-
Kunci untuk Membina Keluarga BahagiaMembina Keluarga Bahagia
-
-
Pasal 1
Kunci untuk Membina Keluarga Bahagia
1, 2. Kebutuhan apa saja yang dapat dipenuhi dalam suatu keluarga yang bahagia? Jadi, pertanyaan-pertanyaan apa yang mungkin timbul?
MANUSIA memerlukan banyak hal untuk hidup bahagia dan semuanya itu dapat dipenuhi dalam keluarga. Di dalam keluarga kita dapat memperoleh apa yang sewajarnya diinginkan oleh semua orang: merasa diperlukan, dihargai, disayangi. Suasana keluarga yang hangat dapat mengisi kebutuhan ini dengan istimewa. Suasana saling percaya, saling mengerti, dan kasih sayang tercipta. Rumah tangga menjadi seperti tempat berteduh yang nyaman, jauh dari semua kesukaran dan kerisauan yang terjadi di luar. Anak-anak merasa aman dan kepribadian mereka dapat berkembang sepenuhnya.
2 Kehidupan keluarga seperti inilah yang kita inginkan. Tetapi tak mungkin tercapai begitu saja. Bagaimana cara menciptakannya? Mengapa kehidupan keluarga sekarang mulai berantakan di mana-mana? Apakah kunci perbedaannya antara perkawinan bahagia dan perkawinan yang penuh derita, suasana keluarga yang hangat dan kompak dan suasana keluarga yang dingin dan terpecah-belah?
3. Apa yang diperlihatkan oleh sejarah dunia perihal pentingnya organisasi keluarga?
3 Sudah sewajarnya bahwa kita sungguh-sungguh memikirkan kesejahteraan dan sukses keluarga kita. The World Book Encyclopedia (1973) melukiskan betapa pentingnya penyelenggaraan keluarga sebagai berikut:
“Keluarga adalah organisasi tertua yang dikenal manusia. Dalam banyak hal ia merupakan organisasi yang paling penting. Sebagai inti masyarakat. Berbagai peradaban bertahan lama, beberapa hilang lenyap, tergantung dari seberapa kuat atau lemahnya kehidupan keluarga.”
4, 5. Sikap buruk manakah yang saudara lihat pada banyak keluarga?
4 Tetapi berapa banyak keluarga dewasa ini yang benar-benar kompak dan penuh kasih sayang? Berapa banyak yang dewasa ini benar-benar merasakan kehangatan karena saling bersikap ramah, berterima kasih dan saling memberi? Berapa banyak orang yang sudah menghayati betapa benarnya prinsip, “Lebih berbahagia memberi dari pada menerima”?
5 Dewasa ini suatu sikap yang sangat berbeda terdapat di seluruh dunia. Sikap itu menonjol di negara-negara Barat, tetapi sekarang juga mulai ditiru di negeri-negeri Timur dan daerah-daerah lain di mana hidup kekeluargaan cukup stabil selama ini. Sikap yang dianut sekarang antara lain: “Lakukan saja kemauanmu sendiri, masa bodoh orang lain.” “Zaman sekarang tidak perlu untuk mengekang anak-anak, biarkan mereka memutuskan untuk diri sendiri.” “Jangan main hakim dan mengatakan ini benar, itu salah.” Di makin banyak negara angka perceraian, kejahatan anak-anak dan perbuatan tidak bermoral meningkat terus. Ahli-ahli ilmu jiwa, spesialis penyakit jiwa, kalangan pendeta dan juru penasihat lain banyak mengeluarkan pendapat. Tetapi sebaliknya dari menjaga keutuhan keluarga, banyak penasihat justru membenarkan atau menganjurkan kebebasan seks sebagai penyaluran dari kekecewaan. Semua akibat celaka yang timbul dari ini memang membuktikan bahwa “Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.”
SEJARAH MEMBUKTIKAN PERLUNYA PENYELENGGARAAN KELUARGA
6. Bagaimana sejarah Yunani dan Roma purbakala menggambarkan betapa pentingnya keluarga itu?
6 Sejarah mengajar kita betapa pentingnya keluarga dan kiranya kita perlu menarik pelajaran dari situ. Dalam Jilid II dari The Story of Civilization, penulis sejarah Will Durant melukiskan kehancuran hidup kekeluargaan di Yunani purbakala. Kemudian dikatakannya: “Sebab utama mengapa Yunani berhasil ditaklukkan oleh Roma adalah hancurnya peradaban Yunani dari dalam.” Selanjutnya ia menunjukkan bahwa inti kekuatan Kerajaan Roma letaknya pada keutuhan keluarga mereka. Tetapi ketika keutuhan keluarga mereka hancur disebabkan kebebasan seks, kerajaan yang megah itu pun menghadapi keruntuhan.
7. Mengapa ada sebagian warga Kerajaan Roma yang menikmati kehidupan keluarga yang bahagia sedangkan yang lainnya justru mengalami banyak problem yang serius?
7 Sejarah dunia mengakui kebenaran dari prinsip yang berlaku sejak zaman dulu, “Bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan langkahnya.” Sejarah dunia juga menunjukkan bahwa ada sumber yang lebih tinggi dari pada hikmat manusia di mana kita dapat memperoleh bimbingan agar kehidupan keluarga berhasil baik. Para ahli sejarah melaporkan bahwa, seraya Kerajaan Roma mengalami keruntuhan, “kehidupan keluarga dari orang-orang Yahudi yang patut dicontoh, dan masyarakat Kristen yang kecil itu mengganggu orang kafir yang gila akan hiburan dengan kesalehan dan sopan santun mereka.” (The Story of Civilization, Jilid III, hal. 366) Apa yang membuat keluarga mereka berbeda? Mereka mempunyai pegangan yang lain, yaitu Alkitab. Bagaimana mereka menerapkan nasihat Alkitab sebagai Firman Allah, banyak menentukan sukses mereka untuk membina kehidupan keluarga yang rukun dan baik. Hal-hal tersebut menyebabkan dunia Roma yang bejat itu merasa bersalah.
8. Untuk memecahkan problem-problem keluarga, mengapa Alkitab patut mendapat perhatian kita? (Mazmur 119:100-105)
8 Prinsip-prinsip yang dikutip dalam paragrap-paragrap terdahulu juga diambil dari Alkitab. Dalam buku itu terdapat ucapan Yesus Kristus bahwa lebih berbahagia memberi dari pada menerima. Demikian juga pernyataan rasul Paulus yang terilham bahwa apa yang kita tabur itu juga akan kita tuai, dan pernyataan nabi Allah, Yeremia, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan langkahnya. (Kisah 20:35; Galatia 6:7; Yeremia 10:23) Prinsip-prinsip Alkitab itu terbukti benar. Yesus juga berkata: “Hikmat itu terbukti benar setelah dilaksanakan.” (Matius 11:19, NW) Bila nasihat Alkitab terbukti dapat mengatasi persoalan-persoalan keluarga, tidakkah sepantasnya kita memberikan perhatian?
9, 10. (a) Mengapa nasihat-nasihat yang berguna dan cinta kasih yang lazim dalam keluarga belum cukup agar dapat menikmati kehidupan keluarga bahagia? (b) Apa lagi yang diperlukan? (Wahyu 4:11)
9 Dewasa ini, banyak sekali publikasi yang diterbitkan mengenai perkawinan dan kehidupan keluarga. Banyak di antaranya tentu juga berisi keterangan yang baik. Akan tetapi mutu kehidupan keluarga semakin menurun. Lebih banyak lagi yang diperlukan, yaitu sesuatu yang memberikan kekuatan melawan tekanan-tekanan yang sekarang mengancam kehidupan keluarga. Cinta kasih yang lazim antara suami dan isteri maupun antara orang tua dan anak-anak memang memainkan suatu peranan. Tetapi bahkan hal ini ternyata tidak cukup untuk menjaga keutuhan keluarga pada masa-masa yang kritis. Apa lagi yang diperlukan?
10 Yang diperlukan bukan hanya rasa tanggung jawab dan kesetiaan terhadap teman hidup, anak-anak atau orang tua. Di samping itu, diperlukan rasa tanggung jawab yang bahkan lebih besar kepada Yang disebut Alkitab sebagai “Bapa, yang dari pada-Nya semua keturunan yang di dalam surga dan di atas bumi menerima nama-Nya.” Dialah Allah Yehuwa, Pencipta manusia, yang juga menciptakan perkawinan dan kehidupan keluarga.—Efesus 3:14, 15.
ALLAH BERMINAT KEPADA KELUARGA
11-13. Apakah maksud-tujuan Allah berkenaan bumi dan keluarga manusia?
11 Allah Yehuwa mengetahui apa yang dibutuhkan manusia dan Ia ingin agar kita bahagia, maka Ia memberi nasihat kepada kita perihal kehidupan keluarga. Tetapi suatu maksud tujuan yang lebih mulia diperlihatkan dalam perhatian-Nya kepada keluarga. Alkitab menjelaskan apa maksud tujuan itu. Menurut Alkitab bumi tidak begitu saja ada. Kita ada bukan secara kebetulan. Allah Yehuwa menciptakan bumi, maksud-Nya agar tetap selama-lamanya dan didiami untuk selama-lamanya. Nabi Yesaya menulis: “Dialah Allah-yang membentuk bumi dan menjadikannya . . . bukan supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk didiami.”—Yesaya 45:18.
12 Untuk mencapai maksud tujuan tersebut Allah menciptakan pasangan manusia pertama dan menyuruh mereka berkeluarga: “Laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka . . . Lalu Allah berfirman kepada mereka: ‘Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi.’” (Kejadian 1:27, 28) Menurut maksud tujuan-Nya manusia dan keturunannya perlu mentaati Dia dan memelihara bumi ini. Kejadian 2:15 berkata: “TUHAN [Yehuwa] Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Pada waktunya keadaan seperti taman firdaus itu akan diperluas sampai mencakup seluruh muka bumi. Dengan memelihara bumi ini dan hidup dari apa yang dihasilkannya, keluarga manusia akhirnya akan menyebar ke seluruh dunia. Dan mereka mendapat kesempatan yang tak terbatas untuk belajar segala sesuatu sehingga dapat menggunakan segala kemampuan mereka.
13 Sekarang terdapat lebih dari 4.000.000.000 orang di bumi, tetapi masyarakat manusia ini tidak memenuhi maksud-tujuan Yehuwa bagi bumi. Kebanyakan orang tidak mentaati Dia, dan mereka juga tidak memelihara bumi. Mereka bahkan merusak bumi, mengotori udaranya, airnya dan tanahnya. Maka sesuai dengan maksud-tujuan semula, Allah mengumumkan bukan saja bahwa Ia akan menghentikan segala perkara ini, tetapi juga bahwa Ia akan ’membinasakan mereka yang menghancurkan bumi.’—Wahyu 11:18.
PERTANYAAN-PERTANYAAN YANG PERLU DIJAWAB
14. Mengapa kita dapat yakin bahwa maksud tujuan Allah berkenaan kehidupan keluarga tidak akan gagal?
14 Maksud-tujuan Allah berkenaan bumi ini dan kehidupan keluarga tidak mungkin gagal. “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku; ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki,” firman-Nya. (Yesaya 55:11) Allah menciptakan keluarga dan Ia memberi banyak nasihat mengenai cara mengaturnya. Pedoman yang diberikan-Nya menjawab berbagai pertanyaan yang benar-benar penting perihal kehidupan keluarga—di antaranya mungkin ada yang saudara hadapi.
15-17. (a) Pertanyaan-pertanyaan penting manakah mengenai kehidupan keluarga perlu dijawab? (b) Mengapa kita perlu mendapat jawaban yang memuaskan atas pertanyaan tersebut?
15 Misalnya: Bagaimana caranya untuk menemukan jodoh yang cocok? Dalam perkawinan, bagaimana caranya untuk mencapai kata sepakat mengenai suatu problem yang peka? Pikiran dua orang lebih baik dari pada hanya seorang, tetapi sesudah selesai bertukar pikiran, siapa yang harus ambil keputusan? Cara bagaimana seorang suami dapat memperoleh respek dari isterinya, dan mengapa ini penting? Mengapa isteri membutuhkan kasih sayang suami, dan apa yang dapat diperbuatnya untuk memastikan hal itu?
16 Bagaimana pandangan anda tentang soal mempunyai anak? Beberapa orang menganggap anak-anak sebagai lambang gengsi, sebagai tenaga yang murah atau sebagai jaminan hari tua; orang lain lagi menganggap anak sebagai beban. Tetapi menurut Alkitab anak-anak merupakan berkat. Apakah yang menentukan bahwa memang demikian halnya? Dan bilakah kita harus mulai mendidik mereka? Apakah perlu ada disiplin? Jika perlu, seberapa banyak, dan bagaimana caranya? Perlukah terdapat jurang pemisah dalam keluarga? Dapatkah hal itu diatasi? Bahkan, dapatkah kita mencegahnya?
17 Mendapatkan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan tadi akan banyak menyumbang kepada kebahagiaan keluarga anda. Lebih dari itu, anda akan lebih yakin bahwa ada Suatu sumber kekuatan, kebaikan dan hikmat yang tak terhingga kepada siapa anda dapat berpaling. Dialah yang dapat membimbing keluarga anda kepada kebahagiaan yang kekal selama-lamanya.
-
-
Membubuh Dasar yang Baik untuk Perkawinan AndaMembina Keluarga Bahagia
-
-
Pasal 2
Membubuh Dasar yang Baik untuk Perkawinan Anda
1-3. Menurut Matius 7:24-27, sukses dalam kehidupan bergantung kepada hal apa?
KOKOHNYA sebuah gedung bergantung kepada pondasinya. Demikian juga dengan kehidupan dan perkawinan. Dalam salah satu perumpamaannya, Yesus bicara mengenai dua orang—seorang yang bijak yang membangun rumah atas batu karang dan seorang yang bodoh yang membangun rumah atas pasir. Ketika badai, air bah dan angin melanda keduanya, rumah yang dibangun atas karang tetap berdiri, tetapi rumah di atas pasir rubuh sama sekali.
2 Waktu itu Yesus tidak bermaksud mengajar orang bagaimana caranya membangun rumah. Ia hanya ingin menandaskan perlunya membangun kehidupan atas suatu dasar yang baik. Utusan Allah ini berkata: “Orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya” adalah seperti orang yang bijaksana, yang membangun rumahnya di atas batu karang. Tetapi “orang yang mendengar perkataanKu ini dan tidak melakukannya,” seperti orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.—Matius 7:24-27.
3 Perhatikanlah bahwa menurut Yesus yang penting bukan hanya mendengar nasihat yang bijaksana dan mengetahui apa yang harus dilakukan. Berhasil tidaknya bergantung pada dilakukannya nasihat yang bijaksana itu. “Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.”—Yohanes 13:17.
4. Pelajaran apa saja yang dapat kita tarik dari perkawinan pasangan manusia pertama? (Kejadian 2:22-3:19)
4 Ini juga berlaku bagi perkawinan. Bila dibangun atas pondasi yang kokoh seperti karang, perkawinan akan cukup kuat terhadap tekanan-tekanan yang dialami dalam kehidupan. Tetapi dari manakah kita mendapat pondasi yang kokoh itu? Dari Pencipta perkawinan, yaitu Allah Yehuwa. Ia memulai perkawinan ketika mempertemukan pasangan manusia pertama sebagai suami dan isteri. Kemudian Ia memberi petunjuk-petunjuk yang bijaksana untuk kebaikan mereka. Ketaatan terhadap petunjuk-petunjuk ini akan menentukan apakah masa depan mereka cerah untuk selama-lamanya atau tanpa masa depan sama sekali. Kedua-duanya mengetahui petunjuk-petunjuk Allah, namun sayang sekali karena sifat mementingkan diri, mereka melanggar ketentuan-ketentuan ini. Mereka lebih suka mengabaikan nasihat dan sebagai akibatnya perkawinan maupun kehidupan mereka hancur berantakan seperti rumah di atas pasir yang dilanda badai.
5, 6. Bantuan apakah disediakan Allah bagi orang-orang yang sudah menikah dan bagi mereka yang merencanakan untuk kawin?
5 Allah Yehuwa memang menjodohkan pasangan manusia pertama dalam perkawinan, tetapi sekarang Allah tidak mengatur sendiri perjodohan dari orang-orang yang mau menikah. Akan tetapi nasihat-Nya yang bijaksana untuk perkawinan yang bahagia masih tersedia. Terserah kepada masing-masing pasangan yang ingin menikah, apakah mereka mau menuruti nasihat tersebut. Menurut Firman Allah kita dapat memohon bantuan-Nya dalam mengambil keputusan yang bijaksana sehubungan dengan memilih teman hidup.—Yakobus 1:5, 6.
6 Kebiasaan tiap daerah berbeda satu sama lain. Di daerah tertentu dewasa ini orang boleh memilih sendiri teman hidupnya. Tetapi di banyak daerah orang-tualah yang mengatur perkawinan, kadang-kadang melalui seorang perantara. Di beberapa tempat seorang pria mendapat isteri hanya setelah membayar “mas kawin” kepada calon mertuanya, dan nilainya kadang-kadang di luar kemampuan pihak pria. Bagaimanapun keadaan setempat, Alkitab berisi banyak nasihat yang membantu agar perkawinan kekal dan bahagia.
MENGENAL DIRI SENDIRI DAHULU
7-10. (a) Bila merencanakan untuk kawin, hal apa yang perlu diketahui seseorang mengenai dirinya sendiri? Bagaimana caranya ia dapat mengetahui? (b) Apa kata Alkitab mengenai alasan yang sepatutnya untuk perkawinan?
7 Apa yang anda inginkan dari perkawinan? Apa saja kebutuhan anda—secara jasmani, emosi maupun rohani? Nilai-nilai apakah yang dianut, apakah cita-cita anda dan bagaimana anda hendak mencapainya? Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, anda harus mengenal diri sendiri. Ini tidak semudah seperti yang dikira orang. Diperlukan kematangan emosionil untuk memeriksa diri sendiri, dan begitu pun belum tentu kita dapat mengenal siapa kita sebenarnya. Rasul Paulus mengemukakan ini ketika menulis 1 Korintus 4:4: “Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia yang menghakimi aku, ialah Tuhan.”
8 Pernah Allah Pencipta ingin mengingatkan seorang bernama Ayub mengenai beberapa hal yang kurang disadarinya. Allah berkata kepadanya: “Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.” (Ayub 38:3) Pertanyaan-pertanyaan dapat membantu kita untuk mengenal diri sendiri dan untuk menyingkapkan segala motip yang mendorong kita. Maka ajukanlah beberapa pertanyaan kepada diri sendiri mengapa anda berminat pada perkawinan.
9 Apakah anda ingin kawin karena kebutuhan jasmani—yaitu makanan, pakaian, perumahan? Kebutuhan-kebutuhan dasar ini memang berlaku bagi semua orang, seperti kata Alkitab: “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” Apakah karena kebutuhan seks? Itu pun merupakan keinginan yang wajar. “Lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.” (1 Timotius 6:8; 1 Korintus 7:9) Apakah mungkin karena anda merasa kesepian? Itulah justru sebabnya mengapa Allah menyelenggarakan perkawinan. Maksud lain adalah agar dua orang dapat bekerja sama. (Kejadian 2:18; 1:26-28) Melaksanakan pekerjaan baik menghasilkan kepuasan dan ada pahalanya: “Bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.”—Pengkhotbah 3:13.
10 Orang yang sedang jatuh cinta sudah sejak dulu menganggap hati atau jantung sebagai lambang dari apa yang mereka rasakan. Tetapi Alkitab justru mengajukan suatu pertanyaan yang mengejutkan mengenai hati manusia: “Siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yeremia 17:9) Apakah anda tahu pasti apa yang ada di dalam hati anda?
11. Kebutuhan emosionil apakah yang pada dasarnya perlu dalam perkawinan?
11 Seringkali, daya tarik jasmani membuat kita buta terhadap kebutuhan emosionil lainnya. Bila mencari teman hidup, apakah anda cukup mempertimbangkan kemampuan calon anda untuk mengisi kebutuhan anda dalam hal pengertian, kelembutan dan kasih sayang? Kita semua mempunyai kebutuhan dasar yang sama: kita membutuhkan seseorang yang benar-benar dapat dipercaya, kepada siapa kita dapat mengungkapkan seluruh isi hati tanpa khawatir akan sakit hati; seseorang yang tidak “menutup pintu hatinya” terhadap kita. (1 Yohanes 3:17) Sanggupkah anda memberikan semua ini kepada teman hidup anda, dan sebaliknya sanggupkah ia memenuhi kebutuhan ini?
12. Mengapa pemuasan kebutuhan jasmani dan emosi belum cukup untuk perkawinan yang bahagia?
12 Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang menyadari kebutuhan rohaninya.” (Matius 5:3, NW) Bagaimana kebutuhan rohani anda? Apakah anda lebih mengutamakan karir? Harta benda? Kekayaan? Apakah perkara-perkara ini menghasilkan perdamaian batin dan kepuasan? Biasanya tidak. Maka kita perlu menyadari bahwa setiap orang mempunyai suatu kelaparan rohani yang selalu ada meskipun semua kebutuhan jasmani telah dipenuhi. Batin kita terus mencari-cari kepribadian kita—kita ingin tahu siapa atau apa kita sebenarnya, mengapa kita hidup, dan ke mana tujuan kita. Sadarkah anda akan segala kebutuhan rohani ini, dan cara bagaimana memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut?
SOAL KECOCOKAN
13. Agar perkawinan berbahagia, hal apa lagi yang perlu diperhatikan di samping kebutuhan-kebutuhan anda sendiri?
13 Bila anda sudah mengerti semua kebutuhan jasmani, pikiran dan rohani anda sendiri, apakah anda tahu pasti bahwa calon teman hidup anda juga mengetahuinya? Anda bukan saja perlu mengetahui kebutuhan anda sendiri untuk kebahagiaan perkawinan, tetapi juga perlu mempertimbangkan kebutuhan teman hidup anda. Anda tentu ingin agar teman hidup anda juga bahagia. Bila salah satu tidak bahagia, berarti kedua-duanya tidak bahagia.
14. Dalam perkawinan, mengapa banyak pasangan akhirnya mengalami ketidak-cocokan?
14 Banyak perkawinan berakhir dengan kekecewaan atau perceraian karena tidak terdapat kecocokan. Ketidak-cocokan dalam perkawinan merupakan masalah yang cukup serius. Bila dua orang tidak cocok satu sama lain, sulit untuk bekerja sama. Keadaan ini mengingatkan kita kepada hukum Musa yang dengan penuh kasihan melarang memasang kuk pada dua ekor hewan yang berbeda ukuran badan dan kekuatan, karena akan mengakibatkan kesulitan. (Ulangan 22:10) Demikian juga dengan pria dan wanita yang tidak cocok satu sama lain, namun berada di bawah satu kuk perkawinan. Bila masing-masing mempunyai minat yang berbeda, selera yang berbeda dalam hal memilih teman-teman bergaul atau hiburan, dan hanya ada persamaan dalam beberapa hal, maka terdapat ketegangan dalam ikatan perkawinan.
15, 16. Apakah beberapa hal yang perlu dibicarakan dengan calon teman hidup, dan bagaimana caranya?
15 “Maksudpun batallah dengan tiada bicara,” kata Alkitab. (Amsal 15:22, Klinkert) Dalam mempertimbangkan perkawinan, apakah sudah ada pembicaraan mengenai soal kehidupan sehari-hari? Bagaimana akibat perkawinan atas bidang pekerjaan suami? Ini akan menentukan di mana anda akan tinggal dan berapa banyak uang diperlukan. Siapakah yang akan memegang keuangan? Perlukah sang isteri turut mencari nafkah? Bagaimana hubungan dengan keluarga dari teman hidup, teristimewa orang tua dari kedua pihak? Bagaimana pendirian masing-masing mengenai seks, anak-anak dan pendidikannya? Apakah yang satu ingin berkuasa atas yang lainnya, atau apakah terdapat tenggang rasa dalam hubungan mereka?
16 Dapatkah semua pertanyaan ini dan juga soal-soal lain dibicarakan bersama-sama secara tenang dan masuk akal, kemudian diputuskan demikian rupa sehingga menyenangkan kedua-duanya? Apakah semua problem dapat dihadapi dan dipecahkan bersama, dan apakah hubungan komunikasi satu salam lain selalu lancar? Itulah kuncinya perkawinan yang bahagia.
17-19. Mengapa latar belakang keluarga berpengaruh besar atas kecocokan dalam perkawinan?
17 Biasanya dua orang dengan latar belakang yang agak sama lebih mudah untuk mencocokkan diri. Buku Aid to Bible Understanding, halaman 1114, berkata mengenai perkawinan zaman Alkitab:
“Rupanya adalah suatu kebiasaan umum bagi seorang pria untuk mencari isteri di lingkungan keluarga atau suku sendiri. Prinsip ini kita lihat dalam pesan Laban kepada Yakub: ‘Lebih baik kuberikan [puteriku] kepadamu dari pada kepada orang lain.’ (Kej. 29:19) Kebiasaan ini khususnya terdapat di kalangan umat Yehuwa, seperti ditunjukkan oleh Abraham, yang mengutus orang ke negerinya sendiri untuk menghubungi sanak keluarganya, guna mencari istri bagi Ishak putranya. Ia tidak mengambil menantu dari antara putri-putri Kanaan di mana ia tinggal. (Kej. 24:3, 4)”
18 Tentu saja, ini tidak berarti bahwa perkawinan dengan keluarga dekat dianjurkan dewasa ini, karena ini dapat menghasilkan anak-anak yang cacat. Tetapi sudah jelas bahwa latar belakang keluarga banyak menentukan sifat-sifat seseorang. Selama masa kecil dan masa remaja tingkah laku dan perasaan seseorang banyak dipengaruhi oleh suasana keluarga. Bila latar belakang kedua pihak hampir sama, biasanya lebih mudah untuk ‘tumbuh di tanah yang sama dan berkembang di bawah iklim yang sama.’ Meskipun demikian, orang-orang dengan latar belakang dan asal-usul yang berbeda bisa saja saling menyesuaikan diri dalam perkawinan, terutama bila kedua pihak secara emosionil cukup matang.
19 Jelas ada baiknya jika anda dapat mengetahui sebelumnya latar belakang dari keluarga calon anda. Tetapi perhatikan juga bagaimana hubungan antara dia dengan keluarganya—dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Bagaimana caranya ia memperlakukan orang-orang yang lebih tua, bagaimana sikapnya terhadap anak-anak?
20, 21. Bila memilih teman hidup, bagaimana seharusnya sikap mengenai kelemahan seseorang?
20 Sekalipun semua tindakan pencegahan telah diadakan, perlu anda ingat juga bahwa: Kecocokan antara dua orang tidak mungkin dapat sempurna. Masing-masing pasti mempunyai kelemahan. Beberapa kelemahan mungkin ketahuan sebelum perkawinan; beberapa lagi mungkin baru sesudahnya. Jadi bagaimana
21 Bukan kelemahan-kelemahan itu yang menyebabkan perkawinan gagal, tetapi sikap teman hidup terhadap kelemahan tersebut. Apakah anda melihat bahwa hal-hal yang baik sebetulnya mengimbangi hal-hal yang buruk, atau apakah anda hanya memusatkan pada yang buruk dan terus-menerus mencelanya? Apakah anda cukup lentuk untuk memaafkan beberapa kekurangan itu, seperti anda sendiri juga ingin agar orang lain bersikap begitu terhadap anda? Rasul Petrus berkata: “Kasih menutupi banyak sekali dosa.” (1 Petrus 4:8) Apakah anda memiliki kasih semacam itu kepada orang dengan siapa anda ingin menikah? Jika tidak, lebih baik jangan mengawininya.
‘AKU DAPAT MERUBAH DIA’
22-24. Mengapa tidak bijaksana untuk kawin dengan seseorang hanya karena ia berjanji akan merubah cara hidupnya atau kawin dengan maksud untuk merubah wataknya?
22 Apakah anda berkata, ‘Aku dapat merubah dia’ seperti biasanya orang katakan? Tetapi sebenarnya kepada siapakah anda jatuh cinta? Dengan orang itu sebagaimana adanya, atau dengan orang itu sesudah dirubah? Merubah diri sendiri saja susah, apa lagi merubah orang lain. Akan tetapi, kebenaran Firman Allah memang dapat merubah seseorang. Orang dapat “menanggalkan manusia lama,” memperbaharui apa yang ada di belakang pikirannya. (Efesus 4:22, 23) Namun demikian janganlah terlalu percaya akan janji calon teman hidup anda untuk membuat perubahan dengan segera demi menyenangkan anda! Meskipun kebiasaan buruk dapat berubah, tetapi memerlukan waktu, kadang-kadang bahkan beberapa tahun. Kita jangan mengabaikan fakta bahwa sifat-sifat keturunan dan pengaruh-pengaruh setempat telah membentuk diri kita dengan cara tertentu, sehingga setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda. Kasih yang sejati dapat mendorong kita untuk membantu satu sama lain memperbaiki dan mengatasi kelemahan-kelemahan. Tetapi kasih sejati tidak akan mendorong kita untuk memaksa teman hidup agar mematikan kepribadiannya sendiri.
23 Beberapa orang sudah membentuk gambaran tertentu dalam pikirannya perihal idaman hatinya, kemudian mencoba mencocokkan gambaran idaman ini setiap kali ia jatuh cinta. Sudah tentu tak ada orang yang dapat memenuhi harapan impian yang tidak masuk akal. Tetapi orang yang jatuh cinta itu mati-matian mempertahankan apa yang diidam-idamkan itu, memaksa supaya pacarnya memenuhi harapan impian itu. Setelah gagal, dia kecewa dan mencari lagi pria atau wanita idaman yang dikhayalkan itu. Tetapi orang seperti ini tidak pernah akan menemukan wanita idamannya. Ia mencari manusia khayalan yang tidak ada di luar dunia impiannya. Orang dengan jalan pikiran seperti ini tidak cocok untuk kawin.
24 Mungkin anda sendiri pernah mempunyai mimpi demikian. Kebanyakan orang pernah bermimpi seperti itu; muda-mudi umumnya begitu. Tetapi dengan bertambahnya kematangan secara emosi, kita sadar bahwa khayalan seperti itu harus disingkirkan karena tidak praktis. Dalam perkawinan yang penting adalah kenyataan, bukan khayalan.
25. Apa bedanya antara cinta sejati dan asmara?
25 Cinta sejati tidak begitu buta seperti disangka orang. Cinta seperti itu menutupi banyak kesalahan, tetapi tidak buta. Cinta asmara atau cinta monyet membutakan orang, karena menolak untuk melihat kesulitan yang orang lain perkirakan akan terjadi. Cinta semacam itu malah mencoba mematikan tiap keragu-raguan yang mungkin timbul; yang pada akhirnya akan muncul juga. Anda boleh tutup mata terhadap kenyataan yang kurang menyenangkan selama masa berkencan, tetapi bagaimanapun juga anda akan menghadapi kenyataan itu sesudah pesta perkawinan. Memang sewajarnya bahwa kita selalu berusaha meninggalkan kesan yang terbaik kepada orang yang ingin kita senangkan. Tetapi bagaimanapun akhirnya keadaan yang sebenarnya akan kelihatan juga. Janganlah terlalu terburu-buru, agar anda dapat melihat calon anda sebagaimana adanya. Usahakanlah agar kesan yang anda sendiri tinggalkan juga yang sebenarnya. Anjuran rasul dalam 1 Korintus 14:20 (NW) berlaku juga bagi orang yang sedang mencari jodoh: “Janganlah seperti anak-anak . . . jadilah dewasa dalam daya pengertian.”
IKATAN DALAM PERKAWINAN
26. Menurut Alkitab sampai di mana ikatan perkawinan sebenarnya? (Roma 7:2, 3)
26 Seorang harus dengan penuh kesadaran mempertimbangkan apa yang sebenarnya tersangkut dalam ikatan perkawinan. Bila salah satu saja di antaranya kurang sungguh-sungguh, dasar perkawinan itu akan goyah. Di banyak negeri dewasa ini begitu mudahnya orang kawin lalu cerai lagi. Seringkali hal itu terjadi karena orang-orang yang mulai berumah tangga itu tidak sungguh-sungguh merasakan bahwa perkawinan itu bersifat mengikat. Mereka bahkan berpendapat, ‘kalau tidak cocok, ya cerai saja.’ Di mana terdapat pendapat begitu, perkawinan itu hampir gagal sejak semula dan tidak akan menghasilkan kebahagiaan, melainkan biasanya hanya menimbulkan sakit hati. Sebaliknya Alkitab menunjukkan bahwa perkawinan harus berlaku seumur hidup. Mengenai pasangan yang pertama, Allah berkata bahwa mereka “harus menjadi satu daging.” (Kejadian 2:18, 23, 24) Bagi si pria tidak ada wanita lain dan bagi si wanita tidak ada pria lain. Putera Allah menegaskan kembali hal ini: “Mereka bukannya lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Hanya perbuatan serong yang dibenarkan sebagai alasan untuk memutuskan ikatan perkawinan.—Matius 19:3-9.
27-29. (a) Sebaiknya hal-hal apa yang patut diperhatikan seorang wanita dalam diri calon suaminya? (b) Apa yang harus dicari oleh seorang pria yang bijaksana dalam diri calon isterinya?
27 Melihat betapa seriusnya perkawinan, sebaiknya wanita yang ingin sukses dalam perkawinan hanya mengawini pria yang dapat ia segani, yang matang dan seimbang, yang mempunyai daya pertimbangan yang baik, yang sanggup untuk memikul tanggung jawab dan tidak mudah tersinggung bila mendapat kritikan. Bertanyalah kepada diri sendiri: Dapatkah orang ini mencari nafkah dengan baik? Dapatkah ia menjadi ayah yang baik bagi anak-anak yang mungkin akan lahir kemudian? Apakah ia mempunyai patokan moral yang tinggi sehingga kedua-duanya dapat menjaga kesucian hubungan perkawinan? Apakah ia bersifat rendah hati dan tahu diri atau tinggi hati dan keras kepala, suka memaksakan kedudukannya sebagai kepala keluarga, selalu menganggap dirinya benar dan sulit untuk diajak berunding? Dengan bergaul cukup lama sebelum menikah semua ini dapat diperhatikan, terutama bila kita berpijak kepada prinsip-prinsip Alkitab.
28 Demikian juga pria yang menginginkan perkawinan yang bahagia harus mencari isteri yang dapat ia cintai seperti tubuhnya sendiri. Harus seorang yang dapat mengimbanginya sebagai rekan sejawat dalam rumah tangga. (Kejadian 2:18) Mengurus rumah tangga dengan baik adalah tugas yang berat dengan berbagai macam tanggung jawab. Diperlukan ketrampilan sebagai juru masak, penata ruangan, ahli keuangan, ibu, pendidik dan masih banyak lagi. Peranannya membutuhkan daya kreatip dan membawa banyak tantangan, dengan banyak kesempatan untuk mengembangkan diri dan menemukan kepuasan. Isteri yang baik, sama seperti suami yang baik, adalah orang yang senang bekerja; “Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.”—Amsal 31:27.
29 Ada baiknya bila kedua pihak benar-benar memperhatikan apa yang mereka lihat. Apakah orangnya bersih dan rapih atau tidak, rajin atau malas. Apakah ia mudah diajak berunding dan tenggang rasa atau keras kepala dan mementingkan diri. Hemat atau boros. Apakah ia mempunyai kemampuan berpikir sehingga enak untuk diajak bicara dan membina kerohanian atau malah berpikir yang membuat kehidupan menjemukan hanya untuk mengurus keperluan sehari-hari dan lain tidak?
30, 31. Mengapa perbuatan imoral selama berpacaran dapat menjadi penghalang untuk menikmati perkawinan yang bahagia?
30 Sikap saling menghargai merupakan bumbu utama untuk perkawinan yang berhasil. Hal ini juga berlaku dalam pernyataan-pernyataan cinta pada masa berpacaran. Pergaulan terlalu intim dan pelampiasan nafsu berahi dapat membuat hubungan sebelum perkawinan menjadi murahan. Percabulan bukanlah suatu dasar yang baik untuk perkawinan. Hal itu menyingkapkan sikap acuh tak acuh terhadap kebahagiaan pihak lain di masa depan. Nafsu berahi yang membara hanya sekejap seolah-olah menciptakan ikatan batin yang tidak terpisahkan, dapat tiba-tiba mendingin dan dalam beberapa minggu atau bahkan hanya beberapa hari, perkawinan menjadi berantakan sama sekali.—Bandingkan kisah cinta berahi Amnon terhadap Tamar di 2 Samuel 13:1-19.
31 Bila seseorang tidak dapat mengendalikan nafsunya selama masa berpacaran, di kemudian hari akan mudah timbul keragu-raguan mengenai apa sebenarnya motip dari perkawinan itu. Apakah hanya untuk melampiaskan nafsu, ataukah untuk menempuh hidup baru dengan seseorang yang kepribadiannya benar-benar dihargai dan dicintai? Kurangnya pengendalian diri sebelum perkawinan seringkali merupakan pertanda kurangnya pengendalian diri di kemudian hari, yang mengakibatkan penyelewengan dan kekecewaan. (Galatia 5:22, 23) Kenangan buruk mengenai perbuatan cabul sebelum perkawinan dapat mempersulit proses penyesuaian diri pada tahap-tahap permulaan perkawinan.
32. Bagaimana perbuatan imoral selama berpacaran dapat mempengaruhi hubungan seseorang dengan Allah?
32 Lebih parah lagi, perbuatan imoralitas seperti itu merusak hubungan seseorang dengan Pencipta kita, padahal kita sangat membutuhkan pertolongan-Nya. “Karena inilah kehendak Tuhan: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan . . . supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya [saudarinya] dengan tidak baik atau memperdayakannya . . . Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga roh-Nya yang kudus kepada kamu.”—1 Tesalonika 4:3-8.
DASAR YANG KOKOH
33, 34. Bila memilih calon teman hidup, nilai-nilai apakah yang menurut Alkitab jauh lebih penting dari pada daya tarik lahiriah?
33 Apakah rumah tangga dan keluarga anda dibangun atas dasar seperti batu karang atau seperti pasir? Sebagian besar hal itu tergantung dari seberapa pandainya kita memilih teman hidup. Kecantikan dan daya tarik seks saja tidak cukup, karena tidak dapat menggantikan ketidak-cocokan secara batin dan rohani. Nasihat Firman Allahlah yang menyediakan dasar perkawinan yang kokoh seperti batu karang.
34 Alkitab menunjukkan bahwa keadaan batin seseorang lebih penting dari pada kecantikan lahiriah. “Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia,” demikian kata penulis Amsal yang terilham, “tetapi isteri yang takut akan TUHAN [Yehuwa] dipuji-puji.” (Amsal 31:30) Rasul Petrus seorang yang sudah berkeluarga dan menulis tentang “manusia batiniah yang tersembunyi” dan “roh yang lemah lembut dan tenteram” sebagai “sangat berharga di mata Allah.” (1 Petrus 3:4) “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN [Yehuwa] melihat hati,” dan ada baiknya kita meniru Allah dalam hal ini dengan tidak mudah dipengaruhi oleh rupa luar dari calon kita.—1 Samuel 16:7.
35, 36. (a) Mengapa penting untuk mengawini seorang yang mempunyai iman kepada Allah dan Firman-Nya? (b) Seberapa jauhkah sepatutnya kita harapkan calon teman hidup menunjukkan imannya?
35 Raja Salomo yang berhikmat merenungkan berbagai hal-ikhwal kehidupan dan kemudian sampai kepada kesimpulan: “Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya karena ini adalah kewajiban setiap orang.” (Pengkhotbah 12:13) Orang-orang Israel terikat dalam suatu perjanjian untuk mentaati hukum Allah dan secara khusus dilarang mengawini orang-orang yang tidak beribadat seperti mereka, agar tidak menjauhkan mereka dari Allah yang sejati. “Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kau berikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kau ambil bagi anakmu laki-laki; sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka beribadah kepada allah lain.”—Ulangan 7:3, 4.
36 Berdasarkan alasan yang sama anjuran ini telah diberikan kepada orang-orang yang berada dalam “perjanjian baru” Allah, yaitu para anggota sidang Kristen, agar kawin hanya “di dalam Tuhan.” (Yeremia 31:31-33; 1 Korintus 7:39) Hal ini bukan karena fanatik, tetapi justru menunjukkan hikmat dan kasih. Tidak ada yang lebih menguatkan hubungan perkawinan dari pada fakta bahwa mereka sama-sama mengabdi kepada Pencipta. Bila anda mengawini seorang yang beriman kepada Allah dan Firman-Nya, dan yang mempunyai pengertian yang sama seperti anda, maka terdapat sumber wewenang nasihat yang sama. Mungkin anda anggap ini soal kecil, tetapi “janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33) Bahkan dalam sidang Kristen, ada baiknya untuk memastikan apakah calon teman hidup seorang hamba Allah yang benar-benar sepenuh hati, bukan seorang Kristen yang separuh hati yang lebih cenderung kepada sikap dan kebiasaan duniawi. Untuk dapat berjalan dengan Allah, tidak mungkin menjadi sahabat dunia ini.—Yakub 4:4.
37, 38. (a) Mengapa kita tidak boleh tergesa-gesa untuk mulai berpacaran atau kawin? (b) Nasihat siapakah yang sebaiknya didengar oleh orang-orang yang merencanakan untuk kawin?
37 “Siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara,” Yesus bertanya, “tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?” (Lukas 14:28, 29) Prinsip ini juga berlaku bagi perkawinan. Karena Allah menganggap perkawinan mengikat seumur hidup, sebaiknya jangan tergesa-gesa memilih teman hidup. Dan pastikanlah bahwa anda sendiri sudah siap untuk menyelesaikan apa yang anda mulai. Bahkan berpacaran bukan sesuatu yang boleh dianggap remeh, seperti hanya main-main. Mempermainkan perasaan orang lain itu kejam dan penderitaan batin dan sakit hati yang diakibatkannya dapat berbekas lama sekali.—Amsal 10:23; 13:12.
38 Kaum muda yang bijaksana yang bermaksud kawin sebaiknya meminta nasihat orang-orang yang lebih tua, khususnya orang yang selama ini hanya memikirkan kebaikan anda. Ayub 12:12 mengingatkan kita betapa pentingnya soal ini: “Konon hikmat ada pada orang yang tua, dan pengertian pada orang yang lanjut umurnya. Dengarkan orang-orang ini yang berbicara berdasarkan pengalaman. Di atas segalanya, “Percayalah kepada TUHAN [Yehuwa] dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu.”—Amsal 3:5, 6.
39. Bagaimana Alkitab dapat juga membantu orang-orang yang sudah kawin?
39 Banyak orang yang membaca keterangan ini mungkin sudah berkeluarga. Meskipun perkawinan anda sedikit banyak sudah sempat dibubuh dasarnya, Alkitab dapat membantu anda mengadakan penyesuaian di mana perlu sehingga tidak mengecewakan. Entah bagaimana perkawinan anda, masih banyak yang dapat dilakukan untuk memperbaikinya dengan merenungkan lebih lanjut nasihat Pencipta kita mengenai kebahagiaan keluarga.
[Gambar di hlm. 12]
Dapatkah perkawinan anda bertahan terhadap masa-masa yang sukar bagaikan badai?
-
-
Setelah Hari PerkawinanMembina Keluarga Bahagia
-
-
Pasal 3
Setelah Hari Perkawinan
1. Apakah faedahnya bagi suatu perkawinan, jika terdapat kerja sama seperti yang digambarkan dalam Pengkhotbah 4:9, 10?
HARI perkawinan anda sudah berlalu. Anda berdua sudah mulai hidup sebagai keluarga baru. Sempurnakah kebahagiaan anda sekarang? Anda tidak lagi seorang diri. Sekarang ada teman dengan siapa segala-galanya dapat dibagi, segala rahasia anda, segala kegembiraan maupun segala problem anda. Apakah keadaan ini cocok sekali dengan Pengkhotbah 4:9, 10?—“Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau [salah satu di antara, NW] mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!” Apakah perkawinan anda mencerminkan kerja sama seperti itu? Biasanya memerlukan banyak waktu dan jerih payah sebelum dua insan bersatu dengan bahagia. Sayang sekali dalam banyak perkawinan hal ini tidak pernah tercapai.
2, 3. (a) Kenyataan hidup apakah harus dihadapi setelah hari perkawinan? (b) Mengapa sudah sewajarnya orang harus saling menyesuaikan diri sesudah kawin?
2 Di dalam buku cerita roman, biasanya masalahnya adalah bagaimana dua insan yang jatuh cinta dapat bersatu. Akhir cerita selalu mereka hidup bahagia selama-lamanya. Tetapi dalam kehidupan sebenarnya, adalah bagaimana caranya untuk hidup bahagia sehari demi sehari, sebagai tantangan yang harus dihadapi. Sesudah pesta pernikahan yang meriah, mulailah kehidupan sehari-hari yang membosankan: bangun pagi-pagi, pergi bekerja, pergi ke pasar, masak, cuci piring, membersihkan rumah dan sebagainya.
3 Perkawinan menuntut penyesuaian. Setidak-tidaknya kalian telah memasuki jenjang perkawinan dengan harapan idaman-idaman tertentu yang belum tentu praktis dan wajar. Bila ini tidak terwujud, mulai terjadi sedikit kekecewaan selama minggu-minggu pertama. Tetapi jangan lupa, anda telah melakukan suatu perubahan besar dalam kehidupan anda. Anda tidak lagi seorang diri atau bersama keluarga dengan siapa anda tergabung sejak lahir. Sekarang ada orang baru yang mungkin baru sekarang anda betul-betul mengenalnya, ternyata lain dari apa yang anda duga sebelumnya. Sekarang kesibukan sehari-hari sudah lain, pekerjaan anda mungkin juga lain, biaya-biaya pun sudah berbeda. Dan ada pula kenal baru maupun keluarga mertua, sehingga perlu menyesuaikan diri. Sukses perkawinan dan kebahagiaan bergantung pada kerelaan anda untuk mengadakan perubahan-perubahan yang diperlukan.
APAKAH ANDA DAPAT MENYESUAIKAN DIRI?
4. Prinsip-prinsip Alkitab apa memudahkan orang untuk saling menyesuaikan diri dalam perkawinan? (1 Korintus 10:24; Filipi 4:5)
4 Karena keangkuhan, beberapa orang tidak mudah menyesuaikan diri. Tetapi, seperti dikatakan Alkitab, “kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” Tetap berkeras kepala dapat mengakibatkan celaka. (Amsal 16:18) Yesus menganjurkan orang untuk mengalah dan menyesuaikan diri. Ia berpesan bilamana ada orang yang menginginkan “bajumu, berikanlah kepadanya jubahmu juga,” dan bila “seorang memaksamu untuk berjalan dengan dia sejauh satu kilometer, jalankan dengan dia sejauh dua kilometer.” Dari pada bertengkar dengan seorang yang anda cintai, “Mengapa kamu tidak lebih suka dirugikan?” tanya rasul Paulus (Matius 5:40, 41; 1 Korintus 6:7) Jika orang Kristen dapat mengatasi keadaan ekstrim yang terjadi di antara mereka, masakan dua orang yang sudah menikah dan saling mencintai tidak sanggup untuk menyesuaikan diri agar hubungan mereka selalu baik.
5. Sikap kita terhadap temah hidup dapat positip, dapat pula negatip. Bagaimana demikian?
5 Betapa banyaknya kesempatan yang dapat digunakan seseorang untuk bahagia atau sebaliknya. Mana yang lebih penting bagi anda? Apakah anda terlalu mementingkan hal-hal yang positip atau yang negatip? Orang yang baru bersuami mungkin berpikir: ‘Mengapa sesudah kawin, dia tidak begitu mesra lagi? Dulu ia selalu mengajak saya jalan-jalan dan banyak waktu untuk saya. Sekarang tidak pernah lagi. Saya ini dianggap apa. Ia sudah tidak sama seperti dulu!’ Atau apakah ia menyadari dan berterima kasih bahwa sekarang suaminya bekerja keras mencari nafkah bagi keluarganya? Dan di lain pihak, apakah suami memperhatikan bahwa isterinya rajin memasak dan membersihkan rumah, sehingga kadang-kadang terlalu lelah dan tidak ada banyak waktu lagi untuk bersolek seperti dulu? Ataukah ia berpikir: ‘Ada apa dengan gadis manis yang kukawini itu? Mengapa dia begitu berubah sesudah punya suami?’
6. Bagaimana hubungan suami-isteri jika keduanya benar-benar berusaha mensukseskan perkawinan mereka?
6 Kedua pihak harus lebih bersikap matang dan menyadari bahwa mereka tidak ada waktu atau tenaga lagi untuk melakukan semua hal seperti sebelum perkawinan mereka. Sekarang mereka harus pandai menyesuaikan diri. Tanggung jawab mereka yang membawa kepuasan batin adalah bagaimana mensukseskan perkawinan. Gara-gara satu pihak perkawinan dapat hancur, tetapi supaya berhasil kedua pihak harus bekerja sama. Sungguh tidak mudah untuk mensukseskan perkawinan. Sukses tersebut dicapai dengan mengatasi berbagai kesulitan. Bila kedua pihak benar-benar bekerja sama masing-masing memberikan suatu sumbangan yang kemudian berpadu bersama. Kerja sama atas dasar tujuan yang sama ini akan mengikat satu sama lain demikian eratnya, sehingga keduanya menjadi satu. Menjelang waktu akan terjalin suatu ikatan kasih yang melebihi apa pun juga yang pernah diharapkan dari perkawinan. Dengan kebahagiaan yang mempersatukan itu, akan menyenangkanlah untuk menyesuaikan diri dengan perbedaan masing-masing.
7. Dalam mengambil keputusan, kapankah seseorang harus mengalah?
7 Sifat tinggi hati lama-kelamaan hilang seraya kasih bertumbuh. Dan selain merasakan kebahagiaan bila saling memberi, kita juga merasakan kebahagiaan itu bila kita saling mengalah, terutama jika bukan mengenai masalah prinsip tetapi hanya menyangkut selera pribadi. Mungkin hanya soal membeli barang untuk keperluan rumah, atau ke mana pergi berlibur. Bila mereka saling memikirkan kebahagiaan pihak yang lain, mereka mulai menghayati pesan rasul Paulus: “Jangan memikirkan kepentingan diri sendiri saja; pikirkan juga kepentingan orang lain.”—Filipi 2:4.
SIKAP YANG SEPATUTNYA MENGENAI PERGAULAN SEKS
8, 9. Bagaimana pandangan Alkitab mengenai hubungan intim antara pria dan wanita sehubungan dengan perkawinan?
8 Alkitab tidak bersikap terlampau alim mengenai masalah pergaulan seks. Dengan peribahasa sanjak Alkitab melukiskan kepuasan yang diami oleh suami isteri. Alkitab juga menandaskan bahwa pergaulan seks harus dibatasi kepada suami dan isteri. Petunjuk ini terdapat dalam Amsal 5:15-21:
“Minumlah air dari kulahmu sendiri, minumlah air dari sumurmu yang membual. Patutkah mata airmu meluap ke luar seperti batang-batang air ke lapangan-lapangan? Biarlah itu menjadi kepunyaanmu sendiri, jangan juga menjadi kepunyaan orang lain. Diberkatilah kiranya sendangmu, bersukacitalah dengan isteri masa mudamu: rusa yang manis, kijang yang jelita; biarlah buah dadanya selalu memuaskan engkau, dan engkau selalu berahi karena cintanya. Hai anakku, mengapa engkau berahi akan perempuan jalang, dan mendekap dada perempuan asing? Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN [Yehuwa], dan segala langkah orang diawasi-Nya.”
9 Di lain pihak tidak baik untuk mementingkan soal ini, seolah-olah berhasilnya suatu perkawinan bergantung kepada pergaulan seks semata-mata, atau seolah-olah ini dapat menutupi beberapa kelemahan pokok dalam segi-segi lain dari perkawinan. Membanjirnya bacaan, film-film atau iklan-iklan yang menonjolkan seks—kebanyakan dimaksudkan untuk membangkitkan nafsu—menimbulkan kesan seolah-olah seks itu begitu penting. Namun Firman Allah tidak membenarkannya dan justru menganjurkan pengendalian diri dalam tiap segi kehidupan. Demikian juga dalam perkawinan tidak baik untuk melampiaskan segala keinginan secara tak terkendali, sebab ini dapat mengakibatkan kebiasaan-kebiasaan yang menurunkan martabat perkawinan.—Galatia 5:22, 23; Ibrani 13:4.
10. Hal-hal apa yang patut diingat supaya suami-isteri bisa lebih mudah menyesuaikan diri sehubungan dengan kebutuhan seks?
10 Sungguh tidak mudah dan membutuhkan banyak waktu untuk dapat saling menyesuaikan diri dalam soal seks. Umumnya hal itu karena kurangnya penerangan dan kurang menyadari kebutuhan dari pihak yang lain. Mungkin ada baiknya untuk membicarakan sial ini dengan seorang yang dapat dipercayai, sebelum perkawinan. Soalnya memang ada perbedaan antara pria dan wanita, bukan saja bentuk tetapi juga perasaan masing-masing. Wanita lebih merasakan kebutuhan akan perlakuan lembut. Tetapi mengenai soal seks ini kita tidak perlu merasa malu-malu dan berlagak suci seolah-olah hal yang memalukan. Jangan pula pihak pria memaksakan kehendaknya atau pihak wanita seperti dilakukan oleh kebanyakan pria. “Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya,” kata Alkitab, dan “demikian pula isteri terhadap suaminya.” Dalam hal ini berlaku juga prinsip: “Janganlah seorangpun mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.” Bilamana ada kasih seperti itu dan keinginan untuk menyenangkan satu sama lain, suatu penyelesaian yang baik akan tercapai.—1 Korintus 7:3; 10:24.
BERSELISIH PENDAPAT TANPA BERTENGKAR
11-13. Bila terjadi perbedaan pendapat, hal apa yang perlu diingat supaya jangan terjadi perpecahan dalam keluarga?
11 Tidak ada dua insan di bumi yang persis sama. Tiap orang mempunyai sifat tersendiri. Karena itu tidak mungkin dua orang selalu sepaham mengenai segala hal. Seringkali kita berbeda pendapat hanya dalam soal kecil, kadang-kadang juga soal besar. Dalam sebagian rumah tangga perbedaan pendapat dapat makin meruncing sehingga mereka saling berteriak, dorong-mendorong, pukul-memukul dan melempar-lemparkan barang. Salah seorang mungkin lari dari rumah selama beberapa hari atau minggu, atau mereka tidak mau bicara satu sama lain. Sebenarnya perbedaan pendapat bisa terjadi tanpa membiarkan keadaan menjadi demikian. Bagaimana caranya? Caranya dengan mengingat suatu prinsip penting yang merupakan kenyataan.
12 Kita semuanya manusia yang tidak sempurna, masing-masing mempunyai kekurangan. Dan meskipun kita bermaksud baik, kelemahan akan selalu nampak juga. Rasul Paulus sendiri mengakui hal itu: “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” (Roma 7:19) Kita mewarisi dosa dari nenek moyang kita yang pertama. Kesempurnaan ada di luar jangkauan kita. Jadi “siapakah dapat berkata: ‘Aku telah membersihkan hatiku, aku tahir dari pada dosaku’?”—Amsal 20:9; Mazmur 51:5; Roma 5:12.
13 Kita biasanya mengakui kelemahan kita sendiri dan memaafkannya. Mengapa kita tidak dapat memaafkan kelemahan teman hidup kita? Kita semua selalu mengaku berdosa, tetapi apakah kita suka membela diri dan enggan mengakui suatu kesalahan yang telah kita lakukan? Dan apakah kita cukup dewasa untuk menyadari bahwa memang sudah sifat manusia, termasuk teman hidup kita, untuk enggan mengakui kesalahan sendiri, dan apakah kita mau memaafkannya? “Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran,” begitulah bunyi Amsal terilham. Kami percaya bahwa sama seperti semua orang lain, anda juga menyetujui “peraturan emas” yang diucapkan Yesus dalam Khotbahnya di bumi yang terkenal: “Buatlah untuk orang lain apa yang kalian ingin mereka buat untuk kalian.” Kebanyakan orang hanya setuju di bibir saja, sedikit yang menghayatinya. Padahal jika dipraktekkan segala masalah hubungan antar-manusia termasuk perkawinan dapat diatasi.—Amsal 19:11; Matius 7:12, BIS.
14, 15. (a) Apa akibatnya jika seseorang menjelek-jelekkan teman hidupnya dibandingkan dengan orang lain? (b) Tetapi mengenai soal apa saja itu sering terjadi?
14 Setiap orang ingin dipandang dan diperlakukan sebagai satu individu. Bila ada orang mencoba membandingkan diri kita dengan orang lain, seolah-olah sifat atau kemampuan kita kurang baik, bagaimana reaksi kita? Umumnya kita tersinggung atau kurang senang. Dengan kata lain kita berpendapat, ‘Aku bukan orang itu. Terimalah DIRIKU apa adanya.’ Memang kurang baik untuk membanding-bandingkan orang karena kita mau diperlakukan dengan pengertian.
15 Sebagai contoh: Apakah anda sebagai suami menghargai hidangan makanan yang disediakan isteri, ataukah anda mengeluh bahwa ia tidak bisa masak sehebat ibu anda? Dari mana anda tahu betapa enak masakan ibu anda ketika ia baru menikah? Siapa tahu justru masakan isteri anda lebih enak. Berikanlah isteri anda kesempatan untuk mengembangkan diri dalam tugasnya yang baru sampai ia mahir. Dan apakah anda sebagai isteri suka mengeluh bahwa gaji yang diterima suami anda tidak sebesar gaji ayah anda dulu? Dari mana anda tahu berapa gaji ayah anda pada waktu ia baru menikah? Bukankah semua itu tidak menjadi soal. Yang penting adalah bagaimana anda membantu suami. Apakah anda bangun pagi-pagi dan menyiapkan makan paginya sebelum suami berangkat kerja, sehingga ia merasa didukung dan dihargai oleh isteri? Apakah salah satu suka bertengkar mengenai keluarga mertua, atau cekcok soal pergaulan dengan beberapa teman lain atau soal rekreasi yang dipilih? Hal-hal ini maupun perbedaan pendapat lain bisa saja timbul. Bagaimana anda harus mengatasinya?
16. Apa yang salah dengan teori bahwa pertengkaran membantu untuk menyelesaikan suatu persoalan?
16 Ada ahli ilmu jiwa yang berpendapat bahwa bertengkar untuk mengatasi suatu persoalan itu baik. Menurut teori mereka berbagai kekecewaan yang timbul mengakibatkan tekanan sehingga akhirnya meledak menjadi suatu pertengkaran hebat. Pada waktu mencapai puncaknya, rasa tidak puas yang lama terpendam itu dapat dilampiaskan sampai habis—begitulah teori mereka. Sebelumnya segala kekecewaan itu ditahan-tahan sampai beberapa lama, kemudian meledak pada suatu waktu. Namun betapa besar kemungkinan bahwa pada saat amarah meluap-luap itu kita tanpa sengaja mengucapkan hal-hal yang seharusnya tidak dimaksudkan, dan mengakibatkan sakit hati yang sulit disembuhkan. Begitu mudahnya melakukan kesalahan berat sehingga menimbulkan perpecahan yang tidak mungkin diperbaiki lagi. Seperti diperingatkan Amsal 18:19: “Saudara yang dikhianati lebih sulit dihampiri dari pada kota yang kuat, dan pertengkaran adalah seperti palang gapura sebuah puri.” Nasihat yang benar terdapat di dalam Alkitab: “Undurlah sebelum perbantahan mulai.”—Amsal 17:14.
JANGAN SEGAN-SEGAN BICARA SATU SAMA LAIN!
17. Apa yang dapat dilakukan agar kita tidak menyimpan di hati perbedaan pendapat sehingga sampai meledak?
17 Dari pada membiarkan suatu perbedaan pendapat dipendam dalam hati sehingga akhirnya meledak ke luar, lebih baik segera membicarakan tiap masalah sewaktu timbul. Masalah biasanya tambah berat bisa terus-menerus dipikirkan dan disimpan dalam hati. Lebih baik dibicarakan sekarang atau lupakanlah. Apakah yang dipersoalkan hanyalah kata-kata yang dicetuskan sambil lalu? Janganlah dipedulikan. Apakah perlu untuk dibicarakan? Apakah teman hidup anda telah melakukan sesuatu sehingga anda merasa tidak enak? Janganlah langsung menyalahkannya. Cobalah bicarakan dengan jalan bertanya atau menyarankan sesuatu yang secara halus mulai menyinggung masalah itu. Misalnya, anda dapat berkata: ‘Ada sesuatu yang aku tidak mengerti, sayang. Apa kau bisa membantuku?’ Kemudian dengarkanlah. Cobalah mengerti sudut pandangan teman hidup anda. Perhatikan peringatan dalam Amsal 18:13: “Jikalau seorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.” Orang biasanya tidak suka jika kita terlalu cepat mengadili mereka. Jadi jangan terlalu cepat mengambil sikap tetapi cobalah mencari tahu apa maksud-tujuan sebenarnya. Ikutilah anjuran dalam Amsal 20:5: “Rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam, tetapi orang yang pandai tahu menimbanya.”
18. Bagaimana caranya kita dapat menghalau perasaan murung dan kesal dalam hati kita?
18 Apakah pikiran anda sering berubah-ubah? Tidak mudah untuk hidup dengan orang yang demikian. Ada pendapat bahwa sifat seperti ini sesuatu yang di luar kekuasaan kita sendiri, timbulnya karena zat-zat kimia dalam otak kita. Entah benar atau tidak, perasaan seseorang banyak menentukan suasana. Orang-orang di sekitar kita dapat mempengaruhi kita menjadi gembira atau sedih. Musik dapat menggugah berbagai macam perasaan dalam diri kita. Demikian pula dengan suatu cerita yang kita baca. Apa yang terkandung dalam pikiran mempengaruhi perasaan. Bila terus-menerus memikirkan hal-hal yang negatip anda dapat merasa kecil hati. Tetapi asal saja anda mau memaksakan diri, pikiran dapat diarahkan kepada hal-hal yang positip dan optimis. Pusatkanlah pikiran anda kepada perkara-perkara seperti itu. (Filipi 4:8) Jika ini terasa susah bagi anda, cobalah lakukan gerak badan secukupnya—pokoknya apa saja untuk mengalihkan perhatian dan menyalurkan tenaga anda. Lebih baik memupuk perasaan gembira dari pada perasaan murung. Lebih menyenangkan bagi diri anda dan tentu saja juga untuk teman hidup anda!
19. Cara bagaimana kita dapat menunjukkan pengertian terhadap perasaan tidak menentu yang sedang dialami oleh teman hidup?
19 Namun ada juga saat-saat di mana anda sedih karena sesuatu yang terjadi atau anda menderita sakit keras. Bagi isteri anda mungkin masa haid atau masa hamil menyebabkan timbulnya banyak hormon kuat yang mempengaruhi susunan saraf dan emosinya. Wanita kadang-kadang tanpa sadar mengalami ketegangan menjelang haid. Ini hal penting yang perlu diingat oleh suami, sehingga tidak lekas jengkel tetapi justru menunjukkan pengertian. Dalam keadaan seperti itu suami-isteri harus pandai menyelami apa yang menjadikan teman hidupnya marah-marah dan harus bersikap sabar. “Hati orang bijak menjadikan mulutnya berakal budi, dan menjadikan bibirnya lebih dapat meyakinkan.” “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”—Amsal 16:23; 17:17.
20-22. (a) Mengapa rasa cemburu yang tidak beralasan harus kita jauhi? (b) Apa yang dapat dilakukan supaya teman hidup jangan menjadi cemburu?
20 Apakah teman hidup anda mudah cemburu? Sebenarnya memang baik jika seorang hati-hati dan kuatir mengenai nama baiknya maupun perkawinannya. Seperti zat adrenalin membantu jantung berdebar lagi, demikian pula rasa cemburu membangkitkan dalam diri kita keinginan untuk tetap memiliki apa yang kita cintai. Kebalikan dari rasa cemburu adalah sikap masa bodoh. Dan kita tidak boleh masa bodoh terhadap perkawinan kita.
21 Tetapi ada jenis lain dari sifat cemburu, yang timbulnya karena kurang kepercayaan diri dan kecenderungan untuk berkhayal. Cemburu yang tidak masuk akal itu terlalu ingin memiliki, sehingga perkawinan akhirnya berubah seperti penjarah yang menyedihkan, di mana rasa saling percaya dan cinta sejati tidak dapat tumbuh. “Kasih tidak meluap dengan kecemburuan” demikian, dan cemburu yang terlalu ingin memiliki “membusukkan tulang.”—1 Korintus 13:4; Amsal 14:30.
22 Jika timbulnya rasa kuatir dan cemburu di pihak teman hidup anda memang beralasan, jauhkanlah apa yang menimbulkan rasa cemburu demikian. Bila tidak beralasan, berusahalah sungguh-sungguh untuk memperoleh kepercayaannya, dengan kata-kata dan bahkan lebih penting lagi dengan perbuatan. Cobalah menggugah hatinya!
23. Apakah yang sebaiknya diingat bila seseorang ingin meminta bantuan orang luar untuk menyelesaikan masalah keluarga?
23 Sekiranya terjadi perbedaan pendapat antara suami-isteri, dapatkah orang luar campur tangan? Mengapa tidak? Tetapi sebaiknya jangan memanggil orang luar tanpa persetujuan kedua belah pihak. Terlebih dahulu, “belalah perkaramu terhadap sesamamu itu, tetapi jangan membuka rahasia orang lain.” (Amsal 25:9) Bahkan berbahaya jika mertua diminta menjadi penengah. Besar kemungkinan mereka berat sebelah. Dengan bijaksana Alkitab menganjurkan: “Seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya.” (Kejadian 2:24) Ini juga berlaku bagi isteri yang harus meninggalkan orang tuanya untuk bersatu dengan suami. Suami-isteri harus tetap bersatu dan jangan meminta orang tua atau mertua untuk turut campur dan saling memihak. Mereka harus menganggap segala masalah sebagai masalah mereka sendiri yang harus diselesaikan sendiri. Dengan meminta bantuan orang lain tanpa persetujuan kedua belah pihak, penghargaan orang luar terhadap mereka akan menurun. Sebenarnya tidak sulit mengatasi sendiri segala persoalan jika anda saling berbicara dengan terbuka, jujur dan penuh cinta kasih. Boleh saja anda meminta nasihat kepada orang lain yang cukup matang, tetapi anda sendiri sebagai suami-isteri yang harus memecahkan persoalannya.
24, 25. Apa yang dapat dilakukan bila keangkuhan menghalangi usaha untuk menanggulangi problem keluarga?
24 “Janganlah merasa diri lebih tinggi dari yang sebenarnya,” demikian bunyi nasihat rasul Paulus. (Roma 12:3, BIS) Lalu ia menambahkan: “Hendaklah saudara saling mendahului memberi hormat.” (Roma 12:10) Bila suatu waktu kita merasa tersinggung, kadang-kadang lebih mudah untuk menahan perasaan dengan mengingat betapa kecilnya kita sebenarnya. Betapa kecilnya kita ini dibandingkan bola bumi. Bola bumi itu sendiri demikian kecil dibandingkan tata surya kita, tata surya pun belum apa-apa dibandingkan seluruh alam semesta. Di mata Yehuwa “segala bangsa seperti tidak ada di hadapan-Nya, mereka dianggap-Nya hampa dan sia-sia saja.” (Yesaya 40:17) Cara berpikir demikian membantu kita bersikap seimbang, sehingga sadarlah kita bahwa selisih paham itu sebenarnya tidak berarti.
25 Bila kita cukup memiliki rasa humor, mungkin kita bisa tertawa melihat ulah kita sendiri. Jika kita dapat menertawakan diri sendiri, itu menandakan kematangan dan akan membantu kita mengatasi berbagai kesulitan dalam hidup ini.
“LEMPARKANLAH ROTIMU KE AIR”
26, 27. Bila salah satu pihak menolak penyelesaian masalah keluarga secara damai, prinsip-prinsip Alkitab apa yang perlu diterapkan, dan mengapa?
26 Tetapi bagaimana jika teman hidup anda menolak usaha anda untuk menyelesaikan suatu persoalan secara damai? Ikutilah pesan Alkitab: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan.” Dalam hal ini Yesus memberikan contoh bagi kita: “Pada waktu ia dicaci makin, ia tidak membalas dengan caci maki.” Memang, umumnya orang suka balas-membalas. Tetapi jika anda suka membalas, berarti anda membiarkan orang lain menentukan sikap anda, membentuk kepribadian anda. Dengan demikian orang-orang itu justru berhasil, sebab anda sudah meniru mereka. Bila anda biarkan ini terjadi, berarti anda menyangkal diri dan prinsip-prinsip yang anda junjung tinggi selama ini. Mengapa anda tidak meniru Yesus yang tetap mempertahankan keasliannya, tidak berubah sekalipun dipengaruhi oleh kelemahan dari orang-orang di sekitarnya: “Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”—Roma 12:17; 1 Petrus 2:23; 2 Timotius 2:13.
27 Jika anda kuat menghentikan suatu lingkaran setan, yaitu balas-membalas kejahatan, mengapa tidak memulai lingkaran kebaikan? “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman.” (Amsal 15:1) Jawaban lemah lembut bukan pertanda kelemahan, tetapi justru pertanda kekuatan. Dan teman hidup anda akan menyadari ini. Kebanyakan orang membalas kejahatan dengan kejahatan. Tetapi karena menyimpang dari kebiasaan dan membalas dengan kebaikan, siapa tahu anda akhirnya mendapat kebaikan sebagai balasan. Beberapa ayat Alkitab menunjukkan hal ini. “Siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.” “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” “Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatinya kembali lama setelah itu.” (Amsal 11:25; Lukas 6:38; Pengkhotbah 11:1) Mungkin makan waktu sebelum kebaikan anda dibalas dengan kebaikan oleh teman hidup anda. Mana ada orang yang menabur benih hari ini, lalu memetik hasilnya esok hari. Bagaimanapun juga, “apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. . . . Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”—Galatia 6:7-9.
28. Sebutkan beberapa prinsip luhur yang terdapat di buku Amsal yang menjamin kebahagiaan keluarga. Jelaskan
28 Berikut ini terdapat beberapa ayat dan sejumlah pertanyaan untuk dipelajari oleh semua suami-isteri:
Amsal 14:29: “Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.” Pernahkah anda berpikir cukup lama, sehingga anda sendiri mulai sadar bahwa sebenarnya tidak perlu marah?
Amsal 17:27: “Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin.” Apakah anda selalu berkepala dingin dan menahan mulut supaya tidak membikin panas teman hidup anda?
Amsal 25:11: “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya, adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.” Kata-kata yang cocok pada waktu ini belum tentu cocok pada waktu lain. Apakah anda cukup waspada untuk mengetahui apakah kata-kata anda cocok waktunya?
Amsal 12:18: “Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.” Apakah anda selalu berpikir dahulu sebelum bicara, bagaimana akibat kata-kata anda kepada teman hidup anda??
Amsal 10:19: “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.” Bila sedang marah, kadang-kadang kita mengatakan sesuatu tanpa berpikir, kemudian kita menyesal. Waspadakah anda terhadap hal ini?
Amsal 20:3: “Terhormatlah seorang yang menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak.” Bertengkar itu harus ada dua orang. Apakah anda cukup matang untuk mengakhirinya?
Amsal 10:12: “Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.” Apakah anda suka membangkit-bangkitkan soal lama? Atau anda rela melupakannya, demi kasih kepada teman hidup anda?
Amsal 14:9, “New English Bible”: “Orang bodoh dengan angkuh menolak untuk memperbaiki kesalahannya; orang yang baik menghargai saling rujuk.” Apakah anda terlalu angkuh untuk mengalah demi perdamaian keluarga?
Amsal 26:20: “Bila kayu habis, padamlah api.” Apakah anda rela mengalah, ataukah ingin menang sendiri?
Efesus 4:26: “Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.” Apakah anda tidak dapat melupakan suatu perselisihan, sehingga menyebabkan kesedihan tiada habis-habisnya bagi anda berdua?
29. Hal-hal pokok manakah yang perlu diperhatikan untuk menjamin kebahagiaan keluarga?
29 Nasihat yang bijaksana hanya berfaedah jika dituruti. Mengapa anda tidak mencobanya? Cobalah juga mengikuti saran teman hidup anda. Siapa tahu mungkin berhasil. Lalu, salah siapa jika ternyata tidak cocok? Tidak menjadi soal. Yang penting bagaimana persoalan diselesaikan. Bersikaplah lentuk, bicarakan masalahnya, jangan disimpan di hati, Dan jangan menganggap diri paling utama. Cobalah bertukar pikiran. Jika anda ‘mengasihi teman hidup seperti diri sendiri,’ tidaklah terlalu sulit untuk saling menyesuaikan diri dan menciptakan keluarga bahagia.—Matius 19:19.
-
-
Suami yang Dapat DiseganiMembina Keluarga Bahagia
-
-
Pasal 4
Suami yang Dapat Disegani
1, 2. Bagaimana orang dapat disegani, dan bagaimana kita melihat contohnya dalam diri Yesus Kristus?
ORANG tidak disegani hanya karena ia menyuruh orang lain menyeganinya. Orang disegani karena tutur kata dan perbuatan dan karena kepribadiannya.
2 Contohnya kita lihat dalam diri Kristus Yesus. Ia mulai disegani sebagai guru karena caranya ia mengajar. Setelah mengucapkan Khotbah di Bukit: “takjublah orang baik itu mendengar pengajarannya.” Mengapa ia disegani? Karena ia selalu bersandar pada Alkitab, yaitu Firman Allah. Bukan kepada pendapat orang lain. Satu-satunya patokan baginya adalah Allah Yehuwa dan firman kebenaranNya. Yesus disegani oleh kawan maupun lawan, karena memang layak untuk disegani.—Matius 7:28, 29; 15:1-9; Yohanes 7:32, 45, 46.
3. Apa kewajiban seorang isteri menurut Efesus 5:33, dan hal ini menuntut apa dari seorang suami?
3 “Isteri hendaklah menghormati suaminya,” demikian bunyi perintah di Efesus 5:33. Tetapi tentu saja sang suami harus bekerja keras untuk menerima penghormatan demikian. Jika tidak, sulitlah bagi isteri untuk menurut perintahnya. Cara bagaimana seorang suami harus berperan seperti digariskan oleh Alkitab supaya ia dapat disegani?
DENGAN MENJALANKAN PERANAN SEBAGAI KEPALA KELUARGA
4. Bagaimana kedudukan seorang suami menurut Alkitab?
4 Menurut Alkitab suami harus menjadi kepala keluarga: “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.” (Efesus 5:22-24) Apakah dengan cara ini keluarga benar-benar akan bahagia? Dewasa ini banyak wanita menentang cara ini. Mereka menyerang sikap kaum pria yang menganggap dirinya lebih tinggi dari pada kaum wanita, dan menurut mereka kaum pria hanya mau menang sendiri. Tetapi kiranya kami perlu tegaskan di sini bahwa Alkitab sebenarnya juga tidak setuju jika kaum pria hanya mau menang sendiri.
5. Bagaimana semestinya pengertian seorang suami mengenai tanggung-jawabnya sebagai kepala keluarga, dan contoh siapa yang perlu diikutinya?
5 Alkitab menegaskan bahwa bukan saja wanita, tetapi kaum pria juga harus tunduk kepada seorang kepala. Bila kita membuka Alkitab di 1 Korintus pasal 11 ayat 3, kita dapati di sini apa yang pernah ditulis rasul Paulus kepada sidang di kota Korintus: “Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan kepala dari Kristus ialah Allah.” Jadi kaum pria mempunyai Kristus sebagai kepala. Dan Allah serta Kristus menjadi contoh dan guru bagi anda, bagaimana caranya anda harus berperan sebagai kepala keluarga.
6. Hal apa yang dapat ditiru oleh seorang suami dari Allah Yehuwa dan Yesus Kristus mengenai tanggung-jawabnya sebagai kepala?
6 Yehuwa menjalankan peranan-Nya sebagai kepala atas Kristus dengan penuh kasih sayang. Dan sebaliknya Kristus berkata, “Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku.” (Mazmur 40:9; Ibrani 10:7) Demikian juga Yesus Kristus berperan sebagai kepala dengan penuh kasih sayang. Kepada para calon muridnya ia pernah berkata: “Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Matius 11:29) Sidang jemaat diumpamakan oleh Alkitab seperti seorang mempelai wanita. Dan para anggota sidang jemaat tersebut benar-benar telah mendapatkan kelegaan dan kesegaran demikian di bawah naungan Kepala mereka. Sebagai Kepala ia tidak memanfaatkan mereka untuk kepentingannya sendiri. Sebaliknya ia justru berkorban untuk mereka terdorong rasa kasih sayang. Demikianlah juga seharusnya sikap seorang suami sebagai kepala terhadap isterinya: “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi sidang jemaat dan telah menyerahkan dirinya baginya . . . Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat . . . kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.” (Efesus 5:25-29, 33) Berikanlah contoh bagaimana anda tunduk terhadap Kristus sebagai kepala. Dengan demikian tidaklah sulit, bahkan menyenangkan bagi isteri anda untuk benar-benar menyenangi anda sebagai kepala keluarga.
7, 8. Sebutkan dalam hal apa sebagian kaum suami melalaikan tanggungjawabnya sebagai kepala?
7 Masalah terbesar adalah karena ketidaksempurnaan dan sifat mementingkan diri, kadang-kadang seorang suami ingin disegani sebagai kepala keluarga, tetapi kurang menunjukkan perhatian dan kasih sayang terhadap isterinya. Ada istri yang mengatakan bahwa suami tidak mencintainya, bahwa ia hanya memikirkan kesenangan dan kepuasannya sendiri. Ada pula isteri yang mengeluh bahwa suami mereka terlalu ingin berkuasa. Mungkin ini juga karena isteri mencoba merebut kekuasaan dalam rumah tangga, kemudian suami tentu saja tidak mau mengalah. Atau mungkin juga suami sejak kecil dibesarkan dalam lingkungan di mana kaum suami bersikap tinggi hati dan menindas. Bagaimanapun juga latar belakangnya, jelas seorang suami tidak akan disegani oleh siapa pun juga bila ia menyalah-gunakan kedudukannya sebagai kepala.
8 Ada orang yang menyalah-gunakan kedudukan sebagai kepala keluarga, tetapi ada pula suami yang tidak mau menjalankan kedudukan sebagai kepala keluarga. Semua keputusan mereka serahkan saja kepada isteri. Atau mereka mengatakan kepada isteri ‘sabar dulu,’ tetapi selalu menunda-nunda apa yang seharusnya mereka lakukan, sehingga kepentingan keluarga terancam terus. Mungkin saja mereka tidak bermalas-malasan, tetapi rupanya mereka kurang bertekad. Akibatnya dapat sama seperti digambarkan dalam Amsal 24:33, 34: “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk berbaring, maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.”
9, 10. Pandangan siapa yang perlu dipertimbangkan oleh seorang suami bila mengambil suatu keputusan yang menyangkut keluarga?
9 Isteri akan menyenangi anda bila anda berpendirian kuat dan tegas dan dapat mengambil suatu keputusan. Itu tidak berarti anda sama sekali tidak perlu menanyakan pendapat anggota keluarga. Atau bahwa anda tidak perlu mempertimbangkan pandangan isteri anda, hanya karena kebetulan tidak cocok dengan pendapat anda sendiri. Bagian permulaan dari catatan Alkitab menceritakan bagaimana timbulnya suatu persoalan serius dalam rumah tangga Abraham dan Sara, yaitu masalah putra mereka Ishak dan putra dari Hagar budak perempuan mereka. Pada waktu itu Sara mengusulkan suatu jalan keluar, tetapi Abraham ternyata kurang setuju. Tetapi kemudian Allah berkata kepada Abraham: “Haruslah engkau mendengarkannya.”—Kejadian 21:9-12.
10 Janganlah kita menarik kesimpulan bahwa suami harus selalu mengalah terhadap isteri. Tetapi tentu saja ada faedahnya untuk bertukar pikiran dengan isteri mengenai keputusan yang menyangkut seluruh keluarga, seraya menganjurkannya untuk mengemukakan pendapatnya secara terbuka. Hendaknya suami-isteri selalu menjaga keterbukaan satu sama lain, sehingga mudah didekati dan pertimbangkan baik-baik apa yang diinginkan oleh isteri sebelum mengambil keputusan. Jangan sekali-sekali bersikap diktator, tetapi perlihatkan sikap rendah hati. Anda tidak sempurna dan akan melakukan kesalahan. Bila anda melakukan kesalahan, pasti anda ingin pengertian dari isteri. Karena suami bersikap rendah hati, biarpun terjadi suatu kesalahan, isteri akan lebih mudah menyeganinya, tidak seperti isteri yang mempunyai suami yang sombong.
MEMBERI NAFKAH DENGAN BAIK
11, 12. (a) Bagaimana tanggung-jawab suami dalam hal menyediakan kebutuhan jasmani? (b) Mengapa dapat dikatakan bahwa penyediaan kebutuhan keluarga merupakan usaha kerja sama?
11 Suamilah yang bertanggungjawab untuk mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan jasmani keluarganya. Satu Timotius 5:8 berkata: “Jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.” Di banyak negeri dewasa ini diperlukan banyak uang untuk menyambung hidup. Dan sebagai suami andalah yang harus memutuskan sendiri cara bagaimana memenuhi kebutuhan tersebut. Selain membawa pulang uang penghasilan anda, kemungkinan besar anda perlu menyusun suatu anggaran belanja yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Artinya tidak lain bahwa anda memerlukan suatu cara untuk mengendalikan biaya. Dengan demikian pasak tidak lebih besar dari pada tiang. Dan anda terhindar dari segala macam keributan yang biasanya terjadi dalam banyak rumah tangga bila uang belanja sudah habis sebelum gajian.
12 Pada umumnya adalah sang suami yang menghasilkan uang yang diperlukan untuk menunjang keluarga. Tetapi hendaknya jangan dilupakan penghasilan itu diperoleh karena kerja sama. Seandainya anda menganggap anda sendirilah yang mencari nafkah, cobalah renungkan kembali. Berapa ongkosnya bagi anda untuk menyewa seseorang untuk bagian pembelian, sebagai juru masak, tukan cuci piring, pengurus rumah tangga, ahli tata ruang, pengasuh anak-anak, dan sebagainya? Biasanya biaya ini dihemat karena isteri melakukan semua pekerjaan tersebut. Dan memang itulah bagian pekerjaannya sebagai “partner” dalam perkawinan. Dan jika isteri pandai membuat segala macam catatan mengenai biaya rumah tangga, tambahkan saja jabatan “akuntan” pada daftar tadi. Betapa benarnya Amsal 18:22 (NW): “Siapa yang mendapat istri yang baik? Ia mendapat sesuatu yang baik.”
13. Pandangan apa yang harus dihindari oleh suami-isteri sehubungan perkara-perkara materi, dan bagaimana manfaatnya bagi mereka?
13 Memang ada suatu bahaya dalam hal mencari nafkah secara materi—baik bagi anda maupun istri anda—bahwa mudah terjerat oleh pandangan materialistis dan falsafah hidup yang mementingkan harta benda. Inilah salah satu hal yang langsung merongrong landasan kebahagiaan keluarga. “Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia ini dan kita-pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar,” demikian tulis Paulus di dalam Alkitab. “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” Bisa saja cara hidup materialistis itu menghasilkan banyak harta benda, tetapi hal itu tidak dapat menggantikan kerugian yang diderita karena hubungan keluarga menjadi lemah, kemudian berantakan. Keuntungan materi yang diperoleh sama sekali tidak seimbang dengan kerugian yang diderita dalam segi rohani dan segi emosionil.—1 Timotius 6:7-10.
14. Apa yang menentukan apakah perkara-perkara materi terlalu diutamakan dalam kehidupan seseorang?
14 Yang disebut materialisme itu adalah kecintaan akan perkara materi, bukan soal memiliki. Orang miskin bisa dikatakan materialistis, sedangkan orang kaya ada yang bersifat rohani. Tergantung di mana sebenarnya hatinya. Yesus berkata: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta dan mencurinya. Tetapi kumpulkan bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”—Matius 6:19-21.
15, 16. Di samping memenuhi kebutuhan jasmani, apa lagi yang harus dilakukan suami untuk membina kebahagiaan keluarga?
15 Suami yang dengan penuh tanggung-jawab memenuhi kebutuhan jasmani keluarganya perlu merenung nasihat Alkitab ini. Dan di samping perkara-perkara materi, ia perlu juga menyisihkan waktu untuk memenuhi kebutuhan rohani keluarganya. Apa gunanya kita menghabiskan begitu banyak waktu dalam pekerjaan duniawi hanya untuk memperoleh perkara-perkara jasmani, sehingga tak ada waktu lagi untuk membina kerohanian keluarga anda? Agar dapat secara bijaksana mengatasi berbagai masalah kehidupan, perlu disediakan waktu untuk membina keluarga supaya berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang benar. Caranya dengan menyisihkan waktu dalam kehidupan anda untuk bersama-sama membaca dan membahas Firman Allah, juga dengan berdoa bersama-sama. Sebagai kepala keluarga, suami lah yang harus memimpin dalam hal ini. Memang dibutuhkan banyak waktu dan usaha tetapi manfaat yang diperoleh sebagai imbalannya jauh lebih besar. Pasti Allah tak akan mengingkari janji-janji-Nya: “Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”—Amsal 3:6.
16 Seorang suami yang membiarkan dirinya dibimbing oleh Pencipta tentu menghargai keseimbangan yang terdapat dalam nasihat di Pengkhotbah 7:12 (NW): “Hikmat itu suatu perlindungan sama seperti uang itu suatu perlindungan. Tetapi kelebihan dari pengetahuan ialah bahwa hikmat memberi kehidupan kepada orang-orang yang memilikinya.” Maka seorang suami yang menyediakan kebutuhan keluarganya dengan baik, bekerja keras agar kebutuhan jasmani mereka terpenuhi. Tetapi ia tidak menaruh harapannya atas “sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah.” Ia memberikan contoh untuk menaruh kepentingan rohani di atas segala-galanya, supaya baik dia maupun isterinya “mencapai hidup yang sebenarnya.” (1 Timotius 6:17-19) Jika seorang suami berusaha memenuhi segala kebutuhan demikian, baik jasmani maupun rohani, pasti isterinya yang takut kepada Allah akan menyegani dia.
DENGAN MENGHORMATI ISTERI
17-19. Alkitab menasihatkan suami untuk “memberi hormat” kepada isteri. Bagaimana ini berlaku dalam hal sanggama?
17 Rasul Paulus membicarakan dengan kaum suami mengenai isteri mereka, kemudian berpesan supaya “memberi hormat kepada mereka seperti kepada suatu bejana yang lebih lemah, wanita itu.” (1 Petrus 3:7, NW) Dalam ayat ini juga Petrus menunjukkan bahwa anda sebagai suami yang hidup bersama isteri harus memberi hormat tersebut kepadanya “berdasarkan pengetahuan.”
18 Ini tentu berlaku juga dalam hal sanggama. Banyak wanita menjadi dingin karena suami kurang paham bagaimana keadaan jasmani dan emosi seorang wanita. “Suami harus memenuhi kewajibannya sebagai suami terhadap isterinya,” tetapi hendaknya dilakukan ‘berdasarkan pengetahuan memberi hormat kepada mereka seperti kepada suatu bejana yang lebih lemah,’ demikian nasihat Firman Allah. (1 Korintus 7:3) Bila anda benar-benar ‘memberi hormat kepadanya,’ maka anda tidak akan bertindak kasar dan menuntut-nuntut, memaksakan kepuasan sendiri biarpun ia sedang lelah sekali atau selama hari-hari tertentu tiap bulan. (Bandingkan Imamat 20:18.) Dan sewaktu sanggama, anda tidak akan hanya memikirkan kepuasan sendiri dengan mengabaikan kebutuhan isteri. Dalam segi kehidupan ini wanita biasanya lebih lamban reaksinya dari pada pria. Wanita lebih membutuhkan perlakuan lembut dan kasih sayang. Maka itu Alkitab menganjurkan suami untuk “memenuhi kewajibannya,” dengan menekankan segi memberi, bukan menerima.
19 Pemberian seperti itu tentu saja hanya patut dibatasi terhadap teman hidup sendiri dalam perkawinan. Memang banyak kaum pria dewasa ini senang “main cinta” dengan wanita lain. Tetapi apa yang mereka peroleh pada akhirnya? Mereka justru menghancurkan kebahagiaan keluarga mereka sendiri. Dengan cara itu mereka tidak ‘memberi hormat’ kepada isteri, maka sulitlah bagi kaum isteri untuk menyegani mereka. Selain itu mereka menajiskan perkawinan, padahal perkawinan itu sesuatu yang dimulai oleh Allah sendiri. Mengingat betapa banyak penderitaan batin yang ditimbulkan, maka kita dapat mengerti mengapa Ibrani 13:4 menganjurkan: “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.”
20. Seperti diperlihatkan di Efesus 5:28, dengan cara apa lagi suami dapat menghormati isterinya?
20 Menghormat isteri tidak terbatas pada sanggama saja. Suami yang benar-benar disegani juga menunjukkan dengan cara-cara lain bagaimana ia menghormati isterinya. Ini tidak berarti bahwa ia memuja-muja isteri dan membiarkan dirinya diperbudak. Melainkan, adalah seperti telah kita baca sebelumnya dalam Efesus 5:28: “Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri. Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.” Suami demikian tentu tak akan memperlakukan isterinya sebagai orang yang lebih rendah derajatnya. Pada waktu makan bersama tentu suami tidak menganggap bahwa semua makanan yang paling enak harus dilahapnya sendiri, sedangkan isterinya hanya memperoleh sisa-sisa makanan—tidak jika ia ‘mengasihi isteri seperti mengasihi dirinya sendiri.’ Dari pada hanya memikirkan diri sendiri mengenai rupanya, ia akan banyak atau bahkan lebih banyak memikirkan bagaimana rupa isterinya. Ia akan berusaha demikian rupa supaya isteri merasa puas mengenai pakaian yang dikenakannya. Seorang pria tidak akan memukul dirinya sendiri jika ia tidak dapat melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya. Demikian pula seorang suami Kristen tidak akan memukul isterinya hanya karena isterinya kadang-kadang mengecewakan dia. Justru sebaliknya, seorang suami akan setia dan segera membantu isteri jika ada orang memperlakukannya dengan kasar. Ia akan mengasihi isterinya seperti tubuhnya sendiri.
21, 22. Bagaimana suami dapat membantu isteri menikmati peranannya dalam rumah tangga?
21 Sebagai suami isteri kalian mengetahui di bidang mana saja terdapat persamaan selera. Tetapi jika anda ingin “memberi hormat” kepada istri anda, maka perlu juga untuk mengerti perbedaan psikologis antara kalian. Pada dasarnya wanita lebih senang bekerja bila mempunyai atasan kepada siapa ia harus tunduk, asal saja atasan tidak bertindak sewenang-wenang. Memang demikianlah Allah Yehuwa menciptakan wanita. Wanita dijadikan penolong yang ‘sepadan dengan pria,’ sebagai pelengkap baginya. (Kejadian 2:18) Tetapi jika pengawasan yang dilakukan terlalu ketat, jika inisiatipnya dan kemampuannya terlalu dikekang, seorang wanita biasanya mulai merasa seolah-olah kehidupannya kurang bahagia dan perasaan tidak senang bisa timbul.
22 Hal penting lainnya yang memerlukan perhatian adalah bahwa wanita secara naluriah ingin merasa dibutuhkan. Kebanyakan kaum isteri menghargai suami yang suka menolong. Tetapi suami yang mendorong isterinya ke samping dan mengambil alih pekerjaannya belum tentu dianggap menolong. Mungkin justru sebaliknya. Bagi isteri jauh lebih muda untuk bersifat loyal terhadap anda jika anda bersikap lembut dan penuh penghargaan. Yaitu jika anda membiarkan isteri anda merasa bahwa anda membutuhkannya, bahwa anda bekerja sama sebagai suatu pasangan. Bahwa selalu adalah soal “kami” atau “kita,” bukan soal “aku” atau “kamu.” apakah anda benar-benar memperlihatkan kepada isteri anda betapa anda menghargai dan membutuhkannya? Anda tidak menunjukkannya dengan cara membayar semacam gaji. Cara-cara lain yang harus digunakan untuk itu.
HARGAI SIFAT KEWANITAANNYA
23. Bagaimana umumnya pria dan wanita berbeda dalam hal perasaan mereka?
23 Pernah seorang wanita ahli psikologi menulis: “pada dasarnya wanita lebih menggunakan perasaan, sedangkan pria menggunakan pikiran. “Jika berdiri sendiri,” yang satu tidak lebih baik dari pada yang lainnya, hanya masing-masing berbeda, itu saja. Kita kurang senang terhadap orang yang tidak berperasaan. Tetapi kita pun kurang senang dengan orang yang bertindak tanpa berpikir lebih dulu. Sebenarnya baik wanita maupun pria memiliki kemampuan untuk berperasaan maupun berpikir. Tetapi pada umumnya, perasaan lebih memainkan peranan pada wanita, sedangkan pria pada umumnya cenderung untuk menekan perasaannya sehingga mempertimbangkan sesuatu hal lebih berdasarkan akal. Memang, pasti ada kekecualiannya. Tetapi justru perbedaan inilah suatu hal lain pula di mana suami-isteri saling mengisi. Pada dasarnya sendiri wanita itu lebih emosionil, dan karena lebih prihatin akan orang-orang lain seringkali membuatnya lebih suka bicara dibandingkan pria. Dan ia membutuhkan seseorang yang menyahut dia. Di sinilah banyak suami mengecewakan isteri.
24. Mengapa suami perlu mendengarkan isteri dan bertukar pikiran dengannya?
24 Apakah anda sering bicara dengan isteri? Bukan saja soal pekerjaan anda, tetapi juga soal kesibukan isteri? Apakah anda menaruh minat dalam hal ini, dan apakah anda mengutarakan minat anda itu? Bagaimana kesibukannya hari ini? Bagaimana dengan anak-anak? Janganlah sewaktu sampai di rumah langsung bertanya, “Kita makan apa hari ini?” kemudian sesudah makan, anda tenggelam di belakang surat kabar, sambil menyahut dengan mendeham pada waktu isteri mencoba memulai percakapan. Tunjukkanlah minat terhadap isteri, apa yang dipikirkan olehnya, kesibukannya tiap hari, bagaimana pandangannya suatu persoalan. Berikan dorongan kepadanya apabila ia mengerjakan sesuatu, pujilah dia atas apa yang tercapai. Jika ia dipuji atas apa yang telah ia lakukan, kemungkinan ia akan mulai juga melakukan hal-hal lain yang tadinya terbengkalai. Sindiran dan kecaman secara halus meracuni seseorang sehingga menjadi kecil hati. Tetapi pujian yang sungguh-sungguh dan pada tempatnya dapat menyembuhkan dan membangkitkan semangat!—Amsal 12:18; 16:24.
25, 26. (a) Pesan apa yang disampaikan melalui sebuah hadiah kepada isteri? (b) Pemberian apakah yang paling diinginkan isteri?
25 Apakah anda sewaktu-waktu pulang membawa oleh-oleh? Tak perlu barang mahal—cukup suatu barang kecil yang mengatakan, “Saya tidak melupakanmu.” Dan apakah anda lakukan ini secara spontan, bukan karena ada sesuatu yang akan diperingati, tetapi hanya karena tiba-tiba terpikir oleh anda? Sesuatu yang menyenangkan dan datangnya tanpa terduga benar-benar berkesan. Apakah anda misalnya tidak senang jika isteri anda tanpa memberitahukan dahulu menyiapkan suatu masakan kesukaan anda? Balaslah dia dengan hal lain yang juga tidak terduga olehnya, senangkanlah hati isteri anda. Kenang-kenangan kecil terdorong oleh kasih lebih besar artinya dari pada hadiah-hadiah mahal yang bersifat rutin. Apa Lagi jika dilakukan dengan mengomel atau hanya karena merasa terpaksa. “Allah mengasihi orang yang memberi dengan senang hati.” (2 Korintus 9:7) Demikian pun isteri. Makanan yang dihidangkan tidak perlu istimewa, tetapi ingat, “Lebih baik sepiring sayur dengan kasih dari pada lembu tambun dengan kebencian.”—Amsal 15:17.
26 Pemberian apa yang paling penting? Yaitu diri anda sendiri—waktu, tenaga, perhatian dan pemikiran anda, terutama yang berasal dari lubuk hati. Banyak kaum pria mengalami kesulitan dalam hal ini. Bagi mereka mungkin terasa kurang jantan dan terlalu sentimentil untuk mengucapkan kata-kata yang mesra. Tetapi jika anda sungguh mengasihi isteri, anda perlu menyadari betapa besar artinya suatu lirikan mata, suatu sentuhan tangan atau sepatah kata bagi wanita. Sebaliknya tanpa semua itu wanita mudah sekali merasa kesal, jemu dan resah. Karena itu, cobalah anda ikuti contoh yang diberikan dalam Kidung Agung Salomo yang terdapat dalam Alkitab. Mengucapkan penghargaan dan kasih sayang kepada orang lain itu baik bagi orangnya sendiri yang mengucapkannya. Orang-orang sulit melawan daya tarik seseorang yang menunjukkan kehangatan. Apakah anda seorang yang hangat? Seorang yang memperlihatkan perasaan dan semangatnya terhadap orang-orang yang disenanginya? Kehangatan itu cepat menular. Dan akhirnya kembali kepada sumbernya.—Kidung Salomo 1:2, 15; Lukas 6:38.
27, 28. (a) Apa yang perlu ditanyakan kepada diri sendiri untuk mengetahui apakah suami melaksanakan tanggung-jawabnya sebagai kepala dengan baik? (b) Mengapa baik untuk sungguh-sungguh memikirkan soal ini?
27 Sebagai suami, cobalah bertanya kepada diri sendiri: Apakah dengan cara saya menjalankan kedudukan kepala, isteri saya lebih mudah menyegani saya? Apakah aku mengasihi dia aku mengasihi diriku sendiri? Ataukah aku lebih berminat kepada kepuasan dan keinginanku sendiri? Seberapa banyakkah aku memperhatikan kebutuhan isteriku? Apakah aku mendengarkan pandangan isteriku dan mempertimbangkan keinginannya, bila harus mengambil keputusan yang menyangkut keluarga? Apakah keputusanku selalu mempertimbangkan kesejahteraannya? Apakah aku memberi hormat kepadanya sebagai bejana yang lebih lemah? Apakah aku berkomunikasi dengan dia, dan apakah aku membuka hatiku kepadanya?
28 Tidak mungkin anda sempurna melakukan semua itu. Tetapi jika anda terus berusaha dengan penuh kerendahan hati, percayalah, anda akan jauh lebih berhasil menjadi suami yang benar-benar disegani oleh isteri anda dan mendapat perkenan Allah.
[Gambar di hlm. 49]
Pemberian kecil pun sangat berarti
-
-
Isteri yang Benar-benar DisayangiMembina Keluarga Bahagia
-
-
Pasal 5
Isteri yang Benar-benar Disayangi
1-4. Bagaimana kaum wanita kadang-kadang mengeluh mengenai kebiasaan suami dalam menyatakan kasih sayang mereka terhadap isteri?
PERNAH seorang wanita mengeluh, ‘Ku tahu suamiku sayang padaku, tetapi belum pernah ia mengatakannya. Yah, memang kadang-kadang kalau aku mendesaknya, tetapi alangkah senangnya andaikata itu diucapkan spontan,’
2 Teman wanitanya menyahut, ‘Laki-laki semuanya begitu. Saya pun pernah bertanya kepada suami saya apakah ia cinta padaku. Lalu ia katakan, “Bukankah aku kawin denganmu? Bukankah aku tinggal bersamamu dan menunjangmu? Masakan ku lakukan itu jika aku tidak sayang padamu”’
3 Sesaat kemudian ia meneruskan: ‘Kau tahu, belum lama ini aku menjadi terharu. Sewaktu membersihkan ruang belajarnya pada suatu hari ku temukan sebuah foto di sebuah laci mejanya. Rupanya itu foto yang pernah ku perlihatkan kepadanya dari album tua dari keluargaku. Fotonya diambil ketika umurku baru tujuh tahun mengenakan baju renang. Ia telah mengambil foto itu dari album dan menaruhnya di lacinya.
4 Si teman wanita itu tersenyum mengingat kejadian tersebut, kemudian mengatakan: ‘Ku perlihatkan foto itu kepadanya ketika ia pulang dari pekerjaannya. Ia pun mengambil foto itu dan mengatakan sambil tersenyum, “Aku sayang sekali kepada gadis cilik ini.” Lalu ia menaruh foto di meja dan memegang kedua pipiku dan mengatakan: “Aku juga sayang gadis ini setelah menjadi isteriku.” Kemudian ia menciumku dengan hangatnya. Mataku berkaca-kaca jadinya.’
5. Bagaimana semestinya tingkah laku seorang isteri, agar suaminya benar-benar sayang padanya?
5 Isteri yang mengetahui bahwa ia sangat disayangi oleh suaminya merasa hangat dan tenteram di hati. Firman Allah menasihatkan suami untuk mengasihi isterinya seperti tubuhnya sendiri: “Suami harus mengasihi isterinya seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya. . . . keduanya menjadi satu daging.” (Efesus 5:28, 29, 31) Seperti telah dibahas, isteri harus benar-benar menyegani suaminya. Tetapi suami pun harus menjaga kelakuannya, sehingga lebih mudah disegani. Demikian juga sebaliknya bila anda ingin suami suami mengasihi dan merawati anda: Jagalah tingkah laku anda demikian rupa sehingga suami mengasihi anda dengan segenap hatinya.
APAKAH ANDA SELALU MENDUKUNG SUAMI?
6, 7. (a) Di Kejadian 2:18, untuk peranan apa Yehuwa mengatakan Ia telah menjadikan wanita? (b) Supaya isteri dapat benar-benar membantu suaminya, apa yang diperlukan?
6 Supaya isteri dicintai, tidak cukup ia menundukkan diri kepada suami. Kuda atau anjing yang terlatih baik pun bisa tunduk kepadanya. Di taman Eden terdapat banyak binatang yang semuanya tunduk kepada Adam. Tetapi ia masih tetap sendirian karena tidak ada yang sejenis dengan dia. Ia membutuhkan manusia lain sebagai teman bergaul yang cerdas untuk melengkapi dan membantunya. “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja,” demikian firman Yehuwa. “Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”—Kejadian 2:18.
7 Suami membutuhkan isteri yang bukan saja mencintai dan menghormatinya, tetapi juga benar-benar membantu dia, mendukung dia dalam keputusan-keputusan yang diambilnya. Ini tidak sulit asal saja keputusan itu berdasarkan persetujuan kedua pihak setelah dibahas bersama. Tetapi memang ini tidak mudah bila isteri tidak diminta pendapatnya atau ternyata kurang setuju. Bila ini terjadi, masihkah anda setia mendukung suami? Apakah anda akan berusaha keras mensukseskan keputusan suami, asal saja bukan untuk melakukan kegiatan yang melanggar hukum atau bertentangan dengan Firman Allah? Ataukah anda dengan keras kepala enggan membantu, dengan harapan mudah-mudahan suami gagal, supaya anda bisa mengatakan, ‘Bukankah sudah ku katakan?’ Jika suami melihat anda juga berusaha keras mensukseskan apa yang hendak dikerjakan, meskipun sebenarnya anda kurang setuju, dukungan setia anda akan membuat suami lebih mengasihi anda, bukan?
8. Bagaimana isteri dapat mendorong suaminya untuk memimpin keluarganya dengan baik?
8 Yang terutama harus dijaga: Janganlah coba mengambil alih tanggung-jawab suami sebagai kepala! Sekalipun anda berhasil, anda pasti tidak akan menyenangi suami. Suami pun tidak akan menyenangi anda atau dirinya. Mungkin saja ia kurang mengambil pimpinan sebagaimana mestinya. Mengapa anda tidak menganjurkan dia? Apakah anda selalu menghargai tiap usahanya untuk memimpin keluarga? Apakah anda membantu dan memberi dorongan semangat padanya jika ia mengambil inisiatip? Ataukah anda mengatakan bahwa ia melakukan suatu kesalahan, bahwa rencananya akan gagal? Kadang-kadang adalah kesalahan isteri jika suami tidak memimpin keluarga. Misalnya jika isteri meremehkan usul-usul suami atau menentang apa yang hendak dilakukannya. Atau mempersalahkan suami jika hasilnya kurang baik dengan mengatakan, ‘Bukankah sudah ku katakan tidak bisa’? Lama-kelamaan suami menjadi bimbang dan tidak tegas. Sebaliknya, suami makin mantap dan berhasil karena kesetiaan dan dukungan anda, yang disertai keyakinan dan kepercayaan kepadanya.
“ISTERI YANG CAKAP”
9. Apa kata Amsal 31:10 mengenai isteri yang cakap?
9 Supaya isteri benar-benar disayangi oleh suami, ia harus rajin menunaikan kewajiban rumah tangganya. Alkitab berkata tentang wanita demikian: “Ia lebih berharga dari pada permata.” (Amsal 31:10) Apakah demikian halnya dengan anda? Apakah anda ingin menjadi isteri seperti itu?
10, 11. Bagaimana seorang isteri dapat menunjukkan bahwa ia mengikuti contoh yang diberikan di Amsal 31:15?
10 Sewaktu membicarakan kesibukan seorang “isteri yang cakap” buku Pengkhotbah berkata: “Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya.” (Amsal 31:15) Banyak gadis kawin tanpa persiapan yang lengkap karena belum pernah diajar ibunya untuk memasak, tetapi ia dapat belajar. Dan wanita yang bijaksana akan belajar supaya dapat masak yang enak! Memasak merupakan suatu seni! Bila masakan enak, bukan saja perut dikenyangkan, tetapi hati pun senang.
11 Banyak hal yang dapat dipelajari mengenai soal masak-memasak. Ada baiknya mengetahui soal gizi demi kesehatan keluarga anda. Tetapi belum tentu suami akan memuji anda, jika makanan yang dihidangkan hanya dengan memikirkan gizi. Menurut Alkitab, Ribka isteri Ishak pandai memasak. Demikian “enak”nya sehingga menjadi kegemaran suami. (Kejadian 27:14) Kaum isteri patut belajar dari contoh ini.
12. Apa yang harus dilakukan agar seorang wanita bertindak selaras dengan Amsal 31:14?
12 Di beberapa daerah kaum wanita pergi berbelanja tiap pagi untuk membeli keperluan sehari-hari. Di tempat lain hanya sekali seminggu, kemudian bahan-bahan makanan yang tidak tahan lama disimpan di lemari es. Bagaimanapun kebiasaan isteri, seorang suami pasti menghargai jika ia pandai memegang uang dan tidak melampaui anggaran belanja keluarga. Jika isteri pandai memilih makanan dan pakaian dengan mutu yang baik dan mengerti harga, tentu ia tak akan membeli sesuatu sebegitu dilihatnya. Sebaliknya, seperti kata Amsal 31:14: “Ia serupa kapal-kapal saudagar. Dari jauh ia mendatangkan makanannya.”
13. Menurut Amsal 31:27, apa yang dapat diharapkan dari seorang isteri yang cakap dalam pemeliharaan rumah tangganya?
13 Keadaan di rumah juga mencerminkan bagaimana seorang isteri memperlihatkan kewajiban rumah tangganya. Amsal 31:27 selanjutnya memperlihatkan bagaimana kesanggupan seorang isteri yang cakap: “Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya. Makanan kemalasan tidak dimakannya.” Ia tidak suka dengan kebiasaan bangun siang, mengobrol terlalu lama dengan tetangga, dan sebagainya. Meskipun pekerjaan rumah tangga sewaktu-waktu dapat terbengkalai karena ia jatuh sakit atau terjadi sesuatu yang tidak terduga, pada umumnya keadaan rumahnya bersih dan rapih, Suami merasa tenang dan tidak kuatir jika teman-temannya berkunjung ke rumah. Ia tidak akan merasa malu karena rumahnya dalam keadaan berantakan.
14, 15. Bagaimana nasihat Alkitab kepada kaum wanita soal dandanan?
14 Umumnya wanita tidak perlu diberitahukan bahwa penting juga untuk merawat diri, tetapi ada beberapa yang perlu diingatkan akan hal ini. Sungguh sulit untuk mengasihi seseorang yang penampilannya memperlihatkan bahwa ia kurang memperhatikan dirinya. Alkitab menganjurkan supaya wanita “berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana.” Tetapi Alkitab juga menasihatkan untuk jangan terlalu mengutamakan potongan rambut, perhiasan atau pakaian mewah yang hanya menarik perhatian.—1 Timotius 2:9.
15 Yang lebih berharga bukan busananya, melainkan perangai orangnya sendiri. Dan rasul Petrus berpesan kepada kaum isteri Kristen bahwa “roh yang lemah lembut dan tenteram . . . sangat berharga di mata Allah.” (1 Petrus 3:3, 4) Dan ketika menyebutkan semua ciri-ciri seorang isteri yang cakap, Amsal menambahkan bahwa “ia mengulurkan tangannya kepada yang miskin” dan bahwa “pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.” Ia tidak mementingkan diri atau ketus, tetapi gemar memberi dan pemurah. (Amsal 31:20, 26) “Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN [Yehuwa] dipuji-puji.”—Amsal 31:30.
16. Bagaimana perasaan seorang suami yang penuh penghargaan terhadap isteri yang demikian?
16 Sungguh, wanita seperti itu akan sangat dicintai oleh seorang suami yang berpandangan sama seperti Pencipta kita. Perasaannya terhadap isterinya akan sama seperti diungkapkan penulis Amsal: “Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.” (Amsal 31:28, 29) Tanpa harus didesak, ia akan tergerak untuk menyatakan perasaan demikian kepada isterinya.
PANDANGAN ANDA MENGENAI SEKS DAPAT MEMPENGARUHI
17, 18. Bagaimana sikap suami terhadap isteri banyak dipengaruhi oleh pandangan isteri mengenai soal sanggama?
17 Ketidak-puasan seks merupakan akar dari banyak masalah dalam perkawinan. Kadang-kadang disebabkan suami kurang mempedulikan atau mengerti kebutuhan jasmani dan emosi dari isteri. Kadang-kadang isteri kurang bergairah merasakan apa yang dialami suami secara fisik dan emosi. Seharusnya sanggama dalam mana suami-isteri sama-sama ambil bagian dengan penuh kerelaan dan kehangatan merupakan pernyataan intim dari cinta kasih yang saling mereka rasakan.
18 Mungkin sikap isteri dingin karena suami terlalu kasar, tetapi suami pun dapat tersinggung melihat isterinya acuh tak acuh. Dan bila isteri memperlihatkan kejijikan, mungkin itu mematahkan keinginannya atau bahkan menyebabkannya tertarik pada wanita lain. Jika isteri hanya menuruti kemauan suami dengan sikap acuh tak acuh, suami mungkin akan menganggapnya sebagai bukti bahwa isteri tidak mencintainya lagi. Kegairahan seks dirangsang oleh emosi, dan jika seorang isteri dingin sambutannya, mungkin ia perlu memeriksa kembali pandangannya mengenai seks.
19. (a) Bagaimana Alkitab memperlihatkan bahwa bahwa suami dan isteri tidak boleh menolak sanggama untuk waktu yang terlalu lama? (b) Mengapa seharusnya tidak perlu untuk meminta pendapat orang luar mengenai pantas tidaknya suatu cara atau kebiasaan sanggama yang dilakukan oleh sepasang suami-isteri?
19 Nasihat Alkitab bagi suami-isteri adalah supaya mereka jangan “menjauhi” satu sama lain. Firman Allah tidak membenarkan suami atau isteri menggunakan hubungan seks untuk menghukum teman hidup atau untuk menunjukkan kejengkelan. Misalnya, seorang isteri melarang suami untuk menjamahnya sampai berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan lamanya. “Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya.” (1 Korintus 7:3-5) Ini tidak berarti isteri harus mau melakukan cara-cara tidak normal yang dianggapnya menjijikkan secara moral. Dan suami yang mencintai dan menghormati isteri tidak akan memaksanya berbuat demikian. “Kasih . . . tidak melakukan yang tidak sopan.” (1 Korintus 13:4, 5) Tidak sepatutnya suami-isteri juga menanyakan orang lain apakah suatu cara yang mereka lakukan pantas atau tidak pantas. Di 1 Korintus 6:9-11, Alkitab jelas menyebutkan perbuatan apa saja yang terlarang bagi umat penyembah Allah Yehuwa: gendak, perzinahan dan homoseks. (Periksa juga Imamat 18:1-23.) Dewasa ini banyak tokoh-tokoh kemajuan-zaman yang menganut “moral yang baru,” sebenarnya tidak bermoral. Mereka menyerukan agar masyarakat diberi kebebasan untuk melakukan perbuatan seks yang tadinya terlarang. Sebaliknya ada juga orang-orang kolot yang ingin lebih mempertegas larangan-larangan tersebut. Alkitab mengajarkan pandangan yang seimbang. Biasanya soal seks jarang sekali jadi masalah, jika segala segi lain dari hubungan perkawinan berjalan baik, jika ada kasih, respek, komunikasi yang baik dan saling pengertian.
20. Apakah akibatnya jika seorang isteri memakai seks untuk memaksakan keinginannya untuk mendapatkan sesuatu?
20 Untuk dapat memperoleh kasih sayang seorang suami, tiada sekali-kali isteri boleh menggunakan seks sebagai alat untuk memperoleh apa yang ia inginkan. Memang, tidak semua wanita melakukan ini, tetapi ada juga. Dengan cara-cara yang halus mereka memaksakan kemauan mereka atas suami melalui seks. Apa hasilnya? Pikirkanlah, mungkin timbul kasih sayang dalam hati anda terhadap seseorang yang menjual sebuah gaun pesta kepada anda? Tidak mungkin. Demikian pula tak mungkin timbul kasih sayang di hati seorang suami jika isterinya meminta sesuatu padanya sebagai imbalan atas seks yang diberikannya. Mungkin saja wanita itu memperoleh keuntungan materi, tetapi ia mengalami kerugian emosi dan rohani.
MENANGIS DAN MERENGEK
21-23. Seperti apa yang terjadi dengan Simson, bagaimana seorang wanita yang sering menangis dan merengek dapat merusak kebahagiaan rumah tangga?
21 Simson orang kuat, tetapi ia tak tahan terhadap wanita yang memaksakan kemauan mereka melalui tangisan atau rengekan. Sekali peristiwa calon isterinya menyerang dia dengan tangisan. Seperti tercatat di Hakim-Hakim 14:16, 17: “Lalu menangislah isteri Simson itu sambil memeluk Simson, katanya: ‘Engkau benci saja kepadaku, dan tidak cinta kepadaku; suatu teka-teki kaukatakan kepada orang-orang sebangsaku, tetapi jawabnya tidak kauberitahukan kepadaku.’ Sahutnya kepadanya: ‘Sedangkan kepada ayahku dan ibuku tidak kuberitahukan, masakan kepada engkau akan kuberitahukan?’” Percuma saja Simson meyakinkan dia memakai akal sehat. Bila emosi sedang bekerja, percuma untuk meyakinkan orang. “Tetapi isterinya itu menangis di sampingnya selama ketujuh hari mereka mengadakan perjamuan itu. Pada hari yang ketujuh diberitahukanlah kepadanya, karena ia merengek-rengek kepadanya, kemudian perempuan itu memberitahukan jawab teka-teki itu kepada orang-orang sebangsanya.”
22 Jangan menganggap suami kurang mencintai anda, hanya karena tidak menuruti kemauan anda. Calon isteri Simson menuduh bahwa ia kurang mencintainya, tetapi sebenarnya ia sendirilah yang kurang mencintai Simson. Ia memaksa terus sampai Simson tidak tahan lagi. Setelah Simson menerangkan jawaban atas teka-tekinya, calon isterinya langsung melanggar kepercayaan Simson terhadapnya, bergegas menyampaikan rasa Simson kepada musuh-musuhnya. Akhirnya ia kawin dengan seorang pria lain
23 Kemudian Simson mulai tertarik kepada wanita lain bernama Delila. Boleh jadi Delila itu cantik jelita, tetapi dapatkah Simson benar-benar mencintainya? Untuk memancing keterangan yang dapat digunakannya untuk kepentingan pribadi, Delila tiada henti-hentinya merengek-rengek. Berkata Alkitab: “Lalu setelah perempuan itu berhari-hari merengek-rengek kepadanya dan terus mendesak dia, ia tidak dapat lagi menahan hati, sehingga ia mau mati rasanya.” Betapa menyedihkan kesudahan ceritanya.—Hakim-Hakim 16:16.
24-27. (a) Apa kata buku Amsal mengenai akibat dari rengekan seorang isteri yang tidak henti-hentinya? (b) Mengapa hanya wanita yang mendapat nasihat ini? (c) Hal apakah yang lebih besar kemungkinannya akan mendorong seorang suami untuk melakukan suatu kebaikan terhadap isterinya?
24 Betapa bodohnya wanita yang suka menangis dan merengek. Kebiasaan itu dapat menghancurkan rumah tangga. Dengan cara itu ia justru menjauhkan suami. Alkitab memperingatkan terhadap kebiasaan demikian, seperti dalam ayat-ayat berikut: “Siapa membangkit-bangkitkan perkara, menceraikan sahabat yang karib.” “Pertengkaran seorang isteri adalah seperti tiris yang tidak henti-hentinya menitik.” “Lebih baik tinggal di padang gurun dari pada tinggal dengan perempuan yang suka bertengkar dan pemarah.” “Seorang isteri yang suka bertengkar serupa dengan tiris yang tiada henti-hentinya menitik pada waktu hujan, siapa menahannya menahan angin, dan tangan kanannya menggenggam minyak.”—Amsal 17:9; 19:13; 21:19; 27:15, 16.
25 Mengapa dalam Alkitab hanya isteri yang mendapat nasihat begini? Mungkin karena wanita biasanya lebih emosionil dan lebih cepat menuruti perasaan mereka, apalagi jika bingung mengenai sesuatu. Selain itu, mungkin mereka merasa itulah satu-satunya senjata mereka. Mungkin saja suami sebagai kepala keluarga memaksakan kehendaknya. Maka isteri merasa perlu untuk melawan dengan menggunakan senjata emosionil itu. Seharusnya anda jangan melakukan itu, dan suami anda jangan membuat anda merasa terpaksa untuk bertindak demikian.
26 Memang, satu waktu anda kurang sehat dan tanpa sengaja anda mungkin cepat menangis. Tetapi itu lain dari pada sengaja melampiaskan emosi untuk memaksakan kehendak sendiri.
27 Kebanyakan suami yang benar-benar mencintai isterinya, biasanya lebih suka mendahulukan apa yang disukai isteri. Berusahalah untuk menyenangkan hati suami, dan kemungkinan ia juga akan berusaha untuk menyenangkan hati anda.
“WAKTU UNTUK BERDIAM DIRI DAN WAKTU UNTUK BERBICARA”
28-35. (a) Berikanlah contoh-contoh bagaimana kebiasaan berbicara tertentu dapat menyulitkan bagi seorang suami untuk bercakap-cakap dengan isteri. (b) Apa yang dapat dilakukan untuk melancarkan kebiasaan saling berbicara antara suami dan isteri?
28 Para isteri sering mengeluh, ‘Suamiku tidak pernah bicara.’ Mungkin ini merupakan kesalahan suami, tetapi seringkali ada juga suami yang sebenarnya ingin bicara dengan isteri, hanya saja tidak selalu begitu mudah. Mengapa? Yah, tidak semua wanita itu sama. Tetapi cobalah anda membandingkan diri dengan contoh-contoh berikut:
29 Contoh pertama adalah wanita yang paling senang mengobrol dengan tetangga. Tetapi bagaimana caranya ia bicara? Begitu tetangganya itu berhenti bicara untuk menarik napas, ia langsung mengambil alih pembicaraan. Ia tidak lupa untuk mengajukan satu dua pertanyaan. Atau kadang-kadang ia memulai suatu pokok pembicaraan yang lain sama sekali. Tidak lama kemudian wanita yang lain itu akan memotong pembicaraannya dan meneruskan ceritanya. Begitulah kira-kira mereka saling merebut bicara, tetapi tak ada yang tersinggung.
30 Setelah itu suami pulang, dan ia ingin menceritakan sesuatu. Begitu memasuki rumah, suami mengatakan, ‘Kau tahu, apa yang terjadi di kantor tadi pagi . . .’ Tetapi sebelum ia dapat melanjutkan, isterinya sudah memotong pembicaraan dan mengatakan: ‘Dari mana noda di bajumu itu? Lihat dulu di mana kamu jalan. Lantai baru saja saya pel.’ Sesudah itu mungkin suami tidak bernafsu lagi meneruskan ceritanya.
31 Atau, mungkin mereka kedatangan tamu dan suami sedang menceritakan suatu pengalaman. Tetapi ceritanya kurang lengkap atau ada sebagian yang tidak tepat. Lalu isteri memotong pembicaraan, mula-mula untuk meralat keterangan yang salah, kemudian untuk menyelesaikan ceritanya dengan sempurna. Mungkin sesudah itu suami menarik napas panjang dan mengatakan kepada isteri, ‘Ah, kamu saja yang cerita!’
32 Contoh lain adalah wanita yang selalu menganjurkan suaminya untuk bicara. Sebenarnya ia hampir-hampir tidak dapat menahan rasa ingin tahunya. Tetapi ia pura-pura biasa saja menanyakan: ‘Ke mana saja kamu?’ ‘Siapa yang datang juga?’ ‘Apa yang terjadi?’ Rupanya yang paling disukainya adalah berita-berita, bukan mengenai hal sehari-hari, tetapi mengenai soal-soal yang bersifat rahasia. Ia mengumpulkan berbagai keterangan itu dan dibantu daya khayalnya sendiri ia mencoba mengisi bagian-bagian yang masih lowong. mungkin sebagian keterangan yang diperolehnya tidak semestinya diceritakan oleh suami. Hal-hal lain mungkin tidak salah untuk dibicarakan dengan isteri, tetapi suami menganggap isterinya dapat menyimpan rahasia. Jika isteri kemudian bercerita di luar, jelas ia telah mengingkari kepercayaan suami. ”Jangan buka rahasia orang lain,’ demikian bunyi peringatan dalam Amsal 25:9. Pasti dapat timbul masalah jika isteri melakukan ini. Dapatkah suami dipersalahkan, jika di kemudian hari ia lebih berhati-hati untuk bicara?
33 Lalu contoh ketiga adalah wanita yang tidak banyak bicara. Ia cukup baik menjalankan tugas rumah tangga., tetapi jarang sekali ia bicara. Orang yang ingin bicara dengan dia terpaksa bicara lebih banyak. Mungkin ia bersifat pemalu. Atau mungkin kurang berpendidikan di masa kecilnya. Entah mengapa demikian, tiap usaha untuk menariknya dalam suatu percakapan menemui kegagalan.
34 Itu tak berarti mereka tidak dapat berubah. Semua orang dapat belajar seni berbicara. Jika di samping pekerjaan rumah tangga, seorang wanita rajin membaca bacaan yang berguna dan melakukan kebaikan untuk orang-orang lain, ia akan mempunyai cukup bahan untuk diceritakan kepada suaminya. Dan untuk berhasil dalam percakapan, rahasianya adalah “saling mengisi.” Dibutuhkan juga respek secukupnya untuk membiarkan suami menyelesaikan bicaranya, untuk membiarkan suami menyelesaikan bicaranya, untuk membiarkan dia mengatakannya dengan caranya sendiri, dan untuk tahu diri apabila harus menyimpan suatu rahasia. Seperti kata Pengkhotbah 3:7: “Ada waktu untuk berdiam diri, dan ada waktu untuk berbicara.”
35 Karena itu, apakah tidak lebih baik anda berusaha supaya suami senang bicara dengan anda, dari pada terus mengeluh bahwa ia kurang sering bicara? Cobalah tunjukkan minat pada apa yang ia lakukan. Dengarkan baik-baik pada waktu ia bicara. Sambutlah pembicaraan suami dengan menunjukkan cinta kasih yang hangat dan penuh hormat. Jagalah supaya apa yang anda percakapkan lebih banyak bersifat positip dan membina. Tak lama lagi anda akan mulai senang bercakap-cakap satu sama lain.
‘DIMENANGKAN TANPA SEPATAH KATA’
36-38. Dengan cara bagaimana saja orang dapat menggerakkan hati teman hidup yang tidak seiman?
36 Seringkali perbuatan lebih besar artinya dari pada ucapan. Terutama bagi suami yang tidak seiman. Tentang mereka rasul petrus berkata: “mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya,jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu.” (1 Petrus 3:1, 2) banyak suami yang tidak beriman mengeluh karena isteri terus “mengkhotbahi” mereka dan mereka benci akan hal itu. Sebaliknya banyak suami akhirnya menaruh iman setelah melihat bagaimana Firman Allah merubah isteri mereka. Umumnya orang lebih terkesan melihat contoh perbuatan dari pada mendengar khotbah.
37 Bila anda bicara dengan teman hidup anda yang tidak seiman, “hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih,” bersifat pantas, atau seperti kata Alkitab “dimasinkan dengan garam.” Ada waktunya untuk bicara. “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya, adalah seperti buah apel emas di pinggan perak,” kata Alkitab. Mungkinkah suami sedang merisaukan sesuatu? Siapa tahu ada yang kurang beres di tempat pekerjaannya? Alangkah besar penghargaannya jika isteri mengucapkan mengucapkan sesuatu yang memperlihatkan pengertian. “Perkataan yang menyenangkan . . . manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.” (Kolose 4:6, Bode; Amsal 25:11; 16:24) Atau, bergantung keadaan, hanya dengan menyisipkan tangan anda dalam tangannya, seolah-olah mengatakan: Aku mengerti, aku berada di pihakmu, aku akan membantu sedapat mungkin.
38 Sekalipun suami tidak sepaham dengan kepercayaan anda, menurut Firman Allah ada harus tetap tunduk kepadanya. Siapa tahu kelakuan anda kelak memenangkan dia, sehingga ia akan memeluk iman yang sama. Alangkah bahagianya saat itu! Dan bila saat itu tiba, suami akan menyadari bahwa ada lebih banyak alasan lagi untuk mencintai anda. Sebab ia dibantu untuk mencapai “hidup yang sebenarnya,” terdorong oleh pengabdian anda yang teguh membela apa yang benar.—1 Korintus 7:13-16; 1 Timotius 6:19.
39, 40. Sifat-sifat apa seperti di Titus 2:4, 5, menjadikan seorang isteri berharga, bukan saja bagi suami, tetapi juga bagi Yehuwa?
39 Alkitab menganjurkan semua isteri Kristen, termasuk yang suaminya tidak seiman, untuk “mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang.”—Titus 2:4, 5.
40 Jika anda sebagai isteri sungguh-sungguh berusaha melakukan ini, anda akan dicintai bukan saja oleh suami, tetapi juga oleh Allah Yehuwa.
[Gambar di hlm. 57]
“Isteri yang cakap . . . lebih berharga dari pada permata.”—Amsal 31:10.
[Gambar di hlm. 64]
Wanita-Wanita dalam kehidupan Simson
-
-
Kasih, ‘Pengikat yang Sempurna’Membina Keluarga Bahagia
-
-
Pasal 6
Kasih, ‘Pengikat yang Sempurna’
1-6. (a) Apa yang dapat terjadi jika suami-isteri terlalu memikirkan perasaan mereka sendiri? (b) Perselisihan paham tidak akan meruncing seandainya mereka memegang prinsip Alkitab yang mana?
‘MENGAPA makanan harus terlambat lagi?’ bentak suami, karena sudah tidak sabar menunggu, badannya lelah sekali sehabis pulang dari pekerjaannya.
2 ‘Sabar. Sabaar. Mengapa kamu selalu harus mengomel? Masakan sudah hampir siap,’ jawaban dari isteri. Siapa bilang ia tidak lelah juga sesudah seharian mengurus rumah tangga.
3 ‘Tetapi kamu selalu terlambat. Mengapa kita tidak pernah bisa mulai makan pada waktunya?’
4 ‘Siapa bilang tidak pernah!’ teriak isteri. ‘Cobalah kau sendiri sekali-sekali tinggal di rumah sehari, baru kamu tahu repotnya mengurusi anak-anakmu!’
5 Soal kecil ini makin lama makin dibesar-besarkan, sehingga akhirnya suami-isteri menjadi marah dan tidak mau bicara lagi satu sama lain. Masing-masing memberikan reaksi atas apa yang dikatakan yang lain, sampai akhirnya kedua pihak tersinggung dan jengkel, dan suasana malam itu tidak menyenangkan lagi. Sebenarnya masing-masing dapat mencegah perkembangan ini. Rupanya kedua-duanya hanya memikirkan diri sendiri dan tidak peduli akan perasaan teman hidupnya. Akhirnya ketegangan memuncak.
6 Perselisihan seperti itu bisa saja timbul mengenai berbagai hal. Misalnya mengenai uang. Atau mungkin suami beranggapan isterinya terlalu cemburu dan mengekangnya karena tidak suka ia bergaul dengan orang lain. Atau isteri mungkin merasa diabaikan, atau kurang diperhatikan. Ketegangan dapat timbul baik karena masalah besar maupun karena berbagai masalah kecil. Entah apa penyebabnya, yang penting bagi kita sekarang adalah bagaimana cara menanganinya. Sebenarnya masing-masing pihak dapat mencegah timbulnya ketegangan dengan kerelaan mereka untuk ‘memberikan pipi yang lain,’ dan untuk tidak “membalas kejahatan dengan kejahatan,’ tetapi ‘mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.’ (Matius 5:39; Roma 12:17, 21) Memang dibutuhkan pengendalian diri dan kematangan untuk bisa melakukan hal ini. Dan juga kasih Kristen.
APA ARTI KASIH ITU SESUNGGUHNYA
7-9. (a) Bagaimana kasih digambarkan di 1 Korintus 13:4-8? (b) Kasih yang bagaimanakah ini?
7 Allah Yehuwa memberi ilham mengenai apa sesungguhnya kasih itu. Kasih itu digambarkan melalui apa yang dilakukan maupun apa yang tidak dilakukan, dalam 1 Korintus 13:4-8: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabat menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan.”
8 Kasih bisa saja timbul karena berbagai hal—karena daya tarik jasmaniah, karena hubungan kekeluargaan atau karena menghargai pergaulan satu sama lain. Tetapi menurut Alkitab kasih yang sejati harus lebih dari pada sekedar rasa sayang atau karena saling tertarik dan hendaknya bertujuan untuk menghasilkan apa yang terbaik bagi orang yang dicintai. Kasih demikian mungkin memerlukan teguran atau disiplin, seperti yang dilakukan orang tua terhadap anak, atau sebagaimana yang dilakukan Allah Yehuwa terhadap para penyembahnya. (Ibrani 12:6) Memang kasih itu disertai perasaan dan emosi, tetapi tanpa mengaburkan jalan pikiran yang bijaksana atau prinsip-prinsip yang harus dipertahankan. Kasih semacam itu mendorong kita untuk memperlakukan semua orang berdasarkan prinsip-prinsip yang mulai, yaitu tenggang-menenggang dan adil.
9 Untuk lebih mengerti bagaimana kasih dapat membina kehidupan keluarga kita, mari kita meneliti lebih jauh keterangan yang diberikan di 1 Korintus 13:4-8.
10, 11. Apa yang dapat diharapkan dari seorang teman hidup yang sabar dan murah hati?
10 “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati.” Apakah anda bersikap sabar terhadap teman hidup anda” Apakah anda mengendalikan diri, meskipun timbul keadaan yang menjengkelkan atau anda dituduh mengenai sesuatu hal? Yehuwa sabar terhadap kita semua, dan ‘maksud kemurahan Allah adalah untuk menuntun orang kepada pertobatan.’ Sifat panjang sabar dan kemurahan kedua-duanya termasuk buah-buahan roh Allah.—Roma 2:4; Galatia 5:22.
11 Kasih tidak membenarkan perbuatan tercela, tetapi juga tidak ‘mencari-cari’ kesalahan. Kasih tidak lekas kesal, tetapi mempertimbangkan keadaan-keadaan yang dapat dimaafkan. (1 Petrus 4:8; Mazmur 103:14; 130:3, 4) Bahkan dalam hal-hal yang serius kasih selalu siap untuk mengampuni. Rasul Petrus rupanya menganggap dirinya panjang sabar ketika ia bertanya kepada Yesus: “Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Jawab Yesus: “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali.” (Matius 18:21, 22; Lukas 17:3, 4) Kasih mengampuni sampai berulang kali, dan tetap pemurah selama-lamanya. Apakah anda demikian?
12, 13. Bagaimana orang memperlihatkan sifat cemburu, dan mengapa kita harus berusaha menekan sifat demikian?
12 “Kasih tidak cemburu.” Memang sulit untuk hidup berdampingan dengan orang yang selalu cemburu tanpa beralasan. Sifat cemburu demikian menandakan kecurigaan, dan terlalu ingin memiliki sendiri. Ini adalah sifat kekanak-kanakan dan mengekang teman hidup yang tidak dapat mengembangkan hubungan yang wajar dan ramah terhadap orang lain. Kebahagiaan datangnya karena orang memberikan sesuatu dengan suka rela, bukan karena terpaksa memenuhi tuntutan yang cemburu.
13 “Siapa dapat tahan terhadap cemburu?” tanya Alkitab. Sifat ini adalah salah satu buah hawa nafsu daging. (Amsal 27:4; Galatia 5:19, 20) Apakah anda mendapati di dalam diri anda gejala-gejala sifat cemburu demikian yang timbul karena kurang kepercayaan diri dan mengkhayalkan yang bukan-bukan? Biasanya lebih mudah untuk melihat kekurangan orang lain, tetapi lebih banyak gunanya untuk memeriksa diri sendiri. “Di mana ada iri hati dan mementingkan diri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” (Yakobus 3:16) Sifat cemburu dapat menghancurkan rumah tangga. Agar anda dapat tetap memiliki teman hidup bukanlah dengan mengekangnya karena cemburu, melainkan dengan memberi perhatian yang penuh kasih, dengan bersifat tenggang-menenggang dan menaruh kepercayaan.
14, 15. (a) Mengapa orang yang memegahkan diri sebenarnya kurang memiliki kasih? (b) Sebaliknya dari pada merendahkan teman hidup, apa yang seharusnya dilakukan?
14 Kasih “tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” Memang banyak orang yang suka memegahkan diri, tetapi tidak banyak yang senang mendengar bualan mereka. Orang yang mengenal baik si pembual itu bahkan mungkin merasa malu. Sebagian orang memegahkan diri dengan bicara menonjolkan diri, tetapi ada juga yang melakukannya dengan cara lain. Mereka mengeritik dan merendahkan orang lain, dan dengan melakukan perbandingan ini mereka seolah-olah menonjolkan diri. Maka orang dapat meninggikan diri sendiri dengan merendahkan orang lain. Sebenarnya merendahkan teman hidup sama saja seperti menyombongkan diri.
15 Pernahkah anda membicarakan di depan umum mengenai kelemahan teman hidup anda? Bagaimana kira-kira perasaannya karena perbuatan anda? Bagaimana seandainya kelemahan anda yang dibeberkan olehnya? Bagaimana kira-kira perasaan anda? Apakah anda merasa bahwa ia mencintai anda? Tidak, karena kasih “tidak memegahkan diri,” entah dengan memuji-muji diri sendiri atau dengan merendahkan orang lain. Hendaknya anda selalu bicara positip mengenai teman hidup anda, sebab ini akan mempererat hubungan kalian. Dan bila sesuatu dikatakan orang lain mengenai diri anda, turutilah nasihat di Amsal 27:2: “Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kaukenal dan bukan bibirmu sendiri.”
16. Hal-hal yang kurang sopan apa patut dihindari oleh orang yang mempunyai sifat kasih?
16 Kasih “tidak melakukan yang tidak sopan.” Banyak hal yang sudah jelas tidak sopan, seperti misalnya perzinahan, pemabukan dan pelampiasan amarah. (Roma 13:13) Sebaliknya dari pada sifat kasih, semua perbuatan demikian menghancurkan perkawinan. Sikap kasar, umpatan dan tindakan yang tercela, semuanya memperlihatkan bahwa seseorang kurang sopan, demikian juga jika ia melalaikan kebersihan diri. Apakah anda cukup berhati-hati agar tidak menimbulkan kebencian teman hidup anda dalam hal ini? Apakah anda memperlakukan dia dengan penuh pertimbangan, sopan santun dan respek? Semua ini membantu keluarga untuk tetap kokoh dan berbahagia.
17. Bagaimana orang yang tidak memikirkan kepentingan sendiri dapat menghindari pertengkaran?
17 Kasih “tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah.” Kasih tidak memusatkan perhatian kepada diri sendiri. Dalam contoh yang terdapat pada permulaan pasal ini, jelas keadaan tidak perlu meruncing seandainya mereka mengingat ini. Suami tidak akan membentak isterinya karena hidangan terlambat, dan isteri pun tidak akan balas membentak. Isteri dapat menyadari bahwa mungkin kejengkelan suaminya sebagian disebabkan ia lelah dari pekerjaannya. Semestinya isteri jangan marah, tetapi menjawab: ‘Tunggu sebentar, sayang. Masakan hampir selesai. Ini dia, kau minum saja dulu segelas air jeruk yang dingin, sambil kusiapkan hidangan makanan. Wah, rupanya kau lelah sekali dari pekerjaanmu di kantor.’ Atau, seandainya suami lebih menaruh pengertian dan tidak hanya memikirkan diri, ia dapat bertanya apakah ia mungkin dapat membantu melakukan sesuatu.
18. Bagaimana kasih membantu kita untuk tidak lekas marah?
18 Apakah anda cepat marah karena sesuatu yang dilakukan atau diucapkan oleh teman hidup anda? Ataukah anda mencoba mengerti apa maksud sebenarnya dari tindakan atau ucapan itu? Mungkin tidak sengaja dan hanya karena tanpa dipikirkan di muka, dan bukan untuk menyakiti hati anda. Jika anda menaruh kasih, “janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.” (Efesus 4:26) Tetapi bagaimana seandainya teman hidup anda sedang jengkel dan memang bermaksud melakukan atau mengucapkan sesuatu yang menyakiti hati? Bukankah lebih baik anda sabar menunggu sampai kemarahan reda, kemudian baru membicarakannya? Bila suatu keadaan ditanggapi dengan memikirkan kepentingan dua belah pihak, maka lebih mudah bagi anda untuk tidak salah bicara. “Hati orang bijak menjadikan mulutnya berakal budi.” “Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih.” (Amsal 16:23; 17:9) Dengan menahan nafsu untuk meneruskan pertengkaran dan membuktikan diri benar, anda mencapai kemenangan demi kasih.
19. (a) Apa yang termasuk dalam ”bersukacita dengan ketidakadilan”? (b) Mengapa ini harus dihindari?
19 Kasih yang sejati “tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.” Kasih tidak menganggapnya “cerdik” bila seseorang mengelabui teman hidup—tidak soal apakah mengenai cara penggunaan waktu atau uang, atau dengan siapa seseorang bergaul. Kasih yang sejati tidak membenarkan seseorang untuk merahasiakan sebagian keterangan supaya kelihatan benar. Ketidakjujuran menghancurkan kepercayaan. Supaya kasih benar-benar sejati, kedua belah pihak harus senang menyampaikan apa yang sebenarnya.
KASIH SEJATI MEMILIKI KEKUATAN DAN KETAHANAN
20. Bagaimana kasih itu (a) ’menutupi segala sesuatu’? (b) ’percaya segala sesuatu’? (c) ’mengharapkan segala sesuatu’? (d) ’sabar menanggung segala sesuatu’?
20 Kasih “menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” Kasih membantu seseorang untuk menahan segala tekanan yang dialami dalam perkawinan, sementara kedua belah pihak berusaha saling menyesuaikan diri. Kasih membantu seseorang untuk percaya akan segala nasihat Firman Allah dan sungguh-sungguh mempraktekkannya, sekalipun keadaan nampaknya kurang menguntungkan. Dan meskipun tidak mudah percaya terhadap orang-orang yang tidak jujur, ia tidak selalu bersikap curiga. Justru ia menaruh kepercayaan, dan selalu mengharapkan yang terbaik. Harapan ini didasarkan keyakinan bahwa hasil yang terbaik dicapai jika nasihat Alkitab dipraktekkan. Maka kasih bersifat positip, optimis dan penuh pengharapan. Kasih ini tidak sebentar-sebentar berubah atau seperti asmara yang berumur pendek. Kasih sejati bertahan lama, dan menghadapi tantangan walaupun menghadapi kesulitan. Ia tidak pernah luntur. Kasih itu teguh dan kuat; tetapi kendati pun begitu kokoh, ia lemah lembut, lentuk dan menyenangkan.
21, 22. Berikan beberapa contoh untuk memperlihatkan bagaimana kasih tidak pernah mengecewakan?
21 Kasih demikian “tidak berkesudahan” “tidak pernah mengecewakan,” (NW). Jika keluarga mengalami krisis ekonomi, apa yang terjadi? Tidak mungkin terpikir oleh isteri untuk meninggalkan suami mencari hidup yang lebih senang. Dengan loyal ia akan tetap bersama suaminya. Mungkin ia harus lebih berhemat, atau membantu menambah penghasilan suami. (Amsal 31:18, 24) Tetapi bagaimana jika isteri jatuh sakit dan tidak sembuh selama bertahun-tahun? Suami yang memiliki cinta kasih semacam ini akan sungguh-sungguh berusaha memberikan perawatan yang dibutuhkan isterinya. Ia akan membantu dengan pekerjaan di rumah yang sekarang tidak sanggup dikerjakan oleh isterinya. Ia akan tetap memperlihatkan bahwa ia masih setia padanya. Allah sendiri memberikan contoh dalam hal ini. Tidak soal bagaimana keadaan hamba-hambaNya yang setia, ‘tiada sesuatu yang dapat menceraikan mereka dari kasih Allah.’—Roma 8:38, 39.
22 Masalah apa yang dapat mengalahkan kasih semacam itu? Apakah perkawinan anda memiliki kasih demikian? Apakah anda sendiri menghayatinya?
MENUMBUHKAN KASIH
23. Apa yang sebenarnya menentukan keinginan kita untuk melakukan perbuatan kasih?
23 Sama seperti otot, kasih dapat menjadi makin kuat jika sering digunakan. Sebaliknya, seperti juga dengan iman, kasih akan mati jika tidak disertai perbuatan. Konon ucapan dan tindakan yang digerakkan oleh perasaan dalam kalbu berasal dari hati kita. “Karena diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik.” Tetapi jika perasaan hati kita tidak baik, maka “dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.”—Matius 12:34, 35; 15:19; Yakobus 2:14-17.
24, 25. Bagaimana anda dapat memperkuat dorongan hati untuk menunjukkan kasih?
24 Pikiran dan perasaan apa saja yang anda perkembangkan di hati anda? Jika anda tiap hari memikirkan bagaimana Allah menunjukkan kasihNya, dan anda ingin meniru Dia, maka anda memperkuat keinginan-keinginan yang baik. Makin banyak anda menghayati kasih ini, makin banyaklah anda bertindak dan bicara selaras dengan itu, maka makin dalamlah hal itu akan tergores di hati anda. Bila seseorang mempraktekkan kasih demikian setiap hari dalam perkara-perkara kecil, lama-kelamaan akan menjadi suatu kebiasaan. Kemudian pada waktu timbul persoalan besar kasih ini sudah ada dan cukup kuat, sehingga dapat membantu anda menanggulanginya.—Lukas 16:10.
25 Apakah anda memperhatikan sesuatu yang patut dipuji dalam diri teman hidup anda? Apa salahnya anda utarakan? Apakah pada suatu saat timbul keinginan anda untuk melakukan suatu kebaikan baginya? Kenapa tidak anda lakukan! Kita perlu menunjukkan kasih, supaya dapat memetik buahnya. Dengan mempraktekkan hal-hal ini anda akan semakin erat satu sama lain. Anda berdua akan menjadi satu. Kasih antara anda berdua makin bertumbuh.
26, 27. Bagaimana kasih dapat berkembang dengan menikmati sesuatu bersama-sama?
26 Supaya kasih makin berkembang, nikmatilah bersama. Manusia pertama Adam tinggal di sebuah taman firdaus. Segala keperluan jasmaninya tersedia dengan limpah. Dari mula pertama ia dikelilingi oleh keindahan. Bukan saja taman itu penuh dengan padang rumput dan aneka warna bunga, pohon-pohon dan aliran sungai. Tetapi ada juga aneka ragam kehidupan hewan yang tunduk di bawah kekuasaannya sebagai yang bertugas memelihara bumi. Namun dengan semua kelimpahan ini, ada satu kebutuhan yang masih kurang: yaitu seorang manusia lain dengan siapa ia dapat bersama-sama menikmati taman firdaus ini. Pernahkah anda kebetulan seorang diri ketika menyaksikan keindahan alam pada waktu matahari sedang terbenam dan ingin agar sang kekasih berada di samping anda untuk menikmatinya bersama? Atau pernahkah pula anda ingin menyampaikan suatu kabar yang gembira, tetapi tak ada siapa-siapa untuk mendengarnya? Allah Yehuwa mengerti apa yang dibutuhkan oleh Adam. Ia menyediakan bagi Adam seorang teman hidup kepada siapa ia dapat menyampaikan apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Saling membagi mempersatukan dua sejoli, sehingga kasih mulai berakar dan bertumbuh.
27 Perkawinan mengartikan saling membagi. Kadang-kadang dengan suatu lirikan penuh kasih sayang. Atau cukup dengan suatu sentuhan, suatu ucapan yang lembut, atau hanya duduk bersama tanpa mengucapkan sepatah kata. Tiap tindakan dapat mengungkapkan rasa kasih: merapikan tempat tidur, cuci piring, menabung uang untuk membeli sesuatu yang ia inginkan tetapi tidak mau ia minta karena anggaran terbatas, membantu dengan pekerjaan suami atau isteri jika belum selesai pada waktunya. Kasih berarti sama-sama bekerja dan bermain, sama-sama merasakan susah dan senang, sukses dan kegagalan, hal-hal yang timbul dalam pikiran, maupun hal-hal yang dirasakan dalam hati. Tentukan cita-cita yang sama dan raihlah cita-cita itu bersama-sama. Inilah yang membuat dua insan menjadi satu; inilah yang menumbuhkan cinta kasih.
28. Bagaimana kasih berkembang karena seseorang melayani yang lain?
28 Dengan melayani teman hidup anda, kasih anda padanya makin menjadi matang. Isteri biasanya melayani dengan memasak makanan, merapikan tempat tidur, membersihkan rumah, mencuci pakaian, mengurus rumah tangga. Biasanya suami melayani dengan menyediakan makanan yang dimasak oleh isteri, tempat tidur yang dirapikan oleh isteri, rumah yang dibersihkan isteri, pakaian yang dicuci isteri. Pekerjaan melayani inilah seperti memberi, yang mendatangkan kebahagiaan dan membuat kasih berkembang. Seperti kata Yesus, lebih berbahagia memberi dari pada menerima. Dengan kata lain, lebih bahagia melayani dari pada dilayani. (Kisah 20:35) Yesus mengajar murid-muridnya: “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” (Matius 23:11) Sikap ini menghilangkan semangat bersaing dan menghasilkan kebahagiaan. Bila kita melayani, kita merasa dibutuhkan. Kita mengisi suatu maksud tujuan. Dan ini memberikan harga diri dan kepuasan. Perkawinan memungkinkan banyak kesempatan bagi suatu dan isteri untuk saling melayani dan memperoleh kepuasan demikian. Dan dengan demikian perkawinan makin dikekalkan dengan cinta kasih.
29. Bagaimana kasih dapat menarik hati bahkan dari orang yang bukan hamba Allah?
29 Tetapi bagaimana jika salah satu pihak adalah seorang hamba Kristen dari Allah dan mempraktekkan prinsip-prinsip Alkitab ini, sedangkan yang lain tidak? Apakah hal ini perlu merubah sikap seorang Kristen? Tidak. Memang, mungkin pihak orang Kristen itu tidak dapat bicara banyak mengenai maksud tujuan Allah, tetapi kelakuannya harus tetap dijaga. Pada dasarnya teman hidup yang tidak seiman itu mempunyai kebutuhan yang sama seperti seorang penyembah Yehuwa. Dan dalam hal tertentu reaksi mereka akan sama. Ini disebutkan di Roma 2:14, 15: “Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di salam hati mereka dan suatu hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.” Tingkah laku Kristen yang baik biasanya akan dihargai dan memungkinkan kasih bertumbuh.
30. Apakah kasih hanya perlu diperlihatkan dalam keadaan-keadaan dramatis? Mengapa anda menjawab demikian?
30 Kasih tidak menunggu sampai timbul keadaan dramatis. Dalam hal tertentu kasih itu dapat diumpamakan seperti pakaian. Oleh hal apakah pakaian anda dapat tetap utuh? Apakah oleh karena kain itu diikat dengan tali yang besar? Atau oleh ribuan tisikan benang halus? Tentu oleh karena ribuan tisikan benang halus itu, bukan? Dan ini berlaku bukan saja untuk kain penutup tubuh tetapi juga untuk “pakaian” rohani. Yang membentuk “pakaian” kita sehari-hari adalah segala tutur kata dan tindakan-tindakan kecil yang sedikit demi sedikit terkumpul tiap hari dan memperlihatkan orang macam apa kita ini sebenarnya. “Pakaian” rohani demikian tidak akan pernah lusuh dan tak terpakai lagi seperti pakaian jasmani. Seperti kata Alkitab ia merupakan pakaian atau “perhiasan yang tidak binasa.”—1 Petrus 3:4.
31. Nasihat bagus apa yang terdapat mengenai kasih di Kolose 3:9, 10, 12, 14?
31 Inginkah anda supaya perkawinan anda tetap utuh oleh ‘pengikat yang sempurna’? Kalau demikian, turutilah anjuran di Kolose 3:9, 10, 12, 14: “Menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan . . . mengenakan manusia baru . . . kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran . . . kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.”
-
-
Mempunyai Anak—Suatu Tanggung-Jawab dan BerkatMembina Keluarga Bahagia
-
-
Pasal 7
Mempunyai Anak—Suatu Tanggung-Jawab dan Berkat
1-4. (a) Ceritakanlah hal-hal yang menakjubkan yang terjadi selama wanita mengandung. (b) Bagaimana pengetahuan mengenai hal-hal ini membantu anda untuk lebih memahami Mazmur 127:3?
KEMUNGKINAN lahirnya anak-anak dari perkawinan cukup mendebarkan hati, tetapi membuat kita berpikir serius. Memang kelahiran bayi sudah lazim terjadi tiap hari. Tetapi sesungguhnya tiap kelahiran didahului suatu rangkaian proses yang luar biasa rumit. Bila kita mulai mendapat sedikit gambaran apa yang sebenarnya terjadi, barulah kita mengerti mengapa penulis Mazmur yang terilham terdorong untuk mengatakan: ”Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN [Yehuwa], dan buah kandungan adalah suatu upah.” (Mazmur 127:3) Cobalah bayangkan apa yang terjadi.
2 Sebuah sel sperma tubuh pria bergabung dengan sebuah sel telur dalam tubuh wanita. Kedua sel menjadi satu, kemudian mulai membelah menjadi dua. Yang dua menjadi empat, dari empat menjadi delapan, sehingga akhirnya sel yang satu itu dalam diri seorang dewasa berkembang menjadi 60.000.000.000.000 sel. Mula-mula semua sel itu sama, tetapi selanjutnya menjadi berbagai macam sel—sel tulang, sel otot, sel saraf, sel hati, sel mata, sel kulit, dan seterusnya.
3 Sebagian masalah dari proses perkembang-biakan yang selama ini tidak dimengerti kini sudah terungkap, tetapi masih banyak hal yang belum jelas. Bagaimana sel pertama itu dapat mulai membelah? Dan seraya jumlah sel bertambah, bagaimana tiba-tiba semua sel mulai berubah jenisnya? Bagaimana sampai berbagai jenis sel yang berbeda-beda itu dapat membentuk kelompoknya sendiri-sendiri, mengambil bentuk, ukuran dan fungsi tertentu, lalu menjadi hati, hidung dan jari kaki? Nampaknya perubahan sel terjadi pada saat-saat yang sudah ditentukan sebelumnya. Dari mana jadwal waktunya bisa begitu tepat? Satu hal lagi: janin bayi yang makin lama makin besar di dalam rahim sebenarnya merupakan tubuh tersendiri dengan susunan genetika yang berbeda dari ibunya. Biasanya tubuh wanita tidak menerima jaringan sel dari luar, seperti pencangkokan kulit atau bagian tubuh lainnya yang diambil dari orang lain. Mengapa kini tubuhnya mau menerima janin yang lain susunan genetikanya, bahkan terus menyalurkan makanan kepadanya selama lebih kurang 280 hari?
4 Sesungguhnya seluruh proses yang menakjubkan ini terjadi tepat menurut jadwal waktunya, karena Allah Yehuwa telah merancang programnya langsung pada sel pertama yang terbentuk dari sperma dan sel telur. Penulis Mazmur memperlihatkan ini dalam kata-katanya yang ditujukan kepada Sang Pencipta: ”Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.”—Mazmur 139:16.
PERKEMBANGAN SAMPAI KEPADA KELAHIRAN
5-8. Sejak minggu keempat dari masa mengandung sampai saat lahirnya seorang bayi, hal-hal apa yang terjadi dalam kandungan?
5 Janin itu bertumbuh terus dengan cepat. Menjelang minggu keempat sudah mempunyai otak, jaringan saraf, sistem peredaran darah, lengkap dengan jantung yang memompa darah melalui pembuluh-pembuluh yang sudah siap berfungsi. Selama enam minggu pertama darah dihasilkan oleh kantong kuning telur; sesudah itu pekerjaan tersebut diambil alih oleh hati (liver), dan selanjutnya oleh sumsum tulang. Pada minggu kelima sudah ada kaki dan tangan, dan tiga minggu kemudian sudah keluar jari-jarinya. Menjelang minggu ketujuh sudah terbentuk bagian-bagian otot yang utama, juga mata, telinga, hidung dan mulut.
6 ”Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi,” demikian penulis Mazmur itu meneruskan percakapannya dengan Allah Yehuwa. (Mazmur 139:15) Pada minggu kesembilan tulang-tulang yang lembut itu mulai menjadi keras membentuk kerangka tubuh, dan sejak saat itu status bayi itu bukan lagi janin atau embryo, tetapi sudah jadi fetus. ”Engkaulah yang membentuk buah pinggangku.” (Mazmur 139:13) Proses yang mengatur hal ini berdasarkan rencana ilahi terjadi dalam bulan keempat, sehingga darah mulai disaring melalui buah pinggang (ginjal).
7 Menjelang waktu ini bayi dalam kandungan mulai bergerak-gerak. Jari-jari kaki maupun tangannya bergerak-gerak apabila telapak tangan atau kaki terasa geli. Ia sudah mulai menggenggam sesuatu antara ibu jari dan jari-jari yang lain. Ia mulai mengisap jempol untuk melatih otot-ototnya yang kelak akan digunakan untuk menyusu. Kadang-kadang bayi mengalami kecegukan dan ibunya merasa bayinya melompat-lompat dalam kandungan. Menjelang bulan keenam banyak bagian tubuh sudah hampir lengkap. Lubang hidung sudah terbuka, alis mata sudah muncul. Matanya segera akan terbuka, dan telinga pun sudah mulai bekerja, sehingga bayi dalam kandungan dapat dikejutkan oleh suara-suara gaduh.
8 Setelah genap 40 minggu, mulailah saat untuk melahirkan. Otot-otot peranakan ibu bekerja mendorong bayi ke luar dari tubuh ibunya. Kadang-kadang karena tekanan yang dialami waktu keluar, kepala bayi berubah bentuknya. Tetapi untung tulang-tulang kepala masih belum rapat satu sama lain, maka sesudah lahir kepala bayi akan kembali ke bentuk semula. Sampai saat ini bayi mendapat segala-galanya dari ibunya: persediaan zat asam, bahan makanan, perlindungan, kehangatan dan juga pembuangan sisa-sisa kotoran. Sekarang bayi itu harus segera terpisah. Kalau tidak, ia akan mati.
9. Perubahan apa yang harus cepat terjadi, segera setelah bayi dikeluarkan dari rahim ibu?
9 Bayi harus mulai bernapas, agar darah mendapat persediaan zat asam melalui paru-paru. Tetapi untuk ini segera harus terjadi suatu perubahan drastis dalam tubuh bayi: jalan yang ditempuh untuk peredaran darah harus diganti! Ketika masih berbentuk janin dalam kandungan, terdapat sebuah lubang pada dinding yang memisahkan rongga kiri dan rongga kanan jantung. Dinding penyekat tersebut, menahan jalan darah bayi ke paru-paru. Kalaupun ada sedikit darah yang lolos ke paru-paru, kebanyakan hanya lewat melalui sebuah pembuluh besar di luar paru-paru. Ketika bayi masih dalam kandungan, hanya kira-kira 10 persen darahnya yang mengalir melalui paru-paru. Tetapi segera setelah lahir, seluruh darah harus lewat paru-paru, dan dalam sekejap mata! Dalam waktu hanya beberapa detik sesudah lahir pembuluh besar yang lewat di samping paru-paru dengan tiba-tiba menciut, sehingga semua darah yang biasanya lewat di situ langsung mengambil jalan lain melalui paru-paru. Pada waktu yang bersamaan lubang pada dinding penyekat jantung menutup sendiri, sehingga seluruh darah yang dipompa ke luar dari rongga kanan jantung mulai mengambil jalan melalui paru-paru untuk menerima persediaan zat asam (oksigen). Maka bayi mulai bernapas dan darahnya mulai menerima persediaan zat asam. Perubahan dramatis telah terjadi dan bayi itu selamat! Begitu indahnya hal ini disimpulkan oleh si penulis Mazmur: ”Engkau . . . menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib.”—Mazmur 139:13, 14.
10. Mengingat perkembangan bayi yang demikian menakjubkan dalam kandungan, bagaimana semestinya sikap orang tua terhadap anak mereka?
10 Bukankah sepatutnya semua pasangan suami-isteri berterima kasih kepada Yehuwa atas pemberian ini? Yehuwa telah memberikan kepada mereka kesanggupan untuk menghasilkan manusia yang lain, yaitu seorang anak yang mengambil sesuatu dari masing-masing orang tuanya, tetapi hasilnya berbeda dengan mereka sendiri! Sungguh merupakan suatu ”warisan” atau ”milik pusaka dari Yehuwa”!
MENJAGA ”PUSAKA” TUHAN
11. Pertanyaan-pertanyaan apakah patut diajukan kepada diri sendiri oleh orang-orang yang ingin berkeluarga, dan mengapa?
11 Bukan saja alasan moral yang menyebabkan Allah Yehuwa melarang hubungan seks di luar perkawinan. Yehuwa juga memikirkan mengenai anak-anak yang akan dilahirkan. Anak memerlukan ayah dan ibu yang saling mencintai dan yang menaruh kasih sayang terhadap keturunan mereka. Anak yang baru lahir membutuhkan suasana hangat dan nyaman yang terdapat dalam sebuah rumah tangga. Ia membutuhkan ayah dan ibu yang menginginkan kehadirannya, dan menyediakan lingkungan di mana ia dapat bertumbuh dan memperkembangkan kepribadiannya. Suami-isteri yang merencanakan untuk mendapat anak patut bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita memang menginginkan anak itu—bukan saja secara jasmani, tetapi juga secara emosi dan rohani? Apakah kita akan mendidik anak itu dengan sepatutnya, dengan memberikan teladan baik yang dapat ditirunya? Bersediakah kita menerima tanggung-jawab sebagai orang tua dan berkorban untuk itu? Sewaktu kita masih kecil mungkin kita berpikir bahwa orang tua terlalu mengekang kita. Tetapi setelah kita sendiri menjadi orang tua, barulah kita sadar betapa pendidikan anak itu merupakan tugas yang memakan banyak waktu. Akan tetapi tanggung-jawab sebagai orang tua itu disertai banyak keriangan.
12-14. Sewaktu seorang wanita mengandung, bagaimana ia dapat menjaga kesehatan anaknya dengan (a) apa yang dimakannya? (b) sikapnya terhadap minuman keras, merokok dan obat bius? (c) mengendalikan emosinya?
12 Sekarang keputusan telah diambil—entah atas persetujuan bersama atau karena faktor alamiah. Pendeknya, anda sebagai isteri, sudah hamil. Anda harus mulai mengurusi ”milik pusaka dari Yehuwa” ini. Ada makanan yang diwajibkan, ada yang merupakan pantangan atau harus dibatasi. Yang perlu adalah makanan yang banyak mengandung zat besia karena dalam kandungan, bayi itu mengumpulkan zat besi secukupnya yang diperlukannya sampai enam bulan sesudah lahir. Anda perlu lebih banyak minum susu (keju pun baik) sehingga memperoleh zat kapur yang diperlukan bayi untuk pertumbuhan tulang-tulangnya. Dan makanan yang mengandung karbohidrat (hidrat arang)b dalam jumlah yang seimbang akan menjaga agar berat badan anda jangan terlalu berlebihan. Memang, anda harus makan untuk dua orang, tetapi ingat, yang satu itu masih sangat kecil, bukan!
13 Mungkin ada hal yang perlu dan ada yang tidak perlu anda perhatikan, tergantung bagaimana cara hidup anda. Karena minuman keras biasanya fetus (jabang bayi) terkena pengaruh alkohol. Anda perlu berhati-hati, sebab terlalu banyak alkohol dapat mengakibatkan cacat mental dan jasmani pada bayi. Banyak bayi dilahirkan dalam keadaan mabuk, karena ibunya terlalu banyak minum minuman keras. Merokok menyebabkan darah fetus tersebut terkena pengaruh nikotin, bahkan mengakibatkan karbon monoksida menggantikan oksigen dalam darah. Seringkali kesehatan bayi sudah terganggu dan sulit disembuhkan lagi sebelum lahir. Wanita perokok lebih sering mengalami keguguran atau bayinya sudah mati waktu lahir. Ibu yang ketagihan obat bius seringkali membuat bayinya juga ketagihan obat bius tersebut. Sekalipun bukan obat bius, ada juga obat yang membahayakan, misalnya mengakibatkan bayi lahir cacat. Bahkan minum kopi berlebihan diduga juga menyebabkan cedera pada anak.
14 Demikian pula, karena tekanan batin kelenjar mengeluarkan lebih banyak hormon pada seorang ibu, dan membuat fetus terlalu aktip sehingga menyebabkan bayi yang baru lahir menjadi gelisah dan terlalu banyak bergerak. Memang, bayi itu ’terlindung dalam perut ibunya,’ tetapi jangan dikira ia tidak terpengaruh sama sekali oleh dunia sekelilingnya. Bayi itu dapat terpengaruh melalui ibunya. Ibunya adalah perantara satu-satunya dengan dunia luar. Maka sang ibu yang paling menentukan apakah pengaruh itu baik atau buruk. Banyak bergantung pada cara ibu merawat diri dan bagaimana reaksinya terhadap keadaan sekelilingnya. Tentu saja ia harus banyak dibantu oleh orang lain yang berhubungan dengannya. Terutama sekali ia membutuhkan kasih sayang dan perhatian suaminya.—Periksa juga 1 Samuel 4:19.
KEPUTUSAN YANG HARUS ANDA AMBIL
15, 16. Keputusan apa yang harus diambil berkenaan tempat dan cara melahirkan?
15 Apakah anda ingin melahirkan di rumah sakit atau di rumah saja? Kadang-kadang tidak banyak pilihan. Di banyak daerah bahkan tidak ada rumah sakit. Di daerah tertentu mungkin jarang sekali orang melahirkan di rumah sendiri, sebab menghadapi beberapa risiko karena tidak ada orang berpengalaman untuk membantu, misalnya seorang bidan. Sedapat mungkin, usahakan agar memeriksakan diri ke dokter selama mengandung, untuk mengetahui apakah kelahiran akan berjalan lancar atau akan ada komplikasi.
16 Apakah anda akan melahirkan dalam keadaan dibius, ataukah secara alamiah? Anda sebagai suami-isteri harus mengambil keputusan, dengan menimbang untung-ruginya. Melahirkan secara alamiah, mungkin akan mengikut-sertakan suami dalam peristiwa penting ini. Segera setelah dilahirkan, bayi biasanya dibaringkan bersama ibunya. Sebagian orang percaya bahwa kelahiran cara alamiah ini lebih baik, asal saja pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa tidak akan terjadi komplikasi. Menurut beberapa ahli riset bayi-bayi yang dilahirkan secara alamiah dalam suasana yang tenang lebih sedikit mengalami gangguan emosi dan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh gangguan pikiran.
17-19. Bagaimana kesimpulan ahli-ahli riset mengenai keuntungan yang diperoleh jika bayi segera dibaringkan bersama ibunya sesudah lahir?
17 Dalam majalah Psychology Today edisi bulan Desember 1977 dikatakan:
”Selama puluhan tahun para ahli psikologi sudah menyadari bahwa tahun pertama kehidupan seorang bayi paling banyak menentukan perkembangan mental dan fisiknya di kemudian hari. Sekarang terdapat kesan bahwa bahkan hari pertama—atau bahkan 60 menit pertama—sudah langsung menentukan. Hubungan emosi antara ibu dan anak yang mulai terjalin, dan bagaimana kasih sayang yang mulai ditunjukkan ibu, istimewa penting sesudah kelahiran. Hasil-hasil penelitian baru-baru ini juga menunjukkan bahwa jam-jam yang pertama banyak menentukan sikap ibu terhadap sang anak, bagaimana kuatnya ikatan antara ibu dan anak, dan bagaimana kemampuannya sebagai ibu.”
18 Jika sang ibu tidak mengalami pembiusan selama melahirkan, bayi itu biasanya lebih cerdas dan waspada, matanya terbuka, memperhatikan sekelilingnya, mengikuti gerakan-gerakan yang terjadi, memalingkan diri ke arah suara-suara orang. Terutama sekali ia memperhatikan suara wanita yang melengking tinggi. Pandangan mata segera terjadi antara ibu dan anak. Rupa-rupanya ini penting , dan menurut beberapa hasil penelitian dikatakan bahwa ibu-ibu merasa lebih mesra terhadap bayinya, sekali bayi itu sudah memandang mereka. Demikian juga kontak badan, kulit bertemu kulit, antara ibu dan anak langsung sesudah bayi dilahirkan bermanfaat bagi keduanya.
19 Menurut para ahli riset banyak masalah yang dialami bayi-bayi di rumah sakit setelah diselidiki ternyata kadang-kadang diakibatkan sesuatu yang terjadi pada jam-jam pertama kehidupan bayi itu. Setelah membandingkan bayi-bayi yang lahir di rumah sakit menurut prosedur yang lazim dengan bayi-bayi lain yang langsung dibaringkan bersama ibunya, menunjukkan bahwa sesudah sebulan bayi-bayi yang dilahirkan secara alamiah mempunyai kelebihan. ”Bahkan lebih hebat lagi,” kata majalah Psychology Today, ”pada usia lima tahun anak-anak yang pada saat kelahirannya mengalami kontak lama dengan ibunya, ternyata IQnya [tingkat kecerdasan] jauh lebih tinggi dan lebih unggul dalam tes-tes bahasa dibandingkan dengan anak-anak yang lahir dengan prosedur rumah sakit pada umumnya.”
20. Untuk mengambil keputusan bijaksana dalam hal ini, hal-hal apa lagi yang perlu dipertimbangkan?
20 Akan tetapi, dalam semua hal ini, kita harus mempertimbangkan keadaan. Kita tak boleh lupa bahwa dari nenek moyang yang pertama kita mewarisi ketidaksempurnaan. Jadi apa yang dikatakan ”kelahiran alamiah” itu mungkin tidak seratus persen alamiah lagi, dan cacat kelemahan yang kita warisi itu dapat menimbulkan masalah. (Kejadian 3:16; 35:16-19; 38:27-29) Apa pun keputusan yang anda ambil, pertimbangkan keadaan dan lakukan apa yang menurut anda paling bijaksana, tidak soal apakah kelahiran itu ”ideal” menurut anggapan orang lain atau tidak.
21, 22. Apa saja manfaatnya jika bayi mendapat air susu ibu?
21 Apakah anda akan menyusukan sendiri bayi anda? Ini besar manfaatnya bagi anda dan bayi anda. Air susu ibu adalah makanan yang paling baik untuk bayi. Mudah dicernakan dan melindungi terhadap infeksi, gangguan perut dan gangguan pernapasan. Pada hari-hari pertama payudara mengeluarkan zat colostrum. Ini suatu cairan yang agak kekuningan yang memang cocok untuk bayi, karena (1) mempunyai kadar lemak dan karbohidrat yang rendah, sehingga lebih mudah dicernakan, (2) lebih banyak mengandung bahan-bahan imunisasi (kekebalan terhadap penyakit) dibandingkan dengan susu ibu yang keluar beberapa hari sesudahnya, dan (3) mempunyai efek mencuci perut, sehingga memudahkan pembuangan sel-sel, lendir dan kotoran yang terkumpul dalam dubur sebelum bayi tersebut lahir.
22 Bila ibu menyusukan sendiri bayinya, ia juga menerima faedah. Ini akan mengurangi pendarahan pada ibu, karena isapan bayi merangsang rahim untuk menciut kembali. Isapan bayi juga merangsang payudara untuk mengeluarkan lebih banyak susu. Banyak ibu yang kuatir akan kekurangan susu ternyata cukup. Bila bayi secara teratur menyusu, kadang-kadang proses pembuahan dan masa haid dihentikan untuk sementara waktu, sehingga secara alamiah dapat mencegah kelahiran lagi secara beruntun. Dan menurut Lembaga Kanker Amerika ”ibu-ibu yang menyusui bayinya, lebih jarang mengalami kanker payudara.” Selain itu, lebih menghemat anggaran belanja jika bayi mendapat air susu ibu!
PERKEMBANGAN ANAK—BAGAIMANA ANDA AKAN MEMBIDIKKAN ANAK PANAH?
23. Prinsip-prinsip apa berkenaan pendidikan anak yang terkandung dalam Mazmur 127:4, 5?
23 ”Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu.” (Mazmur 127:4, 5) Kegunaan anak panah itu dinilai dari kepandaian orang membidikkan anak panah tersebut dengan busurnya. Untuk mengenai sasaran, orang harus membidik dengan hati-hati dan tepat. Demikian juga, sebagai orang tua anda perlu sekali memikirkan bagaimana memulai kehidupan anak anda dengan baik, disertai doa dan hikmat kebijaksanaan. Apakah anak anda kelak akan meninggalkan rumah sebagai orang dewasa yang matang dan bijaksana, direspek orang-orang lain dan memuliakan Allah?
24. (a) Suasana rumah tangga yang bagaimana perlu diusahakan oleh orang tua bagi anak-anak mereka? (b) Mengapa ini penting?
24 Sebelum bayi itu lahir, orang tua harus mengambil keputusan bagaimana mereka akan merawat dan mendidiknya. Satu-satunya dunia kehidupan si bayi adalah orang tuanya. Dunia macam apakah yang anda ciptakan? Apakah dunia kehidupan anak itu memperlihatkan bahwa orang tua menghayati nasihat Firman Allah: ”Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Efesus 4:31, 32) Entah bagaimana suasana rumah tangga, hal itu akan dipantulkan dalam kehidupan si anak. Usahakanlah supaya dunia anak anda penuh damai dan aman sentosa, penuh kehangatan dan kasih. Bayi yang mendapat kasih sayang akan menyerap sifat-sifat ini yang akan menentukan emosi-emosinya. Anak itu akan merasakan apa yang anda rasakan, ia akan meniru contoh yang anda berikan. Perkembangan bayi dalam kandungan diatur secara menakjubkan oleh hukum-hukum genetika dari Pencipta kita. Tetapi bagaimana perkembangan anak itu di luar kandungan, setelah anda menanganinya? Banyak bergantung kepada suasana rumah tangga anda. Pengaruhnya sama besar seperti gen, yang menentukan orang dewasa macam apa itu kelak. ”Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”—Amsal 22:6.
25, 26. Mengapa patut bagi orang tua untuk memberikan banyak waktu dan perhatian kepada anak-anak mereka?
25 Manusia, baik pria maupun wanita, tidak dapat membuat daun rumput sehelai pun. Tetapi bersama-sama mereka dapat menghasilkan satu manusia lain, yang lebih rumit dan berbeda dari orang-orang lain yang ada di dunia! Alangkah menakjubkan hal ini! Begitu menakjubkan sehingga hampir-hampir sulit untuk dipercaya mengapa banyak orang dewasa ini, tidak melihat betapa sucinya tanggung-jawab yang menyertainya! Untuk memelihara sebuah taman yang indah, kita menanam bunga, menyiraminya, memberi pupuk dan mencabut lalang. Tidakkah sepatutnya kita menggunakan lebih banyak waktu dan berusaha lebih keras untuk mengembangkan kepribadian yang indah dalam diri anak-anak?
26 Orang yang sudah menikah tentu berhak mendapat anak. Demikian juga anak mereka berhak mempunyai orang tua, bukan dalam nama saja tetapi dengan sesungguhnya. Boleh saja seorang Kristen menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk membagikan pengetahuan Alkitab guna menjadikan seorang murid, padahal tidak selalu berhasil. Tidakkah sepatutnya orang tua Kristen menggunakan bahkan lebih banyak waktu untuk ’mendidik mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan’? (Efesus 6:4) Jika orang tua mendidik seorang anak untuk menjadi hamba yang baik dari Pemberi hidup, Allah Yehuwa, tidakkah hal itu dapat dibanggakan? Hanya dengan cara itulah dapat dikatakan bahwa seseorang menerima berkat karena mempunyai anak.—Amsal 23:24, 25.
27. Mengapa dalam mengatur perkembangan anak, orang tua harus mempertimbangkan kepribadian anak itu sendiri?
27 Mazmur 128:3 mengumpamakan anak-anak seperti tanaman zaitun: ”Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu.” Bagaimana pertumbuhan sebuah pohon ditentukan oleh caranya pohon itu dirawat. Ada yang dibiarkan tumbuh pada dinding. Yang lainnya dibiarkan tumbuh rendah di atas tanah. Yang lain lagi sengaja dibiarkan kecil dan kerdil dengan memotong-motong akarnya, seperti caranya orang memelihara tanaman bonsai. Suatu peribahasa kuno dalam bahasa Inggris menunjukkan bagaimana pendidikan semasa kecil akan membentuk seorang anak: ”Tumbuhnya sebatang pohon bergantung pada condongnya ranting.” Di sini kita perlu memakai akal sehat. Memang betul anak itu membutuhkan bimbingan tertentu, sehingga ia mengikuti patokan-patokan yang baik. Tetapi itu tidak berarti anak itu harus memenuhi suatu gambaran cita-cita yang ideal dari orang tuanya, sehingga menghasilkan kepribadian tertentu. Pohon zaitun mustahil menghasilkan buah ara. Bimbinglah anak itu dengan baik, tetapi jangan dipaksa untuk mengikuti suatu ”cetakan” tertentu. Sebab dengan demikian akan mengekang kepribadiannya sendiri, sehingga bakat-bakatnya tidak dapat berkembang secara wajar. Anda harus sabar menunggu sampai anda mulai mengenal anak yang anda hasilkan itu. Kemudian seperti tanaman yang masih kecil, berikan kepada anak anda bimbingan yang cukup kuat untuk melindungi dan mengarahkannya dengan baik, namun cukup lembut sehingga tidak mengekang perkembangannya menjadi sempurna dalam kemampuannya.
KARUNIA DARI YEHUWA
28. Bagaimana kita dapat menarik manfaat dari keterangan di Kejadian 33:5, 13, 14 mengenai perhatian Yakub kepada anak-anaknya?
28 Yakub di zaman dulu seorang yang selalu memikirkan kesejahteraan anak-anaknya. Pernah mereka membicarakan suatu rencana perjalanan yang harus ditempuh dengan segera, sehingga mungkin terlalu berat bagi anak-anaknya. Maka Yakub mengatakan kepada orang yang mengusulkan perjalanan itu: ”Tuanku maklum, bahwa anak-anak ini masih kurang kuat, dan bahwa beserta aku ada kambing domba dan lembu sapi yang masih menyusui, jika diburu-buru, satu hari saja, maka seluruh kumpulan binatang itu akan mati. Biarlah kiranya tuanku berjalan lebih dahulu dari hambamu ini dan aku mau dengan hati-hati beringsut maju menurut langkah hewan, yang berjalan di depanku dan menurut langkah anak-anak, sampai aku tiba pada tuanku di Seir.” Beberapa waktu sebelum itu ketika menemui Esau, saudaranya, ia ditanyakan, ”Siapakah orang-orang yang beserta engkau itu?” Maka Yakub menjawab: ”Anak-anak yang telah dikaruniakan Allah kepada hambamu ini.” (Kejadian 33:5, 13, 14) Demikian juga para orang tua zaman sekarang hendaknya bukan saja memikirkan kesejahteraan anak-anak sama seperti dia—sebagai karunia dari Yehuwa. Tentu saja orang perlu memikirkan sebelum kawin apakah ia dapat menunjang seorang isteri dan anak-anak. Alkitab menasihatkan: ”Selesaikanlah pekerjaanmu di luar, siapkanlah itu di ladang; baru kemudian dirikanlah rumahmu.” (Amsal 24:27) Selaras dengan nasihat praktis ini, orang hendaknya mengadakan persiapan sebelumnya untuk perkawinan dan kehidupan keluarga. Dengan demikian, biarpun isteri mulai mengandung di luar rencana semula, kehadiran anak akan disambut dengan gembira dan tidak ditakuti, seolah-olah suatu beban keuangan.
29. Mengapa jauh sebelumnya perlu dipikirkan sungguh-sungguh apa yang tersangkut bila mempunyai anak-anak?
29 Soal mendapat anak-anak jelas perlu dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh. Bukan saja anak yang pertama, tetapi juga bagaimana kalau ada yang lain sesudah itu. Apakah orang tua mengalami kesulitan untuk memberi makan, merawat dan mendidik anak-anak mereka yang sudah ada? Jika demikian, demi untuk menghormati Pencipta dan demi menjaga kemurnian kasih mereka, seharusnya orang tua memikirkan juga sampai di mana mereka perlu mengendalikan diri, sehingga jangan terlalu cepat menambah anak.
30. (a) Mengapa dapat dikatakan bahwa sebenarnya anak-anak itu milik Allah? (b) Bagaimana ini semestinya mempengaruhi sikap orang tua?
30 Sesungguhnya milik siapakah anak-anak itu? Tentu saja milik anda. Tetapi dalam hal lain anak itu milik Pencipta. Anda diberi kepercayaan untuk merawat anak itu sebagaimana orang tua anda juga diberi kepercayaan untuk memelihara anda sewaktu masih anak. Tetapi itu tidak berarti bahwa anda adalah milik orang tua yang boleh diperlakukan dengan semena-mena. Demikian juga anak anda tidak boleh diperlakukan demikian. Pembuahan benih dan perkembangan bayi dalam kandungan terjadi di luar kekuasaan orang tua. Mereka bahkan tidak dapat melihat atau mengerti sepenuhnya seluruh rangkaian proses yang menakjubkan yang terjadi. (Mazmur 139:13, 15; Pengkhotbah 11:5) Seandainya terjadi keguguran atau anak itu lahir dalam keadaan mati, orang tua tidak berdaya menghidupkan kembali anak yang sudah mati itu. Maka, kita perlu dengan rendah hati mengakui bahwa Allah adalah Pemberi-Hidup dari kita semua, dan karena itu kita semua adalah milik-Nya: ”TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.”—Mazmur 24:1.
31, 32. (a) Bagaimana tanggung-jawab orang tua di hadapan hadirat Allah? (b) Apa hasilnya jika orang tua menunaikan tanggung-jawab itu dengan baik?
31 Anda bertanggungjawab atas anak-anak yang anda bawa ke dalam dunia, dan anda bertanggungjawab kepada Pencipta mengenai cara bagaimana anda membesarkan mereka. Dia yang menciptakan bumi, dengan maksud tujuan untuk dihuni. Dan Ia melengkapi nenek moyang kita yang pertama dengan kesanggupan berkembang biak demi memenuhi maksud tersebut. Karena mereka menyeleweng, mereka berada di pihak Musuh yang menantang hak Allah untuk berdaulat atas seluruh keluarga besar makhluk ciptaan-Nya di surga dan di bumi. Dengan mendidik anak-anak anda menjadi orang yang memiliki integritas terhadap Pencipta mereka, anda dan keluarga anda dapat membuktikan bahwa Musuh itu jahat dan Allah Yehuwa yang benar. Seperti dikatakan Amsal 27:11: ”Anakku, hendaklah engkau bijak, sukakanlah hatiku, supaya aku dapat menjawab orang yang mencela aku.”
32 Dengan memenuhi kewajiban terhadap anak-anak anda, demikian juga kewajiban anda terhadap Allah, anda merasakan kepuasan yang sejati dalam hidup ini. Dengan penuh penghargaan anda dapat membenarkan apa yang dikatakan di Mazmur 127:3: ”Buah kandungan adalah suatu upah [berkat, NW].”
[Catatan Kaki]
a Misalnya daging, sayur-sayuran yang berwarna hijau dan kuning.
b Termasuk makanan yang mengandung banyak zat tepung dan juga banyak gula.
[Gambar di hlm. 94]
Keakraban sekarang menghindari jurang pemisah kelak
-
-
Peranan Anda Sebagai Orang TuaMembina Keluarga Bahagia
-
-
Pasal 8
Peranan Anda Sebagai Orang Tua
1-3. (a) Bagaimana pengaruh lahirnya seorang bayi atas kehidupan orang tua? (b) Mengapa penting bagi ayah maupun ibu untuk mengerti peranan masing-masing sebagai orang tua?
DALAM kehidupan banyak hal yang terjadi tidak selalu berkesan. Tetapi kejadian-kejadian tertentu besar dan lama pengaruhnya. Lahirnya seorang bayi misalnya. Setelah saat itu kehidupan tidak sama lagi bagi suami-isteri. Biar kecil mungil, kini ada orang baru di rumah yang mulai kedengaran suaranya, dan yang kehadirannya tak boleh diabaikan.
2 Semestinya kehidupan makin indah dan bahagia bagi orang tua. Tetapi kini mereka menghadapi suatu tantangan, dan untuk mencapai hasil yang baik, tantangan itu harus ditanggulangi oleh kedua orang tua. Karena anda berdualah lahir seorang anak, dan anda berdua memainkan peranan penting dalam pertumbuhan bayi sejak lahir sampai seterusnya. Terlebih-lebih sekarang perlu bagi anda berdua untuk bekerja sama secara ikhlas—dan rendah hati.
3 Untuk dapat memenuhi kebutuhan bayi anda, demi kebahagiaannya kiranya perlu bagi orang tua untuk mengerti peranan masing-masing dan bagaimana peranan tersebut harus saling mengisi. Dibutuhkan suatu keseimbangan. Memang manusia senang menggunakan akal pikiran. Tetapi begitu sering keadaannya menjadi terbalik karena terpengaruh emosi atau perasaan. Seringkali manusia cenderung untuk ekstrim, dari terlalu sedikit menjadi terlalu berkelebihan, kemudian kembali lagi terlalu sedikit. Memang semestinya ayah berperan sebagai kepala keluarga, tetapi jika terlalu berlebihan mungkin ia seperti diktator. Adalah baik jika ibu juga turut berperan dalam mendidik dan mendisiplin anak-anak. Tetapi jika ia mengambil alih seluruh tugas suaminya dalam hal ini, maka jelas hubungan dalam keluarga tidak wajar lagi. Sesuatu hal mungkin baik, tetapi jika berlebihan dapat menjadi buruk.—Filipi 4:5.
PERANAN IBU SANGAT MENENTUKAN
4. Hal-hal apa saja yang dibutuhkan seorang bayi dari ibunya?
4 Bayi yang baru lahir tergantung sepenuhnya kepada ibunya untuk kebutuhan yang langsung. Jika ibu memenuhi kebutuhannya dengan penuh kasih sayang, bayi merasa aman. (Mazmur 22:9, 10) Bayi itu harus diberi makan dengan baik, dijaga kebersihannya dan tetap hangat. Tetapi bukan saja kebutuhan jasmaninya yang perlu diperhatikan. Kebutuhan emosinya tidak kalah penting. Jika bayi tidak merasakan belaian kasih, ia mulai merasa tidak aman. Seorang ibu segera dapat mengetahui seberapa besar kebutuhan bayinya, begitu bayi itu menangis minta perhatian. Tetapi jika tangisannya selalu dianggap sepi ia dapat jatuh sakit. Jika kebutuhan emosinya cukup lama tidak dipenuhi, kemungkinan ia akan mengalami gangguan emosi seumur hidupnya.
5-7. Menurut hasil penyelidikan baru-baru ini bagaimana pertumbuhan bayi dipengaruhi oleh kasih sayang dan perhatian ibunya?
5 Percobaan-percobaan di berbagai negeri menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: Bayi-bayi akan menjadi sakit dan bahkan mati jika kekurangan kasih, yang diperlihatkan dengan diajak bicara dan dipegang, atau dibelai dan disayang. (Periksa juga Yesaya 66:12; 1 Tesalonika 2:7.) Boleh saja orang lain melakukan ini, tetapi tak disangkal lagi yang paling tepat harus melakukan ini adalah ibunya. Dalam kandungan ibunya bayi itu mulai dan bertumbuh selama bulan-bulan yang pertama. Terdapat suatu jalinan hubungan alamiah antara ibu dan anak. Ibu secara naluriah ingin mendekap bayi yang baru lahir itu ke dadanya, dan bayi pun mencari dada ibunya.
6 Menurut penyelidikan para ahli, otak bayi cukup giat bekerja dan perkembangan mentalnya lebih pesat jika seluruh panca inderanya dirangsang, yaitu dengan meraba, mendengar, melihat dan mencium. Pada waktu minum susu ibu, bayi merasakan kehangatan dan bau kulit ibunya. Seraya minum matanya terus menatap wajah ibunya. Ia bukan saja mendengar suara ibunya di waktu sedang bicara atau menyanyikan lagu baginya. Ia juga mendengarkan denyutan jantung ibu, yaitu suatu suara yang selama ini didengarnya ketika masih berada dalam kandungan. Dalam suatu penerbitan di Norwegia, Anne-Marit Duve, seorang ahli psikologi anak menulis:
”Karena gerakan-gerakan biji-mata jelas menunjukkan sedikit-banyaknya kerja otak, kami menarik kesimpulan bahwa melalui rangsangan sentuhan pada kulit, dengan sering adanya kontak badan—apalagi kontak badan yang dialami pada waktu bayi menyusu—kegiatan mental anak dapat dirangsang, sehingga meningkatkan kemampuan otaknya sewaktu menjadi dewasa.”
7 Demikianlah jika bayi sering merasakan sentuhan ibunya yaitu pada waktu ia diangkat dan dipeluk-peluk atau pada waktu ia dimandikan dan dikeringkan dengan handuk, rangsangan yang ia peroleh memainkan peranan besar dalam pertumbuhannya dan akan menjadi orang macam apa dia kelak. Memang siapa yang senang dibangunkan waktu tengah malam untuk menimang-nimang bayi yang menangis? Tetapi dengan mengetahui betapa besar manfaatnya bagi si anak di kemudian hari terhibur juga hati orang tua, kendatipun kehilangan waktu tidur.
MULAI MENGENAL KASIH KARENA MERASA DIKASIHI
8-10. (a) Apa yang dipelajari oleh bayi dari kasih sayang ibunya? (b) Mengapa ini penting?
8 Bayi harus merasakan kasih sayang. Ini penting sekali untuk perkembangan emosinya. Ia belajar untuk mengasihi karena merasa dikasihi, karena sering melihat contoh kasih sayang. Bicara soal kasih kepada Allah, 1 Yohanes 4:19 berkata: ”Kita mengasihi sebab Allah terlebih dahulu sudah mengasihi kita.” Pelajaran permulaan mengenai kasih terutama mulai diberikan oleh ibu. Sang ibu membungkukkan badan atas bayinya, menaruh tangannya di dada si bayi dan menggoyang-goyangkannya dengan lembut sambil mendekatkan mukanya ke muka si bayi, lalu berkata: ”Cilukba! Cilukba!” Kira-kira maksudnya, ’Aku melihatmu!’ Tentu saja si bayi tidak mengerti kata-kata (dan memang tidak terlalu masuk akal). Tetapi si bayi menggerak-gerakkan seluruh badan dan tertawa senang, karena ia mengenal tangan yang mengajaknya main-main. Ia mengenal nada suara itu, yang baginya mempunyai arti, ’Aku sayang padamu! Aku sayang padamu!’ Ia merasa lebih percaya dan tenang.
9 Bayi-bayi dan anak kecil yang mendapat kasih sayang sungguh menghargainya. Dan untuk meniru kasih sayang demikian, anak itu mulai mencobanya sendiri. dengan tangannya yang mungil ia memeluk leher ibunya dan mengecupnya dengan penuh semangat. Begitu senangnya dia atas sambutan hangat yang diberikan oleh ibu. Mereka mulai belajar bahwa kebahagiaan datangnya karena memberikan kasih sayang, demikian juga karena menerimanya, dan bahwa dengan menaburkan kasih sayang mereka akan mendapatkan kembali kasih sayang. Betapa pentingnya pelajaran ini! (Kisah 20:35; Lukas 6:38) Bukti-bukti menunjukkan bahwa di kemudian hari anak itu akan sulit sekali memupuk hubungan batin yang akrab dan mesra dengan orang lain, jika tidak merasakan hubungan mesra dengan ibunya sejak kecil.
10 Karena anak-anak mulai belajar segera sesudah dilahirkan, tahun-tahun pertama kehidupannya merupakan yang paling penting. Dalam tahun-tahun tersebut kasih sayang ibu banyak menentukan. Jika ia berhasil menunjukkan dan mengajarkan kasih sayang—bukan memanjakan—ia menghasilkan kebaikan untuk seterusnya. Jika gagal mengakibatkan kerugian untuk seterusnya. Bagi seorang wanita tidak ada tugas yang lebih mulia dan memberi tantangan daripada menjadi seorang ibu yang baik. Memang bukan pekerjaan mudah, tetapi ”karier” hidup manakah yang dapat menandingi pekerjaan tersebut untuk mengisi hidup ini penuh dengan kebahagiaan yang tidak hanya berlangsung sebentar?
PERANAN AYAH PENTING
11. (a) Bagaimana seorang ayah dapat mengesankan peranannya dalam pikiran si anak? (b) Mengapa ini penting?
11 Memang sewajarnya bahwa pada permulaan ibu memainkan peranan lebih besar dalam kehidupan anak. Tetapi sejak saat bayi itu lahir dan seterusnya ayah perlu memainkan peranan pula dalam kehidupan anak. Sekalipun anaknya masih bayi, ayah harus turut berperan dengan sewaktu-waktu juga mengurusi anak itu, bermain-main dengannya, dan menghiburnya bila menangis. Dengan demikian peranan ayah mulai berkesan dalam pikiran anak. Berangsur-angsur peranan ayah dalam kehidupan anak itu akan bertambah besar. Jika ayah terlambat mulai, ini dapat menimbulkan masalah yang biasanya baru terlihat setelah anak itu menjadi remaja dan lebih sulit untuk mendisiplin dia. Terutama pada usia remaja seorang anak lelaki mungkin membutuhkan bantuan ayahnya. Tetapi jika selama itu belum tercipta hubungan baik antara mereka, bagaimana mungkin bahwa jurang yang timbul selama bertahun-tahun dapat dijembatani dalam waktu hanya beberapa minggu.
12, 13. (a) Bagaimana peranan ayah dalam keluarga? (b) Bagaimana sikap hormat anak-anak terhadap wewenang bisa dipengaruhi oleh cara ayah menunaikan kewajibannya dengan sepatutnya?
12 Tidak soal apakah anaknya lelaki atau perempuan, pengaruh sifat-sifat pria dari sang ayah banyak berpengaruh atas perkembangan jiwa anak yang sehat dan seimbang. Menurut Firman Allah ayah adalah kepala keluarga. Ia bertanggung-jawab untuk menyediakan kebutuhan jasmani mereka. (1 Korintus 11:3; 1 Timotius 5:8) Namun demikian ”manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.” Berkenaan anak-anaknya, sang ayah diwajibkan untuk ”mendidik mereka dengan peraturan dan pengajaran Tuhan.” (Ulangan 8:3; Efesus 6:4, BIS) Dalam hal ini ia terdorong oleh kasih sayangnya yang wajar terhadap anak. Tetapi lebih penting lagi karena rasa tanggung-jawab terhadap sang Pencipta, ia akan berusaha sungguh-sungguh untuk menunaikan kewajiban yang diberikan kepadanya oleh Allah.
13 Di samping kehangatan, kelembutan dan kasih sayang yang dinyatakan oleh ibu, pengaruh ayah memantapkan jiwa anak karena mengandung kekuatan dan menyediakan bimbingan yang bijaksana. Cara ayah menjalankan tugasnya membawa pengaruh besar atas sikap hormat anak itu kelak terhadap orang lain dan terhadap Allah. Dan bagaimana anak itu dapat dengan mudah bekerja di bawah perintah orang lain tanpa mengomel atau membangkang.
14. Bagaimana teladan baik dari ayah berpengaruh atas putera atau puterinya?
14 Jika anaknya lelaki, teladan yang diberikan ayah dan cara bagaimana ia menangani segala hal, besar pengaruhnya untuk menentukan apakah anak itu menjadi orang yang lemah, tidak berpendirian, atau orang yang berjiwa jantan, mantap, penuh keyakinan dan tidak takut memikul tanggung-jawab. Hal ini banyak menentukan macam suami atau ayah yang bagaimana anak itu jadinya di kemudian hari. Apakah yang kaku, kasar dan keras kepala, atau yang seimbang, mempunyai daya pertimbangan dan budi bahasa yang baik. Jika anaknya perempuan, pengaruh dan hubungan ayah terhadapnya banyak menentukan sikap anak itu terhadap kaum pria pada umumnya. Dan ini dapat membantu atau dapat juga menghalangi dia untuk mendapatkan kebahagiaan dalam perkawinan. Pengaruh ayah langsung memainkan peranan sejak bayinya lahir.
15, 16. (a) tanggung-jawab apa sebagai pengajar yang diletakkan di atas bahu seorang ayah? (b) Bagaimana tanggung-jawab ini dapat dilakukan?
15 Betapa luas kewajiban sang ayah untuk mengajar anak-anaknya, diperlihatkan dalam perintah Allah kepada umat-Nya di Ulangan 6:6, 7: ”Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”
16 Yang harus tiap hari ditanamkan dalam pikiran anak itu bukan hanya kata-kata yang terdapat dalam Firman Allah, melainkan juga maknanya. Kesempatan untuk melakukan itu cukup banyak. Bunga di taman, serangga yang terbang, burung atau tupai yang bertengger di pohon, kulit kerang di pantai, pohon cemara di gunung, bintang yang berkelap-kelip di langit—semua keajaiban alam ini bicara mengenai adanya Pencipta, dan andalah yang harus menerangkannya kepada anak anda. Penggubah mazmur berkata: ”Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.” (Mazmur 19:1, 2) Ayah harus selalu siap untuk menyelipkan soal-soal kehidupan sehari-hari sebagai contoh untuk menandaskan prinsip-prinsip yang benar. Dengan demikian ia menanamkan dasar yang paling utama untuk masa depan anak itu ke dalam pikiran dan hatinya: keyakinan bukan saja bahwa Allah itu ada, tetapi juga bahwa ”Allah memberi upah [pahala, NW] kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”—Ibrani 11:6.
17, 18. (a) Bagaimana caranya seorang ayah mendisiplin anak-anaknya? (b) Cara manakah lebih baik daripada membuat banyak peraturan?
17 Disiplin juga merupakan sebagian dari peranan seorang ayah. ”Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar [didisiplin, NW] oleh ayahnya?” demikian pertanyaan dalam Ibrani 12:7. Tetapi ia harus berhati-hati untuk jangan bertindak keterlaluan, dengan selalu mencari kesalahan anaknya sehingga mengganggu pikiran dan menimbulkan kejengkelan anak. Kepada kaum bapa Firman Allah berkata: ”Janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” (Kolose 3:21) Larangan-larangan tertentu memang perlu, tetapi jika sudah terlalu banyak justru menjadi beban dan membuat kecil hati.
18 Kaum Farisi zaman dulu suka sekali membuat bermacam-macam peraturan. Begitu banyak peraturannya, sehingga menghasilkan banyak sekali orang munafik. Memang sudah suatu kelemahan manusia sehingga selalu berpikir bahwa suatu masalah dapat dipecahkan cukup dengan mengeluarkan peraturan tambahan. Tetapi menurut pengalaman rupanya yang lebih penting adalah untuk menggugah hati seseorang. Karena itu janganlah gunakan terlalu banyak peraturan. Sebaliknya, cobalah tanamkan prinsip-prinsip dan pilihlah sasaran yang sama seperti Allah: ”Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka.”—Ibrani 8:10.
AYAH DAN IBU HARUS BEKERJA SAMA
19. Apa yang dapat dilakukan untuk menjaga komunikasi yang baik dalam keluarga?
19 Biasanya sang ayah yang mencari nafkah dan bila pulang kerja mungkin ia sudah lelah, padahal masih ada tugas lain yang menunggunya di rumah. Namun demikian ia perlu menyisihkan waktu untuk isteri dan anak-anak. Ia harus bergaul dengan keluarganya, menyediakan waktu tertentu untuk diskusi keluarga dan kegiatan bersama, juga untuk hiburan dan rekreasi bersama. Dengan demikian ia membina keutuhan dan kesetiaan dalam keluarga. Boleh jadi memang, sebelum ada anak suami-isteri pergi jalan-jalan. Tetapi mereka tidak boleh demikian terus, sebentar lari ke sana, sebenar lari ke sini dan mungkin sampai jauh malam. Sebab ini berarti melalaikan tugas sebagai orang tua. Tidak adil terhadap anak-anak mereka. Cepat atau lambat, orang tua akan menanggung akibatnya jika mereka hidup serba tidak teratur dan mengabaikan tanggung-jawab. Sama seperti orang dewasa, anak lebih senang jika hidupnya cukup stabil dan teratur. Hal ini membantu kesehatan mental, jasmani dan emosi mereka. Tanpa dibuat lebih parah oleh orang tua demikian, jadwal kehidupan keluarga sehari-hari saja sudah cukup memusingkan.—Periksa Matius 6:34; Kolose 4:5.
20. Bila mendisiplin anak-anak, bagaimana ayah dan ibu dapat menjaga kerja sama yang baik?
20 Ayah dan ibu harus bekerja sama dalam hal menghadapi anak-anak, mengajar mereka, memberikan larangan-larangan tertentu, mendisiplin mereka, mencintai mereka. ’Rumah tangga yang terbagi tidak dapat bertahan.’ (Markus 3:25) Sebaiknya orang tua membicarakan bersama-sama disiplin yang harus ditegakkan. Dengan demikian anak-anak tidak melihat suatu selisih pendapat apapun di antara mereka mengenai disiplin. Jika anak melihat tidak ada persesuaian orang tua, anak dapat ”mengadu domba” orang tua. Memang, sekali waktu mungkin saja salah satu orang tua bereaksi terlalu cepat atau naik darah dan menjalankan disiplin yang terlalu keras. Atau mungkin setelah seluruh duduk perkaranya jelas ternyata disiplin yang diberikan itu sebenarnya tidak perlu. Barangkali hal ini dapat dibicarakan antara empat mata oleh orang tua, kemudian pihak yang sempat bertindak kurang bijaksana itu dapat mengambil langkahnya sendiri untuk memperbaiki kesalahan. Bila pembicaraan antara empat mata ini tidak mungkin dilakukan oleh orang tua, sedangkan pihak orang tua yang lain merasa kurang adil untuk begitu saja membela teman hidupnya yang telah salah langkah, mungkin ia dapat mengatakan begini: ’Aku mengerti mengapa kamu merasa jengkel, sebab aku pun akan merasa jengkel jika hal itu terjadi pada diriku. Tetapi mungkin juga ada sesuatu yang lain yang tidak kausadari, yaitu . . .’ Cara ini dapat menenangkan suasana tanpa orang tua harus bertengkar atau saling menyalahkan di hadapan anak yang dihukum itu. Seperti kata Amsal yang terilham: ”Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat.”—Amsal 13:10; periksa juga Pengkhotbah 7:8.
21. Apakah disiplin hanya menjadi tanggung-jawab salah satu orang tua? Mengapa demikian?
21 Menurut Alkitab Ibrani [Perjanjian Lama], menghukum atau mendisiplin anak itu termasuk tugas kedua orang tua: ”Hai anakku, dengarkanlah didikan [NW: disiplin] ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu.” Demikian juga menurut Alkitab Yunani [Perjanjian Baru]: ”Anak-anak! Adalah kewajibanmu sebagai pengikut Kristus untuk taat kepada ibu-bapakmu, karena itulah yang seharusnya kalian lakukan.” Kadang-kadang sang ayah beranggapan bahwa mendisiplin anak merupakan tugas isterinya. Atau ada juga isteri yang mempunyai pandangan terbalik dan hanya sekedar mengancam anak yang nakal dengan kata-kata, ’Awas nanti saya lapor setelah ayahmu pulang!’ Sebenarnya, supaya keluarga dapat bahagia dan ayah maupun ibu sama-sama mendapat kasih sayang dan respek dari anak-anak mereka, tugas untuk mendisiplin anak-anak itu berlaku untuk kedua belah pihak.—Amsal 1:8; Efesus 6:1, BIS.
22. Hal apa yang sebaiknya dihindarkan bila anak meminta sesuatu, dan mengapa?
22 Anak-anak perlu melihat kerja sama yang erat dari orang tua mereka dalam hal ini, dan kerelaan masing-masing dalam memikul tanggung-jawab tersebut. Kadang-kadang jika seorang anak meminta sesuatu dan selalu mendengar ayahnya berkata, ’Sana, tanya saja ibumu,’ atau ada juga ibu yang selalu menyerahkan keputusan kembali kepada sang ayah. Dengan demikian sebenarnya pihak orang tua yang merasa bahwa ia terpaksa menolak permintaan anak itu seakan-akan dijadikan momok. Tentu saja, kadang-kadang terjadi bahwa sang ayah dapat mengatakan, ’Baiklah, kau boleh main di luar—tetapi tanya dulu pada ibumu, sebab sudah hampir waktunya untuk makan.’ Atau kadang-kadang sang ibu merasa permintaan anak dapat diluluskan, namun lebih baik pendapat ayah ditanyakan juga. Tetapi kedua pihak waspada untuk tidak memberi angin atau membiarkan si anak mengadu domba mereka untuk mendapatkan keinginannya. Isteri yang bijaksana harus hati-hati juga untuk jangan menyalahgunakan kedudukannya untuk bersaing dengan suaminya, dengan memanjakan anaknya supaya lebih disenangi oleh anak itu sehingga merugikan sang suami.
23. Apakah dalam keluarga hanya sang ayah mengambil semua keputusan?
23 Sebenarnya mengenai hal mengambil keputusan dalam keluarga, baik suami maupun isteri masing-masing mempunyai bidang di mana pendapatnya khusus perlu dipertimbangkan. Sang ayah bertanggung-jawab untuk mengambil keputusan sehubungan dengan soal-soal yang menyangkut kesejahteraan keluarga, yang biasanya diputuskan setelah dibicarakan bersama dan dipertimbangkan apa yang mereka sukai dan inginkan. Ibu mungkin mengambil keputusan-keputusan yang menyangkut dapur dan banyak urusan rumah tangga lainnya. (Amsal 31:11, 27) Dan semakin besar anak-anak, mereka dapat dibiarkan mengambil keputusan yang menyangkut ruang tempat mereka bermain, memilih beberapa pakaian mereka, atau barang-barang milik pribadi. Tetapi kiranya perlu pengawasan secukupnya dari orang tua agar mereka berpegang kepada prinsip-prinsip yang benar, sehingga keselamatan anak-anak tetap terjamin dan tidak melanggar hak orang lain. Dengan demikian secara berangsur-angsur anak-anak diajarkan untuk mengambil keputusan mereka sendiri.
BAGAIMANA SUPAYA ORANG TUA MUDAH DIHORMATI
24. tanggung-jawab apakah diletakkan atas orang tua, mengingat bahwa anak-anak harus menghormati ibu bapaknya?
24 Anak-anak diberi perintah: ”Hormatilah ayahmu dan ibumu.” (Efesus 6:2; Keluaran 20:12) Jika mereka melakukan ini, mereka juga mentaati perintah Allah. Apakah anda sebagai orang tua tidak menyulitkan anak dalam hal ini? Sebagai isteri, anda harus menghormati suami. Tetapi bukankah ini sukar jika suami sedikit atau sama sekali tidak berusaha melakukan apa yang dituntut Firman Allah daripadanya? Sebagai suami, anda harus mengasihi dan menghormati isteri sebagai teman hidup yang mendampingi anda. Bukankah ini menjadi sulit, jika isteri tidak bekerja sama? Karena itu, usahakanlah supaya menjadi lebih mudah bagi anak-anak anda untuk mentaati perintah Allah, yaitu untuk menghormati anda sebagai orang tua. Dapatkan kepercayaan mereka dengan menyediakan rumah tinggal yang tenteram, patokan-patokan hidup yang baik, contoh tingkah laku yang baik, pengajaran dan pendidikan yang baik dan disiplin yang penuh kasih bilamana diperlukan.
25. Problem-problem apa dapat timbul bila orang tua saling bertentangan mengenai cara mendidik anak-anak?
25 ”Berdua lebih baik dari pada seorang diri,” kata Raja Salomo, ”karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.” (Pengkhotbah 4:9) Bila dua orang berjalan bersama dan salah satu di antar mereka jatuh, masih ada yang lain untuk membantunya berdiri kembali. Demikian juga dalam keluarga, suami-isteri dapat mendukung dan membina satu sama lain dalam tugasnya masing-masing. Ada begitu banyak bidang di mana tugas mereka bersifat rangkap, dan ini baik demi persatuan keluarga. Semestinya anak-anak lebih mendekatkan orang tuanya satu sama lain, karena mereka bersatu dalam tugas pendidikan yang sama. Tetapi sewaktu-waktu akan timbul masalah dimana timbul perselisihan pendapat mengenai cara bagaimana anak itu harus dididik dan didisiplin. Kadang-kadang ada isteri yang demikian banyak memberi perhatian kepada anaknya, sehingga sang suami merasa dirinya diabaikan, bahkan merasa cemburu. Hal ini dapat mempengaruhi sikapnya terhadap anak itu. Mungkin ia menjadi bersikap dingin terhadap anaknya. Atau sebaliknya ia juga mencoba memperlihatkan kasih sayang pada anaknya secara berlebih-lebihan, dan akibatnya kurang perhatian terhadap isteri. Berat risikonya bila sang suami atau sang isteri kehilangan keseimbangan mereka.
26. Hal apa dapat dilakukan supaya jangan timbul rasa cemburu pada anak yang lebih tua karena ibu harus memberikan lebih banyak waktu kepada bayi yang baru lahir?
26 Suatu problem lain bisa jadi timbul bila seorang bayi dilahirkan dan sudah ada kakaknya. Mau tidak mau, ibu harus memberi lebih banyak perhatian kepada bayinya. Supaya anak yang lebih tua itu tidak merasa kurang mendapat perhatian dan merasa cemburu, mungkin ayahnya dapat mulai lebih memperhatikan kebutuhan anak yang lebih tua ini.
27. Bila salah satu orang tua belum seiman, bagaimana anak-anak dapat dibina kerohaniannya?
27 Dua orang memang lebih baik daripada hanya seorang. Tetapi lebih baik seorang daripada tiada sama sekali. Kadang-kadang karena keadaan, seorang ibu harus membesarkan anak-anak tanpa didampingi seorang ayah. Atau sebaliknya. Sering kali, terdapat perbedaan kepercayaan dalam rumah tangga, karena yang satu percaya sepenuhnya pada nasihat Alkitab sebagai hamba yang berbakti kepada Allah Yehuwa, tetapi yang lainnya tidak. Jika sang suami adalah orang Kristen yang berbakti, sebagai kepala keluarga ia lebih dapat menentukan bagaimana anak-anaknya harus dididik dan didisiplin. Walaupun demikian, ia harus benar-benar sabar, penuh pengendalian diri dan bertekun. Ia harus bersikap tegas dalam soal-soal yang serius, namun tetap menunjukkan sikap yang lemah lembut dan mudah diajak bicara meskipun mendapat tekanan, dan bersikap lentuk apabila keadaan mengijinkan. Jika yang beriman adalah isteri dan karena itu harus tunduk kepada suaminya, caranya ia bertindak banyak bergantung kepada sikap suaminya. Apakah suaminya hanya kurang berminat pada Alkitab? Ataukah ia hanya tidak senang bila isterinya menjalankan ibadatnya dan berusaha mengajar anak-anak mengenai kepercayaannya? Jika suami menentang, sang isteri harus menempuh haluan yang digariskan oleh rasul Petrus: Dengan teladannya dalam menjalankan tugas dan menunjukkan respek, suaminya ”tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya.” Ia juga akan menggunakan kesempatan yang ada untuk mengajarkan prinsip-prinsip Alkitab kepada anak-anaknya.—1 Petrus 3:1-4.
SUASANA DI RUMAH
28, 29. Suasana rumah tangga yang bagaimana yang patut dibina dan mengapa?
28 Kedua orang tua mempunyai peranan untuk menciptakan suasana rumah yang penuh kasih. Jika anak-anak dapat merasakan suasana demikian, mereka tidak akan membiarkan keragu-raguan atau kesalahan mereka terpendam dalam hati karena takut menceritakannya kepada orang tua. Mereka mengetahui bahwa mereka dapat mengutarakan isi hatinya dengan harapan bahwa orang tua akan mengerti, dan bahwa segala masalah akan ditangani dengan penuh kasih sayang. (Periksa 1 Yohanes 4:17-19; Ibrani 4:15, 16.) Dengan demikian rumah bukan sekedar tempat berteduh saja, tetapi juga tempat perlindungan. Dengan kasih sayang orang tua, jiwa anak akan berkembang baik.
29 Jika anda masukkan karet busa dalam air cuka, tentu saja karet busa itu tidak mungkin berisi air. Karet busa itu hanya dapat menyerap apa yang ada di sekelilingnya. Ia dapat juga menyerap air jika direndam dalam air. Demikian juga anak-anak cepat sekali menyerap apa yang terdapat di lingkungan mereka. Mereka merasakan sikap-sikap dan semaunya mereka serap seperti karet busa. Anak-anak merasakan bagaimana perasaan anda, yaitu apakah tegang atau damai-sentosa. Bahkan anak bayi cepat menangkap suasana rumah tangga. Karena itu suasana rumah yang penuh iman, kasih, kerohanian dan selalu bersandar kepada Allah Yehuwa tidak ternilai harganya.
30. Hal-hal apa yang patut ditanyakan kepada diri sendiri oleh orang tua untuk mengetahui pasti apakah mereka memberikan bimbingan terbaik kepada anak-anak mereka?
30 Cobalah anda bertanya kepada diri sendiri: Persyaratan yang bagaimanakah yang anda ingin supaya dipenuhi oleh anak anda? Apakah anda berdua selaku orang tua memenuhi persyaratan tersebut? Apa yang menjadi tujuan keluarga anda? Bagaimana anda berdua memberikan contoh kepada anak itu? Apakah anda sering mengomel, mencari-cari kesalahan, mengecam orang lain, dan membicarakan soal-soal negatip? Apakah anda menginginkan anak-anak anda menjadi orang seperti itu? Ataukah anda menganut patokan hidup yang lebih luhur dan berusaha hidup sesuai dengan patokan-patokan tersebut, dan karena itu menginginkan agar anak-anak meniru anda? Apakah anak-anak anda mengerti bahwa sebagai anggota keluarga mereka harus memenuhi persyaratan tertentu? Bahwa tingkah laku tertentu dianggap baik dan tindakan serta sikap tertentu tidak? Anak-anak lebih senang jika merasakan dirinya sebagian dari keluarga. Karena itu pujilah mereka jika mereka memenuhi persyaratan keluarga. Sifat manusia pada umumnya adalah, untuk hidup menurut apa yang diharapkan orang lain daripadanya. Bila anda menilai anak anda buruk, boleh jadi dia akan menjadi demikian. Jika yang baik diharapkan daripada anak anda, maka anda menganjurkannya untuk menjadi baik.
31. Nasihat dan petunjuk orang tua selalu harus didukung oleh apa?
31 Orang lebih menilai perbuatan daripada perkataan. Demikian juga anak-anak. Mereka lebih memperhatikan tingkah laku daripada tutur kata seseorang. Mereka dengan cepat melihat adanya kemunafikan. Anak-anak menjadi bingung jika mendengar terlalu banyak perkataan. Karena itu jagalah agar anda juga melakukan sesuai dengan apa yang anda katakan.—1 Yohanes 3:18.
32. Nasihat siapakah yang senantiasa patut ditaati?
32 Entah anda seorang ayah atau seorang ibu, peranan anda merupakan suatu tantangan bagi anda. Namun tantangan dapat dihadapi dengan sukses jika kita memperhatikan nasihat Pemberi kehidupan. Lakukanlah tugas yang diberikan kepada anda dengan sungguh-sungguh, seperti untuk Dia. (Kolose 3:17) Jangan bersikap ekstrim tetapi jaga keseimbangan anda. Dan ”biarlah semua orang melihat diri anda sebagai seorang rasionil [berakal sehat],” termasuk anak-anak anda sendiri.—Filipi 4:5, NW.
[Gambar di hlm. 100]
Air muka ibu, sentuhan serta nada suaranya menyatakan kepada bayinya, ”Aku sayang padamu.”
[Gambar di hlm. 104]
Apakah direncanakan kegiatan bersama anak-anak?
-
-
Mendidik Anak Sejak LahirMembina Keluarga Bahagia
-
-
Pasal 9
Mendidik Anak Sejak Lahir
1-4. Berikan bukti-bukti bahwa anak kecil memiliki kemampuan yang luar biasa untuk belajar.
SERING orang membandingkan pikiran bayi yang baru lahir dengan halaman kertas yang masih kosong tanpa tulisan apa-apa. Tetapi sebenarnya pikiran sang bayi sudah sempat diisi dengan kesan-kesan tertentu ketika masih berada dalam kandungan. Dan sifat-sifat kepribadian tertentu yang diturunkan dari orang tuanya, sudah tergores dan tidak dapat dihapuskan lagi. Akan tetapi kemampuan yang menakjubkan untuk belajar sudah ada sejak bayi itu dilahirkan. Pikiran anak bukan saja seperti selembar kertas, tetapi seperti suatu perpustakaan lengkap yang tinggal mencetak bahan keterangan pada halaman-halaman yang tersedia.
2 Pada saat kelahiran otak bayi hanya seperempat beratnya otak orang dewasa. Tetapi otak berkembang demikian cepatnya sehingga dalam waktu hanya dua tahun sudah mencapai tiga perempat beratnya otak orang dewasa! Selama perkembangan tersebut kecerdasan anak juga bertambah terus. Menurut para ahli penyelidik pertumbuhan kecerdasan anak dalam empat tahun pertama sebanding dengan pertumbuhan dalam tiga belas tahun berikutnya. Sesungguhnya, menurut beberapa ahli ”pengertian-pengertian yang diperoleh seorang anak sebelum mencapai usia lima tahun merupakan yang paling sulit yang akan pernah dihadapinya dalam kehidupan.”
3 Gagasan dasar seperti apa yang dimaksud dengan kiri-kanan, atas-bawah, kosong dan penuh, perbandingan ukuran dan berat benda-benda kelihatannya bukan masalah bagi kita. Tetapi anak kecil harus mempelajari semua ini dan masih banyak gagasan lain. Bahkan gagasan tutur kata pun harus ditanamkan dan dibentuk dalam pikiran sang bayi.
4 Ada yang berpendapat bahwa bahasa ”boleh jadi merupakan tugas intelektuil yang paling sukar yang pernah dikerjakan oleh manusia.” Mungkin anda pun setuju akan hal ini, seandainya anda pernah harus berjuang untuk mempelajari suatu bahasa yang baru. Tetapi anda masih beruntung. Setidak-tidaknya anda mengerti bagaimana bahasa itu harus digunakan. Bayi tidak tahu, tetapi pikirannya sanggup menangkap pengertian bahasa dan kemudian menggunakannya. Bukan itu saja, anak-anak kecil yang tinggal di rumah atau lingkungan di mana dua bahasa digunakan bahkan bisa fasih menggunakan bahasa-bahasa tersebut—sebelum mereka mulai sekolah! Jadi anak-anak memiliki otak yang cerdas, yang tinggal dikembangkan lebih lanjut!
PENDIDIKAN HARUS SEGERA DIMULAI!
5. Sejak kapan anak-anak harus segera diajar?
5 Ketika menulis surat kepada Timotius temannya, rasul Paulus antara lain mengingatkan bahwa Timotius sudah mengenal firman Allah ”dari kecil [dari bayi, NW].” (2 Timotius 3:15) Orang tua yang bijaksana menyadari keinginan alamiah dari anak untuk belajar. Bayi suka memperhatikan, melihat serta mendengarkan dengan penuh perhatian. Entah disadari orang tua atau tidak, si kecil itu menyerap dan menyimpan segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya, sambil menarik kesimpulan. Sesungguhnya, jika orang tua kurang hati-hati, dalam waktu singkat anak itu mulai pandai mempermainkan mereka untuk menuruti keinginannya. Karena itu nasihat Firman Allah berlaku mulai dari saat lahirnya seorang anak. ”Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6) Tentu saja hal pertama yang dipelajari adalah mengenai kasih sayang, dengan menunjukkan kasih sayang dan perhatian sebesar-besarnya. Namun di samping itu ia harus belajar disiplin yang diberikan dengan lemah lembut, tetapi tegas.
6. (a) Sebaiknya orang tua harus bicara dengan bahasa yang bagaimana terhadap anak mereka? (b) Bagaimana seharusnya sikap terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seorang anak?
6 Jangan gunakan ”bahasa anak” bila anda bicara dengan bayi. Gunakanlah bahasa orang dewasa yang sederhana, karena anda menghendaki ia belajar bahasa yang baik. Ketika anak itu belajar bicara, ia akan menghujani anda dengan segala macam pertanyaan. Misalnya: ’Mengapa turun hujan? Saya ini dari mana? Ke mana perginya bintang-bintang jika siang hari? Apa yang kalian lakukan? Mengapa begini? Mengapa begitu?’ Tiada habis-habisnya mereka bertanya! Dengarkan baik-baik pertanyaan mereka, karena pertanyaan merupakan sarana terbaik bagi anak kecil untuk belajar. Jika kita bendung pertanyaan-pertanyaannya, kita juga membendung perkembangan mental anak tersebut.
7. Bagaimana sebaiknya orang tua menjawab pertanyaan seorang anak, dan mengapa?
7 Tetapi hendaknya seperti rasul Paulus anda jangan lupa bahwa ”ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak.” (1 Korintus 13:11) Jawablah pertanyaan mereka sebaik mungkin, tetapi dengan sederhana dan singkat saja. Bila anak bertanya, ’Mengapa turun hujan?’ janganlah anda jawab terlalu panjang lebar. Mungkin cukup dengan mengatakan, ’Awannya mulai penuh dengan air, sehingga airnya jatuh.’ Perhatian anak tidak pernah lama, sebentar sudah berpindah ke hal lain. Maka sebagaimana anda memberikan kepadanya air susu dan berangsur-angsur makanan keras, berikanlah keterangan yang sederhana sampai anak itu dapat memahami penjelasan yang lebih terperinci.—Periksa juga Ibrani 5:13, 14.
8, 9. Cara bagaimana orang tua dapat mengajar anak secara setahap demi setahap untuk membaca?
8 Pelajaran anak-anak hendaknya diberikan secara bertahap. Seperti dikatakan, Timotius sudah kenal Alkitab sejak kecil. Rupanya apa yang masih teringat olehnya mengenai masa kecilnya adalah bahwa ia mendapat pelajaran Alkitab. Tentu pelajaran Alkitab demikian dilakukan secara bertahap, sama seperti seorang ayah atau ibu di zaman sekarang mulai mengajar anaknya membaca. Bacakan dahulu untuk anak anda. Bila masih kecil, pangkulah dia dan dengan tangan anda merangkulnya, bacakan dengan suara yang menyenangkan. Anak itu akan dihangatkan oleh rasa sukacita dan tenteram, dan pembacaan tersebut akan merupakan pengalaman yang menyenangkan, biarpun tidak banyak yang dimengertinya. Kemudian anda dapat mengajarkan abjad kepadanya, mungkin dalam bentuk permainan. Lalu menyusun kata-kata, dan akhirnya membuat kalimat dari kata-kata yang sudah dikenalnya. Dan sedapat mungkin, jadikanlah belajar sesuatu yang menyenangkan.
9 Sepasang suami-isteri, misalnya, biasa membaca bersama anak mereka yang berumur tiga tahun, sambil menunjuk tiap kata yang dibacakan, supaya anak itu dapat mengikuti mereka. Sewaktu-waktu mereka berhenti sejenak dan anak itu mengucapkan kata-kata selanjutnya, seperti ”Allah,” ”Yesus,” ”manusia,” ”pohon.” Lambat-laun anak itu dapat membaca sebagian besar dari kata-kata. Di samping membaca anak dapat belajar menulis, mula-mula huruf demi huruf, dan kemudian beberapa suku kata dan akhirnya seluruh kata. Betapa bangganya seorang anak bila dapat menulis namanya sendiri!
10. Mengapa lebih bijaksana untuk membantu anak-anak mengembangkan kemampuan mereka masing-masing?
10 Tiap anak berbeda, masing-masing dengan kepribadian tersendiri, dan harus dibantu mengembangkan diri sesuai dengan bakat kemampuan yang dimilikinya. Jika setiap anak dididik untuk memperkembangkan kemampuan, dan kelebihan yang dimiliki, ia tak perlu merasa iri atas prestasi yang dicapai oleh anak-anak lain. Tiap anak hendaknya dicintai dan dihargai karena sifatnya masing-masing. Memang anda harus membantunya mengatasi atau mengendalikan kecenderungan tidak baik yang timbul, tetapi jangan memaksakan anak itu mengikuti suatu ”cetakan” kepribadian tertentu. Bimbinglah agar sifat-sifat kepribadiannya sendiri yang baik dapat diperkembangkan sedapat-dapatnya.
11. Mengapa tidak bijaksana untuk menunjukkan kekurangan seorang anak dengan cara membanding-bandingkan dengan yang lain?
11 Orang tua dapat menimbulkan sifat persaingan yang tidak sehat dengan membanding-bandingkan seorang anak dengan anak yang lain, yaitu mana yang lebih baik dan mana yang kurang baik. Meskipun dari kecil anak-anak sudah memperlihatkan sifat mementingkan diri yang dibawa dari lahir, namun sebenarnya mereka tidak mengenal pangkat atau kedudukan, keunggulan di atas orang lain, dan sikap menganggap diri penting. Itu sebabnya Yesus menggunakan anak kecil sebagai contoh untuk menegur murid-muridnya, ketika pada sekali peristiwa mereka memperlihatkan semangat bersaing dan menganggap diri lebih penting. (Matius 18:1-4) Karena itu, jangan sekali-kali membanding-bandingkan seorang anak dengan anak yang lain untuk menunjukkan kelemahannya. Anak itu dapat menganggap cara demikian sebagai petunjuk bahwa ia tidak disukai. Mula-mula ia akan sakit hati, dan jika hal ini sering terjadi, lama-kelamaan ia akan bersikap memusuhi. Sebaliknya, anak yang selalu dipuji-puji seolah-olah lebih unggul dapat menjadi tinggi hati, sehingga akhirnya tidak disukai orang. Kasih sayang dan kemesraan anda sebagai orang tua janganlah ditentukan oleh kelebihan atau kekurangan tiap anak. Adanya variasi lebih menarik. Suatu orkes terdiri dari segala macam alat musik untuk menghasilkan variasi dan kelengkapan, namun seluruhnya harmonis. Demikian juga kepribadian yang berbeda menambah variasi yang menarik dalam keluarga, tetapi mereka akan tetap harmonis selama semua mengikuti prinsip-prinsip yang benar dari Pencipta.
BANTU ANAK ANDA UNTUK BERKEMBANG
12. Mengenai orang-orang dewasa, fakta-fakta apa memperlihatkan bahwa anak-anak membutuhkan pengarahan yang baik?
12 Menurut Firman Allah ”orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.” (Yeremia 10:23) Dengan sombong manusia menyangkal hal ini. Maka mereka menolak bimbingan Allah, menerima pendapat manusia, sehingga mengalami berbagai kesulitan, dan akibatnya terpaksa mengakui bahwa Allahlah yang benar. Allah Yehuwa memperingatkan bahwa ada jalan yang disangka orang betul, tetapi akhirnya menuju kepada maut. (Amsal 14:12) Sudah lama manusia mencoba menempuh jalan yang kelihatannya benar di mata mereka, dan akibatnya ada peperangan, kelaparan, penyakit dan kematian. Jika jalan yang nampaknya baik di mata orang yang dewasa dan berpengalaman akhirnya menuju maut, bagaimana mungkin akhirnya akan lebih baik bila seorang anak menempuh jalan yang kelihatan baik di matanya sendiri? Jika orang dewasa tidak sanggup menentukan langkah-langkahnya, bagaimana anak kecil yang masih tertatih-tatih jalannya, bisa menentukan jalan hidupnya? Allah Pencipta memberi bimbingan kepada orang tua maupun anak-anak melalui Firman-Nya.
13, 14. Bagaimana orang tua dapat mengajar anak-anak sesuai dengan nasihat di Ulangan 6:6, 7?
13 Kepada orang tua, Allah berfirman: ”Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ulangan 6:6, 7) Kapan dan di mana saja, bila ada kesempatan yang cocok, orang tua harus mengajar anaknya. Ada baiknya jika keluarga dapat makan pagi bersama-sama, meskipun beberapa keluarga tergesa-gesa untuk bersiap-siap ke tempat kerja atau ke sekolah. Dengan doa terima kasih atas makanan, pikiran ditujukan kepada Allah Pencipta dan dapat disebutkan juga segi-segi rohani lain yang berguna bagi keluarga. Mungkin ada kesempatan untuk membicarakan bersama-sama apa yang akan dilakukan pada hari itu atau mengenai sekolah dan nasihat yang baik untuk mengatasi persoalan yang mungkin timbul sewaktu-waktu. Saat-saat hendak tidur, ”apabila engkau berbaring,” dapat merupakan saat-saat yang bahagia bagi anak-anak, jika orang tua memberikan sedikit lebih banyak perhatian kepada mereka. Bagi anak kecil cerita sebelum tidur besar sekali artinya dan seringkali praktis untuk mengajar anak-anak. Alkitab berisi bahan-bahan yang menarik sekali bagi anak kecil, tergantung bagaimana kepandaian dan semangat orang tua untuk menceritakannya. Pengalaman pribadi dari kehidupan anda sendiri, akan sangat menarik bagi anak-anak anda dan dapat memberikan beberapa pelajaran yang baik. Memang tidak mudah untuk tiap kali mencari cerita baru, tetapi sering anda akan mendapati bahwa anak-anak suka sekali mendengarkan cerita yang sama berulang kali. Anda akan dapati bahwa dengan menyediakan sedikit lebih banyak waktu, hubungan antara anda dan anak-anak senantiasa lebih terbuka. Berdoa bersama anak-anak sebelum tidur, dapat membantu untuk mulai menjalin hubungan dengan Dia yang terutama dapat membimbing dan melindungi mereka.—Efesus 3:20; Filipi 4:6, 7.
14 Di mana saja anda berada, ’duduk di rumah,’ atau ’di perjalanan,’ terdapat banyak kesempatan untuk mengajar anak anda dengan cara yang menarik dan jitu. Bagi anak-anak, sebagian pelajaran demikian dapat diberikan dalam bentuk permainan. Sepasang suami-isteri menceritakan bagaimana mereka melakukan ini supaya anak-anak mengingat apa yang dibahas di perhimpunan pelajaran Alkitab:
’Pada suatu petang kami membawa seorang anak laki-laki yang berumur enam tahun dan yang biasanya kurang menaruh perhatian selama perhimpunan. Dalam perjalanan menuju balai saya berkata: ”Ayo, kita bermain. Waktu pulang nanti siapa yang mengingat nyanyian-nyanyian yang kita nyanyikan dan hal-hal penting yang dibicarakan dalam perhimpunan.” Sewaktu pulang kami heran sekali. Anak laki-laki yang terkecil yang biasanya tidak memperhatikan selama perhimpunan mendapat kesempatan bicara yang pertama dan ternyata mengingat banyak hal. Lalu anak-anak kami menambahkan apa yang mereka ingat dan akhirnya kami berdua yang sudah dewasa juga. Mereka menganggapnya bukan sebagai tugas yang berat, tetapi hiburan yang menyenangkan.’
15. Cara bagaimana anak kecil dapat dianjurkan untuk memperbaiki prestasinya?
15 Semakin besar anak, mulailah ia mengemukakan pikirannya, menggambar-gambar, melakukan tugas-tugas tertentu, serta memainkan alat musik. Ia merasa dirinya mulai berhasil. Sedikit banyak, apa yang dilakukannya merupakan sebagian dari kepribadiannya, sehingga penting sekali baginya. Jika anda melihat hasil karyanya lalu mengatakan ’Bagus,’ bukan main senangnya. Carilah sesuatu yang patut dipuji mengenai pekerjaannya, maka besarlah hatinya. Jika anda mengritiknya secara kasar, anak itu pasti akan menjadi kecil hati. Boleh saja anda mengajukan pertanyaan mengenai suatu segi yang masih kurang jika perlu, tetapi janganlah seolah-olah menolak hasil pekerjaannya. Misalnya, daripada mengambil gambar yang dilukisnya dan mengerjakan kembali, anda dapat menggunakan kertas lain untuk menerangkan bagaimana ia dapat memperbaiki hasil karyanya. Dengan demikian ia dapat membetulkan gambarnya sendiri, jika ia mau. Dengan memuji usahanya, anda membantunya untuk bertumbuh; jika anda mencelanya, anda justru membuatnya patah semangat atau mematikan keinginannya untuk mencoba lagi. Ya, prinsip di Galatia 6:4 juga berlaku untuk anak-anak: ”Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.” Dalam hal anak-anak, terutama usahanya yang mula-mula perlu dipuji. Jika apa yang ia lakukan memang baik, ditinjau dari umurnya, pujilah dia! Jika kurang baik, setidak-tidaknya puji anak itu karena ia berusaha, dan anjurkan dia untuk mencoba kembali. Bagaimanapun juga, tidak mungkin seorang anak belajar berjalan tanpa jatuh-jatuh dahulu.
CARA BAGAIMANA MENGAJAR MENGENAI SEKS
16. Berdasarkan petunjuk Alkitab, bagaimana kiranya orang tua harus menjawab pertanyaan anak-anak mengenai masalah seks?
16 Anda selalu menjawab pertanyaan anak anda dan menganjurkan dia untuk berkomunikasi. Tetapi tiba-tiba ia bertanya mengenai seks. Haruskah anda jawab dengan terus terang atau perlukah anda kelabui dia, misalnya dengan mengatakan bahwa adiknya diperoleh dari rumah bersalin? Apakah anda akan memberikan penjelasan yang benar, atau membiarkan mereka mendapat penjelasan yang kurang lengkap, bahkan Alkitab berterus terang mengenai soal-soal yang berhubungan dengan seks atau alat kelamin. (Kejadian 17:11; 18:11; 30:16, 17; Imamat 15:2) Ketika mengajar umat-Nya mengenai pertemuan-pertemuan di mana Firman-Nya dibacakan, Allah berkata: ”Seluruh bangsa itu berkumpul, laki-laki, perempuan dan anak-anak . . . supaya mereka mendengarnya dan belajar.” (Ulangan 31:12) Dengan demikian anak-anak mendengar pembicaraan mengenai soal-soal ini dalam suasana serius, penuh respek, bukan dalam ”bahasa jalanan.”
17-19. Bagaimana caranya untuk setahap demi setahap memberi penjelasan mengenai masalah seks kepada anak-anak?
17 Sebenarnya penjelasan mengenai soal-soal seks tidak begitu sulit seperti dibayangkan oleh kebanyakan orang tua. Anak-anak cepat mulai memperhatikan tubuh mereka, bagian-bagian tubuh mereka yang berlainan. Sebutlah nama bagian-bagian tersebut satu persatu: kaki, tangan, hidung, perut, pantat, kemaluan. Anak itu tak akan malu, kecuali anda sendiri tiba-tiba berubah dan bersikap ”ssstttt” mengenai bagian kelamin. Kebanyakan orang tua takut bahwa mereka harus menerangkan segala sesuatunya, sekali anak mulai bertanya. Padahal pertanyaan itu sedikit demi sedikit saja, sesuai dengan tingkat perkembangan anak itu. Di tiap tahap perkembangan anak tersebut, anda hanya perlu memilih kata-kata yang paling cocok dan penjelasan yang umum dan sederhana saja.
18 Misalnya, pada suatu hari anak bertanya: ’Dari mana datangnya bayi’? Cukup dijawab begini saja: ’Bayi itu tumbuh di perut mamanya.’ Biasanya jawaban demikian sudah lebih dari cukup. Belakangan anak itu mungkin bertanya: ’Cara bagaimana bayi itu keluar dari perut?’ ’Ada lubang khusus untuk itu.’ Dan biasanya jawaban demikian cukup memuaskan anak, untuk sementara waktu.
19 Nantinya timbul pertanyaan lain: ’Bagaimana asal mulanya bayi itu?’ Dapat anda jawab begini: ’Ayahnya dan ibunya mula-mula menginginkan anak. Benih dari ayahnya bertemu dengan sel telur ibunya, lalu jadilah seorang bayi yang main lama makin besar. Sama seperti benih yang dimasukkan ke tanah akan bertumbuh menjadi bunga atau pohon.’ Jadi, ceritanya bersambung terus, tetapi tiap babak cerita hanya mengungkapkan secukupnya agar memuaskan keinginan tahu anak itu untuk sementara waktu. Kemudian hari ia mungkin bertanya, ’Cara bagaimana benih ayahnya masuk ke tubuh ibunya?’ Mungkin dapat anda jawab begini: ’Kamu tahu bagaimana bentuk badan anak laki-laki. Ia mempunyai kemaluan. Perempuan mempunyai lubang di tubuhnya di mana itu bisa dimasukkan. Begitulah benih mulai ditanam. Manusia memang dijadikan seperti itu, supaya bayi dapat tumbuh di perut ibunya, dan akhirnya keluar sebagai anak.’
20. Mengapa lebih baik orang tua sendiri yang memberikan penjelasan kepada anak-anak mengenai masalah seks?
20 Penjelasan yang jujur seperti ini pasti lebih baik daripada cerita bohong atau bersikap ”sssstttt” yang menimbulkan kesan bahwa itu suatu pokok pembicaraan yang menjijikkan. (Periksa juga Titus 1:15.) Juga lebih baik supaya anak mendengar fakta-fakta dari orang tua sendiri, sebab mereka dapat memberi penjelasan lebih jauh mengapa kelahiran bayi itu sepatutnya terjadi hanya dalam hubungan suami-isteri yang saling mencintai, serta menerima tanggung jawab untuk merawat dan menyayangi bayi itu. Dengan demikian pembicaraan dibawa ke suatu tingkatan yang lebih sehat dan mengandung unsur kerohanian, sebaliknya daripada mendapat kesan bahwa masalah ini tidak pantas dibicarakan.
MENERUSKAN PELAJARAN HIDUP YANG PALING PENTING
21. Kecenderungan apa yang terdapat pada anak-anak sehingga penting bagi orang tua untuk memberi teladan yang baik kepada mereka?
21 Pernah Yesus mengumpamakan masyarakat pada zamannya seperti ”anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: ’Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung.’” (Matius 11:16, 17) Permainan anak-anak meniru apa yang biasa dilakukan orang-orang dewasa, bagaimana kalau berpesta dan bagaimana kalau berkabung. Karena anak-anak senang untuk meniru-niru, teladan yang diberikan oleh orang tua besar peranannya dalam pendidikan anak-anak.
22. Bagaimana tingkah laku orang tua dapat mempengaruhi anak mereka?
22 Sejak lahir bayi anda belajar segala sesuatu dari anda—bukan saja apa yang anda katakan, tetapi cara anda mengatakannya, melalui nada suara anda pada waktu anda berbicara: kepada bayi anda sendiri, kepada teman hidup dan kepada orang-orang lain. Anak itu memperhatikan sikap orang tua satu sama lain, maupun terhadap anggota keluarga yang lain dan terhadap para tamu. Teladan yang anda berikan dalam hal-hal ini mengandung suatu pelajaran yang jauh lebih penting daripada misalnya belajar berjalan atau belajar berhitung atau mengetahui abjad. Ini meletakkan dasar untuk pengetahuan serta pengertiannya yang diperlukan agar benar-benar hidup bahagia. Teladan yang diberikan memudahkan anak untuk menerima patokan-patokan yang benar pada waktu ia cukup besar untuk diajar melalui tutur kata dan pembacaan.
23, 24. Jika orang tua menginginkan anak-anak mereka memenuhi persyaratan tertentu, apa yang mereka sendiri harus lakukan?
23 ”Jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih,” demikian anjuran rasul Paulus kepada orang-orang Kristen. Sebelum menyampaikan anjuran tersebut, ia sudah menjelaskan apa artinya menjadi seperti Allah: ”Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih . . .” (Efesus 4:31, 32; 5:1, 2) Kalau anak kecil terus mendengar suara-suara dan melihat tindak-tanduk yang mengajarkan sikap kejengkelan, seperti berteriak-teriak, ribut dan mengecam, tidak mau mengalah dan melampiaskan amarah, suatu sikap akan tertanam dalam hati anak itu yang susah dihapuskan. Tetapi jika anda bersikap lemah lembut dan tenggang-menenggang, jika anda mempunyai budi pekerti yang luhur dan prinsip-prinsip yang baik, pasti anak anda akan meniru anda. Bertingkah lakulah seperti anda menghendaki anak anda bertingkah laku. Jadilah teladan untuk ditiru anak-anak anda.
24 Janganlah orang tua menganut dua macam pedoman hidup, yang satu untuk dikhotbahkan dan yang lain untuk dilakukan, yang satu untuk anak-anak dan yang lain untuk mereka sendiri. Apa gunanya untuk mengajar anak anda bahwa ia tidak boleh berdusta, jika anda sendiri suka berdusta. Jika anda sering melanggar janji anda kepada mereka, masakan anda dapat mengharapkan anak anda memegang janji mereka kepada anda? Jika suami-isteri sendiri tidak saling menghormati, masakan anak anda bisa diharapkan menaruh respek kepada mereka? Jika anak itu tidak pernah melihat ayah atau ibunya menunjukkan kerendahan hati, bagaimana mungkin ia sendiri bisa bersikap rendah hati? Bahayanya jika orang tua memberikan kesan seolah-olah ia selalu benar adalah, anak itu mungkin akan percaya bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh orang tuanya itu benar—biarpun orang tua melakukan sesuatu yang salah atau memperlihatkan sikap-sikap yang tidak sempurna dan berdosa. Bicara tanpa berbuat berarti munafik seperti orang-orang Farisi, mengenai mereka Yesus berkata: ”Sebab itu taati dan turutilah semuanya yang mereka suruh kalian perbuat. Tetapi janganlah melakukan apa yang mereka perbuat, sebab mereka tidak menjalankan apa yang mereka ajarkan.” Maka itu, jika anda tidak menginginkan orang-orang Farisi kecil, janganlah anda sendiri menjadi Farisi yang besar!—Matius 23:3.
25. Bagaimana seharusnya anak-anak diajar mengenai kasih sayang?
25 Anak-anak belajar mengenai kasih sayang setelah melihatnya sendiri, dan mulai memperlihatkan kasih sayang sesudah mereka mendapat sendiri kasih sayang. Kasih sayang tak dapat dibeli. Orang tua dapat membanjiri anak-anak mereka dengan hadiah. Tetapi kasih sayang menyangkut hal rohani, dari hati dan bukan dari dompet, dan hadiah-hadiah saja tak pernah dapat menggantikan kasih sayang. Jika orang mencoba membeli kasih, nilai dari kasih akan turun. Jangan hanya memberikan hadiah-hadiah benda, tetapi terutama berikan dari diri anda, waktu anda, tenaga anda, kasih sayang anda. Anda akan menerima kembali sebanyak yang anda berikan. (Lukas 6:38) Di 1 Yohanes 4:19 dikatakan mengenai kasih kita kepada Allah: ”Kita mengasihi sebab Allah sudah terlebih dahulu mengasihi kita.”
26, 27. Bagaimana anak-anak dapat diajar menyadari betapa senangnya memberi?
26 Anak-anak belajar memberi dengan terlebih dahulu menerima. Mereka dapat dibantu menyadari betapa senangnya memberi, melayani dan membagi dengan orang lain. Bantulah mereka mengerti bahwa memberi itu berbahagia—entah memberi sesuatu kepada anda, kepada anak lain, atau kepada orang-orang dewasa. Seringkali orang dewasa menolak pemberian anak-anak karena anggapan salah bahwa mereka menunjukkan kasih sayang dengan membiarkan anak-anak menyimpan sendiri apa yang ingin mereka berikan. Pernah seseorang memberikan pengalaman sendiri:
”Dulu saya sering menolak apabila seorang anak menawarkan permen kepada saya. Saya mengira tindakan saya baik, karena saya tidak mau menerima apa yang paling disukai anak itu. Tetapi ketika saya menolak pemberiannya, saya lihat anak itu justru sedih. Barulah saya sadar, bahwa saya telah menolak kebaikan hatinya, menolak hadiahnya, dan menolak dia sendiri. Sejak itu saya selalu menerima pemberian demikian, supaya si anak mengetahui betapa senangnya untuk memberi.”
27 Pernah ada orang tua yang ingin mengajar anak mereka yang masih kecil supaya meniru orang yang digambarkan Alkitab di 1 Timotius 6:18, yaitu orang yang ”murah hati dan suka memberi.” Ketika akan menghadiri pertemuan untuk pelajaran Alkitab, mereka memberikan uang kepada anaknya untuk dimasukkan ke dalam kotak sumbangan. Dengan demikian anak itu mengerti perlunya untuk menyokong usaha-usaha kerohanian, serta membantu menyediakan perkara-perkara materi yang diperlukan.
28, 29. Bagaimana anak-anak dapat diajar betapa pentingnya untuk meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan?
28 Anak-anak belajar mengasihi dan bersifat murah hati, jika pelajaran yang diberikan disertai contoh yang bagus. Dengan cara ini mereka juga dapat belajar meminta maaf, apabila perlu. Ada orang tua berkata: ”Bila saya melakukan kesalahan terhadap anak saya, saya tidak segan-segan mengaku kesalahan saya. Secara singkat saya jelaskan mengapa saya membuat kesalahan dan bahwa saya telah bersalah. Dengan demikian mereka juga lebih mudah mengakui kesalahannya padaku, karena mengetahui bahwa saya pun tidak sempurna dan akan dapat mengerti.” Demikianlah misalnya pengalaman ketika seorang tamu yang belum dikenal mengunjungi suatu keluarga dan sang ayah memperkenalkan seluruh anggota keluarga kepadanya. Komentar tamu itu:
”Semuanya sudah diperkenalkan, kemudian masuk seorang anak kecil dengan muka tersenyum. Ayahnya berkata: ’Dan inilah si bungsu dengan baju kotor penuh coklat.’ Senyuman anak itu langsung hilang dan dari mukanya kelihatan bahwa ia tersinggung. Melihat anaknya hampir menangis karena malu, ayahnya segera merangkul dia dan berkata: ’Wah, ayah salah omong. Maafkan ayah nak.’ Anak itu terisak sebentar, lalu meninggalkan ruangan. Tetapi ia segera kembali, senyumnya bahkan lebih lebar ia sudah memakai baju yang bersih.”
29 Kerendahan hati demikian mempererat hubungan. Tentu saja, satu waktu orang tua dapat menjelaskan kepada anaknya, bagaimana dapat memiliki pandangan seimbang terhadap berbagai masalah kehidupan, baik yang kecil maupun yang besar. Orang tua harus mengajar anaknya untuk jangan terlalu serius menanggapi soal-soal kecil; supaya anaknya dapat tertawa atas kelakuannya sendiri, dan tidak mengharapkan terlalu banyak dari orang lain; sebab bukankah ia sendiri juga lebih senang jika orang tidak mengharapkan terlalu banyak daripadanya?
TANAMKAN NILAI-NILAI KEHIDUPAN YANG BENAR
30-32. Mengapa penting sekali bagi orang tua untuk mulai membantu anak mereka sejak kecil agar mengerti mengenai hal-hal yang paling berharga dalam kehidupan?
30 Banyak orang tua dewasa ini bingung mengenai nilai-nilai kehidupan yang harus dijadikan pegangan. Tidak heran mengapa banyak anak akhir-akhir ini tidak pernah dibekali dengan nilai-nilai kehidupan yang diperlukan. Ada orang tua yang bahkan mulai ragu-ragu akan hak mereka untuk membentuk sikap anak mereka. Jika orang tua tidak berbuat apa-apa, tugas tersebut akan diambil alih teman-teman, oleh para tetangga, atau oleh bioskop dan televisi. Jurang antara tua dan muda, pembangkangan kaum muda, penggunaan obat bius, kemerosotan ahlak dan revolusi seks—semua hal ini membuat orang tua takut. Padahal kepribadian anak itu sudah ditentukan sebelum masalah-masalah tersebut timbul dalam kehidupan.
31 Menurut suatu penyelidikan yang dimuat dalam sebuah majalah ilmiah, ”sebagian besar kepribadian seseorang sudah terbentuk sebelum anak mulai bersekolah. Bahkan, umumnya diakui bahwa anak-anak prasekolah mudah sekali dibentuk kepribadiannya. . . . Dan hasil penyelidikan kami menunjukkan bahwa apa yang dialami anak-anak itu semasa kecil mereka, yaitu sikap-sikap serta pengalaman yang diperolehnya, sering mempengaruhi tingkah laku anak itu untuk seumur hidupnya, yang kadang-kadang bahkan tidak mungkin dirubah lagi.”
32 Pola pertumbuhan yang bengkok bisa saja dirubah, tetapi ahli riset yang lain menerangkan apa yang terjadi jika tahun-tahun pertama yang paling berharga itu dibiarkan lewat begitu saja: ”Anak-anak masih dapat dibentuk kepribadiannya selama tujuh tahun pertama, tetapi makin lama anda harus merubah suasana kehidupannya secara drastis—dan kemungkinan bahwa anak itu masih dapat berubah makin kecil dengan berlalunya tiap tahun.”
33. Apakah ajaran-ajaran yang terpenting yang harus dimengerti oleh anak-anak?
33 Bukan main banyaknya pengertian dasar yang harus dipelajari dan dipahami oleh anak kecil. Tetapi yang paling penting adalah mengenai apa yang benar dan apa yang salah, apa yang baik dan apa yang tidak baik. Ketika menulis surat kepada orang-orang Kristen di kota Efesus, rasul Paulus menganjurkan mereka untuk benar-benar menggali pengetahuan yang saksama. Katanya: ”Kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” (Efesus 4:13-15) Bila orang tua lamban membantu anak mereka untuk lebih mencintai kebenaran dan kejujuran, serta lebih senang akan apa yang baik dan benar, anak-anak itu seperti tidak mempunyai perlindungan terhadap kecerobohan dan kesesatan. Tanpa disadari orang tua, tahu-tahu masa prasekolah anak itu telah berlalu. Janganlah anda biarkan itu terjadi. Manfaatkan baik-baik tahun-tahun pertama yang penting untuk membina kepribadian anak itu, supaya anak anda menganut nilai-nilai kehidupan yang baik. Anda tak usah mengalami penyesalan di kemudian hari.—Amsal 29:15, 17.
34. Mengapa patokan-patokan yang tidak akan pernah berubah itu penting, dan apakah sumber yang terbaik dari patokan-patokan tersebut?
34 ”Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu,” demikian tulis rasul yang terilham, dan hal ini memang benar dalam soal patokan-patokan materi, emosi dan moral. (1 Korintus 7:31) Hampir tidak ada hal yang tetap stabil di dunia ini. Orang tua harus sadar bahwa sebagai manusia tidak sempurna, mereka pun dapat mengalami kegagalan dalam hal ini. Jika orang tua benar-benar memikirkan keselamatan dan kebahagiaan anak-anak mereka di kemudian hari, mereka akan memberikan pengarahan kepada anak-anak, menjelaskan nilai-nilai mana yang tidak akan pernah berubah. Caranya dengan mengajar kepada anak-anak sejak kecil bahwa pertanyaan apapun yang timbul, masalah apapun yang perlu dipecahkan, Alkitab, Firman Allah yang tertulis, memberikan jalan keluar yang pasti bermanfaat. Betapa pun membingungkan atau kaburnya keadaan yang sedang dihadapi, Firman Allah akan selalu menjadi ’pelita bagi kakinya, dan terang bagi jalannya.’—Mazmur 119:105.
35. Betapa pentingkah pendidikan anak-anak oleh orang tua mereka?
35 Ya, sekaranglah peluang emas bagi anda untuk mulai membubuh dasar di hati anak-anak anda, mengenal nilai-nilai kehidupan yang akan menjadi pedoman mereka di kemudian hari. Tiada tugas lebih utama, tiada pekerjaan lebih penting, daripada mendidik anak-anak anda. Saat untuk mulai harus sejak anak itu dilahirkan, sejak masa bayinya!
[Gambar di hlm. 117]
Tanamkan keinginan belajar
-
-
Faedah Disiplin dalam KasihMembina Keluarga Bahagia
-
-
Pasal 10
Faedah Disiplin dalam Kasih
1. Apa yang diperlukan agar anak-anak selalu taat kepada orang tua?
BUKANLAH secara kebetulan bila anak-anak bersifat penurut dan berbudi bahasa yang baik. Diperlukan pendidikan melalui contoh maupun disiplin.
2. Bagaimana pandangan banyak ahli psikologi-anak bertentangan dengan nasihat Alkitab?
2 Banyak ahli psikologi-anak melarang orang tua untuk menghukum anak. Salah seorang di antaranya mengatakan: ”Sadarkah ibu bahwa tiap kali anda memukul anak, sebenarnya anda menunjukkan kebencian terhadapnya?” Tetapi dalam Firman-Nya, Allah berkata: ”Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar [mendisiplin, NW] dia pada waktunya.” (Amsal 13:24) Beberapa puluh tahun yang lalu, banyak buku membanjiri pasaran mengenai pendidikan anak, terutama di negara-negara Barat. Semuanya menganjurkan orang tua supaya jangan bertindak terlalu keras terhadap anak mereka. Disiplin dapat mengekang pertumbuhan anak-anak, kata para ahli psikologi; dan mengenai memukul, mendengarnya saja pun mereka sama sekali tidak senang. Teori-teori demikian bertentangan langsung dengan nasihat Allah Yehuwa. Firman-Nya mengatakan, ’apa yang ditabur, itu pulalah yang akan dituai’. (Galatia 6:7) Dan apa yang telah dibuktikan setelah berpuluh tahun orang tua menabur sikap memberi kebebasan kepada anak-anak?
3, 4. Apa akibatnya jika kurang ada disiplin dalam rumah tangga, dan karena itu apa yang dianjurkan oleh banyak orang?
3 Sebagai akibatnya, merajalelanya kejahatan dan kenakalan anak-anak sudah umum di mana-mana. Di banyak negara industri, kejahatan anak-anak kini sudah meliputi 30 persen lebih dari semua kejahatan besar yang dilakukan orang. Di banyak negeri, kampus-kampus sekolah merupakan bibit persemaian, pangkal segala perpecahan, perkelahian, umpat-umpatan kotor, pengrusakan harta benda, pengeroyokan, pemerasan, pembakaran, perampokan, perkosaan, penggunaan obat-obat terlarang dan pembunuhan. Seorang tokoh persatuan guru di sebuah negara besar berpendapat bahwa masalah kurangnya disiplin adalah karena sekolah-sekolah telah gagal untuk mengambil hati anak-anak ketika masih kecil. Ia mengatakan timbulnya kenakalan anak-anak karena peranan keluarga sudah berkurang, dan orang tua tidak mengajarkan lagi aturan-aturan tingkah laku yang baik kepada anak-anak mereka. Dan dalam pembahasan mengenai masalah ’mengapa ada anggota keluarga yang bisa menjadi penjahat, sedangkan anggota lainnya tidak,’ The Encyclopædia Britannica berkata: ”Ini mungkin disebabkan karena kebijaksanaan banyak keluarga dalam hal disiplin terlalu lemah, atau terlalu tegas, atau tidak konsekwen. Menurut hasil penyelidikan di Amerika Serikat, didikan kurang baik ada sangkut pautnya dengan kira-kira 70 persen pelaku kejahatan.”
4 Pengalaman buruk itu menyebabkan banyak orang sekarang berbalik pendapat, sehingga kembali menganjurkan orang tua untuk menegakkan disiplin.
TONGKAT DISIPLIN
5. Bagaimana pandangan Alkitab soal memukul anak?
5 Seorang anak mungkin dapat diselamatkan jika ia dipukul, karena Firman Allah berkata: ”Jangan menolak didikan [disiplin, NW] dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati [kuburan].” ”Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan [disiplin, NW] akan mengusir itu dari padanya.” (Amsal 23:13, 14; 22:15) Jika orang tua mengutamakan keselamatan anak mereka, mereka tidak akan bersikap lemah atau masa bodoh sehingga lalai bertindak. Kasih akan menggerakkan mereka untuk bertindak secara bijaksana dan adil, bila memang diperlukan.
6. Apa yang tercakup dalam menjalankan disiplin?
6 Disiplin itu sendiri tidak terbatas kepada tindakan menghukum. Pada prinsipnya disiplin berarti ’mengajar dan mendidik berdasarkan suatu aturan atau pola dasar tertentu’. Itulah sebabnya mengapa dalam Amsal 8:33 bukannya dikatakan, ’rasakanlah disiplin,’ melainkan ’dengarkanlah didikan [disiplin, NW], maka kamu menjadi bijak’. Menurut 2 Timotius 2:24, 25, ”harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan.” Kata ”mengajar” di sini merupakan terjemahan dari kata bahasa Yunani yang berarti ”mendisiplin.” Kata yang sama juga terdapat dalam Ibrani 12:9: ”Dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran [mendisiplin, NW], dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?”—New English Bible.
7. Apakah manfaatnya jika orang tua menegakkan disiplin?
7 Orang tua yang kurang menjalankan disiplin tidak akan dihormati oleh anaknya, sama saja seperti penguasa tidak dihormati oleh masyarakat, jika membiarkan orang berbuat jahat tanpa mengambil tindakan. Bagi seorang anak, disiplin yang dijalankan dengan baik membuktikan bahwa orang tuanya sayang padanya. Disiplin menciptakan kedamaian rumah tangga, karena ”kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” (Ibrani 12:11) Di rumah tangga manapun juga, anak-anak yang bandel dan tidak menurut merupakan sumber kejengkelan. Dan anak-anak demikian tidak pernah merasakan kepuasan, bahkan terhadap diri sendiri pun tidak. ”Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.” (Amsal 29:17) Dengan mendapat teguran yang tegas tetapi penuh kasih, seorang anak bisa mendapat pandangan baru, dan seakan-akan memulai lembaran yang baru. Seringkali anak demikian lebih menyenangkan dalam pergaulan. Disiplin benar-benar ”menghasilkan buah . . . yang memberikan damai.”
8. Bagaimana orang tua dapat mendisiplin dengan kasih?
8 ”Tuhan menghajar [mendisiplin, NW] orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibrani 12:6) Demikian juga yang dilakukan oleh orang tua yang menginginkan apa yang terbaik bagi anak-anaknya. Disiplin harus dijalankan terdorong oleh kasih. Memang wajar jika orang marah karena kenakalan anaknya, tetapi menurut Alkitab hamba Allah harus ”sabar.” (2 Timotius 2:24) Setelah kemarahan seseorang mereda, seringkali kesalahan anak itu nampaknya tidak demikian besar lagi. ”Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.” (Amsal 19:11; periksa juga Pengkhotbah 7:8, 9.) Mungkin saja kesalahan dapat dimaafkan bila mengingat keadaan waktu itu: Mungkin saja anak sedang letih atau kurang enak badan. Mungkin ia memang lupa sama sekali apa yang dipesankan kepadanya, orang dewasa saja sering lupa juga, bukan? Tetapi sekalipun kesalahan yang dilakukan tidak dapat dimaafkan, disiplin bukanlah sekedar ledakan amarah yang tidak terkendali atau pukulan yang melayang, sebagai pelampiasan emosi orang tua. Disiplin bersifat mendidik, dan dengan suatu ledakan amarah anak itu memang mendapat suatu pelajaran. Bukan pelajaran dalam hal pengendalian diri, melainkan mengenai kurangnya pengendalian diri. Dengan cara demikian anak itu kurang merasakan kasih sayang yang diperlihatkan melalui disiplin yang baik. Maka, keseimbangan itu perlu dan membawa perdamaian.
PEMBATASAN-PEMBATASAN YANG CUKUP TEGAS
9. Selaras dengan Amsal 6:20-23, hal apa yang perlu disediakan oleh orang tua bagi anak-anak mereka?
9 Orang tua harus menetapkan aturan-aturan sebagai pedoman bagi anak-anak mereka. ”Hai anakku, peliharalah perintah ayahmu, dan janganlah menyia-nyiakan ajaran ibumu. Tambatkanlah senantiasa semuanya itu pada hatimu, kalungkanlah pada lehermu. Jikalau engkau berjalan, engkau akan dipimpinnya, jikalau engkau berbaring, engkau akan dijaganya, jikalau engkau bangun, engkau akan disapanya. Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan.” Petunjuk-petunjuk orang tua demikian menjadi pedoman dan perlindungan bagi anaknya, serta memperlihatkan bahwa orang tua memikirkan kesejahteraan dan kebahagiaan anak mereka.—Amsal 6:20-23.
10. Apa yang bisa terjadi jika orang tua tidak mendisiplin anak-anak mereka?
10 Betapa besar tanggung-jawab seorang ayah yang gagal melakukan hal ini! Imam Besar Eli di negeri Israel zaman dahulu, membiarkan anak-anaknya bertindak serakah, kurang ajar dan tidak bermoral; memang ia mengomeli mereka, tetapi ia tidak pernah mengambil tindakan tegas untuk menghentikan perbuatan mereka yang bejat. Maka Allah pun berfirman: ”Kuberitahukan kepadanya, bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya karena dosa yang telah diketahuinya, yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka.” (1 Samuel 2:12-17, 22-25; 3:13) Demikian pula jika seorang ibu gagal melakukan tugasnya, ia akan menderita malu: ”Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.”—Amsal 29:15.
11. Mengapa perlu untuk mengadakan pembatasan-pembatasan tertentu bagi anak-anak?
11 Anak-anak perlu mendapat pembatasan-pembatasan. Tanpa itu mereka merasa gelisah. Dengan adanya pembatasan-pembatasan dan dengan mentaatinya akan membuat anak-anak merasa bagian dari suatu kelompok; mereka termasuk di dalamnya dan diterima sebagai anggota karena menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang berlaku. Bila orang tua selalu bersikap mengiakan, anak-anak kehilangan pegangan yang mereka butuhkan. Kenyataan menunjukkan bahwa anak-anak membutuhkan orang dewasa yang tegas mengatakan batas-batas mana yang tidak boleh dilanggar, dan tidak segan-segan menyampaikan hal ini kepada mereka. Anak-anak perlu menyadari bahwa ada batas-batas tertentu bagi mendapat hukuman apa-apa. Bila hukuman terlalu lamban, siapa pun juga di bumi dan bahwa hal ini menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan. Kita hanya dapat merasa bebas jika orang lain menghargai batas-batas kebebasan kita dan sebaliknya kita pun mengakui kebebasan mereka. Jika kita melanggar batas-batas yang benar, itu berarti ’memperlakukan dengan tidak baik dan memperdayakan saudara-saudara kita’.—1 Tesalonika 4:6.
12. Mengapa disiplin-diri penting, dan bagaimana orang tua dapat membantu anak mereka untuk memiliki disiplin-diri demikian?
12 Anak-anak perlu mengerti bahwa mereka akan mendapat hukuman jika melanggar batas-batas yang benar, supaya mereka menyadari batas-batas mereka. Dan dengan adanya ketegasan dan bantuan orang tua, akhirnya anak-anak mulai memiliki disiplin-diri yang mereka butuhkan untuk hidup bahagia. Ada dua kemungkinan, atau kita mendisiplin diri sendiri, atau disiplin itu akan menimpa kita dari sumber lain. (1 Korintus 9:25, 27) Jika kita memperkembangkan disiplin-diri dan membantu anak-anak kita untuk berbuat yang sama, kehidupan kita dan anak-anak kita akan lebih berbahagia, lebih bebas dari kesusahan dan penderitaan batin.
13. Hal-hal penting apakah perlu disadari oleh orang tua dalam menetapkan aturan-aturan bagi anak mereka?
13 Pedoman dan pembatasan-pembatasan bagi anak-anak harus jelas bagi mereka, harus adil dan disertai pengecualian yang pengasih. Jangan mengharapkan terlalu banyak, jangan pula terlalu sedikit. Ingatlah usia mereka, karena mereka masih anak-anak. Jangan perlakukan mereka seperti orang yang sudah dewasa. Kata rasul Paulus, ketika ia masih bayi, kelakuannya pun masih seperti bayi. (1 Korintus 13:11) Tetapi sekali aturan-aturan yang bijaksana telah ditetapkan dan anak-anak anda mengertinya, jalankanlah aturan itu segera dan secara tegas. ”Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak.” (Matius 5:37) Sebenarnya anak-anak menghargai orang tua yang memegang teguh perkataannya, yang bersikap konsekwen dan bisa dipastikan bagaimana tindakannya, karena mereka menyadari ketegasan orang tua mendukung mereka dan dapat diandalkan jika sewaktu-waktu timbul kesulitan dan mereka membutuhkan bantuan. Jika orang tua bersikap adil tapi positip bila menegur kesalahan, anak-anak merasa lebih tenteram dan mantap. Anak-anak ingin tahu bagaimana pendirian mereka sebenarnya, dan dengan bantuan orang tua seperti itu, mereka tidak ragu-ragu.
14. Mengapa orang tua harus bersikap tegas jika anak mereka tidak menurut?
14 Orang tua sedikit pun tidak boleh mengendor sikapnya bila anaknya tidak menurut perintah. Ada orang tua yang kemudian mengeluarkan segala macam ancaman; atau berdebat tiada habis-habisnya dengan anak mereka, atau bahkan mencoba membujuk, ”menyuap” anak itu untuk melakukan perintahnya. Kadang-kadang cukup jika tetap pada pendirian dan menyuruh dengan tegas bahwa ia harus melakukannya, sekarang juga. Jika seorang anak hendak menyeberang jalan di depan mobil yang lari kencang, semua orang tua pasti tahu bagaimana mereka harus mengendalikan anaknya. Pernah beberapa ahli yang mempelajari masalah ini, mengatakan sebagai berikut: ”Hampir semua orang tua harus selalu mengingatkan anak-anak mereka untuk pergi ke sekolah, . . . untuk menggosok gigi, untuk jangan memanjat atap, untuk lekas mandi, dan demikian seterusnya. Seringkali anak-anak melawan. Tetapi akhirnya mereka menurut juga, setelah mereka tahu bahwa orang tuanya tidak main-main.” Anda dapat mengharapkan anak-anak anda untuk ’menambatkan senantiasa bimbingan dan perintah anda pada hati mereka’ hanya jika anda terus mengingatkan mereka.—Amsal 6:21.
15. Bagaimana akibatnya bagi anak-anak, jika orang tuanya kurang ketegasan di dalam menetapkan aturan-aturan?
15 Bila orang tua hanya angin-anginan memaksakan perintah-perintah mereka, atau jika suatu pelanggaran tidak segera dihukum, anak-anak biasanya akan mencoba-coba untuk mengetahui seberapa jauh mereka dapat berbuat nakal tanpa mendapat hukuman apa-apa. Bila hukuman terlalu lamban, anak-anak sama seperti orang-orang dewasa makin berani dalam perbuatan salah. ”Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat.” (Pengkhotbah 8:11) Karena itu, sekali anda sudah mengatakannya, jangan lupa melakukannya. Maka anak anda akan mengerti bahwa percuma saja ia marah, berdebat, atau bersikap seolah-olah ia menganggap anda kejam atau tidak mencintai dia.
16. Apa yang perlu dilakukan oleh orang tua, supaya jangan terlanjur mengeluarkan perintah-perintah yang tidak masuk akal?
16 Ini berarti harus berpikir dulu sebelum bicara. Peraturan atau perintah yang dikeluarkan dengan tergesa-gesa seringkali kurang masuk akal. ”Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.” (Yakobus 1:19) Bila disiplin yang dijalankan kurang adil dan kurang konsekwen, rasa keadilan yang terdapat dalam diri anak itu akan terganggu, dan kejengkelan pun timbullah.
REKREASI PERLU TETAP DIAWASI
17. Pandangan apakah yang patut dimiliki anak-anak mengenai bekerja dan bermain?
17 Sudah sewajarnya bahwa anak-anak senang untuk bermain. (Zakharia 8:5) Orang tua patut menyadari hal ini, seraya secara berangsur-angsur mengajar anaknya untuk menyukai pekerjaan dan memiliki rasa tanggung jawab. Maka selalu baik bila anak itu disuruh mendahulukan tugas-tugasnya; sesudah itu baru bermain.
18. Bagaimana akibat pergaulan pada anak-anak?
18 Ada anak-anak yang menjadi ”liar” atau betul-betul merasa asing di rumah, karena selalu bermain di tempat lain. Jika pergaulannya kurang baik, akibatnya pun kurang baik. (1 Korintus 15:33) Memang ada pergaulan di luar rumah yang diperlukan supaya pandangan si anak diperluas untuk mengerti sesama manusia. Tetapi jika ia terlalu banyak bergaul di luar rumah atau pergaulan tersebut tidak diawasi, rasa kekeluargaan akan berkurang atau bahkan berantakan.
19. Hal-hal apa patut dipikirkan oleh orang tua supaya anak-anak mereka senang tinggal di rumah?
19 Di samping menjalankan disiplin untuk mencegah hal tersebut, orang tua perlu memikirkan kembali apa yang dapat dilakukan supaya anak-anak senang tinggal di rumah; apakah mereka cukup menyisihkan waktu, bukan saja untuk mengajar dan mendisiplin mereka, tetapi juga untuk bermain-main dan bergaul. Apakah anda biasanya ”terlalu sibuk” untuk menyediakan waktu bagi anak-anak, untuk bermain-main dengan mereka? kesempatan untuk melakukan sesuatu bersama anak-anak anda mungkin tidak akan terulang lagi. Waktu berjalan terus, dan anak tidak tetapi kecil tetapi terus tumbuh dan berubah. Begitu cepat waktu berlalu, rasanya seakan-akan baru kemarin anda melihat bayi anda belajar berjalan. Tahu-tahu putera anda sudah menjadi seorang pemuda tegap, dan puteri anda yang kecil-mungil itu sudah berusaha menjadi gadis remaja. Anda harus benar-benar menjaga keseimbangan dan berdisiplin dalam menggunakan waktu anda. Hanya dengan demikian caranya untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang terbuka bagi anda selama periode yang paling menentukan—atau mencegah supaya anak anda jangan menjauhi anda, pada waktu mereka masih kecil.—Amsal 3:27.
20, 21. Tanggung-jawab apa harus dipikul oleh orang tua apabila ada televisi di rumah, dan mengapa?
20 Di tempat-tempat di mana televisi merupakan hiburan, orang tua perlu membuat pembatasan. Ada orang tua yang menggunakan TV sebagai pengasuh anak-anak. Mungkin itu merupakan cara yang mudah dan kelihatannya murah; sesungguhnya ternyata mahal sekali. Acara-acara televisi sering menonjolkan adegan kekerasan dan seks. Kesan yang diberikan adalah bahwa kekerasan merupakan cara yang baik untuk menyelesaikan semua persoalan; pergaulan mesum digambarkan sebagai sesuatu hal yang biasa saja. Banyak penyelidikan menunjukkan bahwa perasaan orang menjadi tumpul, sehingga mempraktekkan hal-hal tersebut, terutama anak-anak muda. Anda hati-hati menjaga agar anak-anak mendapat makanan sehat dan bukan makanan yang beracun. Seharusnya anda lebih hati-hati lagi mengenai apa yang masuk ke dalam pikiran mereka. Kata Yesus, makanan jasmani tidak masuk ke dalam hati, tetapi apa yang kita masukkan ke dalam pikiran, dapat masuk ke dalam hati.—Markus 7:18-23.
21 Pengawasan mengenai acara-acara yang ditonton dan berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk menonton TV sangat menentukan perkembangan anak. Televisi bisa menyediakan hiburan yang menyenangkan, dan bahkan bersifat mendidik; tetapi jika tidak dikendalikan dapat menjadi ketagihan, sehingga menghabiskan banyak waktu. Waktu adalah kehidupan, dan sebagian dari waktu tersebut tentu dapat digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang lebih berguna. Karena sebenarnya televisi itu hanya dilihat saja, tidak membuat orang aktip melakukan sesuatu. Dengan demikian hiburan televisi bukan saja mengurangi kegiatan jasmani, tetapi juga mengurangi kebiasaan untuk membaca dan bercakap-cakap. Tiap keluarga membutuhkan komunikasi dan keakraban. Kebutuhan demikian tak dapat diisi, hanya dengan duduk diam di ruangan yang sama, sambil menonton televisi. Apabila suatu keluarga terlalu banyak menonton TV, orang tua dapat membimbing anak-anak mereka untuk menghargai kegiatan-kegiatan lain yang sebagai pengganti acara televisi—misalnya mengadakan berbagai permainan yang sehat, membaca, kegiatan keluarga bersama—terutama jika orang tua sendiri memimpin dan memberikan contoh.
MENDISIPLIN ANAK DENGAN SALING BERKOMUNIKASI
22. Mengapa anak-anak harus dapat mengerti keterangan-keterangan yang diberikan oleh orang tuanya?
22 Pengalaman berikut diceritakan oleh seorang ayah:
”Ketika anak saya baru berumur tiga tahun, saya pernah memberikan khotbah panjang lebar kepadanya mengenai soal berbohong. Bagaimana Allah membenci pembohong-pembohong dengan menggunakan Amsal 6:16-19 dan ayat-ayat lain. Anak saya mendengarkan dan kelihatannya wajar saja reaksinya. Tetapi saya merasa bahwa ia kurang mengerti maksud saya. Maka saya pun bertanya padanya, ’Nak, apakah kamu mengerti apa itu berbohong?’ Jawabnya, ’Tidak.’ Setelah pengalaman itu saya selalu tidak lupa menanyakan apakah ia mengerti maksud saya dan mengapa ia dimarahi.”
23. Hal apa yang mungkin diperlukan, supaya anak-anak mengerti mengapa sesuatu harus dilakukan dengan cara tertentu?
23 Ketika anak-anak masih kecil, orang tua mungkin cukup menunjukkan benda-benda tertentu dan mengatakan ”jangan,” misalnya supaya ia jangan memegang setrika yang panas. Tetapi sekalipun peringatan itu demikian sederhananya, orang tua dapat menerangkan mengapa sesuatu tidak diperbolehkan. Misalnya dengan mengatakan bahwa setrika itu ”panas!” sebab jika dipegang nanti ”sakit!” Tetapi dari mula pertama selalu ingatkan anak itu prinsip bahwa suatu larangan diberikan demi kebaikannya sendiri; kemudian tandaskan betapa pentingnya sifat-sifat seperti kebaikan, sifat tidak mementingkan diri dan kasih. Bantu anak anda untuk menyadari bahwa sifat-sifat ini menjadi dasar dari semua aturan atau persyaratan yang benar. Perlihatkan juga mengapa suatu perbuatan menunjukkan apakah ia memiliki sifat-sifat itu atau tidak. Dengan melakukan hal ini terus-menerus, bimbingan anda bukan saja dapat diterima dalam pikiran anak itu, tetapi juga hatinya.—Matius 7:12; Roma 13:10.
24. Mengapa penting bahwa seorang anak menghormati wewenang orang lain?
24 Demikian juga, ketaatan dan hormat terhadap wewenang harus diajarkan secara setahap demi setahap. Pada tahap pertama kehidupannya, penerimaan atau penolakan terhadap permintaan orang dewasa mulai kelihatan. Sesuai dengan perkembangan pikirannya, tanamkan dalam dirinya pengertian akan tanggung jawab orang tua terhadap Allah. Hal ini sangat banyak menentukan sikap anak itu. Tanpa pengertian ini, anak-anak dapat mengira bahwa mereka harus tunduk hanya karena orang tua lebih besar dan lebih berkuasa daripada mereka. Jika sebaliknya anak itu sadar bahwa hal ini bukan sekedar kemauan orang tua mereka sendiri, tetapi sesuai dengan perintah Allah Pencipta, yang terdapat dalam Firman-Nya, maka nasihat dan bimbingan orang tua lebih berwibawa. Hal ini akan lebih terasa kelak pada waktu anak itu mengalami masa pancaroba, ketika ia mulai merasakan betapa sulitnya untuk berpegang teguh kepada prinsip-prinsip yang benar, sewaktu menghadapi godaan atau tekanan.—Mazmur 119:109-111; Amsal 6:20-22.
25. Bagaimana nasihat di Amsal 17:9 dapat membantu orang tua untuk mendisiplin anak mereka dengan baik?
25 ”Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib.” (Amsal 17:9) Ini juga berlaku antara orang tua dan anak. Katakanlah seorang anak sudah menyadari kesalahan yang dilakukannya, dan ia sudah mengerti mengapa ia perlu mendapat disiplin, dan hukuman pun sudah dijalankan. Maka orang tua yang mengasihi anaknya tidak perlu membangkit-bangkit kembali perkara lama. Apa pun kesalahan yang dilakukannya, jangan sampai anak itu salah mengerti: yang anda benci perbuatan yang salah, bukan orangnya. (Yudas 23) Boleh jadi anak itu sudah merasa mendapat pelajaran yang ”pahit,” dan tersinggung jika terus-menerus diingatkan kembali mengenai kesalahannya. Ini dapat mengakibatkan bahwa ia akan menjauhi orang tuanya atau anak-anak lain dalam keluarga. Bila orang tua kuatir terjadi perkembangan yang kurang baik dalam diri anaknya, mungkin ini dapat dibicarakan bersama-sama pada waktu yang cocok. Jangan hanya membicarakan kesalahan-kesalahan yang lampau, tapi bicarakanlah prinsip-prinsip yang berlaku, bagaimana hal itu dapat dipakai dan mengapa hal itu penting untuk kebahagiaannya di kemudian hari.
BERBAGAI CARA UNTUK MENDISIPLIN ANAK
26. Mengapa belum tentu semua anak akan menurut walaupun menerima disiplin yang sama?
26 ”Suatu hardikan lebih masuk pada orang berpengertian dari pada seratus pukulan pada orang bebal.” (Amsal 17:10) Tidak semua anak itu sama, karena itu cara mendisiplin pun tidak selalu sama. Perangai masing-masing perlu dipertimbangkan. Ada anak yang terlalu sensitip dan mungkin tidak perlu mendapat hukuman badan. Bagi anak yang lain pukulan mungkin tidak mempan. Ada pula anak yang seperti budak yang digambarkan di Amsal 29:19, di mana ”dengan kata-kata saja seorang hamba tidak dapat diajari, sebab walaupun ia mengerti, namun ia tidak mengindahkannya.” Jelas, anak demikian memerlukan hukuman badan.
27. Bagaimana seorang ayah membantu putranya yang masih kecil sehingga tidak mencoret-coret dinding?
27 Seorang ibu menceritakan pengalamannya sebagai berikut:
”Ketika anak saya berumur dua tahun, ia mulai mencoret-coret dinding—goresan-goresan warna merah tidak seberapa tinggi dari lantai. Lalu suami saya menanyakan kepadanya mengapa ia mencoret-coret dinding. Tetapi anak saya diam saja memandangi ayahnya. Akhirnya suami saya mengatakan, ’Ya, sayang, waktu papa masih kecil seperti kamu, papa juga pernah mencoret-coret dinding. Rasanya senang, ya?’ Heran, mendengar itu, anak saya kemudian tersenyum, dan mulai bersemangat berbicara mengenai betapa senangnya mencoret-coret. Ia tahu ayahnya mengerti perasaannya! Tetapi, akhirnya ia mendapat penjelasan bahwa dinding bukanlah tempat untuk mencoret-coret, betapa pun menyenangkan pekerjaan itu. Dengan adanya komunikasi, sedikit penjelasan tambahan sudah cukup bagi anak saya.”
28. Bagaimana sebaiknya orang tua dapat menghindarkan perdebatan dengan anaknya?
28 Bila mendisiplin anak, memang baik memberi penjelasan untuk mengajar dan mendidiknya, tetapi sebaiknya jangan berdebat. Ketika anaknya berdebat mengenai mengerjakan tugas tertentu, seorang ibu hanya berkata: ”Nanti setelah selesai tugasmu, kita pergi jalan-jalan ke taman,” yang bagi anak itu merupakan sesuatu yang dinanti-nantikan untuk hari itu. Suatu kesenangan atau kesempatan untuk jalan-jalan ditunda sampai tugas yang diberikan dikerjakan. Sewaktu ibu itu kembali dan ternyata pekerjaan belum juga dilakukan, ia mengatakan: ”Wah, belum dikerjakan? Kita pergi jika kamu sudah selesai.” Si ibu tidak berdebat, tetapi ia mendapat hasil.
29. Apa yang kiranya dapat dilakukan supaya seorang anak merasakan akibat buruk dari perbuatannya yang kurang baik?
29 Dengan merasakan sendiri akibat-akibat yang tidak menyenangkan dari perbuatan salah, anak-anak dapat dibantu menyadari betapa perlunya prinsip-prinsip yang benar. Apakah seorang anak mengotori meja atau lantai? Disiplin akan lebih berkesan, jika ia disuruh membersihkannya sendiri. Apakah ia telah bertindak kasar atau tidak adil? Dengan menyuruhnya meminta maaf, akan lebih mudah baginya untuk merubah suatu kebiasaan buruk. Mungkin ia telah memecahkan sesuatu karena marah. Bila anak itu sudah cukup besar, ia dapat dihukum dengan menyuruhnya menyisihkan uangnya untuk ganti kerugian. Beberapa anak menjadi sadar jika hak-hak kehormatan tertentu dicabut selama beberapa waktu. Dalam sidang Kristen teman-teman akan menjauhi orang yang melakukan perbuatan tercela, agar ia menjadi malu. (2 Tesalonika 3:6, 14, 15) Bagi anak-anak muda, dengan mengucilkannya beberapa waktu dari pergaulan keluarga, kadang-kadang dapat lebih efektip daripada pukulan. Tentu saja orang tua yang mengasihi anaknya tidak akan bertindak ekstrim, misalnya dengan tidak membukakan pintu rumah pada waktu anak itu pulang. Cara apa pun yang dipakai, anak-anak perlu diajar bahwa mereka harus menanggung sendiri segala akibat tindak-tanduk mereka. Dengan demikian mereka belajar untuk bertanggung-jawab.
MENDISIPLIN ANAK DENGAN KASIH SAYANG
30. Mengapa orang tua harus menjaga keseimbangan, bila menetapkan aturan-aturan bagi anak mereka?
30 ”Utamakan perkara-perkara yang lebih penting,” dan jangan lupa bahwa ”hikmat yang datang dari atas itu . . . rasional.” (Filipi 1:10; Yakobus 3:17, NW) Ingatlah bahwa anak-anak memiliki energi berlimpah-limpah yang mencari penyaluran, dan bahwa mereka selalu ingin tahu dan ingin mencoba hal-hal baru. Dalam memberikan pembatasan dan petunjuk, anda harus pandai memilih apa yang terbaik. Harus ada keseimbangan antara apa yang perlu dan apa yang tidak begitu perlu. Setelah menetapkan batas-batas, daripada mencoba mengendalikan sampai soal sekecil-kecilnya, biarkanlah anak-anak anda bergerak cukup bebas dan dengan penuh kepercayaan dalam batas-batas tersebut. (Amsal 4:11, 12) Jika tidak, bisa jadi anak anda akan ”sakit hati” dan ”tawar hati,” dan anda sendiri kehabisan tenaga karena mempersoalkan masalah-masalah yang sepele.—Kolose 3:21.
31. Contoh bagaimana diberikan oleh Allah Yehuwa dalam soal disiplin?
31 Karena itu, hai para orang tua, ”Hajarlah anakmu selama ada harapan,” tetapi lakukan itu dengan cara Allah, dengan penuh kasih sayang. Tirulah Allah: ”Karena TUHAN [Yehuwa] memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya.” Hendaknya disiplin anda bersifat mendidik dan pengasih, seperti cara Allah Pencipta, karena ”teguran yang mendidik itu jalan kehidupan.”—Amsal 19:18; 3:12; 6:23.
-
-
Menjaga Hubungan Komunikasi Tetap TerbukaMembina Keluarga Bahagia
-
-
Pasal 11
Menjaga Hubungan Komunikasi Tetap Terbuka
1, 2. Apa yang dimaksudkan dengan komunikasi, dan mengapa ini penting?
KOMUNIKASI itu lebih daripada hanya berbicara saja. Sebagaimana dikemukakan rasul Paulus: Jika si pendengar tidak mengerti apa yang dikatakan, ”kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara.” (1 Korintus 14:9) Apakah anak-anak anda benar-benar mengerti apa yang anda katakan, dan mengertikah anda apa yang diutarakan oleh anak-anak anda?
2 Untuk benar-benar berkomunikasi, perlu saling mengungkapkan perasaan, ide-ide dan buah pikiran. Jika cinta kasih itu umpama jantung dari keluarga yang bahagia, maka komunikasi mungkin dapat diumpamakan seperti darah kehidupan. Jika komunikasi antara suami-isteri mulai terhenti, kesukaran akan timbul. Demikian juga dengan komunikasi antara orang tua dan anak, jika bukan lebih parah, akibatnya sama-sama serius.
DIPERLUKAN PANDANGAN JAUH KE DEPAN
3. Orang tua biasanya akan mengalami problem komunikasi pada saat anaknya mencapai usia manakah?
3 Komunikasi antara orang tua dan anak biasanya mengalami kesulitan bukan pada waktu anak itu masih kecil, tetapi menjelang ia menjadi dewasa—yaitu masa remaja. Orang tua harus menyadari bahwa perkembangan ini akan terjadi. Hanya akan mengingkari kenyataan, jika mereka mengira tidak akan ada kesulitan di kemudian hari, karena segalanya berjalan lancar ketika anak mereka masih kecil. Masalah-masalah pasti akan timbul, dan jika ada komunikasi yang jelas dan efektip, akan mudahlah untuk mengatasi atau mengurangi masalah-masalah tersebut. Maka, orang tua perlu melihat dan berpikir jauh ke depan, sebab ”akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya.”—Pengkhotbah 7:8.
4. Haruskah segala hubungan komunikasi keluarga dilakukan dengan percakapan? Jelaskanlah.
4 Banyak yang perlu dilakukannya untuk menciptakan, membina dan memelihara komunikasi yang baik dalam keluarga. Setelah waktu bertahun-tahun, seringkali suami isteri berhasil membina saling kepercayaan dan saling pengertian demikian rupa sehingga mereka bahkan dapat berkomunikasi tanpa sepatah kata—kadang-kadang mereka mengerti satu sama lain meskipun hanya melalui lirikan mata, senyuman atau sentuhan tangan. Alangkah baiknya jika orang tua dapat membina komunikasi yang demikian erat, juga dengan anak-anak mereka. Sebelum bayi mengerti tutur kata, orang tua dapat berkomunikasi dengan mengungkapkan kasih sayang dan rasa tenteram. Jika selama masa pertumbuhan anak seluruh keluarga bekerja dan bermain bersama-sama, bahkan lebih penting lagi, beribadat bersama-sama, maka hubungan komunikasi dalam keluarga terjalin dengan baik. Tetapi memerlukan kerja keras dan kebijaksanaan, supaya komunikasi demikian selalu bersifat terbuka.
ANAK ANDA HARUS BELAJAR UNTUK BERSIKAP TERBUKA
5-7. (a) Mengapa sebaiknya orang tua jangan menghalangi anaknya untuk bicara? (b) Bagaimana caranya orang tua dapat mengajarkan sopan santun kepada anak mereka?
5 Menurut peribahasa kuno, ”tidak pantas bagi seorang anak muda untuk bicara.” Memang benar—tetapi tidak selalu. Anak-anak perlu belajar bahwa menurut Firman Allah, ”ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara.” (Pengkhotbah 3:7) Tetapi anak-anak selalu berusaha menarik perhatian, dan orang tua harus berhati-hati agar tidak mengekang anaknya sehingga takut mengeluarkan isi hatinya. Jangan mengharapkan bahwa reaksi anak kecil pada waktu mengalami sesuatu akan sama dengan reaksi orang dewasa. Orang dewasa mungkin sudah terbiasa dengan segala sesuatu yang dialami dalam kehidupan yang penuh bervariasi ini. Seorang anak mudah sekali terpesona dan demikian asyiknya dengan sesuatu yang langsung menarik perhatiannya, sehingga boleh dikata lupa akan segala sesuatu. Anak kecil bisa tiba-tiba memasuki ruangan dan langsung mulai menceritakan kepada ayah atau ibunya apa yang telah dialaminya. Bayangkan bagaimana semangat anak yang meluap-luap itu dapat dipadamkan, jika orang tua memotong pembicaraan anaknya dengan membentak ”Diam kamu!” Boleh jadi, ocehan seorang anak tidak ada artinya. Tetapi, dengan membiarkan anak-anak bebas berbicara, lebih besar harapan anda bahwa sesudah besar nanti mereka akan selalu terbuka untuk memberitahukan anda apa yang ingin dan harus anda ketahui.
6 Sopan santun memudahkan komunikasi yang baik. Anak-anak harus belajar sopan santun, dan orang tua harus memberi contoh dalam cara mereka berkomunikasi dengan anaknya, demikian juga dalam cara-cara lain. Teguran penting dan harus diberikan jika perlu, kadang-kadang bahkan dengan keras. (Amsal 3:11, 12; 15:31, 32; Titus 1:13) Tetapi jika anak-anak selalu dipotong pembicaraannya, sering diperbaiki kesalahannya, atau lebih celaka lagi, dihina dan diejek oleh orang tua pada waktu mereka bicara, mereka mungkin akan menyendiri—atau akan mencari orang lain dengan siapa mereka dapat berbicara. Makin sering hal ini terjadi, makin tertutuplah sikap anak anda. Mengapa tidak berbuat begini—sebelum tidur nanti malam, cobalah renungkan kembali apa saja yang telah anda katakan kepada anak anda, kemudian bertanyalah kepada diri sendiri: Berapa kali aku telah menunjukkan penghargaan, memberikan anjuran dan pujian kepada anakku hari ini? Sebaliknya, berapa kali aku telah mengatakan yang tidak membina, yaitu mengecilkan hatinya, menyatakan ketidakpuasan, kejengkelan dan kemarahan? Anda mungkin akan terkejut mengingat kembali apa yang telah anda lakukan.—Amsal 12:18.
7 Sering dibutuhkan kesabaran dan pengendalian diri dari orang tua. Anak-anak cenderung berlaku tidak sabar. Kadang-kadang mereka langsung bicara tanpa pikir panjang, mungkin menyela percakapan orang dewasa. Orang tua boleh jadi memarahi anaknya. Tetapi kadang-kadang lebih bijaksana untuk mendengarkan anak itu dahulu, dengan demikian memperlihatkan contoh pengendalian diri dan kemudian, setelah memberikan jawaban yang singkat, orang tua dapat mengingatkan anaknya untuk berlaku sopan dan tenggang-rasa. Jadi, di sini juga berlaku nasihat supaya ”cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.”—Yakobus 1:19.
8. Cara bagaimana orang tua membiasakan anak untuk tidak segan-segan meminta bimbingan?
8 Tentu anda ingin agar anak-anak anda tidak segan-segan meminta petunjuk anda bila menghadapi suatu persoalan. Anda bisa menganjurkan mereka untuk berbuat demikian dengan menunjukkan bahwa anda sendiri pun meminta nasihat pada orang lain yang anda hormati. Seorang ayah menceritakan pengalamannya, bagaimana ia membina hubungan baik dengan anak-anaknya yang masih kecil, sebagai berikut:
”Hampir tiap malam aku mengucapkan doa bersama anak-anak sebelum mereka tidur. Biasanya mereka sudah di tempat tidur dan aku pun berlutut di samping tempat tidur, sambil merangkul mereka. Aku mengucapkan doa, dan sering anak-anak mengucapkan doa yang lain sesudahnya. Tidak jarang anak-anak mencium pipiku dan mengatakan, ’Ayah, aku sayang padamu,’ dan kemudian mulai mengeluarkan isi hati mereka. Karena kehangatan tempat tidur dan perasaan tenteram dalam pelukan ayah, mereka kadang-kadang menceritakan problem pribadi agar diberi bantuan atau hanya sekedar menyampaikan ucapan kasih sayang.”
Pada waktu makan dan pada waktu-waktu lain, jika doa-doa yang anda ucapkan, tidak bersifat rutin, tetapi keluar dari hati dan menunjukkan hubungan pribadi yang sungguh-sungguh dengan Pencipta dan Bapa surgawi anda, maka ini akan sangat membantu anda untuk memupuk hubungan batin yang baik dengan anak-anak.—1 Yohanes 3:21; 4:17, 18.
MASA PERALIHAN
9. Apa yang dapat dikatakan mengenai problem-problem dan kebutuhan remaja, dibandingkan dengan anak-anak yang masih kecil?
9 Masa remaja merupakan masa peralihan. Pada waktu itu putra atau putri anda bukan anak kecil lagi, tetapi belum pula dewasa. Tubuh mereka sedang mengalami perubahan-perubahan, dan ini mempengaruhi emosi mereka. Masalah-masalah dan kebutuhan yang dialami kaum remaja berbeda dengan yang dialami pada masa sebelumnya. Maka pendekatan orang tua harus dirubah caranya, karena apa yang cocok untuk masa pra-remaja belum tentu akan cocok bagi seorang remaja. Kini perlu lebih banyak penjelasan. Berarti komunikasi bukannya makin berkurang, tetapi justru harus makin bertambah.
10. (a) Mengapa penerangan mengenai masalah seks yang sederhana tidak cukup bagi kaum remaja? (b) Cara bagaimana orang tua dapat membicarakan masalah seks dengan anak mereka?
10 Misalnya, penjelasan sekedarnya yang anda berikan kepada anak kecil mengenai seks, mungkin tidak memadai bagi seorang remaja. Mereka merasakan adanya gejolak-gejolak seks, tetapi karena malu mereka sering takut bertanya kepada ayah atau ibunya. Orang tualah yang harus mengambil prakarsa, dan ini tidak mudah kecuali jika mereka telah menciptakan dan membina komunikasi yang baik, terutama dengan anak-anak mereka. Seandainya anak anda sebelumnya sudah mendapat penjelasan, mungkin tidak akan timbul rasa kuatir pada waktu putra anda mulai keluar air mani dan putra anda mulai mengalami masa haid. (Imamat 15:16, 17; 18:19) Misalnya, seorang ayah dapat membicarakan mengenai soal merancap (masturbasi), sewaktu berjalan-jalan bersama putranya. Setelah mengatakan bahwa kebanyakan pemuda mengalami masalah dengan hal itu, si ayah dapat berkata, ’Bagaimana pengalamanmu dalam hal ini?’ atau ’Apakah kamu juga mengalami masalah dengan itu?’ Bahkan dapat dilakukan diskusi keluarga mengenai masalah-masalah yang timbul pada masa remaja, dan masing-masing ayah dan ibu dapat memberi nasihat, dengan secara santai tetapi terus terang.
MEMAHAMI KEBUTUHAN KAUM REMAJA
11. Bagaimana perbedaan antara kaum remaja dan orang-orang yang sudah dewasa?
11 ”Perolehlah hikmat, dan dengan segala yang kauperoleh, perolehlah pengertian.” (Amsal 4:7) Sebagai orang tua, anda hendaknya bijaksana dan memahami anak muda; tunjukkanlah bahwa anda mengerti perasaan mereka. Jangan lupa akan apa yang pernah anda sendiri alami ketika masih muda. Juga camkanlah bahwa semua orang tua pernah muda dan tahu bagaimana rasanya, tetapi anak muda belum pernah merasakan bagaimana menjadi orang tua. Remaja tidak mau lagi diperlakukan sebagai anak kecil, tetapi sebenarnya ia belum dewasa dan belum banyak menaruh minat akan soal-soal orang dewasa. Ia masih mempunyai kecenderungan untuk bermain-main dan membutuhkan waktu untuk melewati masa-masa itu.
12. Cara bagaimana remaja ingin diperlakukan oleh orang tuanya?
12 Ada beberapa hal yang terutama diinginkan oleh kaum muda dari orang tuanya selama tahap kehidupan ini. Mereka berharap untuk lebih dimengerti; lebih daripada masa sebelumnya, mereka minta diperlakukan seperti orang dewasa; mereka menginginkan pedoman dan petunjuk yang konsekwen, dengan mengingat bahwa mereka sedang menginjak masa dewasa; mereka ingin merasa dibutuhkan dan dihargai.
13. Bagaimana reaksi yang kadang-kadang diperlihatkan anak-anak belasan tahun terhadap larangan orang tua, dan mengapa?
13 Orang tua hendaknya jangan terkejut jika tiba-tiba anaknya yang menginjak usia remaja mulai bersikap enggan dibatasi. Hal ini terjadi karena anak anda sedang mengalami peralihan ke arah kebebasan sendiri dan keinginan wajar untuk bebas bergerak dan menentukan kemauan sendiri. Bayi yang tidak berdaya harus terus-menerus dijaga dan diasuh oleh orang tuanya, anak kecil juga masih membutuhkan asuhan, tetapi semakin besar anak itu, semakin banyak pula kegiatannya, dan hubungan dengan orang-orang lain di luar lingkungan keluarga makin banyak dan bertambah kuat. Karena keinginan untuk merdeka ini mungkin anda mengalami kesukaran menghadapi putra atau putra anda. Demi kebaikan anak itu sendiri, orang tua tidak boleh membiarkan wewenang diabaikan atau dikesampingkan begitu saja. Tetapi dengan bijaksana, orang tua dapat mengatasi keadaan dan memelihara komunikasi, bila mereka mengerti mengapa tingkah laku anak mereka itu tiba-tiba berubah.
14. Cara bagaimana orang tua dapat menanggapi keinginan anaknya akan lebih banyak kebebasan?
14 Apa yang harus dilakukan oleh orang tua, menghadapi keinginan anaknya yang mendesak akan kebebasan yang lebih besar? Keinginan yang mendesak itu dapat diumpamakan seperti per yang digenggam di tangan. Jika tiba-tiba dilepaskan, per itu akan meloncat tak terkendali ke suatu arah yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Jika terlalu lama digenggam, anda sendiri lelah dan per itu pun makin lemah. Tetapi jika dilepaskan secara berangsur-angsur ia akan tetap pada tempatnya.
15. Dari mana kita tahu bahwa pertumbuhan Yesus menuju kedewasaan diawasi oleh orang tuanya?
15 Contoh mengenai perkembangan yang terkendali ke arah kebebasan seperti itu dapat kita ambil dari pengalaman Yesus sebagai pemuda. Mengenai masa sebelum menjadi remaja, dalam riwayat hidupnya di Lukas 2:40 dikatakan ”anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.” Pasti orang tuanya besar pengaruhnya dalam perkembangan hidupnya, karena sekalipun ia sempurna, tidak berarti hikmatnya berkembang sendiri. Seperti dijelaskan dalam riwayat hidupnya, orang tua Yesus menciptakan suasana kerohanian yang baik untuk pendidikannya. Ketika Yesus berumur 12 tahun, sewaktu keluarga itu berada di Yerusalem untuk merayakan Paskah, Yesus pun pergi ke bait Allah dan berbincang-bincang dengan para guru agama di situ. Rupanya orang tuanya memberikan kebebasan ini kepada putera mereka yang berumur 12 tahun itu. Mereka meninggalkan kota Yerusalem tanpa menyadari bahwa anak mereka tertinggal. Mungkin sangka mereka, ia pulang bersama teman-teman atau sanak keluarga yang lain. Tiga hari kemudian mereka menemukan Yesus di bait Allah, bukan mencoba mengajar orang tua-tua di situ, tetapi ”mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.” Ibunya kemudian mengatakan betapa kuatirnya mereka dan Yesus menjawab dengan sopan bahwa ia mengira mereka pasti tahu di mana dapat menemukannya sewaktu bersiap-siap untuk pulang. Meskipun agak menikmati kebebasan, menurut riwayat yang tertulis sesudah itu pun Yesus ”tetap tunduk kepada mereka [NW],” tetap mentaati petunjuk dan larangan orang tuanya ketika ia menginjak usia remaja, dan ”makin bertambah besar dan bertambah hikmatnya dan besarnya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”—Lukas 2:41-52.
16. Hal apakah yang sebaiknya diingat oleh orang tua, jika mengalami problem dengan anak mereka yang menginjak dewasa?
16 Demikian juga hendaknya orang tua memberikan kebebasan yang secukupnya kepada putra-putrinya secara bertahap seraya mereka meningkat dewasa. Biarkan mereka lebih banyak mengambil keputusan sendiri, di bawah bimbingan dan pengawasan orang tua. Jika timbul persoalan, dengan mengerti pangkal sebabnya orang tua akan dibantu untuk tidak membesar-besarkan soal-soal kecil. Seringkali seorang remaja tidak dengan sengaja memberontak terhadap orang tuanya, tetapi hanya ingin lebih bebas dan kurang pandai mengutarakannya. Karena itu orang tua sering salah mengerti, lalu mempersoalkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Jika persoalannya tidak terlalu serius, lupakan saja. Tentu saja orang tua harus tegas jika menghadapi masalah-masalah yang serius. ’Jangan tapiskan nyamuk,’ tetapi jangan pula ’kamu telan unta’.—Matius 23:24.
17. Faktor-faktor apa yang patut dipertimbangkan orang tua, bila mengeluarkan pembatasan-pembatasan tertentu bagi anak mereka yang menginjak dewasa?
17 Orang tua mudah membina hubungan baik dengan putra dan putra mereka yang sudah remaja jika selalu bersikap seimbang dalam memberikan larangan atau pembatasan kepada mereka. Jangan lupa bahwa ”hikmat yang datang dari atas adalah pertama-tama murni,” tetapi juga ”peramah [rasional, NW],” ”penuh belas kasihan” dan ”tidak munafik.” (Yakobus 3:17) Ada hal-hal tertentu yang menurut Alkitab sama sekali tidak dapat diterima, yaitu mencuri, percabulan, menyembah berhala dan perbuatan lainnya yang tercela. (1 Korintus 6:9, 10) Dalam hal-hal ini, baik atau buruk itu bergantung kepada seberapa jauhnya sesuatu itu dilakukan. Makanan itu baik, tetapi makan berlebih-lebihan berarti gelojoh. Demikian juga mengenai acara santai seperti berdansa, mengadakan permainan, berpesta dan lain sebagainya. Seringkali yang menjadi masalah bukan apa yang dilakukan, melainkan caranya itu dilakukan dan bersama siapa. Jadi kita tidak akan menyalahkan makan, jika yang sebenarnya kita maksudkan adalah gelojoh. Demikian juga, janganlah orang tua mencela sama sekali suatu acara muda-mudi, kalau yang ditakuti hanyalah ekses-ekses (hal-hal yang melampaui batas) yang bisa terjadi, atau kemungkinan berkembangnya unsur-unsur negatip.—Periksa juga Kolose 2:23.
18. Cara bagaimana sebaiknya orang tua dapat memperingatkan anak mereka mengenai pergaulan mereka?
18 Semua muda-mudi merasakan kebutuhan untuk berkawan. Jarang sekali kawan yang mereka pilih benar-benar ”sempurna.” Tetapi bukankah anak-anak anda sendiri juga punya kelemahan-kelemahan? Namun demikian, anda memang perlu melarang pergaulan dengan pemuda-pemudi tertentu yang pengaruhnya dapat merusak. (Amsal 13:20; 2 Tesalonika 3:13, 14; 2 Timotius 2:20, 21) Pada anak-anak yang lain, mungkin anda melihat beberapa hal yang menyenangkan dan hal-hal yang kurang menyenangkan. Tetapi janganlah melarang anak anda untuk bergaul dengan temannya karena mempunyai suatu kekurangan. Sebaiknya beritahukan kepadanya bahwa anda menyukai beberapa sifat baik dari temannya, tetapi ingatkanlah agar ia berhati-hati terhadap segi-segi kelemahan temannya itu. Anjurkan putra dan putri anda untuk menjadi pengaruh yang baik atas segi-segi kelemahan tersebut, demi kebaikan kawannya.
19. Selaras dengan prinsip yang dikemukakan dalam Lukas 12:48, cara bagaimana anak-anak dapat dibantu supaya memiliki pandangan yang benar mengenai kebebasan mereka?
19 Satu cara untuk membantu putra atau putri anda yang masih remaja agar dapat memperkembangkan pandangan yang benar terhadap bertambahnya kedewasaan, adalah dengan mengingatkan mereka bahwa tanggung-jawab yang lebih besar menyertai kebebasan yang bertambah. ”Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut.” (Lukas 12:48) Dengan membuktikan diri cukup bertanggung-jawab, lebih banyak kepercayaan dapat diberikan orang tua kepada anak-anak mereka.—Galatia 5:13; 1 Petrus 2:16.
CARA MENYAMPAIKAN NASEHAT DAN TEGURAN
20. Di samping wewenang atau kekuasaan atas anak-anak, apa lagi dibutuhkan supaya komunikasi tidak pernah terputus?
20 Jika orang yang memberi nasihat kepada anda kurang mengerti keadaan anda, tentu anda akan menganggap nasihatnya kurang tepat. Dan jika orang itu masih juga memaksakan kemauannya, mungkin anda akan merasa kesal karena diperlakukan kurang adil. Karena itu, orang tua harus mengingat bahwa ”hati orang berpengertian mencari pengetahuan” dan ”orang yang bijak lebih berwibawa dari pada orang kuat.” (Amsal 15:14; 24:5) Bisa saja anda menggunakan kekuasaan atas anak anda, tetapi jika itu disertai dengan pengetahuan dan pengertian, akan lebih mudah untuk menyampaikan pandangan anda. Kurangnya pengertian sewaktu menegur anak muda, dapat mengakibatkan ”generation gap” (jurang pemisah generasi) dan terputusnya komunikasi.
21. Cara bagaimana orang tua harus menangani anak-anak yang melakukan perbuatan tercela?
21 Apa yang akan anda lakukan seandainya anak anda mengalami kesulitan, melakukan suatu kesalahan yang serius atau terlibat perbuatan tercela yang tidak anda duga sebelumnya? Anda tidak boleh memaafkan begitu saja pelanggaran tersebut. (Yesaya 5:20; Maleakhi 2:17) Tetapi hendaknya diingat bahwa justru pada saat-saat inilah putra atau putri anda membutuhkan bantuan yang penuh pengertian dan bimbingan yang bijaksana. Seperti Allah Yehuwa, anda kira-kira dapat mengatakan begini: ’Marilah kita selesaikan masalah ini; memang keadaan cukup berat, tetapi pastilah dapat diatasi!’ (Yesaya 1:18) Luapan amarah atau celaan yang tajam dapat menghambat komunikasi. Betapa seringnya kita mendengar pemuda-pemudi yang tersesat berkata: ’Orang tua saya susah diajak bicara—kalau saya ceritakan, pasti mereka marah sekali.’ Efesus 4:26 berkata: ”Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa.” Kendalikan emosi anda dan dengarkan baik-baik apa yang hendak dikatakan oleh anak anda. Jika anda bersikap terbuka untuk mendengarkan penjelasan mereka, teguran anda akan lebih mudah diterima.
22. Mengapa orang tua tiada sekali-kali boleh menimbulkan kesan bahwa mereka sudah angkat tangan dalam hal mendidik anak mereka?
22 Kadang-kadang masalahnya bukan sekedar suatu kejadian tersendiri, tetapi sudah lama ada gejala yang tidak baik. Meskipun disiplin diperlukan, jangan sekali-kali orang tua memberikan kesan, dengan perkataan atau dengan sikap, seolah-olah sudah kehabisan akal apa yang harus dilakukan dengan anak itu. Sifat panjang sabar menunjukkan seberapa jauh kasih sayang anda. (1 Korintus 13:4) Janganlah melawan kejahatan dengan kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan. (Roma 12:21) Anak itu hanya kana menjadi sakit hati, jika dipermalukan di depan orang lain dengan mengatakan bahwa ia ”pemalas,” ”suka melawan,” ”bodoh” atau ”payah, tidak ada harapan lagi.” Kasih tidak berhenti berharap. (1 Korintus 13:7) Bisa saja seorang anak menjadi demikian nakal dan lari dari rumah. Orang tua tentu tidak senang, tetapi hendaknya mereka tetap membiarkan jalan terbuka agar ia kembali. Bagaimana caranya? Dengan menunjukkan bahwa yang mereka benci adalah perbuatannya, bukan orangnya. Orang tua dapat terus menunjukkan keyakinan mereka bahwa anaknya mempunyai sifat-sifat yang baik, dan harapan mereka bahwa sifat-sifat inilah yang menang pada akhirnya. Jika demikian halnya, sama seperti ’anak hilang’ dalam perumpamaan Yesus, ia dapat kembali dengan keyakinan bahwa ia akan disambut dengan hangat.—Lukas 15:11-32.
HARGA DIRI
23. Mengapa penting supaya anak-anak yang menginjak kedewasaan merasakan bahwa mereka dihargai sebagai anggota keluarga?
23 Semua orang ingin dihargai, ingin disambut baik dan diakui, ingin memiliki perasaan dibutuhkan. Supaya dihargai dan disambut dengan baik oleh orang lain, tentu saja kita tidak bisa bertindak semaunya. Kita tidak boleh melewati batas-batas yang berlaku bagi kelompok dengan siapa kita tergabung. Kaum remaja juga ingin merasakan dirinya sebagian dari keluarga. Karena itu, usahakanlah supaya mereka merasa sebagai anggota keluarga yang dihargai, yang turut memajukan kesejahteraan keluarga, yang bahkan juga diminta pendapat mengenai rencana dan keputusan tertentu yang menyangkut seluruh keluarga.
24. Apa yang harus dihindarkan oleh orang tua, supaya jangan anak yang satu iri terhadap anak yang lainnya?
24 ”Janganlah kita gila hormat,” kata rasul Paulus. ”Janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.” (Galatia 5:26) Pujian atas pekerjaan baik yang dilakukan seorang anak akan mencegah timbulnya sifat-sifat demikian. Tetapi akan timbul iri hati dan dengki, jika kekurangan seorang anak dibandingkan dengan anak lain yang selalu dianggap lebih hebat. Rasul Paulus berpesan supaya ”baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.” (Galatia 6:4) Anak itu ingin supaya orang tua menerima dia apa adanya, dengan segala kelebihan atau kekurangannya, ia ingin tetap dicintai.
25. Bagaimana caranya orang tua dapat membantu anaknya supaya memiliki harga diri?
25 Orang tua bisa membantu anaknya untuk mengembangkan harga diri yang baik dengan melatihnya untuk mulai memikul tanggung-jawab dalam berbagai bidang. Sejak kecil anak itu telah mereka didik untuk bersikap jujur dan terus terang, dan untuk memperlakukan orang lain dengan baik. Melalui pendidikan dasar ini mereka dapat menunjukkan bagaimana sifat-sifat tersebut berlaku dalam kehidupan bermasyarakat. Ini termasuk cara bagaimana ia menerima tanggung-jawab atas suatu pekerjaan dan membuktikan diri dapat dipercaya. Sebagai remaja, Yesus pun ”bertambah hikmat.” Ia belajar suatu ketrampilan dari Yusuf, ayah angkatnya. Sebab bahkan ketika mencapai umur 30 tahun dan mulai menjalankan pekerjaan pengabaran kepada umum mengenai Kerajaan Allah, orang-orang menyebutnya sebagai si ”tukang kayu.” (Markus 6:3) Pada usia remaja, anak laki-laki terutama perlu belajar apa artinya bekerja dan menyenangkan seorang majikan atau langganan, biarpun tugasnya biasa saja seperti pesuruh. Mereka perlu belajar bahwa dengan bekerja rajin, bersungguh-sungguh dan dapat dipercaya, mereka memperoleh harga diri dan respek serta penghargaan dari orang lain. Dengan cara demikian, bukan saja orang tua dan keluarga mendapat pujian, tetapi juga ”dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juru selamat kita.”—Titus 2:6-10.
26. Adat kebiasaan kuno manakah memperlihatkan bahwa anak perempuan memainkan peranan penting dalam keluarga?
26 Anak perempuan pun dapat belajar menguasai pekerjaan rumah tangga, sehingga mendapat penghargaan dan pujian, baik dari keluarga maupun dari orang luar. Begitu berharganya seorang anak perempuan dalam keluarga, sehingga di jaman Alkitab orang harus membayar ”mas kawin” untuk dapat mengawininya. Pastilah ini dianggap sebagai ganti kerugian bagi keluarga yang kehilangan pelayanan dari anak perempuan itu.—Kejadian 34:11, 12; Keluaran 22:16.
27. Mengapa kesempatan-kesempatan untuk memperoleh pendidikan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya?
27 Kesempatan untuk memperoleh pendidikan hendaknya dimanfaatkan, supaya anak-anak siap menghadapi segala tantangan hidup jaman sekarang. Sang rasul juga memaksudkan mereka ini, ketika menganjurkan supaya ”orang-orang kita juga harus belajar melakukan hal-hal yang baik [pekerjaan halal, New English Bible] supaya dapat memenuhi hal-hal yang sangat diperlukan; jangan sampai mereka hidup dengan tidak berguna.”—Titus 3:14, BIS.
PEDOMAN MORAL ALKITAB SUATU PERLINDUNGAN
28, 29. (a) Nasihat apakah terdapat dalam Alkitab berkenaan dengan pergaulan? (b) Bagaimana orang tua dapat membantu anaknya untuk menuruti nasehat tersebut?
28 Bisa dimengerti bila orang tua prihatin melihat keadaan-keadaan yang mengharuskan anak-anak mereka bergaul dengan anak-anak yang nakal dan rusak ahlaknya, mungkin di lingkungan tempat tinggal mereka atau tempat di mana anak-anak mereka bersekolah. Boleh jadi orang tua menyadari apa yang dikatakan Alkitab itu benar, bahwa ”pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Maka mereka enggan meluluskan permintaan anaknya yang merengek-rengek: ’semua orang boleh, mengapa saya tidak?’ Barangkali tidak benar bahwa semua orang lain boleh. Tetapi seandainya pun demikian, tidak berarti anak anda boleh, bila itu salah atau tidak bijaksana. ”Jangan iri kepada orang jahat, jangan ingin bergaul dengan mereka. Karena hati mereka memikirkan penindasan dan bibir mereka membicarakan bencana. Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan.”—1 Korintus 15:33; Amsal 24:1-3.
29 Anda tidak mungkin untuk terus membuntuti anak anda selama masa sekolah atau sepanjang hidupnya. Tetapi bila anda membina keluarga dengan bijaksana, anda mewariskan kepada mereka nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip yang baik sebagai pedoman. ”Kata-kata orang berhikmat seperti kusa.” (Pengkhotbah 12:11) Di jaman dulu kusa itu tongkat panjang yang tajam ujungnya, dipakai untuk mendorong sapi supaya berjalan ke arah yang benar. Kata-kata berhikmat dari Allah akan memelihara kita tetap berjalan ke arah yang benar, dan bila kita mulai menyimpang, hati kecil kita yang terdidik oleh firman itu mulai tertusuk, sehingga kita merubah haluan kita. Demi keselamatan kekal mereka, bekalilah anak-anak anda dengan hikmat kebijaksanaan demikian. Ajarkanlah hikmat itu melalui nasihat maupun contoh perbuatan. Tanamkan nilai-nilai kehidupan yang baik sehingga anak anda kelak akan memilih kawan sepergaulan yang menganut nilai-nilai yang sama.—Mazmur 119:9, 63.
30. Bagaimana orang tua dapat membekali anak-anak mereka dengan suatu pedoman moral yang berasal dari Allah?
30 Akhirnya, ingatlah bahwa nilai-nilai moral lebih mudah ditanamkan apabila semua prinsip itu benar-benar dihormati dan dihayati dalam suatu rumah tangga. Anda sendiri harus menunjukkan sikap-sikap yang ingin anda perkembangkan dalam diri anak anda. Di rumah anda sendiri, dalam lingkungan keluarga, usahakanlah supaya anak-anak mendapat dari orang-orang dewasa pengertian, kasih sayang, pengampunan, kebebasan diimbangi oleh keadilan, dan merasa disambut dan dibutuhkan. Dengan cara demikian, anda wariskan kepada mereka suatu pedoman moral dari Allah, yang selalu menjadi pegangan ke mana pun mereka pergi di luar lingkungan keluarga. Tiada warisan yang lebih baik yang dapat anda berikan kepada anak-anak anda.—Amsal 20:7.
-
-
Menyenangkan Hati Orang Tua AndaMembina Keluarga Bahagia
-
-
Pasal 12
Menyenangkan Hati Orang Tua Anda
1. Mengapa memang sewajarnya kita menghormati orang tua kita?
KITA SEMUA mempunyai orang tua, tidak soal apakah kita masih kecil, remaja ataupun sudah dewasa. Agak sulit untuk menghitung nilai seluruhnya dari pekerjaan, uang dan pengorbanan diri selama kurang lebih 20 tahun untuk membesarkan kita mulai dari kecil sampai dewasa. Sesungguhnya, orang tua kita telah memberikan kepada masing-masing kita sesuatu yang tidak mungkin bisa dibayar kembali kepada mereka. Karena apa pun juga hutang kita kepada orang tua, setidak-tidaknya kita terhutang kehidupan kita sekarang ini. Tanpa orang tua, kita pun tidak ada. Kiranya hal itu saja lebih dari cukup sebagai alasan mengapa kita perlu menuruti perintah Allah: ”Hormatilah ayahmu dan ibumu—ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.’”—Efesus 6:2, 3.
2. Mengapa seharusnya kita merasa berhutang budi kepada orang tua kita?
2 Memang, pertama-tama kita berhutang budi kepada Allah Pencipta kita sebagai Sumber kehidupan. Tetapi kita juga berhutang budi kepada orang tua. Apa yang kiranya dapat kita berikan kepada mereka sebagai balas budi? Menurut Putra Allah, bahkan seluruh kekayaan di dunia tidak bisa membeli kehidupan, karena mustahil kita memasang harga untuk kehidupan. (Markus 8:36, 37; Mazmur 49:6-9) Firman Allah berkata: ”Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi.” (Roma 13:8) Teristimewa terhadap orang tua sendiri, kiranya kita harus merasa tergerak untuk memberikan kasih sayang, seperti suatu hutang yang harus terus dilunasi selama mereka maupun kita sendiri masih hidup. Memang, kita tak dapat memberikan kehidupan kepada mereka seperti yang telah mereka berikan kepada kita, tetapi kita dapat memberikan sesuatu, sehingga kehidupan mereka lebih bahagia. Kita dapat berbuat sesuatu supaya mereka merasa puas dan bersukacita. Kita dapat melakukan hal itu lebih baik dari orang lain karena kita adalah anak-anak mereka.
3. Menurut Amsal 23:24, 25, sifat-sifat apakah pada seorang anak dapat membangkitkan sukacita dalam hati orang tuanya?
3 Seperti dikatakan dalam Amsal 23:24, 25, ”Ayah seorang yang benar akan bersorak-sorak; yang memperanakkan orang-orang yang bijak akan bersukacita karena dia. Biarlah ayahmu dan ibumu bersukacita, biarlah beria-ria dia yang melahirkan engkau.” Memang sewajarnya bahwa orang tua ingin bangga atas apa yang dilakukan oleh anak-anak mereka, serta puas melihat mereka. Demikiankah halnya dengan orang tua anda?
4. Anjuran apakah diberikan kepada anak-anak dalam Kolose 3:20?
4 Hal itu terutama bergantung kepada sikap kita yang benar-benar menghormati kedudukan dan nasihat mereka. Bagi mereka yang masih muda, Allah menasihatkan, ”Anak-anak! Adalah kewajiban kalian sebagai orang Kristen untuk selalu taat [dalam segala sesuatu, NW] kepada ayah ibu, karena itulah yang menyenangkan hati Allah.” (Kolose 3:20) Tentu saja, kata ’segala sesuatu’ tidak berarti bahwa orang tua berhak menyuruh anaknya melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Firman Allah. Tetapi yang jelas dikatakan, orang tua bertanggung-jawab untuk membimbing anaknya dalam segala segi kehidupan.—Amsal 1:8.
5. Bagaimana seorang yang masih muda dapat bertanya kepada dirinya sendiri, apa yang kiranya ia inginkan dari anaknya setelah ia sendiri berkeluarga kelak?
5 Apakah anda masih muda? Suatu waktu kelak anda juga akan menjadi orang tua. Apakah anda menginginkan anak-anak yang menghormati anda atau anak-anak yang kurang ajar? Yaitu anak-anak yang mungkin hanya berpura-pura tunduk, tetapi melanggar perintah orang tua jika lepas dari pengawasan? Amsal 17:25 berkata, ”Anak yang bebal menyakiti hati ayahnya, dan memedihkan hati ibunya.” Memang, sebagai anak mereka anda dapat menyenangkan orang tua, lebih dari siapa pun juga, tetapi sebaliknya juga lebih dari orang lain, anda dapat membuat orang tua kecewa dan sedih. Tergantung bagaimana tingkah laku anda.
MEMAKAN WAKTU UNTUK MEMPEROLEH HIKMAT
6. Contoh manakah menunjukkan bahwa dengan bertambahnya usia bertambah pula hikmat?
6 Ada baiknya jika anak-anak menyadari bahwa usia sangat menentukan apakah seseorang benar-benar bijaksana. Apakah anda berumur 10 tahun sekarang? Pasti sekarang anda tahu lebih banyak dibandingkan ketika umur 15 tahun? Anda tahu lebih banyak sekarang dibandingkan ketika umur anda baru 10 tahun, bukan? Apakah umur anda sekarang mendekati 20 tahun? Tentu sekarang anda mengetahui lebih banyak lagi, dibandingkan ketika anda baru berumur 15. Tidaklah sukar untuk meninjau kembali dan melihat bahwa usia menjadikan anda lebih bijaksana, tetapi tidak mudah untuk memandang ke masa depan dan mengakui kebenarannya. Kebijakan apa pun yang dimiliki seorang muda, ia tidak boleh lupa bahwa kelak ia akan dan harus menjadi lebih bijak.
7. Pelajaran apa mengenai hikmat dapat kita ambil dari nasihat yang diberikan kepada Raja Rehabeam?
7 Lalu, apa artinya semua ini? Itu berarti bahwa orang tua anda lebih bijaksana daripada anda sendiri dalam menghadapi problem-problem kehidupan, karena mereka lebih tua dan lebih berpengalaman. Kadang-kadang hal ini sulit diterima oleh kaum muda. Sering mereka menganggap orang tua ”kolot.” Ada orang tua yang kolot, tetapi banyak yang tidak, demikian juga tidak semua anak muda tidak bertanggung-jawab, hanya karena ada beberapa yang tidak bertanggung-jawab. Bukanlah sesuatu yang luar biasa, jika ada orang muda yang menganggap diri lebih pintar. Pernah seorang raja di negeri Israel melakukan kesalahan ini yang mengakibatkan malapetaka. Ketika berumur 41 tahun, Rehabeam menggantikan ayahanda Salomo sebagai raja. Waktu itu rakyat memohon kepada raja supaya meringankan beban mereka. Mula-mula Rehabeam meminta nasihat orang-orang yang lebih tua, dan mereka menganjurkannya untuk bertindak lemah-lembut dan pemurah. Kemudian ia menanyakan kepada orang-orang muda yang menganjurkan untuk bertindak keras. Raja pun menuruti nasihat mereka. Apa akibatnya? Sepuluh di antara ke-12 suku Israel memberontak, sehingga yang tinggal untuk Rehabeam hanya seperenam dari wilayah kekuasaannya. Ternyata lebih bijaksana nasihat orang yang tua. ”Konon hikmat ada pada orang yang tua, dan pengertian pada orang yang lanjut umurnya”—Ayub 12:12; 1 Raja 12:1-16; 14:21.
8. Sikap bagaimana yang dianjurkan Alkitab terhadap orang-orang yang lebih tua, termasuk orang tua sendiri?
8 Janganlah anggap nasihat orang tua anda ketinggalan zaman, hanya karena mereka sudah tidak muda lagi. Sebaliknya, kata Firman Allah, ”Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua.” Usia lanjut harus kita hargai. ”Engkau harus bangun berdiri di hadapan orang ubanan dan engkau harus menaruh hormat kepada orang yang tua dan engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN.” Memang, banyak anak muda mengabaikan perintah ini. Tetapi apa hasilnya? Mereka sendiri tidak bahagia, apalagi orang tua mereka.—Amsal 23:22; Imamat 19:32.
LAKUKAN BAGIAN ANDA
9. Bagaimana akibatnya bagi suatu keluarga, jika seorang anggota keluarga sering mengeluh tanpa alasan atau membangkang?
9 Kiranya tak dapat diingkari—apa yang anda lakukan, ada akibatnya bagi orang lain. Sekalipun hanya seorang anggota keluarga menderita, yang lainnya pasti ikut merasakan. Demikian juga, jika ada satu orang sering mengeluh atau membangkang, kerukunan seluruh keluarga akan terganggu. Agar keluarga benar-benar berbahagia, semua anggota harus melakukan bagiannya.—Periksa juga 1 Korintus 12:26.
10. Mengapa ada gunanya jika anak-anak belajar untuk bekerja dengan baik?
10 Begitu banyak hal positip dan membina yang dapat anda lakukan. Orang tua bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Jika anda masih muda dan tinggal bersama orang tua, anda dapat membantu mereka. Sebagian besar dari kehidupan kita digunakan untuk bekerja. Ada orang yang menyesali hal ini. Tetapi jika anda belajar untuk bekerja dengan giat dan dengan tujuan yang baik, pasti akan ada kepuasan. Sebaliknya, jika seseorang tidak melakukan bagiannya, tetapi mengharapkan orang lain melakukan segala-galanya bagi dia, ia takkan pernah merasakan kepuasan itu. Ia bahkan selalu membuat jengkel orang lain, dan seperti dikatakan Alkitab, ia menjadi seperti ”asap bagi mata.” (Amsal 10:26; Pengkhotbah 3:12, 13) Maka, jika anda mendapat tugas-tugas tertentu di rumah, kerjakanlah dan lakukan dengan sungguh-sungguh. Dan jika anda benar-benar ingin menyenangkan orang tua, lakukanlah lebih lagi, tanpa diminta. Hal itulah yang nantinya akan anda rasakan paling menyenangkan—sebab anda melakukannya terdorong oleh keinginan hati untuk menyenangkan orang tua.
11. Bagaimana tutur kata atau tingkah laku seorang anak dapat membawa nama baik bagi orang tuanya?
11 Jika orang-orang kagum melihat seorang anak, biasanya mereka ingin tahu anak siapa dia itu. Ketika pemuda Daud memperlihatkan iman dan keberanian demikian hebat, langsung saja Raja Saul pun bertanya, ”Anak siapakah orang muda itu?” (1 Samuel 17:55-58) Anda menjunjung nama keluarga. Cara orang-orang memandang nama keluarga dan orang tua tergantung kepada tingkah laku anda dan orang macam apa anda sebenarnya. Ada begitu banyak cara untuk menghormati orang tua—di lingkungan rumah maupun di sekolah—dengan bersikap baik, suka menolong, hormat dan ramah terhadap orang lain. Dengan itu pula anda menghormati Allah Pencipta.—Amsal 20:11; Ibrani 13:16.
12. Mengapa baik bagi anak-anak untuk menyambut usaha orang tuanya untuk mendidik mereka?
12 Kebahagiaan orang tua anda berkaitan dengan kebahagiaan anda sendiri. Usaha mereka untuk mendidik anda dimaksudkan untuk memberikan permulaan yang baik dalam perjalanan hidup anda. Karena mereka menginginkan yang terbaik bagi anda, maka dengan bekerja sama anda akan menyenangkan mereka. Seperti dikatakan oleh penulis yang terilham, ”Hai anakku, jika hatimu bijak, hatiku juga bersukacita.” (Amsal 23:15) Jika orang tua anda menyadari tanggung-jawab mereka terhadap Allah untuk membimbing anda dengan hikmat kebijaksanaan yang benar, bantulah mereka supaya dapat menunaikan tugas itu dengan baik. ”Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.”—Amsal 19:20.
13. Apa yang dapat membantu seorang anak untuk memiliki pandangan yang benar mengenai pembatasan yang diberikan oleh orang tuanya?
13 Kadang-kadang anda mungkin merasa bahwa orang tua anda menuntut terlalu banyak atau ada terlalu banyak pembatasan. Untuk dapat seimbang dalam menjalankan disiplin, tidaklah mudah. Kelak jika anda sendiri berkeluarga, mungkin juga anda akan mengalami problem yang sama. Jika misalnya orang tua membatasi pergaulan anda dengan teman-teman tertentu, atau memperingatkan terhadap pemakaian obat-obat terlarang, atau membatasi pergaulan dengan lawan jenis, renungkanlah betapa beruntungnya mempunyai orang tua yang menjaga disiplin daripada yang masa bodoh. (Amsal 13:20; 3:31) Patuhilah disiplin mereka. Anda sendiri yang beruntung dan akan menyenangkan hati mereka.—Amsal 6:23; 13:1; 15:5; Ibrani 12:7-11.
14, 15. Bila timbul problem antara anggota keluarga, prinsip-prinsip Alkitab yang manakah, jika diterapkan, dapat membantu anak-anak untuk menjaga perdamaian?
14 Memang, banyak peristiwa yang timbul di rumah, bukan anda sendiri yang menyebabkan. Tetapi reaksi yang anda perlihatkan dapat mempengaruhi suasana. Alkitab memberi nasihat, ”Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.” (Roma 12:18) Ini tidak selalu mudah. Kita semua berbeda; pendapat kita sering berbeda begitu pun reaksi kita. Selisih pendapat dan keinginan akan timbul. Mungkin perselisihan terjadi dengan adik atau kakak dan anda merasa bukan anda yang mementingkan diri. Apa yang akan anda lakukan?
15 Ada anak yang langsung dengan suara keras menuduh dan mengadu kepada orang tua. Atau, kadang-kadang main hakim sendiri dengan mendorong-dorong dan memukul, supaya kemauannya dituruti. Tetapi sebuah amsal yang terilham mengingatkan, ”Akal budi membuat seseorang panjang sabar.” (Amsal 19:11) Mengapa? Karena orang yang berakal budi mempertimbangkan apakah suatu perbuatan salah dapat dimaafkan mengingat keadaan. (Mungkin tidak disengaja.) Akal budi mengingatkan seseorang betapa seringnya ia sendiri juga melakukan kesalahan. (Dan betapa besar penghargaannya atas pengampunan Allah!) Akal budi juga membangkitkan kesadaran bahwa sekalipun saudaranya bersalah, tidak baik untuk membiarkan amarahnya merusak perdamaian rumah tangga. Selanjutnya amsal tadi mengatakan begini mengenai orang yang memiliki akal budi ini, ”Dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.”—Periksa juga Kolose 3:13, 14.
16. Bagaimana tingkah laku seorang anak dapat menyenangkan hati orang tua yang saleh?
16 Pada dasarnya, apa yang menyenangkan hati orang tua yang saleh, juga menyenangkan hati Allah. Apa yang menyakiti hati orang tua , juga menyakiti hati Allah. (Mazmur 78:36-41) Orang tua yang tidak mengerti jalan pikiran Allah Yehuwa senang jika anak-anaknya menjadi populer di dunia, menjadi ternama, kaya dan sebagainya. Namun orang tua yang menyembah Allah Yehuwa mengetahui bahwa dunia ini dengan segala keinginannya segera akan berlalu, tetapi ”orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” (1 Yohanes 2:15-17) Jadi, apa yang benar-benar menyenangkan mereka adalah melihat anak-anaknya menuruti Allah Pencipta, melakukan kehendak-Nya dan menunjukkan sifat-sifat Ilahi. Memang benar, orang tua yang saleh tentu senang jika anaknya pandai dan pelajaran sekolahnya maju. Tetapi mereka lebih senang jika tingkah laku anak-anak itu, baik di sekolah maupun di mana saja, selalu selaras dengan patokan-patokan Allah dan menunjukkan keinginan untuk menyenangkan-Nya. Terutama sekali orang tua senang jika sampai dewasa, anak-anak tersebut tetap berpaut pada jalan Yehuwa.
KEWAJIBAN UNTUK MEMELIHARA ORANG TUA
17-19. Bagaimana caranya anak-anak yang sudah dewasa dapat memperlihatkan bahwa mereka menghargai orang tuanya?
17 Kasih kita terhadap orang tua tidak sepantasnya berkurang setelah kita menjadi dewasa dan berpisah dari orang tua. Kita ingin orang tua tetap bahagia selama hidupnya. Bertahun-tahun lamanya mereka telah mengurus kita, sering kali dengan melakukan banyak pengorbanan diri. Kini apa yang dapat kita lakukan untuk menunjukkan bahwa kita menghargai mereka?
18 Kiranya kita tetap mengingat perintah ilahi, ”Hormatilah ayahmu dan ibumu.” (Matius 19:19) Boleh jadi kita sibuk. Tetapi janganlah kita lupa, bahwa orang tua ingin sekali mengetahui keadaan kita dan ingin dikunjungi.
19 Seraya waktu berjalan, ada banyak cara dengan mana kita dapat menunjukkan ”hormat” kita. Jika mereka membutuhkan bantuan materi, tunjukkanlah penghargaan untuk semau yang mereka lakukan bagi anda, dan juga untuk perintah Yehuwa. Mengenai orang-orang yang lanjut usia, rasul Paulus menulis, ”Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah.”—1 Timotius 5:3, 4.
20, 21. (a) Apa yang termasuk dalam menghormati orang tua, menurut Matius 15:1-6? (b) Mungkinkah ada orang yang dapat dikecualikan dari kewajiban untuk menghormati orang tua dalam hal ini?
20 ”Menghormati” orang tua termasuk juga membantu mereka secara materi, dan hal ini jelas diperlihatkan dalam Alkitab. Sekali peristiwa, kaum Parisi menegor Yesus dan menuduh bahwa para muridnya melanggar tradisi. Yesus menjawab, ”Mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri.”—Matius 15:1-6.
21 Dengan mengatakan bahwa uang atau harta mereka ’sudah dipersembahkan kepada Allah,’ menurut tradisi mereka dibebaskan dari tanggung-jawab untuk memelihara orang tuanya. Tetapi Yesus tidak setuju dengan cara ini. Dan kita sekarang patut memperhatikan hal ini. Memang, di beberapa negara ”jaminan sosial” cukup memenuhi kebutuhan orang-orang yang sudah lanjut usia. Tetapi apakah benar-benar sudah cukup? Jika tidak cukup atau jika sama sekali tidak ada penyelenggaraan demikian, anak-anak yang menghormati orang tuanya akan berusaha sedapat-dapatnya memenuhi kebutuhan mereka. Seperti dikatakan rasul Paulus, bila seseorang mengurus orang tuanya yang sudah lanjut usia dan yang mempunyai kebutuhan, merupakan bukti ”ibadat yang saleh,” yakni pengabdian orang itu kepada Allah Yehuwa sendiri, Pencipta penyelenggaraan keluarga.
22. Di samping perkara-perkara materi, hal-hal apa pula patut kita berikan kepada orang tua?
22 Namun demikian, jangan pernah berpikir bahwa jika pada usia lanjut, orang tua kita mempunyai makanan dan pakaian yang cukup dan tempat tinggal yang layak, tidak ada lagi yang diperlukan. Mereka juga mempunyai kebutuhan emosionil dan rohani. Mereka membutuhkan kasih sayang dan perhatian, demi ketenangan jiwa. Kadang-kadang mereka bahkan sangat peka dalam hal ini. Seumur hidup kita selalu ingin mempunyai perasaan bahwa ada seseorang yang mencintai kita, bahwa kita milik seseorang, dan tidak sebatang kara. Janganlah sekali-kali anak-anak melalaikan orang tua, baik mengenai kebutuhan jasmani maupun kebutuhan emosionil mereka. ”Anak yang menganiaya ayahnya atau mengusir ibunya, memburukkan dan memalukan diri.”—Amsal 19:26.
23. Bagaimana anak-anak dapat menjadi sumber kebahagiaan orang tuanya?
23 Sejak kecil sampai dewasa, anak-anak memainkan peranan penting dalam kehidupan orang tuanya. Banyak anak yang membuat orang tuanya kecewa dan sakit hati. Tetapi jika anda menghormati kedudukan orang tua dan menuruti nasihat mereka, anda memperlihatkan kasih sayang dan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap mereka, tiap hari anda dapat menyenangkan hati mereka. Ya, ”biarlah ayahmu dan ibumu bersukacita, biarlah beria-ria dia yang melahirkan engkau.”—Amsal 23:25.
-
-
Menginjak Usia LanjutMembina Keluarga Bahagia
-
-
Pasal 13
Menginjak Usia Lanjut
1, 2. (a) Masalah-masalah apa sering timbul setelah anak-anak meninggalkan rumah? (b) Bagaimana caranya beberapa orang mencoba menghadapi problem usia lanjut?
HIDUP kita akan membosankan jika tidak diisi dengan kesibukan fisik atau mental. Kehidupan akan terasa hampa, dan kurang tenteram. Kadang-kadang hal ini yang menjadi masalah bagi suami-isteri, setelah anak-anaknya menjadi dewasa dan meninggalkan rumah. Selama bertahun-tahun sebelumnya, kehidupan mereka penuh dengan berbagai kesibukan, karena harus menunaikan tugas sebagai orang tua. Kini, tiba-tiba kesibukan berakhir, tidak ada lagi tanggung-jawab untuk mengurus anak-anak.
2 Di samping itu, dengan bertambahnya usia perubahan tubuh mulai terjadi. Kulit mulai keriput, rambut mulai memutih, boleh jadi rambut berkurang dan segala macam penyakit timbul yang tadinya tidak ada. Dengan kata lain, kita menjadi makin tua. Karena tidak mau menerima kenyataan ini, ada orang dengan penuh semangat ingin membuktikan bahwa mereka masih tetap muda. Mereka tiba-tiba mulai giat sekali dalam pergaulan—pergi dari satu pesta ke pasta yang lain atau berkecimpung dalam olahraga. Memang dengan demikian mereka menjadi sibuk, tetapi, apakah hal itu benar-benar menghasilkan kepuasan yang tahan lama? Apakah dengan cara demikian mereka akan merasa lebih dibutuhkan sehingga hidupnya benar-benar berarti?
3. Rekreasi memang bisa mendatangkan kesenangan, tetapi apa yang hendaknya dihindarkan?
3 Tentu saja, kegiatan rekreasi menyenangkan. Dan biasanya baru setelah mencapai usia lanjut orang menemukan waktu untuk melakukan hal-hal tertentu yang dulu tidak dapat dilakukan karena harus mengurus anak. Tetapi jika yang diutamakan hanya mencari hiburan, hal ini dapat menimbulkan berbagai problem yang serius.—2 Timotius 3:4, 5; Lukas 8:4-8, 14.
KESETIAAN, SIFAT YANG MEMBUAT LEBIH MENARIK
4, 5. Akibat apa yang dapat terjadi, jika orang yang sudah lanjut usia mencoba membuktikan bahwa ia masih punya daya tarik terhadap lawan jenis?
4 Tidak sedikit orang yang pada usia ini merasakan seolah-olah harus membuktikan, bahwa mereka masih ada daya tarik terhadap lawan jenisnya. Lalu mulailah mereka bermain mata dengan orang lain di suatu pertemuan sosial atau di tempat lain. Biasanya kaum pria yang mempunyai ”hubungan asmara” dengan wanita yang lebih muda. Dan dengan ”moral baru” yang sudah menjadi umum sekarang, tidak jarang pula wanita-wanita yang berbuat serong. Walaupun sudah hidup berkeluarga sampai bertahun-tahun lamanya, ada juga yang mulai menempuh ”hidup baru” bersama teman hidup yang baru. Mungkin mereka mencoba membenarkan diri dengan menunjuk kekurangan-kekurangan dari teman hidupnya—umumnya menganggap enteng kekurangan mereka sendiri, termasuk ketidak-setiaan mereka terhadap teman hidup dan terhadap prinsip-prinsip yang benar.
5 Mereka mungkin tahu apa yang dikatakan oleh Yesus, ”Maka datanglah orang-orang Farisi kepadaNya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: ”Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah [porneia: imoralitas seks yang berat] lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” Meskipun di sini Yesus sedang menerangkan bahwa orang tidak dibenarkan untuk bercerai berdasarkan ”alasan apa saja,” mereka akan menggunakan alasan apa pun yang dibenarkan undang-undang setempat untuk bercerai. (Matius 19:3-9) Sesudah itu, mereka kawin lagi, seringkali dengan orang yang sudah ada hubungan dengan mereka bahkan sebelum mengajukan permohonan cerai. Biarpun mengetahui apa yang dikatakan Firman Allah mengenai tingkah laku demikian, mereka mungkin berdalih bahwa belas kasihan Allah begitu besar sehingga Ia pasti akan ”mengerti.”
6. Bagaimana pandangan Allah Yehuwa terhadap orang yang tidak menghormati ikatan perkawinan?
6 Agar tidak termakan oleh pikiran imoril demikian, ada baiknya kita pertimbangkan apa yang dikatakan Yehuwa kepada bani Israel melalui nabi Maleakhi, ”Dan inilah . . . yang kamu lakukan: Kamu menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi berpaling kepada persembahan dan tidak berkenan menerimanya dari tanganmu. Dan kamu bertanya: ’Oleh karena apa?’ Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia . . . Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya. Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel.” (Maleakhi 2:13-16) Ya, pengkhianatan terhadap teman hidup, dan sikap yang meremehkan ikatan perjanjian perkawinan—hal-hal ini dikutuk Allah dan merusak hubungan seseorang dengan Allah, Pemberi kehidupan.
7. Mengapa orang tidak mungkin bahagia jika meremehkan janji perkawinan?
7 Apakah dengan cara demikian kehidupan akan menjadi lebih baik? Tidak mungkin. Perkawinan baru seperti itu tidak mempunyai dasar yang kokoh. Pertama, mereka telah menunjukkan diri tidak dapat dipercaya, bahkan dalam ikatan yang paling berharga ini. Bisa saja mereka melihat sesuatu hal yang menarik dalam kepribadian teman hidupnya yang baru itu, yang mungkin tidak dimiliki oleh teman hidup yang lama. Tetapi untuk memperoleh ini, mereka hanya menyenangkan diri, tidak soal akibat yang yang menyakitkan dan memedihkan hati. Pastilah sifat ini tidak akan membantu untuk mendapatkan kebahagiaan dalam perkawinan.
8. Apa yang lebih berharga daripada kecantikan lahiriah dalam suatu perkawinan?
8 Kesetiaan terhadap teman hidup jauh lebih menarik daripada keindahan lahiriah mana pun. Keindahan atau kecantikan akan pudar dengan bertambahnya usia, tetapi keindahan sifat setia antara suami-isteri semakin bertambah-tambah. Dengan berusaha membahagiakan orang lain, mendahulukan kepentingannya daripada kepentingan diri sendiri, akan membawa kepuasan sejati. Karena memang, ”lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah 20:35) Bila suami-isteri yang telah sekian tahun lamanya, selalu berkomunikasi dan saling mempercayai—bersatu dalam pekerjaan, tujuan dan harapan dan dalam mengalami suka-duka—semuanya karena cinta kasih—kehidupan mereka akan benar-benar bersatu dan terjalin dengan kuat. Mereka mempunyai banyak persamaan, secara mental, emosi dan kerohanian. Mungkin dahulu cinta asmara membutakan mereka sehingga tidak begitu memperhatikan kelemahan masing-masing sebelum perkawinan. Tetapi kini cinta itu telah berkembang menjadi suatu ikatan batin, yang membuat masing-masing memperhatikan kelemahan itu sebagai peluang untuk mengulurkan bantuan, untuk mengisi suatu kekurangan. Antara mereka terdapat perasaan penuh kepercayaan, perasaan tenteram, karena yakin bahwa mereka akan selalu setia satu sama lain, betapa pun beratnya problem yang timbul. Bagi mereka, memang sudah sewajarnya untuk setia satu sama lain. Seperti dikatakan di Mikha 6:8, ”Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan [kasih yang loyal, NW], dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”
HUBUNGAN BARU DENGAN ANAK-ANAK YANG SUDAH BERDIRI SENDIRI
9-11. (a) Apakah Allah bermaksud agar hubungan antara orang tua dan anak-anaknya tidak pernah berubah sepanjang hidup mereka? (b) Bagaimana hal ini perlu dipertimbangkan bila orang tua ingin menasehati anaknya yang sudah dewasa? (c) Setelah anaknya kawin, kedudukan siapakah sebagai kepala keluarga yang harus dihormati oleh orang tua?
9 Suami-isteri diharuskan terus bersama-sama seumur hidupnya. Tetapi bukan begitu yang dikehendaki oleh Allah Pencipta mengenai orang tua dan anak-anak mereka. Memang benar bahwa ketika masih kecil anak anda membutuhkan anda tiap hari. Anda bukan saja harus memenuhi kebutuhan jasmaninya, tetapi juga memberikan bimbingan. Dan jika sewaktu-waktu mereka tidak mau menurut, mungkin anda memaksa dalam hal-hal tertentu demi kefaedahan mereka sendiri. Tetapi setelah anak-anak anda mempunyai rumah tangga sendiri, hubungan antara anda dan mereka tidak sama lagi. (Kejadian 2:24) Ini tidak berarti perasaan dan sikap anda terhadap mereka harus berubah, tetapi tanggung-jawab anda sudah tidak sama lagi. Karena itu anda pun harus merubah cara-cara tertentu.
10 Sekali-sekali mungkin mereka masih perlu juga diberi nasehat. Dan jika anak-anak mendengarkan nasehat yang baik dari orang yang lebih berpengalaman dalam hidup, berarti mereka cukup bijaksana. (Amsal 12:15; 23:22) Tetapi bila ingin memberi nasehat kepada putra atau putri anda yang sudah berdiri sendiri, sebaiknya diberikan sedemikian rupa sehingga menunjukkan sikap anda bahwa kini mereka sendiri yang harus memutuskan.
11 Ini penting sekali jika anak itu sudah berumah tangga. Di beberapa negeri menurut adat kebiasaan, mempelai perempuan harus terus berada di bawah pengawasan ibu mertua. Di daerah lain, mertua banyak mencampuri urusan keluarga anaknya. Tetapi apakah kebiasaan ini menghasilkan kebahagiaan? Pasti Pencipta dari keluarga mengetahui apa yang terbaik bagi manusia, dan Ia mengatakan, ”Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kejadian 2:24) Jadi setelah kawin, yang berhak memutuskan sesuatu bukan orang tua dari pihak laki-laki, bukan juga dari pihak perempuan, melainkan suami sendiri. ”Karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat,” demikian keterangan Firman Allah. (Efesus 5:23) Melakukan sesuatu bagi anak-anak anda yang sudah dewasa, dan di kemudian hari bagi anak cucu anda, akan lebih menyenangkan jika prinsip ini tidak diabaikan.
SENANG MELAKUKAN SESUATU UNTUK ORANG LAIN
12. (a) Bagaimana suami-isteri dapat memperkokoh kasih sayang mereka satu sama lain, sesudah anak-anak mereka berumah tangga sendiri? (b) Hal apa lagi yang dapat mereka lakukan supaya kehidupan mereka lebih berarti?
12 Semua orang ingin merasakan bahwa hidupnya berguna, dan mempunyai maksud tujuan. Kebutuhan ini perlu dipenuhi, demi kesejahteraan diri anda. Selain anak-anak anda sendiri, masih banyak orang lain yang dapat anda bantu, untuk mengisi kebutuhan hidupnya. Bagaimana mengenai teman hidup anda sendiri? Waktu anak-anak anda masih kecil, sebagian besar perhatian anda dicurahkan untuk mereka. Kini ada kesempatan untuk melakukan lebih banyak bagi satu sama lain. Ini akan dapat membuat hubungan anda lebih akrab. Tetapi mengapa membatasi kebaikan anda hanya kepada lingkungan keluarga anda sendiri? Anda dapat ’memperluas’nya, misalnya dengan membantu tetangga dekat yang sedang sakit. Atau dengan menyediakan waktu bagi orang-orang yang lanjut usia yang kesepian, atau dengan memberikan bantuan materi secara apa pun kepada orang-orang yang membutuhkannya karena faktor-faktor di luar kekuasaan mereka. (2 Korintus 6:11, 12) Alkitab bercerita mengenai wanita Dorkas yang dicintai orang-orang karena ”banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah,” kepada para janda. (Kisah 9:36, 39) Alkitab memuji orang-orang yang menunjukkan kebaikan kepada orang yang tertimpa kesusahan. (Amsal 14:21) Menurut Alkitab, ”mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka” merupakan bagian penting dari ibadat yang menyenangkan Allah. (Yakobus 1:27) Dan kepada kita semua Alkitab menganjurkan, ”Jangan lupa berbuat baik dan saling menolong, sebab inilah korban-korban yang menyenangkan hati Allah.”—Ibrani 13:16, BIS.
13. Apakah motip kita untuk membantu orang-orang lain itu ada faedahnya?
13 Apakah ini berarti bahwa dengan terjun dalam kegiatan yang semata-mata bersifat kemanusiaan, orang akan menemukan kebahagiaan? Tidak. Malahan sering timbul kekecewaan, kecuali seseorang terdorong oleh motif yang bersifat kerohanian, keinginan untuk meniru Allah dalam menunjukkan kasih. (1 Korintus 13:3; Efesus 5:1, 2) Mengapa demikian? Karena boleh jadi akan ada kekecewaan bila kebaikan anda tidak dihargai atau bila ada yang menyalahgunakan kemurahan anda.
14, 15. Hal apakah yang benar-benar membuat kehidupan bahagia dan puas?
14 Sebaliknya, jika seseorang benar-benar menggunakan kehidupannya dalam dinas Allah, yang paling memuaskan hatinya adalah karena ia tahu apa yang dilakukannya menyenangkan Allah Pencipta. Dan ia tidak berbuat baik untuk orang lain hanya terbatas dalam perkara materi saja. Ia memiliki ”injil [kabar kesukaan, NW] dari Allah yang mulia dan maha bahagia,” yaitu Yehuwa, dan hak kehormatan untuk menyebarluaskannya kepada orang-orang lain. (1 Timotius 1:11) Dari Alkitab ia tahu cara bagaimana orang dapat mengatasi masalah-masalah kehidupan pada waktu sekarang, dan bagaimana harapan masa depan yang dijanjikan oleh Allah. Betapa senang untuk menyampaikan kabar kesukaan itu kepada orang-orang lain, kemudian menarik perhatian mereka kepada Allah Yehuwa, Sumber kabar gembira itu! Seperti dikatakan oleh penulis terilham di Mazmur 147:1, ”Haleluya [Pujilah Yehuwa, NW]! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu.”
15 Hidup kita mulai mendapat arti bila kita mengerti maksud-tujuan Yehuwa sehubungan dengan kehidupan, dan bila kita menghormati-Nya. (Wahyu 4:11) Anda akan benar-benar merasa bahagia, bila anda aktif dalam mengabarkan kebenaran Alkitab kepada orang-orang lain, sejauh keadaan mengijinkan. Walaupun anak-anak anda mungkin sudah dewasa, membantu membesarkan ’anak-anak rohani’ dapat menyenangkan hati anda. Dan seraya melihat mereka berkembang menjadi orang-orang Kristen yang matang, anda akan merasakan sama seperti rasul Paulus ketika ia menulis surat kepada orang-orang yang telah menerima bantuan demikian daripadanya, ”Siapakah pengharapan kami atau sukacita kami atau mahkota kemegahan kami . . . kalau bukan kamu? Sungguh, kamulah kemuliaan kami dan sukacita kami.”—1 Tesalonika 2:19, 20.
BERSIKAP LENTUK BILA KEADAAN BERUBAH
16, 17. (a) Sewaktu kita mengalami problem, hal apakah yang harus dihindarkan? (b) Sekalipun teman hidup seseorang sudah meninggal dunia, apa yang dapat membantunya agar tidak sendirian menghadapi tantangan-tantangan yang baru?
16 Pada usia tertentu kebanyakan orang merasa kemampuannya mulai berkurang, tidak lagi seperti sebelumnya. Hendaknya mereka jangan bersikap kaku tetapi mau membuat penyesuaian diri. Terutama jika kesehatan mulai terganggu, hal itu perlu dipikirkan. Namun di sini pula dibutuhkan keseimbangan, jangan hal ini saja yang terus dipikirkan sehingga tidak menggunakan kesempatan untuk melakukan sesuatu tiap-tiap hari. Problem akan timbul, dan jika sesuatu yang berguna dapat dilakukan untuk mengatasinya, sebaiknya lakukanlah. Tetapi kekuatiran tidak ada hasilnya, dan berharap agar keadaan berbeda tidak akan merubah keadaan. Jadi daripada terus merindukan masa lalu, pergunakanlah kesempatan yang ada sekarang dengan baik.
17 Demikian juga, bila kelak pada usia lanjut anda mungkin harus hidup sendiri lagi. Jika perkawinan anda cukup bahagia, pasti ada banyak kenangan yang manis. Tetapi kehidupan berjalan terus, dan sekarang anda perlu menyesuaikan diri. Tantangan baru harus dihadapi, dan dengan cara hidup yang menunjukkan iman kepada Allah, anda tidak akan merasa sendirian dalam menghadapi hal-hal itu.—Mazmur 37:25; Amsal 3:5, 6.
18-20. Faktor-faktor apa dapat menjadikan kehidupan penuh arti setelah seseorang menginjak usia lanjut?
18 Meskipun ada segi-segi kehidupan yang kurang menyenangkan, cukup banyak pula hal-hal yang membuat kita bahagia—teman-teman yang baik, kesempatan untuk melakukan sesuatu bagi orang lain, menikmati hidangan makanan yang lezat, keindahan pemandangan pada waktu matahari terbenam, serta kicauan burung-burung. Dan meskipun keadaan kia mungkin kurang memuaskan, kita percaya akan janji Allah bahwa Ia akan mengakhiri segala kejahatan, serta membebaskan umat manusia dari segala penderitaan, kesedihan, penyakit dan bahkan kematian.—Wahyu 21:4.
19 Orang yang pada umumnya mempunyai pandangan hidup yang materialistis, mungkin pada usia lanjut hidupnya akan terasa hampa. Penulis kitab Pengkhotbah menggambarkan akibat dari cara hidup demikian, dengan mengatakan, ”segala sesuatu adalah sia-sia.” (Pengkhotbah 12:8) Tetapi mengenai hamba-hamba Allah yang beriman, seperti Abraham dan Ishak, Alkitab mengatakan bahwa mereka mencapai usia lanjut dalam keadaan ”tua dan suntuk umur [merasa puas, NW].” (Kejadian 25:8; 35:29) Mengapa demikian berbeda? Orang-orang ini beriman kepada Allah. Mereka yakin bahwa pada waktu yang ditentukan Allah, semua orang mati akan hidup kembali, dan mereka terus menantikan saatnya di mana Allah sendiri akan mendirikan pemerintahan yang adil bagi seluruh umat manusia.—Ibrani 11:10, 19.
20 Demikian juga dengan anda. Jika anda tidak membiarkan diri dibutakan oleh segala masalah yang dihadapi sekarang, anda akan melihat banyak hal baik di sekeliling anda dan masa depan yang gemilang yang telah dipersiapkan Allah untuk hamba-hamba-Nya. Barulah kehidupan anda akan ada artinya, dan tiap hari anda akan merasa puas dan bahagia, seraya anda menjalani masa lanjut usia.
[Gambar di hlm. 176]
Bila dua insan semakin melengkapi, hubungan mereka semakin akrab
-
-
Membina Keluarga untuk Hidup Selama-lamanyaMembina Keluarga Bahagia
-
-
Pasal 14
Membina Keluarga untuk Hidup Selama-lamanya
1. Supaya keluarga bahagia, mengapa penting untuk memikirkan masa depan?
WAKTU berjalan terus. Masa lampau mungkin banyak meninggalkan kenangan manis, tetapi kita tidak dapat hidup di masa lampau. Kita dapat belajar dari masa lampau, belajar dari kesalahan yang lalu, namun yang penting bagi kita adalah sekarang. Walaupun keadaan keluarga kita kini cukup baik, ini hanya bersifat sementara. Hari ini segera menjadi kemarin, dan masa sekarang menjadi masa lampau. Demi kebahagiaan keluarga, kita harus selalu memandang ke masa depan, mempersiapkan diri dan membuat rencana. Bagaimana masa depan kita dan orang-orang yang dekat dengan kita, banyak bergantung kepada keputusan-keputusan yang kita ambil sekarang.
2. (a) Mengapa banyak orang kurang senang memikirkan hari depan? (b) Siapakah yang harus kita dengar, jika kita menginginkan masa depan yang bahagia?
2 Bagaimana harapan untuk masa depan? Bagi sebagian besar umat manusia, apa yang mereka pikirkan mengenai masa depan, seringkali terbatas hanya kepada beberapa tahun mendatang. Banyak orang tidak suka memikirkan jauh ke masa depan, karena yang dapat mereka bayangkan hanya kesedihan, dengan terputusnya ikatan keluarga oleh kematian. Bagi banyak orang, saat-saat bahagia merek sering dibayangi oleh segala kekuatiran hidup. Dengan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dia, dari siapa ’setiap keluarga di dunia ini dan di akhirat [surga, NW] menerima nama-Nya, hidup ini akan jauh lebih berarti.’—Efesus 3:14, 15.
3. (a) Harapan apakah disediakan Allah bagi pasangan manusia yang pertama? (b) Mengapa kesudahannya tidak demikian?
3 Tatkala pasangan manusia pertama diciptakan, bukanlah maksud tujuan Allah bahwa mereka, maupun anak-anak yang dilahirkan kemudian, hanya akan hidup beberapa tahun lamanya penuh dengan kesusahan, lalu meninggal. Allah memberikan kepada mereka sebuah firdaus sebagai tempat tinggal, dan mereka dihadapkan dengan harapan untuk hidup selama-lamanya. (Kejadian 2:7-9, 15-17) Sayangnya, mereka kehilangan harapan tersebut, juga bagi keturunannya, karena mereka sengaja melanggar hukum Allah, kepada Siapa kehidupan mereka bergantung. Menurut keterangan Alkitab, ”Dosa masuk ke dalam dunia melalui satu orang [Adam], dan dari dosa itu timbullah kematian. Akibatnya, kematian menjalar ke mana-mana pada seluruh umat manusia, sebab semua orang sudah berdosa.”—Roma 5:12, BIS.
4. Apa yang diselenggarakan oleh Allah Yehuwa, supaya maksud tujuan-Nya bagi umat manusia tetap terlaksana?
4 Tetapi karena belas kasihan-Nya, Allah mengatur supaya umat manusia dapat ditebus kembali. Putra Allah sendiri, Yesus Kristus, mengorbankan kehidupannya sebagai manusia sempurna, demi keselamatan seluruh keturunan Adam. (1 Timotius 2:5, 6) Jadi Yesus menebus atau membeli kembali apa yang telah dihilangkan oleh Adam. Dan jalan pun terbukalah bagi orang-orang yang menaruh iman akan persediaan ini untuk mendapat kesempatan hidup yang sama seperti yang pernah diberikan kepada pasangan manusia pertama. Dewasa ini, seandainya kehidupan tidak dipersingkat oleh karena mengalami sakit atau kecelakaan, orang masih bisa mencapai usia 70 atau 80 tahun, bahkan ada yang lebih. ”Tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”—Roma 6:23, BIS.
5-7. (a) Harapan apakah dapat kita pegang untuk masa depan, kalau kita melakukan kehendak Allah sekarang? (b) Pertanyaan apa yang timbul mengenai bantuan yang akan anda berikan kepada keluarga?
5 Apa artinya ini bagi keluarga anda? Bagi orang-orang yang mendengarkan dan mentaati perintah-perintah Allah itu dapat berarti menikmati suatu masa depan yang kekal selama-lamanya. (Yohanes 3:36) Dalam Firman-Nya yang tidak pernah gagal, Allah berjanji untuk menyingkirkan sistim kehidupan sekarang yang bersifat menindas ini dan Ia sendiri akan menyediakan pemerintahan yang sempurna dan adil, yang akan mengatur semua persoalan umat manusia. (Daniel 2:44) Firman-Nya mengatakan bahwa Ia bermaksud ’untuk mempersatukan lagi segala sesuatu dalam Kristus, baik yang di sorga maupun yang di bumi.’ (Efesus 1:10) Ya, kelak akan ada perdamaian di mana-mana, dan di seluruh dunia keluarga manusia akan bersatu padu, bebas dari rasialisme, perpecahan politik, kejahatan dan peperangan. Semua keluarga hidup tenteram, ”tidak ada yang mengejutkan” mereka. (Mazmur 37:29, 34; Mikha 4:3, 4) Halnya demikian karena semua orang yang hidup nanti telah menjadi ”penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih,” dan mereka akan ’hidup di dalam kasih.’—Efesus 5:1, 2.
6 Di bawah bimbingan pemerintahan Kerajaan Allah, keluarga umat manusia akan bekerja sama dalam proyek yang menyenangkan, untuk merubah bumi ini kembali menjadi firdaus, seperti direncanakan semula oleh Allah Pencipta, suatu taman kediaman yang menyediakan makanan limpah bagi seluruh umat manusia. Semua burung, ikan dan binatang lain yang beraneka ragam akan berada di bawah kekuasaan yang pengasih dari manusia dan akan mendatangkan sukacita bagi mereka, karena demikianlah maksud tujuan yang dinyatakan oleh Allah. (Kejadian 2:9; 1:26-28) Kehidupan yang bahagia dari umat manusia, tidak akan lagi dirusak oleh penyakit, penderitaan, segala akibat yang melemahkan karena usia lanjut, ataupun oleh rasa takut akan kematian. Bahkan orang-orang yang ’di dalam kuburan peringatan’ akan hidup kembali untuk menikmati bersama segala kemungkinan yang ditawarkan oleh kehidupan pada waktu itu.—Yohanes 5:28, 29; Wahyu 21:1-5.
7 Apa yang dapat anda lakukan, supaya keluarga anda turut menikmati apa yang diharapkan ini?
APA YANG PERLU KITA LAKUKAN?
8. Apa yang dituntut dari diri kita untuk mendapat perkenan Allah?
8 Jangan sekali-kali kita membuat kesalahan dengan berpikir bahwa kita pasti akan memperoleh hidup dalam susunan perkara-perkara baru Allah, asal kita hidup dengan ”baik.” Bukan kita yang menentukan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi, tetapi Allah sendiri. Pernah ketika Yesus mengajar di negeri Yudea, seorang bertanya kepadanya, ”Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawabnya adalah ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Lukas 10:25-28) Jadi tidak cukup untuk mengatakan bahwa kita percaya akan Allah, atau sering menghadiri pertemuan-pertemuan di mana Alkitab dibahas, atau sewaktu-waktu melakukan kebaikan terhadap orang-orang tertentu. Tidak, kepercayaan yang kita anut harus benar-benar mempengaruhi jalan pikiran, keinginan hati dan tingkah laku kita setiap hari, dan sepanjang hari.
9. Prinsip-prinsip Alkitab mana bisa membantu kita untuk memiliki pandangan yang seimbang mengenai cara hidup kita sehari-hari?
9 Dengan mengingat terus dan menghargai hubungan kita dengan Allah, kita akan dibantu untuk bertindak secara bijaksana dan dapat yakin akan bantuan serta perkenan-Nya. (Amsal 4:10) Jika segala segi kehidupan dipandang dari hubungannya dengan Allah dan maksud tujuan-Nya, kita dapat hidup dengan cukup seimbang. Kita harus bekerja keras untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan jasmani. Tetapi Putra Allah mengingatkan bahwa hidup kita tidak bertambah sedikit pun bila kita bersikap kuatir dan bernafsu untuk mengejar perkara materi. Mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya akan memperpanjang hidup kita bahkan untuk selama-lamanya. (Matius 6:25-33; 1 Timotius 6:7-12; Ibrani 13:5) Adalah maksud Allah agar kita benar-benar dapat menikmati kehidupan sebagai keluarga. Namun demikian, terlalu mementingkan urusan keluarga, sehingga kurang menunjukkan kasih terhadap orang-orang di luar keluarga kita sendiri, tentu tidak baik dan dapat menyebabkan keluarga kita memiliki pandangan hidup yang picik dan kehilangan berkat Allah. Hiburan dan rekreasi keluarga akan menghasilkan kepuasan terbesar jika dibatasi secukupnya, dengan tidak mengesampingkan kasih akan Allah. (1 Korintus 7:29-31; 2 Timotius 3:4, 5) Jika segala sesuatu yang kita lakukan, baik seorang diri maupun sebagai keluarga, selalu sesuai dengan prinsip-prinsip yang benar dari Firman Allah, maka hidup akan betul-betul memuaskan dan kita merasa telah mencapai sesuatu. Dengan demikian kita meletakkan dasar yang kokoh untuk hidup kekal. Karena itu, ”apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan . . . [karena, NW] kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.”—Kolose 3:18-24.
SEKELUARGA IKUT MEMBANGUN
10. Mengapa pembahasan Alkitab di rumah secara teratur sangat penting?
10 Supaya seluruh keluarga terus mengejar tujuan yang sama, pembahasan Firman Allah di rumah sangat perlu. Tiap hari ada banyak kesempatan untuk menghubungkan hal-hal yang dilihat dan dikerjakan dengan maksud tujuan Allah Pencipta. (Ulangan 6:4-9) Sebaiknya disediakan waktu yang tetap tentu di mana seluruh keluarga dapat bersama-sama membaca dan membahas Alkitab, misalnya dengan memakai buku-buku yang menjelaskan isi Alkitab. Jika ini dilakukan, keluarga akan dipersatukan. Maka anggota-anggota keluarga dapat menggunakan Firman Allah untuk membantu satu sama lain mengatasi masalah-masalah yang timbul sewaktu-waktu. Jika orang tua sendiri memberi contoh baik, tidak membiarkan kepentingan lain begitu saja menunda acara-acara pembahasan Alkitab, anak-anak akan menyadari betapa pentingnya untuk sungguh-sungguh menghormati dan menghargai Firman Allah. Putra Allah berkata, ”Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”—Matius 4:4.
11. Dalam hal membuat kemajuan secara rohani, kecenderungan apakah yang hendaknya dihindari dalam keluarga?
11 Di dalam tubuh ”jangan terjadi perpecahan,” tetapi ”supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.” (1 Korintus 12:25) Demikian juga halnya dengan ’tubuh’ keluarga. Jangan sampai salah satu anggota keluarga begitu tekun dengan kemajuannya sendiri dalam pengetahuan dan pengertian rohani, sehingga melupakan kemajuan teman hidupnya. Misalnya, jika suami kurang memberi perhatian terhadap kebutuhan rohani dari isterinya, suatu waktu isterinya mungkin tidak sepaham lagi. Jika orang tua tidak memberikan perhatian pribadi atas kemajuan dan pertumbuhan rohani anak-anaknya, membantu mereka melihat bagaimana prinsip-prinsip Firman Allah dipraktekkan sehingga mendatangkan kebahagiaan terbesar dalam hidup mereka, boleh jadi nanti hati dan pikiran anak-anak mereka akan tertarik oleh pandangan materialistis dari dunia sekitar mereka. Demi kebaikan kekal seluruh anggota keluarga anda, jadikanlah pelajaran Firman Allah sebagai acara yang terpenting dan tetap tentu dalam kehidupan keluarga anda.
12. Pergaulan dengan siapa hendaknya tidak boleh kita abaikan?
12 Memang, ’kasih dimulai di rumah,’ tetapi jangan berakhir di situ saja. Firman Allah menubuatkan bahwa bahkan selama susunan perkara ini, hamba-hamba-Nya yang sejati akan menjadi suatu keluarga besar seluas dunia yang bersaudara dan bersaudari. Allah mengatakan kepada kita ”selama masih ada kesempatan bagi kita,” hendaknya kita ”berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman,” yaitu ”semua saudara [kita] di seluruh dunia.” (Galatia 6:10; 1 Petrus 5:9) Sebagai satu keluarga kita hendaknya senang untuk berhimpun bersama dengan mereka dari ”keluarga” yang lebih besar itu, dan janganlah hal itu dikesampingkan untuk urusan lain.—Ibrani 10:23-25; Lukas 21:34-36.
13. Apakah tanggung-jawab kita terhadap orang-orang di luar sidang Kristen?
13 Tetapi kasih kita hendaknya jangan dibatasi hanya kepada orang-orang yang sudah termasuk dalam ”keluarga Allah” saja, yaitu sidang jemaat-Nya. (1 Timotius 3:15) Menurut Putra Allah, jika kita hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, yaitu saudara-saudara kita sendiri saja, ’apakah istimewanya’? Jika kita ingin meniru Bapa surgawi, kita harus dengan sepenuh hati menyambut semua orang lain, dengan menunjukkan kebaikan dan senang membantu siapa pun juga, dan selalu mengambil inisiatip untuk menceritakan kabar kesukaan tentang kerajaan Allah kepada mereka. Jika kita sekeluarga memperlihatkan kasih ilahi ini, kehidupan kita akan sangat berarti dan mempunyai tujuan. Semuanya, baik orang tua maupun anak-anak akan merasakan apa artinya menunjukkan kasih yang sungguh-sungguh seperti Allah. (Matius 5:43-48; 24:14) Kita juga turut menikmati kebahagiaan yang hanya dapat dihasilkan oleh pemberian yang sepenuh hati.—Kisah 20:35.
14. Nasihat manakah yang dapat membina kebahagiaan keluarga, jika benar-benar dipraktekkan?
14 Alangkah indahnya bayangan masa depan bagi semua orang yang menunjukkan kasih seperti itu! Mereka telah belajar bahwa cara terbaik untuk membina kebahagiaan keluarga ialah dengan mempraktekkan nasihat Firman Allah. Bahkan sekarang mereka menikmati banyak berkat, walaupun segala masalah dan tekanan hidup menimpa semua orang. Meskipun demikian, yang mereka idamkan adalah harapan masa depan, dan bukan sekedar hidup beberapa tahun saja sebelum maut mengakhirinya. Dengan keyakinan akan janji-janji Allah yang dapat dipercaya, setiap anggota keluarga akan turut membina masa depan yang kekal selama-lamanya.
15. Pertanyaan-pertanyaan apa yang dapat anda ajukan pada diri sendiri, mengenai faedah-faedah dari pedoman Alkitab yang diberikan dalam buku ini?
15 Buku ini telah memperlihatkan dari Alkitab bahwa Allah menciptakan bumi ini dengan maksud supaya didiami oleh manusia. Ia menciptakan keluarga manusia untuk memenuhi maksud tersebut. Allah Yehuwa juga memberikan banyak petunjuk bagi ayah, ibu dan anak-anak, yang semuanya telah kita bahas. Apakah anda sudah mulai mempraktekkan sebagian prinsip-prinsip ini dalam keluarga anda? Apakah ini telah membantu keluarga anda menjadi lebih bahagia? Semoga demikian. Tetapi bagaimana mengenai masa depan anda dan keluarga anda?
16-18. Keadaan yang mulia apakah kelak akan terdapat di atas bumi, berdasarkan maksud tujuan Allah Yehuwa?
16 Inginkah anda ikut serta memelihara bumi ini, mengerjakan sawah-ladangnya sehingga menghasilkan panen yang berlimpah-limpah, dan gurun pasir menjadi subur lagi? Inginkah anda melihat bagaimana kelak duri dan onak digantikan oleh pohon-pohon yang berbuah dan kebun-kebun raya yang indah? Senangkah anda dan keluarga anda menaklukkan segala binatang, bukan dengan menggunakan senapan, cambuk atau kurungan besi, tetapi dengan belaian kasih sayang dan sikap penuh kepercayaan?
17 Jika hati anda memang rindu untuk melihat bagaimana pedang akan ditempa menjadi mata bajak dan tombak menjadi sabit, apabila sudah tidak ada lagi orang-orang yang membuat bom atau mengkobar-kobarkan peperangan, pasti anda akan menyukai susunan baru dari Yehuwa. Tidak akan ada lagi pemerintahan politik yang menindas, atau dunia perdagangan yang serakah atau agama-agama yang munafik, sebab semua itu sudah berlalu. Tiap keluarga di bumi akan tinggal tenteram di bawah pokok anggur dan pohon aranya sendiri. Di seluruh bumi akan terdengar gelak-tawa gembira anak-anak yang dibangkitkan dan kicauan yang merdu dari burung-burung. Dan udara yang anda hirup akan harum karena semerbak bunga-bunga, tidak menyesakkan napas seperti sekarang oleh karena pencemaran industri-industri.—Mikha 4:1-4.
18 Jika hati anda tergerak dan ingin melihat bagaimana kelak orang lumpuh bisa melompat seperti rusa, mendengar bagaimana orang bisu bisa bernyanyi, menyaksikan mata orang buta dicelikkan, orang tuli mulai mendengar lagi, menyaksikan sendiri cara bagaimana segala keluh kesah dan ratap tangis akan lenyap karena bertukar dengan senyuman gembira; dukacita dan air mata digantikan gelak-tawa dan umur panjang selama-lamanya, maka anda dan keluarga anda harus segera mengambil semua langkah yang perlu untuk dapat hidup kekal dalam susunan baru Yehuwa, di mana keadaan-keadaan demikian akan berlangsung selama-lamanya.—Wahyu 21:1-4.
19. Cara bagaimana anda serta keluarga anda dapat turut serta menikmati berkat-berkat yang terdapat dalam susunan baru Allah?
19 Apakah keluarga anda akan terdapat di antara sekian banyak orang yang mendiami bumi kelak? Terserah kepada anda sendiri. Ikutilah segala petunjuk Yehuwa mengenai kehidupan keluarga sekarang juga. Berusahalah agar keluarga anda sekarang dapat menyesuaikan diri dengan gaya-hidup dari susunan baru itu. Pelajarilah Firman Allah, praktekkanlah dalam kehidupan anda, ceritakanlah kepada orang-orang lain mengenai harapan di masa depan itu. Dengan berbuat itu, keluarga anda akan mendapat ”nama baik” di mata Allah. ”Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.” (Amsal 22:1; 10:7) Dengan kemurahan hati Yehuwa, semoga anda dan keluarga anda diberkati dengan kebahagiaan yang tiada taranya dan untuk selama-lamanya.
-