-
Bagian 5: 1943-1945 Perang Dunia II—Kedahsyatannya dan Akhir yang PanasSedarlah!—1988 (No. 25) | Sedarlah!—1988 (No. 25)
-
-
Seraya penyerbuan Sekutu yang dinanti-nantikan atas Eropa semakin dekat, serangan bom Sekutu, yang disebut ”Pointblank [dibidik langsung ke sasaran]”, menjadi semakin hebat. Sebenarnya, hal itu terus berlangsung sampai akhir peperangan, salah satu dari serangan bom perang yang paling kontroversial baru terjadi pada bulan Pebruari 1945. Surat kabar Jerman Stuttgarter Zeitung melaporkan, ”Pada mulanya sasaran yang dipertimbangkan adalah Berlin. Kemudian diputuskan untuk memilih sebuah kota yang belum pernah dijamah . . . , kota Dresden. . . . Kerusakannya yang besar, mendahului apa yang terjadi di Hiroshima, membuat serangan ini berbeda dari semua serangan lain.” Buku Illustrierte Wochenzeitung menambahkan, ”Dresden, salah satu kota paling indah di Eropa, menjadi kota mati. Tidak ada kota lain di Jerman yang dibom dengan begitu sistematis sampai hancur berkeping-keping.”
Bandingkan dua penjelasan saksi mata atas serangan bom ini dalam kotak di bawah. Kemudian tanyakan pada diri sendiri, Adakah hal lain yang dapat lebih menjelaskan kekejaman dan kegilaan perang?
-
-
Bagian 5: 1943-1945 Perang Dunia II—Kedahsyatannya dan Akhir yang PanasSedarlah!—1988 (No. 25) | Sedarlah!—1988 (No. 25)
-
-
[Kotak di hlm. 29]
Suatu Lautan Api yang Dahsyat
”Seluruh kota Dresden goncang. Bom pembakar memuntahkan bensin dan fosfor seperti hujan. Kobaran api mencuat dari gedung-gedung sampai ke jalan, membuat aspal menyala dan rel trem merah membara. Itu merupakan suatu lautan api yang dahsyat dengan lebar empat kilometer [2,5 mil] dan panjang tujuh kilometer [4,5 mil]. Tujuh puluh ribu orang terbakar hidup-hidup, terkoyak oleh bom, remuk oleh reruntuhan tembok, tercekik oleh asap. Badai api yang amat besar meledakkan segala sesuatu ke udara—perabot, ya, bahkan orang seakan-akan berputar dalam lingkaran api. Di pasar yang lama, ada tanki air yang besarnya tiga meter persegi [10 kaki]. Orang-orang yang sangat ketakutan mencemplungkan diri ke dalam air mencari perlindungan, di sana mereka tenggelam atau mati lemas; sedikit yang keluar hidup. Hanya mayat-mayat hangus ditemukan kembali. Mustahil untuk mengubur orang mati; mayat-mayat ditumpuk saja, disirami bensin, dan dibakar; tumpukan dibakar sampai berhari-hari tanpa berhenti. Rumah kami musnah sama sekali. Kami juga kehilangan Yosie yang tersayang dan putranya yang kecil berumur lima tahun.”—Penduduk Dresden H. dan S.M.
”Dari udara kota itu tampak sangat indah, menyala. . . . di tengah-tengah api yang beraneka warna . . . Sama sekali tidak terpikirkan oleh saya bahwa hal itu sesuatu yang begitu seram, karena keindahannya yang mengerikan.”—Pilot pembom dari Angkatan Udara Kerajaan yang tidak dikenal
-