PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • ’Menangani Firman Allah dengan Tepat’
    Menara Pengawal—2003 | 15 November
    • ’Menangani Firman Allah dengan Tepat’

      ”Berupayalah sebisa-bisanya untuk mempersembahkan dirimu kepada Allah sebagai orang yang diperkenan, sebagai pekerja tanpa sesuatu pun yang membuatnya malu, menangani firman kebenaran dengan tepat.”​—2 TIMOTIUS 2:15.

      1, 2. (a) Mengapa para pekerja membutuhkan alat-alat? (b) Orang Kristen sibuk dalam pekerjaan apa, dan bagaimana mereka memperlihatkan bahwa mereka mencari dahulu Kerajaan?

      PARA pekerja membutuhkan alat-alat untuk membantu mereka mengerjakan tugas. Namun, sekadar memiliki alat tidaklah cukup. Seorang pekerja membutuhkan alat yang tepat, dan ia harus menggunakannya dengan cara yang benar. Misalnya, jika sewaktu membangun sebuah bedeng, Saudara ingin menyatukan dua lembar papan, Saudara tidak hanya membutuhkan palu dan paku. Saudara juga harus tahu cara menancapkan paku pada papan tanpa membuatnya bengkok. Berupaya untuk menancapkan paku pada papan tanpa mengetahui cara menggunakan sebuah palu akan sangat sulit, bahkan membuat stres. Tetapi, alat-alat yang dipergunakan dengan benar membantu kita menyelesaikan tugas-tugas dengan hasil yang memuaskan.

      2 Sebagai orang Kristen, kita punya suatu pekerjaan yang harus dilakukan. Ini merupakan pekerjaan yang paling penting. Yesus Kristus mendesak para pengikutnya untuk ’mencari dahulu kerajaan’. (Matius 6:33) Bagaimana kita dapat melakukannya? Satu cara ialah dengan bergairah dalam pemberitaan Kerajaan dan pekerjaan menjadikan murid. Cara lainnya ialah dengan melaksanakan pelayanan kita yang berakar kuat pada Firman Allah. Cara ketiga ialah dengan bertingkah laku yang baik. (Matius 24:14; 28:19, 20; Kisah 8:25; 1 Petrus 2:12) Agar efektif dan berbahagia dalam tugas kerja Kristen ini, kita membutuhkan alat-alat yang cocok dan pengetahuan tentang cara menggunakannya dengan tepat. Dalam hal ini, rasul Paulus menjadi teladan yang menonjol sebagai pekerja Kristen, dan ia menganjurkan rekan-rekan seiman untuk menirunya. (1 Korintus 11:1; 15:10) Kalau begitu, apa yang dapat kita pelajari dari Paulus, rekan sekerja kita?

      Paulus​—Seorang Pemberita Kerajaan yang Bergairah

      3. Mengapa dapat dikatakan bahwa rasul Paulus adalah pekerja Kerajaan yang bergairah?

      3 Pekerja seperti apa Paulus itu? Ia pastilah pekerja yang bergairah. Paulus mengerahkan dirinya dengan sangat keras, menyebarluaskan kabar baik di wilayah yang luas di sekitar kawasan Mediterania. Sewaktu menyatakan alasan mengapa ia memberitakan Kerajaan dengan penuh antusias, rasul yang tak kenal lelah ini mengatakan, ”Jika aku menyatakan kabar baik, ini bukan alasan bagiku untuk bermegah, karena ini suatu keharusan bagiku. Sebenarnya, celakalah aku, jika aku tidak menyatakan kabar baik!” (1 Korintus 9:16) Apakah Paulus hanya berminat pada penyelamatan kehidupannya sendiri? Tidak. Ia bukanlah orang yang egois. Sebaliknya, ia berhasrat agar orang-orang lain juga memperoleh manfaat dari kabar baik. Ia menulis, ”Aku melakukan segala sesuatu demi kepentingan kabar baik, agar aku dapat ikut mengambil bagian dari kabar baik itu bersama orang-orang lain.”​—1 Korintus 9:23.

      4. Alat apa yang paling berharga bagi para pekerja Kristen?

      4 Rasul Paulus adalah seorang pekerja yang bersahaja yang sadar bahwa ia tidak dapat mengandalkan keterampilan pribadinya semata. Sama seperti seorang tukang kayu membutuhkan palu, Paulus membutuhkan alat yang tepat untuk menanamkan kebenaran Allah ke dalam hati para pendengarnya. Alat apa yang terutama ia gunakan? Itu adalah Firman Allah, Alkitab. Demikian pula, seluruh Alkitab merupakan alat utama yang kita gunakan untuk membantu kita menjadikan murid.

      5. Untuk menjadi pelayan yang efektif, apa yang perlu kita lakukan selain mengutip ayat-ayat Alkitab?

      5 Paulus tahu bahwa menangani Firman Allah dengan tepat mencakup lebih dari mengutipnya. Ia berupaya ”meyakinkan” orang-orang. (Kisah 28:23) Caranya? Paulus berhasil menggunakan Firman Allah yang tertulis untuk meyakinkan banyak orang agar menerima kebenaran Kerajaan. Ia bertukar pikiran dengan mereka. Selama tiga bulan di sebuah sinagoga di Efesus, Paulus ”menyampaikan khotbah dan berupaya meyakinkan orang-orang tentang kerajaan Allah”. Meskipun ”beberapa orang mengeraskan hati dan tidak percaya”, yang lain-lain mendengarkan. Sebagai hasil dari pelayanan Paulus di Efesus, ”firman Yehuwa terus bertumbuh dan menang secara luar biasa”.​—Kisah 19:8, 9, 20.

      6, 7. Bagaimana Paulus memuliakan pelayanannya, dan bagaimana kita dapat melakukan hal yang sama?

      6 Sebagai pemberita Kerajaan yang bergairah, Paulus ’memuliakan pelayanannya’. (Roma 11:13) Caranya? Ia tidak ingin menonjolkan diri; ia pun tidak malu dikenal umum sebagai salah seorang rekan sekerja Allah. Sebaliknya, ia memandang pelayanannya sebagai suatu kehormatan terbesar. Paulus menangani Firman Allah dengan terampil dan efektif. Kegiatannya yang produktif memberikan dorongan bagi orang-orang lain, turut memotivasi mereka untuk melaksanakan pelayanan mereka dengan lebih sepenuhnya. Dengan cara ini pula, pelayanannya dimuliakan.

      7 Seperti Paulus, kita dapat memuliakan pekerjaan kita sebagai rohaniwan melalui penggunaan Firman Allah yang sering dan efektif. Dalam semua corak dinas pelayanan kita, tujuan kita hendaknya adalah untuk membagikan sesuatu dari Alkitab kepada sebanyak mungkin orang. Bagaimana kita dapat melakukannya dengan upaya untuk meyakinkan? Perhatikan tiga cara yang penting: (1) Tariklah perhatian kepada Firman Allah dengan cara yang menghasilkan respek terhadapnya. (2) Dengan bijaksana, jelaskan dan terapkanlah apa yang Alkitab katakan. (3) Bertukar pikiranlah dari Alkitab secara meyakinkan.

      8. Apa saja alat pengabaran Kerajaan yang kita miliki dewasa ini, dan bagaimana Saudara telah menggunakannya?

      8 Para pemberita Kerajaan sekarang ini memiliki alat-alat yang tidak tersedia bagi Paulus selama pelayanannya. Alat-alat ini mencakup buku, majalah, brosur, selebaran, risalah, serta rekaman audio dan video. Pada abad yang lalu, kartu kesaksian, fonograf, mobil berpengeras suara, dan pemancar radio juga digunakan. Tentu saja, alat terbaik kita adalah Alkitab, dan kita perlu menggunakan alat yang mutlak dibutuhkan ini dengan sebaik-baiknya dan setepat-tepatnya.

      Pelayanan Kita Haruslah Berakar pada Firman Allah

      9, 10. Mengenai penggunaan Firman Allah, apa yang dapat kita pelajari dari nasihat Paulus kepada Timotius?

      9 Bagaimana kita dapat menggunakan Firman Allah sebagai alat yang efektif? Dengan mengindahkan kata-kata Paulus yang ditujukan kepada rekan sekerjanya, Timotius, ”Berupayalah sebisa-bisanya untuk mempersembahkan dirimu kepada Allah sebagai orang yang diperkenan, sebagai pekerja tanpa sesuatu pun yang membuatnya malu, menangani firman kebenaran dengan tepat.” (2 Timotius 2:15) Apa yang tercakup dalam ”menangani firman kebenaran dengan tepat”?

      10 Kata Yunani yang diterjemahkan ”menangani dengan tepat” secara harfiah berarti ”memotong dengan lurus” atau ”memotong jalan dengan arah yang lurus”. Hanya dalam nasihat Paulus kepada Timotius inilah istilah itu digunakan dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen. Kata yang sama dapat digunakan untuk melukiskan proses membajak alur yang lurus melintasi ladang. Seorang petani yang berpengalaman pasti akan merasa malu apabila ia membuat alur yang bengkok sewaktu membajak. Agar menjadi ”pekerja tanpa sesuatu pun yang membuatnya malu”, Timotius diingatkan agar tidak membiarkan adanya penyimpangan dari pengajaran yang benar akan Firman Allah. Timotius tidak boleh membiarkan pandangan pribadinya membentuk pengajarannya. Ia harus mendasarkan pengabaran dan pengajarannya hanya pada Alkitab. (2 Timotius 4:2-4) Dengan cara ini, orang-orang yang berhati jujur akan diarahkan untuk memiliki pikiran Yehuwa tentang berbagai hal, bukannya mengikuti filsafat dunia. (Kolose 2:4, 8) Hal yang sama juga berlaku dewasa ini.

      Tingkah Laku Kita Harus Baik

      11, 12. Apa pengaruh tingkah laku kita atas cara kita menangani Firman Allah dengan tepat?

      11 Kita menangani Firman Allah secara tepat tidak hanya dengan memberitakan kebenarannya. Tingkah laku kita juga haruslah selaras dengannya. ”Kita adalah rekan sekerja Allah”, maka kita tidak boleh menjadi pekerja yang munafik. (1 Korintus 3:9) Firman Allah berkata, ”Maka, apakah engkau, yang mengajar orang lain, tidak mengajar dirimu sendiri? Engkau, yang memberitakan ’Jangan mencuri’, apakah engkau mencuri? Engkau, yang mengatakan ’Jangan berzina’, apakah engkau berzina? Engkau, yang menyatakan muak terhadap berhala, apakah engkau merampok kuil-kuil?” (Roma 2:21, 22) Oleh karena itu, sebagai pekerja Allah zaman modern, satu cara agar kita menangani Firman Allah dengan tepat adalah dengan mengindahkan pengingat ini, ”Percayalah kepada Yehuwa dengan segenap hatimu dan jangan bersandar pada pengertianmu sendiri. Dalam segala jalanmu, berikanlah perhatian kepadanya, dan ia akan meluruskan jalan-jalanmu.”​—Amsal 3:5, 6.

      12 Hasil apa saja yang kita harapkan karena menangani Firman Allah dengan tepat? Perhatikan kuasa yang dapat dimiliki Firman Allah atas kehidupan orang-orang yang berhati jujur.

      Firman Allah Memiliki Kuasa untuk Mengubah

      13. Penerapan Firman Allah dapat menghasilkan apa dalam diri seseorang?

      13 Apabila diterima sebagai sumber yang berwenang, berita dari Firman Allah mengerahkan pengaruh yang dinamis yang membantu orang-orang membuat perubahan yang mencolok dalam kehidupan mereka. Paulus telah melihat firman Allah bekerja dan telah menyaksikan hasil positifnya atas orang-orang yang menjadi orang Kristen di Tesalonika zaman dahulu. Oleh karena itu, ia memberi tahu mereka, ”Kami juga dengan tiada henti bersyukur kepada Allah, karena pada waktu kamu menerima firman Allah, yang kamu dengar dari kami, kamu tidak menerima itu sebagai perkataan manusia, tetapi, sebagaimana itu sesungguhnya, yaitu sebagai perkataan Allah, yang juga bekerja dalam diri kamu, orang-orang yang percaya.” (1 Tesalonika 2:13) Bagi orang-orang Kristen itu​—sebenarnya, bagi semua pengikut Kristus yang sejati​—penalaran yang lemah dari manusia tidak dapat dibandingkan dengan hikmat yang sangat unggul dari Allah. (Yesaya 55:9) Orang Tesalonika ”menerima firman itu dengan mengalami banyak kesengsaraan disertai sukacita dari roh kudus” dan menjadi teladan bagi orang-orang beriman lainnya.​—1 Tesalonika 1:5-7.

      14, 15. Seberapa berkuasakah berita dari Firman Allah itu, dan mengapa?

      14 Firman Allah itu dinamis, sama seperti Sumbernya, Yehuwa. Firman itu berasal dari ”Allah yang hidup”, pribadi yang oleh firman-Nya ”langit dibuat”, dan firman itu selalu ’berhasil dalam apa yang Ia suruhkan kepadanya’. (Ibrani 3:12; Mazmur 33:6; Yesaya 55:11) Seorang sarjana Alkitab berkomentar, ”Allah tidak memisahkan diri-Nya dari Firman-Nya. Ia tidak menyangkalnya seolah-olah firman itu tidak berkaitan dengan diri-Nya. . . . Oleh karena itu, Firman Allah tidak pernah mati, tidak terpengaruh oleh apa yang terjadi padanya setelah itu diucapkan; karena Firman itu merupakan ikatan pemersatu dengan Allah yang hidup.”

      15 Seberapa berkuasakah berita yang bersumber dari Firman Allah itu? Kuasanya sangat besar. Dengan tepat, Paulus menulis, ”Firman Allah itu hidup dan mengerahkan kuasa dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun dan menusuk bahkan sampai memisahkan jiwa dan roh, serta sendi dan sumsumnya, dan dapat menilai pikiran dan niat hati.”​—Ibrani 4:12.

      16. Seberapa menyeluruhkah Firman Allah dapat mengubah seseorang?

      16 Berita dalam Firman Allah yang tertulis ”lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun”. Jadi, ia memiliki kuasa menembus yang begitu dalam yang melebihi sarana atau alat mana pun dari manusia. Firman Allah menusuk bagian terdalam pada diri seseorang dan dapat mengubah batinnya, mempengaruhi cara ia berpikir dan apa yang ia kasihi, menjadikan dia pekerja yang cakap dan saleh. Benar-benar alat yang penuh kuasa!

      17. Jelaskan kuasa Firman Allah untuk mengubah.

      17 Firman Allah menyingkapkan jati diri seseorang jika dibandingkan dengan orang seperti apa dia menurut anggapannya atau apa yang ia biarkan orang lain lihat. (1 Samuel 16:7) Orang yang fasik adakalanya bahkan dapat membohongi batinnya dengan kebaikan hati atau kesalehan yang pura-pura. Orang yang jahat bertindak secara munafik untuk alasan yang fasik. Orang yang sombong berpura-pura rendah hati padahal ingin memperoleh pujian dari orang lain. Namun, dengan menyingkapkan apa yang sesungguhnya ada dalam hatinya, Firman Allah dengan penuh kuasa dapat menggerakkan orang yang rendah hati untuk menanggalkan kepribadian yang lama dan ”mengenakan kepribadian baru yang diciptakan menurut kehendak Allah, dengan keadilbenaran yang sejati dan loyalitas”. (Efesus 4:22-​24) Pengajaran dari Firman Allah juga dapat mengubah orang yang kurang percaya diri menjadi Saksi-Saksi yang berani dari Yehuwa dan pemberita Kerajaan yang bergairah.​—Yeremia 1:6-9.

      18, 19. Berdasarkan dua paragraf ini atau pengalaman pribadi dalam dinas lapangan, perlihatkan bagaimana kebenaran Alkitab dapat mengubah sikap seseorang.

      18 Kuasa Firman Allah untuk mengubah memiliki pengaruh yang baik atas orang di mana-mana. Misalnya, para pemberita Kerajaan dari Phnom Penh, Kamboja, mengabar dua kali sebulan di Provinsi Kompong Cham. Setelah mendengar para pendeta lain berbicara menentang Saksi-Saksi Yehuwa, seorang pendeta wanita setempat mengatur pertemuan dengan Saksi-Saksi pada kali berikut mereka mengunjungi provinsi itu. Ia mencecar mereka dengan pertanyaan-pertanyaan tentang memperingati hari-hari raya dan mendengarkan dengan saksama seraya mereka bertukar pikiran dengannya dari Alkitab. Kemudian, ia berseru, ”Saya sekarang tahu bahwa apa yang rekan-rekan saya katakan tentang kalian tidak benar! Kata mereka, kalian tidak menggunakan Alkitab, tetapi pagi ini hanya Alkitablah yang kalian gunakan!”

      19 Wanita ini melanjutkan pembahasan Alkitabnya dengan Saksi-Saksi dan tidak membiarkan ancaman pemecatan dirinya sebagai pendeta menghentikannya. Ia menceritakan tentang pembahasan Alkitabnya kepada seorang teman, yang kemudian mulai belajar Alkitab bersama Saksi-Saksi. Sang teman menjadi begitu antusias dengan apa yang sedang ia pelajari sampai-sampai pada salah satu kebaktian di gerejanya, ia tergerak untuk mengatakan, ”Mari, belajarlah Alkitab bersama Saksi-Saksi Yehuwa!” Tak lama kemudian, sang mantan pendeta dan yang lain-lain mulai mempelajari Alkitab bersama Saksi-Saksi Yehuwa.

      20. Bagaimana pengalaman seorang wanita di Ghana melukiskan kuasa Firman Allah?

      20 Kuasa Firman Allah juga terlihat dalam pengalaman Paulina, seorang wanita di Ghana. Seorang pemberita Kerajaan sepenuh waktu mengadakan pengajaran Alkitab bersamanya dengan buku Pengetahuan yang Membimbing kepada Kehidupan Abadi.a Paulina terlibat dalam perkawinan poligami dan melihat perlunya membuat perubahan, tetapi suaminya dan semua sanak saudaranya menentangnya dengan keras. Kakeknya, seorang hakim pengadilan tinggi dan tua-tua gereja, berupaya menghentikan dia, bahkan dengan menyalahterapkan Matius 19:4-6. Pandangan itu terdengar bagus, tetapi Paulina segera sadar bahwa hal itu mirip dengan cara Setan memutarbalikkan Alkitab sewaktu ia menggoda Yesus Kristus. (Matius 4:5-7) Ia mengingat pernyataan Yesus yang jelas tentang perkawinan, yang pada dasarnya menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia pria dan wanita, bukannya pria dan wanita-wanita, dan bahwa dua, bukannya tiga, yang akan menjadi satu daging. Ia berpaut pada keputusannya dan akhirnya diizinkan bercerai menurut kebiasaan setempat dari perkawinan poligami tersebut. Tak lama kemudian, ia menjadi pemberita Kerajaan terbaptis yang berbahagia.

      Teruslah Menangani Firman Allah dengan Tepat

      21, 22. (a) Tekad apa yang ingin kita miliki sebagai pemberita Kerajaan? (b) Apa yang akan kita bahas dalam artikel berikutnya?

      21 Firman Allah yang tertulis benar-benar merupakan alat yang penuh kuasa untuk kita gunakan dalam membantu orang-orang lain membuat perubahan dalam kehidupan mereka agar dapat mendekat kepada Yehuwa. (Yakobus 4:8) Sama seperti para pekerja yang terampil menggunakan alat-alat untuk mencapai hasil yang baik, semoga kita bertekad untuk mengerahkan upaya yang sungguh-sungguh untuk menggunakan Firman Allah, Alkitab, dengan terampil dalam pekerjaan yang Allah tugaskan bagi kita sebagai pemberita Kerajaan.

      22 Bagaimana kita dapat menangani Alkitab dengan lebih efektif dalam pekerjaan menjadikan murid? Satu cara adalah dengan mengembangkan kesanggupan kita sebagai pengajar yang bisa meyakinkan. Perhatikanlah artikel berikutnya, karena artikel itu menyarankan cara-cara untuk mengajar dan membantu orang lain menerima berita Kerajaan.

  • Membantu Orang Lain Menerima Berita Kerajaan
    Menara Pengawal—2003 | 15 November
    • Membantu Orang Lain Menerima Berita Kerajaan

      ”Agripa mengatakan kepada Paulus, ’Dalam waktu singkat engkau akan meyakinkan aku menjadi orang Kristen.’”​—KISAH 26:28.

      1, 2. Bagaimana rasul Paulus sampai harus tampil di hadapan Gubernur Festus dan Raja Herodes Agripa II?

      DI KAISAREA pada tahun 58 M, Gubernur Romawi Porkius Festus dikunjungi oleh Raja Herodes Agripa II dan adik perempuannya, Bernike. Atas undangan Gubernur Festus tersebut, mereka datang ”dengan memamerkan segala kemegahan lalu masuk ke ruang audiensi bersama komandan-komandan militer dan juga pria-pria terkemuka di kota itu”. Atas perintah Festus, rasul Kristen Paulus dibawa masuk menghadap mereka. Bagaimana kejadiannya sampai pengikut Yesus Kristus ini berdiri di hadapan kursi penghakiman Gubernur Festus?​—Kisah 25:13-23.

      2 Apa yang Festus katakan kepada tamu-tamunya memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Ia mengatakan, ”Raja Agripa dan kamu sekalian yang hadir bersama kami, kamu melihat pria ini, yang diadukan kepadaku oleh segenap orang Yahudi yang besar jumlahnya, baik di Yerusalem maupun di sini, dengan berteriak-teriak bahwa dia tidak boleh hidup lebih lama lagi. Tetapi aku menyadari bahwa dia tidak melakukan sesuatu pun yang membuatnya patut mati. Maka ketika pria ini meminta banding kepada Yang Agung, aku memutuskan untuk mengirim dia. Namun tidak ada sesuatu yang pasti tentang dia yang dapat aku tuliskan kepada Tuanku. Karena itu aku membawa dia ke hadapan kamu, dan teristimewa ke hadapan engkau, Raja Agripa, agar setelah pemeriksaan pengadilan berlangsung, aku bisa mendapatkan sesuatu untuk ditulis. Karena bagiku tampaknya tidak masuk akal untuk mengirim seorang tahanan tanpa menunjukkan juga tuduhan-tuduhan yang diajukan terhadapnya.”​—Kisah 25:​24-​27.

      3. Mengapa para pemimpin agama melontarkan tuduhan terhadap Paulus?

      3 Kata-kata Festus menunjukkan bahwa Paulus menghadapi tuduhan palsu, yakni menghasut​—suatu kejahatan yang mendatangkan hukuman mati. (Kisah 25:11) Namun, Paulus tidak bersalah. Tuduhan itu berasal dari kedengkian para pemimpin agama di Yerusalem. Mereka menentang pekerjaan Paulus sebagai pemberita Kerajaan dan sangat jengkel karena ia membantu orang-orang lain menjadi pengikut Yesus Kristus. Di bawah pengawalan ketat, Paulus dibawa dari Yerusalem ke kota pelabuhan Kaisarea, tempat ia meminta banding kepada Kaisar. Dari sana ia hendak dibawa ke Roma.

      4. Pernyataan mengejutkan apa yang diucapkan Raja Agripa?

      4 Bayangkan Paulus berada di istana gubernur di hadapan sekelompok orang, termasuk penguasa dari bagian penting Kekaisaran Romawi. Raja Agripa berpaling kepada Paulus dan berkata, ”Engkau diizinkan berbicara.” Seraya kata-kata mengalir dari mulut Paulus, sesuatu yang luar biasa terjadi. Apa yang Paulus katakan mulai mempengaruhi sang raja. Malahan, Raja Agripa mengatakan, ”Dalam waktu singkat engkau akan meyakinkan aku menjadi orang Kristen!”​—Kisah 26:​1-28.

      5. Mengapa kata-kata Paulus kepada Agripa begitu efektif?

      5 Coba pikirkan! Sebagai hasil pembelaan Paulus yang terampil, seorang penguasa dipengaruhi oleh kuasa Firman Allah yang menembus sangat dalam. (Ibrani 4:​12) Apa yang membuat pembelaan Paulus begitu efektif? Dan, apa yang dapat kita pelajari dari Paulus untuk membantu kita dalam pekerjaan menjadikan murid? Jika kita menganalisis pembelaannya, ada dua pokok utama yang menonjol: (1) Paulus berlaku persuasif dalam persembahannya. (2) Ia menggunakan dengan terampil pengetahuannya tentang Firman Allah, persis seperti seorang perajin menggunakan sebuah alat dengan efektif.

      Gunakan Seni Persuasi

      6, 7. (a) Sebagaimana penggunaannya dalam Alkitab, apa arti ”meyakinkan”? (b) Peranan apa yang dimainkan oleh persuasi dalam membantu orang lain menerima suatu ajaran Alkitab?

      6 Dalam buku Kisah, istilah Yunani untuk persuasi berulang kali digunakan sewaktu melukiskan pengabaran Paulus. Apa makna kata ini dalam kaitannya dengan pekerjaan kita untuk menjadikan murid?

      7 Dalam bahasa asli Kitab-Kitab Yunani Kristen, ”meyakinkan” berarti ”mempersuasi orang agar percaya” atau menghasilkan ”perubahan pikiran melalui pengaruh penalaran atau pertimbangan moral”, kata Expository Dictionary of New Testament Words karya Vine. Menyelidiki makna dasarnya membuat kita lebih memahaminya lagi. Kata ini mengandung gagasan percaya. Oleh karena itu, jika Saudara mempersuasi seseorang untuk menerima suatu ajaran Alkitab, Saudara telah memperoleh kepercayaannya, sehingga ia menaruh iman akan kebenaran ajaran itu. Jelaslah, tidaklah cukup memberi tahu seseorang apa yang Alkitab katakan agar ia dapat mempercayainya dan bertindak selaras dengan hal itu. Pendengar Saudara harus diyakinkan bahwa apa yang Saudara katakan itu benar, tidak soal pribadi itu adalah seorang anak, tetangga, rekan sekerja, teman sekolah, atau kerabat.​—2 Timotius 3:​14, 15.

      8. Apa yang tercakup dalam meyakinkan seseorang akan kebenaran Alkitab?

      8 Bagaimana Saudara dapat meyakinkan seseorang bahwa apa yang Saudara beritakan dari Firman Allah adalah kebenaran? Melalui penalaran yang logis, argumen yang kuat, dan permohonan yang tulus, Paulus berupaya mengubah pikiran orang-orang yang ia ajak bicara.a Oleh karena itu, ketimbang sekadar menyatakan bahwa sesuatu itu benar, Saudara perlu menyediakan bukti yang memuaskan untuk mendukung pernyataan Saudara. Bagaimana hal ini dapat dilakukan? Pastikan bahwa pernyataan Saudara dengan kukuh didasarkan pada Firman Allah dan bukan pada pendapat pribadi. Selain itu, gunakan bukti tambahan untuk mendukung pernyataan tulus Saudara yang berdasarkan Alkitab. (Amsal 16:23) Misalnya, jika Saudara menunjukkan bahwa umat manusia yang taat akan menikmati kehidupan dalam bumi firdaus, dukunglah pernyataan itu dengan referensi Alkitab, seperti Lukas 23:43 atau Yesaya 65:​21-​25. Bagaimana Saudara dapat menyediakan bukti tambahan atas pokok Alkitab yang Saudara sampaikan? Saudara bisa menggunakan contoh-contoh dari pengalaman pendengar Saudara. Saudara dapat mengingatkan dia akan kenikmatan sederhana yang diperoleh secara cuma-cuma dari indahnya matahari terbenam, harumnya bunga, lezatnya buah, atau kesenangan yang didapat dari memperhatikan seekor induk burung menyuapi anaknya yang masih kecil. Bantulah dia untuk memahami bahwa kesenangan demikian merupakan bukti bahwa sang Pencipta menginginkan kita menikmati kehidupan di bumi.​—Pengkhotbah 3:​11, 12.

      9. Bagaimana kita dapat memperlihatkan sikap masuk akal dalam pekerjaan pengabaran kita?

      9 Sewaktu berupaya mempersuasi seseorang untuk menerima ajaran Alkitab tertentu, berhati-hatilah agar antusiasme Saudara tidak membuat Saudara tampak dogmatis, sehingga menutup pikiran dan hati pendengar Saudara. Buku Sekolah Pelayanan memberikan peringatan ini, ”Menyatakan kebenaran secara blak-blakan untuk membeberkan salahnya suatu kepercayaan yang dengan sepenuh hati dianut oleh orang lain, sekalipun didukung dengan pengutipan sederetan ayat Alkitab, pada umumnya tidak akan disambut baik. Misalnya, jika perayaan yang populer secara blak-blakan dinyatakan berasal dari kekafiran, hal itu mungkin tidak akan mengubah perasaan orang lain terhadap kepercayaan tersebut. Bertukar pikiran merupakan pendekatan yang biasanya paling jitu.” Mengapa kita hendaknya membuat upaya terpadu agar bersikap masuk akal? Buku panduan tersebut mengatakan, ”Seni bertukar pikiran akan menghasilkan diskusi, memberi orang masukan yang dapat dipikirkan lagi kelak, dan membuka jalan untuk percakapan di kemudian hari. Seni bertukar pikiran merupakan teknik persuasi yang ampuh.”​—Kolose 4:6.

      Persuasi yang Menggugah Hati

      10. Dengan cara bagaimana Paulus mengantar pembelaannya di hadapan Agripa?

      10 Sekarang, mari kita cermati kata-kata pembelaan Paulus yang terdapat di Kisah pasal 26. Perhatikan cara ia memulai ceramahnya. Untuk mengantar pokok bahasannya, Paulus mencari dasar yang sah untuk memuji Agripa, meskipun sang raja memiliki hubungan yang memalukan dengan adik perempuannya, Bernike. Paulus mengatakan, ”Sehubungan dengan segala perkara yang dituduhkan orang-orang Yahudi terhadapku, Raja Agripa, aku menganggap diriku berbahagia bahwa di hadapan engkaulah aku membuat pembelaan pada hari ini, teristimewa karena engkau ahli dalam semua kebiasaan maupun perbantahan di antara orang-orang Yahudi. Maka aku memohon kepadamu untuk mendengar aku dengan sabar.”​—Kisah 26:​2, 3.

      11. Bagaimana kata-kata Paulus kepada Agripa mempertunjukkan respek, dan manfaat apa yang dihasilkan?

      11 Apakah Saudara memperhatikan bahwa Paulus mengakui kedudukan tinggi Agripa dengan menyapanya dengan jabatannya, yakni Raja? Hal ini memperlihatkan respek, dan dengan pilihan kata yang bijaksana, Paulus menunjukkan hormat kepada Agripa. (1 Petrus 2:17) Sang rasul mengakui Agripa sebagai seorang ahli dalam kebiasaan dan hukum yang rumit dari rakyat Yahudinya dan mengatakan bahwa ia senang dapat membuat pembelaannya di hadapan penguasa yang berwawasan luas ini. Paulus, seorang Kristen, tidak bertindak seolah-olah ia merasa lebih unggul daripada Agripa, yang bukan orang Kristen. (Filipi 2:3) Sebaliknya, Paulus memohon agar sang raja mendengarkannya dengan sabar. Dengan cara begitu, Paulus menciptakan suasana yang di dalamnya Agripa, dan juga pendengar lainnya, kemungkinan besar akan lebih mau mendengarkan apa yang hendak ia sampaikan. Ia membubuh dasar pengertian yang sama dan bersifat umum yang di atasnya ia membangun argumen-argumennya.

      12. Dalam pekerjaan pemberitaan Kerajaan, bagaimana kita dapat menggugah hati pendengar kita?

      12 Seperti Paulus di hadapan Agripa, dari kata pengantar hingga kata penutup sewaktu mempersembahkan berita Kerajaan kita, marilah kita menggugah hati para pendengar. Kita dapat melakukannya dengan memperlihatkan respek yang tulus kepada orang yang kita kabari dan dengan memperlihatkan minat yang sungguh-sungguh akan latar belakang serta cara berpikirnya.​—1 Korintus 9:20-23.

      Gunakan Firman Allah dengan Terampil

      13. Bagaimana Saudara, seperti halnya Paulus, dapat memotivasi pendengar Saudara?

      13 Paulus ingin memotivasi para pendengarnya untuk bertindak selaras dengan kabar baik. (1 Tesalonika 1:5-7) Untuk tujuan itu, ia menggugah hati mereka, pusat motivasi. Seraya kita membahas lebih lanjut pembelaan Paulus di hadapan Agripa, perhatikan bagaimana Paulus ’menangani firman Allah dengan tepat’ dengan berbicara tentang hal-hal yang dinyatakan oleh Musa dan para nabi.​—2 Timotius 2:15.

      14. Jelaskan bagaimana Paulus menggunakan persuasi sewaktu berada di hadapan Agripa.

      14 Paulus tahu bahwa Agripa adalah orang Yahudi secara nominal. Dengan menggugah pengetahuan Agripa tentang Yudaisme, Paulus mengajukan penalaran bahwa pengabarannya benar-benar mencakup ”tidak mengatakan hal-hal lain kecuali apa yang oleh Para Nabi maupun Musa, dinyatakan akan terjadi” mengenai kematian dan kebangkitan Mesias. (Kisah 26:22, 23) Sambil menyapa Agripa secara langsung, Paulus bertanya, ”Apakah engkau, Raja Agripa, percaya kepada Para Nabi?” Agripa menghadapi suatu dilema. Jika ia mengatakan bahwa ia menolak para nabi, reputasinya sebagai penganut agama Yahudi bakal hancur. Tetapi, jika ia setuju dengan penalaran Paulus, ia akan mengambil sikap di hadapan umum untuk sependapat dengan sang rasul dan akan mengambil risiko disebut sebagai orang Kristen. Dengan bijaksana, Paulus menjawab sendiri pertanyaannya, dengan mengatakan, ”Aku tahu engkau percaya.” Bagaimana hati Agripa menggerakkannya untuk menjawab? Ia menyahut, ”Dalam waktu singkat engkau akan meyakinkan aku menjadi orang Kristen.” (Kisah 26:​27, 28) Meskipun Agripa tidak menjadi orang Kristen, Paulus tampaknya mempengaruhi hati Agripa sampai taraf tertentu dengan beritanya.​—Ibrani 4:​12.

      15. Bagaimana Paulus dapat mendirikan sebuah sidang di Tesalonika?

      15 Apakah Saudara memperhatikan bahwa dalam mempersembahkan kabar baik, Paulus menggunakan baik pernyataan maupun persuasi? Karena Paulus menggunakan pendekatan itu seraya ia ’menangani firman Allah dengan tepat’, beberapa orang yang mendengarkan dia berubah dari sekadar pendengar menjadi orang percaya. Inilah yang terjadi di Tesalonika, tempat Paulus mencari orang Yahudi dan orang non-Yahudi yang takut akan Allah di sinagoga. Catatan di Kisah 17:​2-4 mengatakan, ”Sesuai dengan kebiasaan Paulus, ia masuk menemui mereka, dan selama tiga sabat ia bertukar pikiran dengan mereka dari Tulisan-Tulisan Kudus, ia menjelaskan dan membuktikan dengan referensi bahwa Kristus perlu menderita dan bangkit dari antara orang mati . . . Sebagai hasilnya, beberapa dari mereka menjadi orang percaya.” Paulus bersikap persuasif. Ia bertukar pikiran, menjelaskan, dan membuktikan dari Alkitab bahwa Yesus adalah Mesias yang telah lama dijanjikan. Hasilnya? Sebuah sidang jemaat yang terdiri atas orang-orang percaya didirikan.

      16. Bagaimana Saudara dapat memperoleh kesenangan yang lebih besar dalam memberitakan Kerajaan?

      16 Dapatkah Saudara menjadi lebih terampil dalam seni persuasi sewaktu menjelaskan Firman Allah? Jika demikian, Saudara akan memperoleh lebih banyak kepuasan dan kesenangan pribadi dalam pekerjaan Saudara mengabar dan mengajar orang-orang tentang Kerajaan Allah. Inilah yang dirasakan para penyiar kabar baik yang telah menerapkan saran-saran untuk lebih banyak menggunakan Alkitab dalam pekerjaan pengabaran.

      17. Untuk memperlihatkan bagaimana penggunaan Alkitab dalam pelayanan kita bermanfaat, ceritakan suatu pengalaman pribadi atau berikan intisari tentang hal itu dalam paragraf ini.

      17 Sebagai contoh, seorang pengawas keliling Saksi-Saksi Yehuwa menulis, ”Cukup banyak saudara-saudari kini membawa Alkitab di tangan mereka sewaktu memberikan kesaksian dari rumah ke rumah. Hal ini telah membantu para penyiar itu membacakan satu ayat kepada banyak orang yang mereka jumpai. Hal ini bermanfaat bagi penghuni rumah maupun sang penyiar untuk menghubungkan pelayanan kita dengan Alkitab, bukan hanya majalah dan buku.” Tentu saja, soal apakah kita membuka Alkitab sewaktu melakukan kegiatan pengabaran bergantung pada beragam faktor, termasuk kebiasaan setempat. Meskipun demikian, kita hendaknya ingin memiliki reputasi karena menggunakan Firman Allah dengan terampil untuk mempersuasi orang lain agar menerima berita Kerajaan.

      Milikilah Pandangan Allah tentang Pelayanan

      18, 19. (a) Bagaimana Allah memandang pelayanan kita, dan mengapa kita hendaknya memupuk sudut pandangan-Nya? (b) Apa yang akan membantu kita berhasil mengadakan kunjungan kembali? (Lihat kotak berjudul ”Cara untuk Berhasil Mengadakan Kunjungan Kembali”, di halaman 16.)

      18 Suatu cara lain untuk mencapai hati pendengar kita mencakup melihat pelayanan dari sudut pandangan Allah dan bersikap sabar. Kehendak Allah adalah agar segala macam orang ”memperoleh pengetahuan yang saksama tentang kebenaran”. (1 Timotius 2:3, 4) Bukankah itu hasrat kita? Yehuwa juga bersikap sabar, dan kesabaran-Nya memberikan kesempatan bagi banyak orang untuk bertobat. (2 Petrus 3:9) Jadi, apabila kita menemukan seseorang yang mau mendengarkan berita Kerajaan, kita mungkin perlu mengunjunginya berulang kali agar dapat memupuk minatnya. Dibutuhkan waktu dan kesabaran untuk melihat benih-benih kebenaran bertumbuh. (1 Korintus 3:6) Kotak sisipan yang berjudul ”Cara untuk Berhasil Mengadakan Kunjungan Kembali” memberikan saran-saran untuk mengembangkan minat demikian. Ingatlah, kehidupan orang-orang​—problem dan keadaan mereka​—senantiasa berubah. Barangkali kita perlu berupaya berkali-kali untuk menjumpai mereka di rumah, tetapi upaya itu tidak sia-sia. Kita ingin memberi mereka kesempatan untuk mendengarkan berita Allah tentang keselamatan. Oleh karena itu, berdoalah kepada Allah Yehuwa memohon hikmat untuk mengembangkan keterampilan persuasi Saudara dalam pekerjaan Saudara membantu orang lain menerima berita Kerajaan.

      19 Begitu kita menjumpai orang yang ingin lebih banyak mendengarkan berita Kerajaan, apa lagi yang dapat kita lakukan sebagai pekerja Kristen? Artikel kita yang berikut akan memberikan saran-saran.

      [Catatan Kaki]

      a Untuk mendapatkan lebih banyak informasi tentang persuasi, lihat pelajaran 48 dan 49 dalam buku Memperoleh Manfaat dari Pendidikan Sekolah Pelayanan Teokratis, yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.

  • Mengabar untuk Menjadikan Murid
    Menara Pengawal—2003 | 15 November
    • Mengabar untuk Menjadikan Murid

      ”Ketika Priskila dan Akuila mendengar [Apolos], mereka mengajaknya dan menjelaskan secara terperinci jalan Allah dengan lebih tepat kepadanya.”​—KISAH 18:26.

      1. Meskipun Apolos ”berkobar dengan roh”, apa yang ia butuhkan?

      PRISKILA dan Akuila, sepasang suami istri Kristen pada abad pertama, mengamati Apolos yang sedang menyampaikan khotbah di sebuah sinagoga di kota Efesus. Dengan kata-katanya yang fasih serta daya persuasi, Apolos memikat perhatian para pendengarnya. Ia ”berkobar dengan roh”, dan ”mengajarkan dengan tepat hal-hal tentang Yesus”. Namun, tampaknya Apolos ”hanya mengetahui pembaptisan Yohanes”. Apa yang Apolos beritakan tentang Kristus memang benar tetapi terbatas. Masalahnya ialah pengetahuannya belum lengkap. Apolos perlu mengembangkan pengetahuannya tentang peranan Yesus Kristus dalam mewujudkan maksud-tujuan Yehuwa.​—Kisah 18:24-26.

      2. Tantangan apa yang Priskila dan Akuila terima?

      2 Tanpa ragu, Priskila dan Akuila menawarkan diri untuk membantu Apolos menjadi orang yang dapat menjalankan ”semua perkara” yang Kristus perintahkan. (Matius 28:19, 20) Catatan itu mengatakan bahwa mereka ”mengajak [Apolos] dan menjelaskan secara terperinci jalan Allah dengan lebih tepat kepadanya”. Namun, ada fakta-fakta tentang Apolos yang mungkin membuat beberapa orang Kristen menjadi enggan mengajar dia. Fakta apa sajakah itu? Selain itu, apa yang dapat kita pelajari dari upaya Priskila dan Akuila untuk membahas Alkitab bersama Apolos? Bagaimana suatu tinjauan dari catatan sejarah ini dapat membantu kita memfokuskan upaya untuk memulai pengajaran Alkitab di rumah?

      Perhatikan Kebutuhan Orang-Orang

      3. Mengapa latar belakang Apolos tidak mencegah Priskila dan Akuila untuk mengajar dia?

      3 Meskipun terlahir sebagai keturunan Yahudi, Apolos tampaknya dibesarkan di kota Aleksandria. Pada waktu itu, Aleksandria adalah ibu kota Mesir dan pusat pendidikan tinggi, yang terkenal karena perpustakaannya yang luas. Di kota itu terdapat populasi Yahudi yang besar, termasuk para cendekiawannya. Oleh karena itu, terjemahan Yunani dari Kitab-Kitab Ibrani yang dikenal sebagai Septuaginta dihasilkan di sana. Tidaklah mengherankan bahwa Apolos ”ahli di bidang Tulisan-Tulisan Kudus”! Akuila dan Priskila adalah pembuat kemah. Apakah kefasihan Apolos menciutkan hati mereka? Tidak. Karena didorong oleh kasih, mereka memperhatikan orang itu, kebutuhannya, dan cara mereka dapat membantunya.

      4. Di mana dan bagaimana Apolos menerima bantuan yang ia butuhkan?

      4 Tidak soal seberapa fasih Apolos, ia membutuhkan bimbingan. Bantuan yang ia butuhkan tidak ada di universitas mana pun, tetapi terdapat di antara sesama anggota sidang Kristen. Apolos akan memperoleh manfaat dari pokok-pokok yang akan menghasilkan pemahaman yang lebih akurat tentang penyelenggaraan Allah demi keselamatan. Priskila dan Akuila ”mengajaknya dan menjelaskan secara terperinci jalan Allah dengan lebih tepat kepadanya”.

      5. Apa yang dapat Saudara katakan tentang kerohanian Priskila dan Akuila?

      5 Priskila dan Akuila kuat secara rohani dan memiliki dasar iman yang kukuh. Kemungkinan besar, mereka ’selalu siap membuat pembelaan di hadapan setiap orang yang menuntut dari mereka alasan untuk harapan mereka’, tidak soal orang itu adalah orang kaya, orang miskin, seorang cendekiawan, atau seorang budak. (1 Petrus 3:​15) Akuila dan istrinya dapat ”menangani firman kebenaran dengan tepat”. (2 Timotius 2:15) Jelaslah, mereka adalah pelajar yang serius dari Tulisan-Tulisan Kudus. Apolos sangat tersentuh oleh bimbingan yang didasarkan pada ’firman Allah yang hidup dan mengerahkan kuasa’ yang menggugah hatinya ini.​—Ibrani 4:​12.

      6. Bagaimana kita tahu bahwa Apolos menghargai bantuan yang ia terima?

      6 Apolos menghargai teladan para pengajarnya dan bahkan menjadi semakin cakap dalam menjadikan murid. Ia menggunakan pengetahuannya dengan efektif dalam pekerjaan memberitakan kabar baik, khususnya di tengah-tengah populasi Yahudi. Apolos benar-benar berguna dalam mempersuasi orang Yahudi tentang Kristus. ’Karena penuh kuasa dalam menggunakan Tulisan-Tulisan Kudus’, ia dapat membuktikan kepada mereka bahwa semua nabi di zaman dahulu menanti-nantikan kedatangan Kristus. (Kisah 18:24, Kingdom Interlinear Translation) Catatan itu menambahkan bahwa Apolos selanjutnya pergi ke Akhaya, tempat ”ia banyak menolong mereka yang telah percaya karena kebaikan hati Allah yang tidak selayaknya diperoleh; sebab dengan penuh semangat, ia membuktikan dengan saksama di hadapan umum bahwa orang-orang Yahudi salah, sambil mempertunjukkan dari Tulisan-Tulisan Kudus bahwa Yesus adalah Kristus”.​—Kisah 18:27, 28.

      Belajarlah dari Teladan Pengajar yang Lain

      7. Bagaimana Akuila dan Priskila menjadi pengajar yang terampil?

      7 Bagaimana Akuila dan Priskila menjadi pengajar yang mahir dari Firman Allah? Selain kerajinan mereka dalam belajar pribadi dan hadir di perhimpunan, pergaulan mereka yang akrab dengan rasul Paulus pastilah telah banyak membantu. Selama 18 bulan, Paulus tinggal di rumah Priskila dan Akuila di Korintus. Mereka bekerja bersama untuk membuat dan memperbaiki kemah. (Kisah 18:2, 3) Bayangkanlah percakapan yang mendalam tentang topik-topik Alkitab yang pasti berlangsung. Dan, pastilah pergaulan dengan Paulus seperti itu bermanfaat bagi kerohanian mereka! ”Ia yang berjalan dengan orang-orang berhikmat akan menjadi berhikmat,” kata Amsal 13:20. Pergaulan yang baik berdampak positif terhadap kebiasaan rohani mereka.​—1 Korintus 15:33.

      8. Apa yang Priskila dan Akuila pelajari dengan mengamati Paulus dalam pelayanannya?

      8 Sewaktu Priskila dan Akuila mengamati Paulus sebagai pemberita Kerajaan, mereka melihat teladan yang sangat bagus dari seorang pengajar yang baik. Catatan di buku Kisah menyatakan bahwa ”pada setiap hari sabat, [Paulus] menyampaikan khotbah di sinagoga [di Korintus] dan meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani”. Belakangan, sewaktu ia disertai oleh Silas dan Timotius, Paulus ”mulai luar biasa sibuk dengan firman, memberikan kesaksian kepada orang Yahudi untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Kristus”. Ketika hanya ada sedikit yang berminat di antara para anggota sinagoga, Priskila dan Akuila memperhatikan bahwa Paulus memindahkan pusat kegiatan pengabarannya ke lokasi yang lebih menguntungkan, sebuah rumah yang bersebelahan dengan sinagoga itu. Di sana, Paulus dapat membantu Krispus, ”ketua sinagoga itu”, menjadi seorang murid. Kemungkinan besar, Priskila dan Akuila memperhatikan bahwa membuat orang seperti itu menjadi murid memiliki dampak yang menyeluruh dan produktif di daerah tersebut. Catatan itu menyatakan, ”Krispus . . . menjadi orang yang percaya kepada Tuan, demikian pula seluruh rumah tangganya. Dan banyak dari orang-orang Korintus yang mendengar mulai percaya dan dibaptis.”​—Kisah 18:4-8.

      9. Bagaimana Priskila dan Akuila menanggapi teladan Paulus?

      9 Teladan Paulus dalam dinas lapangan ditiru oleh para pemberita Kerajaan lainnya, seperti Priskila dan Akuila. Sang rasul mendesak orang Kristen lainnya, ”Jadilah peniruku, sama seperti aku juga menjadi peniru Kristus.” (1 Korintus 11:1) Selaras dengan teladan Paulus, Priskila dan Akuila membantu Apolos memahami ajaran Kristen dengan lebih tepat. Selanjutnya, Apolos membantu orang-orang lain. Priskila dan Akuila pastilah ikut menjadikan murid-murid di Roma, Korintus, dan Efesus.​—Kisah 18:1, 2, 18, 19; Roma 16:3-5.

      10. Apa yang telah Saudara pelajari dari Kisah pasal 18 yang akan membantu Saudara dalam pekerjaan menjadikan murid?

      10 Apa yang dapat kita pelajari dari pembahasan kita tentang Kisah pasal 18? Nah, sama seperti Akuila dan Priskila mungkin telah belajar dari Paulus, kita dapat mengembangkan keterampilan kita menjadikan murid dengan mengikuti teladan para pengajar yang baik dari Firman Allah. Kita dapat bergaul dengan mereka yang ”luar biasa sibuk dengan firman” dan yang ”memberikan kesaksian dengan saksama” kepada orang-orang lain. (Kisah 18:5, Kingdom Interlinear Translation) Kita dapat mengamati bagaimana mereka mencapai hati orang-orang dengan menggunakan keterampilan mengajar yang persuasif. Keterampilan demikian dapat membantu kita menjadikan murid. Sewaktu seseorang belajar Alkitab bersama kita, kita bisa menyarankan agar ia mengundang anggota keluarganya yang lain atau tetangganya untuk ikut dalam pelajaran itu. Atau, kita bisa memintanya untuk memberi tahu kita orang-orang lain yang dapat kita tawari pengajaran Alkitab.​—Kisah 18:6-8.

      Ciptakan Kesempatan untuk Menjadikan Murid

      11. Di mana kita dapat menemukan murid-murid baru?

      11 Paulus dan rekan-rekan Kristennya berupaya menjadikan murid dengan mengabar dari rumah ke rumah, di pasar, dan selama dalam perjalanan mereka​—sesungguhnya, di mana-mana. Dalam upaya menjadikan murid, sebagai pekerja Kerajaan yang bergairah, dapatkah Saudara meluaskan kegiatan dinas lapangan Saudara? Dapatkah Saudara memanfaatkan kesempatan untuk mencari orang-orang yang layak dan mengabar kepada mereka? Dengan cara apa saja rekan-rekan penyiar kabar baik telah menemukan murid-murid? Mari kita pertama-tama perhatikan ladang kesaksian lewat telepon.

      12-14. Untuk mengilustrasikan manfaat dari kesaksian lewat telepon, ceritakan pengalaman Saudara sendiri atau salah satu pengalaman yang terdapat dalam paragraf-paragraf ini.

      12 Sewaktu memberikan kesaksian dari rumah ke rumah di Brasil, seorang wanita Kristen yang kita sebut Maria menyerahkan sebuah risalah kepada seorang wanita muda yang hendak meninggalkan sebuah gedung apartemen. Dengan menggunakan judul risalah itu sebagai kata pengantar, Maria bertanya, ”Maukah Anda lebih mengenal Alkitab?” Wanita itu menjawab, ”Saya mau. Masalahnya ialah saya seorang guru, dan mengajar telah menyita seluruh waktu saya.” Maria menjelaskan bahwa mereka dapat membahas topik-topik Alkitab lewat telepon. Wanita itu memberi Maria nomor teleponnya, dan pada malam harinya, ia memulai pelajaran lewat telepon dengan menggunakan brosur Apa yang Allah Tuntut dari Kita?a

      13 Sewaktu mengadakan kesaksian lewat telepon, seorang saudari rohaniwan sepenuh waktu di Etiopia terkejut ketika ia berbicara kepada seorang pria tetapi ia mendengar keributan di latar belakangnya. Pria itu meminta dia untuk meneleponnya lain kali. Sewaktu saudari itu menelepon lagi, pria itu meminta maaf dan mengatakan bahwa pada saat saudari itu menelepon sebelumnya, pria itu dan istrinya tengah bertengkar. Saudari itu menggunakan pernyataan tersebut sebagai kesempatan untuk menunjukkan bimbingan bijaksana yang diberikan Alkitab untuk mengatasi problem keluarga. Ia memberi tahu pria itu bahwa banyak keluarga telah dibantu dengan buku Rahasia Kebahagiaan Keluarga, yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Beberapa hari setelah buku tersebut disampaikan, saudari itu menelepon kembali sang pria. Pria itu berseru, ”Buku ini telah menyelamatkan perkawinan saya!” Malah, ia telah mengadakan pertemuan keluarga guna membagikan pokok-pokok menarik yang telah ia baca di buku itu. Suatu pengajaran Alkitab di rumah pun dimulai, dan tak lama kemudian pria itu mulai menghadiri perhimpunan Kristen dengan teratur.

      14 Seorang pemberita Kerajaan di Denmark yang memulai suatu pengajaran Alkitab melalui kesaksian lewat telepon mengatakan, ”Pengawas dinas menganjurkan saya untuk ikut dalam kesaksian lewat telepon. Pada mulanya, saya ragu-ragu, dengan mengatakan, ’Itu bukan kegiatan yang saya sukai.’ Namun, pada suatu hari saya mengerahkan keberanian dan mulai menelepon rumah pertama. Sonja menjawab dan, setelah percakapan singkat, ia mau menerima lektur Alkitab. Pada suatu malam, kami membahas pokok tentang penciptaan, dan ia ingin membaca buku Kehidupan​—Bagaimana Asal Mulanya? Melalui Evolusi atau melalui Penciptaan.b Saya mengatakan bahwa akan menyenangkan seandainya saya dapat bertemu muka dengannya dan membahas pokok ini. Ia setuju. Sonja telah siap untuk pelajaran itu sewaktu saya datang, dan sejak saat itu, kami belajar setiap minggu.” Saudari kita menyimpulkan, ”Selama bertahun-tahun saya telah berdoa memohon suatu pengajaran Alkitab, tetapi saya tidak menyangka bakal mendapatkannya melalui kesaksian lewat telepon.”

      15, 16. Pengalaman apa saja yang dapat Saudara ceritakan yang memperlihatkan manfaat karena tanggap memulai pengajaran Alkitab dengan berbagai cara?

      15 Banyak penyiar menikmati sukses karena menerapkan saran-saran untuk memberikan kesaksian kepada orang-orang di mana pun mereka berada. Seorang wanita Kristen di Amerika Serikat memarkir mobilnya di samping sebuah minibus angkutan di areal parkir. Sewaktu wanita di dalam mobil itu melihatnya, saudari itu mulai menjelaskan hakikat pekerjaan pendidikan Alkitab kita. Wanita itu mendengarkan, keluar dari mobilnya, dan mendekati mobil saudari itu. Ia mengatakan, ”Saya senang sekali Anda telah menghentikan mobil untuk berbicara dengan saya. Saya sudah lama tidak memiliki lektur Alkitab Anda yang mana pun. Selain itu, saya ingin belajar Alkitab lagi. Maukah Anda belajar dengan saya?” Jadi, saudari kita telah menciptakan situasi yang menyenangkan untuk membagikan kabar baik.

      16 Seorang saudari di Amerika Serikat mendapat pengalaman berikut ini sewaktu ia mengunjungi sebuah panti werda: Ia mendekati seorang penanggung jawab atas kegiatan tertentu di fasilitas itu dan memberi tahu pria itu bahwa ia ingin merelakan diri untuk membantu memenuhi kebutuhan rohani para penghuni panti. Saudari kita menambahkan bahwa ia akan senang memimpin pengajaran Alkitab mingguan secara cuma-cuma dengan semua yang ingin mengikutinya. Sang penanggung jawab mengizinkan dia mengunjungi kamar para penghuni. Tak lama kemudian, ia memimpin pengajaran Alkitab tiga kali seminggu dengan 26 penghuni, salah seorang di antaranya bisa menghadiri perhimpunan dengan teratur.

      17. Pendekatan apa sering kali terbukti efektif untuk memulai pengajaran Alkitab?

      17 Bagi beberapa pemberita Kerajaan, langsung menawarkan pengajaran Alkitab membuahkan hasil yang baik. Pada suatu pagi, sebuah sidang dengan 105 penyiar mengerahkan upaya khusus untuk menawarkan pengajaran Alkitab kepada setiap penghuni rumah yang mereka jumpai. Delapan puluh enam penyiar berpartisipasi dalam dinas lapangan, dan setelah berdinas selama dua jam, mereka mendapati bahwa sedikit-dikitnya 15 pengajaran Alkitab telah dimulai.

      Teruslah Cari Orang yang Layak

      18, 19. Petunjuk penting apa dari Yesus yang hendaknya kita ingat, dan untuk tujuan itu kita hendaknya bertekad untuk melakukan apa?

      18 Sebagai pemberita Kerajaan, Saudara mungkin ingin mencoba saran-saran yang disebutkan dalam artikel ini. Tentu saja, akan bijaksana untuk mempertimbangkan kebiasaan setempat sewaktu memikirkan metode-metode untuk memberikan kesaksian. Terutama sekali, marilah kita ingat petunjuk Yesus untuk mencari orang-orang yang layak dan membantu pribadi-pribadi seperti itu menjadi murid.​—Matius 10:11; 28:19.

      19 Untuk tujuan itu, semoga kita ”menangani firman kebenaran dengan tepat”. Kita dapat melakukannya dengan menggunakan persuasi yang secara kukuh didasarkan pada Alkitab. Hal ini akan membantu kita menyentuh hati orang-orang yang suka menyambut dan menggerakkan mereka untuk bertindak. Seraya kita dengan sungguh-sungguh bersandar pada Yehuwa, kita dapat ikut membantu beberapa orang menjadi murid Yesus Kristus. Dan, pekerjaan ini benar-benar memuaskan! Oleh karena itu, marilah kita ’berupaya sebisa-bisanya untuk mempersembahkan diri kita kepada Allah sebagai orang yang diperkenan’, senantiasa menghormati Yehuwa sebagai pemberita Kerajaan yang bergairah, yang mengabar dengan tujuan menjadikan murid.​—2 Timotius 2:15.

      [Catatan Kaki]

      a Diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.

      b Diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan