-
Meramalkan Masa DepanMenara Pengawal (Edisi Umum)—2018 | No. 2
-
-
Meramalkan Masa Depan
Apakah Anda pernah memikirkan seperti apa masa depan Anda dan keluarga? Apakah Anda akan kaya atau miskin? Dikelilingi orang-orang tercinta atau menderita sendirian? Apakah Anda akan berumur panjang atau mati muda? Selama ribuan tahun, banyak orang memikirkan hal-hal seperti itu.
Sekarang ini, para ahli mempelajari tren yang ada di dunia lalu membuat perkiraan tentang masa depan. Banyak perkiraan ini menjadi kenyataan, namun yang lainnya tidak, kadang bahkan sangat jauh dari kenyataan. Misalnya pada tahun 1912, Guglielmo Marconi, penemu telegraf tanpa kabel, meramalkan, ”Era tanpa kabel pasti akan menghapus perang.” Seorang agen dari perusahaan rekaman Decca, yang menolak The Beatles pada tahun 1962, merasa bahwa grup musik yang bermain gitar sebentar lagi tidak akan laku.
Banyak orang mencari jawaban tentang masa depan dari dunia supernatural. Ada yang meminta petunjuk para peramal bintang. Banyak majalah dan koran secara rutin memuat ramalan bintang. Ada juga yang bertanya kepada ”orang pintar” yang katanya bisa membaca kartu tarot, nomor, atau garis tangan.
Pada zaman dulu, orang-orang yang ingin mengetahui masa depan bertanya kepada peramal, yaitu pemimpin agama yang katanya meneruskan informasi dari dewa mereka. Misalnya, Kroesus, raja Lidia, mengirimkan hadiah-hadiah yang mahal kepada seorang peramal di Delfi, Yunani, dan memintanya untuk memberitahukan apa yang akan terjadi kalau dia maju melawan Kores, raja Persia. Peramal itu mengatakan bahwa Kroesus akan menghancurkan ”sebuah kerajaan yang besar” jika dia melawan Kores. Karena yakin akan menang, Kroesus pun maju berperang, tapi ternyata, kerajaan yang hancur adalah kerajaannya sendiri!
Sepintas, ramalan itu kelihatannya benar karena ”sebuah kerajaan yang besar” memang hancur. Tapi, ramalan itu tidak memberitahukan kerajaan yang mana. Karena ramalan itu tidak jelas, Kroesus kehilangan semuanya. Sekarang ini, apakah cara yang dipakai untuk mengetahui masa depan terbukti berhasil?
-
-
Astrologi dan Ramalan Nasib—Jendela ke Masa Depan?Menara Pengawal (Edisi Umum)—2018 | No. 2
-
-
ASTROLOGI DAN RAMALAN NASIB—JENDELA KE MASA DEPAN?
ASTROLOGI
Astrologi adalah cara meramal berdasarkan kepercayaan bahwa bintang, bulan, dan planet memengaruhi kehidupan manusia. Para peramal bintang mengatakan bahwa posisi benda-benda langit saat seseorang lahir menentukan kepribadian dan masa depannya. Astrologi sudah ada sejak zaman Babilon kuno dan masih populer sampai sekarang. Menurut sebuah survei di Amerika Serikat pada tahun 2012, sepertiga dari mereka yang disurvei merasa bahwa astrologi ”cukup ilmiah”, dan 10 persennya merasa bahwa itu ”sangat ilmiah”. Apakah itu benar? Tidak. Mari kita bahas alasannya.
Planet dan bintang sama sekali tidak punya kekuatan untuk memengaruhi manusia seperti pendapat para peramal bintang.
Ramalan bintang biasanya sangat umum sehingga bisa berlaku untuk siapa saja.
Perhitungan astrologi sekarang ini dibuat berdasarkan kepercayaan kuno bahwa planet-planet berputar mengelilingi bumi. Padahal kenyataannya, planet-planet berputar mengelilingi matahari.
Kalau beberapa peramal bintang diminta meramal satu orang yang sama, hasilnya bisa berbeda.
Katanya, zodiak bisa menunjukkan seperti apa sifat seseorang. Namun kenyataannya, orang-orang yang lahir di tanggal yang sama tidak punya sifat yang sama. Tanggal lahir sama sekali tidak memengaruhi kepribadian seseorang. Para peramal bintang sudah menentukan seperti apa kepribadian dan sifat seseorang sebelum mengenal orang itu. Bukankah ini sama saja dengan prasangka?
RAMALAN NASIB
Orang sering minta bantuan peramal. Pada zaman dulu, ada peramal yang membuat ramalan dengan melihat organ tubuh binatang dan manusia atau dengan mengamati cara ayam mematuk biji-bijian. Ada juga yang melihat pola daun teh atau bubuk kopi. Sekarang, mereka menggunakan kartu tarot, bola kristal, dadu, dan alat-alat lain untuk ”membaca” masa depan seseorang. Apakah cara meramal seperti itu bisa dipercaya? Tidak. Mari kita bahas alasannya.
Ramalan nasib tidak konsisten. Hasil ramalan untuk hal yang sama bisa berbeda-beda tergantung cara yang dipakai. Kalaupun caranya sama, hasilnya tetap bisa berbeda. Misalnya, katakanlah kita pergi ke dua peramal yang berbeda dan mereka membaca kartu-kartu tarot yang sama untuk menjelaskan masa depan kita. Hasil ramalan mereka seharusnya sama. Tapi kenyataannya, penjelasan mereka sering berbeda.
Akibatnya, banyak orang tidak memercayai metode para peramal atau niat mereka. Ada yang mengatakan bahwa si peramal sebenarnya membaca reaksi kliennya, bukannya membaca kartu atau bola kristal. Misalnya, peramal yang sudah ahli akan menanyakan hal-hal yang umum kepada kliennya lalu memperhatikan jawaban dan gerak-geriknya. Jadi tanpa disadari, orang itu sendiri sudah memberitahukan beberapa hal tentang dirinya, dan si peramal sebenarnya hanya mengulangi semua itu. Setelah klien itu percaya pada ramalannya, beberapa peramal akan meminta sejumlah uang yang sangat besar.
APA YANG ALKITAB KATAKAN
Astrologi dan ramalan nasib menyiratkan bahwa masa depan kita sudah ditakdirkan. Apakah itu benar? Tidak. Menurut Alkitab, kita bisa memilih apa yang kita percayai dan apa yang ingin kita lakukan. Alkitab juga berkata bahwa pilihan kita akan memengaruhi masa depan kita.—Yosua 24:15.
Bagi orang-orang yang melayani Allah, ada alasan lain untuk menolak astrologi dan ramalan nasib. Allah melarang semua bentuk ramalan. Alkitab mengatakan, ”Di antara kalian tidak boleh ada yang . . . meramal, menggunakan ilmu gaib, mencari pertanda, menjadi ahli sihir, mengguna-guna orang lain, meminta nasihat pemanggil arwah atau peramal, ataupun bertanya kepada orang mati. Siapa pun yang melakukan hal-hal itu menjijikkan bagi Yehuwa.”a—Ulangan 18:10-12.
-
-
Nubuat-Nubuat yang Sudah Menjadi KenyataanMenara Pengawal (Edisi Umum)—2018 | No. 2
-
-
Nubuat-Nubuat yang Sudah Menjadi Kenyataan
Artikel sebelumnya menyebutkan cerita tentang Kroesus yang tertipu karena mendengarkan ramalan seorang peramal dari Delfi. Akibatnya, Kroesus dikalahkan oleh raja Persia. Namun, ramalan Alkitab sangat berbeda. Alkitab berisi nubuat yang luar biasa tentang raja Persia itu. Nubuat itu menjadi kenyataan sampai perincian yang terkecil.
Sekitar 200 tahun sebelum peristiwa yang dinubuatkan itu terjadi, bahkan jauh sebelum sang raja lahir, Nabi Yesaya sudah menyebutkan nama raja itu, yaitu Kores, dan memberitahukan bagaimana raja itu akan mengalahkan kota Babilon yang kuat.
Yesaya 44:24, 27, 28: ”Inilah kata-kata Yehuwa, . . . ’Akulah yang berkata kepada air yang dalam, ”Menguaplah, dan semua sungaimu akan Kukeringkan”; Akulah yang berkata tentang Kores, ”Dialah gembala yang Kuangkat, dan dia akan melaksanakan semua kehendak-Ku”; Akulah yang berkata tentang Yerusalem, ”Dia akan dibangun kembali,” dan tentang bait, ”Fondasimu akan dibangun.”’”
Menurut Herodotus, seorang ahli sejarah dari Yunani, pasukan yang dipimpin Kores mengalihkan aliran Sungai Efrat, sungai yang melewati kota Babilon. Karena strategi Kores ini, pasukannya bisa masuk ke kota Babilon dengan berjalan di dasar sungai. Setelah mengalahkan Babilon, Kores membebaskan orang Yahudi yang ditawan di kota itu dan mengizinkan mereka kembali untuk membangun Yerusalem, yang dihancurkan 70 tahun sebelumnya.
Yesaya 45:1: ”Inilah yang Yehuwa katakan kepada orang yang Dia lantik, kepada Kores, yang tangan kanannya Dia pegang untuk menaklukkan bangsa-bangsa di hadapannya, untuk mengambil senjata raja-raja, untuk membuka pintu-pintu di depannya, supaya gerbang-gerbang tidak akan tertutup.”
Orang Persia masuk ke kota itu melalui pintu besar di tembok kota, yang dibiarkan terbuka begitu saja. Kalau orang Babilon tahu rencana Kores, mereka pasti akan menutup semua pintu yang terhubung ke sungai. Tapi malam itu, kota itu tidak dijaga.
Masih ada banyak nubuat Alkitab lainnya yang juga menjadi kenyataan sampai ke perincian terkecil.a Tidak seperti ramalan manusia, yang sering dianggap berasal dari dewa atau allah mereka, nubuat dalam Alkitab berasal dari Allah yang benar, yang mengatakan, ”Sejak awal sudah Kuberitahukan hasilnya, dan sejak dulu sudah Kunyatakan hal-hal yang belum terjadi.”—Yesaya 46:10.
Hanya Yehuwa, Allah yang benar, yang bisa mengatakan hal itu. Nama-Nya berarti ”Dia Menyebabkan Menjadi”. Nama itu menunjukkan bahwa Yehuwa sanggup mengetahui dan mengatur peristiwa-peristiwa yang akan datang sesuai dengan kehendak-Nya. Arti nama-Nya ini membuat kita yakin bahwa semua yang Dia janjikan pasti akan terjadi.
NUBUAT-NUBUAT YANG SEKARANG MENJADI KENYATAAN
Apakah Anda ingin tahu apa yang Alkitab nubuatkan tentang zaman kita? Sekitar 2.000 tahun yang lalu, Alkitab memberitahukan bahwa ”keadaan pada hari-hari terakhir akan sulit dihadapi dan berbahaya”. Hari-hari terakhir dari apa? Yang akan berakhir bukanlah bumi atau manusia, tapi semua perselisihan, penindasan, dan penderitaan yang telah menghantui manusia selama ribuan tahun. Mari kita bahas beberapa nubuat tentang ”hari-hari terakhir” ini.
2 Timotius 3:1-5: ”Pada hari-hari terakhir . . . orang-orang akan mencintai diri sendiri, mencintai uang, membanggakan diri, merasa diri hebat, menghina, tidak taat kepada orang tua, tidak berterima kasih, tidak setia, tidak punya kasih sayang, tidak mau berdamai, memfitnah, tidak punya pengendalian diri, garang, tidak menyukai kebaikan, berkhianat, keras kepala, sombong, mencintai kesenangan bukannya mencintai Allah, berpura-pura mengabdi kepada Allah padahal menolak bimbingan kuasa-Nya.”
Anda pasti setuju bahwa sikap seperti itu semakin umum. Apakah Anda bisa melihat bahwa kita dikelilingi orang yang sombong serta mencintai diri sendiri dan uang? Apakah Anda menyadari bahwa orang-orang semakin suka menuntut dan tidak mudah berdamai? Semakin banyak anak tidak patuh kepada orang tua mereka. Selain itu, kebanyakan orang lebih mencintai kesenangan daripada Allah. Dan setiap hari, keadaannya semakin buruk.
Matius 24:6, 7: ”Kalian akan mendengar suara peperangan dan berita-berita perang. . . . Bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan.”
Menurut perkiraan, sejak tahun 1914 ada lebih dari 100 juta orang yang tewas karena perang dan konflik bersenjata. Jumlah ini bahkan melebihi jumlah penduduk di banyak negara. Bayangkan berapa banyak orang yang berduka dan menderita! Sayangnya, ini tidak membuat bangsa-bangsa berhenti berperang.
Matius 24:7: ”Akan ada kekurangan makanan.”
Program Pangan Dunia menyatakan, ”Sebenarnya, kita punya cukup banyak makanan untuk semua orang, tapi ada 815 juta orang—atau satu dari sembilan orang—yang tidur dalam keadaan lapar setiap malam. Dan ada lebih banyak orang lagi—yaitu satu dari tiga—yang kekurangan gizi.” Diperkirakan bahwa setiap tahun, ada sekitar tiga juta anak yang meninggal karena kelaparan.
Lukas 21:11: ”Akan ada gempa bumi yang besar.”
Setiap tahun, ada sekitar 50.000 gempa bumi yang cukup besar sehingga bisa dirasakan manusia. Sekitar 100 di antaranya merusak bangunan, dan kira-kira setahun sekali ada satu gempa yang sangat besar. Menurut sebuah perkiraan, antara tahun 1975 dan 2000, ada 471.000 orang yang meninggal akibat gempa.
Matius 24:14: ”Kabar baik tentang Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh bumi, sebagai kesaksian bagi semua bangsa, kemudian akhir itu akan datang.”
Saksi-Saksi Yehuwa, yang berjumlah lebih dari delapan juta, sedang memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah di kira-kira 240 negeri. Mereka memberitahukan kabar baik di kota besar, desa terpencil, hutan, dan daerah pegunungan. Nubuat itu mengatakan bahwa saat Allah menganggap pekerjaan ini sudah selesai, ”akhir itu akan datang”. Apa maksudnya? Pemerintahan manusia akan berakhir dan pemerintahan Kerajaan Allah akan dimulai. Apa saja janji yang akan menjadi kenyataan saat Kerajaan Allah memerintah? Silakan baca artikel-artikel berikutnya.
a Lihat artikel ”Saksi Bisu dari Nubuat yang Menjadi Kenyataan”.
-
-
Saksi Bisu dari Nubuat yang Menjadi KenyataanMenara Pengawal (Edisi Umum)—2018 | No. 2
-
-
Saksi Bisu Dari Nubuat Yang menjadi Kenyataan
DI KOTA ROMA, ITALIA, ADA SEBUAH MONUMEN KEMENANGAN BERBENTUK GAPURA YANG DIKUNJUNGI ORANG-ORANG DARI SELURUH DUNIA. GAPURA ITU DIBUAT UNTUK MENGHORMATI TITUS, SALAH SATU PENGUASA ROMAWI YANG DICINTAI RAKYAT.
Di Gapura Titus, ada dua ukiran besar yang menggambarkan suatu peristiwa bersejarah yang terkenal. Namun tidak banyak orang tahu bahwa gapura itu ada kaitannya dengan Alkitab. Gapura Titus adalah saksi bisu dari nubuat Alkitab yang menjadi kenyataan.
KOTA YANG AKAN DIHUKUM
Pada abad pertama M, kekuasaan Kekaisaran Romawi sangat luas, mulai dari Inggris dan Gaul (sekarang Prancis) sampai ke Mesir. Wilayah itu makmur dan damai. Tapi ada satu daerah yang selalu menjadi sumber masalah untuk Roma. Daerah itu adalah provinsi Yudea.
Encyclopedia of Ancient Rome mengatakan, ”Kekaisaran Romawi membenci Yudea, begitu pula sebaliknya. Di antara daerah kekuasaan Romawi, jarang ada daerah yang seperti itu. Orang Yahudi tidak suka dengan pemerintah mereka yang adalah orang dari bangsa lain yang tidak memedulikan tradisi mereka. Di sisi lain, orang Romawi menindas orang Yahudi [di Yudea] karena mereka keras kepala.” Banyak orang Yahudi mengharapkan sosok pemimpin yang bisa mengusir orang Romawi dan mengembalikan kejayaan Israel. Tapi pada tahun 33 M, Yesus Kristus sudah memberitahukan bahwa Yerusalem akan dihancurkan.
Yesus mengatakan, ”Pada saatnya nanti, musuh-musuhmu akan membuat benteng dari kayu-kayu tajam di sekelilingmu. Mereka akan mengepungmu dan menekanmu dari segala arah. Mereka akan membuatmu rata dengan tanah dan memusnahkan anak-anakmu. Mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tersusun di atas batu lainnya.”—Lukas 19:43, 44.
Kata-kata Yesus itu pasti membuat para muridnya bingung. Dua hari setelahnya, saat melihat bait di Yerusalem, salah satu murid mengatakan, ”Guru, lihat batu-batu dan bangunan yang luar biasa ini!” Konon, beberapa batu di bait panjangnya lebih dari 11 meter, lebarnya 5 meter, dan tingginya 3 meter! Namun Yesus menjawab, ”Pada saatnya nanti, semua yang kalian lihat itu akan dirobohkan. Tidak akan ada satu batu pun yang masih tersusun di atas batu lainnya.”—Markus 13:1; Lukas 21:6.
Yesus lalu mengatakan, ”Sewaktu kalian melihat ada tentara berkemah di sekeliling Yerusalem, itu artinya Yerusalem akan segera dihancurkan. Orang-orang yang ada di Yudea harus mulai melarikan diri ke pegunungan, yang ada di tengah kota itu harus pergi, dan yang ada di desa-desa sekitarnya jangan masuk ke sana.” (Lukas 21:20, 21) Apakah kata-kata Yesus itu menjadi kenyataan?
KEHANCURAN YERUSALEM
Tiga puluh tiga tahun sudah berlalu sejak Yesus mengatakan nubuat itu. Yudea masih menderita di bawah kekuasaan Romawi. Tapi pada tahun 66 M, ketika seorang pejabat Romawi yang bernama Gessius Florus mencuri uang bait, orang Yahudi tidak tahan lagi. Mereka pun menyerbu Yerusalem, membunuh banyak tentara Romawi, lalu mengumumkan kemerdekaan dari Roma.
Sekitar tiga bulan kemudian, lebih dari 30.000 tentara Romawi yang dipimpin Cestius Gallus menyerang Yerusalem untuk membasmi para pemberontak. Orang Romawi segera masuk ke dalam kota dan merusak tembok luar bait. Namun tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, tentara Romawi pergi. Para pemberontak Yahudi senang dan langsung mengejar pasukan Romawi. Karena dua pihak yang bertikai itu sudah meninggalkan Yerusalem, orang Kristen bisa melarikan diri dari Yerusalem, sesuai perintah Yesus. Mereka pergi ke daerah pegunungan di seberang Sungai Yordan.—Matius 24:15, 16.
Tahun berikutnya, Roma merencanakan lagi penyerangan atas Yudea. Kali ini, pemimpinnya adalah Jenderal Vespasianus dan putranya Titus. Namun pada tahun 68 M, Kaisar Nero meninggal, dan tak lama setelahnya Vespasianus kembali ke kota Roma untuk menjadi kaisar. Titus kini mengambil alih rencana penyerangan atas Yudea dan membawa sekitar 60.000 tentara.
Pada bulan Juni 70 M, Titus memerintahkan pasukannya untuk menebang pohon-pohon di daerah pedesaan Yudea. Mereka lalu mendirikan pagar kayu runcing di sekeliling Yerusalem. Panjangnya sekitar tujuh kilometer. Sekitar tiga bulan kemudian, pasukan Romawi sudah menjarah dan membakar Yerusalem dan baitnya. Mereka merobohkan semua batu bait, persis seperti yang sudah Yesus nubuatkan. (Lukas 19:43, 44) Menurut perkiraan, ”seperempat sampai setengah juta orang di Yerusalem dan daerah-daerah lain di negeri itu kehilangan nyawa mereka”.
KEMENANGAN KEKAISARAN ROMAWI
Pada tahun 71 M, Titus kembali ke Italia dan disambut dengan sangat meriah oleh warga Romawi. Semua orang di kota itu ikut merayakan salah satu acara kemenangan terbesar yang pernah ada di kota Roma.
Jalan-jalan di kota Roma penuh dengan pawai. Orang-orang kagum melihat banyaknya harta yang dipamerkan, kapal-kapal yang berhasil dikalahkan, aktor yang memeragakan perang, dan benda-benda yang dijarah dari bait di Yerusalem.
Titus menggantikan Vespasianus sebagai kaisar pada tahun 79 M. Tapi dua tahun kemudian, Titus tiba-tiba meninggal. Domitianus, adiknya, naik takhta dan langsung mendirikan monumen kemenangan, yaitu sebuah gapura, untuk mengenang Titus.
GAPURA TITUS SEKARANG
Gapura Titus di Roma sekarang
Setiap tahun, ratusan ribu orang yang mengunjungi kota Roma kagum melihat Gapura Titus. Ada yang menganggapnya sebagai karya seni yang luar biasa. Yang lain menganggapnya sebagai bukti kejayaan kekaisaran Romawi. Ada juga yang teringat akan penghancuran Yerusalem dan baitnya.
Tapi, bagi orang-orang yang mempelajari Alkitab, Gapura Titus lebih istimewa lagi. Gapura itu adalah saksi bisu yang membuktikan bahwa nubuat Alkitab bisa dipercaya, tepat, dan berasal dari Allah.—2 Petrus 1:19-21.
-
-
Janji-Janji yang Pasti Akan Menjadi KenyataanMenara Pengawal (Edisi Umum)—2018 | No. 2
-
-
Janji-Janji yang Pasti Akan Menjadi Kenyataan
Kabar baik Kerajaan Allah sedang diberitakan di seluruh dunia, seperti yang Yesus nubuatkan. (Matius 24:14) Buku Daniel memberitahukan bahwa Kerajaan itu adalah pemerintahan yang dipimpin oleh Allah. Daniel pasal 2 berisi nubuat yang menyebutkan pemerintahan-pemerintahan manusia yang paling berkuasa sejak Babilon kuno sampai zaman kita. Daniel 2 ayat 44 memberitahukan apa yang akan terjadi di masa depan:
”Allah yang berkuasa atas surga akan mendirikan kerajaan yang tidak akan pernah musnah. Kerajaan itu tidak akan dikuasai bangsa lain. Kerajaan itu akan menghancurkan dan mengakhiri semua kerajaan ini. Hanya kerajaan itu yang akan tetap berdiri untuk selamanya.”
Nubuat ini dan beberapa nubuat lainnya dalam Alkitab menunjukkan bahwa Kerajaan Allah akan menggantikan semua pemerintahan manusia dan akan menciptakan kedamaian dan ketertiban di seluruh bumi. Seperti apa kehidupan kita saat Kerajaan Allah memerintah? Mari kita bahas beberapa janji luar biasa yang sebentar lagi menjadi kenyataan.
PERANG TIDAK AKAN ADA LAGI
Mazmur 46:9: ”[Allah] menghentikan peperangan di seluruh bumi. Dia mematahkan busur panah dan menghancurkan tombak; Dia membakar kereta-kereta perang.”
Bayangkan seperti apa keadaan dunia ini kalau semua sumber daya dan keahlian yang sekarang dipakai untuk membuat senjata digunakan untuk membantu orang, bukannya membunuh mereka! Itulah yang akan terjadi saat Kerajaan Allah memerintah.
PENYAKIT TIDAK AKAN ADA LAGI
Yesaya 33:24: ”Tidak seorang pun yang tinggal di situ akan berkata, ’Aku sakit.’”
Bayangkan dunia tanpa orang yang sakit jantung, kanker, malaria, dan penyakit lainnya. Rumah sakit dan obat tidak akan dibutuhkan lagi. Ya, di masa depan, kesehatan manusia akan sempurna.
ORANG TIDAK AKAN KELAPARAN
Mazmur 72:16: ”Akan ada banyak sekali biji-bijian di bumi; itu akan berlimpah di puncak pegunungan.”
Bumi ini akan menghasilkan banyak makanan untuk semua orang, dan siapa pun bisa menikmatinya. Tidak akan ada lagi orang yang kelaparan atau kurang gizi.
RASA SAKIT, KESEDIHAN, DAN KEMATIAN TIDAK AKAN ADA LAGI
Wahyu 21:4: ”[Allah] akan menghapus semua air mata mereka. Kematian tidak akan ada lagi. Perkabungan, tangisan, ataupun rasa sakit juga tidak akan ada lagi. Hal-hal yang dulu terjadi sudah tidak ada lagi.”
Dengan kata lain, kita akan menikmati kehidupan yang sempurna untuk selamanya di bumi yang sangat indah! Itulah yang dijanjikan Pencipta kita yang pengasih, Allah Yehuwa.
KATA-KATA YEHUWA PASTI MENJADI KENYATAAN
Apakah semua janji ini terdengar seperti khayalan? Hampir semua orang pasti menginginkan kehidupan yang Alkitab janjikan itu, tapi bagi banyak orang, kehidupan abadi itu sulit dibayangkan. Ini tidaklah mengherankan karena tidak ada manusia yang pernah menjalani kehidupan seperti itu.
Sepanjang sejarah, manusia diperbudak oleh dosa dan kematian. Manusia tidak pernah bisa lepas dari rasa sakit, penderitaan, dan kesulitan sehingga banyak orang merasa seperti itulah kehidupan yang normal. Tapi bukan itu kehendak Allah Yehuwa bagi manusia.
Agar kita bisa yakin dengan janji-Nya, Allah mengatakan, ”[Firman-Ku] tidak akan kembali kepada-Ku tanpa hasil; itu pasti akan melaksanakan apa pun yang Kusukai dan berhasil melakukan apa yang Kuperintahkan.”—Yesaya 55:11.
Alkitab mengatakan bahwa Allah Yehuwa ”tidak bisa berbohong”. (Titus 1:2) Karena Allah sudah menjanjikan hal-hal luar biasa ini, cobalah pikirkan: Apakah manusia memang bisa hidup selamanya di bumi yang dijanjikan itu? Apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa menikmati janji-janji itu? Dua pertanyaan itu dijawab di artikel-artikel berikut.
-
-
Anda Bisa Hidup Selamanya di BumiMenara Pengawal (Edisi Umum)—2018 | No. 2
-
-
Anda Bisa Hidup Selamanya di Bumi
INI SANGAT LUAR BIASA! Pencipta kita berjanji untuk memberi kita kehidupan abadi di bumi ini. Tapi, banyak orang sulit memercayainya. Mereka mengatakan, ’Suatu saat kita pasti mati. Itu wajar.’ Ada juga yang merasa bahwa manusia bisa hidup abadi, tapi bukan di bumi. Mereka mengatakan bahwa manusia akan hidup selamanya di surga setelah mereka mati. Bagaimana menurut Anda?
Sebelum menjawabnya, mari kita bahas jawaban Alkitab atas tiga pertanyaan ini: Dari cara manusia diciptakan, apa yang kita ketahui tentang berapa lama manusia seharusnya bisa hidup? Untuk apa Allah menciptakan bumi dan manusia? Kenapa manusia sekarang mati?
MANUSIA—CIPTAAN YANG UNIK
Dari antara semua makhluk hidup yang Allah ciptakan di bumi, manusia sangat unik. Apa maksudnya? Alkitab menunjukkan bahwa hanya manusia yang diciptakan ”mirip dengan” Allah dan ”punya kesamaan dengan” Dia. (Kejadian 1:26, 27) Jadi, manusia punya sifat dan perasaan yang Allah miliki, seperti kasih dan rasa keadilan.
Selain itu, manusia juga diberi kemampuan untuk berpikir dan membuat keputusan. Manusia juga bisa membedakan yang baik dan buruk serta punya keinginan untuk mengenal Allah. Itulah kenapa kita bisa menghargai keindahan alam semesta dan ciptaan serta menikmati seni, musik, dan karya sastra. Yang terpenting, manusia bisa menyembah Sang Pencipta. Semua ini membuat manusia jauh berbeda dengan makhluk hidup lainnya.
Nah sekarang, coba pikirkan: Allah memberi manusia semua kemampuan itu dan juga kesanggupan untuk terus mengembangkannya tanpa akhir. Untuk apa Allah memberikan semua itu kalau kita cuma hidup beberapa puluh tahun? Jelaslah, Allah ingin agar kita menikmati kehidupan di bumi ini selamanya.
TUJUAN ALLAH MENCIPTAKAN BUMI DAN MANUSIA
Banyak orang merasa bahwa Allah menciptakan manusia bukan untuk hidup selamanya di bumi. Menurut mereka, bumi ini dibuat sebagai tempat tinggal sementara. Bumi adalah tempat untuk menguji siapa yang layak untuk pergi ke surga dan hidup selamanya dengan Allah. Kalau ini memang benar, dengan kata lain Allah-lah yang membuat semua kejahatan di bumi. Tapi Allah sama sekali tidak seperti itu. Alkitab mengatakan, ”Semua jalan-Nya adil. Allah yang setia, yang selalu adil; Dia benar dan lurus hati.”—Ulangan 32:4.
Alkitab dengan jelas menunjukkan apa kehendak Allah bagi bumi ini: ”Langit adalah milik Yehuwa, tapi bumi telah Dia berikan kepada manusia.” (Mazmur 115:16) Ya, Allah membuat bumi untuk menjadi rumah yang indah dan abadi bagi manusia. Allah juga menciptakan banyak hal supaya kita bisa menikmati kehidupan yang memuaskan untuk selamanya.—Kejadian 2:8, 9.
”Langit adalah milik Yehuwa, tapi bumi telah Dia berikan kepada manusia.”—Mazmur 115:16
Alkitab dengan jelas memberitahukan kenapa Allah menciptakan manusia. Allah memerintahkan pasangan manusia pertama untuk memenuhi bumi dan menguasainya serta menguasai semua binatang. (Kejadian 1:28) Jadi mereka diberi tugas untuk merawat taman indah yang mereka tinggali dan memperluasnya sampai ke seluruh bumi. Ini kehormatan yang luar biasa! Ya, Allah ingin agar Adam dan Hawa serta keturunan mereka hidup selamanya di bumi, bukan di surga.
KENAPA MANUSIA MATI?
Jadi, kenapa manusia mati? Alkitab menunjukkan bahwa salah satu malaikat yang Allah ciptakan, yang belakangan disebut Setan si Iblis, berusaha merusak pengaturan Allah di Eden. Apa yang dia lakukan?
Setan membujuk Adam dan Hawa untuk ikut memberontak melawan Allah. Setan mengatakan bahwa Allah menahan sesuatu yang baik dari mereka, yaitu hak untuk menentukan sendiri mana yang benar dan mana yang salah. Mereka memercayai Setan dan dengan begitu melawan Allah. Akibatnya, mereka menjadi tua dan mati, tepat seperti yang Allah katakan. Mereka kehilangan kesempatan untuk hidup selamanya di Firdaus yang indah.—Kejadian 2:17; 3:1-6; 5:5.
Pemberontakan Adam dan Hawa memengaruhi kita sampai sekarang. Alkitab mengatakan, ”Sama seperti dosa masuk ke dalam dunia melalui satu orang [Adam], dan kematian masuk melalui dosa, kematian pun menyebar kepada semua orang.” (Roma 5:12) Kita mati karena kita mendapat dosa dan kematian dari orang tua kita yang pertama, Adam dan Hawa, bukan karena takdir dan rencana Allah yang tidak bisa kita pahami.
ANDA BISA HIDUP SELAMANYA DI BUMI
Pemberontakan di Eden tidak membatalkan kehendak Allah bagi manusia dan bumi ini. Kasih dan rasa keadilan Allah yang sempurna membuat Dia langsung memberikan jalan keluar agar kita bisa terbebas dari dosa dan kematian. Rasul Paulus menjelaskan, ”Dosa memberikan upah berupa kematian, tapi Allah memberikan karunia berupa kehidupan abadi melalui Kristus Yesus Tuan kita.” (Roma 6:23) Allah dengan pengasih ”memberikan Putra tunggal-Nya [Yesus Kristus], supaya setiap orang yang beriman kepadanya tidak dibinasakan tapi mendapat kehidupan abadi”. (Yohanes 3:16) Yesus dengan rela memberikan dirinya sebagai korban tebusan. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan kembali semua berkat yang hilang karena dosa Adam.a
Sebentar lagi, janji Allah tentang bumi yang sempurna akan menjadi kenyataan. Anda bisa tinggal di sana kalau Anda mengikuti nasihat Yesus ini: ”Masuklah melalui gerbang yang sempit, karena gerbang yang lebar dan jalan yang luas itu menuju kemusnahan, dan banyak orang masuk melaluinya, sedangkan gerbang yang sempit dan jalan yang sesak itu menuju kehidupan, dan hanya sedikit yang menemukannya.” (Matius 7:13, 14) Jadi, pilihan Anda menentukan seperti apa masa depan Anda. Apa yang akan Anda lakukan?
a Untuk tahu lebih banyak tentang manfaat tebusan bagi kita, silakan lihat pelajaran 27 dari buku Hidup Bahagia Selamanya!, yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Buku itu bisa didownload gratis dari situs www.pr418.com/id.
-
-
Pilihannya Ada di Tangan Anda!Menara Pengawal (Edisi Umum)—2018 | No. 2
-
-
Pilihannya Ada di Tangan Anda!
APAKAH ANDA MEMANG BISA MENENTUKAN MASA DEPAN ANDA? Banyak orang percaya bahwa hidup mereka diatur oleh takdir, atau nasib. Kalau mereka tidak berhasil melakukan sesuatu, mereka hanya bilang, ”Yah, ini memang sudah nasib saya.”
Yang lainnya kecewa karena mereka merasa dunia yang kejam dan tidak adil ini tidak akan membaik. Mereka mungkin sudah berusaha memperbaiki keadaan, tapi perang, kejahatan, bencana alam, dan penyakit terus terjadi. Akhirnya mereka berpikir, ’Untuk apa saya berusaha lagi?’
Memang, ada hal-hal di luar kendali kita yang bisa mengubah rencana yang sudah kita buat. (Pengkhotbah 9:11) Namun, bagaimana dengan masa depan kita? Alkitab menunjukkan bahwa kita sendirilah yang menentukan apakah kita akan mendapat kehidupan abadi yang Allah janjikan. Itu bergantung pada pilihan yang sekarang kita buat.
Musa, pemimpin bangsa Israel pada zaman dulu, memberi tahu bangsa itu sebelum mereka masuk ke negeri yang Allah berikan untuk mereka, ”Saya sudah memberi kalian pilihan, kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. . . . Kalian dan keturunan kalian harus memilih kehidupan supaya kalian bisa tetap hidup. Kalian harus menyayangi Yehuwa Allah kalian, mendengarkan perkataan-Nya, dan tetap setia kepada-Nya.”—Ulangan 30:15, 19, 20.
”Saya sudah memberi kalian pilihan, kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. . . . Kalian dan keturunan kalian harus memilih kehidupan.”—Ulangan 30:19
Setelah Allah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, mereka diberi kesempatan untuk menikmati kehidupan yang menyenangkan sebagai orang merdeka di Negeri Perjanjian. Tapi semua itu tidak akan mereka dapatkan secara otomatis. Supaya bisa mendapat berkat itu, mereka harus ”memilih kehidupan”. Caranya adalah dengan ’menyayangi Allah, mendengarkan perkataan-Nya, dan tetap setia kepada-Nya’.
Sekarang, kita punya pilihan yang sama, dan apa yang kita pilih akan menentukan masa depan kita. Kalau kita memilih untuk mengasihi Allah, mendengarkan apa yang Dia beri tahukan, dan setia kepada-Nya, kita memilih kehidupan abadi di bumi yang sempurna. Nah, apa saja yang harus kita lakukan untuk menjalankan setiap langkah itu?
MEMILIH UNTUK MENYAYANGI ALLAH
Kasih adalah sifat Allah yang utama. Dengan bimbingan Allah, Rasul Yohanes menulis, ”Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8) Karena itulah, ketika Yesus ditanya mana perintah yang terbesar, dia mengatakan, ”Kasihilah Yehuwa Allahmu dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, dan seluruh pikiranmu.” (Matius 22:37) Allah ingin kita menyayangi-Nya dari hati, bukan sekadar taat karena takut atau karena kewajiban. Tapi, kenapa kita harus memilih untuk menyayangi Allah?
Kasih Yehuwa kepada manusia mirip dengan kasih orang tua kepada anak mereka. Meski bukan manusia sempurna, orang tua yang pengasih mengajar, menyemangati, membantu, dan mendisiplin anak mereka supaya anak itu bahagia dan sukses. Apa yang diinginkan orang tua sebagai balasan? Mereka ingin anak itu menyayangi mereka dan melakukan apa yang mereka ajarkan, yang sebenarnya demi kebaikan anak itu sendiri. Bapak kita di surga, yang sempurna, juga begitu. Dia ingin kita menghargai semua yang telah Dia lakukan bagi kita.
MENDENGARKAN PERKATAANNYA
Dalam bahasa asli yang dipakai untuk menulis Alkitab, kata ”mendengarkan” mengandung arti ”mematuhi”. Sebenarnya itu juga yang kita maksudkan waktu kita mengatakan, ”Kamu harus mendengarkan Papa Mama, ya.” Jadi mendengarkan perkataan Allah juga berarti mempelajari dan menaati perkataan-Nya. Kita tidak bisa mendengar langsung suara Allah, tapi kita bisa mendengarkan Allah dengan membaca dan menjalankan apa yang ada dalam Firman-Nya, Alkitab.—1 Yohanes 5:3.
Mendengarkan perkataan Allah itu sangat penting. Karena itulah Yesus berkata, ”Manusia harus hidup, bukan dari roti saja, tapi dari setiap kata yang keluar dari mulut Yehuwa.” (Matius 4:4) Setiap hari, kita harus makan. Tapi makanan rohani lebih penting lagi. Kita harus terus belajar tentang Allah. Raja Salomo yang bijaksana menjelaskan alasannya: ”Hikmat adalah perlindungan, seperti uang adalah perlindungan, tapi pengetahuan ditambah hikmat bermanfaat untuk menjaga kehidupan pemiliknya.” (Pengkhotbah 7:12) Pengetahuan dan hikmat dari Allah bisa melindungi kita dan membantu kita membuat pilihan yang bijaksana sehingga kita bisa hidup abadi.
TETAP SETIA KEPADANYA
Artikel sebelumnya menyebutkan perumpamaan Yesus ini: ”Gerbang yang sempit dan jalan yang sesak itu menuju kehidupan, dan hanya sedikit yang menemukannya.” (Matius 7:13, 14) Kalau kita melewati jalan seperti itu, lebih baik kita berjalan bersama orang yang mengenal baik jalan itu supaya kita sampai ke tujuan. Jadi, untuk mendapat kehidupan abadi, kita harus tetap dekat dengan Allah. (Mazmur 16:8) Apa maksudnya dekat dengan Allah?
Setiap hari, ada banyak hal yang harus dan ingin kita lakukan. Semua itu bisa membuat kita sibuk sehingga tidak punya waktu untuk memikirkan apa yang Allah inginkan dari kita. Karena itu Alkitab menasihati, ”Perhatikan baik-baik cara hidup kalian, supaya kalian hidup sebagai orang yang bijaksana, bukan sebagai orang yang tidak bijaksana. Gunakan waktu kalian sebaik-baiknya, karena zaman sekarang ini jahat.” (Efesus 5:15, 16) Jadi, supaya kita bisa tetap dekat dengan Allah, Dia harus menjadi yang nomor satu dalam hidup kita.—Matius 6:33.
PILIHANNYA ADA DI TANGAN ANDA
Kita tidak bisa mengubah masa lalu kita, namun soal masa depan kita dan orang-orang yang kita sayangi, kita punya pilihan. Alkitab menunjukkan bahwa Allah Yehuwa, Bapak kita yang ada di surga, sangat menyayangi kita. Dia juga memberi tahu kita apa yang Dia inginkan dari kita. Perhatikan apa yang ditulis Nabi Mikha:
”Manusia, Dia telah memberitahumu apa yang baik. Apa yang Yehuwa minta darimu? Dia hanya memintamu untuk bertindak adil, menunjukkan kasih dengan baik hati dan setia, dan berjalan dengan sadar diri bersama Allahmu!”—Mikha 6:8.
Apakah Anda mau menerima undangan Yehuwa untuk berjalan dengan-Nya dan mendapat berkat-berkat abadi yang Dia sediakan? Pilihannya ada di tangan Anda!
-
-
”Orang-Orang yang Lembut Hati Akan Memiliki Bumi”Menara Pengawal (Edisi Umum)—2018 | No. 2
-
-
”Orang-Orang yang Lembut Hati akan Memiliki Bumi”
Kebanyakan dari kita sering melihat orang baik diperlakukan tidak adil atau ditindas oleh orang jahat. Mungkinkah ketidakadilan dan kejahatan berakhir?
Alkitab menjawabnya di Mazmur 37. Mazmur itu juga memberi kita petunjuk untuk kehidupan kita sekarang. Perhatikan beberapa contohnya.
Bagaimana seharusnya reaksi kita kalau ada orang yang berbuat jahat kepada kita?—Ayat 1, 2.
Apa yang akan terjadi dengan orang jahat?—Ayat 10.
Apa yang harus kita lakukan sekarang?—Ayat 34.
Firman Allah di Mazmur 37 dengan jelas menunjukkan bahwa orang yang ’berharap kepada Yehuwa dan mengikuti jalan-Nya’ akan punya masa depan yang cerah. Saksi-Saksi Yehuwa senang membantu Anda mempelajari Alkitab. Anda dan orang-orang yang Anda sayangi bisa tahu caranya mendapatkan masa depan yang Allah janjikan itu.
-