-
Penghargaan untuk Saudara-Saudara KitaMenara Pengawal—1988 (Seri 53) | Menara Pengawal—1988 (Seri 53)
-
-
Kata yang jauh lebih umum untuk kasih dalam T[erjemahan] B[aru] adalah kata benda agapē dan kata kerja agapan. . . . Philia adalah kata yang indah, tetapi pastilah kata itu menunjukkan kehangatan dan keakraban dan kasih sayang. . . . Agapē ada hubungannya dengan pikiran: ia tidak sekedar suatu emosi yang tanpa diminta muncul di dalam hati kita; ia adalah suatu prinsip yang dengan sengaja kita ikuti dalam hidup. Agapē secara mencolok ada hubungannya dengan kemauan. Ia adalah suatu perjuangan, suatu kemenangan, dan keberhasilan. Tidak ada yang secara alami mengasihi musuh-musuhnya. Untuk mengasihi musuh-musuh merupakan suatu perjuangan melawan semua kecenderungan dan emosi alami kita. Agapē ini . . . sebenarnya adalah kekuatan untuk mengasihi apa yang tidak dapat dikasihi, untuk mengasihi orang yang tidak kita senangi.”
-
-
Penghargaan untuk Saudara-Saudara KitaMenara Pengawal—1988 (Seri 53) | Menara Pengawal—1988 (Seri 53)
-
-
9, 10. Apa yang dimaksud Petrus ketika ia berkata bahwa kita harus saling mengasihi dengan ”bersungguh-sungguh,” atau ”diulurkan”?
9 Petrus menambahkan: ”Hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi [secara aksara, ”dengan tangan yang diulurkan”] dengan segenap hatimu.” Tidak dibutuhkan penguluran dari hati untuk menunjukkan kasih kepada orang yang memang saudara sukai dan yang sebaliknya suka kepada saudara. Tetapi Petrus memberitahu kita untuk mengasihi satu sama lain ”dengan tangan yang diulurkan.” Jika dipertunjukkan di antara orang-orang Kristen, kasih a·gaʹpe tidak sekedar kasih menurut akal sehat seperti yang hendaknya kita miliki terhadap musuh-musuh kita. (Matius 5:44) Ia adalah kasih yang sungguh-sungguh dan membutuhkan upaya. Itu menyangkut mengulurkan hati kita, melebarkannya begitu rupa sehingga dapat memasukkan ke dalamnya orang-orang yang biasanya kita tidak akan tertarik.
10 Dalam Linguistic Key to the Greek New Testament (Kunci Linguistik kepada Perjanjian Baru Yunani), Fritz Rienecker mengomentari kata yang diterjemahkan ”bersungguh-sungguh” atau ”diulurkan,” dalam 1 Petrus 1:22. Ia menulis: ”Pemikiran dasar [dari kata itu] adalah ketulusan, kegairahan (melakukan sesuatu tidak dengan asal jadi . . . tetapi dengan upaya yang keras) (Hort).” Upaya yang keras, antara lain termasuk, ”untuk mengulur sampai batas maksimum.” Mengasihi satu sama lain dengan sungguh-sungguh dan dengan segenap hati berarti mengulur diri kita sejauh mungkin dalam upaya memiliki kasih persaudaraan terhadap semua rekan Kristen kita.
-