-
Adakah Kehidupan Setelah Kematian?Apa yang Terjadi dengan Kita Bila Kita Meninggal?
-
-
Adakah Kehidupan Setelah Kematian?
”Bagi pohon masih ada harapan: apabila ditebang, ia bertunas kembali . . . Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi?”—MUSA, SEORANG NABI ZAMAN PURBA.
1-3. Bagaimana banyak orang mencari penghiburan sewaktu mereka kehilangan orang yang dikasihi dalam kematian?
DI SEBUAH rumah duka di New York City, teman-teman dan keluarga dengan senyap berjalan melewati peti jenazah yang terbuka. Mereka menatap jenazah itu, seorang anak lelaki berusia 17 tahun. Teman-teman sekolahnya sama sekali tidak dapat mengenalinya. Kemoterapi telah merontokkan rambutnya; kanker telah menggerogoti tubuhnya. Inikah teman mereka? Baru beberapa bulan yang lalu, ia begitu kaya dengan gagasan, pertanyaan, energi—penuh semangat hidup! Sang ibu yang berdukacita mencoba menemukan harapan dan penghiburan dengan berpikir bahwa dengan satu atau lain cara putranya masih hidup. Sambil bercucuran air mata, ia terus-menerus mengulangi apa yang selama ini diajarkan kepadanya, ”Tommy lebih bahagia sekarang. Allah ingin agar Tommy berada di surga bersamanya.”
2 Sekitar 11.000 kilometer dari sana, di Jamnagar, India, tiga putra dari seorang pengusaha yang berusia 58 tahun membantu membaringkan jenazah ayah mereka di atas tumpukan kayu pembakaran jenazah. Di bawah cahaya matahari yang terang pada pagi hari itu, putra yang sulung memulai upacara kremasi: menyalakan batang-batang kayu dengan obor serta menuangkan campuran rempah-rempah dan dupa yang harum ke atas tubuh ayahnya yang sudah tidak bernyawa. Gemeretak api teredam oleh suara sang Brahmana yang mengulang-ulangi mantra berbahasa Sanskerta yang berarti, ”Semoga jiwa yang tidak pernah mati melanjutkan upayanya untuk menyatu dengan realitas akhir.”
3 Seraya ketiga bersaudara tersebut mengikuti jalannya kremasi, masing-masing bertanya dalam hati, ’Apakah saya percaya akan kehidupan setelah kematian?’ Karena telah dididik di bagian-bagian dunia yang berbeda, mereka memberikan jawaban yang berbeda. Yang bungsu merasa yakin bahwa ayah mereka yang tercinta akan mengalami reinkarnasi ke kehidupan yang statusnya lebih tinggi. Putra kedua percaya bahwa orang mati seperti orang tidur, sama sekali tidak sadar akan apa pun. Yang sulung sekadar mencoba menerima realitas dari kematian, karena ia berpikir bahwa tidak seorang pun dapat tahu pasti apa yang terjadi dengan kita bila kita meninggal.
Satu Pertanyaan, Banyak Jawaban
4. Apa pertanyaan yang telah menyusahkan umat manusia selama berabad-abad?
4 Adakah kehidupan setelah kematian? adalah pertanyaan yang telah membingungkan umat manusia selama ribuan tahun. ”Bahkan para teolog merasa malu apabila dihadapkan dengan [pertanyaan itu],” kata Hans Küng, seorang sarjana Katolik. Selama berabad-abad, orang-orang dari segala lapisan masyarakat telah memikirkan pokok tersebut, dan tidak sedikit jawaban yang dikemukakan.
5-8. Apa yang diajarkan oleh berbagai agama mengenai kehidupan setelah kematian?
5 Banyak orang yang mengaku Kristen percaya akan surga dan neraka. Sebaliknya, orang Hindu percaya akan reinkarnasi. Sewaktu mengomentari pandangan orang Muslim, Amir Muawiyah, seorang asisten di sebuah pusat agama Islam, mengatakan, ”Kami mempercayai adanya suatu hari penghakiman setelah kematian, pada waktu Anda pergi menghadap Allah, persis seperti berjalan memasuki ruang pengadilan.” Menurut kepercayaan Islam, pada waktu itu Allah akan menilai haluan hidup setiap orang dan menyerahkan orang itu ke firdaus atau ke api neraka.
6 Di Sri Lanka, orang Buddha maupun orang Katolik membiarkan pintu dan jendela terbuka lebar apabila ada anggota keluarga mereka yang meninggal. Sebuah lampu minyak dinyalakan, dan peti jenazah ditempatkan dengan kaki orang mati itu menghadap pintu depan. Mereka percaya bahwa hal-hal ini akan memudahkan keluarnya roh, atau jiwa orang mati itu, dari rumah tersebut.
7 Orang Aborigin Australia, kata Ronald M. Berndt dari University of Western Australia, percaya bahwa ”manusia secara rohani tidak dapat dibinasakan”. Suku-suku tertentu di Afrika percaya bahwa setelah kematian, rakyat biasa akan menjadi hantu, sedangkan pribadi-pribadi terkemuka akan menjadi roh nenek moyang, sebagai pemimpin dari alam roh yang akan dihormati oleh masyarakat dan menjadi tempat meminta petunjuk.
8 Di beberapa negeri, kepercayaan mengenai jiwa-jiwa yang dianggap berasal dari orang mati merupakan campuran tradisi lokal dan kekristenan nominal. Misalnya, di antara banyak orang Katolik dan Protestan di Afrika Barat, ada kebiasaan untuk menutupi cermin-cermin sewaktu ada yang meninggal agar tidak seorang pun memandang ke cermin dan melihat roh orang mati tersebut. Kemudian, 40 hari setelah kematian orang yang dikasihi, keluarga dan teman-teman merayakan kenaikan jiwanya ke surga.
Tema yang Sama
9, 10. Sebagian besar agama sependapat dengan ajaran fundamental apa?
9 Jawaban untuk pertanyaan mengenai apa yang terjadi bila kita meninggal sangat bervariasi, sama seperti kebiasaan dan kepercayaan dari orang-orang yang mengemukakannya. Namun, sebagian besar agama sependapat dengan satu gagasan fundamental: Sesuatu dalam diri seseorang—jiwa, roh, hantu—tidak berkematian dan terus hidup setelah kematian.
10 Kepercayaan akan jiwa yang tidak berkematian hampir bersifat universal dalam ribuan agama dan sekte Susunan Kristen. Ini juga merupakan doktrin resmi dalam Yudaisme. Dalam Hinduisme, kepercayaan ini justru adalah fondasi dari ajaran reinkarnasi. Orang Muslim percaya bahwa jiwa menjadi ada bersama tubuh, tetapi terus hidup setelah tubuh mati. Kepercayaan-kepercayaan lain—animisme di Afrika, Shinto, dan bahkan Buddha—mengajarkan berbagai kepercayaan dari tema yang sama ini.
11. Bagaimana pandangan beberapa sarjana tentang jiwa yang tidak berkematian?
11 Namun, ada orang-orang yang sama sekali berpandangan lain, yaitu bahwa kehidupan yang sadar berakhir pada saat kematian. Bagi mereka, gagasan tentang berlanjutnya kehidupan dengan emosi dan kecerdasan, dalam bentuk jiwa yang abstrak dan samar-samar terpisah dari tubuh, tampaknya tidak masuk akal. Penulis dan sarjana abad ke-20 dari Spanyol, Miguel de Unamuno, menulis, ”Mempercayai jiwa yang tidak berkematian sama saja dengan mengharapkan bahwa jiwa itu tidak bisa mati, tetapi mengharapkannya dengan tekad yang sedemikian kuat sehingga membuat seseorang mengabaikan penalaran dan menjadi tidak masuk akal.” Mereka yang tidak mau mempercayai adanya pribadi yang tidak berkematian di antaranya adalah filsuf Aristoteles dan Epikuros yang terkenal di zaman purba, dokter Hipokrates, filsuf asal Skotlandia, David Hume, sarjana asal Arab, Averroës, dan perdana menteri India yang pertama setelah merdeka, Jawaharlal Nehru.
12, 13. Pertanyaan-pertanyaan penting apa yang timbul mengenai ajaran jiwa yang tidak berkematian?
12 Pertanyaannya sekarang adalah: Apakah kita benar-benar memiliki jiwa yang tidak berkematian? Jika jiwa sebenarnya berkematian, maka bagaimana ajaran palsu semacam itu dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sebagian besar agama dewasa ini? Dari mana gagasan ini berawal? Dan jika jiwa sebenarnya lenyap pada saat kematian, apa harapan yang dapat dimiliki oleh orang-orang mati?
13 Dapatkah kita menemukan jawaban yang benar dan memuaskan untuk pertanyaan-pertanyaan semacam itu? Ya! Pertanyaan-pertanyaan ini dan yang lain akan dijawab pada halaman-halaman berikut. Pertama-tama, marilah kita memeriksa asal usul doktrin jiwa yang tidak berkematian.
-
-
Jiwa yang Tidak Berkematian—Lahirnya Doktrin ItuApa yang Terjadi dengan Kita Bila Kita Meninggal?
-
-
Jiwa yang Tidak Berkematian—Lahirnya Doktrin Itu
”Tidak ada topik sehubungan dengan kehidupan psikis yang telah sedemikian menyibukkan pikiran manusia selain daripada keadaannya setelah kematian.”—”ENCYCLOPÆDIA OF RELIGION AND ETHICS.”
1-3. Bagaimana Sokrates dan Plato memajukan gagasan bahwa jiwa tidak berkematian?
SEORANG sarjana dan guru yang berusia 70 tahun dituduh berbuat tidak pantas dan merusak pikiran orang muda dengan ajarannya. Meskipun ia menyajikan pembelaan yang cemerlang di persidangannya, juri yang berat sebelah memutuskan dia bersalah dan menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Persis beberapa jam sebelum eksekusinya, guru yang sudah tua itu menyajikan kepada para pelajar yang berkumpul di sekelilingnya serangkaian argumen untuk menegaskan bahwa jiwa tidak berkematian dan bahwa kematian tidak perlu ditakuti.
2 Pria yang dihukum itu tidak lain adalah Sokrates, filsuf terkemuka asal Yunani pada abad kelima SM.a Muridnya, Plato, mencatat insiden ini dalam esai Apology dan Phaedo. Sokrates dan Plato diakui termasuk di antara orang-orang pertama yang memajukan gagasan bahwa jiwa itu tidak berkematian. Tetapi mereka bukan pemrakarsa ajaran ini.
3 Sebagaimana akan kita lihat, akar dari gagasan tentang manusia yang tidak berkematian memiliki asal usul yang jauh lebih awal. Akan tetapi, Sokrates dan Plato memoles konsep tersebut dan mengubahnya menjadi ajaran filsafat, sehingga itu menjadi lebih menarik bagi golongan terpelajar pada zaman mereka dan setelahnya.
Dari Pythagoras hingga Piramida
4. Sebelum Sokrates, apa pandangan orang Yunani mengenai kehidupan setelah kematian?
4 Orang-orang Yunani sebelum Sokrates dan Plato juga percaya bahwa jiwa tetap hidup setelah kematian. Pythagoras, pakar matematika terkenal asal Yunani pada abad keenam SM, percaya bahwa jiwa tidak berkematian dan mengalami perpindahan. Sebelum dia, Thales dari Miletus, yang dianggap sebagai filsuf Yunani paling awal yang dikenal, merasa bahwa jiwa yang tidak berkematian bukan hanya ada di dalam manusia, binatang, dan tumbuhan tetapi juga di dalam benda-benda seperti magnet, karena magnet dapat menggerakkan besi. Orang Yunani purba menyatakan bahwa jiwa-jiwa orang mati diangkut dengan perahu menyeberangi Sungai Styx ke suatu alam luas di bawah tanah yang disebut dunia di bawah (netherworld), atau alam baka. Di sana, hakim-hakim akan memvonis jiwa-jiwa tersebut, apakah akan disiksa dalam sebuah penjara yang berdinding tinggi atau menikmati kebahagiaan sempurna di Elysium.
5, 6. Bagaimana orang Persia memandang jiwa?
5 Di Iran, atau Persia, ke sebelah timur, seorang nabi bernama Zoroaster tampil pada abad ketujuh SM. Ia memperkenalkan cara beribadat yang kemudian dikenal sebagai Zoroastrianisme. Ini adalah agama dari Imperium Persia, yang menguasai pentas dunia sebelum Yunani menjadi kuasa utama. Kitab-kitab agama Zoroaster mengatakan, ”Jiwa Orang Benar Tidak Berkematian selama-lamanya dalam Sukacita, tetapi jiwa Pendusta pasti berada dalam siksaan. Dan Hukum-Hukum ini telah ditetapkan oleh Ahura Mazda [artinya, ”allah yang bijaksana”] melalui kedaulatan wewenang-Nya.”
6 Ajaran tentang jiwa yang tidak berkematian juga merupakan bagian dari agama orang Iran sebelum Zoroaster. Misalnya, suku-suku purba di Iran memperhatikan jiwa dari orang yang baru mati dengan mempersembahkan makanan dan pakaian untuk digunakan di alam baka.
7, 8. Apa yang dipercayai oleh orang Mesir purba mengenai jiwa yang terus hidup setelah tubuh mati?
7 Kepercayaan akan kehidupan setelah kematian merupakan inti dari agama orang Mesir. Orang Mesir percaya bahwa jiwa orang mati akan dihakimi oleh Osiris, dewa penguasa alam baka. Misalnya, sebuah dokumen papirus yang dinyatakan berasal dari abad ke-14 SM memperlihatkan Anubis, dewa orang mati, menuntun jiwa Hunefer, seorang penulis, ke hadapan Osiris. Pada sebuah neraca, jantung sang penulis, yang menggambarkan hati nuraninya, ditimbang dengan anak timbangan berupa bulu yang dikenakan pada kepala dewi kebenaran dan keadilan. Dewa lain yaitu Thoth mencatat hasilnya. Karena hati Hunefer tidak diberati kesalahan, beratnya lebih ringan daripada bulu tersebut, dan Hunefer diizinkan memasuki alam Osiris serta menerima peri tidak berkematian. Papirus tersebut juga memperlihatkan monster betina berdiri di samping neraca itu, yang siap melahap orang mati jika jantungnya gagal dalam ujian tersebut. Orang Mesir juga memumikan orang mati dan mengawetkan tubuh para firaun dalam piramida-piramida yang mengesankan, karena mereka berpikir bahwa keselamatan jiwa bergantung pada awetnya tubuh.
8 Jadi, beragam peradaban zaman purba mempercayai satu ajaran yang sama—jiwa yang tidak berkematian. Apakah mereka mendapat ajaran ini dari sumber yang sama?
Titik Permulaan
9. Agama mana yang mempengaruhi dunia Mesir, Persia, dan Yunani purba?
9 ”Di dunia purba,” kata buku The Religion of Babylonia and Assyria, ”Mesir, Persia, dan Yunani merasakan pengaruh dari agama Babilonia.” Buku ini melanjutkan penjelasannya, ”Ditinjau dari kontak masa awal antara Mesir dan Babilonia, sebagaimana disingkapkan oleh batu-batu tulis El-Amarna, pastilah terdapat banyak kesempatan untuk merembesnya pandangan dan kebiasaan Babilonia ke dalam kultus-kultus Mesir. Di Persia, kultus Mithra menyingkapkan pengaruh yang jelas-jelas berasal dari konsep Babilonia . . . Banyaknya pencampuran unsur-unsur Semit ke dalam mitologi Yunani masa awal maupun ke dalam kultus-kultus Yunani kini begitu umum diakui oleh para sarjana, sehingga tidak dibutuhkan komentar lebih lanjut. Unsur-unsur Semit ini kebanyakan lebih bersifat khas Babilonia.”b
10, 11. Apa pandangan orang Babilonia mengenai kehidupan setelah kematian?
10 Tetapi, bukankah pandangan orang Babilonia mengenai apa yang terjadi setelah kematian sangat berbeda dengan pandangan orang Mesir, Persia, dan Yunani? Misalnya, perhatikan Epic of Gilgamesh dari Babilonia. Pahlawannya yang semakin tua, Gilgamesh, dihantui oleh realitas kematian, maka ia berangkat untuk mencari peri tidak berkematian tetapi gagal memperolehnya. Seorang gadis penjual arak yang ia jumpai dalam perjalanannya bahkan menganjurkan dia untuk memanfaatkan sisa hidupnya sebaik mungkin, karena ia tidak akan menemukan kehidupan tanpa akhir yang dicarinya. Pesan dari seluruh wiracarita (epik) tersebut adalah bahwa kematian tidak terelakkan dan harapan akan peri tidak berkematian adalah ilusi. Bukankah ini menunjukkan bahwa orang Babilonia tidak percaya akan kehidupan setelah kematian?
11 Profesor Morris Jastrow, Jr., dari University of Pennsylvania, AS, menulis, ”Baik rakyat maupun para pemimpin yang berpikiran religius [di Babilonia] tidak pernah mengantisipasi kemungkinan kebinasaan total dari apa yang pernah hidup. Kematian [dalam pandangan mereka] adalah jalan menuju kehidupan jenis lain, dan penyangkalan akan peri tidak berkematian hanyalah menandaskan bahwa seseorang tidak mungkin luput dari perubahan eksistensi yang didatangkan oleh kematian.” Ya, orang Babilonia juga percaya bahwa kehidupan jenis tertentu, dalam bentuk tertentu, terus hidup setelah kematian. Mereka menunjukkannya dengan menguburkan benda-benda bersama orang mati untuk digunakan dalam kehidupan setelah kematian.
12-14. (a) Setelah Air Bah, di mana tempat lahirnya ajaran jiwa yang tidak berkematian? (b) Bagaimana doktrin tersebut menyebar ke seantero bumi?
12 Jelaslah, ajaran tentang jiwa yang tidak berkematian dapat ditelusuri hingga Babilon purba. Menurut Alkitab, buku yang dikenal memuat sejarah yang saksama, kota Babel, atau Babilon, didirikan oleh Nimrod, seorang cicit Nuh.c Setelah Air Bah seluas dunia pada zaman Nuh, hanya ada satu bahasa dan satu agama. Dengan mendirikan kota dan membangun sebuah menara di sana, Nimrod memulai agama yang lain. Catatan Alkitab memperlihatkan bahwa setelah dikacaukannya bahasa di Babel, orang-orang yang tidak berhasil membangun menara tersebut berpencar dan memulai awal yang baru, sambil membawa agama mereka. (Kejadian 10:6-10; 11:4-9) Dengan demikian, ajaran agama yang bersifat Babilon menyebar ke seantero muka bumi.
13 Menurut kisah turun-temurun, Nimrod mati dengan cara yang mengenaskan. Setelah kematiannya, masuk akal bahwa orang Babilonia cenderung menjunjung tinggi Nimrod sebagai pendiri, pembangun, dan raja pertama kota mereka. Karena dewa Marduk (Merodakh) dianggap sebagai pendiri Babilon, beberapa sarjana menyatakan bahwa Marduk bisa jadi adalah Nimrod yang didewakan. Jika demikian halnya, maka gagasan bahwa seseorang memiliki jiwa yang terus hidup setelah kematian pastilah telah diterima luas setidak-tidaknya pada waktu kematian Nimrod. Selain itu, halaman-halaman sejarah menyingkapkan bahwa setelah Air Bah, tempat lahirnya ajaran jiwa yang tidak berkematian adalah Babel, atau Babilon.
14 Namun, bagaimana doktrin tersebut menjadi inti sebagian besar agama pada zaman kita? Bagian berikut akan memeriksa masuknya doktrin tersebut ke dalam agama-agama Timur.
[Catatan Kaki]
a SM berarti ”Sebelum Masehi”. M berarti ”Masehi”, sering disebut AD, untuk Anno Domini, yang artinya ”pada tahun Tuhan”.
b El-Amarna adalah lokasi puing-puing kota Akhetaton di Mesir, yang dinyatakan dibangun pada abad ke-14 SM.
c Lihat buku Alkitab—Firman dari Allah Atau dari Manusia?, halaman 37-54, diterbitkan oleh Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc.
[Gambar di hlm. 6]
Pandangan orang Mesir mengenai jiwa di alam baka
[Gambar di hlm. 7]
Sokrates berpendapat bahwa jiwa tidak berkematian
-
-
Gagasan Itu Memasuki Agama-Agama TimurApa yang Terjadi dengan Kita Bila Kita Meninggal?
-
-
Gagasan Itu Memasuki Agama-Agama Timur
”Saya selalu berpikir bahwa jiwa yang tidak berkematian adalah kebenaran universal yang diterima oleh semua orang. Jadi, saya benar-benar terkejut sewaktu mengetahui bahwa beberapa cendekiawan dari Timur maupun Barat dengan tegas membantah kepercayaan itu. Sekarang, saya bertanya-tanya bagaimana gagasan tentang peri tidak berkematian dapat masuk ke dalam pemikiran Hindu.”—SEORANG MAHASISWA UNIVERSITAS YANG DIBESARKAN DALAM AGAMA HINDU.
1. Mengapa pengetahuan mengenai perkembangan dan penyebaran doktrin jiwa manusia yang tidak berkematian ke dalam berbagai agama menarik bagi kita?
BAGAIMANA gagasan bahwa manusia memiliki jiwa yang tidak berkematian memasuki Hinduisme dan agama-agama Timur lainnya? Pertanyaan tersebut menarik bahkan bagi orang-orang di Barat yang mungkin tidak begitu mengenal agama-agama ini, karena kepercayaan tersebut mempengaruhi pandangan setiap orang mengenai masa depan. Karena ajaran tentang jiwa manusia yang tidak berkematian adalah tema umum dalam sebagian besar agama dewasa ini, kita dapat memiliki pemahaman dan komunikasi yang lebih baik bila kita mengetahui bagaimana konsep itu berkembang.
2. Mengapa India telah menjadi sumber pengaruh agama di Asia yang patut diperhatikan?
2 Ninian Smart, seorang profesor bidang studi keagamaan di University of Lancaster, Inggris, mengamati, ”Pusat agama yang paling berpengaruh di Asia adalah India. Bukan saja karena India sendiri telah melahirkan sejumlah kepercayaan—Hinduisme, Buddhisme, Jainisme, Sikhisme, dll.—tetapi karena salah satu dari agama-agama ini, yakni Buddhisme, telah sangat berpengaruh terhadap kebudayaan di hampir seluruh Asia Timur.” Banyak kebudayaan yang dipengaruhi dengan cara ini ”masih menganggap India sebagai kampung halaman rohani mereka”, kata sarjana Hindu, Nikhilananda. Kalau begitu, bagaimana ajaran tentang peri tidak berkematian ini memasuki India dan bagian-bagian lain di Asia?
Ajaran Reinkarnasi Hinduisme
3. Menurut seorang sejarawan, oleh siapakah gagasan perpindahan jiwa kemungkinan dibawa ke India?
3 Pada abad keenam SM, sewaktu Pythagoras dan para pengikutnya di Yunani sedang menjunjung teori perpindahan jiwa, para cendekiawan Hindu yang tinggal di sepanjang tepi Sungai Indus dan Sungai Gangga di India sedang mengembangkan konsep yang sama. Munculnya kepercayaan ini secara bersamaan ”di dunia Yunani dan di India kemungkinan besar bukan suatu kebetulan”, kata sejarawan Arnold Toynbee. ”Satu hal yang mungkin menjadi sumber yang sama dari [pengaruh] ini,” Toynbee menandaskan, ”adalah masyarakat pengembara Eurasia, yang, pada abad ke-8 dan ke-7 SM, telah turun ke India, Asia Barat Daya, kawasan stepa di sepanjang pesisir utara Laut Hitam, dan Semenanjung Balkan serta Semenanjung Anatolia.” Suku-suku Eurasia yang bermigrasi itu tampaknya membawa serta gagasan perpindahan tersebut ke India.
4. Mengapa konsep perpindahan jiwa menarik perhatian para cendekiawan Hindu?
4 Hinduisme telah dimulai di India jauh lebih awal, dengan tibanya suku Arya sekitar tahun 1500 SM. Sejak semula, Hinduisme berpegang pada kepercayaan bahwa jiwa berbeda dari tubuh dan bahwa jiwa terus hidup setelah kematian. Oleh karena itu, orang Hindu mempraktekkan penyembahan leluhur dan mempersembahkan makanan untuk disantap oleh jiwa-jiwa orang mati. Berabad-abad kemudian sewaktu gagasan perpindahan jiwa mencapai India, ini pasti menarik perhatian para cendekiawan Hindu yang sedang bergelut dengan problem universal mengenai malapetaka dan penderitaan di antara manusia. Menggabungkan gagasan ini dengan apa yang disebut hukum Karma, yaitu hukum sebab akibat, para cendekiawan Hindu mengembangkan teori reinkarnasi, bahwa kebaikan dan kesalahan dalam kehidupan seseorang mendapat upah atau hukuman dalam kehidupan berikutnya.
5. Menurut Hinduisme, apa tujuan akhir dari jiwa?
5 Tetapi, ada satu konsep lain yang mempengaruhi ajaran Hinduisme mengenai jiwa. ”Agaknya benar bahwa pada saat yang sama sewaktu teori perpindahan dan karma terbentuk, atau bahkan lebih awal lagi,” kata Encyclopædia of Religion and Ethics, ”konsep lain . . . lambat laun berkembang dalam sebuah lingkungan intelektual yang kecil di India Utara—konsep filsafat Brahmana-Ātman [Brahmana yang tertinggi dan kekal, realitas akhir].” Gagasan ini digabungkan dengan teori reinkarnasi untuk mendefinisikan tujuan akhir orang Hindu—pembebasan dari siklus perpindahan guna menyatu dengan realitas akhir. Orang Hindu percaya bahwa hal ini dicapai dengan mengupayakan perilaku yang diterima masyarakat dan pengetahuan Hindu yang khusus.
6, 7. Apa yang sekarang ini dipercayai Hinduisme mengenai kehidupan setelah kematian?
6 Dengan demikian, kaum arif Hindu memasukkan gagasan perpindahan jiwa ke dalam doktrin reinkarnasi dengan menggabungkannya bersama hukum Karma dan konsep Brahmana. Octavio Paz, seorang penyair pemenang Hadiah Nobel dan mantan duta besar Meksiko di India, menulis, ”Seraya Hinduisme menyebar, demikian pula gagasan . . . yang menjadi poros dari Brahmanaisme, Buddhisme, dan agama-agama Asia lainnya: metempsychosis, yaitu perpindahan jiwa dari satu eksistensi ke eksistensi berikutnya.”
7 Doktrin reinkarnasi adalah penopang utama Hinduisme dewasa ini. Filsuf Hindu, Nikhilananda, mengatakan, ”Sudah merupakan keyakinan setiap orang Hindu yang saleh bahwa pencapaian peri tidak berkematian bukanlah hak istimewa dari segelintir orang terpilih, melainkan hak yang diwarisi semua orang.”
Siklus Kelahiran Kembali dalam Buddhisme
8-10. (a) Bagaimana Buddhisme menjelaskan eksistensi? (b) Bagaimana seorang sarjana Buddhis menjelaskan kelahiran kembali?
8 Buddhisme didirikan di India sekitar tahun 500 SM. Menurut tradisi Buddha, seorang pangeran India bernama Siddhārtha Gautama, yang kemudian dikenal sebagai Buddha setelah menerima pencerahan, mendirikan Buddhisme. Karena muncul dari Hinduisme, ajaran-ajarannya dalam beberapa hal mirip dengan ajaran-ajaran Hinduisme. Menurut Buddhisme, eksistensi adalah siklus kelahiran kembali dan kematian secara berkesinambungan, dan seperti dalam Hinduisme, status tiap-tiap individu dalam kehidupannya sekarang ditentukan oleh perbuatan dalam kehidupan sebelumnya.
9 Tetapi, Buddhisme tidak menjelaskan eksistensi sebagai jiwa yang berkepribadian yang terus hidup setelah kematian. ”[Buddha] menganggap diri manusia hanya sebagai serangkaian tahap-tahap psikologis yang tidak berkesinambungan dan beralih dengan cepat, yang diikat hanya oleh hasrat,” demikian menurut pengamatan Arnold Toynbee. Namun, Buddha percaya bahwa sesuatu—suatu tahap psikologis atau kekuatan—diteruskan dari satu kehidupan ke kehidupan lain. Dr. Walpola Rahula, seorang sarjana Buddhis, menjelaskan:
10 ”Suatu makhluk hanyalah perpaduan antara kekuatan atau energi fisik dan mental. Apa yang kita sebut kematian adalah berhentinya semua fungsi tubuh secara fisik. Apakah semua kekuatan dan energi ini berhenti sama sekali sewaktu tubuh berhenti berfungsi? Buddhisme mengatakan ’Tidak’. Kehendak, kemauan, hasrat, atau kegairahan untuk tetap ada, untuk terus hidup, untuk terus menjadi ada dan ada kembali, adalah kekuatan hebat yang menggerakkan segenap kehidupan, segenap eksistensi, yang bahkan menggerakkan seluruh dunia. Inilah kekuatan terbesar, energi terbesar di dunia. Menurut Buddhisme, kekuatan ini tidak berhenti sewaktu tubuh berhenti berfungsi, atau mati; tetapi kekuatan ini terus memanifestasikan dirinya dalam bentuk lain, menghasilkan eksistensi kembali yang disebut kelahiran kembali.”
11. Apa pandangan Buddhis mengenai kehidupan setelah kematian?
11 Pandangan Buddhis mengenai kehidupan setelah kematian adalah: Eksistensi bersifat abadi kecuali individu tersebut mencapai tujuan akhir berupa Nirwana, pembebasan dari siklus kelahiran kembali. Nirwana bukanlah keadaan penuh kebahagiaan kekal ataupun keadaan menyatu dengan realitas akhir. Itu hanyalah keadaan tanpa eksistensi—”tempat tanpa kematian” yang melampaui eksistensi individu. Webster’s Ninth New Collegiate Dictionary mendefinisikan ”Nirwana” sebagai ”suatu tempat atau keadaan yang tidak mengenal kekhawatiran, rasa sakit, atau kenyataan lahiriah”. Sebaliknya daripada mencari peri tidak berkematian, orang Buddhis dianjurkan untuk melampauinya dengan mencapai Nirwana.
12-14. Bagaimana berbagai aliran Buddhisme menyampaikan gagasan peri tidak berkematian?
12 Seraya menyebar ke berbagai tempat di Asia, Buddhisme memodifikasi ajaran-ajarannya untuk menyesuaikan diri dengan kepercayaan-kepercayaan setempat. Misalnya, Buddhisme Mahayana, aliran yang dominan di Cina dan Jepang, percaya akan bodhisatwa-bodhisatwa langit, atau para calon Buddha. Para bodhisatwa menunda memasuki Nirwana agar mereka mengalami tak terhitung banyaknya kelahiran kembali guna melayani dan membantu orang-orang lain mencapai Nirwana. Jadi, seseorang dapat memilih untuk terus berada dalam siklus kelahiran kembali bahkan setelah mencapai Nirwana.
13 Penyesuaian lain yang khususnya berpengaruh di Cina dan Jepang adalah doktrin Negeri Murni di Barat, yang diciptakan oleh Buddha Amitabha, atau Amida. Orang-orang yang dengan iman menyebut nama Buddha akan dilahirkan kembali di Negeri Murni, atau firdaus, yang kondisinya lebih menunjang untuk mencapai pencerahan akhir. Apa yang telah berkembang dari ajaran ini? Profesor Smart, yang disebutkan sebelumnya, menjelaskan, ”Bukanlah hal yang aneh bila kesemarakan firdaus, yang dilukiskan secara hidup dalam kitab-kitab Mahayana, akhirnya menggantikan nirwana dalam imajinasi kebanyakan orang sebagai tujuan tertinggi.”
14 Buddhisme Tibet memadukan unsur-unsur setempat lainnya. Sebagai contoh, buku tentang orang mati dari Tibet melukiskan nasib seseorang dalam tahapan perantara sebelum dilahirkan kembali. Orang mati konon akan disinari dengan cahaya realitas akhir yang sangat terang, dan orang-orang yang tidak tahan dengan cahaya itu tidak akan memperoleh pembebasan tetapi dilahirkan kembali. Jelaslah, Buddhisme dengan berbagai alirannya menyampaikan gagasan peri tidak berkematian.
Penyembahan Leluhur dalam Shinto Jepang
15-17. (a) Bagaimana penyembahan roh-roh leluhur berkembang dalam Shinto? (b) Bagaimana kepercayaan tentang jiwa yang tidak berkematian bersifat fundamental dalam Shinto?
15 Agama sudah ada di Jepang sebelum tibanya Buddhisme pada abad keenam Masehi. Agama itu tidak memiliki nama, dan terdiri dari kepercayaan-kepercayaan yang berkaitan dengan moral dan kebiasaan orang-orang. Akan tetapi, sewaktu Buddhisme diperkenalkan, timbul kebutuhan untuk membedakan agama Jepang dari agama asing. Maka, muncullah nama ”Shinto”, yang berarti ”jalan para dewa”.
16 Apa yang semula dipercayai oleh Shinto mengenai kehidupan setelah kematian? Dengan diperkenalkannya penanaman padi di tanah yang basah, ”pertanian tanah basah mengharuskan adanya masyarakat yang diorganisasi dengan baik dan stabil”, ulas Kodansha Encyclopedia of Japan, ”dan upacara-upacara pertanian—yang belakangan memainkan peranan yang begitu penting dalam Shintō—dikembangkan”. Rasa takut akan jiwa-jiwa yang telah meninggal menyebabkan orang-orang zaman purba ini merancang berbagai upacara guna menenangkan jiwa-jiwa tersebut. Ini berkembang menjadi penyembahan roh-roh leluhur.
17 Menurut kepercayaan Shinto, jiwa yang ”meninggal” masih memiliki kepribadiannya tetapi tercemar karena kematian. Apabila keluarga yang ditinggalkan mengadakan upacara-upacara demi orang mati itu, jiwanya akan disucikan hingga bebas dari segala niat jahat, dan sifatnya menjadi suka damai dan suka berbuat baik. Pada waktunya, roh leluhur tersebut akan diangkat menjadi dewa leluhur, atau penjaga. Karena hidup berdampingan dengan Buddhisme, Shinto memadukan beberapa ajaran Buddha, termasuk doktrin firdaus. Jadi, kepercayaan akan peri tidak berkematian ternyata bersifat fundamental dalam Shinto.
Peri Tidak Berkematian dalam Taoisme, Penyembahan Leluhur dalam Konfusianisme
18. Apa pemikiran Taoisme mengenai peri tidak berkematian?
18 Taoisme didirikan oleh Lao-tze, yang konon hidup di Cina pada abad keenam SM. Menurut Taoisme, tujuan dalam kehidupan adalah untuk menyelaraskan aktivitas manusia dengan Tao—cara alam. Pemikiran Taoisme mengenai peri tidak berkematian dapat disimpulkan sebagai berikut: Tao adalah prinsip yang mengendalikan alam semesta. Tao tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir. Dengan hidup selaras dengan Tao, seseorang ambil bagian di dalamnya dan menjadi abadi.
19-21. Spekulasi-spekulasi Taoisme mengarah pada upaya-upaya apa?
19 Dalam upaya untuk menyatu dengan alam, para penganut Taoisme belakangan menjadi sangat berminat dengan keabadian dan ketangguhan alam. Mereka berspekulasi bahwa mungkin melalui hidup selaras dengan Tao, atau cara alam, seseorang dapat, dengan suatu cara, menemukan rahasia alam dan menjadi kebal terhadap cedera fisik, penyakit, dan bahkan kematian.
20 Para penganut Taoisme mulai bereksperimen dengan meditasi, latihan pernapasan, dan diet, yang dianggap dapat menunda kemunduran jasmani dan kematian. Tak lama kemudian, mulailah beredar legenda-legenda mengenai orang-orang tidak berkematian yang dapat terbang di atas awan, dapat muncul dan menghilang sesuka hati, dan yang tinggal di gunung keramat atau pulau terpencil sejak waktu yang tak terhitung lamanya, hidup dari embun atau buah-buah ajaib. Sejarah Cina melaporkan bahwa pada tahun 219 SM, Kaisar Ch’in Shih Huang Ti mengutus sebuah armada kapal berisi 3.000 anak laki-laki dan perempuan untuk menemukan pulau legendaris P’eng-lai, tempat kediaman orang-orang yang tidak berkematian, guna membawa kembali tanaman hidup abadi. Tentu saja, mereka tidak kembali dengan membawa eliksir tersebut.
21 Petualangan mencari kehidupan kekal menyebabkan para penganut Taoisme bereksperimen untuk membuat pil-pil hidup abadi melalui alkimia. Menurut pandangan penganut Taoisme, kehidupan terjadi sewaktu kekuatan yin dan yang (perempuan dan laki-laki) yang saling bertolak belakang bergabung. Jadi, dengan meleburkan timah hitam (berwarna gelap, atau yin) dan merkuri (berwarna terang, atau yang), para ahli alkimia meniru proses alam dan mereka menyangka bahwa ini akan menghasilkan pil hidup abadi.
22. Apa yang dihasilkan oleh pengaruh Buddhisme terhadap kehidupan agama di Cina?
22 Pada abad ketujuh M, Buddhisme mulai mempengaruhi kehidupan agama orang-orang Cina. Hasilnya adalah suatu campuran yang mencakup unsur-unsur Buddhisme, spiritisme, dan penyembahan leluhur. ”Baik Buddhisme maupun Taoisme,” kata Profesor Smart, ”memberi bentuk dan makna pada kepercayaan mengenai kehidupan setelah kematian yang agak kabur dalam penyembahan leluhur di Cina purba.”
23. Bagaimana sikap Konfusius sehubungan dengan penyembahan leluhur?
23 Konfusius (atau Kong Hu Cu), cendekiawan lain dari Cina pada abad keenam SM, yang filsafatnya menjadi dasar Konfusianisme, tidak banyak berkomentar mengenai kehidupan setelah kematian. Sebaliknya, ia menekankan pentingnya kebaikan moral dan perilaku yang diterima masyarakat. Tetapi, ia bersikap baik terhadap penyembahan leluhur dan sangat menekankan pentingnya menjalankan upacara yang berkaitan dengan roh-roh leluhur yang telah meninggal.
Agama-Agama Timur Lainnya
24. Apa yang diajarkan Jainisme mengenai jiwa?
24 Jainisme didirikan di India pada abad keenam SM. Pendirinya, Mahāwīra, mengajarkan bahwa semua benda hidup memiliki jiwa yang kekal dan bahwa keselamatan jiwa dari belenggu Karma hanya dimungkinkan melalui penyangkalan diri serta disiplin diri yang ekstrem dan sama sekali tidak melakukan kekerasan terhadap semua makhluk. Para penganut Jainisme berpegang pada kepercayaan-kepercayaan ini hingga hari ini.
25, 26. Apa kepercayaan-kepercayaan Hindu yang juga didapati dalam Sikhisme?
25 India juga adalah tempat lahirnya Sikhisme, agama yang dipraktekkan oleh 19 juta orang. Agama ini bermula pada abad ke-16 sewaktu Guru Nānak memutuskan untuk melebur unsur-unsur terbaik dari Hinduisme dan Islam serta membentuk suatu agama paduan. Sikhisme menerima kepercayaan Hindu berupa jiwa yang tidak berkematian, reinkarnasi, dan Karma.
26 Jelaslah, kepercayaan bahwa kehidupan berlanjut setelah tubuh mati merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kebanyakan agama-agama Timur. Namun, bagaimana dengan Susunan Kristen, Yudaisme, dan Islam?
[Peta di hlm. 10]
(Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)
ASIA TENGAH
KASMIR
TIBET
CINA
KOREA
JEPANG
Banaras
INDIA
Buddh Gaya
MYANMAR
THAILAND
KAMBOJA
SRI LANKA
JAWA
ABAD KE-3 SM
ABAD KE-1 SM
ABAD KE-1 M
ABAD KE-4 M
ABAD KE-6 M
ABAD KE-7 M
Buddhisme mempengaruhi seluruh Asia Timur
[Gambar di hlm. 9]
Reinkarnasi adalah penopang utama Hinduisme
[Gambar di hlm. 11]
Melalui hidup selaras dengan alam, seorang penganut Taoisme berupaya memperoleh kehidupan kekal
[Gambar di hlm. 12]
Konfusius bersikap baik terhadap penyembahan leluhur
-
-
Gagasan Itu Memasuki Yudaisme, Susunan Kristen, dan IslamApa yang Terjadi dengan Kita Bila Kita Meninggal?
-
-
Gagasan Itu Memasuki Yudaisme, Susunan Kristen, dan Islam
”Agama merupakan salah satu cara untuk memudahkan orang menerima fakta bahwa pada suatu hari mereka pasti mati, baik melalui janji akan kehidupan yang lebih baik setelah kematian, melalui kelahiran kembali, atau keduanya.”—GERHARD HERM, PENULIS ASAL JERMAN.
1. Atas kepercayaan dasar apa sebagian besar agama mendasarkan janji mereka akan kehidupan setelah kematian?
SEWAKTU menjanjikan suatu kehidupan setelah kematian, hampir setiap agama bergantung pada kepercayaan bahwa manusia memiliki jiwa yang tidak berkematian, yang pada saat kematian pergi ke alam lain atau berpindah ke makhluk lain. Sebagaimana dinyatakan dalam bagian sebelumnya, kepercayaan akan jiwa manusia yang tidak berkematian telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari agama-agama Timur sejak awal berdirinya. Tetapi, bagaimana dengan Yudaisme, Susunan Kristen, dan Islam? Bagaimana ajaran itu menjadi inti dari kepercayaan-kepercayaan ini?
Yudaisme Menyerap Konsep-Konsep Yunani
2, 3. Menurut Encyclopaedia Judaica, apakah tulisan-tulisan suci Ibrani mengajarkan jiwa yang tidak berkematian?
2 Akar Yudaisme telah ada sekitar 4.000 tahun yang lalu pada zaman Abraham. Tulisan-tulisan suci Ibrani mulai ditulis pada abad ke-16 SM dan rampung pada waktu Sokrates dan Plato membentuk teori jiwa yang tidak berkematian. Apakah Tulisan-Tulisan Kudus ini mengajarkan jiwa yang tidak berkematian?
3 Encyclopaedia Judaica menjawab, ”Baru pada masa pasca-Alkitab, kepercayaan yang jelas dan tegas berkenaan jiwa yang tidak berkematian diteguhkan . . . dan menjadi salah satu batu penjuru dari iman Yahudi dan Kristen.” Ensiklopedia itu juga menyatakan, ”Pribadi dianggap sebagai satu kesatuan dalam zaman alkitab. Jadi, jiwa tidak dibedakan secara jelas dari tubuh.” Orang-orang Yahudi masa awal percaya akan kebangkitan orang mati, dan ini ”hendaknya dibedakan dengan kepercayaan akan . . . jiwa yang tidak berkematian”, demikian ditandaskan oleh ensiklopedia itu.
4-6. Bagaimana doktrin jiwa yang tidak berkematian menjadi ”salah satu batu penjuru” dari Yudaisme?
4 Kalau begitu, bagaimana doktrin tersebut menjadi ”salah satu batu penjuru” dari Yudaisme? Sejarah menyediakan jawabannya. Pada tahun 332 SM, Iskandar Agung menaklukkan sebagian besar Timur Tengah dengan secepat kilat. Sewaktu ia tiba di Yerusalem, orang-orang Yahudi menyambutnya dengan tangan terbuka. Menurut sejarawan Yahudi abad pertama, Flavius Josephus, mereka bahkan memperlihatkan kepadanya nubuat dari buku Daniel, ditulis lebih dari 200 tahun sebelumnya, yang dengan jelas melukiskan penaklukan Iskandar sebagai ”raja negeri Yunani”. (Daniel 8:5-8, 21) Para penerus Iskandar melanjutkan rencananya untuk Helenisasi, yaitu menyusupkan bahasa, kebudayaan, dan filsafat Yunani ke semua bagian imperium. Perpaduan dua kebudayaan—Yunani dan Yahudi—tak terelakkan.
5 Pada awal abad ketiga SM, dimulailah penerjemahan pertama dari Kitab-Kitab Ibrani ke dalam bahasa Yunani, yang disebut Septuagint. Melalui terjemahan itu, banyak orang Kafir kemudian menghargai dan mengenal agama Yahudi, ada yang bahkan beralih agama. Sebaliknya, orang-orang Yahudi pun akhirnya mengetahui pemikiran Yunani, bahkan ada yang menjadi filsuf, sesuatu yang sama sekali baru bagi mereka. Philo dari Aleksandria, pada abad pertama M, adalah salah seorang filsuf Yahudi semacam itu.
6 Philo memuja Plato dan berupaya menjelaskan Yudaisme menurut filsafat Yunani. ”Dengan menciptakan sintesis unik antara filsafat Plato dan tradisi Alkitab,” kata buku Heaven—A History, ”Philo mempersiapkan jalan bagi para pemikir Kristen [dan juga Yahudi] di kemudian hari.” Dan, apa kepercayaan Philo mengenai jiwa? Buku tersebut melanjutkan, ”Bagi dia, kematian mengembalikan jiwa ke keadaannya yang semula sebelum kelahiran. Karena jiwa berasal dari alam roh, kehidupan dalam tubuh hanyalah episode singkat yang sering kali ditandai kemalangan.” Para pemikir Yahudi lain yang percaya akan jiwa yang tidak berkematian di antaranya adalah Isaac Israeli, dokter Yahudi yang terkenal pada abad ke-10, dan Moses Mendelssohn, filsuf Jerman-Yahudi pada abad ke-18.
7, 8. (a) Bagaimana Talmud melukiskan jiwa? (b) Apa yang dikatakan lektur mistik Yahudi yang ditulis belakangan mengenai jiwa?
7 Buku yang juga sangat mempengaruhi pemikiran dan kehidupan orang Yahudi adalah Talmud—ringkasan tertulis dari apa yang disebut hukum lisan, berikut ulasan dan penjelasan yang diberikan belakangan mengenai hukum ini, yang disusun oleh para rabi dari abad kedua M hingga Abad Pertengahan. ”Para rabi penyusun Talmud,” kata Encyclopaedia Judaica, ”percaya akan eksistensi jiwa yang berlanjut setelah kematian.” Talmud bahkan berbicara mengenai orang mati yang mengadakan kontak dengan orang hidup. ”Mungkin karena pengaruh Platonisme,” kata Encyclopædia of Religion and Ethics, ”[para rabi] percaya akan praeksistensi jiwa.”
8 Kabala, lektur mistik Yahudi yang ditulis belakangan, bahkan mengajarkan reinkarnasi. Sehubungan dengan kepercayaan ini, The New Standard Jewish Encyclopedia menyatakan, ”Gagasan itu tampaknya berasal dari India. . . . Dalam Kabbalah, gagasan itu pertama-tama muncul dalam buku Bahir, dan kemudian, dari Zohar dan seterusnya, diterima secara umum oleh para penganut mistik, yang memainkan peranan penting dalam kepercayaan dan lektur Hasidik.” Di Israel dewasa ini, reinkarnasi diterima secara luas sebagai ajaran Yahudi.
9. Apa sudut pandangan dari kebanyakan golongan Yudaisme dewasa ini sehubungan dengan jiwa yang tidak berkematian?
9 Karena itu, gagasan tentang jiwa yang tidak berkematian memasuki Yudaisme melalui pengaruh filsafat Yunani, dan konsep tersebut dewasa ini diterima oleh kebanyakan golongannya. Bagaimana dengan masuknya ajaran tersebut ke dalam Susunan Kristen?
Susunan Kristen Menerima Pemikiran Plato
10. Apa yang disimpulkan seorang sarjana terkemuka asal Spanyol mengenai kepercayaan Yesus akan jiwa yang tidak berkematian?
10 Kekristenan sejati diawali dengan Kristus Yesus. Mengenai Yesus, Miguel de Unamuno, seorang sarjana terkemuka asal Spanyol pada abad ke-20, menulis, ”Ia percaya pada kebangkitan jasmani, berdasarkan tata cara Yahudi, bukan pada jiwa yang tidak berkematian berdasarkan tata cara Plato [dari Yunani]. . . . Bukti-bukti dari hal ini dapat dilihat dalam setiap buku tafsiran yang jujur.” Ia menyimpulkan, ”Jiwa yang tidak berkematian . . . adalah dogma filsafat yang kafir.”
11. Kapan filsafat Yunani mulai memasuki kekristenan?
11 Kapan dan bagaimana ”dogma filsafat yang kafir” ini menyusup ke dalam kekristenan? New Encyclopædia Britannica menunjukkan, ”Dari pertengahan abad ke-2 M, orang-orang Kristen, yang telah mendapat sedikit pelatihan mengenai filsafat Yunani, mulai merasa perlu untuk mengekspresikan iman mereka menurut filsafat tersebut, baik untuk kepuasan intelektual mereka sendiri dan untuk menobatkan orang-orang kafir yang terpelajar. Filsafat yang paling cocok untuk mereka adalah Platonisme.”
12-14. Peranan apa yang dimainkan Origen dan Agustinus dalam menggabungkan filsafat Platonisme dengan kekristenan?
12 Dua filsuf masa awal semacam itu mengerahkan pengaruh besar terhadap doktrin-doktrin Susunan Kristen. Yang seorang adalah Origen dari Aleksandria (± 185-254 M), dan yang lain, Agustinus dari Hippo (354-430 M). Sehubungan dengan mereka, New Catholic Encyclopedia menyatakan, ”Hanya karena Origen di Timur dan St. Agustinus di Barat maka jiwa ditetapkan sebagai suatu zat yang bersifat roh dan suatu konsep filsafat pun dibentuk berkenaan kodratnya.” Atas dasar apa Origen dan Agustinus membentuk konsep mereka mengenai jiwa?
13 Origen adalah murid Clement dari Aleksandria, yang ”pertama dari para Bapak yang secara eksplisit meminjam dari tradisi Yunani mengenai jiwa”, demikian kata New Catholic Encyclopedia. Gagasan Plato mengenai jiwa pasti telah mempengaruhi Origen secara mendalam. ”[Origen] membangun serangkaian ajaran yang lengkap mengenai jiwa, yang diambilnya dari Plato, dan kemudian memasukkannya ke dalam doktrin Kristen,” demikian komentar teolog Werner Jaeger dalam The Harvard Theological Review.
14 Agustinus dianggap sebagai pemikir terbesar pada zaman kuno oleh beberapa orang dalam Susunan Kristen. Sebelum bertobat menjadi ”Kristen” pada usia 33 tahun, Agustinus sangat berminat pada filsafat dan telah menjadi seorang Neoplatonis.a Namun, setelah bertobat, pemikirannya tidak berubah dari Neoplatonisme. ”Pikirannya telah menjadi tempat peleburan agama Perjanjian Baru dengan tradisi Platonisme dari filsafat Yunani,” kata The New Encyclopædia Britannica. New Catholic Encyclopedia mengakui bahwa ”doktrin Agustinus [mengenai jiwa], yang menjadi standar di Barat hingga akhir abad ke-12, banyak berutang . . . kepada Neoplatonisme”.
15, 16. Apakah minat akan ajaran Aristoteles pada abad ke-13 mengubah sudut pandangan gereja mengenai ajaran jiwa yang tidak berkematian?
15 Pada abad ke-13, ajaran-ajaran Aristoteles semakin populer di Eropa, terutama karena tersedianya karya-karya sarjana Arab dalam bahasa Latin yang banyak mengulas tulisan-tulisan Aristoteles. Seorang sarjana Katolik bernama Thomas Aquinas sangat terkesan pada pemikiran ala Aristoteles. Karena tulisan-tulisan Aquinas, ajaran gereja lebih dipengaruhi oleh pandangan Aristoteles daripada pandangan Plato. Akan tetapi, kecenderungan ini tidak mempengaruhi ajaran mengenai jiwa yang tidak berkematian.
16 Aristoteles mengajarkan bahwa jiwa memiliki hubungan yang tak terpisahkan dengan tubuh dan tidak meneruskan eksistensi individu setelah kematian dan bahwa jika ada yang kekal dalam manusia, itu adalah intelektualitas yang abstrak dan tidak berkepribadian. Pandangan seperti ini terhadap jiwa tidak selaras dengan kepercayaan gereja mengenai jiwa yang berkepribadian dan yang terus hidup setelah kematian. Oleh karena itu, Aquinas memodifikasi pandangan Aristoteles mengenai jiwa, dengan menegaskan bahwa jiwa yang tidak berkematian dapat dibuktikan dengan penalaran. Dengan demikian, kepercayaan gereja mengenai jiwa yang tidak berkematian tetap utuh.
17, 18. (a) Apakah Reformasi pada abad ke-16 memperkenalkan reformasi dalam ajaran mengenai jiwa? (b) Apa pendirian sebagian besar denominasi Susunan Kristen mengenai jiwa yang tidak berkematian?
17 Pada abad ke-14 dan ke-15, bagian awal dari Renaisans, minat akan Plato dihidupkan kembali. Keluarga Medici yang terkenal di Italia bahkan turut mendirikan sebuah akademi di Florence untuk menggalakkan studi filsafat Plato. Pada abad ke-16 dan ke-17, minat akan Aristoteles memudar. Dan Reformasi pada abad ke-16 tidak memperkenalkan reformasi dalam ajaran mengenai jiwa. Meskipun para Reformis Protestan mempermasalahkan ajaran api penyucian, mereka menerima gagasan mengenai hukuman atau pahala kekal.
18 Dengan demikian, ajaran jiwa yang tidak berkematian tetap populer dalam sebagian besar denominasi Susunan Kristen. Sewaktu mengamati hal ini, seorang sarjana Amerika menulis, ”Sesungguhnya, agama bagi mayoritas besar ras kita, sama dengan peri tidak berkematian, dan bukan hal lain. Allah menjadikan peri tidak berkematian.”
Peri Tidak Berkematian dan Islam
19. Kapan Islam didirikan, dan oleh siapa?
19 Islam dimulai sewaktu Muḥammad dipanggil menjadi nabi kira-kira pada usia 40 tahun. Orang Muslim umumnya percaya bahwa wahyu datang kepada Muḥammad kurang lebih selama jangka waktu 20 hingga 23 tahun, dari sekitar tahun 610 M hingga kematiannya pada tahun 632 M. Wahyu ini dicatat dalam Quran, kitab suci orang Muslim. Pada saat Islam muncul, Yudaisme dan Susunan Kristen telah disusupi konsep Platonisme mengenai jiwa.
20, 21. Apa yang dipercayai orang Muslim mengenai kehidupan setelah kematian?
20 Orang Muslim percaya bahwa keyakinan mereka adalah puncak dari wahyu-wahyu yang diberikan kepada orang-orang Ibrani dan Kristen yang setia di zaman dahulu. Quran mengutip dari Kitab-Kitab Ibrani maupun Yunani. Tetapi, sehubungan dengan ajaran jiwa yang tidak berkematian, Quran menyimpang dari tulisan-tulisan ini. Quran mengajarkan bahwa manusia memiliki jiwa yang terus hidup setelah kematian. Quran juga berbicara tentang kebangkitan orang mati, suatu hari penghakiman, dan nasib akhir dari jiwa—kehidupan di sebuah taman firdaus surgawi atau hukuman dalam neraka yang bernyala-nyala.
21 Orang Muslim beranggapan bahwa jiwa orang mati pergi ke alam Barzakh, atau ”Pembatas”, ”tempat atau keadaan di mana orang-orang berada sesudah kematian dan sebelum Penghakiman”. (Surah 23:99, 100, The Holy Qur-an, catatan kaki) Jiwa tersebut berada dalam keadaan sadar, dan mengalami apa yang disebut ”Siksa Kubur” jika orang itu jahat atau menikmati kebahagiaan jika ia setia. Tetapi orang-orang yang setia juga harus mengalami sedikit siksaan karena sedikit dosa yang mereka lakukan selama hidup. Pada hari penghakiman, masing-masing akan menghadapi nasib kekalnya, yang mengakhiri tahapan perantara itu.
22. Berbagai teori apa yang dinyatakan beberapa filsuf Arab mengenai nasib jiwa?
22 Gagasan tentang jiwa yang tidak berkematian dalam Yudaisme dan Susunan Kristen muncul karena pengaruh Platonisme, tetapi konsep tersebut dibangun dan dimasukkan ke dalam Islam sejak awalnya. Ini bukan berarti bahwa para sarjana Arab tidak mencoba menggabungkan ajaran Islam dan filsafat Yunani. Sesungguhnya, dunia Arab sangat dipengaruhi oleh karya Aristoteles. Dan para sarjana Arab yang terkemuka, seperti Avicenna dan Averroës, menjelaskan dan memerinci pemikiran Aristoteles. Akan tetapi, dalam upaya mereka untuk menyelaraskan pemikiran Yunani dengan ajaran Islam mengenai jiwa, mereka mengembangkan teori yang berbeda-beda. Misalnya, Avicenna menyatakan bahwa jiwa yang berkepribadian itu tidak berkematian. Sebaliknya Averroës, membantah pandangan itu. Walaupun terdapat berbagai sudut pandangan ini, jiwa yang tidak berkematian tetap menjadi kepercayaan orang Muslim.
23. Bagaimana pendirian Yudaisme, Susunan Kristen, dan Islam sehubungan dengan masalah jiwa yang tidak berkematian?
23 Kalau begitu, jelaslah bahwa Yudaisme, Susunan Kristen, dan Islam semuanya mengajarkan doktrin jiwa yang tidak berkematian.
[Catatan Kaki]
a Seorang penganut Neoplatonisme, versi baru filsafat Plato yang dikembangkan oleh Plotinus di Roma pada abad ketiga.
[Gambar di hlm. 14]
Penaklukan Iskandar Agung menyebabkan perpaduan kebudayaan Yunani dan Yahudi
[Gambar di hlm. 15]
Origen, atas, dan Agustinus mencoba menggabungkan filsafat Plato dengan Kekristenan
[Gambar di hlm. 16
Avicenna, atas, menyatakan bahwa jiwa sebagai pribadi itu tidak berkematian. Averroës membantah pandangan itu
-
-
Ke Mana Harus Mencari JawabanApa yang Terjadi dengan Kita Bila Kita Meninggal?
-
-
Ke Mana Harus Mencari Jawaban
”Teori penderitaan abadi tidak konsisten dengan kepercayaan akan kasih Allah bagi makhluk-makhluk ciptaan. . . . Mempercayai hukuman kekal atas jiwa karena kekeliruan beberapa tahun saja, tanpa memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri, sama dengan menentang semua prinsip nalar.”—NIKHILANANDA, FILSUF HINDU.
1, 2. Ditinjau dari beragam kepercayaan mengenai kehidupan setelah kematian, pertanyaan-pertanyaan apa yang timbul?
SEBAGAIMANA halnya Nikhilananda, sang filsuf Hindu, banyak orang dewasa ini merasa terganggu dengan ajaran siksaan kekal. Dengan nada yang sama, orang-orang lain mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep seperti mencapai Nirwana dan menyatu dengan Tao.
2 Namun, dikarenakan gagasan bahwa jiwa tidak berkematian, agama-agama dari Timur maupun Barat telah mengembangkan serangkaian kepercayaan yang membingungkan mengenai kehidupan setelah kematian. Apakah kita dapat mengetahui kebenaran mengenai apa yang terjadi dengan kita bila kita meninggal? Apakah jiwa memang tidak berkematian? Ke mana kita harus mencari jawaban?
Sains dan Filsafat
3. Apakah sains atau metode penyelidikan ilmiah menyediakan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan mengenai kehidupan setelah kematian?
3 Apakah sains atau metode penyelidikan ilmiah menyediakan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan kehidupan setelah kematian? Berdasarkan kisah-kisah yang ada belakangan ini mengenai pengalaman menjelang kematian atau ’keadaan trans’, beberapa peneliti mencoba mengadakan penelitian tentang kehidupan setelah kematian. Sewaktu mengkaji beberapa pengakuan mereka dalam ceramahnya ”Kematian Sebagai Jalan Masuk ke Dalam Terang?”, teolog Katolik, Hans Küng, menyimpulkan, ”Pengalaman-pengalaman seperti ini sama sekali tidak membuktikan ada-tidaknya kehidupan setelah kematian: ini hanya soal lima menit terakhir sebelum kematian dan bukan kehidupan abadi setelah kematian.” Ia menambahkan, ”Masalah ada-tidaknya kehidupan setelah kematian luar biasa penting bagi kehidupan sebelum kematian. Itu menuntut jawaban yang harus dicari dari sumber lain jika itu tidak dapat diberikan oleh kedokteran.”
4. Dapatkah filsafat membantu kita menemukan jawaban di antara sekian banyak kemungkinan mengenai kehidupan setelah kematian yang ditawarkan oleh berbagai agama?
4 Bagaimana dengan filsafat? Dapatkah itu membantu kita menemukan jawaban di antara sekian banyak kemungkinan mengenai kehidupan setelah kematian yang ditawarkan oleh berbagai agama? Penjelajahan filosofis mencakup ”kegiatan spekulatif”, kata filsuf Inggris abad ke-20, Bertrand Russell. Filsafat, menurut The World Book Encyclopedia, adalah ”suatu bentuk penyidikan—suatu proses analisis, kritikan, penafsiran, dan spekulasi”. Sehubungan dengan topik kehidupan setelah kematian, ada berbagai spekulasi filosofis, mulai dari menyebut peri tidak berkematian sebagai khayalan belaka hingga menyatakannya sebagai hak yang dimiliki setiap manusia sejak lahir.
Sumber Jawaban yang Unik
5. Buku tertua apa yang pernah ditulis?
5 Akan tetapi, ada sebuah buku yang memuat jawaban yang benar berkenaan pertanyaan-pertanyaan penting mengenai kehidupan dan kematian. Ini adalah buku tertua yang pernah ditulis, yang beberapa bagiannya disusun sekitar 3.500 tahun yang lalu. Bagian pertama dari buku ini ditulis beberapa abad sebelum Weda, himne paling awal dari kitab-kitab Hindu, dirumuskan dan sekitar seribu tahun sebelum Buddha, Mahāwīra, dan Konfusius ada di atas bumi. Buku ini selesai pada tahun 98 M, lebih dari 500 tahun sebelum Muḥammad mendirikan Islam. Sumber unik dari hikmat yang unggul ini adalah Alkitab.a
6. Mengapa kita dapat mengharapkan bahwa Alkitab akan memberi tahu kita tentang apa jiwa itu?
6 Alkitab memuat sejarah zaman purba yang paling akurat dibandingkan dengan buku mana pun yang ada. Sejarah yang dicatat dalam Alkitab mencakup awal keluarga manusia dan menjelaskan bagaimana kita sampai ada di sini di atas bumi. Alkitab bahkan membawa kita kembali ke masa sebelum manusia diciptakan. Buku semacam itu benar-benar dapat memberi kita pemahaman tentang bagaimana manusia dijadikan dan apa jiwa itu.
7, 8. Mengapa kita dapat dengan yakin berpaling pada Alkitab untuk mendapatkan jawaban yang benar dan memuaskan mengenai apa yang terjadi sewaktu kita meninggal?
7 Di samping itu, Alkitab adalah buku nubuat yang telah mengalami penggenapan yang tidak pernah meleset. Misalnya, Alkitab menubuatkan bangkit dan jatuhnya imperium Media-Persia dan Yunani dengan sangat terperinci. Kata-kata ini sedemikian akurat sehingga beberapa kritikus dengan sia-sia mencoba membuktikan bahwa ini ditulis setelah peristiwa-peristiwanya terjadi. (Daniel 8:1-7, 20-22) Beberapa nubuat yang dicatat dalam Alkitab sedang digenapi secara terperinci pada masa kita sekarang.b—Matius, pasal 24; Markus, pasal 13; Lukas, pasal 21; 2 Timotius 3:1-5, 13.
8 Tidak ada manusia, seberapa pun cerdasnya, yang dapat meramalkan peristiwa-peristiwa di masa depan dengan sedemikian akuratnya. Hanya Pencipta alam semesta yang mahakuasa dan mahabijaksana yang dapat. (2 Timotius 3:16, 17; 2 Petrus 1:20, 21) Alkitab memang buku dari Allah. Sudah pasti, buku semacam itu dapat memberi kita jawaban yang benar dan memuaskan mengenai apa yang terjadi dengan kita bila kita meninggal. Pertama-tama, marilah kita lihat apa yang dikatakannya mengenai jiwa.
[Catatan Kaki]
a Lihat brosur Buku Bagi Semua Orang, diterbitkan oleh Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc.
b Lihat Alkitab—Firman dari Allah Atau dari Manusia?, diterbitkan oleh Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc.
[Gambar di hlm. 18]
Buku tertua yang pernah ditulis
[Gambar di hlm. 18]
Buku yang memberikan jawaban yang dapat diandalkan dan memuaskan
-
-
Jiwa menurut AlkitabApa yang Terjadi dengan Kita Bila Kita Meninggal?
-
-
Jiwa menurut Alkitab
”Manusia itu menjadi jiwa yang hidup.”—KEJADIAN 2:7, ”NW”.
1. Apa yang perlu kita periksa untuk menentukan apa yang Alkitab ajarkan mengenai jiwa?
SEBAGAIMANA telah kita lihat, ada banyak dan beragam kepercayaan mengenai jiwa. Bahkan di antara orang-orang yang mengaku mendasarkan kepercayaan mereka pada Alkitab, terdapat gagasan yang berbeda-beda mengenai apa jiwa itu dan apa yang terjadi dengan jiwa sewaktu kita meninggal. Tetapi, apa yang sebenarnya diajarkan Alkitab mengenai jiwa? Untuk mengetahuinya, kita perlu memeriksa arti kata-kata Ibrani dan Yunani yang diterjemahkan ”jiwa” dalam Alkitab.
”Jiwa” sebagai Makhluk Hidup
2, 3. (a) Kata apa yang diterjemahkan ”jiwa” dalam Kitab-Kitab Ibrani, dan apa arti dasar dari kata ini? (b) Bagaimana Kejadian 2:7 meneguhkan bahwa kata ”jiwa” dapat berarti suatu pribadi secara keseluruhan?
2 Kata Ibrani yang diterjemahkan ”jiwa” adalah nefes, dan kata itu muncul 754 kali dalam Kitab-Kitab Ibrani (umumnya disebut Perjanjian Lama). Apa artinya nefes? Menurut The Dictionary of Bible and Religion, itu ”biasanya memaksudkan makhluk hidup seutuhnya, individu itu secara keseluruhan”.
3 Misalnya, Kejadian 2:7 (NW) menyatakan, ”Kemudian Allah Yehuwa membentuk manusia dari debu tanah dan mengembuskan ke dalam lubang hidungnya napas kehidupan, dan manusia itu menjadi jiwa yang hidup.” Perhatikan bahwa Adam tidak memiliki jiwa; ia adalah jiwa—sama seperti seseorang yang menjadi dokter adalah seorang dokter. Maka, kata ”jiwa” dapat melukiskan suatu pribadi secara keseluruhan.
4, 5. (a) Berikan contoh-contoh yang memperlihatkan bahwa kata ”jiwa” memaksudkan suatu pribadi secara keseluruhan. (b) Bagaimana The Dictionary of Bible and Religion mendukung pengertian bahwa seorang manusia adalah suatu jiwa?
4 Seluruh Kitab-Kitab Ibrani mendukung pengertian ini; kita menemukan ungkapan-ungkapan seperti ”apabila ada jiwa yang berbuat dosa” (Imamat 5:1, NW), ”setiap jiwa yang melakukan pekerjaan apa pun” (Imamat 23:30, NW), ”apabila seorang pria kedapatan menculik suatu jiwa” (Ulangan 24:7, NW), ”jiwa Simson menjadi tidak sabar” (Hakim 16:16, NW), ”berapa lama kamu sekalian akan terus mengesalkan jiwaku” (Ayub 19:2, NW), dan ”jiwaku menangis karena duka hati”.—Mazmur 119:28.
5 Tidak ada petunjuk dalam ayat-ayat ini bahwa jiwa adalah suatu wujud yang samar-samar, yang terus hidup setelah kematian. ”Mengatakan dalam ungkapan kita bahwa ’jiwa’ orang yang dikasihi telah pergi ke sisi Tuhan atau berbicara mengenai ’jiwa yang tidak berkematian’ sama sekali tidak dapat dimengerti dalam kebudayaan PL [Perjanjian Lama],” kata The Dictionary of Bible and Religion.
6, 7. Kata apa yang diterjemahkan ”jiwa” dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen, dan apa arti dasar dari kata ini?
6 Kata yang diterjemahkan ”jiwa” sebanyak lebih dari seratus kali dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen (umumnya disebut Perjanjian Baru) adalah psikhe. Seperti nefes, kata ini sering kali memaksudkan suatu pribadi secara keseluruhan. Misalnya, perhatikan pernyataan-pernyataan berikut, ”Jiwaku merasa susah.” (Yohanes 12:27) ”Perasaan takut mulai menimpa setiap jiwa.” (Kisah 2:43) ”Hendaklah setiap jiwa tunduk kepada kalangan berwenang yang lebih tinggi.” (Roma 13:1) ”Berbicaralah dengan cara yang menghibur kepada jiwa-jiwa yang masygul.” (1 Tesalonika 5:14) ”Beberapa orang, yaitu delapan jiwa, dibawa dengan selamat melalui air.”—1 Petrus 3:20.
7 Psikhe, seperti nefes, dengan jelas memaksudkan pribadi secara keseluruhan. Menurut sarjana Nigel Turner, kata ini ”menunjukkan karakteristik manusia, dirinya, tubuh jasmani yang memiliki ruah [roh] Allah yang diembuskan ke dalamnya. . . . Titik beratnya adalah pada dirinya secara keseluruhan”.
8. Apakah binatang adalah jiwa? Jelaskan.
8 Dalam Alkitab, kata ”jiwa” tidak hanya digunakan untuk manusia melainkan juga untuk binatang. Misalnya, sewaktu melukiskan penciptaan makhluk-makhluk laut, Kejadian 1:20 (NW) mengatakan bahwa Allah memerintahkan, ”Biarlah dalam air berkeriapan sekelompok jiwa yang hidup.” Dan pada hari penciptaan berikutnya, Allah berfirman, ”Biarlah bumi mengeluarkan jiwa-jiwa yang hidup menurut jenisnya, binatang peliharaan dan binatang bergerak dan binatang liar.” (Kejadian 1:24, NW; bandingkan Bilangan 31:28, NW.) Oleh karena itu, ”jiwa” dapat memaksudkan makhluk hidup, baik manusia maupun binatang.
”Jiwa” sebagai Kehidupan Suatu Makhluk
9. (a) Makna lain apa yang tercakup pada kata ”jiwa”? (b) Apakah ini bertentangan dengan gagasan bahwa jiwa adalah orang itu sendiri?
9 Adakalanya, kata ”jiwa” memaksudkan kehidupan yang dinikmati seorang manusia atau seekor binatang. Ini tidak mengubah definisi Alkitab mengenai jiwa sebagai seorang manusia atau seekor binatang. Sebagai ilustrasi: Kita mengatakan bahwa seseorang adalah orang yang hidup. Kita juga bisa mengatakan bahwa ia memiliki kehidupan. Dengan cara yang sama, orang yang hidup adalah jiwa. Namun, sewaktu ia hidup, ”jiwa” bisa disebut sebagai sesuatu yang ia miliki.
10. Berikan contoh-contoh yang memperlihatkan bahwa kata ”jiwa” dapat memaksudkan kehidupan yang dinikmati seorang manusia atau seekor binatang.
10 Misalnya, Allah memberi tahu Musa, ”Semua orang yang memburu jiwamu sudah mati.” (Keluaran 4:19, NW) Jelaslah, musuh-musuh Musa berupaya merenggut kehidupannya. Penggunaan yang serupa dari kata ”jiwa” terlihat dalam pernyataan-pernyataan berikut. ”Kami menjadi sangat takut akan kehilangan jiwa kami.” (Yosua 9:24, NW) ”Mereka melarikan diri menyelamatkan jiwa.” (2 Raja 7:7, NW) ”Orang adil-benar memperhatikan jiwa binatang peliharaannya.” (Amsal 12:10, NW) ”Putra manusia datang . . . untuk . . . memberikan jiwanya sebagai tebusan untuk penukar bagi banyak orang.” (Matius 20:28) ”Ia nyaris mati, membukakan jiwanya kepada bahaya.” (Filipi 2:30) Dalam setiap kasus di atas, kata ”jiwa” berarti ”kehidupan”.a
11. Apa yang bisa dikatakan mengenai penggunaan kata ”jiwa” dalam Alkitab?
11 Jadi, kata ”jiwa” yang digunakan dalam Alkitab memaksudkan seorang manusia atau seekor binatang atau memaksudkan kehidupan yang dinikmati seorang manusia atau seekor binatang. Definisi Alkitab mengenai jiwa adalah sederhana, konsisten, dan tidak dibebani oleh filsafat yang rumit dan takhayul manusia. Tetapi, apa yang terjadi dengan jiwa pada waktu kematian? Untuk menjawab pertanyaan itu, pertama-tama kita harus mengerti mengapa kita mati.
[Catatan Kaki]
a Matius 10:28 juga menggunakan kata ”jiwa” untuk mengartikan ”kehidupan”.
[Gambar di hlm. 20]
Mereka semuanya adalah jiwa
-
-
Mengapa Kita Mati?Apa yang Terjadi dengan Kita Bila Kita Meninggal?
-
-
Mengapa Kita Mati?
”Semua puncak bukit kini lengang, di semua puncak pohon engkau tidak dapat mendengar napas; burung-burung tidur di atas pepohonan: nantikanlah; segera engkau akan beristirahat seperti ini.”—JOHANN WOLFGANG VON GOETHE, PENYAIR ASAL JERMAN
1, 2. (a) Manusia diciptakan dengan hasrat apa? (b) Kehidupan seperti apa yang dinikmati pasangan manusia pertama?
ALLAH menciptakan manusia dengan keinginan yang kuat untuk hidup selama-lamanya. Sesungguhnya, Alkitab mengatakan bahwa Ia menaruh ”perasaan kekekalan dalam hati mereka”. (Pengkhotbah 3:11, Beck) Tetapi, Allah tidak sekadar memberi manusia hasrat untuk hidup selama-lamanya. Ia juga memberi mereka kesempatan untuk mendapatkannya.
2 Orang-tua kita yang pertama, Adam dan Hawa, diciptakan sempurna, tanpa ada cacat pada pikiran atau tubuh. (Ulangan 32:4) Bayangkan—tidak ada kepedihan atau rasa sakit yang kronis, tidak ada perasaan takut yang mencekam atau kecemasan! Selain itu, Allah menaruh mereka dalam sebuah firdaus tempat tinggal yang menyenangkan. Maksud-tujuan Allah adalah agar manusia hidup selama-lamanya dan agar pada waktunya, bumi akan penuh dengan keturunannya yang sempurna. (Kejadian 1:31; 2:15) Kalau begitu, mengapa kita mati?
Ketidaktaatan Mendatangkan Kematian
3. Kehidupan kekal bagi Adam dan Hawa bergantung pada apa?
3 Allah memerintahkan Adam, ”Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:16, 17) Jadi, kehidupan kekal bagi Adam dan Hawa ada syaratnya; itu bergantung pada ketaatan mereka kepada Allah.
4. Sewaktu Adam dan Hawa berdosa, mengapa mereka kehilangan prospek kehidupan selama-lamanya di Firdaus?
4 Akan tetapi, tragisnya, Adam dan Hawa tidak menaati hukum Allah. (Kejadian 3:1-6) Dengan berbuat demikian, mereka menjadi pedosa, karena ”dosa adalah pelanggaran hukum”. (1 Yohanes 3:4) Akibatnya, Adam dan Hawa tidak lagi memiliki prospek kehidupan kekal. Mengapa? Karena ”upah yang dibayar oleh dosa adalah kematian”. (Roma 6:23) Oleh karena itu, sewaktu menjatuhkan hukuman atas Adam dan Hawa, Allah berfirman, ”Engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” Orang-tua kita yang pertama kemudian diusir dari Firdaus tempat tinggal mereka. Pada hari mereka berdosa, Adam dan Hawa mulai mengalami proses kematian yang lambat namun pasti.—Kejadian 3:19, 23, 24.
”Kematian Menyebar kepada Semua Orang”
5. Bagaimana kematian menyebar kepada segenap ras manusia?
5 Sekarang, dosa telah mendarah daging dalam gen-gen Adam dan Hawa. Oleh karena itu, mereka tidak dapat menghasilkan keturunan yang sempurna, sama seperti cetakan yang tidak sempurna tidak dapat menghasilkan benda yang sempurna. (Ayub 14:4) Sesungguhnya, setiap kelahiran manusia meneguhkan bahwa orang-tua kita yang pertama telah kehilangan kesehatan yang sempurna dan kehidupan kekal bagi diri mereka sendiri dan keturunannya. Rasul Kristen, Paulus, menulis, ”Melalui satu orang dosa masuk ke dalam dunia dan kematian melalui dosa, dan demikianlah kematian menyebar kepada semua orang karena mereka semua telah melakukan dosa.”—Roma 5:12; bandingkan Mazmur 51:7.
6. Mengapa kita mati?
6 Para ilmuwan dewasa ini tidak tahu persis mengapa manusia menjadi tua dan mati. Akan tetapi, Alkitab menjelaskan bahwa kita mati karena kita dilahirkan berdosa dan mewarisi keadaan ini dari orang-tua kita yang pertama. Tetapi, apa yang terjadi dengan kita bila kita meninggal?
-
-
Apa yang Terjadi dengan Jiwa pada Saat Kematian?Apa yang Terjadi dengan Kita Bila Kita Meninggal?
-
-
Apa yang Terjadi dengan Jiwa pada Saat Kematian?
”Doktrin bahwa jiwa manusia tidak berkematian dan akan terus ada setelah manusia mati dan tubuhnya hancur merupakan salah satu batu penjuru filsafat dan teologi Kristen.”—”NEW CATHOLIC ENCYCLOPEDIA.”
1. Apa yang diakui New Catholic Encyclopedia sehubungan dengan jiwa yang terus hidup setelah kematian?
AKAN tetapi, karya referensi yang dikutip di atas mengakui bahwa ”konsep mengenai jiwa yang terus hidup setelah kematian tidak dapat dengan mudah dipahami dalam Alkitab”. Kalau begitu, apa yang sebenarnya diajarkan Alkitab mengenai apa yang terjadi dengan jiwa pada saat kematian?
Orang Mati Tidak Tahu Apa-Apa
2, 3. Bagaimana keadaan orang mati, dan ayat-ayat mana yang menyingkapkan hal ini?
2 Keadaan orang mati dijelaskan di Pengkhotbah 9:5, 10, yang berbunyi, ”Orang yang mati tak tahu apa-apa . . . Tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati.” Oleh karena itu, kematian adalah keadaan tanpa eksistensi. Sang pemazmur menulis bahwa sewaktu seseorang mati, ”ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya”.—Mazmur 146:4.
3 Jadi, orang mati tidak tahu apa-apa, tidak aktif. Sewaktu menjatuhkan hukuman atas Adam, Allah menyatakan, ”Engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” (Kejadian 3:19) Sebelum Allah membentuk Adam dari debu tanah dan memberinya kehidupan, ia tidak ada. Ketika Adam mati, ia kembali ke keadaan itu. Hukumannya adalah kematian—bukan perpindahan ke alam lain.
Jiwa Dapat Mati
4, 5. Berikan contoh-contoh dari Alkitab yang memperlihatkan bahwa jiwa dapat mati.
4 Ketika Adam mati, apa yang terjadi dengan jiwanya? Nah, ingatlah bahwa dalam Alkitab kata ”jiwa” sering kali memaksudkan seseorang. Jadi, apabila kita mengatakan bahwa Adam mati, kita mengatakan bahwa jiwa yang bernama Adam itu mati. Ini mungkin terdengar aneh bagi seseorang yang mempercayai jiwa yang tidak berkematian. Akan tetapi, Alkitab menyatakan, ”Jiwa yang berbuat dosa—jiwa itulah yang akan mati.” (Yehezkiel 18:4, NW) Imamat 21:1 (NW) berbicara mengenai ”jiwa yang mati” (”mayat”, Jerusalem Bible). Dan, kaum Nazir diperintahkan untuk tidak mendekati ”jiwa yang mati” (”tubuh yang mati”, Lamsa).—Bilangan 6:6, NW.
5 Rujukan yang serupa untuk jiwa ditemukan di 1 Raja-Raja 19:4 (NW). Elia yang merasa sangat menderita ”mulai meminta agar jiwanya mati”. Demikian pula, Yunus ”terus meminta agar jiwanya mati, dan ia berulang-ulang mengatakan, ’Lebih baik aku mati daripada aku hidup.’” (Yunus 4:8, NW) Dan, Yesus menggunakan ungkapan ”mematikan jiwa”, yang oleh Alkitab dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) diterjemahkan sebagai ”membunuh”. (Markus 3:4) Jadi, kematian jiwa berarti kematian orang itu.
”Pergi” dan ”Kembali”
6. Apa yang dimaksudkan Alkitab sewaktu mengatakan bahwa jiwa Rahel ”pergi”?
6 Tetapi, bagaimana dengan kematian Rahel yang mengenaskan, yang terjadi sewaktu ia melahirkan putra keduanya? Di Kejadian 35:18 (NW), kita membaca, ”Seraya jiwanya pergi (karena dia mati) dia menamainya Ben-oni; tetapi bapaknya memanggilnya Benyamin.” Apakah ayat ini menyiratkan bahwa Rahel memiliki suatu bagian lain dalam dirinya yang keluar dari tubuh pada saat kematiannya? Sama sekali tidak. Ingatlah, kata ”jiwa” juga dapat memaksudkan kehidupan yang dimiliki seseorang. Jadi, dalam kasus ini ”jiwa” Rahel berarti ”kehidupan”-nya. Itulah sebabnya Alkitab-Alkitab lain menerjemahkan ungkapan ”jiwanya pergi” sebagai ”kehidupannya semakin surut” (Knox), ”ia hendak menghembuskan napasnya yang penghabisan” (BIS), dan ”kehidupannya keluar dari dia” (Bible in Basic English). Tidak ada petunjuk bahwa suatu bagian yang misterius dari Rahel tetap hidup setelah kematiannya.
7. Bagaimana jiwa dari putra janda yang dibangkitkan itu ”kembali ke dalam dirinya”?
7 Halnya serupa dengan kebangkitan putra seorang janda, yang dicatat di 1 Raja-Raja pasal 17. Di ayat 22 (NW), kita membaca bahwa seraya Elia berdoa bagi anak laki-laki itu, ”Yehuwa mendengarkan perkataan Elia, sehingga jiwa anak itu kembali ke dalam dirinya dan ia hidup.” Sekali lagi, kata ”jiwa” berarti ”kehidupan”. Oleh karena itu, New American Standard Bible berbunyi, ”Kehidupan anak itu kembali kepadanya dan ia hidup kembali.” Ya, yang kembali kepada anak laki-laki itu adalah kehidupan, bukan suatu bentuk yang samar-samar. Ini selaras dengan apa yang Elia katakan kepada ibu dari anak laki-laki tersebut, ”Ini anakmu, ia [pribadinya secara keseluruhan] sudah hidup.”—1 Raja 17:23.
Dilema ”Keadaan Sementara”
8. Apa yang akan terjadi selama kebangkitan menurut kepercayaan banyak orang yang mengaku Kristen?
8 Banyak orang yang mengaku Kristen percaya bahwa akan ada kebangkitan di masa depan manakala tubuh akan bergabung dengan jiwa yang tidak berkematian. Pada waktu itu, orang-orang yang dibangkitkan akan diserahkan pada nasib mereka—pahala bagi mereka yang menempuh hidup baik atau hukuman bagi orang yang fasik.
9. Apa yang dimaksudkan dengan istilah ”keadaan sementara”, dan menurut beberapa orang, apa yang akan terjadi dengan jiwa selama periode ini?
9 Konsep ini kedengarannya sederhana. Tetapi, orang-orang yang berpegang pada kepercayaan akan jiwa yang tidak berkematian mengalami kesulitan menjelaskan apa yang terjadi dengan jiwa antara waktu kematian dan waktu kebangkitan. Sesungguhnya, ”keadaan sementara” (keadaan peralihan) ini, sebagaimana itu sering kali disebut, telah membangkitkan spekulasi selama berabad-abad. Beberapa orang mengatakan bahwa selama periode ini, jiwa pergi ke api penyucian, tempat ia dapat disucikan dari dosa yang terampuni sehingga layak untuk masuk ke surga.a
10. Mengapa tidak berdasarkan Alkitab untuk percaya bahwa jiwa tinggal sebentar dalam api penyucian setelah kematian, dan bagaimana pengalaman Lazarus meneguhkan hal ini?
10 Akan tetapi, seperti yang telah kita lihat, jiwa adalah orang itu. Ketika seseorang mati, jiwanya mati. Oleh karena itu, tidak ada eksistensi yang sadar setelah kematian. Sesungguhnya, ketika Lazarus mati, Yesus Kristus tidak mengatakan bahwa dia ada dalam api penyucian, Limbo (tempat tinggal jiwa-jiwa yang dijauhkan dari surga karena belum menerima pembaptisan Kristen), atau ”keadaan sementara” apa pun. Sebaliknya, Yesus hanya berkata, ”Lazarus sudah tidur.” (Yohanes 11:11, BIS) Jelaslah, Yesus, yang mengetahui kebenaran mengenai apa yang terjadi dengan jiwa pada saat kematian, percaya bahwa Lazarus dalam keadaan tidak tahu apa-apa, tanpa eksistensi.
Apa Itu Roh?
11. Mengapa kata ”roh” tidak memaksudkan suatu bagian terpisah dari tubuh seseorang yang terus hidup setelah kematian?
11 Alkitab mengatakan bahwa apabila seseorang mati, ”nyawanya melayang [”rohnya pergi”, NW], ia kembali ke tanah”. (Mazmur 146:4) Apakah ini berarti bahwa suatu roh yang terpisah dari tubuh benar-benar keluar dan terus hidup setelah kematian seseorang? Hal itu tidak mungkin, karena sang pemazmur selanjutnya mengatakan, ”Pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya” (”semua pikirannya berakhir”, New English Bible). Kalau begitu, apa itu roh, dan bagaimana roh ”pergi” dari seseorang pada saat kematiannya?
12. Apa yang disiratkan oleh kata-kata Ibrani dan Yunani yang diterjemahkan ”roh” dalam Alkitab?
12 Dalam Alkitab, kata-kata yang diterjemahkan ”roh” (Ibrani, ruakh; Yunani, pneuma) pada dasarnya berarti ”napas”. Oleh karena itu, sebaliknya daripada menggunakan ”rohnya pergi”, terjemahan R. A. Knox menggunakan ungkapan ”napasnya meninggalkan tubuhnya”. (Mazmur 145:4, Knox) Tetapi, kata ”roh” menyiratkan lebih daripada sekadar tindakan bernapas. Misalnya, ketika melukiskan pembinasaan kehidupan manusia dan binatang pada waktu Air Bah sedunia, Kejadian 7:22 (NW) mengatakan, ”Matilah segala yang memiliki napas dari daya [atau roh; Ibrani, ruakh] kehidupan yang aktif di lubang hidungnya, yakni semua yang ada di tanah yang kering.” Jadi, ”roh” dapat memaksudkan daya hidup yang aktif dalam semua makhluk hidup, baik manusia maupun binatang, dan yang ditunjang oleh pernapasan.
13. Bagaimana roh dapat diumpamakan dengan arus listrik?
13 Sebagai ilustrasi: Arus listrik menyalurkan kekuatan pada sebuah alat. Jika arusnya berhenti, alat itu berhenti berfungsi. Arus itu sendiri tidak menjadi suatu alat yang terpisah. Demikian pula, ketika seseorang mati, rohnya tidak lagi menghidupi sel-sel tubuh. Roh itu tidak meninggalkan tubuh dan pindah ke alam lain.—Mazmur 104:29.
14, 15. Bagaimana roh kembali kepada Allah pada saat kematian?
14 Kalau begitu, mengapa Pengkhotbah 12:7 menyatakan bahwa apabila seseorang mati, ”roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya”? Apakah ini berarti bahwa roh secara harfiah mengadakan perjalanan melewati angkasa ke hadirat Allah? Bukan itu yang tersirat. Ingatlah, roh adalah daya hidup. Sekali daya hidup itu hilang, hanya Allah yang memiliki kesanggupan untuk mengembalikannya. Jadi, roh ”kembali kepada Allah” dalam arti bahwa harapan apa pun untuk kehidupan di masa depan bagi orang tersebut kini bergantung sepenuhnya pada Allah.
15 Hanya Allah yang dapat mengembalikan roh, atau tenaga hidup, menyebabkan seseorang hidup kembali. (Mazmur 104:30) Tetapi, apakah Allah berniat untuk melakukannya?
[Catatan Kaki]
a Menurut New Catholic Encyclopedia, ”Bapak [Gereja] pada umumnya tidak meragukan adanya api penyucian”. Namun, karya referensi ini juga mengakui bahwa ”doktrin Katolik mengenai api penyucian didasarkan pada tradisi, bukan Kitab Suci”.
[Kotak di hlm. 23]
Ingatan tentang Kehidupan Sebelumnya
JIKA tidak ada yang terus hidup setelah tubuh mati, bagaimana dengan orang-orang yang mengaku memiliki ingatan tentang kehidupan sebelumnya?
Sarjana Hindu, Nikhilananda, mengatakan bahwa ’pengalaman setelah kematian tidak dapat dipertunjukkan secara masuk akal’. Dalam ceramah ”Pola Kepercayaan Akan Kekekalan Dalam Agama-Agama”, teolog Hans Küng menandaskan, ”Tidak ada satu pun dari laporan-laporan—yang sebagian besar berasal dari anak-anak atau dari negeri-negeri tempat dipercayainya reinkarnasi—mengenai kenangan akan kehidupan sebelumnya yang dapat diteguhkan kebenarannya.” Ia menambahkan, ”Sebagian besar [peneliti yang dengan serius bekerja secara ilmiah dalam bidang tersebut] mengakui bahwa pengalaman-pengalaman yang mereka teguhkan tidak menyediakan dasar bagi suatu bukti yang benar-benar meyakinkan tentang adanya pengulangan kehidupan di bumi.”
Bagaimana jika saudara merasa bahwa saudara memiliki ingatan yang bersifat pribadi tentang kehidupan sebelumnya? Perasaan semacam itu boleh jadi disebabkan oleh beberapa faktor. Sebagian besar informasi yang kita terima disimpan dalam suatu sudut tersembunyi dari alam bawah sadar kita karena kita tidak langsung menggunakannya. Sewaktu ingatan yang terlupakan itu muncul, beberapa orang menafsirkan hal ini sebagai bukti adanya kehidupan sebelumnya. Meskipun demikian, faktanya adalah bahwa kita tidak mempunyai pengalaman hidup yang dapat diteguhkan kebenarannya selain daripada yang sedang kita jalani sekarang. Mayoritas orang yang hidup di atas bumi sama sekali tidak mempunyai kenangan bahwa mereka pernah hidup sebelumnya; mereka juga tidak berpikir bahwa mereka mungkin pernah menjalani kehidupan-kehidupan sebelumnya.
-
-
Harapan yang PastiApa yang Terjadi dengan Kita Bila Kita Meninggal?
-
-
Harapan yang Pasti
”Sejak saat kelahiran senantiasa terdapat kemungkinan bahwa seseorang bisa mati kapan saja; dan tanpa dapat dielakkan, kemungkinan ini akan menjadi kenyataan yang terlaksana.”—ARNOLD TOYNBEE, SEJARAWAN ASAL INGGRIS.
1. Kenyataan apa yang harus diterima oleh umat manusia, sehingga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan apa?
SIAPA yang dapat membantah hakikat berdasarkan sejarah yang disebutkan di atas? Umat manusia harus selalu menerima kenyataan yang mengerikan berupa kematian. Dan, kita sungguh-sungguh merasa tak berdaya apabila seseorang yang kita kasihi meninggal. Pada waktu itu, apa yang sudah hilang tampaknya sama sekali tidak dapat kembali lagi. Apakah kita dapat dipersatukan kembali dengan orang-orang yang kita kasihi yang telah meninggal? Apa harapan yang diulurkan Alkitab bagi orang mati? Perhatikanlah kisah berikut.
’Sahabat Kita Telah Mati’
2-5. (a) Sewaktu sahabatnya, Lazarus, mati, bagaimana Yesus mempertunjukkan kesediaan dan kesanggupannya untuk membangkitkan dia? (b) Selain menghidupkan kembali Lazarus, apa yang dicapai oleh mukjizat kebangkitan tersebut?
2 Kejadiannya pada tahun 32 M. Di kota Betani yang kecil, tiga kilometer di luar Yerusalem, tinggallah Lazarus bersama saudara-saudara perempuannya, Marta dan Maria. Mereka adalah sahabat karib Yesus. Pada suatu hari, Lazarus menderita sakit parah. Segera, saudara-saudara perempuannya yang merasa cemas mengirimkan kabar ini kepada Yesus, yang berada di seberang Sungai Yordan. Yesus menyayangi Lazarus dan saudara-saudara perempuannya, maka ia pun berangkat ke Betani. Dalam perjalanan, Yesus memberi tahu murid-muridnya, ”Lazarus sahabat kita telah pergi beristirahat, tetapi aku mengadakan perjalanan ke sana untuk membangunkan dia dari tidur.” Karena murid-muridnya tidak langsung memahami makna pernyataan ini, Yesus dengan terus terang berkata, ”Lazarus telah mati.”—Yohanes 11:1-15.
3 Sewaktu mendengar bahwa Yesus hampir tiba di Betani, Marta berlari ke luar untuk menemuinya. Karena tersentuh melihat perasaan dukacitanya, Yesus meyakinkan dia, ”Saudaramu akan bangkit.” Marta menjawab, ”Aku tahu ia akan bangkit dalam kebangkitan pada hari terakhir.” Kemudian Yesus memberi tahu dia, ”Akulah kebangkitan dan kehidupan. Ia yang menjalankan iman kepadaku, meskipun ia mati, akan menjadi hidup.”—Yohanes 11:20-25.
4 Kemudian, Yesus pergi ke makam dan memerintahkan agar batu penutupnya disingkirkan. Setelah berdoa dengan suara keras, ia memerintahkan, ”Lazarus, marilah ke luar!” Dan, seraya semua mata terpaku pada makam tersebut, Lazarus benar-benar keluar. Yesus membangkitkan Lazarus—mengembalikan kehidupan kepada seorang pria yang telah mati selama empat hari!—Yohanes 11:38-44.
5 Marta telah memiliki iman akan janji kebangkitan. (Yohanes 5:28, 29; 11:23, 24) Mukjizat dihidupkannya Lazarus kembali memperkuat iman Marta dan membuat orang-orang lain beriman. (Yohanes 11:45) Tetapi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan istilah ”kebangkitan”?
”Ia Akan Bangkit”
6. Apa arti istilah ”kebangkitan”?
6 Kata ”kebangkitan” diterjemahkan dari kata Yunani anastasis, yang secara harfiah berarti ”berdiri kembali”. Para penerjemah Ibrani mengalihbahasakan kata Yunani anastasis dengan kata Ibrani tekhiyath hammethim, yang berarti ”orang mati hidup kembali”.a Jadi, kebangkitan mencakup membangunkan seseorang dari keadaan tidak bernyawa berupa kematian—mengaktifkan kembali pola kehidupan pribadi tersebut.
7. Mengapa kebangkitan orang perorangan tidak akan menjadi masalah bagi Allah Yehuwa dan Yesus Kristus?
7 Dengan hikmat yang tak terhingga dan daya ingat yang sempurna, Allah Yehuwa dapat dengan mudah membangkitkan seseorang. Bukan masalah bagi Dia untuk mengingat pola kehidupan orang-orang mati—sifat-sifat kepribadian mereka, sejarah pribadi mereka, dan semua perincian mengenai identitas mereka. (Ayub 12:13; bandingkan Yesaya 40:26.) Yehuwa juga adalah Pencipta kehidupan. Oleh karena itu, Ia dapat menghidupkan kembali orang yang sama dengan mudah, memberi dia kepribadian yang sama dalam tubuh yang baru dibentuk. Selain itu, sebagaimana ditunjukkan oleh pengalaman Lazarus, Yesus Kristus bersedia dan sanggup membangkitkan orang mati.—Bandingkan Lukas 7:11-17; 8:40-56.
8, 9. (a) Mengapa kebangkitan dan gagasan jiwa yang tidak berkematian tidak sejalan? (b) Apa jalan keluar dari kematian?
8 Akan tetapi, ajaran Alkitab mengenai kebangkitan tidak sejalan dengan doktrin jiwa yang tidak berkematian. Jika suatu jiwa yang tidak berkematian terus hidup setelah kematian, tidak ada yang perlu dibangkitkan, atau dihidupkan kembali. Marta sama sekali tidak menyatakan gagasan mengenai jiwa yang tidak berkematian yang hidup di tempat lain setelah kematian. Ia tidak percaya bahwa Lazarus telah pergi ke suatu alam roh untuk melanjutkan eksistensinya. Sebaliknya, ia mempertunjukkan imannya akan maksud-tujuan Allah untuk meniadakan dampak dari kematian. Ia mengatakan, ”Aku tahu ia akan bangkit dalam kebangkitan pada hari terakhir.” (Yohanes 11:23, 24) Demikian pula, Lazarus sendiri tidak menceritakan pengalaman apa pun mengenai kehidupan setelah kematian. Tidak ada yang dapat dilaporkan.
9 Jelaslah, menurut Alkitab, jiwa itu mati dan jalan keluar dari kematian adalah kebangkitan. Tetapi, miliaran orang telah mati sejak manusia pertama, Adam, hidup di atas bumi. Jadi, siapa yang akan dibangkitkan, dan di mana?
’Semua yang di dalam Makam Peringatan’
10. Apa yang Yesus janjikan sehubungan dengan orang-orang yang di dalam makam peringatan?
10 Yesus Kristus mengatakan, ”Jamnya akan tiba ketika semua orang yang di dalam makam peringatan akan mendengar suara [Yesus] dan keluar.” (Yohanes 5:28, 29) Ya, Yesus Kristus berjanji bahwa semua orang yang ada dalam ingatan Yehuwa akan dibangkitkan. Miliaran orang telah hidup dan mati. Siapa di antara mereka yang ada dalam ingatan Allah, dan menunggu kebangkitan?
11. Siapa yang akan dibangkitkan?
11 Orang-orang yang telah menempuh haluan yang adil-benar sebagai hamba-hamba Yehuwa akan dibangkitkan. Tetapi, jutaan orang lain telah mati tanpa memperlihatkan apakah mereka akan menyelaraskan diri dengan standar-standar Allah yang adil-benar. Bisa jadi, mereka tidak mengetahui tuntutan-tuntutan Yehuwa, atau tidak memiliki cukup waktu untuk membuat perubahan yang dibutuhkan. Orang-orang seperti ini pun ada dalam ingatan Allah dan dengan demikian akan dibangkitkan, karena Alkitab berjanji, ”Akan ada kebangkitan untuk orang-orang yang adil-benar maupun yang tidak adil-benar.”—Kisah 24:15.
12. (a) Penglihatan apa yang diterima rasul Yohanes berkenaan kebangkitan? (b) Apa yang ”dicampakkan ke dalam danau api”, dan apa artinya ungkapan itu?
12 Rasul Yohanes mendapat penglihatan yang menggetarkan tentang orang-orang yang dibangkitkan dan berdiri di hadapan takhta Allah. Sewaktu melukiskannya, ia menulis, ”Laut menyerahkan orang-orang yang mati di dalamnya, dan kematian dan Hades menyerahkan mereka yang mati di dalamnya, dan mereka dihakimi secara perorangan sesuai dengan perbuatan mereka. Dan kematian dan Hades dicampakkan ke dalam danau api. Ini berarti kematian kedua, danau api.” (Penyingkapan 20:12-14) Pikirkan apa artinya hal itu! Semua orang mati yang ada dalam ingatan Allah akan dilepaskan dari Hades, atau Syeol, kuburan umum umat manusia. (Mazmur 16:10; Kisah 2:31) Kemudian ”kematian dan Hades” akan dicampakkan ke dalam apa yang disebut ”danau api”, yang melambangkan pembinasaan total. Kuburan umum umat manusia akan lenyap selama-lamanya.
Dibangkitkan ke mana?
13. Mengapa Allah mengatur agar beberapa orang dibangkitkan ke surga, dan tubuh macam apa yang akan Yehuwa berikan kepada mereka?
13 Sejumlah kecil pria dan wanita akan dibangkitkan untuk mendapat kehidupan di surga. Mereka akan memerintah bersama Kristus sebagai raja dan imam dan akan ikut mengakhiri semua dampak kematian yang diwarisi umat manusia dari manusia pertama, Adam. (Roma 5:12; Penyingkapan 5:9, 10) Menurut Alkitab, mereka hanya berjumlah 144.000 dan dipilih dari antara para pengikut Kristus, dimulai dari rasul-rasul yang setia. (Lukas 22:28-30; Yohanes 14:2, 3; Penyingkapan 7:4; 14:1, 3) Yehuwa akan memberikan kepada setiap orang yang dibangkitkan ini suatu tubuh roh sehingga mereka dapat hidup di surga.—1 Korintus 15:35, 38, 42-45; 1 Petrus 3:18.
14, 15. (a) Mayoritas orang yang telah mati akan dibangkitkan untuk mendapatkan kehidupan seperti apa? (b) Berkat-berkat apa akan dialami oleh umat manusia yang taat?
14 Akan tetapi, mayoritas orang yang telah mati akan dibangkitkan untuk mendapatkan kehidupan di bumi. (Mazmur 37:29; Matius 6:10) Bumi yang seperti apa? Bumi dewasa ini penuh dengan pertikaian, pertumpahan darah, polusi, dan kekerasan. Jika orang mati hidup kembali di atas bumi semacam itu, pastilah kebahagiaan apa pun akan berumur pendek. Tetapi, sang Pencipta telah berjanji bahwa Ia akan segera mengakhiri masyarakat dunia dewasa ini yang berada di bawah kendali Setan. (Amsal 2:21, 22; Daniel 2:44) Kemudian, suatu masyarakat manusia yang baru dan adil-benar—”bumi baru”—akan menjadi kenyataan. (2 Petrus 3:13) Pada waktu itu, ”tidak seorangpun yang tinggal di situ akan berkata: ’Aku sakit.’” (Yesaya 33:24) Bahkan derita kematian akan dilenyapkan, karena Allah ”akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan kematian tidak akan ada lagi, juga tidak akan ada lagi perkabungan atau jeritan atau rasa sakit. Perkara-perkara yang terdahulu telah berlalu.”—Penyingkapan 21:4.
15 Dalam dunia baru yang dijanjikan Allah, orang-orang yang lembut hati akan ”bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah”. (Mazmur 37:11) Pemerintahan surgawi Kristus Yesus dan ke-144.000 rekannya akan secara progresif mengembalikan umat manusia yang taat kepada kesempurnaan yang dihilangkan oleh orang-tua kita yang pertama, Adam dan Hawa. Orang-orang yang dibangkitkan akan termasuk di antara penduduk bumi.—Lukas 23:42, 43.
16-18. Sukacita apa akan didatangkan oleh kebangkitan bagi keluarga-keluarga?
16 Alkitab memberikan gambaran sekilas tentang sukacita yang akan didatangkan oleh kebangkitan bagi keluarga-keluarga. Bayangkan kebahagiaan yang dirasakan oleh janda dari Nain sewaktu Yesus menghentikan iring-iringan pemakaman dan membangkitkan putra tunggalnya! (Lukas 7:11-17) Belakangan, di dekat Laut Galilea, sewaktu Yesus menghidupkan kembali seorang gadis berusia 12 tahun, orang-tuanya ”sangat takjub dengan emosi yang meluap”.—Markus 5:21-24, 35-42; lihat juga 1 Raja-Raja 17:17-24; 2 Raja-Raja 4:32-37.
17 Bagi jutaan orang yang kini tidur dalam kematian, kebangkitan akan berarti kehidupan dalam suatu dunia baru yang penuh damai. Pikirkan saja prospek menggetarkan yang terbuka bagi Tommy dan sang pengusaha, yang disebutkan dalam bagian pertama dari brosur ini! Apabila Tommy bangun untuk hidup dalam Firdaus di bumi, ia adalah Tommy yang sama dengan yang dikenal ibunya—tetapi tanpa penyakit. Ibunya akan dapat menyentuh dia , memeluk, dan mengasihinya. Demikian pula, sebaliknya daripada terperangkap dalam siklus kelahiran kembali yang nyaris tiada akhirnya, sang pengusaha dari India memiliki prospek yang menakjubkan untuk membuka matanya dalam dunia baru Allah dan melihat putra-putranya.
18 Mengetahui kebenaran mengenai jiwa, mengenai apa yang terjadi dengan kita bila kita meninggal, dan mengenai harapan kebangkitan juga dapat memiliki pengaruh yang mendalam atas orang-orang yang hidup dewasa ini. Marilah kita lihat bagaimana.
[Catatan Kaki]
a Meskipun kata ”kebangkitan” tidak muncul dalam Kitab-Kitab Ibrani, harapan kebangkitan dengan jelas dinyatakan dalam Ayub 14:13, Daniel 12:13, dan Hosea 13:14.
[Gambar di hlm. 26]
Kebangkitan akan mendatangkan sukacita yang bertahan lama
-
-
Kebenaran tentang Jiwa Itu PentingApa yang Terjadi dengan Kita Bila Kita Meninggal?
-
-
Kebenaran tentang Jiwa Itu Penting
”Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran akan memerdekakan kamu.”—YOHANES 8:32.
1. Mengapa penting untuk memeriksa kepercayaan kita tentang jiwa dan kematian?
KEPERCAYAAN tentang kematian dan kehidupan setelah kematian sebagian besar adalah hasil dari latar belakang agama dan kebudayaan seseorang. Seperti yang telah kita lihat, ini berkisar dari keyakinan bahwa jiwa mencapai tujuan akhirnya hanya setelah mengalami banyak kelahiran kembali hingga gagasan bahwa satu masa hidup seseorang menentukan nasib akhirnya. Oleh karenanya, seseorang boleh jadi yakin bahwa akhirnya ia akan menyatu dengan realitas akhir sewaktu mati, sementara yang lainnya yakin bahwa ia akan mencapai Nirwana, dan ada pula yang yakin bahwa ia akan mendapatkan pahala surgawi. Kalau begitu, apa kebenarannya? Karena kepercayaan kita mempengaruhi sikap, tindakan, dan keputusan kita, bukankah kita seharusnya berminat untuk menemukan jawaban dari pertanyaan itu?
2, 3. (a) Mengapa kita dapat menaruh keyakinan akan apa yang Alkitab katakan tentang jiwa? (b) Sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab, apa kebenaran tentang jiwa?
2 Buku tertua di dunia, Alkitab, menelusuri sejarah manusia hingga penciptaan jiwa manusia yang pertama. Ajarannya bebas dari filsafat dan tradisi manusia. Alkitab dengan jelas menyatakan kebenaran tentang jiwa: Jiwa saudara adalah saudara sendiri, orang mati sama sekali tanpa eksistensi, dan orang-orang yang ada dalam ingatan Allah akan dibangkitkan pada waktu yang ditentukan-Nya. Apa artinya pengetahuan ini bagi saudara?
3 ”Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran akan memerdekakan kamu,” kata Yesus Kristus kepada para pengikutnya. (Yohanes 8:32) Ya, kebenaran itu membebaskan. Tetapi, kebenaran tentang jiwa akan memerdekakan kita dari apa?
Kemerdekaan dari Rasa Takut dan Putus Asa
4, 5. (a) Kebenaran tentang jiwa mengusir rasa takut akan apa? (b) Bagaimana harapan kebangkitan memberikan keberanian kepada seorang remaja yang menderita penyakit yang mematikan?
4 ”Sebagian besar orang takut akan kematian dan tidak mau memikirkannya,” kata The World Book Encyclopedia. ”Kata ’kematian’ itu sendiri nyaris tidak disebut-sebut lagi di dunia Barat,” demikian komentar seorang sejarawan. Dan dalam beberapa kebudayaan, eufemisme seperti ”meninggal dunia” atau ”wafat” umumnya digunakan untuk melukiskan kematian seseorang. Rasa takut akan kematian ini sebenarnya adalah rasa takut akan sesuatu yang tidak diketahui, karena bagi kebanyakan orang, kematian adalah misteri. Mengetahui kebenaran tentang apa yang terjadi sewaktu kita meninggal mengurangi rasa takut ini.
5 Misalnya, perhatikan keadaan pikiran Michaelyn yang berusia 15 tahun. Ia menderita leukemia dan menghadapi kematian yang tragis. Ibunya, Paula, mengenang, ”Michaelyn mengatakan bahwa ia tidak khawatir akan kematian, karena ia tahu bahwa kematian hanyalah bersifat sementara. Kami banyak berbicara mengenai dunia baru Allah dan semua orang yang akan dibangkitkan di sana. Michaelyn memiliki iman yang sangat kuat akan Allah Yehuwa dan kebangkitan—tanpa setitik keraguan pun.” Harapan kebangkitan memerdekakan gadis muda yang berani ini dari rasa takut yang hebat akan kematian.
6, 7. Dari rasa putus asa akan apa kebenaran tentang jiwa memerdekakan kita? Berikan gambaran.
6 Bagaimana kebenaran mempengaruhi orang-tua Michaelyn? ”Kematian anak perempuan kami yang masih kecil adalah hal paling menyakitkan yang pernah terjadi pada kami,” kata Jeff, ayahnya. ”Tetapi, kami sepenuhnya mempercayai janji Yehuwa akan kebangkitan, dan kami menanti-nantikan hari manakala kami dapat memeluk lagi Michaelyn kami yang tersayang. Itu benar-benar akan menjadi reuni yang luar biasa!”
7 Ya, kebenaran tentang jiwa memerdekakan seseorang dari keadaan putus asa tanpa harapan yang mungkin diakibatkan oleh kematian orang yang dikasihi. Tentu saja, tidak ada yang dapat sepenuhnya menyingkirkan kepedihan hati dan dukacita yang dialami pada saat kematian seseorang yang dikasihi. Akan tetapi, harapan kebangkitan meringankan perkabungan dan membuat kepedihan hati itu jauh lebih mudah ditanggung.
8, 9. Dari rasa takut akan apa kebenaran tentang keadaan orang mati memerdekakan kita?
8 Kebenaran Alkitab tentang keadaan orang mati juga memerdekakan kita dari rasa takut akan orang mati. Sejak mengetahui kebenaran ini, banyak orang yang dahulu dibelenggu oleh ritual-ritual yang bersifat takhayul sehubungan dengan orang mati tidak lagi mengkhawatirkan kutukan, pertanda, jimat, dan berhala, mereka juga tidak lagi mempersembahkan korban yang mahal untuk menenangkan nenek moyang mereka agar tidak kembali serta menghantui orang yang masih hidup. Sesungguhnya, karena orang mati ”tak tahu apa-apa”, praktek-praktek semacam itu adalah sia-sia.—Pengkhotbah 9:5.
9 Kebenaran tentang jiwa, yang terdapat dalam Alkitab, benar-benar memerdekakan dan dapat diandalkan. Tetapi, perhatikan juga sebuah prospek unik yang diulurkan Alkitab kepada saudara.
-