-
Keluarga dengan Orang-tua Tunggal—Kecenderungan yang Semakin MeningkatSedarlah!—1995 | 8 Oktober
-
-
Keluarga dengan Orang-tua Tunggal—Kecenderungan yang Semakin Meningkat
OLEH KORESPONDEN SEDARLAH! DI INGGRIS
”TERDAPAT lebih banyak keluarga dengan orang-tua tunggal di Inggris daripada di negara lain di Eropa,” demikian laporan The Times dari London. ”Orang-tua tunggal . . . kini menjadi kepala keluarga dari hampir satu di antara lima keluarga di Inggris dengan anak-anak di bawah usia 18 tahun, dibandingkan dengan satu di antara tujuh keluarga di Denmark dan satu di antara delapan keluarga di Jerman dan di Prancis.”
Dari setiap sepuluh orang-tua tunggal di Inggris, sembilan adalah wanita. Keluarga tradisional, atau yang disebut keluarga inti, yang terdiri dari ayah dan ibu beserta anak-anak mereka kini tampaknya hanya menjadi satu ”konsep keluarga” di antara konsep-konsep keluarga lain. Tetapi mengapa variasi orang-tua tunggal menjadi lebih umum daripada sebelumnya?
Perceraian dan perpisahan merupakan penyebab utamanya. Sehubungan dengan hal ini Inggris mengikuti kecenderungan di Amerika Serikat, yang kira-kira setengah dari semua perkawinan berakhir dengan perceraian. Juga, apa yang orang-orang harapkan dari perkawinan telah berubah. Menurut Zelda West-Meads dari Relate, suatu organisasi bimbingan perkawinan, 20 atau 30 tahun yang lalu, ”peranan suami-istri didefinisikan dengan jauh lebih jelas. Pria adalah pencari nafkah; wanita adalah pengurus”. Tetapi bagaimana dengan sekarang? ”Perkawinan-perkawinan zaman sekarang mungkin lebih menggairahkan dan diwarnai dengan lebih banyak kesenangan, tetapi juga dapat lebih sulit. Wanita-wanita menginginkan lebih banyak dari perkawinan dibandingkan dengan yang diharapkan oleh ibu dan nenek mereka. Mereka menginginkan persamaan, kekasih yang baik, teman yang baik, kemungkinan karier bagi diri mereka sendiri—maupun anak-anak.”
Hubungan seksual dengan siapa saja yang ditonjolkan dalam dunia hiburan membuahkan kebencian akan keluarga tradisional. Kaum muda yang memiliki pengalaman seksual pada usia yang sangat dini sering kali tidak menyadari kemungkinan akibatnya. Dalam bayangan mereka ikatan perkawinan berarti kesukaran, berkurangnya kebebasan pribadi mereka, komplikasi yang tidak perlu dalam kehidupan.
Beberapa menjadi orang-tua tunggal karena pilihan sendiri; yang lain-lain karena situasi. Bila terpaksa menjadi orang-tua tunggal, banyak orang yang telah menikah tidak bahagia dengan otonomi mereka. Di antara mereka ada orang-orang yang memiliki keluarga yang bahagia tetapi kehilangan teman hidup mereka karena kematian.
Sebaliknya, ada orang-orang yang perkawinannya telah diwarnai dengan kebencian yang pahit. Mereka merasa lega karena dapat membesarkan anak-anak mereka sendirian. Banyak dari antara mereka memberikan komentar mengenai hubungan akrab yang mereka kembangkan dengan anak-anak mereka.
Meskipun ada banyak penyebab dari kecenderungan yang semakin meningkat ke arah keluarga dengan orang-tua tunggal, namun sehubungan dengan tanggung jawab dan tantangan dari kehidupan sehari-hari, ada hal-hal khusus yang harus dihadapi orang-tua tunggal. Apakah itu? Dan bagaimana orang-tua tunggal dapat dengan berhasil mengemban tanggung jawab mereka?
-
-
Menjadi Orang-tua Tunggal yang BerhasilSedarlah!—1995 | 8 Oktober
-
-
Menjadi Orang-tua Tunggal yang Berhasil
”Satu hal yang tidak pernah cukup dimiliki oleh semua orang-tua tunggal adalah waktu.”—The Single Parent’s Survival Guide.
”Kekurangan uang adalah problem yang paling serius.”—The London Times.
’Kesepian adalah sumber stres yang utama bagi orang-tua tunggal.’—Give Us a Break, survei tentang kesempatan bersantai bagi orang-tua tunggal.
SEMUA orang-tua menghadapi tantangan, sukacita, dan problem. Tetapi orang-tua tunggal menghadapinya tanpa teman hidup. Karena itu, waktu, uang, dan kesepian sering kali menjadi aspek-aspek penting dalam kehidupan mereka.
Meskipun realitas dalam hidup mereka mungkin tidak menyenangkan, orang-tua tunggal dapat berhasil dalam kehidupan keluarga mereka, dan banyak yang demikian. Hal ini banyak bergantung pada standar mana yang mereka ambil dan betapa kuat mereka bertekad untuk melakukan hal itu.
Menarik, Alkitab lama berselang telah meramalkan kekacauan moral dan sosial dewasa ini. Perhatikan bagaimana rasul Kristen Paulus membuat waspada Timotius, murid yang masih muda itu, mengenai hal ini. ”Akan tetapi, ketahuilah ini,” ia memperingatkan, ”pada hari-hari terakhir akan tiba masa kritis yang sulit dihadapi. Karena orang-orang akan menjadi pencinta diri sendiri, . . . tidak taat kepada orang-tua, tidak berterima kasih, tidak loyal, tidak memiliki kasih sayang alami, tidak mau bersepakat.”—2 Timotius 3:1-3.
Alkitab bukan sekadar buku yang secara akurat menubuatkan sikap-sikap yang ada dewasa ini. Buku ini justru memuat prinsip-prinsip yang bila diikuti, akan menjamin keberhasilan dalam kehidupan keluarga. (2 Timotius 3:16, 17) Pertimbangkan bagaimana beberapa dari prinsip-prinsip ini dapat membantu orang-tua tunggal menghadapi problem berkenaan waktu, uang, dan kesepian.
Membeli Semua Waktu
Betapa pun terorganisasinya Anda, waktu adalah komoditas yang sulit diperoleh. Agar dapat menggunakan waktu Anda dengan baik, pertama-tama Anda perlu mengidentifikasi apa sebenarnya yang terjadi dengan waktu. Maka Anda akan dapat memutuskan aktivitas mana yang paling penting bagi Anda. ”Buatlah ’catatan harian waktu’,” demikian saran sebuah organisasi bagi orang-tua tunggal. ”Di dalam buku itu Anda dapat mencatat segala sesuatu yang Anda lakukan sepanjang hari atau selama sepekan, dan lihatlah berapa banyak waktu yang digunakan. Setelah itu, Anda dapat mempertimbangkan waktu mana yang dapat dihemat, atau digunakan dengan lebih baik, dengan mengatur kembali segala sesuatu atau dengan tidak melakukan hal-hal tertentu.”
Saran bagus semacam itu mencerminkan hikmat Alkitab yang ada di balik instruksi sang rasul, ”Teruslah perhatikan dengan ketat agar cara kamu berjalan bukan seperti orang yang tidak berhikmat tetapi seperti yang berhikmat, membeli semua waktu yang tepat bagi dirimu sendiri, sebab hari-hari ini adalah fasik.”—Efesus 5:15, 16.
Misalnya, apakah menonton TV menyita bagian yang besar dalam rutin Anda sehari-hari? Mengurangi hal ini akan memberi Anda waktu ekstra untuk bercakap-cakap dengan anak-anak Anda dan melakukan berbagai hal bersama-sama. Itu dapat membantu membangun hubungan yang baik dengan mereka.
’Upaya saya untuk duduk dan bercakap-cakap dengan anak-anak saya hanya menghasilkan suasana hening yang panjang tanpa kata-kata,’ Anda mungkin mengatakan. Bisa jadi demikian, tetapi jangan biarkan hal itu menghalangi Anda. Para penasihat bagi orang-tua tunggal menyarankan agar Anda memahami perasaan di dalam percakapan anak-anak Anda sehari-hari, seperti komentar yang mereka berikan mengenai teman-teman sekolah mereka atau apa yang mereka rencanakan untuk dilakukan. Tetapi Anda tidak akan dapat melakukan hal itu bila TV mencengkeram perhatian Anda, bukan? Meskipun Anda membiarkan TV menyala tanpa menontonnya, hal itu mungkin akan merampas perhatian Anda dari informasi penting mengenai pikiran dan emosi yang paling dalam dari anak-anak Anda. Maka luangkanlah waktu bagi anak-anak Anda. Lakukan tugas-tugas rumah tangga bersama-sama, dan seraya Anda mengerjakannya, bercakap-cakaplah dengan mereka—dan dengarkan sewaktu mereka berbicara!
Bacalah bersama-sama mereka juga. Riset memperlihatkan adanya hubungan yang kuat antara kemampuan membaca dan menulis seorang anak pada usia lima tahun dengan prestasinya di kemudian hari. Itu merupakan alasan tambahan untuk membeli semua waktu untuk membaca bersama-sama. Beberapa menit sebelum tidur, atau lebih awal pada malam hari sebelum Anda merasa terlalu letih, merupakan waktu yang bijaksana untuk dimanfaatkan.
Berpuaslah Dengan Kebutuhan
Banyak orang-tua tunggal mendapati diri mereka terjebak dalam lingkaran setan finansial. Bagaimanapun juga mereka harus mendapat cukup uang untuk membayar rumah, makanan, dan pakaian yang layak. Tetapi pergi bekerja menimbulkan masalah dalam pengasuhan yang baik bagi anak-anak.
Fasilitas pengasuhan anak tidak selalu mudah didapat, dan juga tidak murah. Beberapa orang-tua tunggal berhasil dengan meminta bantuan dari sanak saudara mereka—kakek-nenek, bibi, dan paman. Orang-orang lain mengandalkan sekolah-sekolah untuk bayi, tempat-tempat bermain, dan fasilitas pengasuhan anak yang disediakan oleh majikan mereka. Tunjangan pemerintah, jika tersedia, tidak selalu dapat menutupi biaya yang mungkin dibutuhkan untuk pengasuhan anak semacam itu. Di beberapa negeri, beberapa orang-tua tunggal yang mempunyai anak-anak kecil mungkin dapat memilih untuk tidak mencari pekerjaan melainkan tinggal di rumah dan hidup dari uang yang disediakan oleh pemerintah.
Dengan bertambahnya jumlah orang-tua tunggal yang harus diurus, pemerintah, sebaliknya, berpaling kepada orang-orang yang mereka anggap harus bertanggung jawab. Di Inggris, hal ini telah mengarah kepada pengawasan yang ketat terhadap ayah-ayah yang lalai memberikan tunjangan finansial kepada anak-anak mereka. Lembaga-lembaga yang mengurus tunjangan anak mencari ayah-ayah yang tidak bertanggung jawab untuk menyuruh mereka membayar tunjangan yang lalai mereka berikan. Jika ibu-ibu tunggal tidak mau membantu lembaga-lembaga mencari sang ayah, mereka kemungkinan tidak akan mendapat manfaat finansial tertentu. ”Di Swedia, diperkirakan 40 persen dari orang-orang yang tidak memenuhi kewajibannya ditangkap melalui lembaga-lembaga asuransi sosial setempat, dan di Prancis pengadilan memberlakukan perintah untuk memberikan tunjangan dan pencarian terhadap orang-orang yang tidak memenuhi kewajibannya,” demikian laporan The Times dari London.
Dengan atau tanpa perintah pengadilan, dengan atau tanpa bantuan pemerintah, banyak orang-tua tunggal menemukan cara-cara untuk membantu diri sendiri terus hidup dengan lebih sedikit uang dibandingkan dengan sebelumnya. Bagaimana? Dengan membuat anggaran belanja secara berbeda.
Belajar membuat anggaran belanja secara berbeda merupakan keterampilan. Hal ini biasanya berarti mengubah prioritas perbelanjaan—misalnya, menyisihkan dahulu uang untuk rekening rumah dan pemanas, kemudian untuk membeli makanan, dan kemudian untuk melunasi pinjaman. ”Dengan mempunyai makanan dan pelindung,” rasul Paulus menjelaskan, ”kita akan puas dengan perkara-perkara ini.”—1 Timotius 6:8.
Apakah Anda pernah mempertimbangkan untuk menanggung beberapa biaya bersama orang lain? Membeli makanan dan barang-barang rumah tangga dalam jumlah banyak bersama orang-tua lain dapat menghemat uang Anda. Apa pun cara Anda membuat anggaran belanja, ingatlah bahwa Anda perlu duduk dan menghitung pengeluaran Anda. (Bandingkan Lukas 14:28.) Mengapa tidak meminta bantuan anak-anak Anda dalam mengerjakan anggaran belanja? Maka mereka dapat menganggapnya suatu hak istimewa untuk membantu Anda berpegang pada anggaran itu. Anda mungkin bahkan akan mendapati bahwa Anda dapat menyisihkan uang sebagai tabungan.
Untuk Mendapat Teman, Bersikaplah Ramah
”Praktekkan memberi, dan orang-orang akan memberi kepadamu,” Yesus menasihati. ”Dengan takaran yang kamu gunakan untuk menakar, mereka akan menakar kamu sebagai balasan.” (Lukas 6:38) Demikian pula berkenaan hubungan pribadi. Minat Anda kepada orang-orang lain dapat memenangkan tanggapan yang ramah. Cara terbaik untuk menaklukkan kesepian adalah mengambil inisiatif untuk berteman. Mungkin Anda dapat menemukan teman-teman yang dapat diandalkan yang mau menjaga anak-anak Anda sehingga Anda dapat pergi berkunjung. Namun, lebih baik lagi, mengapa tidak meminta teman-teman mengunjungi Anda?
Tetapi dalam hal ini suatu kata peringatan perlu. Ingatlah, ”pergaulan yang buruk merusak kebiasaan-kebiasaan yang berguna”. (1 Korintus 15:33) Kesepian hanya dapat ditaklukkan secara memuaskan bila persahabatan yang Anda buat benar-benar membangun dan mendatangkan kepuasan.
Bertindak sebagai Ibu dan Ayah
Orang-tua tunggal harus berperan sebagai ibu maupun ayah bagi anak-anak mereka—bukan tugas yang mudah bagi siapa pun. Dan jangan lupa, anak-anak suka meniru. Mereka belajar cara menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dengan memperhatikan apa yang dilakukan orang-orang dewasa yang bertanggung jawab. Karena itu, sebagian besar ini bergantung pada anutan macam apa yang Anda berikan kepada anak-anak Anda. Mengomentari tidak adanya ayah bagi sejumlah besar anak-anak lelaki yang dibesarkan di pusat-pusat kota di Amerika, The Sunday Times dari London menyatakan, ”Kekerasan dan kekacauan sosial . . . memberi tahu kita bagaimana suatu generasi pria-pria bertingkah laku apabila kira-kira setengah dari mereka tumbuh dewasa tanpa mengetahui apa artinya menjadi seorang pria dewasa, yang akan membatasi tindak tanduk mereka.”
Jika anak-anak dibesarkan oleh orang-tua tunggal, kesehatan dan pekerjaan sekolah mereka dan bahkan prospek ekonomi mereka dapat dipengaruhi secara tidak baik, kata Duncan Dormor dalam The Relationship Revolution. Para peneliti lain membantah penemuan ini. Mereka menyalahkan kemiskinan dan tidak adanya kesosialan. Namun, banyak orang setuju dengan penilaian Charles Murray, seorang ilmuwan di bidang sosial, ”Anak yang memiliki ibu tetapi tidak memiliki ayah, yang hidup di lingkungan ibu-ibu tanpa adanya ayah-ayah, menilai melalui apa yang ia lihat. Anda dapat mengirim para pekerja sosial dan guru-guru sekolah dan pemimpin agama untuk memberi tahu seorang pria muda bahwa bila ia tumbuh dewasa ia harus menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya. Tetapi ia tidak tahu apa artinya itu jika ia tidak melihatnya.” Ya, anak-anak lelaki membutuhkan ibu dan juga ayah, demikian pula anak-anak perempuan.
Di Mazmur 68:6, Alkitab melukiskan Allah Yehuwa sebagai ”Bapa bagi anak yatim”. Ibu yang berpaling kepada Allah untuk memperoleh bimbingan mendapatkan dalam diri-Nya teladan terbaik bagi anak-anak mereka. Ayah-ayah yang membesarkan anak-anak mereka sendirian menghargai bantuan dari para wanita yang bertanggung jawab dan matang. Ya, apa yang dibutuhkan oleh semua orang-tua tunggal adalah dukungan yang pengasih. Mungkin dalam segi ini Anda dapat membantu!
[Kotak di hlm. 6]
Ayah yang Juga Bertindak sebagai ”Ibu”
Pria-pria yang menjadi kepala dari keluarga-keluarga dengan orang-tua tunggal merupakan suatu minoritas. Tetapi dengan semakin banyaknya perceraian, semakin lebih banyak pria memutuskan untuk mengurus anak-anak mereka sendirian. ”Salah satu kesulitan terbesar yang tampaknya dihadapi pria-pria dalam situasi ini adalah anak perempuan yang sedang menginjak masa remaja,” demikian The Single Parent’s Survival Guide menjelaskan. Karena malu, beberapa ayah menghindar untuk membahas masalah-masalah seksual. Yang lain-lain mengatur agar sanak saudara wanita yang dapat dipercaya berbicara kepada anak-anak perempuan mereka. Semua orang-tua tunggal, pria maupun wanita, akan mendapat manfaat besar dengan membaca bersama anak-anak mereka buku Pertanyaan Kaum Muda—Jawaban yang Praktis.a Publikasi ini berisi bagian-bagian yang berjudul ”Seks dan Moral” dan ”Berkencan, Cinta, dan Lawan Jenis”. Masing-masing pasal diakhiri dengan bagian yang disebut Pertanyaan-Pertanyaan untuk Diskusi, yang dirancang untuk memastikan suatu tinjauan yang saksama bahkan berkenaan masalah-masalah yang paling bersifat pribadi.
[Catatan Kaki]
a Diterbitkan oleh Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc.
[Gambar di hlm. 7]
Menggunakan waktu dengan anak-anak Anda membangun hubungan yang baik
[Gambar di hlm. 7]
Apa pun cara Anda membuat anggaran belanja, duduklah dan hitunglah pengeluaran Anda
-
-
Bagaimana Anda Dapat Membantu Orang-tua Tunggal?Sedarlah!—1995 | 8 Oktober
-
-
Bagaimana Anda Dapat Membantu Orang-tua Tunggal?
ORANG-TUA tunggal, pria atau wanita, layak mendapatkan pengertian. Para pekerja sosial dewasa ini menganggap dukungan emosi sangat penting bagi keluarga dengan orang-tua tunggal.
”Sekelompok teman yang suka mendukung, sanak saudara yang penuh perhatian, guru-guru yang menaruh minat pribadi yang hangat, kegiatan masyarakat dan kegiatan agama yang sifatnya khusus, yang dirancang bagi keluarga-keluarga seperti itu,” demikian penjelasan sosiolog Letha dan John Scanzoni, ”dapat menjadi bantuan besar bagi kesejahteraan emosi para orang-tua tunggal dan anak-anak mereka pada suatu waktu dalam kehidupan mereka saat anjuran teristimewa dibutuhkan.” Jadi, bagaimana Anda dapat membantu?
Hendaklah Bersikap Mendukung
Pertama-tama, cobalah mengerti bagaimana orang-tua tunggal memandang suatu perkara. Tempatkan diri Anda dalam situasi mereka. Sedarlah! mewawancarai Margaret, yang memiliki dua anak, berusia 7 dan 14 tahun. Ia bercerai lima tahun yang lalu, dan sejauh ini berhasil mengatasinya. Tak diragukan, Anda akan mendapati komentar-komentarnya membuka pikiran Anda.
Sedarlah!: ”Sebagai orang-tua tunggal, problem-problem apa yang harus Anda hadapi?”
Margaret: ”Yang pertama dan yang paling berat, saya merasa sangat sulit untuk menerima fakta bahwa saya telah menjadi orang-tua tunggal, sesuatu yang tidak saya rencanakan. Dijuluki ’orang-tua tunggal’ membuat saya kesal karena banyak orang menganggap keluarga dengan orang-tua tunggal sebagai keluarga yang tertekan dan tampak lesu, dengan anak-anak yang memiliki reputasi buruk. Karena saya tidak mempunyai sudut pandangan seperti itu, pada mulanya saya tidak mau menerima saran. Tetapi saya telah menyadari bahwa menjadi orang-tua tunggal tidak selalu negatif.”
Untuk mendukung orang-tua tunggal, Anda perlu mengetahui hal-hal yang sensitif bagi mereka. Berkanjanglah dalam memperlihatkan kebaikan hati kepada mereka.
Sedarlah!: ”Anda tidak menerima tunjangan dari bekas suami Anda. Bagaimana Anda berhasil secara finansial?”
Margaret: ”Saya harus membuat banyak pengorbanan. Saya dahulu suka membeli pakaian baru untuk acara ramah tamah. Ya, sekarang kami juga masih membeli barang-barang baru, tetapi kami tidak dapat membelanjakan uang sebanyak dahulu. Tentu saja, saya ingin membuat anak-anak kelihatan rapi dan menarik, maka saya harus membuat anggaran belanja dengan baik. Saya mulai menabung sedikit setiap minggu, menitipkannya kepada teman yang dapat dipercaya untuk disimpan, sebab saya tahu jika saya yang menyimpannya, saya mungkin akan menggunakannya.”
Apakah Anda mau menjadi teman yang dapat dipercaya yang membantu orang-tua tunggal membuat anggaran dari sumber daya mereka?
Sedarlah!: ”Bagaimana Anda mengatasi kesepian?”
Margaret: ”Saya selalu sibuk selama siang hari. Pada malam hari, bila anak-anak sudah pergi tidur, itulah saat saya paling merasa kesepian. Saya menelepon sanak saudara atau teman. Kadang-kadang saya mengadakan percakapan disertai derai air mata. Saya membicarakan apa yang telah terjadi selama hari itu. Sekadar memiliki seseorang yang mau mendengarkan merupakan bantuan besar.”
Mungkin Anda dapat mengambil inisiatif dan menelepon orang yang kesepian. Kerelaan Anda untuk mendengarkan dapat memberikan banyak penghiburan.
Sedarlah!: ”Menurut Anda apa yang paling sulit menjadi orang-tua tunggal?”
Margaret: ”Membesarkan anak-anak dengan cara yang benar secara moral. Standar moral dan sosial yang memburuk membuat orang-orang meragukan keinginan saya untuk menanamkan nilai-nilai yang baik ke dalam diri anak-anak saya.”
Teladan yang Anda berikan dalam menjunjung standar-standar yang saleh pasti akan menganjurkan orang-orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Sedarlah!: ”Membesarkan dua anak menyita banyak waktu Anda. Bagaimana Anda memiliki waktu untuk melakukan apa yang Anda inginkan?”
Margaret: ”Saya mencoba menyimpan waktu-waktu tertentu untuk diri saya sendiri. Misalnya, bila seorang teman memberikan les musik kepada anak-anak, hal itu memberi kesempatan satu jam untuk diri saya sendiri. Saya duduk dan tidak menyalakan TV. Saya hanya diam, memikirkan apa yang telah saya lakukan selama hari itu. Saya selalu sangat sadar akan apa yang benar atau apa yang salah, maka saya suka memikirkan kembali apa yang telah saya lakukan untuk melihat apakah saya dapat melakukannya dengan lebih baik.”
Jika Anda menawarkan untuk mengurus anak-anaknya dari waktu ke waktu, orang-tua tunggal akan memiliki saat-saat yang berharga untuk renungan semacam itu.
Menawarkan Bantuan Praktis
Sedarlah!: ”Bantuan apa yang telah Anda rasakan paling praktis?”
Margaret: ”Saya senang bila diundang ke rumah keluarga lain. Jika Anda menyadari bahwa orang-orang lain merasa prihatin terhadap Anda, hal itu sangat membantu. Kadang-kadang Anda berpikir bahwa Anda adalah satu-satunya orang yang memiliki problem. Juga pada waktu seseorang memuji cara saya membesarkan anak-anak saya, hal itu sangat berarti! Kemudian ada sisi-sisi lain yang praktis, seperti mendekorasi, berkebun, berbelanja. . . . Ya, masih banyak lagi!”
Bila hanya ada satu orang-tua, segalanya memakan waktu lebih lama dan tampak jauh lebih berat. Maka jangan remehkan nilai dari pemberian berupa waktu Anda. Bagi orang-tua tunggal, itu merupakan salah satu pemberian yang paling berharga.
[Gambar di hlm. 9]
Untuk menjadi bantuan yang nyata bagi orang-tua tunggal, gunakan waktu bersama mereka
-