PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Jerman
    Buku Kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa 1999
    • Tiba-Tiba—Tembok Berlin Runtuh!

      Peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba itu memukau dunia! Orang di seputar dunia menontonnya di televisi. Di Berlin, ribuan orang merayakannya dengan gegap gempita. Perintang antara Timur dan Barat telah disingkirkan. Peristiwanya pada tanggal 9 November 1989.

      Lebih dari 25 tahun sebelumnya, pada dini hari tanggal 13 Agustus 1961, warga Berlin termangu sewaktu melihat para pejabat Berlin Timur membangun sebuah tembok yang memisahkan sektor yang dikendalikan Komunis tersebut dari bagian lain kota itu. Berlin secara fisik dibagi menjadi timur dan barat, dengan demikian mencerminkan situasi antara Jerman Timur dan Barat. Barangkali, yang lebih dramatis lagi, Tembok Berlin kemudian melambangkan pergumulan antara dua negara adidaya selama Perang Dingin.

      Kemudian, pada tanggal 12 Juni 1987, hanya dua tahun sebelum peristiwa mencengangkan pada tahun 1989 tersebut, Presiden AS, Ronald Reagan, berbicara sambil menghadap Gerbang Brandenburg dan membelakangi Tembok Berlin, menuntut, ”Tuan Gorbachev, buka gerbang ini. Tuan Gorbachev, runtuhkan Tembok ini.” Tetapi, apakah ada petunjuk bahwa permohonannya akan dikabulkan? Apakah ini lebih daripada sekadar pertanyaan retorik Perang Dingin? Tampaknya tidak. Pada awal tahun 1989, Erich Honecker, kepala rezim Jerman Timur, seolah-olah sebagai jawaban, menyatakan bahwa Tembok itu ”akan terus ada hingga 50 dan bahkan 100 tahun”.

      Namun, di luar dugaan, tiba-tiba Gerbang Brandenburg dibuka dan Tembok Berlin pun runtuh. Seorang anggota keluarga Betel Selters mengenang bahwa seusai menghadiri perhimpunan sidang pada hari Kamis malam, tanggal 9 November, ia kembali ke rumah dan menyalakan pesawat TV-nya untuk menonton berita tengah malam. Dengan rasa tidak percaya, ia mengikuti laporan bahwa perbatasan antara Berlin Timur dan Barat telah dibuka. Warga Berlin Timur dengan leluasa memasuki Berlin Barat untuk pertama kalinya dalam 27 tahun! Ia nyaris tidak mempercayai penglihatannya: mobil-mobil menyeberangi perbatasan sambil membunyikan klakson tanda puas seraya semakin banyak warga Berlin Barat—beberapa masih mengenakan baju tidur—pergi ke perbatasan dan berbaris di sepanjang jalan untuk menyambut para pengunjung yang tidak terduga ini. Banyak yang meneteskan air mata. Tembok itu telah runtuh—benar-benar dalam semalam!

      Selama 24 jam berikutnya, orang-orang di seluruh dunia nyaris tidak beranjak dari pesawat televisi mereka. Inilah salah satu peristiwa bersejarah. Apa maknanya itu bagi Saksi-Saksi Yehuwa di Jerman? Apa maknanya itu bagi Saksi-Saksi di seluruh dunia?

      Sebuah Trabi Berkunjung

      Pada hari Sabtu pagi berikutnya menjelang pukul delapan, sewaktu seorang saudara pekerja Betel berjalan menuju tempat kerjanya di Selters, ia bertemu seorang rekan anggota keluarga Betel, Karlheinz Hartkopf, yang kini melayani di Hongaria. Dengan girang, saudara itu berkata, ”Saya yakin tidak lama lagi saudara-saudara dari Jerman Timur akan tiba di sini di Selters!” Saudara Hartkopf menanggapi dengan gayanya yang selalu tenang dan terus terang, ”Mereka sudah di sini.” Sebenarnya, pada dini hari itu, dua saudara telah tiba dengan Trabi, mobil dua tak buatan Jerman Timur, dan parkir di luar gerbang Betel, menunggu mulainya jam kerja.

      Berita itu tersebar dengan cepat ke seluruh Betel. Akan tetapi, sebelum semua orang berkesempatan untuk sekadar melihat dan menyalami para pengunjung yang tidak terduga ini, mereka telah kembali ke Jerman Timur, dengan semobil penuh lektur. Meskipun secara resmi lektur masih dilarang, demikian juga dengan pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa, kegirangan akan momen tersebut memberikan keberanian baru kepada saudara-saudara tersebut. ”Kami harus kembali untuk perhimpunan besok pagi,” jelas mereka. Bayangkan betapa bersukacitanya sidang tersebut sewaktu saudara-saudara ini muncul membawa berkardus-kardus lektur yang sudah sedemikian lama ini hanya tersedia dalam jumlah yang sangat terbatas!

      Selama minggu-minggu berikutnya, ribuan orang Jerman Timur berbondong-bondong melewati perbatasan menuju Jerman Barat, bagi banyak di antara mereka, ini adalah yang pertama kali dalam hidup. Jelaslah, mereka menikmati kebebasan bergerak yang telah sedemikian lama terbelenggu. Di perbatasan, mereka disambut oleh lambaian tangan orang-orang Jerman Barat. Saksi-Saksi Yehuwa pun ada di sana, menyambut para pengunjung tersebut—namun, dengan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar pertunjukan emosi secara lahiriah. Mereka membagikan lektur Alkitab secara cuma-cuma kepada para pengunjung dari Timur ini.

      Di beberapa kota perbatasan, sidang-sidang mengerahkan upaya khusus untuk mencapai orang-orang Jerman Timur yang berkunjung ini. Karena lektur Saksi-Saksi Yehuwa telah dilarang selama puluhan tahun, banyak yang hanya sedikit atau sama sekali tidak mengetahuinya. Sebaliknya daripada melakukan kegiatan dari rumah ke rumah, dinas ”dari Trabi ke Trabi” menjadi populer. Orang-orang sangat antusias untuk menyelidiki segala sesuatu yang baru, termasuk agama. Dalam beberapa peristiwa, para penyiar cukup berkata, ”Anda mungkin belum pernah membaca kedua majalah ini, soalnya majalah-majalah ini telah dilarang di negeri Anda selama hampir 40 tahun.” Jawaban yang biasa terdengar adalah, ”Wah, kalau dilarang, pasti itu sesuatu yang bagus. Saya mau menerimanya.” Dua penyiar di kota perbatasan, Hof, masing-masing menempatkan hingga 1.000 majalah dalam satu bulan. Seperti yang diharapkan, sidang-sidang setempat dan tetangga segera kehabisan persediaan majalah mereka yang berlebih.

      Sementara itu, saudara-saudara di Jerman Timur menikmati kebebasan baru mereka, meskipun pada awalnya dengan perasaan waswas. Wilfried Schröter, yang mempelajari kebenaran sewaktu di bawah pelarangan pada tahun 1972, mengenang, ”Selama beberapa hari pertama setelah tembok itu runtuh, sewajarnya kami sedikit takut kalau-kalau segala sesuatu bisa saja mendadak berbalik.” Tidak sampai dua bulan kemudian, ia menghadiri kebaktian di Balai Kebaktian Berlin. Mengenai kebaktian itu, ia belakangan melaporkan, ”Saya benar-benar terharu karena dapat bergaul dengan begitu banyak saudara. Saya menitikkan air mata sewaktu kami menyanyikan lagu-lagu Kerajaan, demikian juga dengan saudara-saudara lainnya. Sungguh besar rasa sukacita kami untuk hadir ’secara langsung’ di sebuah kebaktian.”

      Ungkapan penghargaan yang serupa datang dari Manfred Tamme. Selama pelarangan, perhimpunan diadakan dalam kelompok kecil, dan tidak butuh peralatan pengeras suara. Tetapi, kini ia berkata, ”Meskipun saya telah menjadi perintis istimewa selama 30 tahun lebih, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya sekarang berbicara melalui mikrofon. Saya masih ingat betapa takutnya saya sewaktu mendengar suara saya keluar dari pengeras suara.” Meskipun demikian, katanya, ”sungguh menakjubkan untuk tiba-tiba dapat duduk bersama seluruh sidang di sebuah balai sewaan”.

      Dan, betapa memuaskan untuk mendengar pendapat dari orang-orang lain, seperti yang didengar Manfred beberapa bulan kemudian. Ia melaporkan, ”Pada bulan Januari 1990, saya sedang di sebuah sauna untuk perawatan medis. Di sana, saya bertemu mantan agen berwenang dari Angkatan Kepolisian Nasional. Dalam suatu diskusi yang ramah, ia mengatakan, ’Manfred, kini saya sadar bahwa kami tidak seharusnya menyerang kalian.’”

      Makanan Rohani yang Berlimpah!

      ”Manusia harus hidup, bukan dari roti saja, tetapi dari setiap ucapan yang keluar melalui mulut Yehuwa.” Saksi-Saksi Yehuwa di mana pun mereka berada sangat mengenal kebenaran dasar tersebut yang dikutip oleh Yesus Kristus dari Kitab-Kitab Ibrani yang terilham. (Mat. 4:4; Ul. 8:3) Dengan bantuan yang pengasih dari persaudaraan internasional, bahkan selama tahun-tahun pelarangan, Saksi-Saksi di Jerman Timur menerima makanan rohani, tetapi dalam jumlah terbatas. Mereka sangat mendambakan makanan rohani yang berlimpah yang dinikmati oleh saudara-saudara mereka di negeri lain!

      Segera setelah Tembok Berlin runtuh, Saksi-Saksi secara perorangan mulai membawa persediaan lektur ke Timur. Sekitar empat bulan kemudian, pada tanggal 14 Maret 1990, pengakuan resmi diberikan kepada Saksi-Saksi Yehuwa di Republik Demokratik Jerman. Kini, Lembaga dapat melakukan pengiriman langsung. Pada tanggal 30 Maret, sebuah truk bermuatan 25 ton makanan rohani meninggalkan kompleks Selters dan menuju ke timur. Sebagaimana selanjutnya dikomentari 1991 Britannica Book of the Year, ”Hanya dalam waktu dua bulan, kantor cabang Lembaga Menara Pengawal di Jerman Barat mengirimkan 275 ton lektur berdasarkan Alkitab, termasuk 115.000 Alkitab, ke Jerman Timur saja.”

      Pada waktu itu, seorang saudara dari Leipzig menulis kepada seorang rekan Saksi di Jerman Barat, ”Seminggu yang lalu kami masih diam-diam mengimpor makanan dalam jumlah kecil; tak lama lagi kami akan mengosongkan sebuah truk bermuatan empat ton makanan!”

      ”Pengiriman lektur pertama tiba terlalu cepat,” kenang Heinz Görlach dari Chemnitz, ”sehingga kami tidak siap. Setelah pengiriman pertama tiba, saya kesulitan mencapai tempat tidur saya—seluruh kamar tidur saya penuh dengan kardus lektur. Saya merasa seolah-olah sedang tidur di ruang harta.”

      Saudara-saudara di Selters juga secara kecil-kecilan merasakan makna situasi baru itu bagi orang-orang yang telah sedemikian lama terasing dari perkara-perkara, yang sering kali diabaikan oleh Saksi-Saksi di negara-negara bebas. Seorang pengawas percetakan melaporkan, ”Seorang saudara lanjut usia yang berpakaian sederhana berdiri sambil mengamati salah satu mesin cetak kami. Kelompok turnya telah berlalu, tetapi ia masih tinggal, sambil merenung dalam-dalam, seraya mengamati majalah-majalah membanjir keluar dari mesin dengan kecepatan tinggi. Sambil menitikkan air mata, ia mendekati salah seorang saudara; tampak jelas ia sangat tergugah. Sambil berupaya mengatakan sesuatu dalam bahasa Jerman yang terpatah-patah, suaranya tergagap. Tetapi, kami memahami senyumnya seraya ia mengeluarkan beberapa lembaran kertas dari kantong dalam jaketnya, menyerahkannya kepada kami, dan segera pergi. Apa yang ia berikan kepada kami? Menara Pengawal berbahasa Rusia yang nyaris tidak terbaca yang telah disalin pada lembaran-lembaran buku tulis. Berapa lama dibutuhkan untuk membuat salinan majalah ini? Kami tidak mengetahuinya namun, yang pasti, ratusan kali lebih lama daripada sepersekian detik yang kami butuhkan untuk menghasilkan satu majalah dengan mesin cetak tersebut.”

      Saksi-Saksi di setiap kelompok pelajaran tidak perlu lagi menggunakan majalah berukuran kecil atau salinan tangan dalam jumlah sedikit yang hanya dapat mereka simpan selama beberapa hari. Kini setiap orang memiliki eksemplarnya sendiri—dengan ilustrasi dalam tata warna penuh—dan eksemplar tambahan untuk digunakan dalam dinas pengabaran.

      Penyesuaian untuk Beribadat secara Terbuka

      Memperoleh kebebasan yang lebih besar menghadirkan tantangan tersendiri. Mengabar di bawah pelarangan pemerintah menuntut keberanian. Hal itu juga mengajar mereka untuk sepenuhnya bersandar kepada Yehuwa. Akan tetapi, setelah pelarangan dicabut, Ralf Schwarz, seorang penatua Kristen di Limbach-Oberfrohna, berkata, ”Kami harus lebih berhati-hati agar tidak disimpangkan oleh materialisme dan kekhawatiran hidup.” Dalam beberapa kasus, setelah Jerman Timur berintegrasi ke dalam Republik Federal, pada bulan Oktober 1990, keluarga-keluarga Saksi di Timur pindah ke perkampungan yang sederhana sehingga mereka dapat membayar sewa tanpa harus bekerja lembur dan melalaikan perhimpunan apabila biaya sewa naik.—Mat. 6:22, 24.

      Bahkan selama tahun-tahun yang sulit di bawah pemerintahan Komunis, saudara-saudara terus ambil bagian dalam dinas pengabaran. Mereka bahkan pergi dari rumah ke rumah—tetapi dengan bijaksana, barangkali dengan mengunjungi satu rumah di satu blok dan kemudian pergi ke blok lain untuk mengunjungi rumah yang lain. Ada yang bahkan melakukannya di saat bahaya pemenjaraan sedang hebat-hebatnya. Martin Jahn, yang baru berusia 11 tahun sewaktu pelarangan diberlakukan, menjelaskan beberapa perubahan yang sekarang mereka hadapi, ”Seluruh daerah harus dikerjakan kembali sehingga para penyiar kini dapat mengerjakan seluruh bagian perumahan. Kami terbiasa dengan sistem lama, yakni hanya mengerjakan sejumlah rumah atau lantai tertentu. Hal ini telah menjadi cara normal untuk waktu yang sedemikian lama sehingga kami harus bersabar dengan mereka yang sulit untuk menyesuaikan diri. Tidak lagi meminjamkan lektur, tetapi sebaliknya, menempatkannya merupakan hal baru bagi penyiar maupun peminat. Karena kami terbiasa melakukannya dengan cara yang berbeda, adakalanya para penyiar memiliki lebih banyak lektur di tas mereka seusai dinas pengabaran daripada sewaktu mereka mulai berdinas.”

      Terdapat juga perubahan dalam sikap orang-orang. Selama tahun-tahun pelarangan, banyak orang memandang Saksi-Saksi Yehuwa sebagai pahlawan karena Saksi-Saksi memiliki keberanian untuk berdiri teguh demi keyakinan mereka. Ini mendatangkan respek terhadap mereka. Dengan adanya kebebasan yang lebih besar, banyak orang menyambut Saksi-Saksi dengan antusiasme hingga taraf tertentu. Akan tetapi, dalam waktu beberapa tahun, keadaannya berubah. Orang-orang semakin sibuk dengan gaya hidup yang dibawa oleh perekonomian pasar bebas. Beberapa dari mereka mulai menganggap kunjungan Saksi-Saksi sebagai gangguan terhadap perdamaian dan ketenangan mereka, bahkan menganggapnya mengesalkan.

      Memberikan kesaksian di bawah pelarangan membutuhkan keberanian. Membuat penyesuaian terhadap situasi baru menuntut tekad yang sama besarnya. Malahan, banyak Saksi sependapat dengan pernyataan seorang pengawas di sebuah negara Eropa Barat tempat pekerjaan telah lama dilarang, yakni, ”Bekerja di bawah pelarangan lebih mudah daripada melakukannya sewaktu keadaan bebas.”

      Tentangan Gagal Memperlambat Pekerjaan

      Meskipun memberitakan kabar baik di Jerman Timur dimulai dengan kekuatan yang diperbarui, pemimpin agama Susunan Kristen pada mulanya tidak terlalu prihatin. Akan tetapi, sewaktu tampak jelas bahwa orang-orang mendengarkan Saksi-Saksi Yehuwa dengan sungguh-sungguh, para pemimpin agama pun mulai resah. Menurut Deutsches Allgemeines Sonntagsblatt, seorang rohaniwan dari Dresden yang menganggap dirinya sebagai pakar agama menyatakan bahwa ”Saksi-Saksi Yehuwa sama seperti Partai Komunis”. Jadi, sebaliknya daripada menyatakan bahwa Saksi-Saksi adalah mata-mata Amerika yang menentang Komunisme, sebagaimana dilakukan pemimpin agama pada tahun 1950-an, mereka kini mencoba mengaitkan Saksi-Saksi dengan Komunis. Tentu saja, orang-orang yang tahu bahwa Saksi-Saksi telah dilarang oleh pemerintah Komunis selama 40 tahun sadar bahwa ini adalah penyalahgambaran yang jelas-jelas keliru.

      Apa tujuannya? Pemimpin agama berharap agar Saksi-Saksi Yehuwa kembali dilarang, persis seperti pada era Nazi dan sekali lagi di bawah pemerintahan Komunis. Meskipun unsur-unsur agama, yang didukung oleh orang-orang murtad, berjuang untuk mencegah Saksi-Saksi Yehuwa menikmati kebebasan yang dilindungi oleh undang-undang, Saksi-Saksi memanfaatkan sepenuhnya kesempatan untuk memberikan kesaksian, sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Yesus Kristus.—Mrk. 13:10.

      Beberapa yang Menyambut Kebenaran

      Di antara orang-orang yang menyambut berita Kerajaan terdapat mereka yang telah jauh terlibat dalam sistem tua. Selama 38 tahun, Egon menjadi polisi Jerman Timur. Ia sama sekali tidak senang sewaktu istrinya mulai belajar dengan Saksi-Saksi Yehuwa. Akan tetapi, ia terkesan oleh perilaku mereka yang ramah, pengasih, dan berdisiplin, serta artikel-artikel tepat waktu dalam Sedarlah! yang sering mereka bawa ke rumahnya. Sewaktu menghadiri kebaktian istimewa bersama istrinya, ia terkejut sewaktu bertemu muka dengan seorang saudara yang pernah ia tangkap. Dapat dibayangkan betapa ia merasa gelisah, ya, bahkan bersalah. Tetapi, terlepas dari peristiwa masa lalu, persahabatan berkembang di antara mereka berdua. Kini Egon dan istrinya adalah Saksi-Saksi yang terbaptis.

      Selama 19 tahun, Günter menjadi anggota Dinas Keamanan Negara, dan ia telah mencapai pangkat mayor. Dengan perasaan sakit hati dan kecewa setelah runtuhnya sistem yang untuknya ia bekerja selama ini, ia bertemu Saksi-Saksi untuk pertama kalinya pada tahun 1991. Ia terkesan oleh tingkah laku dan pengertian yang mereka perlihatkan kepadanya serta problemnya. Sebuah pengajaran Alkitab dimulai dan, meskipun ia seorang ateis, akhirnya ia diyakinkan bahwa Allah itu ada. Pada tahun 1993, ia siap untuk pembaptisan. Kini, ia dengan bahagia bekerja mendukung Kerajaan Allah.

      Pria lain, yang tidak beriman akan Allah dan sepenuhnya yakin bahwa Komunisme adalah satu-satunya harapan bagi umat manusia, tidak segan-segan untuk menyusup ke dalam organisasi Yehuwa guna menyampaikan informasi mengenai kegiatan mereka kepada Dinas Keamanan Negara. Setelah ”dibaptis” pada tahun 1978, ia menjalani kehidupan bermuka dua selama sepuluh tahun. Tetapi, kini ia mengakui, ”Perilaku Saksi-Saksi Yehuwa, yang saya alami secara langsung, dan pelajaran dari buku Penciptaan dan Wahyu Klimaksnya meyakinkan saya bahwa banyak dari apa yang dikatakan oleh musuh mengenai Saksi-Saksi tidaklah benar. Bukti keberadaan seorang Pencipta sungguh berlimpah.” Tidak lama sebelum Tembok Berlin runtuh, ia menghadapi keputusan yang sulit: apakah akan mencari alasan untuk mengundurkan diri dari umat Yehuwa dan terus mendukung sistem yang tidak lagi ia percayai atau mengaku sebagai pengkhianat dan kemudian berupaya keras untuk menjadi hamba Yehuwa yang sejati. Ia memilih yang terakhir. Pertobatannya yang tulus mengarah pada pengajaran Alkitab dan pembaptisan untuk kedua kalinya, kali ini didasarkan atas pengetahuan yang saksama dan pembaktian yang sejati.

      Sekarang Mereka Boleh Menceritakannya

      Setelah pelarangan dicabut, Saksi-Saksi dari Timur dapat berbicara dengan lebih leluasa mengenai pengalaman mereka di bawah pemerintahan Komunis. Dalam upacara penahbisan sebuah bangunan administratif milik Saksi-Saksi Yehuwa di Berlin pada tanggal 7 Desember 1996, beberapa penatua yang memainkan peranan penting dalam memelihara kawanan di Jerman Timur agar tetap kuat secara rohani mengenang masa lalu.

      Wolfgang Meise, yang menjadi Saksi selama 50 tahun, mengenang kejadian pada bulan Juni 1951, sewaktu ia berusia 20 tahun. Dalam sebuah persidangan terbuka yang dipublisitaskan, ia dijatuhi hukuman penjara selama empat tahun. Sewaktu ia dan beberapa saudara lain yang tertuduh digiring keluar, sekitar 150 Saksi yang juga hadir di persidangan tersebut mengelilingi mereka, menyalami tangan mereka, dan mulai menyanyikan sebuah lagu Kerajaan. Kepala-kepala menyembul dari semua jendela gedung pengadilan seraya orang-orang mencoba melihat apa yang sedang terjadi. Itu bukanlah kesan yang ingin ditanamkan kalangan berwenang dalam benak publik. Peristiwa ini mengakhiri pengadilan terbuka semacam itu terhadap Saksi-Saksi.

      Egon Ringk mengenang bahwa pada masa-masa awal pelarangan, setiap artikel Menara Pengawal diketik dengan enam hingga sembilan salinan kertas karbon sekaligus. ”Guna menyediakan makanan rohani bagi sidang-sidang, seorang saudara dari Berlin Barat, pengemudi truk yang pulang-pergi antara Berlin Barat dan Jerman Timur, merelakan diri untuk digunakan. ’Makanan’ tersebut dipindahkan dengan cepat—hanya dalam waktu tiga atau empat detik—dalam bentuk dua boneka beruang besar dengan ukuran yang sama yang dipindahkan dari satu kendaraan ke kendaraan lain. Setibanya di rumah, perut mereka ’dikosongkan’ untuk menyingkapkan berita dan informasi penting mengenai jadwal yang baru.”—Bandingkan Yehezkiel 3:3.

      Pengalaman-pengalaman disampaikan mengenai keberanian para kurir yang memperoleh lektur di Berlin Barat sebelum tembok dibangun dan menyelundupkannya ke Jerman Timur. Tentu saja, ada kemungkinan bahwa akses ke Berlin Barat akan terputus pada suatu hari kelak. Guna membahas kemungkinan itulah sejumlah saudara dari Jerman Timur diundang untuk pertemuan pada tanggal 25 Desember 1960. ”Ini jelas merupakan pengarahan Yehuwa,” Saudara Meise menyatakan, ”karena pada tanggal 13 Agustus 1961, sewaktu tembok itu tiba-tiba dibangun, organisasi kita telah siap.”

      Hermann Laube mengisahkan bahwa ia pertama kali mengenal kebenaran sewaktu menjadi tahanan perang di Skotlandia. Sekembalinya ke Jerman Timur, setelah pelarangan diberlakukan, ia melihat pentingnya menyediakan sebanyak mungkin makanan rohani bagi saudara-saudara. Jadi, Saksi-Saksi memulai kegiatan percetakan mereka sendiri, menggunakan sebuah mesin cetak seadanya. ”Tetapi tanpa kertas, mesin cetak terbaik pun tidak ada nilainya,” komentar Saudara Laube, sambil mengenang hari sewaktu ia diberi tahu bahwa kertas yang tersisa hanya cukup untuk tiga terbitan saja. Jadi, bagaimana?

      Saudara Laube melanjutkan, ”Beberapa hari kemudian, kami mendengar seseorang mengetuk talang rumah. Ternyata seorang saudara dari Bautzen yang mengatakan, ’Kalian yang di bagian percetakan. Beberapa gulungan kertas surat kabar tergeletak di tempat pembuangan Bautzen, sisa-sisa dari pabrik percetakan surat kabar, dan mereka merencanakan untuk menguburnya. Dapatkah kalian menggunakannya?’”

      Saudara-saudara tidak membuang-buang waktu. ”Pada malam itu juga kami berkumpul bersama, dan berangkat menuju Bautzen. Rupanya itu bukan hanya beberapa gulungan, melainkan hampir dua ton kertas! Benar-benar luar biasa bahwa mobil rongsokan kami sanggup membawa kertas itu, namun dalam waktu singkat, semuanya telah dipindahkan. Setelah itu, kami punya cukup kertas untuk terus mencetak hingga Lembaga mengatur agar menyediakan bagi kami publikasi dengan kertas tipis dan huruf-huruf kecil.”

      Keadaan menuntut diberinya perhatian terbesar untuk merahasiakan identitas setiap anggota kawanan. Rolf Hintermeyer mengenang, ”Sekali waktu, setelah bertemu saudara-saudara, saya ditangkap dan dibawa ke sebuah bangunan untuk diinterogasi. Saya memiliki beberapa lembar kertas berisi alamat dan informasi lain. Setelah tiba, kami harus memanjat sebuah tangga lingkar. Ini memberi saya kesempatan untuk menelan lembaran-lembaran itu. Tetapi, karena jumlahnya begitu banyak, perlu waktu cukup lama. Setibanya di puncak tangga, para petugas menyadari apa yang saya lakukan dan mencengkeram leher saya. Saya juga menaruh tangan di leher dan berbicara terbata-bata, ’Yah, akhirnya tertelan juga’. Sewaktu mendengar ini, mereka melepaskan saya, sehingga memberi saya kesempatan untuk benar-benar menelan habis lembaran-lembaran itu, yang kini sudah lebih kecil dan basah.”

      Horst Schleussner menerima kebenaran pada pertengahan tahun 1950-an sewaktu penganiayaan sedang hebat-hebatnya, jadi ia sadar betul akan pernyataannya berikut ini, ”Yang pasti, Allah Yehuwa dengan pengasih melindungi hamba-hamba-Nya sewaktu mereka di bawah pelarangan selama hampir 40 tahun.”

      Perayaan Kemenangan di Berlin

      Dengan berakhirnya era penindasan oleh Komunis, saudara-saudara sangat ingin merayakannya. Yang terutama, mereka rindu untuk mengungkapkan kepada Yehuwa, dalam bentuk kebaktian umum, rasa syukur mereka akan kesempatan yang kini terbuka bagi mereka untuk melayani Dia dengan kebebasan yang lebih besar.

      Segera setelah Tembok Berlin runtuh pada bulan November 1989, Badan Pimpinan memberikan pengarahan untuk mulai merencanakan penyelenggaraan kebaktian internasional di Berlin. Pengorganisasian kebaktian pun segera dibentuk. Pada petang tanggal 14 Maret 1990, kelompok itu dijadwalkan untuk bertemu guna membahas penyelenggaraan kebaktian. Helmut Martin masih mengingat sewaktu pengawas kebaktian yang dilantik, Dietrich Förster, meminta dia untuk mengumumkan kepada saudara-saudara yang berkumpul bahwa pada awal hari itu, pengakuan resmi telah diberikan kepada Saksi-Saksi Yehuwa di Jerman Timur. Ya, pelarangan tersebut secara resmi berakhir!

      Karena perencanaan kebaktian itu dilakukan pada waktu yang relatif terlambat, Stadion Olimpiade tidak lagi tersedia untuk akhir pekan. Jadi, kebaktian tersebut dijadwalkan berlangsung pada hari Selasa hingga hari Jumat, tanggal 24 hingga 27 Juli. Sewaktu tiba saatnya untuk bergerak, saudara-saudara hanya memiliki satu hari untuk mempersiapkan fasilitas tersebut dan hanya beberapa jam untuk membongkar segala sesuatu setelah itu.

      Maka, pada hari Senin tanggal 23 Juli, ratusan sukarelawan telah berada di stadion pada pukul lima pagi. Gregor Reichart, seorang anggota keluarga Betel Selters, mengenang bahwa ”saudara-saudari dari Jerman Timur mengerahkan diri dengan antusias, seolah-olah mereka telah melakukannya selama bertahun-tahun.” Seorang pejabat stadion belakangan mengomentari bahwa ia senang karena ”untuk pertama kalinya, stadion tersebut dibersihkan secara saksama”.

      Sekitar 9.500 warga Jerman Timur mengadakan perjalanan ke kebaktian dengan menggunakan 13 kereta api sewaan. Yang lain datang dengan 200 bus sewaan. Seorang penatua melaporkan bahwa sewaktu hendak menyewa salah satu kereta api itu, ia memberi tahu seorang pejabat kereta api bahwa direncanakan akan ada tiga kereta api sewaan untuk mengangkut Saksi-Saksi dari daerah Dresden saja. Mata sang pejabat membelalak karena takjub, dan bertanya, ”Benarkah ada sedemikian banyak Saksi-Saksi Yehuwa di Jerman Timur?”

      Bagi mereka yang mengadakan perjalanan dengan kereta api sewaan, pertemuan dimulai bahkan sebelum mereka tiba di Berlin. ”Kami berkumpul di stasiun kereta api Chemnitz untuk naik kereta api yang dikhususkan bagi kami,” kenang Harald Pässler, seorang penatua dari Limbach-Oberfrohna. ”Perjalanan ke Berlin itu sungguh tak terlupakan. Setelah bertahun-tahun di bawah pelarangan, manakala kami mengadakan kegiatan dalam kelompok kecil dan di bawah tanah, tiba-tiba kami berkesempatan untuk melihat begitu banyak saudara sekaligus. Sepanjang perjalanan, kami berbaur dalam berbagai gerbong kereta, berbicara dengan saudara-saudara yang telah bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun, tidak kami temui. Reuni ini membawa sukacita yang sungguh tak terlukiskan. Semua orang telah bertambah usia beberapa tahun namun terus bertekun dan setia. Kami disambut di stasiun Berlin-Lichtenberg dan melalui pengeras suara diarahkan ke berbagai tempat berkumpul yang berbeda dan di sana, saudara-saudara dari Berlin sudah berdiri menunggu dengan papan-papan tanda yang besar. Ini benar-benar pengalaman baru—kami muncul tanpa dikenal siapa pun! Kami mengalami sendiri apa yang hingga saat itu hanya kami baca atau dengar: Kami benar-benar menjadi bagian dari persaudaraan internasional yang besar!”

      Malahan, bagi banyak Saksi, ini adalah kebaktian mereka yang pertama. ”Kami semua tergetar sewaktu menerima undangan tersebut,” kenang Wilfried Schröter. Karena ia membuat pembaktiannya pada tahun 1972 semasa pelarangan, kami dapat memahami perasaannya. ”Berminggu-minggu sebelumnya, kami menanti-nantikan kebaktian ini dengan perasaan tegang. Seumur hidup, saya belum pernah merasa seperti ini, demikian pula dengan banyak saudara lain. Benar-benar tak terbayangkan bahwa kami akan menyaksikan suatu persaudaraan internasional yang berkumpul bersama di sebuah stadion yang sangat besar.”

      Betapa seringnya saudara-saudara di Berlin Timur mendambakan untuk menempuh perjalanan sejauh beberapa kilometer menyeberangi kota ke tempat saudara-saudara mereka berhimpun dalam kebaktian! Dan, sekarang, dambaan mereka terwujud.

      Hampir 45.000 orang dari 64 negara yang hadir. Di antaranya termasuk tujuh anggota Badan Pimpinan. Mereka datang untuk bersukacita bersama saudara-saudara Kristen mereka dari Jerman Timur pada peristiwa penting ini. Di stadion inilah Rezim Nazi berupaya menggunakan Pesta Olahraga Olimpiade pada tahun 1936 untuk membuat dunia terkesan akan prestasi mereka. Kini, stadion itu kembali bergema oleh tepuk tangan yang bergemuruh, namun kali ini bukan untuk memuji para atlet atau karena kebanggaan nasional. Mereka adalah anggota dari sebuah keluarga internasional yang benar-benar berbahagia dari umat Yehuwa, dan tepuk tangan mereka merupakan ungkapan syukur kepada Yehuwa dan penghargaan atas kebenaran yang berharga di dalam Firman-Nya. Pada peristiwa ini, 1.018 orang mempersembahkan diri dalam pembaptisan air, sebagian besar dari mereka telah mempelajari kebenaran di Jerman Timur semasa pelarangan.

      Di antara hadirin, barangkali yang paling dapat memahami perasaan saudara-saudara dari Jerman Timur adalah sekitar 4.500 delegasi yang antusias dari Polandia, tetangga dekat Jerman Timur. Mereka juga telah bertekun menghadapi pelarangan selama bertahun-tahun dan baru belakangan itu mengalami kebaktian besar mereka yang pertama setelah bertahun-tahun berlalu. Seorang Saksi asal Polandia belakangan menulis, ”Saudara-saudara dari Polandia sangat menghargai semangat rela berkorban dari tetangganya di barat, yang menyediakan bagi mereka akomodasi, makanan, dan transportasi pulang-pergi ke tempat kebaktian secara cuma-cuma, yang tanpa itu tidak mungkin bagi banyak dari kami untuk datang.”

      Saudara-saudara dari Jerman Barat, yang meskipun sudah biasa menikmati kebaktian dengan bebas, juga merasa sangat terkesan. ”Sungguh menghangatkan hati untuk melihat sejumlah saudara lanjut usia yang setia—beberapa di antaranya bukan hanya dianiaya selama 40 tahun pemerintahan Komunis melainkan juga selama Rezim Nazi—duduk di bagian khusus yang pernah diduduki oleh Adolf Hitler dan orang-orang penting Nazi lainnya,” komentar Klaus Feige, dari keluarga Betel Selters. Bagian terbaik dari stadion tersebut telah dengan penuh kasih dikhususkan bagi orang lanjut usia dan cacat. Ini benar-benar lambang yang mencolok dari Kerajaan Allah, yang kini berkemenangan atas kekuasaan politik yang berkomplot untuk menghentikan derap langkahnya menuju kemenangan akhir!

      Menyediakan Tempat-Tempat untuk Berhimpun

      Segera setelah dicabutnya pelarangan di Jerman Timur, penyelenggaraan dibuat bagi saudara-saudara di sana untuk memperoleh manfaat dari acara kebaktian yang secara teratur dinikmati oleh hamba-hamba Yehuwa di seluruh dunia. Bahkan sebelum wilayah-wilayah direorganisasi sepenuhnya, sidang-sidang diundang untuk menghadiri kebaktian istimewa dan kebaktian wilayah di Jerman Barat. Pada mulanya, para penyiar yang hadir dibagi rata antara yang berasal dari Jerman Barat dan yang dari Jerman Timur. Ini memperkuat ikatan persaudaraan dan juga memberikan kesempatan bagi saudara-saudara dari Jerman Timur untuk mempelajari prosedur kebaktian melalui kerja sama dengan rekan-rekan mereka dari Jerman Barat.

      Seraya wilayah-wilayah terbentuk, saudara-saudara dari Timur diundang untuk memanfaatkan Balai-Balai Kebaktian yang sudah ada di Jerman Barat. Lima balai—yakni yang ada di Berlin, Munich, Büchenbach, Möllbergen, dan Trappenkamp—terletak cukup dekat ke bekas perbatasan sehingga cocok untuk digunakan. Meskipun demikian, sesegera mungkin, pekerjaan dimulai untuk membangun sebuah Balai Kebaktian di Jerman Timur. Balai yang letaknya di Glauchau, dekat Dresden, itu ditahbiskan pada tanggal 13 Agustus 1994, dan sekarang merupakan Balai Kebaktian terbesar milik Saksi-Saksi Yehuwa di Jerman, yang dapat menampung 4.000 orang.

      Perhatian juga diberikan untuk membangun Balai-Balai Kerajaan. Sebelumnya ini tidak diizinkan di Republik Demokratik Jerman, tetapi sekarang balai-balai tersebut dibutuhkan guna mengurus lebih dari 20.000 Saksi di daerah itu. Caranya pekerjaan pembangunan dilakukan membuat orang-orang lain takjub.

      Mengenai pembangunan Balai Kerajaan di Stavenhagen, sebuah surat kabar menulis, ”Caranya dan seberapa cepat bangunan itu ditegakkan telah memukau banyak pengamat yang ingin tahu. . . . Bangunan tersebut didirikan oleh sekitar 240 pembangun yang terlatih dalam 35 jenis keterampilan, semuanya bekerja dengan sukarela dan adalah Saksi-Saksi Yehuwa. Semuanya bekerja pada akhir pekan tanpa dibayar.”

      Surat kabar lain menulis mengenai balai yang dibangun di Pulau Rügen di Laut Baltik, di Sagard, ”Sekitar 50 pria dan wanita, yang sibuk seperti lebah, sedang mempersiapkan fondasi bangunan. Tetapi, mereka melakukannya tanpa terburu-buru. Suasananya sungguh unik, santai dan bersahabat. Meskipun mereka bekerja dengan cepat, tidak ada yang tampak gugup dan tidak ada yang membentak rekan sekerjanya seperti halnya di kebanyakan lokasi pembangunan.”

      Pada akhir tahun 1992, tujuh Balai Kerajaan telah dibangun dan sedang digunakan oleh 16 sidang. Sekitar 30 lainnya sedang dalam tahap perencanaan. Pada tahun 1998, lebih dari 70 persen sidang di bekas Jerman Timur telah berhimpun dalam Balai Kerajaan mereka sendiri.

  • Jerman
    Buku Kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa 1999
    • [Gambar di hlm. 118]

      Kebaktian Berlin, tahun 1990

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan