PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Halaman Dua
    Sedarlah!—1990 (No. 35) | Sedarlah!—1990 (No. 35)
    • Manusia merusak hutan-hutan tropis di bumi.

      Padahal, hutan-hutan ini sangat penting bagi kehidupan di atas planet ini. Mereka adalah pabrik-pabrik yang senyap dan indah—memproduksi oksigen, makanan, benda-benda hidup yang tak terhitung banyaknya. Jika semua hutan dimusnahkan, kehidupan di bumi akan sangat menderita. Dan hutan-hutan ini sedang lenyap dengan cepat! ”Hanya Allah yang dapat menciptakan pohon,” tulis seorang penyair. Benar. Namun tidak ada yang memusnahkannya sehebat manusia.

  • Lenyap dalam Sekejap!
    Sedarlah!—1990 (No. 35) | Sedarlah!—1990 (No. 35)
    • Lenyap dalam Sekejap!

      ANDA berjalan-jalan di suatu kawasan yang serba hijau di kala senja hari, di antara deretan pepohonan yang menjulang setinggi bangunan 15 tingkat. Di atas anda terdapat beraneka ragam kehidupan, ekosfer yang paling padat dan kaya di bumi. Pepohonan itu dihiasi tumbuh-tumbuhan merambat yang panjangnya ratusan atau bahkan ribuan meter dan dililiti tanaman-tanaman yang menempel pada seluruh batang dan cabang-cabangnya. Bunga-bunga tropis yang rimbun memenuhi udara rumah kaca yang hening dengan baunya yang harum.

      Inilah hutan tropis. Namun ini bukan sekedar tempat yang indah, bukan sekedar deretan pepohonan yang padat dan berkabut yang ditimpa berkas-berkas sinar matahari. Hutan merupakan mesin yang sangat rumit yang bagian-bagiannya bekerja sama dengan sangat teliti.

      Daerah seperti ini penuh dengan kehidupan, suatu variasi yang tak ada bandingnya di tempat lain manapun di daratan planet kita. Hutan-hutan tropis hanya mencakup 6 persen dari luas tanah bumi, namun memiliki setengah dari semua spesies tanaman dan binatang. Hutan-hutan ini menghasilkan kira-kira sepertiga dari semua zat hidup di atas permukaan tanah. Jauh di atas anda, kerimbunan hutan yang membentuk tudung menjadi tempat tinggal bagi serangga-serangga dan burung-burung yang aneh, monyet dan mamalia lainnya. Kebanyakan dari makhluk-makhluk ini tidak pernah menginjak tanah sama sekali. Pepohonan menyediakan makanan dan perumahan bagi mereka, dan sebaliknya mereka menyerbuki pohon-pohon atau memakan buah-buahnya, menyebarkan benih-benih pada waktu menjatuhkannya.

      Hujan turun setiap hari, membasahi hutan dan menyediakan bahan bakar bagi siklus kehidupannya yang rumit. Hujan menyapu daun-daun dan kotoran ke bawah melalui batang pohon dalam bentuk ”sop” yang kaya gizi yang memberikan makanan kepada tumbuhan yang disebut epifit yang tumbuh pada pohon-pohon. Sebaliknya, epifit membantu pohon menyerap makanan utamanya, nitrogen dari udara. Banyak epifit mempunyai ”tangki-tangki” daun yang menampung berliter-liter air, membentuk kolam-kolam mini tinggi di udara yang merupakan habitat bagi katak pohon, salamander (sejenis kadal) dan burung.

      Makanan apapun yang mencapai tanah akan disergap dengan cepat. Mamalia, kumpulan serangga, dan bakteri semua bekerja sama untuk menghancurkan kacang-kacangan, bangkai binatang dan daun-daun menjadi sampah. Kemudian tanah sendiri dengan bergairah menerimanya. Jika anda menyeka sisa-sisa sampah tadi di dekat kaki anda, anda akan menemukan suatu keset seperti spons yang berserat putih, suatu jaringan akar dan cendawan. Cendawan-cendawan ini membantu akar untuk segera menyerap makanan sebelum hujan menghanyutkannya.

      Tetapi sekarang andai kata anda berjalan-jalan di sebagian kecil dari suatu hutan tropis, di daerah seluas lapangan sepak bola Amerika. Tiba-tiba, seluruh bagian dari hutan itu musnah. Sama sekali punah—dalam sekejap! Dan seraya anda menyaksikan dengan kengerian, bagian hutan di sebelah anda yang sama luasnya, dimusnahkan dalam detik berikutnya, dan bagian lainnya pada detik berikutnya lagi, dan seterusnya. Akhirnya, anda berdiri sendirian di suatu dataran yang kosong, di atas tanah yang terbakar sinar matahari tropis yang terik.

      Menurut beberapa perkiraan, demikianlah kecepatan proses pemunahan hutan-hutan tropis di dunia. Ada yang memperkirakan bahwa prosesnya bahkan lebih cepat lagi. Menurut majalah Newsweek, suatu daerah yang luasnya setengah Kalifornia dikikis setiap tahun. Majalah Scientific American terbitan September 1989 menyebut daerah itu berukuran sama dengan gabungan negara Swiss dan Belanda.

      Tetapi seberapapun luasnya, kerusakannya mengerikan. Penggundulan hutan telah menghebohkan seluruh dunia, dan hal ini terutama dipusatkan pada satu negara.

      Kasus yang Dimaksud: Brasil

      Pada tahun 1987 foto-foto satelit dari Lembah Sungai Amazone menunjukkan bahwa laju penggundulan di daerah ini saja lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan laju penggundulan di seluruh planet! Pada waktu orang membakar hutan dengan tujuan membuka lahan pertanian, ribuan kebakaran menerangi malam hari. Gumpalan asapnya sampai berukuran seluas India dan begitu pekat sehingga beberapa bandar udara harus ditutup. Suatu perkiraan menunjukkan bahwa Lembah Sungai Amazone setiap tahun kehilangan daerah hutan tropis seluas Belgia.

      Pakar lingkungan hidup José Lutzenberger menyebutnya ”bencana terbesar dalam sejarah kehidupan”. Di seluruh dunia, para pakar lingkungan hidup sangat marah. Mereka menarik perhatian masyarakat kepada keadaan kritis hutan-hutan tropis ini. Bahkan pada baju kaos dan konser rock diumumkan, ”Selamatkan hutan-hutan tropis.” Lalu, timbullah tekanan keuangan.

      Brasil memiliki utang luar negeri lebih dari seratus ribu juta dolar dan harus menggunakan 40 persen dari penghasilan ekspornya untuk membayar bunganya saja. Negara ini sangat bergantung kepada bantuan dan pinjaman luar negeri. Jadi bank-bank internasional mulai menghentikan pemberian pinjaman yang dapat digunakan untuk merusak hutan-hutan. Negara-negara maju menawarkan untuk menukar sejumlah utang Brasil dengan perlindungan lingkungan hidup yang lebih baik. Presiden A.S. Bush bahkan meminta Jepang untuk tidak memberikan pinjaman dana kepada Brasil yang dipakai untuk membangun jalan raya yang melintasi hutan-hutan tropis yang masih ”perawan”.

      Dilema Sedunia

      Bagi banyak warga Brasil, semua tekanan ini sangat berbau kemunafikan. Negara-negara maju sudah sejak dulu menggunduli hutan-hutan mereka sendiri dan hampir tidak pernah mengizinkan negara asing mencegah mereka berbuat itu. Amerika Serikat akhir-akhir ini sedang memusnahkan hutan-hutan tropisnya yang terakhir. Memang ini bukan hutan-hutan tropis, tetapi hutan-hutan di Pasifik Barat Daya yang beriklim sedang. Spesies binatang dan tumbuhan di sana juga akan punah.

      Jadi penggundulan merupakan masalah sedunia, bukan hanya bagi Brasil. Menghilangnya hutan tropis kini sangat gawat. Kira-kira separuh lebih dari kehilangan itu dialami di luar Brasil. Afrika Tengah dan Asia Tenggara adalah dua di antara daerah-daerah hutan tropis lain yang terbesar di dunia, dan di sini juga hutan-hutan lenyap dengan cepat.

      Penggundulan mempunyai akibat yang sama di seluruh dunia. Ini berarti kelaparan, kehausan dan kematian bagi jutaan orang. Ini merupakan problem yang benar-benar menyangkut kehidupan anda. Ini menyangkut makanan yang anda makan, obat-obatan yang anda gunakan, cuaca di tempat anda tinggal—mungkin bahkan masa depan umat manusia.

      Tetapi mungkin sekali anda bertanya, ’Bagaimana mungkin hutan-hutan tropis ini mempunyai akibat yang luas? Bagaimana seandainya hutan-hutan itu punah dalam waktu beberapa dekade, sebagaimana dikatakan oleh beberapa ahli? Apakah ini benar-benar akan menjadi tragedi yang demikian besar?’

      Sebelum kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, pertanyaan lain harus diajukan dulu: Pertama-tama, apa yang menjadi penyebab punahnya hutan tropis?

      [Bagan/Peta di hlm. 5]

      Hutan-Hutan Tropis yang Lenyap (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      Sebelum penggundulan

      Keadaan sekarang

      Tahun 2000 dengan kecepatan penggundulan seperti sekarang

  • Siapa yang Membabati Hutan Tropis?
    Sedarlah!—1990 (No. 35) | Sedarlah!—1990 (No. 35)
    • Siapa yang Membabati Hutan Tropis?

      PERTANYAAN itu sering dijawab dengan menyalahkan golongan miskin di dunia. Selama berabad-abad, para petani di negara-negara tropis bercocok tanam dengan cara babat-bakar. Mereka membabat sebidang tanah di hutan lalu membakarnya, dan tepat sebelum atau segera sesudah itu, mereka menanaminya dengan tanaman penghasil. Abu pembakaran menjadi pupuknya.

      Cara pertanian ini telah lama menyingkapkan kebenaran yang mengejutkan tentang hutan-hutan tropis. Sekitar 95 persen dari hutan tumbuh di tanah yang sangat tandus. Hutan mendaur-ulang makanan dengan begitu cepat sehingga kebanyakan tersimpan di pepohonan dan tanaman yang tinggi, aman terhadap hujan yang akan menghanyutkannya. Karena itu hutan tropis sangat cocok dengan lingkungannya. Tetapi berita tersebut tidak terlalu baik bagi sang petani.

      Keadaan Kritis Orang-Orang Miskin

      Dengan cepat, air hujan menghanyutkan makanan yang disediakan oleh abu pembakaran hutan. Perlahan-lahan, pertanian menjadi mimpi buruk. Seorang petani miskin Bolivia mengatakan, ”Tahun pertama, saya menebang pohon-pohon dan membakarnya. Jagung bertumbuh tinggi dan manis karena pupuk abu, dan kami semua berpikir bahwa kami akhirnya berhasil. . . . Tetapi sejak waktu itu, segalanya menjadi buruk. Tanah menjadi semakin gersang, tidak lagi menumbuhkan sesuatu kecuali rumput liar. Dan hama? Saya belum pernah melihat begitu banyak jenis . . . Harapan kami benar-benar kandas.”

      Pada zaman dulu, seorang petani hanya sekedar membuka tanah-tanah baru di sebuah hutan dan membiarkan tanah yang lama tidak ditanami. Segera sesudah hutan itu pulih kepada keadaan semula, pohon-pohonnya dapat ditebangi lagi. Tetapi agar proses ini berhasil, tanah-tanah yang telah bersih dari pepohonan harus dikelilingi oleh hutan asalnya sehingga serangga, burung dan binatang dapat menebarkan benih dan menyerbuki pohon-pohon baru. Ini makan waktu.

      Peledakan penduduk juga telah mengubah keadaan. Karena para petani hidup berdesakan, periode tanah tidak ditanami semakin lama semakin singkat. Sering kali, para petani pendatang sekedar menggarap tanah mereka habis-habisan dalam waktu beberapa tahun dan pindah ke hutan, membakar pohon-pohonnya secara besar-besaran.

      Suatu faktor lain memperburuk keadaan. Kira-kira dua pertiga penduduk di negara-negara yang kurang maju bergantung pada kayu sebagai bahan bakar untuk memasak dan pemanasan. Lebih dari satu milyar penduduk dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar mereka hanya dengan menebangi kayu bakar di hutan dengan lebih cepat daripada waktu untuk meremajakannya kembali.

      Penyebab-Penyebab Lebih Jauh

      Menyalahkan orang miskin memang mudah. Tetapi seperti dikatakan oleh pakar ekologi James D. Nations dan Daniel I. Komer ini sama dengan ”mempersalahkan para prajurit sebagai penyebab peperangan”. Mereka menambahkan, ”Mereka sekedar bidak-bidak dalam permainan seorang jenderal. Untuk mengerti peranan penduduk baru dalam penggundulan hutan, kita harus bertanya mengapa keluarga-keluarga ini memasuki hutan tropis. Jawabannya sederhana: karena tidak ada tanah bagi mereka di tempat lain.”

      Di sebuah negara tropis, sekitar 72 persen tanah dimiliki oleh hanya 2 persen tuan tanah. Padahal, sekitar 83 persen keluarga petani tidak memiliki cukup tanah untuk dapat tetap hidup dari itu atau tidak memiliki tanah sama sekali. Pola itu berulang dalam berbagai tingkat di seluruh dunia. Biaya yang sangat besar untuk tanah swasta digunakan, bukan untuk menghasilkan pangan bagi rakyat setempat, tapi untuk meningkatkan produk ekspor yang akan dijual kepada bangsa-bangsa yang kaya di wilayah beriklim sedang.

      Industri kayu gelondongan adalah biang keladi lain yang terkenal. Ini tidak saja merusak hutan secara langsung, tetapi juga menyebabkan hutan-hutan tropis mudah diserang kebakaran—dan manusia. Jalan-jalan untuk mengangkut kayu tersebut yang dibuat dengan membuldoser hutan-hutan yang belum tersentuh, mengakibatkan lebih banyak petani pindah ke daerah itu.

      Dan jika pertanian gagal, seperti sering terjadi, para pengusaha peternakan sapi memborong tanah dan menjadikannya padang rumput untuk memberi makan sapi mereka. Ini khususnya terjadi di Amerika Selatan dan Tengah. Kebanyakan daging sapi yang mereka hasilkan diekspor kepada bangsa-bangsa yang lebih kaya. Rata-rata kucing piaraan di Amerika Serikat makan lebih banyak daging sapi dalam setahun daripada rata-rata rakyat di Amerika Tengah.

      Akhirnya, bangsa-bangsa majulah yang membiayai pemusnahan hutan-hutan tropis—untuk memenuhi nafsu mereka yang serakah. Kayu tropis yang unik, hasil tanahnya, daging sapi, yang mereka beli dengan bersemangat dari bangsa-bangsa tropis menuntut pemusnahan atau perusakan atas hutan. Keinginan besar orang Amerika dan Eropa untuk mendapatkan kokain berarti penebangan ratusan ribu hektar hutan tropis di Peru untuk menghasilkan panen koka yang menguntungkan.

      Keuntungan yang Meningkat

      Banyak pemerintahan dengan aktif menganjurkan penebangan hutan. Mereka memberikan kelonggaran pajak untuk pengusaha peternakan, perusahaan kayu, dan pertanian tanaman ekspor. Ada negara yang akan memberikan sebidang tanah kepada seorang petani jika dia ”mengembangkan” tanah itu dengan cara membuka lahan pertanian di daerah hutan. Sebuah negeri di Asia Tenggara telah mengirim jutaan petani sebagai transmigran ke hutan-hutan tropis yang terpencil.

      Alasan yang dikemukakan untuk kebijaksanaan itu ialah memanfaatkan hutan-hutan demi kefaedahan orang-orang miskin atau untuk meningkatkan ekonomi yang terus merosot. Tetapi sebagaimana disadari oleh para kritikus, bahkan keuntungan jangka pendek ini menyesatkan. Misalnya, tanah yang gersang untuk tanaman penghasil mungkin juga tidak lebih baik untuk sapi-sapi pengusaha ternak. Daerah peternakan pada umumnya ditelantarkan setelah sepuluh tahun.

      Industri kayu sering tidak lebih baik keadaannya. Bila kayu-kayu keras tropis diambil dari hutan tanpa mempertimbangkan masa depannya, hutan-hutan semakin cepat berkurang. Bank Dunia memperkirakan bahwa lebih 20 negara dari 33 negara yang saat ini mengekspor kayu tropis mereka, akan kehabisan kayu dalam waktu sepuluh tahun lagi. Penggundulan hutan di Thailand begitu drastis sehingga negara ini harus mengeluarkan undang-undang melarang semua usaha kayu gelondongan. Diperkirakan hutan-hutan Filipina akan habis digunduli pada pertengahan tahun 1990-an.

      Tetapi ironi yang paling menyedihkan adalah: Penelitian membuktikan bahwa sebidang tanah di hutan tropis dapat menghasilkan lebih banyak pendapatan jika tanah itu dibiarkan tetap utuh dan hasilnya—misalnya buah-buahan dan karet—dipanen. Ya, lebih banyak uang dapat dihasilkan daripada mengusahakan pertanian, peternakan atau penebangan pohon pada tanah yang sama. Meskipun begitu pemusnahan terus berlangsung.

      Bola bumi ini tidak sanggup terus-menerus diperlakukan demikian. Sebagaimana dikatakan buku Saving the Tropical Forests (Menyelamatkan Hutan-Hutan Tropis), ”Jika kita meneruskan pemusnahan seperti sekarang ini masalahnya bukan apakah hutan tropis akan lenyap tetapi kapan ini akan terjadi.” Namun apakah dunia benar-benar akan menderita jika semua hutan tropis dimusnahkan?

      [Gambar di hlm. 7]

      Penyebab Penggundulan

      Genangan yang disebabkan oleh bendungan

      Pertanian babat-bakar

      Industri kayu gelondongan

      Peternakan

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan