PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Menghormati Orang-Tua Kita yang Lanjut Usia
    Rahasia Kebahagiaan Keluarga
    • BAGAIMANA PRINSIP-PRINSIP ALKITAB INI MEMBANTU . . . KITA UNTUK MENGHORMATI ORANG-TUA KITA YANG LANJUT USIA?

      Kita harus memberikan apa yang terutang kepada orang-tua dan kakek-nenek.—1 Timotius 5:4.

      Semua urusan kita hendaknya berlangsung dengan kasih.—1 Korintus 16:14.

      Keputusan-keputusan penting hendaknya jangan sekali-kali dibuat dengan tergesa-gesa.—Amsal 14:15.

      Orang-tua yang lanjut usia, sekalipun sakit dan bertambah lemah, harus direspek.—Imamat 19:32.

      Kita tidak akan selalu menghadapi prospek bertambah tua dan mati.—Penyingkapan 21:4.

  • Kukuhkanlah Masa Depan yang Bertahan Lama bagi Keluarga Saudara
    Rahasia Kebahagiaan Keluarga
    • Sekalipun hanya ada satu anggota keluarga yang menerapkan prinsip Alkitab, keadaannya lebih baik daripada jika tidak ada sama sekali.

      3 Buku ini telah membahas banyak prinsip Alkitab yang menyumbang kepada kebahagiaan keluarga. Kemungkinan, saudara telah memperhatikan bahwa beberapa di antaranya muncul berulang-ulang di dalam buku ini. Mengapa? Karena prinsip-prinsip itu merupakan kebenaran-kebenaran yang penuh kuasa yang jitu untuk kebaikan semua orang dalam berbagai aspek kehidupan keluarga. Keluarga yang berjuang untuk menerapkan prinsip-prinsip Alkitab ini akan mendapati bahwa pengabdian yang saleh memang ”mengandung janji untuk kehidupan sekarang”. Mari kita lihat kembali empat dari antara prinsip-prinsip yang penting itu.

      NILAI PENGENDALIAN DIRI

      4. Mengapa pengendalian diri sangat penting dalam perkawinan?

      4 Raja Salomo mengatakan, ”Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.” (Amsal 25:28; 29:11) ’Mengendalikan diri seseorang’ sangat penting bagi mereka yang menginginkan perkawinan yang bahagia. Menyerah kepada emosi yang merusak, seperti misalnya kemarahan yang tak terkendali atau hawa nafsu yang amoral, akan menyebabkan kerusakan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memperbaikinya—kalau memang masih dapat diperbaiki.

      5. Bagaimana manusia yang tidak sempurna dapat memupuk pengendalian diri, dan apa manfaatnya?

      5 Tentu saja, tidak ada keturunan Adam yang dapat sepenuhnya mengendalikan dagingnya yang tidak sempurna. (Roma 7:21, 22) Namun, pengendalian diri adalah buah roh. (Galatia 5:22, 23) Karena itu, roh Allah akan menghasilkan pengendalian diri dalam diri kita jika kita berdoa memohonkan sifat ini, jika kita menerapkan nasihat yang cocok yang terdapat dalam Alkitab, dan jika kita bergaul dengan orang-orang lain yang mempertunjukkannya dan menghindari mereka yang tidak mempertunjukkannya. (Mazmur 119:100, 101, 130; Amsal 13:20; 1 Petrus 4:7) Haluan demikian akan membantu kita ’lari dari percabulan’, bahkan pada waktu kita digoda. (1 Korintus 6:18) Kita akan menolak kekerasan dan akan menghindari atau menaklukkan alkoholisme. Dan kita akan menangani provokasi dan keadaan-keadaan sulit dengan lebih tenang. Semoga semua—termasuk anak-anak—belajar untuk memupuk buah roh yang sangat penting ini.—Mazmur 119:1, 2.

      PANDANGAN YANG PATUT TENTANG KEKEPALAAN

      6. (a) Pengaturan apa yang telah Allah tetapkan tentang kekepalaan? (b) Apa yang harus diingat seorang pria agar kekepalaannya mendatangkan kebahagiaan bagi keluarganya?

      6 Prinsip kedua yang penting adalah mengakui kekepalaan. Paulus menggambarkan pengaturan yang patut akan segala sesuatu pada waktu ia mengatakan, ”Aku ingin kamu mengetahui bahwa kepala dari setiap pria adalah Kristus; selanjutnya kepala dari seorang wanita adalah pria; selanjutnya kepala dari Kristus adalah Allah.” (1 Korintus 11:3) Ini berarti pria mengambil pimpinan dalam keluarga, istrinya dengan loyal mendukung, dan anak-anak taat kepada orang-tua mereka. (Efesus 5:22-25, 28-33; 6:1-4) Namun perhatikan, bahwa kekepalaan akan menuntun kepada kebahagiaan hanya apabila itu ditangani dengan cara yang patut. Suami yang hidup dengan pengabdian yang saleh tahu bahwa kekepalaan bukan berarti kediktatoran. Mereka meniru Yesus, Kepala mereka. Meskipun Yesus akan menjadi ”kepala atas segala perkara”, ia ”datang, bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani”. (Efesus 1:22; Matius 20:28) Dengan cara yang serupa, seorang pria Kristen menjalankan kekepalaan, bukan demi manfaat dirinya sendiri, tetapi untuk mengurus kepentingan istri dan anak-anaknya.—1 Korintus 13:4, 5.

      7. Prinsip-prinsip Alkitab apa yang akan membantu seorang istri memenuhi peranan yang ditetapkan Allah baginya dalam keluarga?

      7 Berkenaan dengan peranannya, istri yang hidup dengan pengabdian yang saleh tidak bersaing atau berupaya untuk mendominasi suaminya. Ia senang untuk mendukung suaminya dan bekerja sama dengan dia. Alkitab kadang-kadang berbicara tentang istri yang ”dimiliki” oleh suaminya, membuatnya jelas bahwa suami adalah kepala dari istri. (Kejadian 20:3, NW) Melalui perkawinan ia berada di bawah ”hukum suaminya”. (Roma 7:2) Pada waktu yang sama, Alkitab menyebut istri sebagai ”penolong” dan ”pelengkap”. (Kejadian 2:20, NW) Ia melengkapi sifat-sifat dan kesanggupan yang tidak dimiliki suaminya, dan ia memberinya dukungan yang dibutuhkan. (Amsal 31:10-31) Alkitab juga mengatakan bahwa istri adalah seorang ’mitra’, yaitu orang yang bekerja bersisi-sisian dengan teman hidupnya. (Maleakhi 2:14, NW) Prinsip-prinsip Alkitab ini membantu suami dan istri memahami kedudukan satu sama lain dan memperlakukan satu sama lain dengan respek dan martabat yang sepatutnya.

      ”CEPAT MENDENGAR”

      8, 9. Jelaskan beberapa prinsip yang akan membantu semua dalam keluarga untuk memperbaiki keterampilan mereka berkomunikasi.

      8 Dalam buku ini, perlunya komunikasi sering ditandaskan. Mengapa? Karena segala sesuatu akan berlangsung lebih baik jika orang berbicara dan benar-benar mendengarkan kepada satu sama lain. Telah berulang-ulang ditandaskan bahwa komunikasi adalah percakapan dua arah. Yakobus sang murid menyatakannya demikian, ”Setiap orang harus cepat mendengar, lambat berbicara.”—Yakobus 1:19.

      9 Juga penting untuk berhati-hati berkenaan dengan cara kita berbicara. Kata-kata yang sembrono, memancing pertengkaran, atau yang sangat kritis tidak membangun komunikasi yang berhasil. (Amsal 15:1; 21:9; 29:11, 20) Sekalipun apa yang kita katakan benar, jika itu dinyatakan dengan cara yang kasar, sombong, atau tanpa perasaan, kemungkinan besar itu akan lebih banyak mengakibatkan kerugian daripada kebaikan. Perkataan kita hendaknya sedap didengar, ”dibumbui dengan garam”. (Kolose 4:6) Kata-kata kita hendaknya seperti ”buah apel emas di pinggan perak”. (Amsal 25:11) Keluarga yang belajar untuk berkomunikasi dengan baik telah mengambil langkah besar demi mencapai kebahagiaan.

      PERANAN YANG SANGAT PENTING DARI KASIH

      10. Jenis kasih yang mana sangat penting dalam perkawinan?

      10 Kata ”kasih” muncul berkali-kali dalam seluruh buku ini. Apakah saudara ingat jenis kasih yang terutama dibahas? Memang kasih asmara (Yunani, eʹros) memainkan peranan penting dalam perkawinan, dan dalam perkawinan yang sukses, kasih sayang yang dalam serta persahabatan (Yunani, phi·liʹa) tumbuh di antara suami dan istri. Tetapi yang bahkan lebih penting lagi adalah kasih yang dinyatakan oleh kata Yunani a·gaʹpe. Ini adalah yang kita perkembangkan bagi Yehuwa, Yesus, dan sesama kita. (Matius 22:37-39) Inilah kasih yang Yehuwa nyatakan terhadap umat manusia. (Yohanes 3:16) Betapa indahnya bahwa kita dapat memperlihatkan jenis kasih yang sama ini kepada teman hidup dan anak-anak kita!—1 Yohanes 4:19.

      11. Bagaimana kasih mendatangkan kebaikan dalam suatu perkawinan?

      11 Dalam perkawinan, kasih yang luhur ini benar-benar merupakan ”ikatan pemersatu yang sempurna”. (Kolose 3:14) Ini mengikat pasangan itu menjadi satu dan membuat mereka ingin melakukan apa yang terbaik bagi satu sama lain dan bagi anak-anak mereka. Pada waktu keluarga menghadapi situasi yang sulit, kasih membantu mereka menangani segalanya secara terpadu. Seraya suatu pasangan bertambah tua, kasih membantu mereka mendukung dan terus menghargai satu sama lain. ”Kasih . . . tidak mencari kepentingan diri sendiri. . . . Ia menahan segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, bertekun menahan segala sesuatu. Kasih tidak pernah berkesudahan.”—1 Korintus 13:4-8.

      12. Mengapa kasih kepada Allah di pihak pasangan suami-istri memperkuat perkawinan mereka?

      12 Persatuan perkawinan khususnya kuat apabila itu dikokohkan tidak saja oleh kasih di antara teman hidup tetapi terutama oleh kasih kepada Yehuwa. (Pengkhotbah 4:9-12) Mengapa? Nah, rasul Yohanes menulis, ”Inilah arti kasih akan Allah, bahwa kita menjalankan perintah-perintahnya.” (1 Yohanes 5:3) Jadi, sepasang suami-istri hendaknya melatih anak-anak mereka dalam pengabdian yang saleh bukan hanya karena mereka sangat mengasihi anak-anak mereka tetapi karena ini adalah perintah Yehuwa. (Ulangan 6:6, 7) Mereka harus menjauhkan diri dari perbuatan amoral tidak saja karena mereka mengasihi satu sama lain tetapi terutama karena mereka mengasihi Yehuwa, yang ”akan menghakimi orang yang melakukan percabulan dan pezina”. (Ibrani 13:4) Sekalipun salah seorang teman hidup menyebabkan problem-problem yang serius dalam perkawinan, kasih kepada Yehuwa akan menggerakkan pasangannya untuk terus mengikuti prinsip-prinsip Alkitab. Sesungguhnya, berbahagialah keluarga-keluarga yang kasihnya kepada satu sama lain diperkuat dengan kasih kepada Yehuwa!

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan