PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Halaman Dua
    Sedarlah!—1987 (No. 23) | Sedarlah!—1987 (No. 23)
    • Halaman Dua

      Keindahan, keanekaragaman, dan rancangan dalam ciptaan membuat banyak orang percaya bahwa pasti ada Pencipta yang cerdas. Namun, bagi banyak orang lain, penghalang terbesar untuk percaya kepada Allah ialah adanya penderitaan dan kejahatan di dunia. Jika ’Allah adalah kasih’, mengapa Ia membiarkan begitu banyak hal buruk terjadi atas orang-orang baik? Apakah ada alasan yang kuat mengapa Allah mengijinkan kejahatan? Apakah ada alasan untuk percaya bahwa kejahatan tidak akan ada lagi di masa depan yang dekat?

  • Mengapa Kemalangan Menimpa Orang Baik?
    Sedarlah!—1987 (No. 23) | Sedarlah!—1987 (No. 23)
    • Mengapa Kemalangan Menimpa Orang Baik?

      Di kaki gunung berapi San Salvador di El Salvador terletak kota San Ramon. Pada pagi hari tanggal 19 September 1982, kota itu tertimpa tiga gelombang lumpur raksasa. Tercampur oleh hujan yang amat lebat, gelombang lumpur pertama hampir dua tingkat tingginya dan membawa batu-batu besar dan batang-batang pohon. Membentuk suatu jurang yang dalamnya 49 meter dan lebarnya 76 meter, gelombang lumpur itu menggelinding ke bawah sisi gunung berapi, meluncur semakin cepat dan bertambah besar ukurannya. Sampai di bawah, gelombang itu menghantam rumah-rumah bata yang menghalangi jalannya.

      Rumah Anna hancur dalam sekejap di bawah gelombang lumpur yang tak pernah reda. Putri-putrinya memegang Anna dan menjerit, ”Berdoalah untuk kami!” Kemudian lumpur menelan mereka . . .

      Tapi, secara kebetulan sebuah atap genting tersangkut di depan muka Anna, memberikan dia ruang untuk bernafas. ”Saya terus berteriak minta bantuan,” katanya. Kira-kira empat jam kemudian, tetangga mendengar teriakannya dan mulai melepaskan dia. Ia ditemukan terkubur dalam lumpur sampai batas ketiaknya, dengan tubuh putri-putrinya menindih dia dalam lumpur yang mencekik.

      PENDUDUK San Ramón adalah orang-orang yang rendah hati dan ramah. Di antara orang-orang yang mati ada sejumlah orang Kristen yang berbakti, termasuk sepasang pengantin baru, Miguel dan Cecilia, dan satu keluarga terdiri dari lima orang yang tubuhnya ditemukan terpiting dalam pelukan.

      Bagaimanapun juga, malapetaka tidak membedakan antara orang baik dan orang jahat, suatu kenyataan yang sulit diterima banyak orang yang percaya kepada Allah yang pengasih. ’Allah macam apa,’ tanya mereka, ’yang membiarkan pemusnahan yang tidak perlu terjadi? Atau, bagaimana Tuhan yang mahakuasa dapat melihat orang-orang tua tidak memiliki tempat berteduh, keluarga-keluarga yang bekerja keras kehilangan uang tabungan mereka, pria dan wanita muda dalam masa yang terbaik tertimpa penyakit-penyakit yang mematikan—dan tidak berbuat apa-apa?’

      Harold S. Kushner, seorang pendeta Yahudi, mengajukan pertanyaan-pertanyaan demikian sewaktu ia mengetahui bahwa putranya akan mati karena penyakit yang langka. Ketidakadilan yang menyusahkan ini membingungkan Kushner. ”Saya selama ini berbuat baik,” katanya sambil mengingat-ingat. ”Saya telah berusaha melakukan apa yang benar dalam pandangan Allah. . . . Saya yakin bahwa saya mengikuti cara-cara Allah dan melakukan pekerjaanNya. Bagaimana hal ini dapat terjadi atas keluarga saya?” Dalam pencahariannya untuk memperoleh jawaban, muncul bukunya yang terkenal When Bad Things Happen to Good People (Apabila Kemalangan Menimpa Orang-Orang Baik).

      Kushner hanya salah seorang dari banyak ahli teologia yang telah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan mengapa Allah mengijinkan kejahatan. Sebenarnya, manusia telah menaruh Allah dalam pengadilan. Keputusan apa yang telah dicapai oleh Kushner dan para ahli teologi lain? Apakah keputusan mereka adil?

  • Bagaimana Beberapa Orang Menjelaskan Mengapa Allah Mengijinkan Kejahatan
    Sedarlah!—1987 (No. 23) | Sedarlah!—1987 (No. 23)
    • Bagaimana Beberapa Orang Menjelaskan Mengapa Allah Mengijinkan Kejahatan

      ALLAH—bersalah atau tidak dalam mengijinkan penderitaan manusia? Pertanyaan ini dianggap penting bila terjadi bencana yang menimpa secara perseorangan ataupun dalam ukuran besar seperti di San Ramon. Majalah Inggris The Evangelical Quarterly mengatakan, ”Salah satu penghalang terbesar untuk percaya kepada Allah yang mahakuasa, mahapengasih adalah penderitaan yang tampaknya tidak semestinya terjadi di dunia.”

      Karena itu beberapa mungkin menyalahkan Allah karena membiarkan—jika tidak sebenarnya menyebabkan—penderitaan. Ahli teologia John K. Roth menulis, ”Sejarah sendiri merupakan dakwaan terhadap Allah. . . . Jangan menganggap remeh tanggung jawab Allah yang tersangkut.”

      Tetapi, banyak pemikir agama sejak Agustinus, telah berdebat dengan berapi-api demi membela kemurnian Allah. Ahli filsafat abad ketujuh belas Leibniz menemukan suatu istilah untuk usaha ini, theodicy, atau ”pembenaran Allah”.—Lihat halaman 6.

      Teologi Modern Memberi Kesaksian

      Usaha untuk membersihkan Allah dari tuduhan bersalah terus berlangsung sampai jaman modern. Mary Baker Eddy, pendiri Christian Science Church, berusaha menyelesaikan problem itu dengan pertama-tama membantah bahwa kejahatan pernah ada! Dalam Science and Health With Key to the Scriptures, ia menulis, ”Allah . . . tidak pernah membuat manusia sanggup berbuat dosa . . . Maka, kejahatan hanyalah suatu ilusi, dan itu tidak memiliki dasar yang benar.”—Cetak miring dari kami.

      Orang lain telah membenarkan Allah atas dasar bahwa mungkin ada kebaikan dalam penderitaan. Seorang pendeta Yahudi pernah berkata, ”Penderitaan menimpa untuk meninggikan derajat manusia, untuk menjauhkan pikirannya dari kesombongan dan kedangkalan.” Dalam jalur pemikiran yang sama, beberapa teologia telah berteori bahwa penderitaan di bumi ”perlu untuk mempersiapkan kita sebagai pribadi-pribadi yang bermoral bagi kehidupan dalam Kerajaan surga di masa mendatang”.

      Tetapi apakah masuk akal untuk percaya bahwa Allah menyebabkan atau membiarkan bencana terjadi dengan maksud memurnikan atau menghukum manusia? Pastilah orang-orang yang terkubur hidup-hidup di San Ramon tidak banyak kesempatan untuk memperbaiki perkembangan moral mereka. Apakah Allah mengorbankan mereka untuk memberi pelajaran kepada orang-orang yang selamat? Jika memang demikian, pelajaran apa gerangan?

      Maka dapat dimengerti mengapa buku Kushner When Bad Things Happen to Good People banyak peminatnya. Karena pengarangnya secara pribadi mengetahui pedihnya penderitaan, ia berusaha untuk menghibur pembacanya, meyakinkan mereka bahwa Allah itu baik. Namun, sewaktu menjelaskan alasan sebenarnya mengapa Allah mengijinkan orang-orang yang tidak berdosa menderita, Kushner berubah memberikan alasan yang aneh. ”Allah ingin orang-orang yang benar hidup damai, berbahagia,” Kushner menjelaskan, ”tetapi kadang-kadang bahkan Dia gagal melakukan hal itu.”

      Dengan demikian Kushner memperkenalkan suatu Allah yang tidak jahat tetapi lemah, suatu Allah yang agak kurang dari mahakuasa. Namun herannya, Kushner masih menganjurkan pembacanya untuk berdoa memohon bantuan ilahi. Tetapi tentang bagaimana Allah yang katanya terbatas ini dapat benar-benar membantu, bagi Kushner tidak jelas.

      Suatu Debat Kuno

      Jadi, para pemikir agama dunia telah gagal menyusun suatu pembelaan yang meyakinkan bagi Allah dan untuk memberikan penghiburan yang sejati bagi para korban kejahatan. Mungkin apa yang seharusnya diadili bukan Allah tetapi teologi! Karena teori yang bertentangan ini hanya sekedar mengingatkan kita akan pemikiran-pemikiran sempit yang diucapkan hampir empat ribu tahun yang lalu. Pada waktu itu suatu debat terjadi berkisar pada penderitaan yang dialami seorang yang saleh bernama Ayub, seorang yang kaya dan terkenal dari Timur yang menjadi korban serentetan malapetaka. Secara berturut-turut Ayub kehilangan kekayaannya, kematian anak-anaknya, dan, akhirnya, ia ditimpa dengan penyakit yang menjijikkan.—Ayub 1:3, 13-19; 2:7.

      Tiga orang yang mengaku temannya datang untuk membantu Ayub. Tetapi bukannya memberikan penghiburan, mereka malahan menyerang dia dengan teologi. Inti dari argumentasi mereka adalah, ’Allah telah melakukan hal ini kepada anda, Ayub! Rupanya anda sedang dihukum karena telah berbuat salah! Selain itu, Allah sama sekali tidak percaya pada kesetiaan hamba-hambaNya.’ (Ayub 4:7-9, 18) Ayub tidak dapat mengerti mengapa Allah seolah-olah ’menjadikan dia sebagai sasaran bagi dirinya sendiri.’ (Ayub 16:11, 12) Untuk kepentingannya, Ayub mempertahankan integritasnya dan tidak pernah menganggap kejahatan berasal dari Allah.

      Walaupun demikian, penghibur-penghibur Ayub sebenarnya telah ’menyatakan Allah jahat’, dengan secara tidak langsung mengatakan bahwa setiap penderita malapetaka dihukum karena perbuatan jahat. (Ayub 32:3) Tetapi Allah segera mengoreksi pandangan mereka yang salah.

  • Menyelidiki Kejahatan dari Agustinus sampai Calvin
    Sedarlah!—1987 (No. 23) | Sedarlah!—1987 (No. 23)
    • Menyelidiki Kejahatan dari Agustinus sampai Calvin

      DALAM bukunya The City of God, ahli teologi abad kelima Agustinus menyatakan bahwa manusia, bukan Allah, yang bertanggung jawab atas adanya kejahatan. Agustinus menulis, ”Allah, pencipta dari sifat-sifat dasar, bukan sifat-sifat jahat, menciptakan manusia benar; tetapi manusia, atas kehendaknya sendiri menjadi jahat dan sepantasnya dikutuk, menurunkan kejahatan dan anak-anak yang terkutuk . . . Maka, akibat salah menggunakan kehendak yang bebas, mulailah seluruh rentetan kejahatan.”

      Salah menggunakan kehendak yang bebas dapat memberikan penjelasan atas banyak, atau kebanyakan, kejahatan yang telah menimpa orang. Namun, dapatkah suatu bencana, seperti yang terjadi di San Ramon, disalahkan pada kehendak manusia yang bebas? Bukankah banyak kejadian yang membawa malapetaka diakibatkan oleh keadaan di luar kendali manusia? Dan bahkan jika manusia sengaja memilih kejahatan, mengapa suatu Allah yang pengasih membiarkan kejahatan berlangsung terus?

      Pada abad ke-16, ahli teologi Protestan John Calvin dari Prancis, seperti Agustinus, percaya bahwa ada orang yang ”ditakdirkan [oleh Allah] untuk menjadi anak-anak dan waris-waris dari kerajaan surga”. Tetapi, Calvin melangkah lebih jauh, menyatakan bahwa Allah juga menakdirkan orang-orang untuk menjadi ”penerima kutukanNya”—menghukum dengan kutukan kekal!

      Doktrin Calvin memiliki gagasan yang mengerikan. Jika seorang menderita kemalangan apapun, bukankah itu menunjukkan bahwa ia termasuk orang-orang yang dikutuk? Lebih jauh, tidakkah Allah menjadi bertanggung jawab atas perbuatan orang-orang yang ditakdirkan? Maka Calvin tanpa disadari membuat Allah menjadi pribadi Pencipta dosa! Calvin mengatakan bahwa ”manusia berdosa atas dukungan dari suatu kehendak yang sangat cepat dan yang cenderung jahat”.—Instruction in Faith, oleh John Calvin.

      Namun, konsep dari kebebasan dan takdir terbukti sangat tidak cocok. Calvin hanya dapat mengabaikan kontradiksi yang memalukan dengan menyatakan bahwa ”pikiran kita yang rendah tidak mungkin dapat menerima penjelasan yang begitu besar, pengertian kita yang kecil tidak dapat menerima hikmat yang sedemikian besar” seperti takdir.

      [Gambar di hlm. 6]

      Agustinus

      John Calvin

  • Kejahatan dan Penderitaan—Bagaimana Akan Berakhir?
    Sedarlah!—1987 (No. 23) | Sedarlah!—1987 (No. 23)
    • Kejahatan dan Penderitaan—Bagaimana Akan Berakhir?

      PENGALAMAN pahit sering kali menyakitkan hati. Tapi, bagaimana jika ada alasan yang sah bagi penderitaan manusia? Dengan pikiran yang demikian, mari kita terus melihat catatan tentang Ayub. Setelah berlalu tiga putaran debat yang sengit, seorang anak muda bernama Elihu berbicara. Ia berkata kepada Ayub, ”Engkau sudah berkata demikian: ’Perkaraku terlebih benar daripada Allah.’” Ya, Ayub telah mementingkan diri dan membenarkan diri sendiri. ”Sesungguhnya,” kata Elihu, ”dalam hal itu engkau tidak benar, demikian sanggahanku kepadamu, karena Allah itu lebih dari pada manusia.”—Ayub 35:2, Klinkert; 33:8-12.

      Allah telah memberikan banyak bukti bahwa ia baik. (Kisah 14:17; Roma 1:20) Jadi apakah adanya kejahatan memberikan alasan untuk meragukan kebaikan Allah? Jawab Elihu, ”Jauhlah dari pada Allah untuk melakukan kefasikan, dan dari pada Yang Mahakuasa untuk berbuat curang.”—Ayub 34:10.

      Allah—Tidak Berkuasa terhadap Kejahatan?

      Kalau begitu, mungkinkah bahwa Allah sekedar tidak cukup berkuasa untuk campur tangan bagi kepentingan Ayub atau orang lain? Sebaliknya! Dari badai angin yang menakutkan, Allah sekarang berbicara untuk kepentingan diriNya sendiri, dengan penuh kuasa meneguhkan kemahakuasaanNya. ”Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi?” Ia bertanya kepada Ayub. Ya, jauh dari keterbatasan, Ia berbicara mengenai diriNya sendiri sebagai Pribadi yang dapat menguasai laut dan memerintah langit dan makhluk-makhluk hidupnya.—Ayub 38:4, 8-10, 33; 39:9; 40:15; 41:1.

      Memang, Allah tidak menjelaskan kepada Ayub mengapa ia dibiarkan menderita. Tetapi ”Apakah si pengecam hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa?” tanya Allah. ”Apakah engkau hendak meniadakan pengadilanKu, mempersalahkan Aku supaya engkau dapat membenarkan dirimu?” (Ayub 39:35; 40:3) Kalau begitu, betapa lancangnya untuk menyalahkan Allah atas penderitaan dunia atau mengarang pembelaan-pembelaan filsafat bagi Dia! Seperti Ayub yang kemudian menjadi sadar, orang-orang sedemikian lebih baik ”mencabut” teori mereka yang bertentangan.—Ayub 42:6.

      Sengketa-Sengketa yang Harus Diselesaikan

      Ayub tidak menyadari bahwa penderitaannya menyangkut sejumlah sengketa besar yang telah diajukan segera setelah manusia diciptakan. Pada waktu itu makhluk roh yang memberontak bernama Setan (”Penentang”) telah menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Allah telah memerintahkan Adam dan Hawa untuk tidak makan dari ”pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat”. Mereka harus menghormati hak Allah untuk menentukan apa yang baik atau buruk bagi mereka. Tapi, sang Penentang, menanamkan keragu-raguan dalam pikiran Hawa, dengan berkata, ”Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Ia kemudian menyanggah Allah, ”Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah.”—Kejadian 2:17; 3:1-5.

      Kata-kata fitnahan Setan mengajukan sengketa-sengketa yang mengganggu: Apakah Allah berdusta ketika Ia memutuskan hukuman mati apabila makan dari buah yang terlarang? Kalaupun demikian, apa hakNya untuk merampas kebebasan makhluk-makhlukNya dan untuk memaksakan standar-standarNya ke atas mereka? Apakah Ia bukan Allah yang mementingkan diri, menahan apa yang baik dari makhluk-makhlukNya? Mungkinkah bebas dari Allah lebih menyenangkan?

      Dengan membunuh para pemberontak masalah tidak akan diselesaikan malahan akan menimbulkan lebih banyak pertanyaan. Hanya dengan membebaskan diri dari Allah tanpa dikendalikan untuk suatu jangka waktu yang cukup lama dapat dibuktikan—sekali untuk selamanya—bahwa tawaran Setan untuk kebebasan adalah undangan menuju malapetaka. Ya, ”seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat”, Setan si Iblis, bukan berada di bawah kuasa Allah. (1 Yohanes 5:19) Penyakit, ketidakadilan, perbudakan ekonomi, kesedihan—semua ini telah menjadi hasil dari pilihan manusia untuk bebas dari Allah dan berada di bawah pemerintahan yang bersifat setan! Dan walaupun ada kemajuan teknologi, keadaan dunia terus memburuk—sering kali karena teknologi modern.

      Tetapi, toleransi Allah untuk semua kesengsaraan ini tidak membuat Dia tidak benar. Sebaliknya, ketidakbenaran manusia telah ”menunjukkan kebenaran Allah”. (Roma 3:5) Cara bagaimana?

      Penderitaan Dilenyapkan—Selama-lamanya!

      ”Sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit,” kata rasul Paulus. (Roma 8:22) Ya, 6.000 tahun yang membawa malapetaka dari kebebasan manusia telah membuktikan kata-kata Yeremia 10:23 benar, ”Manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.” Tapi, segera, Allah dengan adil akan campur tangan dan mulai membimbing urusan umat manusia.

      Karena bencana besar sebagai akibat dari kebebasan manusia telah begitu nyata, Allah kemudian akan melenyapkan segala perkara yang telah menyebabkan penderitaan: peperangan, penyakit, kejahatan, kekerasan—bahkan kematian itu sendiri! (Mazmur 46:8, 9; Yesaya 35:5, 6; Mazmur 37:10, 11; Yohanes 5:28, 29; 1 Korintus 15:26) Halnya seperti yang didengar rasul Paulus dalam penglihatan surgawi, ”Allah . . . akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”—Wahyu 21:3, 4.

      Menarik sekali, Allah mengakhiri penderitaan Ayub dengan memulihkan kesehatan serta kekayaannya dan memberkati dia dengan keluarga besar. (Ayub 42:10-17) Demikian juga, Alkitab menjanjikan kita, ”Penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita . . . karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” (Roma 8:18, 21) Maka kejahatan akan terhapus sama sekali dari ingatan kita!—Bandingkan Yesaya 65:17.

      Hidup bersama Kejahatan

      Sampai tiba masa pelepasan kemerdekaan itu, kita harus tahan hidup dalam dunia yang jahat, tidak mengharapkan Allah melindungi kita dari bencana pribadi. Setan si Iblis memberikan suatu harapan yang palsu ketika ia membujuk Yesus Kristus untuk melompat dari bait, sambil memutarbalikkan isi Alkitab di Mazmur 91:10-12 yang mengatakan, ”Malapetaka tidak akan menimpa kamu . . . sebab malaikat-malaikatNya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau.” Tetapi, Yesus menolak setiap gagasan untuk menerima perlindungan fisik secara mujizat. (Matius 4:5-7) Allah berjanji akan melindungi hanya kesehatan rohani kita.

      Maka orang Kristen sejati tidak menjadi ’gusar hati terhadap [Yehuwa]’, bahkan sewaktu ditimpa tragedi. (Amsal 19:3) Karena ”waktu dan kejadian yang tidak dapat diduga dialami” orang-orang Kristen juga. (Pengkhotbah 9:11, NW) Tetapi, kita bukan tanpa harapan. Kita memiliki harapan hidup kekal dalam dunia baru yang benar, di mana kejahatan tidak akan ada lagi. Kita dapat selalu mendekati Allah Yehuwa dalam doa, karena ia berjanji memberkati kita dengan hikmat yang diperlukan untuk bertahan di bawah pencobaan apa pun! (Yakobus 1:5) Kita juga menikmati dukungan sesama Kristen. (1 Yohanes 3:17, 18) Dan kita mengetahui bahwa kesetiaan di bawah pencobaan membuat hati Yehuwa senang!—Amsal 27:11.

      Tetapi, bertahan menghadapi kejahatan tidak pernah mudah. Maka, sewaktu menghibur orang dalam penderitaan, adalah baik untuk ’menangis dengan orang yang menangis’—dan menawarkan bantuan yang praktis. (Roma 12:15) Dengan cara ini, Anna, yang disebut pada permulaan artikel, berhasil dibantu menghadapi malapetaka. Ia salah seorang dari Saksi Yehuwa dan menemukan bahwa rekan-rekan Kristennya senang sekali membantu, memberikan dia perumahan sementara. Walaupun ia sewaktu-waktu merasa tertekan, ia terhibur oleh pengharapan Alkitab. ”Saya tahu anak-anak saya akan kembali melalui kebangkitan,” kata Anna. Maka, imannya kepada Allah kebaikan lebih dikuatkan lagi.

      Jika anda sedang mengalami penderitaan, tanyakan kepada Saksi-Saksi Yehuwa untuk membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan anda dan mengatasi keragu-raguan. Dari mereka anda juga dapat memperoleh buku Saudara Dapat Hidup Kekal dalam Firdaus di Bumi, yang memuat pasal-pasal yang membantu seperti ”Mengapa Allah Mengizinkan Kejahatan?” dan ”Saudara Terlibat dalam Sengketa Penting”. Memang, sekarang perkara-perkara buruk terjadi atas orang-orang yang baik, tetapi tidak lama lagi semua itu akan berubah. Anda sendiri dapat meminta lebih banyak penjelasan yang terinci dengan menghubungi Saksi-Saksi Yehuwa di daerah anda dan tulislah kepada penerbit majalah ini.

      [Gambar di hlm. 9]

      Di dunia baru Allah yang benar, kejahatan hanya merupakan kenangan masa lalu

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan