seraya kita bertambah tua. Kelemahan fisik menggerogoti kekuatan kita. Dengan bercermin tersingkaplah kerut-kerut yang baru dan warna rambut yang mulai memudar—bahkan rambut yang mulai menipis. Kita mungkin mulai sering lupa. Hubungan-hubungan baru berkembang ketika anak-anak menikah, dan sekali lagi ketika cucu-cucu dilahirkan. Bagi beberapa orang, pensiun dari pekerjaan duniawi menyebabkan rutin kehidupan yang berbeda.

      2 Sesungguhnya, usia lanjut dapat menjadi masa yang sulit. (Pengkhotbah 12:1-8) Namun, perhatikanlah hamba-hamba Allah pada zaman Alkitab. Walaupun mereka akhirnya menyerah kepada kematian, mereka memperoleh hikmat dan pengertian, yang mendatangkan kepuasan besar bagi mereka di usia senja. (Kejadian 25:8; 35:29; Ayub 12:12; 42:17) Bagaimana mereka dapat berhasil menuju hari tua dengan bahagia? Pasti dengan hidup selaras dengan prinsip-prinsip yang kini kita dapati tercatat dalam Alkitab.—Mazmur 119:105; 2 Timotius 3:16, 17.

      3. Nasihat apa yang Paulus berikan bagi pria dan wanita tua?

      3 Dalam suratnya kepada Titus, rasul Paulus memberikan petunjuk yang baik kepada orang-orang yang bertambah tua. Ia menulis, ”Hendaklah pria-pria yang sudah berumur bersahaja dalam kebiasaan, serius, berpikiran sehat, sehat dalam iman, dalam kasih, dalam ketekunan. Demikian pula hendaklah wanita-wanita yang sudah berumur, saleh dalam perilaku, tidak suka memfitnah, juga tidak diperbudak oleh banyak anggur, guru-guru dari apa yang baik.” (Titus 2:2, 3) Mengindahkan kata-kata ini dapat membantu saudara menghadapi tantangan dari bertambahnya usia.

      MENYESUAIKAN DIRI DENGAN KEMANDIRIAN ANAK-ANAK SAUDARA

      4, 5. Bagaimana reaksi banyak orang-tua pada waktu anak-anak mereka meninggalkan rumah, dan bagaimana beberapa orang menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru?

      4 Perubahan peranan menuntut penyesuaian diri. Betapa benar hal ini pada waktu anak-anak yang telah dewasa meninggalkan rumah dan menikah! Bagi banyak orang-tua ini adalah pengingat pertama bahwa mereka bertambah tua. Meskipun bahagia karena keturunan mereka telah dewasa, orang-tua sering khawatir apakah mereka telah berbuat sebisa-bisanya untuk mempersiapkan anak-anak agar mandiri. Dan mereka mungkin kehilangan keberadaan anak-anak mereka di rumah.

      5 Dapat dimengerti, orang-tua terus memikirkan kesejahteraan anak-anak mereka, bahkan setelah anak-anak meninggalkan rumah. ”Kalau saja saya dapat sering mendapat kabar dari mereka, untuk meyakinkan saya bahwa mereka baik-baik saja—hal itu akan membuat saya bahagia,” kata seorang ibu. Seorang ayah menceritakan, ”Ketika putri kami meninggalkan rumah, itu adalah masa yang sangat sulit. Hal itu meninggalkan jurang yang besar dalam keluarga kami karena kami selalu melakukan segalanya bersama-sama.” Bagaimana orang-tua ini mengatasi kepergian anak-anak mereka? Dalam banyak keadaan, dengan membantu dan menaruh perhatian kepada orang-orang lain.

      6. Apa yang membantu menjaga hubungan keluarga pada tempat yang sepatutnya?

      6 Pada waktu anak-anak menikah, peranan orang-tua berubah. Kejadian 2:24 menyatakan, ”Seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” Dengan mengakui prinsip-prinsip ilahi tentang kekepalaan dan ketertiban, orang-tua akan dibantu untuk menjaga segala sesuatu pada tempat yang sepatutnya.—1 Korintus 11:3; 14:33, 40.

      7. Sikap baik apa yang diperkembangkan oleh seorang ayah pada waktu putri-putrinya meninggalkan rumah untuk menikah?

      7 Setelah kedua putri dari sepasang suami-istri menikah dan pindah rumah, pasangan ini merasakan kekosongan dalam kehidupan mereka. Pada mulanya, sang suami menunjukkan kekesalan kepada menantu-menantunya. Tetapi pada waktu ia memikirkan prinsip kekepalaan, ia menyadari bahwa suami dari putri-putrinya kini bertanggung jawab atas rumah tangga mereka masing-masing. Karena itu, pada waktu putri-putrinya meminta saran, ia bertanya kepada mereka apa pendapat suami mereka, dan kemudian ia memastikan agar sebisa mungkin memberikan dukungan. Kini menantu-menantunya menganggap dia sebagai sahabat dan menyambut nasihatnya.

      8, 9. Bagaimana beberapa orang-tua menyesuaikan diri dengan kemandirian anak-anak mereka yang telah dewasa?

      8 Bagaimana jika pasangan yang baru menikah, meskipun tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Alkitab, tidak melakukan apa yang orang-tuanya pikir adalah yang terbaik? ”Kami selalu membantu mereka untuk melihat sudut pandangan Yehuwa,” demikian sepasang suami-istri yang memiliki anak-anak yang telah menikah menjelaskan, ”tetapi jika kami tidak setuju dengan keputusan mereka, kami menerimanya dan memberi mereka dukungan dan anjuran.”

      9 Di beberapa negeri di Asia, ada ibu-ibu yang khususnya merasa sulit untuk menerima kemandirian putra mereka. Akan tetapi, jika mereka merespek pengaturan dan kekepalaan Kristen, mereka akan mendapati bahwa perselisihan dengan menantu perempuan mereka dapat dibuat sesedikit mungkin. Seorang wanita Kristen mendapati bahwa kepergian putra-putranya dari rumah telah menjadi ”sumber rasa syukur yang terus bertambah”. Ia senang sekali melihat kesanggupan mereka mengurus rumah tangga mereka yang baru. Ini juga berarti meringankan beban fisik dan mental yang harus ditanggung oleh dia dan suaminya seraya mereka bertambah tua.

      MEMPERKUAT IKATAN PERKAWINAN SAUDARA

      Pictures on page 166

      Seraya saudara bertambah tua, kuatkanlah kembali kasih saudara kepada satu sama lain

      10, 11. Nasihat Alkitab apa yang akan membantu orang-orang menghindari beberapa jerat usia setengah baya?

      10 Orang menunjukkan reaksi yang berbeda-beda seraya mereka menginjak usia setengah baya. Beberapa pria berpakaian dengan cara yang berbeda agar kelihatan lebih muda. Banyak wanita khawatir mengenai perubahan yang ditimbulkan menopause. Menyedihkan sekali, beberapa orang setengah baya memancing kekesalan dan kecemburuan teman hidup mereka dengan bermain mata dengan lawan jenis yang lebih muda. Akan tetapi, pria-pria tua yang saleh ”berpikiran sehat”, mengekang keingingan-keinginan yang tidak patut. (1 Petrus 4:7) Demikian juga wanita-wanita yang matang berupaya mempertahankan stabilitas perkawinan mereka, karena mengasihi suami mereka dan ingin menyenangkan Yehuwa.

      11 Di bawah ilham, Raja Lemuel mencatat pujian kepada ”isteri yang cakap” yang ”berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya”. Seorang suami Kristen pasti akan menghargai bagaimana istrinya telah berjuang untuk mengatasi gangguan emosi apa pun yang ia alami selama usia setengah baya. Kasih sang suami akan menggerakkannya untuk ”memuji dia”.—Amsal 31:10, 12, 28.

      12. Bagaimana pasangan suami-istri dapat semakin akrab seraya tahun-tahun berlalu?

      12 Selama tahun-tahun yang sibuk untuk membesarkan anak, saudara berdua mungkin dengan senang hati menggeser keinginan-keinginan pribadi demi memenuhi kebutuhan anak-anak. Setelah mereka pergi, kinilah saatnya untuk memusatkan kembali perhatian kepada kehidupan perkawinan saudara. ”Pada waktu putri-putri saya meninggalkan rumah, kata seorang suami, ”Saya mulai berpacaran dengan istri saya sekali lagi.” Suami lain mengatakan, ”Kami menaruh perhatian akan kesehatan masing-masing dan saling mengingatkan perlunya berolahraga.” Agar tidak merasa kesepian, ia dan istrinya memperlihatkan sifat suka menerima tamu dengan murah hati kepada anggota-anggota lain dari sidang. Ya, memperlihatkan minat terhadap diri orang-orang lain mendatangkan berkat. Lagi pula, hal itu menyenangkan Yehuwa.—Filipi 2:4; Ibrani 13:2, 16.

      13. Peranan apa yang dimainkan oleh keterbukaan dan kejujuran seraya sepasang suami-istri bersama-sama menuju hari tua?

      13 Jangan biarkan jurang pemisah komunikasi berkembang antara saudara dengan pasangan hidup saudara. Berbicaralah dengan terus terang bersama-sama. (Amsal 17:27) ”Kami memperdalam pemahaman kami akan satu sama lain dengan bersikap penuh perhatian dan bertimbang rasa,” seorang suami berkomentar. Istrinya setuju, dengan mengatakan, ”Seraya kami bertambah tua, kami akhirnya menikmati minum teh bersama, bercakap-cakap, dan saling mendukung.” Keterbukaan dan kejujuran saudara dapat membantu memperkuat ikatan perkawinan saudara, memberinya kekuatan yang akan menggagalkan serangan Setan, si penghancur perkawinan.

      BERGEMBIRA ATAS CUCU SAUDARA

      14. Peranan apa yang tampaknya dimainkan oleh nenek Timotius seraya Timotius bertumbuh menjadi seorang Kristen?

      14 Cucu adalah ”mahkota” dari orang yang lanjut usia. (Amsal 17:6) Pergaulan dengan cucu dapat benar-benar menggembirakan—hidup dan menyegarkan. Alkitab mengatakan sesuatu yang baik tentang Lois, seorang nenek yang, bersama putrinya Eunike, membagikan kepercayaannya kepada cucu laki-lakinya yang masih bayi, Timotius. Anak ini bertumbuh dengan mengetahui bahwa ibu maupun neneknya menghargai kebenaran Alkitab.—2 Timotius 1:5; 3:14, 15.

      15. Sehubungan dengan cucu-cucu, sumbangan berharga apa yang dapat diberikan oleh kakek-nenek, tetapi apa yang hendaknya mereka hindari?

      15 Maka, dalam bidang khusus inilah kakek-nenek dapat memberikan sumbangan yang paling berharga. Kakek dan nenek, saudara telah membagikan pengetahuan tentang maksud-tujuan Yehuwa kepada anak-anak saudara. Kini saudara dapat melakukan hal serupa kepada generasi yang lain lagi! Banyak anak kecil senang sekali mendengar kakek-nenek mereka menceritakan kisah-kisah Alkitab. Tentu saja, saudara tidak mengambil alih tanggung jawab sang ayah untuk menanamkan kebenaran Alkitab dalam diri anak-anaknya. (Ulangan 6:7) Sebaliknya, saudara melengkapinya. Semoga doa saudara adalah seperti doa sang pemazmur, ”Sampai masa tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini, keperkasaan-Mu kepada semua orang yang akan datang.”—Mazmur 71:18; 78:5, 6.

      16. Bagaimana kakek-nenek dapat menghindari agar tidak menjadi penyebab ketegangan yang berkembang dalam keluarga mereka?

      16 Menyedihkan sekali, ada kakek-nenek yang begitu memanjakan anak-anak itu sehingga ketegangan dapat berkembang di antara kakek-nenek dan anak-anak mereka yang telah dewasa. Akan tetapi, kebaikan hati saudara yang tulus mungkin memudahkan cucu-cucu saudara untuk mengutarakan isi hati kepada saudara pada waktu mereka merasa kurang suka untuk menyingkapkan beberapa hal kepada orang-tua mereka. Kadang-kadang anak-anak berharap bahwa kakek-nenek mereka yang baik akan berpihak kepada mereka menentang orang-tua mereka. Lalu bagaimana? Praktekkanlah hikmat dan anjurkanlah cucu saudara untuk terbuka kepada orang-tua mereka. Saudara dapat menjelaskan bahwa hal ini menyenangkan Yehuwa. (Efesus 6:1-3) Kalau perlu, saudara dapat merelakan diri untuk merintis jalan bagi pendekatan anak-anak tersebut dengan berbicara kepada orang-tua mereka. Berterusteranglah kepada cucu-cucu saudara tentang apa yang telah saudara pelajari selama bertahun-tahun. Kejujuran dan keterusterangan saudara dapat bermanfaat bagi mereka.

      MENYESUAIKAN DIRI SERAYA USIA BERTAMBAH

      17. Apa tekad sang pemazmur yang hendaknya ditiru oleh orang Kristen yang bertambah tua?

      17 Seraya tahun-tahun terus bergulir, saudara akan mendapati bahwa saudara tidak dapat melakukan semua hal yang dahulu saudara lakukan atau semua hal yang saudara inginkan. Bagaimana seseorang dapat menerima dan menghadapi proses penuaan? Dalam pikiran saudara mungkin merasa berusia 30 tahun, tetapi pandangan sekilas di cermin memperlihatkan kenyataan yang berbeda. Jangan berkecil hati. Sang pemazmur memohon dengan sungguh-sungguh kepada Yehuwa, ”Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis.” Bulatkanlah hati saudara untuk meniru tekad sang pemazmur. Ia berkata, ”Aku senantiasa mau berharap dan menambah puji-pujian kepada-Mu.”—Mazmur 71:9, 14.

      18. Bagaimana seorang Kristen yang matang dapat menggunakan masa pensiunnya untuk hal-hal yang berharga?

      18 Banyak yang telah bersiap-siap jauh di muka untuk menambah puji-pujian kepada Yehuwa setelah pensiun dari pekerjaan duniawi. ”Saya merencanakan sebelumnya apa yang akan saya lakukan pada waktu putri kami tamat sekolah,” demikian penjelasan seorang ayah yang kini telah pensiun. ”Saya bertekad bahwa saya akan terjun dalam pelayanan pengabaran sepenuh waktu, dan saya menjual bisnis saya agar dapat bebas melayani Yehuwa lebih sepenuhnya. Saya berdoa meminta bimbingan Allah.” Jika saudara mendekati usia pensiun, dapatkanlah penghiburan dari pernyataan Pencipta Agung kita, ”Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu.”—Yesaya 46:4.

      19. Nasihat apa yang diberikan bagi mereka yang bertambah tua?

      19 Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dari pekerjaan duniawi tidaklah mudah. Rasul Paulus menasihati pria-pria yang berumur untuk ”bersahaja dalam kebiasaan”. Hal ini menuntut pengendalian diri secara umum, tidak menyerah kepada kecenderungan untuk mencari hidup enak. Mungkin lebih dibutuhkan suatu rutin dan disiplin diri setelah pensiun dibandingkan sebelumnya. Jadi, hendaklah sibuk, ”selalu mempunyai banyak hal untuk dilakukan dalam pekerjaan Tuan, karena mengetahui bahwa kerja kerasmu tidak sia-sia sehubungan dengan Tuan”. (1 Korintus 15:58) Luaskan kegiatan saudara untuk membantu orang-orang lain. (2 Korintus 6:13) Banyak orang Kristen melakukan ini dengan memberitakan kabar baik secara bergairah sesuai dengan usia mereka. Seraya saudara bertambah tua, hendaklah ”sehat dalam iman, dalam kasih, dalam ketekunan”.—Titus 2:2.

      MENGHADAPI KEMATIAN PASANGAN HIDUP SAUDARA

      20, 21. (a) Dalam sistem perkara sekarang ini, apa yang akhirnya harus memisahkan sepasang suami-istri? (b) Bagaimana Anna menyediakan teladan bagi pasangan hidup yang berduka?

      20 Merupakan fakta yang menyedihkan namun nyata bahwa dalam sistem perkara sekarang ini, pasangan suami-istri akhirnya dipisahkan oleh kematian. Pasangan-pasangan hidup Kristen yang berduka mengetahui bahwa orang-orang yang mereka kasihi sekarang sedang tidur, dan mereka yakin bahwa mereka akan bertemu lagi. (Yohanes 11:11, 25) Tetapi kematian tetap mendatangkan dukacita. Bagaimana mereka yang masih hidup dapat menghadapinya?a

      21 Akan membantu untuk mengingat apa yang dilakukan seorang tokoh Alkitab. Anna menjadi janda hanya setelah tujuh tahun menikah, dan ketika kita membaca tentang dirinya, ia berusia 84 tahun. Kita dapat yakin bahwa ia berdukacita pada waktu ia kehilangan suaminya. Bagaimana ia menghadapinya? Ia memberikan dinas suci kepada Allah Yehuwa di bait malam dan siang. (Lukas 2:36-38) Kehidupan Anna yang dipenuhi dinas yang sungguh-sungguh tidak diragukan adalah obat penawar bagi kesedihan dan rasa kesepian yang ia rasakan sebagai seorang janda.

      22. Bagaimana beberapa janda dan duda mengatasi rasa kesepian?

      22 ”Tantangan terbesar bagi saya adalah tidak memiliki teman berbicara,” demikian penjelasan seorang wanita berusia 72 tahun yang telah menjadi janda sepuluh tahun yang lalu. ”Suami saya adalah pendengar yang baik. Kami berbicara tentang sidang dan keikutsertaan kami dalam pelayanan Kristen.” Seorang janda lain mengatakan, ”Walaupun kita terobati dengan berlalunya waktu, saya mendapati bahwa adalah lebih tepat untuk mengatakan bahwa apa yang dilakukan seseorang dengan waktunya adalah yang membantu seseorang terobati. Saudara berada dalam posisi yang lebih baik untuk membantu orang-orang lain.” Seorang duda berusia 67 tahun setuju, dengan mengatakan, ”Cara yang menakjubkan untuk menghadapi kehilangan adalah memberi diri untuk menghibur orang-orang lain.”

      DIHARGAI OLEH ALLAH PADA USIA TUA

      23, 24. Penghiburan besar apa yang Alkitab berikan bagi orang-orang berumur, khususnya mereka yang telah menjadi janda atau duda?

      23 Walaupun kematian merenggut teman hidup yang kita kasihi, Yehuwa senantiasa setia, senantiasa pasti. ”Satu hal telah kuminta kepada [Yehuwa],” Raja Daud pada zaman dahulu bernyanyi, ”itulah yang kuingini: diam di rumah [Yehuwa] seumur hidupku, menyaksikan kemurahan [Yehuwa] dan menikmati bait-Nya.”—Mazmur 27:4.

      24 ”Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda,” desak rasul Paulus. (1 Timotius 5:3) Nasihat setelah instruksi ini menunjukkan bahwa janda-janda yang layak yang tidak memiliki sanak saudara dekat mungkin membutuhkan dukungan materi dari sidang. Meskipun demikian, makna dari instruksi untuk ’menghormati’ mencakup gagasan menghargai mereka. Betapa besar penghiburan yang dapat diperoleh oleh para janda dan duda dengan mengetahui bahwa Yehuwa menghargai mereka dan akan menopang mereka!—Yakobus 1:27.

      25. Tujuan apa yang tetap ada bagi orang-orang yang lanjut usia?

      25 ”Keindahan orang tua ialah uban,” kata Firman Allah yang terilham. Itu adalah ”mahkota yang indah, yang didapat pada jalan kebenaran.” (Amsal 16:31; 20:29) Maka, tidak soal menikah atau sendiri lagi, teruslah dahulukan dinas Yehuwa dalam kehidupan saudara. Dengan demikian saudara akan memiliki nama yang baik di hadapan Allah sekarang dan prospek untuk hidup kekal dalam dunia yang tidak akan ada lagi kesakitan karena usia tua.—Mazmur 37:3-5; Yesaya 65:20.

      a Untuk pembahasan yang lebih terperinci mengenai pokok ini, lihat brosur Bila Seseorang yang Anda Kasihi Meninggal, diterbitkan oleh Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc.

      BAGAIMANA PRINSIP-PRINSIP ALKITAB INI MEMBANTU . . . PASANGAN SUAMI-ISTRI SERAYA MEREKA BERTAMBAH TUA?

      Cucu adalah ”mahkota” bagi kakek-nenek.—Amsal 17:6.

      Usia tua dapat mendatangkan kesempatan tambahan untuk melayani Yehuwa.—Mazmur 71:9, 14.

      Orang-orang tua dianjurkan untuk ”bersahaja dalam kebiasaan”.—Titus 2:2.

      Pasangan hidup yang menderita kehilangan, walaupun sangat berduka, dapat memperoleh penghiburan dalam Alkitab.—Yohanes 11:11, 25.

      Yehuwa menghargai orang-orang tua yang setia.—Amsal 16:31.

  • Menghormati Orang-Tua Kita yang Lanjut Usia
    Rahasia Kebahagiaan Keluarga
    • PASAL LIMA BELAS

      Menghormati Orang-Tua Kita yang Lanjut Usia

      1. Bagaimana kita berutang kepada orang-tua kita, dan karena itu bagaimana seharusnya perasaan dan tindakan kita terhadap mereka?

      ”DENGARKANLAH ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua,” demikian nasihat seorang yang berhikmat lama berselang. (Amsal 23:22) ’Saya tidak akan berbuat seperti itu!’ mungkin begitu kata saudara. Sebaliknya daripada menghina ibu kita—atau ayah kita—kebanyakan dari kita merasakan kasih yang dalam terhadap mereka. Kita mengakui bahwa kita berutang banyak sekali kepada mereka. Pertama-tama, orang-tua memberi kita kehidupan. Walaupun Yehuwa Sumber kehidupan, tanpa orang-tua kita tidak akan ada. Tidak ada yang dapat kita berikan kepada orang-tua kita yang sama berharganya seperti kehidupan itu sendiri. Kemudian, coba pikirkan kerelaan berkorban, pengasuhan yang hati-hati, biaya, dan perhatian pengasih yang terlibat untuk membantu seorang anak bertumbuh dari bayi hingga dewasa. Oleh karena itu, benar-benar masuk akal jika Firman Allah menasihati, ”Hormatilah bapakmu dan ibumu . . . agar baik keadaanmu dan engkau dapat bertahan untuk waktu yang lama di bumi”!—Efesus 6:2, 3.

      MENYADARI KEBUTUHAN EMOSI

      2. Bagaimana anak-anak yang telah dewasa dapat membayar ”apa yang terutang” kepada orang-tua mereka?

      2 Rasul Paulus menulis kepada orang-orang Kristen, ”Hendaklah [anak-anak atau cucu-cucu] lebih dahulu belajar mempraktekkan pengabdian yang saleh dalam rumah tangga mereka sendiri dan terus membayar apa yang terutang kepada orang-tua dan kakek-nenek mereka, karena hal ini dapat diterima dalam pandangan Allah.” (1 Timotius 5:4) Anak-anak yang telah dewasa memberikan ”apa yang terutang” ini dengan memperlihatkan penghargaan atas tahun-tahun yang penuh kasih, upaya, dan perhatian yang telah diberikan oleh orang-tua dan kakek-nenek mereka kepada mereka. Satu cara anak-anak dapat melakukan hal ini adalah dengan menyadari bahwa sebagaimana halnya semua orang lain, orang yang lebih tua perlu dikasihi dan ditenteramkan hatinya—sering kali sangat memerlukannya. Seperti kita semua, mereka perlu merasa dihargai. Mereka perlu merasa bahwa kehidupan mereka berharga.

      3. Bagaimana kita dapat menghormati orang-tua dan kakek-nenek?

      3 Jadi kita dapat menghormati orang-tua dan kakek-nenek kita dengan membuat mereka tahu bahwa kita mengasihi mereka. (1 Korintus 16:14) Jika orang-tua tidak tinggal bersama kita, kita hendaknya ingat bahwa mendapat kabar dari kita dapat sangat berarti bagi mereka. Sepucuk surat yang bernada gembira, pembicaraan di telepon, atau kunjungan kita dapat sangat menambah sukacita mereka. Miyo, yang tinggal di Jepang, menulis ketika ia berusia 82 tahun, ”Putri saya [yang suaminya adalah seorang pelayan keliling] mengatakan kepada saya, ’Ibu, ayo ”keliling” bersama kami.’ Ia mengirimkan kepada saya jadwal perjalanan mereka dan nomor telepon tempat mereka berada setiap minggu. Saya dapat membuka peta dan mengatakan, ’Ah. Sekarang mereka ada di sini!’ Saya selalu bersyukur kepada Yehuwa atas berkat memiliki anak seperti dia.”

      MEMBANTU KEBUTUHAN MATERI

      4. Bagaimana tradisi agama Yahudi menganjurkan tindakan yang tidak berperasaan terhadap orang-tua yang lanjut usia?

      4 Apakah mungkin menghormati orang-tua mencakup memenuhi kebutuhan materi mereka? Ya. Sering kali demikian. Pada zaman Yesus, para pemimpin agama Yahudi menjunjung tradisi bahwa jika seseorang menyatakan bahwa uang atau tanah miliknya adalah ”persembahan yang dibaktikan kepada Allah”, ia dibebaskan dari tanggung jawab menggunakannya untuk mengurus orang-tuanya. (Matius 15:3-6) Benar-benar tidak berperasaan! Sebenarnya, para pemimpin agama itu menganjurkan orang-orang untuk tidak menghormati orang-tua mereka dan memperlakukan mereka dengan hina, secara mementingkan diri tidak memenuhi kebutuhan mereka. Jangan sekali-kali kita mau berbuat seperti itu!—Ulangan 27:16.

      5. Meskipun di beberapa negeri ada bantuan yang disediakan pemerintah, mengapa menghormati orang-tua kadang-kadang mencakup memberi bantuan keuangan?

      5 Di banyak negeri dewasa ini, program-program sosial yang didukung pemerintah menyediakan beberapa kebutuhan materi bagi orang-orang yang lanjut usia, seperti makanan, pakaian, dan pernaungan. Selain itu, orang-orang yang lanjut usia itu sendiri mungkin telah dapat menyisihkan persediaan untuk hari tua mereka. Tetapi jika persediaan ini telah menipis atau ternyata tidak mencukupi, anak-anak menghormati orang-tua mereka dengan melakukan apa yang dapat mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan orang-tua. Sebenarnya, merawat orang-tua yang telah berumur adalah bukti dari pengabdian yang saleh, yaitu, pengabdian seseorang kepada Allah Yehuwa, Pemula penyelenggaraan keluarga.

      KASIH DAN KERELAAN BERKORBAN

      6. Pengaturan hidup apa yang telah dibuat beberapa orang agar dapat memenuhi kebutuhan orang-tua mereka?

      6 Banyak anak yang telah dewasa menanggapi kebutuhan orang-tua mereka yang sakit-sakitan dengan kasih dan kerelaan berkorban. Ada yang memboyong orang-tua mereka ke rumah mereka sendiri atau pindah ke rumah yang berdekatan. Yang lain pindah dan tinggal bersama orang-tua mereka. Sering kali, penyelenggaraan demikian telah terbukti menjadi berkat bagi orang-tua maupun anak-anak.

      7. Mengapa baik untuk tidak bertindak dengan tergesa-gesa dalam membuat keputusan berkenaan orang-tua yang lanjut usia?

      7 Namun, kadang-kadang perpindahan demikian tidak membuahkan hasil yang baik. Mengapa? Barangkali karena keputusan diambil dengan terlalu tergesa-gesa atau didasarkan atas emosi semata-mata. ”Orang yang bijak memperhatikan langkahnya,” kata Alkitab memperingatkan dengan bijaksana. (Amsal 14:15) Sebagai contoh, seandainya ibu saudara yang lanjut usia mengalami kesulitan untuk tinggal seorang diri dan saudara pikir ia akan terbantu dengan pindah dan tinggal bersama saudara. Sementara dengan bijaksana memperhatikan langkah saudara, saudara dapat mempertimbangkan hal-hal berikut: Apa yang sebenarnya ia butuhkan? Apakah ada pelayanan sosial dari pihak swasta atau pemerintah yang memberikan jalan keluar alternatif yang dapat diterima? Apakah ia bersedia pindah? Jika ia bersedia, bagaimana kehidupannya akan terpengaruh? Apakah ia harus meninggalkan teman-temannya? Bagaimana hal ini mempengaruhinya secara emosi? Apakah saudara telah membicarakan hal-hal ini dengannya? Bagaimana perpindahan demikian dapat mempengaruhi saudara, teman hidup saudara, dan anak-anak saudara sendiri? Jika ibu saudara membutuhkan perawatan, siapa yang akan menyediakannya? Apakah tanggung jawab itu dapat dibagi? Apakah saudara sudah membahas persoalan ini dengan semua anggota keluarga yang secara langsung terlibat?

      8. Pendapat siapa yang mungkin dapat saudara minta pada waktu memutuskan caranya membantu orang-tua saudara yang lanjut usia?

      8 Karena tanggung jawab untuk merawat orang-tua melibatkan semua anak dalam suatu keluarga, adalah bijaksana untuk mengadakan rapat keluarga sehingga semua dapat ambil bagian dalam membuat keputusan. Berbicara dengan para penatua di sidang Kristen atau dengan teman-teman yang telah menghadapi situasi serupa juga dapat membantu. ”Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan [”pembicaraan konfidensial”, NW],” kata Alkitab memperingatkan, ”tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.”—Amsal 15:22.

      TUNJUKKANLAH EMPATI DAN PENGERTIAN

      Picture on page 179

      Tidak bijaksana untuk membuat keputusan bagi orang-tua tanpa terlebih dahulu berbicara kepadanya

      9, 10. (a) Meskipun usia mereka yang telah lanjut, pertimbangan apa yang harus diberikan terhadap orang-orang yang lanjut usia? (b) Langkah apa pun yang diambil seorang anak yang telah dewasa demi kepentingan orang-tuanya, apa yang hendaknya selalu ia berikan kepada mereka?

      9 Menghormati orang-tua kita yang lanjut usia menuntut empati dan pengertian. Seraya proses penuaan mendatangkan dampak yang serius, orang-orang tua mungkin merasa semakin sulit untuk berjalan, makan, dan mengingat. Mereka mungkin membutuhkan bantuan. Sering kali anak-anak menjadi terlalu protektif dan mencoba menyediakan bimbingan. Tetapi orang-orang yang lanjut usia adalah orang-orang dewasa yang memiliki hikmat dan pengalaman yang terkumpul seumur hidup mereka, yang telah mengurus diri dan mengambil keputusan-keputusan sendiri seumur hidup mereka. Identitas dan harga diri mereka mungkin berpusat pada peranan mereka sebagai orang-tua dan orang dewasa. Orang-tua yang merasa harus menyerahkan kendali atas kehidupan mereka kepada anak-anak mereka dapat menjadi tertekan atau marah. Ada yang merasa kesal dan menolak apa yang mereka lihat sebagai upaya untuk merampas kemandirian mereka.

      10 Tidak ada jalan keluar yang mudah untuk problem semacam ini, tetapi adalah suatu kebaikan hati jika kita membiarkan orang-tua mengurus diri mereka sendiri dan mengambil keputusan mereka sendiri sebisa mungkin. Adalah bijaksana jika tidak membuat keputusan tentang apa yang terbaik bagi orang-tua saudara tanpa terlebih dahulu membicarakannya dengan mereka. Mereka mungkin telah kehilangan banyak hal. Biarkan mereka mempertahankan apa yang masih mereka miliki. Saudara bisa jadi mendapati bahwa semakin saudara tidak mencoba mengendalikan kehidupan orang-tua saudara, semakin baik pula hubungan saudara dengan mereka. Mereka akan lebih berbahagia, dan demikian pula saudara. Bahkan sekalipun perlu berkeras berkenaan dengan beberapa hal demi kebaikan mereka, menghormati orang-tua menuntut agar saudara memberi mereka martabat dan respek yang patut mereka dapatkan. Firman Allah menasihati, ”Engkau harus bangun berdiri di hadapan orang ubanan dan engkau harus menaruh hormat kepada orang yang tua.”—Imamat 19:32.

      MEMPERTAHANKAN SIKAP YANG BENAR

      11-13. Jika hubungan anak yang telah dewasa dan orang-tuanya di masa lalu tidak baik, bagaimana ia dapat tetap menghadapi tantangan untuk merawat mereka pada saat mereka berusia lanjut?

      11 Kadang-kadang problem yang dihadapi anak-anak yang telah dewasa dalam menghormati orang-tua mereka yang telah berumur berkaitan dengan hubungan yang mereka miliki dengan orang-tua mereka di masa lalu. Barangkali ayah saudara bersikap dingin dan tidak pengasih, ibu saudara suka mendominasi dan kasar. Saudara mungkin masih merasa frustrasi, marah, atau sakit hati karena mereka bukan orang-tua yang saudara dambakan. Dapatkah saudara mengatasi perasaan-perasaan demikian?a

      12 Basse, yang dibesarkan di Finlandia, menceritakan, ”Ayah tiri saya dahulu seorang perwira SS pada zaman Nazi Jerman. Ia cepat marah, dan kemudian ia bisa membahayakan. Ia sering memukuli Ibu di depan mata saya. Pernah ketika ia marah kepada saya, ia mengayunkan ikat pinggangnya dan memukul muka saya dengan gespernya. Begitu keras pukulannya mengenai saya sehingga saya terjatuh dari tempat tidur.”

      13 Namun, ada sisi lain dari sifatnya. Basse menambahkan, ”Di lain pihak, ia bekerja keras tanpa kenal lelah untuk mengurus keluarga secara materi. Ia tidak pernah memperlihatkan kasih sayang kebapakan kepada saya, tetapi saya tahu bahwa ia terluka secara emosi. Ia diusir ibunya pada waktu ia masih sangat muda. Masa remajanya diisi dengan perkelahian dan terjun berperang ketika masih muda. Sampai tingkat tertentu saya dapat mengerti dan tidak mempersalahkan dia. Ketika saya telah dewasa dan ayah saya sakit-sakitan, saya ingin membantu dia sebisa mungkin hingga kematiannya. Itu tidaklah mudah, tetapi saya melakukan apa yang dapat saya lakukan. Saya berupaya menjadi anak yang baik hingga kematiannya, dan saya kira ia menganggap saya demikian.”

      14. Ayat mana yang berlaku dalam segala keadaan, termasuk yang timbul pada saat merawat orang-tua yang lanjut usia?

      14 Dalam situasi keluarga, sebagaimana dalam persoalan lainnya, nasihat Alkitab berlaku: ”Kenakanlah pada dirimu kasih sayang yang lembut dari keibaan hati, kebaikan hati, kerendahan pikiran, kelemahlembutan, dan panjang sabar. Teruslah bertahan dengan sabar menghadapi satu sama lain dan ampuni satu sama lain dengan lapang hati jika seseorang mempunyai alasan untuk mengeluh terhadap yang lain. Sama seperti Yehuwa dengan lapang hati mengampunimu, demikianlah kamu lakukan juga.”—Kolose 3:12, 13.

      YANG MERAWAT PERLU DIPERHATIKAN JUGA

      15. Mengapa merawat orang-tua kadang-kadang menyedihkan?

      15 Merawat orang-tua yang sakit-sakitan merupakan kerja keras, melibatkan banyak tugas, banyak tanggung jawab, dan waktu yang panjang. Tetapi bagian yang paling sulit sering kali berhubungan dengan emosi. Sungguh sulit menyaksikan orang-tua saudara kehilangan kesehatan, daya ingat, dan kemandirian mereka. Sandy, yang berasal dari Puerto Riko, menceritakan, ”Ibu saya merupakan inti keluarga kami. Sungguh memedihkan hati melihatnya menderita dan merawat dia. Pertama-tama dia mulai berjalan timpang; kemudian dia memerlukan tongkat, kemudian alat penyangga, kemudian kursi roda. Setelah itu kondisinya terus menurun hingga dia meninggal dunia. Dia terkena kanker tulang dan membutuhkan perawatan yang terus-menerus—siang dan malam. Kami memandikannya dan memberinya makan serta membaca untuknya. Keadaannya sangat sulit—khususnya secara emosi. Pada waktu saya menyadari bahwa ibu saya sedang sekarat, saya menangis karena saya sangat mengasihi dia.”

      16, 17. Saran apa yang dapat membantu seseorang yang merawat orang-tua untuk memelihara pandangan yang seimbang tentang segala sesuatu?

      16 Jika saudara mengalami keadaan serupa, apa yang dapat saudara lakukan untuk menghadapinya? Mendengarkan Yehuwa dengan membaca Alkitab dan berbicara kepada-Nya melalui doa akan sangat membantu. (Filipi 4:6, 7) Dengan cara yang praktis, pastikanlah bahwa saudara menyantap makanan yang bergizi dan upayakanlah untuk cukup tidur. Dengan demikian, kondisi saudara akan lebih baik, secara emosi dan fisik, untuk merawat orang yang saudara kasihi. Barangkali saudara dapat sekali-sekali mengadakan selingan dari rutin sehari-hari. Sekalipun tidak mungkin untuk berlibur, tetap merupakan hal yang bijaksana untuk menjadwalkan sedikit waktu santai. Agar ada waktu untuk pergi, saudara mungkin dapat mengatur agar ada orang lain yang tinggal bersamanya.

      17 Bukan hal yang aneh bagi orang-orang dewasa yang merawat orang-tua untuk mengharapkan hal-hal yang tidak masuk akal dari diri mereka. Tetapi jangan merasa bersalah karena apa yang tidak dapat saudara lakukan. Dalam beberapa keadaan, saudara mungkin perlu mempercayakan orang yang saudara kasihi kepada perawatan panti wreda. Jika saudara sedang merawat orang-tua, tetapkanlah harapan-harapan yang masuk akal bagi diri saudara sendiri. Saudara harus membuat seimbang bukan saja kebutuhan orang-tua saudara tetapi juga kebutuhan anak-anak, teman hidup, dan diri saudara sendiri.

      KEKUATAN MELEBIHI APA YANG NORMAL

      18, 19. Dukungan apa yang Yehuwa janjikan, dan pengalaman apa yang memperlihatkan bahwa Ia menepati janji ini?

      18 Melalui Firman-Nya, Alkitab, Yehuwa dengan pengasih menyediakan bimbingan yang dapat sangat membantu seseorang yang merawat orang-tuanya yang lanjut usia, tetapi bukan itu saja bantuan yang Ia sediakan. ”[Yehuwa] dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya,” tulis sang pemazmur di bawah ilham. ”Ia . . . mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka.” Yehuwa akan menyelamatkan, atau memelihara, hamba-hamba-Nya yang setia bahkan melalui keadaan-keadaan yang paling sulit.—Mazmur 145:18, 19.

      19 Myrna, di Filipina, belajar tentang hal ini pada waktu ia merawat ibunya, yang menjadi tidak berdaya karena stroke. ”Tidak ada yang lebih menyedihkan selain melihat orang yang saudara kasihi menderita, tidak sanggup mengatakan di mana yang sakit,” tulis Myrna. ”Halnya sama seperti melihat dia tenggelam sedikit demi sedikit, dan tidak ada yang dapat saya lakukan. Sering saya berlutut dan berbicara kepada Yehuwa tentang betapa lelahnya saya. Saya berseru seperti Daud, yang memohon kepada Yehuwa untuk menaruh air matanya di dalam kirbat dan mengingat dia. [Mazmur 56:9] Dan seperti yang Yehuwa janjikan, Ia memberi saya kekuatan yang saya butuhkan. ’[Yehuwa] menjadi sandaran bagiku’”.—Mazmur 18:19.

      20. Janji-janji apa dari Alkitab membantu mereka yang merawat orang-tua agar tetap optimis, sekalipun orang yang mereka rawat meninggal dunia?

      20 Sering dikatakan bahwa merawat orang-tua yang lanjut usia adalah sebuah ”cerita yang tidak berakhir dengan bahagia”. Meskipun mereka yang merawat orang-tua telah berupaya sebaik mungkin, orang-orang tua bisa jadi meninggal, sebagaimana halnya ibu Myrna. Tetapi mereka yang percaya kepada Yehuwa mengetahui bahwa kematian bukanlah akhir cerita. Rasul Paulus mengatakan, ”Aku memiliki harapan kepada Allah . . . bahwa akan ada kebangkitan untuk orang-orang yang adil-benar maupun yang tidak adil-benar.” (Kisah 24:15) Mereka yang telah kehilangan orang-tua karena meninggal dapat memperoleh penghiburan dari harapan kebangkitan beserta dengan janji tentang dunia baru yang membahagiakan yang Yehuwa buat di mana ”kematian tidak akan ada lagi”.—Penyingkapan 21:4.

      21. Hasil-hasil baik apa datang dari menghormati orang-tua yang lanjut usia?

      21 Hamba-hamba Allah sangat menghargai orang-tua mereka, sekalipun mereka sudah tua. (Amsal 23:22-24) Mereka menghormati orang-tua. Seraya melakukannya, mereka merasakan apa yang dikatakan amsal terilham, ”Biarlah ayahmu dan ibumu bersukacita, biarlah beria-ria dia yang melahirkan engkau.” (Amsal 23:25) Dan yang paling penting, orang-orang yang menghormati orang-tua mereka yang lanjut usia juga menyenangkan dan menghormati Allah Yehuwa.

      a Di sini kami tidak membicarakan keadaan bila orang-tua bersalah karena secara ekstrem menyalahgunakan kekuasaan dan kepercayaan mereka, yang mungkin dapat dipandang sebagai suatu kejahatan.

      BAGAIMANA PRINSIP-PRINSIP ALKITAB INI MEMBANTU . . . KITA UNTUK MENGHORMATI ORANG-TUA KITA YANG LANJUT USIA?

      Kita harus memberikan apa yang terutang kepada orang-tua dan kakek-nenek.—1 Timotius 5:4.

      Semua urusan kita hendaknya berlangsung dengan kasih.—1 Korintus 16:14.

      Keputusan-keputusan penting hendaknya jangan sekali-kali dibuat dengan tergesa-gesa.—Amsal 14:15.

      Orang-tua yang lanjut usia, sekalipun sakit dan bertambah lemah, harus direspek.—Imamat 19:32.

      Kita tidak akan selalu menghadapi prospek bertambah tua dan mati.—Penyingkapan 21:4.

  • Kukuhkanlah Masa Depan yang Bertahan Lama bagi Keluarga Saudara
    Rahasia Kebahagiaan Keluarga
    • PASAL ENAM BELAS

      Kukuhkanlah Masa Depan yang Bertahan Lama bagi Keluarga Saudara

      1. Apa maksud-tujuan Yehuwa bagi penyelenggaraan keluarga?

      PADA waktu Yehuwa mempersatukan Adam dan Hawa dalam perkawinan, Adam mengungkapkan sukacitanya dengan mengucapkan puisi Ibrani yang paling awal dicatat. (Kejadian 2:22, 23) Akan tetapi, sang Pencipta bermaksud lebih daripada sekadar mendatangkan kesenangan bagi anak-anak manusia-Nya. Ia ingin agar pasangan-pasangan suami-istri dan keluarga-keluarga melakukan kehendak-Nya. Ia memberi tahu pasangan yang pertama itu, ”Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:28) Benar-benar suatu penugasan besar yang mendatangkan berkat! Betapa bahagianya Adam, Hawa, dan calon anak-anak mereka andai kata mereka melakukan kehendak Yehuwa dengan ketaatan yang penuh!

      2, 3. Bagaimana keluarga-keluarga dapat menemukan kebahagiaan terbesar dewasa ini?

      2 Demikian pula dewasa ini, keluarga-keluarga paling berbahagia apabila mereka bekerja sama untuk melakukan kehendak Allah. Rasul Paulus menulis, ”Pengabdian yang saleh bermanfaat untuk segala hal, sebab hal itu mengandung janji untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang.” (1 Timotius 4:8) Suatu keluarga yang hidup dengan pengabdian yang saleh dan yang mengikuti bimbingan Yehuwa sebagaimana dimuat dalam Alkitab akan menemukan kebahagiaan dalam ”kehidupan sekarang”. (Mazmur 1:1-3; 119:105; 2 Timotius 3:16) Sekalipun hanya ada satu anggota keluarga yang menerapkan prinsip Alkitab, keadaannya lebih baik daripada jika tidak ada sama sekali.

      3 Buku ini telah membahas banyak prinsip Alkitab yang menyumbang kepada kebahagiaan keluarga. Kemungkinan, saudara telah memperhatikan bahwa beberapa di antaranya muncul berulang-ulang di dalam buku ini. Mengapa? Karena prinsip-prinsip itu merupakan kebenaran-kebenaran yang penuh kuasa yang jitu untuk kebaikan semua orang dalam berbagai aspek kehidupan keluarga. Keluarga yang berjuang untuk menerapkan prinsip-prinsip Alkitab ini akan mendapati bahwa pengabdian yang saleh memang ”mengandung janji untuk kehidupan sekarang”. Mari kita lihat kembali empat dari antara prinsip-prinsip yang penting itu.

      NILAI PENGENDALIAN DIRI

      4. Mengapa pengendalian diri sangat penting dalam perkawinan?

      4 Raja Salomo mengatakan, ”Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.” (Amsal 25:28; 29:11) ’Mengendalikan diri seseorang’ sangat penting bagi mereka yang menginginkan perkawinan yang bahagia. Menyerah kepada emosi yang merusak, seperti misalnya kemarahan yang tak terkendali atau hawa nafsu yang amoral, akan menyebabkan kerusakan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memperbaikinya—kalau memang masih dapat diperbaiki.

      5. Bagaimana manusia yang tidak sempurna dapat memupuk pengendalian diri, dan apa manfaatnya?

      5 Tentu saja, tidak ada keturunan Adam yang dapat sepenuhnya mengendalikan dagingnya yang tidak sempurna. (Roma 7:21, 22) Namun, pengendalian diri adalah buah roh. (Galatia 5:22, 23) Karena itu, roh Allah akan menghasilkan pengendalian diri dalam diri kita jika kita berdoa memohonkan sifat ini, jika kita menerapkan nasihat yang cocok yang terdapat dalam Alkitab, dan jika kita bergaul dengan orang-orang lain yang mempertunjukkannya dan menghindari mereka yang tidak mempertunjukkannya. (Mazmur 119:100, 101, 130; Amsal 13:20; 1 Petrus 4:7) Haluan demikian akan membantu kita ’lari dari percabulan’, bahkan pada waktu kita digoda. (1 Korintus 6:18) Kita akan menolak kekerasan dan akan menghindari atau menaklukkan alkoholisme. Dan kita akan menangani provokasi dan keadaan-keadaan sulit dengan lebih tenang. Semoga semua—termasuk anak-anak—belajar untuk memupuk buah roh yang sangat penting ini.—Mazmur 119:1, 2.

      PANDANGAN YANG PATUT TENTANG KEKEPALAAN

      6. (a) Pengaturan apa yang telah Allah tetapkan tentang kekepalaan? (b) Apa yang harus diingat seorang pria agar kekepalaannya mendatangkan kebahagiaan bagi keluarganya?

      6 Prinsip kedua yang penting adalah mengakui kekepalaan. Paulus menggambarkan pengaturan yang patut akan segala sesuatu pada waktu ia mengatakan, ”Aku ingin kamu mengetahui bahwa kepala dari setiap pria adalah Kristus; selanjutnya kepala dari seorang wanita adalah pria; selanjutnya kepala dari Kristus adalah Allah.” (1 Korintus 11:3) Ini berarti pria mengambil pimpinan dalam keluarga, istrinya dengan loyal mendukung, dan anak-anak taat kepada orang-tua mereka. (Efesus 5:22-25, 28-33; 6:1-4) Namun perhatikan, bahwa kekepalaan akan menuntun kepada kebahagiaan hanya apabila itu ditangani dengan cara yang patut. Suami yang hidup dengan pengabdian yang saleh tahu bahwa kekepalaan bukan berarti kediktatoran. Mereka meniru Yesus, Kepala mereka. Meskipun Yesus akan menjadi ”kepala atas segala perkara”, ia ”datang, bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani”. (Efesus 1:22; Matius 20:28) Dengan cara yang serupa, seorang pria Kristen menjalankan kekepalaan, bukan demi manfaat dirinya sendiri, tetapi untuk mengurus kepentingan istri dan anak-anaknya.—1 Korintus 13:4, 5.

      7. Prinsip-prinsip Alkitab apa yang akan membantu seorang istri memenuhi peranan yang ditetapkan Allah baginya dalam keluarga?

      7 Berkenaan dengan peranannya, istri yang hidup dengan pengabdian yang saleh tidak bersaing atau berupaya untuk mendominasi suaminya. Ia senang untuk mendukung suaminya dan bekerja sama dengan dia. Alkitab kadang-kadang berbicara tentang istri yang ”dimiliki” oleh suaminya, membuatnya jelas bahwa suami adalah kepala dari istri. (Kejadian 20:3, NW) Melalui perkawinan ia berada di bawah ”hukum suaminya”. (Roma 7:2) Pada waktu yang sama, Alkitab menyebut istri sebagai ”penolong” dan ”pelengkap”. (Kejadian 2:20, NW) Ia melengkapi sifat-sifat dan kesanggupan yang tidak dimiliki suaminya, dan ia memberinya dukungan yang dibutuhkan. (Amsal 31:10-31) Alkitab juga mengatakan bahwa istri adalah seorang ’mitra’, yaitu orang yang bekerja bersisi-sisian dengan teman hidupnya. (Maleakhi 2:14, NW) Prinsip-prinsip Alkitab ini membantu suami dan istri memahami kedudukan satu sama lain dan memperlakukan satu sama lain dengan respek dan martabat yang sepatutnya.

      ”CEPAT MENDENGAR”

      8, 9. Jelaskan beberapa prinsip yang akan membantu semua dalam keluarga untuk memperbaiki keterampilan mereka berkomunikasi.

      8 Dalam buku ini, perlunya komunikasi sering ditandaskan. Mengapa? Karena segala sesuatu akan berlangsung lebih baik jika orang berbicara dan benar-benar mendengarkan kepada satu sama lain. Telah berulang-ulang ditandaskan bahwa komunikasi adalah percakapan dua arah. Yakobus sang murid menyatakannya demikian, ”Setiap orang harus cepat mendengar, lambat berbicara.”—Yakobus 1:19.

      9 Juga penting untuk berhati-hati berkenaan dengan cara kita berbicara. Kata-kata yang sembrono, memancing pertengkaran, atau yang sangat kritis tidak membangun komunikasi yang berhasil. (Amsal 15:1; 21:9; 29:11, 20) Sekalipun apa yang kita katakan benar, jika itu dinyatakan dengan cara yang kasar, sombong, atau tanpa perasaan, kemungkinan besar itu akan lebih banyak mengakibatkan kerugian daripada kebaikan. Perkataan kita hendaknya sedap didengar, ”dibumbui dengan garam”. (Kolose 4:6) Kata-kata kita hendaknya seperti ”buah apel emas di pinggan perak”. (Amsal 25:11) Keluarga yang belajar untuk berkomunikasi dengan baik telah mengambil langkah besar demi mencapai kebahagiaan.

      PERANAN YANG SANGAT PENTING DARI KASIH

      10. Jenis kasih yang mana sangat penting dalam perkawinan?

      10 Kata ”kasih” muncul berkali-kali dalam seluruh buku ini. Apakah saudara ingat jenis kasih yang terutama dibahas? Memang kasih asmara (Yunani, eʹros) memainkan peranan penting dalam perkawinan, dan dalam perkawinan yang sukses, kasih sayang yang dalam serta persahabatan (Yunani, phi·liʹa) tumbuh di antara suami dan istri. Tetapi yang bahkan lebih penting lagi adalah kasih yang dinyatakan oleh kata Yunani a·gaʹpe. Ini adalah yang kita perkembangkan bagi Yehuwa, Yesus, dan sesama kita. (Matius 22:37-39) Inilah kasih yang Yehuwa nyatakan terhadap umat manusia. (Yohanes 3:16) Betapa indahnya bahwa kita dapat memperlihatkan jenis kasih yang sama ini kepada teman hidup dan anak-anak kita!—1 Yohanes 4:19.

      11. Bagaimana kasih mendatangkan kebaikan dalam suatu perkawinan?

      11 Dalam perkawinan, kasih yang luhur ini benar-benar merupakan ”ikatan pemersatu yang sempurna”. (Kolose 3:14) Ini mengikat pasangan itu menjadi satu dan membuat mereka ingin melakukan apa yang terbaik bagi satu sama lain dan bagi anak-anak mereka. Pada waktu keluarga menghadapi situasi yang sulit, kasih membantu mereka menangani segalanya secara terpadu. Seraya suatu pasangan bertambah tua, kasih membantu mereka mendukung dan terus menghargai satu sama lain. ”Kasih . . . tidak mencari kepentingan diri sendiri. . . . Ia menahan segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, bertekun menahan segala sesuatu. Kasih tidak pernah berkesudahan.”—1 Korintus 13:4-8.

      12. Mengapa kasih kepada Allah di pihak pasangan suami-istri memperkuat perkawinan mereka?

      12 Persatuan perkawinan khususnya kuat apabila itu dikokohkan tidak saja oleh kasih di antara teman hidup tetapi terutama oleh kasih kepada Yehuwa. (Pengkhotbah 4:9-12) Mengapa? Nah, rasul Yohanes menulis, ”Inilah arti kasih akan Allah, bahwa kita menjalankan perintah-perintahnya.” (1 Yohanes 5:3) Jadi, sepasang suami-istri hendaknya melatih anak-anak mereka dalam pengabdian yang saleh bukan hanya karena mereka sangat mengasihi anak-anak mereka tetapi karena ini adalah perintah Yehuwa. (Ulangan 6:6, 7) Mereka harus menjauhkan diri dari perbuatan amoral tidak saja karena mereka mengasihi satu sama lain tetapi terutama karena mereka mengasihi Yehuwa, yang ”akan menghakimi orang yang melakukan percabulan dan pezina”. (Ibrani 13:4) Sekalipun salah seorang teman hidup menyebabkan problem-problem yang serius dalam perkawinan, kasih kepada Yehuwa akan menggerakkan pasangannya untuk terus mengikuti prinsip-prinsip Alkitab. Sesungguhnya, berbahagialah keluarga-keluarga yang kasihnya kepada satu sama lain diperkuat dengan kasih kepada Yehuwa!

      KELUARGA YANG MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH

      13. Bagaimana tekad untuk melakukan kehendak Allah akan membantu pribadi-pribadi untuk memfokuskan diri pada hal-hal yang benar-benar penting?

      13 Seluruh kehidupan seorang Kristen berpusat pada melakukan kehendak Allah. (Mazmur 143:10) Inilah arti sesungguhnya dari pengabdian ilahi. Melakukan kehendak Allah membantu keluarga-keluarga untuk berfokus pada hal-hal yang benar-benar penting. (Filipi 1:9, 10) Sebagai contoh, Yesus memperingatkan, ”Aku datang untuk menyebabkan perpecahan, seorang pria melawan bapaknya, dan anak perempuan melawan ibunya, dan seorang istri yang masih muda melawan ibu mertuanya. Sesungguhnya, musuh seseorang adalah orang-orang dari rumah tangganya sendiri.” (Matius 10:35, 36) Sesuai dengan peringatan Yesus, banyak dari antara pengikut-pengikutnya telah dianiaya oleh anggota keluarga mereka. Benar-benar keadaan yang menyedihkan, dan menyakitkan! Meskipun demikian, ikatan keluarga hendaknya tidak melebihi kasih kita kepada Allah Yehuwa dan Yesus Kristus. (Matius 10:37-39) Jika seseorang bertekun meskipun adanya tentangan keluarga, mereka yang menentang mungkin berubah ketika mereka melihat pengaruh baik dari pengabdian yang saleh. (1 Korintus 7:12-16; 1 Petrus 3:1, 2) Sekalipun hal itu tidak terjadi, tidak ada kebaikan yang bertahan lama yang diperoleh, jika kita berhenti melayani Allah karena adanya tentangan.

      14. Bagaimana keinginan untuk melakukan kehendak Allah akan membantu orang-tua bertindak demi manfaat terbaik dari anak-anak mereka?

      14 Melakukan kehendak Allah membantu orang-tua membuat keputusan yang benar. Sebagai contoh, dalam masyarakat tertentu, orang-tua cenderung menganggap anak-anak sebagai suatu investasi, dan mereka mengharapkan anak-anak mengurus mereka di hari tua mereka. Walaupun benar dan patut bagi anak-anak yang telah dewasa untuk mengurus orang-tua mereka yang bertambah tua, pertimbangan demikian hendaknya tidak membuat orang-tua mengarahkan anak-anak mereka untuk mengejar haluan hidup yang materialistis. Tidak ada manfaatnya bagi anak-anak jika orang-tua membesarkan mereka untuk lebih menghargai harta materi daripada hal-hal rohani.—1 Timotius 6:9.

      15. Bagaimana Eunike, ibu Timotius, merupakan contoh yang sangat baik dari orang-tua yang melakukan kehendak Allah?

      15 Suatu contoh yang baik dalam hal ini adalah Eunike, ibu dari Timotius, sahabat muda Paulus. (2 Timotius 1:5) Walaupun Eunike menikah dengan seorang yang tidak seiman, ia beserta nenek Timotius, Lois, berhasil membesarkan Timotius untuk mengejar pengabdian yang saleh. (2 Timotius 3:14, 15) Pada waktu Timotius sudah cukup besar, Eunike memperbolehkan dia meninggalkan rumah dan terjun dalam pekerjaan pengabaran Kerajaan sebagai rekan utusan injil dari Paulus. (Kisah 16:1-5) Ia pasti senang sekali pada waktu putranya menjadi seorang utusan injil yang menonjol! Pengabdiannya yang saleh sebagai seorang dewasa dengan bagus mencerminkan pelatihannya pada masa kecil. Pasti, Eunike merasakan kepuasan dan sukacita mendengar laporan-laporan tentang pelayanan Timotius yang setia, walaupun ia mungkin merindukan kehadiran putranya di rumah.—Filipi 2:19, 20.

      KELUARGA DAN MASA DEPAN SAUDARA

      16. Sebagai seorang putra, perhatian yang patut apa yang Yesus perlihatkan, tetapi apa tujuan utamanya?

      16 Yesus dibesarkan dalam sebuah keluarga yang saleh dan, sebagai seorang dewasa, ia memperlihatkan perhatian yang patut bagi seorang putra kepada ibunya. (Lukas 2:51, 52; Yohanes 19:26) Akan tetapi, tujuan Yesus yang utama adalah memenuhi kehendak Allah, dan bagi dia ini termasuk membuka jalan bagi umat manusia untuk menikmati kehidupan abadi. Hal ini ia lakukan pada waktu ia mempersembahkan kehidupan manusianya yang sempurna sebagai tebusan bagi umat manusia yang berdosa.—Markus 10:45; Yohanes 5:28, 29.

      17. Haluan Yesus yang setia membuka prospek mulia apa bagi orang-orang yang melakukan kehendak Allah?

      17 Setelah kematian Yesus, Yehuwa membangkitkannya kepada kehidupan surgawi dan memberinya wewenang yang besar, akhirnya melantiknya sebagai Raja dalam Kerajaan surgawi. (Matius 28:18; Roma 14:9; Penyingkapan 11:15) Korban dari Yesus memungkinkan beberapa manusia dipilih untuk memerintah bersamanya dalam Kerajaan itu. Hal itu juga membuka jalan bagi selebihnya dari umat manusia yang berhati benar untuk menikmati kehidupan sempurna di bumi yang telah dipulihkan kepada keadaan seperti firdaus. (Penyingkapan 5:9, 10; 14:1, 4; 21:3-5; 22:1-4) Salah satu hak istimewa terbesar yang kita miliki dewasa ini adalah untuk memberitahukan kabar baik yang mulia ini kepada sesama kita.—Matius 24:14.

      18. Pengingat apa dan anjuran apa yang diberikan kepada keluarga-keluarga maupun pribadi-pribadi?

      18 Sebagaimana diperlihatkan oleh rasul Paulus, menempuh kehidupan dengan pengabdian yang saleh mengandung janji bahwa orang-orang dapat mewarisi berkat-berkat dalam kehidupan ”yang akan datang”. Tentu, ini adalah cara yang paling baik untuk mendapatkan kebahagiaan! Ingatlah, ”dunia ini sedang berlalu dan demikian pula keinginannya, tetapi dia yang melakukan kehendak Allah tetap selama-lamanya”. (1 Yohanes 2:17) Karena itu, tidak soal saudara adalah anak atau orang-tua, suami atau istri, seorang dewasa lajang dengan atau tanpa anak, berjuanglah untuk melakukan kehendak Allah. Bahkan pada waktu saudara berada di bawah tekanan atau sedang menghadapi kesulitan yang ekstrem, jangan pernah lupa bahwa saudara adalah hamba dari Allah yang hidup. Karena itu, semoga tindakan saudara mendatangkan sukacita bagi Yehuwa. (Amsal 27:11) Dan semoga tingkah laku saudara menghasilkan kebahagiaan bagi saudara sekarang dan kehidupan abadi dalam dunia baru yang akan datang!

      BAGAIMANA PRINSIP-PRINSIP ALKITAB INI MEMBANTU . . . KELUARGA SAUDARA UNTUK BAHAGIA?

      Pengendalian diri dapat dipupuk.—Galatia 5:22, 23.

      Dengan pandangan yang benar tentang kekepalaan, suami maupun istri mengupayakan manfaat terbaik bagi keluarga.—Efesus 5:22-25, 28-33; 6:4.

      Berkomunikasi termasuk mendengarkan.—Yakobus 1:19.

      Kasih kepada Yehuwa akan memperkuat perkawinan.—1 Yohanes 5:3.

      Melakukan kehendak Allah adalah tujuan yang paling penting bagi keluarga.—Mazmur 143:10; 1 Timotius 4:8.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan