-
Memelihara Perdamaian dalam Rumah Tangga SaudaraRahasia Kebahagiaan Keluarga
-
-
JIKA SUAMI TIDAK SEIMAN
Berupayalah mengerti sudut pandangan orang lain
3. (a) Apa nasihat Alkitab berkenaan dengan menikahi orang yang tidak seiman? (b) Prinsip dasar apa saja yang berlaku jika seorang pasangan hidup adalah seorang yang beriman dan yang lainnya tidak?
3 Alkitab dengan tegas menasihati kita untuk tidak menikah dengan seseorang yang memiliki iman keagamaan yang berbeda. (Ulangan 7:3, 4; 1 Korintus 7:39) Akan tetapi, mungkin saja saudari belajar kebenaran dari Alkitab setelah saudari menikah tetapi suami saudari tidak belajar. Jadi bagaimana? Tentu saja, ikrar perkawinan tetap berlaku. (1 Korintus 7:10) Alkitab menandaskan bahwa ikatan perkawinan permanen dan menganjurkan orang-orang yang telah menikah untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan di antara mereka sebaliknya daripada melarikan diri darinya. (Efesus 5:28-31; Titus 2:4, 5) Tetapi, bagaimana jika suami saudari dengan keras menentang saudari menjalankan agama dari Alkitab? Ia mungkin berupaya menghalangi saudari agar tidak pergi ke perhimpunan sidang, atau ia mungkin mengatakan bahwa ia tidak mau istrinya pergi dari rumah ke rumah, berbicara tentang agama. Apa yang akan saudari lakukan?
4. Dengan cara apa seorang istri dapat memperlihatkan empati jika suaminya tidak seiman?
4 Tanyakanlah kepada diri sendiri, ’Mengapa suami saya berperasaan seperti itu?’ (Amsal 16:20, 23) Jika ia tidak sepenuhnya mengerti apa yang saudari lakukan, ia mungkin mengkhawatirkan saudari. Atau ia mungkin ditekan oleh sanak saudara karena saudari tidak lagi mengikuti beberapa kebiasaan tertentu yang penting bagi mereka. ”Ditinggalkan seorang diri di rumah, saya merasa diabaikan,” kata seorang suami. Pria ini merasa bahwa ia kehilangan istrinya karena sebuah agama. Tetapi keangkuhan telah membuatnya tidak mau mengakui bahwa ia kesepian. Suami saudari mungkin perlu diyakinkan kembali bahwa kasih saudari kepada Yehuwa tidak berarti kini kasih saudari kepada suami menjadi kurang daripada sebelumnya. Pastikan untuk menggunakan waktu bersamanya.
5. Keseimbangan apa yang harus dijaga oleh istri yang suaminya berbeda iman?
5 Akan tetapi, ada hal yang bahkan lebih penting untuk diperhatikan jika saudari ingin menangani keadaan ini dengan bijaksana. Firman Allah mendesak para istri, ”Tunduklah kepada suamimu, sebagaimana pantas dalam Tuan.” (Kolose 3:18) Jadi, Alkitab memperingatkan terhadap semangat ingin bebas. Selain itu, dengan mengatakan ”sebagaimana pantas dalam Tuan”, ayat ini menunjukkan bahwa dalam hal ketundukan kepada suami, seseorang juga harus mempertimbangkan ketundukan kepada Tuan. Harus ada keseimbangan.
6. Prinsip-prinsip apa yang hendaknya diingat oleh seorang istri Kristen?
6 Bagi seorang Kristen, menghadiri perhimpunan sidang dan memberi kesaksian kepada orang lain tentang imannya yang didasarkan atas Alkitab merupakan aspek-aspek penting dari ibadat sejati yang tidak boleh diabaikan. (Roma 10:9, 10, 14; Ibrani 10:24, 25) Jadi, apa yang akan saudari lakukan, jika seorang manusia secara langsung memerintahkan saudari untuk tidak memenuhi suatu tuntutan yang spesifik dari Allah? Rasul-rasul Yesus Kristus menyatakan, ”Kita harus menaati Allah sebagai penguasa sebaliknya daripada manusia.” (Kisah 5:29) Teladan mereka menyediakan preseden yang dapat diterapkan pada banyak keadaan dalam kehidupan. Apakah kasih kepada Yehuwa akan menggerakkan saudari untuk memberikan kepada-Nya pengabdian yang secara sah adalah milik-Nya? Pada waktu yang sama, apakah kasih dan respek saudari kepada suami akan membuat saudari berupaya melakukan hal ini dengan cara yang tidak menjengkelkan suami saudari?—Matius 4:10; 1 Yohanes 5:3.
7. Tekad apa yang harus dimiliki seorang istri Kristen?
7 Yesus menyatakan bahwa hal ini tidak selalu mungkin. Ia memperingatkan bahwa karena tentangan terhadap ibadat yang benar, beberapa anggota keluarga yang beriman akan merasa dikerat, seolah-olah sebilah pedang telah memisahkan mereka dari yang lain dalam keluarga. (Matius 10:34-36) Seorang wanita di Jepang mengalami hal ini. Dia ditentang oleh suaminya selama 11 tahun. Suaminya memperlakukan dia dengan buruk dan sering membiarkan dia terkunci di luar rumah. Tetapi dia bertekun. Rekan-rekan dalam sidang Kristen membantu dia. Dia berdoa tanpa henti dan mendapatkan banyak anjuran dari 1 Petrus 2:20. Wanita Kristen ini yakin bahwa jika dia tetap kuat, pada suatu hari suaminya akan bergabung dengan dia melayani Yehuwa. Dan hal itu menjadi kenyataan.
8, 9. Bagaimana hendaknya seorang istri bertindak agar tidak menaruh rintangan yang tidak perlu di hadapan suaminya?
8 Ada banyak hal praktis yang dapat saudari lakukan untuk mempengaruhi sikap teman hidup saudari. Sebagai contoh, jika suami saudari menentang agama saudari, jangan memberi dia alasan yang sah untuk mengeluh di bidang-bidang lain. Jagalah rumah tetap bersih. Jaga penampilan pribadi saudari. Hendaklah murah hati dalam memberikan pernyataan kasih dan penghargaan. Sebaliknya daripada mengkritik, hendaklah mendukung. Perlihatkan bahwa saudari mengharapkan dia bertindak sebagai kepala. Jangan membalas jika saudari merasa telah diperlakukan dengan salah. (1 Petrus 2:21, 23) Pertimbangkanlah ketidaksempurnaan manusiawi, dan jika timbul perselisihan, hendaklah dengan rendah hati mendahului untuk meminta maaf.—Efesus 4:26.
9 Jangan sampai kehadiran saudari di perhimpunan menyebabkan dia terlambat makan. Saudari dapat juga memilih untuk ikut dalam pelayanan Kristen pada waktu suami sedang tidak ada di rumah. Adalah bijaksana jika seorang istri Kristen tidak mengabar kepada suaminya jika hal itu tidak mendapat sambutan. Sebaliknya, ia mengikuti nasihat rasul Petrus, ”Kamu istri-istri, tunduklah kepada suamimu sendiri, agar, jika ada yang tidak taat kepada firman, mereka dapat dimenangkan tanpa perkataan melalui tingkah laku istri mereka, karena telah menjadi saksi mata dari tingkah lakumu yang murni disertai respek yang dalam.” (1 Petrus 3:1, 2) Para istri Kristen berupaya untuk lebih sepenuhnya mempertunjukkan buah-buah roh Allah.—Galatia 5:22, 23.
-
-
Memelihara Perdamaian dalam Rumah Tangga SaudaraRahasia Kebahagiaan Keluarga
-
-
MELATIH ANAK-ANAK
12. Sekalipun suami dan istri berbeda iman, bagaimana hendaknya prinsip-prinsip Alkitab diterapkan dalam melatih anak-anak mereka?
12 Dalam rumah tangga yang tidak bersatu dalam ibadat, pengajaran agama kepada anak-anak kadang-kadang menjadi masalah. Bagaimana hendaknya prinsip-prinsip Alkitab diterapkan? Alkitab menetapkan tanggung jawab utama untuk mengajar anak-anak kepada para ayah, tetapi ibu juga memainkan peranan penting. (Amsal 1:8; bandingkan Kejadian 18:19; Ulangan 11:18, 19.) Sekalipun ayah tidak menerima kekepalaan Kristus, ia tetap kepala keluarga.
13, 14. Jika suami melarang istrinya membawa anak-anak ke perhimpunan Kristen atau belajar bersama mereka, apa yang dapat istrinya lakukan?
13 Beberapa ayah yang tidak beriman tidak keberatan jika ibu mengajarkan hal-hal keagamaan kepada anak-anak. Ayah-ayah lain berkeberatan. Bagaimana jika suami saudari tidak mengizinkan saudari membawa anak-anak ke perhimpunan sidang atau bahkan melarang saudari untuk mempelajari Alkitab bersama mereka di rumah? Nah, saudari harus membuat seimbang sejumlah kewajiban—kewajiban saudari terhadap Allah Yehuwa, kepada suami saudari sebagai kepala, dan kepada anak-anak yang saudari kasihi. Bagaimana saudari dapat membuat semua ini sejalan?
14 Tentu saudari akan berdoa tentang masalah ini. (Filipi 4:6, 7; 1 Yohanes 5:14) Tetapi pada akhirnya, saudarilah yang harus memutuskan haluan apa yang harus diambil. Jika saudari bertindak dengan bijaksana, membuatnya jelas kepada suami bahwa saudari tidak menantang kekepalaannya, tentangannya mungkin akhirnya akan mereda. Sekalipun suami melarang saudari membawa anak-anak ke perhimpunan atau mengadakan pengajaran Alkitab secara resmi dengan mereka, saudari dapat tetap mengajar mereka. Melalui percakapan saudari sehari-hari dan teladan saudari yang baik, cobalah untuk menanamkan dalam diri mereka suatu kadar kasih kepada Yehuwa, iman kepada Firman-Nya, respek kepada orang-tua—termasuk ayah mereka—perhatian yang pengasih terhadap orang lain, dan penghargaan akan kebiasaan kerja yang penuh tanggung jawab. Pada akhirnya, sang ayah mungkin memperhatikan hasil-hasil yang baik dan dapat menghargai nilai dari upaya-upaya saudari.—Amsal 23:24.
-