-
PerumpamaanPemahaman Alkitab, Jilid 2
-
-
(5) Perumpamaan dapat memotivasi seseorang untuk mengambil tindakan dengan satu atau lain cara, dan membuka kedoknya, apakah ia adalah hamba Allah yang sejati atau bukan. Ketika Yesus mengatakan, ”Dia yang makan dagingku dan minum darahku memiliki kehidupan abadi,” ”banyak muridnya pergi kepada perkara-perkara di belakang dan tidak lagi berjalan bersama dia.” Dengan cara ini Yesus ’menyaring’ orang-orang yang tidak benar-benar percaya dari hati mereka.—Yoh 6:54, 60-66.
-
-
PerumpamaanPemahaman Alkitab, Jilid 2
-
-
Tujuan. Tujuan utama semua perumpamaan adalah, seperti yang diperlihatkan sebelumnya, untuk mengajar. Namun, perumpamaan Alkitab juga mempunyai tujuan-tujuan lain:
(1) Perumpamaan kadang-kadang mengharuskan seseorang menggali agar dapat memahami maknanya yang lengkap, dalam, dan mencapai hati; hal ini cenderung membuat enggan orang yang hanya kelihatannya berminat, padahal tidak mengasihi Allah dan tidak menginginkan kebenaran dalam hati mereka. (Mat 13:13-15) Allah tidak mengumpulkan orang demikian. Perumpamaan menggerakkan orang yang rendah hati untuk meminta penjelasan lebih lanjut; orang sombong tidak mau berbuat demikian. Yesus mengatakan, ”Hendaklah dia yang mempunyai telinga mendengarkan,” dan walaupun kebanyakan dari orang-orang yang mendengarkan Yesus telah pergi, para muridnya datang dan meminta penjelasan.—Mat 13:9, 36.
(2) Perumpamaan menyembunyikan kebenaran dari orang-orang yang akan menyalahgunakannya dan yang ingin menjebak hamba-hamba Allah. Yesus menjawab pertanyaan jebakan orang Farisi dengan perumpamaan tentang uang logam pajak, dengan menyimpulkan, ”Karena itu, bayarlah kembali perkara-perkara Kaisar kepada Kaisar, tetapi perkara-perkara Allah kepada Allah.” Musuh-musuhnya dibiarkan untuk membuat penerapan sendiri; tetapi murid-murid Yesus sepenuhnya memahami prinsip kenetralan yang dinyatakan dalam perumpamaan itu.—Mat 22:15-21.
(3) Karena si pendengar sendiri yang menerapkan prinsip-prinsip dalam perumpamaan itu, ia bisa mendapatkan berita peringatan dan hardikan yang jelas melalui perumpamaan tersebut, tetapi pada waktu yang sama ia tidak mempunyai alasan untuk membantah si pembicara. Dengan kata lain, jika si pendengar merasa perumpamaan itu cocok baginya, ia bisa menerapkannya sendiri. Pada waktu orang-orang Farisi mengkritik Yesus karena ia makan bersama para pemungut pajak dan pedosa, Yesus menjawab, ”Orang sehat tidak membutuhkan tabib, tetapi orang sakit membutuhkannya. Maka, pergilah, dan belajarlah apa artinya ini, ’Aku menginginkan belas kasihan, dan bukan korban.’ Karena aku datang untuk memanggil, bukan orang adil-benar, tetapi orang berdosa.”—Mat 9:11-13.
-