PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Pupuklah Sifat-Sifat yang Berguna dalam Membuat Murid
    Menara Pengawal—2007 | 15 November
    • Pupuklah Sifat-Sifat yang Berguna dalam Membuat Murid

      ”Pergilah . . . dan buatlah orang-orang dari segala bangsa menjadi murid.”​—MATIUS 28:19.

      1. Keterampilan dan sikap apa yang perlu dimiliki beberapa hamba Allah di masa lampau?

      HAMBA-HAMBA Yehuwa kadang-kadang harus mengembangkan keterampilan dan sikap yang berguna dalam melakukan kehendak-Nya. Misalnya, atas perintah Allah, Abraham dan Sara meninggalkan kota Ur yang makmur dan seraya waktu berlalu, mereka membutuhkan sifat-sifat dan kemampuan yang perlu dimiliki para penghuni kemah. (Ibrani 11:8, 9, 15) Untuk memimpin orang Israel memasuki Tanah Perjanjian, Yosua harus mempunyai keberanian, keyakinan kepada Yehuwa, dan pengetahuan tentang Hukum-Nya. (Yosua 1:7-9) Dan, keterampilan apa pun yang mungkin sudah dimiliki Bezalel dan Oholiab pasti telah ditingkatkan atau dikembangkan lebih jauh oleh roh Allah agar mereka dapat efektif dalam mengawasi dan ikut membangun tabernakel dan pekerjaan yang terkait.​—Keluaran 31:1-11.

      2. Kita akan membahas pertanyaan apa saja yang berkaitan dengan pekerjaan membuat murid?

      2 Berabad-abad kemudian, Yesus Kristus memberikan amanat ini kepada para pengikutnya, ”Pergilah . . . dan buatlah orang-orang dari segala bangsa menjadi murid, . . . ajarlah mereka untuk menjalankan semua perkara yang aku perintahkan kepadamu.” (Matius 28:19, 20) Orang-orang belum pernah diberi hak istimewa melakukan tugas seperti ini. Sifat-sifat apa yang dibutuhkan untuk pekerjaan membuat murid? Bagaimana kita dapat memupuk sifat-sifat tersebut?

      Perlihatkan Kasih yang Dalam kepada Allah

      3. Perintah untuk membuat murid memberi kita kesempatan apa?

      3 Untuk berbicara kepada orang-orang dan berupaya meyakinkan mereka agar menyembah Allah yang benar, kita perlu memiliki kasih yang dalam kepada Yehuwa. Orang Israel dapat membuktikan kasih mereka kepada Allah dengan menaati perintah-perintah-Nya dengan sepenuh hati, mempersembahkan korban yang diperkenan, dan menyanyikan pujian bagi-Nya. (Ulangan 10:12, 13; 30:19, 20; Mazmur 21:13; 96:1, 2; 138:5) Sebagai pembuat murid, kita pun menjalankan hukum Allah, tetapi kita juga menyatakan kasih kita kepada Yehuwa dengan memberi tahu orang-orang tentang Dia dan maksud-tujuan-Nya. Kita perlu berbicara dengan yakin, memilih kata-kata yang tepat untuk menyatakan perasaan kita yang sesungguhnya tentang harapan yang Allah berikan.​—1 Tesalonika 1:5; 1 Petrus 3:15.

      4. Mengapa Yesus senang mengajar orang-orang tentang Yehuwa?

      4 Karena memiliki kasih yang dalam kepada Yehuwa, Yesus senang sekali berbicara tentang maksud-tujuan Allah, Kerajaan, dan ibadat sejati. (Lukas 8:1; Yohanes 4:23, 24, 31) Malah, Yesus mengatakan, ”Makananku adalah melakukan kehendak dia yang mengutus aku dan menyelesaikan pekerjaannya.” (Yohanes 4:34) Kata-kata pemazmur berikut ini berlaku untuk Yesus, ”Melakukan kehendakmu, oh, Allahku, aku suka, dan hukummu ada di bagian dalamku. Aku telah memberitahukan kabar baik tentang keadilbenaran dalam jemaat yang besar. Lihat! Aku tidak menahan bibirku. Oh, Yehuwa, engkau sendiri mengetahuinya dengan baik.”​—Mazmur 40:8, 9; Ibrani 10:7-10.

      5, 6. Sifat utama apa yang dibutuhkan oleh para pembuat murid?

      5 Karena dimotivasi oleh kasih kepada Allah, orang-orang yang baru belajar kebenaran Alkitab adakalanya berbicara tentang Yehuwa dan Kerajaan dengan penuh keyakinan sehingga mereka cukup berhasil meyakinkan orang lain untuk memeriksa Alkitab. (Yohanes 1:41) Kasih kepada Allah adalah sifat utama yang memotivasi kita untuk melakukan pekerjaan membuat murid. Maka, mari kita pertahankan kasih itu dengan rutin membaca dan merenungkan Firman-Nya.​—1 Timotius 4:6, 15; Penyingkapan 2:4.

      6 Kasih kepada Yehuwa tidak diragukan telah membantu Yesus Kristus menjadi guru yang bersemangat. Tetapi, hal itu bukan satu-satunya faktor yang menjadikan dia pemberita Kerajaan yang efektif. Maka, sifat apa lagi yang menjadikan Yesus pembuat murid yang sukses?

      Perlihatkan Kepedulian yang Pengasih kepada Orang-Orang

      7, 8. Bagaimana Yesus memandang orang-orang?

      7 Yesus peduli kepada orang-orang dan sangat berminat kepada mereka. Bahkan sebelum menjadi manusia, sebagai ”pekerja ahli” Allah ia sangat menyukai hal-hal yang berkaitan dengan manusia. (Amsal 8:30, 31) Ketika menjadi manusia di bumi, Yesus beriba hati kepada orang-orang, menyegarkan mereka yang datang kepadanya. (Matius 11:28-30) Yesus memantulkan kasih dan keibaan hati Yehuwa sendiri, dan hal ini menarik orang untuk menyembah satu-satunya Allah yang benar. Segala macam orang mendengarkan Yesus karena ia memperlihatkan kepedulian yang pengasih kepada mereka dan keadaan mereka.​—Lukas 7:36-50; 18:15-17; 19:1-10.

      8 Ketika seorang pria bertanya apa yang perlu ia lakukan untuk mewarisi kehidupan abadi, ”Yesus memandang dia dan menaruh kasih terhadapnya”. (Markus 10:17-21) Mengenai orang-orang yang diajar oleh Yesus di Betani, kita membaca, ”Yesus mengasihi Marta dan saudara perempuannya dan Lazarus.” (Yohanes 11:1, 5) Yesus begitu menyayangi orang-orang sehingga ia mengorbankan istirahat yang ia butuhkan demi mengajar mereka. (Markus 6:30-34) Karena kepeduliannya yang begitu dalam dan pengasih kepada sesama manusia, Yesus lebih berhasil daripada siapa pun dalam menarik orang ke ibadat sejati.

      9. Sikap apa yang Paulus miliki sebagai pembuat murid?

      9 Rasul Paulus juga sangat peduli kepada orang-orang yang ia kabari. Contohnya, ia memberi tahu orang-orang yang telah menganut Kekristenan di Tesalonika, ”Karena memiliki kasih sayang yang lembut terhadap kamu, kami senang memberi kamu, bukan saja kabar baik Allah, tetapi juga jiwa kami sendiri, karena kamu telah menjadi orang-orang yang kami kasihi.” Sebagai hasil upaya Paulus yang pengasih, beberapa orang di Tesalonika ’berbalik dari berhala-berhala mereka untuk bekerja bagaikan budak bagi Allah yang hidup’. (1 Tesalonika 1:9; 2:8) Jika kita memiliki kepedulian yang tulus kepada orang-orang, seperti Yesus dan Paulus, kita juga dapat merasakan sukacita melihat kabar baik mencapai hati orang-orang ”yang memiliki kecenderungan yang benar untuk kehidupan abadi”.​—Kisah 13:48.

      Tunjukkan Semangat Rela Berkorban

      10, 11. Mengapa dibutuhkan semangat rela berkorban dalam upaya kita membuat murid?

      10 Para pembuat murid yang efektif memiliki semangat rela berkorban. Bagi mereka, menimbun kekayaan jelas bukan hal yang paling penting. Malah, Yesus memberi tahu murid-muridnya, ”Betapa sulitnya bagi orang yang beruang untuk masuk ke dalam kerajaan Allah!” Murid-murid heran mendengar hal itu, tetapi Yesus menambahkan, ”Anak-anak, betapa sulitnya masuk ke dalam kerajaan Allah! Lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah.” (Markus 10:23-25) Yesus menyarankan para pengikutnya untuk hidup sederhana agar dapat berkonsentrasi membuat murid. (Matius 6:22-24, 33) Mengapa semangat rela berkorban itu perlu?

      11 Banyak upaya dibutuhkan untuk mengajarkan semua yang Yesus perintahkan. Seorang pembuat murid umumnya berupaya mengadakan pelajaran Alkitab dengan seorang peminat setiap minggu. Agar memiliki lebih banyak kesempatan untuk menemukan orang yang tulus, ada pemberita Kerajaan yang berganti pekerjaan sekuler, dari yang purnawaktu ke penggal waktu. Ribuan orang Kristen belajar bahasa lain agar dapat mengabar kepada kelompok etnik tertentu di daerah mereka. Para pembuat murid lainnya meninggalkan kampung halaman dan pindah ke daerah atau negeri lain untuk lebih sepenuhnya ikut dalam penuaian. (Matius 9:37, 38) Ini semua menuntut semangat rela berkorban. Tetapi, lebih banyak yang dibutuhkan untuk menjadi pembuat murid yang efektif.

      Bersabar tetapi Tidak Membuang Waktu

      12, 13. Mengapa kesabaran sangat penting dalam membuat murid?

      12 Kesabaran adalah sifat lain yang berguna untuk membuat murid. Berita Kristen kita perlu disampaikan dengan perasaan mendesak, tetapi untuk membuat murid, sering kali dibutuhkan banyak waktu dan kesabaran. (1 Korintus 7:29) Yesus tidak pernah kehilangan kesabaran terhadap Yakobus, saudara tirinya. Meskipun Yakobus jelas mengenal baik kegiatan pengabaran Yesus, selama suatu waktu ada sesuatu yang menghalanginya menjadi murid. (Yohanes 7:5) Tetapi, dalam periode singkat antara kematian Kristus dan Pentakosta 33 M, Yakobus rupanya menjadi murid, karena Alkitab menyiratkan bahwa ia berkumpul untuk berdoa bersama ibunya, saudara-saudara lelakinya, dan para rasul. (Kisah 1:13, 14) Yakobus membuat kemajuan rohani yang baik, dan belakangan memikul tanggung jawab penting di sidang Kristen.​—Kisah 15:13; 1 Korintus 15:7.

      13 Seperti petani, orang Kristen memupuk hal-hal yang pertumbuhannya sering kali lambat—pemahaman akan Firman Allah, kasih kepada Yehuwa, dan semangat seperti yang dimiliki Kristus. Hal itu menuntut kesabaran. Yakobus menulis, ”Saudara-saudara, bersabarlah hingga kehadiran Tuan. Lihat! Petani terus menantikan buah yang berharga dari bumi, bersabar sampai hujan awal dan hujan akhir turun. Kamu juga bersabarlah; teguhkanlah hatimu, karena kehadiran Tuan sudah dekat.” (Yakobus 5:7, 8) Yakobus mendesak saudara-saudara seimannya agar ’bersabar hingga kehadiran Tuan’. Jika murid-murid tidak mengerti sesuatu, Yesus dengan sabar memberikan penjelasan atau perumpamaan. (Matius 13:10-23; Lukas 19:11; 21:7; Kisah 1:6-8) Sekarang, setelah Tuan hadir, kita juga perlu bersabar sewaktu berupaya membuat murid. Orang-orang yang menjadi pengikut Yesus pada zaman kita perlu diajar dengan sabar.​—Yohanes 14:9.

      14. Meskipun bersabar, bagaimana kita dapat menggunakan waktu kita dengan bijaksana sebagai pembuat murid?

      14 Meskipun kita sabar, firman itu tidak menghasilkan buah pada kebanyakan orang yang mulai belajar Alkitab dengan kita. (Matius 13:18-23) Maka, setelah membuat upaya yang masuk akal untuk membantu orang-orang seperti itu, sebaiknya kita menghentikan pelajaran dan berupaya menemukan orang yang akan lebih menghargai kebenaran Alkitab. (Pengkhotbah 3:1, 6) Tentu, orang yang menghargai kebenaran pun mungkin membutuhkan bantuan lebih lama untuk mengubah pandangan, sikap, dan prioritas dalam kehidupan. Maka, kita bersabar, sama seperti Yesus bersabar kepada murid-murid yang membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengembangkan sikap yang benar.​—Markus 9:33-37; 10:35-45.

      Kembangkan Seni Mengajar

      15, 16. Mengapa kesederhanaan dan persiapan yang baik itu penting dalam membuat murid?

      15 Kasih kepada Allah, kepedulian kepada orang-orang, semangat rela berkorban, dan kesabaran adalah faktor-faktor penting agar berhasil membuat murid. Keterampilan mengajar juga perlu dikembangkan, sebab dengan demikian kita bisa menerangkan berbagai hal dengan jelas dan tidak rumit. Misalnya, banyak pernyataan sang Guru Agung, Yesus Kristus, sangat jitu karena sederhana. Saudara tentu ingat kata-kata Yesus seperti ini: ”Timbunlah bagi dirimu harta di surga.” ”Jangan berikan apa yang kudus kepada anjing.” ”Hikmat dibuktikan adil-benar oleh perbuatannya.” ”Bayarlah kembali perkara-perkara Kaisar kepada Kaisar, tetapi perkara-perkara Allah kepada Allah.” (Matius 6:20; 7:6; 11:19; 22:21) Tentu, Yesus tidak hanya memberikan pernyataan-pernyataan singkat. Ia mengajar dengan jelas dan memberikan lebih banyak keterangan jika perlu. Bagaimana Saudara dapat meniru gaya Yesus mengajar?

      16 Persiapan yang saksama penting untuk dapat mengajar dengan sederhana dan jelas. Penyiar yang tidak siap cenderung berbicara terlalu banyak. Ia malah mengaburkan pokok utamanya karena memberikan terlalu banyak keterangan, mengatakan segala yang ia ketahui tentang pokok itu. Sebaliknya, penyiar yang benar-benar siap memikirkan orang yang ia ajar, merenungkan topiknya, dan hanya menyampaikan apa yang dibutuhkan dengan jelas. (Amsal 15:28; 1 Korintus 2:1, 2) Ia memperhatikan seberapa banyak yang sudah diketahui si pelajar dan pokok apa yang harus ditandaskan selama pelajaran. Boleh jadi, sang penyiar mengetahui banyak perincian yang menarik tentang pokok itu, tetapi pokok tersebut justru akan menjadi jelas kalau ia memangkas keterangan yang tidak perlu.

      17. Bagaimana kita dapat membantu orang bernalar tentang suatu pokok Alkitab?

      17 Yesus juga membantu orang bernalar, ketimbang hanya menyampaikan fakta. Contohnya, sekali waktu, ia bertanya, ”Bagaimana pendapatmu, Simon? Dari siapa raja-raja di bumi menerima bea atau pajak kepala? Dari putra-putra mereka atau dari orang-orang yang tidak dikenal?” (Matius 17:25) Kita mungkin begitu senang menjelaskan Alkitab sehingga kita harus menahan diri, membiarkan si pelajar menyatakan pendapatnya atau menjelaskan pokok yang sedang dibahas selama pelajaran Alkitab di rumah. Tentu saja, kita hendaknya tidak menghujani orang dengan banyak pertanyaan. Sebaliknya, dengan kebijaksanaan, perumpamaan yang tepat, dan pertanyaan yang sudah dipikirkan baik-baik, kita dapat membantu mereka memahami pokok-pokok berdasarkan Alkitab dalam publikasi kita.

      18. Apa yang tercakup dalam mengembangkan ”seni mengajar”?

      18 Alkitab menyebutkan tentang ”seni mengajar”. (2 Timotius 4:2; Titus 1:9) Kalau kita memiliki seni mengajar, kita tidak hanya membantu seseorang mengingat fakta-fakta. Kita hendaknya berupaya membantu pelajar Alkitab mengerti perbedaan antara kebenaran dan kepalsuan, baik dan buruk, hikmat dan kebodohan. Jika kita melakukan hal ini dan berupaya memupuk kasih kepada Yehuwa dalam hati orang tersebut, ia akan mengerti mengapa ia harus menaati Allah.

      Dengan Bersemangat Ikutlah Membuat Murid

      19. Mengapa membuat murid adalah upaya terpadu semua orang Kristen?

      19 Sidang Kristen adalah organisasi pembuat murid. Kalau ada orang baru yang menjadi murid, yang merasa senang bukan hanya Saksi Yehuwa yang menemukan dan membantunya mempelajari ajaran Alkitab. Apabila sekelompok orang membentuk tim untuk mencari anak yang hilang, bisa jadi hanya satu anggota dalam kelompok itu yang menemukan anak tersebut. Tetapi, apabila anak itu dipersatukan kembali dengan orang tuanya, semua yang terlibat dalam pencarian itu bergembira. (Lukas 15:6, 7) Demikian pula, pekerjaan membuat murid adalah upaya terpadu. Semua orang Kristen ikut mencari orang yang mungkin akan menjadi murid Yesus. Dan, apabila orang baru itu mulai berhimpun di Balai Kerajaan, setiap orang Kristen yang hadir turut membina penghargaannya akan ibadat sejati. (1 Korintus 14:24, 25) Jadi, semua orang Kristen dapat bersukacita bahwa ratusan ribu orang menjadi murid baru setiap tahun.

      20. Apa yang perlu dilakukan jika Saudara ingin mengajar orang kebenaran Alkitab?

      20 Banyak orang Kristen yang setia akan sangat senang mengajar seseorang tentang Yehuwa dan ibadat sejati. Tetapi, meskipun telah mengerahkan upaya terbaik, mungkin tidak ada orang yang belajar Alkitab dengan mereka. Jika itu yang Saudara alami, teruslah kuatkan kasih Saudara kepada Yehuwa, tunjukkan kepedulian kepada orang-orang, hendaklah rela berkorban, bersabar, dan coba tingkatkan keterampilan mengajar Saudara. Yang terutama, sampaikan dalam doa hasrat Saudara untuk mengajarkan kebenaran. (Pengkhotbah 11:1) Saudara dapat merasa terhibur dengan mengetahui bahwa segala yang Saudara lakukan dalam dinas kepada Yehuwa ikut berperan dalam pekerjaan membuat murid yang memuliakan Allah.

  • Tirulah sang Pembuat Murid yang Agung
    Menara Pengawal—2007 | 15 November
    • Tirulah sang Pembuat Murid yang Agung

      ”Perhatikanlah cara kamu mendengarkan.”​—LUKAS 8:18.

      1, 2. Mengapa Saudara perlu memperhatikan cara Yesus berurusan dengan orang-orang selama pelayanannya?

      SEBAGAI Guru dan Pembuat Murid yang Agung, Yesus Kristus memberikan arahan kepada para pengikutnya, ”Perhatikanlah cara kamu mendengarkan.” (Lukas 8:16-18) Prinsip itu berlaku untuk pelayanan Saudara sebagai orang Kristen. Jika Saudara memperhatikan petunjuk rohani, Saudara akan menerapkannya dan menjadi pemberita Kerajaan yang efektif. Memang, Saudara tidak dapat mendengar Yesus berbicara dewasa ini, tetapi Saudara dapat membaca tentang apa yang ia katakan dan lakukan, seperti yang diuraikan dalam Alkitab. Apa yang tersingkap sehubungan dengan cara Yesus berurusan dengan orang-orang selama pelayanannya?

      2 Yesus adalah pemberita kabar baik yang unggul dan guru kebenaran Alkitab yang luar biasa. (Lukas 8:1; Yohanes 8:28) Pekerjaan membuat murid mencakup pengabaran dan pengajaran, namun beberapa pengabar Kristen yang patut dipuji merasa sulit mengajar orang dengan efektif. Mengabar berarti mengumumkan suatu berita, sedangkan mengajar orang tentang Yehuwa dan maksud-tujuan-Nya biasanya mengharuskan seorang pembuat murid membina hubungan dengan si pelajar. (Matius 28:19, 20) Hal ini dapat dilakukan dengan meniru Yesus Kristus, sang Guru dan Pembuat Murid yang Agung.—Yohanes 13:13.

      3. Apa hasilnya jika Saudara meniru Yesus dalam upaya membuat murid?

      3 Jika Saudara meniru cara Yesus mengajar, Saudara menaati nasihat rasul Paulus, ”Teruslah berjalan dengan hikmat sehubungan dengan mereka yang berada di luar, membeli semua waktu yang ada. Hendaklah ucapanmu selalu menyenangkan, dibumbui dengan garam, sehingga kamu mengetahui bagaimana seharusnya memberikan jawaban kepada setiap orang.” (Kolose 4:5, 6) Untuk meniru Yesus dalam pekerjaan membuat murid dibutuhkan upaya, tetapi pengajaran Saudara akan efektif karena Saudara akan bisa ”memberikan jawaban kepada setiap orang” sesuai dengan kebutuhan pribadinya.

      Yesus Menganjurkan Orang Berbicara

      4. Mengapa dapat dikatakan bahwa Yesus adalah pendengar yang baik?

      4 Sejak kecil, Yesus terbiasa mendengarkan dan menganjurkan orang untuk menyatakan pendapat. Ketika berusia 12 tahun, misalnya, orang tuanya menemukan dia di antara para guru di bait, sedang ”mendengarkan mereka serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka”. (Lukas 2:46) Yesus pergi ke bait bukan untuk mempermalukan para guru dengan pengetahuannya. Ia ke sana untuk mendengarkan, meskipun ia juga mengajukan berbagai pertanyaan. Bisa jadi, kecenderungannya untuk menjadi pendengar yang baik adalah satu sifat yang membuatnya diperkenan oleh Allah dan manusia.—Lukas 2:52.

      5, 6. Dari mana kita tahu bahwa Yesus mendengarkan pernyataan orang-orang yang ia ajar?

      5 Setelah dibaptis dan diurapi sebagai Mesias, Yesus tetap senang mendengarkan orang. Ia tidak terlalu asyik mengajar sampai mengabaikan orang-orang yang datang untuk mendengarkan perkataannya. Sering kali, ia berhenti sejenak, menanyakan pendapat mereka, dan mendengarkan tanggapan mereka. (Matius 16:13-15) Sebagai contoh, setelah kematian Lazarus, saudara Marta, Yesus mengatakan kepadanya, ”Setiap orang yang hidup dan memperlihatkan iman akan aku tidak akan pernah mati.” Lalu, Yesus bertanya kepadanya, ”Apakah engkau percaya akan hal ini?” Dan, Yesus tentu mendengarkan jawaban Marta, ”Ya, Tuan; aku percaya bahwa engkau adalah Kristus Putra Allah.” (Yohanes 11:26, 27) Yesus pasti sangat berbesar hati mendengar Marta mengungkapkan imannya dengan kata-kata tersebut!

      6 Sewaktu banyak murid meninggalkannya, Yesus berminat mendengar pandangan para rasulnya. Maka, ia bertanya, ”Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Simon Petrus menjawab, ”Tuan, kepada siapa kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan kehidupan abadi; dan kami telah percaya dan tahu bahwa engkau adalah Yang Kudus dari Allah.” (Yohanes 6:66-69) Kata-kata tersebut tentu sangat menyenangkan Yesus! Pernyataan iman yang serupa dari seorang pelajar Alkitab pasti akan menyenangkan hati Saudara.

      Yesus Mendengarkan dengan Respek

      7. Mengapa banyak orang Samaria bisa beriman kepada Yesus?

      7 Alasan lain Yesus efektif sebagai pembuat murid ialah karena ia memedulikan orang-orang dan mendengarkan mereka dengan respek. Misalnya, pada suatu peristiwa, Yesus memberikan kesaksian kepada seorang wanita Samaria di dekat sumber air Yakub di Sikhar. Yesus tidak memborong percakapan; ia mendengarkan apa yang ingin dikatakan wanita itu. Seraya mendengarkan, Yesus memperhatikan bahwa wanita itu berminat pada ibadat dan memberi tahu dia bahwa Allah sedang mencari orang-orang yang akan menyembah-Nya dengan roh dan kebenaran. Yesus memperlihatkan respek dan kepedulian terhadap wanita ini, dan alhasil, wanita ini memberi tahu orang-orang tentang dia, dan ”banyak orang Samaria dari kota itu beriman kepadanya oleh karena perkataan wanita itu”.​—Yohanes 4:5-29, 39-42.

      8. Bagaimana kecenderungan orang untuk memberikan pendapat dapat membantu Saudara memulai percakapan dalam pelayanan?

      8 Orang-orang biasanya senang menyatakan pandangan mereka. Contohnya, penduduk Athena kuno senang mengemukakan pendapat dan mendengarkan sesuatu yang baru. Karena itu, rasul Paulus memberikan ceramahnya yang efektif di Areopagus di kota itu. (Kisah 17:18-34) Pada waktu memulai percakapan dengan penghuni rumah dalam pelayanan dewasa ini, Saudara dapat mengatakan, ”Saya berkunjung karena saya ingin tahu bagaimana pendapat Anda tentang [topik tertentu].” Dengarkan sudut pandang orang tersebut, dan berikan komentar, atau ajukan pertanyaan. Lalu, dengan ramah perlihatkan apa yang Alkitab katakan tentang pokok itu.

      Yesus Tahu Apa yang Harus Dikatakan

      9. Apa yang Yesus lakukan sebelum ”membukakan sepenuhnya Tulisan-Tulisan Kudus” kepada Kleopas dan rekannya?

      9 Yesus tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Selain menjadi pendengar yang baik, ia sering kali tahu apa yang dipikirkan orang, dan ia tahu persis apa yang harus dikatakan. (Matius 9:4; 12:22-30; Lukas 9:46, 47) Sebagai gambaran, tidak lama setelah kebangkitan Yesus, dua muridnya berjalan dari Yerusalem menuju Emaus. Menurut catatan Injil, ”Sementara mereka bercakap-cakap dan berdiskusi, Yesus sendiri mendekati mereka dan berjalan bersama mereka; tetapi mata mereka tertahan sehingga tidak dapat mengenali dia. Ia mengatakan kepada mereka, ’Apa yang sedang kamu perdebatkan di antara kamu sementara kamu berjalan?’ Dan berhentilah mereka dengan muka sedih. Sebagai jawaban seorang yang bernama Kleopas mengatakan kepadanya, ’Apakah engkau tinggal sebagai orang asing sendirian di Yerusalem sehingga engkau tidak tahu apa yang terjadi di sana beberapa hari ini?’ Lalu ia mengatakan kepada mereka, ’Ada peristiwa apa?’” Sang Guru Agung mendengarkan ketika mereka menjelaskan bahwa Yesus, orang Nazaret itu, mengajar orang, mengadakan banyak mukjizat, dan dieksekusi. Selain itu, menurut beberapa orang, ia telah dibangkitkan dari kematian. Yesus membiarkan Kleopas dan rekannya mengutarakan diri. Lalu, ia menjelaskan apa yang perlu mereka ketahui, dengan ”membukakan sepenuhnya Tulisan-Tulisan Kudus” kepada mereka.—Lukas 24:13-27, 32.

      10. Bagaimana Saudara bisa mengetahui sudut pandang keagamaan orang yang Saudara jumpai dalam pelayanan?

      10 Barangkali, Saudara tidak mengetahui pandangan penghuni rumah tentang hal-hal rohani. Untuk mengetahuinya, Saudara bisa mengatakan bahwa Saudara ingin mendengarkan pendapat orang tentang doa. Lalu, Saudara dapat bertanya, ”Menurut Anda, apakah ada yang benar-benar mendengarkan doa?” Jawabannya bisa menyingkapkan banyak hal tentang sudut pandang orang tersebut dan latar belakang keagamaannya. Jika ia orang yang rohani, Saudara dapat menanyakan pendapatnya lebih lanjut, ”Menurut Anda, apakah Allah mendengarkan semua doa, atau apakah ada doa yang tidak Ia perkenan?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu bisa mengarah ke percakapan yang santai. Jika cocok untuk menyatakan pandangan Alkitab, Saudara sebaiknya berlaku bijaksana, tidak menyerang kepercayaan orang itu. Kalau ia senang mendengarkan, ia mungkin berkenan untuk dikunjungi kembali. Tetapi, bagaimana seandainya ia menanyakan sesuatu yang tidak bisa Saudara jawab? Saudara dapat melakukan riset dan kembali kepadanya, siap memberikan ’alasan untuk harapan Saudara, tetapi melakukannya dengan cara yang lembut dan respek yang dalam’.—1 Petrus 3:15.

      Yesus Mengajar Orang yang Layak

      11. Apa yang akan membantu Saudara menemukan orang yang layak diajar?

      11 Sebagai manusia sempurna, Yesus memiliki daya pengamatan sehingga ia dapat mengenali orang yang layak diajar. Tetapi, jauh lebih sulit bagi kita untuk menemukan orang ”yang memiliki kecenderungan yang benar untuk kehidupan abadi”. (Kisah 13:48) Demikian pula dengan para rasul yang diperintahkan oleh Yesus, ”Ke dalam kota atau desa mana pun kamu masuk, carilah siapa yang layak di dalamnya.” (Matius 10:11) Seperti rasul-rasul Yesus, Saudara harus mencari orang yang mau mendengarkan dan diajar kebenaran Alkitab. Saudara dapat menemukan orang yang layak dengan mendengarkan baik-baik dan memperhatikan sikap setiap orang.

      12. Bagaimana Saudara dapat terus membantu seorang peminat?

      12 Setelah pergi dari rumah orang yang memperlihatkan minat akan berita Kerajaan, sebaiknya Saudara terus memikirkan kebutuhan rohaninya. Jika Saudara mencatat apa yang Saudara ketahui tentang seseorang berdasarkan pembicaraan tentang kabar baik dengannya, hal ini akan mempermudah Saudara untuk terus membantunya secara rohani. Sewaktu berkunjung kembali, Saudara perlu mendengarkan baik-baik untuk dapat lebih mengetahui kepercayaan, sikap, atau keadaan orang tersebut.

      13. Apa yang dapat membantu Saudara mengetahui perasaan seseorang terhadap Alkitab?

      13 Bagaimana Saudara dapat menganjurkan orang untuk mengungkapkan perasaan mereka tentang Firman Allah? Di beberapa daerah, pertanyaan seperti ini efektif, ”Apakah Anda merasa sulit memahami isi Alkitab?” Dari jawabannya, sering kali Saudara bisa mengetahui sikap seseorang terhadap hal-hal rohani. Cara lain ialah dengan membacakan sebuah ayat dan bertanya, ”Apa pendapat Anda setelah membaca ayat ini?” Seperti Yesus, Saudara dapat mencapai banyak hal dalam pelayanan dengan menggunakan pertanyaan yang tepat. Tetapi, Saudara juga perlu berhati-hati.

      Yesus Menggunakan Pertanyaan dengan Efektif

      14. Tanpa menginterogasi orang, bagaimana Saudara dapat menunjukkan minat akan sudut pandang mereka?

      14 Perlihatkan minat akan sudut pandang orang lain tanpa membuat mereka malu. Ikuti metode Yesus. Ia selalu bijaksana, tidak menginterogasi orang, tetapi menggunakan pertanyaan yang menggugah pikiran. Yesus juga pendengar yang simpatik yang membuat orang-orang yang tulus merasa disegarkan dan tenang. (Matius 11:28) Segala macam orang merasa leluasa untuk mendekatinya dan menceritakan kekhawatiran mereka. (Markus 1:40; 5:35, 36; 10:13, 17, 46, 47) Agar orang tidak canggung menyatakan pendapat tentang Alkitab dan ajarannya, jangan menginterogasi mereka.

      15, 16. Bagaimana Saudara dapat mengajak orang berbicara tentang agama?

      15 Selain menggunakan pertanyaan dengan efektif, Saudara dapat memulai percakapan dengan mengatakan sesuatu yang menarik, lalu mendengarkan tanggapannya. Misalnya, Yesus memberi tahu Nikodemus, ”Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah.” (Yohanes 3:3) Kata-kata tersebut begitu menggugah rasa ingin tahu sehingga Nikodemus mau tidak mau memberikan tanggapan dan mendengarkan Yesus. (Yohanes 3:4-20) Saudara mungkin dapat memulai percakapan dengan cara yang sama.

      16 Dewasa ini, munculnya banyak agama baru menjadi bahan pembicaraan di berbagai tempat seperti Afrika, Amerika Latin, dan Eropa Timur. Di tempat-tempat seperti itu, Saudara sering dapat memulai percakapan dengan mengatakan, ”Saya prihatin bahwa ada begitu banyak agama. Tetapi, saya berharap tidak lama lagi orang-orang dari segala bangsa dipersatukan dalam ibadat sejati. Apakah Anda senang mendengar hal itu?” Dengan mengatakan sesuatu yang menarik tentang harapan Saudara, boleh jadi Saudara dapat menggugah orang untuk menyatakan pandangan mereka. Dan, pertanyaan berupa pilihan lebih mudah dijawab. (Matius 17:25) Setelah penghuni rumah menanggapi pertanyaan Saudara, Saudara sendiri dapat menjawabnya dengan menggunakan satu atau dua ayat. (Yesaya 11:9; Zefanya 3:9) Dengan mendengarkan baik-baik dan memperhatikan tanggapan orang tersebut, Saudara akan dapat menentukan bahan diskusi untuk kunjungan berikutnya.

      Yesus Mendengarkan Anak-Anak

      17. Apa yang menunjukkan bahwa Yesus berminat kepada anak-anak?

      17 Yesus tidak hanya berminat kepada orang dewasa, tetapi juga kepada anak-anak. Ia tahu beberapa permainan anak-anak dan obrolan mereka. Kadang-kadang, ia mengundang anak-anak datang kepadanya. (Lukas 7:31, 32; 18:15-17) Ada banyak anak di antara kerumunan orang yang mendengarkan Yesus. Ketika anak-anak lelaki berseru memuji sang Mesias, Yesus memperhatikan dan memperlihatkan bahwa Alkitab telah menubuatkan hal itu. (Matius 14:21; 15:38; 21:15, 16) Dewasa ini, banyak anak menjadi murid Yesus. Bagaimana Saudara dapat membantu mereka?

      18, 19. Bagaimana Saudara dapat membantu anak Saudara secara rohani?

      18 Untuk membantu anak Saudara secara rohani, Saudara harus mendengarkan dia. Saudara perlu mengetahui gagasan apa yang mereka miliki yang mungkin tidak selaras dengan pikiran Yehuwa. Tidak soal apa yang dikatakan anak Saudara, sebaiknya Saudara pertama-tama memberikan komentar positif. Kemudian, Saudara dapat menggunakan ayat-ayat yang cocok untuk membantu sang anak memahami pandangan Yehuwa terhadap hal-hal tertentu.

      19 Pertanyaan memang penting. Tetapi, sama seperti orang dewasa, anak-anak tidak senang diinterogasi. Ketimbang membebani anak Saudara dengan sejumlah pertanyaan yang sulit dijawab, cobalah ceritakan sedikit tentang diri Saudara sendiri. Bergantung pada pokok pembahasannya, barangkali Saudara bisa menceritakan apa yang pernah Saudara rasakan dan jelaskan alasannya. Lalu, Saudara bisa bertanya, ”Apakah kamu juga punya perasaan yang sama?” Jawaban sang anak kemungkinan besar akan mengarah ke pembahasan Alkitab yang bermanfaat dan membangkitkan semangat.

      Teruslah Tiru sang Pembuat Murid yang Agung

      20, 21. Mengapa hendaknya Saudara menjadi pendengar yang baik dalam pekerjaan sebagai pembuat murid?

      20 Entah Saudara sedang membahas suatu topik dengan anak Saudara atau orang lain, mendengarkan baik-baik itu penting. Sebenarnya, hal itu merupakan pernyataan kasih. Dengan mendengarkan, Saudara menunjukkan kerendahan hati, dan orang yang berbicara dihormati dan mendapat perhatian yang pengasih. Tentu, mendengarkan berarti memperhatikan pernyataan orang tersebut.

      21 Dalam pelayanan Kristen, selalu dengarkan baik-baik para penghuni rumah. Jika Saudara benar-benar memperhatikan apa yang mereka katakan, kemungkinan besar Saudara akan mengetahui aspek kebenaran Alkitab mana saja yang khususnya menarik bagi mereka. Lalu, berupayalah membantu mereka dengan menggunakan berbagai metode pengajaran Yesus. Jika Saudara melakukan hal itu, upahnya adalah sukacita dan kepuasan karena Saudara meniru sang Pembuat Murid yang Agung.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan