PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Berupayalah Memahami Perasaan Orang Lain
    Menara Pengawal (Edisi Pelajaran)—2019 | Maret
    • ARTIKEL PELAJARAN 12

      Berupayalah Memahami Perasaan Orang Lain

      ”Kalian semua harus . . . seperasaan.”​—1 PTR. 3:8.

      NYANYIAN 90 Mari Saling Menguatkan

      YANG DIBAHASa

      1. Sesuai dengan 1 Petrus 3:8, mengapa kita senang berada di dekat orang yang peduli pada perasaan dan keadaan kita?

      KITA pasti senang berada di dekat orang-orang yang peduli pada perasaan dan keadaan kita. Mereka berusaha memahami apa yang kita pikirkan dan rasakan. Mereka tahu apa yang kita butuhkan dan siap membantu kita, bahkan sebelum kita memintanya. Kita sangat menghargai orang-orang yang menunjukkan sikap seperasaanb seperti itu terhadap kita.​—Baca 1 Petrus 3:8.

      2. Mengapa menunjukkan sikap seperasaan itu tidak selalu mudah?

      2 Sebagai orang Kristen, kita semua ingin menunjukkan sikap seperasaan. Tapi, itu memang tidak selalu mudah. Mengapa? Ada beberapa alasan. Salah satunya, kita tidak sempurna. (Rm. 3:23) Jadi, kita cenderung memikirkan diri sendiri dan harus berupaya keras untuk memikirkan orang lain. Selain itu, cara kita dibesarkan atau apa yang kita alami di masa lalu mungkin membuat kita sulit menunjukkan sikap seperasaan. Kita juga bisa dipengaruhi oleh sikap orang-orang di sekitar kita. Di hari-hari terakhir ini, banyak orang ”mencintai diri sendiri” dan tidak peduli dengan perasaan orang lain. (2 Tim. 3:1, 2) Bagaimana kita bisa mengatasi kesulitan-kesulitan ini?

      3. (a) Apa yang bisa membantu kita menunjukkan sikap seperasaan dengan lebih baik? (b) Apa yang akan dibahas di artikel ini?

      3 Kita bisa menunjukkan sikap seperasaan dengan lebih baik jika kita meniru Allah Yehuwa dan Putra-Nya, Yesus Kristus. Yehuwa adalah Allah yang sangat pengasih, dan Dia memberikan teladan terbaik dalam menunjukkan sikap seperasaan. (1 Yoh. 4:8) Yesus dengan sempurna meniru sifat Bapaknya. (Yoh. 14:9) Sewaktu hidup sebagai manusia di bumi, Yesus menunjukkan caranya manusia bisa berbelaskasihan. Di artikel ini, kita akan membahas bagaimana Yehuwa dan Yesus memahami perasaan orang lain. Lalu, kita akan membahas bagaimana kita bisa meniru teladan mereka.

      TELADAN YEHUWA DALAM MENUNJUKKAN SIKAP SEPERASAAN

      4. Bagaimana Yesaya 63:7-9 menunjukkan bahwa Yehuwa memedulikan perasaan hamba-hamba-Nya?

      4 Alkitab mengajarkan bahwa Yehuwa memedulikan perasaan hamba-hamba-Nya. Misalnya, mari kita lihat bagaimana perasaan Yehuwa ketika bangsa Israel zaman dulu mengalami banyak penderitaan. Firman Allah mengatakan, ”Saat mereka susah, Dia pun merasa susah.” (Baca Yesaya 63:7-9.) Belakangan, Yehuwa mengatakan bahwa saat umat-Nya diperlakukan dengan buruk, Dia merasa Dialah yang diperlakukan seperti itu. Melalui Nabi Zakharia, Dia berkata kepada umat-Nya, ”Siapa pun yang menyentuh kalian berarti menyentuh biji mata-Ku.” (Za. 2:8) Itu gambaran yang luar biasa untuk menunjukkan bahwa Yehuwa sangat memedulikan umat-Nya!

      Orang Israel meninggalkan Mesir

      Yehuwa berbelaskasihan kepada bangsa Israel sehingga Dia membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir (Lihat paragraf 5)

      5. Berikan contoh yang menunjukkan bahwa Yehuwa membantu hamba-hamba-Nya yang menderita.

      5 Yehuwa tidak sekadar merasa kasihan pada hamba-hamba-Nya yang menderita. Dia juga membantu mereka. Misalnya, saat bangsa Israel menderita karena menjadi budak di Mesir, Yehuwa memahami perasaan mereka dan tergerak untuk membantu mereka. Yehuwa berkata kepada Musa, ”Aku sudah lihat bagaimana umat-Ku ditindas . . . , dan Aku sudah dengar mereka minta tolong . . . Aku tahu betul penderitaan mereka. Aku akan turun untuk menyelamatkan mereka dari orang Mesir.” (Kel. 3:7, 8) Karena Yehuwa merasa kasihan pada umat-Nya, Dia membebaskan mereka dari perbudakan. Bertahun-tahun kemudian, saat bangsa Israel tinggal di Negeri yang Dijanjikan, mereka diserang oleh musuh. Bagaimana perasaan Yehuwa? Dia ”tidak tega mendengar mereka menjerit ketika ditindas dan dianiaya”. Karena memahami perasaan umat-Nya, Yehuwa tergerak untuk membantu mereka lagi. Dia mengangkat para hakim untuk menyelamatkan Israel dari tangan musuh.​—Hak. 2:16, 18.

      6. Berikan contoh yang menunjukkan bahwa Yehuwa memedulikan perasaan umat-Nya, bahkan saat cara berpikir mereka keliru.

      6 Yehuwa memedulikan perasaan umat-Nya, bahkan ketika cara berpikir mereka keliru. Coba pikirkan kisah Yunus. Allah mengutus nabi ini untuk memberitakan penghakiman atas penduduk Niniwe. Saat mereka bertobat, Allah tidak jadi memusnahkan mereka. Tapi, Yunus tidak senang dengan keputusan Allah. Dia ”menjadi sangat marah” karena berita yang dia sampaikan tidak menjadi kenyataan. Tapi, Yehuwa sabar terhadap Yunus dan membantunya meluruskan cara berpikirnya. (Yun. 3:10–4:11) Akhirnya, Yunus memahami apa yang Yehuwa ajarkan kepadanya. Dia bahkan digunakan oleh Yehuwa untuk menulis kisah itu demi manfaat kita.​—Rm. 15:4.c

      7. Cara Yehuwa memperlakukan umat-Nya meyakinkan kita akan hal apa?

      7 Cara Yehuwa memperlakukan umat-Nya meyakinkan kita bahwa Dia memahami perasaan mereka. Dia tahu kepedihan dan penderitaan yang dirasakan setiap orang. Yehuwa ”benar-benar tahu isi hati manusia”. (2 Taw. 6:30) Dia memahami semua pikiran kita, perasaan kita yang terdalam, dan keterbatasan kita. Selain itu, ”Dia tidak akan membiarkan [kita] mendapat godaan yang terlalu berat bagi [kita]”. (1 Kor. 10:13) Janji ini sangat menghibur kita!

      TELADAN YESUS DALAM MENUNJUKKAN SIKAP SEPERASAAN

      8-10. Tiga hal apa yang membuat Yesus memahami perasaan orang lain?

      8 Sewaktu hidup sebagai manusia di bumi, Yesus sangat memahami perasaan orang lain. Paling tidak ada tiga hal yang membuat Yesus seperti itu. Pertama, seperti disebutkan sebelumnya, Yesus punya sifat yang persis seperti Bapaknya. Sama seperti Bapaknya, Yesus mengasihi manusia. Sewaktu membantu Yehuwa membuat berbagai hal, Yesus senang melihat semua hal itu. Tapi dia ”khususnya menyukai manusia”. (Ams. 8:31) Karena mengasihi manusia, Yesus memedulikan perasaan mereka.

      9 Kedua, seperti Yehuwa, Yesus bisa melihat hati. Dia tahu apa yang orang-orang rasakan dan mengapa mereka melakukan sesuatu. (Mat. 9:4; Yoh. 13:10, 11) Jadi ketika Yesus melihat orang-orang merasa sangat sedih, dia memahami perasaan mereka sehingga dia mau membantu mereka.​—Yes. 61:1, 2; Luk. 4:17-21.

      10 Ketiga, Yesus pernah mengalami beberapa kesulitan yang dialami orang-orang. Misalnya, Yesus kelihatannya dibesarkan di keluarga yang miskin. Sewaktu bekerja bersama Yusuf, ayah angkatnya, Yesus belajar untuk melakukan pekerjaan fisik yang berat. (Mat. 13:55; Mrk. 6:3) Tampaknya, Yusuf meninggal tidak lama sebelum Yesus memulai pelayanannya. Jadi, Yesus kemungkinan pernah merasakan dukacita saat orang yang dia sayangi meninggal. Dan, Yesus tahu rasanya punya anggota keluarga yang tidak seiman. (Yoh. 7:5) Karena Yesus kemungkinan mengalami semua itu dan hal-hal lainnya, dia bisa memahami kesulitan yang dihadapi orang-orang dan perasaan mereka.

      Sebelum menyembuhkan seorang pria tuli, Yesus mengajaknya berjalan menjauh dari kerumunan orang

      Karena beriba hati, Yesus menyembuhkan seorang pria yang tuli jauh dari kerumunan orang (Lihat paragraf 11)

      11. Kapan kita khususnya bisa melihat sikap seperasaan Yesus? Jelaskan. (Lihat gambar sampul.)

      11 Kita khususnya bisa melihat sikap seperasaan Yesus sewaktu dia membuat mukjizat. Yesus membuat mukjizat bukan hanya karena dia harus melakukannya. Dia mau membuat mukjizat karena dia ”tergerak oleh rasa kasihan” sewaktu melihat orang-orang yang menderita. (Mat. 20:29-34; Mrk. 1:40-42) Misalnya, bayangkan apa yang Yesus rasakan sehingga dia mau membawa seorang pria tuli menjauh dari kerumunan orang, lalu menyembuhkannya. Bayangkan juga apa yang Yesus rasakan sehingga dia mau membangkitkan putra tunggal seorang janda. (Mrk. 7:32-35; Luk. 7:12-15) Karena Yesus memahami perasaan orang-orang itu, dia mau membantu mereka.

      12. Menurut Yohanes 11:32-35, bagaimana Yesus menunjukkan sikap seperasaan kepada Marta dan Maria?

      12 Yesus juga menunjukkan sikap seperasaan kepada Marta dan Maria. Ketika melihat mereka berkabung karena kematian Lazarus, saudara mereka, ”Yesus meneteskan air mata”. (Baca Yohanes 11:32-35.) Dia menangis bukan hanya karena dia merasa kehilangan sahabatnya itu. Lagi pula, dia sebenarnya tahu bahwa sebentar lagi dia akan membangkitkan Lazarus. Yesus menangis karena dia ikut merasakan kepedihan yang dirasakan sahabat-sahabatnya itu.

      13. Apa saja manfaatnya kalau kita belajar bahwa Yesus memahami perasaan orang lain?

      13 Sewaktu kita belajar bahwa Yesus memahami perasaan orang lain, kita mendapat banyak manfaat. Kita jadi mengasihi Yesus karena tahu bahwa dia memperlakukan orang-orang dengan berbelaskasihan. (1 Ptr. 1:8) Kita dikuatkan karena tahu bahwa dia sekarang memerintah sebagai Raja dari Kerajaan Allah. Sebentar lagi, dia akan melenyapkan semua penderitaan. Karena Yesus pernah hidup di bumi sebagai manusia, dialah pribadi yang paling tepat untuk membebaskan manusia dari kepedihan dan penderitaan akibat kekuasaan Setan. Ya, kita sangat bersyukur karena Raja kita ”mengerti kelemahan kita”.​—Ibr. 2:17, 18; 4:15, 16.

      TIRULAH TELADAN YEHUWA DAN YESUS

      14. Menurut Efesus 5:1, 2, kita tergerak untuk melakukan apa?

      14 Kalau kita memikirkan teladan Yehuwa dan Yesus, kita akan tergerak untuk lebih menunjukkan sikap seperasaan. (Baca Efesus 5:1, 2.) Memang, kita tidak bisa melihat hati seperti mereka. Meski begitu, kita bisa mencoba memahami perasaan dan kebutuhan orang lain. (2 Kor. 11:29) Tidak seperti orang-orang yang egois di dunia ini, kita berupaya memperhatikan ”kepentingan orang lain, bukan kepentingan diri sendiri saja”.​—Flp. 2:4.

      Seorang penatua berbicara dengan seorang anak laki-laki dan ibunya; seorang ayah dan anak perempuannya membantu seorang saudari lansia untuk masuk ke mobil; dua penatua mendengarkan seorang saudari

      (Lihat paragraf 15-19)d

      15. Siapa yang khususnya perlu menunjukkan sikap seperasaan?

      15 Para penatua khususnya perlu menunjukkan sikap seperasaan. Mereka tahu bahwa mereka bertanggung jawab kepada Yehuwa atas cara mereka mengurus domba-domba-Nya. (Ibr. 13:17) Para penatua perlu memahami perasaan saudara-saudari di sidang agar bisa membantu mereka. Bagaimana para penatua bisa menunjukkan sikap seperasaan?

      16. Kalau seorang penatua punya sikap seperasaan, apa yang akan dia lakukan, dan mengapa hal itu penting?

      16 Seorang penatua yang punya sikap seperasaan akan meluangkan waktu untuk saudara-saudarinya. Dia mengajukan pertanyaan kepada mereka dan mendengarkan jawaban mereka dengan sabar dan sungguh-sungguh. Hal ini khususnya penting kalau salah satu dombanya itu mau mencurahkan perasaannya tapi tidak tahu harus berkata apa. (Ams. 20:5) Kalau para penatua mau meluangkan waktu untuk saudara-saudari, mereka semua akan lebih akrab, lebih saling mengasihi, dan lebih percaya kepada satu sama lain.​—Kis. 20:37.

      17. Menurut banyak saudara-saudari, sikap apa yang paling penting untuk dimiliki seorang penatua? Berikan contoh.

      17 Banyak saudara-saudari mengatakan bahwa menurut mereka, sikap seperasaan adalah sikap yang paling penting untuk dimiliki seorang penatua. Mengapa? ”Kita jadi lebih mudah berbicara kepada mereka, karena kita tahu bahwa mereka akan memahami kita,” kata Adelaide. Dia menambahkan, ”Dari reaksi seorang penatua saat kita berbicara dengannya, kita bisa tahu apakah dia berusaha memahami perasaan kita.” Seorang saudara, yang merasa bersyukur atas kepedulian seorang penatua, mengatakan, ”Waktu saya menceritakan keadaan saya, saya melihat matanya berkaca-kaca. Saya tidak akan lupa hal itu.”​—Rm. 12:15.

      18. Bagaimana kita bisa mengembangkan sikap seperasaan?

      18 Tentu saja, bukan hanya para penatua yang perlu menunjukkan sikap seperasaan. Kita semua bisa mengembangkan sikap ini. Bagaimana caranya? Cobalah pahami kesulitan yang dihadapi anggota keluarga dan saudara-saudari kita. Tunjukkan kepedulian kepada para remaja di sidang, juga kepada orang yang sakit, yang lansia, atau yang berduka karena kematian orang yang mereka sayangi. Tanyakan kabar mereka. Dengarkan baik-baik sewaktu mereka mengungkapkan perasaan mereka. Bantu mereka merasa bahwa Saudara benar-benar memahami keadaan mereka. Tawarkan bantuan apa pun yang bisa Saudara berikan. Dengan melakukan semua itu, kita menunjukkan kasih yang tulus kepada satu sama lain.​—1 Yoh. 3:18.

      19. Mengapa kita harus bisa menyesuaikan diri saat berusaha membantu orang lain?

      19 Saat berusaha membantu orang lain, kita harus bisa menyesuaikan diri. Mengapa? Karena reaksi orang sewaktu menghadapi kesulitan itu berbeda-beda. Ada yang mau menceritakannya, dan ada juga yang tidak. Jadi, meski kita ingin membantu, kita tidak boleh mengajukan pertanyaan yang bisa membuat seseorang tidak nyaman. (1 Tes. 4:11) Kadang, meski seseorang mau menceritakan masalahnya, kita mungkin tidak selalu setuju dengan kata-katanya. Tapi, kita perlu ingat bahwa itulah yang mereka rasakan. Kita perlu cepat mendengar dan lambat berbicara.​—Mat. 7:1; Yak. 1:19.

      20. Apa yang akan kita bahas di artikel berikutnya?

      20 Selain menunjukkan sikap seperasaan di sidang, kita juga perlu menunjukkan sikap yang bagus ini dalam pelayanan. Bagaimana kita bisa menunjukkannya sewaktu membantu orang-orang menjadi murid Kristus? Kita akan membahas ini di artikel berikutnya.

      APA JAWABAN SAUDARA?

      • Bagaimana Yehuwa menunjukkan sikap seperasaan?

      • Bagaimana Yesus menunjukkan sikap seperasaan?

      • Bagaimana kita bisa menunjukkan sikap seperasaan?

      NYANYIAN 130 Rela Mengampuni

      a Yehuwa dan Yesus memahami perasaan orang lain. Di artikel ini, kita akan membahas apa yang bisa kita pelajari dari mereka. Kita juga akan membahas mengapa kita perlu menunjukkan sikap seperasaan dan bagaimana kita bisa melakukannya.

      b PENJELASAN: Menunjukkan sikap seperasaan berarti mencoba memahami perasaan orang lain dan berupaya merasakan apa yang dirasakan orang itu.​—Rm. 12:15.

      c Yehuwa juga berbelaskasihan kepada hamba-hamba-Nya yang lain, yang merasa tertekan atau ketakutan. Cobalah renungkan kisah tentang Hana (1 Sam. 1:10-20), Elia (1 Raj. 19:1-18), dan Ebed-melekh (Yer. 38:7-13; 39:15-18).

  • Berupayalah Memahami Perasaan Orang Lain
    Menara Pengawal (Edisi Pelajaran)—2019 | Maret
    • d KETERANGAN GAMBAR: Di perhimpunan, kita punya banyak kesempatan untuk menunjukkan kepedulian kepada saudara-saudari kita. Kita melihat (1) seorang penatua dengan baik hati berbicara kepada seorang penyiar yang masih kecil dan ibunya, (2) seorang ayah dan putrinya membantu seorang saudari lansia untuk masuk ke mobil, dan (3) dua penatua mendengarkan baik-baik saat seorang saudari meminta bantuan mereka.

  • Tunjukkan Sikap Seperasaan dalam Pelayanan
    Menara Pengawal (Edisi Pelajaran)—2019 | Maret
    • ARTIKEL PELAJARAN 13

      Tunjukkan Sikap Seperasaan dalam Pelayanan

      ”Dia tergerak oleh rasa kasihan . . . Maka dia mulai mengajar mereka banyak hal.”​—MRK. 6:34.

      NYANYIAN 70 Cari Yang Mau Dengar

      YANG DIBAHASa

      1. Apa salah satu sifat Yesus yang paling membuat kita tersentuh? Jelaskan.

      YESUS mampu memahami kesulitan yang kita hadapi sebagai manusia yang tidak sempurna. Itu membuat kita sangat tersentuh. Sewaktu berada di bumi, Yesus bisa ’bergembira bersama orang yang bergembira, dan menangis bersama orang yang menangis’. (Rm. 12:15) Misalnya, sewaktu 70 muridnya kembali dengan bersukacita karena pengabaran mereka berhasil, Yesus juga ”merasakan sukacita yang besar”. (Luk. 10:17-21) Sewaktu Yesus melihat orang-orang sangat sedih karena Lazarus meninggal, ”hati [Yesus] menjadi sangat sedih dan dia terharu”.​—Yoh. 11:33.

      2. Mengapa Yesus bisa menunjukkan sikap seperasaan kepada orang-orang?

      2 Meski Yesus sempurna, dia memperlakukan manusia berdosa dengan sangat berbelaskasihan dan baik hati. Mengapa dia bisa seperti itu? Alasan yang utama adalah karena dia mengasihi orang-orang. Seperti disebutkan dalam artikel sebelumnya, dia ”khususnya menyukai manusia”. (Ams. 8:31) Karena mengasihi manusia, dia mau berupaya untuk memahami cara berpikir mereka. Rasul Yohanes berkata bahwa Yesus ”tahu isi hati manusia”. (Yoh. 2:25) Orang-orang yang Yesus temui bisa merasakan bahwa Yesus beriba hati dan sangat mengasihi mereka. Karena itu, mereka mau mendengarkan kabar baik yang Yesus sampaikan. Kalau kita terus berupaya meniru keibaan hati Yesus, kita bisa lebih berhasil dalam membantu orang-orang sewaktu mengabar.​—2 Tim. 4:5.

      3-4. (a) Kalau kita punya sikap seperasaan, bagaimana kita memandang pelayanan kita? (b) Apa yang akan kita bahas di artikel ini?

      3 Rasul Paulus tahu bahwa dia wajib mengabar, dan kita tahu bahwa kita punya kewajiban yang sama. (1 Kor. 9:16) Tapi, kalau kita punya sikap seperasaan, kita tidak akan menganggap pengabaran hanya sebagai kewajiban. Sebaliknya, kita mengabar karena kita peduli kepada orang-orang dan ingin membantu mereka. Kita tahu bahwa ”lebih bahagia memberi daripada menerima”. (Kis. 20:35) Kalau kita terus mengingat ayat ini, kita akan lebih menikmati pengabaran.

      4 Di artikel ini, kita akan membahas caranya menunjukkan sikap seperasaan dalam pelayanan. Pertama-tama, kita akan membahas bagaimana perasaan Yesus terhadap orang-orang dan apa yang bisa kita pelajari darinya. Lalu, kita akan membahas empat cara untuk meniru teladan Yesus.​—1 Ptr. 2:21.

      YESUS MENUNJUKKAN SIKAP SEPERASAAN DALAM PELAYANAN

      Yesus datang dengan perahu lalu mengajar sekumpulan orang

      Karena merasa iba hati, Yesus tergerak untuk menghibur orang-orang dengan kabar baik (Lihat paragraf 5-6)

      5-6. (a) Kepada siapa Yesus menunjukkan sikap seperasaan? (b) Seperti dinubuatkan di Yesaya 61:1, 2, mengapa Yesus merasa kasihan kepada orang-orang dan mengabar kepada mereka?

      5 Kita akan membahas bagaimana Yesus menunjukkan sikap seperasaan. Suatu kali, Yesus dan murid-muridnya sangat lelah karena baru saja selesai mengabar tanpa sempat beristirahat. Mereka ”tidak punya waktu luang bahkan untuk makan”. Jadi Yesus mengajak para muridnya ”istirahat sebentar”. Mereka pergi ”ke tempat yang sepi agar tidak bersama orang-orang lain”. Tapi, ketika melihat mereka pergi ke sana, orang-orang berlari ke tempat itu dan sampai di sana lebih dulu. Waktu Yesus sampai dan melihat kumpulan orang itu, apa reaksinya? ”Dia tergerak oleh rasa kasihan,b karena mereka seperti domba tanpa gembala. Maka dia mulai mengajar mereka banyak hal.”​—Mrk. 6:30-34.

      6 Perhatikan mengapa Yesus merasa kasihan, atau punya sikap seperasaan, kepada orang-orang itu. Dia melihat bahwa mereka ”seperti domba tanpa gembala”. Mungkin Yesus tahu bahwa sebagian dari mereka miskin atau harus bekerja keras demi menafkahi keluarga. Atau mungkin ada juga yang sangat sedih karena orang yang mereka sayangi meninggal. Jika itu yang mereka alami, Yesus kemungkinan bisa memahami perasaan mereka. Seperti yang disebutkan di artikel sebelumnya, Yesus bisa jadi pernah merasakan semua kesulitan itu. Yesus memedulikan perasaan orang lain, dan dia ingin menghibur mereka dengan kabar baik.​—Baca Yesaya 61:1, 2.

      7. Bagaimana kita bisa meniru teladan Yesus?

      7 Apa yang kita pelajari dari teladan Yesus? Sama seperti orang-orang di sekitar Yesus, orang-orang di sekitar kita juga ”seperti domba tanpa gembala”. Mereka berjuang mengatasi berbagai masalah, dan kita punya apa yang mereka butuhkan, yaitu kabar baik tentang Kerajaan Allah. (Why. 14:6) Jadi, kita meniru Tuan kita dengan memberitakan kabar baik karena kita ”mengasihani orang kecil dan orang miskin”. (Mz. 72:13) Kita beriba hati kepada orang-orang, dan kita ingin melakukan sesuatu untuk membantu mereka.

      BAGAIMANA KITA BISA MENUNJUKKAN SIKAP SEPERASAAN

      Seorang saudara yang sedang mengabar memperlihatkan video Mengapa Perlu Belajar Alkitab? kepada seorang pria yang bertato dan memakai banyak perhiasan

      Pikirkan kebutuhan setiap orang (Lihat paragraf 8-9)

      8. Apa salah satu cara untuk menunjukkan sikap seperasaan dalam pelayanan? Berikan gambaran.

      8 Apa yang bisa membantu kita menunjukkan sikap seperasaan sewaktu mengabar? Kita perlu membayangkan apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang-orang yang kita temui. Lalu, kita perlu memperlakukan mereka seperti kita ingin diperlakukan kalau kita menghadapi keadaan yang mereka hadapi.c (Mat. 7:12) Mari kita bahas empat cara untuk melakukannya. Pertama, pikirkan kebutuhan setiap orang. Sewaktu mengabar, kita menjadi seperti dokter. Seorang dokter yang baik memikirkan kebutuhan setiap pasiennya. Dia menanyakan keadaan setiap pasien dan mendengarkan baik-baik ketika pasiennya menjelaskan keadaan atau gejala yang dia rasakan. Dokter itu tidak akan cepat-cepat memberikan obat yang dia rasa cocok, tapi dia akan memeriksa gejala setiap pasiennya lebih lanjut agar bisa memberikan obat yang tepat. Seperti dokter itu, sewaktu mengabar, kita tidak boleh menggunakan cara yang sama untuk setiap orang. Kita perlu ingat bahwa setiap orang itu berbeda-beda, jadi kita perlu berupaya memahami keadaan dan pandangan mereka masing-masing.

      9. Apa yang tidak boleh kita lakukan, dan apa yang sebaiknya kita lakukan?

      9 Sewaktu bertemu seseorang dalam pelayanan, jangan menyimpulkan bahwa Saudara sudah tahu keadaan orang itu, apa yang dia percayai, dan mengapa dia memercayainya. (Ams. 18:13) Ajukan pertanyaan untuk mengetahui keadaan orang itu dan apa yang dia percayai. (Ams. 20:5) Kalau cocok dengan budaya di daerah Saudara, tanyakan tentang pekerjaannya, keluarganya, latar belakangnya, dan pandangannya. Dengan mengajukan pertanyaan, kita bisa tahu apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Kalau kita sudah mengetahui kebutuhan mereka, kita bisa menunjukkan sikap seperasaan dan membantu mereka, seperti yang Yesus lakukan.​—Bandingkan 1 Korintus 9:19-23.

      Seorang saudari di kendaraan umum mencoba membayangkan kehidupan seorang wanita sebelum memberinya risalah

      Bayangkan kehidupan orang yang Saudara temui saat mengabar (Lihat paragraf 10-11)

      10-11. Sesuai dengan 2 Korintus 4:7, 8, apa cara kedua untuk menunjukkan sikap seperasaan? Berikan contoh.

      10 Kedua, bayangkan seperti apa kehidupan mereka. Sebagai manusia tidak sempurna, kita juga menghadapi berbagai masalah. Jadi sedikit banyak, kita bisa mengerti keadaan mereka. (1 Kor. 10:13) Kita tahu bahwa kehidupan di zaman kita sangat sulit. Hanya dengan bantuan Yehuwa-lah kita bisa bertahan. (Baca 2 Korintus 4:7, 8.) Tapi, coba pikirkan kehidupan orang-orang yang tidak bersahabat dengan Yehuwa. Mereka harus berjuang sendirian menghadapi dunia ini. Seperti Yesus, kita merasa kasihan kepada mereka, dan kita tergerak untuk memberitakan ”kabar baik tentang sesuatu yang lebih baik”.​—Yes. 52:7.

      11 Inilah yang dialami seorang saudara bernama Sergey. Sebelum belajar kebenaran, Sergey sangat pendiam dan pemalu. Dia sulit berbicara kepada orang lain. Belakangan, dia mau belajar Alkitab. Sergey bercerita, ”Dari Alkitab, saya belajar bahwa orang Kristen harus memberi tahu orang lain tentang apa yang mereka percayai. Dulu saya yakin sekali bahwa saya tidak akan pernah bisa melakukannya.” Tapi, dia memikirkan tentang orang-orang yang belum mendengar kebenaran. Dia sadar bahwa kehidupan mereka pasti sulit karena mereka tidak mengenal Yehuwa. Dia berkata, ”Hal-hal baru yang saya pelajari membuat saya merasa sangat bahagia dan damai. Saya tahu bahwa orang lain perlu mendengar kebenaran ini juga.” Karena Sergey lebih memahami perasaan orang lain, dia merasa lebih berani untuk mengabar. Sergey berkata, ”Ternyata, bercerita tentang Alkitab kepada orang lain membuat saya jadi lebih percaya diri. Saya juga semakin yakin dengan apa yang saya pelajari.”d

      Seorang saudara membahas brosur Asal Mula Kehidupan bersama pelajar Alkitabnya

      Butuh waktu agar orang bisa percaya pada ajaran Alkitab (Lihat paragraf 12-13)

      12-13. Mengapa kita perlu bersabar dengan orang-orang yang kita ajar? Berikan gambaran.

      12 Ketiga, bersabarlah dengan orang-orang yang Saudara ajar. Kita mungkin sudah mengenal baik kebenaran dari Alkitab. Tapi ingatlah bahwa bagi kebanyakan orang, itu mungkin adalah hal yang baru. Selain itu, banyak orang benar-benar yakin akan kepercayaan mereka selama ini. Mereka mungkin merasa bahwa itu sangat penting dan bisa membuat mereka bersatu dengan keluarga, budaya, dan orang-orang di sekitar mereka. Bagaimana kita bisa membantu mereka?

      13 Itu bisa digambarkan seperti ini: Kalau sebuah jembatan lama yang sudah rusak perlu diganti, apa yang akan dilakukan? Sering kali, sewaktu jembatan yang baru sedang dibangun, jembatan lama itu masih tetap digunakan. Setelah jembatan baru itu selesai, jembatan yang lama bisa dirobohkan. Sama seperti itu, kita tidak bisa berharap seseorang akan langsung meninggalkan kepercayaan ”lama” yang sangat dia sukai. Pertama-tama, kita mungkin perlu membantunya untuk benar-benar menghargai ajaran yang ”baru”, yaitu ajaran Alkitab yang awalnya belum terlalu mereka kenal. Setelah itu, barulah mereka siap untuk meninggalkan kepercayaan mereka yang dulu. Kadang, butuh waktu agar orang bisa berubah seperti itu.​—Rm. 12:2.

      14-15. Bagaimana kita bisa membantu orang memahami ajaran tentang kehidupan abadi di bumi firdaus? Berikan contoh.

      14 Kalau kita sabar dalam pelayanan, kita tidak berharap orang-orang akan langsung paham atau setuju dengan kebenaran dari Alkitab saat mereka pertama kali mendengarnya. Tapi karena memahami perasaan mereka, kita tergerak untuk membantu mereka memikirkan ajaran Alkitab secara bertahap. Misalnya, bagaimana kita bisa membantu seseorang mengerti bahwa kita punya harapan untuk hidup abadi di bumi firdaus? Banyak orang tidak tahu tentang ajaran ini. Mereka mungkin percaya bahwa setelah seseorang meninggal, dia tidak bisa hidup lagi. Atau, mereka mungkin percaya bahwa semua orang baik akan pergi ke surga. Bagaimana kita bisa membantu mereka?

      15 Seorang saudara memberitahukan cara yang selama ini berhasil dia gunakan. Pertama, dia membacakan Kejadian 1:28. Lalu, dia bertanya kepada penghuni rumah, ”Allah ingin manusia tinggal di mana, dan dalam keadaan seperti apa?” Kebanyakan orang menjawab, ”Di bumi, dan kehidupannya menyenangkan.” Saudara ini kemudian membacakan Yesaya 55:11 dan bertanya apakah kehendak Allah berubah. Kebanyakan penghuni rumah akan menjawab tidak. Setelah itu, barulah saudara ini membacakan Mazmur 37:10, 11 dan bertanya seperti apa masa depan manusia. Dengan cara seperti ini, dia telah membantu beberapa orang paham bahwa Allah masih ingin agar orang yang baik hidup selamanya di bumi firdaus.

      Seorang saudari memasukkan surat ke kotak pos

      Tindakan kebaikan hati yang sederhana, misalnya mengirimkan surat untuk menghibur, bisa sangat bermanfaat (Lihat paragraf 16-17)

      16-17. Sesuai dengan prinsip di Amsal 3:27, apa saja yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan bahwa kita peduli kepada orang-orang? Berikan contoh.

      16 Keempat, pikirkan apa saja yang bisa Saudara lakukan untuk menunjukkan bahwa Saudara peduli kepada mereka. Misalnya, bagaimana kalau kita datang di waktu yang kurang tepat bagi penghuni rumah? Kita bisa meminta maaf dan menawarkan untuk kembali di waktu yang lebih cocok. Bagaimana kalau penghuni rumah butuh bantuan untuk melakukan beberapa hal kecil? Atau, bagaimana kalau seseorang tidak bisa keluar rumah dan butuh bantuan untuk mengurus beberapa hal? Dalam keadaan seperti itu, kita mungkin bisa membantu mereka.​—Baca Amsal 3:27.

      17 Meski kelihatannya sederhana, sebuah tindakan yang baik hati bisa sangat bermanfaat. Itulah yang dialami seorang saudari. Karena iba hati kepada satu keluarga yang kehilangan bayi mereka yang baru lahir, dia menulis surat untuk mereka. Di dalam surat itu, dia menyebutkan beberapa ayat yang menghibur. Bagaimana tanggapan keluarga itu? Ibu dari bayi itu menulis, ”Kemarin saya sangat sedih, tapi surat itu benar-benar menguatkan kami. Saya sangat berterima kasih untuk surat itu. Kami sangat terhibur saat membacanya. Kemarin saya membaca surat itu sampai lebih dari 20 kali. Kata-kata dalam surat itu benar-benar baik hati, pengasih, dan menguatkan kami. Saya berterima kasih sedalam-dalamnya.” Kalau kita berupaya memahami kesulitan orang-orang dan melakukan sesuatu untuk membantu mereka, kita juga bisa merasakan hasil yang bagus seperti itu.

      LAKUKAN YANG TERBAIK DAN JANGAN KECIL HATI

      18. Sesuai dengan 1 Korintus 3:6, 7, apa yang perlu kita ingat tentang peranan kita dalam pelayanan, dan mengapa?

      18 Dalam pelayanan, kita bisa ikut berperan untuk membantu orang lain belajar tentang Allah. Tapi, kita perlu ingat bahwa peranan Yehuwa-lah yang paling penting. (Baca 1 Korintus 3:6, 7.) Dialah yang menarik orang-orang kepada-Nya. (Yoh. 6:44) Pada akhirnya, yang menentukan apakah seseorang akan menerima atau menolak kabar baik adalah keadaan hatinya. (Mat. 13:4-8) Ingatlah bahwa kebanyakan orang menolak kabar baik yang Yesus sampaikan, padahal dia adalah Guru yang terbaik! Jadi sebenarnya, kita tidak perlu kecil hati kalau banyak orang tidak mau mendengarkan kita meski kita sudah berusaha membantu mereka.

      19. Apa manfaatnya kalau kita menunjukkan sikap seperasaan dalam pelayanan?

      19 Kalau kita menunjukkan sikap seperasaan dalam pelayanan, kita akan mendapat manfaat. Kita akan lebih menikmati pelayanan kita. Kita akan merasa lebih bahagia karena memberi. Selain itu, orang-orang ”yang memiliki sikap yang benar untuk mendapat kehidupan abadi” akan lebih mudah menerima kabar baik. (Kis. 13:48) Jadi ”selama masih ada kesempatan, mari kita berbuat baik kepada semua orang”. (Gal. 6:10) Dengan begitu, kita akan bersukacita karena bisa memuliakan Bapak kita di surga.​—Mat. 5:16.

      APA JAWABAN SAUDARA?

      • Mengapa kita perlu menunjukkan sikap seperasaan dalam pelayanan?

      • Bagaimana Yesus menunjukkan sikap seperasaan dalam pelayanan?

      • Bagaimana kita bisa menunjukkan sikap seperasaan dalam pelayanan?

      NYANYIAN 64 Senangnya Ikut Menuai

      a Kalau kita menunjukkan sikap seperasaan, kita bisa lebih menikmati pelayanan, dan orang-orang mungkin akan lebih bersedia mendengarkan kita. Di artikel ini, kita akan membahas apa yang bisa kita pelajari dari contoh Yesus. Kita juga akan membahas empat cara untuk menunjukkan sikap seperasaan kepada orang-orang yang kita temui dalam pelayanan.

      b PENJELASAN: Rasa kasihan berarti keibaan hati kepada orang yang menderita atau diperlakukan dengan buruk. Perasaan ini bisa membuat seseorang tergerak untuk berbuat sebisa-bisanya untuk membantu orang lain.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan