-
Dewa dan DewiPemahaman Alkitab, Jilid 1
-
-
Kisah-kisah mitologis membuat dewa-dewi Yunani tampak seperti pria dan wanita biasa. Meskipun dewa-dewi dianggap berperawakan jauh lebih besar dengan kecantikan serta kekuatan yang jauh melampaui manusia, mereka digambarkan bertubuh seperti manusia. Karena yang mengalir dalam pembuluh-pembuluh mereka konon adalah ”ikhor”, dan bukan darah, tubuh para dewa itu dianggap tidak dapat binasa. Meskipun demikian, diyakini bahwa dengan senjata mereka, manusia dapat melukai dewa-dewi itu. Akan tetapi, diceritakan bahwa luka-luka itu selalu sembuh dan dewa-dewi itu tetap muda.
Pada umumnya, dewa-dewi Yunani digambarkan sangat amoral dan mempunyai kelemahan manusiawi. Mereka bertengkar, bertempur, dan bahkan berkomplot untuk menjatuhkan satu sama lain. Zeus, dewa tertinggi orang Yunani, konon menggulingkan Kronus, ayahnya sendiri. Sebelumnya, Kronus sendiri pernah menyingkirkan dan bahkan mengebiri Uranus, ayahnya. Baik Uranus maupun Kronus digambarkan sebagai ayah yang kejam. Uranus segera menyembunyikan di bumi keturunan yang dilahirkan istrinya, Gaea, bahkan tidak mengizinkan mereka melihat cahaya. Di pihak lain, Kronus menelan anak-anak yang dilahirkan baginya oleh Rea. Perbuatan-perbuatan menjijikkan lainnya yang dipraktekkan oleh beberapa dewa antara lain ialah perzinaan, percabulan, inses, perkosaan, dusta, pencurian, pemabukan, dan pembunuhan. Dilukiskan bahwa orang-orang yang tidak diperkenan oleh dewa atau dewi dihukum dengan cara yang paling kejam. Sebagai contoh, Marsyas sang satir, yang menantang dewa Apolo dalam sebuah kontes musik, dipantek oleh Apolo pada batang pohon dan dikuliti hidup-hidup. Dewi Artemis konon mengubah pemburu yang bernama Akteon menjadi rusa jantan lalu membuatnya dilahap anjing-anjing pemburu miliknya sendiri; ini semua karena ia telah melihat sang dewi dalam keadaan telanjang.
Tentu saja, ada yang menyatakan bahwa mitos-mitos itu hanyalah hasil imajinasi para penyair. Tetapi mengenai hal ini, Agustinus menulis pada abad kelima M, ”Meskipun untuk membela diri dikatakan bahwa kisah dewa-dewi mereka itu bukan cerita sesungguhnya, melainkan hanya rekaan para penyair, dan fiksi yang tidak benar, mengapa hal ini justru membuatnya semakin memuakkan, jika kita memang merespek kemurnian agama kita: dan jika Anda mengamati niat jahat si iblis, muslihat mana lagi yang dapat lebih licik atau lebih bersifat menipu? Sebab apabila seorang penguasa yang jujur dan terhormat difitnah, bukankah fitnah itu jauh lebih kejam dan tidak terampuni, sebab kehidupan pribadi yang difitnah itu lebih bersih dan lebih baik daripada sentuhan hal-hal demikian?” (The City of God, Buku II, psl. IX) Akan tetapi, popularitas kisah-kisah para penyair itu sebagaimana dilakonkan di panggung Yunani menunjukkan bahwa kebanyakan orang tidak menganggapnya sebagai fitnah, tetapi sesuai dengan kisah-kisah itu. Perbuatan amoral para dewa berfungsi untuk membenarkan perbuatan salah manusia, dan orang-orang senang akan hal ini.—Lihat YUNANI (Agama Yunani).
-
-
Dewa dan DewiPemahaman Alkitab, Jilid 1
-
-
Allah-allah palsu itu tidak saja memiliki sifat-sifat para pembuatnya, tetapi orang-orang juga menjadi mirip dengan allah-allah yang mereka sembah. Sebagai ilustrasi: Raja Manasye dari Yehuda berbakti kepada allah-allah palsu, bahkan sampai melewatkan putranya melalui api. Tetapi gairah Manasye dalam memajukan ibadat palsu tidak menjadikannya raja yang lebih baik. Sebaliknya, ia menjadi seperti para dewa sembahannya yang haus darah, dengan menumpahkan banyak sekali darah orang yang tidak bersalah. (2Raj 21:1-6, 16) Namun, kontras sekali dengan hal itu, para penyembah Allah yang benar berupaya meniru Pencipta mereka yang Sempurna, dengan mempertunjukkan buah-buah roh-Nya: kasih, sukacita, damai, kepanjangsabaran, kebaikan hati, kebaikan, iman, kelemahlembutan, dan pengendalian diri.—Ef 5:1; Gal 5:22, 23.
-