PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Takut Akan Allah​—Dapatkah Itu Bermanfaat bagi Saudara?
    Menara Pengawal—1987 (Seri 43) | Menara Pengawal—1987 (Seri 43)
    • Takut Akan Allah​—Dapatkah Itu Bermanfaat bagi Saudara?

      ”Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintahNya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.”—PENGKHOTBAH 12:13.

      1, 2. (a) Atas hal apa ibadat kita kepada Allah hendaknya didasarkan? (b) Tetapi, apa lagi yang Allah tuntut? (Ulangan 10:12)

      APAKAH pernyataan ’takut akan Allah’ kedengaran aneh bagi saudara? Banyak orang mungkin merasa bahwa jika mereka benar-benar mengasihi Allah, mereka tidak perlu takut kepadaNya. Apakah kita benar-benar harus mengasihi Dia dan juga takut kepadaNya? Jika begitu, bagaimana takut akan Allah bermanfaat bagi kita?

      2 Alkitab menunjukkan bahwa ibadat dan dinas kita kepada Allah harus didasarkan atas kasih. Yesus membuat hal ini jelas ketika ia mengatakan agar kita mengasihi Yehuwa dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan kita. (Markus 12:30) Tetapi pentingnya takut akan Allah juga ditandaskan dalam FirmanNya. Dengan sangat tegas kita diberitahu di Pengkhotbah 12:13, ”Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintahNya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.” Apakah Yehuwa tidak konsisten dalam meminta agar kita takut kepadaNya dan pada waktu yang sama mengasihi Dia?

      3. Mengenai perasaan takut, apa yang harus diingat?

      3 Sama sekali tidak—jika kita mengingat bahwa ada berbagai macam perasaan takut. Bila seseorang memikirkan mengenai perasaan takut, biasanya yang ada dalam pikiran mereka ialah perasaan takut yang sangat besar yang menghancurkan harapan dan membuat kita kecil hati. Jelas bahwa Yehuwa tidak ingin agar kita mempunyai perasaan demikian terhadapNya! Bapa surgawi kita ingin agar kita datang kepadaNya seperti seorang anak akan datang kepada ayahnya, karena yakin akan kasih ayahnya namun pada waktu yang sama takut membuat ia tidak senang. Perasaan takut sedemikian akan membantu kita untuk tetap patuh kepada Bapa surgawi kita pada waktu digoda untuk melakukan hal yang salah. Ini adalah ”takut yang saleh” yang benar dan harus dimiliki orang-orang Kristen.—Ibrani 5:7, NW; 11:7.

      4. Takut macam apa akan disingkirkan oleh kasih?

      4 Yehuwa tidak seperti hakim yang tidak mempunyai perasaan yang selalu menghukum hamba-hambaNya tiap kali mereka tergelincir. Sebaliknya, Ia mengasihi mereka dan ingin agar mereka berhasil. Jadi jika kita membuat kesalahan atau melakukan suatu dosa, takut akan Yehuwa tidak boleh menahan kita berbicara kepadaNya mengenai hal itu. (1 Yohanes 1:9; 2:1) Perasaan takut kita yang penuh respek kepada Yehuwa bukan perasaan takut tidak dipedulikan atau ditolak. Seperti kita baca di 1 Yohanes 4:18, ”Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman [”menjadi penahan”, NW].” Tetapi, ”kasih yang sempurna” tidak akan mengurangi respek yang dalam dan perasaan takut yang benar yang harus kita miliki untuk Yehuwa sebagai Pencipta dan Pemberi kehidupan kita.—Mazmur 25:14.

      Pertimbangkan Manfaat-manfaatnya

      5. (a) Hanya dengan cara bagaimana hikmat dapat diperoleh? (b) Apa yang mendorong seorang bekas pecandu obat bius mengubah haluan hidupnya yang tidak bijaksana?

      5 Mari kita membahas beberapa dari manfaat-manfaat yang kita peroleh jika kita ”takut akan [Yehuwa]”. Misalnya, hal itu dapat membuat kita memperoleh hikmat yang benar. Manusia telah mencoba banyak cara, mereka mengerahkan segala macam usaha, untuk mendapatkan hikmat sedemikian, tetapi gagal karena mereka mengabaikan suatu prinsip dasar, ”Permulaan hikmat adalah takut akan [Yehuwa].” (Mazmur 111:10; Amsal 9:10) Pertimbangkan bagaimana perasaan takut sedemikian telah membantu seorang bekas pecandu obat bius untuk bertindak bijaksana. Ia menjelaskan, ”Seraya saya memperoleh pengetahuan tentang Allah, saya juga memperkembangkan perasaan takut menyakiti atau membuat Ia tidak senang. Saya tahu Ia sedang mengamat-amati, dan saya mempunyai keinginan yang besar untuk diperkenan dalam pandanganNya. Hal itu menggerakkan saya untuk melenyapkan obat-obat bius yang saya miliki dengan membuangnya ke dalam toilet [kamar kecil].” Pria ini telah mengatasi kebiasaan buruknya, membaktikan kehidupannya kepada Yehuwa, dan sekarang menjadi rohaniwan di Johannesburg, Afrika Selatan.

      6. Bagaimana ”takut akan [Yehuwa]” akan melindungi kita terhadap hal-hal yang buruk, dan hal itu membimbing kita kepada apa?

      6 Apakah saudara ingin menghindari apa yang jahat? ”Takut akan [Yehuwa] ialah membenci kejahatan.” (Amsal 8:13) Ya, perasaan takut yang benar ini dapat menghindarkan saudara dari banyak kebiasaan buruk yang Allah kutuk, seperti misalnya merokok, menyalahgunakan obat-obat bius, pemabukan, dan imoralitas seks. Selain menyenangkan Yehuwa, saudara melindungi diri sendiri terhadap hal-hal mengerikan yang terjadi atas orang-orang, termasuk penyakit-penyakit menakutkan yang mereka timbulkan atas diri sendiri akibat perbuatan mereka. (Roma 1:26, 27; 12:1, 2; 1 Korintus 6:9, 10; 1 Tesalonika 4:3-8) Takut akan Allah tidak hanya akan membantu saudara waspada terhadap apa yang jahat dan keji tetapi akan membimbing saudara kepada apa yang murni dan sehat, karena kita diberitahu bahwa ”takut akan [Yehuwa] itu suci”.—Mazmur 19:10.

      7, 8. (a) Bagaimana seorang gadis muda mengalami bahwa ”takut akan [Yehuwa]” menuntun kepada kebahagiaan? (b) Sebutkan manfaat-manfaat lebih lanjut yang diperoleh mereka yang takut akan Yehuwa.

      7 Kebahagiaan adalah suatu cita-cita lain yang dicari oleh kebanyakan orang. Bagaimana saudara dapat memperolehnya? Firman Allah mengatakan, ”Berbahagialah orang yang takut akan [Yehuwa].” (Mazmur 112:1; 128:1) Pengalaman seorang gadis remaja membuktikan hal ini. Ia terlibat dalam segala macam perbuatan seks gelap, dan juga spiritisme dan pencurian. Kemudian ia mulai belajar Alkitab dan menyadari perlunya untuk mendengarkan dan takut kepada Yehuwa. Ia mengatakan, ”Mengenal Yehuwa adalah perkara terbaik yang terjadi atas diri saya. Yehuwa begitu banyak membantu saya dalam menemukan kebenaran dan kebahagiaan. Saya merasa saya berhutang begitu banyak kepadaNya karena Ia membuka mata saya dan memberi saya kesempatan untuk benar-benar berpikir dan menemukan Dia. Saya sekarang ingin membantu orang-orang lain menemukan kebahagiaan ini.”

      8 Yehuwa juga berjanji bahwa Ia akan memberi upah kepada ’mereka yang takut akan namaNya’. (Wahyu 11:18) Selanjutnya, ”takut akan [Yehuwa] mendatangkan hidup, maka orang bermalam dengan puas, tanpa ditimpa malapetaka”. (Amsal 19:23) Sungguh, ”takut akan [Yehuwa]” itulah yang akan memberikan kepada kita segala sesuatu yang kita butuhkan. Jika dihubungkan dengan kerendahan hati, hasilnya ialah ”kekayaan, kehormatan dan kehidupan”.—Amsal 22:4; 10:27.

      9. Mengapa ”takut akan [Yehuwa]” menuntun kepada satu-satunya haluan dalam kehidupan yang memperlihatkan hikmat? (Ayub 28:28; Mikha 6:9)

      9 Tidakkah hal ini memberi kita anjuran yang kuat untuk takut kepada Allah yang benar? Sesungguhnya, ”takut akan [Yehuwa]” paling menarik. Hal itu membimbing kepada segala perkara yang akan memberi kita kepuasan sejati—suatu pengalaman yang langka dewasa ini. Betapa menganjurkan kata-kata yang terilham ini, ”Walaupun orang yang berdosa dan yang berbuat jahat seratus kali hidup lama, namun aku tahu, bahwa orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadiratNya. Tetapi orang yang fasik tidak akan beroleh kebahagiaan dan seperti bayang-bayang ia tidak akan panjang umur, karena ia tidak takut terhadap hadirat Allah”! (Pengkhotbah 8:12, 13) Orang manakah yang tidak ingin segala sesuatu berakhir dengan ”kebahagiaan” baginya? Pengalaman yang bahagia ini hanya akan dinikmati oleh mereka yang takut akan Allah.—Mazmur 145:19.

      10. Beberapa alasan penting apa yang seharusnya menggerakkan kita untuk takut akan Allah?

      10 Tidakkah hal ini seharusnya membuat kita bertekad untuk sangat menghormati Bapa surgawi kita Yehuwa, ya, merasa takut kepadaNya? Sesungguhnya, kita hendaknya mempunyai perasaan takut yang sehat untuk membuat Dia tidak senang. Kita sangat menghargai semua kasih kebaikan dan kemurahan yang Ia perlihatkan kepada kita. Segala sesuatu yang kita miliki berasal daripadaNya. (Wahyu 4:11) Selain itu, Ia adalah Hakim Tertinggi, Yang Mahakuasa, yang mempunyai kekuasaan untuk membinasakan mereka yang tidak taat kepadaNya. ”Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar,” anjuran rasul Paulus.—Filipi 2:12; Hosea 3:5; Lukas 12:4, 5.

      11. (a) Sikap apa hendaknya dihindari oleh orang-orang Kristen pada hari-hari terakhir ini? (b) Semangat apa hendaknya diperkembangkan?

      11 Di sini tidak diperlihatkan bahwa kita dapat memperoleh keselamatan dengan mempunyai sikap lesu, berbuat sesedikit mungkin dan berharap bahwa bagaimanapun juga segala sesuatu akan berakhir dengan baik. Ini bukan sikap yang harus diperlihatkan oleh orang-orang Kristen yang pada hari-hari terakhir ini berusaha keras untuk memelihara hubungan yang baik dengan Pribadi yang dapat melihat langsung ke dalam hati mereka dan yang mengetahui pikiran dan maksud yang ada dalam batin mereka. (Yeremia 17:10) Hanya mereka yang mengakui Yehuwa dengan benar akan diakui oleh Dia. Ia mengatakan, ”Kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firmanKu.”—Yesaya 66:2.

      Kita Harus Belajar Takut kepada Yehuwa

      12. (a) Dalam hal apa saja bangsa Israel diperkenan di atas bangsa-bangsa lain? (b) Apa yang Yehuwa harapkan sebagai balasan?

      12 Memikirkan cara Yehuwa berurusan dengan Israel dapat lebih menanamkan dalam pikiran kita perlunya untuk takut kepadaNya. Tidak ada bangsa lain manapun yang mengalami pemeliharaan dan perhatian sedemikian dari Penguasa alam semesta. (Ulangan 4:7, 8, 32-36; 1 Samuel 12:24) Dengan mata mereka sendiri orang-orang Israel melihat apa yang Yehuwa lakukan terhadap orang-orang Mesir yang, karena tidak takut kepadaNya, memperbudak dan menindas umatNya. Apa yang Ia harapkan sebagai balasan? ”[Suruhlah, BIS] seluruh bangsa itu berkumpul, laki-laki, perempuan dan anak-anak [kecil, NW], dan orang asing yang diam di dalam tempatmu, supaya mereka mendengarnya dan belajar takut akan [Yehuwa], Allahmu, dan mereka melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat ini, dan supaya anak-anak mereka, yang tidak mengetahuinya, dapat mendengarnya dan belajar takut akan [Yehuwa], Allahmu, – selama kamu hidup di tanah, ke mana kamu pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya.”—Ulangan 31:12, 13; 14:23.

      13. Apa yang hendaknya menjadi perhatian utama para orangtua sehubungan dengan anak-anak mereka?

      13 Seperti orang-orang Israel, hamba-hamba Allah di jaman modern harus ”belajar takut akan [Yehuwa]”. Betapa besar tanggung jawab yang ditaruh atas kita semua—terutama para orangtua! Orangtua, tanyalah pada diri sendiri: ’Bagaimana saya dapat membantu anak-anak saya untuk memperoleh hati yang takut akan Yehuwa?’ Pada suatu saat apabila mereka sudah dewasa dan meninggalkan rumah, apa yang memberikan perlindungan yang paling baik bagi anak-anak saudara, secara rohani, mental, atau materi, kalau bukan itu? Yehuwa sendiri menekankan pentingnya hal ini ketika Ia menghimbau, ”Kiranya hati mereka selalu begitu, yakni takut akan Daku dan berpegang pada segala perintahKu, supaya baik keadaan mereka dan anak-anak mereka untuk selama-lamanya!”—Ulangan 5:29; 4:10.

      14. Sebutkan satu faktor yang hendaknya diingat oleh orangtua dalam melatih anak-anak mereka agar takut akan Yehuwa, dan jelaskan bagaimana hendaknya ini diterapkan.

      14 Setiap orang Kristen yang telah membesarkan keluarga pasti akan setuju bahwa ini bukan tugas yang mudah. Tetapi Firman Allah yang membawa beberapa faktor penting kepada perhatian para orangtua. Salah satu ialah untuk mulai pada waktu anak-anak masih kecil. Seberapa kecil? Pada waktu orang-orang Israel berhimpun untuk menerima pengajaran dari Yehuwa, ”anak-anak kecil” (NW) juga ikut hadir. (Ulangan 29:10-13; 31:12, 13) Jelas, wanita-wanita Israel datang bersama bayi-bayi mereka pada kesempatan sedemikian, karena semua dituntut untuk hadir. Sejak ”dari kecil” anak-anak laki-laki dan perempuan mereka akan belajar perlunya untuk diam dan mendengarkan pada pertemuan-pertemuan sedemikian. (2 Timotius 3:15) Jadi bawa sertalah ”anak-anak kecil” saudara ke perhimpunan-perhimpunan. Juga, ikut sertakan mereka dalam dinas pengabaran segera setelah mereka dapat ambil bagian. Ada banyak anak yang telah belajar mempersembahkan majalah atau risalat bahkan sebelum mereka mulai sekolah. Mulailah sejak dini dalam mengajar ”anak-anak kecil” saudara, untuk ”takut akan [Yehuwa]” dalam hal-hal kecil.

      15. Apa faktor kedua, dan bagaimana para orang-tua dapat melaksanakan itu?

      15 Suatu faktor lain ialah berlaku konsisten. Ini dapat dilakukan jika kita selalu berpaut kepada Firman Allah dalam latihan, disiplin, dan pengajaran yang kita berikan kepada anak-anak kita. Bahkan sehubungan dengan waktu santai atau rekreasi, hendaklah konsisten dalam membiarkan prinsip-prinsip Alkitab menentukan apa yang diperbolehkan pada kesempatan-kesempatan demikian. (Efesus 6:4) Ini menuntut usaha, seperti ditunjukkan dengan begitu jelas oleh Firman Allah ketika dikatakan, ”Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ulangan 6:4-9; 4:9; 11:18-21) Berlaku konsisten selama bertahun-tahun merupakan bantuan yang amat besar bagi anak-anak saudara untuk memperkembangkan hati yang takut akan Yehuwa.

      16. (a) Apa faktor ketiga, dan mengapa itu begitu penting? (b) Pertanyaan-pertanyaan apa dapat diajukan para orangtua kepada diri sendiri?

      16 Para orangtua harus juga berusaha keras untuk menanamkan dalam pikiran dan hati anak-anak bahwa mereka sendiri sebagai orang-tua, ”takut akan [Yehuwa]”. (Mazmur 22:24) Salah satu cara bagaimana mereka dapat melakukan ini ialah dengan menerapkan nasihat teokratis pada waktu melatih dan mendisiplin anak-anak mereka. Inilah faktor ketiga yang harus dipertimbangkan. Tanyalah pada diri sendiri: ’Apakah saya dengan tetap tentu mengadakan pelajaran Alkitab dengan anak-anak saya? Apakah saya memanfaatkan sepenuhnya untuk anak-anak kecil saya alat-alat bantuan seperti Buku Cerita Alkitab dan Mendengar Kepada Guru Yang Agung?’ ’Seraya mereka tumbuh dewasa, apakah saya menggunakan buku Your Youth—Getting the Best out of It dan artikel-artikel ”Kaum Remaja Bertanya” dalam Sedarlah!?’ ’Apakah saya mengatur rekreasi dan hiburan yang sehat yang tidak memberikan pengaruh merusak kepada anak-anak saya?’ ’Apakah saya menerima apa yang dikatakan oleh organisasi Yehuwa tentang pendidikan tinggi?’ ’Apakah saya mengajar anak-anak saya sesuai dengan itu?’ ’Apakah cita-cita yang saya tetapkan bagi anak-anak saya adalah apa yang akan membantu mereka untuk mempunyai ”takut yang saleh”?’—Ibrani 5:7, NW.

      17. Siapa mendapat manfaat jika anak-anak belajar takut akan Yehuwa? Lukiskan.

      17 Manfaat dan sukacita tidak hanya akan dihasilkan bagi anak-anak saudara tetapi juga bagi saudara sendiri karena telah melakukan sedapat mungkin untuk mengajar mereka dalam ”takut akan [Yehuwa]”. Sebagai contoh, seorang Saksi yang pada malam hari merasa, seperti ia katakan, ”menderita luka-luka perang”, menganggap segala sesuatu benar-benar ada gunanya ketika ia mendengar anak perempuannya berumur tujuh tahun berdoa kepada Yehuwa. Air matanya berlinang dan tenggorokannya seakan-akan tersumbat ketika ia mendengar doa anak perempuannya, ”Yehuwa yang pengasih, terima kasih untuk semua hal baik yang telah Kaulakukan untuk saya hari ini. Dan terima kasih untuk makanan saya. Yehuwa, bantulah semua saudara di penjara dan kamp-kamp konsentrasi untuk mendapatkan makanan, dan semua saudara-saudari yang kurus di negeri-negeri lain. Bantu mereka juga untuk mendapatkan cukup makanan, Yehuwa. Dan mereka yang sakit, bantulah mereka agar sembuh supaya mereka dapat pergi ke perhimpunan. Mohon kiranya malaikat-malaikat menjaga saya pada waktu saya tidur pada malam hari, Yehuwa, dan ibu dan ayah saya, dan kakak saya, dan nenek dan kakek saya, dan semua saudara-saudari dalam kebenaran. Melalui PutraMu Yesus, Amin.”

      18. Bagaimana kita mempengaruhi satu sama lain dalam hal takut akan Yehuwa?

      18 Dalam soal takut akan Yehuwa ini kita harus ingat bahwa kita saling mempengaruhi satu sama lain melalui contoh yang kita berikan. Orangtua mempengaruhi anak-anak mereka. Para penatua dan pelayan sidang mempengaruhi sidang mereka. Para pengawas keliling mempengaruhi mereka yang dilayani. Jelas, inilah sebabnya raja-raja di Israel diperintahkan untuk membaca Hukum Allah seumur hidup mereka agar mereka ”belajar takut akan [Yehuwa]”. (Ulangan 17:18-20) Contoh yang akan diberikan oleh sang raja dalam hal takut akan Yehuwa dapat mempengaruhi seluruh bangsa.

      19. Apa yang dibuktikan oleh sejarah berkenaan orang-orang Israel?

      19 Sejarah membuktikan kenyataan bahwa Israel, sebagai bangsa, kehilangan perasaan takut mereka kepada Yehuwa. Mereka pikir bahwa mempunyai bait di Yerusalem, merupakan perlindungan bagi mereka, seperti semacam jimat pembawa keberuntungan, tidak soal apakah mereka mentaati hukum-hukumNya atau tidak. (Yeremia 7:1-4; Mikha 3:11, 12) Namun mereka salah. Yerusalem dan baitnya dibinasakan. Belakangan, ketika mereka dipulihkan sebagai bangsa, mereka sekali lagi tidak memperlihatkan perasaan takut yang benar kepada Yehuwa. (Maleakhi 1:6) Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari pengalaman ini, yang akan dibahas dalam artikel berikut.

      20. Bagaimana kita dapat meringkaskan mengapa kita harus takut kepada Yehuwa?

      20 Maka ingat bahwa takut akan Yehuwa tidak melemahkan kasih kita kepadaNya; sebaliknya, ini menguatkan dan meneguhkan hal itu. Ketaatan kepada semua perintahNya akan membuktikan bukan hanya bahwa kita takut kepada Yehuwa tetapi bahwa kita mengasihi Dia. Kedua-duanya penting. Mustahil untuk melakukan yang satu tanpa juga melakukan yang lain. Betapa penting bagi para orangtua untuk menanamkan takut yang saleh kepada Yehuwa dan kasih untukNya dalam diri anak-anak mereka! Dan betapa besar sukacita yang dihasilkan oleh ini bagi tua maupun muda! Maka, semoga kita mempunyai perasaan yang sama seperti pemazmur ketika ia mengatakan, ”Bulatkanlah hatiku untuk takut akan namaMu.”—Mazmur 86:11.

  • Peliharalah Perasaan Takut Saudara akan Yehuwa
    Menara Pengawal—1987 (Seri 43) | Menara Pengawal—1987 (Seri 43)
    • Peliharalah Perasaan Takut Saudara akan Yehuwa

      ”Aku ini Raja yang besar, firman [Yehuwa] semesta alam, dan namaKu ditakuti di antara bangsa-bangsa.”—MALEAKHI 1:14.

      1, 2. (a) Berita yang penuh kuasa apa terdapat dalam buku Maleakhi? (b) Pelajaran apakah yang terdapat dalam kata-kata pembukaan dari berita Yehuwa?

      ”UCAPAN ilahi. Firman [Yehuwa] kepada Israel dengan perantaraan Maleakhi.” (Maleakhi 1:1) Pernyataan yang singkat dan menggugah ini mengawali buku Maleakhi dalam Alkitab. Dalam Alkitab, ucapan ilahi biasanya merupakan kecaman keras terhadap kejahatan. Ini memang benar berkenaan buku Maleakhi yang berisi berita yang langsung dan tegas untuk bangsa Israel. Pembahasan mengenai ini akan menonjolkan perlunya memelihara perasaan takut kita akan Yehuwa dan kasih untuk Dia.

      2 Kedua ayat pertama dari buku ini merupakan suatu pelajaran dalam memberikan nasihat. Yehuwa meyakinkan pendengarNya tentang keinginanNya untuk membantu mereka, ”’Aku mengasihi kamu,’ firman [Yehuwa].” Benar-benar kata pengantar yang menentramkan dan menghangatkan hati bagi mereka yang berhati jujur di kalangan orang-orang Israel yang jahat. Berita itu dilanjutkan, ”Tetapi kamu berkata: ’Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?’ ’Bukankah Esau itu kakak Yakub?’ demikianlah firman [Yehuwa]. ’Namun Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau. Sebab itu Aku membuat pegunungannya menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya Kujadikan padang gurun.’”—Maleakhi 1:2, 3.

      3. Apa alasan dari perasaan Yehuwa terhadap Yakub dan Esau?

      3 Mengapa Yehuwa mengasihi Yakub dan belakangan, keturunan Yakub, orang-orang Israel? Karena Yakub takut akan Allah dan ia menghormati orangtuanya yang takut akan Allah. Esau, sebaliknya, adalah seorang yang mementingkan diri, tidak takut akan Allah. Juga ia kurang menghormati orangtuanya, yang mempunyai hak yang wajar yang diberikan Allah untuk mengharapkan kepatuhannya. Maka sepatutnya Yehuwa mengasihi Yakub tetapi membenci Esau. Ini suatu peringatan bagi kita. Kita harus menjaga agar kita sekali-kali tidak kehilangan perasaan takut akan Allah dan menjadi seorang yang materialistis seperti Esau, yang hanya berusaha memuaskan keinginan tubuhnya.—Kejadian 26:34, 35; 27:41; Ibrani 12:16.

      4, 5. (a) Apa pengaruh dari haluan kehidupan Yakub dan Esau atas keturunan mereka? (b) Bagaimana hal ini seharusnya mempengaruhi orang-orang Israel?

      4 Jika haluan Yakub ternyata menjadi suatu berkat bagi keturunannya, orang-orang Israel, maka haluan Esau ternyata justru menghasilkan kebalikannya bagi keturunannya, orang-orang Edom. Orang-orang Edom tidak menikmati berkat Yehuwa. Sebaliknya, melalui perlawanan mereka yang keji terhadap umat perjanjianNya, mereka membangkitkan kebencian Yehuwa. Mereka dikalahkan oleh bala tentara Nebukadnezar dan belakangan oleh orang-orang Arab. Akhirnya, seperti dinubuatkan oleh Yehuwa, orang-orang Edom lenyap sebagai bangsa.—Obaja 18.

      5 Penghukuman Allah atas Edom dimulai sebelum jaman Maleakhi. Bagaimana seharusnya ini mempengaruhi orang-orang Israel? Yehuwa memberitahu mereka, ”Matamu akan melihat dan kamu sendiri akan berkata: ’[Yehuwa] maha besar sampai di luar daerah Israel.”’ (Maleakhi 1:5) Terus selama berabad-abad, Israel telah melihat dengan ’mata sendiri’ kasih Yehuwa kepada mereka sebagai bangsa.

      Perbuatan Kita Akan Menunjukkan Apakah Kita Takut akan Allah

      6. Tuduhan apakah yang Yehuwa lancarkan terhadap orang-orang Israel?

      6 Ucapan ilahi itu selanjutnya berbunyi, ”Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepadaKu itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepadaKu itu? firman [Yehuwa] semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina namaKu.” (Maleakhi 1:6; Keluaran 4:22, 23; Ulangan 32:6) Yehuwa telah mengoreksi orang-orang Israel, menyediakan kebutuhan mereka, dan melindungi mereka, seperti seorang ayah terhadap putranya. Apa yang sepatutnya Ia harapkan sebagai balasan? Dihormati dan ditakuti. Bangsa itu, termasuk imam-imamnya, tidak melakukan hal ini melainkan, sebaliknya, tidak memperlihatkan respek terhadap nama Yehuwa, dan menghinanya. Mereka menjadi ”anak-anak yang murtad”.—Yeremia 3:14, 22; Ulangan 32:18-20; Yesaya 1:2, 3.

      7. Bagaimana perasaan orang Israel terhadap tuduhan ini, dan apa jawaban Yehuwa kepada mereka?

      7 Orang-orang Israel bertanya, ”Dalam hal yang mana kami menghinakan namamu?” Yehuwa dengan tegas menjawab, ”Bahwa kamu membawa di atas mezbahku akan roti yang haram; jikalau kamu bertanya: Dengan apa kami mengaibkan Dikau? Dengan ini, bahwa katamu: Meja [Yehuwa] itu suatu kecelaan adanya [”boleh dihinakan”, TB]. Karena apabila kamu membawa barang sesuatu yang buta akan persembahan, tiada ia itu jahat kepadamu, dan jikalau kamu membawa akan barang yang timpang atau sakit, tiada ia itu jahat kepadamu! Jikalau kiranya kamu menyampaikan barang itu kepada penghulumu, masakan ia berkenan akan kamu, masakan ia ridlakan mukamu! demikianlah firman [Yehuwa] serwa sekalian alam.”—Maleakhi 1:6-8, Klinkert.

      8. Apa yang ditunjukkan oleh orang-orang Israel melalui tindakan mereka?

      8 Kita dapat membayangkan seorang Israel yang memeriksa kawanan dombanya dan dengan licik memilih seekor domba yang buta atau timpang untuk dipersembahkan kepada Yehuwa. Dengan cara demikian ia dapat pura-pura mempersembahkan korban namun secara mementingkan diri mempertahankan hewan-hewan yang terbaik dari kawanan itu untuk dirinya sendiri. Ia tidak akan berani untuk melakukan hal tersebut terhadap penghulunya! Namun orang-orang Israel melakukan itu terhadap Yehuwa—seolah-olah Ia tidak dapat melihat akal licik dan tipu daya mereka. Dengan sepatutnya Yehuwa bertanya kepada mereka, ”Di manakah takut yang kepadaKu itu?” Dalam perkataan, mereka mungkin mengaku takut akan Yehuwa, tetapi perbuatan mereka jelas menunjukkan yang sebaliknya.—Ulangan 15:21.

      9. Bagaimana reaksi imam-imam terhadap apa yang dilakukan umat itu?

      9 Bagaimana reaksi imam-imam terhadap korban-korban yang tercela ini? Mereka mengatakan, ”Tiada ia itu jahat.” Mereka membenarkan haluan yang jahat dari orang-orang Israel. Jadi meskipun para tawanan yang kembali dari Babel membuat suatu awal yang bergairah dalam memulihkan ibadat sejati, belakangan mereka menjadi lalai, angkuh, dan merasa diri benar. Mereka kehilangan perasaan takut akan Yehuwa. Jadi, dinas mereka di bait menjadi cemoohan, dan mereka merayakan hari-hari raya secara formal saja.—Maleakhi 2:1-3; 3:8-10.

      10. (a) Korban apakah yang Yehuwa kehendaki dewasa ini? (b) Hanya dengan cara bagaimana korban kita akan diperkenan oleh Yehuwa?

      10 Ada yang mungkin membantah: ’Ini tidak berlaku bagi kita; kita tidak lagi mempersembahkan korban-korban binatang.’ Tetapi kita harus mempersembahkan jenis korban lain. Perhatikan permohonan Paulus yang mendesak, ”Saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati [”dinas sucimu”, NW].” (Roma 12:1) Korban yang Yehuwa kehendaki dewasa ini adalah saudara! Artinya tenaga, milik, dan kesanggupan saudara. Korban kita akan mendapat perkenanNya hanya jika yang kita berikan adalah milik kita yang terbaik. Mempersembahkan sisa-sisa kepada Yehuwa, seperti korban yang timpang, sakit, pasti mempengaruhi hubungan kita dengan Dia.

      11. Pemeriksaan yang teliti apa hendaknya dibuat oleh tiap hamba Yehuwa yang berbakti?

      11 Meskipun dalam prakteknya ada yang mungkin mengatakan, ”Tiada ia itu jahat”, kita tahu bagaimana perasaan Yehuwa terhadap itu. Maka, marilah kita dengan hati-hati memeriksa ”persembahan” berupa ’dinas suci’ yang kita berikan, yang termasuk bagian kita dalam pengabaran, pelajaran pribadi, doa, dan menghadiri perhimpunan-perhimpunan. Apakah saudara merasa puas bahwa saudara telah mempersembahkan milik saudara yang terbaik kepada Yehuwa, atau apakah hanya sisa-sisanya saja? Ada bahaya untuk begitu tenggelam dalam hiburan atau rekreasi pada akhir pekan sehingga kita tidak mempunyai waktu atau tenaga untuk memberitakan kabar baik Kerajaan dan menghadiri perhimpunan-perhimpunan. Seluruh jalan hidup kita, kehidupan kita sehari-hari, termasuk sikap dan motif, hendaknya dikaitkan dengan persembahan yang kita berikan kepada Yehuwa. Semoga itu selalu yang paling baik!

      Mengenali Orang-Orang yang Benar-Benar Takut akan Allah

      12. Nasihat apakah yang sekarang diberikan?

      12 ”Maka sekarang,” bunyi nubuat itu, ”cobalah melunakkan hati Allah, supaya Ia mengasihani kita!” (Maleakhi 1:9) Yehuwa mendesak orang-orang Israel untuk melakukan yang benar, dengan memperlihatkan takut yang benar akan Allah, dan mempersembahkan kepadaNya apa yang layak Ia terima. Kita harus melakukan hal yang sama dewasa ini. Hanya dengan hidup selaras dengan tuntutan Yehuwa kita dapat memperoleh dan memelihara perkenanNya.

      13. (a) Tanpa takut akan Allah, ke dalam jerat apa kita dapat jatuh? (b) Bagaimana ketamakan mempengaruhi imam-imam Israel?

      13 Tanpa takut yang benar akan Allah, dinas kita kepadaNya mungkin hanya akan dilakukan secara formal dan untuk keuntungan yang mementingkan diri. Perhatikan bagaimana Yehuwa menanyai imam-imam Israel mengenai dinas mereka di bait: ”’Siapakah juga di antara kamu yang mau menutup pintu? Dan kamu tidak mau menyalakan api di mezbahKu—dengan cuma-cuma. Aku tidak suka kepada kamu,’ firman [Yehuwa] semesta alam, ’dan Aku tidak berkenan menerima persembahan dari tanganmu.’” (Maleakhi 1:10, NW) Ya, memang, imam-imam ada di sana dan melaksanakan tugas-tugas di bait, menutup pintu-pintu kemah suci, menyalakan api di mezbah. Tetapi mereka tidak melakukan ini dengan cuma-cuma. Mereka mengharapkan hadiah dan suap dari orang-orang Israel yang datang untuk mempersembahkan korban di bait. Yehuwa tidak senang pada waktu itu, dan Ia tidak senang sekarang, kepada dinas yang dilakukan hanya untuk mendapatkan keuntungan yang mementingkan diri. Hal itu memuakkan bagiNya.

      14. Mengapa kita selalu harus waspada terhadap ketamakan?

      14 Perlunya waspada terhadap sifat mementingkan diri dan ketamakan tidak berkurang pada jaman kita. Berulang kali Alkitab memperingatkan kita terhadap ketamakan, dengan menyatakan bahwa orang-orang yang tamak tidak diperkenan oleh Yehuwa. (1 Korintus 6:10; Efesus 5:5) Dalam memenuhi pelayanan kita, semoga kasih dan perasaan takut kita akan Yehuwa membuat kita tidak melaksanakannya demi keuntungan yang mementingkan diri. Kita hendaknya segera membuang sampai ke dasarnya kecenderungan seperti itu yang mungkin timbul di hati kita. Para penatua dan pelayan sidang khususnya diperingatkan untuk tidak ”mencari laba yang keji”. (Titus 1:7, Bode; 1 Timotius 3:8; 1 Petrus 5:2) Ada yang mungkin sengaja memupuk hubungan hanya dengan saudara-saudara yang dapat membantu mereka secara materi, sehingga menimbulkan sikap pilih kasih dan keengganan untuk menasihati orang-orang sedemikian. Kita sekali-kali tidak ingin menjadi seperti imam-imam yang tamak dari Israel yang mengharapkan hadiah dan suap dari sesama orang Israel.

      15. (a) Bagaimana Maleakhi menunjukkan bahwa akan ada orang-orang yang takut akan Yehuwa di semua bagian dari bumi? (b) Ayat-ayat lain mana mendukung hal ini?

      15 Dewasa ini, jika Yehuwa mengajukan pertanyaan, ”Di manakah takut yang kepadaKu itu?” Adakah umat yang dapat menjawab, ’Inilah kami, orang-orang yang takut kepadaMu’? Ya, tentu! Siapa? Saksi-saksi yang setia dari Yehuwa, yang terdapat di semua bagian dari bumi. Kelompok internasional ini dan pekerjaan yang akan mereka lakukan dinubuatkan di Maleakhi 1:11, ”Sebab dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari namaKu besar di antara bangsa-bangsa, dan . . . dipersembahkan korban bagi namaKu dan juga korban sajian yang tahir; sebab namaKu besar di antara bangsa-bangsa, firman [Yehuwa] semesta alam.”—Lihat juga Mazmur 67:8; Yesaya 33:5, 6; 41:5; 59:19; Yeremia 32:39, 40.

      16. Dari matahari terbit sampai matahari terbenam bisa mempunyai arti-arti yang berbeda apa, dan bagaimana ini digenapi?

      16 Betapa tepat Maleakhi di sini memberitahu tentang pekerjaan besar yang sedang dilakukan pada jaman kita dalam memberitakan kabar baik di seluruh bumi. (Matius 24:14; Wahyu 14:6, 7) Dari matahari terbit sampai matahari terbenam, dalam pengertian geografis berarti dari timur sampai barat. Ke manapun kita melayangkan pandangan di dunia dewasa ini, kita mendapati orang-orang yang takut akan Yehuwa melakukan kehendakNya. Dari matahari terbit sampai matahari terbenam juga berarti sepanjang hari. Ya puji-pujian terus diberikan oleh hamba-hamba yang takut akan Allah. Seperti Yehuwa janjikan, namaNya sedang diberitakan di seluruh bumi oleh mereka yang benar-benar takut kepadaNya.—Keluaran 9:16; 1 Tawarikh 16:23, 24; Mazmur 113:3.

      Memelihara Takut yang Benar akan Allah

      17. Apa yang mungkin menjadi akibat dari kehilangan respek untuk Yehuwa dan perasaan takut kepadaNya?

      17 Bagi mereka yang tidak menghormati dan takut akan Yehuwa, ibadat dan dinas menjadi beban. Yehuwa mengatakan kepada orang-orang Israel, ”Tetapi kamu ini menajiskan [Aku, NW], karena kamu menyangka: ’Meja [Yehuwa] memang cemar dan makanan yang ada di situ boleh dihinakan!’ Kamu berkata: ’Lihat, alangkah susah payahnya!’” (Maleakhi 1:12, 13) Hal yang sama dapat terjadi pada jaman modern. Bagi mereka yang kehilangan perasaan takut akan Yehuwa, perhimpunan-perhimpunan, dinas pengabaran, dan kegiatan Kristen lain dapat menjadi beban.

      18. Dari waktu ke waktu, apa yang terjadi atas beberapa dari hamba-hamba Allah pada jaman modern?

      18 Perhatikan bagaimana orang-orang sedemikian dilukiskan dalam The Watchtower tanggal 1 Januari 1937, ”Bagi mereka yang tidak setia hak istimewa untuk melayani dengan membawa buah-buah kerajaan kepada orang-orang lain, seperti telah diperintahkan oleh Tuhan, telah menjadi suatu upacara dan formalitas yang membosankan saja, yang tidak memberi mereka kesempatan untuk bersinar di mata manusia. Membawa berita Kerajaan dari rumah ke rumah dalam bentuk cetakan, dan menawarkan ini kepada orang-orang, terlalu bersifat merendahkan bagi orang-orang yang menganggap diri penting. Mereka tidak mendapatkan sukacita daripadanya . . . Karena itu mereka mengatakan, dan terus mengatakan, ’Membawa buku-buku ke mana-mana hanyalah suatu usaha menjual buku. Betapa melelahkan tugas itu!’” Bahkan sekarang ada orang-orang yang dari waktu ke waktu, merasa bahwa dinas pengabaran itu sulit dan menghadiri perhimpunan-perhimpunan membosankan. Inilah yang dapat terjadi bila kita kehilangan perasaan takut akan Yehuwa dan dengan itu pula, kasih kita untukNya.

      19. Bagaimana kita dapat terus memperlihatkan penghargaan kita atas persediaan Yehuwa?

      19 Memelihara perasaan takut kepada Yehuwa akan membuat kita tetap rendah hati di hadapanNya dan selalu menghargai segala sesuatu yang Ia lakukan untuk kita. Tidak soal kita berhimpun dalam kelompok kecil di sebuah rumah atau dengan kelompok besar dari puluhan ribu orang di sebuah stadion, kita bersyukur kepada Yehuwa atas hak istimewa dapat bergaul dengan saudara-saudara Kristen kita. Kita akan memperlihatkan rasa syukur kita dengan hadir di sana dan menganjurkan orang-orang yang hadir kepada ’kasih dan pekerjaan baik’ melalui percakapan kita yang membina dan komentar-komentar yang kita berikan selama perhimpunan. (Ibrani 10:24, 25) Jika kita mendapat hak istimewa untuk membawakan bagian-bagian di perhimpunan, kita tidak akan menunda mempersiapkan itu sampai saat terakhir, dengan tergesa-gesa mengumpulkan gagasan-gagasan. Jangan sekali-kali menganggap penugasan sedemikian sebagai sesuatu yang biasa saja. Itu adalah hak istimewa yang suci, dan cara kita menanganinya merupakan petunjuk lain bagaimana kita menghormati dan takut akan Yehuwa.

      20. (a) Apa yang sekali-kali tidak boleh kita lupakan? (b) Kesimpulan apakah yang akhirnya kita dapatkan?

      20 Betapa menyedihkan hasil akhir dari mereka yang kehilangan perasaan takut akan Allah! Mereka kurang menghargai hak istimewa yang tidak layak mereka terima yaitu mempunyai hubungan dengan Penguasa alam semesta. ”Aku ini Raja yang besar, firman [Yehuwa] semesta alam, dan namaKu ditakuti di antara bangsa-bangsa.” (Maleakhi 1:14; Wahyu 15:4) Semoga kita tidak pernah melupakan hal itu. Semoga kita masing-masing menjadi seperti pemazmur yang mengatakan, ”Aku bersekutu dengan semua orang yang takut kepadaMu.” (Mazmur 119:63) Setelah membahas soal ini kita sampai kepada kesimpulan yang sama seperti yang diambil oleh Salomo ketika ia mengatakan, ”Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintahNya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.”—Pengkhotbah 12:13, 14.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan